[Special Post for Heechul Event] A Smile Goodbye

Title : A Smile Good Bye

Author : Song Je Hun on http://chachaelf83.wordpress.com

Cast :

  • Park Jung Soo
  • Kim Heechul
  • Kim Jung Eun

Support Cast :

  • Kim Jong Won
  • Kim Ki Bum
  • Tan Hangeng

Genre : Hurt, Family, Romance

Rating : General

Length : One Shoot

Poster by Initial E

Warning! :: Typo(s) tidak pernah luput dari semua FF saya,

Declaimer :: FF GAGAL nan ABAL ini murni buatan saya, mungkin tidak sebagus FF karya Author favorit kalian. Hargailah diri sendiri dengan tidak menjadi seorang PLAGIAT ^^

 A Smile Goodbye

 

“Jangan cintai Dandelion, karena dia akan meninggalkanmu…”

 

 

>> Happy Reading <<

 

Bruughh….

Seorang yeoja terduduk bersimpuh dilantai sembari memegangi dadanya, deru nafas yang kian memburu memcah keheningan langit sore yang hampir pudar ditelan gelapnya malam. Peluh keringat tak mampu ditahan, mengalir di setiap pori-pori kulitnya yang putih. Seraut wajah tanpa dosa itu kian memucat putus asa.

“A-ku… heh.. ha-rus…ber-ta-han…” gumannya disela tarikan nafas yang terasa mencekik tenggorokan.

Tangan mungilnya mencoba meraih sesuatu di dalam tas slempang coklat yang sedari tadi menemaninya. Sebuah botol putih setinggi 10cm berhasil didapatnya. Detik itu pula dia telan dua butir pil berwarna putih dengan seteguk air mineral yang melancarkan keduanya melewati celah tenggorokannya yang tercekat.

 

15 menit berlalu….

 

 

Tampaknya cara kerja obat itu sangat baik, terbukti dengan laju nafasnya yang teratur meski mimik wajahnya masih Nampak kelelahan dan sedikit pucat. Kepalanya masih tertunduk merasakan tubuhnya yang sedikit bergetar.

“Nona… Neo gwenchanaeyo?”

Sebuah suara lembut menyapa, namun yeoja itu tak mengindahkannya. Dia beranjak pergi tanpa menatap si pemilik suara.

Barulah setelah beberapa langkah dia berhenti, seakan sadar ada orang lain disekitarnya. Namun tetap saja dia tidak membalikkan badan agar orang lain tidak merasa kasihan melihat kondisinya yang buruk.

“Ne~… Gwenchana.”

Suara yang terdengar parau itu ikut menghilang seiring langkah kaki yang menjauh meninggalkan jejak yang masih bias ditatap seorang namja yang berdiri mematung tak mengerti.

 

 

 

Pukul 9 malam, di sebuah rumah mewah kawasan Gangnam

Sebuah Audi putih terparkir didepan rumah mewah yang terlihat nyaman namun sepi seolah tak berpenghuni.

“Hyung, kita sudah sampai?” suara dibalik kemudi itu membangunkan namja yang terlihat lelah.

“Eugh~..” dia mengeliat pelan, meregangkan ototnya yang kaku “Gomawo Kibum-ah atas tumbangannya.” Dia beranjak turun, diikuti senyuman Kibum.

Namja berperawakan tinggi dengan rambut coklat kekuningan itu melenggangkan kakinya masuk.

“Apa dia sudah pulang Ahjumma Shin?”

Sebuah pertanyaan dia lontarkan pada wanita paruh baya bertubuh tambun yang mengambil alih tas kerja warna hitam miliknya.

“Ne~ Tuan Muda, sekarang Nona Muda sedang istirahat dikamarnya.”

Raut wajahnya seketika berubah khawatir. Direnggangkannya dasi hitam yang sedari pagi melingkar di lehernya.

“Apa dia sudah makan?”

“Mianhamnida. Tapi Nona bilang ingin istirahat, jadi…” Ahjumma tampak ragu melanjutkan ucapannya.

“Aku tahu.” Potongnya cepat, mengetahui kemana arah perbincangan singkat mereka ini.

Ahjumma segera pergi setelah menerima jas hitam yang tadi dipakai Tuan Mudanya.

“Tolong buatkan makanan untuknya!”

 

—oo000oo—

 

Tok… tok… tok…

Sepi….

 

.

 

Tok… Tok …. Tok….

Hening, tidak ada jawaban dari si penghuni kamar di lantai dua.

 

.

 

Tok… tok.. tok…

Ceklek…

Tanpa menunggu jawaban yang dia yakin juga tak akan ada, namja itu langsung masuk tanpa meminta izin lagi. Didapatinya seorang yeoja yang tengah duduk manis di atas ranjang sambil membaca sebuah majalah fashion dengan ekspresi kesal.

“Kenapa tidak menjawab?”

“Karena aku tahu, hanya Heechul Oppa yang akan mengetuk pintu kamarku meski aku sudah mengatakan pada Ahjumma bahwa aku ingin istirahat.” Jelasnya panjang lebar dengan bibir yang dia cerucutkan. Namja yang dipanggil Heechul Oppa hanya bisa menggelengkankan kepala disertai senyuman khas seorang kakak terhadap dongsaengnya.

“Apa hari ini penyakitmu kambuh lagi?” Heechul mendudukkan dirinya ditepi ranjang.

Sebuah anggukan lemah memberikan jawaban pasti bahwa itulah yang terjadi hari ini. Namun senyuman yang ia ciptakan mengisyaratkan bahwa dirinya kini sudah lebih baik.

“Obatnya sudah diminum?”

“Aku bukan anak kecil lagi Oppa!” dia merengut kesal karena selalu diperlakukan seperti itu.

“Mana tas sekolahmu?”

Mata Heechul berburu disetiap sudut kamar bernuansa coklat muda yang sarat ketenangan, ditambah dengan sedikitnya perabotan yang menghias didalamnya, mencari benda yang dia yakin setiap hari menemani dongsaeng kesayangannya itu.

“Yak!! Apa yang kau lakukan??!!”

Teriak Jung Eun, yeoja yang sedang duduk diatas ranjang saat Heechul menggeledah isi tasnya. Aktifitas Heechul berakhir saat didapatkannya botol obat yang sore tadi dipakai Jung Eun. Setelah memakai sarung tangan, dia menuangkan seluruh isi obat itu ke telapak tangan kirinya dan mulai mengitung berapa jumlah yang tersisa. Kemudian tersenyum simpul, dan mengembalikan ketempat semula.

“Anak yang baik, aku senang kau meminumnya.” dielusnya rambut pirang Jung Eun lembut, namun lagi-lagi yeoja itu hanya merengut kesal sambil menampiknya.

Tok… tok… tok…

“Masuklah!” titah Heechul

 

.

 

Ahjumma Shin masuk dengan nampan berisi semangkuk bubur dan juga air putih. Setelah diberikan pada Heechul wanita itu mundur beberapa langkah sambil membungkukkan badan dan pergi.

“Ayo makan!” dia mengangkat sendok, siap menyuapi yeoja yang ada dihadapannya. Jung Eun membungkam mulutnya sebagai bentuk penolakan.

“Hanya ada dua pilihan… aku yang menyuapi atau kau makan sendiri dan aku temani?”

“Makan sendiri saja! Kau menyebalkan!!”

Jung Eun segera merebut paksa mangkuk itu dan melahap isinya. Heechul tertawa kecil melihat sikap dongsaengnya yang belum berubah.

 

 

 

—oo000oo—

 

 

Pukul 4.30 sore di sebuah Café

“MWOYA??!!” Manik mata namja berkapala besar itu langsung terbelalak mendengar penuturan lawan bicaranya yang masih tenang.

“Kau bercanda hyung?” dia seakan masih tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Anni~ Yesung-ah.” Dia menyeruput Americanonya pelan. “Tidak peduli seperti apa kondisi mereka, atau berapun yang mereka inginkan. Aku hanya ingin mendapatkan itu secepatnya.” Kali ini cairan bening mulai menggenangi bola matanya. “Akan kulakukan apapun untuk mencegah itu semua.”

Matanya menerawang jauh, mengingat seraut wajah yang tertidur menahan sakit yang siap menelannya kapanpun. Wajah yang penuh kelembutan itu kini sendirian di ruangan putih Dipandanginya semua pengunjung café yang ada.

“Di-dia??!!”

“Anni~ jangan dia Hyung!!” tolak Yesung saat Heechul menunjukk kearah Leeteuk. Pegawai yang sudah dianggapnya seperti Hyung sendiri. Leeteuk juga tidak punya siapa-siapa selain Yesung.

“Kumohon bujuk dia Yesung-ah. Aku percaya padamu.”

 

—ooo00000ooo—

 

“Leeteuk-ssi Gomawo, aku tak menyangka kau mau datang.” Ucap Heechul pada namja yang baru keluar ruang pemeriksaan, wajahnya penuh harapan. Berbeda dengan Yesung yang terlihat sedikit tegang.

20 menit menunggu….

Seorang Uisa dengan balutan jas putih dan kacamata yang bertengger dihidungnya datang menemui mereka.

“Bagaimana hasilnya?”

“Kurasa kau pasti senang, karena tingkat kecocokannya melebihi 75%.” Kelegaaan tergambar jelas dari mimik wajah Heechul dan Leeteuk yang membuat Yesung semakin frustasi tetapi juga turut senang.

“Tapi Heechul-ah, sebagai Uisa dan Sahabatmu.. tidakkah kau pikirkan lagi masalah ini?” wajahnya tampak sedikit cemas. “Jangan mengulang hal yang sama.” Tambahnya.

“Gomawo untuk penjelasannya, kami permisi.”

Seakan tidak mau menerima pendapat, Heechul menarik paksa Leeteuk meninggalkan ruang kerja Uisa Han.

 

—ooo00000ooo—

 

 

Ketiga namja itu memasuki ruang yang terlihat sepi. Aroma obat benar-benar tercium kuat dengan selang infuse yang melekat ditangan si pasien.

“Hey~ kenapa melamun?” Heechul menghampirinya, membuat pasien itu sedikit terkejut.

“Oppa!! Kenapa kemari? Bagaimana pekerjaan di kantor?”

“Tenang saja, Kibum sudah mengurus semuanya.”

Kim Kibum adalah sekretaris Heechul yang sudah mendapat kepercayaan penuh dari keluarga Kim, mereka sudah menganggap Kibum seperti putra mereka sendiri. Meski terkesan dingin Kibum juga selalu perhatian pada Jung Eun, dongsaeng Heechul.

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

“Eum~ nuguya?”

Pandangan matanya beralih pada pintu yang masih sedikit terbuka, menampakkan sosok berkepala besar dengan garis mata sipit yang sangat dikenal Jung Eun.

“Yesung Oppa!!” serunya dengan rona bahagia. Andai tidak sedang diinfus dia mungkin sudah berhambur memeluknya.

“Kau rindu padaku atau masakan eommaku?” ledek Yesung, mengeluarkan sebuah kotak makan yang sebelumnya disiapkan eommanya untuk Jung Eun.

“Dua-duanya ckckck~” wajah polos seperti anak kecil itu membuat Yesung bertambah gemas. Meski usianya sudah 22 tahun Jung Eun masih seperti anak belasan tahun yang manja.

Kebahagiaan itu tersedot keluar saat manik mata  Jung Eun beradu pandang dengan sosok yang muncul dibalik punggug Yesung. Laju nafasnya menjadi tidak teratur, wajah memucat dibarengi keringat yang mengalir disela pori-pori kulitnya yang putih. Melihat perubahan sikap Jung Eun, Heechul segera menggenggamnya erat

“Anni~ bukan dia.” Bak sebuah hipnotis, ucapan Heechul seketika menenangkannya. Yeoja itu menarik nafas panjang agar sedikit lebih teratur.

“Ann.. Annyeonghaseyo… Leeteuk imnida.” Terkejut melihat perubahan sikap Jung Eun, dia segera memperkenalkan diri dan membungkuk.

“Lee-teuk? Nuguya?”

“Dengarkan Oppa baik-baik.” Kali ini Heechul memegang kedua pundaknya yang sebelumnya bergetar hebat. “Tingkat kecocokan jantung kalian melebihi 75%. Bagus kan?” mata Heechul berbinar menyampaikannya.

“M-mwo? Dia masih hidup!! Shireo!!” dengan kasar Jung Eun menampik tangan Heechul yang bertengger dipundaknya. “Apa kau mau aku jadi pembunuh untuk kedua kalinya?” sorot matanya memerah, marah, kesal dan kecewa itulah yang ingin dia tunjukkan. “Dan kau Leeteuk-ssi! Apa hidupmu tak berharga??!!”

Tertegun mendengarnya, Leeteuk tak pernah berfikir Jung Eun akan menolak donor jantung yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya.

“Sampai kapanpun aku tidak mau. Keluarlah! Aku butuh istirahat.” Dia baringkan tubuhnya memunggungi ketiga namja itu dalam selimut.

 

 

—-ooo00000ooo—

 

 

Leeteuk yang mendapat tawaran Heechul untuk menjaga sekaligus membujuk Jung Eun untuk operasi meminta bertemu di cafeteria Rumah Sakit untuk menanyakan satu hal yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.

“Sebenarnya apa yang terjadi dimasa lalu kalian? Ucapan Uisa Han dan penolakan Jung Eun-ssi waktu itu…” Leeteuk berusaha untuk tetap sopan agar tidak menyinggung perasaan Heechul, dan namja itu segera mengangguk mengerti.

 

FlashBack

Ddrrrt…. Ddrrrttt…

Sebuah pesan mengejutkan Heechul yang tengah berdialog serius dengan Uisa Han.

Hyung.. pergilah ke ujung jalan dibalik Rumah Sakit 15 menit lagi, Jangan TERLAMBAT!

Awalnya Heechul berniat mengabaikannya, namun Pertanyaan Hangeng menyadarkannya.

“Pesan dari siapa? Kekasih Jung Eun?” tebaknya.

“Darimana kau tahu?” Heechul semakin bingung.

“Dia baru saja melakukan pemeriksaan Organ, dan mengetahui tingkat kecocokan jantungnya dengan Jung Eun hampir 70%.”

“Apa maksudmu dia akan..?” Hangeng mengangguk menyesal.

Flashback End

 

“Lalu apa yang terjadi?” Leeteuk semakin diliputi rasa penasaran.

“Sebanarnya ini kesalahanku…” airmata Heechul mengalir pelan tanpa isakan. “Jantungnya sudah tidak berfungsi saat kami tiba di Rumah Sakit.” Sesalnya

 

 

—-ooo00000ooo—

 

 

Seperti biasanya, Leeteuk selalu mengunjungi Seoul Hospital, tempat dimana Jung Eun dirawat. Meski awalnya yeoja itu selalu menolak kehadirannya, tapi karena kebaikan dan kesabaran Leeteuk untuk menemani membuat hatinya sedikit luluh. Namun hal ini tidak mampu merubah keputusan Jung Eun untuk menolak Operasi jantung itu. Semakin Leeteuk baik padanya, dia semakin yakin untuk menolaknya.

Tapi Leeteuk tetap saja membujuknya tanpa mementingkan bayaran yang diberikan Heechul yang besarnya lima kali lipat dari gajinya di café milik Yesung.

“Annyeonghaseyo~… Apa aku mengganggu?” suara lembutnya membuyarkan lamunan Jung Eun saat itu.

Yeoja itu mengulum senyum termanisnya seraya merapikan tatanan rambutnya dengan sisir kecil berwarna biru muda. Entah apa yang dilihatnya dari sisir itu, dia segera menyembunyikan benda kecil itu kedalam selimut tebal yang menutupi kakinya.

“Kurasa rambutku sedikit kotor, setelah satu minggu tidak ke salon. Hehehe~…” guraunya, mencoba mencairkan suasana yang menurutnya masih kaku.

“Mau kubantu?”

“Mwo?”

Leeteuk segera mengambil kursi roda disudut ruangan, mengangkat tubuh kecil Jung Eun dan mendudukkannya. Sementara yeoja yang kondisinya perlahan melemah itu enggan untuk melawan saat kursi rodanya mulai memasuki kamar mandi.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Jung Eun semakin bingung melihat Leeteuk memasangkan handuk kecil dipundaknya.

“Tenggadahkan kepalamu.”

Dengan malas dia menurutinya. Membiarkan Leeteuk perlahan menyugur kepalanya dengan air hangat yang mengalir dari shower.

“Kenapa kau mau melakukan ini?”

“…………………………..”

Tidak ada jawaban, bukan karena tidak mendengar tetapi kini pandangannya jelas tertuju pada surai pirang Jung Eun yang turut menghiasi lantai bersama aliran air dari kepala yeoja itu.

“Leeteuk-ssi??”

“Eh? Ne~?? Kurasa karena kau beruntung memiliki Oppa seperti Heechul-ssi yang sangat menyayangimu.” Dia menuang shampoo beraroma mint ketelapak tangannya, dan perlahan mengosok kepala Jung Eun lembut.

“Arrayo~… Sejak Eomma dan Appa ke Kanada, Oppa semakin baik padaku.” Manik matanya menatap langit-langit Rumah sakit yang seakan membiaskan wajah kedua orangtuannya.

Mendengar itu, mata Leeteuk mulai berkaca. Yeoja dihadapannya terlampau polos sehingga tidak mengetahui bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal 2 tahun lalu. Entah karena terlalu bodoh, atau Heechul yang terlalu pandai menyembunyikan rahasia ini.

Dia kembali menggosok rambut Jung Eun yang sekali lagi menyangkut diantara jemarinya yang dipenuhi busa shampoo. Kali ini airmata benar-benar tidak mampu ia tahan.

“Bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan, udara sore masih indah kan?” tawar Leeteuk setalah aktifitasnya selesai sembari mendorong kursi roda Jung Eun keluar kamar mandi.

“Ide Bagus. Tapi kau yang minta Izin pada Hangeng Oppa ya?” lanjutnya penuh semangat, dia memang tidak pernah menyebut Hangeng sebagai Uisa Han seperti yang dilakukan Heechul karena dia merasa panggilannya membuat mereka lebih dekat.

 

 

—ooo00000ooo—

 

 

Dua pasang kaki terlihat duduk bersantai dikursi putih yang menjadi penghias taman. Membiarkan hembusan angin memainkan rambut keduanya dengan kelopak mata masih terpejam.

“Jangan cintai Dandelion…”

Suara itu memecah keheningan diantara keduanya, namja yang duduk disampingnya mengernyitkan mata, memandang tak mengerti.

“Karena dia akan meninggalkanmu.”

Insting seseorang ketika tengah diawasi membuat si pemilik suara membuka mata dan balik menatapnya. Digenggamnya dandelion yang baru dipetik dari taman itu erat.

“Dia terlalu indah untuk dimiliki….”

Fiuh~

Dan sebuah tiupan itu membiarkan kelopak dandelion putih terbang terbawa deru angin yang lembut.

“Oh ne~, aku ingin menitipkan sesuatu padamu?” dia merogoh kedalam sagu seragam pasiennya. Mengeluarkan sebuah liontin berbentuk hati dan menyerahkannya. Leeteuk menatapnya bingung.

“Seseorang memberikan ini untukku, kau juga harus kembalikan padaku jika saatnya tiba.” Seulas senyum terpancar dari wajahnya.

 

Flashback

Sepasang kekasih tampak senang menikamti waktu bersama mereka ditaman Dandelion dengan tangan saling bertaut. Langkah namja yeoja itu terhenti ketika kekasihnya melepas pegangannya. Dia menatapnya tak mengerti.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

Namja itu mengulurkan tangannya yang menggenggam. Membiarkan yeoja itu membukanya sendiri.

“Tidak ada apapun.” Gerutunya cemberut.

“Ini!”

Entah bagaimana caranya, sepertinya sebuah trik sulap. Namja itu mengambil sebuah liontin dari belakang surai kekasihnya.

“Jung Eun-ah… aku pakaikan ne~?” yeoja itu mengangguk pelan dengan senyum terulas. Namun sebelum kalung itu benar-benar tersemat dilehernya tiba-tiba saja….

 

Brughh!

 

Yeoja itu kehilangan keseimbangan dan menubruk kekasihnya.

“Kim Jung Eun Ireona!!!”

 

Seoul Hospital, Rooms 132

Jung Eun yang sudah sadar sejak 15menit lalu hanya mampu menundukkan kepala tanpa berani menatap kekasihnya yang terlihat sedikit marah.

“Mau sampai kapan kau merahasiakan semua ini?” ucapnya tegas namun terdengar kesal.

“Ak-ku… Aku takut kau meninggalkanku…” bulir airmata mengalir sudah.

“Itukah yang kau pikirkan?!” tanyanya sinis, sementara Jung Eun setia menunduk. “Baikklah!”

Kalimat singkat itu diikuti langkah kakinya meninggalkan ruang rawat yang menjadi hening, hanya tangisan Jung Eun yang terdengar pilu.

 

2 jam kemudian………

“Tadda!!!”

Namja manis yang sebelumnya marah pada Jung Eun kembali dengan sebuah koper besar bersamanya.

“Dennis-ah?”

“Tunggu!! Masih ada yang lain.”

Tak berapa lama dia kembali dengan dua ikat balon beraneka warna ditangannya. Setelah ikatannya dilepas, balon-balon itu mulai menghiasi atap kamar Jung Eun yang sebelumnya hanya berwarna putih. Dia membuka koper dan mengambil banyak boneka untuk ditata disekitar tempat tidur Jung Eun. Yeoja itu hanya menggeleng lucu melihat tingkah kekasihnya.

“Ini agar kau tidak kesepian…” dia menunjuk boneka kucing berwarna coklat dengan bulu yang lembut. Airmata Jung Eun mengalir pelan.

“Uljima… aku benci kau yang lemah…” Tanpa aba aba namja itu langsung memeluk Jung Eun erat.

“Jangan sembunyikan apapun dariku ne?” kembali Jung Eun hanya bisa mengangguk. Dia melepas pelukan Dennis dan menampakkan wajahnya yang memerah karena mengangis.

“Pulanglah… jika Oppa tahu kau menginap disini dia akan marah. Hehehe~.” Candanya dengan suara parau.

“Siapa takut? Jika dia datang dan mengusirku aku akan memberinya tinju terbaikku.” Menunjukkan gaya meninju dengan penuh ambisi.

“Jinjja?”

“Eh? Jung Eun-ah kenapa suaramu berubah?”

“Itu suaraku!!” bentak sipemilik suara yang tidak lain adalah Kim Heechul. Namja itu langsung memiting leher Dennis membuat raut wajah manisnya berubah seperti kepiting rebus.

“Arghhhh.. Ampun hyung…” pintanya memelas pada namja yang hampir seusia dengannya itu, Jung Eun membekap mulutnya menahan tawa.

Flashback End

 

 

Bulir airmata tidak mampu disembunyikan lagi, sementara Leeteuk sendiri tidak tahu harus berbuat apa pada yeoja itu.

“Tenanglah…” dia usap lembut surai Jung Eun untuk menenangkannya.

“Leeteuk-ssi aku lelah.” Suara parau itu sontak menyejutkan Leeteuk, ini adalah kali pertama dia mendengar yeoja itu mengeluh lelah. “Aku ingin Tidur.” Semakin menjadi ketakutannya mendengar kalimat yeoja itu. Biasanya Jung Eun hanya akan mengatakan butuh istirahat ketika mulai bosan. Cepat-cepat ditepisnya anggapan buruk itu, mendorong kursi roda Jung Eun meninggalkan taman.

 

 

—ooo00000ooo—

 

 

Leeteuk membantu membaringkan tubuh Jung Eun yang seperti lemas ke ranjang, menyelimutinya hingga dagu. Matanya memanas menahan tangis melihat Yeoja yang tetap tenang dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Ditariknya sebuah kursi dan duduk disisi ranjang.

“Kamsahamnida Leeteuk-ssi, kau banyak membantu.”

“Jung Eun-ssi jebal bertahanlah, 5 jam lagi operasi akan  dilakukan. Aku… biarkan aku menjadi orang istimewa untuk mendonorkan jantungku padamu.” Hanya gelengan pelan yang diberikan Jung Eun diiringi senyum disela airmatanya.

 

Bruakkkk!

 

 

Sebuah pintu dibuka atau lebih tepatnya sedikit didorong oleh seseorang dengan raut wajah kalut bersama tiga namja lain yang juga tampak khawatir, dia adalah Heechul yang masuk bersama Yesung, Kibum dan uisa Han.

“Jung Eun-ah…” diraihnya tangan mungil dongsaengnya itu, memeluknya erat.

“Op-pa… A-pa eom-ma da-tang..” kali ini nafasnya mulai tersengal, seakan ada yang menjerat paru-parunya, membuatnya kesulitan bernafas.

“Mereka…” hanya airmata yang mampu melanjutkan kalimat Heechul. Bagaimana bisa dia terus berbohong pada dongsaengnya.

“A-ku… ber-mim-pi… huh~..” dia mencoba mengatur laju nafasnya “ber-te-mu eom-ma dan… ap-pa…” senyum senantiasa terlukis dari wajahnya yang memutih.

“Dengarkan Oppa, jangan banyak bicara.. operasi akan segera dilakukan. Oppa mohon bertahanlah… hiks…”

“Shi-reo… aku su-dah le-lah…ak-ku ma-u..ti-dur “ dia membuat tawa kecil yang menyebabkan airmata diruangan itu semakin pecah, Kibum yang biasanya dingin juga tak mampu menahan airmatanya. Begitu pula Yesung dan Hangeng yang sudah mengenal keluarga Kim sejak kecil.

“Mwo?”

“Sa-lang-hae-yo… Go-ma-wo…” perlahan dia mengatupkan kedua kelopak matanya dengan sebuah senyuman.

“Kim Jung Eun!!!!” teriak Heechul Histeris.

 

 

—ooo00000ooo—

 

 

Tampak beberapa namja berdiri ditepi tebing dengan stelah jas hitam pekat, salah seorang diantara mereka mengenakan kain putih dilengannya sembari membawa guci kecil. Matanya masih sembab, terlihat sekali dia kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Perlahan dia taburkan abu Jung Eun ke laut, tempat yang sama dengan 1 tahun lalu, saat Yesung, Kibum dan Hangeng menemaninya menebar abu kedua orangtuanya.

“Tidurlah yang nyenyak, Eomma dan Appa bersamamu.” . Yesung dan Hangeng terus mengelus pundaknya agar dia lebih tenang. Sementara Kibum hanya diam menatap iba punggung sajangmin dan juga hyungnya itu.

Yang menjadi perbedaan kali ini, adalah kehadiran Leeteuk diantara mereka. Tidak ada yang bisa dia lalukan selain ikut mengantar kepergian Jung Eun. Usahanya menjaga dan membujuk yeoja itu memang tidak membuahkan hasil, tapi setidaknya dia sudah berusaha.

“Kurasa aku harus mengembalikannya sekarang.” Tangannya meraih liontin milik Jung Eun di saku celananya.

Entah angin apa yang membuat tangannya bergerak untuk membuka liontin berbentuk hati. Menampakkan sepasang kekasih dengan senyum bahagia. Dia adalah Kim Jung Eun dan….

“MWO??!! Wajah Dennis mirip denganku??!!” keterkejutan itu membuat mereka yang ada disana memaling wajah dan mengulum senyum melihat ekspresinya yang bingung tak percaya.

 

END

 

Fiuh~ akhirnya selesai juga, untuk semua yang sudah membaca FF ini, je Hun sampaikan Jeongmal Kamsahamnida.. ^^

FF ini didedikasikan untuk Oppadeul yang Non-Aktif di Super Junior saat ini… Saranghaeyo ^^

15 Comments (+add yours?)

  1. sasa
    Jul 16, 2013 @ 13:29:50

    Sediiihhhhhh…… Tapi keren thorrrr 😀

    Reply

  2. yulia
    Jul 16, 2013 @ 18:51:38

    next story Thor….

    Reply

  3. Flo
    Jul 16, 2013 @ 21:41:04

    huwa sedih..
    aku juga heran klo namanya dennis, berarti jungsoo oppa juga dong
    pantas tingkat kecocokan jantungnya tinggi..

    Reply

  4. Devi
    Jul 17, 2013 @ 23:24:10

    Gokil ni mata. Dgn sukarela. . keluar gratis!!! Keren thor, , kpn ya aku bisa bwt ff skeren gtu?, , feel ny dpt thor.

    Reply

    • White Angel
      Jul 18, 2013 @ 18:14:19

      Wah~ airmatanya baik banget.. dengan suka rela mau keluar..
      Keren? aduh makasih banget, aku anggap ini pujian #plakk
      tapi masih gag se-keren author lain 🙂

      pasti kamu bisa kog.. FIGHTING ^^

      Reply

  5. Devi
    Jul 17, 2013 @ 23:27:26

    Gokil ni air mata. Dgn sukarela nangis. . keluar gratis!!! Keren thor, , kpn ya aku bisa bwt ff skeren gtu?, , feel ny dpt thor.

    Reply

  6. chachaelf83
    Jul 18, 2013 @ 09:54:48

    Kamsahamnida buat Admin yang udah post FF ku 🙂

    *bow with Leeteuk Oppa

    Reply

  7. yekyu15
    Jul 18, 2013 @ 10:21:24

    keren thor /elap ingus/?, tadinya aku kira yeye yg jadi pacarnya jungeun :’D

    Reply

  8. fifin
    Aug 20, 2013 @ 22:51:05

    embb…keren thor , gk nyangka ternyata wajahnya denis tu sama ma leeteuk^^

    Reply

  9. BYN
    Dec 23, 2013 @ 15:34:25

    keren banget :”)

    Reply

Leave a Reply to BYN Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: