[Special Post For Ryeowook’s Birthday] Mirror

Mirror

Author: HaChiaki (@prifani824)

Cast : Kim Ryeowook, Kim Hana, Park Minji, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Heechul.

Genre: Thriller, Romance.

Rating : Teen

 

Inspired By Karakter Hannibal Lecter dalam empat seri novel Thomas Harris

 

Gelap temani malam sepi. Angin terbangkan dedaunan kering musim gugur. Hujan baru  saja reda. Bebatuan jalan berkilau karena basah, dan terkena sinar bulan. Keheningan sebuah gang kecil dengan banyak hiasan grafiti di dindingnya terpecah ketukan sepatu. Terdengar teratur. Tak terdengar sedang terburu.

Disana, Kim Ryeowook bermantel coklat, yang sukses sembunyikan tubuh kecilnya. Rambutnya di cat ungu muda, warna kesukaannya. Celana levis biru kehitaman membalut kakinya. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku mantel, menghindari udara yang semakin dingin.

Kedua bolamata coklat pucatnya menatap lurus ke depan. Tatapannya tanpa keraguan namun manis di saat yang bersamaan. Sudut kanan bibirnya terangkat sedikit merasakan ada ketukan sepatu yang lain dibelakangnya. Dugaannya tepat sasaran. ‘orang itu’ mengikutinya.

Kakinya berukuran tiga sembilan. Mencoba melangkah lebar-lebar, agar lebih cepat. Tapi ketukan sepatu di belakangnya pun semakin cepat, Seperti hendak berlari. Ah, mau main-main rupanya, batin Ryeowook tersenyum senang.

Beberapa langkah setelahnya, Ryeowook berhenti. Begitu juga langkah kaki di belakangnya. Sepi sejenak sampai Ryeowook berbalik.

“Menguntitku rupanya..” Ryeowook terkekeh. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria muncul dari gelap belokan sebelah kanan. Berseragam polisi lengkap, mengacungkan pistol berwarna hitam yang tampaknya sudah agak usang.

“Kalau memang ingin menangkapku, kenapa tak tembak sekarang saja? Kau punya peluru kan?” kedua tangan pria manis itu diangkat ke sebelah kepalanya. Gerakan pelaku yang menyerahkan diri.

“Aku ingin laki laki kecil sombong sepertimu ini berlutut menyerah di  hadapanku. Menendangmu dengan kakiku sendiri kedalam sel, lebih menyenangkan daripada melepaskan peluruku ke jantungmu disini.” Pria berpakaian polisi itu bermata kecil dan bersuara sengau. Bibir merahnya menyunggingkan senyum bangga. Ryeowook sudah terpojok. Hanya tinggal membuat Ryeowook berlutut menyerahkan diri padanya.

“Oops.. sepertinya ada yang lebih angkuh dariku disini.”  Dua langkah lebih mendekat, lalu Ryeowook berhenti lagi. “Akan kupastikan kau mati dalam keangkuhanmu, tuan.”

Tangan kanan Ryeowook yang sedari tadi dalam saku dikeluarkan. Ia menggenggam sesuatu berbentuk tabung kecil. Mirip pulpen, memiliki penekan di belakangnya. Jari jempolnya menekan tombol dibelakangnya. Dengan cepat sesuatu yang tampak seperti jarum melayang di udara. Manancap tepat di kulit leher si pria bermata kecil.

Bersamaan dengan itu, telunjuk polisi itu menarik pelatuk pistolnya. Karena bergetar, jadi tidak tepat sasaran. Peluru berukuran kurang lebih satu inci itu menembus tangan kiri Ryeowook. Ia tak meringis sama sekali mendapat peluru. Sedangan si polisi mulai limbung, dan kini berlutut. Keringat mengaliri pelipisnya.

“A..apa ini?” gumamnya gemetar.

“Jarumku berisi Sianida. Kuharap kau bisa menjemput ajalmu dengan tenang, tuan.” Ujar Ryeowook. Darah dari tangannya yang terkena peluru tadi mulai menembus mantel coklatnya. Tapi seolah tak perduli, Ryeowook berbalik santai. Melambaikan tangannya seraya berjalan. “Selamat tinggal.”

***

Kim Hana, menyeruput teh hangat pagi nya. Duduk di sebelah jendela kantornya, memandang lalu lalang pejalan kaki sejenak, lalu kembali membaca buku novel tebal di tangannya. Sebenarnya, kepalanya masih berdenyut sakit sebab kemarin pulang terlalu malam. Ia menyelidiki TKP kemarin seorang diri. Hanya ditemani detakan jantungnya yang begitu cepat kala itu karena takut.

Hasil penyelidikannya belum menunjukkan hasil yang berarti. Semua hanya berputar putar tanpa jalan keluar di kepalanya. Jika sudah tiga anggota polisi yang tewas oleh tangan pelaku sasarannya ini, berarti sekarang ia harus seribu kali lebih berhati-hati.

Pertama Kim Heechul, lalu Park Yoochun, kemudian yang terakhir kemarin senior divisi kriminal yang dengan bodohnya menguntit pelaku dengan seragam kepolsian, Jung Yunho.

Ketiganya rekan Hana dalam menyelidiki kasus ini. Kalau dia mati juga, maka surat kabar akan semakin banyak membuat berita buruk tentang kepolisian yang lambat menangani kasus.

“Surat kabar yang merepotkan..” gumamnya. Beberapa kali kepalanya dibuat pusing karena berita-berita tidak masuk akal tentang kasus yang ditangani nya, Bukan hanya kali ini. Dia sendiri saja belum dapat kesimpulan apa apa. Tapi ekspektasi para pencari berita ternyata begitu liar sampai masalah ini merembet kemana mana.

Tepukan di pundaknya membuyarkan kekesalannya. Park Minji, anggota baru divisi kriminal. Kemarin anak ini sempat membuatnya kesal ketika mengurus kasus kebakaran. Wajah Minji langsung membiru kala mengurus korban tewas yang luka bakarnya hampir sembilan puluh persen. Hana juga seperti itu dulu, dan lama lama juga akan terbiasa. Minji masih polos, Hana tau itu. Tapi kata kata seperti: “Ternyata orang yang terbakar bau nya tidak sama seperti ayam ya-“ sangat mengganggu dan tidak masuk akal. Sulit dipercaya kalau anak ini mendapat penghargaan Anggota terbaik di divisi Lalu lintas tahun lalu.

“Aku ikut berduka atas kematian Yunho sunbae. Ini pasti berat untuk eonni.” Minji mengambil kursi plastik disana, menggesernya agar bisa duduk lebih dekat dengan Hana. Mereka dipasangkan sebelumnya di kasus kebakaran kedutaan Perancis–kasus pertama Minji.

“Si bodoh itu yang memang ceroboh.” Jawab Hana tanpa menatap Minji. Teh nya sudah habis ketika Hana ingin menyeruput lagi. “Lagipula yang satu ini bukan buronan biasa. Dia agak.. spesial”

“Karena membunuh tiga polisi?” Minji memiringkan kepalanya, mencoba menatap Hana.

“Bukan.” Hana menghela nafas sebentar. Beban pikiran nya semakin berat kalau mengingat ini. “Dia pernah ku tangkap dua tahun lalu. Sayangnya tidak bisa kujebloskan ke penjara karena dia gila, dalam arti kata yang sebenarnya.”

“Benarkah? Apa kasusnya?” Minji tampak antusias. Usianya sudah dua pulu lima. Tapi selalu terpukau pada sesuatu yang tidak harus diketahuinya.

“tidak terlalu penting untuk kau tau. Dia berkeliaran sekarang karena aku juga. Si sosiopat sinting dan menyebalkan itu kabur dari rumah sakit jiwa karena kecerobohan ku.” Jari tangan Hana mengusap-usap pinggiran cangkirnya.

“Baiklah. Aku tidak terlalu ingin tau juga.” Ujar Minji menyerah. Agak kecewa, tapi mungkin ini bukan sesuatu yang ingin dikenang sunbaenya yang agak dingin ini.

“ah, iya eonni. Aku mendapat fotonya dari dokumen daftar pencarian orang. Kim Ryeowook ya?”

Hana mengangguk kecil.

“manis juga ya ternyata.” Mata Minji menerawang. Membayangkan betapa terpesonanya ia pada mata kecil namu tajam milik Kim Ryeowook itu. Sementara Hana membulatkan matanya, kesal. Ia mengetuk pelan cangkir di tangannya ke kepala Minji.

“Ya! Bisa bisa nya kau menyukai orang tidak waras seperti itu, huh?”

***

Hana belum mendapat titik terang dimana sasarannya berada selama seminggu ini. Beberapa tempat ia singgahi dengan waktu yang cukup lama berdiam disana sampai kepalanya pening. Minji, si anak kecil itu semakin sering menelfonnya. Katanya agar lebih dekat, karena mereka hanya mereka berdua yang perempuan di divisi kriminal. Hana tak terlalu memikirkan ini. Mungkin saja nanti Minji ada gunanya juga.

Malam telah larut dengan rembulan yang menggantung tinggi di langit ketika Hana sampai di rumah. Setelah membersihkan diri dan makan beberapa sendok nasi, Hana menyalakan laptopnya. Membuka beberapa akun sosial media miliknya, serta mengecek e-mail.

Tidak ada yang menarik ternyata. Jemarinya hendak mematikan laptop dan tidur. Namun sebuah e-mail masuk menghentikan pergerakan tangannya. Sebuah pesan gambar yang tampaknya difoto dengan kamera ponsel murahan berkualitas jelek. Gambarnya tidak teralu jelas. Tapi isinya cukup dapat dipahami.

Sebuah kertas catatan berwarna putih yang dibubuhi tinta hitam, mengukir huruf hangeul yang berantakan, namun terbaca. “Atap apartemenmu sepertinya tempat yang bagus untuk menghabiskan malam ini. Mungkin akan menjadi malam terakhir kita. Aku merindukanmu, chagi. Sangat.” Catatan disana kurang lebih seperti itu. Hana tau siapa ini. Tangannya gemetar bersamaan dengan keringat yang mengaliri pelipisnya, lalu jatuh ke leher.

Ini berbahaya. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia telah belajar untuk mengatasi rasa takut dengan menyembunyikannya. Meski semua kemungkinan buruk berputar di kepalanya. Tenang, tenang.

 

***

Sepatu high heels nya berketuk menggema di tangga. Hana menuju atap sekarang. Tak perlu takut, pikirnya. Toh jika mati mungkin semua selesai. Mungkin termasuk beberapa hutangnya yang tidak sedikit.

Ia sampai. Di ujung atap, seorang pria berambut ungu yang tak lebih tinggi darinya berdiri santai dengan sebatang rokok di tangannya. Beberapa kali tampak asap mengepul dari bibirnya. Kim Ryeowook telah menunggu lama sepertinya.

“Datang juga ternyata. Rindu padaku, ya?” Ryeowook terkekeh. Suara cemprengnya menggema bersama dengan angin malam yang berhembus kencang.

“Kenapa pergi?” tangan Hana terkepal kuat. Ia tau itu pertanyaan bodoh. Tak perduli apa jawabannya, tapi terucap juga.

“Kenapa ya? Mungkin karena aku ingin. Tak ada yang bisa mengaturku sayang. Aku bisa pergi semauku.” Ryeowook berbalik. Kini matanya menyelami bola mata coklat tua Hana yang dirindukannya.  “Kau tidak tau betapa aku meridukanmu”

“Kau lebih tidak tau betapa aku mebencimu.” Hana mendecih.

“Mendekatlah..” Ryeowook membuang rokoknya. Menginjak sampai api nya mati. Hana menatapnya ragu. “Mendekatlah. Tidak apa apa.” Tangan Ryeowook terjulur, meminta Hana meraih tangannya.

“Tangan mantan kekasihku ini dingin sekali.” Ujar Ryeowook ketika tangan Hana ada digenggamannya.

“Jangan menggombal, dasar tidak waras.” Gadis itu terdengar bergetar suaranya. Membuat Ryeowook semakin merasa menang.

“Kau tau kenapa aku membiarkanmu disini? Kenapa aku membiarkanmu yang membawaku ke neraka-ku nanti?” Ryeowook menggenggam erat tangan Hana.

Hana menoleh. Masih bisa dilihatnya luka melintang bekas sayatannya dua tahun lalu di pipi kanan Ryeowook.

“Karena kita itu sama.” Bisik Ryeowook di telinganya. Hembusan nafas Ryeowook membuatnya merinding.

“Jadi lebih baik kalau..” Ryeowook melepas genggamannya. Merogoh sesuatu dalam kantongnya. Mengeluarkan pisau lipat kecil dari sana ternyata. Hana tersentak tapi tetap tenang. Ia juga sudah siap dengan revolvernya di dalam saku yang digenggamnya sejak tadi.

Sepersekian detik, ayunan tangan Ryeowook sangat cepat. Ujung pisau itu membuat garis melintang di pipi kiri Hana. Tangan Hana bergetar, meski hanya sekedar menarik revolvernya pun tak bisa. Darahnya mulai mengucur meski tidak banyak.

“See? Jika berhadapan, kita sama sekarang. Haha.”

“Kau gila, Kim Ryeowook!”

“Aku gila karenamu, sayang. Andai kau tidak menduakan ku kala itu, mungkin kekasih tampanmu itu takkan berakhir dengan menjemput ajalnya dua tahun lalu.”

Satu tangan Hana menahan darahnya agar tak terus mengalir. Sementra tangannya yang lain mengacungkan revolver ke arah Ryeowook.

“Kau seperti cerminku. Kau sisi baik dariku yang busuk ini.”

Sebuah senyum lembut terbentuk di bibir tipis Ryeowook.

“Aku mencintaimu..” Ryeowook melempar pisau lipat yang terdapat percikan darah itu ke sembarang arah.

“Kau akan ku jebloskan ke penjara, Kim Ryeowook.”

***

“Eonni hebat sekali!” Minji memeluk Hana yang baru sampai. Luka di pipi Hana masih di perban.

Hana tidak merespon. Mereka trdiam sebentar, sampai Ryeowook dengan rambut berantakan melewati mereka dengan tangan diborgol.

Sebuah senyum tipis dilemparkannya pada Hana, membuat gadis itu mematung. Mata Hana tak lepas dari pergerakan yeowook sampai pria itu menghilang di ujung lorong.

“Ah, eonni sudah tau kabarnya? Pengadilan memutuskan hukuman mati pada pria tadi.” Ujar Minji berbisik.

Pundak Hana melemas. Ia takkan bertemu pria itu lagi sepertinya. Tak akan meski hanya sekali.

END

14 Comments (+add yours?)

  1. desifitriyani
    Jul 05, 2013 @ 10:32:46

    bagus2, tp terlalu singkat.

    Reply

  2. Babyfishevil
    Jul 05, 2013 @ 11:28:44

    Keren, tapi kurang panjang…
    ;}

    Reply

  3. bertyhyun
    Jul 05, 2013 @ 12:07:35

    Keren tp tragis ya. Keep writting thor!

    Reply

  4. Gaem
    Jul 05, 2013 @ 14:09:06

    Heu ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    Reply

  5. geez-personal
    Jul 05, 2013 @ 16:30:15

    Keren! Seharusnya ff ini juga termasuk yg menang 😀
    eh eh tapi, emang sampe kaya gini aja yah? Resolusinya mana??

    Reply

  6. RyeoKyuAe
    Jul 05, 2013 @ 17:01:08

    keren…. coba kalau ini ff chapter pasti lebih keren..
    dan, author kenapa kau membuat tokoh ryeowook seperti itu ha? saya tidak terima… kkkk *abaikan*
    so far, it’s good. Keep writting~~:)

    Reply

  7. bungaiw
    Jul 05, 2013 @ 17:37:46

    Keren thor 😉 . Tapi kurang panjang._. Keep writing thor (9′-‘)9

    Reply

  8. EL
    Jul 05, 2013 @ 17:47:52

    ini…. daebaakk…

    Reply

  9. Flo
    Jul 05, 2013 @ 22:57:11

    keren thor..
    baru kali ini baca ff yg castnya wookie oppa..
    tp, saiko gitu..

    Reply

  10. chochangevilkyu
    Jul 06, 2013 @ 08:00:55

    Err liat komeng-komeng tulisannya katanya kurang panjang. Ini kan tak lebih 3000, jd ya pasti ga panjang heuh sabar authornya ya *pukpuk
    Keren tauu, ceritanya bagus. Diksinya jg pintar dalam penempatannya. Aku suka ceritanya 😀

    Reply

  11. Futaba
    Jul 06, 2013 @ 23:11:58

    Duhh… bener-bener sulit di bayangin karakter wookie oppa disini…

    kok kayaknya bukan wookie…

    tapiii… tetep aja bagussss 😉

    Reply

  12. Jung Ha Ra
    Jul 07, 2013 @ 18:33:28

    ini ffnya daebakk thorr…
    tapi ini kenapa ryeowook terinspirasi dari Hannibal hiks TT_TT tapi untung gak sampe sesadis Hannibal asli=,=
    overall bener2 daebak >,< keep writing thor ^_~9

    Reply

  13. fifin
    Aug 25, 2013 @ 15:39:10

    keren thor …. ternyata mereka tu mantan kekasih,,^^

    Reply

  14. ahnjungmi
    Jul 06, 2014 @ 16:42:39

    aku bingung thor itu ryeowook diincer polisi gitu kasusnya apa? belum dijelasin disini,kan?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: