[Special Post For Ryeowook’s Birthday] Fighting For Love

Title: Fighting For Love

Cast: Kim Ryeowook, Shin Minyeon, and others.

Length: Oneshot

Genre: Child-hood romance, Friendship.

Rating: PG-13

Author: Lylee Kim

***

 

“…aku tak tahu cara menyatakan cinta, aku bahkan tak tahu cinta itu apa. Tapi menurut televisi, memberi bunga adalah cara yang paling ampuh untuk mendapatkan hati wanita. Maka aku mencobanya….”

Lylee kim’s Storyline….

Taman itu Nampak ramai, para bocah laki-laki sibuk berlarian kesana-kemari, mengejar, mengoper, serta menangkap bola, tak menghiraukan peluh yang sudah membasahi wajah mereka hingga terlihat beberapa bagian baju mereka tak luput dari guyuran peluh. Sedangkan para gadisnya tengah sibuk dengan berbagai perabotan rumah tangga berukuran mini mereka, tak lupa dengan boneka yang  terduduk dengan manisnya disisi mereka. Namun, disudut taman itu seorang bocah laki-laki tengah terduduk diatas sebuah bangunan yang bentuknya mirip seperti sebuah sangkar burung, tetapi berbentuk bulat. Bocah itu tak menghiraukan seruan teman-temannya untuk ikut bergabung dalam tim mereka, dia hanya ingin focus, focus pada pemandangan yang tersuguhkan dihadapannya.

“Ryeowook hyung.. apa yang sedang kau lakukan diatas sana?” suara itu menginterupsi lamunan bocah bernama Ryeowook itu. Henry –sahabatnya- kini tengah mendongkak kearahnya sembari mengusap peluh dengan punggung tangannya, tangan kirinya memegang sebuah bola.sepertinya permainan telah selesai. Ryeowook hanya tersenyum sekilas pada Henry, kemudian kembali memandang kedepan.

Henry mensejajar kan pandangannya dengan Ryeowook “Oh.. Minyeon Noona lagi…”  ujarnya setelah tahu apa yang dilihat oleh Ryeowook. “percuma jika kau hanya memandangnya saja, lebih baik kau hampiri dia segera..” Henry mengendikkan kedua alisnya –menggoda ryeowook- sedangkan Ryeowook hanya menatapnya jengah.

“hampiri dia… lalu katakan…” Henry berhenti sejenak, memanjat besi-besi terpancang itu kemudian duduk disamping Ryeowook. “Minyeon-ah.. aku mencintaimu maukah kau berkencan denganku?” ekspresi Henry sungguh meyakinkan –melankolis sekali-. ia tersenyum sumringah, merasa bahwa demo-nya barusan sangat bagus. tak mengindahkan wajah Ryeowook yang masih memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“apa itu berkencan?” wajah polos Ryeowook seolah menuntut penjelasan lebih lanjut atas peryataan adik kelasnya itu berusan. Henry membulatkan bola matanya yang terlalu sipit itu, “Hyung.. k-kau tidak tahu apa itu berkencan?” Ryeowook hanya menggeleng pelan, ia baru menginjak 12 tahun –tahun ini- jadi dia tidak mengerti hal-hal semacam itu.

“Aku…. Juga tidak tahu.” Ujar Henry dengan suksesnya mengubah air muka Ryeowook menjadi semakin buram. “Yak! Bagaimana kau bisa tidak tahu? Kau sendiri yang barusan mengatakannya!” Ryeowook mengerucutkan bibirnya, kesal. Sedangkan Henry hanya tercengir polos hingga kedua matanya tak terlihat lagi. “aku kan hanya menontonnya di televisi semalam, hehehe” Ujarnya kemudian. “Hanya anak kecil yang percaya pada televisi” Ryeowook berujar datar, membuat Henry tersentak akan pernyataannya barusan. “Hyung.. kau juga kan masih anak kecil. Lagipula…” Henry menghentikan kata-katanya sejenak “kau juga suka menonton televisi bukan?” Ryeowook hanya diam, kembali memperhatikan sosok gadis dihadapannya.

Shin Minyeon –nama gadis itu- gadis yang sudah beberapa malam ini kerap hadir dimimpi Ryeowook, gadis yang baru saja pindah seminggu disebrang rumahnya itu telah mencuri perhatian sejak awal mata mereka bertemu. Ryeowook kecil tak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat itu. yang dia tahu, saat pertama dia melihat Minyeon seolah dunia terlupakan olehnya. Terdengar berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi. Ice cream ditangan Ryeowook saat itu hampir habis meleleh karena tak kunjung dilahap sang empunya, jika saja Henry tak menyadarkan lamunannya dari sosok gadis bersurai hitam panjang dengan iris coklat yang menghiasi kedua  bola matanya.

“Wook hyung… Wook hyung…” Henry mengguncang tubuh Ryeowook, yang sedari tadi hanya mengacuhkannya. Ryeowook pun tersadar akan lamunanya tentang saat pertama dia bertemu dengan Minyeon. “Hyung… ayo pulang, eomma-mu dan eomma-ku pasti sudah mencari kita berdua, ayo cepat” Henry bergegas turun dari tempatnya. sebenarnya Ryeowook masih ingin berada disini, masih ingin melihat gadis itu… tunggu, dimana Minyeon? Gadisnya itu sudah tidak berada pada tempatnya tadi. “Minyeon Noona sudah pulang tadi, kau sih asik melamun saja” Henry seolah dapat membaca gerak-gerik Ryeowook. “benarkah? Yah…” Ryeowook hanya menghela nafas sebelum melompat turun dari tempatnya.

“Ibu aku pulang..” Ryeowook memasuki rumahnya yang tak seberapa besar itu, rumahnya bisa dibilang sederhana jika dibandingkan dengan rumah Henry yang besar dan megah. “Kau sudah pulang? Cepat mandi, ibu akan menyiapkan makan malam.” Seru ibunya dari dalam dapur. “baiklah bu..”.

Kini Ryeowook  telah segar kembali, sambil menunggu makan malam ia duduk didepan televise, menonton acara kartun kesukaannya, Larva. Tiba-tiba saja ibunya menghampirinya dan duduk disampingnya. “Ryeowook-ah, makan malam sudah siap. Sana cepat makan kau pasti sudah lapar..” ibunya mengelus puncak kepala putranya itu, dengan penuh kasih sayang.

Ryeowook mendongkak, menatap ibunya. “Apa ayah belum pulang?” tanyanya, “Mungkin sebentar lagi..” ujar ibunya, “kenapa? Apa kau ingin makan malam bersama ayah?” lanjut ibunya, Ryeowook hanya mengangguk lalu tersenyum pada ibunya. Sepertinya ibunya menyetujui keputusan Ryeowook, makan malam bersama keluarga memang lebih menyenangkan.

“Ibu… bolehkah aku bertanya sesuatu?” setelah sekian lama kesunyian membelenggu kedua ibu dan anak itu, akhirnya Ryeowook buka suara. “kau ingin bertanya apa?” ujar ibunya mengalihkan sejenak perhatiannya dari acara tivi itu. “itu… emm..” Ryeowook Nampak ragu dengan pertanyaanya. “Apa yang ingin kau tanyakan nak?” dahi ibunya berkerut, mengapa anaknya bersikap aneh seperti ini? Batinnya.

Ryeowook Nampak ragu, sebenarnya ia ingin bertanya bagaimana ibunya berkenalan dengan ayahnya? Semacam meminta tips –pikirnya- “Bagaimana cara…” suaranya tertahan, “Bagaimana cara untuk membuat kimchi?” ujar sekenanya, Ibunya hanya mengerutkan dahinya. Ryeowook baru berumur 12 tahun, ia takut jika dia bertanya sesuatu yang berkaitan dengan kisah cintanya ibunya akan marah, karena dia belum cukup umur untuk itu semua.

“Untuk apa kau bertanya cara membuat kimchi?” Ryeowook tengah berfikir alasan apa lagi yang akan ia kemukakan? “ah itu… Henry kemarin bertanya mengapa kimchi buatan ibu enak sekali, hehehe” untungnya ia tak terlalu buruk dalam hal berbohong. “oh itu, nanti ibu akan menjelaskannya pada eommanya henry, kau tak perlu repot”. Ryeowook hanya mengangguk, lalu meneruskan acara menonton tivinya yang sempat tertunda lagi.

Setelah makan malam, Ryeowook kembali terduduk di sofa depan televisinya. Ia menghabiskan malamnya dengan menonton tivi teringat akan perkataan Henry tadi sore, ia berharap akan mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang cara menyatakan cinta atau seperti apa yang namanya berkencan itu.

Keesokan harinya, ditaman yang sama dengan kemarin.

Bocah laki-laki itu menatap sekuntum bunga mawar ditangannya, ah tidak maksudnya sepohon bunga mawar, karena bocah itu benar-benar membawa bunga mawar lengkap dengan akar-akarnya yang masih ditutupi tanah yang sebagian besar telah mengotori baju bergambar batman anak itu.

Kim Ryeowook –bocah itu- Nampak ragu dengan apa yang ditangannya itu. bunga mawar itu tampak tak semenarik bunga-bunga yang selalu dibawa pria-pria tampan untuk memberi kejutan pada kekasihnya, begitulah yang ia tonton ditelevisi  semalam. Henry berbohong, semalaman ia menonton televisi, tetapi disana tidak ada film yang menceritakan tokoh pria yang mengajak berkencan pasangannya, yang didapatnya adalah trik ‘menyatakan cinta dengan bunga’.

Pandangannya kini beralih pada dua sosok anak perempuan yang sedang bermain… rumah-rumahan, entahlah Ryeowook tidak begitu mengerti tentang permainan yang selalu dimainkan anak perempuan itu. Pikirannya hanya terfokus pada satu titik, dan titik itu ada pada wajah manis milik anak perempuan dengan pita ungu tersulur di surai coklat panjangnya.

Tatapannya beralih lagi ke bunga mawar putih yang ada di genggamannya, beruntung Kim Ahjussi –tukang kebun taman itu- tak mengetahui kalau ia mencabut salah satu tanaman kesayanganya, jika ia ketahuan maka sudah dapat dipastikan ia akan dimarah-marahi habis-habisan oleh paman satu itu.

Dengan penuh keraguan ia melangkahkan kaki menuju anak gadis itu, jantungnya berdegup keras. Sempat beberapa kali ia membalikkan tubuhnya, mengundurkan niatnya. Namun, ia tidak bisa terus-terusan menahan perasaanya meski ia sendiri tidak tahu perasaan apa itu. Perasaan yang meluap-luap saat ia bertatapan dengan mata coklat gadi itu, perasaan marah saat gadis itu bermain dengan anak lain, perasaan bahagia saat gadis itu tersenyum padanya.

“Eonni, bonekaku sudah lapar… cepat sedikit masaknya” Gadis yang lebih kecil dari Minyeon menarik-narik baju Minyeon yang sedang sibuk dengan alat-alat memasaknya. “Sabar sebentar ya Ahyeon-ah, makanannya sebentar lagi masak” ujar Minyeon dengan lembutnya.

Hati Ryeowook kembali bergetar saat mendengar suara lembut Minyeon. “Minyeon-ah….” Ryeowook kini telah berada dihadapan Minyeon. Minyeon bangun dari duduknya, menyambut kedatangan Ryeowook. “Ryeowook-ah.. apa kau mau bermain dengan kami?” Tanya Minyeon dengan riangnya. “emm.. itu… ada sesuatu yang ingin aku katakan…” ujar Ryeowook terbata, Minyeon memiringkan kepalanya, heran. “Kau ingin mengatakan sesuatu padaku Ryeowook-ah? Apa?” Minyeon menatap Ryeowook dengan pandangan ingin tahunya. “emm.. itu.. anu…” mata Ryeowook tak sengaja melihat Ahyeon –adik Minyeon- yang ternyata sedang memperhatikan mereka sedari tadi. Nyalinya menciut lagi, ia tak ingin ada orang lain yang melihat.

“Ahyeon-ah…” tiba-tiba teriakan seseorang mengalihkan perhatian mereka bertiga. Henry tengah berlari kearah mereka, nafasnya terengah-engah sebelum ia kembali berujar. “Ahyeon-ah, ayo ikut aku!” henry tiba-tiba menggait lengan Ahyeon yang masih kebingungan. “Mau kemana Oppa?” tanyanya “aku ingin memperlihatkan padamu koleksi kumbang tandukku. Kau mau? Mendengar itu mata Ahyeon menjadi berbinar, lantas mengangguk “Mau oppa, aku mau” ia lantas tersenyum lebar, Henry-pun ikut tersenyum. “Ayo kita pergi” “ayo.. Eonni aku pergi bersama Henry Oppa dulu ya, dadah” ujarnya sambil melambaikan tangan pada Minyeon dan Ryeowook yang masih terbengong-bengong. Sekilas Ryeowook melihat Henry mengedipkan sebelah matanya, ia harus berterimakasih pada Henry setelah ini.

“Jadi, apa yang ingin kau katakana Ryeowook-ah?” ujar Minyeon membuyarkan keterdiaman mereka sesaat setelah Henry dan Ahyeon pergi menjauh dari mereka. “eng… ini” Ryeowook mengeluarkan bunga mawar yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya. “untukmu…” lanjutnya, sedangkan Minyeon masih menatapnya dengan pandangan ragu.

“ini.. untuk apa?” Tanya Minyeon sembari mengambil bunga itu dari tangan Ryeowook. “aku.. aku.…aku tak tahu cara menyatakan cinta, aku bahkan tak tahu cinta itu apa. Tapi menurut televisi, memberi bunga adalah cara yang paling ampuh untuk mendapatkan hati wanita. Maka aku mencobanya….” Ryeowook menundukkan wajahnya yang kini sudah mulai memerah, ia tak berani menatap gadis dihadapannya. “apa maksudmu?” Minyeon masih tak jelas akan apa yang dikatakan Ryeowook barusan. “aku.. aku menyukaimu Minyeon-ah” ujar Ryeowook kembali, kini wajahnya sudah merah padam. Ia tak tahan lagi, maka ia pun berbalik hendak meninggalkan Minyeon yang masih menatap punggungnya dengan heran.

“Ryeowook-ah…” langkah Ryeowook terhenti seketika, ia membalikkan punggungnya “iya?” “sepertinya… aku juga menyukaimu” ujar Minyeon sambil tersenyum malu-malu. Pernyataan Minyeon barusan membuat Ryeowook seolah-olah ingin meloncat tinggi-tinggi, ia terlalu senang.”be..benarkah?”tanyanya, meyakinkan. Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk, sambil menunduk menahan malu. “Ter..terima kasih” Ryeowook tak tahu apa yang harus dilakukannya, ia hanya berniat untuk mengungkapkan perasaannya tanpa mengerti apa yang harus dilakukan jika Minyeon juga mengatakan hal serupa. Maka ia hanya tersenyum sambil beranjak meninggalkan Minyeon yang masih menunduk malu dan mengenggam erat bunga pemberian Ryeowook.

“Oppa,  Kapan kita akan melihat koleksi kumbangmu? Kenapa malah berdiam disini terus?” Ahyeon merajuk, menarik-narik baju Henry yang sedang tertawa saat melihat pemandangan dari kejauhan, pemandangan saat Hyung-nya menyatakan cintanya. “Ah, iya ayo kita pergi. pertunjukkannya juga sepertinya sudah selesai.” Ujarnya menarik lengan Ahyeon, tawanya masih belum terlepas. Sedangkan kebingungan, “memangnya ada pertunjukkan apa?” ujarnya pada dirinya sendiri.

***

A few years later…..

Restoran mewah itu Nampak lengang, hanya ada sepasang pria dan wanita didalamnya. Tentu saja, karena seluruh restoran itu telah dipesan oleh si pria. “Kau harusnya tidak perlu menyiapkan ini semua… ini hari ulang tahunmu, harusnya aku yang memberi kejutan untukmu  bukan malah sebaliknya” wanita itu mengerucutkan bibirnya, sedangkan Pria dihadapannya hanya tersenyum. Manis sekali.

“apakah aku salah jika ingin memberikan kejutan untuk kekasihku tercinta?” pria itu buka suara sambil kembali menyantap tenderloin kesukaannya. “Kau bahkan meminta Henry untuk bermain piano mengiringi makan malam kita” wanita itu kini memandang pianis muda yang tengah terlarut dalam permainan pianonya yang indah. “tak ada pianis satupun yang mampu menandinginya” balas pria itu, masih sibuk dengan santapannya.

“biar kutebak, kau mendapatkan ide candle light dinner romantic ini dari menonton televisi bukan?” terka gadis itu, tersenyum menyelidik. “bagiku, televisi adalah guru terbaik” pria itu menghentikan kegiatannya, menatap lekat gadis dihadapannya. “seperti saat lima belas tahun lalu, saat kau menyatakan cinta padaku” wanita itu berujar sarkastik, sedangkan si pria hanya tertawa “hahaha… kau masih ingat kejadian itu Minyeon-ah? Kukira kau sudah lupa.” Pria itu menyesap sedikit wine dari gelasnya.

“tentu saja aku masih ingat, ingat betul malah.. saat seorang anak laki-laki memberiku sebuah bunga mawar dan dengan polosnya menjelaskan bahwa ia menirunya dari adegan televisi, lucu sekali.” Ujar wanita itu diiringi dengan gelak tawanya.

“dan kau menerima pernyataan cinta anak lelaki itu bukan?”

“Ya, tak bisa kupungkiri bahwa pesona anak laki-laki itu, telah merebut perhatianku semenjak pertama bertemu”

Mereka berdua, Ryeowook dan Minyeon tak menyangka jika hubungan yang awalnya hanya sebatas cinta monyet saja akan berjalan hingga bertahun-tahun lamanya, meski tak mudah dalam mempertahankan suatu hubungan tapi ajaibnya mereka mampu melewatinya.

“Ryeowook-ah, bolehkan aku bertanya sesuatu?”

“sure honey..” jawab pria itu, singkat.

“mengapa dulu kau sangat yakin jika kau mencintaiku, padahal seperti yang kau katakan, kau bahkan tidak tahu apa itu artinya cinta?”

“itu karena… aku juga tak tahu”

Gadis itu mengerutkan dahinya, tak puas akan jawaban kekasihnya itu. “mengapa bisa tak tahu?” gadis itu kembali merajuk.

“Aku tak tahu, yang aku tahu, saat aku melihatmu ada rasa yang aneh yang membuncah dihatiku rasa seolah hanya kau satu-satunya pusat duniaku”

Minyeon hanya membentuk huruf ‘O’ dengan mulutnya, tak tahu harus berkata apa lagi. “Minyeon-ah….”tiba-tiba Ryeowook bersimpuh dihadapan Minyeon, Minyeon cukup terkejut akan apa yang dilakukan Ryeowook.

Ryeowook mengeluarkan sesuatu dari balik tuxedonya, sebuah kotak berudu berwarna biru safir, saat ia membuka kotak itu terlihat sebuah cincin berlian berkilat-kilat diterma sinar-sinar dari lilin disekelilingnya.

“Minyeon-ah.. maukah kau menjadi istriku? Maaf jika lamaran ini terlalu biasa saja, aku mencon…” telunjuk Minyeon menyentuh bibir Ryeowook, memintanya diam.

“biarku tebak… kau mencontohnya dari televisi?” ujar Minyeon sambil menahan tawanya, meski binar matanya memperlihatkan jika ia hendak menangis, terharu.

“oh well… seperti yang sudah kukatakan, televisi adalah guru terbaik” Ryeowook tersenyum lalu melanjutkan, “jadi apakah kau menerima lamaranku?” tanyanya lagi.

“kau tidak perlu mengulang pertanyaanmu, Mr. Kim tentu aku dengan senang hati menerimanya…” Minyeon tersenyum, sebutir airmatanya jatuh dipipi kanannya.

~END~

Maaf jika ceritanya aneh, gaje, atau sebagainya. Tapi inilah yang author hasilkan dari beberapa ilham yang didapat J

7 Comments (+add yours?)

  1. Flo
    Jun 30, 2013 @ 13:18:55

    so sweet banget..
    cintanya kuat banget, bisa sampai pernikahan..
    harus ad sequelnya nih thor XD

    Reply

  2. Dini Nuriska
    Jun 30, 2013 @ 13:21:20

    keren keren thor 🙂

    Reply

  3. yulia
    Jun 30, 2013 @ 22:49:00

    di dunia nyata ada ga yg CINTAnya bisa bertahan selama itu??? #mikirkeras

    Reply

  4. bungaiw
    Jul 01, 2013 @ 09:38:08

    WAAAAAAAA! Ini sweet bgt._. Kok bisa dari kecil sampe sekarang masih cinta._. Daebak thor:D sayang gada konfliknya yah? Keep writing thor (9′-‘)9

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: