You Change My Life [12-END]

Author  : Kang Ha Gun

Title       : You Change My Life

Cast       : Seo Ji Young (OC)

Cho Kyuhyun

Park Jungsoo as Park-euisa

Kim Jongwoon

And many others

Genre   : Rommance, friendship, angst, tragedy

Rated    : PG-13

Length  : Chaptered

***

“Kyu-ah, ireona,” bisik seseorang lembut sambil membelai pipiku. Begitu inginnya aku bertemu dengan sang pemilik suara yang begitu kucintai ini, akhirnya aku pun berusaha membuka mataku betapa beratnya itu. “Ireona, Kyu,” bisiknya lagi.

Senyuman seketika terbentuk di bibirku tatkala melihat gadis itu tidak apa-apa. Gadis itu pun memapahku bangun ketika aku berusaha bangun dari posisi tidurku. Kulihat wajahnya yang berseri-seri saat melihatku sudah bangun, terlihat ekspresi lega di wajahnya yang putih bersih itu. Begitu pula dengan diriku. Segera kupeluk tubuh mungil itu ketika mendapati dirinya yang tidak apa-apa, bahkan tidak kudapati segores luka pun pada tubuhnya dan tubuhku.

Baru kusadari perasaan itu. Dirinya terbalut gaun putih bersih selutut bertali satu dan rambut hitam lurusnya yang panjang menutupi bahunya, wajahnya bercahaya dan tampak sangat cantik. Sedangkan diriku juga kini mengenakan kemeja tipis berwarna putih dan celana panjang berwana senada. Kini kami pun entah berada dimana karena yang ada di sekelilingku saat ini tampak kosong dan putih.

“Uriga… eodieya?” tanyaku bingung.

Namun gadis itu hanya menampilkan senyum indahnya yang membuatku melupakan pertanyaanku barusan karena terhipnotis akan keindahan makhluk di hadapanku ini.

Kemudian gadis itu menggenggam tanganku dan membawaku ke suatu tempat yang sangat terang. “Kyu-ah, kau harus bertahan. Apapun yang terjadi… kau harus tetap hidup. Tidak peduli betapa sulitnya hidupmu, kau harus berusaha melawannya,” ujar gadis itu pada akhirnya. “Carilah dan berikanlah cintamu pada yeoja lain, yang lebih sehat dari pada aku.”

“Shireo! Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, Young-ah!”

“Lupakanlah diriku. Lupakan kalau aku pernah ada di kehidupanmu. Jangan sia-siakan hidupmu untuk meratapi orang yang telah mati. Tetapi bangkitlah dan tetaplah hidup. Masih banyak orang yang membutuhkanmu, Kyu-ah.”

“Andwae! Aku tidak akan pernah bisa melakukan itu!” teriakku sambil menangis. Gadis itu hanya menatapku dalam senyuman indahnya. Tiba-tiba, kurasakan tarikan gravitasi yang amat dahsyat menarik tubuhku hingga berpisah darinya. Dengan sekuat tenaga, kulawan gravitasi yang bagaikan magnet menarikku dan semakin membuat jarak di antara kami membesar.

“Ji Young-ah!” kuregangkan tanganku sepanjang-panjangnya ke depan, berusaha menggapai dirinya. Namun seakan tidak merasakan gravitasi apapun seperti diriku, ia tetap tersenyum tanpa sedikitpun bergerak. “Jebal, jangan lakukan ini! aku mencintaimu, Ji Young-ah!”

“Na ddo, Kyu-ah,” suara samar gadis itu terdengar di telingaku yang setelah itu tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

Tut… tut… tut…

Suara murni gadis itu kini menghilang dan tergantikan oleh bisingnya suara elektrokardiograf di telingaku. Saat aku membuka mata, sudah tidak kulihat gadis itu ataupun tempat terang tadi. Yang ada saat ini adalah eomma yang tengah menangis, Kim-euisanim beserta suster yang tengah merawatku, serta ruangan dengan berbagai peralatan khas rumah sakit.

“Kyuhyun-ah, syukurlah kau sudah sadar,” kata eomma lega dalam tangisnya. Tadi itu… hanya mimpi?

“Ji… Young-ah… eodi… ya?” tanyaku terbata-bata. Mereka hanya menatapku dengan pandangan bersalah. Segera kurasakan sesuatu yang salah disini.

Mataku memanas. Jebal, katakan ini semua hanya mimpi! Seseorang, bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Akhirnya, bertetes-tetes air mata lolos dari pelupukku.

***

Kutatap wajah pucatnya yang tengah tertidur damai saat ini. Suara bising elektrokardiograf yang berada di meja di samping ranjangnya, menjadi tanda bahwa jantungnya masih memompa darah. Kugenggam tangannya dan menciumnya.

Ini semua salahku! Jika saja aku tidak memaksanya kembali Seoul, ini semua tidak akan terjadi. Jika saja aku membiarkannya tetap di Jinan, ia pasti bisa menghabiskan waktunya dengan tenang disana. Tidak dalam kesakitan seperti ini.

Kepalanya terbalut perban dan beberapa bagian tubuhnya lecet akibat tergores kaca. Luka yang sama seperti punyaku. Hanya saja, aku tidak terbujur kaku disana saat ini, tidak koma, tidak berada di antara hidup dan mati seperti dirinya.

“Mianhae, Young-ah. Jeongmal mianhae. Ini semua salahku. Kumohon maafkan aku, Young-ah. Kumohon sadarlah,” pintaku sambil menangis. Terlalu sulit untuk digambarkan kata-kata betapa pedihnya luka hatiku saat ini.

Sudah semalaman aku menunggunya untuk membuka mata. Walau semuanya memaksaku untuk kembali ke kamarku dan beristirahat, aku tidak peduli. Aku ingin tetap berada di sampingnya saat ini, sampai ia membuka matanya. Aku ingin meringankan bebannya dengan tetap berada di sampingnya, walau kutahu itu tidak akan berpengaruh baginya.

Aku hendak melanjutkan racauanku yang terus keluar sejak semalam, ketika kudengar pintu yang terbuka. Kulihat Kim Jongwoon, teman gadis itu, masuk ke dalam dengan mata sembabnya dan menghampiri kami.

“Nappeun chingu! Nappeun dongsaeng!” desisnya, namun sinar matanya sama sekali berbeda dari apa yang diucapkannya. “Kenapa tidak pernah mengatakannya, hah? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku?” kini ia menangis tersedu-sedu. Kulihat ia yang menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.

“Apa dia memang orang yang seperti itu, eo?” tanyaku tiba-tiba sambil menatap gadis itu nanar. “Selalu menyembunyikan perasaannya sendiri?”

Kulihat Jongwoon yang terkejut. Sepertinya ia baru menyadari kehadiranku. Namun beberapa detik berikutnya ia menjawab, “Ne, itulah uri Ji Young. Selalu menyembunyikan perasaannya demi orang lain.” Aku tersenyum nanar. Kemudian ia bertanya, “Apa saat itu kau sudah tahu… bahwa Ji Young menderita penyakit itu?”

Aku mengangguk. “Baru saja. Tepat sebelum aku bertemu denganmu, Park-euisa memberitahuku.” Jawabannya itu kontan membuatnya marah. Namun sedetik kemudian ia meredam kemarahannya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Kalau gadis ini bahkan eommanya tidak memberitahuku, kenapa bukan kau yang memberitahuku saat itu?”

“Karena… aku juga masih belum percaya dengan apa yang baru saja kudengar,” ucapku lemah, membayangkan lagi saat kejadian itu, kejadian dimana Park-euisa memberitahuku penyakit gadis itu yang sebenarnya dan juga Jongwoon yang memberitahuku kalau gadis itu tengah berada di Jinan.

Tangis Jongwoon bertambah keras, sementara tangisku berhenti untuk sementara. “Andai saja waktu itu aku tahu, aku pasti akan menyusulnya ke Jinan,” sesal Jongwoon sambil membelai rambut gadis itu. Kutatap namja yang tengah menatap gadis itu dengan pandangan menyesal. Namja ini memang namja yang telah membuatku cemburu karena kedekatannya dengan gadisku, tetapi namja ini juga yang telah membantuku menemukan gadisku itu.

“Yaa… Young-ah, ireona. Apa kau mau meninggalkan oppamu ini, huh? Aku bahkan belum memenuhi janjiku untuk menjadi oppa yang selalu menjagamu,” ujar Jongwoon pelan pada gadis di hadapannya. “Young-ah, kau juga masih berhutang banyak penjelasan padaku. Apa pingsannya dirimu waktu pelajaran olahraga waktu itu karena penyakit ini? Apa Kyuhee yang kau maksud itu adalah dongsaeng dari namja ini? Dan apakah namja yang kau maksud telah menggeser posisi Kibum di hatimu adalah… namja di seberangku ini?” aku terkejut mendengar pertanyaan Jongwoon yang terakhir.

Aku menatap Jongwoon dengan pandangan bertanya-tanya. Namun Jongwoon enggan menjelaskannya padaku. “Biarlah gadis ini yang memberitahunya secara langsung padamu,” ucapnya sambil tersenyum.

***

Waktunya tinggal beberapa jam lagi, tetapi ia tidak juga kunjung membuka matanya.

“Hanya mujizatlah yang dibutuhkan oleh gadis ini,” ucap Park-euisa sedih yang ditutupi oleh senyuman angel-nya. Terlihat lesung pipi yang menjadi ciri khasnya, yang entah kenapa banyak dokter yeoja, suster, dan yeojadeul lainnya di rumah sakit ini yang menyukainya.

Kutatap tubuh rapuh gadis itu. “Aku percaya mujizat itu, Young-ah. Aku percaya kau pasti bangun. Kau juga percaya, kan?” lirihku, sementara Seo ahjumma tidak kunjung berhenti meratapi nasib puterinya. Anak kecil berambut lurus yang mirip seperti Ji Young yang kutafsirkan sebagai namdongsaeng Ji Young, Ji Heon, itu pun juga turut menangis dalam pelukan Seo ahjussi.

Berjam-jam yang penuh dengan tangisan dan harapan akan terbukanya kembali mata gadis itu kami lakukan. Tidak ada teman gadis itu selain Jongwoon yang datang kemari atas permintaan Seo ahjumma. Wanita paruh baya itu tahu betul kalau puterinya tidak ingin membuat orang lain sedih sehingga tidak memberitahu teman-temannya.

Walau secara medis tidak ada harapan lagi untuk gadis itu, aku tetap berharap. Walau kini elektrikardiograf menunjukkan bahwa detak jantungnya semakin melemah, tetapi aku tetap percaya dia akan sembuh. Berkali-kali aku berdoa, sesuatu yang amat jarang kulakukan yang akhirnya kulakukan saat ini demi kesembuhan gadis itu.

Betapa remuknya hatiku saat ini. Penyesalan yang tiada taranya melanda hatiku. Kyuhee datang menjenguk dan langsung menangis begitu melihat kondisi gadis itu. Tangisan yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun, termasuk untuk dirinya sendiri. Sifatnya yang selalu berpikir positif lari entah kemana saat ini. Bagaimanapun juga ia masihlah seorang anak kecil.

“Kyuhyun-ssi, bisakah kau temani aku keluar sebentar?” Tanya Jongwoon tiba-tiba yang membuatku tersentak.

“Shireo! Aku ingin tetap berada disini!” tolakku kasar. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya di saat genting seperti ini?

“Setidaknya temani aku berdoa di gereja untuk kesembuhannya,” bujuk Jongwoon lagi. Aku termenung sejenak, memandang gadis yang masih tertidur pulas itu dengan perasaan berat, kemudian mengangguk. Paling tidak, aku sudah mencoba berusaha.

Jongwoon tersenyum tipis melihat anggukanku dan kemudian kami pun pergi ke sebuah gereja yang tidak jauh dari rumah sakit ini.

Ketika aku memasuki tempat sakral itu, kurasakan suasana damai dan hening yang terpancar dari sana. Tempat itu sepi, tidak jadwal kebaktian ataupun jemaat yang tengah berada disitu. Jongwoon berjalan mendahuluiku dan duduk di bangku tepat di depan altar. Aku pun berjalan pula dan berhenti di tengah-tengah perjalanan. Kemudian aku duduk di bangku barisan tengah, lalu berlutut, mengaitkan jemariku dan mulai memejamkan mata.

Apa kabar, Tuhan? Lama tidak bertemu. Hampir 2 tahun aku tidak mengunjungi-Mu sampai pada malam aku bertemu gadis itu di depan rumah-Mu dan kini akhirnya aku berada  di rumah-Mu kembali.

Jeoseonghamnida, tapi aku tidak bisa berlama-lama, Tuhan, karena aku harus kembali ke rumah sakit. Dan aku janji kali ini aku tidak akan marah-marah pada-Mu, asal untuk kali ini Engkau mendengarkan aku.

Tuhan… Kau tahu gadis bernama Seo Ji Young, kan? Ne, gadis yang waktu itu bertemu denganku di depan rumah-Mu. Gadis itu… kini tengah terbaring lemah di rumah sakit, berjuang di antara hidup dan mati. Kumohon, Tuhan… kumohon sembuhkanlah dia dari penyakitnya. Kumohon jangan ambil dia dariku. Atau… kau bisa mengambil nyawaku, Tuhan, tapi jangan dengannya. Dibanding denganku, dia itu sangat berharga.

Kata-kata permohonan terus berguliran di dalam hatiku seiring dengan air mata yang berguliran di wajahku. Aku tahu aku ini memang orang berdosa, tetapi kudengar Tuhan itu baik, jadi Dia pasti akan berbaik hati mengabulkan permohonanku juga.

Beberapa menit kemudian aku pun selesai berdoa. Begitu juga Jongwoon yang menghampiriku dengan mata sembabnya. Aku menatapnya yang sepertinya sudah memasrahkan semuanya. Ingin rasanya aku menghajarnya ketika melihat air mukanya itu, namun kutahan kepalanku. Teman macam apa dia? Kenapa semudah itu dia menyerah?

Tiba-tiba ponselku berdering dan kulihat eomma yang menelepon. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak. Segala macam pikiran buruk memenuhi kepalaku. Ada apa eomma menelepon? Kutatap Jongwoon dengan cemas, seakan ragu untuk menjawab panggilan tersebut.

“Ppali, jawablah,” suruh Jongwoon lirih.

Aku pun menurutinya. “Yeoboseyo,” jawabku.

“Kyuhyun-ah, ppaliwa… cepatlah datang ke rumah sakit sekarang…” kudengar suara eomma yang bergetar menahan tangis, membuat nafasku tercekat.

“Wae irae? Waeguraeyo?” tanyaku panik.

“Ji Young-ah… cepatlah datang kesini!” Eomma menutup telponnya. Tanganku lemas seketika. Kini ketakutanku benar-benar telah berada di puncak.

“Kyuhyun-ah, apa yang terjadi?” Tanya Jongwoon cemas ketika melihat ekspresiku yang seperti ini. “Kyuhyun-ah, jawab aku! Apa yang terjadi dengan Young-ah?”

“Mollaseo. Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit,” jawabku setelah kesadaranku kembali.

“Baiklah. Kajja.” Secepat kilat kami pun lari keluar dan menuju ke rumah sakit. Tidak kupedulikan kondisiku yang masih lemah, aku harus secepatnya sampai ke rumah sakit!

Beberapa menit kemudian kami pun sampai. Kudengar tangisan yang masih menggema di dalam kamar tempat gadis itu dirawat. Kulihat Park-euisanim, beberapa suster, serta keluarga gadis itu yang tengah mengelilingi ranjang gadis itu.

Kakiku terasa lemas, namun aku tetap berusaha untuk menghampiri gadis itu. Butiran-butiran air mata telah mengalir deras di pipiku. Tubuh gadis itu tertutupi oleh Park-euisanim sehingga tidak bisa kulihat wajahnya.

Andwae! Aku yakin ini hanya mimpi! Baru saja aku berdoa di gereja dan secepat ini Tuhan menjawab doaku? Tidak, gadis itu tidak mungkin pergi! Ia pasti hanya tertidur, kan?

Belum sampai ke sisi gadis itu eomma telah memelukku erat. “Kyuhyun-ah, Ji Young-ah… dia… dia… telah sadar dari komanya!” ujar eomma sambil menangis bahagia dan membuatku terkejut bukan main.

“Mw… mwo?”

“Gadis itu telah membuka matanya kembali.”

***

Aku bahagia. Sangat bahagia. Ini sudah satu hari dan kondisinya makin membaik. Entahlah, Park-euisanim sendiri juga bingung apa yang terjadi dengan sel-sel kankernya yang seharusnya sudah menggerogoti sebagian besar otaknya, begitu pula dengan lukanya akibat kecelakaan.

Namun aku tidak peduli dengan itu. Yang kupedulikan adalah saat ini ia sudah sadar dan kondisinya semakin membaik. Air mata telah mengering, tangis bahagia telah dilantunkan sejak berjam-jam yang lalu. Juga sudah berjam-jam orang-orang itu menemani gadis itu, terutama eommanya tentu saja. Aku harus ekstra bersabar menunggu giliranku untuk berbicara dengan gadis itu. Dan akhirnya, inilah saatnya. Seo ahjussi memaksa isterinya pergi ke kantin untuk makan. Semenjak mereka tiba di rumah sakit, memang belum ada secuil makanan pun yang masuk ke dalam perut mereka.

Kumasuki kamar yang akhirnya sepi itu. Cahaya lampu yang pucat menyinari tubuh dengan kulit yang pucat itu. Kulihat matanya yang kini terpejam lalu kubelai wajahnya lembut. Aku merindukannya. Merindukan saat bertengkar bersama, saat ia mengalah untukku, saat ia menangis di dadaku. Air mata dan senyuman bahagia keluar secara bersamaan di wajahku saat ini.

Sepertinya ia terusik daengan sentuhanku dan membuka matanya.

“Gwanchana?” tanyaku lembut.

Ia mengangguk lemah.

“Nan jeongmal bogoshipo,” kataku lagi.

“A… rra… yo,” ucapnya dengan suara serak. Kulihat ia yang tampak kesulitan bicara karena nafasnya yang masih lemah.

“Terima kasih telah bangun lagi. Tadinya kupikir aku akan kehilanganmu,” ucapku. “Kau harus sembuh, Young-ah. Apa kau tidak merasakannya? Ada begitu banyak orang yang mencintaimu.”

“Ne… nan arrayo. Aku tahu… mereka semua men… cintaiku,” katanya lemah. Namun ia memejamkan matanya dan tiba-tiba seperti orang yang kesulitan bernafas.

“Young-ah, gwaenchanayo? Young-ah, dengar aku, kau harus bertahan. Young-ah!” teriakku begitu melihat tubuhnya yang kini kejang-kejang. Buru-buru kutekan bel untuk memanggil dokter. Tidak, kumohon jangan terjadi lagi! Dia sudah hampir sembuh!

“Kyu… ah…” panggilnya dengan sulit. Kemudian Park-euisanim dan beberapa orang suster masuk ke dalam dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah meja dengan berbagai peralatan medis. “Kyu… ah, sarang… hae…” ujarnya di tengah-tengah nafasnya semakin sulit. Aku tercekat. Pernyataan cinta pertama dan terakhirnya padaku, karena sedetik kemudian kudengar raungan monoton panjang dari elektrokardiograf yang memekakkan telinga.

“Isi dayanya sampai 150!” seru Park-euisanim memberi aba-aba. Kulihat ia tengah memegang defibrillator dan menggosokkan kedua sisinya. Ketika daya telah terisi penuh, ia menempelkannya pada dada gadis itu, berusaha mengejutkan kembali jantungnya agar kembali berpacu. Ketika tidak ada respon apa-apa dari jantung gadis itu, Park-eiusa pun memerintahkan untuk menambah dayanya lagi sampai 200, lalu melakukan hal yang sama.

Air mata pun mencair begitu saja begitu melihat pemandangan itu. Kali ini, gadis itu benar-benar berada di antara hidup dan mati. Sebuah belati yang amat besar menikam jantungku, membuat kakiku lemas dan harus berpegangan pada tembok.

Kejutan listrik yang diberikan oleh defibrillator itu tidak memberikan pengaruh apa-apa, dan kali ini Park-euisanim berinisiatif mengaitkan jemarinya dan menekan dada gadis itu, masih berusaha untuk membuat jantung gadis itu berdenyut kembali. Kulihat usahanya yang begitu keras hingga peluh membasahi keningnya, matanya terus melihat pada elektrikardiograf-gadis itu berulang-ulang, berharap garis lurus itu berubah menjadi zig-zag kembali.

Setelah bermenit-menit melakukannya, tetap tidak ada hasil. Garis itu tetaplah lurus. Suster-suster sudah menyuruhnya berhenti, namun Park-euisanim masih saja bersikeras untuk membangunkan gadis itu. Kupegang dadaku yang terasa sakit juga, sangat sakit. Tanpa kusadari aku merosot begitu saja ke lantai sambil memegang dadaku. Gadis itu… gadis yang baru saja berusaha hidup kembali… kini memutuskan untuk pergi selamanya.

***

“Seo Ji Young-ssi… telah berpesan untuk melakukan ini padanya,” kata Park-euisanim yang sudah bisa mengontrol emosinya. Ia menyerahkan kertas putih kepada Seo ahjussi. Begitu melihat isinya, kedua orang tua itu pun semakin menangis keras. Lidahku kelu, tidak tahu apa isi kertas itu. Yang bisa kulakukan hanyalah terus menggenggam tangan gadis ini yang perlahan mendingin.

“Kita harus segera melakukan operasi selagi jantungnya masih segar,” tambahnya lagi.

“Mw… mwo?” aku tidak mengerti. Kenapa ia harus dioperasi?

“Jauh sebelum ia meninggal, gadis ini telah menyetujui untuk mendonorkan jantungnya kepada pasien gagal jantung bernama Han Sarang,” jelas Park-euisa. Air mataku jatuh lagi. Kupandang wajah pucatnya. Bahkan kau sudah merencanakan sejak jauh hari, eo?

***

Mataku bengkak. Air mata telah mengering. Rambutku acak-acakkan. Badanku kurus tak terawat. Kupandang sesosok tubuh yang tengah ditutupi tanah itu hingga seluruh tanah itu menutupinya dengan sempurna. Kemudian berbagai macam bunga pun ditaburkan di atasnya. Gadis itu telah berpesan pada eommanya untuk tidak membakar jasadnya ketika ia mati nanti. Ia tidak ingin jasadnya hanya menjadi pasir yang akan disimpan di dalam guci. Ia ingin jasadnya bisa membantu menyuburkan tanah dan organisme lainnya. Permintaan yang sangat mulia, bukan?

Pemakaman yang tampak ramai, bertambah ramai dengan suara tangisan dari keluarga, kerabat, dan teman-temannya. Kyuhee bersikeras untuk hadir di acara pemakaman ini walau jantungnya masih lemah, ditemani Park-euisanim di samping kursi rodanya. Kulihat Jongwoon dan yeoja yang waktu itu diciumnya di restoran, tengah menangis. Di samping mereka, kulihat yeoja berwajah dingin yang sama sepertiku saat ini, tidak menangis. Entahlah apa yang ada di pikiran yeoja itu, tapi bisa kulihat tatapan terluka di matanya.

Tidak hanya orang-orang ini, tetapi sepertinya langit juga ikut berduka. Tiba-tiba turunlah salju-salju putih yang akhirnya membuat bubar acara ini. Semuanya pergi, kecuali aku dan yeoja berwajah dingin yang kulihat tadi. Aku berlutut di samping nisannya dan dia hanya berdiri.

“Nappeun chingu!” desisnya dan kemudian kudengar isak tangis darinya. Yeoja itu langsung berlari begitu menyadari air mata keluar dari pelupuknya.

“Sepertinya… kau ini benar-benar orang yang jahat, Young-ah. Entah mengapa semua orang menyebutmu jahat. Tidakkah itu sedikit keterlaluan bagi mereka… mendapati bahwa kau telah membohongi mereka selama ini?” gumamku sambil memegang batu nisannya. “Itu karena mereka sangat mencintaimu, Young-ah. Begitu pula denganku yang sangat mencintaimu. Dan akan selalu begitu.” Mataku kembali memanas.

“Young-ah, aku pulang dulu. Aku akan melakukan apa yang telah kauminta waktu itu. Aku akan menyelesaikannya, Young-ah, dan akan membawanya kemari, sebelum aku… juga akan menyusulmu kesana. Tunggulah sebentar lagi, Young-ah.” Aku berdiri, menatap gundukan tanah itu sejenak, lalu pergi meninggalkannya sebelum air mata ini benar-benar menetes.

***

Kuhampiri kamar Kyuhee. Infuse sudah kembali tertancap di pergelangan tangannya dan ia sudah kembali mengenakan baju rumah sakit. Tampak ia yang sedang memeluk boneka beruang putih pemberian gadis itu dulu.

Kyuhee bergeming, menyadari kehadiranku. Kuhapus air mata yang masih saja bergulingan di wajahnya yang kini tampak sedikit kurus.

“Aku menemukannya, Hyung…” lirih bocah itu. “Hadiah tersembunyi yang dimaksud oleh Ji Young-noona….”

“Jinjja?” kataku dengan sedikit tidak berselera. Hanya dengan melihat boneka berbulu itu telah menambah goresan luka di hatiku.

“Ne, Ji Young-noona bilang berikanlah cintamu pada beruang ini. Dan tadi, saat aku memeluk boneka ini erat-erat karena merindukan noona…”

“Apa? Apa yang kau rasakan, Kyuhee-ya?” tanyaku penasaran.

“Ini… hyung coba sendiri saja,” ujarnya seraya menyerahkan benda berbulu itu ke tanganku. Dengan ragu, kupeluk boneka itu. Namun tidak terjadi apa-apa. “Peluk lebih erat lagi, Hyung, seolah kau menumpahkan segala perasaanmu padanya.”

Aku menurutinya. Dan saat kubayangkan boneka yang tengah kepeluk itu adalah gadis itu, pelukanku pun semakin erat, dan dadaku seperti menyentuh tombol keras yang langsung mengaktifkan rekaman yang ada di dalam boneka itu sehingga kini boneka itu bersuara.

Saengil chuka hamnida

Saengil chuka hamnida

Saranghaeyo, uri Kyuhee

Saengil chuka hamnida…

 

 

 

 

Terdengar lantunan merdu dari suara jernih gadis itu. Berikutnya adalah suara gadis itu yang tengah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kyuhee, diikuti dengan suara eomma, appa, dan… aku? Ah, pantas saja waktu itu ia bersikeras menyuruhku untuk mengucapkan harapan-harapan untuk ulang tahun Kyuhee. Ternyata ia menyembunyikan alat perekam di baliknya.

Aku menangis begitu mendengar ia mengakhiri rekamannya. Pedih. Rasanya aku benar-benar merindukan sang pemilik suara. Kyuhee juga menangis tersedu-sedu dan aku memeluknya. Pelukanku padanya setelah hampir 2 tahun ini.

“Kenapa, Hyung? Kenapa Ji Young-noona pergi secepat ini? Selama ini ia terlihat sehat? Tapi kenapa Ji Young-noona yang harus pergi duluan? Aku bahkan belum memberikan kartu ucapan Natalku untuknya,” isak Kyuhee dalam tangisnya.

Kubelai rambutnya sambil menangis pula, tidak tahu harus menjawab apa.

***

“Sebelum ia pergi ke Jinan, ia menitipkan ini pada eomma untuk diberikan kepadamu, Kyuhyun-ah. Dan ketika di rumah sakit, ia menitipkan lagi boneka ini untuk diberikan kepadamu,” jelas Seo ahjumma seraya memberikan kotak cokelat dan juga boneka beruang cokelat. Boneka yang dibelinya di Jinan waktu itu.

Aku menerimanya dengan berat. Kemudian Seo ahjumma meninggalkanku di kamar gadis itu. Kamar yang bahkan aku masih bisa menghirup aroma gadis itu. Kubayangkan gadis itu yang melakukan aktivitasnya di kamar ini. Tidur di ranjang ini, belajar di meja belajar itu, dan ketika ia melihatku melalui jendela kamarnya.

Kemudian kubuka kotak itu. Sebuah buku harian yang dengan cover yang terbuat dari dedaunan kering dan kertas daur ulang, pulpen bunga mataharinya, syal berwarna merah, serta sebuah surat.

Kyuhyun-ah, jangan baca surat ini jika kau sedang menangis sekarang.

 

Ani, aku tidak sedang menangis saat ini, Young-ah.

Bagus, terima kasih kau memahamiku yang tidak ingin melihat siapapun menangis karenaku.

Kyu-ah, saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah terbang ke surga, beruntung sekali bukan?

Saat aku menulis surat ini dan membayangkan surga, membuatku tidak sabar untuk cepat-cepat pergi kesana.

Tapi sebelum itu, masih ada banyak hal yang mengganjal hatiku.

 

Kyu-ah…

Gomawo untuk segala perhatianmu.

Gomawo untuk selalu menjagaku dan melindungiku tanpa kuminta,

Gomawo untuk selalu menghiburku, memberikanku bahumu untukku menangis.

Gomawo untuk membuat dua bulanku ini berwarna.

Gomawo untuk… cintamu, Kyu-ah.

Kini aku pergi. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Bagiku, ini adalah awal yang baru.

Begitu pula dengan dirimu, Kyu-ah. Kau harus mulai awal yang baru.

Jebal, jangan tangisi aku.

 

 

Ah ne, aku juga mempunyai hadiah Natal untukmu. Syal ini, kurajut sendiri malam ini, malam terakhir sebelum keberangkatanku ke Jinan. Pakailah, itu akan menghangatkanmu.

Aku khawatir aku tidak akan bisa mengatakan ini.

Kyu-ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Yongwonhi.

 

 

 

Dari seseorang yang mencintaimu

SJY

 

Air mataku menetes begitu saja. Kemudian kuambil diary cokelat itu dan kubuka lembaran pertama, sebuah quote tertulis di atasnya.

Ada sebuah pepatah : Walau besok kiamat, hari ini aku akan menanam pohon apel.

Maksudnya bahwa kesulitan apapun yang akan kau tempuh hari esok, jangan pernah menyerah dan percayalah bahwa harapan itu masih ada.

Ne, itulah yang akan kulakukan.

 

 

 

 

Kubalik ke lembaran kedua.

Hari ini, ketika aku menangis di taman meratapi nasibku, seseorang datang menghampiriku dan memberikanku saputangannya untuk menghapus air mataku. Namja itu sangat tampan. Tetapi belum mampu untuk menggeser posisi Kibum di hatiku tentu saja

Orang ini aku, kan?

Ketika semuanya terasa sulit, katakan, “Yes, I can do this!” Hwaiting, Ji Young-ah! Keep smile! J

 

 

Aku pergi menemui kedua anak itu di panti asuhan. Dan aku belajar hal baru tentang ketegaran, kebersamaan, cinta kasih, dan persaudaraan. Gomawo telah mengajarkanku hal-hal yang penting dalam kehidupan ini. Ah, ne, aku juga bertemu lagi dengan namja itu tepat sebelum aku… dan ia membawaku ke rumah sakit. Sayangnya ia pergi begitu saja. Dia seperti ksatria, kan?

Bibirku tertarik membentuk lengkungan ke atas begitu membaca kalimat terakhirnya.

Kupikir dia ksatria, ternyata ia lebih mirip malaikat pencabut nyawa! Sikapnya amat sangat sungguh menyebalkan! Dan anak itu ternyata namdongsaengnya? Bagaimana mungkin ia memiliki hyung yang sifatnya sangat bertolak belakang seperti itu?! Huh.

 

 

When I feel lonely in this silent world

When there is no ones beside me

He comes to me and without permission, he changes my life

Makes me realize my true feeling

That I have already fall for him…

 

Dan masih ada banyak lagi lembaran-lembaran di belakangnya. Tanganku pun berhenti di halaman terakhir.

Kupikir kami akan terus bersama sampai pada harinya aku harus pergi. Tapi ternyata tidak. Dia… mengatakannya hari ini. Mengatakan kata-kata kutukan itu! Wae??? Kenapa Tuhan?? Ini tidak adil! Kau sudah mengambil hidupku dan aku bahkan tidak bisa bersama dengan cintaku? Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Dia yang telah mengubah hidupku. Tapi kini aku harus pergi. Demi kebaikannya. Juga semuanya. Halmoni, eotthokhae?

Dan masih ada lagi tulisannya yang amat panjang, tetapi tidak mampu kubaca karena pandanganku kabur akibat air mata yang menggenang. Tes… setetes air mata jatuh ke membasahi buku itu. Kemudian aku menoleh, melihat ke arah boneka itu dan mengambilnya.

Aku teringat ketika itu aku mengatakan bahwa aku tidak pernah mau menerima boneka ini. Tapi kini, boneka itu tengah berada di pelukanku. Aku menangis lagi. Kulakukan hal yang sama seperti boneka Kyuhee, kupeluk boneka itu erat-erat dan terdengarlah suara.

Kyu-ah, saranghae. Neomu saranghaeyo.

Hanya kata-kata itu. Tidak lebih seperti punya Kyuhee. Namun kata-kata ajaib yang dianggapnya sebagai kata kutukan itu sangat berarti bagiku. Karena selama ini, ia tidak bisa mengatakannya padaku, Ia mengatakannya lewat boneka itu. Kupeluk boneka itu dengan erat lagi lama, sehingga boneka itu mengeluarkan kata yang sama berulang-ulang.

“Young-ah, aku merindukanmu,” mulutku bergetar menahan tangis ketika mengatakan ini.

***

Kutatap boneka yang tengah duduk manis di atas ranjangku sekali lagi, kemudian kutatap layar LCD laptop di hadapanku. Kurapatkan kursi yang tengah kududuki hingga mendekat pada meja belajarku. Walau kepalaku berdenyut-denyut memintaku mengistirahatkannya, tetapi aku tidak peduli.

“Baiklah, Young-ah, aku akan menyelesaikan ini. Secepatnya, aku akan menyerahkannya ke penerbit,” tekadku dan jariku mulai menari-nari di atas keyboard laptopku.

Entah sudah berapa belas kali jam berotasi dan perbedaan intensitas cahaya matahari yang memasuki kamarku. Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh kala aku mengenangnya.

“Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah!” panggil eomma sambil mengetuk pintu kamarku. “Keluarlah dan makan. Kau sudah mengurung dirimu seharian di kamar. Isilah perutmu dulu, Kyuhyun-ah.” Ini sudah yang kesekian kalinya eomma menyuruhku makan.

“Nde, aku akan makan setelah semua ini selesai, Eomma,” jawaban yang sama selalu kuberikan pada eomma. Eomma hanya menghela nafas dan pergi dari depan pintu kamarku.

“Sedikit lagi. Tinggal sedikt lagi,” gumamku. Tetapi tiba-tiba kurasakan kepalaku yang semakin sakit.

Tes… untuk yang kesekian kalinya pula hidungku mengeluarkan darah. Kuambil tisu untuk yang kesekian kalinya dan membersihkan darah itu, lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di samping meja belajarku.

“Sebentar lagi. Tinggal sebentar lagi,” kembali aku bergumam.

Dan satu jam kemudian semuanya pun selesai. Novel karangan Seo Ji Young yang ditulisnya selama kurang dari 2 bulan, namun tidak bisa diselesaikannya. Ia memintaku untuk menyelesaikannya. Dan novel ini menceritakan tentang pengalamannya selama 2 bulan sisa  hidupnya. Aku memang tidak terlalu pandai menulis, tetapi aku telah berusaha semampuku. Dia itu tidak kreatif sekali, bukan? Ini novel pertama dan terakhirnya, tetapi kenapa ia hanya memakai pengalaman hidupnya sebegai dasar cerita dalam novel ini. Dan aku juga tidak tahu ini termasuk jenis karangan novel, biografi, atau otobiografi. Baiklah, sama seperti dirinya, kuharap novel ini bisa menginspirasi kalian sebagai pembaca, untuk tidak pernah menyerah dalam segala keadaan dan bertahan melewati segala cobaan sampai akhir.

Khamsahamnida.

END OF CHO KYUHYUN POINT OF VIEW AND THE STORY

***

Yes, it was you who brought me out

You, who put your hand in my pocket and hold my hand

In that year, late autumn

Now, where I should walk?

I miss the sound of your footsteps

_Yoon Jong Shin ft. Cho Kyuhyun – Late Autumn_

Author POV

Two months later

Padang rumput yang tertutupi salju dijajaki oleh namja itu, hingga tibalah ia di tempat yang ditujunya. Namja itu berlutut di samping nisan bertuliskan nama Seo Ji Young. Setelah berminggu-minggu sibuk mengurus berbagai masalah penerbitan novel itu, akhirnya ia bisa bernafas lega. Satu janji telah ditepatinya. Kini, ia meletakkan sebuah buku berjudul ‘You Change My Life’ itu ke atas batu nisan sambil tersenyum.

“Kau lihat? Aku telah menyelesaikannya, Young-ah. Aku telah menyelesaikannya,” bisik namja itu lirih. Beberapa tetes cairan bening kembali berguliran di wajah tampannya.

“Kau tahu, urusan itu menghabiskan waktu lebih lama dari yang kupikirkan. Untung appa mempunyai teman yang bekerja di bagian penerbitan sehingga semuanya berjalan lancar. Dan kini, kita tinggal menunggu respon apa yang pembaca-pembaca itu berikan setelah membaca buku karangan kita,” namja itu berbicara seolah nisan dan gundukan tanah yang tertutupi salju itu bisa mendengarnya.

“Apa kau tahu juga, betapa beratnya hidup selama beberapa bulan ini tanpamu? Tanpa nafasku? Penyakit ini terus-menerus menyerangku, tidak membiarkan sedikit pun celah,” ujar namja itu dan kemudian ia tersenyum getir.

“Ne, Young-ah. selama ini aku sakit. Hanya, aku tidak pernah memberitahumu. Kecelakaan dua tahun yang lalu… itulah yang asal mula penyakitku. Mianhae, aku juga telah membohongimu. Aku hanya menceritakan sebagian saja waktu di taman rumah sakit. Sekarang, ketika waktunya sudah dekat, apa kau mau mendengar versi lengkap ceritaku?”

Seolah gundukan tanah itu telah mengiyakan, maka namja itu pun mulai bercerita.

“Dua tahun yang lalu, Kyuhee kecil mengajakku ke taman bermain. Aku tidak menyetujuinya, tetapi ia tetap membujukku, ah, kau sudah dengar tentang itu, ya?” Namja itu mengutuki kebodohannya sendiri.

“Ketika ia terbaring di rumah sakit, appa dan amma memarahiku. Mereka mengatakan aku bodoh, hyung yang tidak menyayangi dongsaengnya, segala macam perkataan yang menyakitkan mereka katakan. Aku sedih. Aku marah. Aku kecewa terhadap diriku sendiri. Malam itu, aku mengendarai motor besarku dengan kecepatan di atas rata-rata, di tengah jalanan Seoul. Aku tidak peduli pengendara lain meneriakiku gila. Jika kau menganggapku sedang melakukan percobaan bunuh diri… ne, kau benar. Saat itu aku sedang melakukan bunuh diri,” aku namja itu sambil tertunduk.

“Untuk apa kehadiranku di dunia ini? Aku hanya mengakibatkan kejadian buruk pada Kyuhee dan orangtuaku tidak menginginkanku. Cho Ahra, sepupuku yang selalu aku jadikan sandaran pun pergi meninggalkanku untuk studinya ke luar negeri. Apa lagi yang bisa kuperbuat? begitu pikirku saat itu.”

“Awalnya, kupikir usahaku itu sukses. Kejadiannya mirip seperti kecelakaan kita kemarin. Motorku yang berkecepatan di atas rata-rata, kubelokkan ke pinggir jalan untuk menghindari truk, dan akhirnya aku sukses menabrak pembatas jalan. Pandanganku gelap seketika.”

“Kupikir aku mati, ternyata tidak. Aku berada di rumah sakit dengan appa dan amma yang menangisiku. Sesal memang sempat mengisi hatiku melihat orangtuaku yang menangis, namun menyadari kebodohan besar yang telah aku lakukan membuat rasa benci akan diriku sendiri semakin menjadi-jadi. Sejak itulah aku menjadi sesosok namja dingin, tidak hanya pada Kyuhee, tapi juga pada semua teman-temanku,” wajah namja itu pun berubah menjadi dingin.

“Namun hari itu berita mengejutkan itu datang. Berhari-hari aku merasakan sakit di kepala, hingga akhirnya aku pun pingsan di hadapan Kim-euisanim. Kemudian ia memeriksaku. Kau tahu apa hasilnya?  Ne, ternyata akibat dari kecelakaan itu adalah pembuluh darah di kepalaku mengalami pembengkakkan dan bisa pecah kapanpun dia inginkan. Seperti bom waktu.”

“Kim-euisa memvonisku hanya mempunyai waktu beberapa bulan lagi jika aku beruntung. Jika tidak, maka pembuluh darah ini bisa saja langsung pecah. Entah bagiku itu kabar buruk atau kabar baik saat itu. Bahkan orangtuaku tidak mengetahui hal ini sampai sekarang. Ini hanyalah rahasiaku dan Kim-euisanim.”

Kemudian wajah namja itu pun melembut lagi dan berubah menjadi sedih. “Namun tidak. Akhirnya kusadari kalau itu adalah kabar buruk. Dan sore itu, aku pergi ke taman untuk meratapi nasibku, ketika akhirnya kulihat juga dirimu yang tengah menangis saat itu.”

Namja itu menyentuh nisan di hadapannya. “Begitu melihat sinar matamu, aku tahu kalau kau juga berada di posisi yang sama sepertiku. Dan sejak itulah aku mencintaimu. Air matamu membuatku ingin menangis juga. Walaupun tidak tahu alasannya, tapi aku melihat sinar matamu yang sama sepertiku, menyimpan begitu banyak rahasia serta kebohongan disana.”

Namja itu terdiam sejenak. Lalu ia kembali berkata, “Itulah kisahku yang sesungguhnya, Young-ah. Kau sudah mengerti, kan, sekarang? Akhir-akhir ini penyakit ini selalu menyerangku, jadi pasti bom waktu ini sudah semakin mengancam, kan? Jadi kuharap kau mau bersabar sebentar lagi. Tidak lama lagi, aku pasti akan menyusulmu, Young-ah, kau lihat saja.” Namja itu tersenyum dalam tangisnya sambil terus memegangi nisan gadis itu. Angin semilir dan hujan salju menjadi saksi bisu janji namja itu.

THE END

 

 

                Hehe, otthae? Akhirnya tamat juga, huaah…. Jeongmal gomawo for all readers yang udah bertahan untuk ngikutin fic abal ini sampe abis dan juga yang RCL.

Emm sebenernya aku pengen bikin fic ini versi side story soalnya kan selama ini cuma pake POV nya Ji Young aja, padahal masih ada banyak rahasia-rahasia yang dimiliki sama tokoh-tokoh lain. Tapi kalo menurut kalian fic ini udah cukup, yasudah tak apa, anggap aja fic itu buat koleksi di laptop haha.

After all, khamsamnida buat perhatian chingu sekalian buat fic ini. Horras!! ^.^9

55 Comments (+add yours?)

  1. arista cho
    Jun 18, 2013 @ 06:35:19

    sedih banget thor … sumpah ini cerita bagussss bgt .. daebak ! ^^

    Reply

  2. hytika
    Jun 18, 2013 @ 06:37:58

    aaaa kenapa haeus ending??
    mian baru comment di part ini ^^
    over all, daebak thor!!

    Reply

  3. Monika subur
    Jun 18, 2013 @ 07:32:30

    Ceritanya bgs banget thor…! Hiks… Hiks… Hiks…. Tp kok mereka hrs meninggal sich……! Sedih banget…

    Reply

  4. Choi EunHae
    Jun 18, 2013 @ 08:02:20

    Sedih banget thor, asli nangis

    Reply

  5. bertyhyun
    Jun 18, 2013 @ 08:16:56

    Awalnya aku kira kyu jg kanker otak. Trnyata pembengkakan pembuluh darah.. Awesome! Endingnya meleset dari tebakanku. And I love this as always 😀
    U’ve done it perfectly thor!!!!

    Reply

  6. yulia
    Jun 18, 2013 @ 09:26:26

    Sampe nangis bacanya…

    Reply

  7. kiki chan
    Jun 18, 2013 @ 10:18:18

    aku jarang bisa nangis lo kl baca ff. n di sini aku nangis. sedih bgt thor.. TT_TT
    mau dong dibikinin side storynya.. pngen tau story ttg kyuhyun n temen2 nya jiyoung.. trus kalo boleh request sih endingnya dibikin sampe kyuhyun meninggal n nyusul jiyoung ke sana. hehehe
    ditunggu karya2 lainnya 🙂

    Reply

  8. Elza
    Jun 18, 2013 @ 10:49:33

    Okeeyyy over all ceritanya bagus,bermakna,semuanya kata2 yg baguss pokoknya hehehee 🙂 walaupun gak happyy ending *bykmaunihh…
    Makasihh thorrr ceritanyaa keren parah gakk nyesel buat nunggu fanfic ini tamat… Ditunggu karya2 selanjutnya fighting!!!!!

    Reply

  9. agetha
    Jun 18, 2013 @ 11:07:55

    wahhhhh
    hiks hiks hiksssss
    daebak thorrr tuk ngurassssss air mta..

    Reply

  10. sanghee
    Jun 18, 2013 @ 11:35:29

    huaaaa sad ending :”( sedih

    Reply

  11. Rima cho
    Jun 18, 2013 @ 11:51:23

    sedih thor, semuanya pada sakit untung cuma seo ji young yg meninggal
    andwae… kyu oppa jgn meninggal, klau kyuhyun sama kyuhee jg ikut2 tan meninggal, kan bakal nangis bombay kita ^^
    feel ny dapat thor deabak

    Reply

  12. elfishy naima
    Jun 18, 2013 @ 12:18:36

    nyesekk banget, mau dong side story nya thor 😀
    endingnya keren, aku pikir ji young nya tadi udh sembuh xD
    daebakkkkkk^^

    Reply

  13. scarlet
    Jun 18, 2013 @ 12:23:22

    Demi apa pun thor ini sedih banget feelnya dapet banget tapi kok akhirnya kalo menurut aku agak sedikit gantung thor kalo bisa bikin side story temen-temennya dong thor hehehe keep writing fighting (ง’̀⌣’́ง)

    Reply

  14. Diana Park
    Jun 18, 2013 @ 12:27:55

    Happy end d lain dunia he…bgs thor..

    Reply

  15. @salmaayu1
    Jun 18, 2013 @ 12:40:25

    wah, daebak !!
    keren deh pokoknya !!
    keep writing thor ^^ Fighting 😉

    Reply

  16. kyula88
    Jun 18, 2013 @ 13:54:19

    Banjir air mata… TT__TT
    Daebak chingu! Aku baca FF ini dari part 1 smpe skrg dan aku rasa chingu udh banyak progress dr hal menulis. FF ini daebak bgt! serius deh. Good job chingu :DD

    Tuh kan bener dugaanku klo Kyuppa sakit..

    Reply

  17. Park Shu Zie
    Jun 18, 2013 @ 14:14:26

    kasiiiaaaan kyu ppa… ternyata dia jga sakit ya… 😦

    dan sekarang kyu ppa nyusul jiyoung pergi.. 🙂

    Reply

  18. 수훈 (@Alya_093)
    Jun 18, 2013 @ 15:03:34

    keren banget thor!! sebenernya aku udah baca dari tadi pagi mungkin pas abis shubuh.. tapi sorry baru bisa kasih comment sekarang^^
    thor sumpah ini ff yang paling berkesan banget ceritanya..
    ditunggu karya-karya terbaiknya lg ya thor 🙂

    Gomawo 😀

    Reply

  19. @arahma_nia
    Jun 18, 2013 @ 16:27:04

    Akh,, bgus bgt thor… Smpai nangis q.. Oea aq stuju dg side pov, aq pngen taw knapa leeteuk oppa bza sgtu sedihny… The best..

    Reply

  20. april
    Jun 18, 2013 @ 16:47:29

    ceritaNa sedih banget thor tp bagus…
    makasih ya udah nulis cerita ini sampe habis…
    makasih juga untuk g kesel gra2 sy terus coment “mn thor kelanjutannya, cptan dunk” HHeee…
    daebak thor…. 🙂

    Reply

  21. riani pratiwi
    Jun 18, 2013 @ 17:01:05

    menurut aku kaya’a ga usah di kasih side point of view deh.. Over all great !! good job,, keept writting 🙂 chingu coba bikin ff yg action gitu deh ky semacem mission imposible ada action + romance pasti bagus

    Reply

  22. nan
    Jun 18, 2013 @ 18:01:49

    aku baru baca dari awal. seriuuussssss ceritanya bagus bangeetttt!! mau tau?aku bacanya nangis ga henti hentinyaa!pokoknya aku suka banget deh aku bingung harus blg apa, karna ini lebih dari bagus! ><

    Reply

  23. Fimma Putri
    Jun 18, 2013 @ 18:32:12

    DAEBAK THOR! >!<
    Feel-nya dapet TT^TT
    Yak, ternyata Kyuhyun juga punya penyakit 😦

    Keep writing ne thor^^
    Ditunggu FF selanjutnya ^^9

    Reply

  24. Fara
    Jun 18, 2013 @ 19:19:52

    sedih :’) sebenernya aku mau lihat bagaimana side dari sahabat2 jiyoung … :”” thor kamu suda berhasil membuatku mengis.. endingnya juga bagus 🙂 kalimatnya mudah dipahami.. overall goodjob

    Reply

  25. GyuHae
    Jun 18, 2013 @ 19:57:57

    FF ini mengundang air mata walau di tahan pun terasa suah ;-(
    Dr awal aku udh yakin kl young-ah bakal meninggal 😦 n sebelum aku baca – END aku brharap young-ah bakal selamat n sembuh tp ternyata ???? Ini kehendak Tuhan.

    Reply

  26. Tian
    Jun 18, 2013 @ 20:06:12

    Daebak thor! Aku pengikut dari awal ff ini! semua chapternya bikin nangis darah terus insomnia! 🙂
    Mau banget thor side story nya,,Di tunggu y! 😉

    Reply

  27. cloudssky
    Jun 18, 2013 @ 20:09:03

    mewek bacanya T_____T

    ah malangnya kyuhyun 😦

    feelnya berasa bgt,kisah cinta yg tragis T.T

    Daebak author :’)

    Reply

  28. Esa
    Jun 18, 2013 @ 22:05:43

    andweee..knapa sad ending..huaa…nangis sampe kering

    Reply

  29. nialby
    Jun 19, 2013 @ 02:28:29

    Huuaahh!!! Author jahat bikin aku nangis jam 2 pagi (╥﹏╥) serius thor, ini ceritanya keren bangettttttt……. Salut deh sama author nya;D keep wrtting sad story thor^^ sad story tuh lebih mengenang, hehe 😀

    Next sad story nya ditunggu thor :D:D

    Reply

  30. neezhaa
    Jun 19, 2013 @ 06:49:45

    aiish sedih gni,..
    udh mati semua z laah,..aku ikt kyu..hehe
    daebak buat alur crtanya^^
    keren dtnggu kary a author selnjtnya^^

    Reply

  31. sparkyu17
    Jun 19, 2013 @ 10:00:08

    Keep writing thor :s

    Reply

  32. tetekyukyu
    Jun 19, 2013 @ 12:08:00

    Annyeong..
    Selamat buat authornya!!!
    This is the best of the best FanFict with Angst genre that I’ve ever read!!!
    Aku bener2 suka sama penggambaran tokoh Ji-Young yang seperti itu. Aku suka dengan berbagai macam perasaan yang ada, mulai dari keluarga Ji-Young, persahabatannya, hingga kisah cintanya JiYoung..
    Terutama tentang cara Ji-Young menghadapi penyakitnya itu lhoo..Aigoo..aku bener2 terenyuh deh..
    Apalagi kehadiran Kyuhee di sini, dia bikin cerita ini tambah menarik dan bagus! Persahabatannya lumayan rumit ya ternyata? Aku penasaran sama So Hee sebetulnya, kan dia cuma nangis dari makamnya Ji-Young, tapi gimana hub.nya sama Kibum?
    Gambaran setiap karakter dengan cukup mudah bisa dipahami dari tindakan dan kalimat yang dilontarkan oleh penulisnya, aku paling suka sama yang begini. Alurnya juga sesuai, ngga terlalu lambat maupun terlalu cepet, pokoknya pas!
    Setiap adegan juga ditulis secara rinci ngga terburu-buru, jelas ujungnya kemana 🙂
    Mmm..
    Walaupun ada kalimat yang kurang enak dibaca, but over all udah bagus!
    Awesome!!
    Kalo boleh request, aku mau request cerita lain yang genrenya friendship ato married life aja.. *aku uda baca entah berapa ribu FF,dan hampir2 ngga pernah request*
    Ngg…authornya punya Facebook ngga? Kl punya, aku mau add..
    Kamsahamnida..
    Atas cerita yang begitu bagus..
    Jwosonghamnida..
    Aku hanya comment di part ini, terlalu asik soalnya..hehehe
    Mianhae lagi..
    Mungkin comment-ku yg terlalu panjang ^^, karena ngga comment di part2 sebelumnya, aku puas2in comment di last part ini.. hehehe… ^^v

    Reply

  33. Suciramadhaniy
    Jun 19, 2013 @ 14:31:47

    Woaaahhh*tarik napas* shocking bgt baca alurnya. Aku udah bahagia pas baca Ji Young udah sadar, tapi ternyataaa.. huhu. Jgn bilang Kyuhyun di fic ini mau die juga? Huaa. ayoo dong bikin side story nyaa!
    Overall Kereeen! Penyampaiannya itu ya ampun tersentuh bgt sm suratnya Ji Young :”””)
    Koreksinya :
    meratapi nasib
    puterinya itu. kata ‘puteri’ hrsnya EYDnya ‘putri’ 🙂 Ohya ada bbrp typo di part ini. hehe
    Keep writting Cho Anna. You’r great writter! I waittin’ for other fic 🙂

    Reply

  34. chocholatte97
    Jun 19, 2013 @ 15:50:01

    aahh thor kok endㅠㅠ ah kyuhyun ternyata pembohomg jugaㅠㅠgila yaahh bisa nyembunyiin gitu ._. Keren thor!!dibuat side story boleh juga tuh. ditunggi thor!! love you!!<3

    Reply

  35. vinia
    Jun 19, 2013 @ 22:22:21

    ah daebak…………keep writing thor

    Reply

  36. ocha
    Jun 20, 2013 @ 00:00:27

    Sedih banget deh endingnya
    Ternyata Kyu punya penyakit juga :”
    Nice ff thor (y)

    Reply

  37. choanha
    Jun 20, 2013 @ 01:43:43

    annyeong yeorobeun ^^
    jeongmal gomawo buat semua chingu yang udah baca dan comment ff abal nan mellow ini hihi your comments is like oxygen for me ^^
    senyum2 sendiri deh baca comment-an chingu, serasa jadi author beneran haha 😀

    btw, tentang side story, entah kenapa tiba2 aku berubah pikiran *author labil* baru sepertiga jalan, cuma tiba2 jadi males lanjutin, abis kebanyakan cast-nya hehe mianeh. jadi buat chingu yang nunggu side story-nya, mmm bisa digantikah sama fic yang lain? *ting ting ting* *kedip2in chingu*

    di atas ada yang request ff action. nah, itu emang aku lagi pengen banget bikin ff dengan genre itu. cumaaa… ide yang belom ada, hehe. ~.~

    terus ada yang reques ff sad, angst lagi. yap, aku emang lagi garap itu(lagi) hehe. jadi kronologisnya, lagi mentok nulis side story, tiba2 keinget lirik lagu shinee yang can’t leave. pas baca terjemahan liriknya yg dalem banget, langsung dapet ide buat bikin ff angst dari situ.

    terus ada lagi yang request ff friendship or married life. nah, kalo yang itu aku belom kepikiran tuh hihi. semoga nanti bisa dicoba *author kebanyakan janji*

    umm terus tadu ada yg nanya apa lagi ya? aku lupa hehe (akibat ga reply satu2) *nyontek ke atas dulu* oh ya, aku terkejut, ternyata ada yg penasaran sama leeteuk dan sohee juga. daebakk (b) well, di side story itu dijelasin sih penyebab mereka kayak gitu hihi.

    oya sebelumnya entah di part berapa, ada yg nanya wp atau blog aku gitu. aku masih belom punya wp, chingu, terlalu sibuk *alasan -_-* haha, ntar juga deh minta tolong temen bikinin hehe. trus ada yg nanya fb aku? yakin mau nge-add? aku udah lama ga menjamah fb-ku lho wahaha.

    oke, sekian penjelasan yang cukup membuka ini. sekali lagi, hatur nuhun buat semuanya. horras! ^^

    Reply

  38. hasna
    Jun 20, 2013 @ 07:23:18

    Thor sumpah cerita nya sedih banget, kau berhasil buat gue nangis sendirian

    Reply

  39. kyus
    Jun 20, 2013 @ 16:25:15

    kereeeeeen!!
    ckckckck gk tau mau ngomong apalagi >,< kereeen banget hahaha
    sampe nangis bacanya 😦
    please buat sequel nyaa yaa thor ^^

    Reply

  40. tiaraken
    Jun 21, 2013 @ 23:27:51

    ya Tuhaan.. kenapa ceritanya bagus banget :’) bener 2 feelnya dibawa naek turun sama authornya nih. seo ji young dan cho kyuhyun semoga kaluan bahagia di surga sana ^^

    Reply

  41. alia
    Jun 22, 2013 @ 22:40:54

    wowwww see u’ve done really really super duper great thorrrrr 😀 great job!! keep writting, we’r always waiting for ur next story 😉
    hahaaa reply authorrr lucu dehh ketawa ngakak aku bacanyaaa heheeehe ^^ nice words

    Reply

  42. lutkyu
    Jul 07, 2013 @ 22:38:31

    Wewwww DAEBAK BGT THOR ! Berhasi5 bkin air mataku bnjir gni sumpah ga pernh aa ff ampe nangs kya gni..
    Feelnya dpet bgt..kata2nya jga ngena bgt bkin aq kebwa suasana sampe nangs. Oh aq bingung mw coment apa lg karna terlalu bgus ff nya .. Aku suka bgt ! Kata”nya ngena .. Berharap si ada side story . Kyu belum sampe meninggal,gmana novelnya?tmen2 dket dya? Aftes story jga bsa 😀 ehehe nawar aq ..
    Mianhae tlat coment dan tlat bca aq bru nemu tdi hehe bgt maf coment kebnyakan alnya di part sbelm.a aq ga comen. Mianhae terlalu asik.. Oke selese cuap2nya.. Dan aq tnggu next karnya dan after story nya xD

    Reply

  43. Rofhi
    Jul 09, 2013 @ 00:07:40

    Tor ini mewakili part2 lain disetiap partnya ceritanya nyentuh bgt daebak buat autornya keep writing

    Reply

  44. Trackback: [SIDE STORY] YOU CHANGE MY LIFE CHAPTER 1 | Superjunior Fanfiction 2010
  45. Trackback: LINK FF di BLUE ELF | favoritff
  46. hyun hyerin
    Dec 22, 2014 @ 17:56:56

    bener” nangis baca part end-nya… ga ku sangka trnyata kyuhyun jg sama” sakit,, T.T
    aku trkesan bget sama ff ini… banyak sekali hikmah yg bisa dipetik dari ff ini
    makasih authorr ceritanya bnar” daebakk (y)mmm

    Reply

  47. chika
    Mar 14, 2015 @ 21:35:59

    Y gak happy ending seharusnya namjanya juga ikutan meninggal biar gimana gitu

    Reply

  48. reza amanda
    Jun 07, 2015 @ 22:26:13

    Mewek!!!! 😭😭😭😢😣😭😭

    Reply

  49. cho
    Sep 30, 2015 @ 15:12:54

    keren
    sungguh
    ampe mewek ini.
    hikz hikz

    Reply

  50. choheekyung
    Nov 02, 2015 @ 16:57:14

    진자 대박!!!! Kerenn jadi merasa masuk ke dalam cerita, trus kagum banget sama kedewasaannya jiyoung nya dan perhatiannya kyuppa ^-* ♡♥♡

    Reply

  51. riankyu
    Nov 21, 2015 @ 23:29:08

    hiks hiks. .. sumpahhh in ff sedih bngett…. smpe sesegukan bacanya….. nyesel npa gk dri dlu bca.x…. mrka pasngan yg gila abis…. gk nyangka bsa smpe sesedih in…… rasa.x kayk aq yg rasain jdu ji youn.. kyuhyun jga ksah hdup.x sdihh… ah yg jlss in bgus buat cwe xg pngen nangis tpi air mta.x gk mw trun…. pas bnget … klw bca air mta psti trun… yg jls… gw ska… perfect. …….. !!!!!!

    Reply

  52. ecasianipar
    Feb 27, 2016 @ 23:36:52

    Sumpah feelnya dapat banget, aduhhhhhh pas baca ini nangis terus, apalagi pas mau dekat endingnya, top dah buat author

    Reply

  53. lina
    Jun 24, 2016 @ 08:15:55

    Sumvahh thorr…ni ff bener2 daebakkkk
    Sampe nangis nih thorrr 😥
    Ada sequelnya.kah???
    Mian telat..aq baru nemu ni ff 🙂

    Reply

  54. Mardha
    Nov 23, 2016 @ 01:54:56

    Gomawo cingu,,
    aku telah termotivasi dengan ff ini,,,

    Reply

  55. dewi cho
    Feb 22, 2017 @ 08:08:00

    its the best fic that i read…you know what? AKU NANGIS AMPE GAK BERHENTI LOHH .. oh god
    i love kakak author… best best best

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: