[Special Post for Heechul Event] Our Wrecked Wedding [Heechul Edition]

Title                 : Our Wrecked Marriage [Heechul Edition]

Author             :  rywei19 ( @terry_irawan )

Main Cast        : Kim Heechul

Song Haena

Support Cast   : Kim Joonmyun

Genre              : Sad romance, Marriage life, Psycho

Rating                         : PG-16

Disclaimary     : This fanfict is mine,The casts in this fict are  God’s so don’t be a plagiarism!  Don’t  Copy and Paste My Fanfict  without  permission!

 

Author Note    : Annyeonghaseyo… rywei19 imnida. I just want to say Happy Birthday Kim Heechul. Wish you all the best Mr. Kim. Mianhae.. cuma bisa persembahin ff ecek-ecek ini aja^^

And for readers maaf kalo alur atau ceritanya justru membingungkan karena saya juga masih dalam tahap belajar jadi jangan sungkan-sungkan untuk mereview^^

So enjoyed reading guys^^

 

Warning          : typos bertebaran!!

Our Wrecked Marriage [Heechul Edition]

***

 

 

 “Hahh.. hahh.. hahh…” suara memburu helaan napas terdengar begitu menggema di kesunyian dalam bentangan luas nan melompong sebuah ruangan gulita, mirip gudang daerah pinggiran kota, kawasan Jinju.

 

Sesosok tubuh jangkung yang dengan malang terjebak masuk ke dasar mulut buas penyandra bak sarang setan tersebut  belum mampu menetralkan debam organ fitalnya juga pingkalan paru-paru akibat beberapa saat lalu di paksa mencuci energi, mengandaskan seluruh kekuatan guna bergelut melawan bandit-bandit bayaran kurang ajar yang mengekorinya.

 

“Hah.. hahh.. di.. dimana kalian sembunyikan, Haena?” teriakan kalut ini terhamburkan jua dari mulut lebam pria berkemeja hitam yang tampilannya sudah nampak semerawut.

Tak ada jawaban, sekelompok manusia-manusia sangar di tempat itu seakan serempak berlaku bungkam, tak peduli.

 

            “Kubilang… di mana kalian menyembunyikan isteriku?” bentak pria itu lagi, tak sabaran dan tak terima karena merasa gertakkannya tidak diindahkan oleh para berandalan di hadapannya.

 

            “Cihh.. masih bisa menggertak rupannya,” salah satu personil dari keempat pria angker yang memiliki badan tegap, berisi layaknya petinju tersebut kali ini angkat bicara. Mewakili rekanannya sembari memandang remeh kepada wujud lusuh pria korban keberingasan— sandraan mereka.

Sebuah cengkeraman lengan menarik ujung kemeja bagian dada pria babak belur itu.

 

            “Kau fikir.. dengan tubuh penuh luka-luka, bonyok begini, kau bisa apa? Mengancam kami? OMONG KOSONG…”

 

BUGGHH…

 

Sekepalan bogem mentah tanpa mampu terhalau langsung mendarat di bagian perut pria itu, membuatnya terjungkel ke belakang untuk menghantam mulus lantai setelahnya.

           

            “Arghh.. “ rintihan pilu ini terasa amat sulit di sembunyikan pasalnya aliran darah yang menghiasi seluruh tubuhnya kian lama semakin membeludak.

 

            “Hahh.. sebegini saja? Kemampuan kalian hanya sebatas kecil ini saja kah? Dengan kekuatan seminim ini berani-beraninya kalian menyandera isteriku. Cihh.. tidak berguna!” pria itu mengerahkan sisa-sisa ketahanan guna melisankan kalimat bernada cibiran tersebut seraya meludah asal mengeluarkan desakan darah yang telah memenuhi rongga mulutnya.

 

            “Apa…?” lirikan sinis begitu saja menghujam si pengucap sesaat berikutnya.

 

Pria itu bergerak tertatih untuk mengangkat tubuhnya namun belum sempat merealisasikan rencananya, tindihan lutut milik si penyiksa sudah lebih dulu menghadang proses kebangkitannya dengan cara menekan kembali tubuh itu agar lagi-lagi tengkurap di lantai.

            “Apa kau bilang? Lancang sekali mulutmu. Sudah bosan hidup? HAHH…?” hardikan bengis menggema teramat bebas di udara.

 

Brakkk…

 

Sebongkah balok kayu menerjang lancar punggung pria itu sebagai jawaban akan tindak menantangnya.

 

“Uhukk….” batuk beriak darah kental terbuang dari mulut pria itu.

 

            “Huhh.. sudah hampir mati kah?” ejek si bandit.

 

            “Ahh.. uhkk.. mimpi. Sampai kapanpun aku bahkan tak akan rela kehilangan nyawa sebelum kalian membawa Haena kembali padaku,” statement penuh kepastian yang terucap di sela-sela kesakitan tersebut mengalun bak lagu sendu dalam intensitas volume minim.

 

            “Kembali? Setelah apa yang kau perbuat terhadap bos kami, semudah ini kau minta ampunan? Cukup dengan hanya merengek seperti bocah? Hai.. kau bahkan harus mati,” si penyandera nampak berada di tengah-tengah puncak amarahnya.

 

            “Dengar.. karena ulahmu, karena aksi individualismemu, karena sikap egoismu yang seenaknya menerbitkan berita di Blonde-D mengenai skandal seksualitas bos kami kini semua bidang usaha mencekal karirnya, semua orang mengecam juga mengecapnya sebagai Lesbian. Lalu kau, enak-enak saja menikmati hasil pemberitaan murahanmu itu?” cerca salah satu penjahat di antara mereka yang sedari tadi terlihat paling aktif bicara di banding rekannya.

 

            “Bukankah itu memang faktanya? Aku tidak pernah menebar gossip di majalahku, mereka memang menjalin hubungan dan lagi katakana pada Oh Nara… dia tak hanya manusia menjijikan tapi juga pengecut,” timpal pria itu masih meladeni.

 

            “Kurang ajar… seret wanita itu kemari!” titahan dari pria kekar yang banyak bicara tersebut terdengung seperti petir menyambar bagi pria penuh luka yang kini tengah di paksa bangkit berdiri oleh dua bandit lainnya.

 

Brakkk..

 

 

            “Arghh.. lepaskan aku! Kalian.. apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?” rontaan seorang wanita yang tiba-tiba hadir terlihat begitu sia-sia sebab lawannya bukanlah termasuk orang yang mau repot mengibai.

 

            “Haena~ya..” sapaan bertajuk menyadarkan ini terlontar dari pergerakkan bibir lecet kepunyaan pria berkemeja hitam di ruangan tersebut.

 

Sedangkan wanita yang baru saja di paksa memasuki ruangan serta merasa namanya terpanggil pun menoleh, mencari tahu siapa penyerunya meski hatinya dengan refleks pasti mengatakan bahwa ia begitu baik mengenalinya.

 

            “Opp.. Oppa..” suara wanita itu tercekat, seolah ada benda besar yang mengganjal dalam kerongkongannya. Matanya melebar tak percaya menyaksikan wujud seorang pria kenalannya tengah berdiri dengan posisi kedua lengannya terjegal oleh dua orang lain berwajah seram.

Dari jarak sekitar seratus meter, wanita itu bisa melihat betapa kentalnya eskpresi kekhawatiran di raut wajah pria itu yang hampir seluruhnya tertutupi bercak darah juga baret lecet.

 

            “Ikat dia!” titahan ini terlontarkan tanpa ampun, lalu setelahnya orang tersebut telah berhasil mencengkeram tangan wanita itu yang nyatanya terus meronta tanpa guna. Rantai besi bergelantungan akhirnya terpasang mudah di pergelangan tangan wanita itu, membuatnya tak bisa banyak bergerak.

 

            “Oppa…”.

 

            “Hah… apa yang kalian lakukan pada isteriku? Lepaskan dia… jangan sakiti isteriku!!” pria itu tak mau tinggal diam, berbekalkan sisa energi di tubuhnya, ia memberontak.

 

Bughh.. bugh..

 

Seperti orang kesetanan, pria itu memukul dengan brutal kearah di mana berandal-berandal berengsek itu berdiri. Melayangkan tinju-tinju amarahnya sekuat tenaga, membuat beberapa berandalan itu terjerembab, merasakan luka yang sama dengan luka miliknya.

Aksi saling tonjok tersebut akhirnya berhenti setelah si ketua berandalan mendaratkan tendangan ke bagian pinggang pria itu, membuatnya tersungkur membentur beberapa tumpukan balok kayu.

 

            “Arghh.. hah..” nyeri remuk tubuh pria itu sudah semakin menjadi sehingga sulit baginya untuk tidak mengaduh.

 

           

            “Isterimu… wah dia cantik sekali ya? Bagaimana kalau sedikit di cicipi? Pasti sangat memuaskan.. emm.. atau justru lebih baik kalau aku langsung membunuhnya saja? Bukankah kalau dia mati, kau juga tentu bersedia untuk mati kan?” berandalan itu mendekat kembali ke tempat wanita itu terkerangkeng. Matanya berkilat penuh licik, lidahnya bahkan beberapa kali membasahi area bibirnya sambil sesekali meneliti setiap lekuk hasil maha karya Tuhan tersebut.

 

            “Berani kau menyentuhnya sejengkal saja, ku pastikan kau tidak akan selamat.”

 

            “Uwoo.. kau dengar itu manis, suamimu ternyata masih bisa bicara. Hebat sekali.. tapi jangan harap ia bisa mengganggu acara kita. Jadi, mulai dari mana sebaiknya? Sebuah kecupan mungkin?” ketua berandalan tersebut menggerakkan tangan jahilnya guna menelusuri permukaan wajah mulus wanita itu yang sekarang terlihat amat ketakutan dengan hadirnya luapan air mata.

 

            “Kau tuli? Ku bilang jangan dekati isteriku, berengsek!” pria itu jengah, mengangkat badannya dari timpaan hamparan balok kayu, lantas melangkahkan kakinya secara tertatih menuju arah wanitanya. Namun baru 3 seretan kaki ia bergerak, hadangan dari tubuh-tubuh sebesar benteng lagi-lagi menghalanginya, mencengkeram lengannya juga menghentikan lajunya paksa. Berulang kali pria itu bergerak-gerak brontak namun sayangnya tenaganya tak cukup lagi guna meladeni aksi siksa lawan-lawannya.

 

            “Hah.. liat bukankah suamimu ngeyel sekali? Sejak tadi ia berisik saja, kasihan.. kau cantik gara-gara keteledoran berkedok egoismenya kau jadi harus ikut menanggung balasan ini, dia.. andai kata mau sedikit menyingkirkan gengsi, dan tak sembarangan mengibarkan bendera perang terhadap bos kami, mungkin hidup kalian akan lebih panjang dari ini. Ckkk…” si ketua berandal berkata mengejek seraya langsung bersiap mengrape-grape wanita itu.

           

“Jangan… Oppa… Oppa.. tolong aku! Andwe…” wanita itu berusaha menghindari sapaan-sapaan asing yang mulai menghinggapi bagian tubuhnya.

 

“Haena~ya… berhenti.. jangan libatkan isteriku, bukankah target kalian itu aku? Semua salahku bukan? Jadi, lepaskan isteriku!” pria itu mencoba bernegosiasi, melihat isteri kecintaannya ketakutan di depan sana, menyerukan namanya, menangis terisak tanpa ia bisa banyak bertindak adalah satu hal yang amat di kecamnya. Ia… apa benar tak mampu menyelamatkan wanitanya?

 

            “Terlambat.. kita sudah memasuki ring pertandingan maka nikmati saja kehancuranmu, Bung. Hahahah..”

 

“Dan ini balasan dari ulahmu…”

 

Brettt…

 

“Andwe… OPPA…” suara memekik milik wanita itu pecah setelah tangan si berandal berhasil mengkoyak hingga robek lengan pakaian sebelah kananya.

 

“Haena~ya..”

 

Brrett…

 

Lagi.. kini sobekan itu juga menelan lengan pakaian sebelah kirinya, membuat kedua bahu wanita itu terpampang bersih.

           

 

“Oppa..”

 

            “HAHAHA…sungguh menggoda, aku jadi tidak sabar untuk kau mengekspose seluruhnya,” tangan kotor kepunyaan si berandalan sudah bersiap hendak menarik lembaran kain yang menutup bagian dada wanita itu hingga tiba-tiba suara teguran tak terima sang suami kembali terdengar.

 

            “Cukup… ku bilang berhenti! Isteriku… ia tak ada sangkut-pautnya! Berhenti… menyakitinya!!”

 

“Uhh.. berhenti? Baiklah, kau yang meminta, Bung. Kau yang menginginkan isterimu mati….” si ketua berandal tanpa di sangka-sangka justru mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya, memposisikan benda tajam tersebut di area leher wanita di hadapannya.

 

“Sudah siap?” lanjut berandalan itu.

 

“OPPA…”

 

“Andwe..”

 

“Terimalah pembalasan kami… “

 

Srett…

 

“ARGHHH..”

 

“ANDWE…..”

 

BRAKKK….

 

“Jangan bergerak! Kalian di kepung! Letakkan senjata kalian!” suara gertakan segerombolan orang berseragam serta bersenjatakan pistol tersebut langsung singgah memenuhi pelupuk mata bagaikan uluran tangan Tuhan. Berandal-berandal bejat dalam ruangan tersebut langsung ciut dan tak berkutik, melirik sinis pada korban-korbannya.

 

“Haena Noona.. gwencahanayo?” dan suara pria tak asing ini pun mengalun melegakan si pendengar sekaligus pemilik nama. Tak berapa lama tangannya sudah lincah bergerak membebaskan pergelangan tangan terkerangkeng milik wanita itu.

Serta tanpa ba-bi-bu lengan kekarnya telah erat merengkuh wanita yang napak begitu lusuh juga shock itu kedalam dekap hangatnya.

 

            “Tenanglah… kau aman, ada aku Noona,” pujuk si pria sambil mengelus sayang punggung wanita itu berupaya untuk menghentikan deru tangis juga takutnya.

 

***

 

Tangis yang lamat-lamat mereda membuat wanita itu yakin untuk meloloskan diri dari dekapan pria di depannya. Ia berbalik.. berjalan sempoyongan seraya memegangi bekas garis luka pisau di lehernya untuk mencari fisik seorang pria yang terakhir ia dengar berteriak penuh sesal. Mata coklat sembabnya menatap resah seluruh hamparan luas ruangan, dan air mata haru kepunyaannya kembali luruh begitu di saksikannya siluet seorang pria tengah tertunduk, duduk dengan lutut terdekap di dada dekat dengan serakan balok kayu.

 

            “Oppa…” gumamnya lirih namun cukup jelas untuk di dengar lawan bicaranya.

 

            “Nonna.. ada ap? Hyeong…?” suara terkejut pria penyelamat tadi kini hadir di sekeliling keduanya.

 

            “Heechul Oppa…” lagi wanita itu menggumam serta bergerak semakin dekat dengan posisi pria yang di sapanya Heechul. Tangan mungil itu akhirnya memutuskan untuk menyentuh pundak tegap milik si pria. Tapi segera berhenti mengelus kala sentuhan dingin yang berasal dari telapak tangan Kim Heechul menahannya, menggenggamnya keras.

 

            “Oppa…” wanita itu—Song Haena pun tak kuasa menutupi ekspresi herannya begitu mendapati tindakkan tersebut.

 

Pelan… namun pasti wajah Heechul terangkat, mendongak menatap Haena dengan sorot kosongnya.

 

            “Nuguya….?”

 

            “OPPA……”

***

 

Song Haena Pov

 

“OPPA….” untuk ratusan kalinya tidur malamku terganggu dengan singgahnya mimpi yang terasa nyata mengenai ulasan kejadian mengerikan di masa lalu. Dan sudah pasti nafas memburu menyerangku kini, bahkan peluh pun sangat sukses membasahkan pakaian tidurku.

 

Mimpi… bila masih mungkin untuk meminta, maka ku harap semua sejarah kelam itu tak pernah terjadi.

Dari bercabangnya pemikiran, aku akhirnya memusatkan fokus ke arah samping ranjangku. Meneliti kekosongannya, menyentuhkan jemariku di sprei atasnya. Merasakan dengan indera perabaku bahwa rekam jejak sang penghuni terdahulu masih bertengger anteng di sana.

 

“Aku mimpi buruk, Oppa…” gumamku sambil membaringkan kembali diriku di atas ranjang sembari mengelus pelan bantal bersarung putih di samping kanan.

 

“Aku… takut, aku sangat takut Heechul Oppa…” lanjutku menggumam dengan suara yang mulai mengalun serak akibat desak-desak tak sabaran air mata di pelupuk mata, sedang tanganku masih setia mengusap area yang sama.

 

“Aku.. merindukanmu, Oppa..”  jujurku menelan pilu seraya mengenang kehadiran sosoknya yang biasanya akan ikut terbangun sewaktu-waktu akibat teriakan seramku ketika dijamahi oleh mimpi mengerikan di tidur malamku, lalu kemudian dekapan hangat lengan kekarnya adalah obat penenang termujarab guna menepis semua gundah.

 

***

 

Gedung pencakar langit, berarsitektur modern abad ini berdiri gagah di depanku. Kaca-kaca temboknya nampak berkilat-kilat mesra sebab terkena pantulan sinar benderang sang surya. Sesekali mataku memicing guna mampu mengusir bau silau, dapat tertangkap dengan jelas pada bagian tengah, di ujung paling puncak bangunan ini tercetak huruf alfabet berangkai BLONDE-D.

 

Tidak jauh berbeda dari terakhir ku jumpa, orang-orang penghuni bangunanya masih terlampau ramah padaku, kesibukkan aktivitasnnya juga tak berkurang sedikit pun, jejak riuh keluar-masuknya idol-idol halluyu tak mungkin pernah sepi.

Blonde-D merupakan perusahaan majalah mode terkenal dengan high public bertajuk Top Style Western, membahas keglamouran selebritas papan atas yang rata-ratanya wanita. Suatu bidang usaha keluarga Korea tersukses di 3 tahun berturut-turut. Pemegang saham mayoritas sekaligus Editornya bahkan di nobatkan menjadi The Most Craving Role-Businessman, Kim Heechul. Aku tak akan lupa bahwa 3 tahun lalu, orang tua kami mengharapkan agar kedua anaknya dapat saling mengisi sebagai pasangan.

Padahal kala itu tidak ada janji, kata-kata cinta ataupun pengagungan lainnya.

 

“Aku akan memikirkanmu,” seuntai kalimat singkat, tak menyiratkan kepuasan tapi justru selama 2 tahun lalu menjelma jadi pengingatku, bahwa pria itu—Kim Heechul, pria yang ku kenal dari ajang perjodohan hasil ulah kedua orang tua kami. Pria penggila karir, maniak kerja, sosok berwajah rupawan yang awalnya ku ragu untuk mengakuinya sebagai pria sebab ia bahkan mampu lebih cantik dariku bila ia mau, pria bersenyum congkak, bersorot sinis, pelafal tajam, juga berhati batu. Semua sifat buruk begitu setia di sandangnya, namun anehnya aku tidak peduli. Sekalipun ia bukanlah golongan pria penganut rumus romantis tapi perkataan singkatnya tak pernah gagal melambungkanku, meski sikapnya justru condong bagaikan krikil es namun sentuhan ringan organnya tak pernah luput mengalirkan sengatan-sengatan candu pada tubuhku. Kim Heechul… aku mencintainya.

 

***

At Éternels Bridal  

 

“Haena Noona… kau baru datang?” tanya Kim Joonmyun begitu aku sampai di ruanganku dalam Bridal. Aku menggemari desain oleh karenanya di banding jenis kegiatan usaha lain aku lebih tertarik mendalami impian serta bakatku sebagai desainer khusus gaun pengantin di Bridal milik rekananku. Sedangkan bocah junior di depanku yang kebetulan mempunyai selisih usia 4 tahun lebih muda dariku, yang kini tengah berkalung kamera, ialah Kim Joonmyun adik dari bosku sekaligus penyandang profesi Fotografer utama Bridal ini.

 

“Aku mampir ke Blonde-D dulu, Myun~ah. Waeyo? Kau merindukanku?” gurauku seperti biasa. Sedang bocah ini nampak cemberut tak terima di posisinya berdiri menghadap meja kerjaku. Sungguh tetap tak berubah dengan Joonmyun yang sudah 3 tahun kukenal, kekanankan.

 

“Haena Noona, bukankah kau tahu. Aku selalu merindukanmu sekalipun kau sedang ada di hadapanku. Aku tidak akan bisa berhenti untuk tidak merindu sebab faktanya kau begitu jauh.. hatimu, tak mungkin ku gapai.”

Terkejut? Tidak lagi. Karena aku sudah amat terbiasa, Joonmyun telah lebih dari 1000 kali semenjak kami bertemu, dirinya tiada bosan menjabarkan perasaan sukannya terhadapku. Padahal ia tahu pasti jika statusku tak lagi lajang namun sejauh ini entah apa alasan kokohnya hingga ia tak sedikitpun menyerah.

 

“Myun~ah..”

 

“Biarkan Noona, suatu saat ketika aku sudah lelah… semuanya akan terhenti dengan sendirinya.”

***

Aku melangkah beriringan bersama Joonmyun di sebuah lorong sepi arena publik. Tangan kananku masih mendekap erat selembar gambar desain juga amplop surat yang baru kuterima siang tadi. Surat pemberitahuan bahwa rancangan gaun pengantin musim gugur karyaku di terima untuk di jadikan trend style wedding dress di Bridal. Sebuah mimpi yang telah lama ku puja, di mana aku bisa memasarkan karya oposisiku sendiri.

Senyum merekah terus terpasang sempurna di bibirku bahkan Joonmyun sampai mengelengkan kepalanya maklum akibat sikapku. Aku sungguh bahagia.. dan ingin membaginya bersamanya…

 

Prrangg…

Suara mirip benda pecah itu mengintrupsi kegembiraanku. Mataku memandang intens satu daun pintu bernomor 83 di ujung lorong. Seolah paham apa yang terjadi, aku segera berlari terburu menghampiri ruangan tersebut.

Deg…

 

Hatiku mencelos bak di sabet pedang, ada rasa ngilu juga perih di dalam sana sehingga mendorong mataku untuk meneteskan air matanya.

 

“ARGHH… ANDWEE.. HAENA… ANDWEE….”

 

Prangggg…

 

Isak tangisku kian terbentuk sempurna kala ku lihat pemandangan menyesakkan di balik dinding kaca  tempatku mematung.

“HAENA… ARGHH… UKHHHH.. KIM HAENA…”

 

Brakkkk….

 

Joonmyun yang menyadari kondisi burukku langsung bergegas menggiringku kedalam hangat dekapannya.

“HAENA.. EODIGA?.. AGRHH..ANDWE.. ANDWEE..” teriakan histeris ini kian mengiris ulu hatiku. Dan entah bagaimana bisa Kim Joonmyun akhirnya berhasil membawaku menjauh dari tempat itu.

***

 

“Noona… uljima!” pujuk Joonmyun.

 

“Kenapa? Mengapa harus Heechul Oppaku? Apa kiranya dosa masa lalunya hingga Tuhan memberikan nasib mengerikan ini padanya?” rancauku dalam suasana tangis.

 

Ya.. kenapa mesti Heechul Oppa? Pertanyaan bernada protes ini terus kulisankan semenjak satu tahun belakangan. Bingung, tak rela, kasihan juga tak percaya. Sebab tiba-tiba Heechul Oppa melupakanku, melupakan dirinya, hidupnya, tak lagi mampu mengontrol tindakannya. Ia… kehilangan akalnya.

Semuanya nampak sebatas mimpi buruk namun penjelasan Emeoni memberi tahuku bahwa Heechul Oppa tak lagi sama.

 

“Mianhae Haena~ya, ini salah Emeoni yang tak memberi tahumu sejak awal bahwa Heechul semenjak remaja ia telah menderita Post Traumatic Stress Disorde semacam gangguan stres pasca trauma. Semuanya timbul sebab dulu ia sering melihat aku disiksa oleh suami terdahuluku, ayah kandungnya yang juga pecandu alkohol. Puncaknya ia melihatku menerima perlakuan kejahatan seksual bahkan hampir dibunuh oleh mantan suami bejatku. Heechul di umurnya yang masih belia, ia tak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya semenjak kejadian kelam hari itu ia berubah. Dokter memfonisnya mengalami Post Traumatic Stress Disorde. Tapi setelah aku menikah dengan Presdir Kim, sang penyelamatku. Heechul menjalani perawatan selama 5 tahun serta berhasil kembali sehat. Namun tak kusangka kejadian penyekapan kalian mampu membangkitkan kembali traumatiknya. Haena~ya.. mianhae.”

 

Seolah tersadar dari kebenaran, aku langsung meloloskan diri dari rengkuhan Joonmyun seraya memacu lariku kembali keruangan tadi tanpa menghiraukan teriakan khawatirnya.

‘Mianhae.. Joonmyun~ah, aku membutuhkan priaku. Gapailah kebahagianmu segera Myun~ah. Lupakan aku!’ batinku menjawab.

***

 

Cklekk…

 

Langkah pelan menghantarkanku ke arena ruang bernomor 83. Mataku mengunci fokusnya terhadap objek incarannya. Seorang pria berpenampilan kacau dalam balut seragam Nuthouse, nampak merintih lirih di sudut bangunan seraya menekuk lututnya erat. Beberapa perban pembalut luka membungkus tangannya sempurna, sudah jelas terlihat ia baru saja kambuh dan lagi-lagi terluka.

“Haena..” samar-samar aku mendengar gumaman rancauannya.

“Haena~ya.. nan jeongmal bogosshipoyo. Eodiga?” lanjutnya.

 

Masih sama seperti sehari lalu, sebulan lalu, maupun satu tahun lalu pasca kejadian penyanderaan di gudang Jinju dulu. Meski aku selalu disisinya namun ia tetap tidak menangkap keberadaanku.

“Oppa.. Heechul Oppa..” sapaku lirih. Dan tanpa di duga ia mendongak menatapku dalam bingkai wajah sembab bekas tangisnya.

Tak bergeming, ia hanya memandangku kosong.

“Aku berhasil. Setelah bersabar selama 4 tahun akhirnya rancanganku di terima. Aku akan memproduksi gaun perdanaku, sama seperti katamu bahwa aku pasti bisa melakukannya. Gomawo..” ceritaku berbagi kabar menyenangkan padanya.

 

“Oppa…”

“Saengil Chukahamnida, Heechul Oppa dan happy 3rd anniversary,” lanjutku sembari mendekapnya. Tanggal 10 juli, hari ini ia genap berusia 30 tahun dan hari ini sumpah setia kami juga telah menapaki periode ketiganya. Keberhasilanku adalah harapannya jadi ini kado untuknya.

“Haena…”

“Aku akan menunggumu, Oppa. Menanti kau kembali.. meski itu harus menghabiskan seluruh sisa hidupku. Cintaku.. tetap untukmu.”

“Bogosshipoyo…”

Dan aku sama sekali tak menyadari, kalau makna “Aku akan memikirkanmu” itu berarti ia mementingkanku, menomorsatukanku, memperioritaskan hidupku. Jadi kalau ia selalu menghabiskan waktunya untuk memikirkanku, kapan ia menganggap bila makan 3 kali sehari itu lebih utama demi kesehatanya di banding harus menunggui kehadiranku yang sibuk lembur di Bridal? Kapan ia berhenti pulang mendadak dari kunjungan dinas luar negerinya saat mengetahuiku sakit di rumah? Kapan ia bersedia menganggap memperhatikan hidup pribadinya juga sama pentingnya di bandingkan memikirkanku? Kim Heechul..  saranghae.

 

 

END

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. kyuta
    Jul 28, 2013 @ 12:49:38

    So sad… ;(

    Reply

  2. Indopra
    Jul 28, 2013 @ 13:43:17

    Bagus, thor. Keren deh, I like the story….

    Reply

  3. chubbyvina
    Jul 29, 2013 @ 01:55:40

    keren thor,, sequelnya dong 😥
    Pengen tau nasibnya Heena sama Heecul Oppa 😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: