DREAM FOR A THOUSAND MORE

DREAM FOR A THOUSAND MORE

 

 

Tittle  : Dream for a Thousand More

Author  : Blackshin

Cast  : Cho Kyuhyun

Lee Yeon Ju

Genre  : Romance, Fluffy Angst (gaya cerita yang awalnya suram, tapi

berakhir manis dan bahagia)

Rating  : T

Leght  : Oneshot

Disclamer : Kyuhyun to belong God, Him, His family, His people love, Elf, Sparkyu, and Me ^^v.

 

Happy Reading~

 

 

 

 

“Aku tak ingin kehilanganmu, walaupun itu hanya dalam mimpi.”

 

 

Aku berdiri. Berdiri diantara keramaian suatu daerah di kota Seoul sepertinya. Aku tak begitu yakin aku berada di daerah mana. Yang kutahu, kakiku menapak di atas trotoar yang langsung menghadap penyebrangan yang tergambar bergaris putih di atas jalan raya bercabang dua. Kendaraan-kendaraan berlalu lalang didepanku. Terkadang kendaraan-kendaraan itu akan berhenti, mempersilahkan para pejalan kaki mengambil giliran mereka untuk menyebrang. Disamping itu, gedung-gedung pencakar langit saling menjulang tinggi, berdiri kokoh, seakan menjadi benteng bagi daerah ini.

 

Heart beats fast

Colors and promises

How to be brave

How can I love when I’m afraid to fall

But waching you stand alone

All of my doubt

Suddenly goes away somehow

One step closer

 

Kuputar kepalaku kesisi kanan. Kearah nyanyian ini berasal. Kulihat dua orang duduk disebuah kursi kayu berbentuk lingkaran kecil dikeliling beberapa pejalan kaki yang sekedar berhenti menikmati suguhan seni musik dari mereka. Satu pria dan satu wanita. Sang pria duduk dengan gitar coklat di atas pangkuannya, memetiknya sesuai irama. Sedangkan sang wanita duduk dengan memegang microphone, menyalurkan suara merdunya kedalam microphone, menyanyikan sebuah lagu yang sering kudengar.

 

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years

I love you for a thousand more

 

Seniman jalanan tersebut menyanyikannya penuh perasaan. Membuatku terbuai akan suara dan irama mereka. Membuatku mengingat seseorang yang juga selalu menyanyikan lagu tersebut padaku. Namun, tiba-tiba sang penyanyi wanita berhenti bernyanyi. Berhenti karena tak ada irama gitar lagi yang mengiringinya. Senar gitar sang pria putus tanpa sebab. Kemudian aku mendengar dentingan keras berjumlah tiga kali. Dentingan seperti dentingan jam dinding. Kuputar kepalaku kesisi kiri. Benar. Aku melihat jam dinding berbentuk persegi yang amat besar dengan ukiran indah disemua sisinya, terpasang di puncak gedung pencakar langit yang berdiri membelah jalan raya menjadi dua cabang. Kedua jarumnya berhenti tepat di angka dua belas, memperingatkan orang-orang kalau waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

Setelah dentingan ketiga berakhir aku mendengar jeritan yang memekikkan telinga. Jeritan yang semula hanya satu berubah menjadi beberapa jeritan yang tak bisa dihitung lagi. Orang-orang disekitarku mulai berlarian. Berlari hanya kesatu arah. Arah dimana garis penyebrangan berada. Penasaran aku berpaling kearah tersebut. Kulihat orang-orang yang berlarian tadi berhenti mengelilingi seorang wanita yang terkapar ditengah-tengah penyebrangan dengan sebuah mobil berhenti disampingnya. Darah mengalir, entah berasal darimana, darah tersebut mengalir tanpa henti, membuat wanita tersebut bermandikan darah. Aku bisa melihatnya walaupun aku tak bisa melihat wajahnya. Karena entah mengapa orang-orang yang mengkerubunginya, tak menghalangi pandanganku, seakan mereka menyingkir dari jalan arah pandangku.

Namun, saat seseorang mengangkat wanita yang dress putihnya sudah berubah warna menjadi merah, aku membulatkan mataku sekuat kelopak mataku terbuka. Aku tercekat. Lidahku kelu. Bibirku tak terasa. Detak jantungku terpacu cepat. Tanganku gemetar. Kakiku terasa tak kuat lagi menahan beban tubuhku. Aku tak tahu lagi cara bernapas. Aku tak tahu lagi cara berbicara. Aku tak tahu lagi cara mendengar. Semuanya hanya tertuju padanya. Wanita itu. Wanita dengan bercak-bercak darah menghiasi wajahnya. Wajah dengan mata terpejam, menghadap kearahku. Wanita itu, tak mungkin dia?

Bohong. Semua ini hanya kebohongan. Itu tak mungkin dia. Tangan kananku bergerak, ingin meraihnya. Namun, saat kaki melangkah untuk mendekat padanya, dia justru menjauh dariku. Semakin aku melangkah, dia semakin menjauh dariku. Semakin aku berusaha melangkah, semakin dia menjauh. Melangkah dan melangkah, membuatnya dan semua yang kulihat menjauh dariku. Jauh. Jauh. Dan kecil. Semuanya menjadi kecil dimataku. Seakan dia dan semuanya menyusut didepanku, menyisakan dinding putih yang tak berujung.

“Tidak. Jangan pergi! Kembali. Aku harus melihatnya. Tidak. Kembali. Kembali…”

“TIDAAAAKKK.” Aku terlonjat. Napasku tersengal-sengal. Kurasakan peluh keringat mengalir dari keningku. Kuedarkan pandanganku kesegala arah. Jendela, lemari, meja, kursi, pintu, dan semua yang ada di kamar terlihat oleh mataku.

“Mimpi. Itu hanya mimpi. Hanya mimpi buruk, Cho Kyuhyun. Jangan khawatir!” ucapku pada diriku sendiri. Mencoba menenangkan diri. Namun, mimpi barusan benar-benar seperti kenyataan. Bahkan, aku masih merasakan tanganku gemetaran.

“Tidak. Itu hanya mimpi. Tak mungkin menjadi kenyataan. Kau harus realitis, Cho Kyuhyun!” Kusigapkan selimut yang menutupi tubuhku. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Membasuh wajah dan mandi, adalah cara untuk menghilangkan kekhawatiran yang masih membekas di hatiku. Beberapa menit menyiram tubuhku, aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan lebih tenang. Rasa khawatir sudah hilang dari diriku.

Kusampirkan handuk yang kugunakan untuk mengeringkan rambut ke pundakku. Aku berjalan kearah dapur. Kukeluarkan sisa makanan tadi malam dari dalam kulkas. Lalu kumasukan ke dalam oven untuk menghangatkannya. Aku sebenarnya bisa tak makan makanan sisa seperti ini, kalau aku menyuruh juru masak orangtuaku datang ke apartemenku, dan menyuruhnya membuatkan makanan untukku, atau aku menelepon ke salah satu layanan hotel, untuk mengirimiku makanan. Hanya saja aku malas untuk melakukan semua itu. Makanan sisa ini sudah cukup untuk mengganjal perutku.

Kuakui, setelah dia pergi meninggalkan apartemen mewah ini, aku kembali ke kehidupanku sebelum dia datang padaku. Kehidupan yang sepi dan sendiri. Tak ada lagi senyuman saat aku pulang. Tak ada lagi morning kiss saat aku bangun. Dan sekarang tak ada lagi masakan rumah untukku. Sudah menginjak hari ketiga dia tak pulang. Setelah kami bertengkar hebat hanya karena dia memintaku untuk mengurangi jam kerjaku. Dia berkata kalau aku tak punya banyak waktu dengannya. Berkata kalau aku lebih cinta pekerjaan daripadanya. Memang aku selalu mendahulukan kepentingan pekerjaan. Tapi, bukan berarti aku lebih cinta kepada pekerjaan. Dia adalah wanita yang sangat kucintai dari apapun. Namun, aku adalah seorang CEO di perusahaan ayahku yang diwariskan kepadaku. Akulah yang bertanggung-jawab sepenuhnya terhadap kehidupan beribu-ribu karyawan di perusahaan Cho Corporation. Mereka bergantung padaku.

Pernikahan kami baru berjalan kurang dari tiga bulan dan kami sudah bertengkar. Aku tahu dia seperti itu karena dia merasa kesepian. Kesepian yang melandanya saat dia sendirian di apartemen yang luas ini. Dia jauh dari keluargannya dan tak punya teman yang bisa menemaninya setiap saat. Setelah dia menjadi istriku dia berkata ingin menjadi ibu rumah tangga, mengurusi apartemen, dan selalu menyambutku dengan senyum saat aku pulang. Sebenarnya sebelum kami menikah aku memberitahunya kalau aku adalah seorang CEO yang tak akan punya banyak waktu bersamanya dan menyuruhnya agar mencari kesibukan atau pekerjaan. Karena aku tahu dia adalah wanita dengan sifat ceria, tak suka kesendirian, dan selalu tertawa. Aku tak ingin kesibukanku dalam mengurus perusahaan akan membuatnya kesepian. Namun, dia tetap bersikeras hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Hasilnya dia merasa kesepian dan menyalahkanku atas itu.

Dia benar-benar wanita yang keras kepala. Beberapa kali dia memperselisihkan masalah ini dan aku beberapa kali mengingatkannya bahwa dia harus menerima dan mengerti akan keadaaanku. Hanya saja dia tak mau mengerti. Dia benar-benar wanita yang membuatku susah. Wanita yang telah membuatku menjadi seorang pria yang lemah. Wanita yang mampu membuat kehidupanku teralih hanya padanya. Wanita yang untuk pertama kalinya membuatku membuang harga diri hanya untuk merebut hatinya. Wanita yang mampu menaklukkanku.

Kuambil sebotol air mineral dari dalam kulkas untuk menghilangkan rasa haus. Kuhabiskan dengan satu tenggukan. Aku ingat aku pernah beradu ketahanan minum satu botol air hanya dalam tenggukan dengannya. Dan aku yang menang. Wanita yang marah dan pergi itu. Dia, istriku. Jujur sampai sekarang aku tak tahu kabarnya. Bukannya aku suami yang tak peduli dan bertanggung-jawab. Aku memang sengaja tak meneloponnya ataupun mencarinya. Aku membiarkannya sampai dia kembali kesini sendiri. Dia tidak salah dan akupun juga tidak salah. Tak ada yang salah diantara kita. Hanya pengertian yang masih menjadi masalah bagi kami.

Aku hanya ingin dia mengerti. Mengerti akan kehidupanku. Mengerti akan waktuku yang kebanyakan kuhabiskan untuk pekerjaan. Itu yang dia harus terima dan mengerti bila menjadi istriku. Aku sudah sangat mengenalnya. Bila dia marah maka dia akan pergi meninggalkanku. Hanya sebatas  pergi lalu kembali lagi. Oleh sebab itu, aku tak khawatir saat dia pergi, karena aku tahu tempat yang akan menjadi pelariannya. Hanya dua tempat yang akan menjadi tujuannya.

Setelah menyelesaikan ritual pagi, aku langsung berangkat ke kantor. Seorang atasan harus selalu tiba di kantor tepat waktu, yang artinya tak ada kata terlambat di kamus kerjaku. Aku ingin semua karyawanku tahu kalau kedisplinan waktu adalah hal utama di Cho Corporation. Kedislipinan adalah kunci sebuah kesuksesan.

Sebelum aku sampai di perusahaan, aku berhenti di sebuah minimarket yang kulalui. Aku harus menepati janji membelikan roti tawar untuk Han. Dia adalah sekretarisku sekaligus sahabat dekatku. Aneh memang, orang yang satu itu. Di hidupnya hanya ada roti tawar. Kemana-kemana selalu membawa roti tawar. Hingga dapat dibuat pepatah : Di situ ada Han Jung maka di situ juga ada roti tawar. Walau dari semua sikapnya yang kebanyakan aneh, dia mempunyai sisi yang membuatku nyaman bersamanya. Dia adalah orang yang jujur, baik, dan dapat diandalkan.

Kudorong pintu minimarket dengan nama Saengju. Tak begitu luas tempatnya, namun keadaannya yang bersih dan semua barang-barangnya ditata begitu rapi. Sehingga banyak pembeli disini. Kulangkahkan kakiku menuju rak roti dan kue. Kuambil beberapa roti tawar dan roti selai untuk diriku sendiri. Lalu aku berjalan menuju kasir.

Saat aku mengantri di kasir, musik yang diputar di minimarket ini berganti lagu. Entah mengapa ada sesuatu desiran di dadaku. Desiran yang terasa tak mengenakan. Apa ini?

 

Heart beats fast

Colors and promises

How to be brave

How can I love when I’m afraid to fall

But waching you stand alone

All of my doubt

Suddenly goes away somehow

One step closer

 

Lagu tersebut mulai mengalunkan bait pertamanya. Kupegang dadaku. Perasaan yang yang aneh bergemuruh di dalam dadaku. Aku tak mengerti apa ini. Aku bingung. Aku sedang tak merasa ada bahaya yang menghadangku atau apapun yang menyebabkan dadaku berdesir karena takut. Apa ini?

 

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years

I love you for a thousand more

 

Tanpa kusadari aku membentak kasir didepanku yang sedang memasukkan barang belanjaku kedalam kantong plastik agar mempercepat pekerjaannya. Kuberikan beberapa lembar uang padanya, kuterima bungkus belanjaku dengan kasar, lalu tergesa aku keluar dari minimarket.

Didalam mobil, aku hanya terbengong dengan tingkahku barusan. Tingkahku yang secara alami menuruti perasaanku agar segera keluar dari minimarket tersebut. Perasaan yang tak bisa dikendalikan dengan pikiran otakku.

Aku masih bingung. Apa tadi? Kenapa aku tiba-tiba saja bertingkah seperti itu? Hanya mendengar lagu A Thousand Years-nya Cristinna Perri, aku bertingkah seperti itu. Sebelumnya aku biasa saja saat mendengar lagu itu. Tapi, sekarang mengapa aku merasa takut saat mendengarnya? Apakah gara-gara mimpi buruk tadi malam? Ah, itu tidak mungkin. Kuenyahkan pikiran buruk yang berkelebak di otakku. Kembali kukemudikan mobilku menuju kantor.

Sesampainya di kantor, Han sudah menungguku di dalam lift yang akan membawaku ke tempat kerjaku.

“Kau sudah beli roti tawarnya, kan?” tanyanya sambil membawa map-map dokumen yang nantinya kutandatangani.

“Sudah.” Kugoyang-goyangkan bungkus belanjaan yang kubawa didepan wajahnya.

“Gomawo.”

“Apa jadwal hari ini?”

“Oh. Pukul 10.00 nanti ada rapat dengan pemegang saham. Pukul 13.00 pertemuan dengan para pemimpin pabrik. Pukul 18.00 makan malam dengan menteri keuangan…”

“Menteri keuangan?”

“Ya. Beliau mengundangmu secara langsung setelah kau dalam usia yang masih muda mendapatkan penghargaan The Bussinessman.”

“Aku mengerti.”

“Setelah itu, kau harus menandatangani ini.” ujarnya sambil mengangkat map-map dokumen, “Yang ini tak seberapa. Masih banyak lagi yang menumpuk di meja kerjamu.”  Pria ini benar-benar bisa diandalkan. Tanpa buku catatan dia hafal diluar kepala semua kegiatanku.

“Aku tahu. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”

Kusilangkan kedua tanganku ke dada. Menunggu dengan bosan lift yang berjalan ke atas. Aku dan Han diam membisu beberapa detik sebelum dia kembali membuka mulutnya, mengajakku berbicara.

“Kyuhyun-ssi, apakah Yeon masih belum pulang juga?” tanyanya dengan suara berbisik. Dia memang berbicara secara-cara hati-hati bila menyangkut tentang keluargaku. Tak ingin membuatku merasa dia ikut campur, mungkin.

“Masih.”

“Lalu, kau masih tidak mencarinya?”

“Tidak.”

Kulihat dari ekor mataku, Han sedikit memajukan bibirnya. Bertanda dia tak menyukai jawabanku.

“Aku tetap tak akan mencarinya sebelum dia sadar dan mengerti.”

“Tapi, kau tak seharusnya beg…..” Sebelum sempat dia meneruskan ucapannya, Handphone-nya berdering. Aku mengernyit mendengar nada deringnya. Kemudian memegang dadaku yang kembali berdesir. Kembali merasakan perasaan takut. Dengan susah payah mengkosongkan tangan kanannya. Han mengangkat Handphone, mengakhiri nada dering dari reff A Thousand Years yang membuatku menderita.

Aku berpikir. Berpikir lagi maksud dari rasa takut ini. Sebelumnya aku tak seperti ini. Bahkan aku sering mendengarkan lagu ini, karena Yeon Ju selalu mendendangkannya untukku. Namun, apa yang terjadi denganku sekarang?

“Tadi itu ibuku.” ujarnya setelah memasukkan kembali Handphone-nya kedalam saku celananya.

“Aku tak tanya. Yang kutanyakan, mengapa kau memakai lagu itu sebagai nada deringmu?” Aku heran, biasanya orang-orang akan memilih lagu untuk nada dering yang beat atau penuh kegembiraan, tapi dia justru memakai lagu yang menurutku slow dengan music yang memilukan.

“A Thousand Years maksudmu? Hey, akhir-akhir inikan masih booming Twilight saga dan kebetulan aku suka soundtracknya itu.” ujarnya dengan wajah berseri-seri.

“Ganti nada deringmu itu! Pastikan aku tak mendengar lagu itu lagi di dalam nada deringmu.” ujarku sebelum aku melangkahkan kakiku keluar dari lift yang sudah terbuka.

 

***

 

Jam dinding yang terpasang di café ini sudah menunjukkan pukul 09.45. Han juga belum datang. Aku memutuskan menunggunya sambil minum kopi di café milik Cho Corporatian yang berdiri tepat di depan gedungnya. Dia kusuruh pergi ke apartemenku untuk mengambil dokumen untuk bahan rapat dengan pemegang saham nanti. Karena aku lupa membawanya tadi pagi.

Han adalah orang yang mengetahui semua kehidupanku. Dia adalah temanku sejak kecil. Hanya saja dia satu tahun lebih tua dariku. Tak ada rahasiaku yang tidak diketahuinya. Aku sering menceritakan masalahku dan dia akan memberikan saran dari permasalahku, yang sebagian aku dengarkan. Tak tertinggal permasalahanku dengan Yeon Ju sekarang. Hanya dia seorang yang mengetahuinya, kecuali Yeon Ju menceritakan permasalah kami pada orang lain.

“Hah… hah… hah… mian. Lama menunggu, ya? Apartemenmu itu berantakan sekali kalau Yeon tak ada disana. Aku butuh waktu lama menemukannya.” ucapnya dengan napas tersedak-sedak. Seakan dia baru saja lari marathon. Kulihat keringat bercucuran dari dahinya. Sampai segitunya dia mencari dokumen itu.

“Kupikir kau sudah lupa letak apartemenku. Kaukan sudah sangat lama tak pergi ke apartemenku.”

“Kau pikir aku sudah sangat tua sampai lupa hal yang sekecil itu. Sejak kau dan Yeon menikah, aku sudah tak punya alasan untuk datang ke apartemenmu. Kaukan sudah punya teman disana.”

“Ya.” Aku tersenyum mendengar penuturannya. Kuberanjak dari dudukku.

“Kau mau kemana?”

“Rapat.”

“YA! Aku belum minum kopi secangkirpun, Kyu.”

“Salah sendiri datang terlambat. Ayolah! Rapat sebentar lagi akan dimulai.” Saat aku ingin mendorong kursi dibelakangku, aku mendengar lagu itu lagi.

Lagu yang mulai memainkan musiknya. Lirik-liriknya mulai terdengar di telingaku. Perasaan itu kembali menyerangku. Kali ini bertambah kuat. Kupegang dadaku yang terasa ditusuk-tusuk. Jantungku berdetak cepat. Napasku tak teratur. Kedua tanganku gemetar.

“Kyuhyun, kau tak apa-apa?” tanya Han khawatir.

“Hyung, ayo cepat pergi dari sini!”

Kudorong kursi dengan kasar. Sampai terdengar desitan kayu yang cukup keras. Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Hanya rasa takut yang kurasakan sekarang. Rasa takut yang tak beralasan.

Saat aku akan membalikkan tubuhku kearah pintu café berada, kurasakan bahu kananku membentur benda keras. Kurasakan sesuatu yang basah menumpahi kemeja putihku.

“Mianhae. Mianhae. Jeongmal mianhae.” ucap seorang pelayan yang berdiri disampingku dengan membawa nampan berisi beberapa gelas yang sudah tak terselamatkan isinya. Pelayan tersebut terus membungkuk padaku dengan raut muka bersalah.

“Kau tak apa-apa?” Han mendekatiku dan mencoba membersihkan noda merah di kemejaku dengan saku tangannya, “Bagaimana kerjamu, ha? Sudah berapa lama disini? Dimana pemimpin café ini?” bentak Han pada pelayan yang raut wajahnya berubah ketakutan, membuat semua orang didalam café menengok kearah kami.

“Sudahlah.” Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tak peduli lagi dengan kemeja mahalku yang ternodai. Aku hanya ingin pergi dari sini. Tanpa mempedulikan Han yang memanggilku, kulangkahkan kaki secepat mungkin. Aku keluar dari café terus berlari kecil menuju gedung Cho Corporation hingga tak dengar lagi lagu itu. Sesampainya didalam gedung aku langsung mencari toilet terdekat.

Kubasuh wajahku. Berharap rasa takut ini hilang dari diriku. Kutatap pantulan wajahku didalam cermin didepanku. Aku terkejut. Wajahku begitu mengerikan. Ketakutan yang hanya tersirat disana. Kualihkan pandanganku dari cermin. Aku mungkin sedang tak enak badan sehingga seperti ini. Kunyalakan kran westafel kembali. Kubasuh noda merah di kemejaku. Dari baunya, sepertinya aku tertumpahi jus strawberry.

Tapi, untuk kedua kalinya aku membasuh kemejaku, noda merah di kemejaku mengingatkanku pada warna merah darah didalam mimpiku semalam. Tanganku kembali gemetaran. Rasa takut yang mulai memudar, kembali lagi menghantuiku.

Tubuhku lemas. Kutopangkan kedua tanganku ke westafel untuk menopang tubuhku. Hanya suara aliran air kran yang kudengar sampai suara tersebut tergantikan dengan suara milik Han.

“Kyuhyun, ada apa denganmu? Kau tak apa-apa, kan? Kau terlihat pucat sekali.” Han menunjukkan raut mukanya yang sangat khawatir.

“Hyung, tadi malam aku mimpi buruk. Mimpi buruk tentang Yeon Ju.”

“Mimpi buruk?”

“Ya. Didalam mimpi itu aku mendengar lagu A Thousand Years. Dan entah mengapa seharian ini aku mendengar lagu itu berkali-kali. Sebelumnya saat aku tak bermasalah dengan lagu itu tapi sejak mimpi buruk itu aku selalu merasa ketakutan saat lagu itu terdengar di telingaku. Aku takut. Aku sangat takut kalau mimpi itu menjadi kenyataan. Dalam mimpi itu aku akan kehilangan Yeon Ju, hyung.”

Kulihat Han sedikit terkesiap dengan ceritaku. Dia menatapku dalam diam untuk beberapa menit. Setelah dia mengedipkan kelopak matanya kembali, dia berjalan mendekatiku. Tangan kirinya terulur padaku dan menepuk pundakku pelan.

“Itu tak akan terjadi. Mimpi hanyalah mimpi. Aku juga sering mimpi buruk. Tapi, tak ada yang menjadi kenyataan. Jadi, tenang dirimu! Aku akan mencarikanmu kemeja yang baru dan keringkan wajahmu dulu.” ujarnya menenangkanku. Kemudian dia berjalan keluar.

Rapat dengan pemegang saham dimulai tepat waktu. Aku berterima kasih pada Han dengan cepat mencarikanku kemeja ganti. Aku berdiri menghadap para pemegang saham. Kulihat Ahra noona, yang juga sebagai salah satu pemegang saham sudah duduk ditempatnya. Mulai kubuka rapat ini. Semua memperhatikanku dengan seksama penjelasan tentang rencanaku membuat pabrik baru Cho Corporation.

“Bisnis keluarga ini sudah berkembang di Cina, Taiwan, Singapura, Indonesia, Jepang, Amerika, dan kali ini aku ingin mengembangkan sayap Cho Corporation di Eropa. Aku ingin……” Tiba-tiba mimpi buruk tadi malam terlintas di otakku. Dan lagu itu kembali terdengar oleh telingaku.

“Apa kau dengar itu, hyung?” bisikku pada Han yang berdiri disampingku.

“Kenapa kau berhenti? Aku tak mendengar apa-apapun. Yang kudengar hanya suaramu.” Han menatapku dengan terheran-heran.

“Tidak mungkin. Aku mendengarnya. A Thousand years. Aku mendengar lagu itu sekarang, hyung.”

“Jangan bercanda, kyu. Ini rapat dan tak mungkin sebuah lagu berputar disini. Tak ada suara lain selain suaramu.” Han memandangku dengan bola matanya yang hitam. Tersirat kejujuran didalamnya. Kualihkan mataku kesemua orang didalam ruangan ini. Mereka menatapku dengan tatapan heran. Kecuali Ahra noona yang menatapku khawatir.

“Ada apa denganmu, kyu?” tanya Ahra noona. Kakak perempuanku yang cantik dan kusayangi.

Hanya saja aku tak menghiraukan pertanyaannya. Aku kacau. Lagu itu terus terdengar olehku. Kenapa hanya aku yang mendengarnya? Perasaan takut terus menyelimutiku. Membuatku tak bisa berpikir lagi. Takut. Takut dan takut yang kurasakan.

Yeon Ju.

Nama itu terlintas dipikiranku. Mengingatkanku pada mimpi buruk itu. Sesuatu yang kuhindari. Sesuatu yang ingin kuhapus. Sesuatu yang tak kupedulikan. Sesuatu yang ingin tak kupercayai. Mimpi buruk itu. Aku tak ingin itu terjadi.

Yeon Ju.

Aku ingin bertemu dengannya sekarang. Aku ingin melihatnya. Aku harus bertemu dengannya.

“Kyuhyun, kau tak apa-apa, kan?” tanya Ahra noona yang sudah berdiri disampingku, rasa khawatir tak hilang dari raut wajahnya.

“Noona, aku harus pergi. Tolong pimpin rapat ini!” Aku berlari keluar dari ruang rapat. Tak kupedulikan Ahra noona dan Han memanggil-manggil namaku.

Aku masuk kedalam mobilku yang terparkir di basement. Kutancap gasnya. Kulajukan mobilku ke jalanan. Kuambil Handphone di dalam saku celanaku. Kutelepon Yeon Ju.

Tut..tut..tut..tut…

Hanya nada itu yang kudengar.

“Kenapa tak aktif, bodoh?”

Aku semakin khawatir. Aku tak bisa menghubunginya. Sudah beberapa kali aku menghubunginya, namun hanya nada itu yang kudengar.

“Hanya dua tempat tujuannya.”

Kucari nomer mertuaku, ayah Yeon Ju.

“Tumben kau meneleponku, bocah tengik. Ada apa?” tanyanya setelah telepon tersambung. Ayah mertua masih tetap saja tak ramah denganku.

“Aku hanya ingin bertanya, apakah Yeon Ju ada disana?” Keluarga Yeon Ju tinggal di Jeju, tak mungkin aku pergi kesana dengan waktu sekejap. Aku tak punya banyak waktu untuk itu.

“Apa? Apa kau sedang mengajakku bercanda, eum? Tentu saja dia tak ada disini, diakan sudah menjadi istrimu, tak mungkin dia disini.”

“Bukan. Maksudku, apakah Yeon Ju pulang kesana?”

“Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu? Kaukan suaminya. Jangan bilang kalian bertengkar?” Terdengar nada geraman dibalik Handphone-ku. Ayah mertuaku ini benar-benar pemarah.

“Jangan khawatir, mertua. Kalau memang Yeon Ju tak ada disana, aku tutup telponnya. Maaf menganggu.” Tanpa menunggu balasannya, terlebih dahulu kuputus hubungan kami. Aku tahu, apa yang akan dia katakan.

Sepertinya mertua jujur kalau Yeon Ju tak pulang kesana. Kalaupun dia pulang kesana dan menyuruh mertua berbohong saat aku meneleponnya, nada bicara mertua tak akan seperti itu.

Berikutnya kucoba menelepon Yeon Ju lagi. Tapi, hasilnya masih sama. Sekarang hanya ada satu tempat lagi yang harus kupastikan. Kutambah laju mobilku. Aku ingin segera melihatnya.

Sesampainya didepan pintu rumah Jang Ryeong, kuketuk pintu rumahnya tak sabaran. Kenop pintu berputar, menandakan sang pemilik ada di rumah.

“Kyuhyun-ssi, ada apa kau kesini?”

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung menerobos masuk kedalam rumahnya.

“Yeon Ju, dimana kau? LEE YEON JU.” teriakku memanggil namanya disetiap ruangan yang ada di rumah ini.

“Kau kenapa, Yeon Ju tak ada disini.” ucap Ryeong, satu-satunya sahabat dekat Yeon Ju.

“Jangan berbohong. Aku tahu dia ada disini.” Kuangkat baju milik Yeon Ju yang berserakan diatas kasur didalam sebuah kamar.

“Ah, i-itu….”

“Dimana dia, Ryeong?” Kutatap tajam mata Ryeong. Mengintimidasinya adalah cara agar dia tak berbohong.

“Dia… Ahhh… sebenarnya kalian ini kenapa? Aku jadi susah gara-gara kalian bertengkar. Dia terus saja mengomel tentangmu selama dia disini. Aku pusing mendengarnya.” Disilang kedua tangannya kedepan dan memasang wajah marah. Menandakan kalau dia tak suka dengan dampak permasalahan kami padanya.

“Aku tanya, dimana Yeon Ju sekarang, Jang Ryeong.” Aku sudah tak sabar lagi. Aku ingin melihat wajahnya. Melihat wajahnya.

“Aku tak tahu. Katanya dia ingin keluar sebentar. Tapi, sejak tadi dia tak kembali-kembali.” Mendengar ucapannya ketakutanku semakin menjadi.

“Jangan berbohong, Ryeong. Dimana dia sekarang?” Tak kusadari aku menggoyang-goyangkan bahu Ryeong penuh emosi.

“Ada apa denganmu? Aku benar-benar tak tahu. Dia tak mengatakan dia pergi kemana.” Ryeong menatapku takut. Kulihat dia meringis kesakitan. Tahu apa yang kulakukan, segera kulepaskan kedua tanganku dari bahunya.

“Ah, mian. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih selama ini kau mau menampungnya. Bila dia kembali kesini, telpon aku!” Kutinggalkan Ryeong yang terbengong ditempatnya. Aku masuk dalam mobil dan mulai melajukannya lagi. Aku tak tahu kemana lagi tujuanku. Kemana harus mencarinya.

Rasa takut ini tak kunjung menghilang. Justru semakin tumbuh kuat didalam diriku. Rasa takut yang tumbuh menjadi rasa khawatir yang luar biasa.

Dia.

Aku tak ingin kehilangannya. Aku mencintainya. Aku membutuhkannya. Hanya dia yang membuat hidupku berwarna. Mungkin ini hal yang berlebihan. Namun, kuakui aku tak bisa hidup tanpanya. Aku tak ingin kehilangannya.

Aku kacau.

Aku kalut.

Dimana kau?

Kumohon tunjukkan dirimu!

Kurasakan airmataku mengalir dari tempatnya. Membasahi kedua pipiku. Aku menangis. Aku menjadi lemah karenanya. Mimpi buruk itu terus berkelebat di otakku sekarang. Menghantuiku tiada henti. Membuatku tak lagi berkonsentrasi melajukan mobilku. Tak ingin terjadi sesuatu yang merugikan orang lain saat mengemudikan mobil dalam keadaan seperti ini, kutepikan mobilku.

Kusandarkan kepalaku kesandaran. Menatap kosong pemandangan diluar. Sekarang yang kurasakan hanya ketakutan, kekhawatiran, dan kepedihan.

Ketakutan akan mimpi buruk itu.

Kekhawatiran akan Yeon Ju yang ada didalamnya.

Kepedihan yang akan kejadian didalam mimpi buruk itu.

Apa yang harus kulakukan?

Aku tak tahu lagi tempat tujuannya. Dan seoul adalah kota yang sangat luas. Aku tak ingin menyerah. Namun, tubuh ini sudah terlalu lelah untuk bergerak.

Kulihat banyak orang yang berlalu lalang didepanku. Saling berjalan beriringan di trotoar disamping mobilku yang terparkir sembarangan. Mobilku berhenti di  jalan raya bercabang dua. Jalan raya yang setiap sisinya berdiri gedung-gedung pencakar langit berdampingan dengan café-café dan toko-toko kecil. Daerah ini sangat ramai. Aku merasa baru pertama kali aku memperhatikan daerah ini. Banyak orang yang berjalan kaki disini. Kebanyak dari mereka berhenti disini menikmati setiap suguhan daerah ini. Banyak juga berbagai seniman jalanan dengan kemampuan masing-masing menghibur para penonton mereka. Tak terkecuali dua seniman, wanita dan pria yang menyuguhkan keahlian mereka dalam bermusik. Bernyanyi dan memainkan gitar.

Sebentar.

Mereka?

Aku seperti tersengat aliran listrik. Tak percaya akan apa yang kulihat. Dua seniman itu sangat mirip dengan dua seniman di dalam mimpi burukku semalam.

Tak mungkin.

Kubuka pintu mobilku dan keluar dari dalam mobil. Kuedarkan pandanganku kepenjuru daerah ini.

Benar.

Gedung itu dengan jam dinding besar menempel disisi atasnya. Aku berlari menuju trotoar. Berjalan menyelusurinya lalu berhenti kira-kira dua meter dari penyebrangan. Penyebrangan bergaris besar putih. Kuedarkan pandanganku lagi. Aku merasa mengalami dejavu. Mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.

Dikananku, dua seniman yang sama dimimpiku sedang memainkan lagu yang tak kuketahui. Disisi kiri berdirilah gedung itu dengan jam dinding raksasanya.

Rasa takut yang awalnya tak kuingat karena pikiranku yang hanya terpusat dengan daerah ini kembali menyerangku. Rasa khawatir yang mulai menyesakkan dadaku. Kutengok jam dinding raksasa itu dan kemudian kupadukan dengan jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Kupegang tanganku kiriku dengan sebelah tanganku yang semuanya gemetar. Jantungku berpacu cepat. Sangat cepat.

Tak mungkin.

Pukul 11.55.

Bohong.

Mimpi itu tak akan terjadi.

5 menit lagi kejadian dalam mimpiku akan terjadi.

Tak mungkin.

Ini hanya kebohongan.

Ini hanya kebetulan aku bisa berada disini sekarang.

Saat bersamaan kudengar lagu itu lagi. Kutengokkan kepalaku kekanan. Sang pria memetik gitar, mulai memainkan musiknya dan sang wanita mulai menyanyikan lagunya.

 

Heart beats fast

Colors and promises

How to be brave

How can I love when I’m afraid to fall

But waching you stand alone

All of my doubt

Suddenly goes away somehow

One step closer

 

Wajah mereka berdua. Cara mereka duduk. Cara mereka memaikan gitar dan microphone. Suara mereka. Irama mereka. Semuanya mirip dalam mimpi buruk itu.

 

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years

I love you for a thousand more

 

Setelah ini?

Kudengar dentingan pertama jam raksasa mulai menggema diseluruh daerah ini.

Tidak.

Kutengokkan kembali kepalaku kearah penyebrangan. Dan…

Aku melihatnya. Berdiri disisi penyebrangan. Dia sedikit menengokkan wajahnya kesamping, membuatku tahu kalau itu dia. Dia memakai dress putih yang sama dalam mimpi buruk itu.

Dentingan kedua, entah apa yang dia pikirkan, dia sudah menyebrang walau lampu lalu lintas masih menunjukkan warna merah.

Aku tak memikirkan apapun. Yang kupikirkan hanya ingin meraihnya. Aku berlari secepat mungkin. Mendorong siapapun yang menghalangiku.

Satu langkah dalam dentingan ketiga dan jeritan yang memekikkan telinga.

Aku berhasil meraihnya. Memeluknya dalam dekapanku. Walau aku harus merasakan rasa sakit disekujur tubuhku.

Kurasakan dia melepas kedua tanganku yang tak mampu lagi memeluknya erat. Dia bangun. Membalikkan tubuhnya kepadaku. Membuatku dapat melihat wajahnya. Sepertinya dia tak apa-apa. Yang kulihat hanya luka gores dikeningnya.

Dia mengulurkan kedua tangannya. Memeriksa keadaanku dengan isak tangis yang mulai terdengar.

“Kyuhyun, kau tak apa-apa? Kau tak apa-apa, kan?”

Dia menatapku penuh kekhawatiran. Butiran-butiran bening di kedua matanya mulai keluar membasahi pipinya. Dengan kekuatan yang tersisa, kuangkat tanganku. Menyentuh pipinya.

“Apa kau tak apa-apa?” Hanya ini yang ingin kutanyakan padanya. Memastikan kalau aku tak akan kehilangannya.

Dia menganggukkan kepalanya. Satu anggukan yang sangat berarti bagiku.

“Syukurlah.”

Kemudian aku tak merasakan apapun. Tak melihat apapun. Tak mendengar apapun. Hanya hitam dan gelap tempatku sekarang berada. Aku tak memikirkan apapun selain, “Dimana aku?”

Aku mencoba berjalan mencari tahu tempat apa ini. Berjalan dan berjalan. Tapi, aku merasa aku tak berjalan sama sekali. Tempat ini seperti tak berujung dan gelap.

Lalu hitam dalam gelap ini berubah menjadi cahaya berwarna-warni. Cahaya yang berasal dari slide-slide yang bertebaran mengelilingiku. Slide-slide persegi panjang yang menampilkan potongan-potongan sebuah adegan. Semua adegan yang didalamnya ada diriku.

Waktu aku kecil bersama ayah dan ibuku. Waktu aku besar bersama dengan berbagai orang dan satu orang pria yang sama yang selalu disampingku. Kemudian waktu aku bersama seorang wanita berambut panjang bermata indah. Kami tampak saling mengasihi dan mencintai.

Slide-slide berikutnya yang ada hanya aku dan wanita itu. Seakan dia sangat berarti dalam hidupku. Sampai slide-slide yang memanjakan mataku hilang menjadi sebuah cahaya putih.

Cahaya putih yang membuatku ingin pergi kesana. Aku berjalan perlahan kearah cahaya tersebut sambil menggapai-gapainya dengan tanganku. Sebelum langkahku terhenti saat aku mendengar sebuah nama.

“Kyuhyun.”

Terdengar seperti nama seseorang. Namun, bukan itu yang membuatku berhenti. Suara yang mengucapkan nama itu yang membuatku tertarik dan mengadahkan kepalaku keatas, keasal suara tersebut berasal. Suara yang terasa tak asing lagi di telingaku. Suara yang terasa sangat kurindukan.

“Kyuhyun.”

Suara tersebut terus memanggil nama itu. Berulangkali dan kurasakan sesuatu yang basah menetes dipipiku. Menetes dan menetes lagi. Membasahi seluruh wajahku. Kupejamkan mataku lalu kubuka kembali. Saat itupun aku melihat sebuah ruangan berdinding putih. Aku melihat selang-selang disekitarku. Lampu berpejar diatasku. Dan kulihat banyak orang berdiri mengintariku.

Kukerjap-kerjapkan kedua mataku untuk menyesuaikan cahaya yang menyilaukan. Membuatku harus membuka mataku sedikit demi sedikit. Sekarang mataku terbuka sepenuhnya. Kusesuaikan penglihatanku. Kuputar kepalaku yang terasa begitu pegal. Kutelusuri pemandangan di ruangan ini yang ditangkap oleh kedua bola mataku. Aku sudah sadar sepenuhnya. Kalau aku kembali ke dunia yang sempat kutinggalkan.

“Eomma.”

“Appa.”

“Noona.”

“Hyung.”

“Yeon Ju….”

Untuk panggilan ini aku berhenti cukup lama. Kupandangi wajahnya yang begitu mengerikan. Kedua matanya membesar. Lingkaran hitam yang begitu besar menghiasi kedua matanya. Bibirnya kering. Pipinya tampak cekung, menandakan berat badannya mungkin turun sangat banyak.

Kuulurkan tangan kananku yang terasa begitu kaku dan sakit. Kusentuh pipinya, menghapus butiran airmata yang mulai turun dari matanya.

“Apa kau tak makan, eoh?” celetukku setelah aku tersadar sepenuhnya.

Didetik itu dia menangis dengan keras. Menangis terisak-isak. Menangis dengan airmata yang sepertinya tak bisa keluar banyak lagi.

“Aku takut. Aku tak melihatmu dalam waktu 3 hari. Membuatku sengsara karena tak melihat wajahmu. Aku kesal menunggumu dan telpon darimu sampai handphone-ku kubuang entah dimana. Lalu entah darimana, kau datang dan menyelamatkanku. Mengorbankan nyawamu untukku. Aku sangat takut kau tak akan membuka matamu. Aku takut kehilanganmu, bodoh.” Dipukul-pukulnya dadaku. Menyalurkan semua penderitaannya. Tak kusangka saat dia pergi dia akan sangat sengsara.

“Hei, hei, hentikan! Disini masih sakit, tau.” Kupegang kedua tangannya sebelum dia menghancurkan jantungku nanti. Dia berhenti dari rontaannya. Terisak-isak dengan wajah yang begitu mengerikan namun menggelikan sekaligus. Wajah yang begitu berantakan.

“Eomma, Appa, Noona, Hyung, bisakah kalian memberi kami waktu sebentar?” tanyaku pada mereka.

“Baiklah, tapi bila ada apa-apa denganmu, cepat panggil kami, eum?”

“Ne, eomma.” Ibuku adalah seorang wanita yang begitu tegar. Wanita yang begitu kuat menghadapi semua penderitaan yang dialaminya. Dia tak seperti Yeon Ju yang terlihat ceria dan kuat diluar namun begitu rapuh didalam. Yang membuatku ingin selalu melindunginya. Ibuku tetap akan tabah walau melihat anak bungsu terkekang dengan peralatan medis disekitarku ini. Mereka semua keluar. Tinggal aku dan Yeon Ju di ruangan serba putih ini.

“Sudah, jangan menangis lagi! Lihat wajahmu, begitu mengerikan.” Kuhapus butiran airmata yang tersisa diwajahnya.

“Aku tak mengerti, kenapa kau bisa ada disana dan menyelamatkanku? Aku tak mengerti, kyu.”

“Aku sendiri juga tak mengerti. Namun, ada sesuatu yang menuntunku kesana. Membuatku bersyukur aku dibawa kesana dalam waktu yang tepat.” Dia menatapku bingung. Bingung akan ucapanku. Memang butuh waktu untuk menjelaskan semua kejadian-kejadian itu padanya.

“Sudahlah, kalau aku sudah keluar dari sini, kuceritakan kejadian yang begitu ajaib yang kualami saat kau pergi meninggalkanku. Ngomong-ngomong, berapa hari aku koma?”

Yeon Ju memandang sekilas. Ada ekspresi sedih diwajahnya saat aku menanyakan hal ini.

“Sebulan.”

Sebulan? Tapi, saat aku didalam tempat yang gelap itu, aku merasa seperti sehari.

“Kyuhyun.” panggilnya setelah sesaat kami terdiam.

“Ne?

“Jangan pernah tinggalkan aku lagi!”

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu.” Kusentuh pipinya. Mengusap-usapnya lembut. Aku tak akan pernah meninggalkannya. Dan setelah kejadian itu, aku tak akan pernah membiarkannya meninggalkanku.

“Yeon Ju, soal itu. Aku tak akan merubah pikiranku. Aku akan tetap bekerja keras untuk Cho Corporation. Kau tahu, hidupku, dari aku lahir sampai sekarang. Sampai aku menemukanmu, itu semua karena aku dilahirkan di lingkungan Cho Corporation. Kau tak bisa merubahnya.” Yeon Ju sempat kaget mendengar ucapanku, membuatnya kembali memalingkan wajahnya, “Aku belum selesai.” Kuraih kedua pipinya, kuputar wajahnya agar dia menatapku kembali.

“Kuakui aku orang egois. Aku mengerti perasaanmu. Namun, aku akan memaksamu bekerja di Cho Corporation, memperkerjakamu sesuai kemampuanmu. Dengan begitu setiap hari kita akan terus bertemu dan saling melihat. Berangkat dan pulang bersama. Tak ada yang kesepian dan tersiksa karena menunggu. Kalaupun kau menolak aku akan tetap memaksamu. Kau tahu lagu A Thousand Years?” Yeon Ju menganggukkan kepalanya. Kunyanyikan sebagian dari lagu tersebut.

 

Heart beats fast

Colors and promises

How to be brave

How can I love when I’m afraid to fall

But waching you stand alone

All of my doubt

Suddenly goes away somehow

One step closer

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years

I love you for a thousand more

 

“Mianhae. Karena aku telah membuatmu kesepian. Untuk menembus semua keegoisanku, aku akan selalu mencintaimu. Kumohon jangan marah lagi, Changi. Aku akan selalu mencintaimu sampai beribu-ribu tahun kemudian. Aku akan terus mencintaimu.” Kusunggingkan seulas senyum untuknya. Senyumku yang paling tulus untuknya.

“K-kyuhyun…” Bibirnya bergetar. Kedua bola matanya berbinar-binar. Menandakan dia akan kembali menangis. Kutarik kepalanya. Kubenamkan wajahnya kedadaku. Memeluknya sebisaku.

Aku bersyukur, mimpi buruk itu datang padaku. Memperingatkanku akan hal yang mungkin akan kusesali seumur hidupku. Berkat mimpi buruk itu, aku masih bisa melihatnya, memeluknya. Aku tahu, semua ini adalah kekuasaan-Nya. Terima kasih. Aku akan selalu menjaga wanita ini. Aku akan melindunginya. Membahagiakannya. Terima kasih.

 

End~

13 Comments (+add yours?)

  1. Choi EunHae
    May 21, 2013 @ 16:11:01

    Keren thor..

    Itu lagu kenangan aku sma seseorang *ehh, kenapa jadi curhat gni*
    kkk~

    pokoknya keren banget deh thor FF nya ;’)

    Reply

  2. Ahn Ah_23
    May 21, 2013 @ 16:38:06

    Daebak! Aku suka ceritanya,feel nya dapet banget, . .
    #Happy endi. . . .ng
    Di tunggu ff lainx,yh thor~~^^

    Reply

  3. natasha chung
    May 21, 2013 @ 17:47:57

    Author!!! *treak pake toa* ff nya satu kata : DAEBAK!! Keep writing ya thor ! ( 9’̀ . ‘́)9 Hwaiting!!!

    Reply

  4. melaniamagdalena
    May 21, 2013 @ 19:33:12

    Ok! Ff-nya menguras jiwa dan emosi-ku (loh)
    Bagus, keren banget kata2-nya ..
    Alurnya juga bagus , feel-nya dapet banget . So, I just want to say good job thor 😀

    Next time bikin yang lebih bagus lgi ya ..

    Reply

  5. Cassia Dawson
    May 21, 2013 @ 19:34:54

    Kyknya ini udh pernah dipublish deh…….

    Reply

  6. Cassia Dawson
    May 21, 2013 @ 19:35:42

    Tp aku suka bgt sama ceritanya ga bosen bacanya

    Reply

  7. novihyukjae
    May 21, 2013 @ 22:10:56

    thor ini kan udh prnh d post ya?

    Reply

    • Blackshin
      May 22, 2013 @ 05:57:24

      mwoya? author gk tahu. tp emg nie udh di publish dsini. tp nie kok di publish lg ya…..?
      *tanyakyu*

      Reply

  8. Nuri nda
    May 21, 2013 @ 22:28:03

    Ni ada unsur2 MVny JYJ yg in heaven ya..keren..

    Reply

  9. bertyhyun
    May 21, 2013 @ 22:35:41

    Awal2nya aku ngerasa ini mirip film barat,tp aku lupa judulnya apa. Bkn bermaksud nuduh ini nyontek atau apapun sih. Mgkn kebetulan aja mirip 🙂 overall ini keren bgt. Feelnya dpt bgt. Aku suka, walaupun ada bbrp typo hehehe.. Keep writting thor. I’ll wait for ur next ff :))

    Reply

  10. phantomlady
    May 21, 2013 @ 22:42:02

    mimpi buruk ya?
    daebak thor. ceritanya nyesek banget.

    Reply

  11. Kodok
    May 22, 2013 @ 01:57:52

    ini q sudah prnh bc dsblh…n ttp aja suki desu

    Reply

  12. dealeehae
    May 23, 2013 @ 09:23:28

    sedihh dan menegangkan. T.T
    keep writing thorr ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: