My Wife [5]

My Wife [5]

Tittle : My Wife [5]
Author : Hikachovy (@Raechanyz)
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae
Genre : Romance
Length : Continue
a/n : FF ini udah pernah di publish di beberapa blog, termasuk blog pribadi (raechanyz.wordpress.com)
Poster By AltRiseSilver ^^

————————————————————-
Previous…
Aku harus pergi. Seharusnya aku pergi bukan? Tapi kenapa kakiku tetap diam di tempat? Kenapa kakiku sulit sekali bergerak? Lee Hyuk Jae ayo berjalan!
Mata itu masih menatapku. Aku tau, kau ingin aku pergi kan? Kau merasa terganggu dengan kehadiranku kan? Jangan khawatir Hikari Chan, aku tidak akan menjadi penganggu hidupmu lagi.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku membalikkan badan dan berjalan menjauhinya. Jika dengan menjauhimu bisa membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya. Aku akan menjauhimu sekalipun tiap langkah yang kuambil dapat membuatku kehilangan kekuatan untuk bernafas.
————-
Aku mematut diriku di depan cermin sekali lagi. Sekarang, yang ada di hadapanku adalah Eunhyuk Super Junior. Bukan Lee Hyukjae. Lupakan masalahmu, dan jadilah seorang Eunhyuk Super Junior yang konyol dan ceria. Aku menarik napas panjang, mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paru. Sedikit demi sedikit aku mulai melebarkan bibirku agar menampilkan sebuah senyuman. Baiklah, semua pasti akan baik-baik saja.
Yosh! Aku membuka pintu toilet dengan terus memberikan sugesti bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pasti mampu meninggalkan nama Lee Hyukjae yang penuh masalah dan berperan sebagai Eunhyuk Super Junior yang selalu terbebas dari masalah. Tugasku kali ini adalah menari dan menyanyi untuk menghibur semua ELF. Sambil terus berjalan, Aku kembali mengembangkan sebuah senyuman. Eunhyuk, Hwaiting!
——
“Kau bekerja terlalu keras, Hyuk-ah.” Donghae menepuk pundakku sambil memamerkan senyuman polosnya.
“Begitu?” Aku terus berjalan mengabaikan ucapannya.
“Tapi aku salut padamu. Kau mampu memposisikan dirimu dengan sangat baik. Jadi kalau seandainya Hikari memilihku, kau pasti akan tetap baik-baik saja kan?”
Aku mengepalkan tanganku dibalik saku celana. Seandainya? Tak perlu menggunakan kata ‘seandainya’ Donghae-ah. Gadis angkuh itu sudah pasti akan memilihmu. Dan aku… seandainya itu memang terjadi, aku pasti… pasti apa? Aku tersenyum miris lalu menatap Donghae yang sedang tersenyum padaku. “Semuanya akan sesuai harapanmu, Hae.”
“Aku pegang kata-katamu.” Donghae lalu pergi, sementara aku semakin mengeratkan kepalan tanganku.
—–
Aku duduk di salah satu kursi yang ada di lobi MBC untuk menunggu Junsu. Malam ini, aku memang memutuskan untuk menginap di apartemen Junsu. Pikiranku masih kacau sekarang, dan aku tidak ingin memperburuk keadaan dengan pulang ke apartemenku. Menemui gadis itu hanya akan membuat pendirianku goyah.
Lagipula, kalaupun aku pulang, gadis itu pasti akan mengusirku kan? Mengingat pernyataan cinta Lee Donghae tadi siang, aku yakin 100% kalau gadis itu pasti akan sangat membenciku dan tidak akan rela melihat wajahku lagi. Lee Hyukjae, hidupmu memang luar biasa menakjubkan. Ternyata seperti ini rasanya hidup dikelilingi orang-orang yang membencimu.
Aku menyandarkan pungggungku dan kembali menerawang. Ucapan-ucapan Leeteuk Hyung, Lee Donghae dan juga Kumiko Hikari beberapa waktu lalu kembali berkelebat di dalam otakku.
“Kalau seandainya kau dihadapkan pada cinta dan persahabatan, mana yang akan kau pilih?”
“Cinta dan persahabatan. Kurasa dua hal itu bukanlah sebuah pilihan. Karena keduanya memiliki arti yang sama-sama penting kan?”
“Jadi?”
“Aku hanya akan memilih sesuatu yang bisa membuat dua hal itu tetap ada disampingku.”
“Caranya?”
“Gadis itu adalah jawabannya.”
“Aku akan membiarkan gadis itu memilih. Dan apapun yang menjadi pilihannya, itulah konsekuensi yang harus aku dan sahabatku terima. Dalam persahabatan, kita harus tetap sportif, bukan?”
“Jika gadis itu mencintai sahabatku, maka aku akan melepasnya. Toh dengan aku melepaskannya bukan berarti aku kehilangan cintaku kan? Terdengar klise dan menggelikan memang. Tapi bagiku, kebahagiaan itu adalah saat melihat orang yang kita cintai terlihat bahagia.”
“Lee Hyuk Jae, apakah Hikari mencintaimu?”
“Hyuk-ah, aku tidak bisa melepaskannya.”
“Mianhe Hyuk-ah. Seandainya perkiraanku benar, kau… mungkin kau harus belajar untuk menyerahkan Hikari padaku.”
“Berhenti menganggapku sebagai istrimu. Kau tau sendiri aku tidak suka menjadi istrimu kan?”
“Han Rae Eun, Saranghae.”
Aku mengarahkan tanganku pada dada sebelah kiri, lalu menekannya kuat. Mengingat kalimat terakhir itu, kenapa dadaku terasa nyeri? Rasanya ada sebuah benda tumpul yang berusaha mengoyak-ngoyak dadaku. Perih dan sesak.
Kumiko Hikari, kenapa mencintaimu harus terasa sesakit ini?
—–
“Lee Hyukjae, kau benar-benar sahabat terbaikku. Hanya kau satu-satunya orang yang memperlakukanku sebagai seorang supir.”
Aku tergelak. “Ya! Tidak semua orang bisa menjadi supir The Dancing Machine Eunhyuk Super Junior. Kau seharusnya merasa bangga Junsu-ya. Hahaha”
“Kau ini.” Junsu mendorong kepalaku ke samping sampai bersentuhan dengan kaca mobil. Aku hanya tertawa.
“Arrasseo. Ini penghargaan untuk seorang Xiah Junsu. Aku baru pulang ke Korea dan langsung menjadi supir seorang Eunhyuk Super Junior. Hebat sekali.” Junsu mulai menjalankan mobilnya sambil terus menggerutu.
“Kau yang terbaik, Junsu-ah.”
Junsu menoleh padaku. “Kau baik-baik saja kan?”
Tidak.
“Ehm, tentu aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Aku tidak tau ada apa. Tapi kau harus tau kalau kau tidak sendirian Hyuk-ah. Kau terlalu bodoh untuk menyimpan semua bebanmu seorang diri, kau tau?”
Aku mendecak. “Ini pujian atau apa hah?”
“Peringatan.” Junsu menatapku sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke jalan raya. “Ini peringatan.”
Diam selama beberapa saat, Junsu kembali bersuara. “Kau bisa mengandalkanku sebagai supirmu, sebagai tong sampah dari masalahmu, sebagai penyemangatmu, sebagai…”
“Bank berjalan ku?”
“Y-ya!”
“Hahahahaha”
—–
Aku membuka pintu kamar lalu berjalan ke arah dapur. Tidak tidur semalaman ternyata memberikan efek buruk pada perutku. Benda persegi ini jadi semakin mudah berbunyi dan membuatku tersiksa. Ish!
Aku membuka kulkas, berharap ada makanan yang bisa kuculik disana. Bagus! Tuhan ternyata sedang tidak berpihak padaku untuk menjadi perampok dadakan. Helaan napas panjang meluncur begitu saja saat aku tidak menemukan apapun di dalam dapur. Bocah itu, sedang miskin atau apa sih? Kenapa tidak menyimpan persediaan makanan satu pun? Huh.
Aku melirik ke arah jam tangan. Masih jam 6 pagi. Masih terlalu pagi untuk keluar rumah. Menidurkan tubuhku satu atau dua jam lagi pasti tidak akan masalah. Aku menatap perutku sambil mengelus-ngelus pelan. “Kau mau menunggu sebentar lagi kan?” Tanyaku pada si perut. Seolah mengerti dengan pertanyaanku, si perut malah mengeluarkan bunyi ‘kruyuuuk’ dengan suara yang lebih keras. Oh, baiklah. Kau tidak mau menunggu satu atau dua jam lagi? Dasar perut kurang ajar.
Terpaksa, aku harus menggiring kakiku untuk berjalan ke mini market terdekat. Raemyon, tunggu aku!
Lima belas menit berjalan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, akhirnya aku sampai juga ke mini market yang buka 24 jam. Aku membuka pintu mini market dan langsung menuju tempat mie instan. Satu bungkus? Dua bungkus? Ah, lima bungkus saja sekalian.
“Lee Hyukjae oppa?”
Deg! Tubuhku langsung berjengit saat mendengar sapaan itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada yang mengenaliku? Bukankah penyamaranku sudah sangat sempurna? Setelah memasukkan lima bungkus mie instan ke dalam keranjang, aku langsung berjalan ke arah kasir dan bersikap seolah-olah tidak mendengar sapaan tadi.
Aku keluar mini market tergesa-gesa sampai suara itu kembali membuatku tersentak kaget.
“Tidak perlu melarikan diri begitu Oppa! Aku ini bukan stalker.”
Aku berhenti tapi tidak membalikkan badan –belum.
“Dan aku tau kau pasti Lee Hyukjae member Super Junior kan? Aku sangat hapal dengan baumu yang sangat khas itu, Oppa! Hahaha”
MWOYA?! Aku mengendus-ngendus tubuhku ke kiri dan ke kanan. Memang bau ku seperti apa?
Aku segera membalikkan badan saat kudengar gadis yang tadi menyapaku itu tertawa kencang. Kurang ajar!
“YA! Ka—“
Eh? Aku mengenal gadis ini. Ucapanku terputus saat aku melihat wajahnya yang tidak asing ini. “Kau asisten Hikari kan?”
“Hmm-mmm.” Gadis itu mengangguk. “Masih mau kabur, eh?”
Ck. Aku hanya bisa mendecak sambil tersenyum. Anak ini benar-benar mirip seseorang. Angkuh dan menyebalkan.
“Bagaimana kau ada disini?” Tanyaku menyipitkan mata.
“Yang jelas bukan untuk mengikutimu, Oppa.”
Gadis berambut panjang sebahu itu lalu berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya.
“Jelas-jelas kau tadi mengikutiku. Masih saja mengelak. Ckckck”
“Ehehehe. Tadi itu aku mengikutimu karena kau kabur begitu saja.” Dia melirikku dengan tatapan menyelidik. “Bagaimana pernikahanmu? Menyenangkan?”
“Kalau pernikahanku menyenangkan, aku tidak mungkin pergi ke mini market sepagi ini, Nona.”
“Aaaah, benar juga. Apa Oneechan masih terlihat menyeramkan?”
Aku tertawa mendengar pertanyaannya itu.
Chinatsu Adachi. Bisa dibilang, dia adalah satu-satunya orang yang paling mengerti keadaanku. Selama aku bertindak sebagai stalker gadis angkuh itu dua tahun kemarin, Adachi lah yang selalu memberikan semangatnya padaku. Dia yang selalu aktif mengabarkan perkembangan Hikari kepadaku selama ini.
Aku duduk di sebuah bangku taman yang masih sepi. Adachi menatapku dengan mata sipitnya sambil menyerahkan sebuah roti. Apakah wajah kelaparanku terlihat sejelas itu?
“Kau akan bertahan kan, Oppa?”
Eh?
“Maksudmu?”
“Apapun yang dilakukan Oneechan, kau akan tetap bertahan dan terus berada disampingnya kan?”
Aku menatap Adachi tidak mengerti sampai akhirnya aku memilih untuk mengangkat bahuku sambil berkata, “Aku akan bertahan untuk membahagiakannya. Aku akan berada di sampingnya, tapi dalam konteks lain.”
“Maksudmu? Memperhatikannya diam-diam seperti yang kau lakukan dua tahun lalu?”
“Cara seperti itu jauh lebih baik.” Aku membuka bungkus roti lalu memakannya. Adachi menatapku heran. Oh, ayolah. Berhenti menatapku seolah aku ini penjahat yang tidak mau mengakui kejahatannya.
“Jangan bilang kau mau bercerai?”
Aku diam. Bercerai? Bukankah memang itu satu-satunya jalan untuk membuatnya bahagia?
“Ya! Oppa!”
“Kau akan mengerti kalau kau berada di posisiku, Adachi-san.”
“Begitu? Jadi usahaku selama ini sia-sia?!”
“Usaha apa? Usaha mendekatkanku dengan Hikari? Bukankah dari dulu usahamu memang tidak pernah berhasil?” Aku refleks tertawa begitu mengingat cara-cara konyol Adachi agar aku dan Hikari bisa bertemu dan bertegur sapa.
Adachi pernah menyiramkan jus jeruk ke pakaian Hikari hanya agar aku bisa memberikan sapu tangan buatanku kepadanya. Saat aku berpapasan dengan Hikari di koridor butik miliknya, Adachi pernah dengan sengaja menubruk tubuh Hikari agar jatuh mengenai tubuhku dan dengan begitu aku bisa mengobrol dengannya meskipun hanya sebentar. Masih banyak cara konyol lain yang sudah dilakukan Adachi tapi tetap saja, aku dan gadis angkuh itu tidak pernah bisa dekat. Tentu saja, gadis mana yang mau berdekatan dengan lelaki yang selalu menutupi wajahnya dengan topi dan juga masker?
“Kau pikir karena siapa Oneechan menikah denganmu, Oppa?”
Pertanyaan Adachi membuatku berhenti tertawa. Aku melihatnya bingung, sementara dia memasang wajah kesalnya. “Oneechan menikah denganmu karena ulahku!”
“APA?”
“Empat bulan yang lalu, Aku dan Oneechan mengalami kecelakaan ringan di Seoul.” Adachi memainkan jarinya dengan gugup. Perasaanku mulai tidak enak sekarang.
“Saat aku sedang membeli obat di Apotek, Oneechan bertemu dengan Donghae oppa. Begitu aku kembali dari Apotek, aku melihat Donghae oppa sedang mengobati luka Oneechan dan saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat wajah Oneechan yang tersipu malu. Matanya tidak pernah terlepas memandangi Donghae oppa bahkan saat Donghae oppa sudah pergi meninggalkannya.”
Aku masih diam menunggu kelanjutan cerita Adachi.
“Kau tidak tau apa yang kurasakan saat itu Oppa. Anggap saja aku gila. Tapi saat itu, aku benar-benar takut kalau Oneechan jatuh cinta pada Donghae oppa. Oneechan bisa melakukan apa saja kalau dia sudah memutuskan sesuatu. Dan sebelum ketakutanku menjadi nyata, aku akhirnya memutuskan untuk membohonginya.”
Aku mengatupkan rahangku. Jangan bilang kalau…
“Aku mengatakan kalau laki-laki yang baru saja menolong Oneechan bernama Lee Hyukjae.” Adachi menatapku sambil menangis. “Lee Hyukjae.” Ulangnya membuat tubuhku terasa limbung.
“Aku tau bagaimana perasaanmu selama ini. Aku juga tau bagaimana usahamu untuk bisa berdekatan dengan Oneechan. Aku tau aku bodoh. Tapi aku benar-benar tidak rela kalau Oneechan mencintai orang yang salah. Satu-satunya orang yang pantas mendampinginya adalah kau, Oppa!”
Dasar gadis bodoh! Benar-benar bodoh.
“Adachi, apa kau sadar kalau apa yang kau lakukan ini salah?”
Melihat gadis itu mengangguk membuatku menggeram dalam hati. Dia tau tapi dia tetap melakukannya?!
“Apa pernah aku memintamu untuk bertindak bodoh begini, HAH?!”
“Aku hanya ingin Oneechan berada disamping orang yang tepat.”
“Berhenti bersikap sok tau!!” Tanpa sadar aku membentaknya. Aku sendiri tidak tau kenapa aku bisa semarah ini. Sekalipun niat gadis itu baik, tapi tetap saja caranya salah. Dia… karena dia maka hubunganku dengan Hikari dan Donghae menjadi rumit.
“Aku tau aku salah. Tapi kau? Bukankah kau juga mempunyai andil? Kau tau bukan kau orang yang ingin dinikahi Oneechan. Tapi kenapa kau menyetujui pernikahan ini?”
Aku menarik napas. “Benar. Kita berdua salah. Itulah kenapa aku akan mengakhirinya.”
“Oppa…”
“Donghae orang yang baik. Kau tidak perlu khawatir.” Aku tersenyum menatapnya. “Hikari… pasti akan bahagia kalau bersama Lee Donghae.”
“Oppa…”
“Mulai sekarang, berhentilah mencampuri urusan orang lain, Adachi-san.”
Aku berdiri setelah mengucapkan kalimat itu. Tanpa melihatnya lagi, aku langsung berjalan meninggalkannya. Baru beberapa langkah aku berjalan, kudengar Adachi berteriak. “PRESDIR AKAN KE JEPANG SIANG INI. KAU DAN ONEECHAN DISURUH DATANG PAGI INI JAM 8. KAU AKAN DATANG KAN OPPA?!”
Haruskah?
Haruskah aku datang?
“ONEECHAN AKAN MENDAPATKAN MASALAH BESAR KALAU KAU SAMPAI TIDAK DATANG! KUMOHON DATANGLAH UNTUK ONEECHAN!”
Aku menarik napas lalu menghembuskannya pelan. Aku mengangguk, lalu kembali berjalan meninggalkan gadis bodoh itu.
—–
“Aigo. Kau ini benar-benar. Kau sudah meminjam bajuku, dan sekarang mau meminjam mobilku juga?” Junsu membulatkan matanya begitu aku mengatakan ingin meminjam mobilnya untuk seharian ini. Ekspresi anak ini berlebihan sekali.
“Ayolah, aku akan bertemu mertuaku pagi ini. Kalau pergi dulu ke dorm untuk mengambil mobilku tidak akan sempat Junsu-ah.”
“Ckckck. Setelah ini kau mau meminjam apa lagi hah? Dompetku?” keluh Junsu sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Aku tertawa mendengarnya. “Bagaimana kalau aku meminjam tubuhmu saja?”
“Y-ya!”
—–
Keluarga Kumiko Hikari benar-benar luar biasa. Hotel tempat kedua orang tuanya menginap di buat steril sampai tidak ada seorang pun yang berkeliaran di sekitar kawasan Hotel. Bagaimana caranya menyulap hotel mewah yang tidak pernah tidur ini menjadi sepi seperti kuburan? Wah.. wah..
Aku baru saja memasuki lobi hotel dan seorang pelayan sudah langsung menyapaku lalu membawaku ke area restoran hotel yang juga sepi dari pengunjung. Aku hanya bisa berdecak kagum memperhatikan kejadian langka ini. Melihat ini semua membuatku merasa seperti sedang syuting drama saja.
Dadaku mulai berdegup kencang saat pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu besar yang kuyakin sebagai ruangan privat yang sudah dipesan khusus oleh ayah dari gadis angkuh itu. Ini kali kedua aku akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Apa yang harus kulakukan? Fiuuuh.
Pintu terbuka dan wajah kedua orang tua Hikari langsung menyambutku. Lee Hyukjae, semangat!
“Anyeonghaseyo Otousan, Okaasan.” Aku membungkukkan badanku dengan sopan.
“Ne, Annyeonghaseyo. Duduklah.”
Aku berjalan ke arah kursi yang ada di pinggir Otousan. Lalu duduk sambil melemparkan senyuman terbaikku. Semoga saja senyumanku tidak terlihat aneh.
“Mana Hikari?”
Eh?
Aku melihat ke sekeliling ruangan dan gadis angkuh itu ternyata memang belum datang. Kenapa dia belum datang? Mati. Jangan sampai mereka curiga.
“Ah, ne. Tadi sewaktu akan pergi, Hikari mendapatkan telepon dari seseorang. Dan setelah itu dia pergi karena katanya ada urusan penting. Dia menyampaikan permohonan maafnya kepada Otousan dan Okaasan.”
Oh, Lee Hyukjae kau sudah pantas menjadi seorang aktor!
“Anak itu berani-beraninya menomerduakanku hah?!” Otousan menggebrak meja membuatku terkesiap. Astaga! Apa aku salah bicara?
“Otousan, tenanglah.” Okaasan menepuk-nepuk tangan ayah mertuaku lembut. Dan tepat setelah itu, pintu terbuka. Aku sudah hampir bernafas lega karena kukira gadis angkuh itu yang datang, tapi ternyata perkiraanku salah. Yang datang adalah laki-laki… APA?! Kenapa laki-laki itu ada disini? Laki-laki yang kujumpai di café bersama Hikari waktu itu datang dengan kaos dan jeans yang robek-robek di beberapa bagian. Pakaiannya benar-benar nyentrik.
“Halo! Aku tidak terlambat kan, paman? Hohohoho” laki-laki itu masuk dengan santainya lalu menepuk pundakku. “Hai! “ sapanya. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi.
“Mana Hikari?” Tanya laki-laki itu padaku.
“Dia ada urusan.” Jawab Okaasan. Aku mengangguk tidak enak.
“Hei, Kamiki Ryunosuke! Apa yang sudah kau ajarkan pada sepupumu itu hah?!”
Oooh.. jadi namanya Kamiki Ryosunuke. Eh? Atau Kamiki Ryusonuke? Aish. Namanya susah sekali. Siapapun dia yang jelas aku bisa bernapas lega sekarang. Laki-laki itu ternyata hanya sepupu gadis angkuh itu. Hohoho.
“Hei, anak muda. Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Kau senang karena Hikari sudah mengabaikanku ya?”
Eh?
Aku meneguk ludahku gugup begitu melihat wajah ayah mertuaku yang menyeramkan. “Anio. Tidak. “
“Cish, gadis itu harus kuberi pelajaran. Dia sudah mengabaikan ayahnya dan sekarang datang terlambat.” Otousan lalu mengasah pisau yang diambilnya dari saku celana. Omo! Omo! Apa dia gila?
“JANGAN!” Teriakku spontan.
“Kenapa?”
Mati. Aku harus mengatakan apa?!
“Aku… kumohon jangan lakukan itu Otousan. Aku bisa melakukan apa saja asalkan Otousan jangan marah kepada Hikari Chan. Bagaimana?”
Otousan menyipitkan matanya. Dia menatapku tajam membuatku merinding. Sekarang aku tau, darimana gadis itu mendapatkan tatapan menyeramkan yang biasa diarahkannya padaku kalau sedang marah.
“Baiklah. Kalau begitu, kau harus menyanyi dan menari sampai gadis itu datang. Bagaimana?”
Okaasan dan laki-laki bernama Kamiblablabla itu tertawa. Aku hanya bisa tercengang sambil membulatkan mulut. Menyanyi? Menari? Sampai gadis itu datang?! Matilah kau Lee Hyukjae.
Tapi karena tidak ada cara lain, dan atas nama cinta. Oke, untuk yang terakhir itu aku ingin muntah. Akhirnya mau tidak mau aku berdiri dan mulai menari sambil bernyanyi. Kumiko Hikari, kau harus membayarku untuk ini!
—-
Aku tidak tau sudah berapa lama aku bernyanyi dan menari seperti ini. Tubuhku sudah mati rasa, tapi Otousan masih saja mengarahkan tatapan menyeramkannya setiap kali aku menghentikan aktifitasku. Tidak anak tidak ayah. Mereka berdua sama-sama menyeramkan dan menyebalkan. Nasibmu benar-benar malang, Hyuk-ah.
“Sudah.. sudah kau boleh berhenti.”
Huaaaaaaaah! Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaahh…..
“Kau benar-benar menyukai putriku ya?”
Tanpa sadar aku mengangguk semangat membuat Okaasan dan Sepupu Hikari itu puas mentertawaiku.
Entah sudah berjalan berapa menit saat aku, kedua Orang tua dan juga Sepupu Hikari berbincang-bincang sambil tertawa membicarakan sifat gadis angkuh itu yang kadang menyebalkan tapi juga menggemaskan di lain sisi. Ketika kami sedang tertawa-tawa, tiba-tiba saja gadis angkuh itu datang dengan penampilannya yang… sedikit berantakan.
Gadis itu terlihat kaget melihatku sementara tubuhnya masih terpaku di depan pintu.
“Akhirnyaaa… kau datang juga. Kenapa diam saja? Ayo masuk.” Suara Otousan membuat gadis angkuh itu mengalihkan pandangannya dariku. Fiuuh. Hampir saja aku berpikiran dia akan menerkamku hidup-hidup kalau Otousan tidak bersuara tadi.
“Otousan, Gomenasai. Aku datang terlambat karena—“
“Tidak apa-apa. Ayo duduk. Suamimu sudah bilang kalau kau ada keperluan mendadak kan? Kau ini dasar. Otousan tidak akan memaafkanmu kalau kejadian seperti ini terulang lagi. Mengerti? “
Aku tersenyum mendengar kemarahan Otousan. Suaranya kalau sedang marah benar-benar menyeramkan. Tidak beberapa lama kemudian gadis angkuh itu berjalan dan duduk disamping kursiku. Jantungku mulai mengajak ribut dengan terus berlarian kesana-kemari. Astaga Lee Hyukjae kau sudah cocok menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa.
“Kau harus bersyukur memiliki suami seperti dia. Kalau bukan karena permintaannya untuk jangan memarahimu, sekarang ini kau pasti sudah habis, Hikari Chan.”
Oho! Otousan ini memang pintar berbicara. Kau tidak jadi marah kan karena sudah menyiksaku, bukan karena permintaanku. Hhh.
“Benar. Kalau bukan karena Pria Lee ini, Okaasan pasti tidak akan betah menungguimu selama satu jam lebih. Sebenarnya apa urusanmu sampai terlambat selama ini hah?”
Tentu saja! Kau seharusnya mendengarkan ucapan ibumu dengan baik Hikari Chan. Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah mati.
Ehem! Melihat nuansa yang tidak enak, aku akhirnya angkat bicara. “Karena Hikari sudah datang, bagaimana kalau kita mulai makan saja?” Usulku yang untungnya disetujui oleh Otousan dan Okaasan.
“Kalau begitu aku akan memanggil pelayannya.” Laki-laki bernama Kamisaki entah siapa itu ikutan memberi usul, lalu berjalan keluar ruangan untuk memanggil pelayan. Sambil menunggu laki-laki tinggi itu kembali, aku memilih untuk mengobrol lagi dengan Otousan dan Okaasan.
Sudut mataku sesekali memperhatikan gadis yang sedang duduk disampingku ini. Apakah ini hanya perasaanku saja? Kenapa wajah gadis itu terlihat pucat? Dia terlihat sangat kelelahan. Dengan gaya sok tau, aku menyodorkan segelas air putih dan piring yang berisi berbagai macam kue. “Minum dan makanlah ini dulu.” Kataku membuatnya mengangkat wajah dan menatapku bingung “Ayo!” Aku mengarahkan daguku ke gelas dan piring yang ada di depannya.
Walaupun terlihat ragu, dia akhirnya menuruti perintahku. Gadis angkuh itu mengambil gelas tersebut lalu meminum airnya sedikit. Aku menyerahkan sepotong Cheese Cake ketika dia baru saja menyimpan gelasnya. “Kau sangat senang cheese cake kan?” Tanyaku.
Dia tersenyum. “Gomawo.”
Aku hanya menganggguk lalu kembali mengarahkan kepalaku ke hadapan Otousan dan Okaasan. Hikari chan, mungkin ini adalah perhatian terakhir yang bisa kuberikan untukmu.
Dadaku kembali berdenyut.
—–
“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” Tanyaku heran.
Anggap saja aku sedang narsis. Tapi dari tadi semenjak selesai sarapan, gadis ini memang selalu memperhatikanku diam-diam. Terlebih saat tadi aku berbicara dengan sepupunya, gadis ini terus saja melihat ke arahku. Apakah dia begitu senangnya karena sebentar lagi tidak akan melihat wajah lelaki yang paling dibencinya ini?
“Tidak ada.” Jawabnya dengan nada sinis. Selalu seperti itu. “Tadi, apa yang sedang kau bicarakan dengan Ryu?”
Aku mengangkat bahu tidak peduli, lalu berjalan ke arahnya dan berdiri tepat disampingnya sambil menyandarkan tubuhku pada tembok. “Tidak ada.” Jawabku menirukan gayanya. Ahahaha kau pikir hanya kau saja yang bisa bersikap sinis?
Tidak ada lagi pembicaraan di antara kami setelah itu. Dia diam. Aku pun memilih diam. Kami sama-sama diam.
Selama aksi diam ini, aku terus berdoa semoga saja Orangtua dan Sepupu gadis angkuh itu berlama-lama di kamar mereka. Aku ingin menikmati kebersamaanku dengannya sekalipun tidak ada pembicaraan apa-apa diantara kami.
Kurasa, memperhatikan wajahnya dari samping sudah cukup. Kelak, aku tidak tau apakah masih mempunyai kesempatan seperti ini? Memperhatikan wajahnya dan berdiri di sampingnya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat otot-ototku melemas. Kenapa semakin kesini, aku malah menjadi semakin penakut?
Aku terus mengamati gadis angkuh ini, sampai aku menyadari sesuatu. Gadis ini dari tadi memijat-mijat jarinya? Kupikir dia hanya memainkan jarinya karena gugup berduaan denganku. Lee Hyukjae, otakmu benar-benar harus diperbaiki sampai tidak bisa membedakan antara memainkan jari dan memijat jari.
“Apa tanganmu pegal?” Tanyaku hati-hati. Dia tidak menjawab –seperti biasa-
Inisiatif, aku memegang tangannya yang sedang ia pijat, lalu menarik tangan kirinya dan memijat-mijat jarinya pelan. Wahai jantung, tidak bisakah kau diam sebentar saja? Kenapa kau selalu mencari gara-gara setiap kali aku berinteraksi dengan gadis angkuh ini hah? Baik. Baik. Aku memang sedang gila karena memarahi jantungku yang tidak berdosa.
Aku meliriknya, dan wajahnya memerah. Wah, wah, apakah kau tegang Hikari Chan? Kita satu sama kalau begitu. Hahaha.
Gadis itu mencoba menarik tangannya tapi segera kutahan “Diamlah.” Ucapku datar. Dan ajaib! Gadis itu menuruti perintahku. Dia diam dan membiarkanku memijati jari-jarinya.
“Lee Hyukjae, apa kau masih marah?”
Deg. Dia bilang apa?
“Hmm?” Tanyaku sok cool. Aku melepaskan tangan kirinya, dan mengambil tangan kanannya dengan melakukan hal yang sama ; memijat-mijat jarinya. Dadaku semakin berdegup kencang tapi aku berusaha mengabaikannya.
“Hari ini kau aneh.” Dia kembali bersuara dengan nada angkuhnya.
“Hmmmm…” Aku hanya bergumam —menyembunyikan rasa gugup dan takutku.
Sekarang kah saatnya?
“Ya! Sebenarnya kau ini kenapa hah?” Kumiko Hikari melepaskan tangannya dariku dengan kasar. Aku tau, sekaranglah saatnya aku harus melepaskannya.
“Kenapa apanya?” Aku tetap bersikap tidak mengerti.
“Ada apa denganmu, Lee Hyukjae-ssi?”
Hmm… ada apa denganku?
“Kita bercerai saja. Otte?” Kalimat menyeramkan itu akhirnya keluar juga dari mulutku.
“APA?!”
Kita bercerai Hikari Chan. Aku akan melepaskanmu, dan kita akan bercerai. Kau bahagia kan?
==== TBC ===

34 Comments (+add yours?)

  1. Ratika
    Sep 23, 2012 @ 15:25:14

    Next part thorr…

    Reply

  2. HyunKyuCouple
    Sep 23, 2012 @ 16:04:16

    andwe!!!!! kumat gua…lanjutkan chingu….heheheh

    Reply

  3. Ananda Rizqy
    Sep 23, 2012 @ 16:33:47

    Ahhh.. lanjut!!
    Sepertinya Hikari yang nantinya bakalan tidak rela nih… 😀

    Lanjut!! 😀

    Reply

  4. vita edogawa
    Sep 23, 2012 @ 16:40:00

    Haahhh…andweee…..!!
    Jgn sampek bercerai thooorr….!!
    Next chapternya jgn lma lma nee….!!

    Reply

  5. Wiwik dian
    Sep 23, 2012 @ 17:13:29

    Lanjutkan ceritanya ya..

    Reply

  6. Dean YesungCute
    Sep 23, 2012 @ 17:34:45

    Jangan lamaaaa lamaaaaa lanjutannyaaa yaaa

    Reply

  7. sheila
    Sep 23, 2012 @ 17:44:14

    hikari dari mna tuch ? smpe pucet gtu.

    lanjut… !!!

    Reply

  8. JaeEun
    Sep 23, 2012 @ 17:44:58

    waahhh… thor,,, hatiku yg teriris!!!!! hahaha

    Reply

  9. Esra
    Sep 23, 2012 @ 18:26:53

    Wah wah mari kita ke part selanjutnya,, oh iya pertanyaan, kenapa hikari bisa pucat begitu ??

    Reply

  10. YeKyuNa
    Sep 23, 2012 @ 18:32:59

    Hhuaaa~ hati aku rasanya teriris..
    ceritanya bener2 menyentuh hati.. huhu 😥
    aku suka jalan ceritanya.. ^^
    daebak!~ 😀
    jd ngebayangin kalo eunhyuk karakter.a bener2 kya gtu (mencitai seseorang dgn sebegitu besar.a) pasti aku bakal terkagum2..
    LANJUT AUTHOR!!

    Reply

  11. IrmaCLOUDS
    Sep 23, 2012 @ 18:54:26

    Penasaraaaaaaaaan !!!!
    Jangan lama2 d0g th0r..cpetan ne 🙂
    mau tau nasip hyukppa gmana 😦

    Reply

  12. Raechanyz
    Sep 23, 2012 @ 19:14:42

    maap ya semua komennya ga bisa dibales satu2, yang pasti makasih sama semua yang udah baca plus komen 😉
    next part adalah ending, jd silahkan menunggu admin aja buat publish ^^
    terus tadi ada yang nanyain knp hikari pucet? nah itu sih jawabannya ada di ff my husband (hikari’s pov) hehehe
    ok, see you di ending! 😀

    Reply

  13. tiik4tik
    Sep 23, 2012 @ 19:27:16

    Poor hyukjae… Happy ending kah…? *abaikan* like this moga cpt dpt inspirasi baru untk kelanjutannya FIGHTING!!! Request itu si TBC wooiii!!! Ngapain looo da disitu bkn mata sakit aj… *nafsu membunuh TBC* husss pergi sana!!! *lempar TBC ke jurang*

    Reply

  14. Anisyekaa
    Sep 23, 2012 @ 20:56:28

    yaampun thor, lanjutin cepet yahh. penasaran banget nih
    ceritanya seru banget:)

    Reply

  15. haidansbill
    Sep 23, 2012 @ 21:02:07

    eonn , blognya kokdi protect sih , aku mau follow jadi gabisa .. u,u

    Reply

  16. dea kim
    Sep 23, 2012 @ 21:09:55

    ayo lanjuuut…..!!! semangat thor ^.^

    Reply

  17. Song_hyomi
    Sep 23, 2012 @ 21:15:52

    oke hyukjae kita bercerai karna jujur aku lebih mencintai lee donghae!!!

    *saya berasa jadi hikari banget*

    Reply

  18. Kireitami Ayu Viani© (@kireitamiayu)
    Sep 23, 2012 @ 22:08:45

    lanjutttt

    Reply

  19. penny
    Sep 24, 2012 @ 09:04:14

    lanjut….lanjut…thor….:)

    Reply

  20. Giani
    Sep 24, 2012 @ 10:26:59

    cerai?andwae jgn donk hyuki oppa prthankan prnkhan xan jgn smp psah,lanjut y chingu gomawo

    Reply

  21. mei.han.won
    Sep 24, 2012 @ 11:13:34

    jgn cere plissssss

    Reply

  22. quihana
    Sep 24, 2012 @ 13:43:47

    ARRRGHHH…..
    jantung saya ikut berdebarrrrr hehehe
    lanjut thor……

    Reply

  23. Hyunnie
    Sep 24, 2012 @ 16:39:08

    jangan cerai dong… 😦
    hikari sama eunhyuk ajah, donghaenya sama aku *plak
    ditunggu kelanjutannya thor… 😀

    Reply

  24. ocha
    Sep 24, 2012 @ 17:02:44

    JANGAN CERE!!!
    Lanjut asap thor, penasaran ni!!!

    Reply

  25. pinni~^^
    Sep 24, 2012 @ 18:19:38

    wuihhhhhhh~~
    jangan cere dong hyuk jae oppa T.T tapi kasian sih ><
    lanjut thorrr~~~^^b

    Reply

  26. dinndiiiinn
    Sep 24, 2012 @ 19:55:53

    JANGAN DICEREIN MIN ><

    Reply

  27. D'LittleBee
    Sep 25, 2012 @ 20:40:52

    Sesaaaaaaak

    Reply

  28. Mrs.Shfly
    Sep 26, 2012 @ 13:30:36

    wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ini FF asem manis nano nano amittttttttttttt >.< daebak

    Reply

  29. faridazune
    Sep 26, 2012 @ 21:02:32

    Hikari pabo,hyukjae digituin u,u

    Reply

  30. reza
    Sep 28, 2012 @ 13:22:37

    adakah kelanjutannya???d tunggu kelanjutannya…. jgn lama2 ya postingan selanjutnya ^^

    Reply

  31. ningrumjae
    Oct 03, 2012 @ 19:55:11

    Okesip! seru ceritanya! ^^

    Reply

  32. yemima duche
    Oct 03, 2012 @ 20:31:23

    APA YG TERJADI?????????????????????
    CERAIIIII! ANDWE!!!!!!!! oppa kau tidak boleh cerai… krn Hae jgn bersatu dgn Hikari ssi…..Thor lanjut ych….DAEBAK

    Reply

  33. raraa
    Oct 05, 2012 @ 19:53:37

    Yaaaaak eunhyuk kenapa kata2 cerai keluar juga .
    Sudah deh berakhir semuanya 😦

    Reply

  34. Flo
    Oct 07, 2012 @ 22:53:39

    huhu… nyesek banget bacanya…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: