Silent [1/?]

silent1333

Silent (1)

Author : R.A

Cast : Lee Donghae

Lee Hyukjae

Cho Kyuhyun

Kim Hana (OC)

Genre : Romance, family, friendship

Rate : PG-15

***

Haloha…

Hm, Oktober 2012 lalu disini ada event buat meramaikan ultah Donghae. Aku ikut dengan mengirimkan FF berjudul ’silent’. Alhamdulilah jadi pemenang kedua. Nah, ini adalah versi panjangnya. Ini sudah melalui banyak perubahan. Jadi, adakah yang berminat baca? Bagi-bagi kritik dan sarannya, ya.

***

Klik

Pria berkacamata itu mematikan laptop. Menutupnya dengan kasar lalu berputar-putar seperti anak kecil dengan kursinya. Berkali-kali ia mendesah berat atau membuang nafas panjang. Kadang  meniup helaian rambutnya yang  sudah  melewati mata.

“Bodoh!” umpatnya pada diri sendiri. Ia berputar-putar lagi dikursi dengan cepat sampai ketinggian kursi itu semakin kecil dan berhenti saat sudah mencapai bagian terbawah.

“Argh, kenapa aku harus masuk ke jurusan gila ini?” umpatnya lagi dengan kalimat yang sama yang kerap ia ucapkan dengan marah belakangan ini. Dan itupun disebabkan oleh hal yang sama.

Donghae, sapaan akrab pria itu, melepas kacamata minusnya lalu memejamkan mata sejenak, melanjutkan aksi meniup-niup helaian rambutnya disekitar dahi.

Grrrrrkkkk….ggrrrkkk…

Jangan tanya itu suara apa. Itu adalah suara paling ‘indah’ saat ini yang diproduksi melalui mulut dan tenggorokan Lee Hyukjae. Tak adakah suara dengkuran yang sedikit merdu? Kesal, ia lempar bantalan kursi di dekatnya lalu melemparnya ke wajah Hyukjae.

Bukkk

“Hm, Yunji, kau menciumku?”

Donghae bangkit. Sepertinya ada hiburan dadakan. Segera ia lempar kembali bantal dan kali ini dengan tenaga berlipat.

BUGGGG

“Suli, kau juga menciumku?”

Tanpa mendengarkan lebih lengkap apa yang diracaukan Hyukjae, Donghae bangkit dari kursi, memasukan laptop kreditannya itu ke dalam tas lalu cepat-cepat keluar. Rencananya untuk menginap disini batal. Tidak ada gunanya. Harusnya Hyukjae saat ini sedang membantunya mengerjakan tugas, bukan tidur lalu mengigau macam-macam. Lebih baik ia pulang, langsung tidur dan lihat apa yang akan terjadi besok. Apakah dewi fortuna masih menaunginya atau tidak.

Tanpa berpamitan dengan sipemilik rumah, ia segera pergi dengan mengayuh sepeda yang tadi diparkir sembarangan. Donghae mengayuh dengan cepat. Bukan karena merasa perlu mengejar sesuatu, melainkan terbawa suasana tidak bersahabat di otaknya. Angka-angka pada tabel  tadi berteriak memanggil-manggilnya seakan-akan mereka tidak rela diabaikan begitu saja. Errrr…sekencang apapun teriakan itu, Donghae tidak berminat untuk lanjut menyelesaikannya. Masa bodoh!

Ckitttt

Donghae mengerem mendadak. Ia sudah tiba di depan gerbang kampusnya yang tinggi menjulang. Dan ia baru sadar kalau di malam hari begini, pemandangan kampusnya tampak menyeramkan. Bahkan dari gerbangnya pun terlihat seperti pintu besar menuju wahana rumah hantu. Tapi bukan itu yang alasan ia berhenti disini. Yang membuatnya penasaran adalah kenapa gerbang masih terbuka?

Ia melihat jam pada ponselnya yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Setahu Donghae, Hyukjae adalah yang paling akhir pulang dan itu dua jam yang lalu. Dari jauh ia melihat petugas keamanan yang biasa berjaga berjalan mendekatinya dengan senter ditangan.

“Donghae?”

Donghae menutupi pandangannya dari sorotan senter.

“Iya, ini aku!”

“Ah, sebaiknya kau menemaniku disini. Sejak tadi aku menunggu gadis itu berlatih, lama sekali,” keluh pria berpostur tinggi tegap itu. Donghae memarkir sepedanya ke tembok lalu mendekatinya, “Memangnya masih ada yang berlatih? Bukannya Hyukjae yang terakhir pulang?”

Pria itu menggeleng, “Ada satu lagi yang dua hari ini selalu pulang paling akhir. Katanya lebih tenang disaat sendiri, tidak ada siapapun. Aiss, tapi sangat merepotkan. Aku ingin cepat-cepat pulang,” gerutunya.

Donghae melirik ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari posisinya berdiri. Samar-samar ia dapat melihat seseorang memasuki mobil itu, karena minim pencahayaan ia tidak mengenali wajahnya. Tapi sekalipun ada cahaya, ia tak yakin mengenalinya. Perbandingan antara orang yang ia hapal wajahnya dengan yang tidak adalah 20:100 dikampus ini.

“Sepertinya dia sudah mau pulang.”

Pria dengan senter ditangan itu melihat ke arah suara mobil dan ia nampak lega seraya mengelus dada, “Akhirnya.”

Donghae tersenyum lalu menarik sepedanya dan siap untuk pulang. Tapi belum sempat ia mengayuh, ia mendengar suara dari si pengendara mobil, “Jangan bosan-bosan menemaniku! Aku akan sering-sering merepotkanmu.”

Donghae menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang barusan berkata dengan kurang sopan itu pada satpam. Maksudnya, Donghae adalah penjunjung tinggi norma – norma kesopanan dalam hal berkomunikasi pada orang yang lebih tua. Siapapun itu, sekalipun hanya seorang petugas keamanan, tetap harus di hormati.

Mobil itu melintas pelan disamping Donghae dan sepedanya. Kaca mobil tertutup tepat saat Donghae sudah dalam jarak yang cukup dekat untuk melihat wajah itu.

“Donghae!” Ia mengalihkan pandangan dari mobil yang mulai menjauh itu ke belakang dimana si petugas keamanan memanggilnya, “Iya?”

“Kau belum pulang? Atau masih mau menemaniku?” Donghae tersenyum lalu tanpa basa basi melajukan sepedanya cukup cepat. Ia ingin berlomba dengan waktu. Ia ingin merefresh otaknya yang dikuras sepanjang hari ini. Maka sekarang ia bersepeda sangat kencang dan membiarkan rambutnya terbang tertiup angin.

Donghae sudah mendekati kawasan rumah kontrakannya yang selalu sepi. Karena tidak ada kendaraan lain yang terlihat dan tentu saja karena ia sudah hapal jalur macam apa yang dilewati, Donghae tambah lagi kecepatan lalu perlahan melepas kedua tangannya. Ia memejamkan mata, merentangkan kedua tangan merasakan angin makin kuat menembus kaos dan kulitnya. Inilah yang ia cari. Kebebasan, kebebasan dan hanya kebebasan.

***

Di pinggir jalan, tepat didepan sebuah bangunan seperti toko kue, mobil mewah berwarna merah berhenti. Si pengendara mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berdering dan mengganggu konsentrasinya menyetir.

“Hallo,” Dia, alias gadis dengan rambut panjang dan bergelombang itu menerima telepon dengan malas. Terlebih begitu mendengar suara cempreng diseberang sana, “Kau membuatku harus memarkirkan mobil ke tepi, buang-buang waktu.”

Terdengar suara terkekeh keras disana, “Haha…Kau yang payah, menaruh ponsel ditelinga dengan satu atau kedua tangan berada di stir tidak bisa? Atau kau bersiap dengan headset ditelinga, gampang kan?”

“Lalu membuatku menabrak pagar rumah seseorang lagi? Atau nyaris membuat seorang nenek jantungan?” gadis itu mendelik kesal, seseorang yang menelponnya terus saja tertawa.

“Jika aku punya waktu aku akan mengajarimu mengendara lebih baik lagi. Aku juga tidak tega dengan mobilmu yang kerap keluar masuk bengkel.”

“Oke, cukup! Katakan ada apa?” gadis itu sudah habis kesabaran untuk meladeni ocehan sahabatnya.

“Aku sudah didepan pintu rumahmu, aku ingin menginap.”

Gadis itu menautkan alisnya, jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk stir mobil,”Tiba-tiba sekali. Ada apa?”

“Hanya ingin menginap. Salah?”

“Tidak ada angin tidak ada hujan, aneh.” Ia kini menyisir daerah dimana mobilnya terparkir. Semuanya begitu sepi, tidak ada toko yang buka, tidak ada aktifitas. Seperti kawasan tidak berpenghuni. Padahal ini belum masuk tengah malam. Apa ia salah jalan?

“Jelas akan ada angin topan yang sangat besar besok jika kau tidak segera pulang.” Segera pikirannya teralihkan. Ia paham sekarang.

“Kau belum mengerjakannya? Astaga…”

“Aku sedang tidak butuh khotbahmu! Sekarang cepat pulang!”

Tut tut..

Gadis yang hanya memakai kaos singlet dengan keringat disekujur tubuhnya itu menatap ponsel dengan kesal. Ia lempar ponselnya sembarangan di kursi belakang dan bersiap menyalakan mobil kembali. Namun, niatnya tertunda saat dari kaca spion menemukan pemandangan menarik. Dari kejauhan terlihat seseorang mengendarai sepeda dengan…….maksudnya…tanpa memegang stang! Mata coklatnya melebar tanda terkejut, si pengendara sepeda itu ternyata tengah memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya. Gadis itu masih memperhatikan sipengguna sepeda dengan seksama, termasuk saat melintas disampingnya. Ia sembulkan kepala keluar  melihat pria itu dari belakang, tapi detik berikutnya ia hanya mengangkat bahu.

“Dasar orang aneh.”

****

Donghae melempar tasnya diatas meja. Menatap kesal ke arah salah satu sahabatnya yang masuk dengan santai. Pria yang ditatap tajam oleh Donghae itu kini duduk di kursi tanda acuh. Terlihat memasang earphone dan membuka buku tebalnya.

“Kau tidak berubah pikiran, Kyu?” Donghae mendekat dan menghilangkan amarahnya demi mendapatkan bantuan Kyuhyun, pria yang selalu cuek itu. Meski sudah menggunakan jurus berupa wajah semelas mungkin, yang diajak bicara tidak gentar, tetap pada posisi nyamannya, duduk dengan satu kaki di atas meja sambil mendengarkan musik dan membaca buku.

Donghae menyerah. Ia kembali ke tempat duduknya sambil menyiapkan diri untuk  menerima resiko. Dan belum sempat ia menyelesaikan satu tarikan nafas, dosen ‘baik hati’ yang paling diantisipasinya memasuki kelas.

Kyuhyun nampak menurunkan kakinya, melepas earphone dan siap dengan tugasnya ditangan. Donghae menelan ludah begitu dosen tersebut berdehem, mengucap salam dan tanpa basa basi langsung menanyakan tugas yang ia berikan dua minggu lalu. Harapan Donghae agar dosen itu mendadak amnesia sirna sudah.

“Siang nanti, harap semua tugas sudah ada dimeja saya.”

Donghae hanya mendesah berat. Sekilas ia melirik Kyuhyun yang tersenyum padanya. Argh!

“Kau tega, Kyu.”

Mereka sudah berada di kantin dimana Donghae terus berkata bahwa sahabatnya yang tinggi itu tega, tega dan tega. Kyuhyun tidak perduli dan menikmati minumannya seolah tidak ada suara apapun disekitarnya.

“Ini bayarannya atas ketidak seriusanmu,” ujar Kyuhyun yang sudah menghabiskan satu botol minuman, “Aku menunggumu hingga larut tapi kau bahkan tidak menghubungiku.”

“Kau tahu alasanku,” Donghae membela diri,”Aku tidak punya waktu, Kyu,” lanjutnya lalu menghirup sirup pesanannya yang baru diantar.

“Maksudmu kau sibuk bekerja di kedai itu? Itu bukan alasan. Tugas tetap tugas, kuliah tetap kuliah, kerja adalah hal lain,” kata Kyuhyun tegas. Matanya mengelilingi sekitar seperti mencari seseorang, “Dimana monyet itu ?” tanyanya yang tentu saja tidak dijawab oleh Donghae.

“Kau mencariku?”

Kyuhyun langsung mendapatkan jawaban dari orang yang dicari. Hyukjae duduk di bangku samping Donghae,“Kenapa kau pulang semalam? Kupikir kau akan menginap.”

“Kepalaku mendadak panas begitu membuka laptop dan kau tidur, bukan membantu seperti yang kau janjikan,” gerutu Donghae dengan mengacak rambutnya. Benar-benar frustasi rupanya. Hyukjae tertawa pelan tanpa rasa bersalah. Hal-hal seperti ini sudah biasa bagi mereka. Kyuhyun yang tidak perduli ‘penderitaan’ Donghae, Donghae yang mengeluhkan sikap Kyuhyun, dan ia sendiri yang tertawa bahagia seakan-akan tidak ada beban. Dan ia memang tipe orang yang tak suka membuat sesuatu jadi berat. Tertawa itu murah.

Sekarang matanya mulai beraksi seperti biasa, tentu saja mencari mangsa baru. Dan bak gayung bersambut, seorang gadis balas menatapnya bahkan melempar senyum. Sayangnya, Hyukjae  lebih fokus pada gadis disampingnya.

“Bisakah kalian mengurusi hal lain yang lebih penting selain gadis dan bekerja?” tanya Kyuhyun sinis mengacu pada sifat Hyukjae dan Donghae yang tidak disukainya.

“Dan kau, tidak adakah hal lain yang lebih menarik selain buku membosankan itu?” balas Hyukjae sambil menunjuk buku ditangan Kyuhyun, “Gadis disana sungguh lebih menarik dibanding ‘teman-temanmu’ Kyu,” lanjutnya.

Kyuhyun tidak menjawab lalu bangkit dari duduk dan pergi. Tapi Donghae dan Hyukjae bisa menebak kalau tujuannya pasti perpustakaan.

“Hey, apa yang membuat wajahmu ditekuk begini?”Hyukaje mengalihkan perhatian pada wajah Donghae yang tidak begitu baik.

“Aku baru saja mendapatkan ceramah panjang kali lebar dari dosen gendut itu,” jawab Donghae dengan lesu. Sama sekali tidak berminat menghabiskan minumannya.

“Haha, jika yang mengeluh seperti ini adalah Kyuhyun, aku tidak kaget. Tapi ini kau? Apa kau baru merasakan bagaimana mencapat ceramahnya? Tidak, kan?” Hyukjae mengejek Donghae yang kembali memasang wajah bodoh dan polosnya, seolah berkata, “Benar juga, ya?”

“Ayolah..itu sudah biasa bukan? Jangan terlalu dipikirkan.” Hyukjae kembali memandangi beberapa gadis yang tadi menarik perhatiannya. Matanya tertuju pada seorang gadis berambut cukup panjang yang terlihat berdiri dan seperti akan pergi.

“Hae, kau lihat gadis itu? Aku harap akan bertemu dengannya di final dan battle.” Donghae tidak berniat menoleh ke arah yang ditunjuk Hyukjae. Masih terngiang ditelinganya bagaimana dosen tadi membuat kepalanya panas. Apapun yang dikatakan Hyukjae tidak lagi menarik baginya. Tapi Hyukjae yang kesal menarik paksa wajah Donghae mengarah pada gadis yang dimaksud.

“Punggungnya bagus,” komentar Donghae singkat karena memang yang ia lihat adalah punggung gadis itu yang berjalan dan tidak lagi terlihat saat berbelok di ujung koridor.

“Kau tahu? Dia kompetitor terberatku.”

Donghae coba tertarik dengan topik  yang dibahas Hyukjae, setidaknya ini lebih baik dibanding mendengar nasehat Kyuhyun yang itu-itu saja.

“Aku kira kau yang terbaik disini.”

“Iya sebelum gadis itu mendaftarkan diri, tapi ia muncul dan memperlihatkan kemampuannya. Aku tidak pernah melihat gadis lain menari sebaik dia. Yang membuatku jengkel, dia juga ikut-ikutan latihan dimalam hari sepertiku.”

Kali ini Donghae tidak pura-pura tertarik, melainkan memang tertarik, “Maksudmu, dia juga berlatih dimalam hari?”

“Dan dia pulang paling akhir. Seperti memaksa diri menampilkan yang terbaik.”

Donghae teringat kejadian semalam saat ia diminta menemani petugas keamanan kampus karena menunggu seorang gadis yang tengah berlatih. Diakah yang dimaksud?

******

Seperti biasa, Donghae mengayuh sepedanya pelan sepulang dari kampus. Bukan rumah yang ia tuju melainkan kedai kecil pinggir jalan tempat ia bekerja sambilan. Letaknya agak jauh dari kampus, yakni di distrik Nowon di sekitar apartemen westin. Tempat lain tidak ada yang mau menerimanya karena hanya bisa masuk kerja disiang sampai malam hari. Terbentur dengan jadwal kuliah yang terpaksa ia jalani.

Hari ini Donghae bekerja lebih santai. Tidak terlalu banyak pelanggan malahan bisa dihitung dengan jari. Siang sampai malam ini ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama pemilik kedai, bukan melayani pembeli. Mungkin rejeki sedang tidak berpihak pada mereka hari ini. Dan karena itu pula ia bisa pulang lebih awal.

Donghae melihat jam diponselnya yang menunjukan baru pukul 7 malam. Sejenak ia terpikir untuk melihat bagaimana Hyukjae berlatih menari untuk kompetisi bulan depan di kampus. Karena beruntung ia sedang tidak dicercai tugas tidak menarik seperti kemarin-kemarin, ia akan pergi ke kampus saja.

“Hay!” sapa Donghae ceria begitu melewati si satpam yang tengah mengecek keadaan. Ia baru saja memasuki gerbang dan sudah berjalan, meninggalkan sepedanya di parkiran. Dari keterangan si petugas itu, Hyukjae memang masih berada di aula untuk berlatih.

Donghae berjalan agak cepat menyusuri lorong panjang dan sedikit gelap menuju aula. Sedikit menyeramkan melihat pemandangan kampus yang biasa ramai oleh para mahasiswa dan sejuk dengan berbagai tanaman hijau kini bak kuburan, sepi dan…membuatnya merinding.

Alunan musik sudah mulai tertangkap telinga. Donghae kini berlari-lari kecil agar lebih cepat sampai. Begitu sudah berada didepan pintu, ia dorong pelan dan terlihatlah sahabatnya itu.

“Wow…” serunya saat mendapati Hyukjae tengah asik meliuk-liukan tubuh berototnya ditemani musik hip hop. Dengan mata tidak lepas dari Hyukjae, ia berjalan mencari kursi yang nyaman untuk menonton. Saat ditemukan, ia langsung mendudukan diri dan terus memperhatikan bagaimana sahabatnya bergerak dengan irama yang kuat.

Wuhuuuu prok prokkk

Donghae bertepuk tangan sendiri saat Hyukjae menutup gerakannya dengan luar biasa. Hyukjae dengan tatapan bingungnya mendekati Donghae sambil mengelap keringat, “Ada angin apa kau kemari?” tanyanya lalu duduk dilantai dan meluruskan kaki. Nafasnya naik turun secara teratur, pasti cukup melelahkan.

“Kedai sudah tutup, tidak banyak pelanggan hari ini. Aku juga sudah lama tidak melihatmu menari. Dan tadi itu luar biasa. Aku jamin tidak ada yang bisa mengalahkanmu seperti tahun lalu.”

Hyukjae mengambil botol minumnya dan menenggak sampai habis, bibirnya ditarik sedikit memperlihatkan seringaian, “Kau belum melihatnya.”

“Maksudmu?”

“Dia, gadis yang kuceritakan tadi pagi. Sebentar lagi mungkin kau akan melihatnya,” tutur Hyukjae dengan mata mengarah pada pintu. Donghae mengikutinya dan tidak menemukan siapa-siapa.

“Maksudmu dia akan datang? Kau takut padanya? Kau merasa tersaingi? Kau takut akan kalah?” tanya Donghae beruntun dan dengan tempo cepat membuat Hyukjae melempar wajahnya dengan handuk beraroma keringat itu.

“Aku Lee Hyukjae. Aku bukan takut akan kalah, hanya saja…setelah sekian lama, baru kali ini aku merasa perlu berlatih lebih hebat. Apa yang kucapai tahun lalu dan sebelumnya seperti bukan apa-apa saat melihatnya. Aku merasa … menemukan saingan sebenarnya.” Hyukjae bicara dengan pandangan kosong, seperti menerawang. Donghae malah sibuk mengucek-ngucek hidungnya menghilangkan aroma luar biasa yang hinggap karena handuk tadi.

“Dia hanya seorang wanita, bagaimana bisa dia menyangimu?”

“Apa bedanya pria dan wanita? Dia itu…seperti berlian yang selama ini tersembunyi dibalik semak-semak dan baru keluar menampakan diri,” Hyukjae bicara pelan lalu matanya melebar melihat kelakuan Donghae, “Aisss…kenapa kau menginjak handukku? Itu pemberian Sully.”

Mereka melewati setengah jam ke depan dengan obrolan berbagai macam topik. Mulai dari gadis-gadis incaran Hyukjae, sampai Dosen yang rasanya semua dibenci oleh Donghae. Tak lupa mereka juga membicarakan Kyuhyun, pria super dingin itu. Hyukjae tengah tertawa keras karena gurauan Donghae tepat saat pintu terbuka. Mereka menoleh bersamaan dan menemukan pelakunya.

Ruangan besar itu memang tempat yang dibangun untuk kegiatan seni seperti tari dan menyanyi. Tapi ini bukanlah tempat utama. Tempat ini lebih sering digunakan untuk berlatih setelah gedung pertunjukan yang baru dibangun dua tahun lalu sudah rampung. Maka hanya ada panggung kecil didepan, dan sisanya adalah lantai luas tanpa apapun. Jika akan dihelat suatu pertunjukan, barulah akan ada kursi yang memenuhi bagian kosong itu.

Hyukjae sengaja tidak menyalakan semua lampu diruangan itu, hanya satu lampu berukuran kecil tepat ditengah ruangan dimana ia biasa berlatih. Maka sekarang yang mereka lihat hanya sesosok gadis yang berdiri lalu berjalan pelan menuju mereka.

Suasana mendadak sepi. Hanya terdengar derap langkah gadis itu yang belum juga bersuara. Donghae dan Hyukjae juga tidak dapat melihat bagaimana wajahnya terhalang cahaya yang minim. Tapi seringaian nampak diwajah Hyukjae yang tentu saja tidak dilihat Donghae yang malah merasa sekujur tubuhnya merinding. Seperti akan bertemu setan wanita yang kerap diceritakan tetangganya.

Tap tap tap

Langkah itu makin terasa menandakan pemilik kaki akan segera sampai. Hyukjae sejenak membuang muka, ia tahu siapa itu. Ia tahu siapa gadis yang sekarang sudah berdiri didepannya. Dan ia tidak berniat untuk bangkit. Malahan ia merebahkan tubuhnya, menempelkan punggunggnya yang basah pada lantai.

“Sudah selesai?” gadis itu bersuara. Tas yang ada ditangannya ia jatuhkan begitu saja. Hyukjae hanya tersenyum lalu memejamkan mata. Donghae membenarkan letak kacamatanya untuk melihat pemilik suara itu tapi yang ia lihat hanya sebagian, masih tidak jelas.

Merasa tidak digubris, gadis itu menjauhi Hyukjae lalu menyetel tape yang ada disudut ruangan. Tak berapa lama musik yang lebih pelan mengalun. Gadis itu berjalan santai menuju satu titik ditengah,  dimana satu-satunya penerangan terdapat. Dan…..

Hap

Ia mulai bergerak, dari perlahan, sedang, hingga tempo cepat. Kaki dan tangannya begitu lincah membentuk tarian yang indah. Hyukjae tetap berbaring dengan mata tertutup. Cukup baginya mendengarkan lagu yang tadinya cukup slow itu kini berubah menjadi lebih up beat, tak kalah asik dibanding musik nya tadi. Sedangkan Donghae, ia terpaku dikursi, tidak menutup mulut, mungkin tidak sadar sudah berapa besar mulutnya menganga dan sudah berapa lama ia kukuh dengan tampang bodohnya itu. Lalat dan nyamuk tiba-tiba saja punya tempat persembunyian baru.

Sebelumnya ia yakin tidak akan ada yang menyaingi sahabatnya dikampus. Tapi apa yang ia lihat saat ini seperti melihat satu hal paling langka yang tadinya berjudul mustahil. Belum selesai keterkejutan Donghae, tangannya sudah ditarik Hyukjae yang entah sejak kapan sudah berdiri dengan tas dan handuk ditangan kiri. Donghae hanya pasrah saat tubuhnya ditarik keluar meski matanya tidak lepas dari gadis itu. Dan tepat sebelum pintu tertutup, gadis itu menyibak rambutnya, memperlihatkan dengan jelas wajah putih tanpa cacat pemberian Tuhan. Secara kebetulan pula, wajah itu mendapat sinar lampu membuat dua detik Donghae sebelum keluar menjadi berbeda.

DEG

Dua detik yang membuat jantung Donghae berdetak lebih cepat. Membuat matanya tidak ikhlas jika harus terhalang pintu. Kini, matanya sudah tertuju ke depan dimana Hyukjae masih menarik lengannya sepanjang lorong. Tapi hati dan pikirannya terus dibayangi bagaimana saat gadis itu memamerkan gerakannya dan tentu saja….wajahnya. Rasanya tidak rela jika ia mengikuti langkah Hyukjae.

“Hoi!” Hyukjae menepuk pipi Donghae hingga membuatnya sadar kalau mereka sudah berada di parkiran, “Kau terpana dengan gerakannya? Sudah kubilang kali ini sainganku sangat berat.” Hyukjae hanya membuka pintu mobil, melempar tas dan handuknya sembarangan lalu kembali pada Donghae, “Jangan memperlihatkan reaksi seolah-olah kau baru melihat alien. Kau membuatku pesimis, tahu?”

“Ha? Bu..bukan begitu…hanya saja, untuk seorang wanita, dan sebagai pesaing, dia orang yang pantas,” Donghae menyela meski sedikit terbata-bata, “Setidaknya…ia terlihat imbang denganmu.”

“Haha…kau tidak bisa berbohong, Hae. Ayo masuk!” ajaknya yang kini sudah duduk manis dikursi kemudi.

“Kemana?” tanya Donghae polos.

“Tentu saja ke rumahku. Besok hari minggu bukan? Atau bagaimana kalau kita ke rumah Kyuhyun dulu?” Donghae tidak langsung menjawab, justru mencari-cari letak sepedanya, ia lupa menaruh dimana.

“Ah, itu dia. Buka dulu bagasimu!” perintahnya lalu berlari mengambil sepeda dan meletakkannya didalam bagasi mobil.

Mereka meninggalkan kampus dan kini sudah berada dijalan yang sangat ramai. Di kiri jalan, banyak terdapat pejalan kaki lalu lalang, terlihat memasuki atau keluar dari restoran, café, atau berbagai toko. Arah mata Donghae memang tertuju kesana, tapi sebenarnya pikirannya tertinggal ditempat lain, masih dikampusnya.

“Jadi benar kau terkejut? Kau malah masih memikirkannya,” Hyukjae bersuara yang tidak ditanggapi oleh Donghae. Maka ia hidupkan musik dan mulai mengangguk-nganggukan kepala seirama lagu. Donghae tetap tidak terganggu, pikirannya masih tersangkut disana, dimana seorang gadis yang tidak ia ketahui namanya baru saja membuat jantungnya heboh. Gerakannya yang membuat terpana, bagaimana saat gadis itu menyibak rambut dan sejenak membuatnya terpaku. Ah, Donghae tiba-tiba sadar satu hal, ia menoleh pada Hyukjae.

“Siapa nama gadis itu?” Hyukjae tidak menjawab malahan tertawa.

“Aiss, jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya ingin tahu namanya.”

“Haha,… namanya Hana. Kim Hana.”

*****

Mobil Hyukjae sudah terparkir dihalaman super besar milik Kyuhyun. Mereka sudah sampai di depan rumah Kyuhyun dan berencana untuk melewati malam minggu ini bersama. Seorang pelayan wanita dewasa menyambut mereka dengan menunduk hormat. Hyukjae berhenti sejenak didepannya dan dengan senyum maut andalan bertanya, “Kau pelayan baru bukan? Sepertinya usia kita tidak beda jauh. Hmm…” ujarnya santai dengan kedua tangan dilipat didepan dada membuat sipelayan itu menunduk takut, mundur dan terhimpit di pintu. Donghae hanya terkekeh dan memilih berlalu untuk masuk ke dalam.

Matanya menyebar kemana-mana melihat sudah banyak perubahan yang terjadi sekalipun terakhir kali ia kemari baru 3 minggu yang lalu. Suasananya seperti sudah berbulan-bulan. Tapi itu terasa wajar karena memang sipemilik rumah, maksudnya ibu dari Kyuhyun adalah tipe wanita yang cepat bosan dan suka dengan perubahan. Maka tidak heran, beberapa perabotan, tata letak berbagai benda kerap berganti atau berpindah tempat.

Donghae sampai pada ruang keluarga dimana ia belum juga menemukan satu penghuni pun selain para pelayan yang terus menunduk hormat padanya. Langkahnya tertuju pada dapur begitu teringat dengan seseorang. Dari posisinya ia dapat melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri membelakanginya menghadap penggorengan. Aneh, biasanya bukan wanita itu yang memasak, bukankah ada koki khusus?

“Jangan bilang koki itu dipecat,” ujarnya pelan tapi sangat didengar oleh wanita itu yang langsung berbalik, “Astaga…Donghae!” seru wanita beruban itu dan menghadiahi sebuah pelukan singkat.”Kau sudah lama tidak kemari.”

“Hehe, maaf, aku benar-benar sibuk. Jadi…benar koki itu sudah dipecat?” tanya Donghae lagi, mengacu pada koki yang baru bekerja selama satu bulan ini tapi tidak terlihat sejak tadi.

“Memangnya alasan apa lagi yang membuatnya tidak ada didapur untuk menyiapkan makan malam? Ah, Tuan muda Kyuhyun selalu berulah. Padahal aku pikir, kali ini ia akan suka,” wanita itu, alias bibi Jung alias lagi kepala pelayan di rumah Kyuhyun yang begitu akrab dengan Donghae, membagi keluh kesahnya. Itu adalah jadwal rutin jika bertemu Donghae.

“Justru ada yang tidak beres kalau ia tidak berulah, kkk. Jadi, bibi masak apa ? Aromanya membuat perutku berteriak, hehe.”

Bibi Jung menepuk dahinya kuat, baru sadar sudah meninggalkan masakannya. Cepat-cepat ia kembali dan menyibukan diri lalu berkutat dipenggorengan. Donghae hanya tertawa dan memutuskan untuk meninggalkannya. Ia kembali ke ruang keluarga dimana Hyukjae sudah duduk santai dengan satu kaki diatas meja.

“Kalau ada paman dan bibi, kakimu itu bisa langsung kehilangan fungsi.” Donghae ikut duduk, memperingati Hyukjae agar menurunkan kakinya mengingat bagaimana ayah dan ibu Kyuhyun sangat anti dengan ketidaksopanan tamu.

“Berita baiknya, kata pelayan baru itu, Paman dan Bibi sedang pergi.” Hyukjae membuka majalah yang ia dapat dibawah meja. Ia hanya sekedar membolak-balikan tiap lembarnya, bukan benar-benar membaca.

“Belum bertemu Kyuhyun? Aku malas kalau harus menaiki tangga yang tinggi itu untuk memanggilnya.”

Tidak ada respon dari Hyukjae yang sepertinya tiba-tiba berubah, benar-benar membaca berita yang ada dimajalah itu. Entah apa, tapi rasanya, bisa ditebak hal apa yang membuat seorang playboy kelas kakap tertarik membaca.

“Apa yang membuat pemburu para gadis menyangkut dirumahku saat malam minggu?”

Mereka menoleh bersamaan pada asal suara dimana Kyuhyun tengah menuruni tangga. Pria tinggi itu hanya memakai kaos lengan panjang dengan celana pendek. Begitu sampai, ia ikut duduk di kursi tepat didepan Donghae.

“Aku hanya tidak ingin mereka menemuiku dengan tubuh berkeringat seperti ini. Jadi biarlah malam ini mereka harus menelan kecewa,” jawab Hyukjae yang sudah meletakkan kembali majalah ke tempat semula, menurunkan kakinya ke bawah. Dan mata Donghae bisa melihat sekilas poster utama majalah itu. Oh, pantas saja. Covernya saja begitu.

“Tuan muda, makan malam sudah siap,” si pelayan baru yang tadi digoda Hyukjae datang memberitahu. Kyuhyun sontak berdiri dengan malas dan tanpa disuruh pun, Donghae dan Hyukjae mengekor. Malahan Hyukjae tiba-tiba sudah ada disalah satu kursi.

“Wah…kebetulan sekali. Mari makan!!!” serunya sendiri tanpa perduli kalau Kyuhyun dan Donghae belum sampai dikursi mereka. Makan malam kali ini dilewati dengan keributan dari mulut Hyukjae yang tidak henti mengoceh sekalipun dengan mulut penuh nasi. Ada saja yang ia bicarakan sekalipun kedua sahabatnya mungkin tidak mendengarkan juga tidak tertarik.

“Kyu, aku rasa masakan bibi Jung sudah bagus, tidak perlu lagi untuk mencari koki baru yang belum tentu sebaik ini. Dan ini akan lebih ringan baginya, ketimbang mengepalai segala urusan dirumah ini,” Donghae menyuarakan pendapatnya setelah mereka sudah selesai makan, tapi belum beranjak dari meja makan yang memanjang tersebut. Bukankah itu terdengar lebih baik? Ketimbang mencari koki baru yang akan berakhir dengan pemecatan.

“Tergantung. Untuk kemarin dan malam ini, Bibi Jung memang lulus, tapi siapa yang tahu bagaimana kelanjutannya. Jika tidak konsisten, maka aku akan meminta ayah mencari koki baru. Dan kalau nasib mereka berakhir sama seperti pendahulunya, itu resiko pekerjaan, bukan salahku.”

Donghae mendesah malas mendengar penjelasan panjang lebar dari Kyuhyun. Begitu menyebalkan ketika mendengarnya bicara masalah nasib para pelayannya seolah-olah ia tidak salah sama sekali. Ah, salah! Banyak hal lain yang bisa membuat Kyuhyun sangat-sangat menyebalkan. Sikap cuek dan dinginnya, pelit senyumnya, kurang tenggang rasa, dan masih banyak lagi.

“Aiss, jangan membahas hal-hal tidak penting itu. Sekarang mari kita pikirkan mau kita apakan malam minggu ini. Masih jam 8 dan aku tidak berniat tidur secepat ini.” Hyukjae berusaha mencari-cari sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Kyuhyun dan Donghae nampak acuh dan tidak begitu memikirkannya. Biasanya mereka pergi ke berbagai tempat, itupun atas inisiatif dan paksaan Hyukjae. Tapi pada akhirnya Donghae dan Kyuhyun harus mengakui bahwa tempat pilihan Hyukjae tidak sembarangan dan menyenangkan. Hyukjae tahu tempat apa yang cocok bagi dua sahabatnya itu.

“Malam ini….hmmm, kita menonton film saja bagaimana? Aku kebetulan membawa dua kaset film yang seru. Jadi, untuk malam ini, kau diharamkan membuka buku, Kyu. Aku akan memperlihatkanmu hiburan yang jauh lebih indah ketimbang buku.”

“Baiklah, baiklah, apapun lakukan sesukamu.” Kyuhyun hanya menanggapi sekedar saja. Ia memang tidak begitu berminat untuk belajar malam ini, malah sudah terpikir untuk tidur. Tapi mendengar tawaran Hyukjae, mungkin itu lebih baik. Maka sekarang mereka duduk bertiga di sofa kamar Kyuhyun dengan posisi nyaman yang berbeda-beda. Hyukjae tiba-tiba duduk diatas karpet merah dengan kaki melipat. Donghae tetap di sofa dengan menyandarkan punggungnya. Kyuhyun duduk seperti biasa, hanya sebuah bantal tertidur dipangkuannya. Mereka menunggu-nunggu film apa yang dimaksud.

“Sepertinya ini film horror, ya?” tanya Donghae sambil melihat-lihat cover kaset itu. Memang terlihat menyeramkan dengan wajah dan pisau yang dilumuri darah. Padahal biasanya, Hyukjae menyukai film drama romantis.

“Lihat saja!” jawab Hyukjae tanpa menoleh. Matanya sudah berbinar-binar menatap  layar televisi. Kyuhyun mengetuk-ngetukan jari-jarinya tanda bosan, tapi matanya seketika melebar begitu televisi yang tadinya hanya hitam kini memperlihatkan isi sebenarnya. Jarinya berhenti bermain. Donghae dengan mulut menganga dan tubuh tegap. Sedangkan sipemilik kaset? Ia malah terkekeh sendiri tanpa rasa bersalah sama sekali. Film terus berjalan hingga akhirnya….

“LEE HYUKJAE!!! MATIKAN!!”

***

TBC

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Anandaaa
    Dec 15, 2013 @ 21:27:48

    bagus changi 🙂 aku suka ^_^ lanjut ne !!
    susnan kata katanya di tongkatkan lagi 😀 semangat !!

    Reply

  2. Anandaaa
    Dec 15, 2013 @ 21:29:23

    aku typo komenya -_- :v miannn 🙂
    Cepet di lanjut ne 😀

    Reply

  3. nina novita
    Dec 18, 2013 @ 11:56:53

    critany menarik,aku suka.kyny bs d tebak mereka lg nonton apaan…XDyadong mode on kkk….
    d tggu nextny y..

    Reply

  4. AnnA
    Dec 23, 2013 @ 17:57:16

    eunhyuk paling berisik-_- padahal donghae sama kyuhyun kalem.. good ff thor~

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: