[FF Of The Week] All About Us

Author : Aryn

Judul : All about Us

Cat : Cho Kyuhyun, Park Ni Young, Lee Donghae and other cast

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : Oneshoot

Notes : Fb : Aryn Cathrine Jackson

Blog : Arynjackson.blogspot.com

Happy Reading ^^

***

            Matahari bersinar terik. Langit biru tanpa awan. Sesekali terdengar suara serangga-serangga sumbang saling bersahutan. Seperti hari biasa, semua rakyat Seoul pasti masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, setiap kepala yang lalu lalang di pinggir trotoar padat mencekik itu pasti memiliki urusan yang harus diselesaikan.

“Young-ie,” Park Ni Young menoleh, mendapati tampang memelas penuh keringat tepat di sampingnya. Pria itu merengut kesal.

“Sudah berapa kali kukatakan, ikut denganku saja. Kenapa senang sekali menyiksa diri? Jalan kaki dengan cuaca ‘seindah’ ini sama sekali tidak menyenangkan,”

“Aku sudah terbiasa. Hey, siapa yang menyuruhmu mengikutiku? Kau bisa pergi dengan mobil kesayanganmu, Cho Kyuhyun. Tidak perlu repot-repot memaksakan diri berjalan kaki sepertiku. Bukankah kau tidak terbiasa dengan cuaca sepanas ini?” Ni Young melanjutkan langkahnya, meninggalkan Kyuhyun yang bersimbah peluh di belakangnya.

Tengah hari, ini sudah saatnya sang penyinar dunia menjilat habis permukaan bumi. Hampir setiap hari Cho Kyuhyun bahkan rela meninggalkan mobilnya di parkiran kampus hanya untuk mengikuti gadis itu pulang. Ia sendiri sudah tidak bisa menahan diri dan berpikir sehat lagi jika berhadapan dengan gadis yang telah merebut perhatiannya sejak dulu—dulu sekali. Gadis yang entah dengan apa—dan bagaimana bisa menjadi satu-satunya gadis yang ingin dimilikinya di dunia ini.

“Kyuhyun-a, palli! Kau lelet sekali,” sesaat kemudian Lee Donghae melintas di hadapan Kyuhyun dan menepuk pelan bahunya, rupanya pria itu juga meninggalkan mobilnya, tentu dengan tujuan yang sama, mengantarkan gadis itu pulang.

Cho Kyuhyun, Lee Donghae, dan Park Ni Young adalah sahabat semasa kecil, lebih tepatnya sejak taman kanak-kanak. Orang tua mereka adalah pengusaha sukses yang menjalani hubungan kerja sama dalam sebuah bisnis pembangunan mall, perumahan elit, dan bangunan-bangunan perusahaan untuk waktu yang cukup lama. Dulu, orang tua mereka sering saling mengunjungi satu-sama lain sehingga mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, dengan adanya kecocokan itu Park Ni Young, Cho Kyuhyun dan Lee Donghae selalu bersama untuk sekitar belasan tahun ini. Walaupun ayah Ni Young sempat mengalami kebangkrutan, Cho Kyuhyun dan Lee Donghae sama sekali tidak mempermasalahkannya, mereka selalu ada di samping gadis itu dalam keadaan apapun.

“Ya! Lee Donghae, bukankah hari ini giliranku mengantar gadis jelek ini pulang? Kenapa kau di sini?” Protes Kyuhyun saat ia berhasil mengejar Ni Young dan Donghae yang telah jauh meninggalkannya, pria itu masih mengatur deru napasnya yang tidak teratur.

“Ya! Apa-apa’an ini? Lepaskan tanganmu!” Kyuhyun menghempas kasar tangan Donghae yang melingkar ringan di bahu Ni Young. Lee Donghae hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Cho Kyuhyun memang selalu seperti itu, tidak ada satupun yang boleh menyentuh miliknya, siapapun itu.

“Kenapa kau tidak pernah berubah, Kyu? Berapa usiamu sekarang?” ujar Ni Young pelan, gadis itu melangkah ringan di antara apitan tubuh Kyuhyun dan Donghae.

“Usiaku? Kenapa? Apa itu penting? Apa yang harus kurubah? kau tahu, kan? Kau itu milikku. Hanya milikku,” ucap Kyuhyun cepat, astaga pria ini, sangat kekanakan.

“Kalian berdua carilah pacar, berhenti mengganggu hidupku. Aku juga ingin seperti gadis lain, memiliki pacar dan berkencan dengannya saat hari libur. Jika seperti ini terus—kalian berdua menempel padaku, siapa yang akan mendekat?” Ni Young berujar santai sesekali mengibaskan tangannya menunjuk wajah Kyuhyun dan Donghae yang perlahan berubah masam,

“Apa yang kau bicarakan?!”

“Ulangi lagi?”

Park Ni Young menutup telinganya dengan kedua tangan. Harusnya ia sudah tahu akan seperti ini, kedua pria itu membuat telinganya berdengung dengan teriakkan mereka yang sama sekali tidak pelan itu,

“Lalu kau anggap aku apa? Aku ini pacarmu, bisa menjadi temanmu, belahan jiwamu, aku akan selalu ada saat kau membutuhkanku, seperti itu, jadi jangan pernah bermimpi untuk lepas dariku,” Donghae menggenggam tangan Ni Young, pria itu tersenyum manis.

“Cih, jangan mendengarnya. Kau tahu hari ini berapa gadis yang ia rayu? Ahh… mungkin kau gadis yang ke empat belas hari ini, dasar ikan mata keranjang,” ujar Kyuhyun sedikit emosi lalu melepas genggaman Donghae, lalu menyematkan jemarinya di antara jemari Ni Young, Kyuhyun lalu tersenyum simpul dan berujar,

“Jika kau ingin memiliki pacar, kau boleh melakukannya. Lakukan apapun yang kau inginkan bersamanya. Tapi ingat satu hal, Park Ni Young, mereka hanya tempatmu untuk singgah. Dan—aku, adalah tempatmu untuk pulang,”

Park Ni Young terdiam untuk sesaat. Kyuhyun berujar dengan sangat tulus, dan tatapan matanya itu—tidak seperti biasa. Wajahnya terlihat bersih dari kebohongan bahkan jauh dari aura rayuan seorang pria untuk mendapatkan gadis yang diinginkannya. Pria itu sangat tulus dan dengan sangat bahagia mengatakannya.

Ini bukan pertama, kedua atau ketiga kalinya mereka terlibat perbincangan seperti ini. Di kelilingi dua pria tampan dan kaya raya bukanlah hal yang patut disesalkan. Tapi, percayalah, itu juga bukan hal yang patut dibanggakan. Cho Kyuhyun dan Lee Donghae sudah seperti planet-planet angkasa yang mengitari  Ni Young sebagai mataharinya. Setiap hari Ni Young tidak pernah luput dari hadirnya kedua makhluk tampan itu. Jika dipikir-pikir, tidak ada keuntungan lebih yang dapat diraih pria-pria itu, Ni Young sama seperti gadis biasa—mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri yang tidak terlalu pintar dan sederhana. Tapi, mereka selalu menempelkan diri dan tidak mau lepas, mengumbar pada seisi kampus tentang hubungan persahabatan yang di luar batas normal, mengacuhkan orang lain jika telah menghabiskan waktu bersama.

“Terserah apa katamu, aku lelah. Aku ingin cepat pulang dan istirahat,” ujar Ni Young akhirnya, ia lelah jika harus meladeni kedua pria ‘tidak normal’ itu,

“Baiklah, kami akan pulang juga, kami ingin beristirahat dan makan Ramyun malam ini. Bagaimana, Kyu? Rasa-rasanya sudah lama kita tidak melakukannya,” Donghae tersenyum jahil dan mendelik pada Kyuhyun, pria itu juga balas tersenyum lebar dan menatap Ni Young,

“Young-ie, Ibumu pasti tidak keberatan membuatkan kami Ramyun, kan?”

***

            Hari minggu yang cerah. Park Ni Young masih betah berdiam di bawah selimut tebalnya. Matanya mulai mengerjap pelan saat merasakan sesuatu yang ganjal pada kasurnya,

“Apa yang kalian lakukan?!”

BRUK!

            Lengkingan suara cempreng gadis itu terdengar bersamaan dengan jatuhnya dua tubuh manusia dari atas kasur. Cho Kyuhyun dan Lee Donghae meringis memegang pinggul dan kepala mereka yang sempat mencium lantai kayu beberapa saat lalu.

“Astaga, Park Ni Young! Kau ini seorang gadis atau apa?”

“Kekuatanmu luar biasa! aku bahkan tidak pernah jatuh dari tempat tidur sebelumnya,”

Donghae dan Kyuhyun perlahan bangkit masih dengan rasa sakit dan seruan protes serta ocehan untuk Ni Young yang duduk di bibir ranjang dan memasang tampang membunuh.

“Apa yang kau lakukan di kamarku? Di tempat tidurku?” tanya Ni Young lagi,

“Tentu saja tidur bersamamu, apalagi?” ujar Kyuhyun santai sembari menjatuhkan tubuhnya berbaring di samping Ni Young,

“Ibumu menyuruh kami membangunkanmu, tentu kau tidak akan bangun dengan mudah. Jadi—kami memutuskan untuk melanjutkan tidur, dan ternyata itu membuatmu bangun,” ucap Donghae enteng, pria itu juga merebahkan tubuhnya di atas ranjang Ni Young.

Ni Young menatap takjub anak manusia yang tampak polos di hadapannya itu. Setelah semalam merecokinya dan menghabiskan makanan, mereka berdua memaksa tidur di rumah Ni Young. Ni Young telah mencoba memakai seribu satu alasan untuk menolaknya, tapi mereka terselamatkan oleh Ibu Ni Young. Astaga.. ibunya sepertinya tidak memperhatikan bahwa ia mempunyai seorang anak gadis yang harus dijaga dan dijauhkan dari pria-pria ini,

“Ya! Kau mau kemana?” teriak Kyuhyun melihat Ni Young berjalan menjauhi ranjang, Ni Young bersikap acuh dan tetap memantapkan diri melangkah maju, acara tidur sepuas-puasnya dihari libur telah hancur lebur oleh dua anak manusia itu,

“Ya! Park Ni Young!’

“Aku mau mandi! Kau mau ikut?!”

***

Hidup itu indah. Seindah kau menghirup udara segar di pagi hari yang membuat paru-parumu longgar, seindah membuka mata saat hari musim semi pertama. Seindah kau mendapatkan sebuah senyuman, seindah kau jatuh cinta.

Park Ni Young melempar asal tas selempang merah mudanya ke atas bangku kayu di taman belakang kampus. Hari sudah sore, dan ia belum beranjak pulang. Menghabiskan waktu di taman belakang itu sembari menikmati terbenamnya matahari sore menjadi pilihannya saat ini.

Ia tersenyum kecil sembari menatap layar poselnya. Sesekali ia menutup bibirnya dengan telapak tangan saat terkikik geli melihat gambar-gambar dirinya dan Lee Donghae saat akhir pekan lalu, mereka berdua menghabiskan waktu di Lotte World, amat sangat jarang terjadi, hanya Donghae dan Ni Young, tanpa Kyuhyun. Iblis tampan itu tiba-tiba memiliki urusan mendadak yang membuatnya absen dari kegiatan ‘merecoki’ hidup Ni Young di akhir pekan. Alhasil, Ni Young hanya pergi bersama Donghae. Entah sadar atau tidak, akhir-akhir ini Lee Donghae lebih sering berkunjung dan berada di sisi Ni Young dari pada Kyuhyun, mereka menikmati waktu bersama dengan bahagia. Dan seiring berjalannya waktu, Ni Young sadar, Lee Donghae bukanlah Lee Donghae yang dulu, ia bukan Donghae kecil lagi, ia telah tumbuh menjadi seorang pria tampan yang memikat. Yah, pria tampan yang memikat dan memesonanya.

“Sedang apa kau?” suara berat itu memaksa Ni Young menoleh, entah sejak kapan Kyuhyun telah duduk di sampingnya dengan tangan dilipat di depan dada,

“Apa yang kau lakukan? Sejak kapan kau di sini?”

“Aku bertanya padamu, Young-ie. Sesibuk itukah kau sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku? Berhenti tersenyum sendiri seperti orang tidak waras,”

“Ya! Cho Kyuhyun! pergi kau. Mengganggu saja,” Ni Young memukul pelan lengan Kyuhyun, membuat pria itu menatapnya heran, lalu ia menyipitkan mata menatap layar ponsel di genggaman gadis itu,

“Cah, aku mengerti. Kalian menghabiskan waktu bersama tanpaku, apa kau senang?” ujar Kyuhyun dengan tampang kesal, tentu ia kesal, sangat kesal! Jika ia bisa, sedetikpun ia tidak ingin Park Ni Young bersama pria lain selain dirinya, benar, dia egois.

“Tentu aku senang. Aku baru sadar, saat kami hanya pergi berdua ternyata lebih tenang dibandingkan saat ada kau. Kau tahu? Seharian sampai tidak terasa, kami mencoba semua permainan, mengambil gambar, membeli permen kapas, dan masuk ke dalam rumah hantu, astaga… aku tidak ingin masuk kesana lagi, sangat menyeramkan. Untung saja ada Donghae, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku pergi bersamamu, bisa mati aku. Dan—pulangnya kami makan malam di caffe langganan kita, aku baru tahu kalau caffe itu bisa terlihat sangat romantis saat bersamanya,”

“Begitu?” potong Kyuhyun cepat. Air mukanya tidak terdeteksi. Ia hanya menatap lurus kedepan tanpa menatap Ni Young yang berceloteh ria disampingnya. Biasanya Kyuhyun akan sangat senang dengan ocehan gadis itu saat bercerita, wajahnya akan sangat bahagia, membuat Kyuhyun senang, suaranya jernih dan matanya berbinar. Tapi tidak kali ini, ocehan riang gadis itu seperti pisau yang sedari tadi menyayat hatinya.

“Tentu! Donghae sangat romantis, ia memakaikan mantelnya padaku dan mengecup keningku saat kami tiba di depan rumah, lalu—“

“Kau menyukainya?” Sergah Kyuhyun tanpa basa basi. Ia tidak tahan lagi. Entah kapan kedua tangannya mengeras dan mulai megepal. Gadis itu bercerita seolah ia sangat menginginkan Donghae,

“Entahlah…walaupun kita telah terbiasa bersama, tapi—kali ini aku merasakan sesuatu yang lain. Entah kenapa di kepalaku ini hanya ada Donghae, Donghae dan Donghae. Aku nyaman saat bersamanya, kami tidak pernah kehabisan bahan untuk bercerita, dia begitu hangat, dan—menyenangkan,”

“Kau mencintainya,” desis Kyuhyun perih. Hatinya seperti dirobek-robek. Ia rela datang ke taman itu hanya untuk melihat Ni Young, bagi Kyuhyun tidak melihat gadis itu selama dua puluh empat jam sama saja dengan belum terbangun dari tidur, dan saat ia mendapatkan gadis itu tersenyum karena orang lain membuatnya tidak ingin bangun.

“Kyuhyun-a,”

“Hm?”

“Aku mencintainya,” Kyuhyun menoleh cepat. Menatap Ni Young yang juga menatapnya. Astaga, tolong jangan seperti ini, Park Ni Young jangan katakan kalau kau—

“Aku mencintai Lee Donghae,”

***

  Sudah sebulan setelah kejadian di taman sore itu. Cho Kyuhyun seperti kehilangan alasannya untuk hidup. Ia kehilangan alasannya untuk bernapas. Tapi Kyuhyun tetaplah Kyuhyun, ia bersikap seperti biasa—ceria dan meledak-ledak, ia masih sering bergelut dalam pertengkaran konyol bersama Lee Donghae hanya karena masalah-masalah sepele, beradu mulut hanya karena memperebutkan gadis itu. Bodoh. Bahkan ia orang yang pertama tahu kalau gadis itu mencintai orang lain, gadis itu tidak mencintainya, gadis itu mencintai sahabatnya, tapi… tetap berusaha sama sekali tidak buruk, kan?

Hari ini cuaca bagus—walau agak mendung. Sebuah rumah megah bercat putih nampak berdiri kokoh, salah satu jendela berterali keemasan di ruang tidur utama sedikit terbuka.

Kyuhyun duduk bersandar di atas tempat tidur—menggulung setengah tubuhnya dengan selimut, sedangkan yang nampak hanya kepala dan badannya yang memakai baju lengan panjang cokelat. Kyuhyun memijit pelan pelipisnya dengan sebelah tangan, matanya melirik malas gadis cantik yang berdiri di hadapannya. Gadis itu membawa nampan berisi bubur dan air minum serta kapsul-kapsul terkutuk yang sangat dibencinya.

“Apa sebenarnya isi kepalamu itu, Kyu? Bukankah sudah kukatakan aku akan keluar bersama Donghae? Kenapa kau menunggu kami hingga selarut itu?”

“Kalian tidak membalas pesanku, lagi pula aku juga tidak tahu jika malam itu akan turun hujan, cih.. aneh sekali, padahal saat siang sangat terik,” sahutnya tak kalah sengit, bukan Cho Kyuhyun namanya jika tidak membela diri. Cho Kyuhyun bodoh, tentu Ni Young akan menghabiskan waktunya bersama pria itu, pergi kemanapun mereka mau, pergi dengan bahagia tanpa dirinya, tanpa seorangpun yang mengganggu.

“Minum obatmu,”

“Tidak,”

“Cho Kyuhyun!”

“Astaga—Park Ni Young, berhenti bersikap seolah kau itu Ibuku, aku akan sehat sebentar lagi,”

“Dan kau—berhenti bersikap kekanak-kanakan dan telan obat-obat ini,”

Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa, demi apapun ia sangat benci benda-benda kimia itu. Tapi semua terasa berbeda jika gadis di hadapannya ini yang meminta, terjun ke dasar jurang terjal mungkin akan ia lakukan dengan senang hati.

Cho Kyuhyun menutup mata dalam-dalam saat obat-obat pahit melewati kerongkongannya. Rasanya benar-benar buruk. Ia berjanji tidak akan membiarkan gadis itu datang padanya saat ia sakit,

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun saat Ni Young beranjak menuju pintu kamarnya, gadis itu menoleh dan mengangkat nampannya,

“Menyimpan ini.” Ujarnya singkat, lalu menatap Kyuhyun lagi,

“Apa di dapurmu ada makanan lain selain bubur? Aku lapar,” ucap Ni Young polos, sejujurnya ia benar-benar lapar. Pagi ini ia melupakan sarapannya karena terlonjak saat baterai ponselnya telah terisi penuh—ia menemukan rentetan pesan dari Kyuhyun, pria itu menunggunya semalaman di tengah cuaca buruk. Dan benar saja—tentu terjadi sesuatu pada pria itu—ia demam.

“Kita makan di luar,”

“Tidak, kau sakit. Diam di tempatmu,”

“Aku sehat. Obat darimu sangat manjur.” Ucap Kyuhyun tersenyum lebar, ia terlihat sangat bersemangat, dengan cepat pria itu bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, mengganti pakaiannya.

“Ayo—“

“Tidak, tidak. Aku tidak lapar. Kau sebaiknya istirahat. Aku akan menjagamu,” Ni Young menghentikan langkah Kyuhyun di ambang pintu sesaat setelah pria itu menarik pergelangan tangannya. Ni Young tau Kyuhyun berbohong, kulit tangannya panas.

“Kau mau mati kelaparan?”

“Kyu—kau sakit.”

“Tidak. Percayalah, aku sangat sehat,”

Kyuhyun tersenyum dan meremas lembut tangan Ni Young dalam genggamannya, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa ia akan baik-baik saja. Memang benar, Kyuhyun akan selalu baik-baik saja saat gadis itu berada di sampingnya, dalam jarak pandangnya.

***

Kyuhyun menggandeng lembut tangan Ni Young saat mereka berdua berjalan beriringan pelan di salah satu pertokoan terkenal di tengah kota. Sesekali Kyuhyun menunduk menatap jemari Ni Young yang begitu pas tersemat pada jemarinya, cukup membuatnya menyunggingkan segaris senyum.

“Terbuat dari apa sebenarnya perutmu itu? Kau belum kenyang?” Kyuhyun sedikit memelankan suaranya, seperti berbisik. Ia juga tidak mau semua orang yang melintas—berlalu lalang di sekitar mereka mendengar ocehannya, tapi ia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Dari Kedai makanan yang belum genap lima belas menit mereka tinggalkan, Ni Young telah menghabiskan dua porsi Bulgogi seorang diri, dua gelas besar teh gingseng dan satu piring besar kimchi. Sekarang ia terlihat tenang menyeruput Strawberry milkshakenya yang kedua. Benar-benar.

“Oh?” Ni Young menghentikan langkah tiba-tiba, membuat Kyuhyun juga berhenti secara otomatis. Kyuhyun melirik gadis itu, matanya berbinar menatap patung berbalut busana pengantin di etalase kaca toko di seberang jalan,

“Ayo kesana,” Kyuhyun hanya bisa menurut saat Ni Young menarik tangannya, mereka menyebrangi jalan ketika lampu berubah menjadi hijau. Ia menggenggam erat tangan gadis itu, begitu banyak pejalan kaki hari ini, membuatnya harus berusaha agak keras hanya untuk mencapai sebuah butik. Apa hari ini hari berjalan kaki se-Seoul? Semoga tidak akan pernah ada hari seperti itu,

“Yah.. eobseo?”

“Apa yang kau cari?” tanya Kyuhyun saat raut kecewa menghiasi wajah Ni Young ketika mereka masuk ke dalam butik khusus gaun-gaun putih itu, Ni Young perlahan melepas genggaman tangannya dan melenggang pergi mendekati patung-patung berbusana pengantin,

“Dulu saat aku dan eomma datang ke tempat ini, aku tertarik pada sebuah gaun,” ujar Ni Young sembari mengelus lembut salah satu gaun pengantin putih berpernak-pernik menjuntai di sampingnya,

“Kau—akan menikah?” tanya Kyuhyun polos, ia melongo dan kedua matanya melebar seketika, seperti orang idiot.

“Tidak—aku hanya tertarik. Aku telah jatuh cinta bahkan pertama kali melihat gaun itu, gaun yang bagus, sederhana namun elegan dan menawan,”

“Kami memiliki stock terbaru, nona. Anda bisa melihat-lihat,” ujar salah satu karyawan butik yang entah sejak kapan berdiri dan memasang senyum manis di samping Ni Young,

“Itu gaun yang bagus,” komentar Kyuhyun saat Ni Young menyentuh salah satu gaun putih berlengan pendek berbahan sutera, di kedua sisi lengannya terdapat bunga-bunga mawar kecil yang terlihat polos. Bawahan gaun itu menjuntai halus bermotif bunga-bunga lebar yang samar.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun saat melihat Ni Young agak terkejut, wajah gadis itu baik-baik saja beberapa detik lalu, bahkan Kyuhyun yakin Ni Young sependapat dengannya,

“Harganya—dua kali lipat dari gaun yang telah terjual itu,” Ni Young menggingit bibir bawahnya pelan, lalu berpikir sejenak dan menghembuskan napas,

“Ayo pergi,” ujarnya pada Kyuhyun, dengan hati-hati ia menyerahkan gaun itu pada karyawan butik yang masih setia menunggunya dan membungkukkan badan dengan cepat,

“Kenapa? Kau tidak suka?”

“Bukan begitu, aku—akan menabung lagi,”

***

“Kemana dia? Apa dia tidak tahu kau sakit?”

“Apa kau menjadikanku alasan untuk bertemu dengannya?” ucap Kyuhyun enteng saat Ni Young sibuk memencet-mencet ponselnya—menghubungi Donghae. Setelah mereka puas menyusuri pertokoan, akhirnya mereka mengistirahatkan diri di taman belakang kampus—tempat persinggahan abadi mereka. Tempat yang sejuk dan teduh, banyak pohon plum dan pohon mapple rimbun, padang rumput luas dan bunga-bunga cantik yang berjejer rapi. Terdapat danau kecil tepat di hadapan bangku yang mereka tempati, tempat sangat sempurna untuk menyaksikan menghilangnya sang mentari.

“Bukan begitu, hanya saja—ah.. entahlah,”

“Belum puas semalam menghabiskan waktu dengannya?”

“Ah, aku bisa gila. Aku merindukan Lee Donghae!” ucap Ni Young agak keras, nyaris berteriak. Ia tersenyum girang menatap ponselnya, sebuah pesan dari Donghae, ia akan datang.

Kyuhyun tersenyum kecut, miris. Hatinya bagai disilet dan menyemburkan banyak darah. Perih. Kenapa harus Lee Donghae?

“Youngie..”

“Hmm?”

“Kenapa tidak pernah bisa menatapku?” Berhasil, Ni Young menoleh. Ia menatap lekat manik mata Kyuhyun, terbesit ketulusan dan kesungguhan di sana. Ia merasa jantungnya berdetak kasar, darahnya berdesir.

“Kenapa memilih Lee Donghae?” ujar Kyuhyun pelan, matanya sedetikpun tidak pernah lari dari wajah Ni Young,

“Kenapa? Karena aku—mencintainya,” ujar Ni Young mengalihkan wajah. Ia berusaha sebisa mungkin menormalkan detak jantungnya, pria ini gila. Kenapa tiba-tiba bicara sepeti itu?

“Youngie…”

“Apa lagi? Cho Kyuhyun, kau tahu, kau berisik sekali,”

Saranghae,

Ni Young menoleh dengan cepat. Menatap lekat wajah Kyuhyun tepat di sampingnya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang beberapa detik lalu tertangkap indera pendengarnya salah, ya—ia mungkin salah dengar. Sepanjang sejarah hidupnya bersama Kyuhyun, pria itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya seperti ini. Seperti biasa—ia dan Donghae akan membual menggoda Ni Young hingga gadis itu mengoceh marah. Namun kali ini—sepertinya Kyuhyun serius, pria itu tidak berkedip dan mengunci diri Ni Young dalam tatapan mematikannya.

Park Ni Young membeku di tempatnya. Sejengkalpun tidak bergerak apalagi bergeser dari posisi semula. Ia benar-benar tidak waras. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan tubuh kekar Kyuhyun mendekapnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan sayang, napas halus Kyuhyun membentur wajah Ni Young, membuat tubuh gadis itu agak menegang. Kelopak matanya seakan kaku dan sangat sulit dikatupkan—ia bahkan tidak berkedip saat merasakan permukaan bibir Kyuhyun menyapu lembut bibirnya, melumatnya pelan. Menyalurkan kehangatan. Ni Young tidak tahu dimana kesadarannya kali ini, kendali tubuh dan otaknya berperang, ingin lepas namun tertahan. Perlahan Ni Young menangkupkan tangannya di dada bidang Kyuhyun, bukan menolak atau menjauhkan diri dari pria itu, ia hanya berpegangan, takut—takut tubuhnya terjatuh. Walau sebanarnya ia tahu itu tidak akan terjadi karena lengan kekar Kyuhyun telah mengunci tubuhnya, mendekapnya erat.

Kyuhyun menutup matanya, berusaha sebisa mungkin mendapatan kepercayaan dari gadis yang hingga detik ini adalah yang terindah dan sempurna di hidupnya. Tidak peduli setelah ini Ni Young akan membenci atau menjauhinya, yang terpenting adalah hatinya. Ia lega telah mengungkapkannya, ia lega telah melepas rasa, rongga dadanya ringan karena gadis itu mengetahuinya, cintanya, tahu seberapa penting arti gadis itu baginya, sepenting hidup, sepenting bernapas.

Sosok tampan itu menghentikan langkahnya. Tepat saat kedua bola mata coklat kelamnya menatap dua orang yang sedang bertautan di bangku taman. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya terdiam—meredam perih yang menjalar dan mematikan hatinya. Perlahan namun pasti, Lee Donghae berbalik—melangkah pergi.

***

            “Bangun! Dasar pemalas!”

“Jangan terlalu memaksakan diri, jaga kesehatanmu.”

            “Ya! Kau sakit? Kenapa hanya makan sekali? Ayo tambah lagi!”

            “Sudah kubilang kau itu bodoh, telpon aku jika kesulitan mengerjakannya,”

            “Apa berat badanmu bertambah? Kau gendut? Hahahaaa dasar jelek!”

            “Jangan tidur terlalu larut!”

            “Hey, di sini banyak gadis cantik, mereka seksi.”

            “Aneh sekali, di sini hujan deras. Apa di Seoul juga hujan?”

            “Kau beruntung,coba pikir, kenapa pria setampan aku bisa menyukaimu? Astaga… sepertinya aku sudah gila,”

            “Coba saja, jika kau berani memeluk Donghae, aku akan menciummu sampai pingsan,”

            Entah apa yang sedang terjadi di bumi Seoul. Langit hitam, bergemuruh menyuarakan amukan petir, sepertinya lapisan terluar bumi akan runtuh. Angin berhembus kencang seolah beradu menghancurkan apapun yang di laluinya. Hujan yang sore tadi hanya gerimis menjadi mimpi buruk karena terlalu deras—menumpahkan air langit tanpa ampun, membabi buta membasahi tanah.

Park Ni Young meringkuk di bawah gulungan selimut tebal di dalam kamarnya yang bernuansa merah muda. Hanya seberkas cahaya lampu tidur dari nakas dekat ranjang yang menyinari kamar itu, penghangat dan pengharum ruangan sesekali menyemburkan kepulan asap menenangkan, nyaman.

Entah sudah untuk yang keberapa kalinya, Ni Young menatap ponselnya. Membuka—membaca beberapa dari ratusan pesan yang Kyuhyun kirimkan. Kurang lebih tiga minggu, Cho Kyuhyun pamit menjenguk pamannya di New York. Pria itu meninggalkan kuliahnya, meninggalkan kenangan bersamanya. Sejak kejadian di taman tempo hari, hati Ni Young perlahan tergerak. Kyuhyun berhasil mencuri perhatiannya, membuatnya mabuk, jatuh dan terperangkap dalam pesona seorang Cho Kyuhyun. Hari-hari berjalan seperti biasa—menyenangkan dan sangat berharga. Ni Young dan Kyuhyun sering menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekedar membeli ice cream dan duduk di taman belakang kampus, bercerita—mengoceh berteriak saat bermain game di rumah Kyuhyun atau di rumah Ni Young. Bahkan hal-hal kecil seperti pesan-pesan itu menjadi sangat istimewa, walaupun Ni Young belum menjawab pernyataan cinta Kyuhyun, tapi pria itu tidak bodoh, ia tahu betul, perasaannya terbalaskan.

Yeoboseyo?” ujar Ni Young sambil menyibak selimutnya dan duduk tegak di atas tempat tidur. Ia terlalu gembira bahkan hanya mendengar suara pria itu,

“Kyuhyun-a,”

“Belum tidur?” tanya Kyuhyun di seberang sana, suaranya berat dan agak serak,

“Kau kenapa? Kau sakit?”

“Ya! Gadis macam apa yang belum tidur selarut ini? Kau mau matamu seperti panda?!” bentak Kyuhyun agak kencang, Ni Young sedikit menjauhkan ponsel dari telinga, lalu kembali mendekatkannya,

“Biarkan saja. Mau bagaimanapun aku akan tetap cantik,”

“Heiish, terserah. Kau sudah menerima paket dariku?” Ni Young mengerutkan dahi, berpikir sejenak. paket? paket apa?

“Ya! Kau membuangnya?!” teriak Kyuhyun lagi, Ni Young langsung bangkit dan menyalakan lampu utama dalam kamarnya, tangannya mengubrak-abrik kotak besar yang siang tadi di temukannya di depan pintu rumah. Ia belum membuka paket itu karena mungkin tidak penting—mungkin hanya paket Novel dan DVD romance dari sepupunya di Jepang.

“Sudah ketemu, nona?” ujar Kyuhyun diperlembut,

“Ya, Ya—ada di tanganku sekarang,”

“Buka,”

“Sabar sedikit, kau ini seperti ajumha ajumha, kau tahu kan tanganku ini hanya dua, satu memegang ponsel dan—“ Ni Young berhenti bersuara. Dadanya tersentak dan merasa sejuk disaat yang bersamaan. Tangannya mengangkat kotak perak berpita emas itu ke atas meja, menyorotnya dengan lampu belajar, agar benar-benar terlihat lebih jelas—agar ia yakin bahwa ia sedang tidak bermimpi.

“Kyu—“

“Kau suka?”

“Kyu, ini cantik, indah sekali. Tapi sungguh—ini tidak perlu. Aku bisa—“

“Dengar, aku memberikannya bukan bermaksud apapun, aku hanya ingin melihat kau memakainya, saat di butik kau bahkan belum mencobanya, kau terlalu takut masalah harga, kau mungkin bisa sangat cantik saat—“

“Kyu—“

“Hm?”

“Cepatlah pulang,” Kyuhyun terdiam sejenak. Hanya sebentar saat ia mendengar suara Ni Young yang bergetar, hatinya mengeram namun pria itu berusaha menguasai keadaan, ia menghembuskan napas pelan lalu berujar ceria,

“Cah, kau baru menyadarinya sekarang? Kenapa? Kau—“

“Aku merindukanmu,” sergah Ni Young cepat, ia juga tidak mengerti. Mungkin malam ini puncaknya. Detik akhir sejauh ia mampu membendung perasaan rindu yang menumpuk memenuhi hatinya. Ia merindukan pria itu, wajahnya, harum tubuhnya, tawanya, senyumnya, dan pelukannya, ia merindukan semuanya. Ia hanya ingin pria itu kembali, pulang dan tinggal di sisinya,

“Jangan menangis,” desah Kyuhyun pelan, suara pria itu tercekat. Ia merasakan nyeri di ulu hatinya, jika ia bisa, detik ini juga ia akan berlari, pulang dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Ia juga sama tersiksanya karena tidak melihat wajah gadis itu, tidak mendengar ocehan serta tawanya, ia kehilangan sebagian oksigennya, kehilangan alasannya untuk bernapas,

“Mau berjanji padaku?” ujar Kyuhyun parau, suaranya benar-benar di paksakan. Ni Young yakin pria itu berusaha menahan tangis,

“Lakukan apa yang ku katakan, lalu—aku akan pulang, menemuimu. Besok.” Ni Young menghentikan isakannya, ia berusaha meredam tangis dengan menutup bibirnya dengan telapak tangan, dengan napas yang masih terputus-putus, ia berujar,

“Katakan apa yang kau inginkan,”

“Pertama, jangan menangis lagi,”

“Eo,”

“Cih, dasar bodoh,” Kyuhyun terkikik di sebarang sana, ia pasti membayangkan wajah gadisnya saat ini—menghapus air mata dengan kasar, menahan isakan, dan merengut tidak jelas seperti orang idiot.

“Buka bajumu,”

“Mwo?!!”

“Maksudku, ganti bajumu, aisshh, itu—pakai gaun itu,”

“Cih, dasar setan mesum. Awas saja kau!” Ni Young mengoceh kecil, namun ia tetap saja menuruti apa yang dikatakan Kyuhyun, perlahan ia memakai gaun putih itu,

“Sudah?”

“Hm.”

“Bercermin,”

“Untuk apa?”

“Ikuti saja,” Ni Young berjalan pelan menuju cermin besar di dekat jendela, astaga, benar-benar merepotkan. Kyuhyun bahkan tidak akan bisa melihatnya,

“Kau benar-benar. Sesampainya kau di Seoul, aku akan menelanmu hidup-hidup,”

“Sudah? Kau sudah melihat rupamu?”

“Sudah, lalu apa?” Ni Young melihat pantulan dirinya, gaun itu sangat indah,

“Lihat betapa cantiknya gaun itu, dan—betapa jeleknya kau,”

“Cho Kyuhyun!”

“Aku benar. Cepat hapus air matamu, itu masih ada yang bersisa,” Ni Young tidak mengerti apa yang di inginkan pria itu. Seperti anak bodoh, ia menghapus sisa air matanya yang masih tertinggal, lalu sesekali memandang cermin,

“Aku sudah melakukannya,”

Geurom, tersenyumlah,” Ni Young mendengus, tapi detik berikutnya ia mencoba tersenyum, senyumannya buruk sekali,

“Aku benar-benar seperti orang bodoh,” akunya,

“Aku senang kau akhirnya sadar,”

            “Ya!”

“Hey, jangan berteriak. Di Seoul sudah malam kan? Apa kau sudah tersenyum? Ya! Park Ni Young! Senyum yang baik, senyuman tulus dari hatimu, bukan karena terpaksa, mengerti?!”

“Astaga, Cho Kyuhyun, apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau menyiksaku!”

“Diam. Lihat dirimu, tersenyumlah. Tersenyumlah karena kau bahagia, tersenyumlah karena kita akan segera bertemu, tersenyumlah karena kau merindukanku,” Park Ni Young menarik napas pelan, lalu menghembuskannya, mencoba menenangkan diri, ia mengatur raut wajahnya sebisa mungkin, gila memang—bahkan ia tahu betul kalau Kyuhyun tidak bisa melihatnya, tapi ia tetap melakukan apa yang dikatakan pria itu, ia hanya ingin Kyuhyun pulang.

Lengkungan cantik itu akhirnya tercipta. Ni Young merasa dadanya longgar, semua bebannya sirna, sebesar itukah keinginannya agar Kyuhyun pulang? Ya sangat. Beberapa detik Ni Young masih menikmati indah senyumannya, benarkah itu dia? Benarkah itu dirinya, ia bahkan hampir tidak percaya. Jantungnya seperti akan melompat keluar, jika dia bisa, ia ingin rotasi bumi berhenti saat itu juga, agar ia tidak melupakan saat-saat berharga dalam hidupnya, agar ia selalu bisa mendengarkan suara berat Kyuhyun yang menghiasi jiwanya dari seberang sana, hanya beberapa rentetan kalimat yang berhasil membuatnya merona—bersemu merah bahagia,

“Kau lihat? Kau indah. Lihat senyuman itu—Senyum yang nanti akan kutemukan di hari pernikahan kita. Senyuman itu yang nanti akan mengantarmu berjalan di altar bersamaku.Youngie… kau bahkan tidak akan bisa mengukur betapa bahagianya aku mendapatkan senyuman itu,” walau masih tersenyum, Ni Young meneteskan air matanya, dasar pria itu, senang sekali membuatnya menangis,

“Kau mengerti sekarang? Karena kau, senyumanmu, tawamu—adalah kebahagiaanku, sesederhana itu.”

*** 

            Desau angin malam nan sejuk, berhembus lembut menerpa gempita dunia. Para benda-benda langit tak nampak, terhalangi kabut hitam yang bergerak beriringan, seolah sepakat bahwa malam ini tidak boleh bercahaya.

Tidak apa-apa, walaupun dingin menusuk tulang, walaupun langit memutuskan untuk selalu gelap, gadis itu akan baik-baik saja.

Park Ni Young tersenyum tulus dalam balutan mantel hitam tebal Kyuhyun, di puncak menara Namsan, sembari menatap Seoul yang berbalut kelap-kelip cahaya menawan, mereka berdua kini berdiri dengan Kyuhyun memeluk Ni Young dari berlakang, melampirkan mantel yang ia gunakan, mendekap gadis itu dengan hangat tubuhnya, lalu mengeratkan pelukannya, tidak boleh sedikitpun gadis itu tersentuh angin malam.

Kyuhyun benar-benar menepati janjinya, ia pulang. Pagi tadi Park Ni Young bahkan belum membersihkan dirinya, Kyuhyun telah datang menjemput dan mengajaknya keluar bersenang-senang. Mereka pergi ke semua tempat yang menyenangkan, bermain di Lotte World, menghabiskan waktu di Sungai Han, berjalan-jalan di pusat kota dan membeli jajanan pinggir jalan, mengunjungi taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah tempat mereka banyak mengukir banyak kenangan, mereka juga pergi ke taman belakang kampus sebelum menginjakkan kaki di menara Namsan. Hari ini begitu menyenangkan, dan sempurna.

“Kau senang?” ujar Kyuhyun pelan, ia menyandarkan dagu di pundak Ni Young, sesekali menghirup wangi tubuh gadis itu,

“Tidak,” ujar Ni Young datar. Senang bahkan tidak cukup menggambarkan perasaannya saat ini. Ia sangat bahagia, sampai hatinya seakan ingin meledak. Tapi terselip seseuatu di sana, membuat gadis itu tidak rela,

Wae?”

“Kenapa kau harus pergi lagi, Kyu?” ujarnya perih, Kyuhyun baru saja menemuinya, bahkan belum dua puluh empat jam, beberapa saat lalu pria itu menerima telepon lagi dari New York,

“Kau tahu? Pamanku sakit keras. Ia ingin semua keluarga berkumpul. Pamanku itu—aku sudah menganggapnya sebagai ayah, ku harap kau mengerti, Youngie,” desah Kyuhyun pelan, berharap gadis cantik dalam dekapannya bisa mengerti keadaan. Sejujurnya ia juga tidak ingin pergi, ia ingin tetap tinggal di samping gadis itu, jauh darinya sama sekali tidak baik, itu buruk.

“Baiklah,”

“Bodoh, jangan menangis lagi,”

“Kau sangat jahat, apa kau tidak merasakan apapun? Bagaimana bisa kau meninggalkanku seperti ini?” Park Ni Young mulai terisak, sungguh ia ingin Kyuhyun selalu bersamanya, mendekapnya, memeluknya seperti ini, bukan datang—lalu pergi lagi, ia takut, ia sangat takut kehilangan pria itu,

Kyuhyun menghembuskan napas, kepulan asap putih terlihat menguap di area bibirnya, dadanya sesak. Perlahan Kyuhyun menyentuh jemari Ni Young, menuntun jemari mungil itu merogoh mantel hitamnya.

“Untukmu,” Kyuhyun berujar pelan begitu Ni Young meraih cincin emas putih bertahtakan berlian kecil di atasnya, sangat cantik.

“Kyu—“

“Apa aku lupa memberitahumu bahwa kita akan menikah?”

“Kyuhyun-a,

“Berapa kali harus kukatakan, jangan pernah menangis, nona jelek,” Kyuhyun memutar tubuh Ni Young menghadapnya, wajah gadis itu telah basah oleh air mata, ia mulai terisak.

“Kenapa—kenapa kau senang sekali menyiksaku?” Kyuhyun menarik tubuh Ni Young dalam pelukannya, ia tidak tahan melihat air mata yang mengalir deras dari kelopak mata gadis itu,

“Jangan pergi Kyu,” Park Ni Young terisak dalam dekapan Kyuhyun, hatinya sakit, sakit sekali. Yang ia inginkan hanya satu, pria ini—pria yang sedang mendekap tubuhnya ini, pria yang saat ini detak jantungnya juga menggila, pria yang dengan seenaknya merampas paksa hatinya tanpa berniat mengembalikan, ia hanya ingin pria ini tetap di sisinya, itu saja.

“Merindukanmu, itu—sangat mengerikan,” ucap Ni Young dengan tersendat-sendat, napasnya terputus-putus, ia sangat rapuh. Seperti kisah-kisah yang telah lalu, bagaimana jika seseorang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, pasti—selalu tersbesit rasa takut, takut kehilangan, takut di tinggalkan, takut orang itu akan pergi, melangkah sejauh mungkin dan—tidak akan pernah kembali. Itu, seperti itulah perasaan Ni Young saat ini.

Kyuhyun tetap memeluk Ni Young. Pria itu tidak membiarkan Ni Young melepaskan diri, ia tidak mau Ni Young melihatnya yang seperti ini—berusaha menahan tangis. Harusnya ia tahu, harusnya ia tidak menemui gadis itu jika akhirnya seperti ini, karena hanya membuatnya goyah, membuat pertahanannya runtuh, hatinya ingin tinggal dan selalu bersama gadis itu, tapi ia dan takdir tahu, ia sangat tahu, bahwa itu mungkin tidak akan terjadi. Perasaannya? Mungkin itu tidak penting lagi. Gadis itu tidak akan pernah tahu bagaimana tersiksanya ia tanpa tawa gadis itu di telinganya, tanpa wangi gadis itu di sekitarnya, bagai candu. Tanpa oksigen, tanpa bernapas, baginya—hidup sama sekali bukan hidup.

            Kyuhyun mengusap pelan pundak Ni Young, menyalurkan ketenangan, berharap gadis itu berhenti menangis walau ia tahu akan sangat sulit. Kyuhyun mengeratkan pelukannya, mungkin untuk yang terakhir, untuk hari ini, malam ini, detik ini—ia ingin memeluk gadis itu seperti ini.

Kyuhyun membenamkan kepalanya diantara juntaian rambut hitam bergelombang Ni Young yang tergerai indah, membiarkan wangi gadis itu merasukinya, untuk beberapa saat Kyuhyun menikmati sisa waktunya, sebelum detik berikutnya ia berujar perih menyuarakan isi hatinya,

“Kau tahu, kau—tanpamu, merindukanmu, bagiku—seperti mati,”

***

Di luar hujan, sangat deras. Hujan deras mengguyur bumi Seoul sudah tiga hari berturut-turut. Park Ni Young duduk di sofa kecil berwarna putih dekat jendela di kamarnya di lantai dua. Ia memandang jalanan hitam di luar dengan tatapan kosong, tanah di sekitar sana basah.

“Ya! Park Ni Young! Sudah berapa kali ku katakan berhenti makan makanan murahan itu, kau mau perutmu sakit, eoh?!” Kyuhyun remaja terlihat sedikit berlari mengejar Ni Young yang sibuk mengunyah kue berasnya, mereka masih sangat muda saat itu,

            “Kau lebih cerewet dari ibuku,” ucap Ni Young acuh,ia berjalan pelan,

            “Cobalah, Kyu. Ini enak!” ujar Donghae tersenyum lebar, ia lalu melahap kue beras di tangan Ni Young. Dengan usil gadis itu menjejalkan potongan kue berasnya pada Kyuhyun secara paksa, membuat pria itu mulai mengunyah pasrah,

            “eumm.. ini enak,” ucap Kyuhyun pelan, ia lalu menatap Ni Young,

“Aku mau lagi!” ucapnya antusias,

“Kau mau lagi?!” teriak Donghae yang berjalan mundur menghadap mereka, pria itu sedikit lebih jauh di depan,

“Kau mau ini, Kyu?!” teriaknya lagi sembari mengangkat potongan kecil kue beras putih, secepat kilat Kyuhyun mengejarnya, menangkap tangan Donghae, namun ia kalah cepat, Donghae telah mamasukkan potongan kecil itu ke dalam mulutnya lalu terbahak,

“Oh, maaf. Itu yang terakhir,” ucapnya tanpa dosa.

Ni Young terkikik kecil di tempatnya berdiri.Kyuhyun terlihat sangat kesal dan mengunci leher Donghae dalam lengannya, mereka selalu seperti itu. Ni Young mungkin tersiksa hidup di antara  kedua pria abnormal itu, tapi ia juga tidak ingin membayangkan bagaimana hidupnya tanpa tawa mereka.

Park Ni Young tersenyum samar, bulir-bulir air mata meluncur tenang di kedua pipi mulusnya, kenangan bersama kedua pria itu terputar lagi. Ia selalu hapal, terlalu ingat bagaimana tingkah mereka selama ini, terlalu manis untuk terlupa.

Park Ni Young menekan dadanya dengan telapak tangan, rasanya sakit sekali. Salah satu dari pria itu, orang yang di cintainya, orang yang berjanji akan kembali padanya, hingga detik ini bahkan sama sekali belum memunculkan diri.

Entah ini tahun keberapa ia menanti, gadis itu bahkan telah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di salah satu perusahaan ternama di Seoul bersama Donghae, tapi Kyuhyun belum kembali. Ya, pria itu pergi dan menghilang, tanpa kabar. Jangan bertanya tentang usahanya mendapatkan informasi tentang Kyuhyun, sejak pria itu pamit, ia kehilangan kontak, Kyuhyun tidak pernah menghubunginya, ponselnya juga tidak dapat dihubungi. Ni Young sudah sering berkunjung ke rumah Kyuhyun, dan ia hanya menemukan pembantu rumah tangga keluarga Kyuhyun, percuma, ia mengaku tidak mengatahui apa-apa. Ia dan Donghae sudah berusaha mati-matian mengorek informasi—namun nihil, Kyuhyun menghilang tanpa jejak.

            Park Ni Young merasa udara di sekitarnya menipis, dengan cepat ia menutup jendela dan beranjak menuju tempat tidur, menenggelamkan diri dalam selimut. Ia sama sekali tidak tidur, hanya memejamkan mata dengan pikiran melayang. Dalam kegelapan itu ia melihat Kyuhyun, mendengar suaranya, dan—ah, dia akan gila.

Park Ni Young keluar dari balutan selimut, seperti orang linglung, ia menjatuhkan diri di atas kursi di depan meja yang dulu ia gunakan sebagai tempat belajar, tangannya membuka sebuah kotak yang ia beli sore tadi, gadis itu mengeluarkan isinya, dan membuat cahaya dari lilin di atasnya,

Park Ni Young meraih ponselnya, bermaksud mengabadikan gambar Tart putih cantik di hadapannya, dan saat itu juga ponselnya berdering, panggilan masuk. Nomor tidak di kenal.

Yeoboseyo?” ucap Ni Young ragu, seseorang di seberang sana diam, Ni Young mendengarnya menarik napas pelan,

Yeoboseyo?” ulang Ni Young lagi, orang yang menelponnya masih bungkam,

Mianhamnida, nuguseyeo?” Ni Young mendelik saat orang itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, salah sambungkah? Atau orang yang sengaja mengerjainya?

“Aku menutup telponnya sekarang,” ucap Ni Young pelan, ia berharap orang itu akan segera bersuara, namun nyatanya tidak. Hingga sambungan terputus, orang itu tetap bungkam,

“Aneh sekali,” komentarnya sembari menatap layar ponsel, detik berikutnya ponselnya kembali berdering, panggilan masuk. Nomor yang baru saja menghubunginya,

Youngie…” Park Ni Young bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, tepat saat ponsel itu menempel sempurna di telinganya, suara itu menyapanya, suara yang ia hapal di luar kepala, suara pria itu—terdengar serak dan sangat berat,

Di mana kau?” ujar Ni Young cepat, dadanya bergemuruh, sakit.

“Bagaimana kabarmu?” sahut pria itu tanpa menjawab,

Cho Kyuhyun aku bertanya di mana kau sekarang?!” Park Ni Young benar-benar gila, ia sudah terisak dan tubuhnya bergetar, pria itu begitu menyiksanya,

“Kau sehat?”

            “Kyu—“

“Kau sudah makan?”

“Cho Kyuhyun, aku akan membunuhmu!”

            “Kau belum berubah,” Kyuhyun terkikik pelan, napasnya sama sekali tidak teratur,

            “Kyu—ku mohon,”

            “Ada apa? Siapa yang menyakitimu?”

            “Pulanglah,”

Kyuhyun bungkam, dalam sambungan telepon itu hanya terdengar tangisan Ni Young yang terdengar pilu, merobek-robek hatinya, membuatnya ingin berlari menemui gadis itu, menghapus air matanya dan melihat senyumannya, hidup—bertahan tanpa gadis itu membuatnya bagai raga tanpa nyawa,

Youngie,” Kyuhyun mengatur napasnya, berusaha melepaskan diri dari rasa sesak yang mengerogoti dadanya,

            “Aku—merindukanmu, sangat…” Ucap Kyuhyun pelan,

“Pulang, Kyu. Aku ingin kau,”

            “Hey, mau berjanji padaku?” Kyuhyun memaksakan suaranya agar terdengar tenang dan biasa saja,

            “Aku sedang tidak ingin bercanda,” sahut Ni Young ketus,

“Lakukan apa yang ku katakan, lalu—aku akan pulang, menemuimu.”

“Kau akan pulang lalu meninggalkanku? Tidak lagi,”

“Tidak kali ini, aku akan pulang, dan tinggal bersamamu,” sahut Kyuhyun meyakinkan, kali ini gadis itu harus mengikutinya, mungkin untuk yang terakhir,

“Apa yang kau inginkan?”

“Kau tahu hari apa ini?”

“Tentu,” Kyuhyun tersenyum samar di tempatnya berada, lalu kembali berujar,

“Aku membeli kue, bisa nyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku?”

“Aku juga membelinya—sekarang lilinnya sedang meleleh di hadapanku,”

“Bodoh, hari ulang tahunku kenapa kau membeli kue?” sebenarnya Kyuhyun sangat bahagia karena gadis itu masih mengingat hari ulang tahunnya, mengingat ini sudah sangat lama ia meninggalkan gadis itu,

“Bodoh, karena aku merindukanmu,”

“Bernyanyilah,” Kyuhyun terdiam, membiarkan suara Ni Young menggema di ponselnya, ia tahu gadis itu mati-matian menahan tangis, atau mungkin, ia sudah menangis, suaranya bergetar.

“Suaramu jelek sekali,”

“Diam kau,”

“Aku akan meniup lilin!” ucap Kyuhyun bersemangat,

“Ya! Kau sudah mengucapkan permohonan?”

“Apakah harus?”

“Tentu, permohonanmu akan terkabul. Berdoa dan buat permohonanmu, lalu tiup lilinnya,” Ni Young menunggu dan tersenyum saat mendengar hembusan napas Kyuhyun, pria itu telah meniup lilinnya,

“Aku melakukannya,”

“Apa yang kau minta?”

“Tuhan tidak akan mengabulkannya jika aku memberitahumu,”

“Mana bisa begitu,”seru Ni Young protes,

“Memang seperti itu,”

“Youngie, sekarang, makan kuenya,”

“Sudah,” Ni Young mengunyah paksa kue di dalam mulutnya, air matanya tidak berhenti mengalir,

“Apakah enak?”

“tidak, ini—terasa agak asin,”

“Jangan menangis lagi,”

“Aku tidak menangis,”

“Aku akan pulang,”

“Kapan?” wajah Ni Young berubah agak cerah,

“Secepatnya,”

“Aku menunggumu,” ucap Ni Young sesaat setelah terdiam beberapa saat, yang bisa ia lakukan hanya menanti dan percaya pada Kyuhyun bahwa ia akan pulang,

“Youngie, tidurlah dengan nyenyak, selamat malam,”

***

Park Ni Young duduk balkon kamarnya, langit sangat abu-abu, mendekati hitam. Hari ini adalah hari ketujuh setelah Kyuhyun menelponnya. Dengan bodohnya ia tidak bertanya lebih lanjut, ia hanya mengikuti perintah pria itu—menunggu. Entah sampai kapan, ia juga tidak tahu, ia yakin Kyuhyun akan menepati janjinya, ia percaya pada pria itu. Nomor telepon yang Kyuhyun gunakan saat itu tidak dapat dihubungi, tidak ada pilihan lain, Park Ni Young harus menanti, walau setiap hari ia hidup dalam kubangan hitam dan rasa sakit,

“Youngie, kau di dalam?” Ni Young menoleh ke arah pintu kamarnya, itu suara Donghae, perlahan gadis itu menghapus air matanya dan berdiri, beranjak membuka pintu,

“Kemana saja kau? Kenapa telponku tidak pernah kau angkat? Kau tahu, Kyuhyun menelpon, dan dia—“

“Kyuhyun pulang,” desis Donghae pelan, pria itu menatap dalam-dalam wajah Ni Young, gadis itu berhenti mengoceh, mencerna baik-baik apa yang di katakan Donghae, matanya perih,

“Dia—pulang?” ujar Ni Young terbata, ia bahagia, senang, rasanya ingin berteriak pada dunia,

“Dia ingin kau menemuinya,” ucap Donghae melemah, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Wajah pria itu pasrah, suram—berantakan. Matanya sembab dan bengkak, merah, berair.

***

            Park Ni Young merapatkan mantel putihnya, menghalau dingin angin yang membuatnya bergidik. Langkah kaki di atas boots coklatnya mulai lebih cepat dari beberapa saat lalu. Ni Young membuka pintu utama rumah megah Kyuhyun, ahh.. ia merindukan suasana rumah itu, terlebih kenangannya bersama Kyuhyun. Matanya secara liar mengamati sekeliling ruangan, sepi—tidak ada siapapun, ia menatap Donghae, pria itu berjalan lunglai dan menyedihkan,

“Kyu,” ucap Ni Young pelan, apa pria itu mempersiapkan kejutan untuknya? Baiklah, itu hanya membuang waktu.

“Cho Kyuhyun,” Ni Young berjalan melewati ruang tamu, suaranya terdengar gamang, rumah Kyuhyun sepi sekali. Ia memasuki ruang makan, ruang tidur utama, dapur, taman, tidak ada seorangpun di sana, membuatnya frustasi—jantungnya mulai berdebar kencang,

Park Ni Young agak berlari kecil, berusaha menjamah setiap sudut ruangan rumah Kyuhyun. Perlahan langkah kakinya melambat, tepat saat ia menyingkap daun pintu besar berwarna putih dengan bingkai hiasan keemasan di ruang tengah, dengan tertatih—ia berjalan masuk, berusaha mengontrol deru nafasnya yang terputus-putus, dadanya bagai terhimpit batu besar, membuatnya kesulitan bernapas dengan baik.

Park Ni Young sama sekali tidak merasakan kakinya memijak bumi, tubuhnya seperti melayang, ia tidak merasakan apapun—kecuali rasa sakit, sakit sekali, sakit itu bergumul dan berkoar-koar dalam rongga dadanya. Ia masih bisa mengenali beberapa orang yang berada di ruangan itu, mereka duduk bersimpuh ke arah yang sama. Di sana ada Ayah dan Ibu Kyuhyun, ada Ahra—kakak perempuan Kyuhyun, pembantu rumah tangga keluarga Kyuhyun yang duduk di sudut ruangan, dan beberapa orang yang tidak terlalu asing di matanya. Ni Young terpaku—berdiri di tengah ruangan dengan tubuh bergetar, ia menatap lurus foto pria tampan itu tepat di hadapannya, wajahnya tidak terlalu jelas, pandangan Ni Young penuh oleh air mata yang menumpuk,

“Youngie…” Ibu Kyuhyun memeluk Ni Young saat mendapati tubuh gadis itu terguncang keras, wanita itu memeluknya sangat erat, dan ia menangis, tersedu pilu,

“Dia telah pergi, Youngie… Kyuhyun telah pergi, apa yang harus kita lakukan?”

“Anak bodoh itu pergi,” “Bagaimana ini?” Ni Young baru tersadar saat jutaan tetes air mata membasahi wajahnya secara membabi buta, terus menerus tanpa henti. Pandangannya mulai jelas setelah beberapa waktu lalu ia tidak bisa melihat apa-apa. Di setiap sudut ruangan terdapat beberapa rangkaian bunga mawar dan krisan putih, ada beberapa ucapan berbela sungkawa, dan orang-orang di sekitarnya menggunakan pakaian serba hitam. Ni Young merasa dunia akan jatuh menimpa tubuhnya saat ini juga,

“Kyu,” lirih Ni Young tercekat, kerongkongannya seperti teriris,

“Kyuhyun-a, apa yang kau lakukan?” tubuh Ni Young luruh, tepat saat wajah Kyuhyun yang tersenyum simpul pada sebuah foto berukuran sedang terlihat jelas di matanya, di sekitar foto itu terangkai tumpukan bunga-bunga cantik, sangat menyedihkan.

“Kyuhyun-a, kau berjanji padaku, kau berjanji akan pulang! Kenapa seperti ini?!” Donghae memeluk Ni Young, gadis itu berteriak histeris dalam dekapan Donghae, ia tidak bisa menerimanya,

“Pengerasan hati. Dia ke New York menjalani pengobatan, dia tidak ingin kau tahu, dia ingin aku

menjagamu,” Donghae menangis, ia sama terlukanya seperti Ni Young, kehilangan seseorang yang hampir lebih dari setengah masa hidup bersama bukanlah hal mudah, kehilangan orang yang kita cintai memang selalu menyakitkan,

“Cho Kyuhyun! keluar kau! Ini sama sekali tidak lucu! Kubilang keluar! Cho Kyuhyun!!!” Ni Young seperti orang kehilangan kesadaran, ia berteriak dan menangis sumbang, tubuh lemahnya itu mengitari ruangan, berharap Kyuhyun ada di suatu tempat di sana, berharap pria itu akan muncul dan memeluknya,

            “Cho Kyuhyun, kau tidak boleh meninggalkanku, kau tidak boleh mati!!”

“Jangan Kyu—ku mohon, jangan seperti ini, tidak boleh, jangan pergi!”

“Dari mana mereka berasal dan bagaimana mereka jatuh dan jatuh lagi, aku tidak tahu, satu-satu hal yang aku tahu saat ini aku benar-benar terluka. Hatiku yang hangat perlahan membeku.”

            “Kyu—kau tidak boleh, tidak boleh.. hiks,” Ni Young menggeleng kasar, air matanyanya tidak terbendung lagi,

“Cho Kyuhyun! kau tidak boleh mati! Aku tidak menginjinkamu mati!!!”

Ni Young meraung perih, ia tidak tahu bagaimana lagi bentuk hatinya saat ini, wajah itu, senyum yang tersemat di sana—ia akan sangat merindukannya. Bagaimana hidupnya setelah ini? Ia ingin pria itu, hanya dia, dan selalu dia, tolong kembalikan….

“Kyuhyun-a—tolong,”

“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa, atau bahkan menahanmu untuk tetap tinggal,”

            “Cho Kyuhyun,” Ni Young masih meraung pilu di tempatnya, sungguh demi apapun, ia belum bisa—dan mungkin tidak akan pernah bisa menerima kenyataan ini. Cho Kyuhyun—dia pergi, pergi jauh, jauh sekali.. tidak akan kembali,

“Kenapa Kyu? Kenapa kau lakukan ini padaku?!” Ni Young terisak hebat, ia menekan dalam-dalam bagian dadanya, rasanya sakit… sakit sekali.. seperti akan mati, ia berusaha menutup lubang besar yang menganga lebar di dalam hatinya,

“Apa yang harus kulakukan? Cho Kyuhyun bodoh!! Aku membencimu!!!”

“Bagaimana—Jika aku tidak pernah bisa lagi melihatmu, bagaimana? Besok pagi saat tanpa sadar aku meraih telepon, lalu apa yang harus kulakukan?” 

            Donghae memeluk erat Ni Young, ia tahu gadis itu tidak akan kuat. Ia terlalu rapuh dan sakit,

“Kau percaya padanya? Kau mencintainya?” Ni Young mendongkak menatap Donghae, masih dengan tangisannya yang tidak pernah putus,

“Maka jangan menangis,” Donghae mengecup lembut kening Ni Young, perlahan ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya, kertas buram, basah, dan lusuh—tulisan tangan Kyuhyun,

“Youngie, Aku telah menepati janjiku. Aku pulang, dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan tinggal di sana, di dalam hatimu. Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti—aku tidak tahu kapan—mungkin di kehidupan yang lain, saat bumi berputar lagi—saat itu kita akan bertemu, dan aku akan melihat senyummu lagi, mendengar tawamu lagi, memelukmu,mendekapmu—menggenggammu dan tidak akan membiarkanmu lepas. Dan sampai saat itu tiba, mau berjanji padaku? Dari tempatku berada, bolehkah aku melihat senyummu setiap hari?”

            Tangis Ni Young pecah. Tangannya bergetar kuat. Ia lupa cara bernapas. Dadanya sesak—seperti akan mati saja. Cho Kyuhyun, tidak bisa lebih menyakitinya dari ini? Donghae mendekapnya erat, berusaha menahan bahu gadis itu yang berguncang keras, tubuhnya menggigil, mereka menangis bersama, Ni Young masih meraung, sesaat ia mendongkak, melihat wajah Donghae—tidak—ia melihat wajah Kyuhyun, Kyuhyun memeluknya, pria itu tersenyum dengan wajah pucatnya— hanya beberapa detik sebelum Ni Young merasakan lemas di sekujur tubuhnya, telinganya berdengung, pandangannya kabur dan semuanya

menjadi gelap.

***

            Park Ni Young menatap lembut pantulan dirinya di cermin besar kamarnya. Persis seperti beberapa tahun lalu. Dengan raut wajah yang sama, senyum yang sama, dan—gaun indah yang sama, gaun putih cantik pemberian Kyuhyun.

Tiga tahun telah berlalu, setelah kejadian yang meruntuhkan semesta gadis itu. Ia memang seperti akan gila dengan kepergian Kyuhyun yang sangat tiba-tiba. Ia mengurung diri di kamar dan tidak makan juga menolak berbicara pada orang lain. Ia hanya menangis siang dan malam, memandangi foto-foto kenangannya bersama Kyuhyun hingga lelah dan tertidur. Orang pertama yang berhasil menarik Ni Young dari keterpurukan adalah Donghae. Pria itu bagai secercah cahaya kehidupan baginya. Malam itu, walau dengan keraguan, Ni Young membiarkan Donghae masuk ke kamarnya, orang tua Ni Young percaya bahwa hanya Donghae yang dapat menenangkan gadis itu. Saat itu sembari memeluk Ni Young dalam dekapannya, Donghae menjelaskan semuanya. Cho Kyuhyun mencintai Park Ni Young, amat sangat, tapi ia juga tidak bisa melawan takdir saat Tuhan menggariskan penyakit itu di tubuhnya, Ia terpaksa berbohong pada gadis itu dan melakukan pengobatan di New York. Dan pengobatan Kyuhyun itu tidak terlalu membuahkan hasil, karena penyakit itu sudah terlalu lama didiamkan dan tidak mendapatkan tindakan apapun, bahkan keluarga Kyuhyun baru mengetahui penyakit terkutuk itu saat sudah parah. Kyuhyun tahu Donghae mencintai Ni Young, ia meminta waktu untuk bersama gadis itu. Kyuhyun melihat semuanya, saat di taman belakang kampus—saat Donghae berbalik pergi meninggalkan tempat itu—detik itu juga Kyuhyun yakin, Donghae satu-satunya pria yang ia percayakan untuk menjadi penggantinya.

“Kau sudah siap?” Ni Young menoleh, wanita paruh baya yang dipanggilnya ‘eomma’ itu berjalan mendekat padanya, wanita itu terlihat cantik dengan Hanbook putihnya, rambutnya digelung dan dihiasi pita sederhana.

Aigoo, neomu Yeoppo. Kajja mereka pasti sudah menunggu,” ujar wanita itu lembut, ia membelai sayang permukaan pipi Ni Young, lalu menatap lembut gaun pengantin yang dikenakan anak gadisnya itu, ia tahu itu pemberian dari Kyuhyun,

“Turunlah jika sudah siap, aku menunggu di bawah,” Ni Young mengangguk pelan dan tersenyum, gadis itu sangat cantik,

Park Ni Young mengangkat sedikit gaun putihnya yang menjuntai, membiarkan kaki jenjangnya melangkah pelan, menuju jendela. Saat itu kedua bola mata legamnya menatap bingkai foto berukuran sedang di meja tempatnya dulu sering belajar. Tangannya meraih foto itu, lalu mengusapnya pelan. Foto itu adalah foto dirinya sendiri yang berdiri di tengah tubuh Kyuhyun dan Donghae, di dalam foto ia merangkul sayang lengan kedua pria tampan itu, mereka tersenyum menatap kamera dengan baju seragam sekolah menengah atas, saat itu mereka terlihat sangat bahagia,

Ni Young meletakkan foto itu kembali, tidak ingin terperangkap rasa sesak lagi. Ia berjalan menuju jendela, menatap langit dan tersenyum,

“Kyu, kau akan datang, kan?”

“Kyu—di sini dingin sekali, apa di sana dingin?”

“Bodoh, cepat turun dan pergilah.”

***

            Park Ni Young berjalan anggun membelah ruangan megah serba putih itu. Ia menggenggam erat tangan ayahnya. Ia selalu memasang senyum terindahnya di setiap langkah. Di ujung sana, pria tampan dengan Tuxedo putihnya tersenyum hangat menantinya, mata teduh itu memberi ketenangan juga keyakinan di saat yang bersamaan, Lee Donghae. Jika bukan Kyuhyun—orang itu adalah Donghae. Seperti itulah takdir mengikatnya.

Lee Donghae berhasil membuat Ni Young jatuh cinta padanya untuk yang kesekian kalinya, tapi percayalah, nama Kyuhyun tetap terukir jelas di hatinya, tersimpan rapi di sana. Park Ni Young dan Lee Donghae telah mengucap janji, Ni Young menyematkan cincin di jemari Donghae, begitupula sebaliknya. Donghae tertawa kecil saat di jemari Ni Young telah tersemat cincin pemberian dari Kyuhyun, namun ia tetap menyematkan cincin itu di sana.

Riuh tepuk tangan tamu undangan memecah suasana, ruangan megah itu ribut seketika sesaat mana kala Donghae mengecup singkat bibir ranum Ni Young yang telah resmi menjadi istrinya, keduanya bersemu malu, tersenyum, dan bahagia.

Ni Young menghentikan senyumannya sementara, tepat saat kedua bola matanya menangkap seseorang berdiri di sudut ruangan. Pria itu memakai pakaian serba hitam, kulitnya putih pucat, namun ia tetap tampan. Cho Kyuhyun tersenyum tulus, ia selalu menawan, Ni Young nyaris meneteskan air matanya lagi, namun ia cepat-cepat tersenyum saat Kyuhyun menggeleng lemah, Jangan menangis

Ni Young merasakan suhu di sekitarnya dingin, namun ia tidak peduli. Ia masih menatap Kyuhyun yang semakin menjauh, hingga pria itu benar-benar berbalik dan menghilang seraya dengan sedikit angin segar yang menerpanya, aroma wangi Kyuhyun,

“Aku mencintaimu,”

***

“Aku, kau dan dia. Kita telah banyak melalui berbagai kisah, membuat kenangan manis bersama. Aku mungkin tidak bisa menjanjikan cinta dan seluruh hidupku padamu, karena suatu saat nanti, detak jantungku ini pasti akan berhenti, dan aku tidak akan bernapas lagi. Hanya sekarang—aku akan mencintaimu dalam setiap untaian doa, mencintaimu hingga batas yang tidak ingin kutentukan, mencintaimu seperti ini.”

***

“Haruskah ku katakan? Selamat tinggal, berbahagialah, cintaku,”

-THE END-

70 Comments (+add yours?)

  1. ChoHyeYoo
    Mar 01, 2014 @ 06:26:21

    Oh astaga. Aku nangis pagi hari di akhir minggu gara-gara baca ini. Hiks T____T Ini demi apa astaga… Sedih banget!!!! Ya ChoKyuhyun astaga. Eonni-ya, ini benar-benar daebak!!!!

    Reply

  2. kiswa kyuroshaki
    Mar 01, 2014 @ 06:45:41

    author-nim kenapha kau buatkn ff yg menyayat hati ini,
    sumpah meweek bacany,
    kyuhyun koq mati..
    hiks hiks…

    Reply

  3. lita
    Mar 01, 2014 @ 06:51:19

    Aduuuh bacanya sampe berkaca2 begini, berasa banget hati ini perih pedih jendral…..

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Mar 01, 2014 @ 06:56:49

    Sad story, Kyu oppa nya sakit dan Ni Young tdk pernah th smp bbrp thn kemudian saat Kyu oppa berjanji pulang ternyata jiwanya meninggalkan Youngie u selama2nya, wlpn mengalami keterpurukan akhirnya sahabat mrk berdua Donghae oppa mampu mjg Youngie dan akhirnya skrg mrk menikah

    Reply

  5. LisaJuly89
    Mar 01, 2014 @ 06:59:22

    cerita yang bagus, mungkin emosi pembaca jadi tidak stabil karena baca cerita ini. habisnya mereka ber-tiga sahabat yang aneh dan hebat dan sama-sama saling mencintai. overall cerita bagus pake banget!!!! kyuhyun, kenapa kamu harus meninggal??? huaaaa tapi gapapa yg penting happy ending! keep writing thor!!! 😀

    Reply

  6. han gi
    Mar 01, 2014 @ 07:39:26

    aaa…sampe nangis gini bacanya . huhu

    Reply

  7. Kyupil
    Mar 01, 2014 @ 07:52:59

    Huaaa kenapa kyu harus mati thor #banjirairmata 😥 tapi kereeen ko ceritanya 🙂

    Reply

  8. della
    Mar 01, 2014 @ 09:19:03

    aq gk suka sad ending ny….
    pdahal genrenya romance….. aq benci… hikss hiksss

    Reply

  9. Kodok
    Mar 01, 2014 @ 10:45:33

    ahhh
    bangkyuuuu
    aku suka banget ma alurnya
    trs ff ini tu adem banget kalo qt ngebacanya

    Reply

  10. laini
    Mar 01, 2014 @ 10:50:44

    Aigoo!!!! Air mataku keluar terus.

    Reply

  11. wita
    Mar 01, 2014 @ 11:32:46

    sad or happy ending ?!?! wkwk aku suka alur dan penggunaan katanya ^^ dan aku jg suka akhirnya sama donghae haha

    Reply

  12. ajeng
    Mar 01, 2014 @ 12:12:13

    Daebak…. Ff ini Sukses bikin aku nangis…..

    Reply

  13. elynda
    Mar 01, 2014 @ 12:48:46

    Author, jahat bikin anak org mewek,, hiks,,
    Kenapa kyuhyun oppa harus meninggal??
    Tapi, ceritanya keren, sukses, bikin emosi pembaca naik turun(?)
    di tunggu ff yg lain, tetep FIGHTING!!:)

    Reply

  14. cindypemata07
    Mar 01, 2014 @ 13:10:29

    astagaaaa sedihnya…..

    Reply

  15. ainikyu
    Mar 01, 2014 @ 16:55:11

    cinta segitiga selalu berakhir menyedihkan meski ada kebahagiaan juga.
    Ahh ceritanya keren banget jd ikut mewek sendiri.

    Reply

  16. mychokyu
    Mar 01, 2014 @ 17:11:21

    fine thor udah bikin gw nangis gara2 ff lu T,T

    Reply

  17. missblackshampoo
    Mar 01, 2014 @ 19:00:52

    what………… oh my God. Sumpah langka banget ff kayak gini. keren. suka banget. bikin ff sekeren ini lagi ya thor :))

    Reply

  18. missblackshampoo
    Mar 01, 2014 @ 19:03:25

    what……. oh my God. Sumpah langka banget ff kayak gini. keren. bagus banget. bikin ff kayak gini lagi ya thor :))

    Reply

  19. novanofriani
    Mar 01, 2014 @ 20:19:57

    Njrit sedih bgt. Nangis asli. Ya ampun thor ini sumpah sedih pake bgt tai gk. Sukses brt buat reader patah hatihuhu

    Reply

  20. Elmonica
    Mar 01, 2014 @ 21:04:16

    sedih banget!!
    aku nangis banget ini ,beneran.

    Reply

  21. trisnasmile
    Mar 01, 2014 @ 21:37:18

    Suka suka suka…..

    Reply

  22. izaas khairina
    Mar 01, 2014 @ 21:37:20

    ahhh banjir sumpah kenapa ini cerita romantis banget coba, author dapet ide darimana dirimu bikin ceria sesweet ini, satu cewek di kelilingin dua cowok tampan yg cinta banget sama dia seandainya ni young itu aku ahhhhhh author jjang ^.^b

    Reply

  23. putri ananda
    Mar 02, 2014 @ 08:05:09

    wuuahh terharu bacanya sampe nangis.. bagus thor ceritanya..! keep writing..! 🙂

    Reply

  24. Chokyu
    Mar 02, 2014 @ 16:21:29

    Cerita yang bagus 🙂 suka sama kata2nya.

    Reply

  25. IMYM
    Mar 02, 2014 @ 16:36:42

    Galau

    Reply

  26. kyukyu
    Mar 02, 2014 @ 18:52:38

    huaaah nangiss. tambah bengkak thor mata gueeh T,T

    Reply

  27. ahra
    Mar 02, 2014 @ 22:39:28

    nysek bner… mood lgi galau di tmbah bc nie ff… bner2 air mta mngalir… suka alurnya dari romance,sad sampai happy ending. like it….

    Reply

  28. missrumii
    Mar 02, 2014 @ 23:10:44

    ff ini bener bener luar biasa! aku beneran nangissss :’)

    Reply

  29. itha paksi
    Mar 02, 2014 @ 23:18:23

    author tanggung jawab! baca ff ini bikin aku nangis, sumpah feel nya dapet banget. cuma satu kata buat author nya ‘DAEBAK’

    Reply

  30. 1211dooty
    Mar 03, 2014 @ 00:16:09

    hyah… Matikan lu iblis.. ah Kyu,,, why,, ??? why??? kenaap harus dirimu berakhir dengan penyakit yang tidak elit sama sekali? pembekuan hati ? dirimu terlalu suka makan es krim eoh.. 😥 *berusahategar*
    HUAAA…GUE NANGIS… T_T

    Reply

  31. lovey denalisa
    Mar 03, 2014 @ 03:25:00

    q nangiss..
    kenapa hars sesedih ini…???

    Reply

  32. chochi
    Mar 03, 2014 @ 10:29:07

    thor. . tisu.ku habis.. tanggung jawab.. *ckek unyuk, lap ingus pake kaus siwon XD
    keren thoorrr

    Reply

  33. nurychoi407
    Mar 03, 2014 @ 13:18:25

    Omfg…. Sad ending TTT,,TTT kiraiin pas awal2 mau sma kyu eh ternyata sama dngek like this 😀

    Reply

  34. Park sungmi
    Mar 03, 2014 @ 13:52:42

    huaaa ff ini bikin aku nangis bombay,,, daebaaaak aku suka

    Reply

  35. heeyeon
    Mar 03, 2014 @ 18:24:25

    haruskah.. ini keren..?? tp ini benar2 keren

    Reply

  36. ddangkom
    Mar 03, 2014 @ 20:38:34

    Ini sedih sumpah!! Aaa author daebak aku sampe nangis dibuatnya feelnya dpt bgt daebak pokoknya!

    Reply

  37. adela
    Mar 04, 2014 @ 06:51:13

    Gua cuma mau bilang. Ini keren brey.

    Reply

  38. uyikfawzia
    Mar 04, 2014 @ 08:15:39

    Sampe nanges 😦 crita nya keren, ending gak di duga 😦 good job thor,

    Reply

  39. Syifasepfitriana
    Mar 04, 2014 @ 09:48:15

    Miinn..mewekkk sumpah bacanya ;( hebatt bangettt….yg buat

    Reply

  40. sitirahayu
    Mar 04, 2014 @ 17:30:15

    feelnya dpt bgt….
    bkin miris hati……… :`-(
    padahal aku berharap happy ending…..
    bkn sad ending….
    request thor….
    pengen ff bertema vampire…..
    Hehehehehehe……….

    Gomawo thor….
    Ditunggu ya thor…

    Reply

  41. ronaldo
    Mar 04, 2014 @ 21:06:58

    sad 😥
    dari pertengahan udah ngerasa ga enak banget waktu baca kyu pergi ke new york tanpa alasan yang jelas ..
    dia cuma biLang pamannya sakit 😦
    tapi taunya 😦
    beruntung banget kamu ni young, tanpa adanya kyuhyun tapi masi ada donghae ,, 😥

    Reply

  42. yana teuk teuk
    Mar 04, 2014 @ 21:27:28

    tisu menemaniku membaca FF ini

    Reply

  43. bambina
    Mar 04, 2014 @ 22:11:26

    ampe nangis.. seriusan ㅠㅠ …

    Reply

  44. Amanda Aura
    Mar 04, 2014 @ 22:22:45

    nyesek banget bacanya, serasa aku masuk kedalem ceritanya(?) ‘-‘
    feelnya dapet thor ^^

    Reply

  45. Yulia
    Mar 05, 2014 @ 05:56:07

    Huuaaa….:'(
    cerita kenapa sedih begini….

    Reply

  46. nanakyu
    Mar 05, 2014 @ 08:00:17

    TT huhuhuhuu wuahh aq sampek nangis g jrang bca ff gini tp napa aq slalu nangis ya
    daebak thor,, keep writing

    Reply

  47. BubblePurple23
    Mar 05, 2014 @ 09:45:46

    sedih bgt~ 😦 nyesekk..

    Reply

  48. ritasj
    Mar 05, 2014 @ 15:45:13

    Hiks Hiks ya ampun sedih bnget
    rasany sesak pkek bnget klu bner” terjadi gk visa bayangin :`(

    Reply

  49. tri murni
    Mar 05, 2014 @ 17:12:34

    the best bgt..,,

    Reply

  50. Destini Jorinta Putri
    Mar 05, 2014 @ 21:27:34

    aaaahhh ya ampun sumpah sedih banget… air mata keluar terus iniiii…

    Reply

  51. ayunastiti14
    Mar 06, 2014 @ 01:30:37

    Pipi basah, mata berair, hidung mampet di tengah malam. Ini benar benar daebak. Ya ampun! Rasanya aja masih sesek

    Reply

  52. ninaelf
    Mar 06, 2014 @ 17:00:50

    ff nya keren, bahasa dan penggunaan kata benar-benar bagus. feelnya dapet banget sampai nangis ini 😀
    sejauh ini typo seperti tidak ada
    Keep Writing ne 🙂

    Reply

  53. vylnagrey
    Mar 06, 2014 @ 17:11:23

    HUAHAHAHA.. you make me cry… nyesek bgt bgtu tau kejadian yg sebenarnya

    Reply

  54. Livia Jung
    Mar 06, 2014 @ 17:51:28

    Arrrrgghhh nangis thor ;A;
    Aku baca pas hujan and setel lagu season in the sun ;A; pengiring yg dangat mendukung ;A;
    Thor ini keren suer….
    ditunggu karya ff mu yg lainnya ya 😉

    Reply

  55. savira
    Mar 06, 2014 @ 18:29:16

    T.T dikirain Ni Young nya bakalan nikah sama kyuhyun, taunyaaaa ? … Ahhhh ini ff biikin aku nangiss ‎​(ʃ˘̩̩̩з˘̩̩̩ƪ). Keren ff nya eonni~ suka bangett

    Reply

  56. Ayu Tyas
    Mar 06, 2014 @ 23:37:33

    aigoo sad but happy ending (?) ^^
    yakk.. kenapa Kyu yg mati #nangisdipojokan -.-”

    ceritanya bagus chingu, bahasanya jga rapih,,
    dan chukha chingu udh berhasil bikin org ngira aku gila karena nagis sendiri sambil liatin hp huhuhu ^^

    keep writting, di tunggu cerita selanjutnya ^^
    tpi please jgn bikin nae nampyeon mati yaahhh ! #pupyayes

    Reply

  57. yua
    Mar 07, 2014 @ 08:21:54

    banjir aer mata -_-

    Reply

  58. yoonwonalways
    Mar 07, 2014 @ 21:24:06

    Saya boleh nangis gak. Feelnya dapet.

    Reply

  59. gojjluck
    Mar 08, 2014 @ 09:02:18

    Kyuhyun meninggal -___-” aaaah, FF ini bikin mewek aja 😥

    Reply

  60. ulfah
    Mar 08, 2014 @ 11:39:36

    oohhh ya ampun sumpah gue nangis tersedu2 saking mnghayati alur cerita nya autor yg bkin nya top deh kerennn sekali lg KEEEREEENNNN FF mu. 😀

    Reply

  61. jin ara
    Mar 08, 2014 @ 13:56:09

    Astagaaaa keren banget ini ff kisah persahabatan cinta romansa yang indah.. penyajian yang apik bahasa yang rapi oh my god love sekaliiiiiiiii 🙂 tema sederhana tapi di kemas secara unik sehingga memiliki daya tarik tersendiri bener bener dhaebak!!!!

    Reply

  62. Minri
    Mar 08, 2014 @ 15:10:53

    sampe nangis nie bacanya.. T_T
    feelnya ngena bgt..

    Reply

  63. ninanina
    Mar 08, 2014 @ 22:38:36

    Aarghhh dalemmm bangeetttt!! Nangis nih teriris2 :”(( keren keren daahhh

    Reply

  64. Joon
    Mar 09, 2014 @ 09:38:58

    Hiks…hiks…
    Kereeen…sukses bikin aq kwta,senyum,nangis,senyum lagi…

    Reply

  65. dhina seung
    Mar 11, 2014 @ 09:54:58

    FF pertama yang bisa biki aku nangis….

    ohhhh!!! tidaaaaaakkkk…. kyu! cho kyuhyun..bangunlah. ;( nangis.
    *ngga rela kyu matii.. ;(

    buat author ; jempoll…. dah buat ente. daebakk

    Reply

  66. devinizar24
    Mar 11, 2014 @ 21:07:21

    Mwooo T.T ???
    apa ini.. kyaaaaa!!! wkt pas ni young nangis tau kyu meninngal ituuuu ikut ngerasain betapa nyeseknya.. betapa sktnya.. Pokoknya gilaaa ni ff..
    ntah knp rasanya kena bgt..
    smoga org yg qta syng ga pergi bgtu aja tanpa qta bs mengucapkan slamat tinggal atw semoga qta tetep bs ada disisinya disaat terahirnya..
    aaarrgggg andwaeeeee *elap aer mata*

    Reply

  67. Yesung Oppa Saranghae
    May 28, 2014 @ 19:55:52

    Wahh daebak ini cerita 🙂
    Asli nyessek thor, berlinangan air mata sayya huaaaa 😀
    ahh chokyu!
    keren badaii. Teruslah berkarya. !!!

    Reply

  68. ega ayu
    Jul 01, 2014 @ 13:51:34

    Akhhh– cidakkkk– kyu mati– netessss:((

    Reply

  69. Elva
    Jun 06, 2015 @ 22:53:50

    Baca ff ini bikin aq kraying2 di tengah malam … Banyak bgt isinya. Cinta, persahabatan, pengorbanan. Meskipun happy ending tp tetep nyesek bgt … 😥

    Reply

  70. yoongdictasticgorjes
    Aug 05, 2015 @ 15:31:12

    keren BGT thor ff nya . . .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: