Cold Hearted Man

One-Shot | Hurt, Family | PG-15

Jennie menyeret kakinya dengan enggan memasuki gerbang raksasa di hadapannya, sungguh bukan pemandangan baru lagi apabila tak ada lagi tangan yang terbuka lebar untuk memeluknya ketika ia terseok pulang dari sekolah dan mendapatkan nilai yang buruk. Iya sudah belajar keras untuk ulangan Fisika kemarin, dan nyatanya ia hanya mendapat poin 85, jauh dari standartnya, 95.

 

“Eomma!!”

“Eyy.. Jennie sayang kenapa menangis?”

“Lihat ini..”

“Kenapa? Nilai Matematikamu 89, dan itu bagus kan?”

“Tapi eomma, Jennie inginnya dapat 95.”

“Kalau begitu Jennie harus belajar giat.”

“Sudah..”

“Lebih giat lagi..”

“Sudah..”

“Lebih giat dan lebih giat lagi, hingga nilaimu 95.”

“Baiklah..”

“Itu baru anak eomma. Tapi Jennie hanya perlu belajar hingga Jennie merasa cukup ya, karena berapapun nilai yang Jennie dapatkan, Jennie tetap anak kebanggaan eomma dan appa, arra?”

“Ne, arraeso.”

Nafasnya menghembuskan kelelahan, “Heemm.. Aku tidak perlu tahu keberadaan appa.” Jennie melewati seorang pelayan yang hendak membuka mulutnya ketika melihat Jennie melepaskan sepatu dengan enggan.

“Tuan sedang makan siang bersama Nyonya dan Ha Yi agashi, Nyonya berpesan apabila agashi ingin makan siang, agashi bisa menyusul mereka.” Pelayan itu, Bibi Nam, masih membuntuti Jennie masuk ke kamarnya bersama dengan nampan berisi segelas teh dingin yang terlampau dingin karena bongkahan di dalamnya yang kian meleleh.

“Aku bisa makan di rumah, katakan itu pada Nyonya.” Jennie merebahkan dirinya asal di atas kasur super empuknya.

“Baiklah, saya akan memasakan makanan kesukaan agashi.” Bibi Nam tercekat ketika Jennie menepuk pundaknya, “Bisakah bibi memasak janchi guksu? Aku sedang merindukan eomma.” Wanita paruh baya itu melihat kosong yang terluka dalam mata gadis yang ia asuh bahkan sebelum gadis itu dilahirkan. Delapanbelas tahun menemani gadis itu, tentu saja sudah merupakan waktu yang cukup untuk mengetahui sebesar apa Jennie begitu menyayangi Sooyeon, ibunya yang meninggal 5 tahun lalu.

“Bibi, apa eomma bahagia di sana?” Jennie mengaduk janchi guksunya setelah dua suap ia masukkan dalam mulutnya.

“Tentu saja, semasa hidupnya beliau adalah orang yang terlampau baik.” Bibi Nam duduk di samping Jennie yang terpekur di ranjangnya.

“Bukan itu. Aku sangat tahu bahwa eomma terlampau baik bahkan sampai menutupi penyakitnya dari appa… Maksudku, apa eomma bahagia sekarang melihat keadaanku? Bukankah orang tua akan bahagia melihat anaknya terdidik dengan baik bahkan setelah ia pergi meninggalkan dunia ini? Tapi bibi tahu kan, aku sekarang sering membantah appa, aku selalu saja melawan perintahnya, aku tidak pernah bisa menerima seorang Lee Ji Yeon sebagai eomma baruku, sering membentaknya, bahkan aku sama sekali tidak menganggap Ha Yi ada, apa eomma tidak akan kecewa padaku?”

Hari itu, di bawah langit berkelabu di penghujung musim gugur, wanita paruh baya yang lebih sering dipanggil Bibi Nam itu tahu, betapa rapuhnya Jennie Kim. Ia tidak pernah merasakan dan mengetahui yang sebenarnya, bahwa Jennie bukan tidak ingin menerima keberadaan Ji Yeon dan Ha Yi, gadis itu hanya takut ia tidak bisa menjadi keluarga untuk mereka. Ia hanya takut tidak bisa menjadi anak yang baik lagi ketika dua orang itu masuk dalam hidupnya dan Heechul, appa yang paling ia sayangi.

“Nona adalah gadis yang baik, saya percaya, mendiang Nyonya akan bahagia di sana, ia telah mendidik anaknya dengan sangat baik.” Dan hari itu, Jennie akhirnya hanya tersenyum pahit sendiri.

Selalu ada noktah noda dalam tiap keemasan dalam tahta berlian.

Kim Heechul, pria yang baru saja 6 bulan menikah dengan wanita lain yang sanggup menyembuhkan kesedihannya semenjak ditinggal pergi selama-lamanya oleh Sooyeon itu tak habis pikir. Kali ini untuk kesekian kalinya, ia melihat putri yang ia sayangi, Jennie Kim menolak ajakan berangkat sekolah bersama yang ditawarkan Ha Yi, putri bawaan dari istri barunya. Jennie menolak ajakan itu dengan kasar, menyenggol bahu Ha Yi sebelum gadis itu melangkah pergi dengan langkah putri congkak yang tak pernah ia sangka.

“JENNIE KIM!” Heechul berteriak dari arah pintu rumahnya, membuat gadis yang hendak meletakkan tubuhnya secara nyaman di dalam mobil itu menoleh. Menatap dengan raut datar pada Heechul. Heechul tak bisa lagi menahan emosinya, ia menghampiri putrinya itu dengan langkah besar dan tangan mengepal dengan urat yang mengencang.

“Appa, lihat itu ada bintang..”

“Ya! Indah kan?”

“Sangat indah, appa!”

“Itulah alasan appa mengajakmu kesini, karena ada bintang indah di sini.”

“Ohh.. Appa, apa Jennie boleh mendapatkan bintang itu?”

“Hemm.. Kenapa?”

“Jennie ingin memberikannya untuk eomma! Bukankah sebentar lagi eomma akan berulang tahun?”

“Oh iyaa.. Tapi sepertinya kamu tidak perlu memberikan bintang itu untuk eomma..”

“Lohh.. Memangnya kenapa?”

“Karena untuk appa maupun eomma, kamu adalah bintang yang lebih bersinar dan lebih indah di hati kami.”

“Benarkah?”

“Ya! Tetaplah menjadi bintang di hati kami ya?”

“Ya! Tentu saja.”

Heechul melayangkan tangannya, tepat mengenai pipi bagian kanan putrinya. Hal itu sontak membuat Ha Yi membulatkan matanya, dan Ji Yeon yang berdiri tak jauh dari putrinya merengsek maju ke arah Heechul.

Yeobo..” Ji Yeon meraih tangan Heechul yang baru saja menempelkan bekas merah pada pipi Jennie dengan anggunnya.

“Aku tidak perlu kau bela!” Jennie mengusap pipinya yang memanas, hati dan matanya memanas pula, ia tak pernah menyangka bahwa orang yang paling ia sayangi akan melakukan hal ini padanya, ia terlalu yakin bahwa ia selalu menjadi boneka kesayangan ayahnya yang akan selalu dijaga dengan baik.

“JENNIE KIM! Apa-apaan kamu! Aku tidak pernah mendidikmu menjadi gadis pembangkang dan pembuat keonaran seperti ini!” Jennie terpaku ditempatnya, ia adalah gadis yang dididik pria dihadapannya semenjak kecil, tapi kenapa pria ini yang justru bertanya didikan semacam apa yang diterima dirinya. Bukankah Jennie selama ini selalu menjadi apa yang diajarkan oleh pria ini?

“Kamu terlalu banyak berubah Jennie! Semenjak meninggalnya eomma-mu, aku seperti tidak bisa mengenali putriku lagi! Apa yang sebenarnya diajarkan Sooyeon padamu hingga kamu bisa menjadi seperti ini!” Jennie menatap ayahnya dengan raut tajam dan terluka, kenapa pria itu justru seperti menyalahkan Sooyeon sekarang, kenapa pria itu jadi menumbalkan eommanya sebagai biang kesalahan sekarang?

“Ha Yi itu saudaramu dan Ji Yeon adalah ibumu, tapi lihat tingkah lakumu pada mereka sekarang! Kamu sama sekali tidak menerima mereka dengan baik! Apa kurang perhatian yang aku berikan selama ini hingga kamu tidak ingin ada orang lain yang mendapatkan perhatianku?!” Jenni mengiyakan kalimat itu, tapi dalam konotasi lain. Ia bukannya tidak ingin menerima dua wanita itu, ia hanya merasa tidak bisa diterima dengan baik, ia hanya merasa terlalu takut untuk bisa menjadi bagian dari mereka, ia hanya takut tidak bisa membaur dengan mereka. Dan tentang perhatian itu, apa yang diberikan Heechul padanya? Semenjak meninggalnya Sooyeon, Heechul justru lebih sering berkutat dengan pekerjaannya tanpa memikirkan bahwa Jennie masih perlu perhatian yang lebih darinya.

“Aku menyesal punya anak sepertimu.” Dan kalimat itu meruntuhkan Jennie. Dia tidak pernah tahu bahwa rasanya akan sesakit ini ketika ia tidak lagi berharga, dan tidak lagi diinginkan.

“Appaaa..”

“Jennie! Kenapa kamu menangis sayang?”

“Itu.. Yujin bilang, aku tidak disayang appa..”

“Kenapa bisa begitu?”

“Katanya, appa tidak seperti appanya yang selalu mengantar-jemputnya pulang sekolah, appa tidak pernah mengambil rapot Jennie, appa tidak pernah mengambil foto bersama Jennie seperti eomma..”

“Oohh begitu.. Jadi menurutmu bagaimana?”

“Tidak tahu..”

“Aduh sini sini, siapa bilang appa tidak sayang Jennie?”

“Lalu appa sayang Jennie?”

“Tentu saja! Kalau tidak, mana mungkin appa selalu ada ketika kamu pulang sekolah, menemanimu makan siang, membacakan dongeng bergantian dengan eomma untukmu, dan menemanimu bermain sepanjang kau menginginkannya..”

“Oh begitu.”

“Appa menyayangimu sayang, mana mungkin appa tidak menyayangi gadis paling berharga dalam hidup appa.”

“Jennie juga sayang appa.”

Ha Yi langsung saja memegang pundak Jennie, seolah ingin memberikan kekuataan pada saudaranya itu dan menenangkannya, tapi Jennie menghardik tangan itu.

“Aku juga menyesal memiliki appa sepertimu! Aku menyesal kenapa tidak dari dulu saja aku ikut bersama eomma! Kamu kira hanya kamu yang kesepian dan terluka ditinggal eomma? Aku juga! Aku juga kesepian! Dan aku semakin kesepian ketika satu-satunya orang yang kuharapkan bisa menopangku ketika sebagian hidupku pergi justru tak ada lagi disampingku. Kehilangan eomma, mengawaliku kehilangan semua yang aku punya, termasuk perhatianmu. Kamu tidak lagi pernah perhatian padaku.” Jennie menarik nafas dalam-dalam, tidak ingin membuang kesempatan beberapa menit ini untuk diam saja. Ia ingin meluapkan apa saja yang ia rasakan dan ia pendam seorang diri selama beberapa tahun ini, apa yang Heechul tidak lagi pedulikan darinya.

“Lima tahun kamu selalu berkecimpung dalam saham-saham yang bahkan aku tidak tahu apa itu, bergelut dalam usaha yang meningkat pesat diatas kesendirianku! Aku tidak pernah lagi menemukanmu sebagai appaku. Tidak secara fisik dan tidak secara psikis. Aku bahkan bisa menghitung dengan duapuluh jariku, berapa kali selama lima tahun ini aku bisa melihatmu secara langsung. Aku merindukanmu appa. Aku sangat merindukanmu. Tapi disaat aku merindukanmu, kamu justru datang dengan keluarga barumu, kamu memfokuskan perhatian yang aku inginkan pada Ha Yi, menumpahkan cintamu pada Ji Yeon tanpa melihat bahwa setidaknya ada Sooyeon di masa lalumu. Jika begini siapa yang tidak iri? Aku iri melihat Ha Yi! Dia bisa mendapatkan keluarga yang utuh, dia bisa merebut apa yang aku inginkan, dia bisa melakukan apapun yang kulakuan bersama appa dan eomma yang tidak bisa kulakukan sekarang! Aku iri pada Ha Yi! Aku iri karena dia mendapatkan cintamu sementara aku tidak, aku iri karena dia mendapatkan perhatianmu sementara aku tidak! Kamu sudah tidak mencintaiku lagi! Kamu tidak lagi menjadi appa yang selalu ada untukku!”

Jennie menangis sekeras-kerasnya saat itu juga. Ia tidak pernah tahu bahwa ia begitu merasakan banyak hal yang ia sendiri berusaha pendam dan kubur dalam-dalam. Seperti buku yang menumpuk dalam lembaran kusam yang berusaha terdorong ke perapian. Ia ingin melupakan hal itu, namun selalu saja menguap dan mengepul dalam benaknya. Heechul berusaha meraih tangannya, tapi ia menghempaskannya. Jennie berlari meninggalkan pelataran rumahnya, tanpa mengacuhkan setiap teriakan yang keluar dari bibir Heechul, Ha Yi maupun Ji Yeon.

Appa, aku tidak pernah tahu bahwa ini akan menjadi seperti ini, aku tidak pernah bermaksud merebut perhatianmu dari Jennie..” Ha Yi merunduk sedih di samping Heechul, sementara Ji Yeon hanya mengusap punggung anaknya yang mulai sesenggukan dan menatap nanar ke arah Heechul. Ia merasa sama gagalnya dengan pria itu. Ia gagal menjadi ibu yang baik, yang bisa mengerti perasaan anaknya. Ia berhutang berjuta-juta maaf dan penyesalan apabila dipertemukan dengan Sooyeon suatu saat nanti.

“Aku yang tidak pernah mengerti perasaannya. Aku terlalu egois untuk memulihkan hatiku tanpa membantunya memulihkan hatinya.” Heechul gagal, seperti yang diperkirakan Ji Yeon. Dia terlalu sibuk menyembuhkan dirinya, tanpa memikirkan bahwa ada orang lain yang selama ini selalu ia anggap lebih berharga darinya untuk ia sembuhkan juga. Ia egois. Sangat amat egois.

“Yeobo bertahanlah..”

“Oppa, maafkan aku, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi..”

“Jang Sooyeon! Apa yang kau katakan! Kamu pasti bisa bertahan, kamu harus bertahan demi dirimu, jika tidak bisa bertahanlah demi aku, aku mohon..”

“Oppa..”

“Jika masih tidak bisa, bertahanlah demi Jennie, demi putri kita..”

“Aku tidak bisa.. Aku sudah terlalu lelah untuk bertahan.”

“Yeobo..”

“Jika memang aku harus pergi sekarang, tolong jangan pernah membuat Jennie menangis. Jangan membuat Jennie terluka seperti aku yang yang melukai hatimu. Jangan pernah lelah menjaganya jangan seperti aku yang lelah bertahan. Selalu bahagiakan dia seperti selama ini kita selalu berusaha membahagiakannya.”

“Tidak! Kita akan membahagiakan Jennie bersama-sama, kita berdua..”

“Maafkan aku, oppa..”

“YEOBO!!”

Ini sudah lewat dua minggu semenjak Jennie meninggalkan rumah dengan hati hancur dan wajah penuh air mata pagi itu. Heechul, Ji Yeon dan Ha Yi duduk dengan cemas di ruang keluarga mereka, aktifitas wajib semenjak Jennie pergi tanpa kabar yang jelas. Ha Yi memaksa bolos dari sekolahnya, hanya untuk mencari keberadaan Jennie bersama ayah dan ibunya, ia bahkan sudah bertanya pada Jinri ataupun Soojung, dua sahabat terdekat Jennie, tapi mereka sama-sama mengedikkan bahu.

Ponsel Heechul berbunyi tiba-tiba. Ia bergegas mengambil benda itu dan melihat salah satu anak buahnya mengisi caller ID.

“Apa yang berhasil kau dapatkan?!”

“Maafkan kami, sajangnim..” Tidak lebih dari sepuluh detik kemudian ponsel keluaran terbaru berwarna hitam metalik itu terhempas begitu saja dari genggaman tangan Kim Heechul yang bergetar. Berita buruk. Apa yang ia takutkan terjadi, berita buruk yang ia terima. Ji Yeon bergegas menahan tubuh limbung Heechul dan menempatkannya di sofa, ia mengusap punggung suaminya dengan raut khawatir dan seolah mengetahui apa yang baru saja disampaikan anak buah Heechul itu, Ji Yeon menangis di tempatnya. Ia tidak lagi bisa menghitung berapa besar penyesalan dan maaf yang sanggup ia katakan pada Sooyeon kelak, bahkan sekarang ia tak tahu harus meletakkan wajahnya dimana.

“Apa yang terjadi, Choi ahjussi?” Ha Yi yang akhirnya dengan separuh nafas tertahannya mengangkat sambungan itu.

“Nona Ha Yi?”

“Ya ini saya. Katakan apa yang terjadi.”

“Maafkan saya nona, maafkan saya. Nona Jennie, dia.. Dia telah dimakamkan kemarin disamping makam mendiang Nyonya.” Ha Yi meraung seketika. Ia hanya mengira bahwa khayalan terjauhnya adalah Jennie ditemukan sakit ataupun harus dirawat di rehabilitasi karena gila ataupun terluka, dan jika itu terjadipun ia akan cukup tertekan. Dan sekarang sebuah potongan piring kehidupan yang paling menakutkan singgah d ihadapannya, menunjukkan bahwa khayalan yang ada telah menjadi kenyataan di luar akal dengan tamak telah menjangkaunya.

“.. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu saja aku ikut bersama eomma!”

Heechul berdiri di depan makam yang masih basah tanahnya, tepat di samping makam yang dulu pernah menguburnya dalam kesedihan, tempat istrinya tidur dengan tenang dalam sentuhan kasih Tuhan. Diujung sana—makam dengan tanah yang masih basah itu—tepat di bawah batu nisan dari batu kokoh nan dingin, ada wajah putrinya dalam bingkaian pigura kayu jati tak ternilai yang baru ia letakkan. Di batu nisan itu tertera dengan jelas apa yang selama ini tak pernah ia bayangkan ia lihat, karena jujur saja, ia lebih mengharapkan sosok yang berdiam dalam balutan tanah dingin di bawah sana yang akan melihat nisan bertuliskan namanya kelak.

Our beloved and precious girl

Jennie Kim

March 8, 1994 – October 18, 2012

And God shall wipe away all tears from their eyes; and there shall be no more death, neither sorrow, nor crying, neither shall there be any more.

Revelation 21 : 4

Appa..” Ha Yi ingin meraih pundak ayahnya dari belakang, ketika Ji Yeon memegang tangan anaknya dan meletakkan kembali pada tempatnya. Ji Yeon cukup mengerti bahwa saat ini adalah saat-saat yang lebih buruk dari saat terakhir bagi Heechul untuk menghabiskan waktu bersama ‘putrinya’. Ia bahkan tidak ada disaat-saat terakhir Jennie meregang nyawa akibat kecelakaan yang menimpa Jennie sekitar dua hari yang lalu. Jennie baru saja ingin pulang ke rumah, setelah mendapatkan pencerahan dari pendeta yang membimbingnya di gereja selama ia kabur dari rumah. Jennie ingin menyampaikan permintaan maafnya pada Heechul, Ji Yeon, dan Ha Yi, tapi Tuhan tak mengijinkannya. Sebuah mobil sport melaju melewati batas kecepatan dan pada akhirnya merenggut nyawa Jennie secara paksa. Hanya Jinri, Soojung, dan Bibi Nam yang bisa mengantarkan Jennie keperistirahatan terakhir, itupun tanpa sepengetahuan Heechul. Jinri sempat berujar beberapa saat lalu, tentang potongan kalimat yang disampaikan Jennie padanya sebelum gadis itu pergi menyusul Sooyeon ke tempat yang lebih nyaman dan tanpa luka lagi.

“Aku terlalu banyak membuat beban pikiran untuk appa, jadi kali ini, biarkan appa mempunyai hidup yang bahagia tanpa beban bersama keluarga barunya. Bagiku, mencintai appa saja sudah cukup, tidak perlu mendapatkan balasan yang sama karena perbuatanku selama ini juga tidak apa-apa. Setidaknya aku juga tidak akan ada lagi dalam kehidupan Ha Yi dan Ji Yeon eomma, mereka bisa hidup bahagia tanpa aku sebagai penghalangnya. Tolong sampaikan pada appa jika suatu saat kau bertemu dengannya, aku sangat mencintainya.

Di bawah tetesan pertama salju musim dingin pertama tanpa senyum hangat Jennie yang diam-diam selalu Heechul simpan dalam memorinya, ia menangis. Lima kali musim dingin datang tanpa ia sempatkan menghabiskan waktu bersama Jennie hanya untuk minum coklat hangat bersama dan menyanyi dengan alunan gitar yang biasa ia lakukan, dan disaat tahun ini ia telah merancang untuk melakukan hal itu lagi bersama Jennie, Ha Yi dan Ji Yeon, hal itu justru pupus. Tidak akan adalagi Jennie yang menyanyi dengan suara lembut tapi khasnya, yang akan memukul pundaknya ringan tiap ia salah memilih kunci untuk satu nada di lagu yang Jennie nyanyikan. Ia akan merindukan pukulan itu dipundaknya, ia berpikir sekarang, kapan terakhir kali ia merasakan pukulan itu dan kapan ia akan merasakannya lagi?

Ji Yeon melihat pundak Heechul yang bergetar, ia lagi-lagi gagal. Ia gagal menjadi sosok pendamping yang baik. Gagal menjadi pengganti sepupunya, Sooyeon yang menitipkan Heechul dan Jennie padanya dulu sebelum Bapa memanggilnya. Dalam genggamannya terselip selembar fotonya bersama Jennie, foto kumal yang ia simpan semenjak foto itu tercetak 15 tahun lalu, ketika Jennie baru saja berusia 3 tahun dan belum bisa mengingat dirinya yang beberapa hari setelah itu harus pindah ke Toronto untuk urusan karirnya. Jennie dan ia tersenyum begitu manis dan terlihat akrab, tidak pada kenyataan beberapa waktu belakangan yang justru sangat bertolak belakang.

Lee Ha Yi, gadis itu hanya mengenggeman erat kalung berbentuk bulan sabit, di belakang kalung itu tertera dengan jelas ‘Best siblings ever, Jennie Kim & Lee Ha Yi’. Kalung itu ada dalam genggaman Jennie dilangkah-langkah terakhirnya sebelum sebuah mobil meregang nyawanya. Kalung itu, kalung yang berada dalam sebuah kotak kaca di balik etalase toko perhiasan kecil di sudut Apgujeong yang saat itu pernah ia lewati bersama Jennie. Ha Yi tidak menyangka bahwa perkataan iseng-iseng yang pernah ia sampaikan pada Jennie untuk mendekatkan keadaan mereka yang nyatanya tidak pernah dekat itu, akan diingat dengan baik oleh Jennie. Ia menyesal tidak bisa menjadi saudara yang baik untuk gadis itu, bahkan setelah gadis itu hanya menyisakan nama di batu kokoh nan dingin di hadapannya.

Heechul meraih sesuatu di balik jasnya, selembar foto kecoklatan yang selalu ia selipkan di balik jasnya, memberinya semangat untuk hidup tanpa ia sendiri ketahui karena baginya hal itu adalah hal iseng semata. Dalam bingkaian memori foto yang kian memudar itu, ada dirinya, dan Jennie. Ia dengan rambut panjangnya yang dulu ia kagumi tengah menggendong bayi mungil berpakaian hijau tosca yang baru berhenti menangis. Jika bukan karena ulah usil Sooyeon, mungkin foto ini tidak akan pernah ada, karena pada dasarnya Heechul tidak pernah senang terkena sorot kamera yang berlebihan.

 

“Aih.. Akhirnya uri Jennie berhenti menangis, ne?”

“Oppa coba lihat ini..”

“Ne?”

Clickk..

“YAK! Kenapa kamu memotretku Jang Sooyeon!”

“Itu karena oppa tidak pernah mau difoto, welkk..”

Seandainya hari itu Jennie sempat datang padanya dan membiarkan beberapa detik saja untuknya menunjukkan cinta yang masih ada dalam dirinya yang telah berubah itu, Heechul tidak akan sesesak ini. Cinta yang ada padanya terlalu lambat untuk ia sadari, dan berita buruknya terlalu cepat untuk meninggalkannya. Ia tidak pernah merasa sebodoh dan setolol ini dihadapan sebuah hal picisan bernama cinta, tapi itulah dia pada akhirnya. Dia hanya sama seperti putrinya yang terlalu takut, ia terlalu takut menunjukkan dirinya yang lemah pada putrinya hingga bersembunyi dalam sosok tak acuh yang begitu dingin dan seolah tak mau ada untuk putrinya, padahal ia hanya berusaha menyiapkan diri untuk menjadi lebih kuat untuk bisa ‘ada lagi’ bagi putrinya. Dia hanya terlambat mengetahui bahwa apa yang dia lakukan itu salah, dan ‘hanya’ itu lah yang kini menenggalamkannya lebih dalam dari apa yang bisa dia petakan ketika harus hidup tanpa Sooyeon. Ia sendiri di balik kehidupan yang ia rancang penuh dengan kebahagiaan.

Setiap ketakutan akan menuntunmu pada kehilangan.

82 Comments (+add yours?)

  1. Novia
    Oct 30, 2012 @ 14:04:41

    Ceritanya menyentuh bgt :’)
    good job author ‘-‘)b

    Reply

  2. Trisna
    Oct 30, 2012 @ 14:30:20

    Sukses bikin aq nangis, nyesek bgt…

    Reply

  3. park minri
    Oct 30, 2012 @ 14:57:50

    great ff bikin airmatku tumpah. cinta memang tak bisa dimengerti..

    Reply

  4. sheila
    Oct 30, 2012 @ 15:31:51

    miris bgt, hiks..

    Reply

  5. dewi_onkyu99
    Oct 30, 2012 @ 17:17:47

    author sukses buat aku nangis

    Reply

  6. Ryeosom
    Oct 30, 2012 @ 17:19:59

    berasa aku yg jd jennie.. 😦
    sedih bgt crtnya.. 😦

    Reply

  7. minyin
    Oct 30, 2012 @ 18:16:20

    Sumpah nyesek thor, sukses bikin nangis T-T

    Reply

  8. kimsunra
    Oct 30, 2012 @ 18:53:01

    thorr……
    km sukses bwt aq nangs nyesek ni, ya ampun bneran daebak…
    keren pakek banget…
    pek bingung aq mau coment apa,
    next story dtnggu….

    Reply

  9. Park novi ryevi
    Oct 30, 2012 @ 18:55:31

    Ff’a sukses buat aku ngeluarin air mata pas diending’a…

    Reply

  10. itha paksi
    Oct 30, 2012 @ 19:08:19

    feel nya dpt banget, ff nya keren sukses bikin aku nangis :’)

    Reply

  11. KPopffFans
    Oct 30, 2012 @ 20:05:27

    menyentuh hati ff nya T_T
    sukses buat author 🙂

    Reply

  12. inggarkichulsung
    Oct 30, 2012 @ 20:07:49

    Ceritanya menyentuh sekali apalagi ttg family.. Daebak ff author

    Reply

  13. Janniece
    Oct 30, 2012 @ 20:15:16

    hiks… sungguh menyayat hati..
    aku kaget pas lihat tanggal meninggalnya… masa waktu aku ultah ._. semacam… suram gimana gitu

    Reply

    • missfishyjazz
      Nov 01, 2012 @ 22:52:37

      oh ya.-. maaf deh ya kalo gitu.-. itu pake tanggal yang kebetulan kepikiran di kepala 😆
      aduh sampe tersayat” itu ngapain coba cerita ini.-.

      btw, makasih comment nya ^^

      Reply

  14. Ririn_Setyo
    Oct 30, 2012 @ 20:27:01

    Nyesekk, nangis beneran ini authorrr T____T

    Reply

  15. Shae rin
    Oct 30, 2012 @ 20:28:47

    Mataku sembab habis nangis, ,
    sumpah, , nih fanfict nyentuh banget, ,

    Reply

  16. HJLMISS501_1806
    Oct 30, 2012 @ 20:55:50

    Nyesek T^T

    aku juga kehilangan ibu tapi semoga aja nasibku ga seperti Jennie T^T

    gue terisak isak jadinya :”(

    Reply

  17. aiai
    Oct 30, 2012 @ 22:10:05

    thor, jalan ceritanya bnr2 bagus.bikin aku nangis.^^”

    Reply

  18. vinaekawulandari
    Oct 30, 2012 @ 23:20:58

    Bagussss bangeetttt,,,,Daebak thor,,bner bener dah ! *usap air mata T,T

    Reply

  19. Flo
    Oct 30, 2012 @ 23:48:49

    huwa, ini bikin nyesek banget thor…
    sedih banget…

    Reply

  20. yazelf
    Oct 31, 2012 @ 09:13:46

    bener2 nangis baca ini 😥

    Reply

  21. milia
    Oct 31, 2012 @ 09:23:43

    Aaaahhhhbiki nangis ini cerita, terharu banget OMG daebak thor 🙂

    Reply

  22. LEE SONG RA
    Oct 31, 2012 @ 16:37:03

    sumpah,…. nyesek bacanya aku jadi ngebayangin gimana perasaan jennie saat itu T.T

    Reply

  23. Ifa Raneza
    Oct 31, 2012 @ 20:16:27

    omoo…
    i’m cry T_____T :”(

    Reply

  24. parkminjung
    Oct 31, 2012 @ 22:22:07

    critanya menyentuh bget :’) keren thor 🙂 keep writing yah ^^

    Reply

  25. Lee
    Nov 02, 2012 @ 16:46:36

    mewek,inimah mewek asli TT___TT

    keren,pake banget.
    Nyesek’a berasa,
    gw kesel sama heechul,tau rasa kan situ hah di tinggal ampe mati gtu#marah gw
    penyesalan emang slalu datang terakhir#on time dong kali”,lah O.o

    Great ff XD

    Reply

    • missfishyjazz
      Nov 03, 2012 @ 00:57:01

      ini comment paling panjang ya.-.
      penyesalan memang selalu datang terakhir, tapi seperti kata Mario Teguh, jangan pernah meratapi penyeselan, penyesalan hanya akan membuat kita pantas pada kesalahan masa lalu.
      Heechul gk boleh menyesal atas tindakannya, sekalipun sebenarnya dia patut dipersalahkan, tapi setidaknya dia mulai belajar mencintai dengan benar 😉

      makasih ya commentnya ^^

      Reply

  26. Risni Novita
    Nov 02, 2012 @ 17:20:38

    bener2 cold hearted man

    Reply

  27. Kiyazia
    Nov 03, 2012 @ 12:57:50

    Kerenn!! Menyentuh bandedddd:”3

    Reply

  28. chokyusea13
    Nov 03, 2012 @ 20:01:53

    T_T suer thor,knp critanya kaya gni :(( sdh bgt thor..sbg reader aku bsa ngerasain perasaan jennie u,u kasian bgt jennie x.x tp smuanya terlambat,apapun! gw suka critanya thor!! good story^^

    Reply

  29. Clara Kim
    Nov 04, 2012 @ 08:55:15

    Nyesek banget thor.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩﹏-̩̩̩-̩̩̩-̩̩)

    Reply

  30. rizaaini
    Nov 05, 2012 @ 11:37:10

    waaahhh nyentuh bgt ceritanya..
    aq g tau mau ngomong apalagi.. yg jelas sedih ajah cerita’y..
    good story lah…

    Reply

  31. 박 분정
    Nov 21, 2012 @ 08:00:17

    Telat ngomennya 😦
    gpp kan ?? Hehe

    sukses bikin aku nangis pagi2 T.T
    bner2 nyesek banget ceritanya
    muka ampe basah ama aer mata T_T

    daebak thor

    Reply

  32. istrinya ryeowook
    Nov 21, 2012 @ 21:05:22

    nangis T.T
    jangan sampe ff ini terjadi sama keluarga ku 😦

    Reply

  33. ThaMin
    Nov 24, 2012 @ 15:47:50

    huhuhu… tisu mana tisu??
    jarang2 ada angst family yg bikin aku nangis ,.tpi ini sukses bikin aku nangis. huaaaa *nangis di pelukkan sungmin*
    Keren banget ffnya thor.

    Reply

  34. rin naya
    Nov 30, 2012 @ 16:04:36

    nice story…
    ending nya sedih tp bgs…

    Reply

  35. acha dheansari
    Dec 09, 2012 @ 16:55:38

    HUAAAA….. author daebakk bisa bikin aku nangis nangis gini(nangis dipelukan my kyuhyun oppa),,, jeongmal daebakk

    keep writing….

    Reply

  36. littlestar
    Jan 08, 2013 @ 22:28:30

    Udah lama save dihp tapi aku baru sempet baca sekarang ._.V
    Aku mau kritik dikit, gapapakan? Inikan alurnya maju mundurkan? Nah, cerita masa sekarang dan masa lalu nya nyatu aja gitu kaya ga ada pisahnya(?) jadi pas baca aku kaget, ‘Lah, tiba-tiba jadi flashback,’ itu doang sih XDD overall bagus banget dan sukses bikin air mataku tumpeh tumpeh(?) sampe pilek ini kayaknya XD. Keep writing Nana 😀

    Reply

    • missfishyjazz
      Jan 10, 2013 @ 15:14:26

      walah XD
      gpp kok 😉
      mungkin harusnya nana emang harus nulis di A/N kalau italic itu flashback. Dan kalau kamu udah kebiasaan baca ff sebenernya, emang udah banyak author yang melepaskan embel” kata “flashback” dan menggantinya dengan warna yang berbeda atau dibuat italic 😉 but no problem.

      makasih yaphh *aduh gk nyangka ff ini masih ada yang mau comment* XD

      Reply

  37. Diah ayu .k
    Apr 23, 2013 @ 14:15:16

    Nyesek bacanya,

    Reply

  38. Lee Seul Sung
    Apr 23, 2013 @ 15:16:31

    nyesek ceritanya ㅠ.ㅠ Nice FF thor

    Reply

  39. F390
    Jun 14, 2013 @ 17:03:06

    Ampe baca berulang-ulang,keren,sedih banget
    Menguras air mata…
    Good job thor!

    Reply

  40. KSMaMin
    Jul 06, 2013 @ 17:15:39

    nangis thor… tanggung jawab 😥
    daebak.. keep writing

    Reply

  41. Afierza Rindyani (@AfierzaRindyani)
    Apr 28, 2014 @ 00:37:47

    aduuh author, cerita ini nyesek banget.. aku sampe nangis bacanya. ya ampun, gatau mau ngomong apalagi yg pasti author hebat banget bisa bikin ff kayak gini.. keep writing, thor 🙂

    Reply

  42. bbbbbee
    Mar 02, 2017 @ 07:41:21

    5 tahun. 5 tahun aku baca ini ff berkali kali. dan masih nangis.
    huwee authorr TT

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: