[Special Post for Heechul Event] The Night

Judul                  : The Night

Author               : Ririn_Setyo

Cast                    : Kim Heechul, Song Jiyeon, Kangin.

Genre                 : Romance

Rating                : PG-15

Words amount  :  3.000 Words

 

Annyeong  FF ini di buat untuk merayakan ulang tahun Kim Heechul ^___^

Happy Birthday Heechul Oppa *Big Hugh* >__<

 The Night

 

 

*

*

*

 

Seoul  10 July 2006

Kim’s Rooftop – 07.00 am

 

 

Song Jiyeon wanita yang selalu terlihat cantik dengan senyum hangatnya itu tampak tak bisa menahan tawa bahagia, saat mata beningnya menangkap raut keterkejutan dari laki-laki tinggi yang kini masih saja berdiri di ambang pintu rumahnya, rumah kecil di atas atap yang sudah 2 tahun ini di kontrak oleh laki-laki itu.

Jiyeon dengan satu tanganya yang bebas menarik laki-laki yang masih dengan wajah bangun tidurnya itu untuk duduk di balai yang terbuat dari bambu, hasil karya mereka satu tahun lalu dengan semangat. Dengan masih tersenyum Jiyeon meletakkan cake kecil yang sedari tadi di bawanya di atas balai bambu, wanita itu tampak mencari sesuatu di dalam saku bajunya dan sedetik kemudian dengan wajah menyesalnya Jiyeon menatap ke arah laki-laki yang masih terlihat terkejut itu dengan sedikit ragu.

“Mianhae aku lupa membawa lilinnya.” Ucap Jiyeon dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

Laki-laki itu tampak menggeleng pelan. “Ini sudah cukup noona, kau benar-benar sudah membuat ku hampir mati karna terkejut,—“ ucap laki-laki itu dengan senyum cantiknya.

Jiyeon tersenyum lebar dan merentangkan kedua tanganya. “Saengil chukae hamnida… Kim Heechul.” Jiyeon merengkuh laki-laki itu ke dalam pelukannya.

“Gomawo noona,” Jiyeon melepaskan pelukannya, lalu ikut tertawa senang dengan Heechul.

“Ayo potong kue mu, Heechul.” Heechul pun mengangguk antusias lalu menerima garpu yang di sodorkan Jiyeon padanya, sesaat setelah dia selesai dengan make a wish nya.

“Noona kemana Jihyun? Kenapa dia tidak ikut bersama mu?” tanya Heechul sambil memasukkan satu potongan besar cake ke dalam mulutnya.

“Jihyun? Eoh, aku menitipkannya pada bibi Cho di panti,” jawab Jiyeon dengan suara pelannya, pandangan wanita itu kini tertuju pada deretan bunga mawar di dalam pot yang sedang mekar sempurna di sekeliling mereka

Heechul sedikit mendengus kesal saat melihat memar di tangan kanan Jiyeon yang berusaha di tutupi oleh Jiyeon saat Heechul menatapnya. “Apa dia memukul mu lagi?” Jiyeon menggeleng pelan.

Wah! kau benar-benar merawat mawar-mawar ku ini dengan baik,” Heechul kembali mendengus kesal saat untuk kesekian kalinya Jiyeon selalu mengalihkan pembicaraan saat mereka membahas topic ini.

“Jiyeon noona?”

“Sudahlah jangan membahasnya, ini ulang tahun mu,—“ Heechul menatap Jiyeon yang masih saja tersenyum hangat padanya itu dengan kesal, karna pada kenyataannya Heechul tahu pasti jika wanita itu sedang menahan laranya.

Jiyeon wanita yang sudah Heechul kenal sejak mereka masih kecil dan masih sama-sama tinggal di panti asuhan. Jiyeon adalah satu-satu nya orang yang selalu memeluk Heechul saat laki-laki itu merasa takut, selalu menghapus airmata sedih Heechul saat laki-laki itu merindukan orang tua yang bahkan tak pernah Heechul lihat di sepanjang hidupnya. Satu-satunya orang yang di miliki oleh Heechul sejak dia mampu mengingat dan menyadari jika dia tidak punya orang tua ataupun saudara di dunia ini.

“Sampai kapan noona mau hidup dengan bajingan itu?” Jiyeon terkejut wanita itu bahkan  meletakkan potongan cake yang baru saja hendak di makannya.

“Heechul dia suami ku, dia ayah dari Jihyun. Jangan pernah menyebutnya bajingan lagi di hadapan ku, kau mengerti?” suara Jiyeon terdengar gemetar, menahan airmata yang tiba-tiba saja sudah terbentuk di pelupuk matanya.

“Suami? Pantaskah laki-laki yang hanya bisa mabuk-mabukan, berjudi, selalu memukul dan menyiksamu itu di sebut suami Noona?” tanya Heechul dengan nada tingginya, tangannya pun sudah mengepal dengan kuat.

Ne… dia suami ku, sampai kapan pun akan tetap seperti itu!“ Jiyeon bangkit dari duduknya, tangan mungilnya mengeluarkan sehelai sapu tangan berwarna biru muda dengan hiasan sulaman tangan di bagian ujungnya.

“Aku membuatnya semalam, semoga kau menyukainya.” Jiyeon mengikatkan saputangan itu di pergelangan tangan Heechul dengan menunduk.

“Selamat Ulang tahun Kim Heecul, aku sangat menyayangi mu.” Ucap Jiyeon dengan suara paraunya lalu berlalu dari hadapan Heechul dengan cepat saat airmatanya mulai jatuh di kedua pipi pucatnya, meninggalkan Heechul yang terdiam menatap inisial namanya di ujung sapu tangannya di belakang sana.

*

*

*

 

 

Jiyeon’s Home

The Night

 

 

PRANGG~

 

Jiyeon tampak gemetar saat laki-laki tinggi bertubuh besar di hadapannya kini menatap marah padanya, puluhan piring dan mangkuk sudah berserakan hancur berkeping-keping di lantai.

“DASAR WANITA BODOH! MANA UANG YANG AKU MINTA PADA MU, HAHH!!!” teriak laki-laki itu dengan keras, satu tangannya meraih wajah Jiyeon dan mencengkramnya dengan kuat membuat Jiyeon mengerang seketika.

“Aku sedang mengusahakannya, Kangin-ssi.” Jawab Jiyeon pelan saat Kangin sedikit melonggarkan cenggramannya. “Aku sudah meminta pada nyonya Choi untuk membayar gaji ku selama tiga bulan kedepan, tapi itu belum cukup karna kau meminta uangnya terlalu banyak.”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jiyeon hingga membuat bibir Jiyeon robek seketika, darah kental pun sudah keluar dari mulut Jiyeon. “Pergunakan tubuh busuk mu ini untuk mendapatkan uang dari laki-laki di luar sana, WANITA TUA TIDAK BERGUNA!!” teriak Kangin lalu kembali menampar dan memukul wanita malang itu bertubi-tubi.

“Kangin-ssi, aku mohon hentikan,—” Suara Jiyeon terdengar lemah, berharap kangin merasa sedikit kasihan dengan keadaannya kini. Jiyeon merasa jika tenaganya sudah hilang sempurna bahkan dia sudah tidak sanggup lagi hanya untuk sekedar mengerjapkan matanya.

Namun Kangin tidak peduli, dia bahkan menyeringai dan kembali menendang Jiyeon yang sudah babak belur itu tanpa ada perasaan sedikit pun, lalu kembali menghancurkan barang yang bisa di raihnya.

“Kau— benar-benar membuat kesabaran ku habis!“ Kangin menarik rambut Jiyeon lalu menyeretnya, membuat Jiyeon menjerit tertahan saat pecahan piring dan keramik menyapu punggungnya, menyisakan perih di tiap inci punggung rapuh Jiyeon.

Kangin menghempaskan tubuh lemah Jiyeon di depan pintu rumah mereka. “Jika kau tidak bisa mendapatkan uang itu, jangan harap kau bisa masuk ke dalam rumah, kau mengerti!” teriak Kangin dengan kasar lalu berlalu meninggalkan Jiyeon yang sudah tak lagi bergerak di luar sana.

Sementara itu dari balik pagar tembok rumah Jiyeon yang tertutup rambatan benalu, terlihat laki-laki berdiri mematung dengan raut wajah sangat marah, rahangnya mengeras dengan kepalan tangan yang sudah terbentuk sejak beberapa saat yang lalu. Perlahan laki-laki itu menghampiri tubuh lemah Jiyeon yang sudah setengah pingsan itu lalu berjongkok di depannya.

“Noona,—“ laki-laki itu tampak tak bisa menahan airmatanya saat melihat punggung Jiyeon sudah berlumuran darah, bahkan darah yang mengalir di wajah wanita itu terlihat mulai mengering.

“Malam ini aku akan membunuh bajingan itu!” gumam laki-laki itu dengan menggeretakkan giginya sesaat setelah Jiyeon membuka matanya.

Laki-laki itu langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pintu rumah Jiyeon yang tampak sudah sangat usang, nafasnya terlihat memburu tak beraturan bahkan laki-laki itu mengabaikan Jiyeon yang berusaha mencegahnya.

“Kim— Hee—chul, ak— aku mohon.” Suara Jiyeon terdengar sangat lemah di belakang sana, tapi masih mampu di dengar oleh Heechul, namun lagi-lagi Heechul mengabaikannya karna malam ini Heechul sudah bersumpah akan mengakhiri penderitaan Jiyeon, karna sungguh Heechul sudah benar-benar tidak tahan dengan semua perlakukan kasar Kangin kepada Jiyeon selama ini.

*

*

 

Dengan perlahan Heechul mendekat ke arah Kangin yang terlihat sudah tertidur di atas ranjang reotnya, laki-laki itu tampak tenang dengan dengkuran keras yang terdengar di setiap nafas yang di hembuskannya. Heechul menahan nafasnya kembali memaki dirinya, tak kala mengingat jika dirinyalah yang sudah mengenalkan Kangin pada Jiyeon tiga tahun lalu sebelum akhirnya mereka berdua menikah.

Pernikahan tak terduga yang bahkan telah mengubur setengah dari kebahagian Heechul, karna sejak hari itu dia mulai kehilangan Jiyeon, kehilangan wanita yang entah sejak kapan sudah membuat jantung Heechul berdetak lebih kencang, tiap kali dirinya menatap mata bening wanita cantik itu.

Heechul kembali menatap tajam Kangin yang masih terlelap dalam tidurnya, tangannya yang kini sudah menggenggam botol Soju yang di dapatnya di antara pecahan keramik di lantai itu pun tampak sedikit gemetar. Detik berikutnya tangan itu pun sudah terangkat ke udara, namun tiba-tiba Heechul merasa perutnya sangat sakit tepat sesaat sebelum botol Soju itu mendarat di wajah Kangin.

“Kurang ajar kau!” geram Kangin setelah mendaratkan pukulan keras tepat di perut Heechul yang membuat tubuh laki-laki itu tertekuk di lantai.

“Kau pikir kau bisa membunuh ku hanya dengan botol Soju itu, HAH!!” Kangin kembali memukul perut Heechul dengan kuat setelah sebelumnya melempar botol Soju yang di pegang Heechul ke dinding hingga hancur berkeping-keping, membuat nafas Heechul tersengal seketika dengan rasa sakit yang menghujam di sekujur tubuhnya.

“Apa itu sakit Kim Heechul?” tanya Kangin dengan nada angkuhnya seraya menarik tubuh Heechul yang terhuyung lalu menyeretnya keluar.

“Jadi kau mengirim laki-laki setengah perempuan ini untuk menolong mu, Jiyeon?” ucap Kangin setelah menghempaskan tubuh Heechul tepat di samping tubuh Jiyeon yang masih terkapar.

“Kau pikir aku takut padanya, HAH!” Jiyeon yang setengah sadar itu tampak tidak menjawab sedikit pun, membuat kemarahan Kangin kembali memuncak.

“YAK JAWAB AKU JIYEON?!” Kangin menjambak rambut Jiyeon dengan kasar, membuat Jiyeon mengerang menahan sakit yang kembali mendera tubuh lemahnya.

“Lepaskan dia!” Heechul yang entah sejak kapan sudah berdiri itu, tiba-tiba menahan lengan Kangin yang masih mencengkram rambut Jiyeon.

Kangin mendesis mata tajamnya menatap marah Heechul yang kini sudah menarik tangannya dari rambut Jiyeon, lalu sebuah pukulan pun sudah mendarat di pipi Kangin. Kangin menyeringai setelah merasakan pukulan tak berarti Heechul di pipinya, ya bagi Kangin yang menguasai teknik Taekwondo tingkat tinggi itu, pukulan lemah dari Heechul barusan hanya terasa seperti pukulan krikil, tidak berarti sama sekali.

“KURANG AJAR! BERANINYA KAU MEMUKUL KU!!” geram Kangin sambil melayangkan pukulan cepat ke arah wajah Heechul yang tak mampu di tepis oleh laki-laki itu.

Heechul terhuyung ke belakang saat dirinya merasakan pening di kepalanya akibat pukulan bertubi-tubi dari Kangin, pandangan Heechul kini mulai mengabur seiring mengalirnya cairan amis berwarna merah pekat dari kedua pelipisnya.

Kangin tertawa lantang saat di lihatnya Heechul yang semakin melemah, dia hafal betul jika laki-laki di depannya ini tidak bisa berkelahi karna jantung Heechul yang sudah lemah sejak dulu, bahkan Kangin pernah melihat Heechul mendapat serangan jantung akut saat mereka pertama kali bertemu beberapa tahun yang lalu.

Kangin kembali menatap Heechul dengan buas, namun Heechul yang kini tampak sudah kesusahan dalam bernafas itu masih bisa menatap Kangin dengan tatapan marahnya. “Apa hanya itu kemampuan mu, Kangin-ssi?” tanya Heechul dengan mengusap darah yang kembali keluar dari mulutnya.

“ARRGGHHH!” Heechul mengerang sempurna saat Kangin menendang kakinya dengan kuat, membuat dia merasa jika tulang kakinya retak.

“Ini baru permulaan, Kim Heechul!” Kangin merengkuh wajah babak belur Heechul dengan satu tangannya dan teriakkan histeris kembali terdengar sesaat setelah Kangin menghempaskan wajah Heechul ke tembok beton di belakang mereka.

Tiba-tiba Kangin terdiam mata laki-laki itu terbuka lebar, perlahan tangannya meraba kepala belakangnya yang terasa berdenyut. Kangin membalikkan tubuhnya, dan seketika itu juga matanya menatap geram wanita yang baru saja memukul kepala belakangnya dengan sepotong kayu yang kini bahkan sudah terbelah menjadi dua.

“Song Jiyeon!” geram Kangin tak tertahan, dan sebuah pukulan pun menghantam wajah Jiyeon, membuat wanita itu ambruk ke tanah.

“Jangan sentuh dia!” Kangin tersungkur setelah Heechul memukul punggungnya dengan kuat.

“YAK!!” Kangin langsung berdiri dan kembali menyerang Heechul dengan membabi buta, Jiyeon yang melihat Heechul terus di pukul oleh Kangin, berusaha untuk kembali berdiri dan dengan sisa tenaga yang dia punya, wanita itu pun kembali menyerang Kangin.

Sebuah pukulan kembali di terima Kangin dari Jiyeon, membuat dia berbalik dan berniat membalasnya, namun saat baru saja Kangin hendak meraih tangan wanita yang terlihat gemetar itu, kembali dia merasakan sakit di kepalanya bahkan kini rasa sakitnya membuat dirinya mengerang.

Dengan sedikit terhuyung Kangin membalikkan tubuhnya, matanya melotot sempurna karna kini dia merasa sesuatu menusuk perutnya. Kangin mengerang tangannya berusaha memberikan pukulan kepada Heechul saat laki-laki itu mencabut potongan botol yang bersarang di perutnya, tapi pukulan itu terasa sia-sia karna kini Heechul sudah kembali menancapkan botol tersebut berulang-ulang di perut Kangin.

Kangin berteriak dengan kuat matanya menatap marah ke arah Heechul yang masih berdiri di depannya dengan nafas memburu, sesaat sebelum tubuhnya roboh ke tanah, mengejang lalu mulai kaku dan tak lagi bergerak.

*

*

 

Puluhan polisi sudah mengepung kediaman Jiyeon satu jam kemudian setelah tetangga Jiyeon melihat mayat Kangin terkapar di tanah bersimbah darah.

“Aku mohon lepaskan dia, dia tidak bersalah! Aku yang salah, aku yang menyuruhnya membunuh suami ku,” ucap Jiyeon untuk kesekian kalinya saat polisi mulai memborgol Heechul dan mengiringnya masuk ke dalam mobil polisi yang terparking di luar pagar.

“Laki-laki itu pantas mati, jadi aku mohon jangan bawa adik ku,” Jiyeon tersungkur di tanah saat dirinya tak mampu lagi menahan polisi-polisi itu untuk tidak membawa Heechul bersama mereka.

Beberapa tetangga Jiyeon yang sudah berkumpul di halaman rumah Jiyeon pun tampak berusaha menyakinkan polisi jika apa yang di katakan Jiyeon benar adanya.

“Katakan semuanya di pengadilan, jika kesaksian mu benar maka bisa aku jamin akan membantu meringgankan hukuman saudara mu, nyonya.” Ucap salah satu petugas sesaat sebelum masuk ke dalam mobil patrolinya.

Jiyeon kembali menangis histeris tak kala mobil-mobil polisi itu mulai bergerak, dan dari jarak pandangnya kini dia dapat melihat Heechul menolehkan kepalanya, menatap dirinya dari balik kaca mobil dengan tersenyum.

“Noona gwenchana…”

 

*

*

*

 

 

Seven Year’s Later

The Prison – 11 July 2013

 

 

Song Jiyeon tampak berdiri gelisah di depan sebuah bangunan super besar yang terlihat kokoh,  bangunan bercat putih yang terlihat mencekam bagi orang-orang yang tidak punya masalah hukum seperti Jiyeon. Namun sesaat kemudian rasa gelisah itu pun berganti menjadi kebahagian saat mata bening wanita cantik itu menangkap sosok yang sudah di tunggunya sedari tadi menyeruak keluar dari balik pintu besi di depannya.

“Noona!” laki-laki yang terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali Jiyeon melihatnya itu pun sudah berlari ke arahnya.

“Heechul!“ suara Jiyeon hilang seiring dengan pelukan yang di berikan Heechul di tubuhnya, sebulir airmata bahagia pun sudah menetas sempurna si pipi Jiyeon yang terlihat pucat.

“Aku— sangat merindukan mu, Jiyeon noona,” ucap Heechul seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Jiyeon yang mulai gemetar.

Heechul melepaskan pelukannya. “Kenapa noona menangis?” Jiyeon berusaha tersenyum, jari kecilnya bergerak menghapus airmata di pipinya. “Aku— aku menangis karna aku merasa sangat bahagia.” Jiyeon kembali tersenyum, dia pun merengkuh wajah Heechul dengan kedua tangannya.

“Apa selama ini kau hidup dengan baik?“ Jiyeon menahan ucapannya saat airmatanya kembali jatuh. “Selama ini kau melarang ku untuk menjengguk mu, kau kejam sekali.” Jiyeon kembali berusaha tersenyum, dadanya mulai sesak karna menahan isak dan rasa rindunya kepada Heechul.

Heechul tersenyum tangannya sudah mengenggam jemari Jiyeon yang masih berada di pipinya. “Aku hanya tidak ingin melihat noona menangis saat datang menjengguk ku, karna aku merasa sangat tidak berguna jika melihat noona mengeluarkan airmata karna aku.” Tangisan Jiyeon pun pecah seketika, dia menunduk saat Heechul kembali menarik tubuh kurusnya ke dalam pelukan hangat Heechul yang sangat dirindukannya.

“Aku ingin melihat noona tersenyum dan tertawa bahagia tanpa ada airmata lagi.” Heechul mengeratkan pelukannya.

Jiyeon semakin terisak airmatanya tumpah seketika, airmata yang sudah tertahan sejak Heechul di nyatakan bersalah dan semua pembelaan Jiyeon saat itu tidak mampu menolong Heechul, hingga membuat laki-laki itu di hukum selama tujuh tahun atas pembunuhan terhadap Kangin.

Ya selama tujuh tahun ini Jiyeon selalu hidup dengan rasa bersalah, rasa bersalah karna sudah menyeret Heechul dalam masalahnya dan membuat orang yang sangat di sayanginya setelah putrinya itu mendekam di penjara karna membela dirinya.

*

*

*

 

Kim’s Rooftop – 08.00 am

 

 

Heechul tersenyum senang saat Jiyeon memberitahunya jika selama dia tidak ada, Jiyeon dan putrinya tinggal di rumah yang Heechul kontrak. “Noona masih menjaga mawar-mawar ini?” tanya Heechul saat mendapati puluhan bunga mawar yang sedang mekar di sekeliling balai bambu yang terlihat masih sama dengan yang terakhir di lihatnya tujuh tahun lalu.

“Kim Heechul,—“ Jiyeon mengantungkan kalimatnya. “Terima kasih! Terima kasih untuk yang telah kau lakukan malam itu. Jika saja kau tidak melakukannya, mungkin hari ini aku belum bisa tertawa sebebas ini.” Jiyeon tersenyum dengan airmata yang sudah kembali membahasi pipinya.

Heechul ikut tersenyum, jari cantik laki-laki itu pun sudah bergerak menghapus airmata Jiyeon dengan lembut. “Berjanjilah untuk tidak menangis lagi noona, karna aku— aku sangat menyayangi mu.” Jiyeon mengangguk pelan.

Perlahan Heechul merengkuh Jiyeon ke dalam pelukannya, menahan debaran jantung dan rasa gugup dalam dirinya demi mengucapkan kata-kata yang sudah di simpannya sejak dulu.

“Aku— aku juga sangat mencintai mu, Song Jiyeon. Dan mulai sekarang tidak akan ada lagi yang akan menyakiti mu seperti dulu.” Bahu Jiyeon kembali gemetar, dia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi yang di lakukan Jiyeon hanyalah menangis dan membalas pelukan Heechul di tubuhnya yang semakin mengerat.

Ahjussi!” Heechul melepaskan pelukannya dan sesaat kemudian senyum bahagia pun sudah merekah di bibirnya tak kala matanya menangkap sesosok gadis kecil yang kini sudah berlari ke arahnya.

“Song Jihyun,” Heechul mengangkat tubuh gadis kecil itu dan memutarnya pelan. “Wah! Kau sudah besar rupanya.” Jihyun hanya tertawa lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang terlihat keropos karna bocah itu terlalu banyak mengkonsumsi gula.

“Tentu saja, sekarang umur ku sudah sepuluh tahun, Kim ahjussi.” Heechul tampak mengangguk mengerti lalu menurunkan bocah kecil itu dari gendongannya.

Ahjussi, kenapa ibu ku menangis? Apa ahjussi menyakiti ibu ku seperti apa yang dulu ayah ku lakukan?” tanya Jihyun dengan tatapan polosnya setelah mendapati ibunya yang sedang menghapus sisa airmata di pipinya.

Jiyeon langsung menundukkan tubuhnya, berusaha mensejajarkan tingginya dengan malaikat kecilnya itu. “Ania,— ibu sedang tidak menangis sayang, ini airmata karna ibu terlalu bahagia karna mulai hari ini Kim ahjussi akan kembali berkumpul bersama kita.” Jiyeon tersenyum saat melihat ekpresi terkejut yang menggemaskan dari Jihyun.

“Benarkah itu, Kim ahjussi?” gadis kecil itu pun melompat senang sedetik setelah Heechul menganggukkan kepalanya.

“Ahjussi, hari ini ibu sudah membuat kue dan makanan kesukaan ahjussi, ibu bilang kemarin adalah hari ulang tahun ahjussi.” Celoteh Jihyun sambil sesekali mendonggak untuk dapat melihat Heechul yang sedari tadi mengacak rambutnya.

Heechul menatap Jiyeon sekilas sebelum akhirnya menjawab. “Benarkah? Wah! Kalau begitu kita harus cepat-cepat masuk ke rumah.” Jihyun mengangguk antusias.

“Ahjussi saengil chukahamnida,”

“Gomawo peri kecil ku yang cantik.” kembali Heechul mengacak pelan rambut hitam Jihyun dan tertawa pelan saat melihat Jihyun yang sudah berlari menuju pintu.

Heechul kembali menatap Jiyeon yang kini sudah tertawa, tawa bahagia yang hampir tidak pernah di lihat Heechul sejak wanita itu menikah dengan Kangin. Sesaat kemudian Jiyeon mengalihkan pandanganya, menatap Heechul dengan tatapan hangat yang selalu di sukai Heechul. Heechul tampak tersenyum, senyum penuh kelegaan karna kini, Heechul sangat yakin jika Jiyeon nya sudah kembali.

 

“Heechul, terima kasih banyak. Karna kau aku bisa kembali menikmati tawa bahagia ku, aku— sangat menyayangi mu.” —- Song Jiyeon

 

“Tawa bahagia mu adalah tujuan hidup ku, karna aku— sangat mencintai mu, Jiyeon noona.” —– Kim Heechul

 

 

~ TBC ~

8 Comments (+add yours?)

  1. park jikyu
    Jul 30, 2013 @ 11:51:24

    ini tbc ? masih berlanjut kah ? next lah kalo gitu thor aku suka ceritanya..

    Reply

  2. YeShin30
    Jul 30, 2013 @ 12:12:13

    Nyentuh bgt critanya。。。。 🙂
    nd perany pas bgt tuh bwt kangin oppa alny bdany kekar 🙂
    wlwpun hrus nunggu 7thn tp akhirny mrka bs bhgia。。 yeah
    suka bgt thor ^_^

    Reply

  3. Flo
    Jul 30, 2013 @ 23:47:49

    sih kangin jahat amat sih..
    tp, turut seneng, akhirnya jiyeon bisa bahagia sama heenim

    Reply

  4. rikuangel04
    Jul 31, 2013 @ 14:13:36

    TBC??
    sequel dong?? Asik…
    Dtunggu thor

    Reply

    • Ririn_Setyo
      Aug 01, 2013 @ 12:48:20

      It typo seharusna “The End” heheee

      Ini FF buat ikutan event Heechul Birthday d blog ini tgl 10 juli maren, jd g ad sequelna ^,^

      Reply

  5. renikyu
    Jul 31, 2013 @ 23:42:13

    Aaaaa~ thor ffnya keren , romantis banget ❤ suka sm ffnya ^_^ saranghaeyo kim heechul 😀 .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: