White Swan [2/?]

Nama : Anissa Anggina Putri

Judul Cerita : White Swan 2

Tag (tokoh/cast) : Lee Ji Eun, Lee Hyujaek, Lee Donghae, Suzy, etc…

Genre : Romance

Rating : 15+

Length : Chapter

***

Beberapa saat lalu…

Ji Eun menunduk kepala berkali-kali, ia minta maaf pada guru dan teman-teman sekelas atas keterlambatannya. Ia bergegas jalan ke tempat duduk. “Tumben kau terlambat…” Utar Suzy, gadis campur Cina dan Korea. Satu-satunya teman Korea buat Ji Eun saat ini. Ia mendongak ke arah temannya yang tengah buru-buru mengeluarkan pakaian balet. “Ketiduran ya?” Ji Eun hanya mengangguk, takut ketahuan dan dimarahi guru di depannya. “Neee…” “Pasti kamu kelelahan latihan di ruangan kan? Kau memang murid kesayangan seongsaengnim nih!” “Sssst! Pabbo!”

Buru-buru, Ji Eun berlari keluar kelas untuk mengganti baju. Terpikir ruangan toilet yang selalu menjadi tempat andalan di situasi darurat. Ia bergegas ke sana dengan kecepatan tinggi, sampai seorang lelaki berdiri tepat di ambang pintu. Sadar jarak antara kedua wajah sangat dekat. Ji Eun tidak bisa bernafas, ia tidak mampu bergerak sedikitpun. Tidak tahu harus mengambil langkah kemana. “Kamu lagi!” Sadar diajak bicara berbahasa Korea, Ji Eun baru ingat. Ini kan lelaki yang ia temui di gerbang gedung sekolah?! “Oppa?” “Jangan panggil aku oppa! Malu tahu!”

Ji Eun memandang sesaat kain pel dan ember berisi air setengah. “Lagi dihukum?” “Bukan urusanmu!” Ji Eun lompat melewati Eunhyuk dan mengamati lantai toilet secara seksama. Ia tersenyum kagum dan berbalik badan ke arahnya. “Oppa bersih sekali, pantas tiap kali aku ke sini lantainya berkaca-kaca.” Eunhyuk cuek mendengarnya, walau senang dipuji dengan kemampuan dalam membersihkan toilet ini. Bagaimana saja? Orang sudah menjadi hukuman biasa untuknya. “Gamsahabnida. Mau… masuk ke dalam?” “Mwo? Neee…” Ji Eun bergegas masuk ke salah satu ruangan toilet. Ia cepat-cepat mengenakan pakaian balet agar tidak ketinggalan latihan.

***

“Wae-yo?” Donghae sudah lama selesai membersihkan toilet pria yang baunya jauh lebih menyengat daripada toilet wanita. Beruntung Eunhyuk di sana pasti tercium bau parfum gadis-gadis. “Kau ngapain? Sudah selesai?” “Neee…” Jawab Eunhyuk. “Kajja.” Tidak lama kemudian, muncul Ji Eun dengan pakaian baletnya. Ia tidak mempedulikan sosok dua lelaki yang berjalan di depan memunggunginya dan langsung berlari kencang. Eunhyuk secara sekilas melihat punggung Ji Eun yang terlihat mulus. Tanpa cacat berupa jerawat dan bintik-bintik hitam di sana.

“Ayo!” Seru Donghae, mampu menyentakkan Eunhyuk dari lamunannya. “Kalo kita terlambat terlalu lama, nanti seongsaengnim akan murka.” Eunhyuk mengangguk, ia berlari di lorong bersama Donghae untuk masuk ke kelas. Begitu dibuka, ternyata kelas baru mau dimulai lantaran bel pertanda jam istirahat pertama sudah berbunyi. Mereka berdua sempat menghela nafas panjang sebelum diberi tatapan garang oleh pelatih. “Hai…” Sapa Eunhyuk dengan senyum ceria, ia berusaha mencairkan suasana beku namun tidak berhasil. “Kami ganti baju dulu ya.”

***

Ji Eun mengikuti gerakan balet dengan sungguh-sungguh dan berwajah serius. Kalo sudah begitu, dia tidak boleh diganggu. Suzy yang berdiri di sampingnya, tahu sejak ia pernah menjadi korbannya. Di balik wajah polosnya, ia menyembunyikan sisi lain yang akan mengejutkan orang-orang. Seperti biasa, pelatih wanita tersebut membetulkan pose tubuh Ji Eun. Ia tahu betul murid gadis ini masih kesulitan dalam gerakan yang membutuhkan kelunturan tubuh luar biasa. Dalam hati, Ji Eun memaki dirinya diperlakukan seperti anak kecil. Masa salah sedikit saja, dibetulkan oleh pelatihnya sendiri?

Berakibat ditertawai murid-murid perempuan lainnya. Mereka menuduh kenapa Ji Eun belum bisa menguasai pose-pose dasar tarian balet. Ji Eun diam saja, ia menahan amukan ke sudut hatinya. “Lanjutkan, ikuti aba-abaku!” Semakin waktu berjalan dengan gerakan-gerakan, semakin terkuras tenaga Ji Eun gunakan. Ia melajukan nafasnya keluar tenggorokan saat kelas dinyatakan selesai. “Itu memalukan.” “Gimana dia bisa masuk ke sekolah ini jika ia tidak punya kemampuan dasar?” “Jangan-jangan orang tuanya suap pihak sekolah pakai uang?”

Tidak tahan dengan tuduhan-tuduhan omong kosong, Ji Eun hendak membela diri sendiri dan mengatakan ia berhasil masuk dengan keringatnya sendiri. Terkejutnya, Suzy yang tidak terlalu kenal sama dia berdiri di belakangnya. Wajahnya sudah siap bertempur melawan beberapa murid yang berpikiran buruk tentang teman Koreanya. “Kalian kurang ajar ya! Nuduh temanku yang tidak-tidak!” “Gimana kau bisa yakin? Orang dia payah sekali, kami semua tidak percaya dia bisa masuk ke sekolah ini!” “Ji Eun murni lolos ujian masuk dengan tenaganya sendiri! Tanya saja ke kepala sekolah kalo tidak percaya!”

“Bilang saja kau bohong terus sok bela-belain dia. Jamin deh begitu ujian masuk dimulai, dia sudah tegang terus pingsan!” “HAHAHAHA!” Suzy mendengus, ia melempar sepatu balet secara asal ke arahnya. Kena wajahnya secara langsung, semua syok. Tidak menduga gadis campuran Cina dan Korea satu ini berani memulai aksi kekerasan. Hasilnya, dia terpancing dan segera merusak wajah Suzy yang tanpa cacat. Tidak ada niat melawan, Suzy menarik lengan Ji Eun yang takjub pada keberaniannya. Keluar ruangan latihan, mereka pergi menuju atap gedung yang bisa memperlihatkan keindahan seluruh kota Paris.

Beruntung cuaca sedang baik dan tidak ada tanda-tanda akan muncul awan mendung. “Gomawo sudah bantu dan belain aku.” Ucap Ji Eun sambil membungkukkan badan. “Aku tidak pantas jadi orang yang dilindungi sama kamu.” “Santai saja kali. Aku masuk ke sini juga dapat nilai pas-pasan, sama seperti kamu. Kita sama-sama cuma punya motto untuk bertahan di sini. Tidak usah dimasukkin ke dalam hati.” Arah pandangan kedua gadis ini berganti ke perkotaan Paris yang terlihat super mini. Hembus angin menggerakan beberapa helai rambut, menerpa wajah yang nampak lelah.

Beginilah kebiasaan mereka tiap kali berduaan dan menghabiskan waktu bersama setelah menghadapi situasi tidak mengenakan. “Tapi… tidak bohong kan kalo kadang-kadang kau mau bergabung sama mereka? Sesekali jadi bagian dari kelompok berbakat.” Suzy tersenyum geli, merasa ia meremehkan kebaikannya yang ia perlihatkan. “Gimana bisa? Orang sudah ketahuan kita berdua sama-sama payah.” “Benar juga kamu… oh iya, tadi waktu nunggu gerbang dibuka, aku ketemu orang Korea asli loh.” “Jeongmal?!” Teriak Suzy penuh semangat. “Perempuan atau laki-laki?” “Dua murid lelaki. Tapi, tampaknya mereka tukang pembuat masalah.”

“Ya… bagus dong, setidaknya kita tambah dua teman.” “Neee… memang mereka terlihat mengasyikkan.” Menghiraukan urusan perut, mereka kelaparan. Bingung makan apa di waktu sempit ini. Diputuskan mereka akan makan ayam panggang pakai kentang rebus. Ji Eun tidak pernah makan makanan berminyak, tidak takut akan mendapat kalori lemak dan bertambah gemuk. Ia malah senang memesan menu makan siang yang paling dimusuhi gadis-gadis di sekolah ini. “Bagi kalian yang takut makan makanan seperti ini, berarti kalian cuma pikirkan penampilan fisik.” Ancam Suzy ketika pernah sekali dituduh diracuni gaya makanan Ji Eun.

“Kalo dimakan sesekali, tidak akan nambah berat badan kok.” Dan sejak itu, murid-murid lain tidak mempedulikan mereka berdua. Toh, dinilai mereka aneh dalam arti bersekolah di tempat terkenal yang harus memproritaskan penampilan secara fisik dan peraturan herbal itu diabaikan mereka. Kalo boleh ditebak, mereka bagaikan dua alien tengah berusaha adaptasi di dunia barunya. “Lihat!” Teriak salah satu murid di kursi meja seberang Suzy dan Ji Eun. Begitu ditengok, mereka kaget melihat dua lelaki yang tidak asing di mata Ji Eun sejak sudah bertemu dua kali.

Suzy tertawa geli, bisa menebak siapa yang mereka tunjuk. “Yuk! Kita kerjain mereka! Bikin sampah sebanyak-banyaknya!” Dalam waktu sedikit, cepat-cepat hampir semua murid asyik menjatuhkan semua bekas makanan yang bisa mereka temukan. Kulit pisang, kotak susu kecil dan tulang-tulang daging dari sisa makan siang. Ji Eun iba dan tergerak hatinya untuk membantu mereka. Suzy menyusul mereka semenjak sudah tahu jelas apa yang akan dilakukan teman dekatnya. “Hei! Berhenti kalian! Kalian semua berhenti!” Teriak Ji Eun keras-keras, melenyapkan keramaian kantin dalam sekejap.

“Dia lagi!” “Pengganggu! Dasar tukang suap!” “Sana pergi latihan daripada jadi pahlawan!” Ji Eun berdiri merentangkan kedua tangannya. Ia tidak peduli dilempar sisa makanan yang buat dia terlihat seperti sampah. Yang penting ia bisa menolong dua lelaki yang tengah kesulitan dan akan menjadi bahan tawa mereka. “Kalo kalian terus begini, kalian akan kulaporkan ke pihak sekolah bahkan ke kepala sekolah! Aku tidak takut!” Satu lelaki yang tengah tertunduk, mengangkat kepala. Seakan-akan tidak percaya dirinya seperti ini dibela gadis seperti dia. Demi Tuhan, masih ada gadis yang bermurah hati tanpa melihat kulitnya saja?

“Ada apa ini?” Tanya pelatih yang tadi mengajar di ruangan latihan Ji Eun dan Suzy. “Ji Eun, katakan apa yang terjadi.” “Miss, mereka berniat ngerjain dua murid ini dengan sengaja buang sampah sembarangan!” Adu Suzy langsung. “Bukannya itu perbuatan tidak terpuji sebagai murid di sini?” “Benar sekali kamu.” Potong pelatih, meski dari luar tidak kelihatan ia memasang ekspresi paling mengerikan ke semua murid di depannya. Mereka langsung merinding dan tidak terkutik menghadapi salah satu guru paling killer di sekolah. “Berani-beraninya kalian berbuat jahat di sekolah ini. Apa jadinya kalian begitu terjun ke dunia luar yang puluhan kali lipat lebih kejam daripada ini?”

Semua terutama Suzy dan Ji Eun menunduk kepala demi menunjukkan sikap sopan mereka. Tidak berani memotong perkataannya. “Kalian semua, bersihkan semua sampah-sampah ini sampai bersih! Aku tidak mau ini terulang lagi!” Guru tersebut memandang dua lelaki yang hampir menjadi korban tawa murid-murid, ia mendesah tahu siapa yang ia temui. “Kalian berdua, ikut aku.” Dua lelaki tersebut membungkuk badan sembilan puluh derajat ke Suzy dan Ji Eun sebelum menyusul sang guru dari belakang. Begitu dipastikan sudah menghilang, Suzy melirik Ji Eun dengan penasaran. “Itu mereka?” “Nee… itu mereka.”

***

Eunhyuk dan Donghae baru keluar dari ruangan guru setelah diberi nasihat panjang. Selain sudah dijuluki pembuat masalah dan keributan, mereka juga diingatkan bahwa minggu depan akan diadakan ujian dan harus latihan keras. Tidak tahu mereka sudah latihan keras lebih dari mereka bayangkan. “Apa kata mereka?” Eunhyuk mendongak dan melihat gadis yang sudah dua kali ia temui. “Ani, tidak ada yang serius kok.” Donghae mengarah ke Ji Eun dan sedikit membungkuk badan sebagai tanda terima kasih sudah membelanya. “Gamsahabnida.” “Tidak usah! Itu sudah jadi kewajibanku buat nolong orang!” Ji Eun bersikap kaku, tidak biasanya ia diperlakukan sesopan ini.

“Hari ini kau pahlawan kami, kami akan jadi korban tawa mereka jika bukan kamu. Iya kan, Eunhyuk-ah?” Eunhyuk malah sibuk memandang Suzy, memuji kecantikannya yang tampak tidak ada tanda-tanda bekas operasi plastik. Sampai dipukul keras ke pundak oleh Donghae. “Yaaa! Tidak pernah lihat gadis cantik apa?!” Protes sahabatnya. “Aku Cuma lihat dia, tidak boleh?” Suzy tertawa geli, berbeda dengan sikap cuek Ji Eun yang menanggapi lelaki bergaya rambut berdiri satu ini punya sikap playboy terpendam. Jadinya, Suzy harus diawasi biar tidak dekat-dekat sama dia

“Kenalan. Namaku Lee Donghae, dan dia Eunhyuk, padahal nama sebenarnya Lee Hyukjae…” Canda Donghae, langsung dipukul sebagai peringatan untuk tidak lanjut berbicara. “Namamu Eunhyuk tapi sebenarnya Lee Hyukjae…?” Gumam Suzy, bingung harus memanggil sosok lelaki berambut pirang ini apa. “Eunhyuk adalah nama panggungku ketika masih suka street dance. Ketika sudah berusia lima belas tahun, aku tidak sengaja lihat balerina-balerina latihan di suatu tempat jadinya…” Dengan entengnya, Eunhyuk mengangkat kedua pundaknya. “Aku langsung belajar tarian balet mati-matian.”

Ji Eun menatap lebar lengan Eunhyuk yang berotot, memang mantan seorang penari. Ia menebak pasti sulit baginya mengganti tarian yang sudah mendarah daging ke tarian anggun ini. “Kamu…” Panggil Eunhyuk, membangunkan Ji Eun dari lamunannya. “Neee?” “Namaku siapa?” “Oh… Ji Eun, Lee Ji Eun-ssi. Dan ini Suzy, teman sekelasku. Campuran Korea dan Cina.” Mereka berempat saling berjabat tangan. Eunhyuk langsung tersenyum lebar begitu menatap lebar Suzy yang sangat cantik. Donghae hendak protes sebelum dibisik Ji Eun, dikatakan sesuatu yang bikin dia tertawa geli.

“Dia bukan tipe lelakinya. Yakin dia akan patah hati karena ditolak habis-habisan sama dia.” Ji Eun mengatakan demikian karena sekedar menebak. Ia tahu siapa dan seperti apa kriteria pacarnya Suzy. Yang pasti, bertolak belakang dari sosok Eunhyuk. “Gimana kami panggil kalian? Oppa saja?” Tanya Suzy tiba-tiba. “Selain Ji Eun-ssi, aku tidak punya siapa-siapa di sekolah. Apalagi sosok kakak lelaki yang bisa lindungi kami.” Kalo hanya Ji Eun yang minta, dia pasti sudah menolaknya mati-matian. Dan demi Suzy, dia rela dipanggil oppa, sebutan yang tidak pantas didengar orang seumuran sama dia. “Dengan senang hati.” Ji Eun mendesis, tidak percaya Eunhyuk berhasil menggoda Suzy. Donghae hanya menggeleng kepala, tidak bisa memahami isi pikiran sahabatnya.

-TBC-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: