I Just Love My Husband

I Just Love My Husband

Author : Park Hyosang

Title : I Just Love My Husband

Main Cast : Super Junior Yesung as Kim Jongwoon, Lee Nara (OC)

Support Cast : Super Junior Leeteuk as Park Jungsoo, Super Junior Ryeowook as Kim Ryeowook, Kim Jongjin as Jongwoon’s Brother

Length : Oneshot

Rating : PG15

Anyeooong.. Ketemu lagi dengan author gaje, Park Hyosang *lambai-lambai*. Setelah FF A Big Surprise dan If He’s Gone muncul di sini, saya hadir lagi dengan FF baru. Mian kalo FF ini lebih aneh lagi dari kedua FF saya yang dulu *bowing bareng Teuk Oppa*. Oke, tanpa berlama-lama lagi, monggo dibaca FF nya. Jangan lupa tinggalin komennya ^^.

Sorry for Typo!!!

 

***

 

 

“Kau akan Appa jodohkan dengan anak dari sahabat Appa,” ucap seorang pria kepada putrinya.

“Tapi, Appa..” Gadis itu mencoba membantah ucapan Ayahnya.

“Tidak ada tapi-tapi.. Besok keluarga mereka akan kemari untuk melamarmu secara resmi,” ucap pria itu lagi dengan tegas dan tak terbantahkan.

Gadis itu menundukkan kepalanya, menangisi sikap sang Ayah yang tak mau mendengarnya sedikit saja. Ibunya mengerti akan kesedihan putrinya dan memeluknya dengan penuh kasih.

“Eomma..”

“Ssstt… Uljima.. Appa-mu tidak bermaksud jahat. Appa hanya ingin yang terbaik untuk putri kesayangannya,” ucap sang Ibu lembut sambil mengusap punggung putrinya.

^^^^

Meanwhile in the other place..

“Nanti malam kau harus ikut Appa. Kita akan pergi ke rumah calon istrimu.”

“Mworaguyo?” ucap pria berumur 28 tahun itu terkejut.

“Apa kau tuli, huh? Kita akan pergi ke rumah calon istrimu,” ulang sang Ayah.

“Tapi, Appa.. Ini sudah zaman modern. Tidak ada lagi yang namanya perjodohan seperti ini,” bantah pria itu.

“Appa tidak peduli. Rencana perjodohan ini sudah lama Appa atur bersama sahabat Appa. Kau jangan pernah berniat untuk menghancurkannya atau Appa akan berbalik menghancurkan hidupmu.”

“Appa..”

“Sudah jangan membantah lagi. Kita akan ke rumah mereka tepat pukul 7 malam.”

Sang Ayah berlalu dari hadapan si pria. Dia mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana mungkin dia dijodohkan seperti ini. Walaupun dia sendiri belum menemukan calon istri, tapi dia tetap tidak ingin hidupnya diatur oleh orang lain termasuk Ayahnya sendiri.

^^^^

Yeoja’s POV

Ini sudah pukul setengah 7. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan keluarga calon suamiku. Berat rasanya harus menerima keputusan Appa yang terkesan sepihak seperti ini. Tapi aku bisa apa? Kuasa Appa terlalu besar. Aku sama sekali tak punya kekuatan untuk membantahnya. Aku hanya bisa mengangguk setuju tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Aku Lee Nara. Anak dari seorang dokter yang cukup terkenal di Korea Selatan, yah.. Appa-ku adalah seorang dokter yang pamornya sangat baik. Appa-ku orang yang keras dan tak bisa ditentang. Semua keinginannya harus dituruti.

Aku sudah menyelesaikan kuliahku beberapa tahun yang lalu dan sekarang aku bekerja sebagai penulis novel. Aku sangat mencintai pekerjaanku ini. Aku suka sekali menulis dan beberapa novelku sudah terbit di pasaran. Aku menggunakan nama Cheonsa sebagai nama penaku.

“Nara-ya..” Aku membalikkan badanku begitu mendengar suara Eomma yang memanggilku. Eomma mendekatiku yang sedang duduk di depan meja riasku sambil tersenyum. “Neomu yeppeo..”

Aku memaksakan sebuah senyuman di bibirku. Jujur saja aku tidak ingin hidupku berakhir seperti ini. “Eomma.. Jeongmal himdeuro..”

“Eomma tahu kau pasti kuat. Ini adalah pilihan terbaik Appa-mu. Appa dan Eomma sudah mengenal keluarga mereka sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan kami yakin, kalian akan menjadi pasangan yang cocok,” ucap Eomma.

Aku menganggukkan kepalaku. Semoga saja seperti itu, Eomma. Walau aku tidak yakin aku mampu melewatinya, tapi ucapan Eomma membuatku sadar bahwa aku tidak mungkin mengecawakan kedua orangtuaku. Eomma sangat berharap aku bahagia dengan perjodohan ini.

Eomma menggandeng tanganku untuk mengikutinya bertemu dengan keluarga Kim, keluarga calon suamiku. Keluarga Kim adalah keluarga terpandang. Kim ahjussi adalah seorang pengusaha sukses yang mempunyai perusahaan yang tersebar di Korea dan Jepang. Dan anaknya, yang akan menjadi suamiku, adalah pewaris tunggal yang kini sudah menjabat sebagai direktur menggantikan Ayahnya.

Eomma membawaku ke ruang makan dimana kami akan makan malam bersama dengan keluarga Kim. Dapat kulihat Kim Ahjussi yang sedang mengobrol dengan Appa. Aku tidak bisa melihat wajah calon suamiku karena dia duduk membelakangiku saat ini.

Appa yang menyadari kehadiranku dan Eomma langsung tersenyum, “Itu dia anakku, Lee Nara.”

Aku cukup terkejut melihat pria yang tadi duduk membelakangiku tiba-tiba saja membalikkan badannya. Aku mengenalnya. Dia temanku saat kuliah dulu. Walau tidak begitu akrab, tapi hubungan pertemanan kami dapat dikatakan baik. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini. Aku bingung bagaimana harus bersikap. Aku akan dijodohkan dengan teman lamaku. Eomma.. aku ingin menyerah saja.

^^^^

Namja’s POV

Aku hanya diam selama perjalanan menuju rumah calon istriku. Aku membenci situasi seperti ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak perjodohan konyol ini. Berulang kali Appa meyakinkan aku bahwa ini adalah yang terbaik untukku, tapi berulang kali pula logikaku membantahnya. Bagaimana mungkin Appa tahu yang terbaik untuk hidupku? Ini menyangkut masa depanku. Aku lah yang berhak mengaturnya. Bukan Appa.

Aku adalah seorang direktur di perusahaan milik Appa. Beliau merupakan pengusaha sukses yang perusahaannya tidak bisa dihitung dengan jari saking banyaknya. Namaku Kim Jongwoon. Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang hangat dan harmonis. Hubunganku dengan keluargaku sangat dekat. Aku memiliki seorang adik laki-laki bernama Kim Jongjin. Appa, Eomma dan Jongjin adalah orang-orang terpenting dalam hidupku.

Sebenarnya Appa bukanlah tipe orang yang bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain. Ini adalah pertama kalinya Appa memaksaku seperti ini. Entah kenapa Appa tak mau mendengar argumenku seperti biasanya. Mungkin karena ini menyangkut persahabatannya? Entahlah.

“Jongwoon-ah, kita sudah sampai. Kau mau melamun sampai kapan?” tanya Appa.

Aku tersentak dan keluar dari mobil. Kulihat rumah yang ada di hadapanku. Rumah yang cukup mewah, walau tak semewah rumahku. Ini adalah rumah calon istriku. Appa bilang dia adalah anak dari dokter Lee. Seorang dokter yang sangat terkenal di seluruh penjuru negeri.

“Kajja, Hyung..” ucap Jongjin sambil menepuk bahuku.

Aku mengikuti mereka masuk ke dalam rumah dokter Lee. Dapat kulihat wajah sumringah dari sang tuan rumah yang menyambut kedatangan kami. Dokter Lee dan istrinya membawa kami langsung ke ruang makan. Tempat dimana kami akan melangsungkan acara makan malam bersama.

“Maaf, aku panggilkan putriku dulu,” ucap Lee Ahjumma.

Aku berusaha untuk tersenyum, mengimbangi apa yang dilakukan keluargaku. Aku benar-benar muak berada di sini. Rasanya aku ingin berlari dan membatalkan semua rencana Appa. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakiti orangtuaku.

Appa mengobrol dengan akrabnya bersama Dokter Lee. Sesekali Eomma dan Jongjin ikut menanggapi. Sementara aku hanya bisa diam karena mood-ku yang benar-benar tidak bagus saat ini. Benarkah aku akan bahagia dengan pernikahan ini? Apa aku bisa melakukan perintah Appa dengan baik?

“Itu dia anakku, Lee Nara,” ucap Dokter Lee sambil tersenyum lebar.

Aku membalikkan tubuhku mengikuti arah pandang sang Dokter yang akan menjadi mertuaku ini. Kulihat seorang gadis yang tidak asing lagi di ruang pandangku. Dia, Lee Nara. Temanku saat di bangku kuliah dulu.

^^^^

Wedding Day

Author’s POV

Nara melihat bayangannya di cermin besar yang ada di hadapannya. Beberapa menit lagi dia akan menjadi istri dari Kim Jongwoon. Suka atau tidak suka, Nara harus tetap menjalaninya. Sejak tadi gadis itu menahan airmatanya agar tidak tumpah. Dihembuskannya napas dengan berat.

“Tuhan.. kuatkan hatiku,” gumam Nara pelan.

Pintu ruangan itu terbuka dan Ibu Nara masuk. Wanita paruh baya itu menghampiri anaknya. “Nara-ya,” panggilnya pelan.

“Eomma..” Nara langsung menghambur ke pelukan Ibunya.

“Nara-ya, maukah kau mendengarkan Eomma?” tanya Ibu Nara.

Nara mengangguk pelan sebagai jawaban. Ibunya tersenyum dan mengelus pipi anak perempuannya dengan lembut. “Nara-ya, jadilah istri yang baik bagi Jongwoon. Patuhi perintah suamimu walau itu berat. Suami adalah pemimpin yang harus kau ikuti. Jangan buat reputasi suamimu buruk di mata masyarakat. Jadilah istri yang selalu membuat suaminya nyaman. Eomma percaya Jongwoon adalah pemimpin yang baik bagimu. Jangan pernah buat Eomma dan Appa kecewa, Nara-ya..”

Nara memandang tepat di mata Ibunya. Ada banyak harapan di sana yang membuat Nara tidak mampu membantah ucapan Ibunya barusan. “Aku berjanji, Eomma.. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik seperti Eomma.”

Tiba-tiba Appa Nara masuk dan menghampiri mereka berdua. “Kajja, Nara-ya..”

Nara menerima uluran tangan Ayahnya dan mengikutinya keluar dari ruangan itu. Nara menggandeng lengan Ayahnya dengan erat. Ayahnya tersenyum samar dan menatap Nara, “Kau gugup?”

Nara mengangguk. “Ini yang terbaik untukku, kan Appa?”

“Ini yang terbaik untukmu. Percayalah,” ucap Ayah Nara.

^^^^

Nara’s POV

Aku dan Jongwoon masuk ke dalam mobil yang akan membawa kami ke rumah baru kami. Pernikahan antara aku dan Jongwoon baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Sebenarnya orangtua Jongwoon sudah mengatur bulan madu kami berdua. Tapi Jongwoon menolaknya dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya.

Mobil yang kami kendarai berhenti tepat di sebuah rumah bernuansa putih yang sangat cantik. Rumah ini adalah hadiah dari orangtua Jongwoon untuk kami berdua. Aku langsung menyukai rumah ini karena aku sangat menyukai warna putih. Jongwoon masuk ke dalam tanpa mengajakku. Sikapnya dingin sekali padaku. Aku mengehela napas pelan. Aku sudah berjanji pada Eomma untuk menjadi istri yang baik.

Perlahan aku memasuki rumah baruku. Aku mengamati interior rumah ini dengan takjub. Sebegitu kaya-nya mertuaku sampai memberikan rumah yang mewah seperti ini pada kami berdua. Aku melihat Jongwoon duduk di sofa depan televisi. Matanya tertutup dan tangannya memijat pelipisnya. Dia terlihat sangat lelah.

Aku beranjak menuju dapur dan membuatkan segelas teh hangat untuknya. Kuletakkan gelas itu di atas meja di hadapannya dan mengambil tempat duduk di sofa lain yang berada di sisi sofa yang diduduki Jongwoon.

“Jongwoon-ah, kau terlihat lelah sekali. Minumlah dulu. Aku sudah membuatkan teh hangat untukmu,” ucapku.

Jongwoon mmebuka matanya dan menatapku dingin. “Aku tidak suka minum teh,” ucapnya. Aku hanya menelan ludahku, pahit.

“Mianhae.. Aku tidak tahu,” ucapku pelan.

“Kau tidur di kamar tamu. Aku tidak ingin sekamar denganmu.” Jongwoon berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. “Ambil semua barangmu dari kamarku dan pindahkan segera. Sebelum aku pulang, aku ingin semuanya sudah beres.”

Jongwoon keluar dan menutup pintu dengan kasar. Dapat kudengar suara deru mobilnya yang menjauhi rumah kami. Ini baru hari pertama, ani.. Ini baru beberapa jam saja, dan aku sudah ingin menyerah. Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku sudah berjanji pada Eomma untuk menjadi istri yang baik. Mulai hari ini aku akan mencintai suamiku. Aku akan menuruti semua perintah suamiku seperti pesan Eomma.

“Eomma.. Aku akan mencintai Jongwoon sama seperti Eomma mencintai Appa,” gumamku pelan.

Aku beranjak menuju kamar yang tadinya akan menjadi kamarku dan Jongwoon. Kubuka lemari dan mengambil semua pakaianku dari sana. Aku memindahkan semua barang-barangku dari kamar itu menuju kamar tamu.

Setelah selesai memindahkan semuanya, aku bergegas mandi dan menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Jongwoon belum pulang sejak tadi, jadi aku menunggunya untuk makan malam. Bukankah sudah menjadi tugas seorang istri untuk menunggu suaminya pulang dan makan malam bersama?

Pukul 9 malam aku mendengar pintu rumah terbuka. Jongwoon masuk dengan wajah yang masih dingin seperti tadi. Dia sama sekali tidak menggubris kehadiranku yang menyambut kedatangannya. Aku tidak begitu peduli dengan sikapnya dan tersenyum padanya.

“Jongwoon-ah, aku sudah menyiapkan makan malam. Kau mau makan sekarang?” tanyaku lembut.

“Aku sudah makan. Tidak usah bersikap sok baik padaku.” Jongwoon berlalu dari hadapanku menuju kamarnya.

Aku terpaku mendengar ucapannya. Aku menunggunya berjam-jam dan ini yang aku dapatkan? Setetes airmata jatuh di pipiku tapi segera ku hapus. Kuhembuskan napasku dengan berat.

“Ayolah, Nara-ya… Kau pasti bisa,” ucapku pada diriku sendiri.

^^^^

Jongwoon’s POV

Sudah beberapa bulan ini statusku berubah menjadi suami Lee Nara. Sikapku padanya tidak lagi seperti dulu saat kami berteman. Aku menjadi sosok yang dingin, kaku, dan terkesan kasar. Aku bukan membencinya. Hanya saja aku tidak bisa menerima kehadirannya di hidupku. Dari awal aku sudah tidak suka dengan pernikahan ini. Sekali lagi aku tegaskan, aku bukan tidak suka dengan Nara. Aku hanya membenci perjodohan yang dibuat Appa-ku. Tidak peduli siapa yang menjadi pengantinku aku tetap akan bersikap dingin. Itu karena aku tidak suka dijodohkan seperti ini. Mungkin jika aku tidak dijodohkan, dan bertemu dengan Nara secara alami, maka tidak akan ada Jongwoon yang dingin dan kaku. Mungkin aku akan mencintainya. Mungkin aku.. Arrrgghhhh.. Terlalu banyak kata mungkin di sini.

Intinya, aku tidak suka dengan kehadiran ‘istriku’ ini. Melihatnya mengingatkanku pada sikap Appa yang seenaknya padaku. Tapi anehnya, dia selalu baik padaku. Seberapapun aku menolak makanan buatannya, dia akan tetap memasak untukku. Bahkan sampai hari ini aku belum pernah memakan masakannya. Nara akan selalu tersenyum saat menyambutku pulang dari kantor walaupun aku selalu ketus padanya.

Dan sikap Nara yang seperti malaikat itu tidak pernah bisa menyentuh hatiku. Tak sedikitpun aku memalingkan wajahku padanya. Aku masih saja dengan sikapku yang dingin dan angkuh. Aku tidak bisa memaksa hatiku untuk menyukai Nara apalagi mencintainya.

Hari ini aku berangkat ke kantor seperti biasa. Dan seperti biasanya pula, Nara menawariku sarapan buatannya yang selalu aku tolak. Kepalaku terasa berdenyut sakit. Mungkin ini efek terlalu banyak minum tadi malam. Ya, akhir-akhir ini aku jadi banyak menghabiskan waktuku dengan minum alkohol. Hidupku tak lagi teratur seperti dulu.

“Kim sajangnim, Anda baik-baik saja? Anda terlihat pucat,” ucap sekertarisku.

“Aku baik-baik saja,” ucapku pelan. Tapi kurasakan kepalaku semakin sakit dan berputar-putar. Aku memejamkan mataku untuk meredam rasa sakitnya tapi bukannya berkurang, sakit kepalaku malah bertambah.

“Seungwon-ah, bisa antarkan aku pulang?” tanyaku pada sekertarisku.

“Ne, Sajangnim. Apa Anda perlu saya antar ke rumah sakit?”

“Ani.. Aku hanya butuh istirahat saja,” ucapku.

^^^^

Seungwon membantuku berjalan memasuki rumahku. Kulihat Nara terkejut melihat keadaanku. Dia langsung menghampiriku dengan wajah yang terlihat cemas.

“Di-Dia kenapa?” tanya Nara pada Seungwon. Dari nada bicaranya, aku tahu dia khawatir pada keadaanku.

“Sepertinya Kim sajangnim sakit, Nyonya,” jawab Seungwon.

“Arraseo.. Jeongmal kamsahamnida sudah mengantar suamiku pulang.” Nara membungkukkan badannya di depan Seungwon.

“Tidak perlu seperti itu, Nyonya. Ini sudah tugas saya,” ucap Seungwon.

Tubuhku seketika limbung dan dengan sigap Nara menahannya. “Ayo.. Aku bantu ke kamar,” ucapnya.

Aku merebahkan tubuhku di kasur dan memejamkan mataku. Kurasa Seungwon sudah kembali ke kantor karena tak lagi kudengar suaranya. Nara masuk kembali ke kamarku dengan membawa nampan berisi segelas air putih dan obat.

Nara menyodorkan obat yang tadi dibawanya. “Minum obat dulu,” ucapnya.

Setelah minum obat yang diberikan Nara tadi, aku mencoba untuk tidur. Aku memijat pelipisku untuk mengurangi rasa sakit yang sejak tadi mendera.

“Kepalamu sakit?” tanya Nara lembut. Dan tanpa menunggu jawaban dariku, tangan Nara sudah menggantikan tanganku untuk memijat kepalaku. Dan entah karena pengaruh obat atau karena pijitan Nara, akhirnya aku tertidur dengan lelap.

^^^^

Seminggu ini pekerjaanku sangat padat dan membuatku sering pulang larut malam, bahkan dini hari. Dan selama itu pula Nara selalu mengirimiku pesan untuk selalu menjaga kesehatanku dan jangan sampai terlambat makan. Walaupun aku tidak pernah membalas satupun pesannya, tapi dia tetap saja mengirimiku pesan seperti itu.

Malam ini orangtuaku akan mengadakan pesta ulangtahun pernikahan mereka yang ke-30. Aku mengirimkan pesan singkat untuk Nara agar dia bersiap-siap karena kami harus menghadiri pesta tersebut. Ini adalah pertama kalinya aku mengirimkan pesan untuknya semenjak 8 bulan pernikahan kami.

Aku pulang ke rumah setengah jam sebelum acara pesta di mulai. Aku segera mandi dan memakai setelan jas hitam favoritku. Aku menunggu Nara di depan pintu rumah dan tak lama kemudian dia muncul dengan gaun panjang berwarna biru muda. Aku cukup terperangah melihatnya. Dia cantik dan aku tidak bisa menyangkalnya.

Aku berdehem pelan dan kembali pada diriku yang dingin. “Kajja. Kita sudah terlambat.”

Suasana pesta ulang tahun pernikahan orangtuaku dihadiri oleh banyak rekan kerja Appa. Aku mendapatkan banyak pujian dari mereka karena memiliki istri secantik Nara. Kuakui dia cantik sekali malam ini, dan wajar jika banyak orang yang iri denganku yang bisa memilikinya.

Sikap Nara benar-benar membuat semua orang menganggap rumah tangga kami adalah rumah tangga bahagia tanpa cacat. Sejak tadi dia terus berada di sampingku. Menemaniku mengobrol dengan tamu-tamu Appa tanpa pernah melepaskan senyum manis dari wajahnya. Dia juga terus memujiku di hadapan semua orang, seolah aku adalah suami paling baik di seluruh dunia.

“Jongwoon-ah..” panggil seseorang. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati seorang namja tampan yang tengah tersenyum padaku.

“Hyung.. Eoraenmanida,” ucapku sambil memeluknya sekilas. Dia Park Jungsoo. Sahabat baikku sekaligus sepupu Nara. Jungsoo Hyung satu tahun lebih tua dariku. Dulu kami juga satu kampus dan dia sangat dekat dengan Nara.

“Nara-ya.. Neo jeongmal yeppuda,” ucap Jungsoo Hyung sambil memeluk Nara dengan erat.

“Oppa.. Bogoshipo..” ucap Nara di dada Jungsoo Hyung.

“Na do,” balasnya sambil melepas pelukan mereka. Jungsoo Hyung menatap Nara dengan senyum khas miliknya. “Bagaimana kabar rumah tanggamu? Jongwoon tidak berbuat kasar padamu, kan? Jika dia berani menyakitimu sedikit saja, aku pastikan dia akan berakhir di kamar mayat.” Jungsoo Hyung memandangku sekilas.

Aku penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Nara. Jika dia menjawab dengan jujur, maka aku pasti akan berurusan dengan Jungsoo Hyung malam ini juga. Jungsoo Hyung amat sangat protectif dengan Nara.

Kulihat Nara tersenyum. Semburat merah terpampang jelas di pipinya. “Jongwoon adalah suami terbaik yang ada di dunia ini, Oppa. Sedikit pun dia tidak pernah menyakitiku. Dia sangat baik, terlalu baik malah. Aku beruntung bisa menikah dengannya.”

Ucapan Nara sukses membuatku terkejut setengah mati. Hebat sekali sandiwara gadis ini. Dia bilang aku yang terbaik padahal untuk menyentuh makanan buatannya saja aku belum pernah. Menyapanya saja hanya seperlunya. Terbuat dari apa sebenarnya hati gadis ini?

“Bagus kalau begitu. Jika dia menyakitimu, hubungi saja aku.” Suara Jungsoo Hyung membawaku kembali ke dunia nyata. Aku menatap Nara yang sedang tersenyum pada Jungsoo Hyung.

“Kau ini menatap istrimu seperti ingin menerkamnya saja.” Sebuah tepukan di bahuku membuatku berbalik dan menemukan Appa tadi bicara padaku.

“Appa.. bukan begitu,” bantahku.

“Sudahlah.. Tidak apa. Toh, dia kan istrimu,” ucap Eomma dengan senyum jahilnya.

“Nara-ya, belum adakah tanda-tanda Appa akan memiliki cucu?” tanya Appa-ku.

Nara terkejut, namun dengan cepat dia kembali menguasai dirinya. “Jeongmal mianhaeyo, Abeoji.. Sepertinya belum.” Nara membungkukkan badannya. Jungsoo Hyung yang ada di sebelahnya menatap Nara prihatin.

Eomma menghela napas dengan berat. “Padahal Eomma sudah sangat ingin mempunyai seorang cucu.”

Aku hanya diam tak menanggapi obrolan mereka mengenai cucu. Bagaimana mungkin aku memiliki anak jika menyentuhnya saja aku belum pernah? Dan sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi mengingat hubunganku dengan Nara yang buruk.

Aku mengikuti acara sampai selesai dalam diam. Mood-ku berantakan semenjak orangtuaku membahas mengenai cucu. Dan lagi sejak ada Jungsoo Hyung, Nara seperti tak lagi peduli padaku. Dia terus saja sibuk mengobrol dengan Oppa-nya itu. Dan itu membuatku semakin kesal saja. Entah kenapa aku tidak menyukai kedekatan mereka.

^^^^

Nara’s POV

Pernikahan kami sudah sampai pada bulan ke-8. Sikap Jongwoon padaku masih sama seperti awal pernikahan ini, dingin, kaku, dan tak pernah peduli. Aku menanggapi sikapnya dengan seluruh usahaku untuk menjadi istri yang baik. Dan yang aku tahu, aku mencintainya. 8 Bulan cukup untukku meyakinkan hatiku bahwa aku mencintai Kim Jongwoon, suamiku.

Satu minggu yang lalu, kami menghadiri pesta ulangtahun pernikahan mertuaku. Mereka tak henti-hentinya meminta cucu. Dan ini benar-benar membuatku pusing. Bagaimana aku akan memberikan mereka cucu, jika untuk menatapku saja Jongwoon sangat enggan?

Hari ini aku harus pergi ke kantor redaksi untuk menyerahkan draft novel terbaruku. Bagaimanapun aku harus tetap menjalankan pekerjaanku. Aku berharap novelku kali ini dapat diterima seperti novel-novelku yang lain.

Aku pulang ke rumah saat matahari hampir terbenam. Jongwoon pasti belum pulang karena dia biasa pulang paling cepat pukul 10 malam. Aku menyiapkan makan malam yang pastinya tidak akan dimakan oleh Jongwoon. Aku hanya berusaha menjalankan peranku sebagai istri dengan sebaik mungkin walaupun suamiku sama sekali tidak pernah memberikan sedikitpun apresiasinya pada usahaku ini.

Pukul 12 malam pintu rumah kami terbuka dengan kasar. Aku segera ke ruang depan untuk menyambut kepulangannya. Aku sedikit terkejut melihat keadaan Jongwoon yang mabuk berat. Jalannya sempoyongan dan mungkin bisa jatuh kapan saja. Segera kupegang lengannya untuk membantunya berjalan.

“Nara-ya..” panggil Jongwoon dengan suara serak. Bau alkohol menyeruak di indera penciumanku.

“Nara-ya.. Mereka terus mendesakku.. Mereka terus meminta cucu..” ucap Jongwoon lagi.

Pasti dia tertekan karena orangtuanya yang terus meminta cucu darinya. Aku hanya diam saja. Percuma menanggapi perkataan orang yang sedang mabuk. Kubawa Jongwoon ke dalam kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur.

“Nara-ya..” Jongwoon menarik tanganku sehingga aku terhempas jatuh di atas dadanya. “Di sini saja.”

“Jongwoon-ah.. Lepaskan aku. Aku mau tidur,” ucapku sambil berusaha lepas dari pelukannya.

Bukannya melepaskanku, Jongwoon malah berguling sehingga tubuhku sekarang berada di bawahnya. Jongwoon menatapku dengan mata sayunya. “Nara-ya.. Kau terlihat cantik dari sini.”

“Jongwoon-ah, kau mau ap..” ucapanku terhenti begitu bibir Jongwoon membungkan bibirku dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan menerima semua perlakuan Jongwoon padaku.

^^^^

Semenjak kejadian itu, sikap Jongwoon semakin dingin padaku. Sementara aku, aku hanya bersikap seperti biasanya. Bukankah sudah menjadi tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Dan aku rela melakukannya karena aku mencintai Jongwoon. Aku menyerahkan diriku seutuhnya hanya pada suamiku, orang yang paling aku cintai.

Hari ini aku kembali ke kantor redaksi karena harus mengikuti rapat untuk novel terbaruku. Selama rapat berlangsung, aku tidak bisa fokus. Kepalaku terasa pusing dan perutku sedikit mual. Ini pasti karena tadi pagi aku tidak sarapan. Aku terlalu terburu-buru sehingga tidak sempat menyiapkan sarapan.

“Nara-ya, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tegur Raena, temanku sesama penulis.

“Gwaencaha, Rae.. Aku hanya pusing,” jawabku.

Karena keadaanku yang tak kunjung membaik, setelah rapat kuputuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Aku tidak boleh sakit. Aku tidak ingin Jongwoon kecewa karena aku tidak bisa mengurus rumah hanya akibat sakit yang tidak penting seperti ini.

“Nara-ssi.. Giliran Anda,” panggil seorang suster.

Aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter yang terlihat ramah itu mempersilahkan aku duduk dan menanyakan kondisiku. Aku menceritakan keluhanku sejak tadi di ruang rapat. Setelah melewati beberapa rangkaian pemeriksaan, dokter itu tersenyum padaku.

“Selamat, Nara-ssi.. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ibu,” ucap dokter.

Aku menutup mulutku dengan tangan, tak percaya. Aku akan menjadi Ibu. Aku akan memiliki anak dari Jongwoon. Tuhan, terima kasih banyak. Aku memandang perutku yang masih datar dengan penuh haru. “Sudah berapa bulan usia kandunganku, Dok?”

“2 bulan, Aggashi.” Dokter itu memandangku dengan tatapan teduhnya. “Jaga baik-baik kandungan Anda karena kandungan Anda ini lemah sekali. Anda tidak boleh banyak berpikir dan juga jangan sampai kelelahan.”

Aku mengangguk mengiyakan perkataan Dokter. Setelah sedikit bertanya ini dan itu, aku pun beranjak keluar dari klinik itu. Sepanjang jalan aku tak bisa berhenti tersenyum. Aku bahagia. Keinginan mertuaku akan segera terwujud. Jongwoon tidak perlu gusar lagi dengan tekanan dari orangtuanya.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Jongwoon. Bagaimanapun aku harus memberitahukan kabar gembira ini padanya. Aku ingin dia juga merasakan kebahagiaan yang sama denganku. Walaupun ada sedikit rasa ragu di dalam hatiku. Bagaimana jika Jongwoon tidak bahagia seperti aku? Tapi segera kutepis pikiran itu. Jongwoon pasti akan tersenyum hari ini. Senyum pertama yang akan diberikannya untukku.

Sampai di belokan terakhir sebelum aku sampai di ruangan Jongwoon, aku menghentikan langkahku. Aku mendengar suara Jongwoon yang sedang bicara dengan seseorang. Aku hendak melanjutkan langkah ketika ucapannya menghentikanku sekali lagi.

“Aku tidak bisa menerima Nara dalam hidupku.”

DEG.

Aku menahan napasku sendiri. Bahkan sampai sekarang kau belum juga bisa membuka hatimu, Jongwoon-ah? Bahkan dengan segala yang sudah aku berikan untukmu? Tak bisakah kau menatapku sedikit saja?

Takdir benar-benar telah mempermainkanku. Aku sudah berusaha menjadi anak baik dengan mengikuti semua perintah Appa. Aku sudah berjanji untuk menjadi istri yang baik kepada Eomma. Aku sudah memberikan seluruh cintaku pada Jongwoon. Tapi takdir seakan hanya menertawakan usahaku, membuat semuanya menjadi sia-sia belaka.

“Bagaimana jika dia hamil dan melahirkan anakmu? Bukankah hal seperti itu biasanya akan berpengaruh?” tanya suara lainnya yang tidak aku kenal.

“Aku tidak akan bisa menjadi Ayah dari anak yang dikandung Nara..”

Aku segera membalikkan tubuhku menjauhi mereka. Aku tidak ingin mendengar lanjutan ucapan Jongwoon. Terlalu menyakitkan. Aku masih bisa terima jika dia tidak menerimaku, tapi tidak jika dia juga menolak anak ini. Aku menginginkannya. Aku ingin menjadi seorang Ibu. Tidak akan kubiarkan anakku merasakan derita yang sama sepertiku.

^^^^

Author’s POV

Jongwoon sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen ketika pintu ruangannya terbuka begitu saja. Dia ingin marah karena ada yang berani masuk ke ruangannya tanpa izin, tapi amarahnya langsung surut begitu tahu siapa yang datang.

“Ryeowook-ah.. Wae geurae?” tanya Jongwoon begitu melihat Ryeowook masuk dengan senyum andalannya.

Kim Ryeowook adalah salah satu orang terdekat Jongwoon. Ryeowook adalah sahabat baik dari Jongjin. Hampir setiap hari dia datang ke rumah mereka. Dan itu membuat Ryeowook jadi akrab dengan keluarga Jongjin termasuk Jongwoon. Bahkan Ryeowook sudah dianggap sebagai anak oleh Appa Jongwoon.

“Tidak ada.. Aku hanya ingin mengobrol denganmu saja,” jawab Ryeowook dengan tampang innocent.

“Kau ini.. Aku kira ada apa. Ayo kita keluar saja. Jangan mengobrol di sini,” ucap Jongwoon.

Jongwoon mengajak Ryeowook duduk di salah satu sofa yang ada di luar ruangannya. Sofa yang diletakkan khusus di sudut untuk tempat sang direktur jika sedang ingin bersantai di luar ruangannya.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jongwoon.

“Tidak ada..” ucap Ryeowook.

“Ya! Jadi untuk apa kau menggangguku jika tidak ada yang ingin kau bicarakan?”

“Aku hanya merindukanmu, Hyung. Semenjak menikah, kau jarang mau mengobrol denganku,” ucap Ryeowook.

“Aku sibuk, kau tahu?” ucap Jongwoon.

“Aku tahu.. Bagaimana kabar istrimu?” tanya Ryeowook antusias.

“Mengapa kau antusias sekali bertanya tentang istriku?” Jongwoon menatap Ryeowook tidak suka.

“Kenapa kau jadi marah? Aku kan hanya sekedar bertanya. Sebegitu besarkah cintamu untuk Nara Noona sehingga hanya bertanya saja aku dilarang,” ucap Ryeowook.

Jongwoon melunak. “Kau tahu, Ryeowook-ah? Pernikahanku dengan Nara tidaklah sempurna seperti pandangan orang-orang selama ini.”

Ryeowook terkejut dengan ucapan Jongwoon. Sepengetahuannya, pernikahan antara Jongwoon dan Nara adalah pernikahan tanpa cacat, bahagia dan sempurna.

Jongwoon menghela napas. “Pernikahan ini sudah diatur sejak awal dan aku tidak menyukainya. Aku benci saat hidupku diatur oleh orang lain.”

“Jadi sampai sekarang kau tidak pernah mencintai Nara Noona?”

“Entahlah.. Aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Aku kesal saat dia berada dekat dengan namja lain. Tapi aku juga tidak bisa menoleh padanya hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi. Dulu aku selalu berpikir..” Jongwoon terdiam sebentar dan memejamkan matanya. “Aku tidak bisa menerima Nara dalam hidupku.”

Ryeowook menatap Jongwoon sedih. “Bagaimana jika dia hamil dan melahirkan anakmu? Bukankah hal seperti itu biasanya akan berpengaruh?”

“Aku tidak akan bisa menjadi Ayah dari anak yang dikandung Nara. Aku tidak akan siap, Ryeowook-ah. Untuk menjadi suaminya saja aku tidak bisa. Aku ini jahat. Aku tidak akan bisa mengimbangi kebaikan hati Nara. Aku takut jika kami memiliki anak nanti, sikapku yang dingin padanya tidak akan bisa berubah. Aku tidak ingin anakku memiliki seorang Ayah yang seperti aku.”

“Mengapa kau tidak berubah saja, Hyung?” tanya Ryeowook. “Aku tahu kau bukan orang yang seperti itu. Jongwoon Hyung yang aku kenal adalah orang yang baik hati.”

“Aku ingin sekali berubah, Ryeowook-ah. Tapi aku tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Aku selalu terbawa emosi setiap melihat Nara. Aku terus teringat akan hidupku yang diatur oleh Appa. Aku benci sekali, Ryeowook-ah.”

Ryeowook menepuk bahu Jongwoon untuk memberikan sedikit kekuatan. “Kau pasti bisa berubah, Hyung.. Aku percaya itu.”

Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama sampai Seungwon mengingatkan Jongwoon untuk menghadiri rapat direksi.

^^^^

Sudah satu bulan Jongwoon tidak lagi menemukan Nara di rumah mereka. Nara seperti hilang ditelan bumi. Tapi Jongwoon sama sekali tidak berkeinginan untuk mencari tahu keberadaan istrinya itu. Dia tetap tak peduli dengan keadaan Nara. Jongwoon merasa bahwa menghilangnya Nara adalah hal yang patut disyukuri mengingat dia tidak suka dengan keberadaan wanita itu.

Jongwoon tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia menyewa seorang pembantu untuk mengurus rumah selama Nara tidak ada. Orang-orang pun tidak ada yang curiga bahwa Jongwoon dan istrinya tak lagi tinggal satu atap karena selama ini Jongwoon memang tidak pernah bercerita tentang Nara.

@Nara’s Place

Semenjak pergi dari rumah, Nara menyewa sebuah apartemen yang terletak di pusat kota Seoul. Sebuah apartemen kecil yang ditempatinya seorang diri. Tidak ada yang tahu keberadaannya saat ini. Nara pun seakan menarik dirinya dari dunia luar. Pekerjaannya sebagai penulis membuatnya tidak perlu bertemu dengan banyak orang. Nara menyembunyikan dirinya karena dia tidak ingin ada yang tahu dia sedang hamil. Nara ingin mengurus hidupnya yang miris itu seorang diri.

Nara menghembuskan napasnya untuk melepas lelah yang menggelayuti tubuhnya. Seharian ini dia menghabiskan waktu untuk membersihkan apartemennya. Keadaan apartemennya yang cukup berantakan dan kehamilannya membuat Nara lelah luar biasa. Tapi Nara masih harus membeli bahan makanan karena persediannya sudah habis tadi siang.

Nara memakai mantel tebal miliknya dan berjalan keluar apartemennya. Nara masuk ke sebuah departemen store yang letaknya tidak jauh dari apartemennya. Setelah membeli cukup banyak bahan makanan, Nara segera keluar dari departemen store itu dan berniat pulang.

“Noona..” Nara sedikit tersentak mendengar suara itu. Suara Jongjin, adik iparnya.

Nara tersenyum seadanya pada Jongjin yang melambaikan tangannya dari seberang jalan. Jongjin berlari-lari menghampiri kakak iparnya. “Noona, sedang apa di sini?”

“Belanja,” jawab Nara pendek.

“Mengapa belanja di sini? Ini kan jauh sekali dari rumah kalian?” tanya Jongjin lagi.

Nara terkejut mendengar pertanyaan Jongjin, tapi dengan cepat dia kembali menguasai dirinya. “Tadi kebetulan aku lewat sini, jadi sekalian belanja. Sudah ya, Jongjin.. Aku harus segera pulang.”

Nara buru-buru berlalu dari hadapan Jongjin. Tapi karena tidak fokus pada jalanan di depannya, Nara hampir diserempet sebuah sepeda motor. Nara terjatuh tepat di pinggir trotoar tempatnya tadi berdiri dengan Jongjin.

“NOONA!!” teriak Jongjin begitu melihat Nara yang hampir saja celaka.

“Arrkkhh..” Nara menjerit tertahan.

“Noona, gwaenchana?” tanya Jongjin cemas.

“Arrkkhh, perutku..” Nara memegangi perutnya sambil menahan sakit.

“Noona.. Kakimu berdarah..” ucap Jongjin semakin panik.

“Andwe.. Andwe.. Anakku.. Anakku..” Nara membelakkan matanya sambil menggeleng.

“Noona.. Lebih baik kita segera ke rumah sakit,” ucap Jongjin. Diangkatnya tubuh kakak iparnya itu dan membawanya ke mobilnya.

Saat di perjalanan menuju rumah sakit, Jongjin terlihat sangat panik. Dia mengambil handphonenya dan menekan nomor yang dihapalnya di luar kepala. “Tenang dulu, Noona.. Aku akan menelepon Jongwoon Hyung.”

“Andwe, Jongjin-ah.. Jangan menelepon Jongwoon.” Suara Nara yang lemah membuat Jongjin membatalkan niatnya. Diletakkan kembali handphone-nya di atas dashboard.

Sesampainya di rumah sakit, Nara segera mendapat perawatan intensif. Karena tidak boleh menelepon Jongwoon, akhirnya Jongjin memutuskan untuk menelepon Ibunya. Dan tak butuh waktu lama hingga Ibunya datang.

“Ada apa, Jongjin-ah?” tanya Eomma-nya.

“Tadi aku bertemu dengan Nara Noona. Dia diserempet motor dan..” ucapan Jongjin terpotong oleh dokter yang keluar dari ruangan Nara.

“Apa kalian keluarga pasien yang ada di dalam?” tanya sang dokter.

“Ne.. Aku Ibunya. Bagaimana kondisinya?”

“Saat ini dia baik-baik saja. Tapi kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

“Ap-Apa? Nara hamil.. dan sekarang bayinya tidak bisa diselamatkan?” Eomma Jongwoon terlihat sangat terpukul.

“Maafkan kami, Nyonya.. Tapi sebaiknya Anda masuk dulu. Putri Anda butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya saat ini,” ucap Sang Dokter.

Jongjin dan Eomma-nya masuk dan melihat Nara yang terbaring di atas tempat tidur. Matanya terbuka dengan pandangan yang kosong. Tak ada cahaya di mata itu, yang ada hanya airmata yang tak berhenti mengalir.

“Nara-ya..” panggil Eomma Jongwoon sambil mengelus kepala menantunya itu.

Nara menoleh kepada Ibu mertuanya. “Maaf, Eomonim..”

“Gwaenchana.. Kau tidak salah, Nara-ya..” ucap Ibu mertuanya. “Kau sudah memberitahu Jongwoon?”

Nara menggeleng pelan. Ibu mertuanya menghapus airmata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya yang kini terlihat pucat tak berwarna. “Biar Eomma telepon dia.”

“Andweyo, Eomma.. Biar aku yang memberitahu Jongwoon,” ucap Nara. Dan seakan mengerti maksud ucapan menantunya, Eomma Jongwoon pun menuruti kehendak Nara.

“Eomma.. Aku ingin pulang,” ucap Nara.

“Kau masih sakit, Nak. Di sini saja dulu.”

“Aniyo Eomma.. Aku ingin pulang. Jika Eomma tidak ingin mengantarku, aku akan pulang sendiri,” ucap Nara lagi.

“Arraseo..” Ibu mertua Nara mengalah. “Jongjin-ah, urus kepulangan Nara sekarang juga.”

“Eomma.. antarkan aku ke rumah orangtuaku,” pinta Nara.

^^^^

Jongwoon POV

Satu bulan tanpa Nara, bagiku tidak ada bedanya. Selama ini aku tidak pernah bergantung padanya, jadi aku tidak begitu mengharapkan kehadirannya di rumah ini. Aku masih bisa hidup dengan baik tanpa Nara. Aku masih bisa menikmati kesendirianku tanpa Nara.

Hari ini aku ada janji bertemu dengan Jungsoo Hyung. Dia memintaku datang untuk merayakan ulangtahunnya. Aku pun bergegas menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Jungsoo Hyung. Aku sedikit heran melihat Jungsoo Hyung yang sendirian di sudut café.

“Hyung, kenapa sendirian?” tanyaku. “Ini kan ulangtahunmu. Istrimu mana?”

“Dia sibuk, Jongwoon-ah. Mana pernah dia punya waktu untukku.” Jungsoo Hyung tersenyum pahit. “Aku iri padamu yang memiliki istri seperti Nara. Dia selalu ada untukmu. Pekerjaannya tidak menuntutnya untuk selalu meninggalkan rumah.”

Ucapan Jungsoo Hyung membuatku menganggukkan kepala. Mau tidak mau aku menyetujuinya. Nara memang selalu ada di rumah. Mengantarkanku berangkat kerja dengan seulas senyum yang menghiasi wajahnya dan menyambut kepulanganku masih dengan senyum yang sama. Meski tak pernah kubalas, Nara tak pernah absen melakukan dua hal itu.

“Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Jungsoo Hyung.

“Dia baik-baik saja,” jawabku seadanya. Jujur saja aku tidak tahu kabarnya Nara. Dimana dia berada saja aku tidak tahu, apalagi kabarnya.

“Nara selalu bercerita padaku tentang kau Jongwoon-ah. Dia bilang kau adalah namja paling sempurna. Kau tidak memiliki cacat sedikitpun. Kau selalu tersenyum untuknya. Kau akan menjadi pemandangan pertama yang paling dikaguminya saat dia bangun tidur.Nara selalu mengatakan bahwa dia sangat beruntung bisa memilikimu. Dia sangat mencintaimu, Jongwoon-ah.”

Aku tidak tahu harus bicara apa pada Jungsoo Hyung. Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu Nara selalu mengatakan hal-hal baik tentangku. Aku merasa bersalah padanya karena tidak pernah bisa menerimanya. Padahal alasanku sangat konyol dan tidak masuk akal. Aku hanya tidak suka dijodohkan. Dan ini bukanlah salah Nara. Dia juga korban sama sepertiku. Tapi kenapa Nara bisa menerimanya dengan lapang dada sementara aku terus mengutuki hidupku?

Tiba-tiba saja aku merindukan Nara. Aku merindukan senyumnya yang hanya untukku. Aku ingin meminta maaf padanya. Aku telah bersalah padanya selama ini. Nara bisa menerimaku dengan baik, dan aku membalasnya dengan bersikap seenaknya pada Nara. Betapa kejamnya aku ini.

^^^^

Setelah berjam-jam mengobrol dengan Jungsoo Hyung, aku bergegas pulang dan masuk ke dalam kamar Nara. Aku ingin tahu dimana dia sekarang. Aku merindukannya. Aku merindukan sosok malaikatku.

Aku menemukan secarik amplop berisi surat yang ditulis oleh Nara. Kubuka surat itu dengan tangan gemetar. Aku takut Nara benar-benar pergi meninggalkanku. Kini aku sadar, aku membutuhkan Nara. Aku mencintainya.

Jongwoon-ah,

Maaf aku pergi seperti ini. Maaf aku tidak bisa berpamitan padamu. Aku pergi karena aku tidak ingin menjadi bebanmu lebih lama lagi. Kehadiranku hanya membuatmu tersiksa. Dan aku tidak ingin suamiku merasakan hal seperti itu.

Maafkan aku, Jongwoon-ah.. Aku harus pergi seperti ini.. Aku lelah. Aku sudah sampai pada batas kemampuanku. Aku belajar mencintaimu dan aku berhasil dengan baik. Aku mencintaimu dengan tulus. Tapi, sampai hari ini kau bahkan masih tidak bisa menerima kehadiranku. Aku lelah, Jongwoon-ah..

Awalnya aku juga membenci perjodohan ini.. Tapi lambat laun aku mengerti. Orangtua kita hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua. Sampai hari ini, aku masih memegang teguh keyakinan itu. Sampai hari ini aku percaya.. Kau adalah yang terbaik untukku.

Meskipun cintaku tidak akan pernah kau balas, meskipun kau tidak akan pernah bisa melihat ke arahku, aku akan terus memberikan cinta tulusku padamu. Aku akan mencintaimu sampai akhir hidupku.

 

Yang mencintaimu,

Lee Nara

Airmataku menetes membaca surat dari Nara. Betapa bodohnya aku mengacuhkan cinta tulus dari seorang gadis seperti Nara. Hanya karena alasan konyol, aku menolak untuk sekedar melihat cinta Nara yang begitu besar padaku. Bodoh sekali kau, Kim Jongwoon..

^^^^

Seharian ini kuhabiskan waktuku untuk mencari Nara di seluruh penjuru kota Seoul. Tapi sepertinya pencarianku sia-sia, karena sama sekali tak kutemukan sosok Nara. Dan hanya dua tempat yang belum kudatangi, yaitu rumah orangtuaku dan rumah orangtua Nara. Dan aku memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuaku terlebih dahulu.

Mobilku memasuki halaman rumah yang sangat kurindukan ini. Kubuka pintu rumah dengan pelan dan mendapati keluargaku yang sepertinya sedang bersantai di depan TV. Eomma terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba ini.

Eomma bergegas menghampiriku. Aku tersenyum handak memeluknya, namun..

PLAK

Eomma menamparku dengan kuat. “Darimana saja kau, hah? Kapan aku pernah mengajarkan padamu untuk bersikap kurang ajar?” Mata Eomma merah menahan amarah. Appa menarik Eomma dan menenangkannya.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku entah pada siapa.

“Hyung, apa kau belum tahu apa yang terjadi pada Nara Noona?” tanya Jongjin.

Melihat reaksiku, sepertinya Jongjin tahu aku tidak tahu apapun tentang Nara. Dia pun mendekatiku, “Hyung, Nara Noona baru saja keguguran.”

Kuakui tamparan Eomma tadi sakit sekali, tapi ucapan Jongjin barusan lebih menyakitkan. Aku seperti dihantam berpuluh-puluh palu besar. Apa yang telah kulakukan? Bahkan aku tidak tahu Nara sedang hamil. Tuhan.. Betapa bodohnya aku.

“Kapan aku pernah mengajarkanmu untuk menjadi namja yang tidak bertanggung jawab, hah? Berani sekali kau melepaskan tanggung jawabmu sebagai seorang suami!” Eomma terus menyerangku dengan kata-katanya.

“Hyung, sebaiknya kau temui dia dulu.. Dia sangat membutuhkanmu.” Jongjin menepuk bahuku pelan.

“Kenapa kalian tidak ada yang memberitahuku?” tanyaku tak terima.

“Nara melarang kami memberitahumu. Dia bilang dia sendiri yang akan mengatakannya padamu,” jawab Appa.

“Lalu dimana dia sekarang?” tanyaku nyaris seperti bisikan. Aku benar-benar kehilangan tenagaku.

“Dia di rumah orangtuanya,” ucap Jongjin.

Aku langsung pergi menuju rumah mertuaku. Aku harus meminta maaf pada Nara. Bahkan aku rela bersujud di kakinya jika Nara menginginkanku seperti itu.

Aku memencet bel rumah Dokter Lee dengan tergesa. Tak lama, keluarlah kedua mertuaku. Mereka memandangku dengan sedikit terejut. Aku menundukkan kepalaku, aku merasa sangat bersalah. “Abeonim, Eomonim.. Jeongmal mianhaeyo..”

“Jongwoon-ah.. Kau sudah kembali dari Jepang? Kami pikir masih minggu depan,” ucap Ayah mertuaku.

“Eh? Jepang?” tanyaku tak mengerti.

“Nara bilang kau ada urusan di Jepang sampai minggu depan,” ucap Eomonim.

Aku tercenung. Bahkan sampai saat ini pun kau masih melindungiku, Nara-ya. Aku merasa seperti bajingan yang tidak pernah mengenal kebaikan.

“Lalu dimana Nara? Aku harus bertemu dengannya,” ucapku tergesa.

Wajah kedua mertuaku berubah sendu. “Dia ada di kamarnya. Jiwanya terguncang, Jongwoon-ah.. Sejak keguguran 3 hari yang lalu, dia tidak mau makan,” ucap Ibu mertuaku.

Hatiku pilu. Keegoisanku menghasilkan korban nyata. Korban yang tak lain dan tak bukan adalah istriku sendiri. Orang yang aku cintai. Keegoisanku membawanya ke dalam jurang kesedihan yang begitu dalam.

“Kajja.. Mungkin Nara akan lebih bersemangat jika bertemu denganmu,” ucap Abeonim. Aku mengikutinya dari belakang.

Kami bertiga masuk ke dalam kamar Nara. Dia duduk bersandar di kepala ranjangnya. Matanya menatap kosong dinding di hadapannya. Tak disadarinya kehadiran kami. Tanpa kusadari airmataku menetes. Inilah perbuatanku. Inilah hasil keegoisanku. Aku melukainya..

“Nara-ya.. Jongwoon datang menemuimu, nak,” ucap Eomonim sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang.

Nara menoleh ke arahku. Airmatanya meluncur deras begitu saja. Entah sudah berapa banyak airmata yang dibuangnya hanya karena kebodohanku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Kedua mertuaku keluar dan memberikan waktu untuk kami berdua.

“Nara-ya.. Aku minta maaf.. Aku bersalah padamu selama ini. Aku sudah melukaimu,” ucapku dengan tangis yang  sejak tadi tak bisa kutahan.

Kupeluk tubuh ringkih Nara. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. “Maafkan aku, Nara-ya.. Aku mohon.”

Aku melepaskan pelukanku dan berlutut di hadapannya. “Jebal.. nan jeongmal mianhada.”

Nara menghampiriku dan menarikku untuk berdiri. “Jangan begini, Jongwoon-ah.”

“Kau memaafkanku?”

Nara mengangguk. Kutarik kembali tubuhnya ke dalam pelukanku. “Gomawo.. Nara-ya. Aku berjanji akan memulai semuanya dari awal lagi. Akan kuperbaiki semua salahku selama ini.”

Nara memandangku, tersenyum. Senyum yang selama ini hanya diberikan untukku. Kuhapus sisa airmata yang masih berbekas di wajahnya.

“Nara-ya..” panggilku.

“Mmm?” Nara bergumam tak jelas menjawab panggilanku.

“Saranghae,” ucapku. Nara membulatkan matanya tanda terkejut. “Bukan kau saja yang bisa mencintaiku dengan tulus. Aku juga bisa mencintaimu dengan sepenuh hatiku.”

“Gomawo..” ucapnya pelan. Kudekatkan wajahku padanya dan mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman yang menyiratkan betapa aku mencintainya dan takut kehilangan sosoknya.

“Nara-ya, mengapa kau menyembunyikan kehamilanmu dariku?” tanyaku.

Nara menundukkan wajahnya, “Aku takut kau tidak mau menerimanya.”

“Maafkan kebodohanku.. Karena aku kau jadi menderita sendirian.” Aku mengangkat dagunya agar bisa menatap matanya. “Mungkin Tuhan memberikan teguran agar aku sadar. Tuhan mengambil anak kita secepat ini karena Dia ingin aku menyadari kesalahanku.”

Nara kembali menangis. “Maaf.. Aku tidak bisa menjaganya.”

“Ini bukan salahmu, Nara-ya. Ini salahku. Aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Mulai sekarang, berjanjilah untuk memulai semua dari awal. Berjanjilah untuk selalu bertahan di sisiku.”

“Aku berjanji.”

*END*

Huaaa.. Eottae? Gimana? Mian kalo kepanjangan dan nggak bagus *dance sorry sorry bareng Hyuk*. Author pamit dulu.. Jangan lupa komennya ya..

47 Comments (+add yours?)

  1. Ririn_Setyo
    Jan 15, 2013 @ 21:09:15

    sebenernya ceritanya bgus, tapi alurna kecepetan klo d bkin jdi be2rapa part psti lbh bgus^^

    Reply

  2. agetha camomile (@wifekanginSJ)
    Jan 15, 2013 @ 22:33:08

    akhirnya baekan ga..
    tpi alurny kcptan jdi kyak dialog shri2 gtu..

    tpi ffnya daebak .. 😀

    Reply

  3. chochangevilkyu
    Jan 15, 2013 @ 22:37:57

    Aaa keren keren, cuma koreksiku, jangan terlalu terburu buru, agak kecepeten ini menurutku, tapi selebihnya bagus, ceritanya manis thor 😀

    Reply

  4. Stefany
    Jan 15, 2013 @ 22:50:37

    Sejak kapan yesung oppa bisa minum alcohol ?
    Yakk jongwoon oppa jahat banget sihhh #pukulpelan
    Wkwkwkwkwkwk
    Keren thor ^^

    Reply

  5. sasa
    Jan 15, 2013 @ 23:26:02

    Sedihhhhh tapi bagus thor hehehe

    Reply

  6. lestrina
    Jan 15, 2013 @ 23:38:07

    Ceritanya bagus bgt tp moment kebahagian jongwoon dgn nara kurang so endingnya kurang puas hiks hiks. Dibuat epilog or sequelnya ya. Lanjut ya

    Reply

  7. Ritsu Kim
    Jan 16, 2013 @ 01:35:59

    omo~~
    *terbawa suasana ff*
    jongwoon jahat sih.. istrinya dicuekin.. T.T *ikutan sakit hati sama nara*

    seperti komen2 sebelumnya.. aku setuju, coba klo dibikin beberapa part n masalahnya ditambah lagi pasti lebih oksip punya.. 😀

    overall ni ff bagus.. 😀
    apalgi castnya nae namja kim jongwoon.. aissh.. >< *masih kebawa virus GDA jongwoon yang tampan*

    oke, udah dlu deh komennya.. ntar malah makin ngawur.. hhe..

    Reply

    • vinaekawulandari
      Jan 16, 2013 @ 14:03:56

      Jungwoon oppa nya jahat.. 😦 tapi karna uda sadar dan mnta maaf aku jadi melunak ,huhu
      Ceritanya bagus thor.. Aku suka .. 😀
      Ngomong2 jongjin nya buat aku aja ya thor..biar bisa jadi adik ipar nya jungwoon oppa,hahaha,(plak !! Ga nyambung dan abaikan )

      Reply

  8. BLUENAME-
    Jan 16, 2013 @ 13:49:41

    Huass nangis sadd

    Reply

  9. parkminjung
    Jan 16, 2013 @ 16:30:55

    feelnya dpet bget xD brasa nyeseknya
    tpi alurnya agak kecepetan d klo d buat berchapter mungkin lbih keren xD

    Reply

  10. minrakyu
    Jan 17, 2013 @ 10:01:46

    Ceritanya keren…
    Coba kalo lebih panjang pasti bikin bercucuran aer mata..

    Reply

  11. nanakyu
    Jan 17, 2013 @ 11:35:38

    nice thor :D,,,sequel donkkk

    Reply

  12. septyhafidz
    Jan 17, 2013 @ 19:39:51

    daebak thor,walaupun sedih tp endingx so sweet

    Reply

  13. D'LittleBee
    Jan 17, 2013 @ 22:16:46

    Aku udah ancang-ancang mewek nangis, tp g’ jd cz tiba-tiba ending.

    Bagus kok, tp kecepetan.

    Reply

  14. Friska Sigalingging
    Jan 18, 2013 @ 05:19:06

    Mantap thor………………………..jongwoon oppa ampe nangs gtu tpi lebih mntp lag law da sequelnya…………………………………..

    Reply

  15. Ayunie CLOUDsweetJewel
    Jan 18, 2013 @ 12:50:02

    Yang jelas. ff-nya bagus tapi emng alurnya terlalu cepat. Emang lebih bagus kalo per part. Nara juga terlalu mudah memaafkan JongWoon.

    Reply

  16. Flo
    Jan 18, 2013 @ 13:00:12

    huwa nyesek rasanya…
    bikin sequel dong…

    Reply

  17. Clara Kim
    Jan 18, 2013 @ 22:15:57

    iya thor alurnya terlalu cepet…
    tapi ceritanya bagus kok. nyesek aku bacanya

    Reply

  18. cho hyunmi
    Jan 27, 2013 @ 00:14:23

    Bagus banget…
    Bikin sequel nya thor..

    Reply

  19. YeRie
    Jan 29, 2013 @ 12:21:09

    Sediiiih 😦

    Terus berkarya authooor~ ^^

    Reply

  20. lilyhan__17
    Apr 27, 2013 @ 08:45:59

    authorrr feel nya ngena’ bgt …..
    Mana nangis lagi bacanya hiks hiks T.T

    Reply

  21. wati indra rt
    Apr 30, 2013 @ 15:48:28

    Hei feelnya gak dapet ketika menyadari dia cinta nara………..waduh…….lanjut thor…..bikin lg yg lebih bagus kurang nyesak dihati

    Reply

  22. rofhi
    May 19, 2013 @ 07:28:52

    Terlalu terburu2 chinggu tapi bagus bgt ko

    Reply

  23. arista cho
    May 19, 2013 @ 08:41:26

    bagus bgt thooooor .. hebat bgt nara jd istri . bener2 perjuangan . daebak ! ^^

    Reply

  24. xxxkyu
    May 19, 2013 @ 09:53:38

    cerita.a bgus, bhasa sempurna, tulisan.a juga rapi! Tapi emang alur.a agak kcepetan, apakah bisa sequel? Kaya.a harus ada lanjutan.a dh!

    Reply

  25. Kim Parker
    May 31, 2013 @ 18:18:38

    FF pertama yang membuatku terinspirasi nulis ff juga. Efek si pemeran utama pria kayanya deh. Bagus. Keren. Keep writing! 🙂

    Reply

  26. Esa
    Jun 09, 2013 @ 23:57:57

    arghhhh…..daebak daebak…….tp knapa semua pernikahan yg dijodohkan selalu saja akhrnya jd suka….

    Reply

  27. @depiiLA12
    Jun 14, 2013 @ 20:12:05

    mengharukan .-_-.

    Reply

  28. ji yeon jeong
    Jun 19, 2013 @ 16:55:32

    ceritanya mengharukan gitu min :’) tp endingnya kecepetan 😦

    Reply

  29. ismi
    Jul 01, 2013 @ 23:40:42

    huaa keren thor!! aku sampe nangis terbawa suasana :”)

    Reply

  30. nita
    Jul 10, 2013 @ 11:22:16

    sampai nangis qw baca.y

    Reply

  31. rian arin
    Jul 14, 2013 @ 16:40:07

    aku suka ma jalur ceritanya…
    sukses buat aoutot…

    Reply

  32. Ling_Key
    Jul 17, 2013 @ 11:33:20

    Sumpah nangis ampe akhir bacanya, Daebak…

    Reply

  33. G Park
    Aug 04, 2013 @ 13:47:35

    Hua jinjja.. Cry cry cry… >.<

    Reply

  34. putriindah
    Dec 19, 2013 @ 19:24:06

    happy ending..
    Anyeong reader baru…

    Reply

  35. putriindah
    Dec 19, 2013 @ 19:30:21

    happy ending..
    T_T bagus.. Dada jadi sesek pas baca..
    Anyeong reader baru..

    Reply

  36. abrian
    Dec 24, 2013 @ 12:53:13

    Fiiuuhhhhh sukurnya sadar, bnyk ff perjodohan tp konfliknya selalu sama, hatinya uda sm yoeja lain, tp ff ini beda, konfliknya sama perasaan yesung sendiri, lebih realita spertinya, mknya buat author good idea bcs you write this ff

    Reply

  37. aisyahyesung
    Feb 01, 2014 @ 15:18:04

    wah mengharukan sekali ceritanya

    Reply

  38. Latifah Ramadhani
    Feb 25, 2014 @ 14:21:09

    T,T keren..

    Reply

  39. alifa yurianti
    Jun 29, 2014 @ 21:33:42

    annyeong aku reader baru, salm kenal 🙂

    Reply

  40. alifa yurianti
    Jun 30, 2014 @ 03:49:46

    daebak

    Reply

  41. desi octaviana
    Aug 12, 2014 @ 20:27:43

    Deeebaakk !! Mantaaappp. Tapi maunya lebih panjang lagi. 😀
    #maunyaaa 🙂

    Reply

  42. 2425yy
    Dec 08, 2014 @ 20:11:26

    ff ny menarik sangt
    sempet sebel sm katakter jongwoon, tp suka krn happy end
    tp klo dipanjangin lg smpai part2 pasti lbh keren…

    Reply

  43. Lala
    Jul 28, 2015 @ 06:33:57

    Ffnya bagus
    cuma kecepatan aja.
    Dan buat gregetan kenapa yeojanya mudah banget maafin suaminya…

    Reply

  44. shinri98
    May 05, 2016 @ 08:35:09

    endinnya kuranggggg

    Reply

  45. Dea
    May 07, 2016 @ 12:02:03

    beruntungnya mereka gak cerai.

    Reply

  46. Kim Myunggi
    Jun 13, 2016 @ 10:50:19

    Alurnya bagus thor, tp lebih bagus lg kalau dibikin chapter biar lebih greget bacanya….
    Ditunggu ff selanjutnya…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: