[Special Post For Holiday] Flower Bucket

Main cast:

Lee Sung Min         : Lee Sung Min

Rima Yustina Ansor    : Go Rim Ah

Han Geng             : Kwon Han Kyung

Flower Bucket

>>>Sungmin POV<<<

Aku kembali lagi ke kota ini setelah sekian lama. Kota yang sekarang berhias dengan segala pernak-pernik moderennya. Kupandangi pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan sungai yang dulunya jernih berpagarkan bunga sakura. Sekarang pagar itu entah kemana. Dan hutan di seberang sungai kini tak lagi ditumbuhi pohon-pohon tinggi namun ditumbuhi mal-mal megah. Begitu berbeda. Aku ragu, apa ini kotaku yang dulu?

>>>Rim  Ah POV<<<

“Rim Ah~” panggil suara cempreng yang terdengar dari lantai 1. Segera kuambil topi bertepi lebarku dan kuturuni anak tangga itu satu persatu. Kupandang namja kecil seukuranku, duduk di sofa ruang tamuku.

“ Ayo! kkaja!” ajaknya sambil menarik lenganku.

Hari ini, seperti hari-hari biasanya aku dan namja kecil ini pergi ke rumah nenek Kwon untuk melihat bunga-bunga di tamannya. Dan membantunya menyirami warna-warna yang tumbuh di lahan miliknya.

Sesampainya kami disana, nenek Kwon sedang berada di rumah kayunya sembari memandang bunga matahari raksasa yang tumbuh disamping rumahnya. Dengan sigap kami berlari ke samping nenek Kwon.

“ Nenek sedang apa?” Tanya namja cilik itu dengan suara lugunya.

“ Eh… kalian!” sambutnya yang rupanya baru sadar kehadiran kami. Dia tersenyum dan…

Kukumpulkan tenagaku di awal pagi itu. Mimpi malam ini seperti mencoba mengingatkanku tentang sesuatu. Sesuatu yang hilang. Kulihat jarum jam, jarum pendek hampir menindis angka 7 dan jarum panjang ada di angka 11. Bergegas kuraih jaket unguku dan menuruni anak tangga satu persatu. Langkahku terhenti tepat di ruang tamu. Terbesit salah satu episode yang mengembara dalam mimpiku. Aku melihat namja kecil duduk manis di sofa putihku yang terlihat sudah cukup berumur. Rasa rindu menyeruak dari dalam dada. Telah lama kurendam rasa rindu ini. Karena aku tahu, aku tak akan lagi melihat senyum namja kecil berumur 7 tahun itu. Aku langsung beranjak menaiki sepeda unguku menembus udara dingin pagi itu. Dulu aku melintasi jalan-jalan kota ini berdua dengan seorang namja. Tidak seperti sekarang. SENDIRI!

Hum… aneh! Rumah kayu nenek Kwon kan tidak pernah ada yang merawat selain aku, sejak dia tiba-tiba menghilang 6 tahun yang lalu. Tapi… kok terlihat bersih? Padahal sudah 2 bulan aku g’ kesini untuk bersih-bersih. Mataku langsung beralih ke arah lahan berwarna-warni di belakang rumah nenek Kwon. Disini lebih aneh lagi. Biasanya seminggu saja rumput-rumput liar sudah tumbuh menyelimuti pagar. Bersih! Tapi siapa yang membersihkannya? Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut di bahuku. Aku menoleh. Siapa? Nggak kenal!

“Kamu siapa? Sedang apa disini?” Tanya namja jangkung itu dengan intonasi yang sangat lembut.

“Emh… a…aku yang biasa merawat rumah ini? Kamu sendiri?” tanyaku balik dengan agak tergagap.

“ Aku cucu dari pemilik rumah ini.” Jelasnya. Bola mataku membesar seolah menemukan emas 24 karat di depan mataku. Dia…. Dia….

“ Hankyung oppa!” sambutku.

“Darimana kamu tahu namaku?” tanyanya keheranan.

“Nenek Kwon sering bercerita tentangmu.” Ucapku.

“ Kau tahu tentang nenekku?” tanyanya lagi.

“Tentu saja! Aku bahkan telah menganggap dia sebagai nenekku” jelasku padanya.

Didepanku dua cangkir putih heboh beruap manghangatkan ruangan yang dingin oleh udara hujan gerimis diluar.

“ Ini! Kamu pasti lapar.” Tawar namja bernama Hankyung itu sembari memberi senyum manisnya. Sepiring nasi goreng tersaji hangat di depanku.

“ Gomawoyo.” Ucapku sambil memandang bola matanya yang kecoklatan. Sinar matanya sungguh hangat. Mata yang ingin memberitahuku bahwa pemiliknya adalah orang yang lembut. Dengan intonasi suaranya yang halus. Aku ingin Tuhan menghentikan waktu yang berjalan santai. Supaya aku bisa bebas menikmati kehangatan lewat sorot lembut itu. Sampai…

“Apa ada yang salah denganku?” katanya dengan agak panik melihat-lihat penampilannya. Omona! Aku keterusan mandangin dia.

Siang nya…

Disebuah rumah orange yang merupakan toko bunga bertingkat 2

>>> Jung Soo Na POV<<<

“Rim Ah… Rim Ah…” panggilku setengah berteriak.

“ Bentar!” teriaknya dari jendela kamarnya di lantai 2.

“ Masuk aja vi!” sambungnya lagi sambil melongokan kepalanya di jendela Ungu besar itu. Aku segera mamasuki rumah yang cukup luas itu. Di teras umma-nya Rim Ah sibuk member minum bunga-bunga cantiknya. Akupun manaiki tangga krem itu… di pintu sebuah ruangan yang terbuka kulihat Rim Ah menunggu.

“ Kamu kurang tidur?” tanyaku spontan melihat matanya yang kaya orang lembur semalam suntuk. Spontan ia berlari ke kaca besar yang terletak di pojok kamar pink-ke-ungu-an-nya.

“ Astaga… kok kaya orang ditonjok gini sih tampangku.” teriaknya heboh.

“ Kayanya setiap hari emang kaya orang ditonjok deh.’” sambung sebuah suara. Go Min Hyun…

“ Jahat betul kamu ini Min Hyun!” ucapku sambil tertawa kecil.

“ Nyesal aku nangis semalam suntuk.” ucap rim ah sambil membanting tubuhnya di kasur yang berkover biru laut cerah.

Aku dan Min Hyun saling pandang dengan tatapan heran. Min Hyun pasti memikirkan hal yang sama denganku.

“ Kok lebay betul sih kamu rim nangis semalam suntuk.” ujar Min Hyun mendahuluiku mengeluarkan isi pikirannya.

“ Tadi malam aku mimpi buruk.” jawabnya sambil bangun dengan tatapan sayu melihat ke jendela kamarnya yang menggambarkan awan kelabu diluar sana.

>>> Rim Ah POV<<<

Aku g’ mungkin menyimpan rahasia ini sendirian. Mungkin 2 manusia ini bisa menjadi tong sampah sementara kerisauanku akhir-akhir ini. Sebuah mimpi yang seolah memberitahuku kalau nenek Kwon itu masih hidup. Setelah kuceritakan semua kepada mereka, min hyun menganga lebar dan soo na matanya berbinar-binar (kok ekspresinya kaya g’ nyambung ya ama yang udah kuceritakan. Harusnya ekspresi mereka itu mata berkaca-kaca)

“ Jadi sekarang dimana cowok yang bernama Sungmin itu?” Tanya Soo na sambil memasukan donat meses pink.

“ Pergi jauh… dia sekarang ada di seoul… dia sekarang jadi anak orang kota.” Jawabku.

“ Kamu rindu dia?” Tanya Min Hyun dengan intonasi lembut.

“ Emh… begitulah…”

“ Di rumah nenek Kwon banyak bunga ya… boleh minta bunganya g’?” Tanya Soo Na sambil melahap donat k-8 nya

“ Ya nggak bolehlah! Yang punya kan nggak lagi di rumah.” celetuk Min Hyun

“ Boleh kok! Kata nenek Kwon ‘berbagi bunga itu sama dengan berbagi kebahagiaan’.” Kataku.

“ Kalo gitu, ayo cepat ke sana.” Soo na dengan semangat menarik lenganku dan Min Hyun.

“ Tapi…” belum sempat aku berkilah Soo na dengan cekatan menaiki sepeda birunya melesat ke lokasi yang dia sudah hapal mati itu. Di desaku ini, kamu tidak perlu bingung. Tidak banyak jalan bercabang dan tidak banyak jalan memusingkan.

Akhirnya kami sampai di tempat itu. Soo Na dengan cepat menjejakan kakinya di taman samping rumah nenek Han. Aduh! Soo Na, di situ ada…

>>> Soo Na POV<<<

“hei sedang apa?” sapaan lembut terdengar dari balik punggungku. Loh! kata Rim Ah rumah ini nggak berpenghuni, kok ada suara cowok menyapa sih. Jangan-jangan disini ada penunggunya lagi. Jangan bilang ketika aku berbalik seorang ahjumma dengan style-nya sii kunti menyapaku. Hehe… ini tuh masih jam 3. Hantu nekat mana yang mau kebakar kena matahari desaku yang panasnya rangking 1 se-korsel. Aku menoleh perlahan. Wah tumben nih, ketemu hantu cowok. Emh, sepertinya dia manusia.manusia tampan!

“ mian oppa… dia temanku yang ingin mengambil bunga untuk ditanam. Aku lupa memberitahu oppa sebelum berangkat tadi.” kata Rim Ah sambil membungkukan badannya sebungkuk-bungkuknya.

“ wah kebetulan. Tadi aku masak nasi goreng kebanyakan, kalian mau ikut menghabiskannya.” Ucapnya dengan suara lembutnya.

“ Tentu saja!” ucapku sambil memeluk bibit bunga yang berjumlah banyak.

Rim ah dan Min hyun kompak menepuk jidat. Mungkin mereka berpikir ‘Kenapa aku punya teman nggak bisa Jaim sedikitpun’.

Di kelas.

“ rim ah! kabar gembira! Hankyung oppa pindah ke sekolah kita!” teriakku dengan bahagia.

“ aku yang menyarankannya masuk sini kok.” Balasnya tersenyum simpul.

“ kok kamu senang betul” Tanya Min Hyun yang lagi asik menyalin PR MTK-nya KyuHyun.

“ senang aja”

Kediaman nenek Kwon.

“Anyeong!” sapaku memanggil pemilik rumah untuk keluar dari sarangnya.

“Anyeong! ho… Soo Na, masuk!” Ucap Hankyung Oppa dengan muka freshnya. Padahal ini udah jam 5 sore,  tapi mukanya masih seger aja.

“Oppa ini aku bikinkan kimbab untuk cemilan oppa.”

“Cemilan kok sampai sebanyak ini Soo Na?”

“Supaya oppa kenyang sampai besok.”

Sore ini aku datang ke rumah tua ini untuk menanyakan bibit bunga baru yang bisa kubawa pulang. Tapi niat awalku sebenarnya cuma ingin ngasih oppa kimbab yang kubuat dengan latihan selama 2 hari 2 malam. Sambil menyelam minum air deh ceritanya.

“Bunga tuh cuma bisa jadi hiasan aja yah, oppa. Nggak bisa di jadiin apa gitu.”

“Bisa untuk obat juga kok.”

“Obat apa?”

“Dapat berkhasiat membantu menyembuhkan sesak nafas, sakit kepala, sakit mata, demam, dan bahkan bengkak karena sengatan lebah.”

“Oh! Jadi, kalo di sengat lebah, langsung gosokin bunga melati gitu.”

“Ya g’ gitu juga. Mau kubikinin resepnya kah?”

“Oppa kok kaya tukang obat yah.  Tapi lumayanlah untuk bekal hidup”

“Bekal hidup apa?” tanyanya sambil menjitak lembut kepalaku pelan. Aduh! Rasanya badanku mau terbang ke mana gitu. Rasa-rasanya akan ada bunga cinta yang tumbuh dikepalaku akibat jitakannya itu. (ternyata Soo Na nieh Alay-er)

>>>Rim  Ah POV<<<

“Meori buteo balggeut ggaji neoreul gamssan luxury. Hoo~ nunbusyeo geu nuga gamhi nege son daegetna.” lantunku menyusuri lorong2 kelas.

BUG! Badanku terhempas dan terpental untungnya g’ sampe kelempar. Kuliat sii pelaku.

“YAA!! Pake mata kalo jalan…!” ketusnya jengkel.

“Jalan ya pake kaki! Mataku tuh normal. Matamu aja kali yang gangguan. Konslet!” ucapku tersulut emosi. Pagiku yang indah luntur cuma gara-gara namja cantik ini. Aku berlalu dengan wajah kusut. Tiba-tiba langkahku tersedak setelah 1 meter dari namja itu lalu berbalik dan…

“YAAA!!!” panggilku.

“Hei… aku punya nama! Jangan berteriak kaya manggil tukang taxi.”

“Apa g’ salah… manggil tukang taxi dengan berteriak begitu. Aku memanggilmu… Lee Sung Min.”

Tiba-tiba hening menghampiri kami. Bahkan suara angin yang numpang lewat terdengar begitu jelas.

“Baru saja aku ingin ngenalin diriku. Lee Mi Ka!” ucapnya lalu menjabat tanganku.

“Jangan sotoy!” tambahnya.

“Rupanya aku salah orang.” celetukku dengan nada kecewa.

Betul saja. Ketika ia memasuki kelasku yang bernuansa putih-putih khas rumah sakit, ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang Kim Jun Ah. Bukan Lee Sung Min. Sosok yang kuharapkan.

Asap mengepul tinggi dari cerobong asap sebuah rumah coklat brownies di ujung sebuah jalan. Rumah mungil yang memuat seorang namja dan yeoja yang sedang berbincang serius.

“Hem.” anggukku mendengar penuturannya sambil menyeruput capucinno hangat.

“Karena itu aku yakin, nenek Kwon mau memberitahuku sesuatu entah apa itu!” tegas Hankyung oppa.

Namja dihadapanku kini sedang dilanda dilema. Akhir-akhir ini kehidupannya dihampiri berbagai peristiwa ganjil yang menurutnya ada hubungannya dengan kematian nenek Kwon. Sebuah mimpi yang terus menggantung dipikirannya. Mulai dari secarik kertas yang bertuliskan ‘aku masih hidup’, lalu bayangan nenek yang melewati taman bunga matahari yang cukup jauh dari rumah dengan pose seperti mencari benda hilang dan ketika didekati, bayangan itu lenyap menyisakan sinar bulan di tanah yang sedikit lapang. Diam-diam aku memperhatikan bulu matanya yang lentik dengan seksama dan penuh rasa kagum. Rupanya begitu lembut dan meneduhkan hatiku. Tiba-tiba aku teringat teman masa laluku. Gambaran mata teduh itu merupakan cirri khas wajah sungmin yang lugu.

“Lalu… apa tempat dimimpi itu real seperti apa adanya?” tanyaku.

“Sama persis. Kecuali tanah lapang itu. Disini kan nggak ada tanah lapang.” Ucapnya.

“Sudahlan! Itu hanya bunga tidur.” Imbuhnya.

“Bunga tidur itu, bukan hanya sebagai penghias tidur. Mimpi bisa berarti sesuatu. Mungkin itu petunjuk mengenai kepergian nenek Kwon.” Balasku masih sibuk dengan cangkir cappucinoku.

“Jadi kita harus cari tanah lapang dilahan bunga nenek. Kurasa tak ada tempat seperti itu disini. Semua lahan tertutup bunga.” Kilahnya.

Ada betulnya juga. Tanpa aku sadari dibalik pintu sesosok bayangan mengintip perbincangan kami.

Di kelas.

“Hei! Anak baru! Bangun! Kerjakan soal ini untuk bisa kembali ke tempat dudukmu.” Teriak guru fisikaku, Kangin songsaengnim. Yang ditunjuk bangun dengan mata ngantuk dan dalam beberapa detik soal fisika yang kayanya nggak masuk akal itu tertuntaskan. Kangin songsaengnim menganga. Begitupun kami (murid yang baik adalah murid yang mejadikan perbuatan gurunya sebagai pedoman hidup). Tanpa dikomando kami bertepuk tangan riuh. Lee Mi Ka bukannya tunduk dan bilang “Gomawoyo!” malah kembali melanjutkan mimpi dalam tidurnya yang tadi di cut ama Kangin songsaengnim.

“Oke! Mari kita lanjut!” sambung guru kami yang bentuknya agak bulat itu. Sekilas aku melirik Lee Mi Ka. Bahkan bukan hanya lay out mu yang mirip Sungmin. Kau juga meniru kapasitas berpikirnya yang supercepat itu. Keyakinanku kalau dia SungMin begitu kuat. Mungkin dia hanya menyamar. Tapi untuk apa?

>>>Soo Na POV<<<

Hari ini, Rim Ah mengajak aku dan Min Hyun pergi ke rumah Hankyung oppa. Rupanya si empunya sedang tak ditempat. Kamipun menunggu diberandanya yang sejuk.

“Setelah kuperhatikan, disini nggak ada bunga matahari ya.” Ucap Min Hyun.

“Ada kok. Samping bunga tulip. Emh… Rima Ah! Bunga-bunga disini ditanam serempak kah?” tanyaku pada sahabatku yang sibuk memandangi lahan melati.

“Nggak. Cuma satu jenis pasti ditanamnya serentak.” Jawabnya.

Aneh! Kemarin ketika mampir ke rumah ini dan member kim bab pada oppa, aku mampir ke lahan bunga matahari. Kalau memang satu jenis itu ditanam pada waktu serempak, mengapa masih ada yang berbeda pertumbuhan tingginya. Kentara pula. Itulah yang kulihat di lahan bunga matahari. Ketika aku menuturkan itu pada Rim Ah. Ia hanya membelalak tak percaya dan langsung menyeret aku dan Min Hyun.

“Sudah kuduga. Mimpi itu ada hubungannya.” Ucapnya sambil menepuk tangannya. Biasanya ia akan melakukan ini ketika menemukan jawaban MTK yang susah.

“Wah! Yeoja-yeoja ngapain ngumpul disini? Mau arisan?” Tanya suara lembut Hankyung oppa yang masih berseragam lengkap.

“Sori! Rapat basketnya baru selesai.” Lanjutnya.

“Emh… kalian bisa aja bilang aku sotoy. Tapi sepengamatanku barisan bunga matahari yang berbeda tinggi ini ada hubungannya dengan kepergian nenek Kwon.” Rim Ah tiba-tiba megeluarkan suatu analisis yang entah kapan dipikirkannya.

Kami bertiga menganga. Apa coba hubungannya.

“Hangkyung oppa kan pernah mimpi melihat nenek Kwon sedang mengitari lahan bunga matahari lalu menghilang. Akupun pernah mimpi mendatangi nenek yang sedang memandang bunga matahari. Agak nggak keren sih petunjuknya. Tapi kupikir kita bisa tahu analisisku ngaco atau nggak dengan menggali lahan yang bunga mataharinya lebih pendek.

Tanpa ba-bi-bu oppa masuk mengambil cangkul digudang dibelakang rumah lalu kini sibuk menggali tempat yang dimaksud. Ketika lahan itu terbuka, tenggorokanku tercekat.

>>>Rim Ah POV<<<

Di kelas.

Seminggu sudah ketika kami menemukan mayat nenek Kwon beserta alat pembunuhannya yang secara ceroboh dikuburkan bersama mayat nenek Kwon. Mungkin pelaku tak mengira, bahwa tindakannya tertangkap basah. Dari hasil visum sebuah analisis mengejutkan muncul.

“Tak kusangka. Ternyata appa lah yang melakukan ini semua cuma gara-gara dendam tak dapat bagian warisan.” Ucap Hankyung oppa seolah tak percaya.

Sisi gelap dari seorang nenek Kwon terungkap gamblang. Selama ini ia mengana- tirikan anak kandungnya hanya karena anaknya menikah dengan wanita yang bukan pilihannya. Sosok itu kini membayang dipikiranku.

-flash back-

Angin pagi menyisir lembut rambutku. Disampingku seorang namja mengayuh sepeda merahnya dengan kecepatan menyamaiku. Sampai disebuah rumah kayu yang cukup sederhana namun terlihat bagitu asri. Langkah kecil kami menhampiri sosok wanita yang telah terlihat letih dengan usianya namun cukup tegar dengan sunggingan senyumnya. Ada saja cerita tentang bunga yang meluncur dari mulutnya dan membuat kami tertawa. Belaian lembutnya ketika membawakan kami the melati buatannya, membuat kami betah berlama-lama tinggal dengannya. Bunga-bunga koleksinya membuai mata untuk selalu ditonton keindahannya.

“Rim Ah!” panggil suara Hankyung oppa. Aku sadar dari khayalku yang tadinya mengembara bebas. Entah kenapa kakiku reflek menuju toilet wanita. Di sana banjiran air mata terluap tak hentinya. Bukan sosok nenek Kwon yang membuat air mataku keluar dari sarangnya. Namja yang pernah singgah dicerita hidupku, yang selalu ada saat aku sedang tertawa dan menangis, yang mencoba menjadi kakakku sejak ia tahu aku anak tunggal dai orangtua yang selalu sibuk keluar-masuk Korsel untuk bisnis bunga. Dia Lee Sung Min. krinduan ini membuncah entah sejak kapan. Babo! Rupanya aku jatuh cinta dengannya dengan sangat telat. Kenapa untuk urusan gini aku telat banget.

>>> Soo Na POV<<<

“kamu kenapa?” tanyaku khawatir melihat tangisnya.

“Nggak papa.” Katanya tiba2 cerah.

Seminggu kemudian keajaiban terjadi…

Dengan senang kuperkenalkan kepadamu my namjacingu, Kwon Hankyung. Akhir yang bahagia. Oh iya untuk kisah Rim Ah akhirnya ia kembali menemukan pangerannya yang hilang yaitu Lee Sung Min yang ternyata udah lama tinggal di kota kami namun disekolah berbeda. Cuma satu yang lagi sad ending. Go Min Hyun sahabatku yang imut satu dunia itu belum bias dapat jodoh. Bagi yang ingin bersamanya kirim biodata lengkap ke kantor pos terdekat yah.

6 Comments (+add yours?)

  1. Kang Hyo Won
    Sep 01, 2012 @ 23:11:56

    ceritanya seru ^^

    Reply

  2. Go Rim Ah
    Sep 02, 2012 @ 11:47:18

    sumpah!engga nyangka nie FF bakal terbit… seingatku ini kukirim untuk lomba FFWC tahun lalu… thx admin ~

    Reply

  3. Mae Jong Woon
    Sep 02, 2012 @ 19:59:02

    Wah seru ^^ aku suka deh ma ceritanya thor daebak..

    Reply

  4. farfiays2620
    Sep 06, 2012 @ 18:23:31

    ok , lumayan bikin kepala puyeng *peace thor* , tpi ternyta, seru , walaupun ending agak gantung, menurut aku,

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: