[Special Post For Donghae’s Birthday] Her Eyes

Her eyes

Judul               : Her Eyes

Author             : Putri Nur Ratnasari

Main Casts      : Lee Donghae as Daniel Kim and Im Hyura (OC)

Genre              : Sad Romance

Rating             : Genre

A/N                 : “Happy Birthday Donghae of Super Junior! Keep shining like a superstar”

*~*~*

          Aku pernah bertemu dengan seorang pria

            Ia yang mengajariku bahwa aku dan dia sama

            Aku dan dia,

            adalah mahkluk ciptaan Tuhan

yang sama-sama disebut manusia

 

Aku dan dia sama-sama pernah mengalami

masa dimana kami terlihat rapuh

 

Tapi pria ini, tak ingin menunjukkannya

di tengah kegelapan pandangannya

Ia masih bisa melihat secerca cahaya

melalui sebuah cara yang berbeda

 

Ia yang mengajariku bahwa

cahaya yang lebih kemilau

Bukan dilihat dari matamu

tetapi dilihat dari hatimu

 

Dan disaat yang lain

aku menyadari bahwa

cahaya kemilau yang kulihat dari hatiku

adalah kau, Daniel Kim….

 

*~*~*

Hyura POV

 

Malam ini kuhabiskan waktu sempitku tuk berjalan di tepian sebuah sungai yang terlihat memukau karena pantulan cahaya lampu yang berada disekitarnya. Kututup kedua mataku sejenak seraya merasakan hembusan angin malam yang agak dingin namun tetap terasa damai. Tak beberapa lama, aku kembali membuka mataku dan tiba-tiba saja pandanganku terkunci pada sesosok pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Satu detik berlalu, pria itu dengan satu gerakan singkat menjatuhkan tubuhnya ke sungai itu.

“Hey! Kau!” pekikku panik lalu segera berlari menyusulnya. Tanpa pikir panjang, aku pun menjatuhkan tubuhku ke sungai dan menyelamatkan pria malang itu.

“Pegangan yang erat. Aku akan membawamu keatas,” ucapku berusaha tenang sembari menyelamatkannya. Ketika aku sudah menaikkannya ke tepian sungai, aku segera menempelkan daun telingaku di dadanya guna memeriksa detak jantungnya lalu memeriksa napasnya.

“Astaga! Apa yang harus aku lakukan?!” ucapku pada diri sendiri. “Tidak, tidak, aku tidak mungkin melakukan itu,” tambahku lagi. Kudekatkan jari telunjukku dibawah hidungnya, napas pria itu perlahan melemah, tidak ada waktu lagi. Akhirnya kudekatkan bibirku ke bibirnya lalu melakukan napas buatan diselingi menekan-nekan dadanya.

“Uhuk…uhuk—“

“Ah, syukurlah, kau sudah sadar.”

“Kenapa….kenapa kau menyelamatkanku?!” tanya pria itu dengan nada tinggi. Aneh, tatapannya memang mengarah kearahku namun terlihat kosong. “KENAPA HAH? KENAPA?” ulangnya lagi dengan penekanan yang lebih tajam dan suara memekik.

“Aku han—“

“Harusnya kau membiarkanku saja. Tidak perlu sok peduli atau mengasihaniku. Biarkan saja aku menggunakan nyawa pertama dan terakhirku ini sesuka hatiku.”

Pria ini, pria yang tak ingin dikasihani. Pria yang sepertinya terlihat tegar namun rapuh. Pria yang tak ingin kuselamatkan satu nyawa berharganya. Pria yang lebih menginginkan kematian menjemputnya daripada memanfaatkan waktu yang telah Tuhan berikan padanya. Pria misterius yang baru kutemui malam ini namun tak ingin kulupakan begitu saja.

“Namaku Im Hyura dan sebaiknya aku segera membawamu ke  rumah sakit,” ucapku lalu melepaskan jaket yang kukenakan dan memakaikannya pada pria misterius ini. “Ayo, kita harus cepat atau kau akan mati kedinginan,” tambahku lalu menarik tangannya lembut.

“Lepaskan!” tolaknya dengan nada lemah sembari melepaskan tanganku kasar. “Pergi. Tinggalkan aku sendiri,” tambahnya tanpa memandangku. Tak berapa lama, bahu pria itu naik turun tak menentu dan samar terdengar suara tangis yang tertahan. Kudekatkan diriku dengan ragu kearahnya lalu segera memeluknya.

“Menangislah jika itu bisa melegakan hatimu,” bisikku.

 

*~*~*

            “Jadi, namamu Daniel Kim?” ulangku lagi. Pria disampingku hanya mengangguk samar tanpa menoleh kearahku yang sudah sekitar satu jam ini masih setia duduk menemaninya di tepian sungai. Apa mungkin ia malu karena menangis di depan wanita? Entahlah.

“Rumahmu ada dimana? Aku bisa meng—“

“Panti Asuhan. Disana rumahku,” jawab Daniel singkat. Aku terdiam, entah apa yang terjadi tapi aku seperti merasakan aura kepedihan menjalar ke seluruh syaraf-syaraf tubuhku dari Daniel. “Kenapa diam?” tambahnya.

“Tidak, tidak apa-apa. Ayo, kuantarkan kau pulang ke rumah.”

 

*~*~*

            Dua hari berlalu sejak pertemuanku dengan Daniel malam itu namun entah mengapa rasanya seperti baru kemarin terjadi. Daniel membuatku membuka mataku bahwa pria yang terlihat tegar diluar juga ternyata bisa rapuh didalamnya. “Pria tidak selamanya kuat, bukan? Aku dan kau, pria dan wanita, kita sama-sama mahkluk ciptaan Tuhan bernama manusia, kan?” begitulah ucapan Daniel yang terus teringiang-ngiang di pikiranku.

 

*~*~*

“Daniel!” panggilku ceria ketika tiba di rumah—panti asuhan, tempat Daniel berada. Ia tersenyum padaku. Namun aneh, disaat orang-orang berlari menuju orang yang memanggilnya, Daniel justru terdiam di tempat seraya menatapku dengan tatapannya yang kosong.

Aku melangkah ragu mendekati Daniel hingga sesampainya aku dihadapannya, kulambaikan tanganku dihadapan wajahnya. Tak ada respon.

“Daniel?” panggilku.

“Iya, Hyura-sshi. Ada apa?” balasnya. Namun ia tak menatapku melainkan menatap kearah yang berlawanan. “Hyura, apa kau masih disana?” tanyanya lagi.

“Daniel, kau….apa kau….tidak dapat melihat?”

 

*~*~*

            Beberapa minggu berlalu dan lagi, untuk kesekian kalinya aku kembali terbangun pukul empat pagi ditengah tidurku yang lelap. Namun, saat aku terbangun sudah dipastikan aku tak dapat tertidur lagi jadi untuk mengisi waktu hingga mentari terbit, aku menulis beberapa puisi. Dua sampai tiga jam berlalu sangat lama dan pada akhirnya cahaya mentari muncul dari sela-sela tirai kamarku. Tiba-tiba aku merasa mual yang teramat sangat bersamaan dengan tubuhku yang terasa sangat lemas. Ketika aku hendak berjalan ke kamar mandi, kedua kakiku seperti mati rasa hingga tak ada yang bisa kulakukan selain jatuh terduduk diatas lantai kamarku yang dingin.

 

*~*~*

          Mataku terbuka dan seketika menyipit ketika melihat sebuah sinar yang menyilaukan dihadapanku. “Hyura…” panggil seseorang. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, yang bisa kulihat hanyalah wajah seseorang yang terlihat kabur.

“Ibu?” tanyaku ragu.

“Ya, ini ibu sayang. Kau akan baik-baik saja, ibu akan selalu ada disisimu,” jawab ibu seraya menggenggam tanganku erat.

“Kita ada dimana? Apa ini sudah waktunya?”

“Dokter bilang, operasimu harus dilaksanakan sekarang. Tak perlu khawatir karena kau pasti sel—“

“Ibu—“ potongku cepat. “Jika operasi ini gagal, bisakah ibu memberikan ini pada dokter?” tambahku sambil memberikan sebuah kertas kecil.

*~*~*

Daniel POV

 

“Aku akan membuka perbanmu sekarang. Ingat buka matamu perlahan-lahan saja,” bisik dokter Kim. Aku mengangguk pelan. Ia lalu segera membuka perban yang menutup mataku sejak beberapa hari ini dengan perlahan-lahan.

“Sekarang buka kedua matamu. Pelan-pelan saja,” ucapnya lagi. Aku mengangguk lagi. Aku pun membuka mataku satu persatu dengan sangat-sangat pelan hingga akhirnya bisa terbuka sepenuhnya. Aku menatap wajah dokter Kim yang tengah memasang senyum terkembang di wajah tuanya.

“Selamat datang di dunia yang penuh warna, Daniel Kim!”

 

*~*~*

“Permisi…” ucapku sambil mengetuk pintu sebuah rumah mungil di sudut jalan. Tak berapa lama, seorang wanita berusia lebih tua dariku membukakan pintu tersebut. “Permisi, aku Daniel Kim. Aku orang yang menerima donor mata dari seseorang yang tinggal di rumah ini. Dokter Kim memberikanku alamat rumah ini,” tambahku setelah membungkukkan sedikit badanku dan menunjukkan sebuah catatan kecil yang telah using.

Wanita itu tidak merespon apa-apa. Ia hanya memandang kedua bola mataku secara intens, tak lama matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata. “Melihatmu, memandang bola mata itu, seperti tengah menatap putriku. Aku merindukannya di setiap helaan nafasku.”

“Sebagai rasa terima kasihku, aku akan sering-sering datang kemari. Kuharap dengan begitu, rasa rindu pada putri Anda bisa terobati dan kuharap itu bisa membantu.”

“Tentu. Tentu, kau boleh kemari kapanpun. Terima kasih Daniel. Ah, sebaiknya kau segera masuk,” ajak wanita yang kini kupanggil Seo In Ahjumma. Aku mengangguk lalu mengikutinya memasuki kediaman mungilnya.

“Aku akan membuatkan minum sebentar. Duduklah disana,” ucapnya lalu menepuk pundakku pelan dan menghilang menuju dapur.

Aku mengedarkan pandanganku menyusuri setiap benda di ruangan ini hingga kedua mataku terkunci pada sebuah figura foto yang memajang sebuah foto seorang wanita tengah tertawa kecil berlatarkan sebuah taman bunga. Sosok gadis yang familiar untukku, Im Hyura.

 

THE END.

 

3 Comments (+add yours?)

  1. NadzilaHenry
    Nov 05, 2013 @ 19:21:45

    Feel nya kurang berasa thor…
    Tapi bahasanya bagus, mungkin akan lebih bagus lagi kalau dikasih ‘diksi’ …. Ide ceritanya juga menarik kok 🙂
    Keep Writting ya thor … 🙂 ^^

    Reply

  2. Flo
    Nov 05, 2013 @ 23:19:46

    jadi danielnya tw klo hyura yang donorin matanya?
    trus si hyura sakit apa thor?
    kurang greget nih thor..

    Reply

  3. ranimagination515
    Nov 06, 2013 @ 14:08:29

    Eumm~ kurang panjang, chingu. Dan terburu-buru

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: