[Special Post For Kangin’s Birthday!] Chase

Judul : Chase

Author : Ifa Raneza

Main Cast : Kangin, Kim Jae In (OC), Leeteuk

Genre : Romance, Friendship

Rating : Teen

 

**

 

Jae In menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari mengusap telapak tangannya dengan gugup. Kedua matanya tak juga lepas dari jalanan di luar sana yang tertutupi salju yang turun tadi malam melalui jendela kaca di depannya. Udara pagi ini sangat tidak bersahabat, membuat siapapun yang berani keluar dengan pakaian tipis akan mati beku di luar sana. Tapi gadis itu tak tertarik untuk menyeruput sedikit cokelat panas di hadapannya, apalagi untuk sekedar menyentuh cangkirnya. Baginya mengamati jalanan sepi di luar sana untuk menunggu seseorang yang mungkin datang hari ini lebih menarik daripada harus berlindung dari udara dingin dengan cokelat panasnya.

“Dia akan datang, kan?” ucap Jae In dengan tetap menatap jalanan bersalju itu tanpa menoleh pada pria yang baru menjatuhkan diri di kursi di sebelahnya.

Pria itu menghela nafasnya pelan, berusaha agar Jae In tidak dapat mendengar desahan kecewanya. Dengan sabar pria itu menyunggingkan senyum palsunya yang selalu berhasil menutupi perasaannya yang sesungguhnya, membalas ucapan penuh harap yang tak ingin ia dengar dari mulut gadis itu.

Oppa, dia pasti akan datang, kan?” tanya Jae In lagi ketika tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pria itu, menoleh pada Leeteuk yang sedang menambah stok kesabarannya.

Leeteuk mengangguk pelan. “Dia akan datang. Aku mengenal Kangin dengan sangat baik, ia akan menepati janjinya,” jawab Leeteuk lembut, tanpa menunjukkan kekecewaannya atas sikap gadis itu.

Jae In mengangguk pelan, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan di luar sana, menunggu pria yang mampu membuat Leeteuk mendesah kecewa ketika ia menyebutkan namanya.

Tak berapa lama, Jae In sedikit membuka kedua matanya lebih lebar dan tanpa sadar sudah beranjak dari kursinya, berjalan pelan menuju pintu depan, ketika sosok itu tertangkap oleh indera penglihatannya.

Beberapa detik setelahnya, Jae In sudah mendapati pria yang lebih tinggi darinya itu berdiri tepat di depannya dengan menatap kedua manik matanya dalam.

“Maaf, aku terlambat.”

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut pria itu, membuat Jae In merasa menapakkan kakinya kembali di bumi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menggeleng menanggapi ucapan pria itu.

“Tidak apa-apa..” ucapnya pelan.

Kemudian pria itu melirik Leeteuk yang sedang menikmati cokelat panasnya di belakang Jae In. Seolah memaklumi situasi, Leeteuk beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan senyuman di bibirnya.

Jae In merasa wajahnya memanas saat tatapan pria itu kembali tertuju pada kedua manik matanya, menatapnya dalam seolah ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lama. Ia merasa seperti ditarik paksa ke dunia nyata ketika sebelah tangannya disentuh oleh tangan hangat dan merasakan sesuatu diletakkan di atas telapak tangannya.

“Selamat,” ucap pria itu, membuat Jae In menundukkan wajahnya menatap benda yang berada di tangannya.

Dengan erat ia menggenggam kotak kecil yang pria itu berikan, mencoba menekan rasa sakit yang perlahan menyelinap ke dalam dadanya.

Gomawo…” balas Jae In lirih, seolah tak rela dengan ucapan selamat yang pria itu ungkapkan padanya. “Kangin…” Jae In mengangkat wajahnya sekali lagi, menatap wajah dingin tanpa ekspresi di depannya.

“Jae In,” ucap Kangin sambil menatap wajah yang sudah dirias di depannya dengan mahkota kecil yang menghiasi puncak kepalanya. “Kau cantik,” ucapnya lagi, membuat semburat merah itu muncul di kedua pipi Jae In, ditambah dengan senyuman tulus yang Kangin berikan.

“Kau selalu cantik, sejak pertama kali kita bertemu. Sejak saat kita saling jatuh cinta.”

Jae In mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir pria itu sembari menatap setiap inci wajahnya, merekamnya dalam pikirannya di samping ketakutannya jika ia akan kehilangan sosok itu dalam kehidupannya.

“Seandainya kau berdandan seperti ini untukku, aku tidak tahu harus berkata apa untuk berterima kasih pada Tuhan.”

Saat itu juga Jae In merasa jantungnya seperti berhenti berdetak dan nafasnya sedikit tercekat. Dengan cepat ia berpaling ke samping, menghindari tatapan Kangin yang selalu membuatnya tenggelam dalam pesonanya.

“Seandainya hari ini adalah hari kita berdua, apa aku boleh menyebut diriku sendiri sebagai pria yang paling beruntung di dunia?”

Jae In tersentak saat dirasakannya tangannya sekali lagi disentuh oleh Kangin, tapi kali ini pria itu menggenggamnya erat. Lalu ia mengangkat kedua tangan mungil yang terbalut sarung tangan putih itu dan mengecup punggung tangannya lembut, membuat hati Jae In berdesir melihatnya. Kali ini keadaan seolah mempermainkannya. Di hari yang seharusnya membahagiakan ini, ia malah mengeluarkan buliran air mata dari pelupuk matanya.

“Aku akan tetap menjadi Kangin yang kau kenal dan aku tidak akan membencimu, selamanya,” ucap Kangin lagi sembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Jae In dengan ibu jarinya. “Tidak akan ada yang berubah di antara kita. Semuanya akan tetap terasa sama, seperti saat pertama kali kita bertemu.”

Kini Jae In memejamkan kedua matanya perlahan, merasakan hembusan nafas Kangin yang terasa semakin nyata di kulit wajahnya. Jantungnya berdegup kencang menunggu bibir mereka bertemu dan merasakan permukaan bibir Kangin menyapu bibirnya hari ini, sebelum ia harus menjalani kehidupan barunya yang akan mengubah semuanya selama-lamanya.

Waktu seperti berhenti ketika kedua mata Kangin hanya menatap kedua kelopak mata gadis itu yang tertutup, menunjukkan betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini. Ia mengamati setiap inci wajahnya yang tampak berbeda di hari bersejarah ini, mencoba merekamnya dalam pikirannya, berharap ia akan terus memiliki sosok itu dalam benaknya.

“Tapi aku tidak akan bisa mengklaim dirimu sebagai milikku lagi. Hari ini kau milik hyung-ku,” ucap Kangin sembari mengecup kening Jae In, membatalkan niatnya untuk merasakan permukaan bibir kemerahan itu.

Jae In membuka matanya dan menahan kekecewaannya di dalam hati. Ia menatap wajah Kangin yang hanya berjarak beberapa senti di depannya, membuatnya masih bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Kangin yang menyapu wajahnya.

“Setelah ini mungkin aku akan memanggilmu dengan sebutan noona,” kekeh Kangin sembari mengusap pipi Jae In. Lalu berbalik dan melangkah menuju pintu depan, meninggalkan Jae In yang masih berdiri di tempatnya, menatap sosok yang akan selalu ia rindukan.

**

 

Kangin ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Jae In ketika Leeteuk membawanya ke dorm untuk memperkenalkan gadis yang belakangan Kangin ketahui adalah kekasih leader Super Junior itu. Sejak saat itu, sejak mereka bertemu pandang, Kangin merasa bahwa Jae In adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk menemani hari-harinya hingga masa tua. Ia tahu saat itu Jae In telah menjadi milik hyung-nya, tapi pendapat liarnya selalu mampu mengalahkan akal sehatnya.

Ia berpikir seandainya Tuhan mengubah catatan takdirnya hingga Jae In berpindah menjadi miliknya. Mungkin saja status Jae In saat itu hanya menjadi ‘pengantarnya’ untuk bertemu dengan Kangin dan mereka saling jatuh cinta. Kangin tidak mengada-ada, gadis itu memang mencintainya, Jae In membalas cintanya. Tapi satu hal yang tak bisa mereka pungkiri, bahwa Leeteuk begitu berarti untuk mereka khianati. Sejak Kangin merasa hatinya telah jatuh dalam pesona seorang Kim Jae In, ia berubah menjadi pria yang gila akan cinta dengan mengesampingkan kemungkinan ia akan menyakiti Leeteuk.

Hingga pada akhirnya cinta rahasia mereka tercium juga oleh hyung-nya itu. Dan Kangin tidak menutupi kenyataan, ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Kim Jae In. Dia mengakui dirinya adalah pria yang tengah mengejar sosok Jae In untuk bisa menjadi miliknya, dan ia tidak akan menyerah dengan Leeteuk yang menjadi ‘saingannya’.

Tapi sepertinya Kangin harus mengakui kekalahannya dan menelan pil pahit yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Leeteuk melamar Jae In, dan gadis itu menyetujui rencana pernikahan yang sudah Leeteuk persiapkan. Ia tahu Jae In masih mencintainya, tapi ia juga harus ingat bahwa cinta Jae In pada Leeteuk belum hilang sepenuhnya. Untuk pertama kalinya Kangin menyatakan bahwa dirinya telah berhenti mengejar seorang Kim Jae In.

**

“Aku bersedia.”

Kangin memaksakan seulas senyuman terukir di bibir saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir gadis yang berdiri berdampingan dengan hyung-nya sendiri di altar. Ia memejamkan matanya, berbeda dengan tamu-tamu termasuk saudara-saudaranya di Super Junior yang lain yang bersorak gembira saat Leeteuk memajukan wajahnya dan mengecup bibir ‘istrinya’.

Kangin sadar dia adalah orang tergila yang pernah ada di muka bumi ini, mengingat dirinya dengan terang-terangan mencintai gadis yang sudah menjadi milik teman satu grupnya. Tapi dia senang karena Tuhan telah mengizinkannya memiliki rasa itu walau hanya untuk beberapa lama.

Hyung, kau yakin tidak ingin ikut makan bersama Leeteuk-hyung dan Jae In-noona?” tanya Kyuhyun dengan polosnya ketika melihat Kangin hendak melangkah keluar dari gereja sedangkan saudara-saudaranya yang lain sudah berpindah ke halaman belakang gereja, bersiap menikmati makan siang mereka.

Kangin menggeleng, membuat tanda tanya yang tersirat di wajah Kyuhyun semakin besar. Ia berbalik, melangkah dengan pasti meninggalkan tempat itu tanpa merasa perlu bertahan lebih lama, berharap Jae In akan mengubah pikirannya. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit gereja yang indah itu, sembari menghembuskan nafasnya dengan tenang, mencoba merelakan gadis yang ia cintai untuk menjalani kehidupannya bersama Leeteuk, hyung yang akan selalu ia hormati. Untuk kali ini saja, Kangin ingin dirinya melupakan egonya dan membiarkan saudaranya itu bahagia bersama gadisnya.

**

 

“Dia benar-benar melupakan harinya,” gumam Leeteuk sambil menatap Kangin yang berjalan keluar dari gereja.

Jae In menatap Leeteuk dengan tatapan sendunya, seolah sedang mengucapkan beribu-ribu ucapan maaf pada suaminya itu atas pengkhianatan yang ia lakukan selama ini. Atau berterima kasih pada pria berhati malaikat itu yang sudah menganggap semua itu sebagai angin lalu dan tetap bersedia untuk mencintainya.

“Apa dia benar-benar lupa kalau hari ini tanggal 17 Januari?” tanya Leeteuk seraya menoleh pada Jae In yang masih menggenggam kotak kecil yang Kangin berikan padanya pagi tadi, sebelum acara pernikahannya di mulai.

Jae In menggeleng pelan, menatap wajah sedih suaminya yang tidak bisa berbagi sukacita pada ‘semua’ saudara Super Junior-nya.

“Temui dia, Jae In. Katakan padanya bahwa ini bukan akhir dari segalanya,” ucap Leeteuk serius dengan menatap tepat pada kedua bola mata Jae In.

Jae In merasa darahnya berdesir mendapat tatapan seperti itu dari pria di hadapannya ini. Kedua matanya terbuka lebih lebar saat Leeteuk mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam hadiah dari Kangin.

“Atau kau bisa mengucapkan terima kasih padanya atas hadiah yang ia berikan tadi pagi,” ucap Leeteuk lagi, membuat jantung Jae In seperti disentak keras.

Jae In menunduk, menatap kotak kecil itu dengan tatapan nanarnya. Apa yang ia harus lakukan sekarang? Lalu perlahan tangannya membuka kotak berwarna merah marun itu dan merasa seluruh nyawanya menguap dari tubuhnya ketika mendapati sebuah kalung berliontin huruf L, J, dan K. Ia tahu arti ketiga huruf itu. Ia sangat tahu.

Leeteuk, Jae In, Kangin.

Kedua matanya mulai memanas. Ia tidak menyangka bahwa pria itu masih memedulikan pernikahannya yang seharusnya menjadi satu peristiwa yang ingin segera ia lupakan. Jae In mengangkat wajahnya menatap wajah berwibawa Leeteuk, ketika kedua tangan hangat pria itu memegang kedua pundak terbukanya dan menatap wajahnya dengan yakin.

“Kau harus tahu, aku tidak pernah menyimpan rasa curiga padamu, karena satu hal. Karena aku.. mempercayaimu.”

Jae In sontak menutup mulutnya, dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya dan membanjiri wajahnya. Ia merasa tidak pantas mendapatkan kepercayaan yang berharga dari pria ini, pria yang sudah menjadi pendamping hidupnya. Ia tidak pantas untuk itu, bahkan untuk Leeteuk cintai. Ia tidak pantas mendapatkan semua ini dari Leeteuk.

Oppa…” lirih Jae In dengan isakan tangis yang semakin nyata.

“Temui dia, Jae In. Katakan padanya bahwa dia masih dongsaeng-ku,” ucap Leeteuk dengan senyuman malaikat yang membuat tangisan Jae In semakin menjadi-jadi.

Jae In merasa tenaganya seolah kembali saat Leeteuk menganggukkan kepalanya dan mengecup keningnya, menularkan keyakinannya. Lalu ia berbalik, mulai berjalan keluar gereja menyusul langkah Kangin yang sudah keluar dari gereja itu. Ia berjalan, semakin cepat… cepat… dan akhirnya ia sedikit mengangkat gaun panjangnya dan mulai berlari keluar dari gereja yang sudah kosong itu.

Jae In mendesah lega ketika didapatinya Kangin tengah berdiri di halaman gereja dengan menengadahkan kepalanya, menatap langit biru yang menjadi saksi harapannya yang kandas. Dengan nafas yang sedikit terengah, Jae In melangkahkan kakinya pelan menghampiri Kangin yang sedang membelakanginya.

Ia menyadari tangannya bergetar hebat ketika ia mencoba menggapai pundak Kangin. Ia benar-benar tidak siap menghadapi pria ini, tapi ia harus menemuinya dan menyampaikan apa yang Leeteuk ucapkan padanya tadi. Akhirnya tangan lembutnya mendarat pada pundak pria itu, membuatnya berbalik.

“Jae In?”

“Kangin-ah…” ucap Jae In pelan. Ia menghembuskan nafasnya pelan, lalu mulai memantapkan hatinya untuk menyampaikan apa yang Leeteuk ucapkan padanya. “Kangin, aku…”

“Kenapa kau ada di luar? Masuklah, kau bisa kedinginan. Leeteuk-hyung pasti panik kalau kau sakit,” ujar Kangin sembari tersenyum, memotong ucapan Jae In.

Jae In berusaha menahan kedua kakinya untuk tetap berdiri di tempatnya saat Kangin mendorongnya pelan untuk kembali masuk ke dalam gereja dan berkumpul bersama saudara-saudaranya yang lain untuk merayakan hari bahagianya ini.

Jae In menggeleng, dengan wajah menolaknya pada Kangin. Lalu ia mencekal kedua tangan Kangin, menghentikan tindakan pria itu yang menyuruhnya segera masuk ke dalam gereja.

“Aku ingin bicara,” ujar Jae In cepat, membuat bibir Kangin bungkam. “Kau harus sadar bahwa yang telah terjadi di antara kita selama ini memang sangat salah.”

Kangin terdiam, menatap kedua mata Jae In, mendengarkan penuturannya baik-baik.

“Aku memang mencintaimu, aku memang jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku masih mencintai Leeteuk-oppa. Aku sangat mencintainya, walaupun aku tahu hatiku sudah bercabang padamu…”

Kangin menahan nafasnya tanpa sadar, menatap wajah gadis di hadapannya yang sudah tidak bisa ia klaim sebagai miliknya lagi. Miliknya? Bahkan sejak dulu pun, Jae In tidak pernah menjadi miliknya. Leeteuk lah yang memiliki gadis bak malaikat ini.

“Kita memang sudah berakhir. Tapi ketahuilah bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Temukan cintamu yang sebenarnya. Temukan gadis yang bisa mencintaimu dengan tulus, bukan seperti aku yang hanya bisa mencintaimu di samping aku mencintai hyung-mu.”

Kangin maju, memapas jarak di antara mereka dan menghambur memeluk tubuh kecil Jae In yang terbalut gaun pernikahan. Ia harap waktu berhenti untuk saat ini, saat di mana ia kembali merasakan kehangatan dari tubuh seorang Kim Jae In, gadis yang dulu pernah ia kejar.

Gomawo…” ucap Jae In sembari membalas pelukan Kangin, merasakan pelukan terakhir mereka dengan mengatasnamakan cinta terlarang mereka. “Aku menyukai hadiahmu, dan aku rasa Leeteuk-oppa juga senang dengan hadiah yang kauberikan padaku,” ucap Jae In dengan senyuman yang tidak sedang ia paksakan.

“Kangin…”

“Hm?”

“Ada yang ingin Leeteuk-oppa sampaikan padamu.”

“Apa?”

“Dia bilang…”

Jae In melepaskan pelukannya dan menatap kedua manik mata Kangin, lalu tersenyum lembut dan menepuk pundak pria itu.

“Dia bilang kau masih dongsaeng-nya.”

Tepat di akhir kalimat Jae In, Kangin mengulas senyumnya sembari hatinya mengucap beribu kata maaf dan terima kasih pada Tuhan karena sudah diberikan saudara berhati malaikat yang masih mau menerima dirinya yang hina ini.

Dalam hati ia bersumpah akan membunuh dirinya sendiri jika ia sempat menyakiti Leeteuk lagi. Cukup satu kali, ia merasa begitu bodoh ketika mengkhianati hyung-nya sendiri.

“Selamat ulang tahun, Kangin. Kau benar-benar melupakan harimu,” ucap Jae In, membuat Kangin tersentak kaget.

Tapi di detik berikutnya yang terdengar adalah suara tawa Kangin yang merasa benar-benar bodoh telah melupakan harinya sendiri.

Gomawo…” ucap Kangin sambil tersenyum tulus. “… noona.

-END-

3 Comments (+add yours?)

  1. trisna
    Feb 08, 2013 @ 17:53:55

    tinggalin jejak dl….

    Reply

  2. chochangevilkyu
    Feb 08, 2013 @ 18:57:17

    author!! so sweet banget ini
    Kangin kenapa bisa lupa ultahnya -_-
    suka banget hubungan Teukkie sama Kangin, mereka seolah kakak adik yang tak terpisahkan :’)
    keren author 😀

    Reply

  3. Flo
    Feb 09, 2013 @ 23:14:48

    huwa…. agak ironis sih…
    teuki oppa, mang berhati malaikat banget deh…
    nice ff chingu…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: