[Special Post For Donghae’s Bithday] A Man With His Smile

Author : Han Harin

Title     : A Man With His Smile

Casts   : Lee Donghae, Han Harin, Cho Kyuhyun

Genre  : Romance, Sad

Well, happy birthday, uri Lee Donghae!

Hope you’ll be better than before!

Please, keep be our Superman^^

oOo

Suara gerimis yang berdenting merdu membentuk suatu alunan melodi indah. Membuatku terhanyut dalam kenangan kelam masa laluku. Disilah aku berada, di lantai 2 sebuah toko buku yang bertembok kaca-kaca bening. Kaca-kaca itu kini diramaikan dengan butiran-butiran hujan yang membiaskan cahaya malam. Sungguh, pemandangan kota di malam hari yang indah. Membuat mataku tak dapat berpaling.

Dibawah sana, kehidupan masih berjalan, tak peduli sudah pukul berapa saat ini. Tak peduli sudah betapa gelapnya saat ini. Tak peduli betapa suhu udara menusuk kulit. Mobil-mobil berpacu kecepatan, berlomba untuk segera mendapatkan kehangatan keluarga masing-masing yang sudah menunggu di rumah mereka. Payung-payung memenuhi pinggir jalan, melindungi si empunya dari serangan tangisan langit.

Beberapa pasangan kekasih berpagut mesra di beberapa emperan toko-toko kecil dibawah sana. Saling bertatapan, tertawa, dan berpegangan tangan. Seketika, senyum miris tercipta di bibirku. Malam minggu. Bukankah hal-hal semacam itu sudah biasa terjadi di malam minggu?

Sebuah kilat tiba-tiba menyambar, diikuti dengan sebuah suara menggelegar, membuat para pejalan kaki semakin mempercepat jalannya. Para pasangan kekasih tadipun semakin mesra saja. Lihatlah, sang pria kini dengan lembutnya memeluk sang wanita sambil membelai mesra rambut kekasihnya.

Cukup puas dengan pemandangan indah sekalugus membuat iri itu, aku membalik badan, menghadap rak buku yang berisi novel-novel remaja. Sungguh, aku sama sekali tak berniat untuk membeli ataupun hanya sekedar menumpang membaca disini. Hanya saja toko ini melahirkan sebuah cerita, yang meskipun pahit untuk dikenang.

Tiba-tiba, seorang lelaki berseragam pegawai toko buku ini datang menghampiri rak dihadapanku. Dia berhenti pada suatu barisan karena melihat novel-novel itu tergeletak dengan sangat berantakan. Dengan sangat telaten, dia merapihkannya. Aku hanya memperhatikannya sekilas, lalu kembali sibuk mencari judul novel yang menurutku menarik. Hei! Setidaknya aku membeli satu buku walaupun tak berminat untuk membacanya.

“Sendirian, Nona?”

Aku menolehkan kepalaku kearah lelaki tadi, lelaki yang juga menanyakan pertanyaan barusan. Dia masih tampak sibuk merapihkan buku-buku itu. Melihat aku yang menoleh, diapun ikut menoleh, lalu tersenyum lebar, berusaha memperlihatkan keramahannya. Aku membalas senyumnya tipis, teramat tipis untuk dilihatnya dari jarak 1 meter. Kemudian, aku kembali asyik memilih novel.

Pertanyaan bodoh. Aku sudah sedari tadi disini, tanpa seorangpun yang menemaniku. Dan akupun tahu bahwa lelaki ini sudah memperhatikanku sejak aku masuk ke lantai 2 ini. Bukankah pertanyaan itu tak perlu kujawab? Lagipula, aku masih belum ingin diganggu, terlebih saat sedang berada disini. Saat aku sedang mengenang pria-ku.

Melihat aku yang mengacuhkannya, dia malah semakin tersenyum lebar, terlihat jelas walaupun aku tak memperhatikannya. Perlahan, ia mulai meninggalkanku, sambil sesekali mencuri-curi pandang.

Setelah pria itu telah habis dalam jangkauan pandanganku, aku segera melihat barisan buku yang berantakan tadi.

Masih sama, tak terlihat perbedaan yang mencolok. Pria itu tak merapihkannya dengan benar. Senyum kecut menghampiri wajahku. Mulai detik ini, aku tahu tujuannya ke rak ini. Mulai detik ini, aku tahu seseorang telah jatuh dalam pesonaku.

oOo

Pria-ku telah meninggalkanku. Disaat seluruh persiapan pernikahan kami sudah siap. 2 bulan yang lalu. Ya, hari ini tepat setelah 2 bulan kepergiannya. Dan aku masih belum terbiasa, terlebih menerima hal itu.

Toko buku itu menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami. Musim gugur menjadi latar waktunya. Aku yang saat itu sedang membawa tumpukan buku tebal untuk bahan skripsi dan ujian akhir, tiba-tiba mendapati seorang wanita menabrakku dari belakang. Tanpa ampun, tubuh kami jatuh, diikuti oleh buku-buku tebalku.

Tiba-tiba, seorang pria tinggi yang kuakui tampan menghampiri kami. Dia membantu wanita yang menabrakku. Dan baru kuketahui kemudian, ia kekasihnya. Terbukti dengan panggilan sayang mereka. Setelah membantu wanita itu, dengan kurang ajarnya dia memakiku. Membuatku malu karena seisi toko buku melihat kami. Sungguh, ketampanan yang sempat kukagumi itu luntur seketika.

Kemudian, pertemuan kedua secara kebetulan terjadi di sebuah kafe. Dengan kronologi yang hampir sama pula. Saat itu sedang jam makan siang. Wajar saja jika suasananya sangat ramai. Aku yang baru saja mendapat pesananku segera membawanya ke meja yang kosong. Namun, seseorang dari arah kanan menabrak tubuh rampingku. Pesanan itu terjatuh, begitupula tubuhku. Piring dan gelas itu hancur berkeping-keping, dan sialnya pecahan itu melukai kakiku. Makanan dan minuman itu lantas mengotori pakaianku.

Mataku berkilat marah ketika mengetahui bahwa pria di toko buku itu yang menabrakku. Tanpa mengucapkan apapun padaku, ia segera pergi ke sebuah meja. Meja yang sudah ditempati oleh seorang wanita yang menunggunya. Dan wanita itu bukan wanita di toko buku itu. Playboy. Kata itu langsung bersarang di otakku.

Aku berusaha berdiri. Namun tak bisa. Para pengunjung hanya dapat melihatku, namun tak tergerak untuk membantuku. Hingga akhirnya, sebuah uluran tangan membantuku. Seorang pria, dengan senyumnya yang menawan. Dia membantuku, membayar seluruh ganti rugi, dan membawaku ke rumah sakit, walaupun lukaku tidaklah parah.

Pertemuanku dengan pria penabrak itu selanjutnya terjadi begitu saja. Dari pergejolakan emosi yang sangat berapi-api, perlahan melembut menjadi suatu perasaan yang menggebu. Aku tak memperdulikan betapa kurang ajarnya dia yang memakiku, dia yang menabrakku, dia yang selalu membuatku kesal, dan dia yang seorang playboy. Hanya satu hal yang aku tahu, aku telah jatuh. Dalam pesonanya yang begitu absolut.

Our relationship gets better. Kami berbaikan. Lalu menjadi teman. Lambat laun, temanpun berubah menjadi sahabat. Beberapa bulannya kemudian, ia menjadi kekasihku, dan aku menjadi kekasihnya. Hingga akhirnya, dia melamarku, dan tentu lamaran itu kuterima.

Hanya saja… rentetan kata-kata tercetus dari bibirnya yang selalu tersenyum padaku, tepat 3 hari sebelum dia pergi dariku.. selamanya.

“Seharusnya kau tahu, bahwa aku tak pernah mencintaimu, Harin-ssi,”

oOo

Malam ini aku kembali mengunjungi toko buku itu. Dengan tujuan yang sama. Lantai 2, bagian kanan, rak berisikan novel-novel remaja. Namun bukan itu yang ingin kucari, melainkan pemandangan yang tersaji dari dinding kaca yang berada dihadapan rak novel itu.

Pemandangan malam ini masih indah. Hanya saja tak ada lagi melodi gerimis seperti kemarin. Tak ada lagi butiran air pada dinding itu. Tak ada lagi pula pasangan kekasih yang berpagut mesra di emperan toko-toko kecil tersebut. Setidaknya, cukup mengurangi rasa iri di hatiku.

Lama aku terdiam. Memandangi lalu lintas yang sudah tak seberapa padat lagi. Memandangi gedung-gedung pencakar langit yang bercahaya terang. Memandangi pohon-pohon yang bergerak pelan karena angin yang bersepoi-sepoi.

Pria pegawai toko buku yang kemarin masih ada. Dan juga masih memandangiku. Aku hanya berusaha menetralkan detak jantungku saat ini, sama sekali tak fokus pada pemandangan dihadapanku. Oh, ayolah! Ada apa denganku?

Tak tahan, aku segera membalikkan badan. Kembali asyik memilih novel yang kurasa menarik.

 

Mataku terhenti pada sebuah judul novel –yang kemarin masih belum ada- yang menarik perhatianku.  Tidak, tidak! Bukan judulnya, melainkan covernya! Aku merasa tak asing, sungguh! Itu.. hasil desain-ku! Perlahan, perasaan tak enak menyeruak lerung hatiku. Jangan-jangan…

Tanganku tanpa perintah mengambilnya. Hei! Kalian tahu? Salah satu dari tumpukan novel ini tak terbungkus plastik! Bukankah hal itu langka bagi novel baru seperti ini? Mataku dengan cekatan mencari nama penulis. Dan.. Benar saja, nama mantan tunanganku tertulis disana.

Cho Kyuhyun.

Lupakan aku bercerita bahwa dia seorang penulis?

Mataku kembali memanas. Tuhan, kumohon! Seharian tadi aku sudah menangis di pusaranya! Jangan biarkan aku menangis lagi!

Tanganku tergerak untuk membukan lembar pertama. Hanya tertulis judul di lembar pertamanya, A Girl in My Autumn. Dengan cekatan, aku membalikkannya ke lembar kedua. Dan disitu, tangisku mulai pecah. Namun sebisa mungkin, isakan itu kujaga.

Novel ini spesial untuk kekasihku, untuk satu-satunya wanita yang akan selalu kucintai, Han Harin.

Begitu tulisan di halaman tersebut. Sungguh, aku yakin teramat yakin bahwa ‘Han Harin’ yang tertulis disitu adalah ‘Han Harin’ diriku. Tak peduli bahwa berapa banyak ‘Han Harin’ yang sudah dikencaninya. A Girl in My Autumn, bukankah pertemuan pertama kami memang disaat musim gugur?

Menit-menit pertama, kubaca bagian pertama dalam kisah itu. Kisah cinta yang menceritakan sepasang kekasih bernama Han Harin dan Cho Kyuhyun. Ya, ini kisah kami, yang dia uraikan dalam kata-kata, dari sudut pandangnya.  Kisah cinta yang bermula dari dua insiden ‘tabrakan’ di toko buku ini dan kafe pada musim gugur itu. Sungguh, aku baru tahu inilah isi hatinya saat itu. Ya, isi hatinya.

Tak sabar, aku segera membalik lemar-lembar itu ke halaman terakhir. Ke bagian yang tertulis akhir dari kisah ini. Ya, aku tahu pasti bahwa ini berakhir dengan sad ending. Tapi, bagaimana sad ending dalam sudut pandangnya? Mungkinkah sad ending bagiku ini merupakan happy ending baginya?

Isakan yang tadi kutahan kini menguap. Tangisanku berderai begitu saja. Sungguh, kisah ini memang seharusnya tak terjadi.

Sayang, maafkan aku.. Aku tahu ini menyakitkan bagi kita.. Tapi ini akan lebih tidak menyakitkan bila begini..

Sayang, aku tak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku tak mencintaimu.. Sungguh, aku hanya ingin membuat kau membenciku..

Sayang, kisahku memang berhenti disini.. Diatas sebuah sad ending tentunya.. Tapi tidak dengan kisahmu.. Kisahmu akan terus bergulir, dengan akhir yang bahagia, yang bahkan akan membuat semua orang meneteskan air mata haru..

Sayang, aku cukup tahu diri bahwa aku bukanlah seseorang yang baik untukmu.. Dan kini, biarkan aku memperlihatkan sisi ‘tidak baik’ itu padamu lagi.. Agar kau tahu seperti apa pria yang baik itu.. Dan tentu pria baik itu bukanlah aku..

Kau akan mendapatkan penggantiku.. Percayalah.. Pria itu akan lebih banyak tersenyum daripadaku.. Pria itu akan lebih mengerti dirimu.. Pria itu lebih pantas untuk bersanding denganmu..

Sayang, maaf atas kebohonganku itu.. Dan kini, biarkan aku mengonfirmasikannya..

Sayang, aku sangat mencintaimu.. selamanya..

Ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan? Aku menangis lagi! Dan.. hei! Aku membasahi novel ini. Segera, aku meletakkan kembali novel itu. Kakiku kini tak dapat menahan bobot lagi, segera saja aku terduduk lemas dengan kepala menunduk.

Pantas saja waktu itu dia memaksaku mendesain suatu cover bertemakan musim gugur.Untuk mengenang pertemuan pertama kita,’. Itu alibimu saat itu, Tuan Cho!  Pantas saja dia sering sibuk beberapa waktu lalu. Pantas saja.. dia berubah. Dia sudah merencanakan untuk mengatakan hal itu. Ya, aku yakin. Aku yakin novel itu sudah diselesaikannya sejak cukup lama, bahkan sebelum dia mengatakan kebohongan itu.

Suara menggelegar tiba-tiba membuatku tersentak, setelah sebelumnya sebuah kilatan terang menyambar. Oh, ayolah! Bahkan langit kini menangis bersamaan denganku. Mengapa mereka mendukungku untuk menangis? Dan pula.. mengapa mereka turut menangis?

Isakanku makin terlontar dengan lancar. Beruntung suasana toko buku sedang sepi saat ini, mengingat setengah jam lagi toko ini akan tutup. Hingga akhirnya, sebuah sapu tangan tersodor dihadapanku. Membuatku mau tak mau mendongak.

Pria itu. Pria pegawai toko buku itu. Pria itu tersenyum lembut terhadapku sambil menyodorkan sapu tangan putih miliknya.

“Aku tahu kau sedang bersedih, Nona,”

Oh, mengapa suaranya kini menjadi sangat kusukai? Mengapa senyumnya itu kini membuatku terpesona?

Perlahan, aku mulai bangkit sambil menerima sapu tangannya. Senyumnya kini kian mengembang, bahkan rona merah kini menjalari wajahnya.

“Terima kasih, Tuan,”

“Ah, tidak, tidak! Panggil saja aku Donghae. Lee Donghae,”

Pria itu menyodorkan tangannya. Meminta untuk dijabat. Aku tersenyum geli menangkap maksudnya. Segera, akupun menjabatnya. Lee Donghae. Ya, dia tidak berbohong. Memang itu namanya. Terbukti dengan nametag di dada kanannya.

“Han Harin,”

“Aku tahu,”

Jawaban pria itu membuatku mengerutkan kening. Tahu? Darimana?

Dia yang menangkap kebingunganku semakin mengembangkan senyumnya. Tanpa sadar, aku memperhatikan detail wajahnya. Wajah yang kuakui tampan itu. Wajah yang kini terlihat berseri.

Dan.. hei! Aku mengenalnya! Dia pria itu! Pria yang menolongku saat di kafe itu! Di musim gugur itu! Di pertemuan keduaku dengan mantan tunanganku!

“Kurasa kau sudah mengingatku, Nona,” ucapnya bangga, masih dengan senyuman itu.

Senyuman yang sangat menawan. Senyuman yang mulai detik ini, menjadi senyum favoritku. Senyuman yang menjadi penyemangatku. Senyuman yang menjadi senyuman penghangatku.

Tanpa sadar, kami masih belum melepaskan jabatan tangan kami. Namun biarlah, aku merasa nyaman dengan begini. Dan kurasa.. dia juga nyaman dengan begini. Kami saling tersenyum, dengan wajah yang sama-sama memerah. Ya Tuhan! Apakah aku wanita yang kurang ajar? Yang telah begitu saja melupakan mantan tunangannya? Tidak, tidak. Aku masih mencintainya. Sangat. Hanya saja.. aku tak tahu dengan yang satu ini.

Tuhan.. tolong katakan.. apakah dia pengganti yang dimaksud.. oleh mantan tunanganku?[]

END

 

 

12 Comments (+add yours?)

  1. Yazelf
    Oct 26, 2013 @ 17:13:56

    aaakk, keren ceritanya
    suka sekalii,
    sedih tapi kenapa Kyuhyun harus mati,

    Reply

  2. Flo
    Oct 27, 2013 @ 00:12:51

    kasihan kyunya meninggal
    padahal bentar lagi mau nikha..
    daebak thor ffnya..

    Reply

  3. ema
    Oct 27, 2013 @ 09:10:57

    Keren bgt!!! >_< ak suka bgt crtanya… Dlihat dr sisi kyuhyun ini emg sad ending, tp klo dr sisi harin? Sadny dpt dr kyuhyun, tp ad happynya sma donghae… Klo dlihat dr sisi reader? Ini ff bagus bgt!! XD

    Reply

  4. Niken Utami
    Oct 27, 2013 @ 11:04:19

    woow.. merinding bacanya… -__-
    thor, mau tau dong dari sisi kyu oppa 😥

    Reply

  5. Wiwik love Eunhyuk So Much
    Oct 27, 2013 @ 14:52:44

    waaaahhhh,,,,, daebakkk!!! kpn ya aq bisa nulis ff ky’ gini?? #curhatcing!!#

    Reply

  6. Goo
    Oct 27, 2013 @ 17:01:25

    Ish… keren tapi nanggung banget akhirnya >< penasaran!

    Udah duga kalau pria yang bantu Harin itu si abang ikan hwahaa xD

    Keep writing! Nice~

    Reply

  7. dyan korlic
    Oct 27, 2013 @ 22:33:28

    huwaaa,suka sm gaya ny donghae dsni,. Kekeke

    Reply

  8. trisnasmile
    Oct 28, 2013 @ 16:54:18

    Donghae dikit amat munculx…..

    Reply

  9. Ica
    Oct 28, 2013 @ 19:19:18

    Kyuhyun nya kemana?

    Reply

  10. AnnA
    Oct 29, 2013 @ 21:56:27

    Donghae cuma kaya selingan aja ….tapi tetep ini ff keren thor!! aku butuh sequel thor~^^ kekeke
    Keep writing thor!!!!

    Reply

  11. yulia
    Oct 30, 2013 @ 12:53:37

    good job Thor:)

    Reply

  12. iamdindy
    Dec 08, 2013 @ 14:38:30

    ini bener banget.senyumannya donghae bikin aku mati (?) . nice n__n

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: