YOU CHANGE MY LIFE [2/?]

 

 

Author  : Kang Ha Gun

Title       : You Change My Life

Cast       : Seo Ji Young (OC)

Cho Kyuhyun

Kim Kibum

Park Jungsoo as Park-euisa

And many others

Genre   : Rommance, friendship, angst, tragedy

Rated    : PG-13

Length  : Chaptered

 

 

 

There is no bad thing in this world

It’s about how we look at each position

Think it again, and then wake up

Ji Young-ah, fighting!

 

 

Di depan meja belajarku, aku terduduk, teringat akan segala hal yang dijelaskan oleh Park-euisanim kapadaku. Kejadian di rumah sakit tadi sore pun terus-menerus muncul di dalam ingatanku. Kali ini, aku tidak hanya meratapi nasibku, tetapi juga nasib malang yang menimpa seorang bocah kecil bernama Cho Kyuhee. Kenapa? Kenapa dunia ini begitu tidak adil?

 

“Aissh… kenapa gelap sekali di kamar ini,” gerutu seseorang yang telah memasuki kamarku dan membuatku terlonjak. Kemudian terdengar bunyi ‘ceklek’ dan lampu kamarku pun menyala.

 

“Eomma?” gumamku, berbalik ke arah pintu, tempat eomma sedang berdiri saat ini.

 

“Young-ah, gwaenchanayo? Bagaimana dengan kesehatanmu seharian ini? Tidak terjadi sesuatu yang buruk, kan?” Tanya eomma sambil berjalan menghampiriku.

 

“Nde, gwaenchanayo, Eomma. Seharian ini aku sehat-sehat saja seperti biasanya,” jawabku sambil tersenyum.

 

“Kenapa kau pulang semalam ini? Itu tidak baik untuk kesehatanmu,” tegur eomma sambil memegang bahuku.

 

“Aku ada urusan sebentar tadi. Mianhae, tapi sepertinya akhir-akhir ini aku akan pulang terlambat, Eomma.”

 

“Mwoya? Andwaeyo! Kau tidak boleh terlalu lelah, Ji Young-ah,” larang eomma.

 

“Geokjeongma. Aku akan baik-baik saja, Eomma,” sahutku berusaha meyakinkan eomma. Setelah beberapa saat berdebat, eomma pun menyerah. Ia lalu keluar kamarku setelah memberi beberapa nasehat dan mengingatkanku untuk minum obat.

 

Aku kembali menghadap meja belajarku. Kukeluarkan buku-buku yang ada di dalam tasku, kemudian kupungut buku harianku. Saat ini, ada sesuatu yang hendak kutuliskan. Aku membuka buku harianku dan… omo! Kemana pulpen kesayanganku itu? Pulpen yang selama ini menemaniku untuk menulis diary. Seingatku aku menyelipkannya di buku harian ini dan sudah kumasukkan tadi ke dalam tas. Aku pun mencarinya di dalam tasku, tapi tidak kunjung ketemu juga. Ketika itu aku menemukan sebuah saputangan yang menyangkut di salah satu buku tulisku. Aku memungut saputangan berwarna putih itu dengan garis berwarna emas di pinggirnya, serta inisial ‘K’ yang dibordir dengan benang biru.

 

Saputangan ini… milik namja itu, ingatku. Oh ya, tadi sore aku lupa mengembalikan saputangan ini padanya karena buru-buru menghindarinya. Ah, pantas saja ia memanggilku. Eotthokhae? Bagaimana caranya aku mengembalikan saputangan ini padanya? Aku bahkan tidak mengenalnya.

 

Kembali, aku teringat akan sosok namja itu. Pandangannya yang teduh, senyumnya yang menawan, suaranya yang merdu… memandangnya membuat hatiku terasa damai. Di kala aku sedang rapuh, ia datang padaku seperti seorang ksatria. Aku tahu pertemuan itu hanya kebetulan, tetapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh pada namja itu. Ah, entahlah. Tidak mungkin aku langsung menyukainya begitu saja, kan? Mau dikemanakan Kibum yang selama ini aku impi-impikan?

 

Aku pun memandang kembali saputangan itu. Apa kelak kami bisa bertemu lagi? Ah, kalau begitu aku harus mencuci saputangan ini supaya bisa kukembalikan padanya bila bertemu dengannya lagi.

 

Esok harinya, tepat ketika aku keluar kamar untuk mulai menjalankan aktivitasku seperti biasanya, aku kembali mengenakan topeng sandiwaraku yang selama dua hari ini setia menemaniku. Berlagak seperti orang yang sehat dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku, menjalani rutinitasku seperti biasa. Hanya ada 2 hal yang berbeda, yaitu semangatku dalam menjalani sisa hidupku dan akhir-akhir ini sepertinya aku akan sibuk dengan kegiatan baruku.

 

Kumasuki ruang kelasku. Semua yang terjadi nampak biasa saja. Aku tersenyum sedih. Aku ini merupakan pembohong yang hebat, kan? Sejauh ini, tidak ada yang mengetahui penyakitku. Di atas itu, bahkan orangtuaku tidak tahu perasaanku yang sesungguhnya terhadap penyakit ini. Yah, memang hanya Park-euisanim saja yang dengan sukses menebak perasaanku yang sesungguhnya. Mungkin karena ia sudah cukup berpengalaman sebagai dokter.

 

Ketika istirahat, kuhampiri So Hee di kelasnya. Ketika aku memasuki ruang kelas 2A, tampak So Hee yang masih giat menekuni buku di hadapannya.

 

“Yaa, ini jam istirahat. Tutuplah bukumu dan buka bekalmu, ppali,” sahutku sambil duduk di sampingnya dan meletakkan kotak bekalku di meja. Tanpa berkomentar, So Hee pun menuruti ucapanku.

 

“Ji Young-ah, apa kau ada waktu pulang sekolah nanti? Temani aku ke toko buku, eo?” tanyanya sambil membuka kotak bekalnya.

 

“Woaahh… sejak kapan kau jadi tertarik untuk ke toko buku, So Hee-ya?” decakku kagum. Ya, Kang So Hee bukanlah tipe orang yang suka membaca buku sepertiku. Ia hanya membaca buku jika itu ada kaitannya dengan pelajaran sekolah.

 

“Sejak Song-seonsaengnim memberiku tugas untuk membuat makalah seni sebagai ganti absenku dari pelajarannya minggu lalu,” jawabnya sekenanya sambil memasukkan segumpal nasi ke dalam mulutnya.

 

“Sudah kuduga. Mana mungkin orang sepertimu akan pergi ke toko buku untuk sekedar membeli buku yang menarik untuk dibaca,” sindirku. So Hee pun berteriak atas sindiranku.

 

Kedua temanku, Kang So Hee dan Jang Nara memang 2 orang dengan kepribadian yang bertolak belakang. Nara adalah tipe yeoja yang feminin, cantik, baik hati, dan juga perhatian. Tidak heran jika banyak namja yang menyukainya. Selama ini, sudah 2 kali ia berganti pasangan dibandingkan aku yang masih sendiri ini. Sedangkan So Hee, dia tipe yeoja pecinta basket yang sikapnya blak-blakan. Ia tidak terlalu peka dengan namja, buktinya sampai sekarang pun ia belum mengetahui kalau Jongwoon menyukainya dan sampai saat ini, ia juga belum mempunyai pasangan seperti diriku. Walaupun sikapnya yang seperti namja itu, tetapi aku lebih nyaman jika berada di dekat So Hee dibandingkan dengan Nara. Ia lebih memahamiku walaupun tidak terlalu menunjukkannya.

 

Kemudian aku teringat janjiku pada Kyuhee. “Mian, tapi aku sudah ada janji sore ini,” kataku sedih.

 

“Jinjja? Arraseo,” ujarnya enteng tanpa bertanya lebih lanjut lagi.

 

“Bagaimana kalau kau minta temani Jongwoon? Dia pasti akan mau menemanimu,” usulku dengan tatapan berbinar. Dengan begini, aku bisa mendekatkan mereka berdua sekaligus. Tetapi So Hee hanya menatapku dengan malas.

 

“Tidak perlu, lupakan saja,” tolaknya sambil menopangkan kepalanya dengan tangan. “Aku akan pergi sendiri setelah bermain basket nanti.”

 

“Yaa! Bisakah kau berhenti bermain basket di siang bolong? Kau ini seorang yeoja, tapi lihatlah, kulitmu menghitam gara-gara kebiasaanmu bermain basket di siang bolong seperti itu!” sahutku sambil menggetok kepalanya dengan sendok.

 

“Yaa, bisa jugakah kau menghilangkan kebiasaanmu menggetok kepalaku dengan sendok kotormu itu?” sahutnya tak kalah keras dariku.

 

“Aigoo… tidak bisa,” jawabku cepat.

 

“Kalau begitu aku juga tidak bisa,” balasnya dengan cepat pula. Kami pun saling cemberut dan memalingkan wajahku kami masing-masing. Kemudian, aku meliriknya dan ternyata ia juga melirikku. Kami pun akhirnya tertawa dengan tingkah kami.

 

“So Hee-ya, aku ingin mengembalikan bukumu yang aku pinjam kemarin,” ujar seseorang sambil mengulurkan sebuah buku di hadapan kami. “Ini.”

 

Aku mengangkat kepalaku dan terkejut ketika mendapati siapa yang tengah berdiri di samping kami berdua. Kim Kibum. “Gomawo,” ucapnya pelan yang hanya terdengar oleh kami berdua. Aku terperangah melihatnya.

 

“Ne, cheonman, Kibum-ah,” jawab So Hee sambil menerima buku itu. Ia tersenyum sekali lagi dan berlalu meninggalkan kami dan berjalan ke arah kelasnya. Aku masih termangu menatap kepergiannya. Sikap dingin dan misteriusnya ini… benar-benar membuatku terpesona. Senyumnya yang indah dan tatapannya yang tajam, seakan membunuhku jika dia melakukan itu satu menit saja khusus untukku.

 

Namja itu… namja yang telah mencuri hatiku selama 2 tahun ini. Namja yang selalu membuatku memikirkannya dan semangat datang ke sekolah hanya untuk melihat wajahnya. Tapi sekalipun aku tidak pernah berani untuk mendekatinya selama 2 tahun ini.

 

“Yaa! Berhenti menatapnya seperti itu! Dasar yeoja aneh,” cecar So Hee. “Kalian ini pernah sekelas bahkan satu kelompok saat tugas drama dulu, tapi kenapa sekalipun kalian tidak pernah mengobrol?” omel So Hee lagi, heran dengan sikap penakutku yang luar biasa ini.

 

“Yaa! Kau tidak lihat tadi? Dia itu begitu tertutup dan sulit untuk didekati,” aku membela diri.

 

“Tidak juga. Buktinya aku bisa mengobrol lepas dengannya,” sanggah So Hee. “Aiissh… kau saja yang terlalu penakut untuk mendekatinya duluan. Kalau kau benar-benar menyukainya, aku bisa membantumu supaya kalian dekat.”

 

Aku tersenyum simpul. Tawaran itu sudah berkali-kali ditawarkan So Hee padaku, karena ia tidak tahan melihat kebiasaanku yang suka memandangi Kibum dari kejauhan. Tetapi selama ini aku selalu menolak tawaran itu karena tidak berani. Dan kini, aku pun kembali menolak tawaran itu.

 

“Aniyo, tidak perlu. Begini, aku juga sudah bahagia walau hanya memandangnya dari kejauhan,” tolakku sambil menggeleng lemah dan menunduk. Kali ini, aku menolak tawaran itu bukan karena takut, tetapi karena sudah tidak perlu untuk seorang Kim Kibum untuk mengenalku. Sudah terlalu terlambat. Aku akan segera pergi dari dunia ini.

 

“Dasar nappeun yeoja,” desis So Hee. “Setiap kali mau kubantu, pasti kau menolaknya.”

 

“Mianhae, So Hee-ya. Aku tidak bermaksud untuk menolaknya. Hanya saja…” aku tersadar seharusnya aku tidak bersikap seperti orang lemah yang memprihatinkan seperti ini. Kemudian aku pun mengganti ekspresiku dan mengangkat kepalaku. “Hanya saja aku rasa ia lebih cocok jika bersamamu,” ujarku dengan wajah riang.

 

“Yaa! Michin,” sahutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Senyum yang mengandung berjuta arti.

 

 

***

 

 

“Aisshhh… Kenapa tidak ada? Aku yakin jika pulpen itu terjatuh, pasti ada di sekitar sini,” gerutuku sambil membungkuk, mencoba mencari pulpen bunga matahariku di bawah bangku taman yang aku duduki kemarin. Kusapu daun-daun yang bertebaran di tanah dengan tanganku, melihat apakah pulpenku itu tersembunyi di baliknya atau tidak. Tetapi sia-sia saja. Sudah 15 menit aku mencari disini, tapi aku tidak kunjung menemukan pulpen bunga matahariku itu.

 

“Aissshh… kemana perginya pulpen itu? Tanpa pulpen itu, hidupku rasanya tidak lengkap,” gumamku lirih. Ya, pulpen itu adalah pemberian appa tiga tahun yang lalu. Jarang kugunakan, hanya untuk menulis diary saja, tetapi pulpen itu merupakan tanda hobiku menulis, juga merupakan tanda kalau appa mendukung hobiku menulis. Eotthokhae? Ada banyak hal di kepalaku yag harus segera dituangkan dalam diary, tetapi menulis diary tanpa menggunakan pulpen itu rasanya tidak lengkap.

 

Akhirnya aku pun menyerah setelah beberapa menit mencari lagi. Hufh, terpaksa aku harus menggunakan pulpen biasa untuk menulis diaryku. Dengan langkah gontai, aku pun berjalan meninggalkan taman itu menuju rumah sakit.

Aku berjalan memasuki halaman rumah sakit yang luas. Lalu lalang kendaraan beserta orang-orang yang lewat di sekitar jalan ini cukup ramai sore ini. Kemudian aku memasuki lobi rumah sakit yang juga tampak dipenuhi oleh banyak orang.

 

Kulihat salah satu lift yang sudah terbuka dengan beberapa orang di dalamnya. Dengan sedikit berlari, aku pun masuk ke dalam lift itu. “Chankamanyo!” seruku. Untunglah aku masih bisa masuk sehingga tidak perlu menunggu lift yang lain lagi. Tetapi ketika aku sudah berada di dalam lift, aku seperti melihat sesosok namja yang tak asing bagiku.

 

Aku menyipitkan mataku, berusaha memfokuskan pandanganku untuk melihat namja yang sedang berjalan di antara kerumunan orang itu. Namja itu… namja yang kemarin sore meminjamiku saputangan. Tidak salah lagi. Walaupun tidak terlalu jelas, tetapi dari perawakannya, tapi aku yakin itu dia.

 

“Chankaman!” seruku lagi sambil buru-buru mengambil saputangan itu dari dalam tasku. Tetapi tepat ketika aku hendak melangkah keluar, pintu lift itu tertutup dan lift pun terangkat ke atas. Aku hanya terdiam memandangi pantulan bayanganku di pintu lift. Jika saja aku lebih gesit, mungkin aku sudah bisa mengembalikan saputangan ini padanya.

 

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Dua orang yeoja pun keluar dari lift, begitu pula denganku. Kulangkahkan kakiku dengan gontai ke arah kamar rawat Kyuhee.

 

“Annyeong, Kyuhee-ya,” sapaku ketika membuka pintu. Nampak ia yang sedang konsentrasi menatap buku di pangkuannya, mengalihkan pandangannya padaku. Seketika itu juga senyuman lebar langsung menghiasi wajahnya.

 

“Annyeong, Noona,” pandangannya mengikutiku yang berjalan mendekat padanya. “Ah, akhirnya Noona datang juga,” katanya dengan nada lega bercampur kecewa.

“Waeyo?” tanyaku.

 

“Seandainya Noona datang sedikit saja lebih awal, Noona pasti akan dapat bertemu dengan hyungku,” gumamnya sambil menunduk. Aku tersenyum.

 

“Mianhae, Kyuhee-ya, Noona tidak bisa datang sedikit lebih cepat tadi,” ujarku.

 

“Gwaenchana, Noona. Noona kan bisa bertemu dengannya lain kali,” ucap Kyuhee tenang.

 

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau kerjakan?” tanyaku penasaran seraya lebih mendekat padanya.

 

“Ini tugas yang diberikan hyung padaku. Tadi ia datang kesini dan mengajariku mengenai materi ini,” jawab Kyuhee sambil menunjukkas buku tulis yang ada di pangkuannya padaku. Aku melihatnya. Beberapa soal matematika. Tetapi tiba-tiba aku terkejut melihat jenis soal yang tertera di buku itu. dengan cepat aku bertanya padanya.

 

“Kyuhee-ya, berapa usiamu?”

 

“Tujuh tahun”

.

“Tapi ini soal… ini soal bangun luas. Bagaimana mungin anak berumur 7 tahun sudah mempelajari hal semacam ini,” ujarku tak mengerti.

 

“Tenang saja, Noona. Hyung ku sudah mengajariku bagaimana cara mengerjakannya tadi. Dan aku juga bosan mengerjakan soal-soal untuk tingkatan kelasku,” ucapnya santai. Apa dia itu serius dengan ucapannya? Bangun seharusnya diajarkan beberapa tahun lagi untuknya. Kemudian aku pun melihatnya tengah berkonsentrasi mengerjakan soal-soal itu.

 

Aku memperhatikan. Memang soalnya tidak terlalu sulit, namun bagi anak seusia Kyuhee, apa ia mampu untuk mengingat rumus dan menganalisis setiap soal yang diberikan?

 

Aku tercengang ketika dua puluh menit kemudian Kyuhee sudah menyelesaikan kesepuluh soal itu. “Noona, bisa tolong Noona periksa hasil pekerjaanku,” pintanya sambil menyodorkan bukunya padaku. Aku pun menerimanya dan mengoreksi jawabannya.

 

Kembali aku tercengang olehnya. Anak ini… hebat sekali dia. Bisa mengerjakan sepuluh soal matematika tanpa ada satu pun jawabannya yang salah. Aku menatap Kyuhee dengan kagum.

 

“Noona, kenapa menatapku seperti itu? Apa jawabanku ada yang salah?” tanyanya polos.

 

Aku menggeleng sambil terus menatapnya. “Ani, justru jawabanmu benar semua,” jawabku masih dengan ekspresi kagum.

 

“Jinjjayo? Yeaaayy… Gomawo Noona sudah mau mengoreksi hasil pekerjaanku.”

 

Aku hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian kami pun mengobrol dan bermain hingga tidak terasa hari sudah malam. Aku menyuapi Kyuhee makan malamnya. Dan ia pun makan dengan lahap. Aku menatapnya. Anak ini, benar-benar anak yang luar biasa. Semangat hidup dalam dirinya tidak pernah padam sekalipun ia tahu penyakitnya itu sangat parah. Tidak pernah semenit pun ia meratapi nasibnya dan justru terus menatap hari-harinya dengan senyuman yang tidak pernah luput menghiasi wajahnya.

 

Haruskah aku menjadi sepertinya? Meniru sifat positifnya itu? Saat bersamanya aku seperti melupakan penyakitku sama sekali dan ikut hanyut dalam semangat hidupnya. Senyumnya itu pun menulariku hingga aku pun bisa tertawa lepas saat bersama dengannya. Anak ini… aku benar-benar mengagumi dirinya. Mengagumi semangat juang dalam dirinya.

 

Tidak terasa aku telah menyuapinya sesendok demi sesendok, hingga bubur di dalam mangkuk yang aku pegang pun habis. “Omo, kemana perginya bubur-bubur itu? Kenapa mangkuk ini menjadi kosong?” aku bercanda dan pura-pura menunjukkan ekspresi terkejut.

 

“Hahaha, bubur-bubur itu telah bermigrasi ke dalam perutku, Noona,” jawabnya sambil tertawa dan menepuk-nepuk perutnya. Aku pun ikut tertawa.

 

“Baiklah, sekarang saatnya kau minum obatmu,” kataku seraya menaruh mangkuk di meja. Lalu kuambil beberapa obat yang ada di meja, beserta segelas air. “Cha, ini,” ujarku sambil menyodorkan obat itu kepadanya. Ia pun menerimanya, lalu memasukkan obat-obat pahit ke dalam mulutnya, dan meneguk minumnya. “Wooaaah, kau hebat sekali, berani makan obat-obat pahit itu,” decakku kagum.

 

“Ne, tentu saja, Noona. Aku sudah meminum obat ini sejak kecil. Jadi aku sudah terbiasa.” Jawabannya itu membuat hatiku terasa miris lagi. Sejak kecil ia pun sudah disuguhi oleh beraneka ragam obat serta pil-pil pahit seperti itu dan ia melakukannya dengan tidak pernak mengeluh.

 

Kemudian aku pun pamit padanya hendak pulang. “Apa Noona akan datang lagi besok?” tanyanya dengan wajah penuh harap. Aku menatapnya bingung.

 

“Mollayo. Aku harap begitu,” jawabku.

 

Kyuhee pun menunjukkan ekspresi sedihnya dan menunduk. Aku pun memegang bahunya untuk meminta maaf. “Kyuhee-ya…”

 

“Gwaenchana. Tapi kapan-kapan Noona bisa datang lagi, kan?” tanyanya, kali ini dengan ekspresi penuh harap yang lebih kuat dari sebelumnya.

 

Aku tersenyum. “Ne, Noona pasti akan datang lagi,” janjiku sambil mengangguk. Dia pun tersenyum. Kemudian aku pulang dengan perasaan lega dengan senyum polos Kyuhee yang masih terbayang-bayang di benakku.

 

 

***

 

 

Hari ini, seusai pulang sekolah. Ada satu tempat yang ingin kukunjungi. Kumasuki halaman bangunan yang cukup luas dan rindang, yang dihiasi dengan beberapa ayunan dan permainan lainnya. Tujuanku datang kesini adalah untuk menemui anak kecil yang kemarin berjumpa denganku.

 

 

Flashback hari kemarin

Aku sedang berjalan di troatoar menuju rumah sakit ketika tiba-tiba seseorang yang sedang berlari menabrakku hingga terjatuh. Ah, bukan seseorang, melainkan dua orang. Dan kini kami bertiga tengah terduduk di trotoar yang cukup ramai dilewati orang-orang.

 

“Jin Shim-ah, gwaenchanayo?” tanya bocah laki-laki kecil dengan panik.

 

“Ne, gwaenchana, Yoo Jin-ah,” jawab anak perempuan yang ditanyai tadi. Kemudian bocah bernama Yoo Jin itu pun membantu Jin Shim bangkit berdiri, lalu mereka menolongku untuk berdiri.

 

“Noona, jeoseonghamnida. Jeongmal jeoseonghamnida,” seru Yoo Jin sambil membungkuk berulang-ulang.

 

“Ne, Eonnie, jeongmal joseonghamnida. Eonnie tidak kenapa-napa, kan?” Jin Shim pun ikut meminta maaf dan membungkuk, lalu menanyai kondisiku dengan khawatir.

 

“Nan gwaenchana. Geokjeongma,” jawabku sambil tersenyum. Tetapi ekspresi lega belum juga terpancar dari wajah mereka. Tiba-tiba, seorang ahjussi berbadan gemuk datang menghampiri kami.

 

“Yaa, kalian anak-anak nakal! Kemari kalian!” teriaknya yang datang tergopoh-gopoh. Serentak, kedua ekspresi kedua anak itu pun menjadi bertambah panik. Ah, jadi ini alasan kenapa mereka lari dengan begitu terburu-buru hingga tidak melihat jalan. Aku tidak tega melihat ekspresi ketakutan yang terpancar dengan jelas di wajah mereka, lalu menyembunyikan mereka di belakangku.

 

“Ige mwoya, Ahjussi?” tanyaku.

 

“Yaa! Kau minggirlah! Urusanku dengan kedua anak nakal itu!” ahjussi itu hendak menangkap anak kecil di belakangku ini. Aku pun merentangkan kedua tanganku, menghalangi ahjussi gemuk itu.

 

“Jangan sakiti mereka!” teriakku membela mereka berdua.

 

“Sakiti? Memang kau ini siapanya mereka, hah?” serunya sambil berkacak pinggang. Aku bingung harus berkata apa. Haruskah aku bilang kalau aku orang yang ditabrak kedua anak kecil itu tadi sewaktu mereka kabur dari kejarannya?

 

“Aku… aku kakak perempuan mereka berdua!” jawabku lantang. Sontak ketiga orang di sekitarku ini pun terkejut. Tetapi kedua anak kecil ini terus menggenggam jas seragam cokelatku dengan ketakutan.

 

“Eo, jadi kau adalah saudara mereka? Kalau begitu aku minta pertanggung jawaban darimu! Kau tahu, dongsaengdeulmu ini telah mencuri apel-apelku!” seru ahjussi itu sambil menunjuk kedua anak di belakangku.

 

“Mwo?” aku tidak percaya.

 

“Aniyeyo, kami tidak mencuri! Kami hanya memungut apel yang kebetulan jatuh dari trukmu saja tadi!” sanggah Yoo Jin dengan suara keras.

 

“Nde, kami sama sekali bukan pencuri! Kami tidak mencuri apapun dari Ahjussi!” Jin Shim pun turut mendukung pernyataan Yoo Jin.

 

“Tidak mungkin, kalian pasti berbohong! Dasar pencuri-pencuri kecil! Aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancam ahjussi itu dengan keras yang membuat kami makin terkejut.

 

“Ahjussi, dimana hati nuranimu? Tidakkah kau percaya dengan perkataan mereka ini?” sahutku benar-benar terkejut. Hanya masalah perkara kecil seperti ini saja ia hendak membawanya ke meja hijau?

 

“Aku tidak peduli! Sekali pencuri, tetap pencuri. Kajja, ikut aku!” ahjussi itu pun hendak menarik tangan Jin Shim. Jin Shim dan Yoo Jin pun segera berteriak meminta tolong padaku.

 

Aku bingung. Tidak mungkin aku membayar apel-apel yang dituduhkan pada mereka itu. Kalau begitu, itu sama saja aku percaya bahwa mereka telah mencuri. Eotthokhae? Kulihat wajah mereka yang pucat pasi, bahkan kini Jin Shim pun mulai menangis. Naneun mideoyo. Aku percaya kalau mereka bukan pencuri. Hanya dari ekspresinya saja, orang sudah tahu kalau mereka itu berkata benar. Tetapi kenapa ahjussi keras kepala itu tidak mau percaya?

 

Aku hanya terdiam memandangi ahjussi yang tengah membawa Jin Shim dan Yoo Jin semakin menjauh, sementara otakku berputar memikirkan cara. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas dipikiranku.

 

“Yaa, ahjussi, tunggu!” seruku seraya lari mengejar mereka.

Flashback end

 

 

Aku menghirup nafas dalam-dalam dan kurasakan udara segar di sekitar. Tempat ini merupakan panti asuhan yang sudah lama dibangun. Rumah bagi anak-anak yang sudah tidak mempunyai atau ditinggalkan oleh  orangtuanya. Terdapat dua gedung yang terbuat dari bata yang sudah tampak tua namun kokoh. Sementara di seberang bangunan ini, terdapat sebuah gereja dengan salib di puncaknya dan lonceng besar. Gereja itu tampak sepi, karena tidak ada jadwal kebaktian untuk hari ini. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar, membuat lingkungan ini menjadi lebih rindang. Burung-burung gereja pun tidak absen menghiasi lingkungan ini, juga dengan burung-burung lainnya, yang masih dengan merdeka membangun sarangnya di atas pohon-pohon itu.

 

Kulihat kerumunan anak kecil yang sedang bermain di taman bermain di halaman panti asuhan. Aku menyipitkan mata, mencoba mencari kedua anak yang menjadi tujuanku datang kemari. Kemudian, aku pun melihat mereka tengah bermain kejar-kejaran bersama dengan anak-anak lainnya. Kuperhatikan wajah bahagia mereka ketika sedang bermain.

 

“Jin Shim-ah! Yoo Jin-ah!” seruku memanggil mereka sambil melambaikan tangan kananku. Mereka pun menoleh dan melihatku.

 

“Eo? Ji Young-noona!” sahut Yoo Jin terkejut melihat kehadiranku. Namun kemudian ia tersenyum.

 

“Ji Young-eonnie…!!” seru Jin Shim sambil berlari ke arahku dengan gembira.

 

Aku hendak melangkahkan kakiku ketika tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Rasa sakit yang seharian ini terus menyiksaku. Kupegang kepalaku yang berdenyut-denyut sangat sakit. Sudah berkali-kali rasa sakit ini menyerang kepalaku hingga rasanya mau mati. Kupejamkan mataku sejenak untuk menahan dan mengusir rasa sakit ini.

 

“Ji Young-eonnie…!” panggil Jin Shim lagi masih dengan suara riang ketika ia tiba di hadapanku. Tetapi mataku masih terpejam dan aku masih mencoba mengatur nafasku yang mulai tersengal. “Ji Young-eonnie, waenniriya?” Tanya Jin Shim.

 

“Ji Young-noona, gwaenchanayo?” Tanya Yoo Jin juga yang sudah tiba di hadapanku bersamaan dengan Jin Shim tadi. Ia pun memegang bahuku. Andwae! Aku harus kuat!

 

Dalam sekejap rasa sakit itu hilang begitu saja. Sama seperti sebelum-sebelumnya, rasa sakit ini selalu datang dan pergi begitu saja. Kubuka mataku kembali dan memberikan mereka senyuman manisku untuk menenangkan mereka yang menatapku dengan panik. “Gwaenchana.”

 

“Keundae, kenapa tadi Eonnie berekspresi seperti itu? Membuat orang khawatir saja,” gerutu Jin Shim marah, tapi  lebih terdengar seperti ungkapan cemas di telingaku.

 

“Mianhae, hehehe,” ringisku.

 

“Noona, apa yang Noona lakukan disini? Apa Noona sedang ingin mencari sesuatu?” Tanya Yoo Jin bingung.

 

“Wae? Apa Noona tidak boleh datang kesini?”

 

“A… aniyeyo. Aku kan hanya bertanya,” Yoo Jin tampak salah tingkah.

 

“Entahlah apa yang membuat Noona datang kemari. Mungkin karena Noona ingin bertemu dengan kedua anak yang tidak sengaja menabrak Noona kemarin dan menyebabkan suara Noona hampir habis karena berteriak-teriak memanggil pelanggan. Juga anak-anak itu telah membuat tangan Noona pegal-pegal karena harus mengangkat berdus-dus apel dari truknya,” ujarku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

 

Kedua anak itu pun langsung terdiam mendengar perkataanku. Mereka saling bertatapan menyesal. “Emm soal itu… jeoseonghamnida, Noona.” Ucap Yoo Jin sambil membungkuk.

 

“Ne, jeongmal jeoseonghamnida, Eonnie, telah menyeretmu dalam masalah kami. Khamsahamnida telah membantu kami kemarin.”

 

“Ne, kalau tidak ada Noona, pasti kami sudah habis di tangan ahjussi galak itu. Neomu gomawo,” sambung Yoo Jin. Aku tertawa melihat mereka yang tampak menyesal.

 

“Ne, tidak apa-apa. Noona justru senang bertemu kalian,” ujarku riang sembari mengacak-acak rambut mereka berdua.

 

“Noona, kalau begitu, mari kita temui suster kepala. Kami sudah menceritakan kejadian kemarin dan beliau sangat ingin bertemu Noona,” ajak Yoo Jin sambil menggenggam tanganku.

 

“Ne, Eonnie. Kami juga ingin mengenalkan Eonnie kepada suster-suster lainnya. Kajja,” Jin Shim menarik lenganku yang satu lagi. Lalu kami pun pergi, melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain, dan memasuki salah satu bangunan panti asuhan itu.

 

Aku bertemu dengan suster kepala yang usianya sudah tidak muda lagi. Tampak keriput menghiasi wajahnya yang teduh dan penuh kasih itu dan ia menyambut kehadiranku dengat hangat. Kami pun berbincang-bincang mengenai banyak hal. Lalu, Yoo Jin dan Jin Shim mengajakku bermain di halaman bersama dengan anak-anak yang lainnya. Mereka juga menyambutku dengan ramah dan tangan terbuka. Sempat pula aku berkenalan dengan suster biarawan lainnya, yang mengabdikan diri untuk tugas pelayanan ini dengan sepenuh hati.

 

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat dan senja pun datang. Aku mohon undur diri setelah menolak dengan sopan ajakan mereka untuk makan malam. Kemudian, aku pun keluar dari bangunan itu, berjalan melewati jalan yang sudah kosong dan mulai gelap. Di musim gugur seperti ini, malam memang lebih cepat datang. Udara juga turut semakin dingin. Kurapatkan coat cokelat yang menempel di tubuhku serta syal merah yang menutupi bagian leherku.

 

Ketika aku melewati depan gereja, tiba-tiba rasa sakit di kepalaku muncul lagi. Kali ini terasa lebih sakit dari yang sebelumnya. Aku mencengkram kepalaku dengan keras. Rasa sakit ini seperti rasa sakit yang datang seminggu yang lalu yang sukses membuatku pingsan. Mataku seperti berkunang-kunang dan perlahan pandanganku mulai kabur. Andwae! Aku tidak boleh pingsan disini! Namun rasa sakit ini semakin menjadi-jadi, menusuk kepalaku sampai ke ubun-ubun. Eotthokhae?

 

“Yaa, Ahgassi!” seru seorang namja. Aku melihat ke arah samping. Di depan gerbang gereja yang lebar, aku melihat seorang namja yang tengah berlari ke arahku. Tidak kuat menahan sakit, aku pun terjatuh di pinggir jalan. Tetapi sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku masih bisa merasakan namja itu mengangkat tubuhku dan berteriak membangunkan aku. Aku berusaha membuka mataku yang berat dan kulihat wajah panik namja itu. Aku terkejut. Namja ini… namja yang…. Tiba-tiba aku merasa seperti ada jarum yang besar yang menusuk kepalaku, dan aku pun tidak sadarkan diri.

 

 

***

 

 

Aku mencium aroma rumah sakit yang khas dengan berbagai macam obat-obatan. Juga suara bising berbagai mesin-mesin kesehatan dan juga orang yang berlalu lalang di sekitarku. Aku mencoba membuka mataku, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku pun terbangun. Pemandangan pertamaku adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat.

 

“Ah, akhirnya kau sadar juga,” ucap seseorang disertai desahan nafas lega. Refleks aku pun  terbangun dan langsung terduduk.

 

“Apa yang aku lakukan disini? Apa aku sedang di rumah sakit?” tanyaku, tetapi tiba-tiba kepalaku serasa berputar-putar lagi. “Agh…” aku memegang kepalaku.

 

“Yaa, jangan terlalu banyak bergerak dulu, kau ini masih lemah,” sahut orang tadi yang ternyata adalah Park-euisanim. Ia pun membaringkanku kembali dan memeriksa detak jantungku dengan stetoskopnya.

 

“Apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa sampai disini?” aku masih bingung dengan situasi ini.

 

Park-euisanim hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku sambil tetap berkonsentrasi mendengar suara detak jantungku. Aku pun semakin kesal dengan tingkahnya yang sok misterius itu.

 

“Yaa! Euisanim!” sahutku. Ia pun selesai mendengarkan detak jantungku dan mengalungkan stetoskopnya kembali di lehernya.

 

“Saat ini kau sedang berada di UGD. Seseorang menemukanmu pingsan di jalanan dan mengantarmu kesini,” jawabnya sambil tersenyum yang memperlihatkan senyum pipi khasnya itu.

 

“Jinjja? Kalau begitu siapa yang membawaku kemari, Euisanim?” aku heran. Aish, kenapa otakku ini masih belum bisa bekerja secara normal? Aku berusaha mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Kejadian terakhir yang kuingat… ah, namja itu….

 

“Mollaseo, aku juga baru tiba disini lima menit yang lalu dan aku tidak bertemu dengannya,” jawab Park-euisanim sambil mengangkat bahunya.

 

“Apa dia sudah pergi?”

 

“Sepertinya begitu. Waeyo?”

 

“Aniyeyo, aku hanya ingin berterima kasih padanya,” jawabku sambil menggelengkan kepala. Ah, mungkin saja yang membawaku kemari memang namja itu. Tapi kenapa ia langsung pergi begitu saja sebelum aku terbangun? Apa dia ada urusan lain?

“Mungkin kau bisa bertemu dengannya suatu hari nanti,” ujar Park-euisanim. “Mungkin saja besok ia akan datang lagi menjengukmu.”

 

Aku kaget mendengar itu. “A… tapi aku harus segera pulang, Euisanim,” aku khawatir. Ini pasti sudah larut malam.

 

“Wae? Bagaimana mungkin kau pulang dalam kondisi seperti ini? Tubuhmu masih lemah. Kau harus banyak istirahat, Ji Young-ah. Lihat, kau bahkan belum mengganti seragam sekolahmu. Pasti kau habis keluyuran lagi, kan, makanya kau sampai kelelahan seperti ini?” omel Park-euisanim seperti eomma-eomma.

 

“A… jangan, Eusanim. Aku tidak mau dirawat di rumah sakit. Jebal, jangan beritahukan masalah ini pada appa dan amma, pasti mereka akan sangat cemas,” pintaku memohon. Tidak, ini harus dirahasiakan. Aku tidak mau melihat air mata keluar dari mata eomma lagi. Lebih baik aku mati lebih cepat daripada harus melihat eomma menangis.

 

“Andwaeyo! Kau harus dirawat disini malam ini!” tegas Park-eusanim yang membuat orang-orang di dalam ruangan ini menoleh kepada kami.

 

“Euisanim, jebal. Aku janji tidak akan sakit lagi,” aku masih merayu Park-euisanim agar memperbolehkanku pulang.

 

“Andwaeyo!”

 

“Euisanim, apa kau mau membuat eommaku sedih lagi? Ia sudah sedih mendengar tentang penyakitku, tidak perlu untuk mendengar aku jatuh pingsan lagi. Bagaimana pula dengan namdongsaengku Ji Heon kalau sampai ia tahu masalah ini? Lalu bagaimana kalau pada akhirnya eomma melarangku untuk keluar rumah, dan hanya mengurungku di dalam rumah seharian? Aku tidak akan bisa bertemu dengan Kyuhee lagi, teman-temanku, dan aku harus menghabiskan sisa hidupku di dalam rumah, tanpa ada hal-hal yang bisa aku lakukan selagi aku mempunyai kesempatan itu,” kataku dengan ekspresi sedih. Kali ini aku berusaha membuatnya untuk merasa iba, setidaknya memang itulah yang aku khawatirkan sekarang ini.

 

Aku pun menunduk pura-pura hendak menangis, padahal aku merasa geli melihat wajah Park-euisanim yang kebingungan. Akhirnya dengan terpaksa ia pun memperbolehkanku pulang malam ini. “Baiklah kau boleh pulang. Tapi akan kuhubungi appamu untuk menjemputmu dulu.”

 

“Aissh… itu sama saja bohong, Euisanim. Kalau begitu sama saja appa tahu kalau aku masuk rumah sakit lagi,” sahutku.

 

“Aissh… arra, arra, aku yang akan mengantarmu pulang,” ujarnya tak sabar.

 

“Nde?”

 

“Hari ini aku izin pulang lebih awal hari ini hari penting bagi keluargaku. Jadi sebelum pulang, aku akan mengantarmu pulang dulu,” jelasnya.

 

“Nde, Euisanim. Gomapseumnida,” ucapku sambil menundukkan kepalaku. Ah, euisanim ini benar-benar mempunyai hati yang seperti malaikat. Ia selalu mengerti perasaanku dan mau menolongku. Aku menyukai sifatnya yang tenang dan mudah berbaur itu. Aku juga menyukai senyumannya yang manis dan memamerkan lesung pipinya itu. Aish, kenapa ada begitu banyak orang yang aku sukai di dunia ini? Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal.

 

“Kalau begitu aku ke ruanganku dulu sebentar. Kau tunggu disini,” ujarnya.

 

“A… tidak usah. Aku tunggu di luar saja, Euisanim. Ada sesuatu yang harus aku lakukan,” tolakku sambil mengibaskan tangan di depan dada.

 

“Waeyo? Kau mau keluyuran lagi, ya?” sahutnya menuduhku.

 

“Aniyo. Sudahlah, ppali, Euisanim ke ruangan sana, ppaliyo,” suruhku yang lebih mirip dengan mengusir. Tanpa banyak protes, Park-euisanim pun pergi meninggalkan ruang UGD. Aku mengamati punggungnya yang semakin menjauh. Di usianya yang masih muda, ia sudah menjadi dokter hebat seperti ini. Aku bingung, bukankah untuk menjadi seorang dokter dibutuhkan waktu pendidikan yang lama? Kenapa ia sudah bisa menjadi dokter seperti sekarang? Dari seragamnya, terlihat jelas kalau ia bukan dokter magang. Omo, apa dia sebegitu pintarnya hingga bisa melewati masa pendidikannya dengan cepat? Aish, jinjja mollayo.

 

Lalu seorang suster suruhan Park-euisanim datang dan membantuku untuk melepas infuse di lenganku. Kusingkapkan selimutku dan kupakai sepatuku. Setelah mengucapkan terima kasih pada suster itu, aku pun mengambil tasku dan berjalan keluar ruangan yang ramai, menuju tempat administrasi untuk membayar pengobatanku. Huh, untung saja aku sudah mempersiapkan uang ini sebelumnya, mengingat ini bukan kali pertama aku pingsan dan mengingat aku bisa pingsan kapan saja akibat penyakit menyebalkan ini.

 

Di luar rumah sakit, aku menunggu Park-euisanim keluar. Suasana di luar rumah sakit pun masih sama seperti sebelumnya yang selalu ramai, bahkan di malam hari. Kuperhatikan ambulans yang baru saja pergi setelah mengantarkan seorang yeoja yang tidak sadarkan diri. Lalu aku mengambil saputangan milik namja itu dari dalam tasku.

 

“Yaa, kenapa kau pergi begitu cepat? Aku ingin mengembalikan saputangan ini. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih padamu,” gumamku lirih pada saputangan ini. “Apa yang kaulakukan di sana sore itu dan juga… malam ini?” aku melamun memandangi saputangan di tanganku.

 

“Masuklah, Ji Young-ah,” suara Park-euisanim menyadarkanku dari lamunan sesaatku.

 

“Nde?” aku tersentak melihatnya di dalam mobil hitamnya yang mengkilat. “Nde.”  aku pun memasuki mobil Park-euisanim dan duduk di bangku depan, di sebelahnya. Kemudian tanpa banyak berkata-kata lagi, kami pun melaju meninggalkan halaman rumah sakit yang padat.

 

 

***

 

 

Ji Young-noona! Annyeonghaseyo!” seru Kyuhee riang, bahkan sebelum aku sempat menyapanya lebih dahulu, dia sudah menyapaku duluan.

 

“Annyeong, Kyuhee-ya,” sahutku tak kalah riangnya darinya sembari berjalan mendekat. Kali ini, aku melihat Kyuhee yang tengah membaca ensiklopedia mini bergambar dinosaurus di sampulnya.

 

“Noona, ternyata hari ini Noona datang. Noona tahu tidak, aku sudah membuat pesan di kartu dan akan kutitipkan pada Park-euisanim seandainya hari ini Noona tidak datang.”

 

“Jinjja? Mianhaeyo, kemarin Noona tidak bisa datang,” kataku sambil mengelus kepalanya.

 

“Gwaenchana. Untungnya Noona juga tidak datang kemarin.”

 

“Wae? Waenniriya?” aku bingung mendengar kata-katanya.

 

“Kemarin penyakitku kambuh lagi. Jadi kalau kemarin Noona datang kesini, kita pasti tidak akan bisa bermain,” jawabnya masih dengan riang. Aku menatapnya iba. Di kondisinya yang seperti ini pun dia masih bisa bertingkah riang. Sikap riang yang tulus dan tanpa dibuat-buat, tidak seperti diriku.

 

“Kyuhee-ya, aku punya kabar bagus. Camping akhir pekan nanti akan dibatalkan jadi kita….”  Kalimat seseorang yang masuk dengan tiba-tiba ke kamar ini terputus. Suara ini… nampaknya tidak asing bagiku. “Ibuni nuguya, Kyuhee-ya?” Tanya orang itu.  Aku pun membalikkan badanku untuk melihat orang yang berdiri di belakangku ini dan ternyata…

 

Deg, jantungku terasa lepas. Orang ini… dia…

 

“Kenalkan, ini Ji Young-noona, noona yang selama ini aku ceritakan, Hyung,” kata Kyuhee dengan senyuman lebar. “Noona, ini hyungku.” Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Orang yang selalu kucari-cari selama ini ternyata….

 

“Neo….” Ujarku dan namja itu bersamaan. Kami pun terkejut mendengar suara kami.

 

“Kau gadis yang semalam pingsan itu, kan?” tanyanya sambil menunjuk diriku dengan telunjuknya. Ia pun tidak kalah terkejutnya dariku.

 

“A… a…” aku terbata-bata. “A… ne, itu aku. Eng… khamsamnida… jeongmal khamsamnida telah menolongku semalam,” kataku sambil membungkuk berkali-kali padanya. Ia pun tertawa melihat tingkahku.

 

“Waegurae? Apa kalian sudah saling mengenal?” Tanya Kyuhee bingung melihat tingah kami berdua.

 

“Ani. Kami hanya pernah bertemu beberapa kali,” jawab namja itu. Kemudian namja itu menatapku lagi. “Yaa, kau, apa yang kau makan selama ini? Kenapa tubuhmu itu begitu berat?”

 

“Mwo?” aku terkejut mendengarnya. Dia ini….  “Yaa… kau bilang apa barusan?” sahutku sambil berkacak pinggang.

 

“Aku bilang, makanan apa yang telah kau makan selama ini? Dengan berat tubuhmu yang seperti itu, namja mana pun tidak akan kuat menggendongmu,” ejeknya sambil berkacak pinggang juga. Dari kata-katanya barusan, hancurlah seketika bayanganku akan sosoknya yang bagai ksatria dalam hidupku.

 

Kata-katanya itu sangat menyakitkan. Aku memang bukan tipe yeoja yang memperhatikan berat badan, dan ia telah mempermalukanku di depan… anak kecil. Jelas-jelas badanku tidak gemuk dan juga tidak kurus.

 

“Yaa! Neo jinjja….” Aku tersadar akan tanganku yang sudah terangkat ke udara, hendak memukulnya. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan sekaligus. “Baiklah, anggap saja aku tidak mendengar kata-katamu barusan. Senang juga berkenalan denganmu. Naneun Seo Ji Youngiyeyo,” aku memperkenalkan diri dengan seramah mungkin, padahal dalam hati aku ingin mencabik-cabiknya.

 

Ia pun kelihatan heran dengan reaksiku dan tampak salah tingkah. “Ne, bangapseumnida. Cho Kyuhyun imnida,” balasnya akhirnya sambil mengalihkan pandangannya. Aku tersenyum penuh kemenangan. Jadi namamu Cho Kyuhyun? Hahaha, aku kau kaget melihat reaksiku ini? Apa kau berharap aku akan meledak setelah kau mengungkit-ungkit masalah berat badan? Aku tidak akan tertipu semudah itu, Cho Kyuhyun. Semua orang mengakuiku kalau aku cukup langsing.

 

“Yeaaayy… akhirnya kalian bertemu juga. Aku jadi lega,” ujar Kyuhee gembira.

 

“Kenapa kau jadi lega? Memangnya ada apa denganmu?” Tanya Kyuhyun bingung.

 

“Aku senang kita semua sudah bertemu. Aku harap Kyuhyun-hyung dan Ji Young-noona bisa menjadi sepasang kekasih,” kata-kata Kyuhee yang diucapkan dengan wajah polosnya ini sontak membuatku dan Kyuhyun terkejut.

 

“MWOO???” sahut kami lagi-lagi bersamaan. Dan aku pun langsung teringat pada penyakitku. Andai saja itu bisa, Kyuhee-ya. Andai saja aku bisa mempunyai kekasih sebelum aku mati. Mungkin aku akan merasa sangat bahagia.

 

“Kyuhee-ya, neo michieosseo?” sahut Kyuhyun galak, lalu menyentil dahi Kyuhee.

 

“Aiiissshh… appo, Hyung,” keluh Kyuhee sambil memegangi dahinya. Aku hanya terdiam, lagi-lagi masalah penyakit itu menghujani pikiranku. Perkataan Kyuhee barusan lagi-lagi mengingatkanku akan batas umurku yang tersisa. Padahal seharian ini, aku sudah tidak mengingat itu lagi.

 

“Kau ini… bagaimana mungkin kau berharap seperti itu? Jika kau ingin berharap aku mempunyai kekasih, setidaknya carilah gadis yang lebih cantik dari dia,” sahut Kyuhyun.

 

“Hyung, tapi bagiku Ji Young-noona adalah wanita tercantik setelah eomma,” bela Kyuhee.

 

“Aisshh… seleramu benar-benar rendah, Kyuhee-ya,” keluh Kyuhyun, kali ini sambil menjitak kepala Kyuhee. Aku pun tersadar dari lamunanku setelah mendengar Kyuhee yang meringis kesakitan.

 

“Yaa! Kyuhyun-ssi! Berhentilah menyakiti dongsaengmu! Dia ini sedang sakit!” belaku. “Kyuhee-ya, kau ini masih kecil, kenapa kau berbicara sesuatu seperti itu?” omelku pada Kyuhee sambil memasang ekspresi marah yang sesuai. Padahal hatiku lagi-lagi berkecamuk saat ini. Kenapa, Kyuhee-ya? Kenapa kau ingatkan aku akan batas umurku lagi? Kenapa kau membuatku berharap untuk mempunyai kekasih lagi?

 

“Yaa, apa wajah yang seperti ini kelihatan sedang sakit?” Tanya Kyuhyun seraya memegang wajah imut Kyuhee dan menunjukkannya padaku. Aku terdiam. Memang sejak pertama kali aku bertemu dengan Kyuhee, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia sedang sakit parah. Bahkan ia terlihat seperti anak kecil sehat yang lainnya. Semuanya itu telah tertutup sempurna oleh sikap riang dan polos Kyuhee.

 

“Hyung, berhentilah, lihatlah Ji Young-noona menjadi sedih akibat ulah Hyung,” Kyuhee nampak menyuruh Kyuhyun agar berhenti meledekku. “Ji Young-noona, mianhae atas perkataan hyungku ini. Sebenarnya hyungku ini orang yang baik kok. Percayalah,” ujar Kyuhee dengan tatapan bersalah.

 

Aku pun tersenyum melihat sikap polos Kyuhee yang sangat menyayangi hyungnya. Ia bahkan tidak marah diperlakukan seperti tadi oleh hyungnya itu. “Ne, Kyuhee-ya, gwaenchana.”

 

“Gomawo, Noona,” ucapnya tulus. “Kalau begitu ayo sekarang kita main,” ajaknya bersemangat. Aku mengangguk. Kemudian kami pun bermain bertiga. Kali ini kami bermain tebak suara. Secara bergiliran, kami akan menirukan suara binatang, lalu yang lain akan menebaknya. Bila ada yang salah menebak, maka akan mendapat hukuman, yaitu sebuah jitakan di kepala.

 

Setelah selama beberapa menit bermain, sudah beberapa kali aku menirukan suara berbagai binatang dan mereka yang menebak. Ketika Kyuhee yang salah menebak, maka aku tidak menjitaknya, melainkan hanya mengelus kepalanya dengan lembut. Bila Kyuhyun yang salah menebak, maka aku menjitaknya dengan sekuat tenaga hingga ia berteriak kesakitan. Lain halnya dengan Kyuhyun, ia tidak segan-segan untuk menjitak dengan sekuat tenaga baik aku maupun namdongsaengnya. Sedang Kyuhee? Dia sama sekali tidak mau menjitak kepala kami berdua, dan hanya tertawa jika kami salah menjawab.

 

“Aish, kenapa waktu terasa cepat sekali berlalu jika bersama denganmu, Kyuhee-ya? Apa-apaan ini? Apa jam tanganku sudah rusak?” gerutuku ketika melihat jam tanganku.

 

“Ah, benar juga, ini sudah malam. Sayang sekali, padahal aku masih ingin bersama Noona disini,” keluh Kyuhee juga. Mwo? Akhirnya seorang Cho Kyuhee mengeluh juga. Kupikir ia adalah anak yang selalu berpikiran positif. “Ah, tidak apa-apa, kita lanjutkan besok saja lagi mainnya, ya Noona?” Aish, baru saja aku terkejut dengan keluhannya, namun tiba-tiba ternyata ia kembali ke dirinya yang selalu optimis.

 

“Baiklah. Kalau begitu Noona pulang dulu. Annyeong, Kyuhee-ya. Annyeong, Kyuhyun-ssi,” pamitku seraya melambaikan tangan dan keluar dari tempat itu. Aku pun berjalan menyusuri koridor yang mulai tampak sepi.

 

Ketika aku memasuki lift yang kosong, tampak Kyuhyun yang berlari dan memasuki lift yang sama denganku. “Kau mau pulang juga?” tanyaku basi-basi.

 

“Menurutmu?” ia balik bertanya dengan nada ketusnya yang hanya kubalas dengan dengusan.

 

Aku benar-benar kesal dengan namja ini! Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia adalah hyungnya Kyuhee? Sifatnya sangat berlawanan dengan sifat Kyuhee! Dan yang membuatku semakin kesal, kemana perginya semua orang saat ini? Kenapa di dalam lift ini hanya ada aku dan namja menyebalkan ini?

 

Aku dan Kyuhyun hanya terdiam selama lift ini bergerak turun ke bawah. Akhirnya setelah rasanya bertahun-tahun terkurung di lift ini bersama Kyuhyun, lift pun berdenting dan terbuka. Segera aku keluar dan menghirup nafas lega karena tidak harus terkurung lebih lama bersama namja menyebalkan di sampingku ini. Aku pun hendak melangkah keluar rumah sakit, ketika tiba-tiba Kyuhyun menggenggam tanganku dan menarikku pergi.

 

“Ikut aku,” katanya pelan sambil berjalan.

 

“Yaa! Kau mau membawaku kemana?” sahutku. “Yaa! Lepaskan aku!” kali ini aku memberontak dan mencoba untuk membebaskan tanganku yang tengah digenggamnya. Tetapi Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa dan justru semakin menguatkan genggamannya. “Yaa! Lepaskan aku, Kyuhyun-ssi! Aku mau pulang!” teriakku sekali lagi.

 

Kyuhyun pun berhenti berjalan dan berbalik menatapku. “Kau pikir aku setega itu membiarkan seorang yeoja pulang sendiri malam-malam begini, terlebih yeoja yang sudah sangat baik mau meluangkan waktunya untuk dongsaengku?” ujarnya dingin. “Ikut aku, akan kuantar kau pulang.” Aku hanya terdiam melihat sikapnya barusan. Sikap apa itu? Ia terpaksa mengantarku pulang hanya karena aku telah baik pada dongsaengnya?

 

Aku hanya mengikuti Kyuhyun berjalan ke tempat parkir. Kemudian ia pun mengambil motornya yang besar dan berwarna putih. “Naiklah,” katanya setelah menyalakan mesin motornya. Aku masih ragu dan hanya memegang helm putih yang diberikannya barusan. Apa helm ini bisa melindungi kepalaku? Lelucon konyol apa ini? Bahkan otak di dalam rongga tengkorakku sudah rusak dan tidak bisa disembuhkan lagi. Apa gunanya lagi aku memakai helm ini? Sebentar lagi juga aku akan mati.

 

“Yaa, apa kau tidak dengar? Kubilang naiklah,” sahutnya dengan nada tinggi. Aku pun terlonjak kaget mendengar suaranya dan langsung naik ke atas motornya, lalu kukenakan helm itu. “Kau peganganlah yang kuat,” ujarnya kali ini dengan suara pelan.

 

“Mwo?” aku kaget.

 

“Issshhh… Aku akan sedikit ngebut, jadi kau pegangan yang kuat agar tidak terjatuh,” ulangnya, kali ini dengan nada yang biasa ia gunakan padaku. Aku ragu dan tidak menghiraukannya.

 

“Lupakan saja, aku tidak akan jatuh,” tolakku. Kemudian Kyuhyun pun menggas motornya mendadak sehingga aku hampir terjungkal ke belakang andai saja aku tidak cepat-cepat memegang pinggangnya.

 

“Sudah kuperingatkan aku akan sedikit ngebut,” ujarnya sambil tersenyum evil yang bisa kulihat di kaca spion walau wajahnya saat ini tertutup helm. Dengan terpaksa aku pun menurutinya. Aku berpegangan pada pinggangnya. Hanya berpegangan, tidak lebih. Melalui kaca spion, aku melihatnya tersenyum penuh kemenangan dan ia pun memacu motornya meninggalkan rumah sakit.

 

 

TBC

 

 

                Entah kenapa, tapi aku baru sadar ini dan selalu ngebayangin kalo sifat dan mukanya Kyuhee itu kayak Ryeowook, ya? Jadi, untuk penggambaran karakter Kyuhee, Chingu bisa bayangin Ryeowook kecil, ya. Gomawo.

 

 

20 Comments (+add yours?)

  1. Novia yesung 4ever
    Apr 25, 2013 @ 11:33:14

    Makin seru nih aku tkt sma endingnya…
    Jgn buat ending yg sedih ya thor tapi bikin happy ending ok

    Reply

  2. agetha camomile (@wifekanginSJ)
    Apr 25, 2013 @ 13:33:03

    jiahhh
    ksmptan dlam ksmpitan…
    😀

    #kyak ryeowook psti snyumnya plos bgt 😀

    Reply

  3. neezhaa
    Apr 25, 2013 @ 17:12:56

    Makin seru certnya niich,..
    Kayay bkal sad ending dech,.*plakk so tau gue..hehe
    dtnggu kelnjtny^^

    Reply

    • choanha
      Apr 26, 2013 @ 19:05:18

      gomawo udah baca

      endingnya gimana ya? Bingung juga #plak

      author juga akan selalu menunggu comment Chingu #eyaa

      Reply

  4. suciramadhaniy
    Apr 25, 2013 @ 18:51:14

    fighting Cho Anna:)
    Lumayan banyak jg yaa satu partnya. Banyakin moment Kyu-Youngnya dong^^ Keep writting ya;-)

    Reply

    • choanha
      Apr 26, 2013 @ 19:10:24

      ne, makasih, Sucii *hug* sebenernya mau bikin sedikit, tapi ternyata susah Y.Y

      iya, tenang di part selanjutnya ceritanya mereka lebih banyak kok hihi

      Reply

  5. widyaryeong9ta
    Apr 25, 2013 @ 19:36:57

    Wahh…
    Ceritanya makin seru…
    Pokoknya harus happy ending..*maksa*
    Tapi qo w malah ngebayangin wajah sungmin ya didalam tokoh kyuhee..

    Reply

    • choanha
      Apr 26, 2013 @ 19:14:46

      hihi, soal ending…

      Iya gapapa, bang umin juga unyu-unyu kok kayak wookie. Chingu bayangin a’a umin aja sebagai kyuhee hihi

      Reply

  6. Fara
    Apr 25, 2013 @ 19:55:14

    nice ff thor. lanjutin ya 🙂

    Reply

  7. april
    Apr 26, 2013 @ 07:52:20

    seru thor..part selanjutnya jangan lama-lama keluarnya ya thor

    Reply

    • choanha
      Apr 26, 2013 @ 19:18:47

      gomawo, Chingu. Lama enggaknya diposting, semua tergantung amal ibadah(?) dan admin tercintah *colek admindeul

      Reply

  8. ocha
    Apr 26, 2013 @ 18:15:20

    Makin seru thorrr
    Mudah-mudahan endingnya bukan sad ending deh
    Lanjut ya

    Reply

  9. minkijaeteuk
    Jun 04, 2013 @ 12:57:40

    akhir y ketemu juga jiyoung sama kyuhyun,,, kirain kyuhyun bajal lemah lembut gt sperti bayangan y jiyoung n lagi suka nolong jiyoung tau y setelah ketemu tetep ja mulut y tajem bener ngak ada rasa kasian….

    Reply

  10. Park Shu zie
    Jun 12, 2013 @ 08:17:48

    haha…. 😀

    akhirnya… kyuppa ketemu sama jiyoung..

    gomawo.. kyuhee.. 🙂

    Reply

  11. Trackback: [SIDE STORY] YOU CHANGE MY LIFE CHAPTER 1 | Superjunior Fanfiction 2010
  12. Trackback: LINK FF di BLUE ELF | favoritff

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: