Silent [2/?]

silent1333

Silent 2

Author : R.A

Cast : Lee Donghae

Lee Hyukjae

Cho Kyuhyun

Kim Hana (OC)

Genre : Romance, family, friendship, brothership

Rate : PG-15

 

***

“Kau masih bisa tertawa setelah meracuni kami dengan kaset gila itu?”

“Hahaha…”

Itu hanya sekilas percakapan antara Donghae dan Hyukjae di ruang kelas sembari menunggu dosen masuk. Hyukjae yang kebetulan baru akan memulai kuliah siang nanti, memilih mendatangi Donghae lebih dulu. Tapi Donghae malah menyambutnya dengan berbagai ocehan yang dianggap lucu oleh Hyukjae. Tentu saja, masih seputar kaset yang mereka tonton malam minggu lalu. Sedangkan Kyuhyun, memilih berkutat dengan bukunya ketimbang ikut memarahi Hyukjae.

“Ayolah, harusnya kalian berterima kasih padaku, bukan mengusirku pulang. Aku sudah membantu otak kalian untuk sedikit disegarkan.”

“Kau bilang menyegarkan? Yang ada menjijikan.”

Debat mereka yang semakin memanjang dengan suara tidak terkontrol itu terhenti kala beberapa mahasiswa masuk secara bergerombol persis seperti anak TK yang diikuti seorang Dosen cantik di belakang. Hyukjae yang harusnya keluar justru makin mengatur posisi duduknya menghadap ke depan, tepatnya pada sang Dosen.

“Wow…” gumamnya. Belum selesai kekagumannya, seseorang sudah mengusirnya pergi karena ingin menempati kursinya. Hyukjae terpaksa berdiri, berjalan pelan mendekati Dosen tersebut. Seringaian terpancar diwajahnya.

“Kau mau keluar kelasku?” tanya Dosen dengan kemeja yang agak ketat dan rok mini diatas lutut. Untuk seorang Dosen, dimata Hyukjae ini adalah incaran baru yang berkualitas. Bukan hanya seksi tapi juga pintar.

“Ini memang bukan kelasku, hanya saja….mendadak aku ingin menjadi salah satu mahasiswamu di kelas ini, boleh?” tanya Hyukjae dengan mata seolah menelisik seluruh tubuh Dosen itu. Yang dipandang tidak nampak geli atau tersinggung sama sekali.

“Begitukah?” katanya dengan mata meremehkan. Semua mahasiswa yang ada di kelas termasuk Donghae dan Kyuhyun hanya menunggu apa yang akan terjadi. Tentu mereka juga terkejut melihat keberanian Hyukjae. Meski ini sudah biasa, tapi menggoda seorang Dosen adalah hal baru.

“Tapi maaf. Aku tidak punya waktu untuk mahasiswa sepertimu.”

“Seperti apa? Maksudmu tampan?”

Beberapa pria terlihat mendengus mendengar bagaimana seorang Lee Hyukjae begitu percaya diri dan sangat berani.

“Mahasiswa yang tidak tahu sopan santun sepertimu, silahkan keluar!”

“Ugh, sayang sekali, cantik tapi galak. Baiklah, aku keluar, tapi jika kau berubah pikiran, hubungi aku. Mahasiswa paling tampan dan penari terbaik disini.” Hyukjae berlalu keluar sambil merapikan tasnya dibahu. Acuh saja dengan tampang heran dari mahasiswa lain-lain.

“Dasar Hyukjae, Dosen pun ia goda.”

***

Dua orang gadis duduk bersebalahan di sebuah bangku taman kampus. Salah satunya tersenyum tidak jelas dengan mata mengarah pada sekumpulan lelaki, satunya lagi hanya membaca buku tebal yang baru ia pinjam di perpustakaan.

“Kau tidak punya kegiatan lain selain memandangi mereka?” si pembaca buku yang dikenal sebagai Hana menyindir gadis yang duduk disebelahnya.

“Mereka itu gambaran pria idaman semua gadis. Jadi katakan padaku bagaimana agar tidak tertarik?”

Hana mencibir lalu menutup bukunya, ikut melihat ke arah tatapan temannya yang bernama Elie, “Katakan pula padaku bagian mana yang membuat gadis-gadis tertarik. Dan berhenti menggunakan kata semua. Karena aku tidak termasuk didalamnya.”

Elie menoleh pada Hana dengan malas. Hana memang begitu, tidak pernah berminat dengan hal-hal wajar yang dianggap menarik oleh para gadis.

“Ah, aku baru ingat, kau kan…tidak menyukai lelaki, hahaha.”

Hana menggunakan buku tebalnya untuk memukul kepala Elie, tentu saja dengan pelan. Ia tidak cukup stress untuk menghamtam dengan kuat. Hanya ingin memberi pelajaran sedikit.

“Beritahu aku apa pendapatmu tentang Kyuhyun dan Hyukjae,” pinta Elie setelah suasana sudah kembali normal. Hana melihat ke arah Kyuhyun yang tengah duduk membaca buku.

“Kyuhyun. Pria dingin yang pelit senyum ,” Hana memulai pendapatnya, “Dan setahuku, kepintarannya tidak diragukan lagi. Terlebih dia adalah calon penerus perusahaan ayahnya. Hanya itu.”

“Maksudku wajahnya, jangan bilang dia tidak tampan !”

“Tampan atau tidak itu relatif. Yang penting dia tidak cantik.”

Elie memutar bola matanya malas kemudian kembali menatap pria-pria disana. Kali ini fokus pada Hyukjae, “Lalu dia? Bagaimana?”

“Maksudmu si playboy itu? Jujur, aku tidak mengerti dari segimana kalian menyebutnya tampan. Rambut yang kerap gonta ganti warna, gusinya yang terlihat jelas jika tertawa, kadang menggamit dua gadis di lengannya, sama sekali tidak baik dimataku.” Hana kembali membuka bukunya yang sempat terabaikan. Meski mata dan otaknya mulai tidak sinkron.

“Jangan abaikan fakta terpenting tentangnya. Dia dancer terbaik disini.”

Hana kembali menutup buku dan tersenyum misterius, “Ya, untuk itu aku akui. Tapi lihat saja nanti, akan ada yang mengalahkannya di kompetisi bulan depan.”

“Aku tidak yakin. Hanya tahun lalu ia mendapat saingan yang lumayan, sedang tahun sebelumnya lagi dia menang mudah.”

Hana kini tersenyum meremehkan, “Yeah, let’s see.”

Elie mengangguk sekedar saja lalu kembali memperhatikan pria-pria tampan dimatanya itu. “Hmm lalu bagaimana dengan Donghae? Menurutku dia itu sebenarnya tampan, tapi segala kekurangannya menutupi kelebihan itu.”

Hana mengikuti arah pandang Elie yang kini tertuju pada Donghae yang tengah mengetuk-ngetukkan pulpen dikepalanya- terlihat seperti berpikir keras.

“Dia…..” Hana diam sejenak, lebih memperhatikan wajah Donghae yang nampak kesal lalu merobek kertas dibukunya dan membuangnya tepat di wajah Hyukjae, “Dia…aku tidak tahu banyak tentangnya. Aku hanya tahu ia dekat dengan Hyukjae dan Kyuhyun.”

“Dia itu calon mahasiswa abadi,” celetuk Elie yang membuat Hana lagi-lagi menutup bukunya –terkejut-, “Maksudmu?”

“Dari yang kudengar begitu. Yang jelas otaknya jauh di bawah Kyuhyun yang mungkin akan cepat lulus.”

Hana kembali menatap Donghae. Entah kenapa -untuk alasan yang tidak ia ketahui- ia ingin memperhatikan wajah itu lebih teliti, “Jadi yang kau maksud dengan segala kekurangan itu adalah otaknya yang lamban?” tanyanya.

“Bukan hanya itu, dia juga bukan konglomerat seperti Hyukjae dan Kyuhyun. Dia hanya bersepeda kemana-mana. Dia terlalu polos, dan…lihat tampangnya!” Elie menunjuk Donghae, “Dia memakai kacamata minus setebal majalah fashionku. Ugh, sayang sekali.”

Elie menggeleng dengan tampang lesu. Tampang yang hanya pernah di lihat Hana saat Elie di katakan tidak pandai memilih warna kaos kaki.

“Hey, kau terlihat begitu frustasi. Kau menyukainya?”

“Haha, seleraku tidak begitu. Tapi, sebagai pengamat fashion di kampus ini, melihatnya membuatku ingin melepas kacamatanya, menghambur rambutnya, mengganti pakaiannya dan memberinya sebuah mobil,” ungkap Elie yang kini memajukan kedua tangannya, jarinya membentuk segitiga yang diarahkan pada wajah Donghae, seperti mengira-ngira, perubahan macam apa yang pas untuknya.

“Hanya masalah sampul, apa yang perlu dipermasalahkan.”

“Bagiku itu masalah, tampilan itu nomor satu.”

Mereka terus berbicara mengenai perbedaan pendapat antara mereka. Sampai waktu sudah menunjukan untuk kembali ke dalam kelas, Hana berdiri meninggalkan Elie. Matanya masih tertuju pada buku sekalipun kakinya bisa dengan lancar melangkah tanpa menabrak apapun, tapi untuk kali ini, ia gagal.

Brukkk

“Aww…” Hana terjatuh ke lantai sambil memegangi lengannya yang terbentur keras dengan seseorang, itu Kyuhyun.

“Manusia kadang merasa bisa melakukan banyak hal diwaktu bersamaan meski tahu itu bukan hal bisa disatukan. Bodoh!” kata Kyuhyun sambil berlalu dari hadapan Hana, tanpa minta maaf, tanpa mengulurkan tangan untuk menolong, tanpa tampang bersalah. Hana bangun dengan kesal. Matanya terus menatap tajam punggung Kyuhyun yang semakin jauh dan hilang dibalik pintu.

“Sombong!”

***

“Dia akan datang?”

Donghae sudah berkali-kali menanyakan itu pada Hyukjae yang masih asik latihan menari. Hyukjae pun sudah bosan menjawab bahwa ia tidak tahu.

“Ini sudah jam 8, apa mungkin dia tidak datang?” tanyanya lagi. Hyukjae memilih langsung mematikan tape dan mendekati Donghae, “Bisa kau berhenti bertanya? Aku bukan ibunya jadi aku tidak tahu jadwalnya. Kau tertarik dengannya?”

Donghae memundurkan sedikti wajahnya kala Hyukjae mendekat dengan tubuh berkeringat yang menyebarkan aroma tidak sedap.

“Aku hanya ingin melihatnya menari lagi, itu saja,” tungkas Donghae. Hyukjae baru akan bersuara lagi kala pintu terbuka dan tampaklah orang yang sejak tadi ditunggu Donghae. Mereka menoleh bersamaan. Hyukjae yang memang merasa cukup lama berlatih, langsung menuju sudut sebelah kanan ruangan dimana tas dan minumannya terletak. Sedangkan Donghae duduk manis dengan berkali-kali memperbaiki kacamatanya yang baik-baik saja. Tapi ia harap, itu bisa sedikit mengusir gugup yang tiba-tiba datang. Ia coba melihat-lihat wajah Hana lebih jelas, tapi sulit karena lagi-lagi Hyukjae hanya menyalakan lampu kecil di bagian tengah. Donghae berdiri hendak mencari dimana letak saklar lampu. Ia meraba-raba dinding untuk menemukannya. Belum sempat tangannya terjulur kesana, lampu tiba-tiba menyala dan….

DEG

Hana sudah berada didepannya dengan segaris senyum. Donghae terpaku beberapa saat dengan wajah yang baru kali ini dapat dilihatnya dengan jelas. Jantungnya, bukan berhenti bermain justru bertambah tidak karuan. Ia menelan ludah berkali-kali.

“Katakan pada sahabatmu untuk tidak bermain-main dengan gelap.”

“He?” Donghae bergumam dengan wajah polosnya saat Hana berkata seperti itu lalu pergi, tepatnya menuju tape untuk mempersiapkan musiknya. Belum sempat ia bertanya, Hyukjae sudah menarik lengannya.

“Kau mau kuantar pulang?” tanya Hyukjae saat mereka sudah berjalan beriringan di sepanjang koridor. Hyukjae acuh saja meski ia tahu Donghae nampak enggan untuk pergi.

“Sekali lagi kau tidak menjawab,  aku artikan bahwa kau menyukainya.”

“Ha?” Donghae berhenti melangkah menatap punggung Hyukjae yang terus menjauh. Memikirkan kata-kata itu yang ia sendiri tidak tahu kebenarannya tapi tidak juga ingin menolak. Apakah benar? Dan..secepat itu?

“Kau pernah mendengar kisah gadis yang mati bunuh diri di tempatmu berdiri?” teriak Hyukjae dari parkiran, dan itu artinya sudah cukup jauh dari Donghae. Sadar akan situasi yang mendadak menyeramkan, Donghae berlari menuju mobil.

“Benar pernah ada yang mati bunuh diri disitu? Siapa? Aku tidak pernah tahu cerita itu,” kata Donghae serius, membuat jiwa jahil Hyukjae bukannya berhenti malah semakin menjadi.

“Kau tidak tahu? 5 tahun lalu, ada seorang gadis yang patah hati karena ditinggal kekasihnya menikah, ia memilih untuk gantung diri, tepat dimana kau tadi berdiri.”

Errr, Donghae bergidik dan mengusap kedua tangannya, takut. Hyukjae tanpa rasa bersalah terlihat menahan tawa yang hendak menyembur. Sahabatnya itu polos luar biasa, gampang sekali di perdayai.

Drrrt

“Huahhh…” Donghae terlonjak kaget kala sesuatu bergetar di kantungnya. Pikirannya sudah melayang terlalu jauh.

“Kau kenapa?” tanya Hyukjae kesal.

“Ada yang bergetar. Apa itu?’ tanya Donghae balik lalu meraba-raba tubuhnya, seperti orang ketakutan. Hyukjae menaikan alisnya lalu melihat ada cahaya dari balik saku celana Donghae, “Astaga, Hae. Itu hanya getaran ponselmu.”

Sadar sudah begitu bodoh, Donghae cepat mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk, “Yoboseyo..”

“Kau dimana?”

“Aku sedang dijalan bersama Hyukjae.”

“Bisa kau kemari? Ayah ingin bertemu denganmu.”

Hening, tidak ada jawaban pasti dari Donghae. Ia nampak berpikir dan menit berikutnya ia menggeleng, “Maaf, aku baru saja mendapat perintah untuk kembali ke kedai. Ada yang harus ku selesaikan.”

“Alasan yang bagus!”

Tuttt

Mulut Donghae bahkan baru terbuka hendak menjawab lagi tapi si penelpon sudah menutupnya secara sepihak. Donghae hanya menatap ponselnya lalu membuang nafas berat dan menyandarkan punggungnya.

“Kau menghindar lagi,” kata Hyukjae serius. Ia sudah tahu dan hapal percakapan macam apa barusan. Panggilan dari kedai hanya alasan basi yang kerap dibuat untuk menghindari Kyuhyun -si penelpon itu-. Donghae hanya menoleh sejenak lalu memandang keluar jendela, suasana berubah tidak mengenakan, “Bisakah kau membelaku?” tanya Donghae lemah.

“Dan bisakah kau belajar untuk serius menjalaninya? Kau bukan butuh pembelaan, tapi kesadaran,” balas Hyukjae yang terus fokus menyetir. Niatnya untuk memutar musik di urungkan. Suasana lucu tadi mendadak berubah dengan atmosfer yang tidak baik.

“Aku tidak bisa.” keluhnya yang makin menyamankan punggungnya untuk bersandar. Matanya memandang kosong keluar. Hyukjae ikut-ikut mendesah.

“Kau punya pilihan, mau berhenti atau serius. Dan menurutku lebih baik kau serius saja.”

“Itu sama saja mengecewakan diri sendiri.”

Setelah itu, mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Hyukjae tidak berniat untuk membalas atau memberi nasehat lagi yang rasanya juga percuma. Donghae berusaha menetralkan pikirannya dan kembali pada sesuatu yang bisa membuat moodnya baik. Ia sedang tidak berminat memikirkan ayah Kyuhyun. Tepatnya, ia selalu tidak berminat untuk memikirkan itu. Selalu menghindar.

***

Kyuhyun menutup ponselnya, belum selesai satu tarikan nafas, sebuah pertanyaan terlontar dari seseorang dibelakangnya.

“Dia tidak datang lagi?”

Kyuhyun berbalik dan memandang pria berpostur  tegap itu yang berdiri di ambang pintu masih dengan jasnya.

“Perlu ditanya lagi? Sudah kubilang percuma, lagi pula ia tidak akan bisa jadi apa-apa. Cukup aku, bukan?” Kyuhyun sedikit menaikan intonasi bicaranya. Ayahnya tersenyum simpul, mulai berjalan mendekati anak semata wayangnya. Ia tepuk bahu Kyuhyun pelan, tidak menurunkan tangannya melainkan tetap disitu lalu mulai mengelusnya seolah membersihkan debu disana .

“Ini amanat, nak. Kau akan mengerti nanti.”

Kyuhyun memutar bola matanya tidak mengerti, berbalik menghadap jendela. “Tapi dimataku, Ayah seperti tidak percaya kemampuanku, seolah aku tidak bisa berdiri sendiri.”

“Tidak ada satu orangpun yang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan.”

“Kalau begitu bukan Donghae orangnya. Biarkan dia memilih apa yang dia mau. Untuk apa memaksakan hal yang jelas-jelas ditolak hati dan kepalanya?”

Mereka berdebat dengan urat leher Kyuhyun yang bermunculan tanda emosi, sedangkan Ayahnya tetap tenang dengan segaris senyum.

“Tidak ada bayi yang langsung berjalan. Semua hanya butuh waktu.  Dan lagi, kenapa kau begitu yakin Donghae tidak bisa? Dia tidak pernah membantah ayah. Dia selalu berkata iya dan berusaha.”

Kyuhyun jengah dengan debat yang sebenarnya sudah ada sejak jaman perang dunia ini. Ia  menutup tirai jendela dengan kasar lalu menatap mata sang Ayah,“Cukup! Aku butuh tempat tidur sekarang.”

***

Hyukjae duduk diantara dua sahabatnya dengan alis naik bergantian. Sejak 5 menit lalu, ia seperti diapit patung bernafas. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang saling melihat, lebih terlihat seperti sengaja menghindar. Hyukjae mengerti alasannya tapi kali ini berbeda. Ini bukan kali pertama Donghae menolak panggilan Kyuhyun untuk ke rumahnya dan yang terjadi esoknya mereka tetap bersikap biasa seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tapi kali ini seperti melihat sepasang kekasih yang tengah merajuk dan melakukan aksi jahit mulut.

“Oke cukup! Aku tidak mau tertular bisu seperti kalian. Sekarang, cepat saling menatap dan bicara!” Hyukjae berinsiatif untuk mencairkan situasi yang sama sekali tidak mengenakan. Hyukjae benci kesunyian. Sayangnya, hanya Donghae yang menuruti dengan sekian detik curi pandang terhadap Kyuhyun. Sedang Kyuhyun masih larut dalam buku tebal yang dibaca. Donghae menyerah dan menggeleng  ke arah Hyukjae, “Aku harus ke toilet.”

“Tidak boleh!” Hyukjae menahan lengan Donghae yang sudah ancang-ancang pergi.

“Aku ingin buang air dulu.”

“Dengan membawa semua barang-barangmu? Kau pasti berniat untuk tidak kembali, bukan?” Donghae melengos dan kembali pada kursi. Tidak mudah mengelabui Hyukjae rupanya.

“Jadi, berhenti bersikap kekanakan. Kau, Kyu! Tidak perlu bersikap begini karena masalah semalam.” Hyukjae kini bak hakim yang berusaha mendamaikan dua kubu yang berseteru, bukan yang mengadili.

“Aku tidak apa-apa. Sudah biasa, bukan?” Kyuhyun menutup bukunya dan dengan tatapan mencibir melihat sejenak pada Donghae.

“Aku..minta maaf, Kyu. Semalam itu….”

“Untuk apa mengarang sejuta alasan sedangkan aku sudah tahu alasan sebenarnya.” Kyuhyun kali ini benar-benar menatap Donghae yang menundukkan kepalanya.

“Cukup, cukup! Sekarang, aku traktir kalian dan kita menikmati makanan. Jangan bertingkah seperti anak-anak yang bermusuhan lagi!”

Hyukjae memanggil pelayan dan dengan baik hati mentraktir sahabatnya. Mungkin ada satu sisi positif dari aksi diam Donghae dan Kyuhyun, yakni si pelit seperti Hyukjae mau mengeluarkan isi dompetnya.

Dan mereka menghabiskan waktu makan siang dengan tenang. Hyukjae tahu usahanya belum nampak berhasil, tapi ia yakin, sahabatnya akan kembali normal seperti semula.

***

“Kau mau ikut?” Hyukjae bertanya pada Donghae saat berkunjung ke kedai. Pertanyaan yang mengacu pada latihan tari yang akan ia lakukan.

“Sebenarnya aku mau, tapi aku sudah berjanji pada Kyuhyun untuk ke rumahnya malam ini.” Donghae tampak lesu dan tidak bersemangat. Tapi bagi Hyukjae ini justru berita baik.

“Bagus! Belajarlah untuk menerimanya. Mau ku antar?” tawarnya. Sejenak berpikir akhirnya Donghae mengangguk. Maka setelah berganti pakaian dan berkemas, Hyukjae lekas mengantarkan sahabatnya ke rumah Kyuhyun.

Donghae memang sudah memikirkannya semalaman, dan sepertinya..bukan ide buruk untuk menemui ayah Kyuhyun. Paling hanya berbincang seputar kuliahnya, paling buruk diberi nasehat supaya belajar lebih giat.

“Oke, Lee Donghae, semangat!”

Donghae tersenyum melihat Hyukjae sampai menaruh tangannya ke udara untuk menyemangatinya. Setelah mobil Hyukjae pergi, Donghae berbalik menatap rumah besar yang membuatnya merasa sangat kecil. Berkali-kali ia menarik nafas, malah sempat terpikir baginya untuk kabur saja. Sayang, pintu utama lebih dulu terbuka dan ia tidak punya kesempatan pergi.

Seorang pelayan mempersilahkannya masuk, menuntunnya menuju ruang makan. Lantai pertama rumah ini memang nyaris tidak bersekat. Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan sudah bisa di lihat sebagian ketika membuka pintu. Hanya perlu berbelok ke kiri atau kanan untuk melihatnya secara utuh. Yang menjadi pembatas antara ruang itu hanya tiang penyangga yang besar serta lantai marmernya yang lebih rendah 20 sentimeter sebagai pembeda. Dari posisi Donghae saat ini, ia dapat mendengar suara tubrukan antara sendok, piring dan perkakas makan lainnya. Tidak ada suara obrolan, hanya ketenangan.

Donghae sudah tiba beberapa meter dari meja makan yang memanjang itu. Hanya tiga kursi yang terisi. Kursi paling utama diisi oleh Ayah Kyuhyun, disamping kirinya adalah sang istri atau ibu dari Kyuhyun dan dihadapannya diisi oleh Kyuhyun sendiri.

“Permisi Tuan, Tuan Muda Donghae sudah datang,” ujar si pelayan tanpa mengangkat kepala. Donghae menelan ludah ketika Ayah Kyuhyun menoleh padanya dengan datar. Tapi kegugupannya langsung runtuh kala raut itu mendadak ramah dan memintanya segera duduk disamping Kyuhyun. Begitu pun dengan ibu Kyuhyun yang dengan telaten mengambilkannya piring serta lauk lainnya meski itu terlihat berlebihan karena biasanya itu jadi tugas pelayan yang tidak pernah pergi dari sisi mereka.

“Tidak usah repot-repot, aku sudah makan di kedai,” Donghae coba menolak sesopan mungkin. Tapi ia tidak mengarang alasan karena memang sudah memakan ramyun sebelum kemari.

“Jangan begitu, lihat makanan disini, aku sengaja meminta pelayan membuat makanan kesukaanmu begitu aku tahu kau mau datang. Cicipilah dulu.”

Mendengar itu, Donghae tidak enak hati dan dengan perlahan melahap makanan yang sudah tersedia didepannya. Keluarga kecil itu makan dalam diam, lagi-lagi hanya ditemani suara-suara kecil dari sendok, garpu dan lain-lain. Meski Donghae benci situasi seperti ini, ia berusaha membaur. Sesekali ia melirik pada Kyuhyun yang rasanya belum menyapa atau melihatnya barang sedetik.

“Bagaimana kabarmu, Hae? Kyuhyun bilang kau tinggal di kontrakan kecil, benar?” Ibu Kyuhyun bertanya dnegan wajah khawatir. Mereka berempat sudah duduk di ruang keluarga. Televisi layar datar yang cukup besar menjadi pilihan Kyuhyun, tidak dengan orang tuanya yang sejak tadi mengajak Donghae mengorbrol.

“Iya, aku tinggal disebuah kontrakan.”

“Kalau kau mau, kami bisa mencarikanmu apartemen, atau kau tertarik untuk kembali kesini?” tawar Ibu Kyuhyun yang nampak antusias. Terdengar decakan lidah Kyuhyun yang mungkin tidak suka dengan sikap berlebihan ibunya.

“Tidak, Bi. Aku sudah nyaman tinggal disana. Lagi pula, aku tidak mau merepotkan kalian lagi.”

“Sudah kubilang panggil aku Ibu. Kau juga anakku, ingat?”

Donghae menunduk malu. Tangan kanannya mengelus tengkuknya hanya sebagai tindakan basa basi. Sejak dulu, meski diminta berkali-kali bibirnya tidak bisa memanggil ibu Kyuhyun dengan sebutan Ibu juga. Tidak bisa. Maka ia hanya menjawabnya dengan tersenyum.

“Bagaimana kuliahmu, Hae?”

Akhirnya, pertanyaan yang sejak tadi diwanti-wanti oleh Donghae terlontar juga. Kali ini ia tidak bisa lagi menghindar. Dibenaknya sudah terpikir dan yakin kalau Kyuhyun pasti sudah melaporkan semuanya, termasuk kebiasaannya yang kerap dipanggil Dosen karena nilai yang tidak juga membaik.

“Aku…aku sedang berusaha.” Jawaban kurang tegas yang membuat Kyuhyun mencibir dalam hatinya. Ayah Kyuhyun tersenyum tenang, meletakan majalah bisnis yang tadi sempat ia buka. Lalu menyesap teh buatan istrinya.

“Baguslah, aku tahu lambat laun kau mulai terbiasa. Jika butuh sesuatu, katakan saja. Sering-sering belajar dengan Kyuhyun.”

Donghae mengangguk patuh. Tidak berniat menjawab panjang lebar dan mengarang cerita alias kebohongan lagi. Ia sudah berkata ‘sedang berusaha’ saja, itu bukan fakta. Sejak kapan ia mau berusaha serius dengan kuliahnya?

Obrolan yang tidak begitu mengenakan ditelinga Donghae itu berubah kala ibu Kyuhyun mengganti topic pembicaraan. Pembawaannya yang ceria mampu membuat Donghae lebih nyaman dan melupakan sejenak tentang permintaan ayah Kyuhyun tadi. Tadi ia hanya mengangguk, bukan benar-benar ingin menjalankan.

“Bagus! Berbohong lagi,” kata Kyuhyun sinis sambil menghidupkan mobil. Ia memang diminta ibunya untuk mengantar Donghae. Malah awalnya Donghae diminta untuk menginap. Tapi dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, Donghae menolak. Tapi ia harus mau diantar oleh Kyuhyun. Kalau atmosfer antara ia dan Kyuhyun sedang tidak memanas, mungkin ia senang-senang saja duduk bersebelahan seperti sekarang. Tapi karena sekarang Kyuhyun nampak memusuhi entah untuk alasan apa, Donghae jadi tidak nyaman.

“Aku tidak bisa membantah, Kyu. Dan lagi…ada apa denganmu? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini. Bukankah kau pernah bilang mendukungku untuk memilih dunia lain selain bisnis?”

“Aku memang mendukungmu untuk memilih dunia yang kau sukai. Tapi aku tidak mendukungmu untuk terus berbohong dan menghindar. Aku sudah senang kau mau datang dengan harapan kau akan berkata pada Ayah untuk berhenti kuliah. Tapi nyatanya? Kau tetaplah seorang pengecut!”

Donghae diam. Ia pasti kalah jika sudah berdebat dengan sahabatnya yang satu ini. Kenapa sahabatnya tidak ada yang mengerti? Hyukjae memintanya untuk serius menjalani kuliah pilihan Ayah Kyuhyun, padahal ia sangat membenci dunia itu. Sedang Kyuhyun memang mendukungnya untuk tidak terjun kedunia yang sama sepertinya, tapi Kyuhyun tidak mau mengerti kalau ia butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan ayahnya. Ia tidak punya segentong keberanian yang dengan gampang langsung berkata ingin berhenti.

“Aku butuh waktu. Aku tidak nyaman kalau langsung jujur didepan ayahmu.”

“Ini sudah berlalu setahun sejak kau mengatakan hal yang sama. Masalahmu hanya satu! Kau terlalu takut. Andai kau berani menolak didepan Ayah, dia mungkin mau mengerti atau bahkan mendukungmu dengan dunia kulinermu itu.”

Hah, Donghae kehabisan kata-kata. Lebih memilih menutup mata, menyandarkan kepalanya berharap ia bisa tidur sejenak dan bangun dengan keadaan kepala dan hati yang lebih baik.

****

Hyukjae mendorong pintu aula dengan kedua kakinya, menimbulkan suara yang cukup nyaring. Sedikit bingung saat menemukan cahaya yang menerangi sosok seseorang yang tengah membelakanginya. Sekitarnya cukup gelap, satu-satunya cahaya hanya berada ditengah, persis seperti yang ia lakukan. Jika ini adalah Hana, bukankah kemarin ia dengar gadis itu meminta Donghae untuk tidak bermain-main dengan gelap? Dan lagi, bukankah Hana selalu datang setelah ia selesai?

Belum selesai satu langkah, tubuh gadis itu tersentak. Bukan! Bukan terkejut, tapi mulai menggerakan tubuhnya sesuai irama yang baru mengalun. Hyukhae berhenti, menatap punggung itu yang belum menunjukan pemiliknya.

If you feel it’s a burden

That all my senses are focused only on you

Sebuah lagu diputar, dan Hyukjae sangat kenal lagu tersebut karena termasuk dalam favoritnya.

I will leave now, if I made you suffer

Because I couldn’t control my feelings, I will go now

Kedua tangan mulus gadis itu diluruskan, giliran kedua kakinya yang bergerak lincah. Dengan sekali putar, tubuh itu kini berhadapan dengan Hyukjae yang membuatnya beberapa detik mengacuhkan music yang terus berjalan. Hyukjae menatapnya dengan datar, lebih menunggu reaksi apa yang diperlihatkan gadis itu alias Hana. Tapi yang terjadi….tiba-tiba berubah.

I was afraid that like “hooc”

You might fly away from my side

Not a day could I rest saying “hugh”

I didn’t know then that I was hurting you

Wish my foolish obsession

Hyukjae jadi benar-benar tidak perduli akan music yang masih memenuhi ruangan luas ini. Ia memperhatikan lekuk di wajah Hana. Kulitnya terlalu halus untuk dihiasi keringat seperti sekarang. Mata Hyukjae bahkan dapat melihat bagaimana tetesan keringat itu mengalir perlahan, dari sela-sela rambut yang agak basah turun ke dahi, sedikit berubah haluan saat melewati alisnya yang tipis, turun lagi ke pipi tanpa cela itu, dan berakhir jatuh ke bawah setelah tidak menemukan jalan lain di dagu lancipnya. Hyukjae terpana sejenak. Dan…..

Just know this before you go…

That I was the only man who loved you only

So stupid was I

An idiot a scumbag who couldn’t even protect you

If you stay beside me till the end

You’ll be more heartbroken, you might fall

Made a very good choice

A person who will set you free

Will come to you

Will come to you

Hana melanjutkan tariannya yang mengundang Hyukjae untuk bergerak juga. Kedua tangan dan kakinya gatal terlebih dengan hentakan music yang semakin kuat. Tapi untuk sementara, ia biarkan Hana melakukan bagiannya, memperlihat kepiawannya. Gadis itu menari memutari tubuh Hyukjae dengan tatapan menantang. Sadar akan tatapan itu, Hyukjae dengan cepat bergerak. Memaksa Hana untuk berhenti sejenak dan menjadi penonton untuk pertunjukannya.

Tidak tahan untuk diam, maka Hana mendekat. Mereka menari bersama dengan kreasi masing-masing. Namun, justru nampak indah dan selaras andai ada orang lain disana yang melihat. Lalu tanpa disangka-sangka, Hyukjae menarik tangan Hana. Mereka menari layaknya pasangan yang sudah berlatih sejak lama.

Just know this before you go…

That I was the only man who loved you only

So stupid was I

An idiot a scumbag who couldn’t even protect you

If you stay beside me till the end

You’ll be more heartbroken, you might fall

Saat lagu akan menghentikan musiknya, ia tarik pinggang gadis itu lantas menahan pinggang Hana dengan kedua tangannya.

Made a very good choice

A person who will set you free

Will come to you

Will come to you ( Before you go – English translation )

Musik berhenti, dan entah kenapa Hyukjae dan Hana betah dengan posisi sekarang. Saling berhadapan dengan kedua tubuh nyaris tidak berjarak, kedua wajah yang terlalu dekat dan cukup untuk keduanya saling mendengar deru nafas masing-masing. Hingga beberapa saat sama-sama diam, Hyukjae terhipnotis untuk mendekatkan wajahnya pada Hana.

Detak jarum jam di sebelah kanan Hana jadi satu-satunya suara. Suara itu seolah mewakili detak jantung mereka yang tidak mau kalah heboh. Tinggal memasang speaker didalamnya maka akan terdengar jelas.  Hana menelan ludah, belum menutup mata. Kedua tangannya yang berada di dada bidang Hyukjae mendadak kaku dan tidak bisa mendorong tubuh itu. Kini jarak itu makin menipis, hidung mereka sudah bersentuhan saat Hyukjae memiringkan kepalanya.

Sepersekian detik sebelum hal yang lebih jauh terjadi, Hana merasa diketuk palu besar hingga sadar apa yang harusnya ia lakukan. Secara tiba-tiba ia dorong tubuh itu, melepaskan diri dari kungkungan Hyukjae, lantas berlari keluar meninggalkan bunyi pintu yang ditutup keras.

“Rasa apa ini?”

**TBC***

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. adelcho
    Dec 18, 2013 @ 17:51:34

    Bgus nih cerita..
    Apakah nntinya si donghae,eunhyuk dn kyuhyun sma2 suka sma hana???

    Reply

  2. JewELFishies SparKins
    Dec 19, 2013 @ 16:32:58

    Bagus, thor! Lanjut^^

    Reply

  3. ainin nadhifa
    Dec 22, 2013 @ 14:33:59

    Keren nih ceritanya… Lanjutin ya thor..

    Reply

  4. AnnA
    Dec 23, 2013 @ 17:59:09

    donghae sama eunhyuk udah mulai tertarik sama hana.. kyu masih dingin u.u
    selanjutnya aku tunggu ya thor~^^ nice ff!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: