Starting To Love You -Part 4/End-

Tittle: Starting To Love You

Casts:

-Kim HaRa

-Kim Jong Woon

-Lee Joon

-Park Ji Yeon

-Kim Ji Eun

-Other Cast

Genre: Romance, Angst

Length: Chapter

Author: haracheonsa

Also published on www.yewoonfanficworld.wordpress.com main2 yah!!

Since when is it, You come into my heart

My heart keep thumping even for your little smile

For along time, I’ve been waiting for this fate like love

You’re like a cotton candy that melting all day in my heart

You’re like rainbow that coming dazzlingly into my heart

Will you whispered me with your sweet voice

That from the beginning your heart everyday loving me too

I love you just be my love

Why I keep laughing when I heard your playful voice

When your two little eyes stare at me, I even trembling like this.

That my love is you

Do you now?

The day we fall in love like this

Do you believe?

The Cupid’s arrow sent from Heaven

I love you who miraculously come like a gift

Let’s be together forever,

Everyday loving me

I love you just be my love

(The Day We Fall In Love-Park Shin Hye)

***

Hara hanya bisa diam tapi berusaha menahan tawanya yang seakan ingin meledak. Ia menundukkan wajahnya. Tak berusaha lagi untuk melepaskan tangannya.

“Mianhae”lirih Jong Woon pelan. Hening. Namun detik berikutnya Hara tertawa lepas, tak bisa menahan semuanya.

Jong Woon langsung panik kenapa tiba-tiba gadisnya berubah dari marah dan sekarang malah tertawa. Apakah ia sudah memacari orang gila? Pikirnya dalam hati.

Gadis itu memalingkan tubuhnya, menghadap Jong Woon yang masih bingung dengan kejadian ini. Ia pegangi perutnya yang mulai terasa sakit, saat menyadari betapa bodohnya wajah Jong Woon saat ini. Masih terus tertawa tanpa berpikir untuk menghentikannya.

“Kau ini kenapa hah?”Jong Woon memperlihatkan wajah kesalnya kepada Hara. Barulah gadis itu menghentikan tawanya, meskipun masih merasa geli dengan tampang pacarnya.

Hara menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap lurus ke dalam bola mata hitam Jong Woon.

“Aku tidak marah padamu oppa. Aku hanya pura-pura tadi”katanya tanpa melepaskan pandangannya dari mata Jong Woon.

“Kau mempermainkanku begitu? Aissh, kau hampir membuatku serangan jantung tadi.”ucap Jong Woon frustasi disertai dengan nada kesal di dalamnya.

“Dan itu berlebihan oppa!”sahut Hara dengan nada mencibir yang kentara.

“Kau sudah makan belum?”tanya Jong Woon sembari memilin-milin rambut Hara lembut. Salah satu kegiatan favoritnya jika sedang berbicara dengan gadis itu.

“Belum. Oppa mau mentraktirku?”

“Sudah jam segini kau belum makan malam? Kau bisa sakit jika seperti ini, dan itu merepotkanku. Kalau kita menikah nanti akan kupastikan kau akan makan tepat waktu”

“Memangnya siapa yang akan menikah dengan oppa?”gurau Hara atas perkataan Jong Woon. Ia leletkan lidahnya lalu beranjak pergi ke ruang ganti.

“Oh ternyata kau lebih menginginkanku mencari gadis lain untuk ku nikahi?”

“Aku akan menunggu undangannya oppa!”teriak Hara dari dalam ruang ganti. Membuat Jong Woon kesal bukan main dengan Hara yang selalu saja mempermainkannya.

***

~At Hara’s Apartment~

 

Setelah pintu apartment terbuka, mereka berdua melangkah masuk ke dalam. Beberapa bungkusan yang berisi makanan diletakkan keduanya di konter dapur.

Dengan lesu Hara menggapai lemari pendingin, untuk mendapatkan seteguk air yang sudah dibutuhkannya sejak tadi. Tenggorokannya kering, karna cairan itu belum dirasakannya sama sekali sejak konsernya berakhir. Mengenaskan sekali.

Suara yang ia timbulkan saat meneguk air, membuat Jong Woon melongo menatapnya. Tapi gadis itu seakan tidak perduli dengan pandangan heran kekasihnya. Keselamatannya lebih penting sekarang.

“Persis seperti naga saat kau minum tadi”komentar Jong Woon, lalu sibuk melakukan pekerjaan dapur yang seharusnya dilakukan oleh Hara.

“Pengertian lah sedikit, aku sedang kehausan dan sekarang perutku juga ikut berontak karna kelaparan” Ia mengelus perut langsingnya, dengan nada merengek mengucapkan kalimatnya barusan.

“Cepat bersihkan tubuhmu, aku akan memasak mie ramen untukmu!”perintahnya lalu mendorong tubuh Hara pelan menuju kamarnya.

“Masaklah yang enak untukku!” Ia kedipkan matanya, lalu menghilang di balik pintu.

“Bagaimana bisa aku mencintai gadis sepertinya? Bahkan setelah aku menemukan kenyataan bahwa ia adalah gadis yang sangat payah dalam urusan dapur, pelupa dan tidak teliti. Dan tidak sering juga ia selalu mengacuhkan omonganku dan menganggapnya angin lalu. Tapi tidak apa…selama aku masih bisa merasakan kehadirannya dan bisa terus menatapnya. Semuanya akan kulakukan untuk gadisku, aku bisa memasakkan makanan untuknya setiap hari, dan aku bersedia menjadi memori untuknya agar ia tidak sering lupa. Tentunya aku akan selalu mengocehinya, ketika ia suka sekali melakukan hal-hal yang justru berpengaruh buruk padanya. Yah…aku tidak peduli dengan semua itu. Aku akan terus menjadi bagian dalam hidupnya. Begitu pun sebaliknya.”tuturnya panjang lebar, berbicara mengenai gadis yang sekarang sedang ada di kamar mandi itu. Gadis yang ingin selalu ia banggakan pada siapapun.

Kembali ia memfokuskan diri untuk tujuan awalnya kesini. Ia potong beberapa siung bawang dan juga sawi yang akan dimasukkan ke dalam mie ramen mereka.

Ia mulai menghidupkan kompor, memasukkan dua bungkus mie ke dalam air mendidih yang sudah siap membuat tekstur mie itu melunak.

“Oppa aku sudah lapar!!”suaranya terdengar dimanja-manjakan. Tidak heran memang, sebab mengingat bahwa ia memang sudah hampir mati kelaparan. Perutnya terus bertalu-talu minta diiisi. Belum lagi ketika ia mencium bau sedap dari bumbu racik mie ramen yang sedang terhidang di meja.

“Sebentar lagi, kenapa kau jadi tidak sabaran seperti ini?”

“Bukan aku yang tidak sabaran, tapi perutku yang terus berontak”

Hara mendekati Jong Woon, mendekatkan jarak antara mereka. Tangannya masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk dan sesekali mengenduskan hidungnya, mencium aroma mie yang sedang dimasak oleh Jong Woon.

Terangkat tangan Jong Woon untuk membantu Hara mengeringkan rambutnya. Ia mengusap rambut gadis itu yang masih basah dengan lembut dan penuh perasaan.

Gadis itu sedikit tercekat, nafasnya memburu begitu jarak wajah mereka bahkan tidak sampai 10 cm. Dan itu berarti, Jong Woon bisa melakukan hal apapun dalam jarak sedekat ini.

“Aku bisa melakukannya sendiri oppa”katanya gugup. Tapi Jong Woon terlihat menghiraukannya. Masih menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut Hara.

Kegiatan Jong Woon terhenti tiba-tiba, membuat Hara mengernyit bingung. Dengan perlahan Jong Woon memajukan wajahnya, dan jarak wajah mereka bisa dibilang sangat dekat. Hara merasa perutnya bergejolak hebat, bahkan keringat dingin sudah berhasil membasahi dahinya.

Tak peduli dengan Hara yang terus menatap takut sekaligus gugup. Jong Woon masih melanjutkan aksinya, ia sudah bisa mencium aroma tubuh gadisnya, yang seperti bunga Freesia. Begitu menggiurkan.

Gadis itu sama sekali tidak memberontak, malahan ia memejamkan matanya. Tindakan gadis itu membuat Jong Woon ingin sekali tertawa, sekarang ia lah yang mempermainkan gadis itu.

CUP!!

“Kau tertipu”bisik namja itu tepat di telinga Hara, ternyata Jong Woon hanya mengecup pipinya.

Gadis itu membuka matanya yang semula terpejam, wajahnya merah merona menahan malu karna perlakuan kekasihnya. Membalas perlakuaannya tadi, begitu?

Ia ingin sekali berteriak, mengapa ia bisa sebegitu bodohnya dengan membayangkan hal yang tidak-tidak. Memejamkan mata?

Oh God! Ini benar-benar memalukan. Batinnya dalam hati.

“Ini dugaanku saja, atau kau memang benar menginginkannya?”goda Jong Woon yang semakin membuat raut wajah Hara memerah seperti udang rebus.

Rasa malu itu bahkan sudah hampir meledak dan ingin sekali ia keluarkan. Namun mengingat kembali kejadian barusan membuatnya mengurungkan niat itu dan hanya menundukkan wajahnya.

“Mie nya sudah matang, ayo kita makan!”ujar namja itu membuyarkan segala lamunan Hara.

Perut kosongnya itu tidak terlalu ia perdulikan lagi. Gengsi dan rasa malu itu telah mengalahkan semuanya, bahkan termasuk rasa lapar yang tadi hampir membunuhnya.

“Kenapa hanya diam? Bukankah kau lapar?”tanya Jong Woon yang heran melihat Hara masih terpaku di tempatnya. Menatap malu ke arahnya.

Dengan sedikit paksa, Jong Woon menarik lengan gadisnya dan membawanya duduk di meja makan. Namja itu menyodorkan semangkuk penuh mie ramen yang seperti ingin sekali dilahap Hara sekarang juga.

Gadis itu menelan ludah susah payah, lalu berdeham untuk menormalkan lagi suaranya. Ia ambil sumpit yang terletak di samping mangkuk besar itu, dan mulai menelan mie itu sampai tak menyisakan sedikit pun mie di dalam mangkuk.

***

Hara mengarahkan segelas coffe ke arah Jong Woon yang sedang menyaksikan pemandangan malam hari yang dipenuhi taburan bintang di atas langit.

Memandang kerlap-kerlip lampu kendaraan yang masih tampak sibuk berlalu lalang, menunjukkan kota Seoul yag masih ramai bahkan di jam tengah malam seperti ini.

Hara yang berdiri di samping Jong Woon, mengikuti arah pandangan Jong Woon. Tidak terlalu menarik. Dan ia kini lebih senang memandangi wajah kekasihnya dari samping, tidak merubah sedikit pun taraf ketampanannya. Di lihat dari sisi mana pun, ia terlihat tampan dengan pipinya yang chubby serta matanya yang tajam.

“Tiga tahun bersamaku, apa itu belum cukup untuk mengingat betapa tampannya wajahku?”Ujarnya dengan kepercayaan diri yang tinggi, dan gadis itu hanya bisa menghela nafas kasar dan tak bernafsu lagi memandang pria di sebelahnya.

Jong Woon menyesap coffe buatan Hara, salah satu kemajuan gadis itu adalah berhasil meracik coffe yang bisa dibilang enak.

“Tidak terlalu buruk…”komentar Jong Woon, ia membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pembatas di balkon apartment Hara. Sama halnya dengan cara berdiri gadis itu sekarang. Ia pun meletakkan kembali gelas coffenya ke atas meja yang dapat dijangkau dengan mudah olehnya.

Namja itu melirik Hara yang berdiri mematung dengan kedua tangannya yang memainkan kukunya di atas perutnya. Jong Woon menghela nafas. Dengan tangannya ia menggamit jemari Hara, lalu mengusapnya pelan.

Hara sempat kaget, namun merasakan kehangatan yang dihantarkan pria itu melalui genggaman tangannya. Genggaman yang masih sama setelah tiga tahun berlalu, hangat dan menenangkan.

Bahkan melalui tangan namja itu, ia bisa meredam segala kegugupan dan ketidaktenangan dalam hatinya. Selalu seperti itu, mungkin dalam jangka waktu yang lama tak akan pernah berubah.

“Pernahkah terpikir di benak oppa, aku gadis yang egois?” Pertanyaan yang mengejutkan dari gadis itu, alis Jong Woon terangkat mencoba mencerna apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Hara.

“Maksudmu?”

“Aku…aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Sejauh apa aku berusaha untuk melupakannya, tetap saja aku akan terus mengingat pria itu. Sulit untuk benar-benar menghilangkan ia dari memori otakku, terkadang wajahnya itu masih saja menghantuiku. Jujur, aku lelah dengan semua ini. Aku benar-benar lelah oppa.”Ia menangis, cairan bening dari kelopak matanya jatuh begitu saja tanpa dapat dicegah.

Mendengar isak tangis sang gadis, Jong Woon mengambil inisiatif untuk merengkuh tubuh Hara ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya lembut, sekedar untuk meredam tangisnya dan juga menenangkannya.

“Terkadang orang sulit jatuh cinta lagi, karena ketika ia telah memberikan seluruh hatinya untuk orang lain. Ia tak akan dapatkan kembali seutuhnya”

Hara semakin membenamkan wajahnya ke dada Jong Woon, dan tangannya juga ikut mengeratkan pelukannya. Seakan ia tak ingin lagi ada jarak di antara mereka, hingga tak ada sedikit pun angin yang terlintas di antara keduanya.

Kini gadis itu tak memungkiri bahwa ia juga telah merasakan hal yang sama seperti Jong Woon. Tak dapat mengelak lagi bahwa ia sudah jatuh dalam pelukan namja itu. Seorang namja yang dengan setia menunggunya selama tiga tahun hanya untuk mendapatkan cintanya.

Hara mulai merasa kehadiran pria itu sangat berarti baginya. Sudah menjadi ketergantungannya mungkin. Mulai sekarang ia tak ingin lagi menyia-nyiakan Jong Woon yang sudah jelas mencintainya.

Dan sudah waktunya bagi Hara untuk mulai menghilangkan zat-zat berwujud Lee Joon dari hatinya, tak memungkinkan lagi kan baginya untuk kembali pada Lee Joon. Namja itu tak ada lagi kabar, bagai hilang di telan bumi.

Hara juga ingin mencintai Jong Woon lebih dan lebih setiap harinya. Bahkan kalau bisa, kisah cinta mereka akan berujung pada pernikahan.

“Aku tidak pernah menanyakan hal ini sebelumnya” Hara menggantungkan kata-katanya.

“ Apakah…oppa bahagia saat bersamaku?”tanyanya lirih. Hampir tak terdengar.

“Bahagia itu bukan berarti memiliki semua yang kita cintai. Melainkan mencintai semua yang kita miliki. Itulah definisi kebahagiaan menurutku”

Hara melepaskan tubuhnya dari pelukan Jong Woon, menatap mata pria itu tepat di manik mata. Sengaja ia berjinjit sedikit, lalu mengecup singkat bibir Jong Woon. Tak peduli dengan kesan apa yang akan diberikan Jong Woon, gadis yang agresif? Ia tidak lagi berpikir sampai kesana, Hara hanya ingin menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini.

Namja itu seolah tak dapat berkata-kata apa lagi, ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Hara barusan. Dan kini jantungnya memompa darah lebih kuat dari semestinya, aliran darah dalam tubuhnya pun berdesir deras. Semuanya berjalan tidak normal, hanya karna gadis itu. Kim Hara.

“Saranghae”gumam Hara pelan.

Jong Woon menarik pinggang gadis itu perlahan, memiringkan sedikit wajahnya agar dapat menggapai dengan mudah apa yang ia inginkan.

“Nado saranghae…”balasnya sebelum ia menyapukan bibirnya tepat di bibir gadis itu. Lalu beralih ke dahi gadis itu dan mendekap erat-erat tubuh mungil Hara.

***

~At Hara’s Apartment~

 

Gadis itu mengecilkan volume suara televisi-nya, ketika dirinya mendengar suara bergetar yang berasal dari ponselnya.

Ia menyambar ponselnya malas, dengan sekali gerakan ia menekan tombol yes dan langsung terhubung dengan seseorang yang menelponnya. Kim Jong Woon, pria itu menelpon di tengah keseriusannya dalam menonton. Bukan waktu yang tepat untuknya.

“Ya ini aku!” sapanya singkat, tak peduli rutukan apa yang akan diberikan si penelpon dengan sapaannya yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tidak senang ya aku telpon!” jawab Jong Woon di seberang sana.

“Iya! Kau menggangguku yang tengah asyik menonton drama kesukaanku! Dan aku tidak suka itu!” sahutnya masih dengan nada marah dan kesalnya. Ia tipe orang yang tidak akan suka diganggu jika sedang asyik menyaksikan drama yang seringkali membuatnya melupakan segala hal.

“Oke aku tutup! Maaf mengganggumu” Jong Woon hampir memutuskan telponnya jika saja gadis itu tak angkat bicara.

“Sudah terlanjur menelpon, mengapa ditutup?”dengusnya masih memperdengarkan kekesalan dari nada bicaranya. Namun itu malah membuat Jong Woon terkekeh mendengarnya, ia terus tertawa di seberang telpon.

“Eng…kau tidak ada jadwal hari ini?” seru Jong Woon setelah tawanya reda. Setelah bersusah payah untuk tidak lagi menyemburkan tawa alih-alih takut kalau gadisnya marah dan bisa lebih parah dari itu.

“Tidak. Makanya aku menyempatkan diri untuk menonton drama kesayanganku hari ini. Dan kau mengacaunya oppa!” rutuk gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya dan sesekali melihat ke arah televisinya.

“Siapa pemainnya?”

“Yoo Ah In!” jawabnya singkat sedikit menyeringai karna bisa dipastikan bahwa kekasihnya pasti tengah cemburu mendengar nama aktor tampan itu disebutkan.

Jong Woon tahu betul kalau Hara amat mengagumi sosok pria bernama Yoo Ah In.  Bahkan tak sekali dua kali Hara secara terang-terangan menunjukkan rasa ketertarikan pada aktor yang memainkan Drama Sungkyunkwan Scandal ini.

Hara menyukai cara pria yang diidolakannya itu tersenyum, terlihat licik sekaligus mempesona di saat bersamaan. Belum lagi aktingnya saat berperan menjadi Gyeol Oh, keren, pintar dan mengagumkan.

Itulah yang sering didengar Jong Woon dari Hara mengenai pria yang memang patut dikagumi dan juga dijadikan pria idaman bagi banyak wanita.

“Apa hebatnya ia dibanding aku?”pekik namja itu tertahan. Ia benar-benar merasa di nomor duakan oleh Hara, jika menyangkut namja-namja tampan yang ada di drama yang biasa ditonton gadis itu.

“Oppa juga begitu mengagumi Moon Geun Young, jadi apa salahnya jika aku menyukainya sebagai idola. Hanya sebatas IDOLA OPPA! Tidak lebih…”

“Ara, ara. Aku tak akan lagi mendebat tentang ketertarikanmu melihat namja-namja tampan yang ada di drama itu. Toh, nyatanya akulah yang memilikimu sekarang. Bukankah begitu Nona Kim?” ucapnya dengan membanggakan diri sendiri. Menunjukkan kalau ia lah yang hebat, dengan bisa memiliki Hara.

Hara sekarang sedang sibuk mengatur nafasnya yang sedikit sesak ketika menginterupsi suara berat Jong Woon berucap sesuatu yang mengejutkan itu. Miliknya? Oh, rupanya pria itu sudah memiliki kepercayaan diri tingkat akut sekarang.

“Oh ya, kalau begitu apa kita bisa pergi berdua hari ini?”

“Aku memang tidak mempunyai jadwal, bukan berarti aku tidak mempunyai kegiatan oppa! Aku akan pergi dengan Ji Yeon dan Ji Eun, melakukan hal-hal yang berbau wanita.” Hara berjalan mendekati kulkas dan mengambil sebotol air kemudian meminumnya dengan sekali teguk.

Percakapan lewat telpon mereka masih berlanjut, namun sepertinya Jong Woon sedang disibukkan berbicara dengan seseorang. Mungkin karyawannya.

Dan gadis itu masih menunggu sampai Jong Woon membalas ucapannya tadi. Ia mengalihkan perhatiannya dulu ke mocca tart kesukaannya, memotong sedikit dengan garpu lalu menikmatinya dengan lahap.

“Kenapa Ji Eun tidak bicara padaku kalau kalian akan pergi bersama!” sahut namja itu akhirnya setelah beberapa menit tak terdengar suaranya.

“Mungkin ia takut nanti oppa akan merusak acara kami. Oppa akan meninggalkan semua pekerjaan dan lebih memilih menemaniku jalan-jalan. Aku tidak suka caramu yang itu!”

“Wanita memang aneh. Ia akan marah jika kekasihnya nyaris tidak mempunyai waktu untuk kencan, tapi tidak akan terima jika kekasihnya selalu mengikutinya kemana pun!” Terdengar decakan dari mulutnya, membuat senyuman tersungging dari bibir gadis itu.

“Bukan wanita yang aneh, tapi pria yang tidak bisa memahami situasi!” sergah Hara tak mau kalah, mendebatkan masalah yang menurut mereka sangat menarik untuk dibahas.

“Aku hanya ingin menjadikanmu prioritas utamaku Hara~ya! Di antara segalanya kau yang akan selalu ku utamakan” kata Jong Woon yang sukses membuat jantung Hara berdetak tak menentu mendengarnya. Pria ini mulai bisa memberikan suatu reaksi berlebihan terhadapnya. Seperti saat ini misalnya.

“Kau mulai membual lagi oppa! Sudah yah aku tutup” putus Hara namun namja itu seperti masih ingin mengungkapkan sesuatu.

“Tunggu dulu. Aku belum mengucapkan sesuatu padamu, SARANGHAE!” Telpon pun terputus begitu saja, padahal Hara sudah ingin membuka suara, mengucapkan hal yang sama dengan Jong Woon.

“Nado saranghae…” ujarnya lirih pada dirinya sendiri.

Drtdrtdrt

Ponselnya kembali bergetar, ada sms yang masuk dan itu dari…

From: Jong Woon Oppa

Telponnnya tidak sengaja terputus, aku ada rapat mendadak sekarang.

Tapi aku sudah tahu apa jawabanmu. Tanpa kau mengucapkannya sekali pun.

 

To: Jong Woon Oppa

Aku mencintai oppa lebih dari hari kemarin. Saranghae. . .

Ia tekan tombol send dengan cepat, agar pria itu juga lebih cepat mengetahui apa yang dirasakannya saat ini. Jatuh cinta lagi, bukanlah hal yang buruk sama sekali. Dan kini Hara tengah merasakannya.

 

***

 

~At Hospital~

 

Wajah Lee Joon pucat pasi, di pelupuk matanya sudah berkumpul cairan yang bening bernama air mata. Bersiap untuk turun, dan mengalir di kedua belah pipinya. Namun gerakan tangannya tak akan membiarkan air mata itu turun, ia sudah terlihat begitu lemah. Tanpa harus ditambah lagi dengan keterpurukannya tanpa gadis itu.

Kim Hara. Sudah 3 tahun ia tak melihat wajah sang gadis secara langsung. Iya…sebab hampir setiap hari wajah Hara menghiasi acara-acara di televisi. Setidaknya itu membantu sedikit, agar ia tak melupakan bagaimana rupa Hara sekarang.

Semua itu memperkecil resiko bahwa Lee Joon akan melupakan berbagai ekspesi yang Hara keluarkan. Ketika ia tertawa, tersenyum, bahkan wajah kesalnya. Itu semua masih sama seperti dulu. Sama seperti 3 tahun yang lalu disaat mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih.

Pada kenyataannya ia memang tak bisa lepas dari Hara. Melupakan gadis itu tidaklah mudah, semudah saat ia mengucapkannya dulu pada gadis itu. Mengatakan bahwa rasa cintanya pada Hara sudah semakin menipis. Bahkan rasa cinta itu berkurang sedikit pun tidak, malahan terus bertambah setiap kali ia mengingat Hara.

Sulit memang untuk mengatakan selamat tinggal pada orang yang kita cintai, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak hilang begitu saja.

Bukan tanpa alasan ia meninggalkan Hara, semua dilakukannya semata-mata demi kebahagiaan gadis itu. Penyakit mematikan ini, sudah bersarang di tubuhnya selama bertahun-tahun.

Leukemia, yang lebih kita kenal kanker darah, keadaan saat dimana penderita itu memproduksi sel darah putih yang abnormal dan memiliki fungsi yang berbeda dengan sel putih darah normal.

Sumsum tulang belakang si penderita leukemia, membentuk sel darah putih abnormal(sel leukemia) yang akan terus membelah dan semakin mendesak sel normal, sehingga sel darah normal akan mengalami penurunan. Kurang lebih begitulah penyakit yang sedang di derita Lee Joon.

Mungkin penyakit ini alasannya, ia tak ingin menyulitkan gadis itu ketika bersamanya. Membuatnya menangis dan bersedih, lebih baik ia memilih jalan yang lain.

Melepaskan Hara, membiarkan ia mencari kebahagiaan lain di luar sana. Terus bersamanya, sama saja membawa gadis itu dalam neraka dunia. Tak akan ia biarkan gadis itu susah hanya karnanya.

Lagi pula dengan keadaan seperti ini, ia mana mungkin bisa lagi memberikan kebahagiaan pada Hara. Penyakit ini terus menggerogoti tubuhnya, Lee Joon semakin terlihat kurus dan pucat.

Tapi…rasa rindunya pada Hara juga menggerogoti hatinya, meninggalkan bekas luka yang amat dalam. Selalu kembali terkoyak ketika ia tak dapat meratakan rindunya pada sang gadis.

Kadang kita memang harus meninggalkan seseorang yang dicintai, bukan karna tak cinta. Melainkan karna kau lebih baik terluka sendiri tanpa harus ada dirinya disisi kita.

“Oppa, kau disini!” sebuah suara lembut menginterupsi, gadis cantik itu mengambil tempat kosong di sebelah Lee Joon.

“Kau mencariku?” seru namja itu, memberikan sedikit senyuman yang terlihat tegar.

“Iya, aku mencarimu. Aku melihat kamarmu kosong, dan suster bilang kau jalan-jalan keluar. Kekhawatiran ku bertambah saat tidak dapat menemukan oppa dimana-mana dan ternyata oppa malah duduk disini. Apa oppa bosan di kamar terus?” celoteh gadis itu tanpa henti, merasa khawatir kalau terjadi apa-apa dengan kakak kandungnya.

“Kau ini cerewet sekali!” komentar Lee Joon lalu mengacak-ngacak rambut adiknya. Lee Min Ji.

Mereka terdiam. Membiarkan keheningan yang tercipta dan berkuasa saat ini. Udara yang berhembus saat ini begitu sayang jika dilewati begitu saja. Sangat menyejukkan. Di tambah lagi mereka sedang duduk di bawah pohon yang cukup rindang.

“Aku. . .merindukannya!” ucapnya tanpa sadar.

Min Ji menoleh ke arah Lee Joon yang wajahnya tak lagi seperti dulu. Pucat, sorot matanya yang kosong dan juga sangat lemah. Senyum kegetiran mulai diperlihatkan oleh gadis itu, melihat sang kakak menderita karna rindu yang menyiksa batinnya.

“Tak berniat untuk menemuinya?” tanya Min Ji hati-hati. Takut jika itu akan semakin memperparah keadaan.

“Ia akan bersedih jika melihatku seperti ini. Aku tidak pernah membuatnya bahagia, apa aku harus membuatnya bersedih juga? Bukankah ia sudah bahagia sekarang? Bersama namja itu, siapa namanya? Ah…Kim Jong Woon, jadi untuk apa lagi aku menemuinya.” Matanya menerawang jauh, tersenyum kecut ketika mengingat masa-masanya bersama gadis itu.

“Setidaknya untuk sekali saja, meluruskan apa yang sebenarnya terjadi” Min Ji memandang iba ke arah kakaknya. Hatinya juga teriris melihat Lee Joon menderita, merindukan gadis yang ia cintai tapi tak mau untuk bertemu dengan gadis itu.

“Oppa! Kau sebenarnya cemburu kan ketika melihat kedekatan mereka di tv?” tanya Min Ji yang terlihat mulai kesal dengan Lee Joon yang benar tidak bisa di mengerti jalan pikirannya. Min Ji heran, kenapa Lee Joon melakukan itu? Bukankah itu menyiksa dirinya sendiri? Sepertinya kakaknya itu lebih mencintai dirinya yang terluka dibandingkan harus terluka bersama dengan gadis yang dicintainya.

“Ketika kau tulus mencinta, kau akan lakukan apa pun untuk ia bahagia, bahkan jika itu mengorbankan kebahagiaanmu” lirihnya nyaris tak terdengar. Seperti bisikan yang terbang begitu saja ketika angin bertiup.

“Arasseo! Tetaplah pada keras kepalamu itu oppa!” desis Min Ji tajam. Berlalu pergi meninggalkan Lee Joon yang masih setia pada posisi duduknya. Tak bergeming sedikit pun dari tempatnya.

“Oppa! Cepatlah kembali ke kamar, udara dingin tidak baik untuk kesehatanmu” kata Min Ji kembali setengah berteriak, agar suaranya dapat ditangkap dengan jelas oleh Lee Joon.

Lee Joon memutar kepalanya cepat ketika adik kesayangannya itu berteriak kearahnya, ia tersenyum lemah mendengar nasihat adiknya itu. Senyuman yang 3 tahun terakhir terpeta di wajahnya.

Bukan lagi jenis senyuman mempesona, karna Lee Joon sudah kehilangan semuanya semenjak berpisah dengan Hara.

***

~At Mango Six~

Shinsa-dong, Gangnam-gu, Seoul.

 

 

Ketiganya asyik bercakap-cakap sambil menikmati minuman dan makanan dari café yang tidak perlu diragukan lagi ketenarannya ini. Bahkan salah satu member KARA, yaitu Nicole sering kali mengunjungi Mango Six, tempat mereka berada sekarang.

Hara-lah yang punya ide untuk berkunjung kesana, menurutnya itu tempat yang bagus untuk berbincang-bincang seperti yang mereka lakukan sekarang. Selain karna ia begitu menyukai segala jenis kue dan cookies yang ada di tempat ini.

Bisa dibilang kalau Hara adalah pecinta segala jenis kue! 2 jam disana, cukup waktu bagi Hara untuk menghabiskan 2 tarlet dan 2 cookies beserta Coffe Machiato-kesukaaannya-.

Mereka terlihat sangat menikmati obrolan yang mereka bicarakan, sesekali tertawa karna merasa lucu terhadap apa yang diobrolkan.

“Bagaimana hubungan kalian berdua? Apa ada kemajuan?” tanya Ji Yeon yang secara mendadak mengganti topik pembicaraan mereka.

“Hubungan siapa? Aku dan Jong Woon oppa?”

“Memangnya siapa lagi! Aku…atau Ji Eun?” Ji Yeon mendengus dan menoleh kearah Ji Eun yang hanya bisa tersenyum menanggapinya.

“Lalu…yang kau sebut kemajuan itu apa?” tanya Hara dengan tampang polosnya, arah pembicaraan Ji Yeon membuatnya harus berpikir berulang-ulang untuk mengerti.

“YAKK! Kau tidak mengerti maksudku eo? Yang benar saja…maksudku tentang kemajuan hubungan kalian itu, apakan kalian sudah berbicara tentang pernikahan?”

Hara tersedak milkshake yang sedang ia minum, matanya membelalak sempurna mendengar kata terakhir dari ucapan Ji Yeon. PERNIKAHAN?? Bahkan itu belum sama sekali terlintas di pikirannya, setidaknya dalam kurun waktu yang dekat ini.

Menikah masih belum berada pada list dalam hidupnya untuk saat ini. Mereka belum sampai pada tahap itu, membicarakan soal masa depan atau pun pernikahan. Yah, walaupun Jong Woon sering kali menyinggung permasalahan yang sedang dibicarakan mereka saat ini.

“Aku. . .aku belum pernah membicarakannya dengan Jong Woon~oppa. Aku rasa oppa juga belum berpikir kearah sana, jadi biarkan saja hubungan kami ini berjalan dengan apa adanya.” Hara mengucapkan kalimatnya dengan salah tingkah, sembari mengusap tengkuknya menahan gugup. Topik pembicaraan kali ini membuatnya kehabisan kata, bingung harus menjawab apa.

“Tapi…beberapa hari yang lalu oppa pernah membicarakan hal yang menjurus ke pernikahan. Ia bertanya tema apa yang bagus untuk pernikahan juga tempat apa yang paling romantis untuk dijadikan tempat untuk melangsungkan pernikahan” kali ini Ji Eun yang ikut andil bicara, membuat Hara semakin diitimidasi oleh kedua sahabat yang berada di hadapannya ini.

Kalau saja ia tak mengingat ini tempat umum, sudah dapat dipastikan kalau Ji Yeon dan juga Ji Eun habis karna amukan Hara. Bukan karna ia tidak suka dengan pembicaraan ini, melainkan memang hal ini belum sedikitpun mereka bicarakan sebelumnya.

“Tema pernikahan? Oh, jinjjayo? Ku rasa kalian harus menikah di pantai, bukankah itu sangat langka? Atau di Pulau Jeju? Tak ada tempat seindah itu selain disana Hara~ya. Aku jadi tidak sabar melihat kau memakai gaun pengantin yang cantik dan bersanding dengan Jong Woon~oppa yang memakai tuxedo hitamnya. Kalian akan terlihat serasi ketika berada di altar dan kita berdua akan menjadi…”

“Pengiring pengantinnya….KYAAA! Eonni aku juga tidak sabar menunggu momen itu!”

Hara terheran-heran, mengapa mereka berdua yang histeris?? Bukankah yang sedang mereka bicarakan itu tentang pernikahannya? Seharusnya ia memang tidak perlu memenuhi ajakan temannya ini dan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

“Yakk! Hentikan teriakan histeris itu, membuatku tuli tau. Memangnya siapa yang akan menikah hah? Ingat yahh, bahkan Jong Woon~oppa pun belum melamarku dan memintaku menjadi istrinya, jadi jangan terlalu banyak berkhayal nona-nona”

“Bagaimana kalau aku melamarmu sekarang juga?” sebuah suara familiar menginterupsi, Hara menegang seketika. Apakah dia…?

Hara menolehkan kepalanya, ia hanya bisa meringis ketika yang ia dapatkan adalah Jong Woon yang berdiri tegap di belakangnya. Gadis itu memijit pelipisnya perlahan, berharap bisa mengurangi sakit yang secara tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Aku boleh bergabung kan? Apa aku mengganggu pembicaraan kalian?” seru Jong Woon memastikan bahwa kehadirannya tidak mengusik kesenangan tiga wanita itu.

“Aniyo, tentu saja oppa boleh duduk disini! Bukankah kalian harus membicarakan masalah pernikahan? Sepertinya pemikiran kami berdua sama sekali tidak membantu Hara, jadi kami serahkan padamu Jong Woon~oppa!” cerocos Ji Yeon tanpa henti, mengabaikan tatapan membunuh Hara yang menghujam langsung ke matanya.

“Dan kalau kalian sudah memutuskan semuanya, cepat kabarkan kami! Aku dan Ji Yeon eonni dapat membantu semaksimal mungkin. Ya kan eonni?” kedua makhluk yang ingin sekali Hara habisi itu, saling berpandangan kemudian tertawa setelah berhasil menjahili Hara.

“Kami pergi dulu…” pamit Ji Eun dan Ji Yeon, secepat mungkin langsung menghilang dari hadapan Hara. Mungkin takut akan konsekuensi yang mereka terima, jika lama-lama berada disana.

“Kau lihat kan oppa? Aku nyaris gila menghadapi kedua wanita itu! Kenapa juga adikmu jadi berubah menyebalkan seperti itu. Persis seperti oppanya!” geramnya sembari mendelik tajam, lalu menyeruput minumannya tanpa tersisa. Jong Woon hanya terkekeh mendengarnya, ekspresi gadis itu saat sedang kesal begitu menggemaskan menurutnya.

“Mereka kan hanya berniat membantu kita, apa salahnya?” balas Jong Woon enteng dan tersenyum penuh maksud.

“Membantu apa?”

“Tentu saja membantu untuk mengurusi pernikahan kita Hara~ya! Jadi kita harus memulai dari mana? Tema pernikahan? Kau ingin menikah dimana? Beach party bukanlah ide yang buruk, tapi aku lebih senang garden party. Atau kau mau melangsungkannya di gedung saja?” Alisnya terangkat meminta jawaban dari Hara yang sebenarnya masih tetap pada ekspresi kagetnya. Memandang tajam tanpa berniat akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan Jong Woon.

“Oppa, hentikan semuanya! Atau kusumpal mulutmu dengan sepatu” hardik Hara dengan suara yang meninggi. Bermaksud agar Jong Woon menghentikan semua omong kosongnya.

“Woah, kenapa calon istriku ini galak sekali! Tapi, kau semakin terlihat cantik saat sedang marah!”

“Oppa!” seru Hara kesal, ia hentakkan kakinya kasar. Lagi-lagi Jong Woon tertawa melihat raut wajah Hara yang memerah karna pujian yang diberikannya tadi.

“Baiklah, baiklah! Bagaimana kalau setelah ini kau temani aku membeli beberapa kemeja?” pinta Jong Woon tersenyum semanis mungkin. Siapa tahu bisa membuat gadis itu tidak kesal lagi dan mengiyakan permintaannya.

Gadis itu hanya balas menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

***

~At Department Store~

 

Hara sibuk memilih-milih baju di toko itu, sedangkan Jong Woon hanya membuntutinya di belakang. Dan tentu saja sembari memegangi baju-baju yang di pilihkan Hara untuknya.

Namja itu sebenarnya sudah kesal, melihat tingkah Hara yang berbelanja tanpa berpikir layaknya orang yang kesetanan. Berulang kali Jong Woon memprotes, tapi hanya tatapan tajam yang didapatkannya.

Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah. Tak lagi mau membuka suara untuk mendebat kekasihnya, tapi setidaknya gadis itu menanyakan dulu padanya suka atau tidak terhadap baju yang dipilihnya. Bukannya terus-terusan menyodorkan baju kepadanya yang bahkan sama sekali tidak menarik di matanya.

“Oppa kalau yang ini bagus tidak?” tawar Hara lagi, mencocokkannya di tubuh Jong Woon.

“Ternyata oppa cocok memakai baju warna apa pun! Oppa sepertinya akan terlihat mempesona memakai baju ini” ujarnya sumringah lalu kembali memberikan baju itu ke Jong Woon.

Gadis itu sudah ingin mengambil baju lagi ketika Jong Woon menahan keinginannya.

“Hara~ya! Apakah baju ini kurang banyak? Aku kan meminta mu kesini hanya untuk mebeli beberapa stel kemeja, bukannya memborong semua yang ada di toko ini?” kesal Jong Woon yang sudah mulai habis kesabaran.

Hara melihat ke arah setumpuk baju yang semenjak tadi ia pilih berada dalam pelukan Jong Woon. Sepertinya ia benar-benar sudah kalap, sampai mengambil baju sebanyak itu.

“Mianhae oppa! Aku kurang mengontrol diri lagi” cengirnya tanpa rasa bersalah sambil mengatupkan kedua telapak tangannya tanda meminta maaf.

“Kau mau membuatku jatuh miskin dengan gaya berbelanjamu yang seperti ini” cetus Jong Woon lalu mengerucutkan bibirnya sebal. Hara dengan cepat memasang wajah paling aegyonya yang selalu bisa membuat hati Jong Woon luluh.

“Ayo kita ke kasir” ajak Jong Woon tanpa mau berlama-lama lagi berada di sana.

“Tapi kau harus coba dulu oppa!”

“Oh ayolah Kim Hara. Baju ini pasti cocok semua untukku” tandasnya cepat, mencoba menghiraukan perintah kekasihnya.

“Mana bisa begitu? Bagaimana kalau bajunya tidak cocok? Nanti tingkat ketampanan oppa bisa berkurang karna pengaruh bajunya”

“Baiklah, kali ini kau menang”

“Aigoo…calon suamiku ini manis sekali!” godanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Tersenyum penuh kemenangan dan mendorong tubuh kekasihnya sampai menuju ruang ganti.

***

A few days later

~At Hospital~

 

Hara bergegas turun dari taxi yang membawanya kemari, ke tempat yang sama sekali tidak diduganya, menjadi tempat namja yang dulu ia cintai sedang dalam keadaan sekarat.

Telpon yang tadi diterimanya, berasal dari Min Ji-adik kandung Lee Joon-. Yang mengabarkan bahwa Lee Joon sudah mengalami koma selama 3 hari dan keadaannya semakin parah sekarang. Min Ji pun mengatakan kalau mungkin saja ini hari terakhir bagi kakaknya berada di dunia fana ini.

Saking tergesa-gesanya, ia nyaris beberapa kali menabrak orang-orang yang kebetulan lewat di depannya. Sudah banyak yang memperhatikannya sepanjang jalan, namun itu bukanlah suatu hal yang penting baginya.

Ia hanya terfokus pada Lee Joon yang sedang terbaring lemah di salah satu kamar di rumah sakit itu. Hara melangkah pelan sekali ketika ia sudah sampai di depan kamar di mana Lee Joon terbaring.

Pintu kamar yang terbuka lebar membuatnya dapat melihat dengan jelas bagaimana raut wajah orang yang mengelilingi Lee Joon tersebut yang menundukkan wajah mereka dalam kebisuan.

Mereka semua berbalik ke arah Hara, menunjukkan wajahnya yang pasi dan mata mereka yang berkaca-kaca. Hara kemudian melangkah lagi untuk masuk, memastikan apakah benar orang yang seluruh tubuhnya terbungkus kain putih itu adalah Lee Joon.

Tangisan demi tangisan terus saja memenuhi ruangan serba putih itu, membuat kaki gadis itu terasa berat untuk melangkah. Tak akan sanggup jika kenyataan itu memang benar adanya.

Perlahan namun pasti, dengan jemarinya yang gemetar hebat ia singkap kain putih yang menutupi wajah seseorang di baliknya. Benar saja, Lee Joon yang terkulai tanpa sehelai pun nafas yang ia dapati.

Wajahnya putih pucat, dan bibirnya yang sudah membiru. Matanya pun sudah tertutup rapat untuk selama-lamanya. Jiwanya telah meninggalkan orang-orang yang menyayanginya.

Seketika lutut dan kakinya melemas, ia seperti tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Ia tak pernah berpikir kalau pertemuan pertama mereka setelah 3 tahun tak bertemu, juga menjadi pertemuan terakhir yang sangat mengiris hatinya.

Hara tak kuasa lagi menahan perasaannya saat ini. Sekujur tubuhnya bergetar, air mata yang semula terus ditahannya, mengalir dengan deras tanpa kendali.

“Oppa. . .” lirihnya lemah, melalui bibirnya yang bergetar hebar karna tangis.

“Oppa sudah pergi dengan tenang eonni! Bahkan ia juga sempat tersenyum sesaat sebelum nyawanya dicabut” kata Min Ji seolah menenangkan  Hara yang terlihat masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Sekali lagi dilihatnya tubuh yang terbujur kaku itu, lalu dengan langkah yang terseok-seok ia keluar dari ruangan yang baginya sangat mencekam itu.

Dengan tertatih ia menyeret langkahnya, menangis sejadi-jadinya di luar ruangan. Perasaan sakit itu menyelimuti seluruh permukaan hatinya. Berkali-kali ia pukul dadanya, mencoba meredakan rasa sakit yang menjalar begitu cepat terhadap semua organ tubuhnya.

Kepalanya terasa berputa-putar, pada akhirnya ia lunglai diatas lantai dalam keadaan terduduk. Tangannya terasa berat untuk diangkat. Seakan bumi sedang menariknya ke bawah.

“Hara~ya!” panggil Jong Woon yang langsung menghampiri Hara yang sedang terpuruk saat ini. Sebelum kesana, Hara terlebih dahulu menghubungi Jong Woon memang.

“Oppa, namja itu…namja yang sudah menyakiti hatiku! Dia sudah pergi…pergi untuk selamanya” Hara kembali menangis dalam pelukan Jong Woon, air mata kesedihan itu tanpa henti menghujani kedua belah pipi Hara. Membuat suasana duka itu menjadi semakin sempurna dengan tangisannya.

Jong Woon hanya bisa mengelus punggung kekasihnya, tanpa tau harus berbuat apa dan bingung harus mengatakan apa yang bisa membuat Hara tenang. Hara mencengkram baju Jong Woon kuat, berharap itu bisa mengurangi rasa kengiluan di hatinya yang semakin menjadi-jadi ini.

“Oppa. . .bawa aku pulang! Aku ingin pulang oppa” ucap Hara di sela-sela tangisnya, masih memeluk tubuh Jong Woon erat.

“Ne, kita pulang sekarang!” ia mengelus puncak kepala gadisnya, lalu membantu gadis itu untuk berdiri dan pergi meninggalkan rumah sakit.

***

Dalam perjalanan pulang ke apartment Hara, mereka hanya diam. Jong Woon tak berani mengatakan sepatah kata pun semenjak tadi. Laju mobil yang lambat itu seperti ikut mengiringi keheningan saat ini.

Hara memang sudah jauh lebih tenang dari tadi, tapi dari guratan wajahnya masih menunjukkan ketidakrelaannya atas kepergian Lee Joon. Ia masih enggan membuka suara, lebih memilih mengalihkan tatapannya yang kosong ke arah jalan.

Jong Woon menghela nafas, lalu memutar setirnya untuk meminggirkan mobil. Menghadapkan Hara pada sebuah jembatan yang sering ia datangi bersama Jong Woon. Ia cukup kaget, ketika mobil yang tadinya mau membawanya pulang malah berhenti di tengah jalan.

Hara menatap lekat mata Jong Woon, yang disambut oleh senyuman khas dari namja itu.

“Kau bisa menenangkan dirimu dulu disini, aku keluar dan kau akan lebih leluasa menangis di sini!” ucap Jong Woon yang seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Hara padanya.

“Tapi aku. . .”

“Aku akan pura-pura tidak dengar!” potongnya sebelum Hara melanjutkan ucapannya.

Jong Woon melepas seat belt-nya, sejenak ia pandangi wajah gadis itu dan dengan tangannya ia sentuh pipi Hara yang memerah karna tangis. Setelah ia puas memandangi wajah gadisnya, barulah ia membuka pintu mobil dan keluar.

Namja itu berpegangan pada pembatas jembatan, meliarkan pandangannya lurus ke depan. Entah tahu apa yang sebenarnya ia lihat, baginya tidak ada lagi objek yang paling menarik untuk dilihat selain gadis itu.

Sementara Hara yang berada di dalam, terus mengeluarkan air matanya. Rasa sedih, kecewa, sakit, bersatu padu dan menghasilkan isakan luar biasa dari bibirnya. Ia tak menyangka alasan pria itu meninggalkannya karna penyakit yang dideritanya.

Hara tak tahu dengan cara apa lagi ia harus mengurangi kepedihan ini, selain menangis dan merutuki sikap bodoh Lee Joon. Ia merasa kalau Lee Joon adalah orang paling jahat sekaligus bodoh di matanya. Seharusnya ia hidup bahagia dengan gadis lain, bukannya meringkuk di rumah sakit karna penyakit mematikan itu.

Itu lah yang Hara harapkan selama ini, bahwa Lee Joon menjalani hidup dengan baik dengan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Tapi kenyataannya jauh dari apa yang Hara inginkan.

“Suatu hari nanti kau akan hidup tanpaku. Dan aku akan melihatmu dari surga” tutur Lee Joon pelan, pandangannya tak luput sedikit pun dari pantai indah yang selalu di selingi oleh deburan ombak.

Hara yang ada disebelahnya terlihat mengerutkan keningnya, bingung kenapa tiba-tiba kalimat itu yang terlontar dari mulut Lee Joon.

Ada perasaan tidak enak yang mehinggapi hatinya sekarang, entahlah Hara juga tak mengetahui bagaiman cara mendeskripsikan perasaannya itu, yang jelas ada sedikit ketakutan yang bergemuruh di hatinya.

“Kenapa tiba-tiba bicara oppa begitu? Seperti ingin mati besok saja” canda Hara dengan tawa yang dipaksakan. Menyembunyikan segala rasa ketakutan dan ketidaktenangan yang menyelimuti hatinya saat ini.

“Nyatanya kita memang tidak akan tahu kan kapan waktu kita di dunia akan berakhir! Tidak ada yang bisa menjamin apa kita masih dapat menghirup oksigen besok pagi.” Kedua ujung bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman yang Hara merasa banyak rahasia tersembunyi disana.

“Aisssh, sudahlah ganti topik pembicaraannya! Aku tidak ingin berbicara tentang kematian” Hara berucap gusar, tak bisa lagi menutupi rasa ketakutannya yang begitu kentara.

Lee Joon mendongakkan kepalanya, menatap langit yang membiru di atas. Kedua tangannya menjadi tumpuan agar ia bisa lebih leluasa memendang ke atas.

“Masalahnya apa aku bisa hidup tanpamu di atas sana?” lirihnya nyaris berbisik. Namun Hara masih menangkap dengan jelas suara kekasihnya itu, meskipun suara dentuman ombak seakan berlomba menyaingi suara Lee Joon

Hara terdiam, ia berpikir apa yang sebenarnya sedang dikatakan kekasihnya ini. Seperti ada makna tersirat pada ucapannya, tapi Hara terlalu bodoh untuk mengetahui kebenarannya.

Setengah jam telah berlalu, Hara sudah sedikit bisa meredam tangisnya. Ia hapus jejak air mata yang masih membekas di wajahnya.

“Baiklah Lee Joon~oppa! Ini untuk yang terakhir kalinya aku menangis untukmu, aku akan hidup bahagia tanpamu sekarang. Ku harap kau juga bahagia di atas sana” ujarnya bermonolog, dari kaca mobil ia pandangi punggung orang yang menurutnya bisa membuatnya bahagia di masa yang akan datang.

“Karna setelah ini aku akan bahagia hidup bersamanya. Bersama Jong Woon~oppa!” ia membuka pintu mobil dan menghampiri Jong Woon yang tampaknya sudah mulai jengah menatap pemandangan di depannya.

Hara menyunggingkan senyumnya, ketika Jong Woon menyadari kehadirannya. Mau tak mau Jong Woon juga ikut larut dalam senyuman itu, jenis senyuman yang selalu bisa membuat Jong Woon merasakan kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidup.

“Oppa pasti lelah menunggu lebih dari setengah jam. Tapi rasanya pasti lebih lelah menungguku selama 3 tahun kan?”

Jong Woon mengerutkan keningnya, ia tak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Hara. Hanya sebatas senyuman yang bisa ia berikan.

“Kajja kita pulang. Ini sudah terlalu malam” titah Jong Woon sambil mengacak rambut Hara. Salah satu kegiatan favoritnya terhadap Hara.

Namun langkah kakinya terhenti tiba-tiba, ketika lengan Hara sudah mengelilingi pinggangnya. Memeluknya dari belakang.

“Oppa! Gomawoyo…” kata Hara lembut dan semakin mengeratkan pelukannya.

***

Hara menatap gundukan tanah yang ada di depannya, tangan kanannya memegang batu nisan yang tertancap di tanah.

Sebuah senyum mengembang dari bibir mungilnya, senyuman yang mengantarkan kepergian orang yang berarti untuknya.

Sebelah tangannya memegang secarik surat dari Lee Joon, ibu Lee Joon yang barusan memberikannya setelah pemakaman.

Hara meletakkan bunga krisan di atas gundukan tanah merah itu, lalu mulai membuka surat yang berisikan tulisan tangan Lee Joon.

Setelah kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia.

Aku benar-benar telah pergi sekarang

Bukan pergi dalam artian tidak berada di sisimu

Melainkan pergi selama-lamanya

Tidak akan lagi pernah terlihat dalam jarak pandangmu.

Maaf, aku telah banyak menorehkan luka di hatimu

Meninggalkanmu begitu saja, tanpa alasan yang jelas.

Namun aku merasa tindakanku ini sangat benar

Aku tak mau menyulitkanmu dengan penyakitku ini

Tidak ingin melihatmu bersedih dan terus menangisi keadaanku

Pasti kau ingin menghajarku habis-habisan kan?

Tapi sayangnya kau tidak bisa melakukan itu Hara~ya!

Kehidupanku selama 3 tahun tanpamu

Membuatku tersiksa di setiap detik kehidupanku

Kerinduan akan kehadiranmu nyaris membuatku terus sekarat di sisa hidupku

Mengenaskan bukan??

Kau pasti menangis lagi?

 Ayolah Hara tak sepantasnya kau menangisi namja sepertiku

Baiklah aku tak akan membuatmu menangis,

karna terlalu banyak menuliskan sesuatu dalam surat ini

Sebagai kata terakhir aku mengucapkan terima kasih karna kau telah menjadi takdirku

walaupun aku tak bisa memilikimu.

Tapi 2 tahun yang kau berikan begitu berharga bagiku

Karna bersamamu aku menggenggam kebahagiaan

terbesar dalam hidupku.

Dan berjanjilah suatu hal padaku,

Hiduplah bahagia bersama namja yang  kau cintai

Karna kalau tidak aku dapat memastikan

Akan menghantuimu sepanjang hidupmu.

Tidak, aku hanya bercanda.

Hara~ya, Let’s meet in the next life

 I know I won’t lose you again.

Hara menyusut air matanya sembari tersenyum tegar, menahan untuk tidak mengeluarkan semua air matanya saat ini.

Ia tarik nafas dalam-dalam, memberikan sensasi rilex di dalam rongga dadanya yang serasa menghimpit. Seperti ada sebuah bongkah batu yang mengganjal disana.

“Oppa! Terima kasih karna kau telah hadir dalam kehidupanku. Aku memang boleh mempunyai alasan untuk patah hati karnamu. Tapi tidak untuk suatu penyesalan, karna mencintaimu bukanlah hal yang patut disesalkan. Kau adalah masa laluku yang akan ku kenang dalam hidupku. Tapi setelah hari ini, aku akan hanya memikirkan masa depanku. Bukankah dia yang kau percayakan untuk membuatku bahagia? Aku memilih lelaki yang tepat bukan? Aku bahagia karna pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Selamat tinggal oppa!” ucap Hara mengungkapkan kalimat terakhirnya untuk Lee Joon di dalam hati.

Ia kemudian melangkah menuju masa depannya, yang sudah menunggu di tempat yang tidak jauh dari sana.

Jong Woon meraih tangan Hara, dan keduanya berjalan pergi meninggalkan tempat perbaringan terakhir Lee Joon.

Manusia memang tidak pernah bisa memastikan kemanakah cintanya akan berlabuh. Yang ada hanyalah dengan kita mengikuti kemana cinta itu berlabuh nantinya.

 

~THE END~

Akhirnya, ff ini end juga!!

Mian yah kalo ff bener2 gaje dan abal-abal, harap maklum aja deh ceman2 semua…

Oh ya, aku rencananya mau buat afstornya tapi gak tau kapan sih…

Soalnya aku mood-moodan kalo nulis #plakkk

Padahal di otak banyak bgt yang aku pikirin, tapi malesss bgt buat numpahin nya ke dalam tulisan…

Nah kalo permintaan dari readers sekalian banyak yang minta afstornya, aku bakal buatin secepet mungkin*tapi gak janji  ya kalo misalnya mengecewakan*

Jadi mohon commentnya kalo masih mau nunggu kelanjutan dari ff ini.

Thanks to admin yang mau ngepost ff abal ini, and thanks to readers yang bersedia membaca+comment di ff aku…

See you next time!!

Gansahamnida #Bow

13 Comments (+add yours?)

  1. Wiwik dian
    Aug 22, 2012 @ 10:35:39

    Lanjutkan, bagus ff nya..

    Reply

  2. yesungmind
    Aug 22, 2012 @ 12:54:53

    Baguuus~ sequel dong thor pas yesung sama hara nikah ><!! *ditabok author

    Reply

  3. yolanda pratiwi
    Aug 22, 2012 @ 14:06:28

    sumpah thor bagus banget!!!!!
    #teriak pake toa masjid

    rangkaian kata-katanya indah dan pas banget
    satu kata thorrr WOW

    Reply

  4. Hyunnie
    Aug 22, 2012 @ 19:52:16

    aku suka ceritanya, thor… bagus. 🙂

    Reply

  5. elfishy
    Aug 22, 2012 @ 22:12:02

    akhir yg bgs thor 😀

    Reply

  6. ondobu
    Aug 23, 2012 @ 00:38:41

    bagus ..
    sumpah feelnya mak jleb (?) banget ..
    keep writing thor 🙂

    Reply

  7. Clouds
    Aug 23, 2012 @ 13:48:40

    Keren thor!! ^^

    Reply

  8. Kim YeRin
    Aug 23, 2012 @ 15:37:58

    Keren thor FFnya 😉 sequelnya dong min 🙂

    Reply

  9. Mae Jong Woon
    Aug 23, 2012 @ 16:21:29

    Nice story 😀

    Reply

  10. yehyukchul1
    Aug 23, 2012 @ 17:35:24

    Eon kok ceritanya bagus sih? *eh.-. Daebak dah eon!

    Reply

  11. feb
    Aug 24, 2012 @ 02:29:33

    bagus thor, daebak!
    ternyata lee joon oppa ga egois, salut.

    Reply

  12. ShintaAM
    Aug 24, 2012 @ 11:50:59

    kereennn author pas baca rangkaian katanya ituloh jleb banget apalagi ini sambil dengerin lagunya taeyeon sama sunny yg i’m only in love pas banget lah bikin mata berkaca-kaca

    bikin sequelnya yaaa, penasaran sama hubungan jongwoon dan hara 😀

    Reply

  13. Diana Aprilia
    Dec 17, 2013 @ 16:27:15

    huhuhu ;( ;(
    kasian Lee Joon , mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan orang yg dicintai .
    sequel dong thor , maybe kehidupan pernikahan Jong Woon sm Hara ! bagus banget ff.nya !! 🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: