So,… We’ll Married?

SWM-poster

 

Title : So,… We’ll Married?

Author : petriCHOr

Cast : You and Your Bias

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : One Shot

Notes from author: Selamat membaca FF abnormal ini^^

 

-0-8-0-

 “Bodoh! Apa yang sedang kau pikirkan, huh?” seorang lelaki menarik tangan gadis yang dilihatnya sedang mencoba menabrakkan diri ke sebuah truk yang melintas di jalan raya.

Gadis itu menangis. Penampilannya kacau. Rambutnya yang disanggul kecil terlihat berantakan. Kedua telapak kakinya terlihat polos tanpa alas. Gaun putih yang dikenakannya telah berubah warna menjadi kecoklatan mengingat ia baru ditemukan tiga hari kemudian sejak kejadian itu.

“Kau yang bodoh! Kenapa kau menarikku? Kenapa kau harus menemukanku? Harusnya aku sudah…” kata-kata gadis itu terpotong karena tangisnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menjatuhkan diri ke jalanan di pinggir jalan itu. Lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Ia terlihat tidak kalah kacau dari gadis itu. Ia membungkuk dan menarik lengan gadis itu. Gadis itu tidak berdaya untuk melakukan perlawanan, ia bangkit dan mengikuti langkah lelaki yang menarik tangannya.

 

_flashback_

“Waah… kau terlihat cantik sekali. Dia benar-benar beruntung mendapatkanmu!”  seorang wanita paruh baya memuji gadis bergaun putih dihadapannya. Ia adalah bibi si gadis.

“Benar sekali. Dia pria beruntung, cucuku…” wanita tua dengan mengenakan pakaian tradisional memuji cucu perempuan satu-satunya itu sambil memeluknya.

“Benarkah? Sepertinya aku yang beruntung. Pria tampan dan baik hati mau menikahiku, gadis sederhana yang…”

“Tidak begitu pandai, ceroboh, pemarah, tidak bisa memasak, menjahit dan juga tidak peka. Aku merasa kasihan pada calon suamimu. Kau benar, kau yang sangat beruntung.” Kalimat gadis itu dipotong oleh seorang pria-yang merupakan temannya sejak sekolah dasar-yang berdiri di ambang pintu.

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini?! Kau tidak boleh masuk ke kamar mempelai wanita, tahu!” gadis itu memasang wajah kesal pada teman sejawatnya itu.

“Hey, aku ini teman mempelai wanita. Berarti aku harus berada dekat mempelai wanita bukan? apakah kau tidak takut kalau aku justru pergi ke rumah mempelai pria? Apa yang akan terjadi nanti?” pria itu mendekatkan wajahnya pada gadis yang akan menjadi pengantin beberapa jam lagi.

Gadis itu mundur untuk menjauhkan wajahnya. Ia terlihat gugup.

“Sudah, sudah, jangan menggodanya terus. Biarkan kami selesai meriasnya dulu, kau tunggu diluar saja bersama suamiku.” Sanggah si bibi mendorong lelaki itu menjauh.

 

Lima belas menit sebelum acara dimulai.

“Kau tidak berhasil menghubunginya? Coba tanya teman-temannya.” Nenek dan bibi gadis itu terlihat panik sama seperti si mempelai wanita.

“Tidak bisa. Aku tidak tahu. Dia tidak pernah memperkenalkanku pada teman-temannya…” raut cemas menghiasi wajah gadis itu.

 

Lima menit kemudian nada dering ponsel gadis itu berbunyi.

 

“Halo, kau dimana? Aku benar-benar mencemaskanmu. Apakah kau baik-baik saja?” gadis itu terlihat sedikit lega namun masih merasa cemas.

“Apa? …ba-batal? Ke…kenapa?” air mata menggenang di mata gadis itu.

Ia tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Nenek dan bibinya juga tidak kalah terkejut mendengar kata-kata cucu dan keponakannya itu.

Gadis itu terkulai lemas di bangku riasnya. Ia berusaha menahan tangis.

“Apa yang terjadi? Apakah dia baik-baik saja?” si bibi mencoba mencari penjelasan tentang calon suami keponakannya.

 

“Hey, kemana calon su… ada apa ini?” lelaki berkemeja biru muda masuk ke kamar mempelai wanita memecah keheningan tetapi ia merasa ada yang tidak beres disana.

“Calon suamiku… Dia… membatalkan pernikahan ini…” wanita itu berbicara dengan susah payah, ia berusaha untuk tidak menangis walau tenggorokannya terasa sakit.

“Katanya… ia bertemu dengan wanita lain… dia lebih cantik dariku dan…” nenek, bibi dan lelaki itu menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Raut wajah mereka terlihat marah bercampur kasihan.

“Wanita itu… sedang hamil…” wanita itu tertawa dengan bulir airmata yang sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi.

“Ya… aku tahu alasannya… aku… ingin sendiri. Bisakah kalian meninggalkanku? Nenek… bibi…”

“Maafkan aku…” gadis itu tersenyum dalam tangisnya dan pergi ke ruangan di sebelah kamar pengantinnya.

Ketiga orang itu tidak bisa berbuat apa-apa. mereka terdiam kaku ditempat masing-masing.

 

Malam pun tiba.

“Apakah kau baik-baik saja? Aku membawa makanan untukmu, buka pintunya…” Bibi ditemani teman si gadis mengetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban.

Ia mencoba membuka pintunya dan tidak terkunci.

Kamar itu kosong. Gadis itu melarikan diri.

_flashback End_

 

-0-8-0-

“Kau tahu…, dia… pernah berjanji untuk setia padaku…” gadis itu terlihat lebih tenang.

Ia sedang duduk di sebuah taman ditengah kota bersama lelaki itu, satu-satunya teman lelaki yang dimilikinya. Ia baru berbicara sejak satu jam yang lalu mereka duduk di sana.

“Dia… setelah itu dia… mengajakku ke sebuah tempat. Dia… mengajakku melakukan hal itu…” gadis itu mencengkeram ujung gaun putih usangnya. Untuk kesekian kalinya, air mata mengalir membasahi pipinya.

“MWO?” lelaki itu bangkit dari duduknya, terkejut dengan yang baru diucapkan gadis itu.

“Tenanglah… aku menolaknya. Tentu saja… hiks… aku tidak akan…hiks… melakukan… hal itu…” ia melanjutkan diselingi isak tangisnya.

Lelaki itu kembali duduk. Berusaha mengontrol emosinya. Ia mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya. “Baiklah, kuakui kau tidak sebodoh dugaanku.”

Gadis itu tersenyum samar dan melanjutkan…

“Hal itu terjadi dua hari sebelum pernikahan…” ia menggantung kalimatnya. Kali ini tangisnya sudah reda.

“Aku tetap mau menikah dengannya karena aku… kupikir, aku… mencintainya… begitupun sebaliknya…”

Mereka berdua terdiam kembali. Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya.

 

Bulatan bercahaya yang sejak tadi berada di atas kepala mereka sudah mulai bergeser dan membuat langit menjadi berwarna jingga.

 

“Hhh… Aku merasa malu, marah dan perasaan lain bercampur didadaku. Aku merasa gila! Aku merasa sebaiknya aku hilang dari bumi ini! Tapi kau! Dasar bodoh, kenapa kau bisa berada disana tadi, huh?” gadis itu memukul bahu lelaki disampingnya berkali-kali.

Air matanya, lagi-lagi mulai muncul dipelupuk matanya.

Lelaki itu hanya diam. Membiarkan gadis yang sudah lama dikenalnya itu melampiaskan emosinya. Ketika pukulan dibahunya melemah, ia menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Hanya hal itu yang terlintas diotaknya. Ia cukup tersiksa mencari gadis itu tiga hari belakangan ini sampai akhirnya ia menemukannya dalam keadaan (masih) hidup. Pikirannya sudah terlalu jauh menduga-duga berbagai kemungkinan terburuk yang akan menimpa gadis itu tetapi Tuhan masih melindungi gadis dalam pelukannya saat ini. Ia sungguh lega.

Gadis itu menangis dalam pelukannya. Ia merasakan kemeja lusuhnya basah karena airmata gadis itu. Ia merasakan tubuh gadis itu gemetar. Ia dapat merasakan betapa hancur hatinya.

Gadis itu bergumam di sela tangisnya. Masih dalam pelukan lelaki itu.

“Apa? Aku tidak bisa mendengarmu. Kenapa kau berbicara sambil menangis dan membenamkan wajahmu?” lelaki itu melepas pelukannya. Ia mencoba menghentikan tangis gadis dihadapannya.

Gadis itu mengusap tangisnya dan menarik napas dalam-dalam.

“Kupikir… dia mencintaiku… kupikir aku dapat menikah diusiaku ini… aku…” lagi-lagi gadis itu menggantung kalimatnya.

“Aku tidak akan menikah.” Gadis itu memutuskan.

“Apa?” lelaki itu terkejut.

“Ya. Aku tidak akan menikah sampai ada lelaki yang mencintaiku. A…”

“Aku mencintaimu.” Lelaki itu memotong kalimat lawan bicaranya.

Gadis itu menatap lelaki dihadapannya dengan kening berkerut.

“Aku tidak ingin bercanda sekarang. Itu tidak lucu.”

“Aku tidak bercanda. Aku memang mencintaimu sejak SMA. Tetapi kau tidak pernah menganggapku sebagai seorang pria. Kau hanya menganggapku teman. Jadi, apa yang bisa kulakukan?!” lelaki itu tersenyum sambil bersandar di bangku taman itu.

Langit sudah gelap. Cahaya lampu-lampu taman menggantikan tugas si bulatan bercahaya di langit tadi.

“Kenapa aku? Kau selalu memanggilku bodoh, ceroboh…”

Lelaki itu memeluknya lagi.

“Untuk menutupi perasaanku. Aku terlalu takut untuk mengungkapkannya. Aku tetap ingin bersamamu walau hanya sebagai teman. Aku tetap ingin menjadi lelaki yang berbeda dimatamu. Tidak seperti para lelaki yang mengejarmu, yang selalu memuja dan memujimu. Aku mencintaimu dengan caraku. Akupun menerima kebodohan, kecerobohan, dan kelemahan lain yang banyak sekali berada dalam dirimu…”

Gadis itu memukul bahunya.

Lelaki itu terkekeh. Melepaskan pelukannya dan berkata, “Maukah kau menikah dengan temanmu ini?”

Ia menatap ragu gadis dihadapannya. Entah apa yang terjadi dalam kepalanya hingga ia begitu nekat mengatakan hal itu.

“Tentu saja kau tidak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu. Bahkan aku rela menjadi pria terakhir yang kau pilih setelah Tuhan memusnahkan kaum Adam dan hanya menyisakan diriku untukmu.” Ia berpura-pura pasrah dan frustasi.

Mendapati gadisnya hanya terdiam menatapnya lekat-lekat, lelaki itu mengalihkan perhatiannya. Ia merasa sedikit gugup.

 

“Ba-baiklah. Kau sudah tenang sekarang? Ayo, kita pulang. Nenek dan bibi sangat khawatir padamu.”

“Aku mau.” Gadis itu tersenyum dan bangkit dari duduknya.

“Baiklah, kita pulang sekarang.” Lelaki itu pun bangkit dan mengulurkan tangannya.

“Aku mau menikah… denganmu.” Gadis itu tersenyum.

“Apa?”

Gadis itu mengangguk pelan namun pasti.

“Se…cepat ini?” lelaki itu terkejut tidak percaya.

“Ku pikir, aku mencintainya. Tetapi aku sadar, aku lebih mencintaimu. Saat bersamanya juga pria-pria yang dulu dekat denganku, entah mengapa aku selalu membandingkan mereka denganmu. Sialnya, nilaimu selalu diatas mereka…”

“Apa? Sial katamu?”

Gadis itu mengangguk dan berlari menjauh ketika teman-yang juga akan menjadi (calon) suaminya-berlari mengejarnya. Mereka seperti tidak ingat umur dan kejadian buruk beberapa waktu lalu. Mereka berlarian seperti anak-anak. Sampai si gadis berhasil ditangkap oleh si lelaki…

 

“Apakah itu benar?

Gadis itu mengangguk.

 

“Apakah kau sedang tidak sadar atau mengigau?”

Gadis itu menggeleng.

 

“Apakah kau tidak sedang mencari pelampiasan?”

Gadis itu terlihat sedang berpikir.

 

“Ah, kalau itupun alasannya aku tidak keberatan.”

 

Gadis itu tersenyum, “Semoga saja tidak.”

 

“Haha… baiklah. Semoga malaikat mencatat ucapanmu.”

“Atau…”

 

Gadis itu mengerutkan dahinya, menunggu lelaki yang sedang menggenggam kedua tangannya melanjutkan kalimatnya.

“Atau aku sedang bermimpi?”

Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

 

Chu.

Lelaki itu mencium pipi si gadis singkat.

“Ternyata tidak. Kurasa ini bukanlah mimpi.”

Mereka berdua tersenyum dan berjalan sambil bergandengan tangan meninggalkan taman. Jalan setapak serta gelap dan dinginnya malam menemani perjalanan mereka.

 

“Jadi… Kita akan menikah?!”

Mereka melontarkan pertanyaan yang sama secara bersamaan dan tertawa setelahnya.

Tamat.

 

18 Comments (+add yours?)

  1. Wulan Bindia
    Dec 19, 2013 @ 18:36:28

    Ff nya lucu !! So sweet

    Reply

  2. Elisa
    Dec 19, 2013 @ 18:38:44

    wow.. bagus thor,,, ceritanya sweet 🙂

    Reply

  3. novanofriani
    Dec 19, 2013 @ 19:46:21

    hahaha bisa ya kyk gtu ckck

    Reply

  4. janefelicia28
    Dec 19, 2013 @ 22:35:01

    awww so sweett

    Reply

  5. feby goh
    Dec 19, 2013 @ 22:39:54

    Kalau dipakaikan cast nama pemeran nya sepertiny lebih seru thor.

    Reply

  6. Flo
    Dec 20, 2013 @ 02:15:14

    ahaha, lucu deh…

    Reply

  7. iz Kim
    Dec 20, 2013 @ 06:26:29

    manis hehe..

    Reply

  8. *elizabeth
    Dec 20, 2013 @ 07:56:37

    Lucu xD min 😀

    Reply

  9. *elizabeth
    Dec 20, 2013 @ 07:57:59

    Lucu xD min 😀 tp sweet :*

    Reply

  10. just_dez
    Dec 20, 2013 @ 16:56:53

    b^^d

    Reply

  11. parkminjung
    Dec 20, 2013 @ 16:59:30

    lucu critanya wkkw

    Reply

  12. ziajung
    Dec 20, 2013 @ 19:33:26

    ng… lupa kalo gak ada nama castnya -_-
    tapi okelah^^

    Reply

  13. Firda Lee
    Dec 20, 2013 @ 22:26:51

    kkk… sip

    Reply

  14. She
    Dec 22, 2013 @ 05:54:31

    Sweeeet bgt thorrrr,,, nama cwo itu

    Reply

  15. minrakyu
    Dec 23, 2013 @ 10:34:39

    Ini karna g ada siapa co nya, aku jd bayangin itu kyu.. heeee

    Reply

  16. AnnA
    Dec 23, 2013 @ 16:43:25

    coba di pake cast thor~^^

    Reply

  17. Trackback: [Beside Story] At Gwanghwamun | Superjunior Fanfiction 2010
  18. kylajenny
    Jul 23, 2017 @ 18:59:04

    Lucu hehehe. Bgs ceritanyaaaa. Tp masa ceweknya cpt bgt memutuskan mau menikah wkwkwk. Keren kokkk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: