Snakes On The Plane {16/?}

Seiryuu terperangah. Pemandangan dihadapannya saat ini memuakkan baginya. Tuan dan Nyonya Park tergeletak bersimbah darah.

“ Mengerikan,”

Seiryuu nyaris melompat mendengar seseorang berbicara di belakangnya.

“ Hankyung,” Seiryuu berbisik, mengamati pemuda sipit itu berjalan mengitari ruangan. Gadis itu mengikutinya memeriksa ruangan. Dua jam sebelumnya, Jenderal Shin yang tak bisa menghubungi Tuan Park, memerintahkan Siwon dan seluruh anggota teamnya pergi ke rumah Keluarga Park. Saat mereka sampai, Sakura merasakan lantai yang ia pijak bergetar seolah memberikan pesan. Ketika Sakura menuju lantai tiga, ia mendapati Yun Hee didalam kamar orangtuanya, terduduk dan pucat pasi.

Jenderal Shin memerintahkan bagian forensik untuk memeriksa lokasi, dengan catatan jangan sampai membangunkan polisi lokal.

“ Siapa yang tega melakukan ini?”

Saki berjongkok, meratapi tubuh Nyonya Park yang tak berdaya itu. Dua tembakan di dada menewaskan wanita paruh baya itu, sementara Tuan Park tewas akibat gigitan ular.

“ Mungkin dia bisa menjawabnya,” Sakura menatap ke langit-langit ruangan. Saki mengikuti arah pandang Sakura, mendapati benda hitam kecil menempel tepat di sudut langit-langit.

“ Kamera pengintai?”

Kyuhyun muncul tepat dibelakang Sakura, namun gadis itu tak bergeming. Ia sudah merasakan kedatangannya melalui lantai yang ia pijak.

“ Sebaiknya kita periksa rekamannya,”

* * *

Didalam ruang rekaman, Donghae dan Eunhyuk sibuk memutar ulang rekaman kamera pengintai. Sakura, disusul Saki dan Kyuhyun, memasuki ruangan. Melihat dua orang itu, Sakura mendadak marah.

“ Jadi kalian sudah tahu ada kamera pengintai dan tidak memberitahu yang lain? Memang kalian pikir tugas ini hanya untuk kalian berdua?!”

Donghae berdiri dari kursinya, “ Mianhae, mianhae. Tadinya kami mau memberitahu kalian, tapi—,” Donghae melirik kearah layar, “ Ada yang aneh dengan rekaman itu,”

Donghae menunjukkan rekaman yang sedang ia periksa, tertulis 18.00.

“ Tepat di jam ini, kamera pengintai mati. Kemungkinan besar pelaku merusak kamera pengintai pada jam tersebut dan menyerang seluruh penghuni rumah,”

Saki memutar ulang rekaman tersebut. Dan benar saja. Tepat di jam 18.00, seluruh kamera pengintai mati.

“ Sepertinya memang sengaja diledakkan,”

Ryeowook memasuki ruangan, membawa kamera. Kyuhyun mengambil kamera itu, memeriksa foto-foto yang diambil.

“ Seluruh kamera pengintai dalam keadaan rusak. Dan memang tampak seperti diledakkan,” Kyuhyun menyerahkan kamera itu pada Saki. Sakura seolah tak peduli, matanya terpaku pada satu rekaman. Ruang kerja Tuan Park.

Sekilas, tak ada yang aneh dengan gerak-gerik Tuan Park. Selama setengah jam, Tuan Park tampak membaca buku. Akan tetapi, mata Sakura menangkap sesuatu.

Limabelas menit sebelum kamera mati, Tuan Park terlihat menyobek halaman bukunya dan memasukkannya kedalam laci meja.

Apa itu? pikir Sakura.

Tanpa disadari yang lainnya, Sakura pergi menuju ruang kerja Tuan Park. Ruang kerja terletak di lantai tiga, tepat di sebelah ruang tidur. Sesampainya disana, ia langsung memeriksa laci meja kerja Tuan Park. Agak sulit menemukan apa yang disembunyikan Tuan Park. Catatan, pulpen dan buku berserakan didalam laci. Namun ada satu benda yang memancing perhatian Sakura.

Selembar kertas yang dilipat rapi dan ditaruh di tengah buku.

Sakura mengambilnya, membuka lipatannya.

* * *

Sakura POV

Perpustakaan…perpustakaan…dimana perpustakaan?

Sepertinya disini tempatnya.

Pintu kayu itu ku buka perlahan. Didalamnya tampak gelap, namun rak yang berada dekat jendela sedikit terlihat karena tirai yang dibuka. Ku nyalakan saklar lampu, namun ruangan tetap gelap. Sepertinya pelaku sengaja mematikan listrik rumah ini.

Sekarang…dimana brankas rahasia itu? Berdasarkan peta ini, Tuan Park menaruh sesuatu diantara buku-buku ini.

Apa yang ia sembunyikan?

Kuraba rak yang terdekat. Sekilas tak ada yang aneh. Apa bukan disini?

Ini seperti perpustakaan biasa. Pantas saja Sayuri mendapat nilai paling bagus di sekolah. Ia hidup dikelilingi buku, seperti Seiryuu.

Aku berhenti didepan jendela, memikirkan apa yang sedang ku lakukan saat ini. Kenapa aku? Kenapa aku repot-repot mencari dan mengikuti gambar aneh ini?

Ku sandarkan punggungku ke rak, berpikir sejenak. Aku tak tahu apa yang mendorongku saat ini. Apa untungnya jika aku menemukan rahasia milik Tuan Park?

Ku pejamkan mataku, mencoba berpikir sebaliknya. Bagaimana jika rahasia itu berhubungan dengan kasus yang sedang kami selidiki?

Sudah empat anggota Zodiac yang tewas. Aku yakin ini bukan kebetulan. Pasti ada sesuatu. Sesuatu yang kami lewatkan. Tapi apa?

Ku baca ulang kertas yang kuambil dari laci meja Tuan Park. Hanya ada gambar rak buku berjejer serta tanda X disamping tulisan “Library”

Tunggu. Ada tulisan lain dibawah gambar.

Bahkan serpihan kayu pun bisa menjadi rahasiamu

Serpihan kayu?

“ Sakura, apa yang kau lakukan disini?”

Saki mendadak muncul, aku hampir menjatuhkan kertas itu. Untung saja ia tak sempat melihatnya.

“ Kapten memanggil kita. Forensik sudah selesai memeriksa TKP,”

Aku tak sadar berapa lama aku berada disini. Sebaiknya aku keluar—hm?

“ Sakura?”

Aku membalikkan badan, mengamati rak yang baru saja ku sandari.

“ Pergilah. Aku akan menyusul,” kataku. Saki terlihat curiga, namun ia tak bertanya. Setelah ia pergi, aku mulai mengamati rak itu satu-persatu. Bagian rak yang paling ujung terlihat lebih tebal dari rak yang lain.

“ Hey, Wolf. Bantu aku merusak ini,”

Spiritku, Wolf, perlahan keluar dari tubuhku. Cakarnya menyatu dengan jemariku.

Anda yakin, Ma Lady?

“ Kau mau membantu atau tidak?” Aku paling tak tahan jika Wolf mempertanyakan apa dan kenapa aku melakukan ini atau itu. Terkadang ia seperti serigala tua yang cerewet.

Tentu, Ma Lady. Saya hanya ingin Anda mempersiapkan diri.

“ Aku selalu siap, Wolf,”

Tidak, bukan itu yang saya maksud. Apa yang ada didalam sana sangatlah jauh dari bayangan Anda, Ma Lady.

Aku tak bisa membantahnya kali ini. Wolf jarang memperingatkanku kecuali jika hal itu benar-benar serius.

“ Lakukan, Wolf,”

Cakar Wolf mencuat dari balik jariku. Ku kikis kayu yang tebal itu, perlahan dan perlahan agar tak ada yang curiga. Dari balik kayu yang terkikis itu, tampak sebuah buku. Buku itu bertuliskan Survivor.

Kata-kata Wolf terngiang dalam benakku. Mungkinkah buku ini menyimpan sesuatu?

* * *

Siwon menyusuri koridor demi koridor, memastikan situasi sudah aman. Ia membuka satu persatu pintu ruangan. Hingga akhirnya ia menemukan seseorang masih berada didalamnya.

Yun Hee.

Gadis itu tengah berdiri di balkon, memandangi langit. Ia seolah tak melihat betapa berantakannya ruangan tempat ia berada. Siwon menghampirinya, namun langkahnya terhenti. Tanpa berbicara pun, ia sudah bisa merasakan sakit yang dialami Yun Hee. Keluarganya, pelayannya yang setia telah dibantai. Hanya ia yang masih hidup. Mungkin seharusnya ia sudah mati saat pesawatnya dibajak ular. Namun ia masih bernafas. Hingga saat ini.

“ Yun Hee,”

Gadis itu tak bergeming. Siwon mendekatinya, berdiri disampingnya.

“ Hei,”

Siwon mencoba memanggilnya, akan tetapi Yun Hee tetap diam. Siwon meraih tangannya. Anehnya, gadis itu tak memberontak.

“ Kita harus pergi, Yun Hee,”

Yun Hee tetap pada pendiriannya. Siwon menghela nafas.

“ Yun Hee, Mei Lin menunggumu,”

Siasat Siwon berhasil. Mendengar nama Mei Lin, Yun Hee tersadar dari lamunannya. Dilepaskannya tangan Siwon, Yun Hee pergi tanpa menoleh sedikit pun. Siwon memandangi punggungnya seraya berbisik, “ Andai aku bisa membaca isi hatimu,”

* * *

Pesawat jet milik Cop Squad perlahan mendarat di landasan markas besar Cop Squad. Satu persatu anggota Cop Squad turun dari pesawat. Begitu juga dengan Yun Hee. Ia lebih pucat dari biasanya.

“ Mama!”

Yun Hee menoleh, mendapati Mei Lin dengan baju serba hitam berlari menghampirinya.

“ Seragam Cop Squad Training Academy,” Siwon tersenyum melihat gadis kecil itu. Yun Hee menyambutnya dengan pelukan. Mata Mei Lin bertemu dengan mata Siwon. Pemuda itu mengerutkan dahinya. Biasanya jika Mei Lin menatap dirinya, ia akan merasa kesakitan. Barulah ia sadar apa yang menyebabkan rasa sakit itu hilang. Mei Lin mengenakan kacamata. Entah firasat darimana, Siwon yakin itu milik Yun Hee.

“ Kapten Choi Siwon, Jenderal Shin ingin kalian semua segera menuju ruang rapat,” kata petugas landasan. Eunhyuk mengeluh, “ Apa tak bisa besok saja? Aku capek,”

Satu pukulan manis mendarat diatas kepala Eunhyuk.

“ Ouch! Apaan sih?” protes Eunhyuk. Hankyung mengusap kepalan tangannya, “ Ah, maaf. Tanganku melayang begitu saja,”

Siwon memberi isyarat pada anggotanya untuk segera pergi. Namun Yun Hee tak bergeming.

“ Kau tak ikut?” tanya Siwon. Yun Hee menggeleng, “ Secara teknis, aku bukan anggota team mu. Jadi aku tak perlu mengikuti perintahmu,”

Gadis itu pun pergi sambil menggendong Mei Lin. Hankyung menepuk bahu Siwon, “ Biarkan saja dulu. Dia butuh waktu,”

Rasa kecewa meliputi hati Siwon. Ia tak tahu harus berbuat apa agar Yun Hee tak terpuruk.

Bagaimana caranya aku bisa menjangkaumu, Yun Hee?

* * *

Sakura membolak-balik halaman buku yang ia temukan. Berulang kali ia berharap ia salah membaca. Namun ia tahu, ia tak salah. Tangannya berhenti memainkan halaman buku itu, matanya terpaku pada satu kalimat.

Dan kali ia berharap ini hanya kesalahan penulisan.

“ Sakura,”

Saki menarik lengan Sakura, membangunkan gadis itu dari lamunannya. Sakura mengerjapkan matanya, kembali memusatkan perhatiannya.

Jenderal Shin tampak lebih emosional dari biasanya. Mendengar team Siwon sudah kembali, ia mendesak agar segera diadakan rapat. Tak henti-hentinya pula ia menanyakan setiap detail yang diketahui anggota team. Ia seolah tak ingin mempercayai apa yang ia dengar.

Berdasarkan keterangan Ryeowook, pembunuhan terjadi sekitar pukul 7 malam, sementara kamera pengintai mati pukul 6. Penyebab kematian para pelayan dan Nyonya Park adalah kehabisan darah akibat peluru yang bersarang di jantung. Sementara Tuan Park tewas akibat bisa ular Black Mamba. Hal itu menjelaskan perbedaan waktu kematian Tuan Park dengan korban lainnya.

“ Kemungkinan besar bom waktu dipasang di kamera pengintai, mengakibatkan kamera rusak,”

Jenderal Shin menyela, “ Bom? Bagaimana mungkin ada bom terpasang didalam sana?”

Ryeowook membalik lembar laporannya, “ Kami belum mengetahui bagaimana caranya, tapi kami menyimpulkan, ada orang dalam yang terlibat,”

Kali ini Kyuhyun yang mengangkat tangan, “ Bagaimana dengan penjaga? Yun Hee bilang saat ia mendarat, tak ada satupun penjaga didepan gerbang,”

Ryeowook menutup map laporannya dan memberikannya pada Hankyung, “ Ah, soal itu. Satu orang ditemukan tewas di kolam. Satu orang hilang,”

“ Jelas sudah. Penjaga yang hilang itu pasti pelakunya,” ujar Hankyung. Seiryuu menggeleng, “ Kau yakin? Apa motifnya?”

Hankyung terdiam. Siwon membuka map laporan kasus sebelumnya, ekspresi wajahnya berubah serius ketika menemukan sesuatu.

“ Tapi itu menjelaskan kenapa ada ular didalam jet pribadi Yun Hee beberapa waktu lalu,”

Seluruh anggota tersentak, tak terkecuali Jenderal Shin. Saki terbelalak, mengingat sesuatu.

“ Oh iya. Sayuri-neechan pernah bilang, jet pribadinya selalu disimpan di bandara. Dan ia hanya memeriksanya setiap tiga bulan sekali,”

“ Siapa yang tahu jadwal pemeriksaannya?” tanya Seiryuu. Saki mencoba mengingat percakapannya dengan Yun Hee saat berada di gua.

“ Mariko dan staff bandara,”

Seiryuu menghela nafas, “ Tapi Mariko tewas,”

Saki mengangguk, “ Pesawat itu baru disiapkan satu hari sebelum keberangkatan. Semua perlengkapan juga disimpan didalam pada hari yang sama,”

“ Dengan demikian, yang tahu apa isi pesawat jetnya itu hanya staff bandara,” sambung Seiryuu.

“ Jet yang bermasalah itu sudah ditemukan tiga hari setelah Yun Hee ditemukan,” kata Hankyung. Seiryuu menoleh kearah Hankyung, “ Pilot dan pramugarinya?”

“ Tewas,”

Semua terdiam. Kasus ini menemui jalan buntu. Namun tidak bagi Sakura. Setelah lama ia berdiam diri, ia pun berbicara, “ Apa ada kaitannya dengan tewasnya empat anggota Zodiac?”

Jenderal Shin mengernyitkan dahi, “ Apa maksudmu, Sakura?”

Sakura melempar buku yang ia temukan ke tengah meja. Pandangan seisi ruangan kini terpaku pada buku itu.

Survivor?”

Jenderal Shin mendadak defensif, “ Dimana kau menemukan itu?”

Sakura membalas, “ Tersembunyi didalam kayu rak buku. Didalam perpustakaan,”

Sakura memperhatikan perubahan wajah Jenderal Shin. Bola matanya melebar, keringat dingin membasahi keningnya serta wajahnya pucat pasi.

Saki mengambil buku itu, membuka halaman pertama.

“ Memang ini buku ap—eh? Kenapa nama dua belas anggota Zodiac ada disini?”

Seiryuu menggeser kursinya, ikut membaca. Sementara Sakura mengamati reaksi Jenderal Shin. Pria paruh baya itu tampak tegang.

“ Nama kita juga ada disini,” Saki menunjuk foto diri dan kedua saudara kembarnya.

“ Sepertinya ini daftar lama,” sahut Seiryuu. Saki berhenti di halaman terakhir. Ia terlihat terkejut.

“ Apa yang kau temukan?” tanya Kyuhyun. Bukannya menjawab, Saki justru balik bertanya. Namun bukan pada Kyuhyun. Pada Jenderal Shin.

“ Jenderal, apa maksudnya ini?”

Jenderal Shin diam.

“ Kenapa ada nama Anda disini?”

* * *

Setelah memastikan Mei Lin tertidur, Yun Hee pergi mencari udara segar. Ia tak bisa tidur, memikirkan apa yang baru saja ia lihat. Seluruh keluarganya tewas. Sahabatnya tewas. Dan ia kehilangan semua itu hanya dalam hitungan jam.

“ Jenderal, apa maksudnya ini?”

Yun Hee berhenti. Ia menoleh kearah sumber suara, mendapati sebuah pintu dengan tulisan RUANG RAPAT. Yun Hee memalingkan wajah. Sebaiknya aku pergi saja, pikirnya.

“ Kenapa ada nama Anda disini?”

Yun Hee berhenti lagi.

“ Hitoshi bukan kakak kandung kami?”

Yun Hee terkesiap. Apa?

“ Apa yang kau bicarakan, Saki?”

Kali ini suara Siwon yang terdengar. Yun Hee mendekat, mencoba mendengarkan.

“ Nama Hitoshi disini bukan Hiragawa Hitoshi. Tapi Shin Hitoshi,”

Suara Sakura terdengar jelas namun seperti menahan sesuatu. Jantung Yun Hee berdebar, menunggu jawaban Jenderal Shin.

“ Dan identitas Sayuri disini,”

Aku?

“ Ini yang asli kan?”

Yun Hee tercengang. Ayanami Sayuri memang nama aslinya, sementara Park Yun Hee adalah nama palsu yang ia pakai setelah keluar dari Zodiac. Keluarganya pun mengganti identitasnya. Namanya, tanggal lahirnya, kewarganegaraannya dan profesinya. Bahkan orangtuanya juga mengganti identitas keluarga.

Lalu, apa maksud Sakura dengan identitas yang asli?

“ Jika Anda tak mau membicarakannya dengan kami,”

Pintu ruang rapat terbuka. Yun Hee mundur, terkejut melihat Sakura dibaliknya.

“ Bicarakan dengan dia,”

Sakura keluar dari ruangan. Saki mengikutinya, berteriak memanggilnya. Satu persatu anggota team keluar dari ruangan, meninggalkan Yun Hee dan Jenderal Shin.

“ Kenapa dia?” Yun Hee kebingungan. Matanya menangkap sebuah buku yang tergeletak di meja.

“ Apa ini?”

Yun Hee membuka buku itu, halaman demi halaman. Rasa heran merasukinya setiap kali membalik halaman.

“ Hee…ini data pribadi anggota Zodiac? Darimana ahjussi mendapatkan ini? Bukannya ini termasuk data rahasia yang tak boleh disebar?”

Jenderal Shin tak menjawab. Yun Hee pun kembali sibuk membaca buku itu.

“ Bahkan fotonya sudah lama. Ini kan waktu pertama kali masuk Training Academy? Kenapa bisa ada disini?”

Yun Hee berhenti di halaman terakhir.

“ Ini?”

Yun Hee mendongak, “ Kenapa namaku Shin Sayuri?”

Jenderal Shin lagi-lagi hanya diam. Yun Hee melanjutkan, “ Kenapa nama ahjussi tertera sebagai orangtuaku?”

Yun Hee melempar buku itu ke hadapan Jenderal Shin.

“ Ahjussi, apa maksud semua ini?”

Halaman yang terbuka berisi foto Yun Hee dan Hitoshi. Dibawah foto, tertulis:

Name             : Shin Hitoshi

Birth Date     : 14 June 1987

Blood type   : O

Parents          : Shin Dong Hee {father} & Ayanami Naomi {mother}

Attend class : A

Symbol          : Sagitarius {f}

 

Name             : Shin Sayuri

Birth Date     : 14 June 1987

Blood type   : O

Parents          : Shin Dong Hee {father} & Ayanami Naomi {mother}

Attend class: B

Symbol          : Gemini {`}

 

“ Aku dan Hitoshi…saudara kembar?”

To Be Continued

PS: Sorry telat publish>,< Harusnya sudah bisa dipublish tanggal 27 kmaren, tapi gara2 rumah

       author kebanjiran+mati listrik+paket data abis, jadi baru bisa publish hari ini. >.<

       Don’t forget to comment^^)/

16 Comments (+add yours?)

  1. aina fitria
    Feb 01, 2014 @ 05:23:50

    Sebener’a aku blm ngerti cerita a soal’a baru baca yg part ini
    tp ky’a ini cerita sebuah organisasi kepolisian or detktif
    hmmm
    next

    Reply

  2. KSMaMin
    Feb 01, 2014 @ 13:28:53

    keren keren…. kaja dilanjutthor..

    Reply

  3. Yeon Hee
    Feb 26, 2014 @ 17:19:23

    kereeen… lanjutin yah thor^^

    Reply

  4. Putri
    Apr 09, 2014 @ 18:32:52

    Mana lanjutannya thooor -__-

    Reply

  5. entik
    Jul 04, 2014 @ 20:13:11

    Whaaa jadi hitosi sama yun itu sodraan dan jndral shin itu ortu nya yun.
    Bener2. Trus knpa mereka mau tunangan segala?
    Apa alasannya?

    Reply

  6. Trackback: Snakes On The Plane {17/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  7. Trackback: Snakes On The Plane {18/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  8. shoffie monicca
    Aug 10, 2014 @ 15:35:11

    thorr pnsrn bngt…

    Reply

  9. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Don’t Go | Superjunior Fanfiction 2010
  10. Trackback: Snakes On The Plane {19/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  11. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected | Superjunior Fanfiction 2010
  12. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  13. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  14. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  15. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: