[YESUNG ENLISTMENT] Nothing Will Change

Judul: Nothing Will Change

Author: Aylen Lee
Cast: Yesung, Choi Mina (OC), Super Junior members
Genre: Family
Rating: General

Words amount: 2.974 (hanya ingin jaga-jaga xD)

***

May 4, 2013

08.35 PM

Suara berisik sayup-sayup memasuki indera pendengaran Yesung. Pria itu memaksakan matanya terbuka, berjalan lunglai ke arah dapur dengan wajah setengah sadar, mengingat tidurnya yang terganggu oleh suara tersebut.

Ia tidak mempercayai hantu. Tapi tetap saja, dengan suasana dorm yang gelap dan sepi nyaris seperti kuburan, orang paling berani-pun masih memiliki sedikit rasa takut akan hantu di hatinya.

Mencoba memberanikan diri, Yesung berjalan ke arah dapur yang terlihat terang. Kalau begitu, dia bisa beralih dengan opsi kedua, ada seorang pencuri yang menyelinap masuk ke dalam dorm dan berusaha mencuri persediaan makanan mereka. Sialnya, hal itu malah membuatnya lebih was-was daripada opsi pertama tentang hantu.

“Siapa di sana?” tanya Yesung dari luar dapur.

Tidak ada jawaban.

Yesung memasuki dapur dan mendapati seseorang anak kecil berbalik memunggunginya, asik dengan kegiatannya mengambil makanan dari dalam kulkas. Pria itu menghela nafas lega, setidaknya jika pencurinya sebesar itu, dia bisa menangkapnya dengan mudah, lalu mengantungnya di atas pohon terdekat.

“Siapa kau?”

Gadis kecil itu berbalik, menatap Yesung datar. “Choi Mina. Keponakan Choi Siwon yang sedang duduk di bangku SD. Penggemar sejati Leeteuk Oppa dan Heenim Oppa,” jelasnya datar. “Dan dengan penjelasanku tadi, kau bisa menarik kesimpulan bahwa aku bukanlah anak licik yang berprofesi mengambil barang-barang orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu,” sambungnya kemudian, masih dengan nada datar yang terlalu jarang digunakan oleh anak-anak seumurannya.

Yesung tertawa pelan. “Tadinya begitu, tetapi sekarang tidak.” Tentu saja, berpikir bahwa keponakan Choi Siwon yang lucu itu sebagai pencuri bukanlah sesuatu yang logis.

Mina melangkah menjauhi kulkas, mengambil tempat di kursi makan mereka. “Apa aku mengganggu tidurmu? Maaf kalau begitu. Aku hanya sedang kelaparan dan mencoba mencari keberuntungan di dalam gudang penuh makanan itu. Setidaknya, keputusanku untuk ikut dengan Siwon Ajusshi tidak terlalu buruk.”

Yesung mengangguk kecil, kemudian mengambil tempat di samping Mina setelah mengambil air mineral dan meneguknya sampai tersisa setengah.

Suasanya berikutnya adalah keheningan panjang. Yesung hanya terdiam, nampak memikirkan sesuatu, sementara Mina lebih fokus dengan menghabiskan makanannya.

“Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Punya masalah?” tanya Mina setelah gadis itu selesai dengan makanannya. “Aku bisa membantu jika kau mau.”

Yesung tertawa kecil. “Kau yakin?” tanyanya sangsi, tetapi terselip nada geli di pertanyaannya. “Mau menebaknya, Nona manis?”

“Masalah tentang wajib militermu itu, Tuan Kim? Kau pastinya sedang ragu dengan keputusan yang sudah kau ambil, bukan?” tebak Mina, tersenyum puas saat melihat raut wajah kaget milik Yesung.

“Pintar sekali,” puji Yesung dengan senyum terpaksa. “Mau menjadi pendengar yang baik, hmm?”

Pertanyaan pria itu dijawab dengan anggukan riang dari gadis kecil yang ia tanya.

“Aku bingung memulainya dari mana,” keluh Yesung seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Terserah darimana saja. Nantinya pembicaraan kita akan mengarah pada semua topik yang ingin kau bahas, percaya padaku.”

“Baiklah.” Yesung menarik nafas. “Pernah dengar soal penyesalan? Mungkin itu yang kurasakan saat ini. Aku merasa ragu dengan keputusanku, juga agak menyesal memutuskan akan ikut wajib militer, dan meninggalkan orang-orang yang kucintai. Aku tidak ingin mereka sedih, tentu saja. Tetapi, aku tidak bisa melanggar kewajibanku sebagai seorang warga Korea.”

“Bukan penyesalan. Yang kau rasakan saat ini adalah perasaan takut, Tuan Kim. Perasaan takut akan menyakiti orang-orang yang kau sayangi, juga perasaan takut bahwa kau sudah mengambil keputusan yang salah. Tidak ada yang salah dari keputusanmu, kurasa. Kau hanya ingin menjalankan kewajibanmu sebagai seorang warga Korea yang mengharuskanmu pergi untuk 20 bulan dan meninggalkan keluarga, juga orang-orang terdekatmu. Memilih diantara dua pilihan memang tidak mudah. Memilih opsi pertama dan mengabaikan opsi kedua, ataupun sebaliknya, memang sering menimbulkan perasaan takut dan ragu diawalnya, lalu diikuti dengan perasaan menyesal bahwa kita telah memilih sesuatu yang salah di akhirnya. Kau merasa pilihan pertama, mengikuti wajib militer, dan opsi kedua, menjaga perasaan orang-orang yang kau sayangi agar tidak kau sakiti, adalah opsi seimbang yang sulit untuk diprioritaskan salah satunya dan yang lainnya dibuat pilihan sekunder. Keduanya memang penting dan memiliki kedudukan yang seimbang menurutku. Tetapi, pada akhirnya kedua opsi penting itu harus dipilih salah satunya, dan kau memilih opsi pertama.”

“Perasaan takut itu memang manusiawi. Semua orang, bahkan orang yang dianggap paling berani sekalipun, pastinya pernah merasakan hal tersebut. Tidak ada yang terlalu berani untuk melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Semuanya membutuhkan pertimbangan, dan aku yakin kalau kau sudah mempertimbangkan segala hal sehingga kau bisa memutuskan pilihan yang sekarang.”

“Dan setelah melakukan pertimbangan yang matang, kau akhirnya menyadari bahwa opsi pertama harus diprioritaskan karena tidak akan ada kesempatan kedua setelah kau mengabaikan opsi tersebut, sementara opsi kedua, walaupun kau tidak memilihnya, tetapi hal itu bukan berarti kau tidak memperdulikan perasaan orang yang kau sayangi, kan? Walaupun kau memprioritaskan opsi pertama, opsi kedua tetap akan berjalan tanpa kau sadari. Memilih untuk mengikuti wajib militer adalah sesuatu yang akan kau jalani dengan kesadaran penuh, sementara menjaga perasaan mereka, opsi kedua itu seiring berjalannya waktu, akan berubah menjadi semakin menyayangi mereka, Tuan Kim. Menyayangi mereka tentu saja akan berjalan terus-menerus walaupun kau tidak menyadarinya, dan hal itu lama-kelamaan akan semakin kuat. Berjalannya waktu bukan membuat sesuatu hilang, tetapi akan memperkuatnya.”

“Lalu, bagaimana penjelasan mengenai lupanya seseorang pada orang lain yang berjalan seiring waktu?”

“Wah, kalau itu kasusnya lain.” Mina terkekeh. “Baiklah, kuperbaiki ucapanku tadi. Berjalannya waktu memang akan membuat sesuatu semakin kuat, dan tentu saja akan menghilangkan sesuatu yang lain. Tetapi itu tergantung dari kita, apakah kita ingin memperkuat sesuatu dengan melemahkan sesuatu yang lain ataupun membiarkan proses yang panjang itu memperkuat keduanya. Pada dasarnya, setelah sekian lama tidak bertemu, orang tersebut bukannya lupa, tetapi tidak mengingat.”

Yesung mengernyitkan keningnya tidak mengerti. “Dimana letak perbedaannya? Bukankah itu berarti sama?”

“Tentu saja berbeda, Tuan Kim,” sergah Mina sambil tersenyum. “Coba kau pikirkan pengertian kata masing-masing.”

“Ah, bukankah itu berbeda? Menurutku pengerti–– Ah, aku mengerti!” seru Yesung sambil tersenyum senang ke arah Mina. “Tidak mengingat dan lupa adalah sesuatu yang berbeda. Tidak mengingat bukan berarti lupa. Tidak mengingat adalah kondisi dimana seseorang tidak mengenal sesuatu atau seseorang dalam waktu yang bisa dikatakan relatif singkat. Dia hanya perlu menggali ingatannya sedikit, karena pada saat itu tentu saja dia sudah merasa familiar dengan hal yang tidak diingatnya. Sedangkan lupa, lupa adalah kondisi dimana seseorang memang benar-benar tidak mengingat hal tersebut, dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk mengingatnya kembali. Lupa adalah sesuatu yang terjadi pada pasien amnesia, bukan?”

Mina mengangguk. “Ternyata tidak seperti asumsiku selama ini, kau tidak sebodoh yang kukira, Tuan Kim Jongwoon,” putus Mina polos, beberapa menit kemudian wajahnya langsung dihiasi dengan senyuman usil setelah melihat pergantian raut wajah Yesung.

“Yak, apa maksudmu dengan perkataan tadi? Aku bodoh, begitu?” tanya Yesung tidak terima, menuntut penjelasan atas kalimat, yang menurutnya, bisa menjatuhkan image-nya di depan para penggemar.

“Setidaknya, asumsi itu sudah kucabut, dan kau tidak sebodoh yang kupikirkan seperti dulu.”

“Memangnya kau memikirkanku sebodoh apa?” tanya Yesung, memasang sikap sok tidak peduli, tetapi aura penasarannya terkuar terlalu banyak.

“Sebenarnya, pendapatku tentangmu dulu, ehm… bagaimana kujelaskan, ya? Rasanya, bahasa yang kugunakan agak kasar, kau tahu? Mungkin, yang lebih halusnya, kusebut sepupu donkey,” jawab Mina dengan wajah ‘agak’ khawatir, takut dengan kemungkinan bahwa Yesung akan mengamuk setelah mendengar penuturannya.

Tapi yang terjadi malah diluar dugaan. Yesung hanya mengerucutkan bibirnya kesal sambil menggembungkan pipinya. Ekspresi ‘marah’ paling imut yang pernah Yesung keluarkan –itu menurut penilaiannya sendiri–. Dan berkat hal itu, Mina nyaris saja lepas kontrol dan membuka mulutnya lebar-lebar. Bukan karena terpesona, anak kecil seperti Mina paling anti melihat ekspresi sok imut dari orang-orang tua aneh seperti Yesung, tetapi lebih karena heran bercampur perasaan tidak habis pikir.

“Jangan bersikap sok imut, tolong,” pinta Mina, memandang Yesung dengan ekspresi paling heran yang pernah dikeluarkannya. “Sejak kapan kau mencoba aegyo gagal seperti itu? Semua orang tahu kalau aegyo Sungmin Oppa yang paling imut.”

“Hei, hei!” protes Yesung kesal, nyaris saja memukul kepala gadis kecil itu. “Aegyo Sungmin itu masih kalah imut dengan aegyo-ku, tahu!”

“Terserah apa katamu.” Mina mengangkat bahunya tidak peduli. “Jadi, bagaimana? Sudah merasa agak baikan?”

“Aku tidak sakit, Nona manis…”

“Bukan itu, Tuan kepala besar… maksudku perasaanmu. Sudah jauh lebih baik atau belum?”

“Oh, lumayan. Masih ada beberapa pertanyaan lagi, dan kuharap kau bisa menjawabnya.”

Mina tersenyum manis. “Dengan senang hati.”

“Opsi kedua. Menurutmu, apa mengabaikan opsi kedua akan menyakiti mereka?”

“Sedikit, mungkin.” Mina kelihatan agak ragu sesaat. “Tapi, kurasa, mereka memahami keadaanmu sekarang. Jadi, walaupun sedikit tersakiti dengan kepergianmu, mereka tidak akan membencimu, kok. Tenang saja.”

“Justru, kalau kau mengabaikan opsi pertama, kau akan mendapatkan hukuman dari pemerintah nantinya, dan hal itu tentu saja akan lebih menyakiti perasaan mereka jika mereka tahu kau mengabaikan kewajibanmu hanya untuk menjaga perasaan mereka. Niatmu baik memang, tetapi cara menyampaikannya tentu saja salah, dan penilaian orang tentu saja akan salah juga.”

Yesung tampak termenung. Pria bermata sipit itu menundukkan kepalanya sejenak, tampak berpikir, hingga beberapa saat kemudian dia mengangkat kepalanya kembali, lantas mengalihkan fokusnya pada Mina.

“Apa… akan ada perubahan selama aku pergi, dan sesudah aku pergi? Sikap keluargaku, sikap ELFs, sikap member Super Junior, orang-orang di sekitarku, ataupun… sikapku pada orang lain?”

Mina tertawa kecil. “Tentu saja ada, tetapi bukan perubahan besar. Mereka akan berubah, itu pasti. Hal-hal seperti perubahan pola pikir, juga sifat dan sikap mereka yang semakin dewasa, dan tentu saja, kepergianmu selama 20 bulan akan membuat mereka merindukanmu. Rindu adalah salah satu tanda rasa sayang, bukan? Mereka akan semakin menyayangimu, percaya padaku. Penggemarmu di luar sana pasti akan setia menantimu.” Gadis kecil itu tersenyum lembut untuk memberikan jeda. “Dan begitu kau kembali, kau pasti akan menerima lebih banyak kasih sayang dari orang-orang yang kau sayangi,” ucapnya final.

“Dan untukku?”

“Tidak ada perubahan berarti. Kuharap kau semakin dewasa dan bertambah pintar di sana. Oh, jangan lupa untuk mengajakku ke tempat latihan menembak saat kau sudah selesai wajib militer. Melihat seseorang menembak secara langsung adalah hal yang paling keren dalam hidupku,” ujar Mina antusias.

“Apa kau baru saja mengatakan ‘bertambah pintar’?” tanya Yesung dengan tatapan menyelidik, mendekati intimidasi dengan aura penasaran khas seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang penjahat.

“Telingamu tidak tuli, kan?” balas Mina agak ketus.

Mereka berdua saling bertatapan sengit selama beberapa menit dengan aura membunuh yang terkuar dari tubuh mereka sampai akhirnya terdengar bunyi pintu yang dibuka, diikuti dengan celotehan-celotehan tidak berguna dari member-member lainnya yang baru saja datang.

“Ada apa ini? Kenapa aura-nya terasa seperti aura setan milik Kyuhyun? Kyu, kau bukan seorang iblis beneran, kan?” seru Eunhyuk dengan wajah khawatir –yang terlalu dibuat-buat– sembari celingukan mencari keberadaan Kyuhyun. Pria itu baru saja memasuki dapur, dan sepertinya sudah memancing masalah bagi dirinya sendiri.

“Kyuhyun itu manusia. Jangan bertingkah bodoh, Hyuk,” ketus Mina dengan nada kesal, sama sekali tidak peduli dengan tata krama ataupun sopan santun yang mengharuskannya memanggil sang dancing machine Super Junior itu dengan sebutan ‘Ajusshi’.

Eunhyuk mendelik ke arahnya. “Berapa umurmu sekarang? Pernah dengar tentang sopan santun? Bocah ingusan sepertimu jangan bicara sok, ya. Untung saja kau berhadapan denganku, kalau dengan Heechul Hyung, berani jamin kau akan habis dikerjainya.”

“Aku tidak takut dengan Heenim Oppa. Dia orang yang baik, tahu! Dan mengenai umur, kau bisa bertanya pada Siwon Ajusshi. Aku sering kali lupa dengan umur sendiri,” balas gadis kecil itu kesal, memelankan intonasi suaranya di bagian akhir.

Tapi sayang, sepertinya Kyuhyun yang lewat di depannya mendengar hal itu karena dia langsung berseru, “penderita penyakit pikun usia dini. Ah, tunggu dulu, lihat wajahmu, seperti orang-orang tua saja. Semoga saja kau bukan seorang nenek-nenek yang terjebak di dalam tubuh anak kecil. Mungkin kalau itu benar, kau pastinya seorang penderita parkinson, ya?”

Mina langsung melempar Kyuhyun dengan botol air mineral yang diambil Yesung tadi. Lemparan tepat, karena langsung mengenai kepala Kyuhyun, tepat di dahi. Hal itu kontan mengundang gelak tawa dari Eunhyuk dan Yesung yang melihat hal tersebut.

“YAK! Kau beraninya!” Kyuhyun terlihat marah. Aura membunuhnya menguar, dan hal itu membuat kedua pria lainnya di dapur menjadi agak merinding.

“APA?” tantang Mina dengan nada meninggi. “Kau itu terlalu jenius atau terlalu bodoh? Parkinson itu penyakit yang menyerang saraf tubuh, bodoh!”

“Hanya sekali salah bukan berarti aku orang bodoh, kan?”

“Ingat saat aku mendatangimu dua bulan yang lalu? Saat itu aku menanyakan PR Matematika-ku padamu, yang kau respon dengan tawa sombong dan kicauan sok bahwa kau bisa mengerjakan soal itu dengan cepat. Saat melihatmu mengerjakan, harus aku akui, memang cepat, tetapi sayangnya, berkat otak jeniusmu itu, aku jadi mendapat tanda merah dan harus ikut kelas lagi sepulang sekolah.”

Kyuhyun memincingkan matanya ke arah gadis kecil itu, yang direspon dengan kelakuan yang sama oleh gadis kecil itu. Keduanya saling bertatapan sengit, dan mungkin akan terus berlangsung jika saja Siwon tidak turun tangan untuk memukul kedua kepala bocah yang bersikap terlalu kekanakkan –alasan logis untuk Mina yang memang masih anak-anak, dan untuk Kyu, bocah itu mungkin hanya terjebak di dalam tubuh orang dewasa dengan pola pikir sama seperti anak-anak– itu.

“Kalian seharusnya tidak berbuat seperti itu, mengerti? Sesama manusia seharusnya saling…” bla… bla… bla… Entah apa yang dikatakannya, Siwon mulai mengatakan ceramah panjangnya pada kedua bocah tersebut dengan sangat panjang, lebar, dan detail, yang sama sekali tidak direspon apa-apa oleh Kyuhyun dan Mina. Jelas, karena kedua orang itu sama sekali tidak mendengarkan ceramah si icon Super Junior yang mungkin saja akan menjadi seorang pendeta bila tidak ditemukan oleh agen pencari bakat.

Yesung tertawa kecil melihat kelakuan mereka. Seperti hiburan tersendiri. Dia jadi teringat kata-kata Ryeowook tempo hari: “Manfaatkan waktumu sebaik mungkin dengan menikmati hal-hal kecil yang diberikan oleh orang-orang yang kau sayangi, Hyung. Karena saat mengikuti wajib militer nanti, Hyung tentunya tidak akan mendapatkan hiburan gratis dari mereka lagi.”

Dan ucapan itu dibalasnya dengan: “Tentu saja, Ryewookie. Aku akan memanfaatkan waktuku sebaik mungkin.”

***

May 6, 2013

06.20 AM

“Benar kau tidak ingin kami antar, Hyung?” tanya Donghae dengan tatapan agak sangsi.

Yesung mengangguk mantap. “Kan sudah kubilang tempo hari, aku ingin mengikutinya diam-diam tanpa perayaan apapun. Kalian bisa menghargai keputusanku, kan?”

“Apa tidak terlalu pagi untuk berangkat, Hyung?” kali ini pertanyaan meluncur dari sang eternal magnae Super Junior, Kim Ryeowook.

Yesung tersenyum lembut. “Masih terlalu pagi memang, dan aku belum berniat untuk berangkat sebenarnya. Hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian saja. Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang sedikit ini?”

“Yang jelas bukannya berdiri di hadapanmu, diam, melongo, ataupun meratapi kepergianmu untuk 20 bulan ke depan, Hyung,” jawab Kyuhyun cuek, yang dibalas dengan pelototan dari Yesung dan ‘hadiah’ cuma-cuma dari Sungmin yang berada di sampingnya.

“Baiklah, kalau begitu biar kuberikan pesan terakhir sebelum aku pergi wajb militer.”

Senyum pria itu melebar saat tidak ada seorangpun yang menginterupsi perkataannya. “Aku hanya ingin kalian rukun, saling menjaga, jangan bertengkar karena hal sepele. Kita semua datang dari perbedaan, tetapi perbedaan itu justru yang menyatukan kita, saling melengkapi. Jika bertengkar, kuharap jangan sampai berlarut-larut, selesaikan baik-baik demi kebaikan bersama. Jika salah satu dari kita sedang kesulitan, jangan ragu memberikan tangan kalian untuk menolongnya. Dan jika ada yang sedang bersedih, jangan berdiam diri, berikan bahu kalian untuk menyandarkan kepalanya.”

Semuanya diam, terhipnotis dengan ucapan Yesung.

“Walaupun aku akan menyusul Leeteuk Hyung dan Heechul Hyung, aku harap kalian bisa tetap tersenyum. Meninggalkan kalian selama 20 bulan kedepan, aku yakin kalian pasti merasa sedih, mungkin kesal padaku. Karena itu aku meminta maaf hari ini. Kalian tidak akan melupakanku, kan?”

Kyuhyun adalah orang pertama yang menghambur untuk memeluk Yesung. Pria yang biasanya bersikap cuek dan dingin itu sudah lebih dulu menangis dari member lainnya. Ia mendekap Yesung erat.

“Bodoh! Kami tidak akan melupakanmu,” serunya agak terbata karena isakannya.

Yesung hanya tersenyum lembut. Tangannya terulur untuk mengelus rambut kecokelatan Kyuhyun. “Aku lega kalau begitu.” Dia melepaskan pelukan Kyuhyun, lalu mengusap air matanya. “Nah, anak pintar, jangan menangis lagi, oke?” candanya.

Kyuhyun hanya tersenyum kecut, lalu mundur secara perlahan menjauhi Yesung. Berikutnya adalah Ryeowook yang menghambur ke arah Yesung, diikuti dengan Donghae, Sungmin, lalu member lainnya.

Seperti acara perpisahan menyedihkan yang biasanya ditampilkan di dalam  film-film.

“Adegan yang dramatis,” komentar Jongjin yang entah sejak kapan sudah bersandar di depan pintu. Di belakangnya, ada Ibu dan Ayah Yesung. Sontak saja Yesung langsung memeluk adiknya, berlanjut dengan Ibu, lalu yang terakhir Ayahnya.

“Bersikaplah seperti seorang pria sejati. Menangisi perpisahan bukan sesuatu yang dilakukan pria. Jangan bersedih, kau akan kembali, Kim Jongwoon. Kau mengerti?” pesan Ayahnya dengan nada tegas khas seorang Ayah.

Yesung mengangguk. “Aku mengerti, Appa,” jawabnya, lalu memeluk Ayahnya lagi.

***

Setelah menghabiskan beberapa puluh menit bersama keluarganya, Yesung berpamitan, dan melangkah keluar dorm sembari memasang senyum terbaiknya. Bebannya terasa hilang. Semuanya akan baik-baik saja.

Hanya saja… Yesung tidak melihat gadis kecil itu dari tadi. Walaupun masih kecil, Yesung akui, pola pikir Mina hampir sama bijaknya dengan pola pikir Leeteuk. Mungkin karena dia merupakan fans Leeteuk atau karena keponakan Siwon? Entahlah…

“Mencariku, Tuan Kim?”

Yang dilihatnya adalah sosok kecil yang berdiri dengan senyuman cerah di depannya. Dan tanpa sadar, Yesung ikut tersenyum pada gadis kecil itu. Ia mensejajarkan tingginya dengan Mina, sedikit mengacak rambut gadis kecil itu.

“Benar sekali. Oh ya, terima kasih atas pencerahanmu tempo hari. Menenangkan sekali.”

“Oh, sama-sama. Tetapi, kurasa sebaiknya kau berterima kasih pada Leeteuk Oppa. Aku hanya mengutip kembali perkataannya pada Kangin Ajusshi sebelum dia pergi wamil. Hehehe.” Suara kekehan dan wajah tanpa dosa itu mengakhiri ucapan si gadis kecil.

Setelah mendengar penuturan Mina, Yesung langsung melemparkan tatapan seolah berkata kupikir-kau-yang-membuatnya-sendiri-ternyata-hanya-mengutip-saja.

Seperti tersadar akan sesuatu, pria itu kembali pada fokus tubuhnya yang hampir melayang. “Nah, baiklah, Nona manis. Aku harus pergi sekarang.” Yesung mengacak rambut Mina untuk yang kedua kalinya, dan setelah itu dia beranjak menjauhi keponakan Choi Siwon tersebut.

Mina menatap tubuh Yesung yang semakin menjauh. Pria itu kelihatan cukup tenang di hari ‘perpisahan’nya. Tetapi siapa yang tahu dengan hatinya? Dia pastinya masih merasa takut dengan hal-hal baru yang akan dihadapinya, masih merasa takut jika dia merasa kesepian karena tidak ada orang yang mengerti dirinya di sana sebaik mereka yang berada di sini, atau mungkin masih taku dengan terjadinya perubahan?

Tetapi, hanya tinggal menunggu waktu berjalan untuk menghilangkan ketakutan itu. Sama seperti ombak yang menghapus jejak-jejak di pasir. Atau seperti air yang melarutkan gula dan garam.

Dan hanya tinggal menunggu waktu hingga akhirnya pria itu kembali setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang warga negara yang baik.

Dan sekarang hanya tersisa satu pertanyaan, apa kau bersedia untuk menunggu?

END

Author’s Notes: Uh, well, semua pernyataan di atas itu asli pemikiranku. Aku minta maaf kalau ada yang salah. Perbedaan lupa dan tidak mengingat itu kudapat setelah menonton film *maaf, aku lupa xD*. Tapi aku lupa definisi yang dikatakannya. Jadilah kukarang sendiri *sesat*. Silahkan beritahu aku kalau salah lewat komentar. Hihihi…. Also, aku pengen ngucapin selamat jalan dan sampai jumpa ama si art of voice kita, Kim Jongwoon because he will go to military service soon u,u. At last, he will come back to us one day. Don’t be sad 😉

Nothing Will Change Note :

Missfishyjazz’s : cerita yang menarik. Berasa liat Before Sunrise dengan dialog yang kalau saya baca lebih mendominasi. Hahahaha.
karakter Mina disini mengimbangi karakter yang dibawakan si Juragan Mobit.
Mina seolah-olah bisa menjadi lentera dalam gelap di ff ini. berbeda dengan ff normal yang menggunakan peran wanita dalam gambaran dewasa, kehadiran mina sebagai sosok kecil dengan paradigma berbeda menjadi daya tariknya.
sayangnya di sini, munculnya Mina kurang dipertegas di bagian akhir, dan keyakinan Yesung pada dirinya sendiri kurang sedikit ditunjukkannya. Jadi agak sedikit ‘lepas’ feel nya.
Tapi overall sudah bagus 😀
Keep writing.

23 Comments (+add yours?)

  1. mei.han.won
    May 08, 2013 @ 16:37:25

    woowww,,,
    Feel.y dapet…
    semangat nulis terus buat author..^^
    ayo nulis FF yg laen lagi..

    Reply

  2. cloudsnow2421
    May 08, 2013 @ 18:39:11

    What a beautiful story, thor=”)

    I miss his selcas…

    Reply

  3. Mrs.Lee.D.
    May 08, 2013 @ 22:24:04

    We Will Waiting For You Yesung 🙂 Ahh nyentuh bnget ff nya, apalagi sama tingkah bijaknya mina, 😀

    Reply

  4. arrum
    May 08, 2013 @ 22:55:27

    daebak!!! semua jempol buat author ~___~ aku mewek thor baca nih ff TnT
    yes I WILL adlh jwbanku thor, aku akan mnggu yesung ahjusi kembali menyanyi bersama pria tampan lainnya. author kece~ gomawo buat ffnya ^^

    Reply

    • Aylen Lee
      May 10, 2013 @ 14:23:57

      Jangan mewek, chingu.. entar Yesung Oppa sedih loh… kekeke *plak*
      Gomawo udah mau baca, chingu ^^

      Reply

  5. piscesangel
    May 09, 2013 @ 08:05:24

    author memang daebak
    aku tunggu karya selanjutnya
    semangat…..

    Reply

  6. YeShin30
    May 09, 2013 @ 09:53:10

    Pasti、、oppa。。
    aku bkal tungguin oppa 🙂
    love yeppa ❤
    fighting oppa!!!

    bwt ffny。。keren thor、dalam bgt 😦

    *jd inget semalam nton winter concert sambil nangis gra2 kangen ma yeppa T_T

    Reply

  7. ebi
    May 09, 2013 @ 11:25:46

    Daebakk thor, ngena bgt. jd mikir itu alasan yesung buat ga ngerayain keberangkatannya.
    uri jongwoon, fighting!

    Reply

  8. novijuni
    May 10, 2013 @ 11:13:40

    Emmmmmm…. bagus banget ff nya thor…. ini mungkin mencerminkan hati Yesung Oppa…. Aku pasti menunggunya…. Suaranya, senyumnya, tariannya, semuanya yang ada padanya sangat berharga…. Oppa, i will always praying for your successful in enlistment like Leeteuk Oppa…. Oppa Fighting…. ^_^

    Reply

  9. afifah
    May 10, 2013 @ 11:16:15

    Keren kok thor..
    Sosok Mina bener bener dewasa deh.. tp trnyata kata ktanya itu hasil mngutip perkataan Leetuek..

    Reply

    • Aylen Lee
      May 10, 2013 @ 14:28:36

      hihihi…. kalo aku jadi Yesung, sih, udah gak percaya duluan sama anak kecil kayak mina gitu *dibakar*

      Gomawo udah mau baca, chingu ^^

      Reply

  10. chokyusea13
    May 10, 2013 @ 14:03:24

    ff ini bnr2 ngewakilin perasaan yesung >.< pas udh baca…gw jd lebih ngerti gmana rasanya gw kalo ada d posisi yesung.tenang oppa^^ gw ga bkal lelah u/ nunggu oppa kembali dr wamil =D

    Reply

  11. Aylen Lee
    May 10, 2013 @ 14:16:44

    mina cuma ngutip loh… *digampar*
    wkwkwk…
    gomawo udah mau baca, Chingu ^^

    Reply

  12. Lee eun hee
    May 11, 2013 @ 20:03:00

    Kerennnn 😀
    terasa nyata thor ;(
    good job thor,,

    Reply

  13. Lee ani
    Jul 24, 2013 @ 07:10:37

    Jadi kangen sama yesung 0ppa nich~

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: