Because of Kissing Scene

Author : Ainay Ainong

 

Tittle : Because of Kissing Scene

 

Rating : PG15

 

Genre : Fluff

 

Length : Oneshoot

 

Fb : Aini Eka Ainay Ainong

 

Twitter : @aiinayy

 

Cast :

  • Lee Twins
  • Lee Donghae

 

Halo^^ Ainay Ainong istrinya KyuHae disini. Oh iya, disini yang ada Ekstra Lebay Donghae, bukan Donghae yang romantis seperti biasanya. aku udah bilang kan yah, jadi kalo mau protes ya silahkan*eh?

Errr… ini pernah aku publish fb pribadi n blog :3

http://ainayainong.wordpress.com/

 

 

***

Lee Eun Young’s POV

 

Aku pusing. Aish, ini pasti gara-gara hujan-hujanan kemarin. Aku demam, badanku rasanya lemas sekali, dari tadi aku bersin, aku kena flu. Kau tahu? rasanya amat sangat tidak enak sekali. Untung saja hari ini aku tidak ada kuliah, jadi aku bisa tidur dan menggulung tubuhku dalam selimut.

 

“Yak! Dasar gadis pemalas. Ayo cepat bangun dan bantu aku membuat sarapan!”

 

Aku membuka selimut sebatas leher untuk melihat orang menyebalkan yang menggangguku dengan suaranya yang cempreng itu.

 

“Hyunie, kau cari makan di luar saja, atau menumpang di tempat kekasihmu. Aku sedang malas masak,” ujarku serak. Ya, saudari kembarku itu memang tidak bisa memasak. Jangan pedulikan kalimatnya yang memintaku untuk membantunya membuat sarapan. Aku yang membuat sarapan sedangkan dia yang membantuku menghabiskan makanan yang aku buat.

 

“Yak! Kau lupa kalau dia sedang tidak ada? Ayolah… terlalu sayang kalau membuang uang untuk makan di luar,” ujarnya sambil menarik-narik selimut yang membungkus tubuhku. Aish, aku lupa kalau dia sangat pelit. Bahkan hanya untuk membeli makanan untuk dirinya sendiri.

 

“Aku sedang sakit. Kau tidak kasihan kepadaku? Saudara macam apa kau ini?”

 

“Kau sakit? Hahaha, jangan membual Lee Eun Young. Itu hanya kamuflasemu saja agar tidak masak kan? Kau sudah bosan masak untukku? Kau tidak mau masak untukku lagi? Lalu aku harus akan apa?” aigoo, kenapa dia sangat menyebalkan sekali, hah? Lihat saja tampangnya yang sok memelas itu membuatku ingin muntah. Kenapa dia sangat berlebihan sekali? Pasti itu karena dia sering bergaul dengan Cho Kyuhyun. Aku memilih diam mengabaikannya.

 

“Young~ah. Aish, ayolah. Anak-anakku di perutku sudah berteriak minta makan? Bagaimana kalau mereka malah memakan jantungku kalau tidak cepat-cepat di beri makan? YOUNG~AH─”

 

“YAK! BISAKAH KAU TIDAK BERLEBIHAN SEPERTI ITU, LEE HYUN-AH?” teriakku. Aku membuka selimutku kasar dan berjalan menuju dapur untuk membuatkannya sarapan. Aku sering berpikir untuk memberi racun kambing ke makanannya supaya dia berhenti merecokiku. Oh, yang benar saja, aku kembarannya tapi aku merasa lebih menjadi seperti Eomma untuknya. Yah, kami hanya tinggal berdua di sebuah apartemen yang disewakan orang tua kami. Appa dan Eomma ada di Milan, tentu saja karena urusan pekerjaan. Aku pernah berpikir untuk ikut mereka dan kuliah disana. Tapi kembaranku yang menyebalkan itu merengek padaku agar menemaninya di Seoul, dia tidak mau pindah karena pujaan hatinya ada disini.

 

“Young~ah, kau benar-benar sakit? Kau terlihat jelek sekali,” ujarnya dengan wajah polos yang membuatku malah ingin mencakarnya sampai wajah mulusnya itu rusak. Biar Cho Kyuhyun yang sangat digilainya itu meninggalkannya. Aish, kenapa rasanya aku jahat sekali padanya?

 

“NE!” sahutku ketus.

 

“Kenapa kau seperti itu? Apa sakit bisa membuatmu lebih galak seperti Ahjumma yang ditinggal mati suaminya?” aku ingin sekali memukul kepalanya sekarang juga. Dia sangat konyol, itulah enaknya hidup bersamanya. Selalu ramai dengan celetukannya yang sering kali membuat orang sakit hati. Kalu aku sudah kebal, tapi tak jarang juga aku marah padanya karena dia kelewatan, seperti sekarang ini.

 

Aku berdiri di depan konter dapur dan mulai menyiapkan bahan apa saja yang akan aku gunakan untuk membuat sarapan kembaranku yang seperti kerbau bunting itu. “Haaatttcchhhiiimmm…” aish, aku bersin lagi. Rasanya sangat tidak enak, hidungku gatal.

 

“Yak! Lee Eun Young, kau jorok sekali! Tidak usah masak, aku takut ketularan virusmu. Kau lebih baik tidur saja!” teriak Hyunie. Dia menarik rambutku yang mungkin awut-awutan sekarang, dia membawaku ke kamarku dan mendorongku ke tempat tidur lalu membantuku membenarkan selimut.

 

“Aish, kukira kau hanya pura-pura. Tapi ternyata kau memang benar-benar sakit, kau demam,” gerutunya sambil menampar pipiku pelan. Aku hanya menatapnya tajam.

 

“Ayo tidur anak manis, cepat sembuh dan temui ikanmu lalu lamar dia dengan cara yang romantis. Kekeke,” dia hanya nyengir dan berlalu ketika menyelesaikan kalimatnya.

 

Ikan. Ah, aku jadi ingat namja manis berwajah ikan itu. Sedang apa dia sekarang? Sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungiku. Apa dia lupa padaku? Dasar artis, lagi pula apa untungnya kalau dia ingat padaku?

 

Yayaya, aku bukan kekasih, atau pun mantan kekasihnya. Errr… entah dia bisa disebut temanku atau bukan. Begini saja, dia teman segrup Kyuhyun di Super junior, dan Kyuhyun adalah kekasih kembaranku yang semoga saja bisa berlanjut ke pelaminan.

 

Kau ingin tahu bagaimana aku bisa kenal dengan ikan itu? Okay, dulu sekitar dua tahun yang lalu ketika Hyunie baru saja menjalin hubungan dengan Kyuhyun, setiap hari dia seperti orang kesetanan yang selalu menonton video Super Junior dan memuja betapa tampannya Kyuhyun. Padahal sebelumnya dia juga sama sepertiku, tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu. Bahkan Hyunie baru tahu kalau Kyuhyun itu artis setelah mereka berpacaran.

 

Lalu suatu ketika, dia mengajakku menonton konser mereka. Dia terus saja bertanya siapa yang menarik perhatianku atau siapa yang menurutku paling tampan, lalu aku menunjuk Donghae karena dia berdiri dekat dengan posisi kami. Dan kau tahu apa yang terjadi? Besoknya ada orang yang mengirimiku pesan singkat dan mengaku sebagai Donghae. Aku yakin itu pasti ulah Hyunie dan kekasihnya yang mirip setan itu.

 

Aku dan Donghae sering bertemu, entah ketika dia ikut Kyuhyun menemui Hyunie di apartemenku atau ketika aku menemani kembaranku itu menemui Kyuhyun di dorm yang ada Donghae juga. Dan ya… karena Donghae orang yang menyenangkan dan sangat manis, aku jatuh cinta padanya. Seperti di drama-drama kan?

 

“Young~ah, kenapa kau malah melotot dan tidak tidur? Aish, kau merindukan ikanmu? Apa perlu aku menyuruhnya kesini?” aku melirik gadis itu sinis.

 

“Lakukan saja kalau kau ingin aku ikut Appa dan Eomma,” ancamku.

 

“Arraso. Aku sudah pesan bubur untukmu, ini masih panas. Ayo cepat makan!” ujarnya sambil meletakkan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih di nakas samping tempat tidur.

 

“Suapi aku, saudari kembarku yang cantik,” pintaku dengan nada yang sedikit manja. Dia pasti akan mengamuk setelah ini.

 

“SHIRREO! Aish, itu benar-benar menjijikkan. Seperti pasangan lesbi saja,” sungutnya kesal. Sedangkan aku hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuatnya merengut.

 

“Kau pikir aku sudi?” balasku.

 

“Ya sudah, ini buburnya. Dimakan sampai habis, aku tidak mau uangku terbuang sia-sia hanya karena tingkah manjamu kambuh,” ujarnya datar. Benar-benar calon ibu rumah tangga yang baik. Sangat pelit, semoga saja suaminya kelak tidak mati karena kekurangan gizi.

 

Aku mengambil mangkuk bubur yang disodorkannya dan mulai memakan bubur yang ternyata bubur ikan itu. Aish… membuatku ingat ikan itu lagi.

 

“Ngomong-ngomong, kenapa kau sakit? Kau tidak sedang sekarat karena merindukan ikanmu kan?” tanyanya dengan menatapku curiga.

 

“Kau tahu tidak? Aku ingin sekali melempar bubur ini ke wajahmu, Hyunie,” ujarku lalu tersenyum manis. Sedangkan dia hanya tersenyum polos menanggapi perkataanku. “Kemarin aku kehujanan, kau tahu sendiri kan kalau aku tidak suka hujan.”

 

“Wow, kau miskin sekarang? Bahkan payung saja kau tidak punya? Miris sekali,” ledeknya dengan ekspresi prihatin yang menyebalkan.

 

“Mana aku tahu kalau kemarin akan turun hujan!” sahutku ketus dan menjejalkan bubur dalam takaran banyak ke dalam mulutku.

 

“Kau ingin mati muda?” tanyanya dengan mata berbinar. Aku hanya diam tak menyahutinya.

 

Aku meletakkan mangkuk bubur yang isinya sudah kosong ke tempatnya semula dan mengambil air lalu meneguknya hingga habis.

 

“Anak pintar. Sekarang cepat tidur! Awas kalau aku kembali kau masih bangun, akan kupanggil ikanmu kemari dan mengumbar aibmu kepadanya,” ancamnya. Aku diam dan menarik selimutku sampai menutupi kepalaku. Aish, kenapa dingin sekali?

 

***

 

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali karena silau dengan cahaya lampu kamarku. Aku melirik jendela kamarku yang sedikit terbuka. Gelap. Apa sekarang sudah malam? Aigoo… berarti aku tidur sangat lama sekali. Kenapa aku kepalaku malah terasa berdenyut-denyut seperti ini? Dan tubuhku rasanya sangat lemas sekali. Apa aku belum sembuh?

 

“Kau sudah bangun? Apa masih pusing? Dari tadi demammu tidak turun, tapi malah semakin parah. Besok kita ke dokter, okay?” ujarnya lalu meletakkan baskom yang tadi dibawanya ke nakas. Dia mengambil handuk kecil yang bertengger di dahiku, mencelupkannya ke dalam baskom lalu memerasnya dan meletakkannya lagi ke dahiku.

 

“Kau menungguiku dari tadi?” tanyaku serak. Bahkan tenggorokanku sekit sekarang, dan hidungku mampet. Eomma… tidak enak.

 

“Tentu saja. Bagaimana kalau ada sesuatu terjadi padamu kalau aku tidak menungguimu? Aish… Appa dan Eomma pasti akan membuangku dari daftar warisan keluarga Lee yang sangat banyak itu,” sungutnya sambil mempoutkan bibirnya. Aku tersenyum, ternyata dia masih perhatian padaku. Saudariku memang sangat baik, hanya saja terlalu gengsi menunjukkannya.

 

“Kau haus?” tanyanya. Aku mengangguk karena tenggorokanku benar-benar sakit.

 

Hyunie membantuku minum. Aku sedikit lega ketika air itu melewati tenggorokanku yang kering. Tapi tetap saja tidak mengurangi rasa sakitnya. Aish, aku benar-benar menyedihkan.

 

“Young~ah, dari tadi ikanmu terus-terusan meneleponmu. Karena bunyi dering ponselmu sangat berisik makanya aku copot saja baterainya,” ujar Hyunie sambil menunjuk ponselku yang telah terpisah dengan baterainya di nakas tepat di samping baskom berisi es itu berdampingan dengan Samsung Galaxy S III miliknya yang dibeli karena patungan dengan Kyuhyun.

 

“Biar saja,” ujarku dengan suara yang tetap serak. Hah, benar-benar menyebalkan.

 

Hyunie melirik ponselnya yang bergetar lalu mendengus. “Lihat, bahkan dari tadi ikan itu juga mencoba menghubungiku. Apa maunya, hah?”

 

“Angkat saja,” ujarku masih dengan suaraku yang mengerikan. Hyunie menuruti perkataanku untuk menerima telepon dari namja manis berwajah ikan itu.

 

“Apa?” tanya Hyunie dengan nada malas ketika sudah tersambung.

 

“Yak! Kemana saudari kembarmu? Kenapa dia tidak menerima teleponku dan malah mematikannya? Kenapa sekarang dia tidak bisa di hubungi? Apa sekarang dia ada di dekatmu? Kalau iya, cepat berikan padanya sekarang! Yak! Lee Hyun-Ah, jawab aku! Aku benar-benar khawatir padanya. Astaga, kenapa kau tidak menjawabku? Kau punya dendam apa padaku sampai kau setega itu padaku?” jawab suara di seberang. Ya, Hyunie mengaktifkan loudspeakernya. Aku ingin tertawa mwndengar cerocosan ikan itu dan juga wajah Hyunie yang seolah-olah ingin membanting ponselnya yang lumayan mahal itu.

 

“Sudah? Astaga Lee Donghae, apa kau selalu seperti ini jika menelpon Young? Pantas saja dia muak padamu. Apa kau tahu? Dia sengaja tidak mengangkat telepon darimu dan berniat ganti nomor karena terganggu olehmu,” aku terkekeh mendengar jawaban Hyunie yang tentu saja hanya bualan saja.

 

“Hahaha, jangan bercanda Hyun-Ah~ya. Mana mungkin Youngie seperti itu. Kemana dia sekarang?” tanya ikan itu.

 

“Dia belum pulang.”

 

“Astaga, ini sudah malam dan kau membiarkannya berkeliaran di luar?. Bagaimana kalau dia diculik lalu diapa-apakan oleh preman-preman di luar sana? Saudara macam apa kau─. Astaga Hyung, aku tidak selingkuh dengan Hyun-Ah. Aku hanya menanyakan tentang Youngie-ku. Ini semua juga gara-gara kau dan rencana bodohmu itu,” sahut ikan itu. Dan sepertinya dia digoda oleh salah satu Hyungnya.

 

“Youngie-mu memangnya belum memberitahumu? Dia sudah punya kekasih, dan dia pergi dengan kekasihnya. Mungkin dia menginap di rumah kekasihnya sekarang,” ujar Hyunie santai. Aku melotot ke arahnya sedangkan dia hanya menjulurkan lidahnya ke arahku dan tersenyum penuh kemenangan. Aish, aku benar-benar ingin mencekiknya sekarang juga. Aish, pasti ikan itu berpikir bahwa aku gadis gampangan yang mau saja diajak menginap. Aish, makin lama bualannya makin tidak lucu.

 

“MWOYA? KENAPA BISA SEPERTI ITU, HAH? KAU JANGAN BERCANDA, ITU SANGAT TIDAK LUCU!” teriak ikan itu dari sana. Ah, mati di tanganku kau Lee Hyun-Ah

 

“Itu karena kau terlalu lambat. Kalau begini menyesal kan?” ujar Hyun-Ah penuh ejekan, lalu mematikan teleponnya.

 

“BUAHAHAHA. Ikan itu pasti sedang kebakaran jenggot sekarang. Nyahahahah,” tawa Hyunie lepas begitu saja, dia bahkan memukul-mukul kakiku tanpa sadar. Sakit.

 

“Kau puas? Awas saja kau. Aku akan merebut Kyuhyun darimu kalau sampai ikan bodoh itu percaya dengan bualanmu,” teriakku dan aku menyesalinya karena tenggorokanku tambah sakit.

 

“GYAHAHAHAHAHAHAHA.”

 

Aku hanya menatap Hyunie sebal karena tawanya tak kunjung berhenti. Tertawa diatas penderitaan orang lain, eo? Aku bangkit dan mengambil ponselku yang tergeletak mengenaskan. Aish, kapalaku pusing sekali. Aku memasang baterai ponselku dan menyalakannya. Dan benar saja, terdapat puluhan panggilan tak terjawab dan dan juga puluhan pesan tak terbaca. Semuanya dari orang yang sama, namja manis berwajah ikan bernama Lee Donghae itu. Baiklah, aku akan meneleponnya duluan dan mengklarifikasi bahwa semua yang dikatakan Hyunie itu bohong.

 

BaboLee calling…

 

Baru saja aku akan meneleponnya, tapi dia sudah menghubungiku duluan. Okay, aku bisa menghemat tagihan pulsa. Aku berbaring lagi karena kepalaku masih berdenyut-denyut. Lalu aku menekan tombol call dan menempelkan ponselku di telinga kananku.

 

Aku mendengarnya bernafas lega di seberang. Lalu diam beberapa saat, hanya suara tawa Hyunie yang masih saja terdengar. “Kau… dimana?” tanyanya pelan, tidak menggebu-gebu seperti pada Hyunie tadi.

 

“Di kamar,” jawabku serak. Aish, aku benar-benar tidak senang dengan suara seperti ini. Aku menyedot cairan bening dan encer yang meluber di hidungku. Aku tahu itu jorok, tapi biar saja.

 

“Gwenchana?” tanyanya dengan nada khawatir. Pasti dia tahu aku sedang sakit, makanya dia bertanya seperti itu.

 

“Ne,” aku menyedot cairan menyebalkan itu lagi dan suaranya benar-benar memalukan.

 

***

 

Lee Donghae’s POV

 

 

“Itu karena kau terlalu lambat. Kalau begini menyesal kan?” ejek Hyun-Ah lalu mematikan sambungan teleponnya. Aish, aku benar-benar ingin melempar apapun sekarang.

 

“YAK! Lee Hyun-Ah! Hyun-Ah~ya!” hah, benar menyebalkan.

 

“Wae? Hyun-Ah memutuskanmu? Sudah kubilang jangan selingkuh dengannya,” aku melirik tajam orang yang duduk disampingku ini, Yesung Hyung.

 

“Eun Young punya pacar,” sahutku singkat. Aku tidak ingin berdebat urusan tidak penting dengannya.

 

“Oh, bukankah bagus? Kenapa wajahmu malah frustasi begitu?” tanyanya menyebalkan. Apa dia buta? Aku menyukai ah tidak, aku mencintai Youngie-ku. Padahal aku yang meminta saran padanya bagaimana caranya mengetahui Youngie juga mencintaiku atau tidak

 

“Aish, aku mencintainya Hyung, dan gara-gara saran bodohmu itu semua jadi seperti ini,” aku mengacak-acak rambutku frustasi. Bagaimana ini? Bagaimana kalau yang dikatakan Hyun-Ah tadi benar?

 

“Ah, iya. Aku baru ingat,” ujarnya dengan cengiran aneh di wajahnya.

 

Aku hanya melirik Hyungku itu kesal. Hah, gara-gara aku konsultasi padanya tentang bagaimana caranya mengetahui perasaan Youngie padaku, aku malah jadi seperti ini. Yesung hyung menyuruhku untuk tidak menghubungi Youngie, karena menurutnya kalau Youngie mencintaiku maka dia akan merindukanku lalu menghubungiku duluan. Dan betapa bodohnya aku karena melupakan fakta bahwa Youngie tidak akan menghubungi duluan atau dia akan menghubungimu kalau kau memintanya menghubungimu duluan. Bahkan pada orangtuanya pun dia seperti itu. Bagus sekali Lee Donghae.

 

“Kenapa kau tidak menghubunginya dan menanyakannya langsung pada Eun Young?” usul Yesung Hyung yang langsung membuatku menoleh cepat kearahnya.

 

Entah kenapa aku yakin kalau Youngie juga mencintaiku. Firasatku berkata begitu dan juga karena insting lelaki mungkin? Aish, aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku yakin itu. Aku menghubunginya karena khawatir dia sudah melihat foto potongan adegan dramaku yang sedang berciuman dengan Yoon Seung-Ah. Bagaimana kalau dia sakit hati lalu bunuh diri? Astaga, membayangkannya saja membuat perutku bergejolak.

 

Aku mencoba mengikuti saran Yesung Hyung untuk menghubunginya dan bertanya langsung padanya tentang kebenaran ucapan Hyun-Ah, saudari kembarnya. Aku menekan speed dial nomor tiga di ponselku, karena dia suka angka tiga.

 

Aku hampir saja melonjak kegirangan karena tersambung. Tapi aku masih was-was, takut jika dia tidak mengangkat telponku mereject panggilanku seperti tadi. Tapi ternyata dugaanku salah, dia mengangkat telponku. Aku bernafas lega, lalu aku mengernyit heran ketika mendengar tawa yang menyebalkan milik Hyun-Ah, tentu saja karena tidak mungkin Youngie-ku akan tertawa mengerikan seperti itu. Mendadak pemahaman muncul dalam otakku. Pasti Hyun-Ah telah membohongiku. Tadi dia bilang kalau Youngie keluar bersama pacarnya kan? Tapi kenapa aku malah mendengar suara tawanya? Tidak mungkin kan kalau dia ikut kencan bahkan menginap?

 

“Kau… dimana?” tanyaku pelan, aku sudah tidak sepanik tadi ketika menghubungi Hyun-Ah.

 

“Di kamar,” jawabnya serak lalu disertai seperti ada suara isakan yang sangat memilukan. Astaga… apa dia sudah melihat foto itu dan menangis seharian sampai-sampai tidak mau menerima teleponku?

 

“Gwenchana?” tanyaku konyol. Tentu saja dia tidak baik-baik saja. Aku pasti juga akan sangat sakit hati kalau melihatnya berciuman dengan pria lain walau pun karena tuntutan pekerjaan.

 

“Ne,” jawabnya dengan suara yang tetap serak disertai isakan yang memilukan.

 

“Mianhae,” ujarku pelan. Gara-gara aku dia seperti ini.

 

“Untuk apa? Aku yang harusnya minta maaf,” isakannya makin kencang lalu aku denganr dia mengumpat pelan. Dia berdehem mengambil nafas dalam-dalam. Sebegitunyakah efek foto itu untuknya? Aku menggigit bibir bawahku.

 

“Ini sudah malam. Kau tidak tidur?”

 

“Aku… tidak bisa tidur,” jawabnya dengan suara yang tetap serak. Aish, pasti dia sangat tersiksa sampai tidak bisa tidur seperti ini.

 

“Tidurlah, istirahatlah dengan baik. Jalja,” ujarku. Aku tidak tahan mendengar suaranya yang seperti itu. Jahat sekali aku membiarkan Youngie-ku seperti itu.

 

“Ne,” jawabnya. Lalu memutus sambungan telepon. Aku sedikit lega, setidaknya ucapan Hyun-Ah tadi tidak benar.

 

“Bagaimana?” aku terkejut ketika mendengar seseorang bertanya kepadaku. Aku menoleh kesamping dan ternyata Yesung Hyung.

 

“Astaga, kau membuatku kaget, Hyung.”

 

“Kau saja yang aneh, dari tadi aku disini tapi kau malah tidak menyadarinya,” Yesung Hyung melirikku sinis.

 

Aku tidak menjawabnya. Apa Youngie benar-benar sakit hati karena foto itu? Kalau iya berarti dia juga mencintaiku. Ah, senang sekali rasanya. Baiklah, besok aku akan menemuinya dan meyakinkannya kalau aku hanya acting dan yang kucintai hanya dia seorang. Oh, kau benar-benar tampan Lee Donghae.

 

***

 

Ting Tong

 

Aku menekan bel apartemen yang di tempati oleh dua saudara kembar yang sama-sama cantik itu. Tapi Youngie-ku lebih cantik tentunya, kkkk. Ah, entah kenapa aku senang sekali hari ini. Apalagi jika mengingat kalau Youngie-ku sampai menagis seperti itu karena melihat fotoku yang berciuman dengan Yoon Seung-Ah, pasti dia sangat mencintaiku sekali.

 

“Mau apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu. Wajahmu tambah jelek sekali, kau tahu?” aku kaget mendengar seseorang bicara di depanku. Aku menoleh dan mendapati Hyun-Ah bersandar di daun pintu dengan tangan terlipat di depan dada.

 

“Mana saudari kembarmu?” tanyaku dengan senyum yang kuberikan semanis mungkin pada calon iparku ini.

 

“Young? Dia tidak ada. Dia pergi bersama pacarnya sejak pagi tadi,” jawabnya cuek. Aish, untung saja Youngie-ku tidak seperti ini.

 

“Jangan membohongiku lagi. Pagi kapan maksudmu, hah? Bukankah ini masih jam delapan?”

 

“Lalu? Aku tidak berbohong dan aku tidak pernah berbohong. Aku hanya membual saja. Jadi, sekarang lebih baik kau pulang. Anak manis dilarang bermain di rumah orang pagi-pagi,” ujarnya dengan tampang sok manis dan juga sok polos. Aish, lagi pula apa itu? Dia pikir aku anak kecil?

 

“Hyuniiiie! Kau kemanakan laptopku?” aku mendengar teriakan dari dalam. Dan itu suara Youngie-ku. Aku menatap penuh kemenangan ke arah Hyun-Ah. Dia hanya membalas tatapanku dengan tatapan datar. Lalu melengos masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Aku ikut masuk lalu menutup pintu apartemen mereka.

 

“Di ruang belajar. Aku masih pinjam. Kau pakai computer saja Young~ah,” teriak Hyun-Ah menjawab teriakan Youngie.

 

“Shirreo! Cepat kembalikan atau aku turun dari ranjang sekarang juga,” ancam Youngie. Tapi aku belum melihatnya karena dia ada di dalam kamarnya.

 

“Jangan manja, kalau kau mau turun dan membuatkanku sarapan silahkan saja. Tapi awas kalau kau tiba-tiba pingsan, aku akan membiarkanmu tergeletak mengenaskan di lantai,” jawab Hyun-Ah santai. Astaga, bisakah dia bersikap lebih manis?

 

“Ya sudah. Aku marah padamu,” jawab Youngie dengan nada kesal.

 

“Apa aku boleh masuk dan menemuinya?” tanyaku minta izin pada Hyun-Ah.

 

“Silahkan saja asal kau jangan memperkosanya,” jawabnya acuh. Ya Tuhan, kenapa dia sangat menyebalkan?

 

Aku membuka pintu kamar Youngie-ku, lalu masuk dan menutup pintunya. Ini pertama kalinya aku masuk ke sini. Kamarnya rapi, tembok di cat hijau muda, dan lantainya di lapisi karpet tebal dan empuk berwarna putih. Ranjangnya besar berwarna hijau dengan motif polkadot berwarna putih, selimutnya berwarna hijau dengan motif ikan nemo. Di salah satu sisi ada lemari besar berwarna putih dan di sebelahnya terdapat meja rias yang berwarna putih juga. Dan di sisi lain lagi ada pintu berwarna putih yang sedikit terbuka, kamar mandi.

 

Aku melihat Youngie-ku di salah satu sisi ranjang dengan seluruh tubuh terbalut selimut. Aku mendekatinya lalu ikut berbaring di sebelahnya dan memeluknya yang terbungkus selimut itu. Dia sedikit menegang.

 

“Hyunie, kau kenapa? Kalau kau ingin minta maaf jangan seperti ini. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa ini akan membuat kita terlihat seperti pasangan lesbi? Lepaskan aku!” aku tersenyum mendengar penuturannya. Jadi dia mengira aku itu Hyun-Ah? Aku diam saja. Dan sepertinya posisinya sekarang menghadapku, karena aku dapat mendengar deru nafasnya yang tidak beraturan dan juga suaranya yang cukup jelas dari sini. Aku mengelus punggungnya dan dia sedikit bergidik.

 

Dia membuka selimutnya kasar sampai ke dada dan terbelalak mendapati aku yang ada di hadapannya. Rambutnya awut-awutan, kantung matanya tebal dan sedikit menghitam. Astaga, kalau boleh jujur, sebenarnya dia benar-benar menyeramkan. Tapi masih cantik, dan aku tidak bohong.

 

“Pagi,” sapaku. Dia masih diam melihatku dengan tatapan tak percaya. Aku terkekeh lalu kusentuh pipinya yang berwarna pink itu. Kulitnya hangat, bahkan cenderung panas. Astaga, lihatlah Lee Donghae, akibat melihat adegan ciumanmu dengan lawan mainmu, Youngie sampai sakit seperti ini.

 

“Kau sakit?” tanyaku yang sebenarnya sudah jelas jawabannya.

 

Youngie mengangguk. “Kenapa kau kesini?”

 

Lagi-lagi aku tersenyum. “Untuk melihatmu. Gara-gara aku kau jadi seperti ini, kan?”

 

Dia mengerutkan alisnya bingung. “Apanya yang gara-gara kau? Aku begini karena aku hujan-hujanan kemarin,” ujarnya.

 

“Hujan-hujanan? Maksudnya? Tadi malam kau menangis dan sekarang kau sakit karena kau hujan-hujanan?” tanyaku masih tak mengerti.

 

“Apa? Kapan aku menangis? Aku sakit sejak kemarin, bukan sejak sekarang. Sekarang aku sudah agak sembuh kurasa.”

 

“Memangnya tadi malam ketika aku menelponmu kau sedang tidak menangis?” tanyaku memastikan. Hey, bukankah tadi malam dia terisak sampai seperti itu?

 

“Eo? Astaga ikaaaannn… aku tidak menangis. Aku akan menangis kalau laptpoku hilang atau rusak tiba-tiba, atau koleksi buku di perpustakaanku terbakar,” ujarnya disertai senyum geli yang terukir di bibirnya yang sedikit pucat.

 

“Lalu? Yang semalam itu?”

 

“Eh, i… itu ehm… aku… aku sed… sedang flu. Kau tahu? Errr… cairan bodoh itu terus keluar dari hidungku, jadi ak… aku… me… nariknya kembali,” jawabnya tergagap dan menunduk malu. Wajahnya yang sebelumnya sedikir merah jadi bertambah merah. Astaga, jadi… jadi…

 

“Jadi… kau… tidak cemburu padaku?” tanyaku. Aish, hancur sudah bayanganku bahwa semalam dia menangisiku. Ternyata itu… ingus?

 

“Cemburu padamu? Untuk apa? Aku bukan siapa-siapamu, jadi aku tidak punya hak untuk cemburu,” ujarnya pelan. Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan… mati kau Lee Donghae.

 

“Benarkah? Ah iya, aku kan bukan siapa-siapamu, kenapa kau harus cemburu ya? Hahaha,” aku tertawa garing untuk menutupi kekecewaanku. Jadi… aku memang bukan siapa-siapa untuknya, begitu? Kenapa dadaku sesak sekali ya? Aish, bagaimana kalau Youngie benar-benar tidak menyukaiku? Ah, mendadak keyakinanku tentang dia yang juga mencintaiku lenyap tak berbekas.

 

Aku mengeratkan pelukanku, menghirup udara di rambutnya. Walaupun rambutnya awut-awutan tak karuan, tapi baunya enak. Bau apel, sangat segar.

 

“Kau pakai shampoo apa?” tanyaku memecah keheningan yang lumayan agak lama diantara kami. Aku akan memakai shampoonya juga agar jika aku merindukannya bau rambutnya masih ada.

 

“Kenapa? Kau ingin memakainya juga supaya jika kau merindukanku kau dapat mencium bau rambutku di rambutmu?” tanyanya geli dan terkekeh di dadaku.

 

“Dari mana kau tahu?”

 

“Karena… karena kau mirip hantu ikan.”

 

“Yak! Jawaban macam apa itu, hah?” protesku tak terima. Karena aku mirip hantu ikan? Makhluk apa itu?

 

“Kau mencintaiku?” tanyanya tiba-tiba. Aku diam sejenak, kenapa dia tanya seperti itu? Mau menertawakanku, eo?

 

“Ne,” ah, akhirnya hanya satu kata singkat itu yang aku ucapkan.

 

“Aku juga,” ujarnya pelan, tapi aku masih dapat mendengarnya. Astaga, apa aku tidak salah dengar? Apa barusan dia baru saja berkata bahwa dia juga mencintaiku. Ya Tuhan, Ya Tuhan… apa aku sedang mimpi? Kenapa jantungku berdebar keras sekali ya? Dan kenapa juga wajahku panas?

 

“Ya sudah, kita pacaran saja,” sahutku berusaha sebiasa mungkin. Oh… Ya Tuhan… aku amat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat senang sekali. Aish, baiklah, aku akan memeluk Bada kalau aku sudah pulang nanti. Nyahahahaha.

 

“Ya sudah. Tapi, debaran jantungmu keras sekali, Ikan~ah. Kau begitu senang ya?”

 

“Kau pikir kau tidak?”

 

“Aish, kau ini. Sekarang cepat lepaskan aku dan keluar dari kamarku!” ujarnya datar.

 

“Yayaya. Kau marah? Maafkan aku kalau begitu,”

 

“Aku tidak bilang begitu. Aku mau mandi,”

 

***

 

Ah… haruskah aku menjelaskan kalu aku sangat senang sekali. Aish, aku seperti remaja yang baru jatuh cinta saja. Dari tadi aku terus tersenyum seperti seorang pangeran tampan yang sedang jatuh cinta.

 

Kau tahu apa yang sedang kulakukan sekarang? Aku sedang duduk di ruang TV bersama Youngie-ku dan dia duduk di pangkuanku sekarang, dan tanganku memluk pinggangnya, kkkk. Dia tampak lebih segar dan cantik ketika sudah mandi. Dan juga rambutnya basah karena baru keramas dan bau apelnya semakin tercium. Aish, aku benar-benar mencintainya.

 

Kami sedang menonton dramaku. Dan di episode ini ada kissing scenenya. Dia tidak akan marah, pasti dia sudah melihatnya kan?

 

“Aish, sudah beberapa hari ini aku tidak online. Dan aku tidak tahu gambar preview dramamu episode ini. Aku penasaran ada adegan seperti apa,” ujarnya tiba-tiba yang membuatku menegang. Jleb! Jadi… dia belum melihatnya? Astaga, bagaimana ini? Ya Tuhan… tolong aku. Aish, ini kan hanya acting. Tapi bagaimana kalu dia tidak bisa menerimanya? Apa yang akan terjadi? Putus bahkan sebelum hubungan kami berjalan satu jam? Andwae!

 

Menit demi menit berlalu. Aku semakin berdebar ketika hampir sampai di bagian itu. Astaga… hampir. Ya Tuhan, tolong aku. Hampir… hampir… hampir… Yah… terjadi sudah. Aku memjamkan mataku takut jika ada serangan mendadak dari Youngie-ku.

 

1 menit…

 

2 menit…

 

3 menit…

 

Kenapa lama sekali? Akhirnya aku membuka mata dan mendapati Youngie-ku tetap anteng di posisinya. Memelototi layar laptop Hyun-Ah yang kami pakai. Dia tidak marah? Ah, dia memang benar-benar pengertian. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyelamatkanku.

 

Aku terkejut ketika Youngie tiba-tiba merubah posisinya menjadi menghadapku. Dia tersenyum manis, sangat manis malah. Aku jadi sedikit waswas. Dia mengalungkan lengannya di leherku. Astaga, jangan bilang kalau dia ingin mematahkan leherku sekarang juga! Kalau aku mati sekarang bagaimana nasib ELF dan juga Super Juni─

 

CHU

 

Aku sangat terkejut ketika dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Ah, kejutan yang sangat manis. Aku suka, sangat suka malah. Bagaimana kalau dia sering-sering seperti ini saja? Dia mulai menggerakkan bibirnya. Aku juga ikut menggerakkan bibirku. Kenapa rasanya enak sekali? Baiklah, aku akan sering-sering melakukannya kalau begitu.

 

Kami berciman cukup lama. Dia melepas bibirnya dan menyeringai ke arahku.

 

“KELUAR DARI RUMAKU SEKARANG! KAU SANGAT MENYEBALKAN! DASAR HANTU IKAN BODOH!” Youngie-ku berteriak keras sekali lalu menjambak rambutku keras.

 

“Youngie, lepaskan jebal! Ini sa… aaarrrggghhhh,”

 

“MATI KAU IKAN JELEK!”

 

“Youngie, ini sangat sakit sekali. Aaarrrggghhh…”

 

 

END

 

15 Comments (+add yours?)

  1. Hyo
    Mar 02, 2013 @ 13:22:29

    Donghae;;;; narsiiiiiiiiiis buanget disini wkwkwkw

    Reply

  2. gojjluckyu
    Mar 02, 2013 @ 14:15:19

    bwahahahahaha!
    Kasihan Donghae-nya dijambak habis*an sama Youngie =…=
    *Abang Donghae, berlindung di belakangku. Aku akan melindungimu! Kkk~

    Reply

  3. dewionkyu99
    Mar 02, 2013 @ 15:35:29

    ending nya lucu apalagi pas adegan setelag kissing nya, abang ikan dijambak ma eunyoung nya

    Reply

  4. sheila
    Mar 02, 2013 @ 15:45:17

    omo ending-ny lcu bgt. youngie bsa jg garang kya kembaran-ny. haha…

    Reply

  5. esahemoe2
    Mar 02, 2013 @ 15:46:16

    wanita memang menyeramkan

    Reply

  6. gaem
    Mar 02, 2013 @ 16:28:53

    wkwkwkwkwkwwk

    doh ngakak bacanya xD

    BIKIN SEQUELNYA THOOOOOOOOOOOOORRRRRRRR XDXDXD

    JAEBAL THOOOOOOOOOOOR XD

    PLEASE PLEASE PLEASE……

    SEQUEL

    SEQUEL

    SEQUEL

    SEQUEL

    SEQUEL
    XD XD

    AUTHOR FIGHTING!!!!!!!!!!! ‘-‘)9

    Reply

  7. Miss roro
    Mar 02, 2013 @ 18:47:12

    Gokiill gokiill gokiilll
    hahahahahahahahahahhahahahahahahahhahahahaha

    lanjut lanjut LANJUTKAN !!!

    Reply

  8. agetha camomile (@wifekanginSJ)
    Mar 02, 2013 @ 18:54:00

    jahahahahaahah 😀
    gie adegan romantisnya kq tba2 da suara gaduh gtu…
    daebak thorrrr 😀

    Reply

  9. Flo
    Mar 02, 2013 @ 21:17:26

    wakakak, ternyata youngie rada evil juga klo cemburu…
    habis deh rambut haeppa dijambak…

    Reply

  10. nrfaa
    Mar 03, 2013 @ 04:53:56

    Kyaaa endingnya-_- Donghae narsis banget, yg namanya pr tuh pasti punya rasa cemburu paboLee *hiw

    Reply

  11. Nurulau995
    Mar 03, 2013 @ 08:48:01

    Bwahahahaha. . . .
    Ngkak bca nya. . .

    Reply

  12. cho kyuu's
    Mar 03, 2013 @ 11:33:09

    Sequeeel thor >< nyahaha si donghae endingnya kasian banget XD

    Reply

  13. imkimowl
    Mar 04, 2013 @ 11:54:55

    wahahahaha ngakak XD lucu ending nya,kirain beneran mau di cekek hae nya XD good thorr ^^)9

    Reply

  14. vielfbee
    Mar 15, 2013 @ 08:17:59

    Ampun dahh… Om ikan narsisnya stadium akhir
    Muehehehehehe

    Reply

  15. haenifishy
    Apr 23, 2013 @ 21:58:01

    kyaa^^
    oppa narsis bnget deh :$

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: