[Special Post For Donghae’s Birthday] MY BOYFRIEND ????

my boyfriend

TITLE                         :.MY BOYFRIEND ????

Author                         :. NitaSparkyu (http://imajinasinita.wordpress.com/)

Main Cast                    : Kim Jae Ree (OC), Lee Donghae

Supporting cast           : Kim Doo Jin (OC)

Genre                          : Romance

Rating                         : Teen

Author note                 : Story yang terinspirasi dari segala macam DraKor yang melanglang buana di stasiun TV hehehe. Sekali lagi menang ga menang yg penting ikut ngerayain ultah Abang Mochi sama Om Ikan ^^

Happy reading ~

BRUAK!!!!

BRAK!!

Ya ampun suara apa lagi itu?!. Semenit yang lalu aku hampir saja jantungan karena mendengar suara balon yang meletus, dan sekarang?. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan dua makhluk hidup minim akal sehat itu di atas sana?.

BRUAK! BRAK!!

“YAAK!! KALIAN MAU KUBUNUH?! HAH?!”, aku terpaksa berteriak pada mereka yang entah bisa mendengarku atau tidak mau mendengarku sama sekali. Andaikan aku punya riwayat penyakit jantung akut, sudah kupastikan beberapa menit lagi akan ada berita mengenai kematian seorang yeoja polos tak bersalah akibat mendengar suara letusan balon dan suara berisik dari lantai atas di rumahnya sendiri.

Beberapa saat kemudian kudengar suara langkah seseorang yang berlari dan menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu. Kupejamkan mataku karena sudah tak tahan dengan suara berisik yang terus menerus mengganggu istirahat siangku. Well, aku memang sedang tiduran di sofa di depan TV yang beberapa menit lalu sudah kumatikan guna melepas lelah sehabis bekerja semalaman kemarin di studio foto tempat kerjaku.

“Noona, aku menemukannya!”,

Lagi-lagi…..bisakah hari ini saja aku dibuang ke manapun tanpa ada suara-suara itu? Apa mereka tidak tahu aku butuh istirahat total hari ini?.

“Noona…..!”,

Aku langsung bangun dari tidurku sambil melempar selimut ke sembarang tempat. Kutatap wajah dongsaengku yang begitu-ingin-aku-memakannya-hidup-hidup itu. Bagaimana bisa ia memasang wajah yang polos itu untuk membalas tatapan menyeramkan milikku saat ini?.

“Kau belum pernah merasakan kepalamu dijitak dengan tiang penyangga rumah ini?”, desisku.

“Noona, aku menemukannya”, kali ini namja berusia lima belas tahun yang ada di hadapanku sedang menyunggingkan senyum lebarnya sambil menunjukkan sebuah buku note kecil berwarna hitam padaku.

“Apa itu?”, walaupun rasa kesalku hampir mencapai puncak kepala, tetap saja rasa penasaran datang. Kurampas buku itu dan langsung kubuka.

“MWO??!!”, pekikku saat membaca tulisan yang tertera di dalam buku itu. Ya Tuhan, sepertinya aku ragu punya dongsaeng seperti dia. Kualihkan pandanganku ke arah dongsaengku, Doo Jin yang masih saja memandangku dengan mata polosnya. Anak ini salah ambil buku atau bagaimana?. Bisa-bisanya ia menemukan buku yang kukira tidak akan ada orang lain lagi yang bisa menemukannya, karena sudah tersimpan di tempat yang benar-benar tersembunyi.

“Darimana kau mendapatkan buku ini?!”, selidikku dengan nada sedikit membentak.

“Dari namja yang tinggi tubuhnya setara dengan anak SD, yang suka mengajakku bermain layaknya anak-anak berumur lima tahun”, selorohnya enteng dengan dagu yang ia tempelkan di sandaran sofaku.

“Siapa yang kau bicarakan itu? Lagipula buku ini tidak boleh dibaca oleh anak-anak”, ujarku ketus. Namja dengan tinggi tubuh setara anak SD? Yang suka mengajak dongsaengku bermain layaknya anak-anak berumur lima tahun?. Aku tersenyum simpul mendengar penjabaran Doo Jin tentang orang itu. Dongsaengku ini memang terlewat polos dan bicara apa adanya. Benarkah dia dongsaengku? Karena bila aku harus membuka silsilah keluarga yang panjangnya sama dengan panjang Sungai Han, aku tidak akan menemukan sifat blak-blakan di setiap anggota keluargaku. Mungkin saja sifat itu berasal dari keluarganya keluargaku yang memiliki keluarga lain dan mempunyai keluarga juga. Aaahh….lupakan.

“Aku memang tidak membacanya, tapi dia sendiri yang membacakannya untukku tadi”, celetuk Doo Jin.

Mataku langsung terbelalak sempurna. Apa ini?!

“MWO??!!”, langsung kututup buku itu dan kuletakkan di atas bantal sofa yang kutaruh di atas pahaku. “Sekarang panggil dia!”, bentakku.

Doo Jin melesat menaiki anak tangga ke lantai dua. Sedangkan aku yang ada di lantai dasar berulangkali mengipasi wajahku dengan tanganku. Kenapa  hawanya berubah panas seperti ini?. Hari ini rupanya benar-benar membuatku sangat emosi.

Setelah beberapa menit, kudengar suara kaki-kaki yang menuruni tangga. Walaupun tidak terlalu jelas, bisa kudengar salah satu dari mereka sedang bergumam ringan.

“Kau!”, aku langsung menunjuk wajah seorang namja berkacamata dengan frame hitam yang berdiri di hadapanku. Tangannya merangkul bahu Doo Jin. “Lepaskan tanganmu dari tubuh dongsaengku!”, perintahku padanya.

“Noonamu kenapa, Doo Jin-ah?”, tanyanya pada Doo Jin dengan nada suara yang terkesan terlalu ringan untuk menanggapi kemarahanku.

“Kim Doo Jin, naik ke kamarmu!”, bentakku pada Doo Jin.

“Yaa, Doo Jin-ah, sepertinya noona-mu sedang marah. Kau ke kamarmu dulu. Nanti kita lanjutkan”, kulihat Donghae berbisik pada Doo Jin. Halo, sepertinya berbisik-bisik tidak dengan suara sekeras itu.

Setelah mengangguk pada Donghae, Doo Jin berlari ke lantai dua, tempat kamarnya berada. Dan kini tinggalah aku dan Donghae.

Kutatap namja yang ada di hadapanku ini. Ternyata benar apa kata Doo Jin. Seorang namja dengan tinggi tubuh yang setara denga anak SD. Cih…untuk sekarang aku mengamini apa yang dikatakan dongsaengku itu.

“Kim Jae Ree, apa ada yang salah?”

Mwo?. Dia masih bisa bertanya apa ada yang salah?. Sepertinya salah satu dari kami harus dilempar ke Sungai Han sekarang juga. Yang jelas bukan aku. Dan itu berarti yang harus dilempar adalah dia, Lee Donghae. Namjachinguku yang baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Kurasa bila otakmu dideteksi menggunakan mesin pendeteksi otak, grafiknya akan menampilkan laju rumit yang sangat lambat seperti siput, Lee Donghae”, ucapku tanpa merubah posisiku.

Donghae terlihat bingung. Ia menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Apa aku harus bangga dengan itu?”, dia bercanda sambil merebut bantal yang ada di atas pahaku, kemudian memainkannya. Lihatlah dia. Apakah aku salah sudah menjadikannya pacarku selama hampir dua tahun ini?. Kukira dengan seiringnya waktu berjalan sifat mirip anak kecilnya akan hilang karena ia sudah mempunyai pacar. Tapi ternyata dugaanku semua salah total. Justru sifatnya meningkat drastis dengan seringnya ia bermain dengan Doo Jin.

Kutunjukkan buku note kecil yang tadi kurampas dari tangan Doo Jin padanya. Untuk beberapa detik ia hanya memandang buku itu tanpa berkata apa-apa. Ayolah, apa sekarang dia juga lupa dengan buku ini?. Jelas-jelas dia yang menyembunyikannya satu tahun yang lalu di rumah ini.

“Apa kau mengalami amnesia khusus hingga tidak mengenali buku ini?”, desisku. Tanpa kuduga ia merebut benda itu dari tanganku. Sebuah senyum polos terlihat di bibirnya. Dan sedetik kemudian ia hanya memandangku dengan wajah senang. Dia sudah tidak waras, lalu apakah dia juga tambah tidak waras lagi?.

“Aaah..buku ini. Memangnya apa yang salah dengan buku ini?”, tanyanya.

“Memang tidak ada yang salah dengan buku itu. Tapi yang menemukannya yang salah. Kau tahu, kau bersalah dalam dua hal sekaligus”, kataku.

“Oh ya? Apa saja?”. Tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dan reflek aku pun memundurkan tubuhku.

“Satu, kau sudah lancang mencari buku ini di atas sana hingga menjatuhkan perabotan rumahku. Aku yakin bila Eomma datang, ia akan menggantungku karena rumahnya sudah seperti kapal pecah. Dan yang kedua, kau membacakan buku ini pada Doo Jin yang jelas-jelas ia masih berumur lima belas tahun. Sebenarnya kemana akal sehatmu berlari?”, gerutuku panjang lebar.

Tak disangka-sangka ia justru tertawa keras setelah mendengar penjelasanku. Melihat tingkahnya membuatku menggaruk-garuk tengkukku sendiri. Bukankah di sini posisinya adalah aku yang sedang marah padanya dan ia harus memberikan penjelasan sejelas-jelasnya?.

“Donghae-ya!”, aku mencoba menghentikan tawanya.

Sejenak ia sudah berhenti tertawa, tapi masih saja terkekeh pelan sambil membuka lembar demi lembar buku itu dan seakan sedang membaca tulisan yang ada di dalam sana.

“Doo Jin juga akan membutuhkan buku ini nanti. Jadi apa salahnya bila aku membacakan untuknya?”, Dia masih saja bisa memberi alasan gilanya.

“Sepertinya aku akan merasa bersalah bila harus memberinya seorang kakak ipar nanti”, aku berdiri dan berjalan meninggalkannya menuju dapur. Memang perlu tenaga ekstra secara fisik dan batin bila harus berbicara dengannya. Aku sendiri bingung, kenapa aku mau-mau saja berpacaran dengannya selama ini.

Kuambil botol air mineral di dalam kulkas dan langsung kuteguk separuh bagian dari isinya. Saat kututup pintu kulkasku, mendadak aku menjerit karena tepat di sampingku sudah berdiri dirinya.

“OMO!”, pekikku.

“Heeii..kau akan menyesal atas apa yang baru saja kau katakan tadi”, ucapnya sambil merebut botol air mineral yang ada di tanganku dengan pelan.

Jujur saja, aku tidak bisa berbuat banyak karena jantungku memang belum bisa berdetak dengan normal karena kelakuannya yang mengejutkanku tadi. Perlahan namun kurasa benar-benar pasti, ia mendekatiku dengan wajah yang sulit kuartikan. Pikiran gilanya sedang kambuh lagi? Atau ia akan melakukan sesuatu yang pasti akan merugikanku?.

“Jae Ree-ssi…..”

Ya Tuhan…..panggilan itu meluncur dari mulutnya. Matilah aku!. Aku tidak mau kejadian tahun lalu terulang lagi. Dan parahnya lagi di tempat yang sama pula. Di dapur, di depan kulkas tercintaku.

Sebuah smirk aneh muncul di sana. Bersamaan dengan dirinya yang semakin dekat padaku. Oh tidak, aku terpojok di dinding dekat kulkas. Seseorang harus menolongku sekarang juga!.

Donghae sudah ada di hadapanku. Wajahnya pun sudah mulai memotong sedikit demi sedikit jarak di antara kami. Aku bisa merasakan hembusan napas yang keluar dari hidungnya yang menyeruak menerpa wajahku. Ini darurat.

Aku hanya bisa mengerjap-kerjapkan mataku ngeri. Bisa kurasakan dalam waktu kurang dari lima detik sebuah bencana besar akan segera terjadi.

Lima….

Empat…

Tiga….

Dua….

Satu….

PLETAK!

Baiklah. Aku sudah hapal dengan suara ini.

“Aarrghh….”, aku mengerang pelan dengan mata terpejam menahan sakit di dahiku bekas jitakannya. “Appo….”,keluhku.

“Siapa yang menyuruhmu mengatakan hal itu? Sudah tahu apa akibatnya masih saja menantang”.

Kubuka mataku perlahan dengan tetap menyipit karena rasa ini masih menjalar di setiap sisi dahiku. Senyum itu. Senyum bocah umur lima tahun yang selalu membuatku merasa melayang. Dan mata itu. Mata yang selalu memancarkan aura berbeda dan sulit kutebak hingga sekarang. Mungkin inikah yang sudah menjeratku selama hampir dua tahun ini?. Berarti aku memang bodoh. Tapi aku menyukai kebodohanku yang sudah mencintai namja bodoh seperti Lee Donghae.

“Aku tidak menantang! Aku hanya menegurmu karena kau sudah berani membacakan buku “Tips Mencium Yeoja di Bibir” pada anak yang baru berusia lima belas tahun!”, protesku.

Chu…..

Baiklah, aku berhenti bicara secara total untuk beberapa saat karena kudengar bunyi decakan tipis di dekat telingaku dimana bunyi itu berasal dari bibirku sendiri. Boleh kukatakan? Namja di depanku ini baru saja mengecup tipis dan secara kilat pada bibir mungilku.

“Anak itu bukan baru berusia lima belas tahun, tapi SUDAH berusia lima belas tahun”, balasnya setelah berhasil membuatku terhenyak sesaat.

“Tapi saat ini dia belum tepat mengerti itu semua!”, aku pun kembali memprotesnya.

Chu….

Oke, ini yang kedua kalinya. Dan ini mulai terasa menyebalkan.

“Saat ini memang belum tepat. Tapi NANTI dia akan mengerti. Aku hanya mengajarkan secara dini. Toh, anak kecil sekarang sudah banyak yang bisa berciuman”.

Tuan Lee dan Nyonya Lee,bolehkah aku menonjok wajah sempurna putra kalian yang amat sangat kurang ajar ini sekali saja sekarang juga?.

“Tapi aku tidak suka kau mengajarkan hal-hal gila pada dongsaengku!”, aku berteriak di depan wajahnya dan…..

Oh tidak!!!, Mendadak dalam hitungan kurang dari dua detik, aku merasakan sepasang tangan menarik tengkuk dan wajahku. Ini berbahaya karena aku ditarik ke depan. Lebih berbahaya lagi karena Donghae yang menarikku. Dan LEBIH BERBAHAYA LAGI……

Untuk hampir beberapa detik. Mungkin lebih dari sepuluh detik. Atau bahkan lebih dari itu, aku begitu sulit menarik sesuatu di dalam diriku yang sudah terasa mulai meninggalkan tubuhku dan mungkin akan melayang di atas sana. Ini cepat tapi memabukkan. Tidak kusangka aku kembali terjebak untuk yang kesekian kalinya. Dia. Namja itu. Lee Donghae. Sangat tahu kelemahanku. Dan aku tidak suka itu. Karena aku tahu aku pasti terlihat bodoh dan memalukan karena selalu menyerah atas apa yang ia lakukan padaku. Seperti sekarang ini. Di saat ia menciumku seperti ini.

“Tapi Noona-nya sangat menyukai hal-hal gila yang kulakukan padanya”, ucap Donghae setelah ia melepas tautan bibir kami.

Percayalah detik ini juga wajahku siap untuk disandingkan dengan tomat cherry yang berwarna merah di keranjang Ahjumma-ahjumma yang ada di pasar. Hal-hal gila? Apakah yang dia maksud dengan hal-hal gila adalah ciuman barusan?. Kurasa memang iya. Aku tidak mau munafik.

“Itu…..”. ini yang kubenci. Salah tingkah : dua kata yang paling aku benci untuk mendeskripsikan diriku.

“Ayo menikah”, sebuah kata yang sepertinya terdengar ingin mengajak makan siang terdengar oleh telingaku. Dan itu keluar dari mulut Donghae.

“Ne?”

“Ayo menikah, Kim Jae Ree”. Ekpresi mirip anak kecil kembali memenuhi wajahnya. Senyum lebar dengan mata yang mengerjap-ngerjap seakan dia baru saja kemasukan sesuatu di matanya, dan kepala yang digerakkan kesana kemari.

Kalau tidak salah…..aku mendengar kata menikah. Benar?.

“Ne?”

“Aku mengajakmu menikah”, Donghae memanyunkan bibirnya dengan wajah sedih karena aku mengulangi pertanyaanku dan sama sekali tidak merespon ucapannya.

Baiklah aku mendengarnya. Dia mengajakku menikah. Tapi kenapa dia mengatakannya seperti dia sedang mengajakku bermain sepeda atau petak umpet ya?.

APA?!. Aku langsung membelalakkan mataku lebar-lebar ketika aku menemukan arti dari kata ‘menikah’ setelah hampir beberapa detik otakku perlu membuka kamus bahasa tak kasat mata untuk mengartikan kata itu. Donghae sedang melamarku?!.

“Donghae-ya……”

“Dua tahun sudah cukup bagiku untuk menunggumu. Dua tahun sudah cukup bagiku untuk mengetahui dirimu. Hanya dua tahun sudah cukup bagiku untuk membulatkan niat menjadikanmu seseorang yang akan selalu ada di sini”, Donghae menunjuk kening dan dadanya. Sesaat kemudian ia melebarkan kedua lengannya. “Dan di sini”, dia tersenyum padaku.

Jantungku sudah tidak cukup normal untuk meladeni detakan yang semakin lama semakin cepat. Dia melamarku saat ini. Dan aku hanya berdiri mematung di hadapannya karena tidak tahu harus berkata apa-apa saking terharunya.

“Yaa…Jae Ree-ya, kau tidak mau berlari ke pelukanku?. Aku sudah bersikap romantis seperti ini, dan kau sama sekali tidak tersentuh?. Aku tahu kau bukan tipe orang yang romantis, tapi jangan bersikap seakan-akan kau adalah yeoja berpikiran lambat”, gerutu Donghae, tanpa menurunkan kedua tangannya.

“YAAK! KIM JAE REE, AKU SEDANG MELAMARMU!”. Teriaknya kesal karena aku sama sekali tidak merubah posisi berdiriku. Mati-matian aku menahan tawa melihat tingkahnya. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aku mendengarnya, Bodoh”, balasku seraya melipat kedua tanganku di depan dadaku.

“Lalu kenapa kau tidak memelukku?! Tanganku bisa kram kalau begini terus!”, dia menggerutu lagi.

“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?”, tanyaku polos.

“Aaiiishh….Jae Ree-ya, setidaknya kau harus menerimanya. Ini hari ulang tahunku. Jadi kau harus memberiku hadiah dengan cara menerima lamaranku” rajuknya lucu.

“Bukankah itu sama saja dengan pemaksaan? Bukankah seharusnya bila seorang namja melamar kekasihnya harus yang…….”

DHUAR!!!.

Aku dan Donghae hampir berteriak bersamaan saat mendengar suara balon meletus. Kutolehkan kepalaku ke arah pintu di dekat meja makan. Doo Jin?.

“Kukira di rumah ini hanya aku yang anak kecil. Tapi ternyata kalian berdua….”, anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “….Kalian mirip anak usia tujuh tahun yang bertengkar memperebutkan sebuah permen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalian saat sudah menikah dan punya anak”,lanjutnya.

“Apa…yang..yang sedang kau bicarakan, Doo Jin-ah? Bukankah bahasamu terlalu tua untuk anak seusiamu?”, elakku.

“Terima saja. Beres kan? Apa susahnya berkata “iya, Donghae-ya, aku menerimamu”? Dasar orang tua aneh”, kata Doo Jin seraya naik kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mengerlingkan matanya pada Donghae.

“Bukti aku bisa menjadi kakak ipar yang baik untuk Doo Jin sudah terlihat. Adikmu sebenarnya bisa bersikap dewasa dibanding Noona-nya yang cerewet dan seperti anak kecil”, ucap Donghae kembali memandangku.

“Lebih tepatnya kau sudah meracuni otaknya dengan koleksi kata-kata romantismu yang sangat memalukan”, bantahku seraya melangkah meninggalkannya.

GREB!.

Mendadak aku tersentak kembali ke tempat asalku berdiri dengan Donghae yang masih saja memandangku. Sebenarnya apa yang diinginkan bocah ini?.

“Tapi kata-kata romantisku yang memalukan itu selalu membuat Noona-nya tersipu malu”, ucap Donghae dengan bangga. Yaaaaa….itu memang benar. Tapi kenapa ia selalu bisa membalikkan kata-kata yang seharusnya membuatnya kalah telak di saat debat ini?.

“Kembali ke topik masalah kita”, katanya sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.

“Masalah?”, jawabku

Dengan irama mirip detak jarum jam, ia mengetuk-ngetuk dahiku menggunakan telunjuknya. “Tentu saja kita masih punya masalah. Dan ini harus diselesaikan sekarang juga”.

Aku mendengus pelan serya menyingkirkan telunjuknya dari dahiku. Sekarang masalah mana yang ia maksud?. Tentang buku itu? Tentang keberaniannya membacakan isi buku tersebut pada Doo Jin? Atau tentang ia melamarku?. MELAMARKU?. Aku baru ingat!.

“Masalah yang……mana?”. Jantungku, tanpa ijinku kembali berdetak cepat.

“Aku ini sedang melamarmu, Kim Jae Ree. Kalau kau tidak berbelit-belit seperti usus ayam, aku sudah bisa ke kamar mandi dari tadi. Apa kau tidak tahu aku ini sedang menahan buang air kecil”, gerutunya. Aku hanya mengangkat kedua alis mataku.

Sebenarnya aku memang menerima lamarannya. Tapi mengingat sifat namjachinguku ini yang suka bertingkah layaknya anak kecil, aku ingin mengerjainya dulu. Aku terkekeh dalam hati. Lihatlah betapa lucunya ia bila sudah mengerucutkan bibirnya seperti itu. Apakah ia belum sadar usianya sudah 28 tahun?. Ohya, hari ini memang ulang tahunnya.

“Kalau kau mau ke kamar mandi, silakan saja. Lebih cepat lebih baik daripada kau terkena penyakit ginjal”, ucapku enteng seraya berjalan menuju ruang keluarga dan duduk kembali ke atas sofa tercintaku.

Kudengar langkah kaki Donghae mengekoriku dari belakang.

“Shireo! Aku tidak mau ke kamar mandi!”, katanya seraya duduk di sampingku.

“Yaa, kau mau berakhir di rumah sakit nanti?!”, bentakku. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak menghiraukan bentakanku dan tetap memasang wajah kesal seperti itu?. Ya Tuhan, ini membuatku gemas.

“Lebih baik aku berakhir di rumah sakit daripada tidak berakhir di altar pernikahan bersamamu”, jawabnya. Jujur, ini yang membuatku terkesiap. Donghae memang seperti anak kecil, tapi kata-kata yang ia ucapkan selalu dari hati. Dan itu yang menyuruhku untuk mencintainya. Mencintai dirinya dan hatinya.

“Baiklah. Baiklah. Aku menerimamu. Aku menerima lamaranmu. Kita menikah. Sekarang kau harus ke kamar mandi. Ppali!”, aku mendorong tubuhnya agar segera berdiri.

“Kau menerimaku karena kau memang menerima lamaranku atau karena kau sedang mengelabuiku supaya aku ke kamar mandi?”

Aku menghela napas panjang. aku harus menggunakan bahasa apa lagi padanya?. Aku sudah cukup lelah berdebat tentang aku juga tidak tahu apa yang membuat kami berdebat gila seperti ini.

Mendadak sesuatu terasa melekat di jari manisku. Cincin?. Kudongakkan kepalaku pada Donghae yang ternyata sudah berdiri dan setengah berlari menuju belakang.

“YAAK, LEE DONGHAE, IGE MWOYA??”

“Untuk sementara biarkan itu di situ dulu!. Nanti akan kulanjutkan! Aku sudah tidak tahan buang air kecil lagi!”, dan segera suaranya menghilang di balik pintu kamar mandi.

Aku memandangi benda berwarna silver yang melingkar di jari manisku itu. Indah. Indah sekali. Tanpa kusadari air mataku menetes menghiasi wajahku. Dengan cepat kuseka air mataku dan tertawa pelan. Dua tahun. Akhirnya setelah dua tahun ia melamarku. Ini sungguh membuatku merasa sangat bahagia di hari yang bahagia juga baginya. Seharusnya di hari ulang tahunnya, aku yang harus memberi kejutan untuknya. Tapi kenapa justru ia yang mengejutkanku?.

“Gumawo, Donghae-ya”, aku memandang pintu kamar mandi. Walaupun hampir setiap hari ia selalu membuatku merasa sebal dengan kelakuan anehnya, tapi tetap aku tidak bisa mengelak bahwa ia yang kubutuhkan. Lee Donghae.

THE END

“maks.3000 kata” peringatan yang selalu pengen aku langgar, tetapi tetap tidak bisa

11 Comments (+add yours?)

  1. ziajung
    Nov 06, 2013 @ 18:42:00

    Wkwkwk sweet >.< nice!

    Reply

  2. Gaem
    Nov 06, 2013 @ 20:10:40

    keren ><

    Reply

  3. Nova susmala
    Nov 06, 2013 @ 20:46:08

    Maniiisssss..
    Semanis senyum polos donghae..
    Kkkkk..
    Nice ff thor, keep writing, fightiiiing..!!

    Reply

  4. Flo
    Nov 07, 2013 @ 02:35:42

    so sweet banget, kid couple ini XD

    Reply

  5. my mokpo
    Nov 07, 2013 @ 07:59:05

    Tuan Lee kau memang slalu bisa membuat orang terhanyut dengan kepolosanmu..
    Nice n sweet ff, semangat chingu 🙂

    Reply

  6. lestrina
    Nov 07, 2013 @ 08:18:52

    unik bgt cara ngelamarnya, sampe nahan ke toilet ahahaha… ceritanya bgs dech

    Reply

  7. smil3leery
    Nov 07, 2013 @ 11:38:31

    Lucu, manis, romantis.. Euumm apalagi yaaa?
    Pokoknya bacanya bisa bikin senyum-senyum sendiri.. ^^

    Reply

  8. Wiwik love Eunhyuk So Much
    Nov 07, 2013 @ 11:46:02

    Ga bs bayangin muka si ikan amis pas kebelet fifis,,,, imut bgt kali ya?? xixixixi…
    ceritanya lucu,,, berantem tp romantiz!!

    Reply

  9. kiki chan
    Nov 07, 2013 @ 14:44:52

    donghaenya lucu bgt. tp manis. aiiih.. 🙂

    Reply

  10. MisS~
    Nov 09, 2013 @ 23:23:18

    ini ff SO SWEET bangetttt!!!!!!
    donghae oppa emang kesohor romantisnya ya 😀
    authorr hebat cari inspirasi kata kata romantisnya 🙂

    Reply

  11. yulia
    Nov 12, 2013 @ 21:12:42

    Nice story… like it:)

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: