The Story of Utopia [4-END]

Utopia

Author : Kyuhyun’s fiancee (@monamuliaa)

WordPress : http://monamuliaa.wordpress.com/

Title : The Story of Utopia 2/4

Main Cast :

  • Morin (OC)
  • Kyuhyun

Supporting Cast :

  • Minho (SHINee)
  • Heechul
  • Siwon
  • Changmin (TVXQ)
  • Donghae

Genre : AU, Angst, Romance, Fantasy

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer : This ff is mine. Don’t Copas without my permit.

A/N : annyeong~~ ini part terakhir dari he Story of utopia. Semoga kalian puas dengan ending ini. Gomawo untuk semua komen yang telah kalian berikan. Berkunjunglah ke wordpress milikku kalo kalian sempat, ahahaha. Happy reading^^

 

 

 

 

“Aku bahkan rela mati untuknya.”

“Kau sungguh telah dibutakan cinta. Kau akan menyesal telah mengkhianati hukum alam. Seret dia pergi,” perintah Heechul dengan kasar kepada pengawalnya.

Air mata Morin mengalir tanpa mampu dicegah saat terbayang tubuh Kyuhyun yang tersungkur di dalam hutan. Bagimanakah kondisinya? Apakah dia masih hidup? Apa yang akan terjadi jika tak ada seorangpun yang mencarinya? Apakah dia akan terbujur kaku di dalam hutan yang gelap hingga esok hari? Siapakah yang akan membawanya pulang? Bukankah ini terlalu tidak adil baginya? Memikirkan hal-hal seperti itu mampu membuat air mata Morin tak berhenti mengalir.

Dan kesalahan besar yang telah dibuat Heechul adalah melukai seorang pangeran kemudian meninggalkan begitu saja tubuhnya di dalam hutan.

Ujung jari Kyuhyun bergerak sangat pelan. Tak lebih dari ujung jarinya yang mampu bergerak karena tubuhnya memang sangat berat untuk bergerak, bahkan nafasnya seakan mengkhianatinya dan hendak meninggalkannya begitu saja dalam kondisi yang tak pernah benar-benar diinginkannya.

Saat matanya mencoba untuk membuka pelan saat itulah dia melihat sebuah warna putih dihadapannya. Entah apa yang ada di hadapannya, matanya tak dapat fokus melihatnya dan sepertinya otaknya sudah tak bisa berkompromi dengan matanya untuk berpikir apa sebenarnya yang ada dihadapannya.

Kemudian sosok putih itu pergi meninggalkannya, semakin menjauh dan sekarang barulah dia sadar betapa sendirinya dia saat ini.

-oooOooo-

Donghae dan Changmin duduk di atas kudanya di padang Gaia dengan sabar menunggu kepulangan Kyuhyun dari suatu tempat yang mereka sendiri tak ketahui kemana persisnya Kyuhyun pergi.

“Sebenarnya kemana dia pergi? Dan berapa lama lagi kita harus menunggunya disini?” tanya Donghae sepertinya mulai bosan menunggu kepulangan Kyuhyun yang tak menjamin akan berapa lama dia pergi.

“Pasti ada sesuatu yang mendesaknya hingga tak sempat memberi tahu kita. Tapi jika dia telah meminta kita untuk menunggunya disini berarti kemungkinan kepergiannya ke suatu tempat itu bukan tempat yang aman,” jawab Changmin mencoba menebak-nebak.

“Jika dia benar-benar pergi ke tempat yang tidak aman, kenapa dia tak mengajak kita untuk pergi bersamanya?”

“Dia pasti punya alasan sendiri. Mari kita tunggu seperti halnya sahabat yang menunggu kepulangan sahabatnya pada umumnya.”

Beberapa menit tak ada pembicaraan diantara mereka hingga tiba-tiba saja mereka mendengar suara derap kuda dari arah hutan Attis.

Donghae tersenyum memandang ke arah hutan Attis namun senyumnya menghilang secepat kedatangannya saat melihat bahwa itu kuda Kyuhyun, hanya kuda Kyuhyun tanpa pemiliknya yang menungganginya.

Donghae dan Changmin saling pandang lalu menjalankan kudanya pelan mendekati kuda Kyuhyun.

“Kemana tuanmu?” tanya Changmin.

Kuda itu hanya meringkik sambil menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah seperti ingin segera pergi.

“Sepertinya dia ingin segera pergi,” Donghae heran dengan kelakuan kuda Kyuhyun dan lebih heran lagi saat kuda itu kembali berlari ke dalam hutan Attis.

“Sebaiknya kita ikuti dia,” usul Changmin yang langsung mendapat anggukan dari Donghae.

Mereka berduapun kemudian memacukan kuda masing-masing ke dalam hutan Attis. Masuk semakin dalam mengikuti kuda milik Kyuhyun yang berlari dengan cukup cepat di depan mereka sebagai pemimpin.

Donghae dan Changmin memacu kudanya semakin kencang seiring dengan semakin cepatnya kuda milik Kyuhyun berlari. Angin malam berhembus menerpa tubuh mereka.

Setelah cukup lama berlari, kuda milik Kyuhyun itu berganti berjalan lalu berhenti.

Donghae dan Changmin yang melihatnya juga memelankan kudanya. Dan betapa terkejutnya keduanya saat melihat sesosok tubuh tersungkur di tanah dengan 3 anak panah menancap di punggungnya.

Donghae turun dari kudanya dengan gesit untuk melihat lebih seksama sosok itu.

“Kyuhyun,” ucap Donghae memberi tahu Changmin yang masih duduk di kudanya dengan mata membelalak.

-oooOooo-

Pelayan kerajaan terkejut saat masuk ke kamar Kyuhyun dan hampir saja menjatuhkan nampan yang dibawanya.

Changmin meletakkan jari telunjuk di bibirnya meminta pelayan itu untuk tetap diam. “Bawa siapapun yang kau anggap dapat dipercaya untuk membantu pangeran.”

Pelayan itu mengangguk lalu berjalan dengan cepat untuk melaksanakan perintah Changmin.

Beberapa menit kemudian pelayan tadi membawa seorang peramu istana untuk menolong Kyuhyun.

“Pangeran mungkin akan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari,” lapor peramu itu pada Changmin dan Donghae.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan? Jangan sampai seorang pun tahu tentang hal ini sekalipun itu raja atau pangeran Siwon.”

Pelayan itu mengangguk dengan sopan tanda mengerti.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Donghae masih tak percaya melihat Kyuhyun yang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidurnya.

“Kita harus menunggunya hingga sadarkan diri sampai kita tahu siapa yang telah melakukan ini padanya. Yang aku harapkan saat ini hanya kesadarannya.”

“Kuharap bukan Aether yang melakukan ini padanya.”

-oooOooo-

Morin duduk dengan lesu di dalam salah satu kursi rajutnya di dalam kamar saat pintu kamarnya terbuka. Tak ada niatan baginya untuk melihat siapa yang datang. Saat ini dia sangat tak peduli pada apapun atau siapapun kecuali Kyuhyun.

Sebuah tangan menyentuh bahu Morin namun Morin masih tetap diam dengan pandangan kosong.

“Aku kemari untuk melihat kondisimu,” ucap Minho beralih berdiri dihadapan Morin mencoba mendapatkan perhatian Morin.

“Aku sahabatmu. Terlepas dari rencana perjodohan. Kau selalu bisa menceritakan apapun padaku.”

Morin masih tetap diam.

“Kau mengkhawatirkan pria Akheilos itu?” tanya Minho yang sedikit mampu mendapat perhatian Morin.

Minho tersenyum. “Dia akan baik-baik saja. Dia telah kembali ke klannya.”

Morin menarik tangan Minho dan menggenggamnya dengan erat. “Biarkan aku pergi menemuinya.”

Minho terkejut mendengar permintaan Morin. Setelah apa yang terjadi Morin masih dengan beraninya meminta untuk menemui dia.

“Kau tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk kau pergi kesana. Sangat beresiko jika kau benar-benar ingin kesana saat ini,” ucap Minho berusaha meyakinkan mengingatkan Morin.

“Lalu kapan aku bisa menemuinya? Bukankah nihil bagiku untuk menemuinya. Hanya kau yang bisa ku andalkan.”

Minho memejamkan matanya sejenak lalu menarik panjang nafasnya. “Aku berjanji jika waktunya sudah memungkinkan. Aku akan membantumu menemuinya.”

Morin masih menatap Minho tak percaya dengan ucapannya.

“Kau bisa mempercayai ucapanku. Bukankah kita bersahabat?”

Morin mengangguk percaya.

-oooOooo-

Kyuhyun akhirnya bangun dari tidurnya yang hanya satu hari satu malam. Dan dia terkejut saat melihat kedua sahabatnya tersenyum padanya begitu dia membuka mata.

“Berapa hari aku tidur?” tanya Kyuhyun.

“Tidak lebih dari satu hari satu malam,” jawab Changmin.

“Siapa yang melakukannya? Kau berada cukup dekat dengan Aether. Apa seorang Aether yang melakukannya padamu?” tanya Donghae.

Kyuhyun mengangguk.

“Mereka mengibarkan bendera perang,” geram Changmin.

“Ada alasan kenapa ini terjadi.”

Changmin dan Donghae heran mendengar ucapan Kyuhyun.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku mencintai gadis Aether.”

Jawaban singkat dari Kyuhyun sepertinya telah mampu membuat kedua sahabatnya mengerti akar permasalahan.

“Kau benar-benar gila. Ingatlah posisimu.”

“Kau seharusnya bisa menekan perasaan seperti itu.”

“Kau beruntung tidak mati dengan panah itu.”

Kyuhyun hanya diam mendengar ucapan kedua sahabatnya, karena semuanya telah terjadi dan Kyuhyun tak pernah menyesalinya.

“Pangeran,” kaget Kyuhyun melihat kakaknya yang telah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Apa yang terjadi?” Siwon berjalan mendekat.

Donghae dan Changmin yang sejak tadi bersama dengan Kyuhyun hanya saling menatap bingung dengan apa yang seharusnya mereka jawab.

Siwon melangkah mendekat dengan tatapan dinginnya lalu menyibak pakaian yang dikenakan Kyuhyun dan terkejut dengan kain putih yang terikat di punggung adiknya itu.

“Siapa yang melukaimu?”

Kyuhyun hanya diam.

Aether?” tanya Siwon tajam.

Tetap tak ada jawaban.

“Aku akan membicarakan ini dengan Yang Mulia,” ucapnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar Kyuhyun.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Changmin cemas tak sanggup memikirkan apa yang akan terjadinya setelah peristiwa ini.

“Sudah sangat lama sejak peperangan itu terjadi,” ucapan Donghae membuat Kyuhyun maupun Changmin menegang.

Sepertinya hanya ada satu jawaban atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Itu tidak akan mungkin terjadi kan?” tanya Changmin memastikan.

Kyuhyun hanya menggeleng tak yakin.

-oooOooo-

“Yang Mulia, ini sama halnya dengan mereka mengibarkan bendera peperangan kembali,” Siwon berusaha mengatur emosinya.

Raja hanya mengangguk mendengar cerita putra pertamanya.

“Dan mereka melakukannya pada pangeran muda.”

“Panggilkan pangeran muda kemari,” perintah raja kepada pelayannya dan beberapa menit kemudian Kyuhyun telah menghadap raja.

“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” perintah Siwon.

Kyuhyun hanya diam, tak berniat sama sekali menjawab pertanyaan kakaknya.

“Apa kau tak mengenal sopan santun lagi sekarang?” hardik Siwon dengan tajam kepada adiknya yang hanya diam saja.

“Aku hanya mendengar perintah Yang Mulia,” jawab Kyuhyun singkat.

“Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” raja yang mendengar ucapan Kyuhyun mengambil alih pertanyaan.

“Maafkan saya tidak dapat menceritakan ini karena saya yakin jika saya menceritakan yang sesungguhnya sesuatu hal yang buruk akan terjadi,” jawab Kyuhyun dengan sopan lalu pergi meninggalkan ayah serta kakaknya yang sudah menggeram marah pada adiknya.

Siwon membungkuk sopan lalu juga meninggalkan ayahnya untuk mengejar Kyuhyun.

“Pangeran muda,” panggil Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun menghentikan langkahnya menunggu kakaknya tiba.

“Ingatlah, harga diri di atas segalanya. Kita tak pernah bisa tinggal diam jika mereka melakukan hal semacam ini padamu.”

“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”

“Kau bertindak di luar jalurmu. Jangan memutuskan apapun sebelum mendiskusikannya dengan dewan kerajaan.”

Kyuhyun diam mendengar ucapan Siwon. Bagaimanapun dia tahu, sebagai salah satu putra raja akan sangat sulit baginya untuk mengambil langkahnya sendiri.

Siwon yang merasa mampu mengalahkan Kyuhyun tersenyum sinis lalu berbalik meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menatap kepergian kakaknya yang menghilang di ujung koridor dengan jubah berkelebat mengikutinya.

-oooOooo-

“Apakah pangeran tengah memikirkan tentang sinar Aurora?” tanya salah satu dewan kerajaan kepada Siwon.

Saat ini mereka tengah berkumpul untuk membicarakan masalah Kyuhyun.

“Bagaimanapun juga tujuan utama kita adalah sinar Aurora. Dan ditambah dengan tragedi lancang yang dilakukan salah seorang Aether itu sudah sangat pasti kita tidak bisa diam begitu saja.”

Seluruh dewan mengangguk mendengar ucapan Siwon.

“Kita harus menyusun rencana untuk membalasnya sekaligus untuk mencuri sinar Aurora. Bagaimana menurutmu Tartarus?” tanya Siwon pada peramal kerajaan itu.

“Seperti yang sudah sering saya katakan Kita harus membunuh Guardian sebelum mencuri sinar Aurora. Karena hanya jika mereka ada, sinar Aurora akan tetap ada. Namun dia sangat kuat dan dilindungi Nyx. Hanya ada satu cara untuk mengetahui kepada siapa Guardian sebelumnya mewariskan kekuatannya saat ini.”

“Apa kau tak tahu siapa dia?”

“Sangat sulit bagi saya untuk mengetahui itu tuanku. Tapi ada cara lain untuk mengetahuinya yaitu anda harus menemui pemimpin tetua.”

“Tapi mereka tak pernah setuju dengan pencurian sinar Aurora,” salah seorang dewan mengingatkan.

“Tapi bagaimanapun juga anda putra raja tuanku. Mereka tak akan berani menentang keinginan raja,” ucap dewan yang lainnya membuat senyum penuh keambisiusan mengembang di bibir Siwon.

“Aku tahu itu,” ucap Siwon mengangguk-angguk. Sepertinya dia telah menemukan ide bagaimana cara membuat pemimpin tetua mau mengatakan yang sebenarnya.

-oooOooo-

Sebuah burung merpati putih terlihat bertengger di jendela dapur kediaman Morin. Sebuah kertas kecil berwarna coklat terikat di salah satu kaki merahnya.

Sparta yang baru saja masuk ke dalam dapur terkejut melihat merpati yang bertengger di jendela. Lalu melemparkan sepotong roti kepadanya. Namun bukannya merpati itu mengambil rotinya dia justru terbang mendekati Sparta.

“Hush hush,” usir Sparta kepada merpati itu.

Merpati itu tampak sama sekali tak bergeming dan justru mematuk-matukkan paruhnya pada meja tempatnya berada.

Sparta heran melihatnya lalu pandangannya tertuju pada kertas yang terikat di kaki merpati itu kemudian buru-buru melepasnya.

Merpati itu akhirnya terbang menuju jendela mematuk roti yang dilemparkan Sparta tadi padanya dan terbang meninggalkan Aether.

Sparta masih diam di dalam dapur berusaha berpikir kepada siapa seharusnya dia menyerahkan surat itu setelah membaca tertulis nama Morin di dalamnya. Pada akhirnya dia memutuskan akan menyerahkan surat itu pada nona mudanya, sepertinya dia tahu dari siapa surat itu berasal dan tidak lebih baik jika dia menyerahkan suratnya pada tuan muda ataupun tuan besar.

Sparta berjalan dengan cepat menuju kamar Morin dan cepat-cepat masuk saat melihat nonanya yang tengah duduk di depan kaca besar memandang pantulan bayangannya sendiri pada kaca.

“Nona muda,” panggil Sparta.

Morin menoleh dan tersenyum pada Sparta namun Sparta dapat merasakan senyum nonanya kali ini tak seperti senyum yang selalu ditunjukkan padanya dulu.

“Apakah Eirene sudah tiba?” tanya Morin karena memang hari ini Eirene berjanji akan mengajaknya pergi keluar.

“Nona Eirene belum sampai disini. Saya kesini untuk menyerahkan ini,” Sparta mengulurkan surat yang didapatnya.

“Ini apa?” tanya Morin menerima surat itu.

“Itu untuk anda,” jawab Sparta singkat lalu membungkuk sopan untuk keluar dari kamar nonanya.

Morin memandang sejenak gulungan kertas kecil di tangannya lalu mulai membukanya.

Morin, gadis Aether yang membawa separuh hatiku.

Apa kau mengkhawatirkan keadaanku? Aku masih sama seperti yang selalu kau temui. Bahkan rasa cintaku pun sama sekali tak berubah, semakin kuat seirama dengan hembusan nafasku. Aku tahu sekarang kau tengah melalui hari-hari yang berat, namun kau harus tahu bahwa akupun merasakan hal yang sama. Saat ini rasa rindu menguasai tubuhku seiring dengan waktu yang berlalu. Bahkan sinar bulan yang indahpun tak mampu mengalihkan rasa rinduku padamu. Apa kau pun merindukanku? Bisakah kita bertemu malam ini? Jangan biarkan seorang pun tahu tentang pertemuan ini. Biarkan sinar purnama yang mengantarmu datang kepadaku. Aku menunggumu di Tideus.

Morin memeluk surat yang diterimanya.

Membaca pesan singkat yang tertulis di surat yang diterimanya seolah mampu mengangkat batu yang selama ini menekan hatinya membuatnya bahkan untuk bernafas pun terlalu sakit.

“Dia baik-baik saja,” ucap Morin tersenyum namun tanpa sadar justru air matanya lah yang mengalir hangat dari kedua mata indahnya.

-oooOooo-

“Apa yang kau katakan?” tanya Donghae memastikan pendengarannya.

“Kau akan menemui gadis Aether itu?” tanya Changmin meyakinkan.

Kyuhyun mengangguk.

“Setelah apa yang terjadi padamu? Ditambah dengan pengawasan kakakmu yang semakin ketat kepadamu?”

“Apa kalian tidak mendengar apa yang aku katakan pada kalian tadi? Guardian sang penjaga Aurora adalah pemilik salah satu dari keturunan kuda Xanthos dan Balios. Dan dialah pemilik kuda itu. Itu artinya dia terancam,” desis Kyuhyun tak dapat menahan emosinya menghadapi kedua sahabatnya itu.

“Dan kau akan menemuinya di Tideus, Aether. Pikiran bodoh apa lagi yang akan kau lakukan kali ini.”

“Akan lebih aman baginya jika tetap berada di Aether.”

“Akan lebih aman baginya namun tidak bagimu.”

“Apa benar kau mendengar sendiri kata-kata seperti itu dari para dewan?” tanya Changmin pelan menghadapi Kyuhyun yang sedikit emosi.

“Kakakku yang mengatakannya kepada mereka. Dia mengatakan bahwa dia baru saja menemui tetua dan mengancam pemimpin tetua untuk mengatakan kebenarannya.”

“Baiklah. Kapan tepatnya kau akan menemui dia?” tanya Donghae siap membantu Kyuhyun.

“Malam ini juga.”

-oooOooo-

Seorang pria yang tidak lebih tua dari Siwon tiba-tiba masuk ke dalam ruang tempat Siwon dan para Dewan berkumpul. Menginterupsi diskusi yang mereka lakukan.

Pria itu berjalan mendekati Siwon dengan langkah tergesa lalu membisikkan sesuatu di telinga Siwon.

“Ternyata dia mencuri dengar apa yang kita bicarakan. Cegah dia pergi. Kau boleh pergi sekarang,” perintah Siwon pada pria tadi.

Seluruh dewan memandang Siwon dengan ingin tahu. “Keberuntungan memihak kepada kita. Kita tak perlu bersusah payah mencari siapa Guardian, karena seseorang dengan senang hati akan mengantar kita untuk menemuinya,” ucapnya dengan senyum puas.

-oooOooo-

Kyuhyun berjalan dengan langkah tenang menuju kediaman Donghae, disana juga telah menunggu Changmin. Kali ini dia tak akan membawa kuda putih miliknya untuk bersamanya, karena akan terlalu berbahaya jika kakaknya atau pengawal yang diperintahkan kakaknya untuk menjaganya mengetahui bahwa kuda miliknya tak berada di tempat yang semestinya.

“Kau dengan mudahnya berjalan kemari?” tanya Donghae begitu Kyuhyun tiba dan tak melihat seorang pengawal pun bersamanya.

“Bukankah sedikit aneh karena ini tampak mudah,” ucap Changmin waspada.

“Mungkin keberuntungan tengah memihak kepada kita. Malam ini kakakku akan berdiskusi kembali dengan dewan kerajaan. Dan di luar dijaga banyak pengawal, mungkin dia tidak ingin seorangpun mencoba mencuri dengar pembicaraan rahasia mereka,” jawab Kyuhyun menjelaskan.

“Begitukah?” tanya Changmin masih merasa curiga.

“Tidak perlu khawatir, kupastikan aku akan pulang dengan selamat kali ini dan tak akan merepotkan kalian lagi,” ucap Kyuhyun menepuk bahu Changmin lalu Donghae.

Donghae dan Changmin mengangguk singkat.

Kyuhyun mengelus tubuh kuda yang akan dibawanya malam ini. Sebuah kuda coklat yang terlihat sangat kuat dan sehat. “Aku mengandalkanmu malam ini,” ucapnya pada kuda itu.

Namun sebelum Kyuhyun berangkat menuju Aether terlebih dulu dia akan menemui pemimpin tetua.

-oooOooo-

Sepasang kaki Morin melangkah di jalan setapak berkerikil lembut. Ujung gaunnya yang menyapu jalanan diangkatnya hingga menampakkan sepatu perak miliknya yang berkilau memantulkan cahaya lembut bulan di angkasa.

“Kau mengenal Aithra? Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis yang mengesankan.”

“Ya. Aku mengenalnya. Dan sebentar lagi Agilos akan bertunangan dengannya.”

Suara percakapan dua orang pria yang terdengar secara tiba-tiba memaksa Morin untuk menyingkir dari jalan setapak menuju rimbun pepohonan yang mampu menyembunyikan tubuhnya. Suara percakapan itu semakin terdengar jelas dan akhirnya samar-samar menghilang berikut suara langkah kaki menjauh.

Morin menggerutu pelan karena kemunculan dua pemuda Aether itu kemudian kembali ke jalan setapak berkerikil lalu berbelok ke jalan berumput halus yang meredam suara langkah kakinya. Senyum mengembang di bibirnya saat melihat sebuah pintu kayu coklat kokoh yang menjulang beberapa meter dihadapannya. Tideus, sebuah pondok kosong yang tak seorang pun berniat memasukinya. Dia menarik kanopi dengan dada bergemuruh dan kegelapan menyambutnya di balik pintu.

“Kau sudah ada disini?” tanya Morin berbisik namun cukup jelas terdengar di ruangan yang kosong.

Dia melangkah mendekati siluet bayangan yang terpantul oleh satu-satunya cahaya yang berasal dari lilin di ujung koridor, melepas penutup kepalanya setelah berhasil mendekati sosok tubuh yang berdiri membelakanginya.

“Akhirnya, kau tiba Guardian.”

Dia menghentikan langkahnya, senyum yang mengembang di bibirnya mengabur begitu saja. Suara yang dihadapinya kali ini bukan suara yang selalu menentramkan jiwanya. Tubuhnya menegang saat pemilik suara itu membalikkan tubuh menghadapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.

“Selamat malam,” ucap pria itu membungkuk dengan anggun kepada Morin.

“Kau siapa?” tanya Morin penuh tanda tanya karena meski di dalam surat yang diterimanya tak tertulis nama Kyuhyun namun dia yakin Kyuhyunlah yang mengirim surat itu padanya. Ditambah lagi pria dihadapannya memanggilnya dengan sebutan Guardian yang dia sendiri tak tahu apa maksud dari panggilan itu.

“Perkenalkan. Aku putra pertama raja Akheilos, pangeran Siwon.”

“Itu berarti kau kakak laki-laki dari pangeran Kyuhyun?” tanya Morin dengan hati-hati.

Siwon mengangguk. “Senang bertemu dengan anda.”

Mengetahui bahwa Siwon adalah kakak laki-laki Kyuhyun membuat Morin sedikit mampu bernafas lega karena berarti dia tidak sedang bertemu dengan orang yang jahat. “Apa kau yang mengirimkan surat kepadaku?”

Siwon menggeleng. “Adikku lah yang mengirimkan surat itu padamu.”

“Lalu sekarang dimana dia?”

“Dia tak akan datang,” jawab Siwon mengingat Kyuhyun yang sekarang berada di kerajaan setelah ditikam oleh salah seorang dari pengawal yang mengikutinya saat menemui pemimpin tetua.

“Dan kau apa yang kau lakukan disini?”

“Hanya ingin berkenalan dengan seorang Guardian. Sekaligus ingin tahu, seberapa kuat kekuatan yang kau miliki,” jawab Siwon tersenyum pada Morin.

“Apa maksudmu?”

“Apa kau tidak takut berada bersama seorang Akheilos? Mungkin saja aku bisa membunuhmu,” tanya Siwon dengan seringaian mengerikan yang membuat Morin melangkahkan kakinya ke belakang dengan ketakutan.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”

“Membunuhmu,” ucap Siwon pelan dengan senyumman masih mengembang di bibirnya seolah kata membunuh adalah hal yang remeh baginya. “Tapi aku tahu, aku tak akan pernah mampu membunuhmu karena hanya adikkulah yang akan membunuhmu.”

Morin membelalak terkejut menatap Siwon.

“Kalian saling mencintai? Aku tahu itu,” Siwon terus berbicara tak membiarkan Morin sedikitpun berbicara. “Tapi aku tak dapat begitu saja membiarkan seorang Guardian tetap hidup meskipun dia adalah orang yang dicintai oleh adikku sekalipun. Kau sendiri pasti tahu apa yang selalu diinginkan klanku. Aku akan memperingatkan klanmu melalui dirimu bahwa perang terbesar di seluruh Utopia akan kembali terjadi.”

-oooOooo-

Morin berjalan dengan cepat ke rumah Minho. Malam telah berganti dengan dini hari, dan Morin tak peduli dengan sikap tidak anggun seorang gadis bangsawan masih berkeliaran di Aether pada dini hari. Keluarganya tidak aman, klannya tidak aman dan dia tidak bisa begitu saja tinggal diam mengetahui semua ini.

“Apa yang nona lakukan disini dini hari seperti ini?” dua orang penjaga di kediaman Minho mencegahnya.

“Ijinkan aku bertemu dengannya.”

“Ini terlalu malam nona, tidak sopan seorang gadis bangsawan bertemu dengan seorang pria dini hari seperti ini meskipun kalian telah dijodohkan,” ucap salah satu penjaga itu mengingatkan Morin sambil tersenyum menggoda.

“Hilangkan pikiran kotor dari otak kalian. Aku ingin bertemu Minho bukan untuk hal-hal semacam itu.”

“Maaf nona, kami tetap tak dapat melakukannya.”

“Panggilkan dia kemari kalau kalian tidak mempercayaiku. Aku yakin dia belum tidur karena biasanya dia membaca buku di perpustakaan hingga dini hari.”

“Maaf nona….”

“Akan kupastikan Minho mengganti kalian dengan orang lain jika kalian tidak melaksanakan perintahku,” gertak Morin sebelum petugas itu menyelesaikan kata-katanya.

Petugas itu saling pandang lalu salah seorang dari mereka beranjak pergi untuk memanggil Minho.

Beberapa menit kemudian Minho tiba di pintu penjagaan kediamaannya dan sangat terkejut saat melihat Morin berada disana.

“Aku ingin menyampaikan hal penting padamu,” ucap Morin.

“Biarkan dia masuk,” perintah Minho pada petugasnya lalu Morin pun mengikuti Minho masuk ke dalam meski dengan pandangan curiga dari kedua petugas penjaga pintu tadi.

“Apa yang ingin kau bicarakan hingga dini hari seperti ini kau menemuiku?” tanya Minho pada Morin.

Aether dalam bahaya,” ucap Morin dengan sangat cepat.

“Apa maksudmu?”

Akheilos benar-benar akan menyerang Aether. Perang yang sejak lama berhenti kini akan bergejolak kembali. Aku baru saja mendengarnya langsung dari mulut pangeran Akheilos.”

“Apa kau baru saja dari Akheilos?” tanya Minho.

“Minho. Tidak terlalu penting aku darimana. Yang terpenting saat ini kita harus melaporkan ini pada raja. Kau mempercayaiku?” tanya Morin pada Minho.

Minho mengangguk. “Tapi bagaimana cara kita memberitahu raja? Ini masih terlalu pagi untuk menemui raja.”

“Untuk itulah aku menemuimu. Bisakah kau memberitahu seluruh pemuda Aether terlebih dahulu? Aku akan pulang dan memberitahu kakakku. Saat pagi telah tiba barulah kita bertemu dengan raja untuk memberitahu ini.”

Minho mengangguk dengan apa yang dikatakan Morin.

Lalu Morin pun segera pulang ke rumahnya.

Morin mengetuk beberapa kali pintu kamar kakaknya namun tak kunjung terbuka.

“Morin, apa yang kau lakukan di depan kamarku?” tanya Heechul saat melihat adiknya berdiri sambil mengetuk-ngetuk kamarnya.

Morin menoleh dan mendapati Heechul yang ternyata tidak berada di kamarnya.

“Kau darimana?”

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Heechul terkekeh. “Apa kau juga?”

“Ada sesuatu hal penting yang akan ku sampaikan padamu,” ucap Morin serius.

“Hal penting apa?”

Akheilos akan menyerang Aether.”

“Hal itu tidak akan pernah terjadi Morin.”

“Aku mendengarnya langsung dari bibir pangeran Akheilos.”

“Apa yang baru saja kau katakan? Berarti hari ini kau bertemu dengan dia? Kau sedang dalam masa hukuman. Kau harus mengingat itu.”

“Dengarkan aku. Ini kabar yang sesungguhnya. Kau harus mempercayaiku. Sekali ini saja percayalah padaku.”

Heechul berjalan mendekati Morin. “Apa kau yakin?” tanya Heechul pada Morin.

Morin mengangguk. “Aku baru saja menemui Minho dan sekarang dia tengah memberitahu seluruh pemuda Aether tentang hal ini. Tidak ada waktu lagi.”

“Aku akan mengatakan pada ayah. Tapi bagaimana caraku mengatakan padanya?”

“Katakan yang sebenarnya. Aku yakin dia tak akan marah padaku.”

“Sebelum aku memberitahu ayah aku ingin bicara sebentar padamu.”

Morin mengangguk.

“Kau sudah sering mendengar cerita-cerita tentang Aurora? Kau adalah Guardian saat ini. Kau yang terpilih untuk menjaga Aurora. Kau tak perlu terlalu memikirkan tentang hal ini karena proses pemilihan Guardian terjadi secara alami. Kuda milikmulah tanda bahwa kau adalah Guardian. Itulah sebabnya aku tak ingin jika kau dekat dengan Akheilos karena itu sangat berbahaya bagimu. Semua tahu bahwa mereka mengincar Guardian untuk mencuri Aurora. Aku yakin target utama mereka adalah kau. Kau yang akan mereka bunuh.”

Morin menyeruak dalam pelukan kakaknya. “Aku akan baik-baik saja.”

-oooOooo-

Siwon telah memerintahkan komandan perang untuk menyiapkan seluruh pasukannya. Hampir seluruh pemuda di Akheilos berada dalam pasukan itu ditambah dengan prajurit kerajaan yang telah dilatih untuk menghadapi peperangan yang sesungguhnya. Mereka semua telah menggunakan baju zirah, seolah siap untuk kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi. Hari ini saat matahari mulai hilang dari cakrawala saat itu jugalah perang terbesar di Utopia akan dimulai.

“Berjuanglah demi klan kita,” ucap Siwon pada Donghae dan Changmin yang tengah mengenakan baju besi milik mereka.

Lalu Siwon menemui Kyuhyun yang juga berada di antara pasukan perang itu.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengangguk. Tak ada sinar tekat kehidupan yang tampak dari mata Kyuhyun.

“Kau sungguh-sungguh adikku. Aku bangga memiliki adik sepertimu,” ucap Siwon menepuk bahu Kyuhyun.

Tapi tetap saja Kyuhyun masih diam mencoba menahan emosinya kepada kakaknya.

“Aku tahu kau tetap akan memilih klanmu daripada kepentingan pribadimu,” ucap Siwon lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun yang menatap punggung tubuhnya.

Siwon mendekati dua orang dewan kerajaan dan berdiri bersama mereka memandang seluruh pasukan klan Akheilos yang siap untuk berperang.

“Kau benar-benar ingin mengorbankan adikmu?” tanya salah seorang dewan itu berbisik pada Siwon.

“Terkadang kita memang harus melepas salah satu yang kita miliki untuk dapat memiliki yang lainnya.”

-oooOooo-

Morin dan Minho telah tiba di puncak gunung Zeus.

“Jagalah dirimu baik-baik,” pesan Minho sebelum kembali ke Aether namun Morin menggenggam tangannya mencegahnya untuk pergi.

Morin menggeleng. Bagaimanapun juga Minho adalah sahabatnya sejak kecil, mana mungkin dia akan membiarkan sahabatnya pergi begitu saja ke medan perang yang beresiko.

Minho memeluk Morin erat, begitupun Morin yang membalas pelukan Minho dengan erat.

“Pastikan kau tetap hidup,” canda Minho.

Meskipun tanpa sepatah katapun yang terucap dari keduanya namun sesungguhnya keduanya memiliki kekhawatiran yang sama mengenai pertempuran bahwa Aether tak akan mungkin menang melawan Akheilos.

Akhirnya Minho pun pergi kembali ke Aether, meninggalkan Morin seorang diri di puncak gunung Zeus.

Morin mengelus kuda putih miliknya yang sekarang berada bersamanya di puncak Zeus.

“Aku berdoa untuk keselamatan semuanya,” ucap kuda itu membuat Morin melonjak dengan terkejut ke belakang.

Sesaat kemudian kuda putih miliknya berubah menjadi seorang dewi yang sangat cantik. “Perkenalkan aku Nyx yang akan melindungimu.”

-oooOooo-

Kyuhyun dan Morin berdiri berhadapan di puncak gunung Zeus. Kali ini mereka berdiri berhadapan sebagai seorang musuh.

“Apa kau akan membunuhku?” tanya Morin tenang.

Kyuhyun menatap Morin tanpa ekspresi. “Ayahku dan kedua sahabatku terbunuh di peperangan. Kau tak tahu betapa kehilangannya aku.”

“Apakah menurutmu aku bahagia mengetahui hal itu? Kau tahu, aku bahkan lebih merasa kehilangan daripadamu. Kakakku satu-satunya terbunuh disana di pertempuran yang sekarang sedang berlangsung, begitupun dengan satu-satunya sahabat terbaik yang kumiliki, bahkan klanku terancam kalah dari klanmu. Kau tahu klanku? Aether. Klan dimana aku lahir dan bertempat tinggal. Disana ada orang tuaku, sepupuku, saudara-saudaraku juga teman-temanku. Apakah bagimu aku tak cukup menderita saat ini?” Morin tak dapat lagi menahan emosinya.

Kyuhyun terdiam, tangan kirinya yang menggenggam pedang bergetar hebat.

“Jika memang cinta tak dapat menyatukan kedua klan. Mungkin kematian akan mampu menyatukan mereka. Bunuhlah aku jika itu memang yang kau inginkan. Bukankah sinar Aurora yang selama ini klanmu inginkan? Keambisiusan klanmu tak akan pernah berakhir. Aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu meskipun kau adalah bagian dari klan musuh. Aku tetap mempercayaimu. Sampai akhir,” ucap Morin tersenyum.

Dan pada detik itu jugalah Kyuhyun mengarahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menancapkan pedang perunggu miliknya tepat di hati Morin.

Darah mengalir diujung pedang, seiring dengan tubuh Morin yang melemas hingga akhirnya tubuh Morin terjatuh di tanah.

Sedangkan Kyuhyun, tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang tak tahu darimana asalnya menohok dadanya membuatnya tak mampu bernafas dan melemahkan seluruh saraf dalam tubuhnya secara berkala. Membuatnya berlutut di tanah dengan tangan kiri menahan dadanya yang seolah semakin meremas-remas paru-parunya yang tak memperoleh oksigen. Semakin lama dia dapat merasakan tubuhnya melemah membuatnya terjatuh ke tanah.

Sinar Aurora dipuncak gunung Zeus secara perlahan memudar dan akhirnya lenyap seiring dengan detak jantung serta nafas terakhir cinta sejati.

-oooOooo-

..epilog..

Kyuhyun mendengarkan dengan seksama apa yang pemimpin tetua itu katakan.

“Hanya pemilik lain dari dua keturunan sepasang kuda abadi Xanthos dan Balios itulah yang mampu membunuh Guardian. Namun bukan hal yang mudah bagimu untuk membunuhnya. Kau harus bertekat untuk merelakan nyawamu sendiri jika kau benar-benar ingin membunuhnya. Nyawa dibayar nyawa. Jika kau mengakhiri nyawa Guardian, nyawamu jugalah yang menjadi jaminannya. Kau harus rela mati agar dia benar-benar mati. Hanya itu yang bisa kau lakukan.”

Sedangkan di tempat lain Morin pun tengah mendengarkan apa yang Nyx katakan kepadanya.

“Anakku, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan peperangan yang terjadi yakni cinta. Jika kau mencintai klanmu maka relakanlah nyawamu. Kau harus merelakan orang yang kau cintai membunuhmu. Biarkan dengan mudah dia membunuhmu karena itupun akan memudahkannya.”

-The End-

9 Comments (+add yours?)

  1. Mrs.Dimple
    Sep 13, 2013 @ 20:16:03

    Keren thor, keren bgt malah…
    tp tragis bgt ya akhir.nya…

    Reply

  2. kxanoppa
    Sep 13, 2013 @ 22:30:47

    Meski udah baca di blog pribadi author, aku pengen ttep tinggalin jejak di sini. Wkwk.. I love this story so much!
    Please keep writing thor, I’ll wait for ur upcoming stories!! 😀
    Endingnya tragis, tp so sweet bgt. Susah ungkapinnya. Too good too be true, this would be awesome to be filmed 🙂

    Reply

  3. Flo
    Sep 14, 2013 @ 00:08:59

    thor, kasihan amat nasib kyu ma morin
    trus jadinya sinar auroranya jadi milik siwon ga?
    tega amat si siwonnya, sama adeknya sendiri..
    walau sad ending, tapi ff kamu daebak banget thor..

    Reply

  4. sasa
    Sep 14, 2013 @ 05:56:53

    Huaaaaa mati semuaaaaaaaa (╥╯﹏╰╥) sedih bangett… Padahal seruuuu sediihhh

    Reply

  5. ocha
    Sep 14, 2013 @ 23:58:33

    Keren banget thoorrr
    Nice ff (y)

    Reply

  6. kartika
    Sep 15, 2013 @ 06:40:06

    ya ampun nyesek banget baca’a

    keren thor kereeen banget
    aku suka

    Reply

  7. liya
    Sep 15, 2013 @ 08:47:45

    endingnya tragis tapi overall ceritanya bafus..
    ak enjoy banget ngikutin cerita ini sampek selesai..
    good job for you chingu ^^

    Reply

  8. choi soo ryn
    Nov 15, 2013 @ 14:42:29

    keren
    ceritanya mudah dimengerti jd gampang buat ngehayalnya cuma pas konflik yg ini terlalu cepet
    but nice

    Reply

  9. ElvaZavier
    Dec 01, 2015 @ 01:23:39

    Yahh … endingnya tragis . Knp harus mati semua ?? Hiks .. hiks .. 😦

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: