My Wife [6]

My Wife [6]

Tittle : My Wife [6]
Author : Hikachovy (@Raechanyz)
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae
Genre : Romance
Length : Continue
a/n : FF ini udah pernah di publish di beberapa blog, termasuk blog pribadi (raechanyz.wordpress.com)
Poster By AltRiseSilver ^^
——————————————————————————–
Previous…
“Kita bercerai saja. Otte?” Kalimat menyeramkan itu akhirnya keluar juga dari mulutku.
“APA?!”
Kita bercerai Hikari Chan. Aku akan melepaskanmu, dan kita akan bercerai. Kau bahagia kan?
=======
When you are in love, you can’t fall asleep.
Because reality finally better than your dreams.
———
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Tanganku mencengkram setir mobil dengan kuat. Ya Tuhan, akhirnya kalimat itu benar-benar keluar dari mulutku. Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benakku, bahwa kata bercerai itu akan keluar semudah itu dari mulutku.
Aku mengerang dalam hati.
Tidak. Kalimat itu sama sekali tidak mudah. Kalimat itu terlampau berat dan menyiksa. Aku memang sanggup mengatakan kalimat itu sambil tersenyum lebar. Tapi hatiku… hingga saat ini, aku masih bisa merasakan bagaimana perihnya luka yang ditimbulkan dari kalimat menyeramkan itu. Hati ini… semakin terasa menyedihkan.
Aku kembali menarik napas panjang. Kau sudah mengambil keputusan dengan benar. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Hyukjae-ah. Tenanglah, dan semuanya pasti akan segera membaik.
Aku tersenyum samar.
Benar. Semuanya pasti akan baik-baik saja.
Aku memfokuskan mataku ke depan dan mencoba melupakan segala hal yang berkaitan dengannya, saat tiba-tiba saja suara seseorang menyentakkan jantungku.
“Apa kau sebegitu tidak sukanya mengantarku ke pesawat?”
Lee Hyukjae bodoh. Kenapa kau bisa melupakan tugasmu? Beginilah jadinya kalau terlalu memikirkan gadis angkuh itu. Aku sampai lupa kalau sekarang sedang satu mobil dengan kedua orang tua dari gadis yang sedang kupikirkan.
Aku merutuki kecerobohanku dan menatap lelaki paruh baya yang duduk di kursi penumpang lewat kaca spion. “Tentu saja aku senang bisa mengantarkan Otousan. Kenapa anda bisa berpikiran bahwa aku tidak suka?”
Ayah gadis angkuh itu mendengus sebelum menjawab pertanyaanku. “Tergambar jelas di wajahmu.”
Aku meneguk ludahku gugup. Kenapa takdir harus menempatkanku di tengah-tengah orang menyeramkan begini? Otousan dan Kumiko Hikari. Keduanya benar-benar menyeramkan kalau sedang marah.
“Maaf kalau sikapku membuat Otousan kecewa. Tapi aku benar-benar senang bisa mengantarkan Otousan dan Okaasan,” Ujarku meyakinkan.
“Cish. Wajah yang kau perlihatkan itu sangat bertolak belakang dengan ucapanmu.”
Aku menarik napas diam-diam. Memangnya wajahku harus bagaimana?
“Apa kau sedang ada masalah dengan anakku?”
Glek.
“Otousan, sudahlah. Kau ini seperti tidak pernah muda saja.”
Untuk kedua kalinya, ibu mertuaku menyelamatkanku dari marabahaya. Aku mulai menarik napas lega saat melihat Otousan memalingkan wajah menyeramkannya dariku.
Ingatanku kembali ketika saat berada di lobi tadi. Kalau saja Okaasan tidak datang tepat waktu, gadis angkuh itu pasti sudah memakanku hidup-hidup. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi gadis itu saat aku mengucapkan kata bercerai. Aku sendiri tidak yakin, tapi aku merasa… sepertinya gadis itu kaget dan tidak menyukai kalimat yang kulontarkan di lobi saat itu. Sedetik saja Okaasan tidak datang bersama Otousan, aku yakin nyawaku pasti sudah berada dalam bahaya.
Kilatan matanya saat menatapku tadi… benar-benar membuat bulu kudukku meremang
Aku tertegun dan mulai bertanya-tanya. Kenapa dia harus memasang ekspresi seperti itu? Bukankah seharusnya dia merasa senang karena aku bersedia bercerai darinya? Seharusnya dia bersorak atau minimalnya tersenyum bahagia kan?
“Kumiko Hikari…”
Suara Okaasan membuatku berhenti menduga-duga. Mataku segera beralih ke arah wajahnya yang lembut namun sarat akan ketegasan. “Dia mencintaimu.”
Jantungku sempat berhenti berdetak untuk beberapa saat namun segera kuatasi saat aku sadar bahwa orang yang dimaksud Okaasan pastilah bukan aku.
“Tidak peduli bagaimana pun kami melarangnya untuk menikah denganmu, dia tetap bersikukuh pada pendiriannya. Dia tetap bersikeras ingin menikah denganmu sekalipun dia baru sekali bertemu denganmu.”
Penjelasan Okaasan sanggup membuat jantungku serasa diremas-remas.
“Lee Hyukjae, bahagiakanlah putriku. Hmm?”
Aku mengangguk kaku.
Tenang saja Okaasan. Aku… pasti akan membahagiakannya. Setidaknya, aku sedang berada dalam proses membuatnya bahagia. Setelah pernikahan konyol ini berakhir, putrimu pasti akan menemukan kebahagiaannya.
Aku tersenyum miris.
Kumiko Hikari, kau pasti akan bahagia kan?
—–
Aku menghentikan mobil tepat di belakang mobil Hikari. Jantungku kembali berdetak tidak wajar saat mata itu menatap kedua mataku tajam. Untuk beberapa saat mata kami bertemu. Aku tidak tau apa arti tatapannya. Aku juga tidak tau kenapa mataku sulit sekali berpaling dari matanya.
Satu-satunya hal yang kutahu hanya satu. Bahwa aku begitu ingin menguasai mata itu, hingga hanya aku saja yang menjadi objek tatapannya, sama halnya seperti mataku yang hanya bisa menatap ke arahnya.
Aku menggigit lidahku hingga terasa sakit. Sadarlah Lee Hyukjae. Kau sudah akan melepaskannya. Berhentilah mengharapkan sesuatu yang tidak akan mungkin kau dapatkan. Matanya sudah jelas telah ia serahkan pada Lee Donghae. Dia hanya mampu menatap Lee Donghae. Bukan Lee Hyukjae. Bukan kau.
“Romantisnya pasangan suami-istri jaman sekarang. Saling menatap seolah dunia hanya milik mereka berdua.”
Suara ayah mertuaku sukses menyadarkanku dari khayalan konyol yang sempat mampir ke otakku. Aku meringis lalu menatap ke arah belakang, “Mianhe,” Ucapku malu. Mereka tersenyum maklum.
Kami bertiga pun segera keluar dari mobil.
Aku menatap ke sekeliling dan decakan kagum itu langsung keluar begitu saja dari mulutku saat melihat area landasan terbang yang terlalu mewah untuk dikatakan milik pribadi. Ayah mertuaku itu sepertinya tidak mengenal kata hemat. Atau memang dia terlalu pusing bagaimana caranya membuang uang?
Aku berjalan ke arah bagasi, lalu mengeluarkan semua barang Otousan dan Okaasan yang akan mereka bawa ke Jepang. Untuk kesekian kalinya, aku menarik napas panjang. Hari ini benar-benar akan menjadi hari terberat dalam hidupku.
Sesaat setelah aku menarik dan menghembuskan napas berulang kali, seseorang menepuk pundakku membuatku terkesiap kaget. Aku menoleh, dan helaan napas berat kembali meluncur dari mulutku. Kamiki blablabla sedang berdiri tepat di depanku dengan senyuman sok akrabnya. Aku menjadi harus semakin waspada terhadap lelaki ini sejak pembicaraan yang kami lakukan di hotel tadi pagi.
“Berhentilah memandangiku seperti itu, Lee Hyukjae-ssi.”
Aku menghela napas berat —seberat beban yang sedang kutanggung sekarang—. “Ada apa?” Tanyaku tanpa basa-basi.
“Kudengar kau mengajak Hikachu bercerai. Apa benar?”
Aku mengangkat satu alisku. Hikachu? Panggilan macam apa itu?
“Benar,” Jawabku singkat.
Aku kembali menyibukkan diri dengan beberapa koper sebelum terlibat dengan obrolan menyeramkan seperti yang terjadi tadi pagi.
“Apa kau tau kalau gadis itu sangat frustasi karena ucapanmu?”
Seluruh tubuhku mendadak berhenti bergerak. Dia bilang apa?
Aku segera membalikkan badan namun tidak ada satu katapun yang mampu keluar dari mulutku. Sepertinya otakku mendadak lumpuh karena ucapan Kamiki Ryu apapun itu.
“Apa maksud ucapanmu itu, Kamiki blablabla?”
Ups! Sepertinya aku sudah keterlaluan. Lelaki tinggi itu sekarang memicingkan matanya membuatku mundur beberapa langkah. “Maksudku… “ Aku diam sejenak untuk berpikir. Semoga lidahku tidak salah. “Maksudku Kamiki Ryusonuke. Hehehe.”
“Apa?!”
“Ah! Kamiki Ryusosuke.” Ralatku cepat.
“HAH?!”
Mati. Kenapa namanya susah sekali disebut sih?
“Kamiki….. Ryunokuse?” Dan sekarang matanya sudah hampir melompat keluar. Aku menggaruk rambutku gusar. “Aish, baiklah. Aku menyerah. Kamiki Ryu apapun itu, namamu itu sama sekali tidak bisa bersahabat dengan lidahku, kau tau?”
Kulihat dia berkacak pinggang sambil menghela napasnya dengan berat. “Kamiki Ryunosuke! Namaku Kamiki Ryunosuke, kau dengar? Dasar lidah ginseng!”
APA?! Enak saja. Kalau aku lidah ginseng, lalu dia apa? Lidah sakura? Atau lidah sushi? Ah, kurasa lidah takoyaki lebih cocok untuknya. Atau lidah ramen? Lidah nabe? Lidah miso?
Aku tertegun beberapa detik. Kenapa sekarang aku malah menyebut nama-nama makanan? Membuat lapar saja.
Tidak mau memperpanjang masalah, aku kembali ke topik utama. “Tadi kau bilang gadis itu frustasi karena ucapanku?”
“Hmm-mmm.”
“Kenapa?”
“Menurutmu?” Lelaki itu duduk di atas kap bagasi dengan menyandarkan punggungnya pada kaca mobil.
Aku mengerang. Lelaki ini benar-benar.
Aku sudah hampir akan beranjak saat dia kembali bersuara, “Apa kau tidak merasa kalau dia mulai memiliki perasaan khusus padamu?”
“Sama sekali tidak,” jawabku tanpa berpikir.
Memang tidak kan? Semua perasaan khusus gadis angkuh itu sudah ia serahkan pada Lee Donghae.
“Kalau memang tidak, lantas kenapa dia harus merasa frustasi?”
Mana kutahu!
Eh… tapi benar juga. Kenapa dia harus merasa frustasi? Aku membuka mulutku tapi segera kututup lagi. Jujur saja, aku malas berspekulasi dan berkhayal macam-macam. Sudah cukup aku terjatuh satu kali karena terlalu banyak berkhayal. Jangan sampai ada kali kedua.
“Biar kuberitahu satu rahasia padamu.” Lelaki tinggi itu memperbaiki duduknya menjadi bersilang kaki. Sedikit banyak, aku mulai tertarik dengan perkataannya. Aku pun memilih mengabaikan koper yang masih bergeletakan di tanah lalu berjalan dan duduk di sebelahnya.
Setelah tersenyum sok misterius, lelaki itu kembali bersuara. “Kumiko Hikari adalah tipikal gadis yang angkuh di luar, tapi sangat rapuh di dalam.”
Aku mendengus. Hal itu sih bukan rahasia. Aku sudah sangat mengenal sifatnya yang satu itu. “Ak—“
“Dengar dulu.” Lelaki berlidah takoyaki itu segera memotong ucapanku. Mau tidak mau aku diam.
“Kumiko Hikari bukanlah gadis yang mudah menyerah ataupun takluk pada keadaan. Semakin kau menekannya, maka dia akan semakin memberontak. Wajahnya selalu menampilkan keangkuhan seolah dunia berada di dalam genggamannya. Dia tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui isi hatinya. Kau mengerti maksudku?”
Aku melongo.
“Sudah kuduga IQ-mu di bawah rata-rata.”
Sialan.
“Jika kau mencintainya, jangan pernah menunjukkan perasaanmu dengan begitu gamblang. Karena semakin kau memperlihatkannya terang-terangan, gadis itu akan semakin menjauhimu. Kau tau kalau harga diri gadis itu begitu tinggi kan?”
Aku mengangguk sekalipun belum ada satu kata dari kalimatnya yang bisa kumengerti.
“Jujur saja, saat gadis itu mengatakan akan bercerai, aku sempat kaget. Kupikir, perceraian itu muncul dari mulutnya. Tapi setelah dia mengatakan kalau kau yang meminta perceraian itu, entah kenapa aku merasa lega.”
Baiklah, aku semakin tidak mengerti sekarang. Mulutku sudah gatal ingin bersuara, tapi kutahan habis-habisan. Jangan sampai kalimat IQ yang dibawah rata-rata itu keluar dua kali dari mulutnya.
Lelaki itu menatapku mistis. “Menurutmu apa wajar kalau seorang gadis merasa frustasi karena akan berpisah dengan orang yang paling dibencinya?”
Aku terkesiap.
Lelaki itu tersenyum datar. “Itu tidak wajar kan? Dibanding frustasi, dia seharusnya merasa senang atau kalau bisa berteriak dan melompat-lompat saja sekalian.”
Kumohon jangan membuatku kembali mengkhayalkan yang tidak-tidak.
“Kurasa tindakanmu untuk mengajak bercerai itu sudah benar. Dia memang membutuhkan sedikit ‘tamparan’ untuk mengakui perasaannya. Hanya dengan melihat matanya saja aku sudah tau kalau dia tidak ingin kehilanganmu.”
“Apa?”
“Aku sudah mengenal gadis itu lama. Jadi aku sudah sangat hapal arti dari semua ekspresinya itu. Dia tidak akan merasa tertekan untuk hal-hal yang tidak berarti untuknya.”
Benarkah?
Lelaki itu menepuk pundakku —seolah ingin memberikan semangat–. “Percaya dirilah sedikit. Dan berhentilah bersikap pengecut seperti ini.”
Hah?
“Aku tau kalau kau itu stalker Hikachu.”
Aku melongo. Dan seolah belum cukup membuatku terkejut, lelaki itu menambahkan, “Dan asal kau tau saja, aku ini adalah salah satu pendukung Adachi dalam membuat sandiwara fenomenal ini. Hahaha”
HAH?!
“Berhenti membuka mulut sebesar itu!”
Aku segera menutup mulutku tapi mataku masih terbuka lebar. Ini benar-benar sulit dipercaya. Bagaimana mungkin? Ya Tuhan…
Aku masih bisa mendengar lelaki itu tertawa puas. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan pada gadis angkuh itu. Dosa apa yang sudah dia perbuat sampai memiliki manusia-manusia berotak kriminal seperti Kamiki blablabla dan Adachi? Aku tersentak. Ah.. mungkin aku juga bisa masuk hitungan. Kebohongan yang sudah kulakukan ini kan termasuk buah dari otak kriminalku. Hhhh~
“Kalian itu gila.” Ucapku nyaris tidak percaya.
“Kau juga masuk golongan kami kan?” Aku meringis. Ucapannya memang benar.
“Kau tau, hidup itu memang butuh sedikit kejutan dan… err, tipu daya.” Lelaki itu tersenyum, lalu melanjutkan, “Dan aku sudah lama ingin melakukan ini untuknya.”
“Maksudmu?”
Lelaki itu mengangkat bahu santai. “Sudah lama aku ingin menyadarkannya, bahwa ada hal-hal lain di dunia ini yang tidak dia ketahui.”
Aku tertegun dan memilih untuk diam, membiarkannya melanjutkan ucapannya.
“Selama ini dia hidup seperti robot. Segala halnya sudah terpogram dan terancang sesuai kehendaknya. Tidak ada seorangpun yang memintanya seperti itu. Tapi dia, dengan segala idelismenya selalu berpikir, bahwa hidupnya haruslah sempurna sesuai bayangannya. Selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia selalu berhasil mewujudkan harapan dan mimpinya. Itu memang bagus. Tapi…” Lelaki itu diam selama beberapa detik dengan pandangan yang menerawang. “Tapi itu membuatnya lupa, bahwa dia tetaplah seorang manusia. Sesempurna apapun dan sesukses apapun dia sekarang, Kumiko Hikari tetaplah manusia.”
Lelaki itu tersenyum, lalu mendesah pelan. “Aku ingin menyadarkannya bahwa tidak semua hal yang dia inginkan dapat terpenuhi sesuai harapan. Juga tidak semua hal yang dia benci itu buruk untuknya. Hidup ini memang penuh skenario. Tapi itu adalah skenario Tuhan, dan bukan skenario manusia.”
“Dan kau menjadikanku sebagai tumbal?” Sindirku membuatnya tertawa ringan.
“Itu kan kau sendiri yang menumbalkan diri. Hahaha.”
Baiklah, pendapat bahwa aku mengasihani gadis angkuh itu kucoret. Gadis angkuh itu justru sangat beruntung. Beruntung karena memiliki orang-orang yang begitu peduli dan menyayanginya dengan tulus. Ah, dan untuk yang satu ini, aku jelas harus masuk ke dalam hitungan. Kekeke
“Jadi menurutmu seorang Kumiko Hikari harus diberi sedikit tipu daya untuk membuatnya sadar bahwa ada hal-hal lain di dunia ini yang berjalan di luar kehendaknya?”
“Kurang lebih seperti itu.” Kekehnya. “Tapi untuk masalah tipu daya… kurasa kita sudah memberikannya banyak tipu daya. Bukan sedikit.”
Aku tergelak. Benar juga. Hahhaha
“Yang jelas, aku senang karena pada akhirnya dia bisa terlihat lebih manusiawi sekarang. Melihatnya kecewa dan frustasi adalah satu-satunya hal ajaib yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi dalam hidup Kumiko Hikari. Dan bisa melihatnya secara langsung seperti itu merupakan sesuatu hal yang patut dirayakan, kau tau? Hahhaha.”
Dasar setan!
“Apa kau tidak merasa kalau kau sudah menjerumuskannya?”
“Tidak juga. Saat dia mengatakan ingin menikah denganmu, aku sudah memperingatkannya. Aku menyuruhnya untuk jangan gegabah dan mencari tau dulu tentang siapa itu Lee Hyukjae.” Dia mendelik ke arahku. Aku meringis.
“Tapi Kumiko Hikari tetaplah Kumiko Hikari. Dia pantang mendengarkan nasihat orang lain. Dan yah… untuk yang satu itu aku merasa bersyukur. Kekeke”
Aku mengangguk-ngangguk paham. “Jadi kalau begitu, kau berada di pihakku kan?”
“Dengan menyesal, ya.”
Aku memutar bola mataku, “Yah… dengan menyesal juga, gomawo…” Aku berpikir sejenak untuk mengingat-ngingat namanya dengan benar.
“Ryu.” Ucapnya seolah mengerti dengan jalan pikiranku. “Kau bisa memanggilku Ryu kalau lidah ginsengmu itu sulit mengeja nama lengkapku.”
Kurang ajar!
Ryu lalu turun dari kap mobil. Baru beberapa langkah berjalan, dia membalikkan tubuhnya ke arahku. “Butuh sedikit gertakan untuk menyadarkan gadis angkuh seperti Kumiko Hikari. Aku sudah menjalankan tugasku, begitu pula dengan Adachi. Sekarang tinggal giliranmu, lidah ginseng!”
Lelaki menyebalkan itu lalu membalikkan badannya kembali dan berjalan sambil melambaikan tangannya penuh gaya. Ck!
Sekarang.. apa yang harus kulakukan?
“Kumiko Hikari bukanlah gadis yang mudah menyerah ataupun takluk pada keadaan. Semakin kau menekannya, maka dia akan semakin memberontak. Kau mengerti maksudku?”
“Jika kau mencintainya, jangan pernah menunjukkan perasaanmu dengan begitu gamblang. Karena semakin kau memperlihatkannya terang-terangan, gadis itu akan semakin menjauhimu. Kau tau kalau harga diri gadis itu begitu tinggi kan?”
Aku tersenyum lebar.
Aku tau apa yang harus kulakukan.
——
Aku mulai menemukan semangatku kembali setelah berbincang-bincang dengan si lidah takoyaki itu. Jalanku pun sekarang terasa jauh lebih ringan.
Baiklah, aku memang tidak terlalu banyak berharap bahwa cara ini akan berhasil. Aku hanya berusaha dan anggap saja ini sebagai percobaan main-main untuk mengungkap apa yang sedang di rasakan gadis angkuh itu.
Seseorang biasanya baru akan merasakan betapa pentingnya orang lain, saat orang itu sudah tidak ada di sampingnya.
Aku hanya sedang bereskperimen, sejauh mana dia menganggapku penting. Jika dia memang mulai memiliki perasaan khusus kepadaku, tentunya dia akan tersiksa saat kuabaikan, bukan? Jika dia menganggapku penting, tentunya dia tidak akan mau kulepaskan.
Saat ini aku mulai menjalankan rencanaku dengan mengabaikannya habis-habisan. Aku bersikap seolah-olah tidak memiliki masalah apapun dengan bercanda dan terus melemparkan konyolan-konyolan yang bisa membuat semua orang tertawa. Otousan dan Okaasan bahkan sampai sakit perut karena melihat tingkah konyolku.
Mataku memperhatikan gadis itu diam-diam. Wajahnya tampak sangat murung. Dan entah kenapa aku sangat senang melihat wajah murungnya itu. Bukankah itu berarti bahwa dia sedang memikirkanku? Hahahaha.
——-
Lima belas menit sudah berlalu sejak kepergian keluarga Jepang itu meninggalkan Korea. Hanya tinggal aku dan gadis angkuh ini yang tersisa.
Aku, dengan bersandar pada tembok dan bersilang kaki memilih untuk mendiamkan gadis yang tengah berdiri di sampingku ini. Kedua mataku menatap lurus ke depan, sementara ujung mataku masih mengawasinya diam-diam. Melihat ekspresi muramnya itu membuatku ingin melompat-lompat saking senangnya. Sungguh, membayangkan dia sedih karena tidak ingin berpisah denganku membuat jiwaku terbang kesana-kemari.
Pelan, aku menggerakkan wajahku ke arahnya. Dengan senyuman terkulum, aku melihatnya yang sedang menundukkan kepala. Dia terlihat sangat manis jika dilihat dari posisi ini. Pipinya yang dikembungkan diikuti hembusan napas beratnya membuatku gemas setengah mati. Gadis angkuh ini… terlihat sangat berbeda.
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, untuk menahan diriku agar tidak kehilangan kendali memeluk tubuhnya. Dengan jarak sedekat ini, bukan suatu hal yang mustahil jika tanganku bergerak di luar kendali karena pesona yang dipancarkan gadis angkuh itu.
Entah karena aku yang terlalu terlena atau apa hingga aku tidak menyadari pergerakan kepalanya yang beralih menghadap ke arahku. Napasku langsung tercekat saat itu juga.
Aku ingin sekali memalingkan wajahku darinya. Tapi sayangnya, aku tidak mampu. Aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengabaikan tatapannya yang jauh dari kesan angkuh —yang sangat jarang terjadi ini—. Tatapan teduhnya ini sangat jarang kutemui, dan rasanya sangat sayang kalau aku menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Aku melayani tatapan matanya dengan tatapan lembutku. Waktu seakan berhenti berjalan saat kedua manik mata kami bertemu. Ini luar biasa.
Tidak ingin terhanyut terlalu dalam, akhirnya aku berinisiatif untuk membuka suara terlebih dahulu.
“Sejak kapan kau senang memandangi wajahku seperti ini, Hikari Chan?” Godaku membuat kedua pipinya bersemu merah.
Aku langsung terkekeh begitu melihat wajah malunya itu. Kau tidak pernah berhenti membuatku gemas, Hikari Chan.
Dia segera memalingkan wajahnya dariku sambil mengeluarkan gerutuan kesal. “Berhentilah mentertawaiku! Ish.”
Aku masih tetap tertawa sekalipun dia sekarang berjalan menjauhiku. Dan entah ada setan darimana, tiba-tiba saja aku ingin menggodanya lebih jauh lagi.
“Hikari Chan…” Panggilku dan sukses membuatnya berhenti mendadak. Dia membalikkan badan. “Apa lagi?”
“Kau setuju untuk bercerai denganku kan?” Aku berjalan ke arahnya dengan kedua tangan yang masih terselip di balik saku celana. Kalau saja aku tidak ingat dengan misiku, sekarang ini aku pasti sudah langsung mempercepat langkahku untuk segera menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aish, Lee Hyukjae sadarlah!
Aku tersenyum untuk menutupi kegilaanku.
“Kau yakin ingin kita bercerai?”
“Hmm-mmm” Aku mengangguk. “Otte?”
Aku berusaha sekuat mungkin untuk bersikap wajar. Nada suaraku pun kujaga agar tetap terdengar normal.
Gadis itu memalingkan wajahnya dan menarik napas pelan. “Kenapa?” Dia lalu menatapku. “Bukankah kau bilang kau mencintaiku? Kenapa sekarang kau malah ingin bercerai?”
Aku tersenyum. Setelah menarik napas panjang, aku pun berkata, “Justru karena aku mencintaimu makanya aku ingin kita bercerai.”
Aku maju selangkah hingga kini tubuhku hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuhnya. Aku lalu mengelus kepalanya pelan. Dengan menjaga nada suaraku agar terdengar bijak dan dewasa, aku pun berujar, “Aku ingin kau mendapatkan kebahagianmu. Itulah kenapa kita harus bercerai.”
Selesai mengucapkan itu, aku menatapnya dalam sambil tersenyum samar lalu berjalan meninggalkannya.
Sengaja aku memperlambat langkahku untuk menunggunya bersuara. Kalau di drama-drama, biasanya tokoh wanita akan memanggil si tokoh pria untuk berhenti berjalan kan? Aaah, aku sangat menunggu momen itu.
Ayo, Hikari Chan, panggillah aku!
“Lee Hyukjae-ssi!”
Yuhuuuu! Dia benar-benar memanggilku. Hahhaha
Senyumku langsung terkembang begitu mendengar suaranya yang seolah menahanku untuk tidak pergi meninggalkannya. Waah, Lee Hyukjae, tidak sia-sia kau sering menonton drama selama ini. Ilmu-ilmu percintaan yang ada di drama ternyata bisa berguna juga di kehidupan nyata. Kekkeke
“Hmm?” Aku hanya menggumam untuk menjawab panggilannya. Tubuhku masih tetap di posisi semula. –tidak berbalik ke arahnya sedikitpun–. Aku selalu excited kalau menjumpai adegan seperti ini di drama favorite-ku. Dan aku sama sekali tidak menyangka, kalau adegan mendebarkan seperti ini akan kualami di dunia nyata.
Mulutku terus mengembangkan senyuman lebar. Keuntungan besar berada di posisi ini adalah, kau bisa ber-ekspresi sebebas-bebasnya tanpa harus takut akan ketauan. Kalau saja gadis itu melihat ekspresiku sekarang, dia pasti akan menguburku hidup-hidup. Hahaha.
Aku bisa mendengar gadis itu menarik napas panjang, dan di detik berikutnya, suara paraunya menghampiri telingaku. “Bagaimana jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku?”
Hening selama beberapa saat.
Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Kalimat apa yang harus kukeluarkan agar bisa membuatnya terpesona? Ayo Lee Hyukjae, berpikirlah!
“Lee Donghae. Dia pasti akan memberikan kebahagiaan yang kau butuhkan.” Jawabku serak. Aku menekan suaraku habis-habisan agar terdengar serak seperti ini.Aaah, aku tidak menyangka kalau bakat akting-ku bisa semenakjubkan ini.
“Kenapa tidak kau saja yang berusaha memberikan kebahagiaan untukku? Kenapa kau harus menyerahkan kebahagiaanku pada lelaki lain?”
Suara lemahnya kembali mengusik sistem jantungku. Dadaku berdebar hebat begitu mendengar nada suaranya yang terkesan menuntut seperti itu. Kalimat itu…Apakah itu artinya… dia menginginkan aku yang memberikan kebahagiaan untuknya? Benarkah begitu?
Ah, Lee Hyukjae. Jaga perasaanmu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
“Tentu.” Ucapku pelan. “Aku tentu saja bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Seandainya kau tidak mencintai Lee Donghae dan Lee Donghae tidak mencintaimu, aku tentu akan melakukan itu. Berusaha membahagiakanmu.” Diam sebentar, Aku melanjutkan. “Tapi takdir berkata lain. Kau dan Lee Donghae saling mencintai. Aku tidak bisa bersikap egois dengan mempertahankanmu dan menyakiti sahabatku sendiri. Kalian harus bahagia. Itulah kenapa aku memilih mundur.”
Selesai mengucapkan kalimat itu, aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Setiap kali berpijak pada kenyataan, energiku pasti langsung musnah begitu saja.
——
Aku menjalankan mobilku pelan-pelan untuk menjaga jarak dengan mobil yang dikendarai gadis angkuh itu.
Ya, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti gadis angkuh itu diam-diam. Melihat wajahnya yang menyedihkan membuatku tidak tega untuk meninggalkannya begitu saja. Kemanapun dia pergi sekarang, kuharap jurang atau tempat-tempat menyeramkan yang ada di Seoul tidak masuk ke dalam list tempat tujuannya.
Terlalu fokus mengikuti mobilnya membuatku tidak sadar kalau sekarang ini aku sudah memasuki area parkir. Mataku berkeliling ke semua penjuru sampai tulisan Lotte World menyentakkan tubuhku. LOTTE WORLD?!
Matilah kau Lee Hyukjae!
Kenapa dia memilih pergi ke tempat ramai seperti ini?! Aisshh.
Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi. Errgh, bagaimana ini? aku kan tidak membawa perlengkapan menyamarku. Semua atribut penyamaran kutinggalkan di dorm Junsu.
Mataku refleks membelalak lebar saat melihat gadis itu keluar dari mobilnya dan meninggalkan area parkir. Ish, dia sih enak. Sekalipun dia seorang designer terkenal dan anak dari seorang pengusaha ternama, wajahnya akan tetap aman dari kerumunan orang-orang. Dia selalu menyembunyikan dirinya dari publisitas. Berjalan di tengah keramaian seperti ini tentu saja tidak akan menjadi masalah untuknya.
Aku mengerang. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mungkin berdiam diri disini. Aku melirik ke arah kaca spion. Apakah aku memakai topi hitam ini saja? Eergh, kalau untuk mengecoh petugas sih bisa saja. Tapi ELF? Aku tidak yakin.
Mataku segera berkeliaran kesana-kemari untuk mencari barang apapun yang bisa kujadikan sebagai alat penyamaran. Sapu tangan? Tidak. Kaca mata? Eeung.. belum cukup. Aku butuh maskeeer! Xiah Junsu, kenapa dia tidak menyimpan masker satu pun?
Topeng singa?! Aku meneguk ludahku gugup. Haruskah?
Aku menarik napas. Pakai, atau tidak sama sekali.
Dan aku memilih untuk memakainya. Toh topeng ini akan jauh lebih aman dibandingkan dengan topi dan kaca mata kan?
——–
Aku berjalan cepat sementara mataku terus-menerus bergerak ke segala arah untuk mencari gadis angkuh itu. Tidak lucu sekali kalau aku kehilangan jejaknya secepat ini. Lee Hyukjae, gunakanlah jiwa stalkermu!
Ewwwh, topeng sialan ini benar-benar menganggu penglihatanku. Mataku semakin kesulitan menemukannya karena orang-orang yang sering berjalan mendekatiku hanya untuk melihat topeng ini. Ternyata dengan atau tanpa topeng, aku selalu berpotensi menarik perhatian orang-orang. hehehe.
Aku baru saja akan beristirahat di sebuah bangku, saat mataku secara tidak sengaja menangkap wajahnya yang terlihat pucat. Kumiko Hikari? Dilihat dari baju dan tas yang dipakainya, aku yakin kalau gadis itu pasti Kumiko Hikari. Tapi kenapa wajahnya terlihat pucat?
Mataku bergerak ke arah belakang tubuhnya untuk melihat wahana apa yang baru saja diikutinya. Gyro.. swing? Phft. Jadi seperti ini caranya melampiaskan diri dari kesetresan? Aku tidak menyangka kalau dia memiliki cukup nyali untuk menaiki wahana menyeramkan seperti itu.
Aku segera melangkahkan kaki untuk mendekatinya. Aku berjalan tepat dibelakangnya. Cara jalannya yang sempoyongan seperti itu membuatku meningkatkan kewaspadaan berkali-kali lipat. Gadis itu memang sangat ahli membuatku khawatir.
Penampilannya terlihat sangat kacau. Aku jamin, tubuhnya pasti akan ambruk kurang dari lima menit lagi. Dan aku sudah siap akan menyalakan timer, saat tubuhnya itu terlihat oleng kebelakang karena hantaman pria bertubuh tinggi yang berjalan dari arah seberang. Cish, bahkan tidak perlu menunggu lima menit pun gadis itu pasti akan segera ambruk.
Dengan cekatan, aku segera menahan pinggangnya dengan kedua tanganku —mencegah tubuhnya agar tidak terjatuh—. Kumiko Hikari, sejak kapan kau jadi selemah ini, eh?
Aku memperhatikan wajahnya lekat-lekat. Guratan kesedihan itu tampak jelas dari kedua matanya. Dia juga terlihat sangat lelah. Hatiku meringis melihat keadaannya yang menyedihkan seperti ini.
“Lee Hyukjae?”
Tiba-tiba saja dia bersuara membuat tubuhku berjengit kaget. Bagaimana bisa?
Aku membasahi tenggorokanku dengan saliva untuk menghilangkan kekagetan. Habislah riwayatmu, Hyuk-ah.
Aku mengangkat tubuhnya agar bisa berdiri. “Gwenchana?” Tanyaku khawatir. Biar bagaimanapun, aku tetap saja tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku darinya.
“Kau Lee Hyukjae kan?” Tanyanya menuntut.
Ergh! Apa gadis ini turunan cenayang? Aku memperbaiki topengku dengan gugup dan menggerutu kesal. Gagal sudah usahaku menjadi stalkernya.
“Tidak perlu menutupi diri lagi. Aku tau itu adalah kau.” Dia kembali bersuara. “Jadi dari tadi, kau mengikutiku?”
“Apa?!”
Sialan, aku sepertinya sudah kalah telak.
“Jangan salah paham dulu. Aku hanya kebetulan saja sedang melewati daerah ini. Dan melihat ada wanita angkuh yang berjalan sempoyongan begitu, mau tidak mau aku harus menolongnya kan?” Elakku membuatnya mendengus.
“Tch. Masih tidak mau mengaku.”
Aku sudah menyiapkan mental untuk menerima amukannya saat bibir itu menyunggingkan sebuah senyuman. Hah? Apa aku sedang bermimpi?
“Karena kau sudah datang, sekalian saja kita berjalan-jalan. Eo?” Dia lalu mengalungkan lengannya pada lenganku. Tubuhku berjengit seketika.
“Kita.. apa?” Tanyaku dengan nada tak percaya.
“Berjalan-jalan.” Jawabnya enteng. Dia melangkahkan kakinya dengan santai sementara tangannya menarik tanganku membuatku mau tidak mau ikut melangkahkan kaki.
Apa wahana itu bisa memberikan efek tidak waras? Sejak kapan seorang Kumiko Hikari berbaik hati seperti ini kepadaku? Satu-satunya kesimpulan yang bisa kuambil hanyalah… bahwa dia pasti sedang sakit jiwa.
“Kau sedang tidak sehat ya?” Tanyaku refleks.
Hikari yang normal, pasti akan langsung mengamuk saat disodori pertanyaan semacam itu. Tapi kenyataannya, jawaban yang ia lontarkan ternyata sangat jauh dari perkiraan.
“Sepertinya begitu.” Jawabnya datar.
Positif, dia pasti sedang tidak normal. “Sudahlah, akui saja kalau kau sebenarnya senang kan?” Dia melirikku sekilas lalu melanjutkan, “Lagipula daripada kau berjalan di belakangku sebagai penguntit, jauh lebih baik berjalan disampingku kan?”
MWOYAA?!
“Aku bukan penguntit!” Sambarku keras.
Yaah, aku kan memang bukan penguntit. Aku ini stalker. Dan stalker jelas sangat berbeda dengan penguntit. Hahahha.
Melihat tangannya yang masih mengalung di lenganku membuatku tergoda juga. Aku menarik tangannya untuk di arahkan ke telapak tanganku. Aku menggenggam telapak tangannya erat. Rasanya hangat.
Dan menyenangkan.
Dan yang jauh lebih penting adalah… tidak ada penolakan darinya. Desiran-desiran hangat itu segera menyelubungi tubuhku tatkala wajahnya tersenyum melihat tanganku yang tengah menggenggam tangannya.
“Karena kita akan bercerai, anggap saja kalau perjalanan hari ini sebagai pesta perpisahan kita sebagai suami-istri.”
Deg. Tubuhku menegang seketika. Genggaman tangan ini pasti akan langsung terlepas kalau saja dia tidak mengeratkan kaitan tangannya di tanganku.
Kumiko Hikari, apa maksudnya ini?
“Pesta perpisahan?” Tanyaku ragu. Dia mengangguk.
“Terdengar bagus tapi juga menyakitkan di lain sisi.” Aku menghela napas pelan. “Kumiko Hikari, kau memang ahlinya membuatku terbang dan terhempas dalam hitungan detik.”
——
Tubuhku mendadak kebas. Nyawaku seolah melayang dan pergi entah kemana. Hebat! Hanya satu kalimat yang ia keluarkan mampu membuat tubuhku kehilangan energi seperti ini.
Kami berdua sudah berjalan-jalan tak tentu arah dengan mulut yang saling terkunci rapat. Satu-satunya hal yang membuatku yakin kalau dia masih ada di sampingku hanyalah genggaman tanganku yang masih terikat kuat di tangannya. Dan ini pulalah yang menjadi satu-satunya kekuatan yang kumiliki. Satu-satunya obat penghilang rasa sakit yang membuatku tetap sanggup berjalan. Genggaman tangannya.
Aku sendiri tidak mengerti. Kenapa dia masih mempertahankan tangannya di tanganku? Apakah ini adalah wujud kasihan darinya?
Aku meringis.
Ternyata sikap baiknya hari ini bukanlah karena dia memiliki perasaan lebih kepadaku. Dia hanya kasihan. Kasihan. Aku menggarisbawahi kata kasihan di otakku agar aku bisa segera sadar dari mimpi panjang ini.
Sampai kapanpun, Kumiko Hikari hanya akan mencintai Lee Donghae. Lee Donghae. Bukan Lee Hyukjae.
Aku menggarisbawahi kata Lee Donghae dan mencoret kata Lee Hyukjae kuat-kuat. Mimpi ini, memang harus kuakhiri.
Hmm, baiklah. Karena ini pesta perpisahan maka aku harus bersemangat. Anggaplah ini sebagai kenang-kenangan terakhir yang akan mengukir perjalanan panjangku bersama gadis angkuh ini. Setelah ini, belum tentu aku memiliki kesempatan berdekatan dengannya. Lee Hyukjae, semangatlah!
Aku menarik kedua sudut bibirku sedikit demi sedikit hingga membentuk sebuah senyuman. Hari ini, lupakan perpisahan dan bersenang-senanglah. Mataku terarah pada wahana bianglala yang ada di depan. Sip! Mari kita beromantis ria. Kekekeke.
“Wah, bianglala!” Pekikku heboh.
Aku menatapnya dengan wajah antusias sementara dia menatapku dengan wajah kagetnya. Sepertinya suaraku tadi terlalu berlebihan.
“Bagaimana kalau kita naik bianglala saja? Eo?”
Dan aku langsung menarik tangannya untuk memasuki antrian bahkan sebelum dia sempat membuka mulutnya. Kumiko Hikari, untuk hari ini, untuk yang terakhir kalinya, ijinkanlah aku bersikap egois kepadamu.
Banyak hal yang kupikirkan mengenai apa-apa saja yang ingin kulakukan seharian ini. Aku sedang asik menyusun rencana ini-itu saat tiba-tiba saja aku mendengar suara gadis di sampingku ini sedang terkikik seolah ada sesuatu yang lucu di sekitarnya.
“Apa ada yang lucu?” Tanyaku heran.
Dia berdehem pelan. “Tidak ada,” jawabnya dengan masih menyembunyikan tawa. Melihat kelakukannya ini membuatku semakin yakin kalau dia pasti sedang tidak waras.
Aku mendecakkan lidahku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak ada yang lucu, tapi tertawa sendiri.”
“Kau tidak bisa melihat ke sekelilingmu, eh?”
“Apa?” Tanyaku polos.
“Mereka sedang membicarakanmu, bodoh! Ish, aku seperti sedang berjalan dengan manusia abnormal saja.”
Hah? Memang aku kenapa?
Aku segera mengarahkan kepalaku ke arah orang-orang yang sedang berbisik-bisik sambil memicingkan matanya ke arahku. “Aaaah..” Aku mengangguk-anggukkan kepala pura-pura mengerti. “Mereka itu pasti sedang membicarakan ketampananku.” Ujarku percaya diri.
“Tampan darimana?! Wajahmu saja tidak kelihatan. Dasar bodoh.”
“Heei, melihat ketampanan seseorang itu tidak harus dari wajah. Dari postur tubuh saja, orang-orang sudah bisa menilai betapa tampan dan mempesonanya diriku. Hohoho”
“Terserah kau saja lah.”
“Ah! Atau kau mau aku membuka topengku?”
Tanpa menjawab pertanyaan konyolku, dia langsung maju ke depan karena si kotak besi sudah menunggu untuk dinaiki. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Aku pun mengikutinya dari belakang dan langsung duduk di kursi yang sama dengannya.
“Hei, kenapa kau duduk disini?”
Cish, sudah kuduga. Gadis ini pasti akan protes. Benar-benar tidak mempunyai jiwa romantis.
“Nanti oleng, bodoh!”
Alasan macam apa itu?!
“Kau pikir ini bianglala murahan? Tidak akan oleng. Lagipula tidak asik kalau duduk berhadapan seperti itu.”
“Pindah atau kau akan kutendang?” Dia menaikkan satu kakinya membuat tubuhku begidik ngeri. Gadis ini benar-benar.
“Dasar gadis kejam.” Gerutuku dan dia tersenyum puas.
Dia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela begitu aku mendudukkan diri di depannya. Cara pengalihan diri yang bagus. Menjadikan jendela sebagai sarana untuk menghilangkan kegugupan.
Sementara matanya tengah asik menatap keluar jendela, mataku justru asik memerhatikan wajahnya. Aku melepaskan topeng menyiksa ini, lalu menatap wajahnya dengan sangat leluasa. Karena ini akan menjadi yang terakhir, maka aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin.
Ditengah keasikanku menikmati wajahnya, gadis angkuh itu malah menggerakkan kepalanya dan menatap ke arahku. Sial.
“Kenapa kau melihatku begitu?”
Kau tau jawabannya dengan jelas kan?
Aku mengangkat bahu santai. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menikmati wajahmu selagi ada kesempatan.”
“Kau gila.”
Memang. Aku sudah gila sejak pertama kali melihatmu, Hikari Chan.
“Benar. Aku memang gila karena harus mencintaimu sebesar ini.” Aku tersenyum ke arahnya.
“Tidak seharusnya kau mencintai gadis angkuh sepertiku, Lee Hyukjae-ssi.”
Tubuhku mendadak kaku mendengar kalimatnya. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar tersenyum kepadaku. Sebuah senyuman tulus yang sanggup membuatku kesulitan untuk bernafas. Kumiko Hikari, tidak bisakkah kau memberikanku senyuman seperti ini selamanya?
“Setelah bercerai kelak, kau harus bisa menemukan gadis yang pantas kau cintai. Seorang gadis yang mencintaimu dengan tulus, setulus perasaanmu pada gadis itu. Eo?”
Hatiku meringis.
“Seandainya bisa…” Gumamku samar.
“Kau harus bisa. Dan pasti bisa.”
“Kalau memang seperti itu, mungkin aku sudah berhenti dari dulu, Hikari Chan.” Aku menatapnya sendu. Seandainya kau tau bagaimana sulitnya aku melupakanmu. Dalam hal ini, kau benar-benar gadis yang kejam, Hikari Chan.
Kau membuatku terjatuh pada pesonamu, dan mencengkram hatiku hingga membuatku kesulitan melupakanmu.
Kulihat dia mengerutkan keningnya, tidak mengerti. “Maksudmu?”
“Aku memang memutuskan untuk melepaskanmu. Tapi bukan berarti aku mampu menatap gadis lain sebagaimana aku menatapmu.”
Jeda sejenak, aku melanjutkan, “Dua tahun lalu sejak aku melihatmu, mataku sudah tidak mampu lagi melihat gadis lain. Mataku sudah terpusat padamu. Hanya padamu. Menyebalkan sekali, bukan?”
“Dua tahun… lalu?”
Aku tersenyum samar. Kau tidak tau kan kalau aku sudah mencintaimu sejak dua tahun yang lalu?
Dengan mengumpulkan keberanian, aku pun mulai menceritakan kegilaanku selama dua tahun belakangan ini. Tentang bagaimana aku bertemu dengannya hingga membuatku jatuh hati kepadanya. Aku menceritakan semuanya dan mengabaikan wajah terkejutnya.
Sejujurnya, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan menceritakan ini semua kepadanya. Aku bahkan sudah berniat untuk menutup kisahku ini rapat-rapat. Tapi membayangkan bahwa ini akan menjadi kebersamaan terakhirku dengannya, membuatku ingin mengeluarkan isi hatiku dengan lebih gamblang dan terbuka.
Aku ingin dia tau, bahwa tanpa sepengetahuannya, telah ada seorang lelaki yang menjadi gila permanen karena pesona yang ia miliki. Bahwa aku, Lee Hyukjae, telah memendam perasaan kepadanya selama dua tahun. Dan selama itu pula aku terus memperhatikan kehidupannya dalam diam.
Aku ingin dia menyadari, bahwa apa yang aku rasakan ini bukanlah sebuah perasaan main-main yang bisa datang dan pergi begitu saja. Bahwa kebohongan yang kulakukan ini pun bukan semata-mata karena keisengan belaka. Aku serius menyayanginya. Dan aku serius ingin memilikinya untuk kujaga dan kubahagiakan.
Aku menatap ke arahnya lembut.
Ceritaku ini mungkin telah membuatnya shock. Jujur, aku merasa bersalah. Mungkinkah aku akan membebaninya karena telah menceritakan perasaanku kepadanya?
Aku kembali menggunakan topengku di saat bianglala ini berhenti berputar. Mataku menatapnya lekat. Kumiko Hikari, mianhe.
Berusaha untuk bersikap wajar, aku menyapanya pelan. “Kenapa diam saja? Ayo turun.”
Aku turun tanpa menunggu respon darinya.
Hatiku masih terasa berat. Semakin berat setelah menceritakan semuanya. Untuk kesekian kalinya aku merasa tidak rela harus melepaskannya secepat ini.
Aku melirik ke samping untuk menggenggam tangannya, tapi dia tidak ada. Aku menyapukan mataku ke sekeliling. Dadaku berdenyut nyeri begitu melihat gadis itu sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya –tampak menangis–. Ucapanku, pastilah sudah membebani perasaannya.
Aku berjalan ke arahnya dan segera meraih tangannya untuk ku genggam. “Berjalanlah disampingku.” Ujarku tanpa menoleh.
Dia melihat tanganku, lalu berbisik lirih, “Gomawo.”
Aku menganggukkan kepala pelan. Cheonmaneyo, Hikari Chan.
——
“Kau akan bertemu dengan Donghae? Hari ini?” Aku membulatkan mata tak percaya.
Dia mengangguk. “Hmmm. Kenapa? Tidak boleh?”
Hatiku mencelos. “Aku sudah tidak mempunyai hak untuk melarangmu kan?”
Dia tidak menjawab. Gadis itu hanya bergumam tidak jelas sambil mengaduk-ngaduk telur yang ada di atas piringnya dengan asal.
“Kau tidak perlu menganiaya telur itu kalau memang tidak suka.” Aku mengambil telur yang sudah tidak berbentuk di atas piringnya itu lalu memakannya.
“Hei, aku jadi penasaran.” Dia menatapku yang sedang asik memakan telurnya. “Apa kau diam-diam sudah menyimpan radar di dalam otakku, eh?”
“Memang kenapa?” Tanyaku dengan mulut penuh.
“Terkadang, kau selalu bisa membaca apa yang ada didalam pikiranku. Kau selalu mampu menebak apa yang kuinginkan dengan baik. Kau menyimpan radar kan?” Dia menyipitkan mata.
Aku tertawa menanggapi pertanyaan bodohnya itu. “Aku ini sudah mengikutimu selama dua tahun. Kau lupa?” Aku meneguk minumanku sedikit, lalu melanjutkan. “Jadi wajar saja kalau aku bisa membaca apa yang ada di otakmu itu.”
Aku tersenyum tipis. “Untuk memahami apa-apa yang kau ucapkan, semua orang mampu melakukannya. Tapi untuk memahami apa-apa yang tersembunyi dibalik wajah angkuhmu, aku ingin hanya akulah yang mampu melakukannya.”
Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, ponselnya berdering. Melihat ekspresi wajahnya, aku sudah bisa menebak siapa yang menelepon. Nafsu makanku langsung menguap begitu nama lelaki pujaannya disebut.
Mimpi ini, memang benar-benar akan berakhir. Aku hanya menatapnya sementara dia asik ‘bermesraan’ dengan Lee Donghae di telepon.
Selesai mematikan sambungan telepon, gadis itu kembali menatapku. “Aku sudah harus pergi sekarang.”
Tentu saja. Tidak mungkin kau akan menginap disini kan?
Aku hanya mampu mengangguk dan tidak mengucapkan apapun.
“Kau tidak ingin melihatku menjemput kebahagiaan yang kau harapkan?”
Apa dia bermaksud untuk membunuhku diam-diam?
Aku menatapnya datar. “Aku menginginkan kau bahagia. Tapi bukan berarti aku harus melihat sendiri kebahagiaan itu kan? Pergilah.”
“Kau harus mengantarku dan melihat sendiri kebahagiaanku dengan kedua matamu itu, Lee Hyukjae-ssi.”
“Apa?”
Dia bangkit berdiri dan dengan seenaknya menarik tanganku. “Ayo.”
Gadis ini benar-benar sudah gila!
“Ya! Kau mau membunuhku pelan-pelan ya? Aku tidak mau.” Aku berusaha melepaskan tangannya namun gagal. Tenaganya benar-benar menakutkan.
Dia terus menarikku paksa dan aku hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Kami berhenti tepat disebuah tikungan. Mataku terbelalak saat menyadari bahwa laki-laki itu ternyata berada di restoran yang sama denganku.
“Jadi kau bertemu dengannya disini juga?” Tanyaku tak percaya.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah memutar tubuhnya menghadapku sambil tersenyum tipis. “Tunggu aku disini, dan lihatlah bagaimana aku mendapatkan kebahagiaan itu.”
Aku mencebik. “Benar-benar gadis kejam.”
“Ini hukuman yang pantas atas semua tindakan gilamu selama ini.” Dia lalu tersenyum sinis. “Lihatlah bagaimana aku bahagia.”
Hukuman? Menggelikan.
“Ara. Dan setelah itu, kau pun harus melihat bagaimana aku terpuruk karena menyaksikan kebahagiaan dramatismu.”
“Wah, wah. Itu sih bukan urusanku.” Ucapnya masa bodoh.
Dasar gadis kurang ajar!
Dia kembali memutar tubuhnya untuk berjalan ke arah Lee Donghae. Entah kerasukan setan mana, tubuhku tiba-tiba saja bergerak dan memeluk tubuhnya disaat dia baru melangkahkan kakinya.
Aku menguatkan hatiku, lalu berkata, “Bahagialah. Jika kau tidak bisa bahagia bersamaku, maka kau harus bisa menemukan kebahagiaanmu bersama sahabatku.”
Dia mengangguk, dan aku merenggangkan pelukanku lalu berbisik, “Pergilah. Aku melepaskanmu.”
Kumiko Hikari, berbahagialah.
Dan perasaan sesak itu kembali menghujam jantungku.
——
Aku mendelikkan mataku ke arah gadis yang sedang tersenyum polos di sampingku.
“Berhenti memasang wajah horror seperti itu, Oppa! Kita nikmati saja pertunjukkan ini baik-baik.”
Aku menggeplak kepalanya hingga membuatnya meringis kesakitan. Dasar gadis bodoh! Bagaimana mungkin dia menganggap deritaku sebagai sebuah pertunjukkan? Sialan.
Sesaat setelah Hikari memasuki ruangan untuk menemui Lee Donghae, asisten sialannya ini tiba-tiba saja muncul dan menarikku untuk memasuki ruangan aneh yang dipenuhi dengan kaca transparan.
Tadi, aku memang sempat melihat kalau ruangan yang dimasuki gadis angkuh itu merupakan ruangan yang dipenuhi kaca. Tapi kaca yang kulihat di ruangan itu adalah cermin. Sementara disini, di ruangan ini, aku dikelilingi oleh kaca transparan yang kedap suara dan aku bisa melihat gadis angkuh itu bersama Lee Donghae dengan sangat jelas.
Aku sama sekali tidak mengerti, apa yang ada di otak sang arsitek saat membuat restoran ini.
“Ruangan ini sangat cocok untuk stalker seperti kita Oppa! Hehehe”
Aku kembali menggeplak kepalanya.
“Untuk apa kau mengajakku kesini?”
Adachi membuka mulutnya, tapi kembali ia tutup sedetik kemudian.
“Kau benar-benar ingin tau jawabannya secepat ini?”
Tubuhku menegang. Suara gadis angkuh itu sangat jelas terdengar kedua telingaku. Aku menatap Adachi bingung, sementara gadis itu malah menunjukkan jari telunjuknya di depan bibir –menyuruhku untuk diam—. Dasar gadis kurang ajar!
“Mianhe, aku tidak bisa menerima perasaanmu, Oppa.”
Aku tersentak kaget.
Apakah telingaku tidak salah dengar?
Atau.. apakah ruangan ini hanyalah sebuah ilusi?
Aku bisa melihat wajah terkejut Lee Donghae sementara gadis angkuh itu tetap bersikap tenang.
“Kenapa? Bukankah kau mencintaiku? Berhentilah membohongi diri sendiri Rae-ya. Aku bisa melihat dengan jelas lewat kedua matamu bahwa kau mencintaiku.”
“Aku mengagumimu. Hanya mengagumimu. Dan kau… tidak sepantasnya kau mencintai istri dari sahabatmu sendiri, Oppa.”
Kulihat gadis itu meremas jemarinya. Dari bahasa tubuhnya saja aku sudah tau kalau dia sedang membohongi dirinya sendiri. Apakah karena ucapanku di bianglala itu makanya dia bersikap seperti ini?
Aku sudah akan berdiri namun Adachi segera mencegahku. “Biarkan Oneechan memutuskan masalahnya sendiri, Oppa.”
Aku mendengus. “Kau ingin aku membiarkan dia terluka karena telah membohongi dirinya sendiri? Jangan bodoh!”
“Kalau kau pergi, kau hanya akan semakin memperkeruh keadaan.”
Aku terhenyak.
“Lee Hyukjae adalah suamiku. Dan sudah selayaknyalah aku mencintainya. Hanya dia yang boleh kucintai. Dan kau… temukanlah gadis lain yang tidak terikat pernikahan untuk kau cintai.”
Tubuhku membeku mendengar kalimat yang dilontarkan gadis angkuh itu. Kumiko Hikari, apa maksudnya ini?
“Apa kau yakin dengan keputusanmu?”
“Sangat yakin.”
Aku mengigit bibir bawahku pelan. Apakah maksud dari ini semua?
Aku melihat Lee Donghae keluar dengan wajah kecewanya. Dan setelahnya, aku merasakan dadaku teriris-iris begitu melihat gadis itu menangis terisak. Gadis itu memegangi dada kirinya, lalu meremasnya dan menjatuhkan air matanya dengan deras.
Kumiko Hikari, kenapa kau melepaskannya jika kau begitu mencintainya? Sungguh, bukan seperti ini akhir yang kuharapkan.
——
“Jadi seperti itu, kebahagiaan yang kau inginkan?”
Suaraku menghentikkan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya lalu tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dengan tatapan tidak mengerti. Keputusan yang sudah diambilnya itu membuat kepalaku berputar-putar. Aku sama sekali tidak bisa mengerti dengan jalan pikirannya.
Perlahan, dia berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depanku dengan jarak yang sangat tipis. Otakku mendadak lumpuh saat dia menarik kerah kemejaku lalu menyatukan bibirku dengan bibirnya. Aku masih melongo bahkan disaat dia mengalungkan tangannya di leherku sambil berkata, “Lee Hyukjae, bahagiakanlah aku. Buatlah aku mencintaimu, dan bantulah aku melupakan Lee Donghae.”
HAH?!
“APA?!”
Dia tersenyum.
Jadi seperti inikah akhirnya? Inikah maksud dari keputusannya menolak perasaan Lee Donghae? Tapi kenapa?!
Aku menepuk kedua pipiku. Tidak terasa sakit. Apakah ini mimpi?
Seseorang, TAMPARLAH AKU!!!
==THE END==
Ayo, ada yang berniat nampar LHJ? Hahaha
Buat yang ngikutin cerita abstrak ini dari awal sampe akhir, makasihh :3

43 Comments (+add yours?)

  1. gabygdrs
    Sep 25, 2012 @ 15:22:13

    Ada sequel gak? Hahahahah

    Reply

  2. thlnbs
    Sep 25, 2012 @ 15:56:08

    Sequelllllllllllll~~~~!!!!!!!!!

    Reply

  3. Ratika
    Sep 25, 2012 @ 16:02:19

    Daebaaakkk

    Reply

  4. mei.han.won
    Sep 25, 2012 @ 16:32:44

    sequel juseyooooo..
    Hyukie kereennn…penantian’x gak sia2…hehehee

    Reply

  5. HyunKyuCouple
    Sep 25, 2012 @ 17:11:45

    daebak chingu..suka bgt ma ceritanya….tapi nanggung bgt…..bwt sequelnya donk…..aigooo…chingu ini suka bwt readers gregetan dah…..heheheh…kebanyakan ngoceh…..ok..ditunggu karyamu selanjutnya….

    *bow breg kyu

    Reply

  6. sai
    Sep 25, 2012 @ 17:26:00

    Daebak…

    Seqeul..sequel..sequel..

    Reply

  7. cho
    Sep 25, 2012 @ 17:27:48

    sequel thor sequel pleeasssee *garuk tembok*

    bagus banget ffnya ><

    sequel ya thor jebaaaalll T/\T

    Reply

  8. mau-mau
    Sep 25, 2012 @ 17:29:27

    aku suka….aku suka…
    ceritanya seru…

    Reply

  9. Giani
    Sep 25, 2012 @ 17:32:14

    omo akhrnya hyuki oppa bhagia sng bgt lhtnya.tp aq kcwa knp moment hyuki ma hikari dqt bgt bqn sequel donk chingu br tmbh seru gt br g pnasaran gomawo

    Reply

  10. Tak terpengaruh
    Sep 25, 2012 @ 17:48:12

    ini beda, bener2 beda… adegan paling ngenes dan nyesek malah dibuat kocak,,,kekeke parah
    tapi chemistrynya dapet banget kok… keep writing

    Reply

  11. wonna
    Sep 25, 2012 @ 18:30:19

    Sequel kakak author, masa gini ajaaa ! Sequel !

    Reply

  12. Siwon's sister
    Sep 25, 2012 @ 18:44:40

    Whoooaa…. Kerennnnn!!!!!!!
    Akhirnya, penantian n kesabaran hyukjae oppa berbuah manis. ^^
    KEREN thor…. ^^b
    Sequel doong, msh pnsnrn sama moment2 romantis mereka.. ^^

    Reply

  13. anis_ekaa
    Sep 25, 2012 @ 18:47:59

    waaw, keren banget thor^^ ]

    Reply

  14. missxhan
    Sep 25, 2012 @ 18:52:31

    Kyaaaaaaaah sequel pleaseeeeee!!!!!!!!!
    Suka bget lyat critamu thor……!!!!!!!
    Kyaaa kyaaa

    \(!!˚☐˚)/ \(˚☐˚!!)/

    Reply

  15. dea kim
    Sep 25, 2012 @ 18:55:03

    keren banget thor!!! 😀
    sequel ya thor… jebal…. 🙂

    Reply

  16. Joely
    Sep 25, 2012 @ 18:57:31

    Author, i love you
    Lee Hyukjae, saranghae

    akhirnya end juga,
    aaaaku suka dengan ceritamu, author
    penuh emosi,
    memang benar, cinta itu egois.

    Cemumu, author #gayaalay

    Reply

  17. sheila
    Sep 25, 2012 @ 19:04:32

    wah, aku bingung mo coment apa. tp, yg jelas aku terharu bgt wkt hyukjae blg, dy akn ksh kebahagian bwt hikari klo seandai-ny donghae dn hikari ga slng cnta.

    nyesek bgt rsa-ny. biarpun niat-ny cma ngegoda hikari doank.

    Reply

  18. IrmaCLOUDS
    Sep 25, 2012 @ 19:23:40

    Waaah masih gantung cerita na th0r !! Masa uda the end sih 😦
    sambung lagi d0ng th0r ..

    Reply

  19. Enno (@Ennoo19)
    Sep 25, 2012 @ 19:24:06

    Kyaaaaaaaa ending yang soo sweetttttt..sequelnya dong thor ^^

    Reply

  20. devilkyuu
    Sep 25, 2012 @ 19:59:58

    mwoya???
    apa-apaan ini??
    knp akhirnya kayak gini??
    gak puas.
    author yg baik… tolong sekuelnya dong.
    bener-bener blum puas dengan akhirnya.
    jebal…
    buat sekuel pas hikari udah bener2 cinta ma hyukjae.

    Reply

  21. stillthirteen13
    Sep 25, 2012 @ 20:40:45

    mian baru comment.. Sebenernya udah ngikutin dari awal sih. Kkk~
    Like this fict.. ^^

    Reply

  22. Choi Ha Jin
    Sep 25, 2012 @ 20:46:31

    sequel sequel sequel dong thor ….
    daebakk !!! suka suka suka … >

    Reply

  23. D'LittleBee
    Sep 25, 2012 @ 21:09:10

    Aduh…ff ini bikin aq nangis berember-ember.

    Daebak!!!

    Reply

  24. JW ~
    Sep 25, 2012 @ 23:07:14

    Seqeuel thor !

    Reply

  25. allwie
    Sep 25, 2012 @ 23:48:53

    .Sayaank bgt endingx msieh nanggunk.
    . ppie ffx kreen abiest,

    Reply

  26. fitriindriyani
    Sep 26, 2012 @ 06:28:51

    wah cinggu kok akhrnya ngegantung sich..aq kan mw liat hyukpa bhagia..sekuel pliss.

    Reply

  27. tiik4tik
    Sep 26, 2012 @ 07:12:36

    Bener bener bkin aku tahan nafas bacanya… Km mo buat aku mati muda yaa chovy… *minta ditabok* Aissshhh… Im TBC hater tp lihat THE END kok hatiku mencelooss*abaikan* sm kyk reader lain moga ad sequelnya *kedik2mata ngarep* endingnya ngegemesin buanget^^ sebegitu hebat pengaruh hikari bt hyukjae en pengen bgt cubit pipi hikari^^… dAEBAK!!! Chovy jjang!!!

    Reply

  28. Raechanyz
    Sep 26, 2012 @ 07:55:09

    aaah, akhirnya tamat juga~ *plong*
    oke, buat semua yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampe akhir dan ga pelit komen (?) makasih banyak ya ^^ /bow/
    ada yang minta sequel yaa? ada koook.. hoohoo tp belum dikirim kesini. Kalo yang berminat baca, silahkan klik ini >>> http://readfanfiction.wordpress.com/2012/09/02/hyukari-story-our-new-story/

    *malah promosi*
    dan sekali lagi, maap ga bisa balesin semua komen. hehehe

    Reply

  29. Wiwik dian
    Sep 26, 2012 @ 08:30:36

    Daebak ff nya, buat sequelnya donk..

    Reply

  30. restykyu
    Sep 26, 2012 @ 11:49:24

    Sequel,sequel,sequel *smbil bwa banner ‘My Wife’* wkwkwk

    Reply

  31. anni
    Sep 26, 2012 @ 11:52:26

    sequelnya dong chingu

    Reply

  32. Esra
    Sep 26, 2012 @ 12:24:06

    Jinjja daebak

    Reply

  33. Mrs.Shfly
    Sep 26, 2012 @ 14:14:39

    “Kamiki Ryunosuke! Namaku Kamiki Ryunosuke, kau dengar? Dasar lidah ginseng!”
    APA?! Enak saja. Kalau aku lidah ginseng, lalu dia apa? Lidah sakura? Atau lidah sushi? Ah, kurasa lidah takoyaki lebih cocok untuknya. Atau lidah ramen? Lidah nabe? Lidah miso?
    Aku tertegun beberapa detik. Kenapa sekarang aku malah menyebut nama-nama makanan? Membuat lapar saja.

    hahahahaa asli ngakak smpe kluar airmata bca kalimat itu wkwkwkw critanya udh bgus .. tpi feel endingnya gg daper makanya bkin after storynya iah thor #PLAK hahaahahah DAEBAK

    Reply

  34. ocha
    Sep 26, 2012 @ 14:44:03

    Bikin sekuel dooonggg
    Pliiissss

    Reply

  35. Hyunnie
    Sep 26, 2012 @ 19:17:02

    kok endingnya kayak gini? :/
    ceritanya keren! 😀

    Reply

  36. jung dong ae
    Sep 26, 2012 @ 20:37:16

    keren.. aku ngikutin ceritanya trus niih 🙂 tpi knpa endingny gantung ? SEQUEL JEBAL THOR !

    Reply

  37. faridazune
    Sep 27, 2012 @ 03:13:21

    Wouwoo,happy ending :3 duh,hikari bikin keputusan yang tepat 😀

    Reply

  38. Song_hyomi
    Sep 28, 2012 @ 04:46:29

    plakkkk aku tampar kamu
    udah sadar blom kalo ceritanya tamat gara-gara kalian berdua unyuk dan istri!!!!
    aku nangis tau!!!
    fellnya itu bikin sesek dada dahh,,,
    seseorang bikinkan sekuelnyaaa

    Reply

  39. nhiia anjanie
    Oct 01, 2012 @ 16:32:41

    whoooaaa!! kereen sumvehveh 🙂 thor thor thor !! lu daebak so much mumumumuw ;***
    gw ngikutin dong epep nii pdhl lg sbuk tpi gw bela2in nyari ulang di google .. gw fans lu wkwkwkk xD

    Reply

  40. ningrumjae
    Oct 03, 2012 @ 21:06:44

    Yaaah…. kenapa harus END????!!!!!
    sequel please!!!! ><
    keren ceritanya!!

    Reply

  41. raraa
    Oct 05, 2012 @ 20:35:42

    Hikari bener2 keren , dia mengambil keputusan yng tepat .
    Chukkaeeeee 🙂

    Reply

  42. Flo
    Oct 07, 2012 @ 23:31:35

    daebak ffmu chingu…
    akhirnya hyukppa bahagia..
    sequel dong…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: