Ikan Lee-Lee Vs Jerapah!

Ikan Lee-Lee VS Jerapah (HaeNa)

 

Author            : Tiara (kimnara137)

Tittle               : Ikan Lee-Lee Vs Jerapah!

Cast                : Lee Donghae, Lee Hyun Na, And Others

Genre             : Comedy-Romance

Rate                : PG-15/ Straight

Length            : Oneshoot

 

This story is original presented by @Tiara_

Don’t be plagiator. No bashing. It just for fun ^^. Jangan lupa kunjungi WP Author ya… http://kimnara137.wordpress.com

Ditunggu kehadiran kalian. Enjoy this Fict!!! ^^

 

Ikan Lee Lee vs Jerapah!

 

‘Cinta itu tak pernah memandang status,

Dia juga tak melihat perbedaan,

Cinta tumbuh untuk mereka yang membutuhkan,

Bukan untuk mereka yang menyia-nyiakannya!’

           

 

Braak!

 

 

Gebrakan meja yang dibuat oleh tangan kekar seorang namja, sentak membuat gadis di hadapan pria yang tengah memasang tampang sangar ini pun terkejut. Refleks, gadis manis ini memundurkan punggungnya ke belakang. Tampang murka di depannya ini lebih menyeramkan dari apa pun. Tampak, bahu pria putih ini naik turun. Suara erangan yang tertahan pun menjadi hal yang sangat ditakuti sekarang. Sepertinya ia akan mengeluarkan seluruh amarahnya sekarang juga. Yah… setelah beberapa saat lalu ia mendapat laporan dari gadis yang menjabat sebagai sekretarisnya itu. Tentu hal yang tidak baik, bukan? Melihat dari ekspresi wajahnya yang merah padam, tak tertinggal sedikit pun raut manis di sana. Sungguh, ia marah sekarang.

“Apa seperti ini cara seorang manager melakukan riset pasar, eoh? Sudah berulangkali melakakukan kesalahan seperti ini. Kau…”

Gadis ini spontan terkesiap mendengar bentakan sang direktur yang terkenal akan ketegasannya itu. Oh… siapa yang berani macam-macam pada direktur bermarga Lee yang tak suka pada berbagai alasan dari para bawahannya ini? Direktur bertangan dingin yang tak jauh beda dengan sifat dan wajahnya yang juga terkesan dingin. Oh… tidak, jangan sampai berurusan dengannya, jika tak mau berakhir jadi pengangguran.

“Ye, Sajangnim?”

Sekretaris bermarga Geum ini menunduk dalam-dalam. Sungguh gadis ini tak ingin menatap wajah di hadapannya. Dia lebih menakutkan dari seorang Voldemort kalau sedang marah begini.

“Manager Lee… di mana dia? Suruh dia ke ruanganku sekarang juga!” perintah Direktur Lee dengan suara lantang. Susah payah, Geum Ah Ri menelan salivanya. Lekas ia membungkuk dan beringsut dari ruang kerja Direktur Lee.

Tepat di depan pintu, Ah Ri menghela napasnya yang sempat tertahan karena beberapa bentakan Direktur Lee tadi. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Manager Lee itu betah sekali membuat Direktur Lee selalu marah karena ulahnya? Ah Ri yang juga diketahui sebagai sahabat manager pembuat gaduh di pagi hari seperti ini, langsung menuju ruangan sahabatnya itu.

Sepanjang perjalanan ia hanya mendumal tidak jelas. Yang ia takuti hanya satu, jika yang di pikirannya benar, maka akan ada perang dunia kelima sebentar lagi.

“Hhheh…. akhirnya sampai. Aku pikir, harus ada jalan pintas untuk sampai ke sini. Mengingat sering ada kejadian tak terduga seperti ini. Dasar bodoh kau, Lee Hyun Na!”

Ah Ri menggerutu tak jelas. Yah, berkat sahabatnya itu, ia berhasil kewalahan karena harus rela berjalan cepat bahkan berlari, agar cepat sampai ke ruangan ini. Menyebalkan memang. Tapi, sepertinya itu lah resiko menjadi sekretaris sepertinya. SIAL! Umpatnya tak senang.

 

CEKLEK!

 

“LEE HYUN NA!!!” pekiknya kalap, saat tiba di ruangan Hyun Na, yang diketahui nama manager pembuat masalah ini.

“Yaa! Kenapa berteriak pagi-pagi begini, ohk? Membuat kaget saja! Tsk….”

Wanita berambut hitam legam itu sentak memegangi dadanya. Yah, siapa yang tak kaget mendengar teriakan oktaf tiba-tiba merajalela di ruangan pribadinya? Mulut Ah Ri memang harus disekolahkan terlebih dulu.

“Masih bertanya, heng? Kau ingin mati, HAH? Kenapa kerjamu hanya membuat Direktur Lee marah setiap hari? Kau ingin menjadi pengangguran? Kau tahu betapa mengerikan wajahnya jika sedang marah, heum? Kau memang sudah bosan hidup, Hyun Na-ya!”

Ah Ri terdengar seperti melampiaskan kemarahannya pada Hyun Na. Lihatlah! Bahunya bergerak naik-turun tak beraturan. Tenggorokannya mungkin sangat sakit karena harus berteriak seperti tadi. Yah, demi apa pun, ia sangat kesal karena ulah sahabatnya ini. Hobinya memang selalu membuat onar di pagi hari.

Wae? Laporanku ditolak lagi?” tanya Hyun Na, dengan tampang polos, dan juga suara yang terdengar sangat stabil. Eum…baginya hal ini sudah biasa. Bahkan, ia tak tahu kenapa laporannya selalu saja gagal di mata Direktur Muda itu. Sekeras apa pun usahanya dalam membuat laporan itu, Direktur Lee itu tak pernah menghargainya. Jadi, celetukan yang dilontarkan Ah Ri tadi tak ada gunanya baginya. Paling juga dia akan disuruh ke ruangan direktur tampan itu.

“Kau masih bisa bersikap tenang, setelah apa yang kau perbuat? Hyun Na-ya… aku tak habis pikir melihatmu. Haaah… kau benar-benar tak waras, Hyun Na-ya!”

Hyun Na hanya mengedik tak peduli. Memangnya apa? Ia tahu, setelah ini akan ada pertengkaran mulut lagi seperti kemarin. Biar saja, biar semua karyawan tahu, kalau Direktur Muda yang mereka eluh-eluhkan itu sakit jiwa. Yah, SAKIT JIWA! Kesal Hyun Na dalam hati.

“Cah… kau harus ke ruangannya sekarang. Sebelum kau dipecat, Hyun Na-ya. Arasseo?”

Hyun Na mengangguk enteng, sembari berdiri dan sedikit membenarkan kemejanya yang agak berantakan.

“Aku yang akan menghadapinya, Ah Ri-ya. Kenapa wajahmu yang menjadi pucat seperti itu, heng?”

Ah Ri jelas membelalak. Bicara apa yeoja satu ini? Tentu Ah Ri mengkhawatirkannya. Takut, kalau Hyun Na hari ini benar-benar akan jadi pengangguran, dan menambah jumlah penduduk yang jobless di Seoul. Mengerikan!

“Aku mengkhawatirkanmu, bodoh!”

“Cah… tak usah setakut itu padanya. Aku sudah terbiasa mendengar teriakan dan ancamannya untuk memecatku dari sini. Jja… kita pergi! Aku tak ingin dia berubah bentuk menjadi makhluk mengerikan, karena aku tak juga datang menghadapnya.”

Ah Ri spontan menganga lebar, saat Hyun Na malah tergelak karena imajinasinya yang terlalu berlebihan, membayangkan perubahan bentuk Direktur Lee yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. ANEH!

‘Kalian sama-sama gila! Oh… Tuhan, kenapa Kau takdirkan aku bekerja bersama kedua orang aneh seperti mereka ini? Apa salahku, Tuhan?’

Gumam Ah Ri, dengan wajah pucat pasih. Yah, ia tak bisa membayangkan jika Hyun Na benar-benar akan didepak dari perusahaan ini dengan tangan Direktur Lee sendiri. Oh… jangan sampai terjadi!

***

Di satu sisi, tampak seorang pria berjalan mundar-mandir di depan ruangan kerjanya. Seharusnya, ia tak berada di luar ruangannya. Namun, keadaan yang memaksanya. Ia benar-benar tak sabar ingin memekik hebat di hadapan Manager Pemasaran itu. Benar-benar ingin mengunyahnya habis-habisan.

“Kenapa lama sekali? Dasar sekretaris bodoh! Dia bisa meneleponnya, kan? Mengapa harus ke ruangannya hanya untuk memanggil manager bodoh seperti itu? Aish… benar-benar tidak ada yang bisa diharapkan!”

Yah, direktur ini memang memiliki tempramen yang sangat tinggi. Hal sekecil apa pun  bisa ia luapkan dengan amarah yang meledak-ledak. Lihatlah! Ia tampak memasang wajah teramat sangar. Ini tentu mengundang tanya bagi semua karyawan yang berlalu-lalang. Alih-alih mengatakan, mereka memang sudah tahu, siapa yang membuat wajah direktur tampan ini berwajah sangar seperti saat ini!

“Selamat pagi, Direktur Lee! Anda mencari saya?”

Sentak saja Direktur Lee menoleh ke belakang, saat suara yang ditunggunya terdengar juga. Napasnya spontan memburu layaknya singa mencari mangsa. Namun, wajah gadis di hadapannya hanya berekspresikan datar dan memasang senyum palsu.

“Kau sebut ini laporan, HAH? Ini kertas SAMPAH! Kau tahu, heng? Kau benar-benar ingin berakhir di sini, heum? Kau ingin dipecat dan jadi pengangguran, itu yang kau mau, eoh?”

Sepertinya pagi ini, dua orang memang membuat telinganya hampir tuli karena teriakan-teriakan mereka. Hyun Na masih memasang wajah datar dan mengusap kasar telinganya.

“Direktur Lee, tidak baik berbicara keras-keras. Anda kan seorang direktur di sini. Tidak baik, orang bermartabat seperti Anda, berbicara seperti itu,” interupsi Hyun Na, dengan suara dibuat-buat menjengkelkan, membuat semua orang yang tadinya menunduk dalam-dalam karena bentakan sang direktur, sekarang malah memasang wajah bodoh dengan mulut menganga lebar. Gadis ini benar-benar ingin mati muda sepertinya.

“Kau sedang mengajariku, ohk? Berani sekali kau!” ucap Direktur Lee, mendekati tubuh Hyun Na. Sontak, Hyun Na memundurkan tubuhnya ke belakang. Jika dilihat-lihat, memang sangat menyeramkan pria ini jika sedang mengamuk seperti ini.

“Maaf, Direktur Lee! Bukan maksud saya berbicara seperti itu. Hanya saja, saya ingin melindungi Anda dari persepsi orang tentang diri Anda saat ini. Itu saja!”

Hyun Na sungguh masih bisa memamerkan cengiran khasnya. Ini tentu mengundang geram Direktur Lee. Tidak tahu diri, bukan? Siapa sebenarnya yang berbuat salah di sini?

“Omong kosong! Kau… dipecat, Lee Hyun Na-ssi!”

Ah Ri hampir jatuh pingsan karena mendengar telak dari Direktur Lee yang memecat Hyun Na dengan sekali hentakkan. Untung saja tubuhnya tak terpelanting ke lantai, karena seorang lelaki jangkung berhasil menahannya.

“Anda memecat saya? Benarkah? Kenapa?”

Pertanyaan beruntun dari Hyun Na, membuat semua orang lagi-lagi membulatkan mata mereka. Bukan… bukan karena pertanyaannya, karena nada dari suara Hyun Na yang terdengar angkuh dan sombong atau itu sama saja mungkin. Yah, terdengar Hyun Na sama sekali tidak terkejut, atau bahkan memekik hebat. Sungguh, wanita ini memang cari ribut!

“Kau masih bertanya, hah? Dengar… aku tak butuh karyawan sepertimu. Kerjaanmu tidak ada yang beres. Semua berantakan! Kau buat laporan sampah seperti itu. Kau membuat mataku sakit membacanya. Kau tidak pernah berubah, Hyun Na-ssi. Berapa kali aku harus memberimu kesempatan, hah? Kau pikir ini perusahaan Nenek Moyangmu, ohk? Kau pikir, kerja itu hanya sekadar kerja saja, heum?”

Direktur Lee ini menarik napas sejenak, sebelum kembali menghujam Hyun Na dengan keluhan amarahnya.

“Bahkan, melakukan riset pasar saja kau tidak bisa. Apa yang bisa kau lakukan sekarang, hah? Apa aku harus memindahkanmu ke bagian bersih-bersih, begitu? Kau mau aku menempatkanmu sebagai Office Girl? Ini… bawa pulang laporan SAMPAH ini!”

Hyun Na terpaku di tempat. Tepat di depan matanya, laporan yang selama semalaman ia buat, harus berakhir di lantai dengan tampang kusut tak beraturan. Dilihat dari cover-nya, memang file-file itu telah remuk-redam akibat remasan tangan kekar Direktur Lee.

“Anda bilang sampah? File ini….sa…sampah?”

“Heum… SAMPAH! Kau bawa itu pulang. Mataku terasa perih melihatnya!”

“Kenapa hanya Anda yang bilang laporanku buruk, Direktur Lee yang terhormat? Suamiku saja bilang kalau ini sudah bagus. Tadi malam, saat aku menunjukkan ini padanya, ini sangat bagus. Kenapa Anda tak pernah menghargai kerja kerasku? Semalaman aku menyusunnya. Anda malah melempar, meremas, bahkan membuatnya tak berbentuk lagi seperti ini. Anda memang ingin mendepakku keluar dari sini, kan? Begitu kah, Direktur Lee yang terhormat?”

Napas Hyun Na terdengar memburu. Ia tak kalah emosinya saat ini. Pria bertempramen tinggi sepertinya memang harus dilawan sesekali.

“Memangnya suamimu yang memutuskan, ini diterima atau tidak? Lagipula, aku tak percaya kalau suamimu bilang seperti itu. Dia hanya ingin menyenangimu saja dengan pernyataan bodohnya itu.”

“Eoh? Bodoh kau bilang? Yaa! Dasar Ikan tidak tahu diri, jangan mengatai suamiku bodoh! Kau pikir siapa kau, ohk?”

Yah, sepertinya ini lagi-lagi terjadi. Mereka menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Selalu saja bertengkar, seperti anjing dan kucing. Bahkan, dengarlah! Hyun Na tak lagi memanggilnya dengan sebutan ‘Direktur’ melainkan ‘Ikan!’ Astaga! Hyun Na memang benar-benar ingin mati muda, mungkin!

“Kau perlu bukti, ohk? Datang dan saksikan sendiri, dan jangan lupa pasang memori dan telingamu baik-baik. Apa yang dikatakan suamiku tentang laporan yang kususun! Bila perlu kau rekam, Lee Donghae-ssi!”

Ya ampun, lihatlah! Semua orang nyaris ambruk di tempat masing-masing. Hyun Na membuat macan yang tak tidur-tidur semalaman mengamuk karena ucapannya. Direktur Lee ini tampak hanya mendengarkan emosi Hyun Na saja, sementara tangannya mengepal keras, tak senang dengan ucapan Hyun Na.

“Eoh? Atau jangan-jangan, Anda menyukaiku, Lee Donghae-ssi?”

Ucapan Hyun Na sentak membuat pria bernama Donghae ini membelalak hebat. Apa dia tak salah dengar? Percaya diri Hyun Na mungkin lagi di puncak kejayaan saat ini. Yah, lihat saja! Hyun Na tak lagi memasang tampang marah, melainkan tampang menggoda.

“Siapa yang mau menyukai wanita bersuami sepertimu, ohk? Tahu dirilah, Hyun Na-ssi. Dasar Jerapah!”

“Cih… kau pikir siapa yang menyukai pria beristri sepertimu, hah? Pria kekanakan, yang suka membuat orang terpojok. Hal sekecil ini saja kau permasalahkan. Dasar Ikan!”

“Yaa! Lee Hyun Na, cepat kemasin semua barang-barangmu dari sini. Aku sudah tak tahan lagi jika melihatmu bekerja di sini. Kau membuatku tua mendadak! Cepat… kemasi barang-barangmu!”

“Tidak akan! Aku tidak akan pergi atas perintahmu, yang bisa memecatku hanya Presdir Lee saja. Anda mengerti, Lee Donghae-ssi?”

Kontan, Donghae mencelos. Yah, ia baru tahu sekarang, kalau Hyun Na memang wanita keras kepala, sekeras batok kelapa. Benar-benar minta ditenggelamkan di Laut Atlantik sana!

“Hah… jangan mentang-mentang kau karyawan kesayangan Presdir… membuatmu bicara sesukamu terhadapku, Hyun Na-ssi!”

“Memang itu keahlianku, Lee Donghae-ssi!” jawab Hyun Na seenteng mungkin. Donghae lagi-lagi menggeram. Aish jinjja!

“Teruslah berlindung di belakang Presdir! Kau sangat picik, Hyun Na-ssi!”

“Terima kasih, Lee Donghae-ssi. Itu memang aku!” Hyun Na tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu apa yang akan dikatakan Donghae sejurus kemudian…

“Kau… CEPAT KEMASI BARANG-BARANGMU!”

Telak, semua orang menutup telinga mereka masing-masing. Auman ini nyaris melumpuhkan gendang telinga mereka yang mendengarnya. Apalagi, yang berdiri dengan jarak dekat. Pasti, telinga mereka mendengung tak karuan. Menyeramkan!

“Siapa yang kau suruh kemasi barang-barangnya?”

Suara berat nan tegas ini, tiba-tiba terdengar di sekitar mereka. Hyun Na menoleh ke samping. Sudah ada siluet pria berbadan besar yang terlihat berwibawa dengan jas hitam yang ia kenakan—berdiri dengan gagah.

“Presdir, selamat pagi!” sapa Hyun Na, dengan tampang polos dan senyum merekah indah. Membuat pria paruh baya itu lantas membalas senyumannya juga.

Abeoji….”

 

Pletak!

 

“Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan itu di sini, eoh? Kau sudah mulai tak sopan, heh?”

Hyun Na hampir tergelak melihat Presdir menjitak kepala Donghae dengan tidak elitenya. Benar-benar pemandangan yang sungguh mengagumkan. Jarang-jarang melihat Ayah dan anak berlaku demikian di kantor ini. Sungguh! Donghae menunduk karena malu.

“Tertawalah sepuasmu… Jerapah!” celetuk Donghae tak senang, ketika diketahuinya Hyun Na menahan tawanya dengan telapak tangan yang membungkam mulutnya. Sentak saja Hyun Na menyengir kuda dengan senangnya. Yah, ini membuatnya senang.

“Hyun Na-ssi… maukah kau makan malam di rumah kami, nanti malam?”

Hyun Na tampak sedikit berjengit ke samping mendengar ajakan Presdir Lee yang terdengar sangat ramah. Kenapa tidak? Ini kesempatan emas, bukan?

“Ye, Presdir! Mana mungkin saya menolak.” senyum yang dianggarkan Hyun Na membuat Donghae bergidik ngeri. Senyum ejekan itu memang ditujukan untuknya. Patutlah ia bertingkah seperti itu.

“Dasar picik! Tidak tahu malu!” umpat Donghae dengan gigi terkunci rapat. Geram? Jangan tanya lagi. Ia benar-benar ingin menjungkir-balikkan Hyun Na… jika bisa.

Hyun Na? Dia hanya menjulurkan lidahnya angkuh. Yah, kali ini ia menang lagi. Benar-benar Dewi Fortuna selalu memihaknya. Donghae menepuk jidatnya kasar. Kenapa datang di saat yang tepat? Lagi-lagi terselamatkan oleh Ayahnya itu. Entah mungkin Hyun Na sudah mendukuni Ayahnya itu, agar Ayahnya mau melindungi Hyun Na. Dasar Jerapah! Kesal Donghae menggulung jari-jarinya.

Hingga pria paruh baya itu berlalu dari hadapan mereka. Donghae masih kekeuh dengan wajah murkanya. Hyun Na, entah yang keberapa kali berhasil membuat direktur yang dipuja-puja kaum Hawa itu kalah telak dan mati kutu.

“Hei…Direktur Lee. Kau jangan suka marah-marah. Kau akan cepat tua kalau begini terus. Tempramenmu itu terlalu tinggi, kau mau menandingi Namsan Tower, ohk?”

“Yaa! Dasar Jerapah…kemasi barang-barangmu! JE…RA…PAH!!!!”

Hyun Na lekas berlari menjauh, dan sepanjang ia berlari, ia terus menengok ke belakang, memperhatikan wajah Donghae yang merah padam karena ulahnya. Yah, Donghae semakin kesal. Apalagi, Hyun Na mengejeknya dengan gerakan bokongnya yang seperti bebek itu. Donghae tak habis pikir, kenapa Ayahnya masih mempertahankan gadis menyerupai setan sepertinya!

“Tuhan… aku bersyukur. Istriku tak seperti dia… Iiihh… mengerikan!” Donghae bergidik ngeri sembari mengusap lengannya dan menggelengkan kepalanya cepat. Sungguh tak bisa dibayangkan!

“Oh… istriku. Aku lebih menyukaimu daripada setan Jerapah sepertinya,” desahnya tertahan, dan segera berlalu dari hadapan orang-orang yang menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti. Yah, setiap hari pertengkaran selalu terjadi, dan setiap hari pula berakhir seperti ini. Apa kedua makhluk ciptaan Tuhan ini tak bosan? Akh… membuat frustrasi saja!

***

Memang terkadang cinta itu suka bersembunyi,

Terkadang melampiaskannya lewat amarah,

Kadang juga lewat umpatan,

Itu semua tergantung sikap dan pola pikir setiap orang,

Cinta itu….BEBAS!!!

 

 

Di ufuk Barat sana, matahari hanya memancarkan bias jingga yang menimbulkan efek indah di mata orang yang melihatnya. Setiap insan sengaja datang ke Sungai Han untuk menyaksikan matahari itu menghilang dari peraduannya. Indah… bagi mereka yang mengisi hari-hari dengan damai.

Tidak bagi Lee Donghae. Pria ini senantiasa berteriak frustrasi, meski petang tengah menyambut dan sebentar lagi malam akan tiba. Yah, dari mulai pagi tadi, ia hanya mengerang tak jelas. Sungguh, melihat berkas-berkas yang ada di meja kerjanya membuatnya ingin marah pada siapa pun juga. Kenapa akhir-akhir ini tempramennya buruk sekali? Ia sudah seperti Kakek berusia lanjut yang memiliki tekanan darah tinggi. Patut diwaspadai! Ya ampun, kenapa ada wanita yang mau menikah dengannya?

“Makan malam? Ya ampun, Ayah sudah gila? Aku sangat lelah, biarkan istirahat sebentar!” desis Donghae, sembari membereskan kertas-kertas yang berantakan bukan main di sekitar meja kerjanya. Yah, hari ini benar-benar melelahkan!

 

Di satu sisi, tampak Hyun Na tengah menunggu di depan pintu masuk perusahaan 20 lantai ini. Ia kelihatan sangat senang hari ini. Sapaan orang-orang yang melaluinya pun, dijawabnya dengan bibir tersungging manis. Membuat pria yang baru saja tiba ini sentak mencibir tak senang.

“Oh… rupanya kau sangat bersemangat untuk datang ke rumahku, ya?”

Mendengar celetukan dengan nada kurang sedap didengar itu pun, Hyun Na menolehkan kepalanya ke samping. Sedikit menatap angkuh pria berjas putih ini. Ingin cari ribut lagi ternyata!

“Sudahlah, ini waktunya pulang. Berhenti membuat gaduh, Lee Donghae-ssi!” tangkas Hyun Na dengan senyum miring andalannya. Entah senyum itu dipelajarinya dari mana, yang jelas hampir menyerupai senyum miring milik Kyuhyun Super Junior. Yah, mungkin!

“Cih…dasar licik!”

“Terima kasih telah memujiku, Donghae-ssi!”

 

Tiiiinnnn!!!!

 

“Masih mau beradu mulut?”

Klakson yang sengaja dibunyikan oleh penyetir dari dalam mobil bermerek Aston Martin itu sentak saja membuat kedua makhluk hidup ini kaget, dan lekas membungkuk sopan.

“Kau bersama Donghae atau bersamaku, Hyun Na-ssi?” pria paruh baya yang duduk di jok mobil belakang itu pun menginterupsi Hyun Na.

“Bersamaku? TIDAK AKAN!” sela Donghae dengan suara lantang nan menggelegar. Hyun Na berdecih pelan. Sungguh kekanakan! Cibir Hyun Na dalam hati.

“Siapa yang mau semobil bersamamu, IKAN? Tsk…bisa-bisa bokongku bisulan!” umpat Hyun Na, beranjak pergi menuju mobil yang ditumpangi Presdir Lee, sementara Donghae masih memandang geram punggung Hyun Na.

 

 

‘Cinta itu penuh teka-teki,

Nyata tapi terlihat misteri,

Entahlah! Sebagian orang berpendapat kalau cinta itu… ILUSI!

Terlihat realistis padahal hanya taktik!’

 

Daechi, Gangnam, Seoul

-Lee’s Mansion-

 

 

Malam itu indah, bukan hanya karena pernak-pernik benda angkasa yang menggantung cantik di atas sana. Tetapi juga, tergantung suasana hati mereka yang menikmatinya. Bulan kini telah mengambang manis di angkasa, berlian bersinar itu pun juga telah mengisi satu-satu tempat mereka dan menambah kesan menakjubkan bila dipandang dari atas Bumi ini.

Suasana malam yang damai hari ini mestinya juga dirasakan oleh keluarga kecil nan romantis ini. Namun, apakah persepsi yang dimunculkan juga sama pada kenyataannya? Mengingat anak mereka baru saja bertengkar hebat tadi pagi saat di kantor.

Tampak, di meja makan yang luasnya hampir memenuhi seisi dapur bernuansa Eropa ini, orang-orang yang duduk mengelilinginya memasang wajah ceria. Yah, seperti malam-malam sebelumnya. Mereka selalu seperti ini. Tidak ada erangan frustrasi, kecaman, perintah, ataupun teriakan. Semua sama jika sedang berada di rumah. Yah, SAMA!

“Hyun Na-ya… bagaimana? Ini aku yang memasak…enak, tidak?”

Diketahui pertanyaan itu terlontar dari mulut Nyonya Besar mansion megah ini. Hyun Na mengacungkan dua ibu jarinya, dikarenakan mulutnya masih penuh dengan makanan. Membuat pria di sebelah kanannya menggeleng malas.

“Syukurlah…!” lega Nyonya Lee dengan senyum kepuasan, membuat Hyun Na ikut menunjukkan senyumnya, masih dengan mulut yang penuh.

“Cepat habiskan makanannya. Aku memasak memang untuk kalian. Donghae-ya… kau mau lagi supnya?”

Aniya Eomma…aku sudah kenyang,” Donghae menjawab, sembari mengelap mulutnya dengan tisu yang telah disediakan di atas meja.

“Kudengar kalian bertengkar tadi, benarkah?”

Hyun Na mengangguk polos menjawab pertanyaan Nyonya Lee. Sementara Donghae, hanya melongo saja. Hyun Na polos atau memang memiliki kepribadian seperti itu? Entahlah, Donghae hanya bisa menggeleng saja saat ini. Tsk…

“Seperti biasa, sayang! Mereka selalu dan selalu seperti itu.”

Kali ini, suara berat Tuan Lee yang menggema di ruang makan ini. Membuat kedua anak manusia ini terkekeh pelan.

“Jangan seperti itu. Kalian akan membuat semua orang bingung,” ucap Nyonya Lee, sembari menyesap teh panas di hadapannya.

“Jadi… kapan kalian memberikan kami cucu?”

“UHUK….UHUKKK…!” sontak saja Hyun Na terbatuk, kerena mendengar Nyonya Lee dengan entengnya bertanya mengenai CUCU kepada mereka.

“Pelan-pelan makannya, sayang!” ucap Donghae, sembari mengelus pundak Hyun Na yang masih terbatuk kerana secuil pertanyaan yang mengandung makna lebih itu.

“Kalian sudah menikah hampir enam bulan, kan? Jadi, ini sudah saatnya kalian mulai memikirkan anak. Kalian tidak ingin ada pelengkap hidup di rumah? Bukan begitu, sayang?” Tuan Lee spontan mengangguk setuju, mendengar penuturan Nyonya Lee yang terkesan kalem itu.

“Benar sekali, sayang! Aku setuju denganmu. Mereka harus memikirkan anak sekarang. Bukan hanya bertengkar saja setiap hari di kantor. Donghae-ya, kau kenapa? Saat di rumah kau sama sekali tak pernah membentak istrimu, apalagi memarahinya habis-habisan. Tapi, saat di kantor, sifatmu berubah 180 derajat. Kau kenapa, ohk?”

Donghae hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal. Yah, mendengar penuturan Ayahnya itu, ada benarnya juga.

Abeoji… Donghae itu punya kepribadian ganda. Jadi, wajar dia seperti itu. Bukan begitu, sayang?” Hyun Na memiringkan kepalanya, menghadap Donghae yang masih menyengir tidak jelas.

Yah, memang Donghae dan Hyun Na sudah menikah enam bulan lalu. Eum, mereka suami-istri! Apa itu tidak cukup menjelaskan tentang semua ini? Oh…baiklah. Mungkin, semua orang akan terkejut melihat mereka seperti itu. Yah, bagaimana bisa suami-istri bertengkar hebat setiap hari hanya karena masalah pekerjaan, apalagi itu terjadi di kantor—tempat umum?

Donghae… memang seperti itu. Saat di kantor, semua orang disama-ratakannya, tak ada yang berbeda, sekalipun itu istri, adik, ataupun kerabatnya sendiri. Ia akan bersikap demikian, jika tak senang… maka pecatlah jalan satu-satunya yang baik menurutnya.

Hyun Na sangat teramat memahami karakter ganda yang dimiliki Donghae saat ini. Bahkan, sebelum menikah waktu itu. Beda kalau mereka sedang di rumah. Entahlah, mengapa ini bisa terjadi? Yang jelas, Donghae membuat ini, karena ia tak ingin pilih kasih jika sedang bekerja. Namun tetap saja, terkadang Hyun Na sering naik pitam dibuatnya.

“Kau bisa saja, sayang! Emmm… menggemaskan!” Donghae terseyum tertahan, dengan tangan yang mencubit gemas kedua pipi Hyun Na, membuat Hyun Na mengaduh kesakitan.

“Hahahaha… Donghae-ya, jangan biasakan memarahi Hyun Na di muka umum. Kau disangka orang gila karena memarahi istrimu sendiri. Haahhahaha!”

Gelak tawa di ruangan ini pun  terdengar menggelegar. Tampak, mereka sangat menikmati malam hari ini seperti biasanya. Yah, setiap hari pasangan ini selalu makan malam di kediaman keluarga Lee—bukan di apartemen mereka. Mungkin, karena Donghae anak kesayangan mereka. Tapi, entahlah!

“Kalian harus pergi bulan madu. Bukankah kalian belum pernah berbulan madu? Bukan kah begitu, sayang?”

“Eum… benar begitu. Memang begitu seharusnya.”

Eomma… jangan bercanda! Pekerjaanku menumpuk.”

“Tidak ada alasan, Donghae-ya. Aku tidak mau dengar apa pun dari kalian berdua. Arasseo? Minggu depan kalian berangkat.”

“APAAA???”

***

Cinta itu seperti petasan,

Mengejutkan, tetapi menyenangkan!

 

Apgujeong, Gangnam, Seoul

-Koreana Apartement-

 

“Kau tersinggung karena ucapanku tadi pagi?”

Hyun Na hanya menggeleng, sembari tersenyum lembut. Pasangan suami-istri ini tampak tengah bersantai di balkon kamar mereka, setelah sekitar 1 jam lebih berada di apartemen ini. Yah, tentu baru pulang dari kediaman Keluarga Lee.

Aniya…itu sudah hal lumrah bagiku. Kau kan memang aneh!” Hyun Na mengelus pundak Donghae yang dibalut kaus putih ketat, hingga menampakkan otot-otot kekarnya.

“Begitukah? Maaf… entah kenapa aku berlaku demikian padamu. Bahkan ingin mengusirmu,” desah Donghae terdengar lirih. Yah, ia terkadang lupa diri. Kalau di kantor, ia bahkan lupa siapa Hyun Na sebenarnya. Semua dianggapnya sama. Ini yang membuatnya bingung sendiri. Entah ini penyakit atau memang keturunan dari sang Ayah.

“Sudahlah… jangan dipikirkan. Jangan minta maaf lagi.”

“Eeum…. Wae?”

“Setiap hari kau minta maaf, besok juga kau ulangi. Aku sudah memaklumi sifatmu itu. Jadi, jangan minta maaf lagi. Arasseo….Yeobo?”

Donghae tampak tersenyum malu. Bukan…bukan karena untaian kata-kata Hyun Na barusan. Tapi, Hyun Na baru saja mengecup bibir merah Donghae, kilas. Membuat bulu kuduk Donghae terasa berdiri seketika.

“Eumm… arasseo! Gomawo…”

 

CUP!

 

Yah, mungkin ini akan menjadi ciuman panjang mereka malam ini. Mengingat hari ini begitu melelahkan. Tampak, Hyun Na mengalungkan tangannya di leher Donghae dengan manja. Donghae pun demikian, ia merapatkan tubuh mereka dengan memeluk pinggang Hyun Na dengan erat. Ciuman yang tadinya berjalan lembut, kini sedikit panas. Yah, sepertinya mereka butuh air untuk menghujani tubuh mereka yang dimabuk asmara seperti ini.

“Mmhhhppp—” sentak Donghae melepaskan tautan yang berlangsung sangat lama itu, melihat Hyun Na yang kehabisan pasokan udara. Donghae terkekeh pelan, saat melihat bibir Hyun Na yang sedikit membengkak karena gigitan yang dilakukan Donghae sewaktu ciuman. Oh…tentu Hyun Na akan mengamuk setelah ini.

“Yaa! Masih bisa tertawa, HAH? Kau pikir bibirku DONAT yang bisa sesuka hatimu kau gigit, eh?” pekik Hyun Na kalap. Namun, Donghae tetaplah Donghae. Tawa adalah andalannya saat ini. Tak berniat berhenti sama sekali.

“Peduli apa diriku. Salahkan bibirmu, kenapa manis seperti lollipop?” kikik Donghae lagi. Hyun Na sontak meninju perut ber-abs milik Donghae tanpa ampun. Membuat sang empunya meringis kesakitan.

“Dasar Ikan tidak tahu malu. Mesum!” kesal Hyun Na mengerucutkan mulutnya. “Yaa! Tapi, aku tak suka kau mengatai suamiku bodoh.”

Mwo? Maksudmu?” jelas Donghae terheran-heran. Suami? Bukankah, Donghae suaminya? Lalu?

“Eum…jangan mengatai suamiku bodoh. Bukankah, kau bilang bahwa suamiku bodoh tadi? Suamiku yang di rumah itu jauh lebih pintar dari Direktur Lee tak berperasaan itu.”

Donghae langsung tergelak mendengar Hyun Na bertutur kesal seperti itu. Yeah… ia baru ingat, kalau tadi ia mengatai dirinya yang berada di rumah bodoh. Tentu Hyun Na marah. Baginya, suaminya yang di rumah ini adalah yang terbaik. Begitu juga sebaliknya, bagi Donghae, istrinya yang bernama lengkap Lee Hyun Na ini yang paling istimewa.

“Maaf… tapi Direktur Lee itu juga suamimu, Lee Hyun Na-ssi.”

“Secara nyata, memang benar. Namun, sifat… jauh berbeda. Suamiku yang asli… ada di hadapanku saat ini,” manja Hyun Na bergelayut di lengan Donghae.

“Jadi, kau setuju minggu depan kita berbulan madu?”

“Eum…tentu saja. Bukankah, ini kesempatan kita?” Hyun Na mengerling jail. Dan dibalas kecupan singkat yang dilakukan Donghae di bibir Hyun Na.

***

Cinta sebenarnya tidak berubah,

Hanya saja, orang yang merasakannya yang berlaku demikian,

Cinta itu…KONSTAN!

 

-Young Lee Group Building-

 

“LALU APA MAUMU?”

“KAU DIPECAT…. LEE HYUN NA-SSI!!!!! AISH! Kenapa ada orang bodoh sepertimu di dunia ini, ohk?”

Terdengar pekikan yang saling menyambar satu sama lain mengisi suasana pagi yang tadinya sungguh indah, menjadi buruk tak tertampis lagi. Yah, semua orang bahkan terlihat menggelengkan kepalanya masing-masing. Haruskah mereka mendengar teriakan demi teriakan setiap hari yang dilakukan orang yang sama?

“Aigoo… aku benar-benar ingin menyerahkan diri ke rumah sakit jiwa kalau begini terus keadaannya. Kedua orang itu memang sudah gila. Yah, GILA!” tampak Ah Ri menyudut di ruangan pribadi Direktur Lee yang masih setia berdebat dengan Manager Lee. Soal apa? Tentu masih sama, soal laporan riset pasar. Memang sudah seminggu ini, hasil penelitian Hyun Na ditolak mentah-mentah oleh direktur sok angkuh ini.

“Apa mereka harus seperti ini setiap hari? Mereka bukan suami-istri pada umumnya. Tsk…” terdengar mereka menjadi buah bibir di perusahaan ini. Beberapa karyawan sempat menggosipi tentang hubungan mereka. Bahkan, ada yang bertaruh kalau Hyun Na akan ditalak setelah ini. Padahal, mereka tidak tahu sosok itu jika sedang di rumah. Ia bahkan tak berani membantah perintah Hyun Na sedikit pun. Namun lihatlah, keangkuhannya jika sedang di kantor. Serasa dunia ini hanya miliknya dan ikan peliharaannya.

“KAU DIPECAT… LEE HYUN NA-SSI!!!”

“Oh…tenang saja, Direktur Lee yang terhormat. Aku akan melangkahkan kakiku dari sini, jika Presdir yang memintaku untuk keluar dari perusahaan ini. Anda mengerti?”

“Yaa! Sampai kapan kau mau berlindung di belakangnya, HAH?”

“SAMPAI KAU BERUBAH WUJUD MENJADI IKAN!”

“Lee Hyun Na…. KAU!!!!”

Yah, lagi-lagi…semua orang yang tengah menyaksikan adegan pertengakaran seperti di drama-drama TV ini, harus rela menutup rapat telinga mereka, jika tak mau tuli mendadak.

“Jika tidak ada urusan lagi. Saya pergi!” ucap Hyun Na, segera beringsut menjauh dari hadapan Donghae yang tengah memasang wajah merah padam seperti api unggun. “Oh…ya, satu lagi… BULAN MADU KITA BATAL… DIREKTUR LEE YANG TERHORMAT!”

Omongan Hyun Na barusan, sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Donghae, membuatnya membelalak kaget. Yah, ia baru sadar kalau mereka akan berbulan madu besok. Ah… SIAL! Kenapa ia benar-benar bodoh.

“Yaa! Lee Hyun Na-ya… tunggu! Kau tidak boleh mengaitkan masalah ini ke masalah pribadi kita. YAK! Lee Hyun Na-ya… berhenti!”

Donghae terus memekik tanpa ampun. Namun, yang diteriaki tak ambil pusing. Hyun Na terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

“BERHENTI…. LEE HYUN NA-SSI!!!”

Sentak saja teriakan lengking itu membuatnya berhenti seketika. Mau tidak mau, daripada dilihat banyak orang dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Lebih baik mengalah!

Mwo…mwo? Kau mau bilang apa lagi, Direktur Lee yang terhormat?”

“Kau…jangan batalkan rencana besok. Kau tidak boleh seperti itu.”

“Memangnya ada masalah untukmu, ohk? Kulihat, Direktur Lee yang terhormat ini tidak pernah mengerti perasaan orang lain!”

“Yaa! Berani sekali kau bicara seperti itu padaku, Jerapah?” Donghae mendumal tak jelas sekarang. Sementara Hyun Na, masih dengan angkuh menatap Donghae.

“Peduli apa aku, IKAN?”

“Pokoknya kau tidak boleh membatalkannya. Kau mengerti?”

“Aku tidak dengar apa-apa.”

Hyun Na memasang wajah ketus, dan menutup telinganya bermaksud mengejek Donghae. Yah, sebenarnya ia hanya ingin membuat pria ini memohon meski dengan titelnya sebagai seorang Direktur. Karena Direktur Lee tak pernah memohon meskipun pada istrinya. Ingat, dia bukan Lee Donghae yang di rumah! Tidak masuk akal! Yah, semua orang berpikiran seperti itu sekarang. Entahlah, sampai kapan Direktur Lee ini akan mengalah dan menjadi seorang Lee Donghae saat di rumah mereka. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Kau mempermainkanku, Jerapah?”

“Tidak. Memang aku tidak dengar apa pun, IKAN!”

“Yaa! Berhenti memanggilku Ikan, Jerapah berkaki delapan?”

“Ohk…kau mengataiku berkaki delapan, eh? Kau pikir aku laba-laba, hah?”

“Memang benar, kan?”

Arasseo, Direktur Lee… BESOK RENCANA ITU BATAL. KAU MENGERTI… IKAN LEE-LEE???” pekik Hyun Na telak, dan berlalu dari Donghae yang membuka mulutnya lebar.

Di sisi lain, Hyun Na tampak tersenyum penuh kemenangan. Ia puas, karena Donghae sangat tak menyukai julukan itu diberi untuknya. Apalagi, belum ada yang tahu kalau julukan itu miliknya. Yah, lihat saja, semua karyawan terkekeh geli melihatnya. Demi apa pun ini memalukan, Ikan Lee-Lee? Bukankah itu terdengar tidak elite? Ia tahu yang akan dilakukan suami gadungannya itu sepersekian detik selanjutnya…

“LEE HYUN NA…. KEMASI BARANG-BARANGMUUUUUUUUU!!!!!!”

Hyun Na berlari kecil sembari tertawa penuh kemenangan. Satu fakta baru yang perlu diketahui karyawan di perusahaan ini. Selain Direktur Lee itu sakit jiwa, ia juga punya julukan yang sama sekali terdengar tidak sedap itu. Yah, bagi siapa pun yang mendengarnya, pasti akan terbayang kelejatannya saat ikan lee-lee itu dipanggang dan disantap habis dengan saus yang pedas manis. Ini yang membuat Dongahae naik pitam. Ingin rasanya menjahit mulut Hyun Na itu seketika.

“Direktur Lee, Anda harus ke ruangan Presdir sekarang juga. Ada yang—“

“DIAM!!!!!!!”

Sentak Ah Ri dan kawan-kawan yang masih setia memandangi Donghae dengan tampang tidak enak dipandang itu pun terkejut, mendengar teriakan yang membahana ke seluruh ruangan ini. Lekas, mereka terburu-buru berlarian menjauh dari Donghae yang mungkin akan mengamuk besar setelah ini. Yah, sepertinya… para karyawan ini memang agak kaget, hingga mereka terkadang tak melihat jalan, hingga saling tubruk-menubruk satu sama lain. Membuat posisi mereka seperti kue lapis, bersusun tak karuan. Sementara Ah Ri hanya mampu bersembunyi di bawah meja kerjanya. Dan menyumpahi Hyun Na agar merasakan hal yang sama seperti mereka.

“LEE HYUN NA…. AKAN KUTENDANG KAU KE BIKINI BOTTOM!!!!”

==FIN==

 

Terima kasih yang sudah membaca! Harap tinggalkan jejak… Maaf kalau tak sebaik yang diharapkan.  http://kimnara137.wordpress.com

Terima kasih buat para Admin yang sudah bersedia mempublish karya saya #deepbow ^^

32 Comments (+add yours?)

  1. Nadyya
    Jan 11, 2014 @ 12:29:08

    Hahaha 😀
    lucuu abis thor apalaggi pas tau Hae Suaminnya itu jerapah xD

    Reply

  2. Dian fishy
    Jan 11, 2014 @ 12:34:29

    Ngakak baca”a……

    Reply

  3. Cho EunKyu
    Jan 11, 2014 @ 13:04:19

    Haha lucu thor
    trnyta mereka itu suami istrii

    Reply

  4. Firda Lee
    Jan 11, 2014 @ 14:59:44

    kkk… parah tuh.. perang tiap hari…
    keep writing thor…

    Reply

  5. ainin nadhifa
    Jan 11, 2014 @ 18:35:34

    Bwahahaha… Kocak abis deh! good job!

    Reply

  6. riska
    Jan 11, 2014 @ 20:05:19

    Ceritanya lucu n oke banget….mau dong sequel nyaa

    Reply

  7. @salmaayu1
    Jan 11, 2014 @ 20:18:02

    Hahahaha…. bener2 kocak ni ff 😀
    Sifat dongek aneh bener XD
    Pokoknya ff ini keren thor ^^

    Reply

  8. *elizabeth
    Jan 11, 2014 @ 21:16:42

    Aa sosweet 😀
    sewuel dong? Gantung ni ending.a

    Reply

  9. woonakim13
    Jan 11, 2014 @ 21:55:48

    sequelnya ditunggu lhoo-.-bikin sampe merekaa pnya aeggi yaaaaa ? #Hwaithingthorr

    Reply

  10. Ahnra
    Jan 11, 2014 @ 23:02:13

    wahhh paraahhh =.= masa iyu suami istri kek bgenoohh??? ikan lee lee kau sangat ajaib -.-

    Reply

  11. hartini
    Jan 11, 2014 @ 23:42:31

    Hahahaha lucu 😀
    Ada yah pasngan yg kyk gtu ?!

    Reply

  12. Elita
    Jan 12, 2014 @ 08:57:30

    Fanfiction nya bagus thor, 😀
    aneh donghae nya punya penyakit bipolar disorder wkwk 😀
    keep writing author (y)

    Reply

  13. Wulan Bindia
    Jan 12, 2014 @ 14:45:51

    “LEE HYUN NA…. AKAN KUTENDANG KAU KE
    BIKINI BOTTOM!!!!”
    Hahha masa iye , emang nyampe hahhaha

    Reply

  14. Kha Naya
    Jan 12, 2014 @ 17:14:38

    Pasangan yg aneh…
    Sequel donk thor, tebarkan keanehan lain ny…

    Reply

  15. ririnsetyo
    Jan 12, 2014 @ 17:23:28

    hihiii lucu

    Reply

  16. ziajung
    Jan 12, 2014 @ 22:00:57

    oalaaaa donghae kena darah tinggi tuh marah marah mulu -_-
    good job^^ authornim

    Reply

  17. ainikyu
    Jan 12, 2014 @ 22:13:47

    ada suami-istri kaya gini.
    Keren

    Reply

  18. Istri Kim Jong Woon
    Jan 13, 2014 @ 06:54:54

    Lucu. Kocak thor. Keren dah !

    Reply

  19. trisnasmile
    Jan 14, 2014 @ 08:44:00

    Astaga aq ngakak baca wkkkkkk…..

    Reply

  20. EunHae Shipper
    Jan 15, 2014 @ 21:22:48

    lah ini pasangan macam apa ._. wkwkwk

    Reply

  21. nurigyu
    May 14, 2014 @ 12:33:41

    hadoh pasangan aneh -.- aku pikir mereka punya pasangan masing² tadi. taunya suami istri. mereka bener bener aneh.
    btw, aku suka author ngasih dongek nama “ikan lee-lee” haha

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: