[Special Post for Heechul Event] Be Your Flowerpot

Author : Gojjluck (@UZakiahH) | Cast : Kim Heechul, Kim Kibum, Hwa Ha-Nui(OC) | Genre : Romance, Drama | Rating : PG-15+ | Words : 3.000 *plak*-___-

Author’s Note : Annyeong! 🙂 Happy Birthday, Leeteuk-ssi and Kim Heechul-ssi! Tambah tua, ya? xD *kidding*. Kali ini buat FF untuk Heenim.  Ini FF pertama yang aku buat khusus untuk dia, hahaha :D~ Karena Leeteuk udah pernah dibuatin, makanya kali ini kesempatan Heenim ngeksis di FF aku sebagai cast utama~ :p

Don’t forget to visit my blog : http://gojjluck.wordpress.com *edisi iklan* *numpang eksis**plak!*

Happy Reading 🙂

Be Your Flowerpot

—oOo—

—Be Your Flowerpot—

Malam semakin dingin hingga menembus jumper lusuh yang membalut tubuh kurus seorang Kim Heechul. Bulan purnama menyinari setiap celah kota Seoul yang perlahan tapi pasti mulai sepi ditinggalkan aktifitas para warganya karena malam sudah sangat larut. Tapi, pria itu, Kim Heechul, dengan langkah pelan, sedikit menekan langkahnya agar ketukan sepatunya tidak terdengar oleh seorang gadis yang berjarak beberapa meter darinya. Sebenarnya, Heechul tidak perlu begitu memerhatikan langkahnya, karena seberapa keras ketukan yang sepatunya hasilkan ketika beradu dengan aspal dan salju, gadis itu tidak akan mendengarnya. Gadis itu menyumbat kedua telinganya dengan headset sejak ia turun di halte bus.

“Gadis cantik.”

Heechul yang sedikit terkantuk seketika membulatkan matanya saat melihat gadis itu tengah diganggu oleh dua orang pemuda yang mabuk. Gadis itu tampak terdesak ketika lengannya mulai dicengkram kuat oleh dua pemuda yang tidak dikenalinya itu.

“Mau apa kalian?! Lepaskan aku!”

Heechul, tanpa banyak ba-bi-bu, menyingkirkan tangan pemuda itu dan memberinya tinjuan keras tepat di pipi kanan pemuda itu. Pemuda yang satunya lagi melayangkan botol minumannya yang sudah kosong ke arah Heechul. Heechul menyeret gadis itu berlindung di belakangnya sementara lengannya menahan botol yang diarahkan ke arahnya.

PRANG!

Botol itu pecah mengenai lengan Heechul. Heechul menyikut dada pemuda itu dan memberinya hadiah satu pukulan keras di perut dan pipinya. Kedua pemuda tadi lari terbirit-birit meninggalkan Heechul dan gadis itu. Heechul tersenyum sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal, uap mengepul di sekitar wajahnya saat ia menghembuskan napas.

Heechul berbalik ke belakang, melihat gadis itu yang berdiri diam. Matanya menyiratkan bahwa ia sangat shock karena kejadian barusan yang begitu tiba-tiba. “Kau…tidak apa-apa?”

Gadis itu menggeleng cepat.

“Syukurlah.”

“Tapi,” gadis itu menunjuk lengan jumper Heechul yang berlumuran darah. Sepotong kaca berukuran cukup besar merobek jumper merah marun itu, menancapkan luka yang cukup dalam di lengan Heechul. Saking senangnya karena bisa menyingkirkan bahaya dari gadis itu, Heechul sampai tidak menyadari lengannya  terluka.

Heechul tertawa pelan, mengundang raut bingung di wajah gadis itu. “Tidak apa-apa,” katanya dan dengan santainya mencabut sepotong kaca itu dari lengannya, tanpa ada ringisan sedikitpun yang keluar dari bibir Heechul. Malah gadis itu yang meringis melihatnya. Heechul sudah pernah merasakan hal yang lebih buruk daripada itu. Pisau bahkan pernah menusuk perutnya lebih dari tiga kali, menyisakan bekas jahitan yang sukar hilang. Dibandingkan dengan itu, sepotong kaca jelas tidak ada apa-apanya. “Aku pernah merasakan hal yang lebih sakit dari ini.”

Gadis itu masih menatap Heechul dengan heran. Berpikir bahwa apakah yang terjadi saat ini adalah mimpinya saja. Tapi, benar-benar bukan mimpi. Ia memang baru saja melihat seorang pria aneh mencabut potongan kaca botol dari lengan tanpa merasa sakit sama sekali—bahkan ia tertawa saat mencabutnya, pria yang entah gila atau memang sudah kebal terhadap rasa sakit.

“Kau mau pulang, kan?”

“Eoh.” Jawab gadis itu singkat.

“Aku antar, ne?”

“Ye?” nada bicara gadis itu naik dua oktaf. “Mengantarku?”

“Kau mau kejadian seperti tadi terulang lagi?”

Gadis itu menggeleng untuk kedua kalinya. Mereka berjalan beriringan, menyusuri jalanan kecil khas daerah padat penduduk kota Seoul. Beberapa kali mereka menaiki puluhan anak tangga yang dihiasi gambar-gambar bunga berwarna-warni yang mulai memudar. Melewati jalanan kecil ini lebih dekat untuk sampai di rumah gadis itu dibanding harus lewat jalan besar.

“Ini rumahmu, kan?” Mereka sampai di depan sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat lebih berada dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Rumah itu juga satu-satunya rumah yang punya halaman luas dengan mobil sedan hitam yang terparkir di sana.

Gadis itu menatap Heechul heran, bertanya dalam hati kenapa pria yang baru saja ia temui itu mengetahui rumahnya. “Kau tidak perlu tahu darimana aku bisa tahu ini adalah rumahmu. Cepat masuk! Udara semakin dingin!” perintah Heechul seenaknya.

Gadis itu melirik Heechul yang sedari tadi menekan lengannya agar darahnya tidak mengalir keluar. Dia buru-buru membuka tasnya, mengeluarkan saputangan putihnya dari dalam sana. Heechul terkejut ketika gadis itu menarik tangannya dan mengikat lukanya dengan saputangan itu.

“Kau harus memberinya perban dan obat merah kalau kau sudah sampai rumah.” ucapnya. Heechul bisa mendengar nada khawatir yang terselip di dalam ucapan gadis itu.

Heechul menahan tangan gadis itu saat dia mulai membuka pagar rumah. “Namaku Heechul. Apa kita boleh bertemu lagi?”

Gadis itu mengerjapkan matanya sebentar. Ia menunduk melihat Heechul mencengkram pelan tangannya, menahan agar dirinya tidak masuk dulu sebelum menjawab pertanyaannya. Heechul yang sadar akan perbuatannya segera melepas cengkramannya dari tangan gadis itu.

“Maaf.”

Gadis itu tersenyum. “Namaku Hwa Ha-Nui. Kalau kita bisa bertemu lagi, kenapa tidak?”

—oOo—

“Kau jatuh cinta pada seorang gadis baik-baik?”

“Memangnya itu masalah?”

“Tentu saja masalah, Hyung!” Kibum, pria yang lebih muda dari Heechul itu berseru. “Status kita terlalu berbeda. Apa kau yakin?”

Heechul memukul kepala Kibum. “Yak, memangnya itu salah? Memangnya ada peraturan yang melarang seorang bajingan sepertiku jatuh cinta?”

Kibum terdiam membisu. Heechul mulai menyibuki dirinya, mengganti perban yang dibalut di lengannya dengan perban yang baru. “Hyung,” panggil Kibum. Heechul tidak menoleh sama sekali ke arahnya. “Kau ingat? Aku juga pernah jatuh cinta sepertimu.”

Heechul terhenti sebentar, mengingat sosok Yuirin, gadis berdarah Jepang-Korea yang berhasil membuat Kibum jatuh cinta. Kibum pernah membawa gadis itu sekali ke rumah atap mereka.

“Dia juga gadis baik-baik. Gadis yang dengan bodohnya jatuh cinta pada pria tak berguna sepertiku. Kami mengabaikan perbedaan status itu, Hyung. Kami punya cinta yang besar, tapi pada akhirnya apa? Kembali lagi pada kenyataan yang sebenarnya bahwa seorang preman tidak seharusnya jatuh cinta pada seorang gadis baik-baik. Orangtuanya tidak merestui kami. Aku kehilangan dia. Selamanya.”

“Itu karena kau tidak berusaha mempertahankannya,” Heechul menanggapi. Kibum melototkan matanya, ingin mendebat perkataan Heechul, tapi Heechul kembali melanjutkan kalimatnya. “Kalau kau benar-benar mencintainya, kau pasti akan berusaha mati-matian mempertahankannya. Bukankah orangtua Yuirin menyuruhmu berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak agar mereka bisa menyerahkan Yuirin padamu, kan? Bodohnya, kau tidak mengambil kesempatan itu—“

“Kesempatan apa? Hyung pikir pekerjaan layak macam apa yang bisa didapatkan seorang preman seperti kita—“

“Setidaknya kau harus menunjukkan usahamu pada mereka sekalipun kau tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka mau!” seru Heechul, membentak Kibum. Emosinya meluap begitu saja karena percakapan mereka ini. “Kau bisa menunjukkan usahamu untuk mendapatkannya walaupun kau tetap tidak berhasil menahan Yuirin di sisimu. Itu masih bisa dihargai daripada kau tidak melakukan apapun sama sekali untuk mempertahankan Yuirin di kehidupanmu. Pada akhirnya, cinta yang besar yang kau katakan itu sama saja dengan omong kosong belaka.”

Heechul sukes membungkam mulut Kibum.

Kibum diam, matanya mulai berkaca-kaca karena rentetan kalimat Heechul tadi. Heechul yang sudah selesai mengganti perbannya segera mengambil coat hitamnya, keluar dari rumah atap, meninggalkan Kibum yang mulai menangisi kebodohannya sendiri.

—oOo—

“Lukanya sudah sembuh.” Ha-Nui memekik riang melihat lengan Heechul yang sebulan lalu terkena potongan kaca.

“Ha-Nui-ya,” panggil Heechul.

“Hm?” Ha-Nui masih sibuk mengamati lengan Heechul.

“Apa kau tidak sadar?” tanya Heechul. Ha-Nui mengangkat kepalanya, memandang Heechul, sedikit bingung. “Selama beberapa bulan sebelum aku bisa tahu siapa namamu, aku sudah mengikuti langkahmu dari belakang, setiap kau pulang kerja di malam hari, dari halte bus itu hingga kau sampai di rumah dengan selamat. Makanya, aku bisa tahu rumahmu saat itu.”

“Benarkah?” Ha-Nui terlihat antusias. “Jadi, kau punya hobi menguntit?”

“Oh, itu yang namanya menguntit?”

“Oppa~”

Heechul tertawa. “Oke. Jadi, aku memang menguntitmu.”

Ha-Nui tersenyum puas. “Tapi, kenapa?”

“Awalnya tidak sengaja,” Heechul menerawang, pikirannya kembali memikirkan awal pertemuan sepihaknya dengan Ha-Nui. “Malam itu, aku tidak sengaja melihatmu turun sendirian dari bus. Kau berjalan sendirian dan entah dorongan darimana, aku merasa ingin menjagamu. Kau berjalan sendirian menelusuri jalanan gang yang sepi. Itu cukup berbahaya untukmu. Aku pun memutuskan untuk mengikutimu dari belakang, memastikan bahwa kau baik-baik saja hingga sampai di rumah. Mulai malam itu, aku merasa menjagamu adalah kewajiban yang harus kulakukan.”

“Oppa…” Ha-Nui merasa takjub dengan apa yang dikatakan Heechul.

“Aku terdengar bodoh, ya?”

“Sangat bodoh,” jawab Ha-Nui. “Jangan katakan Oppa menyukaiku?”

“Menyukaimu? Kau bercanda! Aku menyukai gadis sepertimu? Tidak.” Tegas Heechul.

“Mau berbohong sampai kapan? Aku tahu Oppa menyukaiku,” ujar Ha-Nui santai, sedangkan pria di hadapannya itu malah berusaha mati-matian agar wajahnya tidak memerah saat itu juga. “Tidak masalah. Aku juga menyukaimu dari awal kita bertemu, bahkan sekarang, aku jatuh cinta padamu.” Ha-Nui mengedipkan matanya pada Heechul, Heechul merasa jantungnya akan meledak karena berdetak begitu keras. “Aku tidak mengenal kata ‘gengsi’, jadi apa kau mau ja—“

“Mau jadi gadisku?” potong Heechul.

Hening tercipta di antara mereka berdua. Ha-Nui kemudian mengangguk pelan, menerima permintaan Heechul yang segera menjadikan Heechul orang paling bahagia di dunia saat itu juga.

—oOo—

“Ha-Nui, Eomma tidak suka dengan pria yang selalu mengantarmu pulang itu! Siapa namanya? Kim Hwa…Hwichul?”

“Kim Heechul.” Ralat Ha-Nui. Baru saja Ha-Nui tiba di rumahnya dan dia sudah dapat semprot dari Eomma-nya atas ketidaksetujuannya dengan hubungan Ha-Nui dan Heechul.

“Ya, itulah namanya. Kau lihat penampilannya? Dari penampilan luarnya saja, Eomma tahu kalau pria itu bukan pria yang baik untukmu. Belum lagi, kau mengatakan pada Eomma kalau dia tidak punya pekerjaan. Apa pria seperti itu yang kau andalkan?”

“Eomma!” Ha-Nui yang sudah selesai melonggarkan tali sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah, menoleh dengan cepat pada Eomma-nya. “Eomma tidak bisa menilai Heechul dari luarnya saja! Eomma tidak tahu bagaimana baiknya dia. Aku mencintainya, dia pria yang bisa kuandalkan—“

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Ha-Nui. Ha-Nui bisa melihat sosok Appa-nya yang menggeram kesal di balik helaian rambut panjangnya yang menutupi sebagian pandangan matanya.

“Jauhi pria seperti itu!”

“Appa—“

“Tinggalkan pria itu atau meninggalkan kami?!”

Tanpa banyak berpikir, Ha-Nui berlari meninggalkan rumah, tidak peduli Appa dan Eomma-nya memanggilnya dengan suara keras yang bisa membuat semua tetangga mereka terjaga dari tidurnya. Beberapa belokan dari rumahnya, ia melihat Heechul berdiri, melihatnya dengan pandangan tidak percaya.

“Oppa…”

Heechul menampar pipi Ha-Nui, isak tangis gadis itu kian menjadi. “Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kau boleh meninggalkanku tapi kau tidak boleh meninggalkan orangtuamu!” bentak Heechul. Saat mengantar Ha-Nui pulang, dia mendengar pertengkaran hebat Ha-Nui dan orangtuanya di balik pintu masuk.

Ha-Nui menggeleng, memeluk Heechul sepihak dengan erat. “Oppa, aku tidak ingin kehilanganmu.”

“Pulanglah!” Heechul mendorong tubuh Ha-Nui, sontak pelukan gadis itu terlepas dari tubuh Heechul. Heechul membalikkan badan, berjalan kembali menuju rumah dengan perasaan sakit yang ia tahan dalam hatinya.

—oOo—

“Yak! Sampai kapan kau mau tinggal di sini?”

Ha-Nui mengabaikan ucapan Kibum dan sibuk memainkan sendok kecil yang tenggelam dalam mug besar berisi susu cokelat hangatnya.

“Yak! Kalau bukan karena kau datang tengah malam, menggedor pintu rumah kami dengan keras, dan juga,” Kibum menatap sinis Ha-Nui yang memutar bola matanya. “Kalau bukan karena Hyung, aku tidak akan mengijinkanmu tinggal di sini dan mengambil alih sofa tempatku tidur!”

Seminggu yang lalu, Ha-Nui mendatangi rumah atap mereka, menggedor-gedor pintu rumah sampai Kibum merasa engsel rumah itu akan terlepas dari tempatnya jika dia tidak segera membukakan pintu. Dia mencari Heechul, tapi malam itu Heechul tidak pulang. Bahkan saat Heechul datang, dia tetap bersikeras untuk tetap tinggal dan tidak mau pulang ke rumahnya.

“Bukankah Hyung sudah tidak menginginkanmu lagi? Pulanglah ke rumahmu!”

“Kau pikir aku barang yang akan dicampakkan begitu saja ketika sudah tidak dibutuhkan lagi?” Ha-Nui berkata.

“Apa kau tidak sadar? Selama kau bersama dengannya, dia tidak pernah memberimu banyak perhatian, dia tidak pernah memberikan kata-kata manis untukmu, dia tidak pernah memberikanmu cokelat, dia—“

“Aku tidak peduli hal itu. Aku ingin Oppa. Selamanya. Titik!”

“Dasar sinting!” desis Kibum. “Kau psiko, hah?”

“Psiko? Apa? Jaga mulutmu, Kibum-ssi!” Ha-Nui tidak terima.

Kibum tertawa mengejek. “Kau harus tahu ini. Heechul Hyung hanya memanfaatkanmu saja. Dia tidak pernah mencintaimu. Semuanya hanyalah sandiwara. Dia memperalatmu dengan cara membuatmu jatuh cinta terlebih dahulu padanya. Apa dia pernah berkata kalau dia mencintaimu?” tanya Kibum. Raut wajah Ha-Nui berubah. Kibum kembali menertawakannya. “Sudah aku duga. Dia tidak pernah mengatakannya, bukan?”

“Aniyo, Oppa bukan orang seperti itu.”

“Apa kau tahu? Dia punya hutang yang cukup banyak dan dia berencana menjadikanmu sandera agar bisa meminta uang dari orangtuamu,” Kibum memandang gadis itu prihatin. “Sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum Heechul Hyung membekapmu.”

Kibum dan Ha-Nui menatap Heechul yang baru pulang. Tatapan pria itu dingin, bahkan pada Ha-Nui sekalipun. Sama sekali bukan tatapan hangat yang pernah Ha-Nui temukan saat pertama kali melihat Heechul.

“Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu?”

Ha-Nui meremas ujung kemeja longgar Heechul yang ia kenakan. “Oppa, aku ingin bicara.”

“Bicara saja.” Tanggap Heechul.

“Berdua saja, tanpa Kibum.”

Kibum mengedikkan kedua bahunya. Ia lalu meninggalkan rumah atap, memberikan privasi untuk Heechul dan Ha-Nui berbicara berdua, tentang masalah pribadi mereka. Ha-Nui masih diam di tempatnya, sedangkan Heechul dengan setia menunggu gadis itu membuka mulut.

“Kau memanfaatkanku?” tanyanya, saat dia benar-benar sudah sangat siap mempertanyakan hal yang menyakitkan hati itu.

Heechul terkejut, sedikit. Sepertinya Kibum menjalankan tugasnya dengan baik, pikir Heechul. “Seorang preman membuat gadis kaya jatuh cinta padanya. Tentu saja untuk memanfaatkan gadis itu.”

Ha-Nui meneteskan air mata. Sulit bagi Heechul menahan diri agar tidak mengelap air mata yang meluncur di pipi gadis itu. Semuanya harus berjalan lancar. Heechul tidak ingin apa yang sudah ia rencanakan hancur total saat itu juga.

Ha-Nui mencoba tetap tegar dan kuat. “Jika memang kau menginginkan uang, kenapa kau harus melakukan cara seperti ini? Kenapa kau harus membuatku jatuh cinta dulu untuk mengambil uang dariku?!”

“Kalau kau sudah tahu betapa brengseknya aku, cepatlah pergi dari sini sebelum aku benar-benar menyanderamu!” bentak Heechul. Pandangan mereka berdua saling bertemu. Ha-Nui dan Heechul sama-sama merasakan sakit yang luar biasa di dalam hati mereka. Satu karena merasa terkhianati dan yang satunya lagi karena harus melepas pergi gadis yang disayanginya dengan cara seperti ini.

Ha-Nui beranjak dari sofa. Sebelum dia benar-benar melangkah keluar dari rumah atap, ia berhenti berjalan di samping Heechul. “Aku benar-benar jatuh cinta padamu, bahkan aku rela meninggalkan rumah karena cinta tolol ini. Aku sangat kecewa denganmu, Oppa.”

Heechul tidak menanggapi apapun.

“Jika kita bertemu kembali, anggap saja kau tidak mengenalku. Mulai dari sekarang, kita hidup masing-masing.”

—oOo—

Kim Heechul’s POV—

“Kaktus kecil ini jenis kaktus apa?”

“Ini kaktus Cereus tetragonus.”

Aku menyentuh bunga di kaktus kecil itu. “Aku beli yang ini.”

Penjualnya mengambil pot kecil itu sembari memberikan sedikit penjelasan perawatan kaktus yang baru kubeli ini. “Padahal ini musim semi, kenapa harus membeli kaktus?” selorohnya.

Aku hanya tersenyum.

Karena kaktus itu seperti dia.

Dia yang kumaksud tentu saja Hwa Ha-Nui. Kaktus jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak perawatan, tidak perlu disiram air yang cukup banyak, dan jika sudah waktunya ia berbunga, bunganya yang mekar bahkan lebih cantik dari mawar. Bukankah itu sama dengan Ha-Nui? Ha-Nui, dia tidak pernah menuntutku memberikannya perhatian lebih, dia sangat tahu bahwa aku bukanlah tipe orang yang akan memberinya banyak kata-kata manis untuknya, aku bukanlah pria yang akan memberikan gadisnya banyak hadiah. Aku Heechul, dan Ha-Nui sangat tahu bahwa Heechul yang dicintainya tidak akan pernah berbuat hal seperti itu.

Tapi, seburuk apapun aku padanya, dia akan tetap memberikan senyum untukku, senyum terindah yang masih kuingat dengan baik di kepalaku meski sudah dua bulan ini kami tidak saling bertemu. Senyum yang sama indahnya dengan bunga kaktus yang mekar.

Kami bukannya benar-benar tidak bertemu sama sekali. Aku sering mencuri pandang, melihatnya dari kejauhan, sedang duduk di dekat jendela kamar dan memandang ke luar, entah apa yang dipikirkannya. Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi mendapatinya sedang berjalan dari halte bus menuju rumah. Mungkin untuk menghindari bertemu denganku.

Kutaruh kotak kaca transparan berisikan tanaman kaktus kecil di depan pagar rumahnya. Terselip sepucuk surat di antara celah kaktus, kertas yang kulipat sedemikian kecilnya, berharap agar dia menemukan dan membaca semua ungkapan hatiku yang tidak pernah ia tahu selama kami bersama.

Bahwa aku benar-benar mencintainya sepenuh hatiku.

—oOo—

Author’s POV—

“Siapa yang mengirimnya, Ahjumma?”

“Aku menemukannya di depan pagar. Sepertinya untuk Nona.”

Ha-Nui membawa kotak kaca itu naik ke kamarnya. Bibirnya melengkung melihat kaktus kecil yang tumbuh tidak beraturan di dalam pot. Lucu, pikirnya. Saat dia memerhatikan kaktus itu, dia menemukan lipatan kertas yang terselip di antara duri kaktus-kaktus itu. Buru-buru ia membuka kotak itu, mengambil kertas yang membuatnya penasaran.

Kim Heechul.

Nama yang tertulis di awal pertama surat itu membuat hati Ha-Nui berdetak kencang.

Anggap saja bukan Kim Heechul yang menulis ini, karena Heechul yang kau tahu bukanlah pria melankolis seperti ini. Tapi, ini satu-satunya cara agar aku bisa memberitahu semua isi hatiku selama ini padamu.

Aku mencintamu.

Sangat.

Aku ingin mempertahankanmu, tidak ingin menjadi pecundang seperti Kibum yang kehilangan Yuirin-nya. Tapi, Kibum benar. Bajingan seperti ini kami tidak pantas jatuh cinta pada seorang gadis baik-baik. Kau terlalu baik dan itu tidak benar untukku.

Aku tahu ini sudah sangat terlambat.

Harusnya sudah lama aku mengatakan hal ini, tapi aku takut kau semakin susah melepaskanku. Aku bahkan harus berbohong, mengatakan bahwa aku memanfaatkanmu. Itu semua agar kau melepasku.

Mungkin ini aneh, tapi cara mencintaiku seperti ini. Dengan melepasmu pergi. Cinta itu hal yang membahagiakan, bukan?  Tapi,  bahagiamu bukan di sisiku. Aku baik-baik saja selama kau menemukan bahagia di sisi orang lain.

Aku dengar kau mempersiapkan pernikahanmu. Apa dia pria yang baik? Kau pasti menemukan banyak hal di dalam dirinya yang tidak kau temui di dalam diriku. Kau harusnya merasa bahagia, bukan?

Kau hanya perlu tahu satu hal.

Aku akan selalu bahagia jika kau juga bahagia, senyummu akan jadi senyumku juga, meski kita tidak ditakdirkan bersama.

Ha-Nui menangis hebat membaca isi surat Heechul. Ha-Nui tidak habis pikir jika Heechul melakukan hal itu untuk kebahagiaan yang tentu saja ia tidak bisa temukan dalam kehidupan Heechul. Selama ini dia berpikiran egois. Sama sekali tidak memikirkan posisi Heechul yang begitu memikirkan kebahagiaan untuknya meskipun dia sendiri yang harus merasa sakit.

“Nona, Oh Bum-ssi datang menjemput. Bukankah hari ini Nona fitting gaun pengantin?”

Ha-Nui mengangguk. Ia menghapus air matanya, menaruh surat Heechul di dalam laci dan meletakkan kaktus pemberian Heechul di pinggir jendela kamarnya. Ia memandang ke bawah, melihat mobil Oh Bum yang terparkir. Ha-Nui tidak sengaja menangkap sosok Heechul yang sedang memandangnya dari luar. Pandangan mata mereka bertemu beberapa detik, bahkan Heechul memberinya senyuman sebelum ia pergi.

Semuanya sudah terlambat. Yang perlu mereka lakukan berdua hanyalah melangkah maju di jalan masing-masing, termasuk Ha-Nui yang sudah memutuskan menerima perjodohannya dengan Oh Bum.

“Selamat tinggal, Oppa.”

—oOo—

I want become a flowerpot, I pray always…

I’ll become a flowerpot that sits on your small windowsills

Though I can’t speak or want anything at all

I’ll be able to see you smile and feel your touch once a while

And I’ll be the one gazing at your face as you sleep

(Alex Chu — Flowerpot)

—fin—

10 Comments (+add yours?)

  1. park jikyu
    Jul 18, 2013 @ 12:29:57

    kenapa sad ending thor -_- bagus thor .

    Reply

  2. mei.han.won
    Jul 18, 2013 @ 20:32:21

    cedihhh…huhuhuhuuu

    Reply

  3. yulia
    Jul 18, 2013 @ 21:07:19

    Poor Heechul….hiks…hiks..

    Reply

  4. Devi
    Jul 18, 2013 @ 22:06:49

    Haahhh. . Cinta memang tidak sllu berakhir bahagia ya thor, , good story.

    Reply

  5. lhyunji
    Jul 19, 2013 @ 14:00:52

    heechul-kibum jadi duo jomblo ya sepertinya xD kasian mereka, ckckck

    Reply

  6. Flo
    Jul 20, 2013 @ 01:09:09

    kasihan banget, cuma karna status, jadinya ga bisa bersatu..
    nice fanfic, thor.

    Reply

  7. rikuangel04
    Jul 20, 2013 @ 18:56:07

    Aissh… Nyesekk…heechul oppa kau keren d ff ini…
    Author daebak..

    Reply

  8. goo
    Jul 21, 2013 @ 03:19:35

    Yaa… Heechul kena karma ><

    Nice ff 😀

    Reply

  9. chochangevilkyu
    Jul 21, 2013 @ 08:47:07

    Huhu ay tetep suka endingnya kok. Karena menurutku itu happy ending. Si ceweknya akhirnya bisa dapet kebahagiaan lain dann Heechul jg bahagia dg keadaannya. Sama-sama untunglah;_;
    Oh ya tadi aku kayaknya nemu kalimat kebalik deh, tp lupa -_-
    Pokoknya bagus 😀

    Reply

  10. LeeYoungSang
    Jul 21, 2013 @ 16:04:54

    Sedih. Heechul kasihan, cintanya ga kesampaian ;(
    sequel thor please, buat heechul sukses gitu 😉

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: