The Story of Utopia [1/4]

Utopia

 

Author : Kyuhyun’s fiancee (@monamuliaa)

WordPress : http://monamuliaa.wordpress.com/

Title : The Story of Utopia 1/4

Main Cast :

  • Morin (OC)
  • Kyuhyun

Supporting Cast :

  • Minho (SHINee)
  • Heechul
  • Siwon
  • Changmin (TVXQ)
  • Donghae

Genre : AU, Angst, Romance, Fantasy

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer : This ff is mine. Don’t Copas without my permit.

A/N : annyeong. Author balik lagi bawa ff kedua setelah “Naeui Yeongsin”. Mohon apresiasinya untuk ff ini. Semoga banyak yg suka. Kritik dan saran selalu dinanti. Kalo ada typo harap dimaklumi. Untuk poster harap dimaklumi juga, gak bisa bikin lebih bagus lagi dari itu. Happy reading^^

 

 

 

 

Kau harus membunuh Guardian sebelum mencuri sinar Aurora.

Karena hanya jika mereka ada, sinar Aurora akan tetap ada.

Namun ketahuilah,

dia kuat

dan yang terpenting dia dilindungi… Nyx.

-oooOooo-

..prolog..

 

Sepasang kaki itu melangkah di jalan setapak berkerikil lembut. Ujung gaunnya yang menyapu jalanan diangkatnya hingga menampakkan sepatu perak miliknya yang berkilau memantulkan cahaya lembut bulan di angkasa.

“Kau mengenal Aithra? Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis yang mengesankan.”

“Ya. Aku mengenalnya. Dan sebentar lagi Agilos akan bertunangan dengannya.”

Suara percakapan dua orang pria yang terdengar secara tiba-tiba memaksanya untuk menyingkir dari jalan setapak menuju rimbun pepohonan yang mampu menyembunyikan tubuhnya. Suara percakapan itu semakin terdengar jelas dan akhirnya samar-samar menghilang berikut suara langkah kaki menjauh.

Dia menggerutu pelan karena kemunculan dua pemuda Aether itu kemudian kembali ke jalan setapak berkerikil lalu berbelok ke jalan berumput halus yang meredam suara langkah kakinya. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat sebuah pintu kayu coklat kokoh yang menjulang beberapa meter dihadapannya. Dia menarik kanopi dengan dada bergemuruh dan kegelapan menyambutnya di balik pintu.

“Kau sudah ada disini?” tanyanya berbisik namun cukup jelas terdengar di ruangan yang kosong.

Dia melangkah mendekati siluet bayangan yang terpantul oleh satu-satunya cahaya yang berasal dari lilin di ujung koridor, melepas penutup kepalanya setelah berhasil mendekati sosok tubuh yang berdiri membelakanginya.

“Akhirnya, kau tiba Guardian.”

Dia menghentikan langkahnya, senyum yang mengembang di bibirnya mengabur begitu saja. Suara yang dihadapinya kali ini bukan suara yang selalu menentramkan jiwanya. Tubuhnya menegang saat pemilik suara itu membalikkan tubuh menghadapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.

-oooOooo-

“Sssstttt. Sparta,” panggil seorang gadis mengetuk-ngetuk jendela beruap beberapa kali.

Namun wanita di balik jendela itu sama sekali tak menoleh ke arahnya.

Dan ditengah keputusasaannya, keberuntungan datang saat sepupu perempuannya masuk ke dalam dapur dan melihatnya yang berdiri di luar jendela.

“Eirene,” panggilnya penuh rasa syukur.

Eirene berjalan mendekati jendela lalu mengusap kacanya yang berembun.

“Morin?” ucap Eirene tak percaya lalu membuka pintu.

Morin buru-buru melangkah masuk membiarkan Eirene menutup pintu di belakangnya.

“Nona Morin, dari mana anda datang?” tanya Sparta heran melihat nona mudanya yang tiba-tiba  saja sudah muncul di dapur.

Morin tak mengacuhkan pelayannya, sedikit kesal lalu memeluk Eirene sebentar. “Kau penyelamatku malam ini. Terimakasih.”

“Kau melarikan diri lagi dari pesta istana?” tanya Eirene memastikan meski sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.

Morin tersenyum simpul. “Pastikan kau menjaga ucapanmu, kecuali kau menginginkan ibuku mengurungku di dalam kamar selama seminggu.”

Eirene hanya mengangguk.

“Bagus,” ucap Morin senang lalu mulai keluar dari dapur menyusuri koridor-koridor berdinding batu menuju kamarnya yang hangat.

-oooOooo-

Sring. Sring. Sring. Sring.

Bunyi khas dua bilah pedang beradu memecah kesunyian sebuah lapangan rumput hijau terbuka yang membentang luas.

“Tebas, tebas, tebas,” suara itu muncul seiring dengan bunyi tiap gesekan pedang.

“Tak akan ku biarkan.”

Beberapa jam berlalu namun bunyi suara gesekan pedang itu masih terdengar, jelas belum ada yang mampu mengalahkan satu sama lain hingga akhirnya sebuah pedang yang lebih mengkilat berpindah ke leher lawan.

“Selesai,” ucap pemilik pedang yang siap menebas leher itu tersenyum penuh kemenangan.

“Kau memang selalu unggul dalam hal semacam ini Minho.”

Minho menurunkan pedang dari leher lawannya lalu menepuk bahu lawannya menyemangati. “Kau hanya perlu berlatih lebih keras Heechul hyung.”

“Biarkan aku mencobanya,” teriak seorang gadis yang sejak tadi duduk terpekur menyaksikan pertarungan dua pedang yang dimenangkan oleh Minho itu.

Minho dan Heechul menoleh bersamaan kepada pemilik suara itu.

“Biarkan aku mencobanya,” ulangnya kembali memandang penuh harap.

Sontak Minho dan Heechul langsung menggeleng bersamaan.

“Lalu apa tugasku disini sejak tadi? Mengamati kalian bermain?”

“Hanya sebatas itu,” jawab Heechul memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarungnya.

“Tidak adil. Aku sudah menunggu lama untuk mencoba pedang itu.”

Minho terkekeh pelan mengamati gadis dihadapannya itu. “Kau seorang putri bangsawan Morin.”

“Lalu kenapa jika aku putri bangsawan? Heechul oppa juga seorang putra bangsawan. Bahkan kau juga.”

“Kedudukan kita berbeda. Sudah menjadi keharusan seorang pria untuk menguasai ketrampilan berkuda, memanah dan juga berpedang. Kami adalah pelindung,” jelas Minho.

“Akan lebih baik jika para perempuan mampu melindungi diri mereka sendiri,” kekeuh Morin.

“Banyak pengawal yang akan melindungimu tanpa kau bersusah payah belajar berpedang. Lagi pula kau telah menguasai memanah. Bahkan telah menjadi pemanah yang handal,” jawab Minho sabar.

“Justru karena aku telah menguasai memanah, kenapa tidak kalian ajarkan sekaligus bagaimana menggunakan pedang?”

Minho baru akan menjelaskan kembali namun dicegah oleh Heechul.

“Ketrampilan yang harus dikuasai perempuan itu seperti. . .”

“Merajut, merangkai bunga, memasak dan berdandan,” Morin memotong pembicaraan Heechul karena dia sudah hafal apa yang akan kakaknya itu sampaikan kepadanya.

“Dan kau sama sekali belum menguasai satupun,” lanjut Heechul penuh penekanan.

“Karena aku tidak mau mempelajari hal-hal semacam itu.”

“Belajarlah hal-hal semacam itu.”

Morin membuka mulutnya untuk mendebat kakaknya kembali namun Heechul telah mengakhiri perdebatan terlebih dahulu.

“Senja segera turun, ayo kita pulang,” komando Heechul lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Morin dan Minho.

Minho masih berdiri di tempatnya menunggu Morin agar segera berjalan menyusul Heechul yang mulai tampak menjauh.

Morin berdecak kesal lalu bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah cepat menyusul kakak satu-satunya itu.

Minho terkekeh pelan dan berbalik mengikuti Morin.

Di ufuk barat semburat senja merona jingga, samar membuat garis pemisah wilayah kekuasaan kedua klan terbesar di negeri Utopia, seolah-olah alam pun tahu bahwa antara klan Aether dan klan Akheilos tak akan pernah bersatu.

Klan Aether penguasa seluruh wilayah timur Utopia, klan Akheilos penguasa seluruh wilayah barat Utopia sedangkan wilayah selatan dan utara dikuasai oleh beberapa klan kecil yang dimiliki Utopia.

Penduduk klan Aether terkenal sangat cerdas karena pengetahuan luas mereka. Selain itu klan Aether juga terkenal merupakan klan termakmur dari seluruh klan yang dimiliki Utopia. Menurut mitos yang beredar luas di Utopia, kunci utama kecerdasan dan kemakmuran mereka adalah sinar Aurora di puncak gunung Zeus yang berada di wilayah kepemilikkan Aether. Sedangkan penduduk klan Akheilos terkenal dengan kekuatan fisik mereka yang tak tertandingi.

Meski telah memiliki keunggulan dalam bidang masing-masing, sifat ambisius yang dimiliki klan Akheilos menjadikan kedua klan yakni klan Aether dan klan Akheilos berada di jalan permusuhan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu klan Akheilos berkali-kali mencoba mencuri sinar Aurora dari puncak gunung Zeus namun selalu gagal. Itulah alasan kenapa klan Aether dan klan Akheilos tak pernah bisa hidup berdampingan secara damai. Selain itu ditambah pula dengan kematian putra tunggal raja pertama klan Akheilos yang terbunuh dalam pertempuran kedua klan.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, klan Aether dan klan Akheilos mampu hidup damai tanpa terjadi peperangan bahkan kini tak pernah terdengar kembali berita mengenai keambisiusan klan Akheilos. Meskipun demikian para tetua masing-masing klan memiliki kepercayaan bahwa suatu saat nanti perang antara kedua klan akan kembali bergejolak. Entah itu kapan mereka tidak dapat memastikan namun mereka sangat yakin, masa itu akan tiba…tidak lama lagi.

-oooOooo-

“Kau sudah dengar tentang jamuan makan malam hari ini di rumahku?” tanya Morin pada Minho yang berada di sebelahnya.

Hari ini mereka berdua tengah berjalan-jalan di taman Alfeus. Salah satu taman terindah di Utopia, yang dipenuhi oleh ratusan bunga berwarna-warni nan mempesona dan dijaga oleh elves –para peri kecil– yang terkadang akan muncul dari beberapa bunga sambil bercengkerama.

Minho tersenyum lalu mengangguk.

“Kenapa kau tampak tenang sekali?” kesal Morin pada Minho yang sebenarnya sejak kecil sudah Morin kenal memang mempunyai pembawaan tenang.

“Lalu sikap apa yang kau harapkan dariku?” tanya Minho balik kepada Morin.

Morin menghentikan langkahnya dan menghadap Minho. “Kau sebenarnya sudah tahu tentang hal ini atau belum? Melihat dari sikapmu yang tenang, kau pasti sama sekali belum tahu tentang tujuan dari jamuan makan malam ini.”

Minho menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Morin. “Aku sudah mengetahuinya dengan cukup jelas nona Morin.”

“Kita akan dijodohkan,” ucap Morin putus asa menghadapi sikap tenang Minho.

“Lalu kenapa?” pertanyaan Minho justru membuat Morin semakin putus asa.

“Kita akan dijodohkan. Ya ampun Minho, kenapa kau bisa bersikap setenang ini. aku sungguh tak dapat berpikir,” ucap Morin kesal menarik sekuntum bunga dengan paksa dari tangkainya yang menyebabkan seorang peri merengut marah kepadanya.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Minho meremas bahu Morin.

“Bagaimana mungkin tak ada yang perlu dikhawatirkan? Kita bersahabat sejak kecil kemudian tiba-tiba saja kedua orang tua kita menjodohkan kita. Lalu kita nanti akan menikah.”

“Hanya perlu waktu sampai kau mau menerima semuanya.”

“Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kau menyetujui perjodohan ini?” tanya Morin tak percaya.

“Ada baiknya kau segera kembali ke rumahmu sebelum jamuan makan malam di mulai. Tidak baik tuan rumah masih berkeliaran di luar sedangkan tamunya sebentar lagi akan segera tiba,” ucap Minho tak mau lagi membahas tentang masalah perjodohan itu dan berjalan meninggalkan Morin.

“Oh ya. Bawakan beberapa tangkai bunga untuk ibuku. Beliau sangat menyukai bunga apalagi bunga dari Alfeus,” teriak Minho dari kejahuan.

“Apa-apaan dia,” omel Morin namun tetap saja menuruti ucapan Minho memetik beberapa tangkai bunga untuk diberikan kepada ibu Minho meski harus bertengkar terlebih dahulu dengan elves yang tidak terima dengan cara Morin memperlakukan bunga milik mereka tadi.

-oooOooo-

Heechul mengelus-elus kepala kuda coklat kesayangannya, sedangkan Minho tengah memasang tali kekang pada kudanya. Hari ini mereka akan pergi untuk melakukan perburuan ke hutan Attis.

“Hei Minho,” panggil Heechul pada Minho yang tengah berkonsentrasi.

Minho mengangkat kepalanya dan memandang Heechul.

“Kau sungguh-sungguh menerima perjodohanmu dengan Morin?” tanya Heechul memastikan.

“Aku belum mengiyakannya.”

“Tapi kau juga belum menolaknya.”

“Lalu kenapa kau bisa seyakin itu bahwa aku akan menerima perjodohanku dengan Morin?”

“Aku bukannya yakin, aku hanya ingin memastikan. Kau tahu sendiri bagaimana sifat Morin karena kalian telah bersahabat sejak kecil. Apa kau tidak keberatan jika nanti harus menikah dengan Morin?”

Minho tertawa pelan mendengar pertanyaan Heechul. “Jadi sekarang kau mulai menjadi kakak yang baik bagi Morin?”

“Hei. Tentu saja aku menjadi kakak yang baik. Sejak dulu aku selalu menjadi kakak yang baik baginya.”

“Siapa yang mengatakannya?” Morin muncul secara tiba-tiba untuk mematahkan argumentasi Heechul.

“Kenyataan yang mengatakannya,” jawab Heechul tak mau kalah.

“Kenyataan tak pernah membuktikannya,” cibir Morin lalu beralih mendekati Minho. “Arion, aku lama tak melihatmu. Apa kau merindukanku?” tanya Morin pada kuda milik Minho.

“Tidak,” jawab Heechul dari sebelah.

“Diamlah,” perintah Morin pada Heechul lalu mengelus tubuh Arion yang meringkik.

“Kau mau kemana?” tanya Morin pada Minho.

“Sejak kapan kau jadi ingin tahu kemana Minho akan pergi? Sejak kau tahu kalau kalian dijodohkan?” tanya Heechul menggoda.

“Ku bilang diam!” ucap Morin kesal.

Minho yang melihat adik kakak ini bertengkar dihadapannya hanya terkekeh, bukan hal yang asing lagi baginya melihat mereka berdua bertengkar tanpa malu dihadapannya. Padahal sesungguhnya mereka saling sayang, hanya saja mungkin mereka terlalu sulit menunjukkan rasa sayang sebagai kakak beradik yang sesungguhnya.

“Jadi kau mau kemana?” tanya Morin sekali lagi pada Minho, kali ini tanpa mendapat gangguan dari Heechul.

“Kami akan pergi berburu.”

“Berburu?” tanyanya memastikan pendengarannya.

Minho mengangguk.

“Aku ikut bersama kalian.”

“Tidak,” jawab Heechul mendahului Minho.

“Kenapa? Apa karena aku perempuan lagi? Ya ampun, tak adakah alasan lain melarangku melakukan ini dan itu hanya karena aku perempuan?” tanya Morin pada kakaknya.

“Karena hanya itulah alasan yang masuk akal.”

“Kalau kau tak mengijinkanku aku akan meminta pada Minho. Lagi pula dia nanti akan menjadi calon suamiku.”

“Jadi kau menerima perjodohan itu?” tanya Heechul mendapat bahan godaan baru untuk Morin.

“Tidak. Kapan aku mengatakannya?”

“Baru saja. Secara tersirat.”

“Kalau iya kenapa? Kau merasa kesepian?”

“Tidak. Aku justru merasa senang karena berarti aku terlepas dari pengganggu kecil yang selalu menggangguku.”

Oppa~” Morin merajuk membuat Heechul dan Minho sama-sama tertawa terbahak-bahak.

-oooOooo-

“Ini pertama kalinya aku ke hutan. Ternyata hutan tak semenakutkan cerita yang sering aku dengar,” ucap Morin meremehkan cerita-cerita tetua yang selalu mengatakan bahwa hutan berisi makhluk-makhluk aneh dan juga monster serta menyimpan banyak misteri.

“Kau tidak percaya dengan cerita itu?” tanya Minho yang memacukan kudanya di sebelah kuda Morin.

“Tentu saja tidak. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja oleh dongeng-dongeng pengantar tidur seperti itu.”

“Kalau begitu tunggu sampai kau melihat sendiri,” tantang Minho.

“Jadi. Cerita itu benar-benar nyata?” tanya Morin.

“Kau takut?” balik tanya Minho.

“Tidak. Kau kenal Morin kan?”

Minho tertawa lalu mengangguk. “Aku bahkan sangat mengenal Morin.”

“Hei kalian berdua, sudah cukup bermesraannya. Jalankan kuda kalian lebih cepat,” teriak Heechul dari depan.

“Dia selalu mengatakan hal yang tak pernah dipikirkannya terlebih dahulu. Uhwaa~” omelan Morin terhenti oleh sentakan kudanya karena kelakuan Minho.

“Kalian tahu, suara kalian bisa membangunkan para driad,” jelas Heechul terutama pada Morin karena keikutsertaan dialah membuat suasana menjadi sedikit gaduh.

Morin menoleh kepada Minho mencoba mencari tahu apa itu driad.

“Penjaga hutan Attis,” jawab Minho tenang mengerti arti tatapan Morin.

Morin mengangguk paham lalu diam menghentakkan kudanya mengikuti kuda kakaknya yang sekarang mulai berlari.

Semakin jauh masuk ke dalam hutan semakin membuat adrenalin Morin terpacu. Dan kuda putih miliknya sepertinya juga menikmati perjalanannya kali ini.

Dari sisi luar, hutan Attis memang hanya nampak seperti hutan pinus yang berjajar rapi namun semakin dalam masuk ke hutan. Pohon yang tumbuh semakin beragam seperti pohon elm, wych, spires, asfodel serta amaroth dan beberapa pohon yang tak Morin ketahui namanya.

Heechul mengangkat tangannya secara mendadak pertanda untuk berhenti. “Sepertinya ada sekawanan hewan di sebelah utara,” lapornya lalu menjalankan kudanya secara perlahan ke arah utara.

Morin dan Minho mengikuti Heechul dalam diam.

“Kita beruntung hari ini,” ucap Heechul menghentikan kudanya menunjuk kepada kawanan rusa yang berada di radius beberapa meter dari mereka lalu menarik busur panah dari punggungnya dan meraih sebuah anak panah dari tempatnya yang tergantung di sisi kiri tubuhnya.

Morin dan Minho mengikuti apa yang dilakukan heechul, siap memanah.

Pada detik berikutnya mereka bertiga secara bersamaan melepas anak panah meskipun tanpa aba-aba. Namun tampaknya mereka bertiga kalah cepat beberapa detik dari 3 panah yang menancap lebih dulu di tubuh masing-masing rusa yang menjadi sasaran mereka.

Heechul, Morin dan Minho menoleh ke sisi barat mereka dan melihat 3 orang pria baru saja menurunkan posisi mereka dari memanah.

Ketiga pria itu ikut menoleh ke arah Heechul, Morin dan Minho.

Tanpa Morin ketahui masing-masing pria diantara dirinya saling menatap tajam.

Beberapa menit berlalu namun tak ada yang saling bergerak di antara dua kawanan pemburu itu, namun tanpa mereka masing-masing sadari mereka berada dalam posisi siaga.

Seorang pria yang berada di barisan tengah menelengkan kepalanya memerintahkan kedua temannya untuk mendekati tangkapan mereka. Tampak seperti dialah pimpinan dari perburuan kecil itu.

3 pria itu mengambil masing-masing tangkapan mereka dan memacukan kuda mereka kembali ke arah barat.

“Hei. Kau kenapa?” tanya Morin mengelus tubuh kudanya mencoba menenangkannya karena sejak kemunculan 3 pria asing tadi kudanya mulai bergerak-gerak gelisah.

“Dia kenapa?” tanya Minho pada Morin.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin dia merasa ketakutan disini,” jawab Morin mencoba menebak perilaku kudanya yang di luar kebiasaan.

“Lebih baik kita segera kembali. Tidak baik terlalu lama berada disini,” ajak Heechul memutar kudanya yang diikuti Minho sedangkan Morin masih berusaha menenangkan kudanya dan menyuruhnya berbalik namun hal yang diluar dugaan justru terjadi.

Kuda miliknya berlari dengan kencang tanpa kendali ke arah barat menerobos hutan yang semakin lama semakin rapat oleh pohon-pohon asing.

“Argh~” teriak Morin melepas busur panah yang masih dipegangnya begitu saja dan berganti mempererat pegangannya pada tubuh kudanya.

Minho dan Heechul menoleh dan buru-buru memacu kuda mereka mengejar kuda Morin.

Morin menghindari segala macam semak dan ranting menjuntai yang mampu melukai tubuhnya. Dia kagum pada kemampuan berlari luar biasa kuda miliknya yang baru saja diketahuinya hari ini namun juga sangat menyesali kenapa kuda miliknya baru menunjukkan kemampuan berlarinya di tengah hutan, tempat asing yang baru saja di masukinya beberapa jam yang lalu.

“Argh~” Morin kembali berteriak karena terlempar dari tubuh kudanya di sebuah padang rumput yang cukup luas dan jatuh berguling-guling, sebuah batu yang tajam menggores lengan kanannya yang langsung mengirimkan rasa perih.

Dihadapan Morin tampak 3 orang asing yang mencuri sasaran perburuannya tadi mengarahkan anak panah mereka pada tubuhnya, sedangkan kudanya itu menghampiri salah satu kuda milik sang pemimpin, kuda putih yang hampir sama dengan kuda miliknya

Sepertinya 3 pria asing tadi menghentikan kuda mereka saat mendengar suara kuda yang berlari menyusul mereka. Mungkin mereka mengira kuda Morin adalah kuda musuh yang mengikuti mereka.

Pemimpin mereka menurunkan busur panahnya sedangkan kedua temannya masih mengarahkan anak panah pada tubuh Morin.

“Tidak apa-apa,” ucap pemimpin mereka mengisyaratkan untuk menurunkan busur panah mereka.

Akhirnya mereka berdua mengikuti perintah pemimpin dan menurunkan busur panah.

Sang pemimpin itu menatap Morin penuh selidik lalu beralih ke kuda milik Morin yang kini berada di samping kuda miliknya lalu mengelus lembut kepala kuda Morin. “Kenapa kau lari dari tuanmu?” tanyanya seolah-olah dia mampu berkomunikasi dengan kuda.

Kuda itu meringkik.

“Kembalilah kepada tuanmu,” ucap pemimpin itu dan sungguh tak dapat dipercaya kuda itu berjalan kembali ke arah Morin.

“Mereka sebentar lagi akan datang,” pemimpin pria itu menatap Morin lalu memacukan kudanya meninggalkan Morin begitu saja.

“Dia gadis Aether,” samar-samar Morin mendengar pria paling ujung kanan berkata pada pemimpinnya sedangkan pemimpinnya hanya diam dan semakin mempercepat laju kudanya.

Morin masih tetap memandang kepergian 3 pria asing yang baru saja disadarinya merupakan pria-pria Akheilos hingga menjadi titik hitam kecil dan hilang dari pandangan.

“Kau baik-baik saja?” tanpa disadari Morin, ternyata Minho telah berada di samping tubuhnya.

“Aku baik-baik saja,” jawab Morin meyakinkan. “Hanya sedikit tergores,” imbuh Morin cepat-cepat saat Minho mengamati luka goresan batu di lengan kanannya.

“Kita harus segera pergi dari sini,” perintah Heechul.

“Sebaiknya kau berkuda denganku,” ucap Minho dan sebelum mendengar jawaban dari Morin dia telah mengangkat tubuh Morin ke atas kudanya.

“Cih, teruslah bermesraan,” cibir Heechul lalu memacukkan kudanya lebih dulu setelah merasa Morin aman berkuda bersama Minho.

-oooOooo-

Kyuhyun baru saja kembali dari kelasnya bersama para sahabatnya saat tanpa sengaja dia mendengar bisik-bisik temannya mengenai masalah beberapa hari terakhir yang terjadi di padang Gaia.

Sudah menjadi keharusan, seluruh penduduk klan Akheilos diperintahkan untuk bersekolah tak seperti klan Aether yang cerdas meskipun mereka tidak bersekolah.

“Berita mengenai kau yang melepaskan begitu saja gadis Aether itu sudah menyebar di seluruh Akheilos,” jelas Changmin yang juga mendengar bisikan beberapa orang membicarakan Kyuhyun.

“Masalah kecil selalu menjadi besar ketika tiba disini,” Donghae berusaha mengingatkan Kyuhyun agar tak terlalu memperdulikan mengenai cemoohan orang-orang.

“Bagaimanapun juga kau tetap pangeran Akheilos,” Changmin turut menghibur Kyuhyun.

Akheilos dan Aether,” Kyuhyun menghela nafas berat saat mengucapkan kata tersebut teringat perkataan yang selalu kakak dan ayahnya ucapkan bahwa sampai kapanpun Aether akan tetap menjadi musuh Akheilos.

“Oh ya. Bagaimana dengan kompetisi memanah yang kau rencanakan?” tanya Donghae pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum cerah dan dalam hati sangat berterimakasih kepada sahabatnya itu yang telah mengembalikan suasana hatinya menjadi baik kembali. “Aku ingin segera melakukannya.”

“Kalau begitu lebih baik kita menemui Agon sekarang untuk mendiskusikan rencanamu ini,” usul Changmin.

Agon adalah seorang panglima perang Akheilos yang sangat terkenal dengan kemampuan memanahnya bukan hanya di Akheilos namun seluruh Utopia bahkan mengetahui hal itu.

Kyuhyun mengangguk setuju dan mereka bertigapun langsung berangkat menuju kediaman Agon.

-oooOooo-

“Seberapa banyak yang kita butuhkan?” tanya Morin memandang sungai Achelous yang mengalir tenang di depan matanya.

“Sebanyak yang mampu kita dapatkan,” jawab Eirene mulai memasukkan kakinya ke dalam sungai setelah melepas sepatu yang dikenakannya.

Morin juga melepas sepatu yang dikenakannya lalu turut terjun langsung ke sungai membantu sepupu perempuannya itu untuk mencari kerang air tawar.

Menurut buku yang dibaca Eirene, mengkonsumsi kerang air tawar sangat baik terutama bagi perempuan untuk memperhalus kulit. Dan seperti kebanyakan gadis-gadis Aether lainnya yang gemar berdandan, Eirene sudah dapat dipastikan mempercayai apa yang dikatakan dalam buku yang dibacanya.

“Kau tidak takut kerang air tawar beracun?” tanya Morin disela penangkapan kerangnya.

“Tidak. Di dalam buku itu mengatakan bahwa mengkonsumsi kerang air tawar sangat baik berarti secara tidak langsung buku itu mengatakan bahwa kerang air tawar aman untuk dikonsumsi.”

“Tapi buku itu juga tak mengatakan kerang seperti apa yang aman untuk di konsumsi. Bagaimana kalau beberapa jenis kerang beracun?”

“Ada berapa jenis kerang air tawar yang kau ketahui?” balik tanya Eirene pada Morin.

“Satu.”

“Jadi?”

“Kerang air tawar aman untuk dikonsumsi,” jawab Morin mematahkan sendiri argumen yang diajukannya.

“Maka dari itu kita tidak perlu khawatir,” jawab Eirene senang.

“Kenapa kau sangat suka berdandan?” tanya Morin pada sepupu yang selalu mengajarinya cara berdandan.

“Untuk mempercantik diri,” jawab Eirene riang.

“Tapi aku tidak terlalu suka berdandan.”

“Itu karena kau sudah cantik. Dan kau beruntung karena akan menikah dengan pria tertampan di Aether,” jawab Eirene menatap iri Morin.

“Oh ya Eirene. Kau dengar berita terbaru yang sedang dibicarakan orang-orang saat ini?”

“Berita apa?” balik tanya Eirene penasaran.

“Akan diadakan kompetisi memanah di Akheilos.”

Eirene memasang wajah malas saat mendengar jawaban Morin padahal sebelumnya dia sangat berharap akan mendengar cerita tentang pencarian seorang istri bangsawan.

“Bukankah ini kabar yang hebat?” tanya Morin karena Eirene tak menanggapi.

“Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang itu?”

“Temani aku mengikuti kompetisi itu.”

“Apa?” kaget Eirene mendengar ajakan Morin. “Kau tidak serius kan? Kau lupa kau berasal darimana? Kau gadis Aether, Morin. Dan tempat yang baru saja kau katakan tadi adalah Akheilos. Apa aku perlu mengingatkanmu tentang hal ini?”

Morin sudah mampu menebak bagaimana jawaban Eirene mendengar rencananya ini. “Aku kesana untuk mengikuti kompetisi, seperti halnya pemanah dari klan-klan lain.”

“Pergi kesana sama saja dengan memasukkan diri sendiri dengan sukarela ke kandang singa yang kelaparan.”

Morin hendak mengatakan kepada Eirene bahwa dia pernah bertemu pria-pria Akheilos dan dapat kembali dengan selamat tapi mengurungkannya. Dia bahkan tak menceritakan hal itu kepada Minho ataupun kakaknya, mana mungkin baginya untuk menceritakan hal itu pada Eirene.

“Jadi intinya kau tak mau menemaniku?” Morin berusaha memperjelas jawaban Eirene yang berbelit-belit.

“Ya,” jawab Eirene tegas.

“Kalau begitu, aku terpaksa akan pergi sendiri.”

“Apa?” Eirene kembali dikejutkan dengan ucapan Morin. Sepertinya terlalu lama berada bersama Morin tidak cukup baik untuk kesehatan jantungnya.

“Aku akan pergi ke Akheilos seorang diri. Dan jangan berani-berani menceritakan rencanaku ini pada siapapun,” ancam Morin.

-oooOooo-

Morin mengambil satu-satunya baju memanah yang dimilikinya seperti halnya baju berkuda satu-satunya yang dimilikinya. Dia mengenakan baju tersebut di balik gaun biru langit yang membalut tubuhnya. Sedangkan busur dan anak panahnya sudah dibawa Eirene ke rumahnya terlebih dahulu. Dia sudah memutuskan akan pergi ke Akheilos meski tanpa Eirene sekalipun. Baginya, kompetisi memanah ini merupakan pagelaran besar dan menguntungkan baginya terutama untuk mengetahui berapa tingkat keahlian memanahnya di Utopia. Lagipula sepertinya perjalanan menuju Akheilos tidak memakan waktu yang cukup lama jika melihat dari perjalanannya ke hutan Attis hingga bertemu dengan 3 pria Akheilos di lapangan terbuka itu.

Semalam dia telah meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk menginap di rumah sepupunya, Eirene dan Eirene telah sepakat untuk bekerja sama dengannya.

“Aku akan mengantarmu menuju kediaman Eirene,” tawar Minho pada Morin yang baru saja keluar dari kandang kuda menuntun kuda putihnya dengan langkah tenang.

Morin sedikit terkejut mendengar tawaran Minho namun pada akhirnya tetap menyetujuinya.

Minho juga menawarkan diri untuk menuntun kuda putih milik Morin agar Morin bisa lebih leluasa berjalan dengan gaunnya.

“Untuk apa kau membawa kuda bersamamu?” tanya Minho heran karena jarak rumah Morin dengan Eirene tak terlalu jauh. Tapi memang, rumah Eirene sedikit berjarak dari rentetan rumah-rumah lain. Bisa dibilang, rumah Eirene berdiri sendiri tanpa seorangpun tetangga di dekat taman Afeus.

“Eirene memintaku untuk mengajarinya berkuda,” jawab Morin berbohong.

Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka berdua tiba di pelataran rumah Eirene. Dan Minho pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya.

“Nikmati waktumu bersama Eirene,” ucap Minho menyerahkan kuda milik Morin sebelum pergi.

Setelah Minho terlihat cukup jauh Morin berjalan masuk ke dalam rumah Eirene. Ternyata Eirene telah menunggunya di dalam rumah dan langsung saja diajaknya ke kamar.

“Dimana ibumu?” tanya Morin.

“Sedang tidak ada di rumah.”

“Sampai kapan?”

“Tiga hari lagi baru akan kembali.”

“Baguslah kalau begitu,” ucap Morin buru-buru melepas gaun birunya lalu mengepang rambutnya menjadi ekor kuda kemudian mengambil ikat kepala serta penutup mulut menyisakan celah di kedua matanya dan berdandan layaknya penduduk dari klan Styx. Kemudian berjalan kembali ke pekarangan rumah Eirene dimana kudanya telah menunggu.

“Ini terlalu beresiko. Kembalilah dengan selamat,” pesan Eirene menatap cemas Morin.

Morin hanya mengangguk lalu memacu kudanya menuju hutan Attis dan selanjutnya akan menuju Akheilos.

-oooOooo-

“Tidak kusangka akan sebanyak ini peserta yang mengikuti kompetisi,” ucap Donghae membuka tirai tenda mengamati seluruh peserta yang telah berkumpul di padang Gaia.

Di sisi luar padang Gaia, berdiri berjajar tenda-tenda milik para pemanah yang akan menginap selama mengikuti kompetisi. Mereka berasal dari penjuru negeri Utopia. Dan diantara begitu banyak tenda yang berdiri, sebuah tenda paling mewah berdiri di tengah ujung padang Gaia, memberikan pandangan luas untuk mengamati setiap peserta yang datang dan pergi serta untuk mengamati jalannya kompetisi. Itulah tenda tempat pangeran Akheilos dan para sahabatnya berkumpul. Selain padang Gaia dipenuhi dengan para peserta kompetisi, juga dipenuhi oleh perempuan-perempuan Akheilos yang hendak menonton kompetisi yang juga mendirikan tenda-tenda berdampingan dengan tenda lainnya. Selain itu para prajurit juga disiapkan di garis luar padang Gaia untuk mengamankan jalannya kompetisi.

“Kita harus menunjukkan kemampuan sesungguhnya para pria Akheilos,” Kyuhyun menyambung ucapan Donghae.

“Tentu saja.”

“Menurut kalian apakah ada Aether dari sekian banyaknya peserta?” tanya Changmin pada Donghae dan Kyuhyun.

“Dengan penjagaan seketat itu? Kurasa tidak,” jawab Donghae yakin.

“Bagaimana denganmu?” Changmin beralih pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tersenyum. “Kita tunggu saja.”

“Apa lagi yang harus kita tunggu? Kita tunggu Aether datang?” tanya Donghae memastikan jawaban Kyuhyun namun sepertinya Kyuhyun tak berniat untuk menjelaskan maksud dari kata-katanya pada Donghae.

“Hei Changmin, tidakkah kau melihat para gadis disana?” tanya Donghae menunjuk segerombolan gadis-gadis yang tengah bercengkerama.

“Ayo kita kesana,” ajak Changmin mengerti maksud perkataan Donghae yang langsung mendapat jawaban setuju dari Donghae meninggalkan Kyuhyun di dalam tenda yang sudah jelas tak akan mau mengikuti kedua sahabatnya.

“Apakah akan ada Aether yang kemari?” tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri dan sepertinya dia meragukan jawaban iya namun seekor kuda putih yang muncul dari kejahuan menjadi jawaban atas pertanyaannya. “Apa yang dia lakukan disini?” Kyuhyun berdiri dari duduknya begitu kuda putih bersama seseorang yang menungganginya semakin mendekat.

Kyuhyun berjalan dari tendanya untuk menghampiri sosok berkuda putih tersebut yang baru turun dari kudanya dan tampak seperti kebingungan melihat begitu banyak tenda. Sepertinya dia tak punya pengalaman sama sekali dengan kompetisi memanah.

“Apakah anda membutuhkan bantuan?”

Penunggang kuda putih itu menatap Kyuhyun dengan mata membulat dan Kyuhyun langsung dapat mengenalinya hanya dengan melihat matanya. Ternyata tamu dari Aether yang telah dia dan sahabatnya nantikan akhirnya datang meskipun itu diluar dugaan karena tamu kali ini adalah seorang…perempuan.

..To be Continue..

13 Comments (+add yours?)

  1. Mrs.Dimple
    Sep 04, 2013 @ 19:19:30

    Akhirnya aku nemu ff yg genre.nya fantasy….#soal.nya ‘kan jarang#
    neeeeeexxttttt…..

    Reply

  2. setia
    Sep 04, 2013 @ 19:27:37

    cerita yg menarik.
    🙂

    Reply

  3. liya
    Sep 04, 2013 @ 20:21:08

    baru kali ini baca genre fantasi yg keren gini..
    ditunggu kelanjutannya ya thor
    fighting
    x)

    Reply

  4. kxanoppa
    Sep 04, 2013 @ 20:58:02

    KEREEEEEEENNNNNN!!!!!!!!!!
    Lanjutin thor!!! Aku suka cerita beginian. Wahh ide author keren bgt! Fantasi bgt. Setting, alur, bahasa, penokohan semuanya keren. Klo dibayangin aku jd keinget settingnya narnia, hunger games, lord of the ring, dan sejenisnya hahahahah 🙂

    Reply

  5. wita
    Sep 04, 2013 @ 23:12:46

    wahh.. ini seru author !!

    Reply

  6. Flo
    Sep 05, 2013 @ 02:56:21

    ih keren banget deh ffnya, suka..
    ditunggu banget next partnya yah..

    Reply

  7. sasa
    Sep 05, 2013 @ 06:08:38

    Seru nih thoorr…. Bagus ceritanya. Baca sambil ngebayangin narnia ahahaha

    Reply

  8. ocha
    Sep 05, 2013 @ 21:12:08

    Keren thor
    Lanjut

    Reply

  9. Diana Park
    Sep 06, 2013 @ 08:46:46

    Fantasi yg menarik…knp bkn akheilos yg jd klan cerdas..kyke kyu g cocok dg image gagah perkasa ha…

    Reply

  10. trisnasmile
    Sep 07, 2013 @ 13:33:48

    Ceritax kaya romeo n juliet ya, hehehehe…..

    Reply

  11. Drei_Kyu
    Sep 08, 2013 @ 06:57:07

    Wuahh daebak!! Selalu suka dgn genre fantasy… ^^ nice story thor

    Reply

  12. ega ayu
    Jul 14, 2014 @ 11:28:26

    Wow.. kerenn ffnya..

    Reply

  13. ElvaZavier
    Dec 01, 2015 @ 00:28:42

    Eonnie … super daebak .. daebakk !
    Standing applause buat imajinasinya ..
    Woahh … cuman bisa menganga sambil ngiler. #eeuwhh !
    Pokoknya aq suka jalan ceritanya, karakter castnya, semuanyaaa aq suka.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: