Eyes Wide Open [3/4]

Eyes Wide Open 1

Author:  hsw_elf

Main Cast:

–  Choi Siwon

–  Baek Jihyo

–  Han Jaemin

–  Cho Kyuhyun

Genre: Romance, School-life

Rating: PG13

Recommended song: Banmal song – Jung Yonghwa

http://rolinfanfictions.wordpress.com

Happy reading, guys. I hope you’ll enjoy it. J

We’ll get closer day by day

Everyday, I have heart-fluttering ecpectations

What to say to you

How to get you to laugh


“Sunbae.. menurutku kau harus meluangkan waktu lebih banyak untuk menemani Jaemin jalan-jalan.” Jihyo berujar pelan di sela-sela membersihkan aquarium.

“Hm, aku sudah berusaha,” jawab Siwon singkat.

“Sebaiknya sunbae tidak latihan basket dan menemani Jaemin setiap sabtu sore,” Jihyo memperjelas maksud kalimatnya.

Siwon mendesah, “Aku tidak bisa, sabtu sore justru waktu yang tepat untuk latihan basket karena setiap sabtu kita tidak begitu lelah karena pulang sekolah lebih cepat.”

“Tapi kalau setiap sabtu sunbae latihan basket, Jaemin bisa pergi dengan pria lain!” Jihyo berseru tanpa sadar.

Tubuh Jihyo seketika menegang ketika kata-kata itu meluncur tanpa proses filtrasi dari mulutnya. Tangannya meremas rok sekolahnya erat ketika mata Siwon menatapnya tajam.

“Mwo?” Tanya Siwon, tatapan tajamnya menatap bola mata Jihyo lurus.

Jihyo buru-buru menggeleng, “Maksudku.. dia bisa bosan dan..”

“Aku tidak menyangka kalau kau bisa menjelek-jelekkan sahabatmu sendiri,” ujar Siwon dengan nada kecewa yang tidak bisa ditutupinya.

Tanpa banyak bicara, Siwon segera memindahkan kura-kura bernama Haru dari baskom ke dalam aquarium yang sudah bersih. Ia menuangkan air ke dalam aquarium itu kemudian berlalu dari laboratorium biologi, meninggalkan Jihyo yang masih bergeming di tempatnya.

.

.

2013-0526

Hari ini sunbae dan tim basket sekolah akan bertanding melawan SMA X di lapangan basket sekolah itu, yang mungkin menurut SMA X adalah pertandingan balas dendam. Aku sangat ingin menonton tapi aku tidak berani, sedangkan Jaemin malah menyia-nyiakan kesempatan menonton pertandingan sunbae karena ada janji untuk membeli video game bersama Kyuhyun. Entah apa alasan yang Jaemin katakan pada sunbae, tapi sunbae pasti kecewa.

Jihyo mendesah pelan ketika membaca tulisannya sendiri beberapa menit yang lalu. Hari ini ia menulis lebih panjang, entah mengapa ia ingin bercerita lebih banyak hari ini. Tentu saja ia menulis lebih banyak setelah hampir tiga minggu tidak menulis apa pun di diarynya, tentunya kerena Jaemin yang terus begadang untuk bermain online game. Kepalanya terasa penat setiap memikirkan masalah Jaemin yang entah bagaimana terus membebaninya.

Tepat tiga minggu Jaemin mengenal Kyuhyun, waktu yang sebentar, tapi mampu mengubah drastis sikap gadis itu. Jihyo sudah berusaha menasihati Jaemin agar tidak terlalu dekat dengan Kyuhyun–meski hanya lewat dunia maya, tapi Jaemin tidak mempedulikan kata-katanya. Jihyo bahkan sering menyembunyikan laptop Jaemin agar gadis itu tidak bermain game, tapi Jaemin selalu menemukan laptop itu dengan mudah.

Minggu kemarin adalah kedua kalinya mereka bertemu. Dua minggu lalu Kyuhyun baru mengenalkan sebuah game pada Jaemin, minggu lalu Jaemin sudah ketagihan bermain game itu, dan minggu ini–tepatnya hari ini–Kyuhyun akan menemani Jaemin membeli sebuah psp yang tentu saja akan membuat Jaemin semakin jarang memikirkan kekasihnya, Siwon.

Jihyo kembali mendesah ketika nama Siwon muncul di benaknya. Sudah hampir satu minggu sejak kejadian di laboratorium, dan selama itu pula Siwon bersikap dingin padanya. Pernah sekali Jihyo ikut Jaemin ke kantin, dan selama jam istirahat Siwon tidak mengajaknya mengobrol. Sejak saat itu Jihyo memilih untuk tidak ikut mereka ke kantin lagi, alasan pertama untuk membiarkan mereka memiliki waktu untuk berdua–yang sudah jarang sejak Jaemin mengenal pria bernama Kyuhyun–dan alasan kedua karena dia juga merasa tidak nyaman ketika Siwon memperlakukannya seperti itu.

“Ji-ah!”

Jihyo buru-buru menutup buku hariannya dan menaruhnya di bawah tumpukan buku pelajarannya begitu mendengar suara Jaemin. Jihyo menoleh, “Kau sudah pulang?”

“Eo.” Jaemin yang baru datang langsung duduk di tepi kasurnya. Ia membuka isi paper bag yang dijinjingnya. Sebuah psp baru dan video game.

Jihyo mendesah, “Kau jadi beli psp?”

Jaemin mengangguk bersemangat, “Tentu saja. Kyuhyun yang memilihkannya untukku. Lucu kan?”

Jihyo menatap benda kecil di nakas. “Masih jam 5, pertandingannya pasti belum selesai. Cepat pergi ke..”

“Aku mau menamatkan video game ini. Kyuhyun bilang dia bisa menamatkannya dalam empat jam, aku tidak mau kalah. Lagipula aku malas panas-panasan,” potong Jaemin.

Jihyo melongo melihat kelakukan sahabatnya yang sudah berubah menjadi maniak game. “Jae-ah, sunbae pasti kecewa kalau kau tidak menonton pertandingannya!”

“Dia akan tetap menang ada atau tanpa aku,” Jaemin berujar santai. Ia membuka dus psp barunya dan mulai memasang baterai.

“Kau keterlaluan!” Seru Jihyo setengah berteriak. Entah ada dorongan dari mana yang membuat Jihyo buru-buru berlari keluar kamar.

.

.

PRITT.

Siwon memasukkan bola beberapa detik sebelum peluit ditiup dengan gerakan santai yang–di mata Jihyo–terlihat keren. Untung aku masih bisa melihatnya memasukkan bola, batin Jihyo. Ia memang baru datang satu menit yang lalu, dan pemandangan yang langsung tertangkap oleh indera penglihatannya adalah Siwon menggiring bola dengan tenang lalu mengoper pada temannya, dan dengan lincahnya pria itu berlari mendekati ring lawan lalu dengan sigap menerima operan bola dari temannya dan.. shoot!

Jihyo bertepuk tangan dan tertawa lebar, membuat semua orang yang ada di lapangan itu menoleh menatapnya yang sedang heboh sendiri di dekat gerbang belakang sekolah. Jihyo hanya menggigit bibir dan mundur beberapa langkah. Ia membalikkan badannya dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menjauh dari sekolah itu. Ia sangat malu!

“Baek Jihyo!”

Langkah kaki Jihyo berhenti begitu mendengar suara berat pria yang sangat disukainya, erggh, dikaguminya. Ia membalikkan badan ragu-ragu, menatap seorang pria yang entah mengapa terlihat  sangat special di matanya.

“Gomawo sudah datang,” ujar Siwon pelan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyum.

.

.

Jihyo berjalan santai menyusuri koridor asrama putri sambil sesekali tersenyum sendiri ketika bayangan wajah tampan Siwon yang tersenyum padanya berputar di benaknya. Jihyo berhenti sebentar sebelum memasuki kamarnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya panjang, mengulangnya berkali-kali agar ia terlihat biasa saja di depan Jaemin. Setelah sudut bibirnya kembali di posisi normal, Jihyo menekan kenop pintu dan membuka pintu kamarnya.

“AH!”

“ANDWAE!”

“Aisshi pabo!!”

Jihyo menggelengkan kepalanya ketika teriakan Jaemin yang memekakkan telinga menyapanya. Ternyata Jaemin serius dengan ucapannya sore tadi. Ia benar-benar berlatih memainkan game yang Jihyo tidak tahu namanya. Seperti biasa, Jaemin pasti akan berusaha meraih level setinggi-tingginya agar tidak terlihat bodoh di depan Kyuhyun.

Tanpa banyak bersungut-sungut–seperti biasanya, Jihyo mengambil ipod yang sudah stand by di atas nakas dan memasangkan sepasang headset di telinganya. Benda kecil itu bekerja lebih keras tiga minggu terakhir.

Constantly, boy, you play through my mind like a symphony

There’s no way to describe what you do to me

You just do to me, what you do and it feels like I’ve been rescued, I’ve been set free

I am hypnotized by your destiny

You are magical, lyrical, beautiful, you are and I want you to know, baby

Jihyo tersenyum sendiri ketika lantunan musik yang menyambutnya terasa berbeda kali ini–setelah kejadian super menyenangkan tadi. Sekarang Jihyo percaya; it’s crazy how music can changes your mood, but it’s crazier how much one people makes you attracted.

I, I love you like a love song, baby

I, I love you like a love song, baby

I, I love you like a love song, baby

And I keep hittin’ repeat-peat-peat-peat-peat-peat

(Love You Like A Love Song – Selena Gomez)

.

.

2013-0527

Kyaa!! Sunbae tersenyum padaku–senyum yang biasanya untuk Jaemin. Untuk pertama kalinya aku merasa beruntung Jaemin dekat dengan Kyuhyun. Mianhae, sunbae.

Jihyo menutup buku hariannya dengan senyum yang masih awet menempel di wajahnya. Dimasukkannya buku itu di tas sekolahnya–agar lebih aman, ia memang membawa diarynya ke manapun. Jihyo melirik ke kasur di sebelah kanannya. Jaemin tertidur pulas sambil menggenggam psp baru yang–katanya–dipilihkan Kyuhyun untuknya.  Lalu pandangannya beralih pada benda mungil yang ada di atas nakas. Pukul 1 dini hari.

Dari tadi Jihyo memang tidak bisa tidur. Bayangan Siwon terus berputar di pikirannya, memenuhi isi kepalanya. Jihyo beranjak dari meja belajarnya. Ia berbaring di kasurnya. Bayangan wajah Siwon yang tersenyum padanya masih terekam jelas di memori otaknya dan setiap saat seakan ada yang menekan tombol play agar otaknya itu menampilkan kembali gambar bergerak itu dengan jelas seperti roll film.

Malam ini aku pasti mimpi indah, batin Jihyo.

.

.

Jaemin tertawa ketika Siwon mencoba membuat lelucon agar ia tersenyum. Rasa sakitnya menguap begitu saja ketika melihat senyum pria nyaris sempurna yang berjongkok di hadapannya itu.

“Aku tidak mengerti kenapa kau bisa tidak menyadari ada batu sebesar kura-kura dewasa di depanmu,” ujar Siwon.

Jaemin tertawa, “Jangan sebut kura-kura, aku jadi merinding kalau mengingat Haru yang galak itu!”

Siwon ikut tertawa ketika mengingat nasib tangannya yang pernah menjadi korban keganasan kura-kura nakal itu. “Kalau begitu anggap saja batu itu sebesar mangkuk ramyun. Kenapa kau bisa tidak melihatnya?” Tanyanya penasaran. Sebenarnya Siwon hanya ingin memastikan.

Siwon memang melihat Jaemin melamun saat mereka sedang berjalan menuju bangku taman favorit mereka, yang membuat lutut putih mulusnya sukses mencium lantai semen yang kasar. Bukan Siwon kalau dia tidak menyadari sesuatu yang buruk sedang berlangsung dan mengancam hubungan mereka, tapi dia mencoba untuk pura-pura tidak tahu sebelum menemukan buktinya.

Jaemin masih tertawa, menertawakan lelucon Siwon yang garing. Tapi ia cukup menghargai niat pria itu yang berusaha membuatnya mengalihkan perhatiannya agar tidak merasakan rasa perih di lututnya.

“Ehm, berjalan di sampingmu membuatku silau,” Jaemin berusaha membuat lelucon yang meskipun pasaran tapi mampu membuat Siwon tertawa. Sebenarnya ia berbohong, tadi ia sedang melamun karena memikirkan Kyuhyun.

“Aku takut makhluk sejenis Cullen’s family yang berkeliaran di sekitar sini datang ketika mencium bau amis ini, dan darahmu bisa habis, kalau benang-benang fibrin dalam tubuhmu tidak cepat bekerja,” ujar Siwon mengganti topik sambil terus mengelap darah yang belum berhenti keluar dari luka di lutut Jaemin.

“Otakku bekerja terlalu lambat, dia belum memerintahkan pasukan fibrin untuk bergerak,” Jaemin berusaha melucu.

Siwon tertawa kecil, “Sebaiknya kau belajar untuk meningkatkan selera humormu.”

Jaemin mengerucutkan bibirnya, “Oppa menghina selera humorku? Baiklah aku tidak mau melucu lagi.”

Siwon menggeleng sambil terkekeh, “Aniya, biar bagaimanapun kau tetap lucu di mataku.”

“Jinjja?” Jaemin tersenyum lebar ketika Siwon mengangguk mantap sambil menatapnya lembut dengan seulas senyum yang terukir di wajah tampannya. Tatapan yang sangat disukainya, sebelum tatapan mata lain memenuhi isi pikirannya dan menggeser posisi tatapan mata yang kini sedang menatapnya itu. Tatapan mata yang tidak bisa digambarkan oleh gadis itu sendiri.

“Akhirnya pasukan fibrinnya bekerja,” ujar Siwon. “Ah, arasseo. Senyumku yang membuat otakmu bekerja normal.”

Jaemin mendengus, “Selera humor oppa bahkan jauh lebih buruk dariku!”

Mereka terus mengobrol dengan riangnya, tanpa menyadari bahwa seorang yang menatap mereka dari jarak beberapa meter menatap mereka dengan tersenyum getir. Tidak bisa. Sampai kapan pun dia tidak bisa menggapainya.

.

.

Jihyo menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya berat. Lewat tiga hari sejak kejadian waktu itu, saat Siwon tersenyum padanya. Tiga hari yang menyenangkan, setidaknya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Jihyo mulai berani ikut Jaemin ke kantin bersama Siwon. Pria itu juga sudah tidak bersikap dingin padanya. Pria itu tidak pernah mengungkit lagi ucapan Jihyo saat di lab biologi. Beberapa kali Siwon mengajaknya berbicara, meski hanya menanyakan kabar kura-kura dan ikan yang ada di laboratorium.

Untungnya hingga saat ini Jaemin bisa bersandiwara dengan baik. Dia bersikap biasa saja di depan Siwon, bahkan Jaemin mulai menggandeng tangan Siwon saat kembali dari kantin. Setiap Rabu hingga Jumat, mereka jalan bersama sepulang sekolah. Sabtu dihabiskan Jaemin bersama Kyuhyun–lewat Starcraft. Sedangkan Minggu, yang umumnya adalah waktu setiap siswa pulang ke rumahnya setelah enam hari di penjara dalam asrama yang penuh dengan aturan, digunakan Jaemin untuk bertemu dengan Kyuhyun secara langsung.

Jihyo mulai menggunakan pena yang sedari tadi hanya digenggamnya. Ia mulai menulis di atas lembaran putih buku hariannya.

2013-06-28

Baru-baru ini aku sadar. Aku iri saat Jaemin memanggil sunbae dengan sebutan ‘oppa’.

Jihyo menggeleng ketika membaca kembali barisan kalimat yang ditulisnya. Ia baru sadar kalau sejak Siwon tersenyum padanya, hal kecil itu membuatnya mulai berharap. Namun beberapa jam yang lalu, tatapan Siwon pada Jaemin telah membangunkan Jihyo dari mimpinya. Tidak boleh, harapan ini tidak boleh terus tumbuh, batinnya.

.

.

“Haru-ya! Jangan nakal! Ah..” Jihyo memekik pelan ketika jari telunjuknya tercakar ketika ingin mengangkat kura-kura galak bernama Haru itu.

“Kau butuh bantuan?”

Jihyo menoleh ke arah pintu. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya saat melihat pria itu tersenyum tipis. Jihyo mengangguk ragu-ragu.

Siwon melangkah mendekat. Ia mengangkat Haru, memindahkannya ke dalam baskom yang sudah disediakan Jihyo di meja. “Dia masih nakal seperti biasanya,” ujar Siwon.

“Hm,” gumam Jihyo sambil tersenyum. “Kenapa sunbae selesai latihan lebih cepat dari biasanya?”

Kening Siwon berkerut heran. Ia menatap Jihyo lekat, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. “Kau.. ingat jadwal latihan basketku?”

Tanpa sadar, Jihyo mendesah lega. Tadi ia sempat berpikir kalau ia salah bicara. Jihyo mengangguk, “Sunbae selesai latihan jam lima sore, dan sekarang masih,” Jihyo melirik jam tangannya, “jam 4.45.”

Siwon mendengus pelan. “Aku merasa sedikit sensitif akhir-akhir ini.”

“Apa maksud sunbae?” Tanya Jihyo tidak mengerti arah pembicaraan Siwon yang tiba-tiba melenceng jauh dari topik awal.

“Entahlah, aku jadi sedikit perasa akhir-akhir ini. Kadang aku merasa senang karena hal-hal kecil, dan di saat yang sama aku merasa sedih karena hal-hal kecil.”

Jihyo refleks mengepalkan tangannya erat ketika melihat wajah sendu pria tampan di hadapannya. “Sunbae.. gwaenchanhayo?”

Siwon menatap Jihyo lekat, tepat di manik mata gadis itu, yang tentu saja membuat si pemilik mata berjuang keras agar Siwon tidak menyadari kalau ia sedikit salah tingkah.

“Maukah kau menolongku untuk kedua kalinya?” Tanya Siwon ragu-ragu.

Jihyo mematung beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk yakin. “Kau ingin meminta bantuan apa, sunbae? Kalau aku bisa, pasti akan aku bantu!”

Jihyo tidak sadar kalau kalimat yang diucakannya persis seperti empat bulan yang lalu, janji yang mengharuskannya untuk menangguhkan kebahagiaannya, membuat keberadaannya seolah tidak terlihat oleh orang yang sangat disukainya. Dan mungkin kalimat itu juga akan memanjangkan jarak yang harus di tempuhnya untuk menggapai seseorang yang disukainya, membuatnya semakin jauh di belakang.

.

.

Jihyo keluar dari kamar mandi. Tangannya masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, namun pandangannya langsung terkunci pada seseorang yang duduk di dekatnya. Jaemin. Gadis itu sedang meneteskan betadine di atas lukanya.

“Biar kubantu,” ujar Jihyo. Ia melempar handuknya di atas kursi lalu berjongkok di depan Jaemin.

Jaemin tersenyum, “Gomawo, Ji-ah.”

“Hm,” Jihyo hanya bergumam singkat. Ia meneteskan betadine di atas lutus Jaemin, tepat di atas lukanya yang sudah mengering, dan meniup-niupnya sebentar, sebelum beranjak untuk duduk di samping Jaemin.

“Aku merasa bersalah,” lirih Jaemin.

Jihyo mengusap bahu sahabatnya itu lembut, berusaha menenangkan gadis itu. Setidaknya kali ini Jaemin benar-benar serius dengan ucapannya. Sejak dua hari yang lalu, saat ia tersandung batu dan Siwon dengan sigap menolongnya, Jaemin sadar kalau ucapan Jihyo benar. Siwon memang sangat perhatian padanya. Hal itu membuat Jaemin menaruh pspnya di dalam laci meja belajarnya, membuat psp itu nganggur selama lebih dari 48 jam. Jihyo harap itu bisa bertahan untuk waktu yang lama.

“Tapi aku menyukai Kyuhyun,” Jaemin berbisik. Ia kembali terdiam, membiarkan ucapannya menggantung di langit-langit kamar.

Jihyo tersenyum, “Aku yakin kau juga menyukai sunbae.”

Jaemin menghela napas pelan, “Molla.”

“Astaga,” Jihyo terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu. “Jangan bilang kau sudah tidak suka lagi pada sunbae?”

Jaemin mengangkat bahunya lemah, “Molla. Perasaanku sepertinya sudah berubah.”

“Ah! Bagaimana kalau kau datang untuk menonton pertandingan basket sunbae besok. Kalau kau merasa senang saat menonton sunbae, seperti tiga bulan yang lalu, tandanya kau masih menyukai sunbae,” cetus Jihyo memberi usul.

“Astaga!” Pekik Jaemin sambil menepuk jidatnya pelan, “Aku lupa kalau besok oppa akan bertanding melawan SMA V.”

Jihyo hanya tertawa kecil melihat Jaemin yang seheboh itu. Jaemin menarik-narik lengan piyama Jihyo, “Eotteokhae?”

Kening Jihyo mengernyit, bingung dengan reaksi Jaemin yang berlebihan. Memang kenapa kalau dia lupa? Tinggal datang saja, kan? Apa susahnya?

“Aku ada janji dengan Kyuhyun!” Seru Jaemin, menjawab pertanyaan yang muncul di wajah lawan bicaranya.

“Mwo?!” Kali ini Jihyo yang memekik tidak percaya. “Tidak bisa ditunda? Ayolah, bukankah kau bilang kau penasaran apa kau masih menyukai sunbae atau tidak?”

Jaemin menggeleng, “Justru besok rencananya aku mau memastikan perasaanku pada Kyuhyun.”

Jihyo menatap Jaemin dengan penuh tanda tanya, “Apa maksudmu?”

“Besok dia bilang dia akan mengajakku jalan-jalan, jadi kita tidak akan bermain game seperti biasanya. Aku ingin memastikan persaaanku, apa aku benar-benar menyukainya atau tidak kalau tanpa perantara game.”

Kening Jihyo masih mengernyit. Ia sibuk mencerna maksud kalimat Jaemin. Kerutan di keningnya malah bertambah ketika Jihyo akhirnya mengerti maksuda dari perkataan Jaemin.

Selama ini Jihyo pikir Jaemin gila karena menyukai Kyuhyun hanya dari sebatas bermain game, tapi sekarang? Mereka akan berjalan-jalan bersama! Kemungkinan besar Jaemin akan semakin menyukai Kyuhyun bila dia bisa melihat sosok Kyuhyun di luar dari karakternya dalam game. Karena dari cerita Jaemin tentang pria itu saat mereka bertemu di café untuk bermain bersama, Jihyo harus mengakui kalau Kyuhyun adalah tipikal pria yang menyenangkan.

Jihyo menghela napas pelan. Sekarang dia bingung sendiri, memikirkan kemungkinan Jaemin akan benar-benar terpikat dengan pesona Kyuhyun. Dan Jihyo takut Siwon akan kecewa nantinya. Tapi biar bagaimana pun Jaemin harus memastikan perasaannya, kan? Akhirnya Jihyo hanya mendesah, membiarkan Jaemin melakukan apa yang ia mau, toh Jihyo tidak akan bisa menghalangi rencana sahabatnya itu.

.

.

Matahari bersembunyi di balik gumpalan awan berwarna kelabu pekat. Langit sore tampak mendung. Kilatan petir sudah bermunculan di langit sejak sepuluh menit yang lalu, namun seorang gadis tidak terlihat terganggu.

Gadis itu, Jihyo, berjalan tak tentu arah. Sudah tiga kali Jihyo berputar-putar di jalan yang sama, dan berhenti setiap kali melewati sebuah gedung yang cukup besar, dengan lapangan basket yang sedang ramai. Ada pertandingan basket yang sangat ingin sekali Jihyo tonton, namun tidak bisa.

Diliriknya jam tangan yang menghiasi tangan kirinya. Pukul 6.00. Gadis itu menghela napas pelan. Pertandingan itu pasti sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Dan mungkin orang yang ingin ditemuinya itu sudah pulang atau pergi entah kemana bersama teman-temannya.

Tes.

Sebutir tetesan air pecah begitu saja ketika jatuh menghantam bahu Jihyo. Gadis itu tersenyum, menikmati sebuah keindahan di balik tangisan surga itu. Namun otaknya masih bekerja secara normal, memerintahkan jemari lentiknya untuk membuka payung yang dibawanya dari asrama. Jihyo memang sudah berjaga-jaga karena akhir-akhir ini hujan terus mengguyur kota Seoul.

Jihyo menghela napas pelan sebelum memutar langkah kakinya, memutuskan untuk pulang. Ia berhenti di sebuah halte bus, menunggu bus yang akan membawanya ke asrama. Hanya lima belas menit perjalanan, dan Jihyo sudah sampai di halte bus dekat sekolahnya yang bersisian dengan asrama. Dan seperti sebuah de javu, beberapa meter sebelum pintu masuk asrama, langkah gadis itu terhenti secara tiba-tiba. Matanya refleks memicing ketika menangkap sosok yang dikenalnya sedang duduk membelakanginya di atas ayunan di taman dekat sekolah.

Sosok itu tidak peduli pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan dengan derasnya, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Entah dorongan dari mana yang membuat Jihyo menyeret langkahnya mendekati sosok itu. Langkahnya terhenti di dekat ayunan itu. Tangannya terangkat, memanyungi seseorang yang duduk di dekatnya. Ia tidak peduli pada tubuhnya yang perlahan tapi pasti menjadi basah kuyup karena tidak kebagian tempat untuk berteduh di bawah payung kecil itu.

“Kenapa kau tidak datang?” Orang yang tidak lain adalah Siwon itu buka suara, meski kepalanya masih tertunduk.

“Aku.. tidak berani, karena aku tidak bisa membujuk Jaemin untuk ikut,” ujar Jihyo setengah berbisik.

“Bukan berarti tanpa Jaemin kau dilarang datang, kan?” Potong Siwon.

Jihyo hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Siwon menghela napas pelan, “Kurasa aku berharap bisa mendengar tepukan tanganmu yang keras itu, tepat saat aku berhasil memasukkan bola.”

Jihyo tetap diam, meski kini dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senang yang dengan kecepatan super menjalar di seluruh tubuhnya. Jantungnya memompa darah lebih cepat, membuat tangan Jihyo mengepal di salah satu sisi tubuhnya, sedangkan tangannya yang satu lagi masih memegangi gagang payung.

Siwon tersenyum miris. “Hm, kenapa aku baru sadar sekarang kalau kau adalah gadis yang paling perhatian padaku?”

Kepalan tangan Jihyo semakin mengerat. Rasa gugup yang selalu menghampirinya ketika berdekatan dengan Siwon semakin sulit ditahannya. Jantungnya memompa darah semakin cepat. Pipinya sedikit memanas meski tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

“Sayang, sepertinya mataku selama ini tertutup. Seharusnya kita memiliki waktu lebih banyak untuk bersama,” ujar Siwon pelan. Jihyo menunduk agar Siwon tidak melihat sudut-sudut bibirnya yang mulai terangkat tanpa bisa ditahan.

Satu menit. Dua menit. Jarum jam terus berjalan. Tak terasa sepuluh menit berlalu begitu saja sejak percakapan terakhir mereka. Hanya suara titik-titik hujan yang jatuh di atas payung yang digenggam Jihyo dan bunyi gelegar petir yang terdengar jelas. Mereka masih diam pada posisinya, sibuk pada pemikirannya masing-masing, tidak peduli pada cuaca yang semakin dingin dan langit yang semakin menggelap.

Tubuh Jihyo menggigil, tapi ia tidak peduli. Ia masih dalam posisinya, berdiri sambil memayungi Siwon yang duduk termenung di sebuah ayunan dengan tatapan kosongnya yang menatap lurus rumput taman yang basah. Jihyo tidak mengerti apa yang ada di pikiran Siwon, dia hanya ingin menemani pria itu. Hanya itu. Jihyo tidak akan berani berharap lebih.

“Baek Jihyo…,” Siwon berbisik lirih, menghentikan suasana hening yang sedari tadi menyelimuti mereka.

Jihyo mendongak, menatap pria yang duduk dengan wajah lelah di hadapannya dengan ekspresi terkejut bercampur heran. “Ne?”

Siwon mendesah pelan, entah untuk kesekian kalinya. “Aku terlambat. Seharusnya aku mempercayaimu dari dulu.”

.

.

.

To be continued.

Thank you for reading. Please leave some comment and give a thumb up if you like my fanfiction. I hope you don’t mind to take the time to read the next chapter. J

14 Comments (+add yours?)

  1. Diana Park
    Jun 08, 2013 @ 08:25:24

    Wuaaahh apakah siwon sdh th klk d selingkuhi??
    Jaemin aq sk pilihanmu he..
    Smg happy end..

    Reply

  2. arista cho
    Jun 08, 2013 @ 09:13:26

    siwon kenapa ? jgn2 udah liat jaemin sama kyuhyun lagi ! next next thooor !!!!

    Reply

  3. sheila
    Jun 08, 2013 @ 10:27:01

    siwon ngeliat jaemin selingkuh, y ?

    Reply

  4. Choi EunHae
    Jun 08, 2013 @ 11:16:00

    Wahh daebak.. Next thor..
    Jaemin nya keterlaluan, masa pnya siwon yang ganteng malah selingkuh sih !!

    Reply

  5. yulia
    Jun 08, 2013 @ 14:00:51

    kayanya Siwon udah tau klo Jaemin jalan sama Kyu nih… jangan lama2 ya thor:-)

    Reply

  6. Tiara Maurin Damarissa
    Jun 08, 2013 @ 14:31:21

    next next next next………………………………………………………….

    Reply

  7. gyunim
    Jun 08, 2013 @ 14:44:49

    Waw! Siwooooon (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) ayoooo jadian aja sama jihyo! Jaemin buang laut aja! Jahat gitu sama siwon wkwkw
    Lanjut authoooooor besok end kan? ;;)

    Reply

  8. kiswa kyuroshaki
    Jun 08, 2013 @ 17:59:05

    koq Q bru bc ya….

    kereen ne ff…
    penasaran endingnya….

    Reply

  9. Fani
    Jun 08, 2013 @ 19:54:35

    Kayanya sih siwon udh ngeliat Jaemin sm Kyuhyun deh. hehe, lanjut thor 🙂

    Reply

  10. F390
    Jun 08, 2013 @ 20:38:50

    Maaf thor bru ninggalin komen
    Soalnya ngebut bacax dr part 1-3,keren thor!
    Ditunggu part selanjutx yah…

    Reply

  11. iki
    Jun 09, 2013 @ 14:51:44

    wiuh. thor. lagi dag dig dug . kenapa tbc. akh. . . di tunggu next partnya

    Reply

  12. ocha
    Jun 09, 2013 @ 17:36:22

    Jangan-jangan Siwon ngeliat pas Jaemin jalan ama Kyu lagi
    Next part asap ya thor

    Reply

  13. inggarkichulsung
    Nov 08, 2014 @ 17:30:05

    Siwon oppa baik bgt dan Jaemin menyia2kan cinta dan kepercayaan yg Siwon oppa berikan u nya dan skrg Siwon oppa baru sadar kalau slm ini Jihyo lah yg banyak memperhatikannya

    Reply

  14. Lia9287
    Feb 15, 2015 @ 10:44:07

    Apa Siwon udah tau kalo Jaemi selingkuh??

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: