[Special Post For Holiday] Found You

Perjalanan panjang sudah kutempuh untuk menutup lubang di hati..

Tak ada satupun yang mampu, semua silih berganti mencoba namun tak berhasil..

Aku pun hanya berjalan, berharap ku menemukan yang ku cari..

Kini telah aku temukan, dia yang ku dambakan…

Meskipun ia tak sekemilau emas, tapi ku yakin ia lebih mulia dari sebuah berlian..

Kini lubang di hati itu sedikit demi sedikit mulai menutup, memberi senyuman pada masa depan..

Semoga ini jodohku, semoga ini pasanganku, selamanya….

****

21032011

Malam ini cukup ramai, lampu warna-warni yang menyala, dan riuh tawa manusia. Sebuah lapangan luas yang disulap menjadi pasar malam. Ramai pedagang kaki lima menjajakan dagangannya, dan suara anak-anak yang merengek pada orangtua mereka untuk sekali lagi sekedar main komidi putar ataupun kuda-kudaan. Aku berjalan sendiri memasuki area pasar malam ini, menuju ke sebuah sudut yang telah disepakati bersama. Saat aku berjarak 100 meter dari sudut yang dijanjikan, sudah dapat kulihat senyumannya, senyum yang terukir di wajahnya, dia sudah disana, menungguku, dengan senyumannya yang menentramkan, dan pandangan matanya yang meneduhkan. Aku pun berlari menghampirinya, seakan tak sabar untuk menghabiskan malam yang pasti akan indah ini bersamanya, bersama ia kekasihku.

****

Nari’s pov

Aku sedang berkumpul bersama teman-teman kampusku untuk mengerjakan tugas saat ponselku terasa bergetar, sebuah sms masuk. Aku mengeluarkan ponselku dan melihat pengirim sms, orang itu lagi, aku pun mendesah pelan sambil membuka sms yang dikirimnya.

“Pasti cowo brengsek itu lagi, ya kan?!” Tanya JooEun sambil menatap iba ke arah ku.

“Dia bilang apa lagi kali ini?!” giliran SooJin yang menatapku khawatir.

“Gwenchana, dia hanya mengancam seperti biasa.” Jawabku sambil tertawa, berusaha agar teman-temanku tak terlalu mengkhawatirkanku. Aku pun menatap layar ponselku, dan mengetik balasan sms dari orang itu.

“Apa harus selalu dibalas smsnya itu? Mestinya kau laporkan saja dia ke yang berwajib, dia kan sudah membuat hidup mu tidak nyaman seperti ini.” Ucap JiEun lembut.

Aku menatap ketiga sahabatku dalam, “Gomapta chinguya, tapi aku benar-benar tidak apa-apa, dia hanya berani mengancamku, dia tidak akan berani benar-benar melakukan ancamannya. Lagipula aku kuat kok, kan ada kalian yang akan selalu menghiburku, ya kan?”

Ketiga sahabatku saling menatap, kemudian memelukku erat, ah terima kasih sahabat, aku tau kalian akan selalu ada untukku.

******

Shindong’s pov

“Mianhe, aku rasa hubungan kita tidak bisa dlanjutkan lagi, terima kasih untuk segala kebaikan oppa.”

Aku kembali mengingat sms terakhir yang masuk ke ponselku sejak semalam. Sms itu singkat, padat, dan jelas, ah aniya, apanya yang jelas, ia bahkan tidak mengatakan alasannya. Ia memutuskan hubungan ini secara sepihak, bahkan hanya melalui sebuah pesan singkat seperti itu.

“Hyung, kita jadi memancing kan hari ini?” sebuah suara membuatku terkejut dan tersadar dari lamunanku.

“Wookie aa, kau mengagetkanku saja. Mianhe Wookie, sepertinya kau harus pergi berdua saja dengan sungmin, aku tidak enak badan, aku tidak jadi ikut ya.”

“Waeyo hyung? Ada masalah kah?”

“Gwenchana, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan saja, istirahat sebentar juga pasti sembuh.”

“Jinja hyung? Baiklah kalau begitu, nanti aku pergi dengan Sungmin hyung saja, sepertinya Eunhyuk hyung juga mau ikut kok, jadi aku tidak pergi berdua saja.”

“kalau begitu sampaikan salam ku untuk mereka berdua.”

“Ne hyung.”

******

Nari’s pov

Aku menghapus segera air mata yang tiba-tiba mengalir begitu saja dari kedua mataku, aku tidak ingin sahabat-sahabatku khawatir lagi. Tapi sepertinya aku terlambat karena sebuah tangan memegang tanganku yang masih di pipiku.

“Kau menangis Nari-ya..” seru SooJin terkejut.

“Ah,ani..aku hanya kelilipan saja.” Jawabku cepat.

“Gotjimal, coba sini kuliat ponselmu.” Seru JooEun kemudian mengambil ponselku dengan cepat tanpa sempat ku cegah.

“Ini tidak bisa dbiarkan.” Ujar JooEun geram, JiEun yang baru saja datang langsung menatapku, sepertinya hanya dengan menatapku saja ia sudah tau apa yang sedang terjadi walaupun ia baru saja datang.

“Sudahlah Nari-ya, laporkan saja orang itu ke yang berwenang, ini sudah air mata kesekian yang kau keluarkan sayang…” ucap SooJin sambil menggenggam tanganku.

“Tapi aku takut. Dia bilang dia tidak takut penjara, dia bilang kalau sampai dia masuk penjara karena aku, saat dibebaskan nanti ia akan mengejarku dan membuat hidupku menderita selamanya.” Aku mulai sesenggukan, Ji Eun langsung menghampiriku dan merengkuh kepalaku dalam pelukannya.

“Ssshh, tenang sayang, kami pasti akan membantumu, kami yakin ia idak akan berbuat senekat itu nanti, lagipula ia tidak akan mungkin melakukan apa yang kau khawatirkan itu jika memang ia diberi hukuman nanti.” Ucap JiEun sambil memelukku.

“Ne, nanti kami juga mendampingi kamu terus kok, kuatkan dirimu ya.” JooEun yang biasanya keras kini melunak, ia mengusap telapak tanganku, menguatkan.

“Aku akan menelpon Ryewook oppa, kemarin oppa bilang punya kenalan polisi, mungkin ia bisa membantu.” Seru SooJin semangat, yang disambut anggukan dari dua sahabatku lainnya.

*****

Shindong’s pov

“Jadi ia memutuskan hyung sepihak??” Tanya Ryeowook sambil menunjukkan wajah prihatin.

“Ne, aku sangat sedih, aku patah hati Wookie aa. Ottoke, apa yg harus aku lakukan sekarang Wookie aa??”

“Molla hyung, aku bingung. Aku jd membayangkan kalau SooJin melakukan itu padaku, aku juga pasti sangat sedih hyung.”

“Ah, kau ini Wookie, bukan saatnya kau bersedih, harusnya kau kan menghibur aku.”

“Ahh, ne hyung, mianhe, mestinya memang seperti itu ya, tapi kalau ini terjadi padaku, aku juga pasti akan seperti hyung. Tapi hyung, apa napsu makanmu berkurang??”

“Maksudmu apa wookie aa??”

“Kalau dengan patah hati seperti ini napsu makan hyung berkurang, kan lumayan untuk diet secara tidak langsung hyung,hehehehe.” Ucap wookie sambil cengengesan dan bersiap kabur.

“Hey Wookie, bukannya menghiburku kau malah meledekku yaa..” ujar ku sambil melemparinya dengan bantal.

“Hahaha, mianhe hyung, aku kan hanya bercanda.” Teriak Wookie dari jauh.

Aku termenung kembali setelah Wookie benar-benar pergi. Tidak ada yang bisa menghiburku, aku harus bagaimana.

“Hyuuuunnnggg……ayo pergi, kajja.” Ucap Eunhyuk dri jauh, kemudian menghampiriku dan menarik-narik tanganku.

“Mwooo,,pergi??pergi kemana??” tanyaku heran, tapi tetap mengikuti Eunhyuk dengan pasrah.

“Ke tempat yang hyung pasti akan suka.” Jawab Eunhyuk sambil menunjuk van yang sudah terparkir di depan rumah kontrakan kami, di dalamnya ada Ryeowook, Donghae, dan juga Sungmin yang langsung melambai ke arah kami agar kami segera masuk van.

Aku hanya melongo heran menatap van, tapi tidak lama karena sekali lagi Eunhyuk menarik tanganku untuk naik van.

*****

Shindong’s pov

Aku terkejut saat van sampai di sebuah kos-kosan, makin terkejut saat 4 orang gadis keluar dari kosan dengan wajah ceria yang dsambut tak kalah ceria oleh 4 orang temanku, mereka berempat segera masuk dalam van.

“Kita mau kemana sebenarnya??kenapa kalian juga ikut??” tanyaku heran pada 8 orang di depanku.

“Kita akan bersenang-senang bersama hyung, kau pasti akan suka dan bisa melupakan sedikit patah hatimu.” Ucap Donghae sambil mengedipkan sebelah matanya, mencurigakan.

“Terserah kalian saja lah, aku mau tidur saja selama perjalanan.”

“Oh, silahkan saja hyung, lakukan apapun yang hyung suka. Tapi maaf ya hyung kalau nanti kami agak sedikit ribut.” Kali ini Sungmin yang bersuara.

“Ya, ya, terserah kalian sajalah ya…”

Aku pun mulai memejamkan mata saat van mulai terasa berjalan kembali. Belum 5 menit aku memejamkan mata, suara-suara ribut di sekitarku mulai terdengar, ini sih bukannya sedikit ribut seperti yang Sungmin bilang, tapi ini amat sangat ribut. Aku pun mengambil ipod dan memasang headset di telingaku, memutar lagu-lagu di dalamnya dengan volume penuh, kemudian memejamkan mataku kembali.

Tak terasa satu jam berlalu, aku pun terbangun saat merasa seseorang mengguncang-guncang tubuhku, ternyata sudah sampai.

“Nari-ya, ini dimana? Yang lain kenapa tidak ada?” tanyaku pada orang yang membangunkanku.

“Sudah sampai tempat tujuan, yang lain sudah turun sejak tadi, dan aku disuruh mereka untuk membangunkanmu. Kau mau turun kan?” jawab gadis di depanku dengan senyum tipis di wajahnya.

“Ya, ayo turun.” Ujarku cepat.

Keterkejutanku hari ini ternyata masih harus kembali terulang, kali ini aku terkejut saat keluar dari van, menatap hamparan pasir putih yang berkilauan dterpa sinar matahari. Ini pantai. Entah kapan terakhir kali aku menginjakkan kakiku di pantai seindah ini. Aku selalu suka pantai, dan keempat sahabatku, Sungmin, Ryeowook, Eunhyuk, dan Donghae, mereka sangat tau kesukaanku pada pantai. Mereka pasti sengaja membawaku kesini untuk menghiburku, seperti kata mereka tadi, baiklah pantai, aku datang.

*****

Nari’s pov

Sebenarnya aku terkejut saat ketiga sahabatku mengajakku pergi ke pantai hari ini. Kemarin aku ditemani mereka telah melaporkan orang itu kepada yang berwajib, aku juga telah meminta perlindungan untuk keamanan hidupku. Sebetulnya aku merasa ini agak berlebihan, tapi ketiga sahabatku selalu menegaskan kalau laporan ini wajar dilakukan untuk orang seperti dia. Dia adalah mantan kekasihku, laki-laki yang keras dan amat kasar, hubungan kami sudah berakhir sejak setahun yang lalu, tapi entah kenapa dia selalu saja mengusik hidupku, mengajakku untuk menjalin hubungan kembali, yang berujung makian-makian kasar saat aku menolaknya. Aku sudah cukup bersabar selama ini padanya, ia yang merendahkan ku seperti binatang, memaki-maki diriku, dan selalu mengancam diriku. Dan cerita tentang kegilaannya itu sudah menyebar di antara teman-teman ku termasuk 5 orang pemuda yang ikut pergi bersama kami hari ini. Bukan ikut pergi, tapi mereka yang mengajak kami, 5 orang itu merupakan teman-teman kampusku, sama seperti aku dan ketiga sahabatku. Kami memang sering bersama di kampus, sekedar mengobrol ataupun makan siang bersama di sela jeda perkuliahan.

JooEun bilang ia sengaja mengajakku kesini agar aku tidak berlarut-larut sedih atas perlakuan kasar orang itu. Dan disinilah aku sekarang, di sebuah pantai yang cantik, dengan desiran angin yang membelai lembut, dan riak ombak kecil yang berkejaran. Seperti teman-temanku yang sedang bermain kejar-kejaran.

Dan di sampingku ada Shindong, kami berjalan beriringan menghampiri teman-teman yang lainnya, sambil membawa tas kami masing-masing.

“Nari-ya, hyung…letakkan dulu tas kalian di cottage no.13 disana, nanti baru ikut main bersama kami disini.” Teriak Donghae dari jauh, dasar ikan, begitu lihat pantai langsung menceburkan diri dan bermain air.

“Ne, mana kuncinya??” ucap Shindong balas teriak.

“Ini hyung..” Eunhyuk melemparkan sebuah kunci ke arah kami, yang dengan sigap langsung ditangkap oleh pemuda bertubuh besar di sebelahku.

“Kaja, kita letakkan barang-barang kita. Kau juga pasti tak sabar kan main-main air seperti mereka.”

“Ne, dan aku yakin, Ryeowook dan Soojin pasti sudah membuat kisah mereka sendiri, aku tidak melihatnya bersama yang lain sejak tadi.”

“Haha, pasangan itu memang begitu, biarkan saja mereka bersenang-senang berdua.”

*****

Shindong’s pov

Aku berjalan bersisian dengan Nari, menyusuri pasir pantai yang sangat indah. Kami sudah meletakkan barang bawaan kami d cottage no 13 seperti yang tadi diteriakkan Donghae. Heran, kenapa mereka main air di tempat yang jauh begitu dengan cottage yang kami tempati, padahal main di depan cottage saja kan juga bisa.

“Anginnya sangat menyenangkan.” Gadis di sebelahku memecah keheningan di antara kami.

“Ne, pasirnya juga indah.” Sahutku.

“Cocok untuk menghibur yang sedang patah hati kan.” Goda gadis di sebelahku,ah ini pasti kerjaan bocah-bocah itu sampai Nari bisa tau kalau aku sedang patah hati.

“Ya, dan sangat cocok untuk sedikit bebas dari tekanan dan ancaman seorang psikopat.” Sindirku sambil berbisik saat mengucap kata terakhir.

“Hahahaha, kau membalasku. Ya, sangat cocok untuk menenangkan hati dan pikiran, jadi lupakan sejenak masalah-masalah yang membebani kita, saat nya kita main.”

“Ya, benar sekali. Jadi bagaimana ceritanya sampai kau bisa melaporkan si psikopat itu??”

“Hey, kenapa kau jadi membahas nya?? Aku bahkan tidak membahas patah hatimu.”

“Ayolah, aku hanya penasaran, bukankah kau sering bercerita dengan heboh pada kami tentang kelakuan si psikopat yang menjengkelkan itu. “

“Haha, ya aku selalu heboh ya..ah, aku jadi malu mengingatnya.”

“jadi bagaimana ceritanya??”

“Dasar kau, tetap saja memaksa.”

******

Liburan itu tidak lama, mereka bersembilan hanya menginap satu malam saja. Esok paginya mereka harus pulang untuk kembali menyiapkan aktivitas seperti biasanya. Namun liburan yang singkat itu menorehkan kesan menyenangkan di hati mereka masing-masing. Mereka tertawa bersama, bercerita, dan menggila bersama, melupakan sejenak kejenuhan dan kepenatan hidup, serta mencoba me-refresh pikiran mereka. Tak terkecuali Nari dan Shindong. Liburan itu tidak serta merta menyelesaikan masalah-masalah yang mendera pikiran mereka masing-masing. Namun setidaknya, ada tempat berbagi yang baru untuk mereka, entah kenapa mereka berdua banyak bercerita dan bertukar pikiran. Sesuatu hal yang sebelumnya jarang terjadi diantara mereka berdua.

*****

Sudah 6 bulan berlalu sejak liburan mereka ke pantai hari itu. Mereka semua, termasuk Shindong dan Nari kembali beraktifitas seperti biasanya. Lambat laun Shindong mulai megikhlaskan kepergian mantan kekasihnya,mungkin memang itu yang terbaik untuk gadis itu, Tuhan juga pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk dirinya. Ia sangat yakin itu, walaupun ia tak tau kapan saat itu akan tiba.

Shindong mulai mencoba membuka hatinya untuk mendekati gadis-gadis, mencoba mencari apakah kebahagiaan akan sampai lagi padanya. Ia tetap akrab dengan 8 sahabat lainnya termasuk Nari, hanya saja mereka berdua semakin jarang mengobrol bersama karena aktifitas masing-masing yang berbeda.

Sedangkan Nari kembali dengan kesibukannya seperti biasa, laporannya sudah diproses dan orang itu juga sudah ditindak, diberi peringatan, dan dilaporkan pada kedua orang tuanya. Orang tuanya jelas kaget atas perbuatan anak sulungnya itu. Tapi Nari tidak mau ambil pusing atas apa ganjaran yang diterima orang itu. Ia menyerahkan semuanya untuk diurus oleh yang berwenang, masalah bagaimana nasib orang itu, ia tidak peduli. Yang penting kini hidupnya sudah tenang tanpa terror dan ancaman, ia juga lebih rileks sehingga banyak hal yang bisa ia lakukan dengan lebih baik sekarang.

******

Cinta datang kepadaku, tanpa pernah mengabarkan sebelumnya..

Ia datang menghampiriku, seorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya..

Seorang yang dekat denganku..

Seorang yang setiap hari hanya sekedar kusapa dengan “hai”..

Seorang yang bahkan aku tidak pernah terpikir akan bersamanya…

Dari sekedar teman, persahabatan, sampai sebuah cinta merayap perlahan…..

Dan saat aku sadar, aku telah tenggelam di dalamnya, di dalam manisnya cinta bersamanya…

“Hey, sudah lama menunggu?” tanya Shindong pada gadis mungil yang sedang asik membaca sebuah novel.

Gadis itu pun mengangkat wajahnya sekilas dan menjawab, “Hmm, lumayan.”

“Mianhe Nari-ya aku terlambat, ada tugas mendadak yang tadi diberikan dosen padaku.” Jelas Shindong tanpa diminta, ada raut penyesalan di wajahnya.

Gadis itu menutup novelnya, meletakkannya di dalam tasnya, kemudia menatap Shindong dengan senyum di wajahnya, “AKu lapar, kita jadi kan makan siang bersama?”

“Ah, Ne. tentu saja. Kajja, aku akan menraktirmu makan siang di kantin sebagai permintaan maaf karena telah membuatmu menunggu lama.”

“Haha, kau berlebihan Shindong-ssi. Baiklah, kajja.”

******

Shindong menatap gadis di depannya dalam diam, memperhatikan garis halus wajahnya, dan gerak-geriknya.
“jangan melihatku seperti itu, hati-hati nanti kau suka padaku.” Ucap gadis yang sedang dipandanginya tiba-tiba, membuatnya gelalapan sejenak.

“Aku kan memang sudah menyukai mu Nari-ya.” Jawab Shindong sambil bercanda, mencoba menutupi rasa malu nya karena ketauan sedang memperhatikan gadis itu.

“Haha, kau memang selalu menggodaku Sindong-ssi, sudahlah lanjutkan makanmu. Sebentar lagi kelas mu dimulai kan?!”

“hufth,,kenapa kau selalu menganggapku bercanda Nari-ya? Padahal aku kan sudah mengatakan hal tadi dengan susah payah.” Jawab Shindong sambil menunjukkan  wajah pura-pura menyesal.

“Ah, sudahlah Shindong-ssi, jgn membuatku tertawa terus dengan menunjukkan wajahmu yang seperti itu.” Ujar Nari sambil tertawa tertahan, takut suara tawa nya terdengar kemana-mana.

“Oke baiklah, kita lanjutkan makan. Kau juga, habiskan makanan mu, jgn sampai ada yang bersisa.”

“Siiip…”

*****

Shindong sedang termenung bosan sambil menatap ke arah luar jendela tepat di samping kursi yang ia duduki dalam ruang kuliahnya. Entah kenapa ia merasa perkuliahan kali ini sama sekali tidak menarik baginya. Mungkin karena hari hujan dan juga sudah sore. Shindong melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunggu-nunggu kapan waktu perkuliahan usai. Menit-menit yang berlalu dengan kebosanan terasa sangat lambat, ia pun kembali menatap ke arah luar jendela. Dan saat itu pula ia melihat sosok gadis yang sedang disukainya sedang berjalan tak jauh dari pandangan matanya, Shindong pun menatap gadis itu sampai hilang dari pandangannya. Ia meraba dadanya, ada suatu yang berdesir disana. Desiran yang hanya muncul tiap ia melihat gadis itu. Nari, gadis yang disukainya dengan sepenuh hati, gadis yang selama ini hanya menjadi teman satu kampusnya, yang saat ini menjadi partnernya dalam sebuah proyek di kampusnya, ia bahkan tidak ingat kapan pertama kali desiran itu muncul. Yang ia tau, saat ini ia sangat ingin membahagiakan gadis itu, membuatnya melupakan masa lalunya agar senyum manis selalu terukir di wajah imutnya.

*****

21032011

“Bagaimana awalnya sampai kita bisa seperti ini ya??” tanyaku sambil merasakan lembut dan manisnya gulali di dalam mulutku.

“Entahlah, kita berteman, mengobrol, pernah menjauh karena aktifitas masing-masing, dan kembali didekatkan karena aktifitas yang mengharuskan kita bertemu dalam satu ruangan setiap hari.”

“Kemudian kita dekat, sampai akhirnya rasa itu datang padaku.”

“Aku yang membuat rasa itu datang, aku kan yang menyukaimu duluan.”

“Iya..iya..tapi kan sekarang aku juga menyukaimu..”

“Dicari kemana-mana, ga taunya dapetnya disitu-situ juga. Tau gitu dari awal aku ga usah capek kemana-mana ya.”

“Hmm,jadi kau menyesal karena dapetnya aku, orang deket, itu-itu aja, gtu??”

“Ani, aku tidak blg seperti itu, aku hanya berkata, jika aku menyadari perasaan ku lebih cepat, mungkin sudah sejak lama kita bersama.”

“Belum tentu, kalau kejadiannya seperti itu, mungkin endingnya tidak akan seperti ini.”

“Padahal kau kan bukan tipeku, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu ya.”

“Huh, enak saja, kau pikir kau itu tipeku. Kau itu jg bukan tipeku tau.”

“Aku suka gadis tinggi, dan kau……. ”

“Aku memang pendek, tapi aku kan imut, dari pada kau, gendut. Aku bahkan selalu berpikir tidak akan suka pada laki-laki gendut.”

“Hey, aku kan tidak bilang kau pendek, kenapa kau mengataiku gendut.”

“Kau kan memang gendut.”

“Dasar pendek.”

“Gendut”

“Pendek.”

“Gendut.”

“Pendek.”

“Gen…….”

Entah kapan perdebatan itu akan selesai kalau Shindong tidak segera membungkam Nari, dengan sebuah kecupan cepat di keningnya. Yang sukses membuat Nari tidak melanjutkan kata-katanya. Mereka berdua terdiam, kemudian saling berpandangan, saling tersenyum, kemudian saling berpelukan. Merasakan perasaan yang mengalir dari hati masing-masing.

Cinta itu bukan tentang siapa dan bagaimana fisiknya, tapi tentang hati, hati yang saling terikat, yang saling memberi dengan keihklasan, yang berharap hanya bahagia yang akan menanti mereka. Kini mereka telah menemukan cinta mereka masing-masing. Cinta yang ternyata begitu dekat dan begitu nyata. Cinta yang mengalir lembut dari dalam hati, membawa kebahagiaan dan keceriaan dalam hidup.

maeumeul dadatdeon najiman (I had closed my heart)
neo egen nae maeumeul julgeoya (But to you I’ll give my heart)
ijeseoya nae banjjokeul chajatnabwa (I finally found my other half)
ireoke gaseumi ddwigo itjana (My heart is racing like this)

chajatda nae sarang naega chatdeon saram (I found you, my love, the person I’ve been looking for)
ddeugeopge anajugo shipeo (I want to embrace you passionately)
gamanhi nuneul gamajulae (Stay still and close your eyes)
naega ibmacheo julsu itge (So that I can kiss you)
saranghae neol saranghae (I love you, I love you)
chajatda nae gyeote dul han saram (I found you, the one person to stay beside me)

-the end-

6 Comments (+add yours?)

  1. AhYoung Jung
    Sep 03, 2012 @ 21:53:17

    Keren thor >< jarang" ada cast nya Shinie oppa ^^

    Reply

  2. kyuRa Couple
    Sep 03, 2012 @ 22:30:34

    debaek….

    Reply

  3. mei.han.won
    Sep 04, 2012 @ 04:56:12

    like this yoo
    like this…hehe

    Reply

  4. Rizka Nurisya
    Sep 05, 2012 @ 10:36:03

    dear admin please untuk di hentikan pengiriman ke email saya yang ini karena email ini sudah terhubung hanya untuk bisnis saya     thanks best regards

    Reply

  5. farfiays2620
    Sep 06, 2012 @ 18:34:37

    aku suka amanah dari ff ni, bagus bagus 😀

    Reply

  6. dea kim
    Sep 28, 2012 @ 18:59:57

    bagus bagus baguuussss…. daebak thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: