[Special Post for Leeteuk Event] The Rain is Pouring

Judul : The Rain is Pouring
Author : Varen
Main Cast/Supporting Cast : Park Jungsoo(Leeteuk) x Reader
Genre : Romance – Fluff
Rating : PG-13
Author Notes / AN : Visit my wordpress? jetaimealafolie.wordpress.com 8D

Hujan deras di luar rumah membuat tubuh mungil itu menggigil kedinginan meskipun ia telah bersembunyi di bawah selimut tebal bergambar Marie sedari tadi. Ia tahu betul bahwa selimut saja tidak akan cukup membuat dirinya merasa hangat di tengah-tengah hujan seperti ini. Ia butuh satu hal lagi. Dan satu hal lagi itu adalah pelukan dari orang yang sangat dirindukannya, Park Jungsoo. Bukan hanya pelukannya yang ia butuhkan, tetapi juga kehadirannya.
Seperti menjawab rasa rindu di hatinya, sebuah panggilan masuk di telepon genggam menghampiri. Dengan cepat, ia meraih benda mungil itu dan menemukan nama yang dipikirkannya sedari tadi terpampang pada layarnya, menandakan bahwa orang itulah yang menelepon. Ditekannya tombol bergambar terbalik berwarna hijau. Ia menempelkan benda tersebut pada telinganya, sehingga sebuah suara mengalir lembut menuju gendang telinganya.
“Yoboseyo, chagiya? Ini aku.”
“Ya, aku tahu, pabo,” ujar gadis itu sambil tertawa pelan.
“Oh, aku merindukan tawamu itu. Ah~ eotteoke? Baru 2 hari kita tidak bertemu, tetapi aku sudah hampir mati.”
“Kau sungguh berlebihan, ahjussi. Kau tidak akan mati hanya karena tidak bertemu denganku, percayalah.”
Ia mendengar laki-laki di seberang sana menghembuskan napasnya pelan. “Ragaku memang tidak akan mati. Hatiku yang mati.”
“Kalau begitu, mengapa kau tidak mengunjungiku saja ke sini? Kau tidak tahu aku juga merindukanmu setengah mati?”
“…..”
“Halo? Yah, Jungsoo-ah!”
“…..”
“Kenapa tidak dijawab? Dasar aneh,” gerutu gadis itu setelah memutuskan panggilan.
“Siapa yang aneh, hm?”
Ia menjerit kaget ketika merasakan dua buah tangan memeluk pinggangnya, diiringi dengan suara seorang laki-laki yang sudah familiar di telinganya. Dengan kesal, ia membuat laki-laki itu melepaskan pelukannya lalu memutar tubuhnya sehingga dapat melihat dengan jelas sosok tersebut.
“Kau yang aneh. Meneleponku, tetapi ketika aku berkata bahwa aku merindukanmu setengah mati malah tidak menjawab.”
Park Jungsoo tertawa mendengar kekasih dua tahunnya berceloteh seperti itu. Wanitanya ini memang terkesan kekanak-kanakan — coba lihat seisi kamarnya, semuanya Marie! —, tetapi ia tahu benar ia mencintainya.
“Aku bukannya tidak menjawab, hanya saja aku sudah di sini. Untuk apa kita berbicara di telepon kalau berbicara secara langsung lebih menyenangkan?”
“Tapi, kan, jangan mengagetiku juga. Kau tiba-tiba memelukku. Aku pikir ada maling barusan.
“Tidak ada maling yang beroperasi di tengah hujan deras seperti ini,” jawab Jungsoo sambil menampilkan sebuah cengiran, membuat dimple khas miliknya muncul.
“Tahu dari mana? Kau pernah menjadi maling?”
Jungsoo hanya mengedikkan kedua bahunya. “Kata hati.”
Gadis itu melengos. “Ya, terserahlah,” katanya sambil berjalan menuju sofa yang sudah dihadapkan ke arah jendela tak bertirai yang terletak di sudut kamarnya. Ia terduduk di atasnya dalam diam, sampai akhirnya Jungsoo bergabung menatap rintik hujan di luar dengan duduk di sebelahnya.
Tanpa dipinta, sang gadis menyenderkan kepalanya pada dada bidang Jungsoo, membuat laki-laki itu dapat mencium harum sampo strawberry yang menyeruak dari rambutnya. Ia memainkan rambut gadis itu. “Kau tidak kedinginan?”
“Awalnya iya,” gadis itu bergumam. “Tapi setelah kau ada di sini, tidak lagi.”
“Jadi, kau sudah tidak butuh pelukanku?”
Dengan mata bulatnya, gadis itu menatap Jungsoo tajam. “Pabo, tentu saja masih butuh,” protesnya, yang langsung dijawab dengan pelukan erat dari sang kekasih. Kedua pipinya terasa panas ketika tubuhnya menerima sentuhan tiba-tiba itu. “Jungsoo-ah?”
“Ne?”
“A-ani.. Gomawo~”
“Untuk?”
“Semuanya.”
Seulas senyum terbentuk di bibir Jungsoo. “Aku yang seharusnya berterima kasih padamu?”
“Mengapa?”
“Karena kau telah mengerti aku dan segala kesibukanku.”
“Kau seorang public figure, sudah seharusnya kau sibuk. Kalau aku tidak dapat mengerti soal kesibukanmu, mungkin aku tidak akan menerimamu dari awal.”
Sebuah kecupan mendarat pada bibir tipis gadis itu. “Kau memang yang terbaik.”
“Apakah kau mengatakan hal tersebut pada setiap gadis yang kau kencani di luar sana?”
Kali ini Jungsoo mengerang pelan. “Tolong jangan merusak suasana.”
Gadisnya kembali tertawa pelan. “Baiklah, maafkan aku.”
Jungsoo mengacak rambut panjang berwarna hitam itu sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah kecupan lagi pada bibir sang gadis. “Saranghae.”
Seiring dengan dikalungkan kedua lengannya pada leher Jungsoo, ia mengucapkan sederet kata yang mampu membuat Jungsoo tersenyum lebar.
“Nado saranghae, Jungsoo-ah..”

6 Comments (+add yours?)

  1. Devi
    Jul 14, 2013 @ 11:48:24

    Bgus thor. .
    Di sini jga dingin, hujan trus. Pngen d’peluk mingpa tp dia ny lg d’hawaii, , hehe

    Reply

  2. Flo
    Jul 14, 2013 @ 13:19:21

    bagus thor..
    mau juga dong dipeluk XD #plak

    Reply

  3. Kim Jae In
    Jul 14, 2013 @ 15:43:06

    boleh g aku aja yg jadi cewek’a???
    Envy gila!!!
    Daebak thor

    Reply

  4. Babyfishevil
    Jul 15, 2013 @ 11:19:21

    Sweet

    Reply

  5. annie
    Jul 15, 2013 @ 11:51:40

    aahhhh so sweet banget! pendek tapi pol! kkkkk~

    Reply

  6. yulia
    Jul 15, 2013 @ 12:14:38

    Sweet banget thor…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: