Snakes On The Plane {15/?}

Yun Hee POV

Shin Pei tewas?

Tubuhku membeku selama beberapa saat. Tiga tahun lalu tunanganku tewas didepan mataku, kini sahabat karibku. Pantas saja ketika aku melihat Mei Lin, aku merasa ia mirip seseorang.

Siapa? Siapa lagi anggota Zodiac yang tewas?

“ Begitu juga dengan Takeyama. Ia ditemukan mengapung diatas sungai Nil dua minggu lalu,”

Alis Sakura terangkat,

“ Bukankah semua orang yang berenang di sungai Nil akan mengapung?”

Eunhyuk terkikik, namun berhenti setelah disikut Donghae.

Jenderal Shin mendesah, “ Maksudku, ia dibunuh lalu mayatnya dibuang ke sungai Nil,”

Kali ini giliran Sakura yang pucat pasi. Bagus, sudah tiga anggota yang tewas, termasuk Hitoshi. Takeyama, si gila listrik itu dan Shin Pei, ahli herbal terbaik yang pernah ku temui. Perutku terasa mulas. Shin-ahjussi menyebutkan dua nama lagi, Fellix dan Olivia. Terbayang dalam benakku ketika Shin Pei menggandeng suaminya setelah mereka disahkan. Ketika Takeyama menggendong bayi kecilnya. Ketika Fellix melamar Olivia dihadapan semua anggota Zodiac.

Sakit.

Seperti ada yang membelah jantungku saat ini.

Benar-benar sakit.

“ Yun Hee,”

Siwon meremas bahuku. Sorot matanya menyiratkan iba. Mendadak tubuhku seperti ditusuk jarum. Aku tak perlu menoleh untuk mencari sumbernya. Ku usap kepala Mei Lin. Aku tak ingin ia juga merasa iba. Aku lah yang seharusnya iba pada Mei Lin. Ia terlalu kecil untuk ditinggalkan sendirian.

“ Dan sekarang, aku meminta kalian menyelidiki ini,”

Jenderal Shin mengangkat koran terbitan hari ini. Siwon meraihnya, membaca judul halaman utama,

“ Perampokan?”

“ Bukan perampokan biasa, Tuan Choi Siwon. Mereka merampok ular,”

Sontak tanganku menutup mulutku, menahan diri agar tidak mual. Ular. Aku nyaris melupakan kejadian itu. Kejadian yang membuat diriku berada di markas ini. Seharusnya aku berada di Los Angeles sekarang.

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan eomma dan appa? Apakah mereka tahu aku tak sampai di tempat tujuan?

“ Kembali ke pos kalian,”

Tiga tahun lalu, jika aku mendengar perintah itu, aku akan segera bergerak mematuhinya. Tapi kali ini aku hanya diam. Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengan Mei Lin.

“ Kau pergilah duluan. Aku akan menyusul,”

Mei Lin mengerjapkan matanya, “ Kau mau kemana?”

Ku cubit pipi kirinya, “ Tidak kemana-mana. Hanya ingin bicara dengan ahjussi,”

Aku berdiri, memanggil Saki. Ku minta ia mengantarkan Mei Lin ke ruang kesehatan. Sesaat Saki tampak ragu, tapi aku berhasil meyakinkannya. Aku tak ingin Saki menganggap Mei Lin berbahaya.

Setelah semuanya pergi, kini tinggal aku dan Jenderal Shin. Hanya kami berdua.

Jenderal Shin kembali duduk di kursinya, “ Ada yang ingin kau bicarakan, Sayuri?”

Sayuri..

Sudah lama aku tak mendengarnya memanggil nama asliku. Sejak aku memutuskan pergi, mengubah identitasku. Mengubah hidup keluargaku.

“ Ada satu hal yang ingin ku lakukan, ahjussi,”

Kami saling pandang. Paman dan keponakan. Sudah berapa lama kami tak berbicara seperti ini? Aku terlalu marah dengan semua tindakannya. Kebohongannya.

“ Apa itu, Sayuri?”

Ku tegakkan bahu,

“ Aku ingin pulang ke rumahku,”

* * *

Siwon POV

Belakangan ini, aku seperti seorang penguntit. Kemana pun Yun Hee melangkah, aku selalu mengikuti. Seperti medan magnet yang tengah menarik besi. Aku lah besi itu dan Yun Hee adalah magnetnya.

Aku menerka apa yang sedang mereka bicarakan didalam. Melihat tindakan Yun Hee yang selalu ingin kabur, aku rasa mustahil Jenderal akan memarahinya.

Pintu ruangan Jenderal terbuka. Yun Hee keluar dengan ekspresi wajah lega. Belum pernah aku melihat wajahnya secerah itu.

Mata kami bertemu.

“ Hai,” Ku lambaikan tangan kearahnya. Ia kembali muram, membalikkan badannya dan pergi. Aku mengejarnya. Kali ini aku tak akan membiarkan gadis itu mengabaikanku.

“ Kau mau kemana?”

Yun Hee tak menoleh, “ Pulang,”

Pulang… Mungkin yang ia maksud adalah rumahnya. Ia mencoba menepis tanganku, tapi gagal. Tenagaku lebih kuat darinya.

“ Lepaskan aku,”

“ Tidak,”

Yun Hee berdecak, “ Lepas,”

“ Tidak sampai kau menjawab pertanyaanku,”

Aku bisa merasakan tubuhnya menegang. Belum sempat aku bertanya, ia seolah sudah tahu apa yang ada dalam pikiranku. Seiryuu benar soal kekuatan Yun Hee.

“ Ryuu bilang, kau bisa membaca pikiran orang lain,”

Ku balikkan badannya, kini kami saling berhadapan. Matanya menolak menatapku. Tapi aku tak akan membiarkannya menghindariku lagi.

“ Jika benar,” Cengkeramanku semakin kuat, “ Ku mohon, bacalah pikiranku,”

Yun Hee tak menjawab. Aku bisa mendengar desakan dalam ucapanku, “ Ku mohon,”

Lagi-lagi ia hanya diam. Tiba-tiba saja sensasi menyakitkan itu muncul lagi. Perlahan cengkeramanku mengendur. Napasku terasa sesak.

“ Mei Lin,”

Sesaat setelah Yun Hee menyebut nama itu, sensasi itu hilang. Aku seperti ikan yang kehabisan air.

Gadis kecil yang bernama Mei Lin itu terlihat bingung, “ Kalian sedang apa?”

Yun Hee mengendongnya seolah Mei Lin adalah putrinya sendiri, “ Hanya mengobrol. Kenapa kau tidak tidur?”

Mei Lin menyusupkan kepalanya ke bahu Yun Hee, “ Aku tidak bisa tidur. Aku takut sendirian,”

Yun Hee menepuk pelan punggung Mei Lin, membawanya pergi. Dan ia sama sekali tak menoleh ke belakang.

* * *

Yun Hee POV

“ Apa kau sungguhan ingin pergi?”

Mei Lin mengayun-ayunkan kakinya. Aku menepuk kepalanya, “ Hanya sebentar,”

Tapi sorot mata Mei Lin memancarkan ketidakpercayaan. Aneh, sensasi menyakitkan itu tak lagi terasa menyakitkan.

Eomma juga bilang hal yang sama. Dan dia mati.

Tentu saja. Mei Lin takut aku akan bernasib sama seperti Shin Pei. Aku menghela napas, memikirkan cara agar Mei Lin tetap tenang.

Oh iya.

Ku rogoh tasku, ku ambil kacamata bingkai hitam yang biasa ku pakai untuk penyamaran.

“ Untukmu,”

Ku pakaikan kacamata itu pada Mei Lin. Dan hal aneh pun terjadi. Rasa sakit yang ku rasakan setiap kali menatap mata Mei Lin, mendadak hilang. Aku mendesah lega. Sepertinya kacamata ini bisa membantu.

“ Terimakasih,”

Suara lirih kini kian terdengar riang. Ku cium keningnya. Wajahnya memerah, tangan memainkan baju. Ia ingin mengatakan sesuatu.

“ Anu…”

“ Hm?”

Mei Lin menatapku dengan mata berbinar-binar,

“ Bolehkah aku memanggilmu Mama?”

* * *

Bolehkah aku memanggilmu Mama?

Aku bisa merasakan pipiku memanas setiap mengingat ucapan polos itu. Mei Lin. Ia menganggapku sebagai ibunya. Atau jangan-jangan Shin Pei sengaja mempertemukanku dengan putrinya?

Takdir benar-benar misterius.

Sebentar lagi aku akan sampai di rumah dan dalam otakku, aku sudah menyiapkan berbagai macam alasan.

Semakin dekat dengan rumah, hatiku semakin sakit. Kenapa aku mendadak tegang? Konyol. Ini pasti gara-gara kejadian yang ku alami selama beberapa minggu terakhir.

Ah, itu dia. Rumah Keluarga Park.

Aku melihat ke bawah helikopter, memeriksa keadaan. Aneh, kemana para penjaga?

Ku turunkan helikopter perlahan, aku tak ingin membangunkan siapapun. Sambil mengendap-endap, aku membuka pintu. Ku kira terkunci, tapi rupanya tidak. Seperti dirusak dengan sengaja.

“ Eomma?”

Hening.

Rumah ini seperti tak dihuni selama berhari-hari. Vas bunga kesayangan eomma pecah, hancur berantakan. Padahal eomma selalu menjaganya agar tidak tergores sedikit pun. Saat aku bergerak ke tengah, aku mendengar suara retak. Astaga. Kaki ku tak sengaja menginjak potongan bingkai. Lukisanku. Hadiah untuk ulangtahun appa setahun lalu.

“ Appa?”

Kenapa aku merasa semakin berdebar-debar?

“ Eomma? Appa?”

Tidak, tidak.

Aku berlari memasuki ruangan yang biasa ditempati eomma dan appa. Tapi tak ada siapapun. Begitu juga dengan dapur dan ruang makan. Semuanya kosong.

“ Eomma! Appa!”

Kenapa? Kenapa tak ada yang menjawab?

Oh iya!

“ Mariko!!”

Aku bergegas menuju lantai dua. Sepanjang koridor aku berharap semuanya hanya sedang terlelap. Tapi, firasat apa ini? Dan kenapa seluruh bangunan ini gelap?

“ Mariko!”

Detik berikutnya ketika aku membuka pintu adalah sebuah pemandangan yang paling tak ku inginkan.

“ Astaga…”

Darah.

Seluruh ruangan ini dipenuhi oleh darah.

“ Ya Tuhan…”

Aku berjalan memasuki ruang istirahat pelayan, berusaha mencerna apa yang sedang ku lihat. Tubuh berserakan di setiap sudut. Dinding berlubang, seperti baru saja ditembak.

Siapa?

Siapa yang melakukan ini?

“ Nona….”

Aku meloncat. Ada suara orang disini

“ Nona…Yun Hee…”

Jantungku berdebar. Ada seseorang yang masih hidup disini. Mataku mengitari sudut demi sudut, kakiku berjalan mundur.

Buk

Kakiku menyentuh sesuatu. Aku melihat kebagian bawah, terkejut mendapati Mariko, pelayanku, tergeletak bersimbah darah.

“ Mariko!”

Ia tampak kesulitan mengangkat tangannya. Raut wajahnya pucat, menahan rasa sakit.

“ Nona….syukurlah…”

Mariko memaksakan diri tetap tersenyum. Perlahan ia mengangkat tangannya, menyentuh wajahku. Tangannya terasa dingin.

“ Mariko….”

Ia hanya tersenyum memandangku. Kelegaan terpancar dari wajahnya.

“ Siapa…siapa yang melakukan ini?”

Mariko menarik nafas, “ Orang-orang….aneh…”

“ Aneh?”

Ia mengangguk, “ Mereka…memiliki tato….”

Tato?

Jemari Mariko bergerak, seperti sedang menggambar sesuatu.

Garis melengkung…..apa ini?

“ Nona…pergilah…”

Kali ini Mariko mengenggam tanganku. Suaranya terdengar lebih pelan.

“ Pergi….kau harus pergi…”

“ Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi disini, Mariko?”

Ia menggeleng sekuat tenaga, “ Kau harus pergi, Nona! Pergi!”

 

DOR!

 

Suara tembakan?

“ Pergi! Mereka masih disini, Nona! Pergi!”

Aku menggeleng, “ Tidak. Aku tak mau, bagaimana denganmu?”

Mariko menarik nafas lagi, “ Aku tidak apa-apa. Prioritas kami adalah Anda, Nona. Anda harus selamat,”

“ Mari….”

Air mata menetes dari pelupuk matanya, sambil berbisik, “ Saya senang bisa melayani Anda, Nona,”

Tidak….

“ Mari?”

Ia tak menjawabku. Matanya telah menutup.

“ Mariko….”

Dadaku sesak. Mariko pergi.

Ia pergi. Ke tempat yang tak dapat ku jangkau.

* * *

Aku bergegas menuju lantai tiga, kamar orangtuaku. Aku yakin suara tembakan itu berasal dari sana.

Eomma….Appa…Tetaplah selamat!

“ Eomma! Appa!”

Ku dobrak paksa pintu kamar mereka, dan…

“ Ah….Ah….AAAAAAAAKKKKKHHHH!!!!!”

 

To Be Continue

12 Comments (+add yours?)

  1. KSMaMin
    Jan 26, 2014 @ 08:16:44

    wuihhh… pagi2 baca kek gini bikin tegang… dilanjut ne… yg cuepetttt… 😉 ini daebakkkk

    Reply

  2. entik
    Jul 04, 2014 @ 19:58:37

    Urusannya makinpannjang. Tapi kenapa aku gk nemu part 17 hingga 20 ya?
    Lanjut baca yg 16 ya sist.
    Maaf komntar aku kli ini tk jlas.

    Reply

  3. Trackback: Snakes On The Plane {17/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  4. Trackback: Snakes On The Plane {18/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  5. shoffie monicca
    Aug 10, 2014 @ 15:22:27

    kren thor…

    Reply

  6. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Don’t Go | Superjunior Fanfiction 2010
  7. Trackback: Snakes On The Plane {19/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  8. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected | Superjunior Fanfiction 2010
  9. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  10. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  11. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  12. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: