[Special Post For Shindong’s Birthday] Dad

Judul                           : Dad

Author                         : Putri Nur Ratnasari

Main Cast                    : Shin Donghee and Shin Ahjung

Supporing Casts          : Yoon Kyunghee, Oh Sehun, Hyon Jae, Hyon Woo

Genre                          : Family

Rating                         : PG-13

            “Kita lebih baik mengakhiri semuanya. Aku lelah. Kita sama-sama memiliki sifat keras kepala dan tak ada salah satu dari kita yang akan mengalah,” ucap Yoon Kyunghee membuka topik pembicaraan yang sama selama beberapa hari ini.

            Pria yang masih berstatus suaminya itu hanya bisa menatap pantulan dirinya pada semangkuk sup bening diatas meja makan tanpa ada niatan membuka mulutnya untuk merespon perkataan istrinya itu.

            “Tanda tangani ini sekarang dan aku tidak akan meminta apapun darimu.”

            Pria bernama Shin Donghee hanya bisa menghela napasnya berat lalu mengambil pena yang tak jauh darinya kemudian menandatangani kertas perceraiannya itu. Pikirannya begitu kalut untuk berpikir, ia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya. Ini kesalahan terbesarnya ketika memutuskan untuk menikah di usia muda yang justru pada akhirnya malah berujung pada perceraian.

*****

            Lima belas tahun berlalu sejak kejadian kelam itu. Perlahan Shin Donghee mulai bisa menata kehidupannya yang sempat porak-poranda akibat perceraiannya itu. Namun, ketika kehidupannya mulai tertata kembali, seseorang dari masa lalunya kembali ke kehidupannya saat ini. Seseorang yang dulu pernah dan masih ia cintai hingga saat ini.

*****

            Shin Donghee dan Yoon Kyunghee duduk berhadapan di sebuah sudut restoran milik Donghee setelah sekian lama tak pernah berinteraksi secara langsung maupun tak langsung. Kyunghee mengangsurkan sebuah foto kehadapan Donghee. “Siapa dia?” tanya Donghee bingung.

“Dia anakmu, anak kita. Ternyata aku hamil saat perceraian kita sudah dikabulkan oleh pengadilan,” jelas Kyungheee lalu meneguk secangkir teh dihadapannya.

“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?”

“Saat itu status kita bukanlah lagi pasangan suami dan istri, jadi kau tak ada kewajiban untuk mengetahui hal ini.” Kyungheee terdiam lalu kembali melanjutkan, “Itulah yang aku pikirkan saat itu, namun sekarang, seiring berjalannya waktu, pikiranku terbuka. Anak ini, juga butuh sosok seorang ayah.”

“Bukankah kau sudah menikah dengan putra pemilik HJ Corporation? Kalau begitu ia pasti sudah bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita.”

“Kukira awalnya begitu. Tetapi setiap hari, suamiku dan anak kita ini selalu bertengkar. Suatu hari, Hyon Jae pernah marah besar padannya hingga ia kabur dari rumah selama satu minggu. Jadi, bisakah kau menjaganya untukku? Lebih baik aku terpisah dengannya daripada jika ia terus berada di dekatku, ia malah mengalami tekanan seperti ini.”

“Dulu memang aku pernah mengatakan jika aku tidak akan meminta apapun darimu, tetapi keadaannya berbeda. Maafkan aku, maafkan aku—”

“Tidak perlu meminta maaf. Semua yang sudah terjadi di masa lalu lebih baik hanya sesekali kita ingat untuk dijadikan pelajaran dan bukan untuk disesali. Baiklah, aku akan menjaganya untukmu. Karena walau bagaimana pun, ia juga anakku,” potong Donghee cepat.

Kyunghee terdiam lalu sebuah senyum tipis tergambar samar di wajahnya. “Terima kasih. Tolong, jaga dia dengan segenap jiwamu, lindungi dia dengan seluruh ragamu, dan cintai dia dengan segenap hatimu yang tulus.”

Donghee menyentuh tangan Kyungheee lalu mengenggamnya erat. Ditatapnya kedua bola mata Kyungheee lekat-lekat. “Aku berjanji. Percayalah padaku,” ucap Donghee dengan suara tegas. Ia melepaskan genggamannya dan kini tangannya beralih mengambil sebuah foto yang sempat membuatnya penasaran. “Siapa namanya?” tanya Donghee.

“Ahjung. Shin Ahjung.”

*****

            From   : Yoon Kyunghee

Aku akan segera tiba di stasiun sekitar dua puluh menit lagi. Kuharap kau jangan terlambat, karena Ahjung tak suka menunggu terlalu lama.

08.57 am
9/29/13

Donghee segera mengambil kunci mobil diatas meja kamarnya dan segera melesat menuju garasi sesaat setelah ia membaca pesan singkat dari Kyunghee. “Selamat pagi paman!” sapa seorang anak muda berkulit putih dengan rambut berwarna agak kecoklatan.

“Oh, pagi Sehun! Baiklah paman pergi dulu!” balas Donghee sembari melambaikan tangannya keluar mobil kemudian segera melesat pergi menuju bandara.

*****

            “Kenapa ibu tampak gelisah? Apa ada yang menganggu pikiran ibu?” tanya Ahjung tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari sang ibu yang duduk disampingnya.

“Ibu baik-baik saja. Ah, kebetulan keretanya sudah sampai di stasiun tujuan kita, ayo segera turun,” jawab Kyunghee mengalihkan topik yang secara kebetulan sangat tepat dengan situasinya.

Ahjung dan Kyunghee berjalan beriringan menembus padatnya suasana stasiun pagi itu. Samar dari kejauhan, tampak seorang pria melambaikan tangannya kearah mereka berdua. “Ahjung, ayo cepat!” ucap Kyunghee lalu segera meraih tangan putri semata wayangnya itu menuju sang pria.

“Selamat pagi. Ah kau pasti Shin Ahjung kan?” sapa pria itu ditambah sebuah pertanyaan. Ahjung yang berada disamping Kyunghee hanya menganggukkan kepalanya singkat. “Wah kau terlihat cantik sama dengan ibumu,” tambah pria bernama Donghee itu.

“Ibu, siapa paman ini? Kenapa sok akrab denganku?” tanya Ahjung berbisik.

“Kita sebaiknya ke tempat yang nyaman untuk berbicara. Bukankah begitu, Donghee?” respon Kyunghee.

            “Ah ya, kau benar, ayo masuk ke mobilku!” seru Donghee cepat.

*****

            Jadi disinilah mereka bertiga saat ini, di sebuah taman kota yang agak sepi sembari duduk berhadapan ditemani angin yang berhembus sepoi-sepoi. Ahjung melemparkan pandangannya pada Donghee serta sang ibu bergantian. “Ibu, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan? Dan kenapa aku harus ikut dalam pembicaraan ini?” ucap Ahjung membuka keheningan panjang yang dua orang dewasa didekatnya buat.

“Ehm…sebenarnya, sayang, paman ini ad—”

“Aku adalah ayahmu. Ayah biologismu, namaku Shin Donghee,” potong Donghee cepat.

“Apa maksudnya bu? Suami ibu yang sekarang bukan ayahku?” tanya Ahjung tak mengerti sekaligus bingung. Kyunghee yang berada disampingnya hanya dapat mengangguk lemas. “Pantas selama ini aku dan dia selalu bertengkar. Serta ia selalu membela Hyun Woo daripada aku,” tambah Ahjung dengan nada dingin bercampur tatapan menerawang.

“Jadi, apakah kau mau tinggal bersamaku, Ahjung?” tanya Donghee dengan nada yang kental akan harapan bahwa Ahjung akan menyetujuinya tanpa menggerakkan tangannya sedikitpun.

“Baiklah, aku akan tinggal dengan paman ini,” balas Ahjung tanpa pikir panjang. “Tuhan, semoga keputusan ini tepat dan benar,” ucap Ahjung dalam batin.

*****

            Donghee pun segera memacu mobilnya kembali ke stasiun tempat dimana sebelumnya ia menjemput Kyunghee dan Ahjung. Selama perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil itu hingga pada akhirnya mereka tiba juga di stasiun.

            “Kau jaga dirimu baik-baik. Jangan merepotkan ayahmu. Mengerti?” ucap Kyunghee dengan nada tangis yang tertahan lalu memeluk Ahjung dengan erat. Ahjung pun membalas pelukkan ibunya.

            “Ibu juga jaga diri ibu baik-baik disana. Senakal apapun Hyon Woo nantinya, kuharap ayah takkan mengusir ibu seperti mengusirku. Aku tahu, ia mencintai ibu tetapi tidak denganku.”

            “Tidak begitu sayang. Ia hanya belum mengetahui kalau putri ibu ini sangat pantas untuk dicintai. Suatu hari ia akan menyesal. Ibu menyayangimu,” respon Kyunghee dan melepaskan pelukannya. Ia menyentuh kedua bahu putrinya serta ditatapnya mata Ahjung dalam-dalam. “Ibu berjanji, akan selalu menengokmu sesering yang ibu bisa,” tambah Kyunghee. Ahjung hanya mengangguk pelan.

            “Baiklah, ibu harus segera pulang. Hati-hati sayang,” ucap Kyunghee lagi. Kini ia berbalik kearah Donghee lalu tersenyum. “Terima kasih. Jaga Ahjung baik-baik. Aku percaya padamu sama seperti dulu.”

            “Aku akan menjaga Ahjung dan menyayanginya dengan tulus.”

*****

            Selepas dari stasiun, Donghee sempat bertanya pada Ahjung apakah ia ingin pulang ke rumah atau mampir sebentar ke restoran miliknya untuk makan siang, namun Ahjung memilih untuk pulang ke rumah.

“Baiklah, kita sudah sampai. Kau bisa turun,” kata Donghee sesaat setelah ia mematikan mesin mobilnya.

Tampak dari luar, Sehun masih menata halaman depan rumahnya sama seperti tadi pagi. “Hai paman!” sapa Sehun seraya melambaikan tangannya pada Donghee. “Hai Sehun! Kau masih saja sibuk dengan gunting rumput itu sejak tadi,” jawab Donghee diselingi tawa.

“Iya paman. Ah ya, gadis disamping paman itu siapa?” tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangan antusiasnya dari Ahjung.

“Dia putriku,” jawab Donghee sambil menatap Ahjung yang masih tertunduk lesu. “Ah, kurasa ia sudah sangat lelah, aku harus segera mengantarkannya masuk. Kalian bisa berbincang lebih panjang lain waktu. Aku masuk ya,” tambah Donghee kemudian segera melangkahkan kakinya memasuki rumah disusul dengan Ahjung.

Memasuki rumah, suasana barang-barang yang berbau kayu langsung mendominasi ruang. Ahjung melemparkan pandangannya menelusuri tiap sudut ruang tersebut hingga matanya terkunci pada sebuah figura di sudut ruang. “Paman, masih menyayangi ibu?” tanya Ahjung sambil menggenggam figura foto pernikahan kedua orang tua biologisnya.

“Ya, aku menyayanginya dulu maupun sekarang,” jawab Donghee menerawang.

“Dan kenapa kalian bercerai?”

“Saat menikah, usia kami masih sangat belia dan terlalu labil dalam mengambil keputusan. Kami sama-sama keras kepala dulu hingga ibu mu sadari bahwa jika dua orang keras kepala menikah, maka tak ada satu pun yang mau mengalah. Jadi suatu hari, ketika kalimat perceraian kembali diucapkan ibumu, ayah memilih lebih baik tak berkomentar untuk mempertahankannya. Ayah mengikuti kemauan ibumu untuk berpisah. Tetapi, sudahlah yang sudah lewat biarkan saja, anggap sebagai pelajaran yang terpenting adalah kau ada disisi ayah sekarang.”

*****

            Satu hari berlalu, Donghee yang sudah sejak pagi sibuk membuat sarapan hampir saja lupa membangunkan putrinya yang mungkin masih terlelap di kamarnya. Akhirnya ia pun segera melepas apron masaknya dan bergegas menuju kamar Ahjung.

“Ahjung! Apakah kau sudah bangun? Ayah sudah membuatkanmu banyak sarapan,” sahut Donghee sembari sesekali mengetuk pintu kamar Ahjung. Hening, tak ada jawaban apapun dari Ahjung. Donghee pun kembali melakukan hal yang sama beberapa kali, namun masih tetap tak ada jawaban dari dalam kamar. Donghee pun mendobrak paksa pintu kamar Ahjung dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati Ahjung sudah tergeletak lemas di lantai kamarnya dengan wajah memucat.

“AHJUNG!” pekik Donghee panik lalu segera menggendong Ahjung keatas ranjang. “Kau kenapa? Kenapa tidak panggil ayah?” lanjut Donghee dengan suara kepanikan yang masih kental.

“Aku tidak apa-apa. Hanya demam biasa. Tidak perlu sekhawatir itu,” jawab Ahjung tenang kemudian ia tersenyum pada Donghee.

“Kau kenapa tersenyum, sayang? Apa wajah ayah terlalu lucu?”

“Aku hanya senang karena akhirnya ada orang lain yang peduli padaku selain ibu. Terima kasih paman.”

“Kau masih belum bisa memanggilku ayah ya? Apa terlalu sulit? Dibagian pelafalan yang mana kau mengalami kesulitan mengucapkan kata ayah?”

“Maaf paman, hanya aku masih terlalu takut memanggil seseorang dengan sebutan ayah,” balas Ahjung lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Donghee. Tanpa sengaja, Donghee menatap leher Ahjung yang seperti terkena luka sayatan benda tajam. Seketika emosinya menaik, dipikirannya kini hanya terbayang bagaimana tertekannya Ahjung selama bersama dengan Hyon Jae.

“Ayah mengerti, ah maksudku paman mengerti. Kau bisa memanggilku paman selama yang kau mau. Paman akan ke bawah untuk mengambilkan kompres dan sup jagung hangat, selama menunggu kau istirahatlah dulu.”

Donghee segera bangkit dari sisi ranjang lalu berjalan keluar kamar Ahjung. Namun, ia berhenti sesaat lalu memandang Ahjung dengan tatapan bahagia bercampur sedih. “Ayah berjanji akan membuatmu menjadi putri kecil yang paling bahagia di dunia ini. Ayah berjanji akan menebus kenangan burukmu dan menggantinya dengan kenangan bahagia bersama ayah yang takkan pernah kau lupakan.”

*****

            “Dia yang memecahkan vas bunga itu!” teriak Hyon Woo seraya menunjuk Ahjung.

           “Ti—tidak bukan aku! Hyon Woo yang memainkan bola lalu melemparkannya dengan sengaja kearah vas itu. Sungguh ayah, aku tidak berbohong!” bela Ahjung dengan air mata yang hampir tumpah.

            “Tidak mungkin Hyon Woo melakukan hal senakal itu! Pasti yang melakukannya adalah kau dank au menuduk anakku yang melakukannya!” teriak Hyon Jae geram. Ia menatap Ahjung dengan mata yang penuh dengan sorot kemarahan.

            “Ayah, sungguh aku tidak melakukannya,” ucap Ahjung lagi.

            “Jangan panggil aku ayah, karena kau bukan anakku!” teriak Hyon Jae lalu mengambil sebilah rotan yang selama ini hanya menjadi pajangan di sudut ruangan dan mengarahkannya dengan keras pada leher Ahjung.

“AAHHHHHHH!” pekik Ahjung kesakitan. Ia refleks menyentuh lehernya. Ia mengedarkan pandangannya pada sekeliling, ia tak berada di ruang tengah rumah mewahnya dulu kini ia sedang berada diatas ranjang kamar mungilnya yang hangat. Donghee yang tadi sempat terlelap disisi ranjang, sontak bangun dan menatap Ahjung panik.

“Kau kenapa?! Apa ada yang sakit? Astaga keringatmu bercucuran. Apa yang terjadi?” tanya Donghee bertubi-tubi sembari memeriksa tubuh Ahjung.

“Ti—tidak apa-apa paman. Hanya mimpi buruk, aku baik-baik saja.”

“Apa kau yakin? Mimpi burukku rasanya dulu tak sampai menyebabkanku seperti kau sekarang ini. Mau cerita padaku?” tawar Donghee.

Ahjung hanya menundukkan kepalanya sembari mengatur napasnya yang entah mengapa terasa tersengal-sengal. Ia pun menggeleng lemah.

“Tidak apa-apa, paman mengerti. Kau tak perlu khawatir, karena paman akan selalu menjagamu.”

*****

            Satu hari kembali berlalu, Ahjung masih mengalami demam namun suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Walaupun begitu Donghee masih saja belum mau masuk kerja dan lebih memilih menjaga Ahjung secara intensif di rumah.

“Aku sudah lebih baik paman. Paman bisa meninggalkanku dan pergi bekerja,” ucap Ahjung ketika Donghee untuk kesekian kalinya memeriksa suhu tubuh Ahjung.

“Tidak sampai kau benar-benar pulih dan bisa berlari-lari,” balas Donghee diakhiri dengan tawa renyah. Ahjung menatapnya datar lalu perlahan sudut bibir Ahjung membentuk sebuah senyuman, sebuah senyum yang selama ini Ahjung rindukan.

“Terima kasih paman.”

“Tidak perlu berterima kasih, aku kan ayahmu jadi aku punya kewajiban menjaga dan menyayangimu.”

“Maaf.”

“Kenapa meminta maaf?” tanya Donghee bingung.

“Maaf karena aku belum bisa memanggilmu dengan sebutan ayah. Padahal aku tahu pasti kau sangat ingin dipanggil ayah olehku, kan?” balas Ahjung dengan sebuah pertanyaan lagi dengan wajah tertunduk. Donghee tersenyum lalu menarik Ahjung perlahan ke dalam pelukannya.

“Tidak apa-apa jika kau belum siap sekarang, aku mengerti. Aku akan menunggu dengan sabar hingga kau memanggilku dengan sebutan ayah.”

*****

            Beberapa hari kemudian, akhirnya Ahjung benar-benar sembuh dari demam serta secara perlahan mulai sembuh dari luka kelam masa lalunya. Tepat hari ini, seminggu setelah pertemuan kembali Donghee dan Ahjung, Donghee mengajak Ahjung untuk berjalan-jalan ke taman.

“Ini sedang musim semi dan bunga-bunga terlihat sangat indah bermekaran disana-sini. Bukankah begitu, Ahjung?” tanya Donghee ketika tengah berjalan bersebelahan dengan Ahjung.

“Iya paman. Sangat indah. Coba ibu juga disini, ia pasti akan sangat bahagia.”

“Ahjung, apakah kau tahu, Siapa yang lebih cantik dan indah dari bunga-bunga ini?” tanya Donghee lagi. Ahjung seketika menghentikan langkahnya lalu menatap Donghee dengan tatapan bingung.

“Ibuku? Yoon Kyunghee,” jawab Ahjung pasti.

Donghee menyilangkan tangannya membentuk tanda silang lalu tersenyum. “Kau salah! Jawaban dari siapa yang lebih cantik dan indah dari bunga-bunga ini adalah kau, Shin Ahjung.”

Ahjung tersenyum kemudian tertawa kecil, Donghee menatap Ahjung senang. Kini ia tahu pasti perasaan Ahjung sudah mulai membaik, ia yakin putrinya sudah perlahan melupakan kenangan buruk masa lalunya.

“Paman, aku akan pergi sebentar ke toko di seberang sana,” pamit Ahjung seraya menunjuk sebuah toko di ujung jalan.

“Baiklah, paman akan ikut bersamamu!”

“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Paman tunggu disini saja,” balas Ahjung sambil berlari lurus ke depan namun kepalanya masih mengarah pada Donghee. Ahjung terus berlari kearah jalan raya, Donghee melihat ke sisi kanan-kiri dari posisinya berada. Jantungnya seketika berdetak cepat, sebuah mobil tengah melaju cepat dari sisi kanan jalan.

“AHJUNG!” teriak Donghee sambil berlari kearah Ahjung. Ia kemudian segera menarik Ahjung ke sisi jalan yang lain tepat sebelum mobil itu menyambar tubuh Ahjung.

“Apa kau tidak apa-apa? Apa kau baik-baik saja? Apakah ada yang luka?! Man—mana bagian tubuh yang terasa sakit? Ayo kita ke rum—“

“Aku baik-baik saja, ayah…”

“Tu—tunggu, kau memanggilku apa tadi?” tanya Donghee tak percaya.

“Ayah, aku baik-baik saja…”

“Astaga, benarkah?! Kau memanggilku ayah?!”

“Iya ayah…”

“Astaga aku tidak bermimpi! Ah Ahjung, putri kecilku…akhirnya kau memanggilku ayah! Ah aku sangat bahagia,” pekik Donghee kegirangan lalu segera memeluk Ahjung dengan erat.

“Aku menyayangimu, ayah,” bisik Ahjung.

 

THE END

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Flo
    Oct 06, 2013 @ 15:08:53

    ah pengen deh punya appa kayak papa bear
    pasti selalu senang dan disayang banget..

    Reply

  2. Fanabiko
    Oct 06, 2013 @ 15:45:43

    Yeay akhirnya Shindong oppa dipanggil ayah .. tp sayang istrinya malah nikah lg padahal berharap mereka balikan trus Hyunwoo nya mendapat balasan *EviLaugh
    Btw ff nya Kereen d._.b

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: