[Special Post For Holiday] LOVE IS SWEET

LOVE IS SWEET

 

–  at Dominique School ; Break time –

 

“Chaerin-ah!”

Mworago?” jawab Chaerin manis. Chaerin menoleh.Telah berdiri seorang pria dengan kemeja putih seragam sekolah, dan jas coklat khas Dominique.

Nuguseyo?” Tanya Chaerin.

“Kim Jaejoong imnida. Aku kelas XII-A,” jawab pria tersebut sambil membungkukkan badan. Chaerin pun ikut membungkukkan badan. Pria bernama Kim Jaejoong tersebut adalah pria dengan tinggi sekitar 180cm, dan kulit putih pucat. Ia kurus namun terlihat gagah dan cocok dengan tubuhnya. Suaranya halus, terdengar seperti bisikan. Rupanya menawan.

“Ada apa?” Tanya Chaerin setelah kembali ke posisi awalnya, mengamati anak-anak yang sedang bermain basket.

4Ani.. Hanya ingin berkenalan. Boleh?”                Tanya Jaejoong sambil mengulurkan tangannya. Chaerin menggapainya, lalu memperhatikan  pertandingan basket antar kelas XII-B dan XII-F.

“Tapi, bukannya oppasudah kenal aku ya? Lagipula tadi oppa juga sudah memperkenalkan diri,” jawab Chaerin tanpa memperhatikan Jaejoong sama sekali. Chaerin menoleh ke arah berlawanan. Tempat segerombolan temannya sedang bercanda, ia ikut tertawa. Kemudian tersentak karena gerakan Jaejoong.

“Aish~ Bukan begitu maksudku, Chaerin-ah,” jawab Jaejoong agak kesal. Jaejoong memegang kedua pundak Chaerin lalu memutarnya agak kasar menghadap Jaejoong.

“Aku ingin dekat denganmu,” lanjut Jaejoong.

Omo.. Oppa, lepaskan tanganmu dari pundakku. Sakit,”

“Ah, mianhae. Refleks,” jawab Jaejoong salah tingkah.

“Chaerin-ah!” Sapa seseorang sebelum Chaerin sempat menjawab.

“Donghae oppa? Mworago?” sapa Chaerin balik.

“Gimana basketnya? Keren, ‘kan?” Tanya Donghae terengah-engah. Begitu sampai di sebelah Chaerin, Donghae langsung mengambil handuknya. Tentu saja untuk mengelap keringatnya setelah permainan basket yang cukup melelahkan.

“Keren! Aku pengen bisa, oppa. Ajarin donk,” jawab Chaerin dengan mata berbinar-binar.

“Nanti ya?” jawab Donghae sambil minum air mineral yang dibawakan oleh Chaerin.

Ne. Gamsahamnida,” jawab Chaerin tersenyum.

“Kamu les piano kan? Kaja, oppa antarkan. Oppa ganti baju dulu ya,” jawab Donghae lembut. Jaejoong yang daritadi diam saja memperhatikan curiga.

“Ah, ne oppa. Gamsahamnida,” jawab Chaerin lagi. Ia bangkit berdiri, tanpa menoleh sekalipun ke arah Jaejoong yang menatapnya tajam. Kemudian Chaerin menoleh ke arah teman-temannya dan melambaikan tangannya tanda ia akan pergi. Lalu beranjak ke tempat parkir sekolah.

Setelah Chaerin tak terlihat pada jangkauan pandangannya, Jaejoong mengambil handphonenya lalu menghubungi seseorang.

“Ayo kita bertaruh. Jika kamu bisa mendapatkannya, kamu akan mendapatkan 50.000 won. Sepertinya ia menuju ke arah tempat parkir saat ini. Bagaimana? Oke. Bagus. Permainan kita mulai besok….”

– Parking Area at Dominique School – After School Activities Ended –

 

                Chaerin berjalan menuju ke tempat parkir dimana Donghae biasa memarkirkan mobil Porsche 911 GT2 berwarna darksilver favoritnya itu. Chaerin berjalan melalui lapangan basket. Sekedar ingin melihat-lihat.

“Chaerin! Apa kabar?” Tanya seseorang dari kejauhan. Chaerin menoleh. Senyumnya merekah.

“Henry? Lama tak berjumpa denganmu. Kau kelihatan tambah dewasa. Keren,” jawab Chaerin terkagum-kagum. Lalu pandangannya berubah. Ia memandang Henry heran. Kemudian menarik kedua pipi Henry.

“Aaaa! Pipimu tak berubah. Selalu seperti mochi~ Lucu sekali~ Hahahahhaha,” Chaerin langsung tertawa. Henry manyun, separuh senyumnya pun mulai muncul kembali. Kemudian ia teringat sesuatu. Perjanjian yang telah dibuat tanpa diketahuinya siapa sang wanita yang dimaksudkan tadi. Siapakah wanita itu?

“Henry? Mengapa melamun?” Tanya Chaerin sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan muka Henry.

“Aniyo.. Hanya heran, kamu sekarang cantik sekali, Chaerin,” jawab Henry tersenyum.

“Ah, gamsahamnida,” jawab Chaerin malu-malu.

“Ehemm,” seseorang berdeham di belakang mereka. Chaerin terdiam, menoleh, lalu tersenyum.

“Ah, Donghae hyong? Ada apa?” sapa Henry.

“Mau menjemput Chaerin, Henry. Dia mau les piano. Aku yang mengantar,” jawab Donghae tenang.

“Kalian pacaran?” jawab Henry terlongo-longo.

“Ah, tidak!” jawab Donghae dan Chaerin bersamaan. Pipi Donghae memerah. Chaerin diam, bingung.

“Kaja, Oppa~ Aku hampir terlambat,” kata Chaerin setelah melihat jam di tangannya.

“Ne. Duluan ya, Henry,” kata Donghae dan Chaerin. Henry menggerakkan kepalanya tanda sampai jumpa sambil tersenyum. Handphonenya bergetar lagi. Ia terlonjak.

Yeoboseyo?”

“Bagaimana? Sudah tau?”

“Maksudmu.. Chaerin, hyong?”

“Ne. Waeyo? Kamu tidak bisa mundur Henry. Itu sudah perjanjian kita,”

“Ah, ne hyong. Aku tahu. Tunggu besok. Annyeong,” Henry langsung menutup sambungan di ponselnya.

Dia bingung, apa yang harus ia lakukan saat ini. Semua terlanjur terjadi. Bagaimana pun, ia harus memenangkan pertandingan ini. Atau malu yang akan didapatkannya.

– at Dominique School ; classmeeting – [ hari bebas ]

 

                “Chaerin-ah! Donghae-ya!” Chaerin menoleh.

“Yunjae-ya!” teriak Chaerin begitu mendapati sobatnya berdiri di hadapannya. Donghae hanya diam, memperhatikan apa yang dilakukan Chaerin dan Yunjae. Chaerin langsung memeluk Yunjae sambil berlonjak-lonjak.

“Omo… Bagaimana keadaanmu? Sudah tidak apa-apa kan?” kata Chaerin cemas. Yunjae kemarin tidak masuk kelas karena sakit. Maka dari itu Chaerin mencemaskannya.

Gwaenchanhayo,” jawab Yunjae sambil tersenyum.

“Oppa ikut berpelukan donk!” kata Donghae tiba-tiba sambil merentangkan tangannya ke arah Chaerin dan Yunjae.

“Apaan sih? Hahahhahhaa,” Chaerin dan Yunjae tertawa.

“Eh, itu ada apaan sih? Kok rebut-ribut?” Tanya Yunjae tiba-tiba sambil menunjuk ke arah lapangan basket. Banyak sekali anak-anak yang berdiri di sekeliling lapangan basket.

“Ayo ke sana. Mau tidak?” Tanya Donghae.

“Ne!” jawab Chaerin dan Yunjae langsung.

Ternyata ada pertandingan basket. Chaerin hanya bingung memandangi kerumunan yang berteriak heboh ini. Sedang Yunjae dengan takjub melihat pertandingan ini.

“Chaerin-ah! Oppamu ada di sana,” kata Yunjae sambil menunjuk sesosok pria yang berdiri di pinggir lapangan basket sambil meniup peluit yang ada pada mulutnya.

“Ada apa sih? Basket saja kok ramainya kaya gini?” Tanya Chaerin malas-malasan, terjebak di keramaian anak-anak.

“Omo! Jelaslah pasti ramai! Orang yang main aja Five Princes vs.the Jacks’ nya sekolah gitu!” teriak Yunjae histeris setelah mengetahui siapa yang bermain.

“Nugu? Donghae oppa kemana ya?” Tanya  Chaerin polos sambil mencari-cari sosok Donghae.

“Five Princes  wa the Jacks. Molla,” jawab Yunjae tak fokus pada pertanyaan Chaerin.

“Mwo?” Tanya Chaerin meminta pengulangan. Namun Yunjae hanya diam saja.

“Yunjae-ya! Siapa itu?” Tanya Chaerin lagi. Karena Yunjae tidak menjawab , akhirnya Chaerin menariknya keluar dari kerumunan. Yunjae langsung marah-marah karena ia harus melewatkan pertunjukan menarik dari ‘star boyz’ sekolah.

“Apa sih?” Tanya Yunjae agak kesal.

“Five Princes itu apa? The Jacks juga apa?” Tanya Chaerin penasaran.

“Kamu ga tau, Chaerin?” Tanya Yunjae takjub.

“Iya! Udah cepetan jawab,” jawab Chaerin agak memaksa.

“Five Princes ituu…..” sebelum Yunjae sempat menerangkan, ia telah menarik Chaerin ke arah lapangan lagi. Mereka menerobos kerumuan, sampai barisan paling depan. Yunjae melepaskan tangan Chaerin, lalu menunjuk anak-anak yang sedang bermain basket.

“Tuh liat. Anak-anak kelas XII-A sama XII-B, yang pada pake kemeja putih dengan garis navy tebal di barisan kancing, kancingnya pada dibuka satu atau dua, dan lengannya dilipat,”

Jamkkanman~ Hana, Dul, Set, Net, Dasot~ Oh, ne. 5 anak itu?”

“Iyalah. Secara basket, ya emang 5 donk,” jawab Yunjae sewot.

“Oh, ne, ne. Lanjutkan,”

“Kelas XII-A. Yang orangnya tinggi, namanya Choikang Changmin. Yang kayanya dari tadi diem aja itu, Yunho, Jung Yunho. Yang imut-imut itu, Kim Junsu. Yang rambutnya agak panjang, ada semirannya putih sedikit itu Yuchun. Yang terakhir, yang cantik banget itu, rambutnya item-coklat pendek-panjang, namanya Kim Jaejoong,” terang Yunjae. Chaerin langsung terpaku begitu mendengar nama Jaejoong.

“Terus…. The Jacks… Kelas XII-B.. Yang tinggi, cakep itu Choi Siwon. Yang kalo senyum, gummy smile itu namanya Lee HyukJae, seringan dipanggil Eunhyuk. Yang malah berhenti main terus megang PSP itu namanya Cho Kyuhyun. Yang pipinya kaya mochi itu Henry. Dan… Lho? Lho?”

“Ne..Ne.. Ngerti-ngerti..” Jawab Chaerin manggut-manggut.

“Ayoo, terusin!” jawab Chaerin  masih serius memandang anak-anak yang sedang main. Yunjae menarik kemeja Chaerin.

“Itu bukannya Donghae-sshi, ya?” Tanya Yunjae sambil menunjuk ke arah pria yang sedang memasukkan bola. Bolanya masuk!

“Ha? Benar! Sejak kapan dia disana?” Tanya Chaerin bingung. Dari kejauhan terlihat Donghae sedang berbicara dengan Henry. Raut mukanya serius. Namun bimbang. Akhirnya mereka mengangguk. Kemudian mereka kembali bermain. Sebelum bermain, Donghae menatap lurus-lurus ke arah Chaerin. Yunjae melihatnya. Yunjae langsung mengerti apa arti pandangan tersebut.

“Chaerin-ah! Kau kenal dengan Henry?” Tanya Yunjae setelah melihat perbincangan Donghae dan Henry.

“Ne! Dia tetanggaku waktu masih kecil dulu. Dia baik banget kok, deket banget sama aku,” jawab Chaerin acuh tak acuh.

“Hei! Pertandingan hampir selesai lho. Seru nih,” terdengar suara tak dikenal berteriak.

“Hei, Henry menuju ke arah mana itu?!” teriak seseorang yang lain. Membuat kehebohan.

“Chaerin-ah! Tidakkah Henry menuju ke arahmu?” Tanya Yunjae penasaran. Chaerin menoleh ke arah Henry yang tidak lagi mengacuhkan permainan.

“Mwo? Ah, iya. Ada apa ya?” Tanya Chaerin.

“Chaerin-ah!” Kata Henry. Suaranya semakin keras karena ia semakin mendekat. Chaerin memiringkan kepalanya tanda bingung.

“Saranghae~” kata Henry. Semua mata tertuju pada Henry. Hening.

“Mwo?” Chaerin tak mengerti. Henry menghela nafas. Tatapannya lurus ke arah Chaerin. Serius.

“SARANGHAE~” ulang Henry sambil berteriak.

“Mworago? Mwo? Mwohaeyo?” Chaerin tak mengerti. Semua pandangan menuju ke arahnya. Mulai terdengar kasak-kusuk. Semua terdengar mulai membicarakannya. Chaerin bingung. Ia ingin meminta bantuan. Yunjae menghilang. Donghae pun menghilang.

“SARANGHAE~ Will you be my girlfriend?” Tanya Henry dengan dialeg Inggrisnya yang sempurna.

“Ah?” Chaerin mulai bingung.

“Mau gak jadi pacarku, Chaerin sayang? Temen masa kecilku yang polos, lucu, imut, populer?” Tanya Henry, sambil setengah memohon.

“Ah, entahlah~” jawab Chaerin pelan sekali.

“TERIMA! TERIMA! TERIMA!”

“Bagaimana? Kalau kamu nggak nrima aku, mungkin kamu bakal di keroyok sama temen-temen lho?” kata Henry sambil tersenyum. Jaejoong tersenyum dari jauh.

“Arasseoyo, na do saranghae,” Chaerin pasrah. Namun dalam hatinya, ia tersenyum. Sebenarnya sudah lama ia menyukai Henry. Sosok childish namun dewasa, bijaksana.

“Aku antar kamu pulang ya nanti!” jawab Henry dengan senyumnya yang tulus.

“Ne! Gamsahaeyo~”

– at class – while Chaerin with Henry –

 

“Jadi begitu yaa… Sudah kuduga..” jawab Yunjae manggut-manggut.

“Ne. Aku bingung Yunjae. Apa yang harus aku lakukan? Apa memang harus membiarkannya dengan Henry atau harus tetap kukejar?”

“Kalau menurutku, jika ia jadi dengan Henry, lebih baik kau menjadi sosok kakak yang menjaga dan melindunginya. Tapi kalau tidak, lebih baik tetap kau kejar. Bagaimana?” Usul Yunjae.

“Ne. Arasso. Gomaptago,” jawab Donghae agak pasrah.

                “Ne. Paiting!” jawab Yunjae pelan. Donghae berjalan meninggalkan Yunjae.

– at Dominique School Park –

               

                “Oppa! Aku jadian lho sama Henry!” teriak Chaerin riang.

“Ah.. Kau senang bukan?” Jawab Donghae lemah.

“Ne. Oppa pernah dengar aku cerita bukan? Dialah yang aku suka. Teman masa kecilku,” jawab Chaerin sambil tersenyum. Donghae menggerakkan tangannya. Ia hendak memeluk Chaerin, namun melihat bahwa Chaerin sudah bukan sosok untuk dikejar, ia mengurungkan niatnya. Donghae mengusap rambut Chaerin.

“Chukhahae~” jawab Donghae lagi-lagi pelan. Ia melihat sosok Henry di dekat air mancur, tak jauh dari mereka, sedang berbicara dengan Jaejoong serius. Namun Donghae mengacuhkannya.

“Ne. Gamsahamnida oppa!” jawab Chaerin masih dengan senyumnya.

“Jamkkanman! Bukankah itu Henry?” Kata Yunjae yang tiba-tiba muncul.

“Darimana saja kamu? Mana? Mana?”

“Sightseeing~ Hehehheehe,” kata Yunjae pelan. Sambil mengedipkan mata ke arah Donghae. Donghae mengerutkan matanya.  Lalu pandangannya menuju ke arah Henry dan Jaejoong. Mereka menguping pembicaraan itu.

“Hei! Kau hebat sekali, Henry, bisa mendapatkan Chaerin,” kata Jaejoong dengan senyumnya yang tajam.

                “Mengapa kau menyuruhku melakukan hal seperti ini?” timpal Henry.

                “Aku tak pernah melihatnya jalan dengan pria lain selain Donghae. Kurasa kau bisa mendekatinya. Aku hanya penasaran. Ya sudah, ku suruh saja kau. Ini gajimu. Sampai jumpa,” jawab Jaejoong acuh tak acuh sambil memberikan seamplop uang.

“Henry!” teriak Chaerin. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu tega ya, membuat aku jadi obyek taruhan!” lanjut Chaerin.

“Chaerin, tenang dulu,” kata Henry mulai bingung.

“Tenang? Kita sudah berteman dari kecil. Kukira kamu benar-benar merasa sama denganku. Ternyata bohong! Kamu bilang kamu nggak akan bohong sama aku. Apa?! PEMBOHONG!” teriak Chaerin.

“Chaerin, tenanglah. Kita telah menjadi tontonan,” kata Donghae halus. Memang, teriakan Chaerin mengagetkan anak-anak yang berada di dekat mereka. Tentu saja mereka langsung berbondong-bondong menonton pertengkaran pasangan yang baru saja jadi ini.

“Kaja, kita pulang Oppa. Aku muak melihatnya,” Chaerin mengacuhkan perkataan Donghae tadi, lalu langsung beranjak pergi. Yunjae mengekor di belakang Chaerin.

“Henry. Sudah kubilangkan. Ternyata kau tega membohongi ku juga ya,” jawab Donghae dengan nada tajam, lalu pergi meninggalkan Henry yang mematung.

 at Chaerin’s Room – after go home –

 

                “Yunjae, Donghae, aku ingin pergi ke Perancis,” terang Chaerin pendek. Setelah sampai ke rumah, ruang yang pertama kali ia tuju adalah kamar. Donghae dan Yunjae hanya diam bingung. Ia langsung mengambil kopernya. Lalu memasukkan beberapa pakaian yang cukup untuk menginap di Perancis setidaknya seminggu.

“Oke, kau tenang saja Chaerin. Biar aku saja yang memesankan tiket dan hotelnya,” sahut Donghae langsung.

“Arra! Ini uangnya. Tolong ya oppa~ Gamsahaeyo~ Annyeong!” jawab Chaerin setengah mengusir.

“Annyeong,” jawab Donghae ke arah Yunjae dan Chaerin.

2 days later – in airport –

 

“Mohon perhatian. Pesawat tujuan Paris, dengan penerbangan PA933 akan segera berangkat. Silakan bagi para penumpang yang terlambat untuk memasuki gerbang penerbangan, dan menempatkan diri di kursi yang telah tercantum pada tiket. Terimakasih.”

 

                Chaerin yang sadar hampir terlambat dalam penerbangannya langsung berlari sambil membawa tas tangan dan tiket-passportnya. Ia melihat sesosok pria yang sepertinya dikenalnya. Namun tak jelas, samar. Akhirnya ia memilih untuk mengacuhkannya. Melewati gerbang, lalu masuk ke pesawat.

5 minutes later – in plane –

               Chaerin mencari tempat duduknya. Saat ia mendapati tempat duduknya, ia melihat sosok asing yang familiar itu lagi. Orang itu mengenakan hoodie seleher dan topi sehingga wajahnya tertutup. Namun tetap mengacuhkannya, Chaerin diam. Perlahan duduk dengan tenang di samping orang tersebut.

“Chaerin-ah!”

“Omo! Nuguseyo?!” teriak Chaerin tiba-tiba. Orang di sekitar Chaerin menoleh.

“DONGHAE OPPA?” Mata Chaerin terbelalak. Takjub dan tak menyangka.

“Kenapa di sini?” Tanya Chaerin lagi.

Donghae mulai menceritakan semuanya. Tentang cinta pada pandangan pertamanya pada Chaerin, tentang Henry yang ternyata juga menyukainya namun terpaksa menyetujui pertaruhan dengan Jaejoong karena ketidaktahuan, tentang pembicaraan Donghae dan Henry di lapangan basket. Donghae tetap melanjutkan ceritanya. Kesediaannya untuk menemani Chaerin ke Paris karena khawatir. Donghae memesan pesawat dengan penerbangan dan tujuan sama. Memesan hotel dengan view yang indah, tentu dengan kamar hotel yang berbeda. Semuanya. Semua hal yang selama ini tak pernah Chaerin sangka. Ternyata Donghae dan Henry menyukainya. Sosok yang bagi Chaerin adalah penting. Chaerin mulai menangis. Lalu ia tertidur di pundak Donghae.

at Atoile Hotel, Paris ; 4.30 P.M. –

 

                “Ah, indah ya, Paris itu. Oppa pintar deh, milih hotel di bukit gini. Udaranya sejuk, pemandangannya bagus. Johahae~ Gomawo oppa,” kata Chaerin lembut. Donghae memandang Chaerin dengan senyum kelegaan, karena akhirnya Chaerin mengetahui semuanya.

“Ne. Cheonmaneyo, Chaerin-ah~” Jawab Donghae lembut. Ia menolehkan pandangannya ke arah danau yang luas di depannya. Melihat pemandangan yang sangat indah, dan bahagianya, ia hanya berdua dengan Chaerin saat ini. Mereka berdua memilih berdiri.

“Oppa..” panggil Chaerin pelan.

“Em?” Jawab Donghae tanpa menoleh. Chaerin bergerak, kemudian memeluknya. Donghae bingung, kaget, namun senang. Pipinya memerah.

Je t’aime,” kata Chaerin pelan, masih memeluk Donghae.

“Apa itu?” kata Donghae pura-pura tidak mengerti.

“Mungkin lebih tepat.. I LOVE YOU ? Saranghae, oppa. Aku baru menyadarinya,” jawab Chaerin lembut, Donghae tersenyum senang. Lalu membalas pelukan Chaerin.

—ooo—

                “Aku menyukai seseorang. Seseorang di masa lalu, yang sangat penting untukku. Tapi ternyata, seseorang telah mengambil hatiku lebih dari bagian yang telah kuberikan pada orang yang kusukai..  Aku tak pernah menyadarinya..  Sampai akhirnya ku temukan kunci hatiku, dan ku sadari semuanya. Hidupku, menjadi bahagia…”

-the wnd-

4 Comments (+add yours?)

  1. AhYoung Jung
    Sep 09, 2012 @ 00:53:42

    O.o keren thor tp alurnya kecepetan

    Reply

  2. Flo
    Sep 09, 2012 @ 14:27:20

    bagus, chaerin ma haeppa…
    kasihan juga si henry tapi klo memang cinta
    harusnya dia nolak taruhan itu…
    alurnya cepet banget, thor…

    Reply

  3. Naila Nur F
    Sep 09, 2012 @ 19:38:20

    lumayan lah thor..
    tapi tetep keren kok , walaupun alurnya terlalu cepet sih:)
    tetep semangat thor..
    good luck..

    Reply

  4. fangirl96lines
    Sep 29, 2012 @ 05:15:40

    Ceritanya bagus, tapi alurnya kecepeten thor -_- mian.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: