[Special Post For Donghae’s Birthday] Ghost and Love

ghost and love cover

 

 

Judul           : Ghost and Love

Author        : KSMaMin

Cast            :

  1. Lee Donghae
  2. Ahn Seo Jun (OC)
  3. Park Mi Seok (OC)
  4. Choi Siwon
  5. Hwang Seu Ka (OC)
  6. And other support cast

Genre                    : Romance

Rating         : PG 15

AN              : Np promo juga.. kunjungin blog author di => http://superjuniorfanficindo.wordpress.com

.:::.

“kau bisa melihatku?”

“penjaga UKS? Aniyo. Mungkin kau tak akan percaya, tapi.. aku sudah mati.”

“ne, aku memang arwah.”

“bukan hantu. Tapi arwah.”

“… Yang jelas, akan ada saatnya dimana kau akan melihatnya sendiri.”

“…Yeoja waras mana yang mencintai arwah yang tak tersentuh?”

.:::.

“apa kau melihat Ahn Seo Jun murid XII-3?” tanya Mi Seok pada seorang yeoja. “kulihat dia ada di perpustakaan tadi.” Jawab yeoja itu. “ah.. ne, gomawo.” Mi Seok membungkuk dan berlari menuju tempat yang diberitahukan yeoja itu.

 

Suasana perpustakaan sangat sepi. Tak banyak murid yang datang ke perpustakaan siang itu. “akhirnya aku menemukanmu Seo Jun –ah. Hosh.. hosh.. aku.. mencarimu kemana mana.” Mi Seok menepuk bahu seorang yeoja. Yeoja itu menoleh, “wae geurae? Tak biasanya kau mencariku sampai terengah engah begitu.” tanya Seo Jun. “aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat sore ini.” , “jangan katakan, kau akan mengajakku ketempat yang berbau mistis lagi. oh Tuhan.. apa di otakmu tak ada hal lain selain hantu dan hal berbau gaib?” Seo Jun memutar bola matanya. “ayolah.. kumohon. Aku hanya memintamu untuk menemaniku ke rumah temanku di Anyang. Kumohon Jun –ah. Yayaya… aku berjanji akan mentraktirmu selama 2 minggu. Jebal..” Mi Seok memohon sambil menautkan jari jari tangannya. Seo Jun menghela napas, “geurae.. aku akan menemanimu. Sekarang, jangan ganggu aku karena aku harus cepat cepat menyelesaikan tugas ini.” Seo Jun mulai melanjutkan menulis tugasnya. “gomawoyo chingu –ya.” Mi Seok langsung memeluk Seo Jun. “YAK! Bukankah sudah kubilang jangan ganggu aku dulu? Sudah sana.. hush.. hush..” Seo Jun melepas pelukan Mi Seok. “ssttt…” beberapa murid mendelik kearah mereka. “jeosonghamnida.” Mi Seok dan Seo Jun membungkuk minta maaf karena mengganggu ketenangan. Walau bagaimanapun, sekarang mereka masih berada di perpustakaan. “sudahlah.. sana. Kalau kau belum pergi dalam hitungan ke -3, aku akan melemparimu menggunakan buku ini.” Ancam Seo Jun sambil berbisik. “arraseo, aku pergi. Jangan lupa sore ini. Aku akan menunggumu di gerbang sepulang sekolah.” Mi Seok mengedipkan sebelah matanya dan pergi. “ada ada saja yeoja itu. Bagaimana bisa aku memiliki sahabat sepertinya?” gumam Seo Jun. Dia kembali melajutkan pekerjaannya.

 

Pulang Sekolah..

 

Bel panjang berbunyi. Siswa Jaeseong Senior High School berhamburan dari kelasnya masing masing. Begitupun dengan Seo Jun. Tas punggungnya tersampir manis di bahunya. Yeoja berwajah imut itu berjalan sambil mendengarkan musik dari headset yang dipakainya. “mau pulang bersama?” seorang namja tinggi berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Seo Jun. Merasa ada yang bertanya padanya, Seo Jun menoleh dan melepas headsetnya. “oh Siwon –ssi, wae geurae? Apa yang kau katakan tadi?” tanya Seo Jun. “aku hanya ingin mengajakmu pulang bersama. Bagaimana?” ulang Siwon. “sebenarnya aku tak ingin menolak. Namun aku ada janji dengan Mi Seok. Mungkin lain kali. Kalau begitu aku duluan Siwon –ssi. Annyeong.” Seo Jun memakai lagi headsetnya dan berlari menuju gerbang sekolah.

 

“biar kutebak, kau menghindari Choi Siwon.. lagi.” ujar Mi Seok yang melihat Seo Jun datang sambil berlari. “yeah, begitulah. namja itu tak bisa berhenti mengikutiku. Aku bisa gila. Siwon benar benar namja aneh.” , “hey, yang aneh itu siapa? Sepertinya ungkapan itu harus ditunjukkan untuk dirimu sendiri. yeoja gila mana yang menolak namja sesempurna Choi Siwon? Dan yeoja gila itu adalah kau. Aku mulai meragukan kenormalanmu Ahn Seo Jun.” Mi Seok meraba dahi Seo Jun. “YAK! Aku masih normal dan waras. Sudahlah, berhenti membahas ini. Kaja, kau bilang kita akan ke Anyang.” Seo Jun berdecak kesal. “aku lupa.. gara gara kau dan Choi Siwon, aku sampai lupa kalau kita akan ke Anyang. Yasudah, kaja.” Mi Seok menarik Seo Jun menuju vespanya.

 

Distrik Anyang, 05.13 PM

 

“kita sampai. Turunlah.” Vespa itu berhenti di depan sebuah rumah hanok. “sudah sampai rupanya. Rumah siapa ini? Untuk apa kita kemari?” tanya Seo Jun. “ini rumah temanku. Sebenarnya, belum bisa dibilang teman. Karena aku baru kenal dengannya minggu lalu melalu social media.” Jawab Mi Seok. “baru kenal seminggu? Lalu.. untuk apa kau mengajakku kemari?” , “ne.. sebenarnya, ini tentang kau. Kau ingat kejadian aneh yang kau alami beberapa bulan ini? Itu benar benar membuatku penasaran.” Jelas Mi Seok. “kejadian aneh? Maksudmu?” , “kau benar benar tak ingat? contohnya, saat kau belum mengerjakan PR dari Kang saem. Setelah Kang saem masuk ke kelas, dia sakit perut. Sehingga PRnya tak di kumpulkan hari itu.” Seo Jun memutar bola matanya, “itu hanya sebuah keberuntungan kau tau?” , “bukan hanya itu. Kau ingat saat Jung Hyo akan mengerjaimu di toilet? Jebakan itu malah mengenai dirinya sendiri. atau saat kau mencari buku di perpustakaan, buku itu muncul dengan sendirinya dihadapanmu padahal kau sudah mencarinya selama berjam jam dan tak menemukannya. Apa itu bukan hal aneh?” Seo Jun menggeleng, “semua itu hanya kebetulan. Sudahlah.. aku tak akan percaya dengan hal hal semacam itu. Lupakan ide bodohmu untuk berkonsultasi dengan temanmu ini.” Ujar Seo Jun. “huh.. aku yakin kau tak akan mempercaiku. Lebih baik kita masuk dulu dan semuanya akan menjadi jelas.” Mi Seok langsung menarik Seo Jun masuk kedalam rumah hanok itu.

 

Pintu terbuka. Tampaklah seorang yeoja berpakaian hanbok muncul dari balik pintu. “annyeong Seu Ka –ya.” Sapa Mi Seok. “ahh.. Mi Seok –ah. Kau rupanya. Masuklah.” Yeoja bernama Seu Ka itu mempersilahkan mereka masuk. “eumm.. annyeong.. Ahn Seo Jun imnida.” Seo Jun membungkukkan badannya. Seu Ka menatap Seo Jun dengan tatapan yang sukar diartikan. “Hwang Seu Ka imnida.” Seu Ka ikut membungkukka badannya. “ini dia, Seo Jun yang sering kuceritakan padamu.” Mi Seok merangkul Seo Jun. “oh… ne. Kau benar. Yeoja ini diikuti.” Ujar Seu Ka. Nadanya tak menunjukkan bahwa dia bermain main. Bulu kuduk Mi Seok meremang. “Seo Jun d.. diikuti? Maksudmu?” tanya Mi Seok. “ne, namja itu. Dia mengikuti Seo Jun sejak 3 bulan ini. Kurasa, dia menyukaimu nona Ahn.” Seu Ka menunjuk udara kosong yang berada tak jauh dari tempat Seo Jun berdiri. “apa kau bercanda?” Seo Jun merasa, apa yang barusan didengarnya adalah sebuah lelucon. “aniyo.. aku serius. Namja ini, benar benar menyukaimu.” , “heh.. menyukaiku? Apa kau sedang berbohong sekarang? bahkan aku meragukan kalau benar benar ada hantu namja yang mengikutiku.” Seo Jun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “bukan hantu. Tapi arwah.” Ralat Seu Ka. “apalah itu.. aku tak percaya. Apapun yang kau katakan, terdengar seperti omong kosong bagiku.” Ujar Seo Jun penuh penekanan. “Seo Jun –ah.. mianhae Seu Ka –ya. Aku yakin Seo Jun hanya sedikit shock mendengar dia diikuti arwah seorang namja.” Mi Seok meminta maaf pada yeoja di hadapannya. “gwaenchana.. setiap orang umumnya akan bertindak demikian setelah ada orang yang mengatakan bahwa dia diikuti. Seo Jun –ssi, semua terserah padamu. Kau mau percaya atau tidak. Yang jelas, akan ada saatnya dimana kau akan melihatnya sendiri.” Seu Ka tersenyum. “sudahlah.. semua yang kau katakan adalah omong kosong. Aku tak percaya setiap kata kata konyol yang keluar dari mulutmu. Mi Seok –ah, aku akan pulang. Kalau kau belum mau pulang, aku akan pulang sendiri.” Seo Jun mengambil tasnya dan keluar dari rumah hanok itu. “mianhae Seu Ka –ya. Dia memang seperti itu. Gomawo karena kau mau memberitahukan tentang namja yang mengikuti Seo Jun. Aku harus pergi. Annyeong.” Mi Seok berlari mengejar Seo Jun.

 

SKIP

 

“ayolah nae chingu –ya. Kau sudah marah padaku selama 2 minggu. Mianhae… aku janji tak akan mengulangi kesalahanku lagi. aku berjanji tak akan mengajakmu ke tempat sejenis itu lagi. jebal, maafkan aku Seo Jun –ah.” Mi Seok berusaha mengejar Seo Jun yang berjalan duluan. “yakso (janji)?” Seo Jun menghentikan langkahnya. “ne, yakso.” Mi Seok membuat V sign dengan jari telunjuk dan tengahnya.

 

Seo Jun mengoper bola basket di tangannya. Mi Seok menangkap bola itu dan dengan gesit memasukkannya kedalam ring. Seluruh team ber hi5 ria. “nice shoot.” Puji Seo Jun. “hehehe.. itu bukan apa apa. Kau juga hebat.” Mi Seok merasa salah tingkat dengan pujian itu. Permainan dimulai lagi. BRUK.. bola berwarna oranye itu mengenai kepala Seo Jun dengan sangat keras sebelum akhirnya memantul menuju sudut lapangan. “Seo Jun –ah.” Mi Seok dan Han songsaenim juga siswa lainnya menghampiri Seo Jun yang memegangi kepalanya. “gwaenchana?” tanya Geu Jong, seorang temannya. Seo Jun mengangguk. Mi Seok memapah Seo Jun menuju ruang kesehatan.

 

“kau tidurlah dulu. Aku akan kembali ke lapangan. Semoga kau cepat sembuh nae chingu –ya.” Mi Seok membaringkan Seo Jun di ranjang putih yang ada disana. Seo Jun mengangguk dan tersenyum. Dia memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi.

 

Seo Jun terbangun dari tidurnya. Dia memegangi kepalanya. Berusaha mengingat ingat apa yang dimimpikannya barusan. Tapi, percuma saja. Yeoja itu tak mengingat sedikitpun mimpinya. Dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Seorang namja tampan tengah tersenyum padanya. “euumm.. nuguya?” tanya Seo Jun. Dia samasekali tak merasa pernah mengenal namja itu. “kau bisa melihatku?” namja itu menunjuk dirinya sendiri. “kalau aku tak bisa melihatmu, mana mungkin aku bisa bicara denganmu, babo. Sebenarnya kau itu siapa?” tanya Seo Jun lagi. “naneun Lee Donghae imnida. Kau bisa memanggilku Donghae. Tapi, kau benar benar bisa melihatku?” Donghae mendekat kearah Seo Jun. “huh.. terserahlah.. apa kau penjaga UKS yang baru?” tanya Seo Jun. “penjaga UKS? Aniyo. Mungkin kau tak akan percaya, tapi.. aku sudah mati.” ujar Donghae. “sudah mati? heh.. jangan bercanda. Kalau kau sudah mati, lalu yang kulihat ini apa? Arwah?” Seo Jun memutar bola matanya. “ne, aku memang arwah.” Jawab Donghae. “hahaha.. leluconmu sangat tidak lucu. terserahlah, I don’t care. Sekarang, aku akan kembali ke kelas.” Seo Jun tertawa hambar dan mengibas ngibaskan tangannya tak perduli. Dia turun dari ranjang putih itu dan keluar dari ruang kesehatan.

 

Kelas XII-3,

 

Seo Jun duduk dibangkunya sambil mengisi sebuah TTS yang ia temukan di dalam bukunya. “apa yang sedang kau lakukan?” Seo Jun mendongak dan sedikit terlonjak begitu melihat namja yang bertemu dengannya di ruang kesehatan, sudah berada di hadapannya. “huh.. kau lagi. kau mengagetkanku. Aku sedang mengisi TTS ini.” Jawab Seo Jun. Donghae memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri, “apa kepalamu terbentur terlalu keras? Setauku, kau tak suka mengisi TTS..” ujar Donghae. “molla, aku hanya sedang ingin saja. Hey, bagaimana kau tau aku tak suka mengisi TTS? Kau fansku?” Seo Jun memicingkan matanya. “ne.. aku penggemarmu Ahn Seo Jun.” Donghae tersenyum lebar. “bagaimana kau tau namaku? Seingatku, aku belum pernah memberitaukan namaku padamu.” Kata Seo Jun. “tentu saja, karena aku…” , “SEO JUN –AH..” sebuah suara memotong perkataan Donghae.

 

Mi Seok masuk kedalam kelas diikuti dengan bau keringat yang menyeruak dari tubuhnya. “tadi, diluar kudengar kau bicara dengan seseorang. Nugu?” tanya Mi Seok sambil mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil. “Lee Donghae.” , “Lee Donghae? Aku tak pernah mendengar nama itu. Nuguya? Dimana orang itu sekarang?” , “Yak! Kau tak lihat? Dia sedang duduk didepanku. Kau tak bisa melihat namja sebesar ini? Apa kau rabun nona Park?” Seo Jun menunjuk bangku didepannya. “seharusnya aku yang bertanya, apa kau gila nona Ahn? Tak ada siapapun didepanmu. Disini hanya ada AKU dan KAU.” Mi Seok memberi penekanan pada kata kata terakhirnya. “huh.. kau pasti bercanda. Lihat, Donghae ada disini. Dia sedang menunjukkan cengiran bodohnya. See? Mana mungkin kau tak melihatnya.” Seo Jun terus menunjuk nunjuk Donghae yang sedang tersenyum. “sepertinya benturan di kepalamu terlalu keras. Aku tak menyangka, bermain basket bisa membuatmu jadi tak waras. Aku akan ganti baju dulu. Berhenti membicarakan yang aneh aneh. Aku pergi.” Mi Seok berlari keluar dari kelas.

 

“temanmu tak akan bisa melihatku.” Kata Donghae. “tak bisa melihatmu?” Donghae mengangguk dan tersenyum. “ne.. jadi, kau jangan heran jika dia bersikap seperti itu.” Ujar Donghae. Seo Jun teringat sesuatu,

 

 “… Yang jelas, akan ada saatnya dimana kau akan melihatnya sendiri.”

 

“jadi kau benar benar… arwah?” Donghae mengangguk. Seo Jun tertawa hambar, “hahaha.. aku pasti sudah gila. Apa aku bermimpi sekarang? siapapun tolong cubit aku.” , “Seo Jun –ah.. sadarlah.. Seo Jun –ah.” Donghae berusaha mengguncang tubuh Seo Jun, namun tak bisa karena Donghae bahkan tak bisa menyentuhnya. “aku rasa.. aku shock.” Seo Jun menelungkupkan kepalanya diatas meja.

 

“Seo Jun –ah, apa kau tertidur?” Donghae mendekatkan wajahnya di kepala Seo Jun. Seo Jun mengangkat kepalanya, “aniyo.. aku hanya berusaha menyimpulkan, apakah aku sedang bermimpi atau tidak. Ini terlalu… membingungkan.” Jawab Seo Jun. “lalu.. apa kesimpulanmu?” , “aku sedang bermimpi.” Donghae memutar bola matanya. Dia mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuknya ke kepala Seo Jun. Bersamaan dengan itu, sebual pulpen terlempar dan mengenai kepala yeoja itu. “YAK!” Seo Jun memegangi kepalanya. “sudah merasa kalau ini nyata?” tanya Donghae. Seo Jun hanya mengangguk angguk.

 

Skip, Kamar Seo Jun

 

“jadi.. kau yang membantuku saat di toilet, dan juga soal PRku dan juga buku di perpustakaan itu?” tanya Seo Jun. Saat ini, dia dan Donghae sedang berada di kamar Seo Jun. “ne.. begitulah. mungkin kau sudah mendengar ini dari yeoja Anyang itu (*baca: Seu Ka), tapi… aku menyukaimu. Sejak saat pertama kali aku melihatmu di pemakaman Mokpo 3 bulan lalu.” Ujar Donghae. Seo Jun terdiam. “gomawo, kau sudah banyak membantuku.” Kata Seo Jun setelah terdiam cukup lama. “cheonma.” Donghae tersenyum. “boleh aku bertanya sesuatu?” , “mwo?” , “kenapa kau bisa meninggal? Maksudku.. apa penyebabnya?” Donghae terdiam. “malapraktik. Setidaknya itu yang kuingat. Aku adalah penderita penyakit Ataxia. Aku sudah nyaris lumpuh total saat itu. Lalu, seingatku.. aku dioprasi. Dan entahlah.. sepertinya aku meninggal setelah operasi.” Jelas Donghae. “Ataxia? Hey, bukankah ataxia tak bisa disembuhkan? Bahkan dengan operasi sekalipun.” Seo Jun mendekat kearah Donghae yang tengah berbaring di kasur King size miliknya. “aku tak tau.” , “lalu.. keluargamu?” , “mungkin kau pernah tau tentang ini, tapi.. arwah yang lepas dari tubuhnya tak bisa mengingat 90% memori yang pernah diingatnya. Jadi, aku tak tau apapun tentang keluargaku, temanku, yeojachinguku, apapun itu. Aku tak tau.” Donghae menatap lurus langit langit kamar Seo Jun. “aku pernah membaca tentang itu, tapi.. sebelumnya aku tak percaya. Aku tak pernah percaya pada hal semacam itu. Setidaknya sebelum aku bertemu denganmu.” Donghae tersenyum, “jadi sekarang kau percaya? Tapi.. tak semua yang kau dapat dari buku ataupun internet adalah hal yang benar.” Ujar Donghae. “wow.. hebat. Apa kau bisa terbang? Menembus dinding?” Donghae tertawa, “mungkin saja. Hahaha..” mereka berdua tertawa bersama. “oh ya.. sebenarnya aku malas mengatakan ini, tapi.. aku rasa kau perlu tau. Esok, Choi Siwon akan menyatakan perasaannya padamu.” Mimik wajah Seo Jun berubah. “waeyo? Kau tak menyukainya?” Seo Jun menggeleng, “aniyo. Choi Siwon memang namja yang baik, dia tampan, tinggi, kapten Team basket dan ketua dewan murid, dia juga… namja yang manly. Tapi, entahlah. Aku tak menyukainya dalam arti lebih.” Donghae terkekeh, “lalu.. apa kau menyukaiku? Aku lebih tampan dari Choi Siwon. Aku juga bisa bermain basket.” , “cih.. dasar. Ya.. itu memang benar. Kuakui kau tampan, tapi.. sayangnya kau tak tersentuh.” Seo Jun berusaha menyentuh Donghae namun gagal. “hahaha.. sudahlah. Lebih baik sekarang kau tidur. Ini sudah malam.” Seo Jun berbaring di sebelah Donghae. “jalja~” Seo Jun memejamkan matanya.

 

Donghae dan Seo Jun semakin dekat. Mereka tak pernah mempermasalahkan dunia dan alam yang membedakan mereka. Donghae masih terus mengikuti kemanapun Seo Jun pergi, “apa kau tak bosan mengekoriku terus?” tanya Seo Jun. “memangnya kau punya ekor? aku baru tau. Dimana ekormu?” Donghae tertawa. “aisshh.. oppa.. aku serius.” Seo Jun mempout bibirnya. “geurae.. memangnya kau sudah bosan aku ada di dekatmu terus?” tanya Donghae. “bukan begitu. tapi, aku merasa risih diperhatikan oleh orang orang saat aku bicara denganmu. Mereka pasti mengira aku adalah orang gila yang bicara sendiri.” Seo Jun memainkan pulpen di tangannya. “kau tau kan aku mencintaimu? Aku tak bisa jauh darimu Seo Jun –ah. Jeongmal saranghae.” , “aku tau.. kau sudah sering mengatakannya padaku oppa. Huh.. sepertinya aku satu satunya yeoja di dunia ini yang selalu mendengar kata saranghae dari arwah gentayangan.” Ujar Seo Jun. “kenapa kau tak pernah mengatakan nado saranghae? Apa kau tak merasakan apa yang kurasakan?” raut wajah Donghae berubah sendu. Seo Jun terdiam. “sepertinya kau benar benar tak merasakan seperti yang kurasakan. Aku bisa mengerti. Yeoja waras mana yang mencintai arwah yang tak tersentuh?” Donghae berusaha tersenyum. “oppa..” panggil Seo Jun lirih. Dia merasa bersalah. “gwaenchana Jun –ah.. aku sudah menduga, ini akan terjadi. Aku pergi dulu. Kau baik baiklah disini eoh.” Donghae melayang meninggalkan Seo Jun yang terdiam di kamarnya. “paling juga, dia akan kembali lagi besok pagi.” Gumam Seo Jun kembali santai. Dia kembali melanjutkan mengerjakan PRnya.

 

ESOKNYA..

 

Seo Jun tak dapat menemukan Donghae dimana mana. “kemana namja itu? Apa dia benar benar pergi? DONGHAE OPPA.. NEO ODIEGA?” Seo Jun berjalan menyusuri tempat yang pernah dia datangi bersama Donghae. Namun, dia tak dapat menemukan arwah itu. Seo Jun mengerang frustasi. Dia merasa ada yang hilang dari dirinya.

 

Yeoja itu mengambil ponsel dari saku blazer yang dipakainya. Dia mengetikkan serentetan nomor, “yeobosseyo.. Mi Seok –ah, bisa antar aku ke pemakaman sekarang?.. ne, aku akan menunggumu di halte biasanya.. annyeong.” Seo Jun berjalan menuju halte. Dia menunggu Mi Seok. Mi Seok sudah tau mengenai Donghae. Beberapa hari ini, mereka sibuk mencari Donghae ke beberapa tempat. Nihil. Mereka tak menemukan apapun.

 

“kau yakin Donghae ada di pemakaman?” tanya Mi Seok begitu mereka sampai di kompleks pemakaman yang ada di daerah Mokpo. “tak begitu yakin, namun.. apa salahnya mencoba?” , “lucu sekali.. kita mencari ke semua tempat bahkan sampai jauh jauh ke Mokpo. Dan yang lebih lucunya lagi, kita mencari arwah yang bahkan aku tak tau seperti apa rupanya.” Mi Seok dan Seo Jun berjalan menyusuri makam makam yang ada disana. Mereka memeriksa satu persatu nisan yang ada di situ. “Mi Seok –ah.. kemarilah. Aku menemukannya.” Seo Jun memanggil Mi Seok. Dia menemukan sebuah gundukan tanah besar dengan sebuah batu marmer bertuliskan,

 

R.I.P

Yang tidur dengan damai, sedamai lautan Mokpo,

Lee Donghae

2013-05-06

 

Seo Jun memeluk nisan itu. “aku tak menyangka kau benar benar pergi meninggalkanku. Kukira kau akan kembali lagi, namun aku salah. Aku menyesal telah mengatakan hal itu tempo hari. Aku ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya aku sendiri tak percaya aku mengatakan ini. Tapi.. saranghae Lee Donghae oppa. Aku tau kau tak akan kembali. aku yakin kau telah ada di surga sekarang. maka, tunggulah aku.” Seo Jun menangis. “nado saranghae Seo Jun –ah.” Seo Jun mendengar ada yang berbisik di telinganya. Yeoja itu tersenyum.

 

END

 

13 Comments (+add yours?)

  1. DEWUNG
    Nov 04, 2013 @ 15:44:08

    mati bro.. 😥

    Reply

  2. rahmi18
    Nov 04, 2013 @ 15:49:50

    Penuh dengan fantasi.. daebaak..

    Reply

  3. fpa729897
    Nov 04, 2013 @ 15:55:16

    Ga tau mau komen apa
    Keep writing thor ……

    Reply

  4. NadzilaHenry
    Nov 04, 2013 @ 17:49:58

    Awalnya aku kira donghae oppa itu cuman sekedar koma aja, terus donghae sadar dan endingnya oppa jadian sama seo jun.
    Ehh ternyata si oppa udah meninggal… dan cuman arwah…
    Bagus kok thor… (y)

    Reply

  5. Mrs.Dimple
    Nov 04, 2013 @ 18:40:15

    Keren buangeeettt….

    Reply

  6. BYN
    Nov 04, 2013 @ 20:26:51

    huwaaa daebak

    Reply

  7. Reta
    Nov 05, 2013 @ 07:26:39

    Waaa… jeongmal daebak thor…., sampai-sampai nae ikut kehilangan (?)

    hahaha… tapi, tetep daebak kok thor… 🙂 🙂 🙂

    Reply

  8. KSMaMin
    Nov 05, 2013 @ 07:38:43

    hehehe.. jeongmal gomawo buat smua comment.a
    mian karena author gk bsa bales comment satu2 ky biasanya..
    sekali lagi JEONGMAL GOMAWO^^

    Reply

  9. Ira
    Nov 05, 2013 @ 09:59:25

    eyy, aq ngg nyngka kalo donghae bneran mati,,
    yahh, kasian seo jun deh ngg bsa barng sma donghae, smentara waktu.
    keep writing thor, d tnggu krya laennya,

    Reply

  10. AnnA
    Nov 05, 2013 @ 12:27:58

    bagus ceritanya 🙂 cuma sekedar saran, mungkin EYD nya lebih di betulin lagi.. biar keliatan lebih rapi lagi 🙂 keep writing!!!!

    Reply

  11. Flo
    Nov 05, 2013 @ 23:12:07

    yah kasihan amat mereka ga bisa bareng
    padahal seo junnya udah cinta juga..
    nice ff chingu..

    Reply

  12. yulia
    Nov 07, 2013 @ 15:31:11

    keren Thor…
    Klo arwahnya ganteng kaya Donghae ga bakal takut yaa…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: