YOU CHANGE MY LIFE [5/?]

Author  : Kang Ha Gun

Title       : You Change My Life

Cast       : Seo Ji Young (OC)

Cho Kyuhyun

And the others

Genre   : Rommance, friendship, angst, tragedy

Rated    : PG-13

Length  : Chaptered

Try to be a strong people, it’s really hard.

Try to always smile even your heart is cry,

Try to hide your feelings and always cover your face with mask,

It’s really hurt.

But Ji Young-ah, you’re not a weak person.

Not at all.

“Bisakah kau temani aku ke suatu tempat, Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. “Kemana?”

Aku hanya tersenyum misterius. “Sudahlah, kau akan tahu besok, arra.”

“Arraseo, aku akan menemanimu dengan satu syarat,” ujarnya memberi syarat disertai dengan smirk evilnya. Ekspresinya saat ini berubah lagi. Aish… kenapa ia begitu hebat mengubah-ubah ekspresi?

“Mwoya?” aku penasaran dan juga cemas. Takut ia akan mengajukan suatu persyaratan yang sulit untuk kupenuhi. Padahal aku ingin menunjukkan tempat itu padanya.

Melihatku yang harap-harap cemas, ia pun semakin menahan jawabannya. Lama ketika akhirnya ia bicara, tentu saja setelah aku berteriak padanya untuk bersuara. “Asal kau berhenti memanggilku dengan sebutan –ssi. Kita sudah sering bertemu dan berbicara, tapi kenapa kau masih menganggapku sebagai orang asing?” jawaban yang keluar dari mulut Kyuhyun membuatku hampir ambruk seketika. Aaish… namja ini. Kukira ia akan mengajukan persyaratan yang amat sangat sulit.

“Arraseoyo. Kalau begitu, bisakah besok kau temani aku, Kyuhyun-ah?” aku mengulang pertanyaanku, kali ini tanpa akhiran –ssi di akhir namanya. Sebenarnya aku tahu kalau ia ini satu tahun lebih tua dariku. Kyuhee pernah menceritakannya padaku kalau Kyuhyun itu murid kelas 3A Yeom Kwang High School. Biar sajalah, semoga ia tidak tahu umurku yang sebenarnya. Aku juga tidak berniat untuk memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“Ne,” jawabnya singkat dengan senyuman yang akhirnya aku lihat kembali untuk hari ini. Hatiku terasa lega saat melihat sebuah senyuman akhirnya keluar juga dari wajahnya. Dan juga aku lega karena ia tidak protes aku tidak memanggilnya ‘oppa’.

“Kalau begitu sampai bertemu besok. Gomawo sudah mengantarku pulang, Kyuhyun-ah.”

“Ne,” lagi-lagi ia menjawab dengan singkat yang membuatku ingin menggetok kepalanya. Kemudian ia pun berjalan kembali menuju bus stop dan aku masuk melewati gerbang kayu rumah ini dan melangkah ke dalam rumah orangtuaku yang bergaya tradisional.

Usai mandi dan makan malam, aku pun duduk di hadapan meja belajarku dan kunyalakan laptopku. Aku ingin melanjutkan sebuah cerita yang sejak 3 hari lalu aku buat. Selama 3 hari tidak masuk sekolah dan tidak diperbolehkan kemana-mana, cukup membuatku bosan. Kerinduanku pada teman-temanku, Kyuhee dan yang lainnya, serta masalah penyakitku ini membuatku sedih. Saat itulah aku menemukan sebuah ide untuk menulis suatu cerita. Akhirnya selama 3 hari, aku terus-menerus berada di depan layar laptop, sedang jari-jariku menari di atas keyboard, mengetikkan kata demi kata. Aku berharap ini bisa menjadi cerita terakhirku dan bisa diterbitkan sebagai novel sebelum aku pergi. Dengan begini, aku bisa mewujudkan diriku untuk menjadi seorang penulis sebelum aku mati. Walaupun, mungkin saja aku tidak akan bisa melihat hasilnya nanti.

Keesokan harinya, Kyuhyun menjemputku sekitar jam 10 pagi. Sementara aku tengah bersiap-siap, ia menunggguku di ruang tamu. Aku bercermin di depan cermin, memandangi wajahku yang sudah tidak nampak pucat lagi karena make up yang kukenakan. Ketika memandangi pantulan diriku, aku tersenyum. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan mereka. Sudah lama aku tidak bertemu dan aku sudah merindukan mereka.

Kemudian aku pun keluar kamar dan menuju ke ruang tamu. Disana aku mendapati Kyuhyun yang sedang mengobrol dan bercanda dengan eomma dan Ji Heon.

“Kajja, kita berangkat,” ajakku pada Kyuhyun. Kemudian aku pun pamit pada eomma, begitu pula Kyuhyun.

“Baiklah, jaga kesehatanmu, Young-ah. Ingat, jangan sampai terlalu lelah. Kau harus lebih memperhatikan kesehatan tubuhmu lagi, Young-ah,” pesan eomma padaku yang membuat Kyuhyun menatapku dengan pandangan bertanya. Aish, kenapa eomma harus berkata seperti itu di depan Kyuhyun? Saat ini aku tidak berani menatap Kyuhyun.

“Eomma, gwaenchana. Sampai kapan eomma akan mengkhawatirkanku seperti itu?” aku berharap eomma menyadari kekeliruannya. Sepertinya ia menyadarinya, tapi tetap saja eomma melakukannya. Aish, apa eomma mau agar masalah penyakitku terbongkar?

“Kyuhyun-ah, eomma tahu kau anak yang baik. Tolong jaga uri Ji Young, ne? Jangan sampai ia kelelahan dan pastikan ia meminum obatnya,” kali ini eomma berpesan pada Kyuhyun yang semakin mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan eomma.

“Nde, eomma, geokjeeongma. Kami berangkat,” sahutku sambil menarik tangan Kyuhyun dan cepat-cepat pergi dari situ. Kami pun sampai di depan motor Kyuhyun.

“Apa maksudnya perkataan eomma tadi?” tanyanya serius. Aku terkejut karena dua hal. Pertama, sejak kapan ia memanggil eomma ku dengan sebutan eomma? Di dunia ini, yang memangggilnya dengan sebutan eomma hanya aku, Ji Heon, dan juga Jongwoon. Kedua, kenapa ia menanyakan pertanyaan yang aku harap tidak ia tanyakan itu?

“Tidak kenapa-napa. hanya saja tubuhku masih lemah karena baru saja sembuh dari sakit kemarin,” ucapku berbohong dengan ekspresi yang nyaris sempurna. Mianhae, Kyuhyun-ah, aku harus membohongimu lagi.

 

Kyuhyun pun mengerti dan memberikan helm putihnya padaku sementara ia juga memakai helm hitamnya, kemudian naik ke atas motornya dan menyalakan mesin. Setelah mesin menyala dan helm terpasang sempurna di kepalaku, aku pun naik ke atas motornya dan kali ini aku memeluk pinggangnya tanpa ia perintahkan lebih dahulu. Entahlah, tapi sejak kejadian aku tertidur di punggungnya, aku jadi suka memeluk pinggangnya dari belakang seperti ini. Rasanya nyaman karena aku mempunyai tempat untuk bersandar. Kyuhyun menyadari perbedaan sikapku hanya saja ia tidak bertanya lebih lanjut. Entahlah, sejak kemarin ia memang menjadi lebih pendiam.

“Kita mau kemana?” tanyanya.

“Kau masih ingat gereja tempat kau menolongku saat aku jatuh pingsan? Di hadapannya terdapat sebuah panti asuhan. Kajja, kita kesana,” jelasku memberi tahu tujuan kami.

Aku melihat melalui kaca spion Kyuhyun yang tengah mengernyit. Tapi tanpa banyak bicara, ia pun melajukan motornya ke tempat yang aku maksud.

Kami pun tiba di tempat tujuan dan Kyuhyun langsung memarkirkan motornya. Aku turun dari motornya sambil melepaskan helm, lalu memandang ke suasana sekitar. Pagi ini, di halaman panti asuhan tidak terlalu banyak anak-anak yang bermain seperti terakhir kali aku kemari. Hanya tampak dua orang anak yang sedang bermain pasir ditemani oleh seorang biarawan. Entah kenapa suasana panti asuhan ini agak sedikit suram. Matahari pagi tampak bersembunyi di balik awan, angin musim gugur yang bertiup sepoi-sepoi, daun-daun yang berguguran, serta burung-burung yang kurang bersemangat untuk bernyanyi pagi ini. Kyuhyun menghampiriku dan turut melihat pemandangan di sekitar.

“Kajja,” ajakku dan langsung melangkah ke dalam panti asuhan.

Aku berjalan di koridor di salah satu bangunan panti asuhan itu sambil mencari-cari keberadaan Jin Shim dan Yoo Jin. Ah, kenapa di koridor ini juga terasa sepi? Kemana perginya anak-anak serta biarawan-biarawan yang biasanya berlalu lalang di sekitar sini? Ketika aku melewati sebuah ruangan yang mirip dengan ruang kelas, aku melihat Jin Shim dan Yoo Jin beserta anak-anak lainnya berada di dalam ruangan itu. Tampak anak-anak itu sedang menggambar di sebuah kertas gambar dengan penuh semangat, sedangan Jin Shim serta Yoo Jin membantu mengawasi mereka.

“Jin Shim-ah, Yoo Jin-ah!” sapaku di depan pintu ruangan itu. Seketika mereka berdua pun menoleh padaku dan raut wajah mereka berubah menjadi cerah.

“Ji Young-eonnie,” sahut Jin Shim riang. Mereka berdua pun menghampiriku.

“Apa kabar, Noona? Kenapa Noona lama tidak kesini?” Tanya Yoo Jin menyambut kedatanganku dengan antusias, sama seperti Jin Shim.

“Nan gwaenchana. Mianhae, Noona tidak bisa datang kemarin-kemarin. Kalian sendiri bagaimana?” tanyaku balik sambil meletakkan kedua tanganku di bahu Yoo Jin dan Jin Shim.

“Kami berdua baik-baik saja, hanya saja…” perkataan Jin Shim terputus. Ia menunduk menatap rok merah dengan kotak-kotak hitam yang ia kenakan.

Aku mengerutkan keningku. “Hanya saja kenapa?”

“Hanya saja suster kepala tidak. Sejak lima hari yang lalu, beliau jatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur,” Yoo Jin menyelesaikan apa yang hendak dikatakan Jin Shim.

“Ah, jadi itu alasan kenapa tempat ini terasa begitu suram. Karena kalian sedang bersedih atas suster kepala yang sedang sakit?”

Mereka berdua mengangguk sedih. “Lalu kemana perginya suster-suster yang biasanya berjaga?” tanyaku lagi.

“Sebagian dari mereka ada yang sedang melakukan tugas pelayanan. Yang ada disini pada hari ini hanya ada beberapa orang. Oleh karena itu kami membantu mereka untuk menjaga anak-anak ini. saat ini kami sedang menggambar dan menuliskan kata-kata semangat agar suster kepala cepat sembuh,” terang Yoo Jin padaku, sementara aku hanya manggut-manggut.

Aku jadi teringat pada sosok suster kepala yang begitu lembut dan penuh kasih ketika pertama kali menyambutku. “Apa suster kepala sedang tidur? Bolehkah Noona bertemu dengannya sekarang?” tanyaku.

“Ani, aku baru saja dari ruangannya untuk sekedar menyapanya. Aku yakin beliau tidak sedang tidur saat ini. Baiklah, kalau begitu kajja, kita ke kamarnya. Pasti beliau senang melihat Eonnie,” ajak Jin Shim menggandeng tanganku.

“Ehem,” suara Kyuhyun menyadarkanku akan dirinya yang tengah berada bersama kami juga saat ini. Aish, karena terlalu asik berbicara pada Jin Shim dan Yoo Jin, aku sampai melupakan dirinya dan membuatnya menjadi seperti alien sejak tadi.

“Ah iya, kenalkan ini temanku, Cho Kyuhyun,” aku mengenalkan Kyuhyun pada mereka berdua yang disambut dengan senyuman canggung dari ketiganya.

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun-ssi. Choneun Lee Yoo Jin imnida,” ujar Yoo Jin sambil membungkuk.

“Choneun Nam Jin Shim imnida,” ujar Jin Shim sambil membungkuk pula.

“Eng, denganku tidak perlu bicara memakai bahasa formal seperti itu, arrachi?” kata Kyuhyun ramah. Mereka berdua pun mengangguk sambil tersenyum.

“Kita lanjutkan nanti lagi perkenalannya. Kajja, aku juga ingin memperkenalkanmu pada suster kepala,” ajakku pada Kyuhyun dan segera menarik tangannya. Ia terkejut karena tidak mengenal siapa-siapa disini. Sinar kebingungan tampak di raut majahnya. Hanya saja, lagi-lagi Kyuhyun memilih untuk diam saja dan membiarkanku menyeretnya pergi.

Setelah beberapa saat bertegur sapa dengan suster kepala, kami pun pergi dari situ dan membiarkannya untuk beristirahat lagi.

Kemudian, kami kembali ke ruangan awal dan mendapati Jin Shim serta Yoo Jin yang masih setia menemani anak-anak di situ. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membantu mereka. Dengan cepat kami berbaur dengan anak-anak itu, terutama Kyuhyun, yang saat ini tengah dikelilingi oleh anak-anak perempuan yang kagum akan ketampanannya. Sementara aku menghampiri seorang bocah laki-laki yang tengah asik menggambar sendiri di sudut ruangan.

“Siapa namamu?” tanyaku padanya.

“Min Ho,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya.

“Apa yang kau gambar?” aku penasaran karena ia begitu serius.

“Ini…” katanya sambil memperlihatkan hasil gambarnya padaku yang sudah hampir jadi. “Aku menggambar diriku, teman-teman, suster-suster baik hati yang sudah merawatku sejak kecil, juga suster kepala.”

Aku melihat gambarnya yang dipenuhi oleh gambar orang-orang yang sangat banyak dengan berbagai warna. Memang tidak mirip dengan yang aslinya, namun aku mengagumi kerja kerasnya untuk menggambar orang sebanyak itu.

“Woah, gambarmu bagus sekali,” pujiku. Ia pun tersenyum senang.

“Ah, iya, chankam,” katanya dan segera mengambil kertas itu dari tanganku. “Karena Noona dan Hyung sudah datang pada hari ini, aku akan menambahkan gambar kalian juga disini.”

“Gomawo,” ucapku tulus dan memperhatikannya yang sedang menggambar diriku dengan krayon. Kemudian, diam-diam aku memperhatikan Kyuhyun yang ternyata saat ini sedang bernyanyi dengan anak-anak itu di depan kelas. Ah, lagu Puff, the Magic Dragon. Aku mendengar suaranya yang ternyata sangat merdu. Bukan hanya aku, anak-anak itu pun terpukau mendengar suaranya yang indah. Tidak kusangka di balik sikap menyebalkannya, ternyata ia adalah pribadi yang hangat dan penuh dengan perhatian. Aku memperhatikan ekspresinya yang saat ini tidak menunjukkan kesedihannya lagi. Saat ini, ia tengah tersenyum pada anak-anak itu.

Ketika aku tengah memperhatikannya, tidak sengaja mata kami bertemu. Dan Kyuhyun pun tersenyum manis padaku. Aku terbelalak melihat reaksinya dan langsung salah tingkah. Buru-buru aku mengalihkan perhatianku dengan berpura-pura mewarnai juga di atas kertas.

“Nah, sudah jadi,” seru Min Ho dengan semangat sambil mengangkat kertas gambarnya tinggi-tinggi dan tersenyum lebar menatap hasil karyanya.

“Woah, gambarmu benar-benar bagus, Min Ho-ya. Daebak,” pujiku sambil mengacungkan kedua ibu jariku.

“Gomawo, Noona,” kata Min Ho malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. Ah, perangai anak ini mengingatkanku akan Kyuhee. “Noona, Noona dan Hyung itu benar-benar serasi. Apa kalian sepasang kekasih?” Tanya Min Ho dengan polosnya.

Aku terlonjak kaget mendengar pertanyaannya. “A… aniya, aniya, kami hanya berteman saja,” sanggahku sambil mengibaskan tangan di depan dada.

“Ah, begitu. Sayang sekali,” ujarnya. “Eng, aku akan menyerakan gambar ini pada Jin Shim-noona dulu,” katanya. Aku mengangguk dan kemudian ia pun bangkit dari kursinya dan berlari menuju Jin Shim.

Benarkah itu, Min Ho-ya? Benarkah aku serasi dengannya?

 

“Aiisshh… andwae, andwae!” aku menggelengkan kepalaku dan berdesis frustasi. Ingatlah atas batas umurmu, Ji Young-ah. Jangan pernah mengharapkan hal-hal semacam itu lagi. Jangan pernah mengharapkan cinta lagi, Young-ah!

Aku pun menatap Kyuhyun lagi yang kali ini tengah tertawa bersama dengan Yoo Jin dan anak-anak lainnya di depan. Tampaknya mereka tengah memainkan suatu permainan, entahlah aku tidak tahu permainan apa itu. Yang kutahu, Kyuhyun sedang tertawa bahagia saat ini dan aku lagi-lagi tengah meratapi nasibku. Kemudian, Kyuhyun menatapku lagi yang sedang melamun memandangi dirinya. Lagi-lagi ia tersenyum padaku dan kali ini aku membalas senyumannya. Entah senyuman seperti apa yang tengah kuperlihatkan saat ini.

Ketika siang, aku membantu mereka memasak makan siang dan kami semua pun makan siang bersama. Aku merasakan suasana kekeluargaan yang sangat erat disini. Walaupun bukan berasal dari satu keluarga, namun mereka semua adalah satu saudara yang tidak akan pernah terpisahkan walau di saat suka maupun duka. Perselisihan pendapat memang sering kali terjadi di antara mereka, namun hal itu tidak pernah sampai membuat mereka sampai membenci satu sama lain.

“Kyuhyun-ah, kayo, kita pulang,” ajakku pada Kyuhyun sambil berbisik. Kyuhyun menatapku dengan pandangan ‘haruskah kita pulang sekarang?’. Namun akhirnya ia menurutiku dan secara hati-hati membaringkan seorang bocah laki-laki yang tengah tertidur di gendongannya. Usai makan siang adalah waktunya anak-anak untuk tidur siang. Oleh karena itu, kami membantu mereka untuk menidurkan anak-anak itu dulu baru kemudian pulang.

“Bagaimana menurutmu hari ini? Apakah menyenangkan setelah bertemu dengan mereka?” tanyaku ketika kami berada di depan motor Kyuhyun.

“Ne, hari ini sangat menyenangkan. Awalnya, aku memang sedih melihat ada begitu banyak anak yang ditinggalkan orangtuanya sejak mereka masih kecil. Banyak di antara mereka yang bahkan belum pernah merasakan hangatnya kasih seorang eomma dan juga appa. Namun kemudian mereka mengingatkanku pada Kyuhee. Melihat mereka yang dengan sehatnya bisa berlari kesana-kemari, tertawa, melakukan banyak permainan tanpa takut jantungmu akan kelelahan, membuatku iri…” tiba-tiba aku tidak bisa lagi mendengar perkataan Kyuhyun. Aku melihat mulutnya yang masih berkata-kata, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar suaranya, atau suara apapun yang ada di sekitarku saat ini.

Waeyo? Ada apa lagi denganku? Kyuhyun terus saja berbicara namun ia tidak melihatku yang tengah kebingungan karena tidak mengerti kata-katanya. Aku memegang kedua telingaku. Berfungsilah… ayo berfungsilaah… eotthokhae? Kupejamkan mataku. Rasanya mengerikan sekali menjadi tuli seperti ini. Aku ketakutan. Bagaimana jika gangguan penglihatan itu akan datang juga? Aku takut. Kepada siapa aku akan minta tolong nanti?

Kurasakan sentuhan di kedua bahuku dan aku pun membuka mataku, mendapati Kyuhyun yang sedang menatapku dengan pandangan cemas sambil mulutnya mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Untuk beberapa saat aku hanya terpaku memandangnya dan tidak mengatakan apa-apa.

“…………chanayo? Ji Young-ah, jawab aku!” pelan-pelan aku bisa mendengar suara Kyuhyun kembali. Aku menghembuskan nafas lega.

“Ye, gwaenchanayo,” jawabku dengan wajah sedatar mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kyuhyun pun terkejut mendengar penuturanku.

“Apanya yang tidak apa-apa?! Wajahmu terlihat pucat tadi dan kau bahkan tidak merespon perkataanku!” teriaknya keras dan mencengkeram bahuku kuat. Masih dengan tatapan datarku, aku menatapnya.

“Kyuhyun-ah, sudah kubilang aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya merasa pusing saja, makanya wajahku pucat,” ucapku memberi alasan.

“Kau berbohong. Mana ada pusing sesebentar itu? Aku tahu pasti terjadi sesuatu pada dirimu tadi, kan? Apa ini ada hubungannya dengan yang dikatakan eomma tadi pagi?” tebaknya yang membuat tubuhku tegang seketika. Aku harus beralasan apa lagi kali ini?

 

“Aniyo, aku memang benar-benar pusing tadi, mungkin karena kelelahan. Ya, mungkin karena ini eomma menasehatiku seperti itu tadi pagi. Kondisiku masih belum sembuh betul,” kurancang kata-kata sedemikian rupa supaya Kyuhyun percaya dan alasanku pun berhasil. Kini ia melembut dan tidak mendesakku lagi.

“Baiklah, kayo, kalau begitu kita harus cepat-cepat pulang agar kau bisa segera istirahat,” ajaknya dan segera naik ke atas motornya, lalu menyalakan mesin. Kyuhyun-ah, jeongmal mianhae, aku sudah membohongimu dua kali hari ini. Aku pun naik ke atas motornya.

“Pegangan yang kuat. Jangan sampai kau terjatuh nanti,” ujarnya mengingatkan.

“Nde,” jawabku dan berpegangan lagi padanya. Angin yang sejuk lagi-lagi menyapu wajahku, membuatku kembali mengantuk dan tertidur di punggung Kyuhyun.

***

Saat ini pelajaran musik sedang berlangsung di ruang musik. Hari ini kami tes praktek, satu per satu siswa dipanggil maju ke depan untuk menyanyikan sebuah lagu dengan sebuah alat musik sesuai dengan kemampuan siswa. Dari bangku penonton yang disusun seperti di bioskop, aku menikmati merdunya suara teman-temanku yang bernyanyi sambil memainkan alat musik di tengah panggung kecil. Entah kenapa semua suara teman-temanku terdengar merdu di telingaku ini dan membuat hatiku damai.

“Seo Ji Young,” panggil Song seonsaengnim di depan kelas. Aku pun maju ke depan dan duduk di hadapan piano besar berwarna cokelat. Kemudian jari-jariku pun mulai menekan tuts-tuts piano dengan lincah, memainkan nada intro dan selanjutnya aku pun mulai bernyanyi.

Semua orang mendengarkan nyanyianku sampai selesai, lalu bertepuk tangan. “Bagus, Ji Young-ah. seperti biasanya,” kata Song-seonsaengnim bangga.

“Ne, khamsamnida, Seonsaengnim,” aku berterima kasih.

Kami terus berada di ruang musik sampai bel istirahat berbunyi. “Kayo,” ajakku pada Nara yang diikuti dengan berdirinya ia dari bangkunya. Ketika kami sampai di pintu ruang musik, aku melihat Jongwoon yang tengah bersandar di dinding samping pintu.

“Woon-ah,” panggilku pelan. Jongwoon pun menoleh. Begitu pula dengan Nara yang baru melihat kehadirannya.

“Young-ah!”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku begitu sampai di hadapannya.

“Eeng… aku… aku hanya sedang mencari seseorang,” jawab Jongwoon gelagapan. “Baiklah, aku pergi duluan,” sambungnya dan berjalan melaluiku. Aku hanya menatap Jongwoon yang pergi ke arah kantin.

“Ji Young-ah, na ddo ka,” ucap Nara sambil menepuk bahuku dan ia pun juga pergi ke arah kantin. Kenapa Jongwoon bisa ada disini secepat itu? Bukankah jarak dari kelasnya ke ruang musik jauh? Kenapa Nara kelihatan terburu-buru juga? Tidak biasanya ia buru-buru.

Aku pun hanya mengangkat kedua bahuku pertanda tidak tahu dan kemudian berjalan ke kelas So Hee. Tetapi ternyata disana pun aku melihat So Hee dan Kibum yang tengah mengobrol berdua. Lagi-lagi mereka mengerjakan tugas bersama. Hatiku panas melihat pemandangan itu. Tanganku terkepal dan nafasku pun memburu. Ingin rasanya aku kesana dan menghampiri mereka. Namun aku tidak mau menjadi egois dan menghancurkan suasana menyenangkan di antara mereka. Baiklah, biarkan mereka tetap seperti itu. Lebih baik aku yang pergi.

“Aish… bageopheuda,” keluhku sambil memegang perutku yang minta diisi makanan. Sejak tadi pagi, perutku memang belum terisi makanan karena aku bangun terlambat. Karena itu pula aku lupa membawa bekalku.

Aku pun menuju ke kantin sendirian, tidak berniat mengajak temanku yang lainnya untuk menemaniku ke kantin. Namun ketika di kantin, lagi-lagi aku menemukan pemandangan yang tidak enak. Apa aku tidak salah lihat? Bagaimana mungkin… Jongwoon dan Nara duduk sambil makan di meja yang sama? Benarkah itu mereka? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Tapi sejak kapan mereka menjadi dekat begitu? Walaupun aku sering bercerita tentang Jongwoon kepada Nara, tapi setahuku Nara belum pernah berkenalan dengan Jongwoon.

Hatiku yang sudah sakit oleh pemandangan sebelumnya kini bertambah sakit lagi. Perasaan  terkhianati, kini merasuk ke dalam hatiku. Rasanya seperti tersayat-sayat oleh ribuan silet. Pikiranku kacau seketika untuk mencerna apa yang sedang terjadi di antara mereka saat ini. Apakah mereka berdua hanya berteman biasa atau memang ada hubungan spesial di antara mereka?

Refleks kakiku maju selangkah, tetapi aku segera menyadari bahwa tindakan cerobohku tidak akan menyelesaikan masalah dan justru memperumitnya. Dengan tangan terkepal, aku pun buru-buru meninggalkan kantin dengan berlari. Berlari sebelum air mata ini sempat terjatuh.

Aku butuh udara segar! Aku butuh tempat sepi dimana tidak ada seorangpun yang akan mendengarku menangis! Akhirnya kakiku pun membawaku ke atap sekolah. Tidak peduli perutku yang kelaparan ini, aku terus menaiki tangga ke atap sekolah. Sampai di atap, kubuka pintu yang tidak terkunci dan langsung menghampiri pagar pembatas. Tepat saat itu juga air mataku pun jatuh.

“Hiks… ige mwoya? Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian begitu akrab?” air mataku terjatuh lagi. “Ada hubungan apa di antara kalian? Apa kalian sepakat untuk mengkhianatiku, huh?” teriakku pada udara di sekitarku.

Tidak, tidak Ji Young-ah. Kau salah. Walau kau melihat pemandangan itu, belum tentu sesuatu yang spesial terjadi di antara mereka. Kau harus percaya bahwa teman-temanmu tidak akan mengkhianatimu. Mereka mengetahui perasaanmu pada kedua namja itu. Kau tidak perlu takut, Young-ah. Kau harus percaya bahwa teman-temanmu tidak akan menyakiti hatimu. Kukumpulkan pikiran positif sebisa yang aku bisa. Trik itu pun berhasil untuk membantuku menenangkan diri, walaupun kadang-kadang tidak berhasil juga.

Ya, mereka hanya berteman. Lagipula, bukankah bagus jika di antara mereka memang benar-benar ada sesuatu? Dengan begitu mereka akan punya tempat bersandar ketika aku pergi nanti. Secepatnya mereka harus melupakanku dari kehidupan mereka. Jadi kehidupanku selanjutnya pun juga akan tenang.

Pelan-pelan, hatiku pun menenang dan tangisku reda. Hanya saja, masih ada sedikit rasa tidak rela untuk memberikan Jongwoon dan Kibum pada Nara dan So Hee, meskipun sebelumnya pun aku tidak pernah memiliki mereka.

Istirahat berakhir dan pelajaran pun dimulai kembali. Ketika di kelas, aku memasang tampang ceriaku dan bersikap sebagaimana biasanya, meskipun di dalam hati aku masih merasa sakit jika mengingat pemandangan tadi. Dan seperti biasa, Nara pun percaya akan kebohonganku. Ia sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang salah dalam diriku, bahkan saat tanpa sadar aku berkata ketus padanya.

Usai bel pulang sekolah berbunyi, aku pun berjalan ke gerbang sekolah dan sudah kudapati Kyuhyun disana lengkap dengan motornya, sedang menungguku. Aku pun menghampirinya dan heran mendapati penampilannya yang masih mengenakan seragam sekolah.

“Yaa… palliwa! Jalanmu itu lambat sekali seperti kura-kura!” sahutnya ketus.

“Kau langsung kesini usai sekolah? Sekolahmu mengizinkan muridnya mengendarai kendaraan ke sekolah?” tanyaku menghiraukan sahutannya tadi.

“Aniyo, aku punya cara sendiri untuk itu. Sudahlah, kajja, kita pergi,” ajaknya seraya menyerahkan helm padaku. Aku pun memakainya dengan malas dan langsung duduk di atas motornya yang sudah menyala.

Hari ini, Kyuhyun memang mengajakku untuk membeli kado untuk Kyuhee karena lusa ia akan berulang tahun. Saat ini, kondisi Kyuhee sudah semakin membaik, karena itu lusa ia diperbolehkan pulang oleh Park-seonsaengnim. Dan pada saat itulah kami hendak memberinya kejutan untuk ulang tahunnya. Memang hanya pesta sederhana yang akan dirayakan oleh keluarganya, tetapi tanpa disangka Kyuhyun juga mengundangku untuk datang ke acara itu. Dan ia mengundangku semata-mata karena aku juga temannya Kyuhee dan telah berbaik hati mau mengunjunginya selama di rumah sakit.

Kami pun sampai di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Ketika sampai di depan etalase sebuah toko, tiba-tiba perutku terasa sakit. Seharian ini memang belum ada satu pun makanan yang masuk ke dalam lambungku. Aku memegangi perutku yang kini terasa perih.

“Waeyo?” Tanya Kyuhyun yang melihatku tiba-tiba berhenti sambil memegangi perut. Ia mengerutkan keningnya dan memandangku dengan sedikit cemas.

“A… aku…,” ucapanku terputus, bingung hendak mengatakannya atau tidak. “Aku… lapar,” kataku pada akhirnya jujur sambil menunduk malu.

“Kau belum makan? Yaa… kenapa tidak bilang dari tadi? Kau tahu kan kalau mencari kado itu adalah kegiatan yang akan menguras banyak tenaga? Bagaimana mungkin kau sanggup berjalan kesana-kemari jika perutmu kosong begitu? Kajja, kita makan. Aku tidak mau menggendong tubuhmu yang berat itu lagi gara-gara kau pingsan, apalagi di tempat umum seperti ini,” cerocosnya sambil menarik tanganku dan memasuki sebuah restoran.

Kami pun duduk di sudut ruangan dan segera memesan makanan. Dengan malas, kuambil sumpit dan mulai menjejalkan nasi ke dalam mulutku. Moodku hari-hari benar-benar sedang kacau sehingga mengganggu nafsu makanku. Kyuhyun yang melihatku makan dengan tidak berselera pun meneriakiku.

“Yaa… bisakah kau makan dengan lebih cepat? Masih ada banyak tempat yang harus kita datangi,” teriaknya, namun  dengan volume yang tidak terlalu keras. Ia pun juga ikut makan di hadapanku.

“Nde….” jawabku dengan malas dan mempercepat sedikit proses mengunyahku.

“Yaa… kau bilang tadi kau lapar? Kenapa makanmu sedikit sekali?” lagi-lagi ia protes. Aish… cerewet sekali. Dia ini sungguh-sungguh membuat moodku yang sudah rusak menjadi tambah rusak. “Igeon, makan yang banyak,” katanya sambil meletakkan bulgogi di atas nasiku.

Aku memandang bulgogi pemberiannya dengan tatapan sendu. Dalam hati aku bersyukur, ternyata masih ada yang memperhatikanku hari ini. Meskipun ia menunjukkannya melalui cara yang tidak lembut sama sekali, tetapi aku bersyukur karena ternyata ia masih bisa mencemaskanku seperti ini. mataku pun kembali memanas.

“Yaa…! Kenapa kau malah melamun?! Makanlah, ppali!” sahut Kyuhyun lagi dengan galaknya. Aku pun mengangguk dan memakan bulgogi pemberiannya itu. Aku mengunyahnya sambil memandang Kyuhyun yang sedang asik melahap makanannya. Tetapi tiba-tiba Kyuhyun menngangkat kepalanya dan mendapatiku yang sedang menatapnya dengan pandangan sendu. “Waeyo?” tanyanya.

Aku menggeleng lemah. “Aniyo,” bohongku sambil memakan makananku lagi. Tetapi tiba-tiba pertku terasa mual. Aku memegang mulutku sebelum sempat memuntahkan sesuatu. “Cheogi, aku ke toilet dulu,” ujarku buru-buru berlari kecil ke toilet. Segera kubuka tutup kloset dan siap memuntahkan isi perutku, namun aku tidak bisa memuntahkan sesuatu pun. Hanya perutku saja yang terasa mual dan kepalaku yang kembali berdenyut-denyut saat ini. Air mataku pun tumpah seketika. “Sampai kapan aku harus mengalami hal seperti ini? Rasanya aku ingin segera mati saja dibandingkan mati perlahan-lahan seperti ini.”

Aku keluar toilet dan mencuci mulutku serta membasuh wajahku di toilet agar tidak terlihat seperti habis menangis. Kemudian aku pun kembali ke meja makan dan mendapati Kyuhyun yang menungguku dengan wajah cemas.

“Apa yang terjadi?” tanyanya begitu melihatku di hadapannya.

“Eng… aku hanya sedikit mual. Mungkin karena perutku yang tadinya kosong tiba-tiba diisi dengan banyak makanan,” jawabku memberi alasan.

“Apa sebaiknya kita pulang saja? Lebih baik kau beristirahat di rumah,” usul Kyuhyun.

“Aniyo. Geokjeonghajima, aku akan baik-baik saja. Kajja, lebih baik kita pergi sekarang,” ajakku pada Kyuhyun. Padahal saat ini perutku masih terasa mual. Tetapi aku menahannya sekuat tenaga dan terus berakting seolah-olah aku ini baik-baik saja. Tetapi, aku mendapati beberapa kali Kyuhyun menatap cemas ke arahku.

Ada begitu banyak barang yang menarik perhatianku, namun aku tidak tahu mana yang kira-kira Kyuhee sukai. Aku ini memang tidak pandai dalam memilih barang, jadi Kyuhyun sudah mengajak orang yang salah karena aku tidak tahu barang apa saja yang bagus dan berkualitas.

“Aiisshhh… dasar Kyuhyun pabo! Kau ini sungguh-sungguh hyungnya atau bukan? Bahkan barang kesukaannya Kyuhee saja kau tidak tahu?” makiku kesal karena sudah lama kami berputar-putar di mall ini, tetapi belum menemukan barang yang tepat. Padahal perutku masih terasa mual saat ini. Aku memegangi dadaku yang terengah-engah kerena harus berjalan kesana-sini di mall yang cukup besar ini.

“Kau juga pabo! Biasanya yeoja itu kan suka memberi hadiah kepada chingunya atau namjachingunya, kau pun sudah lama kenal dengan Kyuhee, tapi kau tidak tahu seleranya Kyuhee juga,” balasnya tidak kalah galak dariku.

“Kau lebih pabo! Kalian sudah bersama selama tujuh tahun, sementara aku baru beberapa minggu, seharusnya kau yang lebih tahu dari pada aku!” seruku sambil berkacak pinggang, seolah-olah aku sedang memarahinya, padahal aku sedang menahan sakit di perutku.

“Ck… sudahlah. Lebih baik kubelikan dia PSP keluaran terbaru saja agar ia tidak bosan berada di rumah sakit,” Kyuhyun mengambil keputusan spontan dan kembali menarik tanganku ke toko mainan elektronik. Aku hendak protes ketika Kyuhyun mengatakan ia ingin memberi Kyuhee hadiah PSP, namun karena tidak ada ide bagus yang dapat kuusulkan saat ini, maka aku pun hanya pasrah mengikutinya.

Kulihat Kyuhyun yang sedang memilih-milih PSP yang tersedia dengan berbagai warna  di depannya dengan antusias bagaikan anak kecil yang dibelikan mainan oleh orangtuanya.  Setelah hampir satu jam menunggu, sampai aku hampir terduduk di lantai saking lelahnya, aku pun menjadi semangat kembali ketika melihat Kyuhyun yang sedang membayar belanjaannya.

TBC

14 Comments (+add yours?)

  1. Novia yesung 4ever
    May 08, 2013 @ 09:15:03

    Wagh makin penasaran ahirnya hidup atau mati?
    Sad ending or happy ending, i hope happy ending, pleas happy ending ya eoni,.

    Reply

  2. april
    May 08, 2013 @ 11:20:46

    daebak thor…
    jgn lma2 ya posting part slnjutnya…Hheee..

    Reply

  3. agetha camomile (@wifekanginSJ)
    May 08, 2013 @ 11:28:48

    wah smkin pnsran nie ma endingnya..
    knpa shbat2 Ji Young smkin aneh smua ?

    Reply

  4. rosi
    May 08, 2013 @ 12:42:09

    lanjut thor………..

    Reply

  5. neezhaa
    May 08, 2013 @ 13:14:07

    Okay daah trus bgaman kelnjtny..
    Mw dibwa kemana certa ini thor..hehehe
    dtnggu thor^^

    Reply

  6. @salmaayu1
    May 08, 2013 @ 16:38:30

    jiyoung bner2 orang yg kuat, aku jd salut 🙂
    ayo semangat buat jiyoung sama authornya ^^
    next part d tunggu !!

    Reply

  7. cloudssky
    May 08, 2013 @ 19:52:10

    kyaaaaa makin penasaran ih ma ni cerita >.<

    ji young tegar bgt ya, salut ma ji young :')

    Reply

  8. widyaryeong9z
    May 09, 2013 @ 18:42:42

    Huwaaaaaa
    Author dah berhasil bikin ∂ķΰ penasaran…
    Kira kira happy end ªƿª sad end yAa…
    Smoga happy end ya….

    Reply

  9. rafidashfly3424
    May 09, 2013 @ 20:14:42

    Sumpah bagus banget… kumohon cepet selesai partnya..

    Reply

  10. ocha
    May 09, 2013 @ 21:37:04

    Ga rela deh kalo jiyoung nantinya meninggal 😦
    Lanjutannya jangan lama-lama ya thor

    Reply

  11. minkijaeteuk
    Jun 04, 2013 @ 15:49:36

    uhhhhh ngerasa sedih jiyoung y ngerasa dikhianatin gt ma temen2 y,, pa krn sakit parah jd jiyoung y sensitif soal kesendirian n ngak dipeduliin n temen y jg sedikut salah sih klo bener nyembunyiin sesuatu dr jiyoung pa lg klo mereka pada jadian tp ngerahasiin
    udah jiyoung semasa hidup y jadian ja ma kyuhyun nikmatin waktu hidup yg tersisa

    Reply

  12. Park Shu zie
    Jun 12, 2013 @ 10:21:28

    huuuuh.. kasian jiyoung… emank efek kanker otak itu gitu ya….

    jangan lupa minum obatnya ya.. jiyoung… 🙂

    kyuppa kayaknya fall in love u deeh.. hehee… 🙂

    Reply

  13. Trackback: LINK FF di BLUE ELF | favoritff
  14. hyun hyerin
    Dec 22, 2014 @ 11:57:14

    ji young mulai melemah tuhh … jd pnasaran sm endingnya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: