[YESUNG ENLISTMENT] Alone

Title: Alone

Main Cast: Kim Jong Woon, Lee Hyuk Jae, Park Jung Soo dan Lee Dong Hae (untuk sementara, soal marga lupakan dulu ya ^_^v)

Genre: Family, Gaje!

Rating: ALL AGE

Author/FB: Rahmi SarangheSUJU

Ff ini juga dipublis diblog pribadi author: superjuniorbluesapphireclouds.wordpress.com

Mian gaje, membosankan, banyak typo, dan melenceng jauh dari tema yang ditentuin admin… tulisan bakornya jg banyak yg salah… Ya Tuhan bnyak bgt kesalahanku… MIAN…

Alone

*****

Kim Jong Woon 11 tahun. Lee Hyukjae 9 tahun.

Gerimis mulai turun. Serupa salju berukuran kecil. Melayang-layang di udara lalu mendarat pelan di tanah kota Seoul. Kaca jendela peronku mulai dikaburi embun. Di luar sana sudah gelap. Tapi cuaca seperti ini tak menyurutkan aktivitas orang-orang yang membutuhkan jasa perkeretaapian, mereka tetap mondar mandir keluar masuk stasiun, keluar masuk salah satu kereta yang masih berdiri. Begitu pula denganku, aku dan hyung1ku tak membatalkan rencana kami yang akan mengunjungi nenek di Mokpo, meski ramalan cuaca di salah satu stasion televisi swasta memprediksi hari ini kota Seoul akan diguyur hujan lebat.

                “Ne2, eomma3, kami sudah berada dalam kereta sebentar lagi keretanya akan berangkat.” Eomma menelpon Jung Soo hyung. Eomma dan appa4 sudah berangkat lebih dulu empat hari yang lalu dan kami di suruh menyusul kemudian disebabkan ujian sekolah kami yang belum selesai.

Annyeong5…” seorang anak laki-laki membuyarkan aktivitasku yang sedang memandangi pemandangan hiruk pikuk statisiun keretapi lewat kaca yang berembun. “Apakah bangku ini sudah ada pemiliknya?” Ia menunjuk bangku kosong di depan kami.

Bocah itu segera berlari setelah ia minta tolong pada kami untuk menjaga bangku kosong itu untuknya. Ia akan kembali setelah menjemput neneknya.

Tak lama setelah itu ia pun kembali dengan membawa tas besar yang tersampir di pundak kirinya, sementara tangannya sibuk memegangi seorang nenek tua yang berdiri di samping kanannya. Sebelum duduk ia tersenyum padaku, hyungku telah jatuh tertidur, jika sudah begitu tak ada yang boleh mengganggunya karena aku tahu Jong Soo hyung sangat mengantuk. Ujian sekolah membuat ia kekurangan tidur dan sekarang tampaknya masa liburan kami akan ia isi dengan membayar tunai masa tidurnya yang banyak terpakai untuk belajar seminggu penuh .

Heolmeoni6 kita duduk di sini… Cah… jankkuman7 hati-hati… yaa.” Bocah itu membantu neneknya dengan sangat hati-hati, tubuh kurusnya sedikit terhuyung ketika menyangga berat tubuh sang nenek. Nenek tua itu hanya menatapku sekilas lalu melewatiku untuk duduk dekat jendela di depan Jong Soo Hyung. Begitu nenek itu duduk dan hendak menyapaku batuk hebat menyerangnya hingga cairan merah menyembur dali mulut keriputnya. Aku tersentak, sangat terkejut.

“Heolmeoni… sudah kubilang jangan berbicara, jangan bergerak-gerak, jangan ribut, tidur saja. Kenapa nenek tidak mau mendengarkanku oh…?” Bocah itu membantu neneknya membersihkan mulut sang nenek yang berlumuran darah sambil mengomeli neneknya. Ia begitu tenang tak ada kepanikan sedikitpun seolah semua ini sudah biasa baginya. Hanya sungutan sebal penuh sayangnya yang sesekali terdengar. Sang nenek menurut. Wanita tua renta itu menyenderkan tubuhnya yang lemah. Terlihat sekali kepayahannya setelah didera batuk yang datang begitu tiba-tiba. Ia memejamkan matanya dan menghirup udara dengan pelan seakan-akan paru-parunya sangat rapuh untuk menampung banyak udara. Begitu lemahnya wanita tua renta di depanku ini.

“Halmoni memang bandel…”ujar bocah itu kepadaku, ia menatapku sekilas lalu kembali mengamati neneknya. Aku baru sadar bahwa ia selalu tersenyum. Senyum gusi itu tak pernah lepas dari wajahnya. sempat aku berfikir apakah dia seorang yang waras? Kenapa dia selalu tersenyum? Keadaan begini tak ada yang perlu disenyumi. Kupikir senyumnya adalah senyum paling memuakkan diantara banyaknya orang tersenyum yang pernah kutemui. Bagaimana bisa ia tersenyum seperti itu? Bahkan Senyum yang ia miliki seolah-olah menyatakan pada dunia bahwa ialah anak laki-laki yang paling beruntung di dunia ini, paling bahagia, tak terjamah kesediahan macam apa pun.

“Lihat ‘kan sekarang dia kelelahan sendiri,” sekarang bocah itu terkekeh.

Aku hanya mengangguk asal, menyetujui ucapannya. Jujur saja, aku masih syock.

“oh…!” ucapku pelan.

“Mau ke Mokpo ya?” tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Sekolah kelas berapa?” belum sempat kujawab dia kembali bertanya dengan penuh antusias. Tampaknya selain selalu bersinar karena senyum gummy-nya itu ia juga seseorang yang antusias, memiliki pancaran mata yang berbinar-binar ketika tertarik akan sesuatu dan yang pasti dia juga…sok kenal sok dekat…cih menyebalkan.

“Kelas 6,” jawabku sekenanya.

“Woaah, hyung. aku kelas empat. Mian…aku kira kita seumuran,” dia tersenyum malu-malu. Bukan salahnya juga, aku memang bertubuh mungil dan berwajah imut. Sepertinya lebih tinggi tubuhnya dari pada tubuhku.

“Sekolah di sini, hyung? Seoul? Woaaah… Bagaimana rasanya sekolah di Seoul, hyung?”

“Biasa saja,”jawabku datar, aku memang pendiam untuk orang yang baru kukenal. tapi rupanya reaksiku tak sedikit pun menyurutkan keantusiasannya. Dia benar-benar bocah yang sok kenal sok dekat.

“Aku baru pertama kali ini ke Seoul… Membawa nenek berobat. Woah menyenangkan hyung. Rumah sakitnya besar sekali. Kamar mandinya bersih dan wangi tidak seperti di Mokpo. Lampunya juga banyak sekali,”saat mulutnya komatkamit bercerita, entah kenapa rasanya aku ikut merasa rumah sakit itu menyenangkan. Ya Tuhan! Bagaimana bisa rumah sakit menyenangkan? Apa aku sudah mulai tak waras seperti dirinya?

“Kenapa nenekmu?” tanyaku basa basi, agar ia menghentikan sikap konyolnya itu.

“Paru paru nenek sakit, entahlah apa penyakitnya aku tak mengerti apa yang dikatakan dokter, yang aku tahu nenek sering batuk berdarah,” ia berpaling pada neneknya dengan senyum yang masih tersungging tapi aku tahu matanya tak ikut tersenyum. Ada seluet kesedihan dan kekhawatiran dimata itu, terpancar lewat bola matanya yang mendadak lembab.

“Liburan ke Mokpo, hyung?” pintar sekali mengalihkan pembicaraan rupanya. Begitu cepat suasana hatinya berubah, sekarang ia kembali menghadapku dengan mata berbinar penuh ke antusiasan dan gummy smilenya itu lagi.

“Ya, ke rumah nenekku,”jawabku ringan sambil mengalihkan tatapanku keluar jendela. Aku baru sadar kereta sudah berjalan meninggalkan kota Seoul yang kini sudah diguyuri hujan lebat.

“Woah…Mokpo, di mananya hyung?” apa orang Mokpo selalu bersemangat seperti ini. Biasa sajalah. Aku juga orang Mokpo.

“Tidak jauh dari stasiun.”

“Benarkah? Kalau begitu hyung harus mampir ke rumahku, rumahku jalannya melewati pantai, banyak ikannya. Dan aku akan kenalkan hyung pada teman baikku. Namanya Lee Dong Hae kami sering diajak ayahnya melaut untuk menangkap ikan jika cuaca dalam keadaan bagus,” oh tolong-lah memang aku peduli siapa itu Lee dong Hae? Aku benar-benar mengantuk sekarang. Aku juga ingin tidur seperti Jung Soo Hyung yang mungkin sudah melanglang buana di alam mimpinya.

“Orang tuamu?” mulutku malah tak mengikuti perintah otakku.

Matanya yang berbinar-binar senang itu sedikit mengerjap-ngerjap mendengar pertanyaanku.

“Mereka telah lama meninggal, ayahku tewas di laut. Ibuku mati waktu berjuang melahirkaku. Aku tinggal dengan nenekku sejak mereka sudah tak ada.” Dia mengucapkannya seolah semua itu bukan masalah besar baginya. Hanya sekeping dongeng pengantar tidur.

“Keluargamu yang lain?”

“Uhuk uhuk,” saat ia hendak menjawab pertanyaanku neneknya terbatuk-batuk lagi, kali ini tak sehebat tadi. Si Gummy Smile bergegas mengusap-usap punggung neneknya yang kesulitan bernafas. Wanita tua itu masih memejamkan matanya, tersandar lemah di sandaran kursi kereta.

“Hanya aku dan nenekku,” ujarnya kemudian setelah penyakit neneknya kembali mereda dan nafas wanita itu kembali teratur.

“Bagaimana jika nenekmu juga sudah tak ada? Kau akan kemana?” pertanyaan itu tanpa di duga terlontar begitu saja dari mulutku.

Dan untuk sesaat aku terkejut dibuatnya, wajahnya tak berekpresi. Tak ada satupun yang dapat terbaca dari raut wajahnya. Senyum gusi itu, mata berbinar-binar itu untuk sesaat memang menghilang tapi kesedihan macam apa pun juga  tak kutemukan di sana.

“Hua…hahaha, hyung mian… mian,” ia sibuk memegangi perutnya yang sakit karena mendadak tertawa.

“Aku tadi sedang membayangkan aku menjadi pengelana. Aku hidup di jalanan. Berpindah dari satu tempat ketempat lain? Bagaimana menurutmu, hyung? Keren kan huahahaha?” ucapnya di sela-sela tawa yang menjengkelkan.

“Apanya yang keren?!! Apanya yang lucu?!!!” untuk pertama kalinya aku membentak si Gummy Smile menjengkelkan ini.

“Kau sendirian! Kau sebatang kara, tahu!!! Tak ada orang yang mampu bertahan jika sebatang kara seperti dirimu!” biar saja, biar tahu rasa dia.

Demi melihatku yang mungkin terlihat konyol, ia menghentikan tawanya yang konyol itu dan kembali tersenyum.

“Hyaa…Hyung kau ragu akan kekuasaan Tuhan? Tak pernah sekalipun, sekecil apa pun Tuhan melakukan hal yang sia-sia. Kau meragukanNya hyung? Kau hanya tak tahu, Dia selalu punya rencana terbaik untukku…” oke kali ini wajahnya serius, tak ada lagi senyumnya yang konyol itu.

“A-aku…” tak tahu lagi apa yang ingin kukatakan ketika mendapati reaksinya yang seperti ini.

“Hyung… kau tahu,” ujarnya kemudian, aku tak mengerti dengan bocah ini kenapa dia cepat sekali berubah, si Gummy Smile dengan mata berbinar binar itu dalam hitungan detik telah kembali seperti sediakala.

“Aku punya tumbuhan kaktus di rumah. Kaktus milik ibuku yang dijaga nenek untukku,” Ia memulai ceritanya tanpa menunggu reaksiku. Apa hubungan semua ini dengan kaktusnya itu?

“Nenek bilang kaktus itu juga tumbuh di padang pasir. Di gurun yang tak akan kita temukan air dimana pun. Tapi kaktus bisa hidup… Kenapa Tuhan meletakkan tumbuhan itu di sana? Tidakkah kau merasa itu sedikit tak adil, hyung?” aku hanya melongo bodoh mendengar pertanyaannya. Kenapa harus sejauh ini? Kenapa ke Padang Pasir segala?

“Nenek bilang kaktus diberi kemampuan untuk bisa menyerap air hingga ke kedalaman paling jauh sekali pun. Kau lihat hyung, betapa Tuhan telah mengatur segalanya? Dia memang tak menempatkan kaktus di tempat di mana air berlimpah, tapi Dia memberikan kaktus kelebihan itu, kelebihan yang tak dimiliki oleh tumbuhan lain seperti yang ia miliki agar mampu bertahan hidup.” Entah kenapa garis wajahnya tak lagi seperti bocah tapi lebih kepada bapak-bapak berwajah awet muda.

******

Tanpa kusadari, kereta kami telah sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Kami bergegas untuk turun. Aku membangunkan Jung Soo hyung dan si senyum gummy membangunkan neneknya yang tadi juga tertidur sambil terbatuk-batuk kecil.

“Hyung, siapa namamu?” ujarnya sebelum aku berdiri dari dudukku.

“Kim Jong Woon. Hyungku, Park Jung Soo,” jawabku sambil berdiri mengikuti Jung Soo hyung yang telah dulu berdiri dan mulai meninggalkan bangku kami.

“Aku, hyukjae. Lee Hyukjae!!!” teriaknya ketika aku melompat, menuruni tangga kereta.

“Hyung!!! Semoga kita bisa bertemu lagi,” teriaknya lagi saat aku sudah berjalan beberapa langkah. Jung Soo hyung menatapku sekilas dengan tatapan bertanya, lalu kembali menatap jalanan, memilih tak peduli. Sepertinya semua hutang tidurnya belum lunas terbayar.

Baru beberapa langkah, entah kenapa kakiku berhenti malangkah. Kutolehkan kembali kepalaku ke arah pintu gerbong kereta itu, di sana, di ambang pintu gerbong itu ia sedang membantu neneknya menuruni tangga. Tas besarnya sudah tergeletak di tanah sepertinya ia lemparkan begitu saja. Lama, aku mematung dan menatap mereka yang terlihat sangat berjuang untuk melewati undakan tangga yang tingginya tak seberapa itu.

Kemudian, tanpa dikomandoi, kakiku melangkah, semula pelan, lama kelamaan aku nyaris berlari hingga kini aku telah sampai di depan kedua orang nenek dan cucu itu.

Aku meraih tangan si nenek yang membuat mereka sontak mendongak untuk menatapku.

“Anyeonghaseyo eomonim, Kim Jong Woon imnida,” ujarku tersenyum riang pada si nenek.

Ketika mataku berpaling dari nenek, mataku bersirobok dengan senyum cucunya yang lebih gummy hingga memperlihatkan hampir seluruh giginya, dan juga dengan matanya yang lebih berbinar-binar.

“Oh…Jong Woon-ah” ucap nenek bergetar, tampak sekali ia sedang berjuang untuk mengucapkan sepatah kalimat saja untukku.

“Te..uhuk! terimakasih!” meski lemah dan pelan aku masih dapat melihat senyum tipis nenek, jika ia sehat dan kuat mungkin senyum itu tak berbeda jauh dengan senyum yang dimiliki cucunya, si gummy smile.

Kami berdua membantu nenek berjalan hingga tiba di sebuah bangku. Kami mendudukkannya di sana. Mereka akan menunggu kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke rumah di bangku itu. Aku menatap nenek yang mengurut dadanya dan kembali menatap si gummy smile yang sedang berdiri di samping nenek sambil mengusap-usap punggung neneknya, ketika tatapannya berpaling untuk menatapku ia kembali tersenyum. Entah kenapa melihat senyum itu sekarang rasanya begitu berbeda, apakah ia akan mampu tersenyum seperti itu jika kelak neneknya telah tiada dan ia hidup sebatang kara dengan usia sekecil ini? Bagaimana ia akan bertahan hidup? Bagaimana ia akan menghidupi dirinya?

Aku berbalik dan mendapati Jung Soo hyung telah berdiri menungguku sambil memegangi tas punggungku yang tadi ku tinggalkan begitu saja. Aku menghampiri Jung Soo hyung yang jaraknya beberapa langkah dariku. Sebelum pergi aku dan Jung Soo hyung memberi salam perpisahan pada dua nenek dan cucu itu. Si senyum gummy melambai dengan penuh semangat. Ketika telah semakin jauh melangkah, aku berhenti dan menoleh lagi ke belakang. Si senyum gummy masih gigih melambaikan tangannya padaku. Tanpa kusadari air mataku menyeruak memenuhi setiap sudut bola mata. Pandanganku mulai mengabur Jung Soo hyung hanya menatapku sekilas tanpa berkata sepatah kata pun.

******

Aku melewati masa liburanku bersama keluarga di rumah kakek dan nenek dengan penuh kebahagiaan. Jung Soo hyung bahkan tak jadi mengisi liburannya hanya dengan tidur, keindahan desa kami, Mokpo, terlalu sayang untuk di lewati, apa lagi jika bertemu dengan kerabat nenek yang tersebar di segala penjuru desa, sangat menyenangkan.

Tak terasa liburan kami hanya tersisa beberapa hari lagi, rasa-rasanya malas untuk kembali ke Seoul hanya untuk kembali memulai rutinitas seperti semula. Jika tak ingat sekolah sangat penting bagi kelangsungan hidupku pasti sudah kuperturutkan rasa malas ini.

Ketika di penghujung liburan, ayah mengajakku ke suatu tempat. Katanya ayah ingin mengunjungi saudaranya yang bertempat tinggal di perbatasan desa kami dengan desa tetangga. Tak kusangka rumah saudara ayah begitu jauh karena setelah melewati pesisir pantai yang cukup panjang dan kami turun di pemberhentian bis terakhir tak ada lagi kendaraan yang melewati jalan setapak menuju rumahnya. Ayah sengaja tak membawa motornya karena jalan setapak itu tak akan bisa di lewati dengan sepeda motor.

Ayah bilang kami akan menjemput anak saudaranya itu yang tinggal sebatang kara, ayah hanya mengajakku karena Jung Soo hyung sedang membantu ibu berbelanja di pasar terdekat untuk membeli oleh-oleh yang akan kami bawa ke seoul nantinya.

Aku dan ayah melewati jalan setapak yang di kanan terdapat tebing dan di kirinya terdapat jurang landai, menaiki undakan tangga yang terbuat dari batu yang tersusun rapi, melewati pepohonan dan semak hingga tanpa terasa tampaklah olehku sebuh gubuk tua yang berdiri di ujung tebing.

Ketika jarak kami dengan gubuk tua itu sudah semakin dekat, seorang anak laki-laki yang semula duduk di teras gubuknya mendadak berdiri begitu melihat kedatangan kami, dan seketika itu pula ia melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arah kami. Wajahnya memang belum terlihat jelas karena jarak kami, tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan sosok yang masih gigih dengan lambaian penuh semangatnya itu. Rasanya aku mengenal lambaian seperti ini.

Hyukjae-ah…itu dia! Lee Hyukjae. Sekarang reaksinya sama denganku. Ia berhenti melambai dan diam mematung untuk beberapa saat. Menatapku dengan tatapan tak percayanya.

“Hyung?” jeritnya kemudian. “Jong Woon-hyung? Kau kah itu?” ia masih tak percaya bahwa sekarang aku-lah yang berdiri di hadapannya.

Detik kemudian senyum gummy-nya mulai muncul. Lalu, ia berlari menubrukku dengan keras melewati ayah yang berdiri di depanku.

“Hyung…kita bertemu lagi,” ucapnya sarat dengan nada kelegaan saat ia masih tak melepaskan pelukannya terhadapku.

“Hyung…” ia melepaskan pelukannya. “Apa kubilang, benarkan Tuhan tak pernah mengabaikanku. Kau pikir sekarang aku sendirian hyung?” ia mencibir dengan angkuhnya. “Aku tak pernah sendirian, Dia selalu ada untukku, selalu dekat bahkan lebih dekat dari pada urat nadiku sendiri, kau lihat, Dia mengirimkanmu untukku,” ujarnya lagi-lagi menyombong. Mendengar ocehannya itu, entah mengapa mataku mulai berair lagi. Dari mana ia mendapatkan keyakinan sebesar ini? Bocoh kurus sebatang kara dan tak punya apa-apa ini bagaimana bisa mendapatkan kekuatan sedahsyat ini?

Ia berpaling untuk menatap appa yang sempat ia lupakan keberadaannya, mengabaikan air mata cengengku.

Ia menyalami appa lalu kami duduk sejenak diteras gubuknya yang sedikit berlubang, kami melepas lelah sebentar untuk melanjutkan perjalanan kembali pulang. Appa mengusap-usap kepala si gummy smile yang duduk di sampingnya, mengacak rambut bocah itu seperti ia biasa mengacak rambutku. Aku tahu dengan melakukan itu membuat appa merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Sepasang matanya berkaca-kaca, dan dengan gerakan cepat appa melepaskan tangannya, berpaling untuk menyembunyikan air mata yang mungkin saja sekarang sudah membanjiri pipinya. Melihat pemandangan itu air mataku kembali meleleh. Tak dapat kuhentikan meski sekeras apapun.

“woah hyung lihat itu…kau tak ingin melihatnya?” aku mengikuti arah pandangya dan di sana di bawah tebing di depan rumahnya terpampang pemandangan yang sangat indah. Langit sore dan hamparan desa mokpo yang terbentang luas. Pemandangan yang sangat menentramkan.

“Dengan pemandangan seindah ini aku yakin kau sangat senang tinggal di sini,” ujar appa kemudian. Beliau telah mengusai dirinya.

“Sudah…ayo kita bergegas, nanti kita ketinggalan bis terakhir.” Appa mulai bangkit dari duduknya.

Saat membereskan bekal yang akan ia bawa; beberapa pakaian yang terbungkus tas kain lusuh saat itulah aku melihat ubi rebus yang sudah ihinggapi lalat. Aku meraba ubi sisa gigitan itu. Dingin. Mungkin sudah sejak pagi ia menunggu kami di sini.

aku mulai melangkah mengikuti appa yang sudah berjalan lebih dulu, menelusuri jalan setapak di depan kami. Ketika aku belum mendengar langkah kaki di belakangku, kutolehkan kepalaku kebelakang. Kakiku berhenti melangkah ketika kudapati si senyum gummy belum beranjak dari berdirinya.

Ia diam tak bergerak, sepasang matanya menatap lekat-lekat gubuk tua yang sudah dimakan usia itu. Ketika aku hendak memanggilnya, dadanya naik dan turun menandakan ia sedang berusaha keras untuk bernafas dengan baik.

Ia berbalik dengan tegap, menatap lurus ke depan mengabaikan dan melewati tatapanku begitu saja. Wajahnya mengeras, ia tak tersenyum juga tak terlihat kesedihan.

“Ayo hyung, nanti kita ketinggalan bis,” ujarnya ketika melewatiku.

Dan ia tak menoleh lagi. Berjalan dengan langkah lebar-lebar menyusul appa yang telah berjalan lebih dulu. Ia telah menguatkan dirinya. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya.

*****

“Hyung… Jaga dirimu!” Si Gummy Smile melepas pelukannya, dia akan pergi, bocah yang dulu pernah kutemui digubuknya ketika ia seorang diri itu sekarang telah dewasa. Ia akan pergi ke suatu tempat di mana ia bisa mencapai cita-citanya; mendirikan sebuah café di negeri orang. Dia selalu mencintai masakan tradisional negerinya, dengan bekal itu ia ingin memperkenalkan pada seluruh dunia semua masakan yang telah heolmonienya ajarkan semasa ia masih kanak-kanak dulu. Ia tak ingin melanjutkan sekolahnya kejenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti aku yang sekarang telah terdaftar sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas Korea. Aku yang seharusnya iri kepada si Gummy Smile, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas dia telah sukses mendirikan café dengan banyak cabang-cabang yang tersebar di seluruh Korea. Tapi, di atas segalanya itu yang membuat aku paling iri adalah semangat juangnya yang tak pernah padam.

Ia melambai sekeras lambaiannya beberapa tahun silam saat pertama kali menemukan dirinya di gubuk tua di tepi tebing itu. Air mataku menitik… karena untuk kesekian kalinya ia kembali membuktikan padaku bahwa ia tak pernah sendirian.

THE END????

Admin makasih ya telah bersedia mempublis, mian temanya sangat tak nyambung.

Catatan kaki:

1abang

2ya

3ibu

4ayah

5halo/apakabar (kata sapaan)

6nenek

7tunggu sebentar

Alone note :
Missfishyjazz’s : wow akhirnya ada yang mengambil tema “sikap Yesung yang selama ini kita kenal”.
Cukup menarik dengan pengambilan tema berbeda.
Saya sempat memasukkan ff ini ke top three ff yang mungkin menjadi pemenang.
Sayangnya disini pesan yang kamu sampaikan kurang sempurna di bagian akhir. Padahal di bagian awal tentang kisah Eunhyuk dan Yesung sudah tersusun dengan rapi. Hanya bagian menjelang akhir yang kurang pas. Dan penggunaan kata-katanya perlu lebih variatif sedikit 😀
Overall, cerita ini sangat menarik dengan packing yang cukup baik 😀
Keep Writing.

7 Comments (+add yours?)

  1. chokyusea13
    May 10, 2013 @ 13:44:32

    Wah~~~ ff nya keren bgt^^ banyak pelajaran yg bsa diambil:) ditambah ngebayangin wajah hyukjae,yesung,sama leeteuk wkt kecil…aaah lucu bgt!!suka deh sama adegan yg yesung bantuin nenekny hyukjae turun dr kreta..ah good job bgt ya bwt author~

    Reply

  2. Aylen Lee
    May 10, 2013 @ 14:31:53

    Daebak ffnya ^^
    Suka banget sama sikap Eunhyuk yang kelihatan dewasa…
    Good job for the author ^^
    Keep writing ^^

    Reply

  3. superjuniorbluesapphireclouds
    May 10, 2013 @ 19:52:42

    wooahhh…akhirnya ff gaje sy dipublis jg dn ada catatn dr adminnya jg *merasasangat trsanjung* hehe…makasi y admin… wlw gak jd pemenangnya…tp senang bgt tak bs diungkapkn dg kata2 senangnya haha

    Reply

  4. afifah
    May 11, 2013 @ 18:58:17

    Bgusss..
    Penuh pesan jg,pokoknyaa bgus deh thor ^^

    Reply

  5. novijuni
    May 24, 2013 @ 12:21:08

    Baus banget ff nya… benar2 suatu inspirasi yang bagus… dia tak pernah merasas sendiri walaupun dirinya sendiri…

    dan ia selalu mengingat kampung halamannya sendiri…

    Reply

  6. Firda Lee
    Jun 05, 2013 @ 12:13:53

    over all keren thor… suka banget sama FF ini..
    ada nilai yg bisa diambil.. ^^
    *berlinang airmata juga nih bacanya.. 😥

    Reply

  7. the reader
    Aug 02, 2013 @ 18:46:36

    Daebak deh ff nya 🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: