[FF Of The Week] Baby’s Breath

Baby’s Breath

 

Author : Aryn

Judul : Baby’s breath

Cast : Cho Kyuhyun, Park Ni Young, Lee Donghae and other cast

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : Oneshoot

Notes : Fb : Aryn Cathrine Jackson

Blog : Arynjackson.blogspot.com

Happy Reading ^^

 

 

 

“When I look at you, I smile,

When I hear your voice, I’m happy,

When you smile even not for me, My heart-beating hardly,

When you leave me and go to someone else, I still here, look at you with my pure smile, then silently I cry…”

 

***

 

Selamat datang musim semi. Selamat datang sang mentari.

 

Aku mungkin terlalu bersemangat hari ini. Aku bangun terlalu cepat dan menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum waktunya. Aku tidak boleh datang terlambat ke Panti Asuhan tempatku dulu tinggal. Rutinitasku selama ini, saat musim semi tiba aku akan berkunjung ke sana, melihat anak-anak panti juga bertemu dengan biarawati yang selama ini begitu sabar dan setia merawatku. Ya, sebelum bertemu dengan mereka—Orang tua yang kini mengangkatku sebagai anak—aku adalah anak yatim piatu yang hidup dan besar  dengan cinta kasih di Panti Asuhan.

 

Saat berada di panti dulu, yang kutahu adalah tertawa gembira, bernyanyi dan duduk di dekat perapian dengan berbagi selimut tebal dengan anak-anak lainnya saat para biarawati itu mulai membacakan kisah dongeng, ataupun mitos yang saat itu… untuk usia anak-anak—tentu saja aku percaya.

 

Ada sebuah kuil di dekat Panti kami, di belakang kuil itu terdapat sebuah taman yang ditumbuhi bunga-bunga cantik, kata suster Kim—salah satu biarawati di panti asuhanku dulu—Suatu malam sebelum musim semi tiba, seorang Dewi dari langit turun untuk menabur serbuk di taman itu, dan membuat semua bunga di taman itu bermekaran dalam sekejap mata. Anehnya, menurut cerita yang beredar di masyarakat, bunga-bunga cantik itu tidak akan layu sampai musim semi berakhir, dan mereka percaya, bahwa tidak ada yang merawat bunga-bunga itu, semuanya alami tanpa campur tangan manusia. Katanya, pusat dan awal musim semi yang indah berasal dari bunga-bunga yang bermekaran di taman itu.

 

Mitos lainnya adalah sumber air sebuah kolam yang juga terdapat di taman belakang kuil itu. Kolam dari batu marmer yang katanya sudah berada beratus-ratus tahun lamanya. Sumber mata air itu akan mengeluarkan airnya hanya saat musim semi tiba. Jika bunga-bunga cantik itu berasal dari sang Dewi, maka sumber air itu—menurut legenda— berasal dari seorang Dewa. Dewa yang turun bersama sang Dewi dari langit. Saat itu Sang Dewa ingin agar bunga-bunga yang di mekarkan oleh Dewinya bisa terawat, selalu indah dan mereka dapat melihatnya dari atas langit, maka sang Dewa menciptakan sumber air yang lama-kelamaan menjadi kolam kecil yang sangat bening dan jernih.

 

Legenda itu terus berkembang di masyarakat. Katanya, jika sepasang kekasih datang saat musim semi tiba dan  memetik bunga di taman tersebut lalu meminum air kolam bersama pasangannya, maka cinta mereka akan abadi dan mereka akan hidup berdua bersama. Kepercayaan itu cukup terkenal, dan… aku tidak tahu kebenarannya—tapi aku percaya. Suster Kim mengatakan bahwa itu adalah doa dari Dewa dan Dewi langit untuk sepasang kekasih yang saling mencintai, mereka yang tulus… mereka yang memiliki perasaan murni…

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kupikir Legenda itu menarik, jadi, dulu.. setelah sang Biarawati selesai dengan dongeng tentang Dewa Dewi itu, karena penasaran—aku bertanya diam-diam pada suster Kim dan menulis semuanya di buku kecil berwarna merah muda yang selalu kubawa kemanapun aku pergi.

 

Ya, buku harian itu telah menjadi sahabatku sejak dulu. Aku, Park Ni-Young. Gadis biasa yang terbiasa hidup di lingkungan panti asuhan dan tertawa bersama dengan anak-anak yang memiliki nasib sama sepertiku. Aku memiliki satu kekurangan, aku tidak dapat mengingat dengan baik. Bukan masalah serius, dapat diobati jika memang aku bersedia, tapi aku sadar, dalam panti itu bukan hanya aku yang harus dibiayai, jadi aku menundanya dan akan mengobatinya jika aku sudah memiliki penghasilan sendiri.

 

Lama aku tinggal di tempat itu, perlahan aku tersadar bahwa aku membutuhkan kasih sayang orang tua.. melihat satu persatu teman-temanku diadopsi membuatku berkecil hati dan mulai berpikir… betapa malangnya aku ini.. betapa menyedihkannya aku ini… gadis dengan kekurangan yang kumiliki, apakah aku akan terus hidup di panti tanpa mengenal cinta  dari sebuah keluarga?

 

Sejak malam itu aku selalu berdoa di kuil, berdoa agar besok.. besoknya lagi… atau kapanpun itu, secepatnya, sosok yang akan ku panggil “Ayah” dan “Ibu” itu akan datang dan membawaku pergi.

 

Sepertinya Tuhan belum menjawab doaku dan masih menguji kesabaranku. Tapi aku percaya Tuhan tidak pernah tidur. Saat aku letih dan lelah dengan semuanya, aku mulai menangis tersedu-sedu di belakang kuil, di taman yang penuh bunga-bunga cantik. Itu adalah musim semi pertama yang kulewati dengan tangis, biasanya aku selalu bahagia. Saat itu, aku ingat—aku menulisnya di buku harianku—ada seorang anak laki-laki yang menghapus air mataku, ia memberi saputangannya dan seikat bunga putih kecil-kecil padaku, lalu dia mengajakku bermain di tepi kolam dan meminum dari kolam tersebut.

 

Aku tidak merasakan apa-apa, aku dan anak itu tidak berkenalan, kami hanya bermain bersama dan aku melupakan kesedihanku. Dia membawa kamera saat itu, kami melihat beberapa foto pemandangan indah di sana. Setiap hari aku bermain dengannya, katanya ayahnya sedang ada urusan kantor beberapa hari di daerah dekat sana. Kami bahagia dan semuanya begitu menyenangkan, untuk sekejap aku melupakan tentang kesedihanku tidak mendapatkan kedua orang tua dengan segera.

 

“Bunga yang cantik. Kau tahu bunga apa namanya?” dia memetik bunga dan memberikannya padaku. Tapi dia tidak tahu namanya. Membuatku gemas dan tertawa kecil.

 

“Baby’s Breath.”

 

“Benarkah? Bunga yang bagus.” Lalu dia menjejalkan bunga itu di tanganku. Saat itu kami sedang berputar-putar di sekitar taman.

 

“Tentu. Di sini banyak sekali bunga-bunga cantik. Semuanya tumbuh alami. Tidak ada yang menanam… tidak ada yang merawat….”

 

“Dongeng Dewa Dewi itu ya?” tanyanya tanpa berpikir, ia terus melangkah pelan mengitari taman, aku mengekor.

 

“Kau tahu cerita itu?”

 

“Ya, Ibuku bercerita padaku bahwa ada taman di belakang kuil yang ditumbuhi bunga yang katanya berasal dari tangan seorang Dewi… aku penasaran dan datang ketaman ini, lalu bertemu denganmu.” Dia berhenti sejenak, “Dan kolam di sana itu..” dia mengangkat kepala dan menatap kolam yang mengeluarkan airnya yang jernih, lalu menatapku.

 

“Itu ciptaan sang Dewa, kan?”

 

“Ya.. kau tahu.. ceritanya, kan?” tanyaku gugup. Membuang muka dari sorotan matanya yang entah sejak kapan mengunciku. “Tadi… kita minum di sana..”

 

“Tidak apa-apa.” Ucapnya acuh. Aku malu. Wajahku memerah dengan sendirinya. Aku berpikir dan tertunduk lesu. Ya, mungkin dia tidak berharap mitos itu berlaku pada kami.. maksudku aku dan dia.. tentu saja, dia dengan segala kesempurnaannya tidak mungkin mau denganku dengan segala kekurangan yang kumiliki.

 

“Aku berharap mitos itu benar.”

 

Ucapnya kemudian dan berlalu. Aku tertinggal di belakang dengan berdiri mematung menatapnya yang menjauh dan melambaikan tangan sembari tersenyum padaku. 

 

Itu sudah sangat lama, bertahun-tahun lalu. Dari beberapa hari yang kami lalui bersama, beberapa kenangan manis yang kami buat berdua, hanya sebatas itu yang aku ingat. Setelah itu semuanya kelabu. Aku harus membaca lagi untuk mengingatnya. Hal terakhir yang kutulis tentangnya di buku merah muda itu hanyalah janjinya padaku.

 

Suatu hari dia datang menemuiku. Tapi tidak lama. Dia hanya datang untuk pamit. Dia harus kembali ke Seoul karena urusan Ayahnya sudah selesai. Aku sedih saat itu. Aku tidak rela saat itu. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk tanpa berkata apapun. Dia bilang dia akan datang lagi. Musim semi tahun depan… atau.. kapan saja saat ia punya waktu. Dan aku yang saat itu adalah gadis polos yang baru pertama kalinya tertarik pada seseorang dengan lugunya percaya.

 

Aku selalu menunggunya.

 

Musim semi berikutnya… aku duduk menunggu dan terus menatap jalan setapak yang berpayungkan Cherry Blossom merah muda.. tapi dia tidak datang. Musim semi selanjutnya, aku menunggu.. tetap sama. Begitu seterusnya.

 

Bahkan doa yang kupanjatkan saat berdoa di kuil telah berubah. Aku tidak lagi ingin orang tua. Aku ingin dia.

 

Tuhan berkata lain. Suatu hari sepasang suami istri datang dan membawaku pergi. Membuatku merasakan hangat cinta kasih keluarga. Merasakan dan mengecap bagaimana posisi menjadi seorang anak, merasa dicintai seutuhnya..

 

Akhirnya kami pindah dan menetap di Seoul. Tapi aku berjanji untuk datang ke Panti jika sempat. Tidak butuh waktu lama jika aku ingin mengunjungi Panti Asuhan itu, hanya dua jam, bisa satu jam empat puluh lima menit jika naik Subway.

 

***

 

Aku mulai tersadar dan lebih bersyukur saat dalam hari-hariku terdapat orang-orang yang ku panggil dengan ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

 

Hidupku bahagia bersama mereka. Sosok Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku. Mereka tidak bisa memiliki anak karena Ayah mempunyai satu penyakit. Kami hidup sederhana tapi penuh cinta kasih, Ayah bekerja di sebuah perusahaan Otomotif dan Ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah pemilik perusahaan tempat Ayah bekerja, suatu keuntungan karena Ayah adalah orang kepercayaan pemilik perusahaan itu. Sedangkan aku memanfaatkan baik-baik beasiswa kedokteran yang kugapai dengan susah payah. Sesekali aku membantu Ibu bekerja di rumah Tuannya yang luar biasa besar itu.

 

Bicara tentang rumah majikan Ibu itu, ada seseorang yang menarik perhatianku. Orang yang selama ini berhasil membuatku salah tingkah dan membuat jantungku bekerja dengan amat sangat tidak benar saat berada di dekatnya. Putra semata wayang keluarga Cho.

 

Namanya Cho Kyu-Hyun.

 

Dingin. Keras Kepala. Tidak banyak Bicara. Cerdas. Disukai banyak gadis. Itulah sederet hal yang aku tahu ada pada laki-laki itu, dan.. tampan.. ya, harus kuakui dia sangat tampan. Bahkan wajahnya sehabis bangun tidur saja membuatku terpesona.

 

Cho Kyu-Hyun memang menawan. Pesonanya terlalu menyilaukan.

 

Aku mengenalnya dua tahun lalu, bukan—tidak bisa dikatakan mengenal karena kami tidak berkenalan, aku tahu dia saat aku sedang membantu Ibu bekerja di rumah keluarga Cho untuk membereskan rumah, saat itu sedang masak besar-besaran, katanya ada perayaan. Kepulangan Cho Kyu-Hyun dari Paris, dia memutuskan untuk pulang ke Seoul dan melanjutkan kuliah Bisnisnya di sini, di Universitas Sejong, di Universitas yang sama denganku. Kami berada di area yang sama hampir setiap hari, entah di kampus, maupun di rumahnya. Tapi aku harus sadar… siapa dia, dan siapa aku ini. Jika dia matahari,  maka aku… apa? Entahlah. Tidak ada yang cocok untuk menggambarkanku yang terlalu mendambakan sang matahari, dia terlalu jauh dan terlalu bersinar, tidak akan terjangkau olehku yang menyedihkan ini.

 

Mengagumi sosoknya dalam diam bukanlah hal mudah. Percaya padaku.

 

Di kampus aku harus melihatnya di kelilingi gadis cantik, kaya raya dan pintar. Entah itu pintar dalam akademik ataupun merayunya. Aku tidak tahu. Cho Kyu-Hyun menanggapinya dengan wajah tenang tanpa senyum. Laki-laki itu datang ke kampus, mengikuti pelajaran dan pulang. Begitu setiap hari. Jika aku berada di rumahnya, dia hanya keluar saat Ibunya memanggil untuk makan, lalu memberi makan ikan di kolam belakang rumah sebentar dan masuk lagi ke dalam kamarnya.

 

Dia tidak pernah menoleh padaku jika bicara, tidak pernah mau melihatku jika kami tidak sengaja bertemu, dimanapun itu. Apakah aku terlalu rendah di matanya? Baiklah, aku minta maaf. Aku tahu aku sangatlah tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Perasaanku padanya tumbuh semakin banyak setiap hari tanpa bisa kuhentikan. Aku juga tidak ingin merasakan sakit. Jadi.. yang dapat kulakukan hanyalah berdiam diri dan jatuh cinta padanya lagi dan lagi tanpa seorangpun yang menyadari.

 

***

 

Hari ini tidak ada Jadwal kuliah dan aku akan mengunjungi Panti di hari pertama musim semi. Aku bahagia. Sangat bahagia. Aku duduk mengayunkan kaki di bangku halte, menunggu Bus datang dan akan membawaku pergi. Setidaknya naik bus lebih murah walaupun memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan Subway. Tapi aku sedang berhemat.

 

Secara tidak sadar aku memperhatikan jalanan dan meneguk susu strawberry dari kotaknya melalui sedotan. Kemudian aku berhenti minum, dan kepalaku bergerak perlahan mengikuti sebuah mobil yang melaju pelan, aku melihatnya lewat. Cho Kyu-Hyun melintas tepat di depanku. Tampan, wajahnya terlihat dari kaca mobil yang terbuka. Dan rambutnya diterbangkan angin. Aku tersenyum dan membuka buku harian yang selalu kubawa.

 

“Suatu keberuntungan di pagi musim semi yang indah. Matahari bersinar hangat tepat di hadapanku. Dia tampan, dan aku jatuh cinta padanya entah untuk yang keberapa kalinya…”

 

Aku tiba-tiba tersadar saat cahaya matahari yang tadinya menyinari buku itu tertutup bayangan. Aku mengangkat kepala dan menemukan Cho Kyu-Hyun berdiri tepat di depanku.

 

“Dimana Bibi Park?” tanyanya tenang. Ya Tuhan, suaranya begitu lembut.

 

“Di Rumah.” Jawabku singkat, aku terlalu gugup.

 

“Beliau sibuk?”

 

“Ya?”

 

“Apa Ibumu sedang sibuk?”

 

“Entahlah. Mungkin tidak.. tadi hanya sedang…”

 

“Kau sibuk?”

 

“Ya? Aku? Ya.. Aku akan..”

 

“Bisa temani aku sebentar?”

 

Cho Kyu-Hyun, apa yang kau lakukan? Cepat pergi atau aku akan masuk Rumah Sakit setelah ini. Oh, Tuhan… Jantungku, kau baik-baik saja?

 

“Ya.. bisa.. hanya sebentar, kan? Kemana?”

 

“Belanja. Lalu kau memasak untukku. Aku bangun pagi ini dan tidak ada seorangpun di Rumah, tidak ada makanan dan teleponku juga tidak di angkat. Aku tidak suka makan di luar dan aku ingin mencari Ibumu, tapi karena aku melihatmu.. jadi, ya, kau saja. Tidak apa-apa, kan?”

 

Pertama kalinya Cho Kyu-Hyun bicara panjang lebar padaku. Aku sempat tercengang menatap wajahnya yang begitu berseri-seri—atau tidak, wajahnya biasa saja tapi aku yang menggambarkannya berlebihan, sebenarnya aku yang berseri-seri. Dengan setengah sadar aku perlahan mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.

 

Aku duduk dengan tenang di kursi depan, sedangkan Cho Kyu-Hyun berada di balik kemudi. Aku menarik napas beberapa kali. Aku bermimpi? Jika iya, tolong jangan biarkan aku bangun.

Mobilnya berputar dan menuju ke tempat belanja khusus bahan makanan, aku menikmati perjalanan singkat itu dan menatap jalan raya melalui jendela. Lalu mobil berhenti.

Tunggu dulu, dia memintaku belanja? Memasak? Matilah aku.

 

***

 

“Maaf… kupikir sebaiknya tadi kau bertemu Ibuku saja.  Cho Kyu-Hyun, maksudku.. tuan, berhentilah makan, wajahmu memerah..”

 

Bulir keringat mengalir tenang di wajahku. Setelah berbelanja dan memaksakan diri memasak sebisaku, kini aku duduk tegang di ruang makan keluarga Cho. Di depanku, Cho Kyu-Hyun, laki-laki tampan itu duduk dengan bulir keringat yang sama denganku, wajahnya memerah tapi dia terlihat lapar, dan dia tetap makan masakanku. Aku berani bertaruh, makanan itu sama sekali tidak enak, rasanya buruk sekali. Aku baru saja akan membuangnya saat ia datang ke dapur dan langsung mengambilnya.

 

“Tuan. Maafkan aku. Harusnya aku tidak memasak…”

 

Aku berhenti saat dia mengangkat kepala dan menatapku.

 

“Aku tidak tahu memasak.. dan..”

 

Aku menunduk dalam-dalam seraya memainkan ujung bajuku. Lama, dalam keheningan yang menyusul, aku mendongkak saat mendengar suara decitan akibat kursi yang digeser. Cho Kyu-Hyun pergi dan masuk kedalam kamarnya. Aku membersihkan meja dan mencuci piring sambil terus berpikir apa yang harus kulakukan setelah ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu lalu Ibu dipecat? Ibu kehilangan pekerjaannya karenaku… Bagaimana kalau.. Cho Kyu-Hyun marah? Tuan dan Nyonya Cho marah? Ayah dan Ibu bagaimana? Apa yang kulakukan? Aku hanya menyusahkan saja.

 

Aku menunggu lama, aku membersihkan rumah keluarga Cho dan memberi makan ikan di kolam. Lalu aku berdiri di depan kamarnya. Sepi. Tidak terdengar apapun. Apa yang terjadi di dalam? Tanganku dingin saat ingin meraih gagang pintu. Lancang sekali. Tapi aku khawatir.

 

Tidak jadi. Aku membatalkan niat untuk membuka pintu dan memilih berjongkok di depan pintunya dan menunggu dia keluar. Hari sudah sore dan aku..tidak jadi datang ke panti asuhan.. Walaupun sudah sangat lama, diam-diam dalam hati aku selalu berdoa dan tetap berharap. Hari ini aku tidak pergi. Aku tidak jadi pergi ke Panti asuhan yang berarti aku tidak datang ke taman.. lalu bagaimana jika anak laki-laki itu datang?

 

***

 

Dan aku menunggumu. Masih menunggumu dan akan tersenyum padamu.

Aku duduk dengan wajah merona bahkan hanya karena mendengar suaramu dalam otakku. Lalu aku berbalik pada jalanan setapak itu…

Kenapa belum datang juga?

Hey, kau, si pemilik tawa menyenangkan…. seseorang yang kurindukan,

Kau… akan datang, kan?

 

***

 

Aku mengatur kumpulan tangkai demi tangkai bunga Daisy di vas kaca dengan kaku. Aku berdiri sendiri di ruang keluarga kediaman keluarga Cho. Kepalaku masih terus memikirkan Cho Kyu-Hyun. Tadi saat di kampus aku tidak melihatnya. Gedung fakultas kami bersebelahan jadi memiliki beberapa fasilitas seperti gerbang, kantin dan tempat parkir yang sama. Tadi aku juga tidak melihat mobilnya. Aku semakin yakin bahwa laki-laki itu tidak masuk kampus karena gadis-gadis terlihat tenang saat aku duduk di kantin pada jam istirahat. Karena jika Cho Kyu-Hyun ada, pasti, tentu, mereka akan mengoceh ria mengumbar tawa dan pesona genit yang sangat berlebihan.

 

“Ada apa? Terjadi sesuatu?”

 

Aku menoleh cepat saat mendengar suara seseorang, dan aku menemukan Ibuku berdiri dan memegang kepalaku.

 

“Youngie.. kau sakit? Sejak tadi pagi kau terlihat aneh..”

 

“Tidak… aku tidak sakit. Aku baik-baik saja.” aku berhenti sejenak dan berpikir, sedangkan Ibu mulai membantuku mengatur bunga-bunga segar di vas kaca.

 

Ternyata kemarin pagi Tuan dan Nyonya Cho berangkat ke Nowon karena Kakek Cho Kyu-Hyun mengeluh sakit. Ibu Kyu-Hyun berusaha membangunkan laki-laki itu tapi dia tidak merespon, jadi dia ditinggalkan, tapi syukurlah kakeknya tidak apa-apa dan Nyonya serta Tuan Cho kembali ke Seoul malam harinya. Sedangkan aku pulang ke rumah setelah mereka datang. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, Cho Kyu-Hyun… dia baik-baik saja?

 

“Youngie.. pergi antarkan makanan ke kamar tuan muda. Dia sedang sakit.”

 

“Sakit?”

 

“Nyonya  Cho bilang tuan muda tidak enak badan sejak beliau datang semalam. Kau ada di sini, kan? Terjadi sesuatu?”

 

Aku berpikir cepat.. bagaimana ini? Kesalahanku. Ini salahku! Bagaimana jika Ibu dipecat? Tidak boleh!

 

“Eomma.. aku..”

 

“Youngie…”

 

Aku dan Ibu menoleh saat Nyonya Cho datang dan tersenyum pada kami. Dia memandang Ibu sebentar lalu beralih padaku dengan wajahnya yang cantik walau telah berumur.

 

“Bisa tinggal di rumah sebentar? Aku akan mengajak Ibumu pergi berbelanja beberapa keperluan. Kami tidak akan lama.” Aku mengangguk pelan. “Juga.. tolong jaga Kyu-Hyun, dia sedang sakit.”

 

Aku menelan ludah dengan kasar saat itu. Tanpa menunggu jawabanku yang tidak terlalu penting, Nyonya Cho dan Ibu mulai beranjak meninggalkanku. Cho Kyu-Hyun sakit… Cho Kyu-Hyun sakit..

 

“Youngie..” aku berbalik dan melompat kaget saat mendengar suara Nyonya Cho lagi, “Pastikan dia makan buburnya, jangan sampai tidak, Oke? Kuserahkan anak itu padamu.”

 

***

 

Dengan susah payah aku membuka pintu kamar Cho Kyu-Hyun dan berdiri di depannya yang sedang terkulai lemas dan menutup mata di atas tempat tidur. Dia sedang beristirahat. Aku mendekat dan dengan sangat hati-hati meletakkan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas susu di meja kecil di dekat tempat tidurnya, lalu menatapnya.  Ya Tuhan.. ada apa dengan wajahnya itu? Wajahnya putih.. bukan putih seperti biasa, kali ini pucat, putih seputih bantalnya.

 

Aku seperti ingin menangis. Jika kuliahku selesai, aku akan menjadi Dokter. Dan.. Dokter seperti apa yang membuat orang lain tidak berdaya seperti ini?

 

Aku hanya bisa berdiam diri mengamatinya, tidak mau mengganggunya. Cho Kyu-Hyun terlihat tenang, walau wajahnya pucat dan bibirnya kering terkelupas, napasnya putus-putus dan cepat. Aku mengulurkan dan meletakkan punggung tanganku di dahinya. Panas. Panas sekali. Aku menarik cepat tanganku saat dia mengerjap pelan.

 

“Maaf, tuan, aku.. mengganggumu. Ini.. nyonya menyuruhku, kau.. itu.. makan dulu,”

 

Perlahan dia bangkit, aku membantunya agar bisa bersandar pada kepala ranjang, dia mengerjap sayu menatap bubur itu. Tidak selera. Tidak juga bicara. Aku bingung.

 

“Tuan muda… nyonya menyuruhku membawa makanan, kau harus makan.” Aku mengatakannya lagi. Memperjelas maksudku datang kekamarnya.

 

“Aku punya nama.” sahutnya dingin.

 

“Ya, maaf tuan, maksudku.. Cho Kyu-Hyun, makan dulu.”

 

Dia membuang muka. Aku duduk di samping ranjangnya. Suasananya aneh sekali. Dan mencekam bagiku. Aku takut dia marah atau mengusirku setelah ini. Tapi dia hanya diam dan tidak berkata apapun, sesekali dia membasahi bibirnya yang kering. Lalu menutup mata.

 

Aku masih diam dan duduk tanpa bergerak, yang kulakukan hanya menunggunya. Aku tidak akan keluar sampai makanannya habis. Bubur itu masih utuh, belum disentuh sama sekali. Aku juga bingung dan tidak berani bertindak lebih, jadi.. ya aku diam saja sembari menatapnya yang menutup mata. Dia masih bernapas. Syukurlah.

 

“Apa yang kaulakukan?”

 

“Duduk. Menunggumu makan,”

 

Cho Kyu-Hyun membuka matanya dan menatapku yang kini lebih memilih menunduk.

 

“Kau.. calon Dokter, kan? Tahu cara agar aku bisa cepat sembuh? Seperti ini.. rasanya buruk sekali,” Dia berujar lemah dan memperbaiki letak selimutnya. Aku mendongkak dan menatapnya. Miris sekali. Napasnya terdengar berat. Aku benar-benar merasa bersalah.

 

“Maafkan aku… Cho Kyu-Hyun.. aku tidak bermaksud… Aku sudah bilang agar kau tidak makan hasil masakanku, tapi kau tetap saja makan..”

 

“Kau sedang menyalahkanku?”

 

“Bukan.. bukan. Mana bisa ini salahmu? Ini salahku. Aku minta maaf. Maafkan aku..” Tanganku bergetar. Aku panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Maaf tidaklah cukup kurasa. Aku berjanji setelah ini tidak akan bertindak ceroboh lagi.

 

“Kau tahu cara agar aku bisa cepat sembuh?”

 

“Ya?”

 

“Aku sudah bertanya berapa kali nona Park, aku capek bicara terus. Bagaimana aku bisa cepat sembuh?”

 

Aku berpikir cepat. Cho Kyu-Hyun masih mempertahankan wajah dingin tanpa senyumnya itu walau ia terlihat lemas. Suaranya penuh intimidasi dan seakan menekanku. Baiklah, aku baru saja membangunkan singa yang sedang tertidur. Singa tampan menurutku.

 

Aku menatapnya dan mengusahakan sedikit senyum untuk mengusir rasa takutku. “Makan. Minum obatmu dan istirahat yang cukup,” aku masih menunggu respon darinya, dia membuang napas lalu menatapku.

 

“Baiklah, ambil bubur itu. Dan suapi aku.”

 

***

 

Hari sudah gelap dan aku pulang kerumah. Ayah sudah pulang dan sedang beristirahat. Ibu masih berada di rumah keluarga Cho dan memintaku pulang lebih dulu. Tentu saja dengan senang hati aku menurut, diam berlama-lama di dekat Cho Kyu-Hyun sangat membahayakan nyawaku.

 

Aku duduk di meja belajar dan membaca beberapa buku tebal berisi gambar-gambar organ manusia. Setelah selesai dengan benda itu aku mengambil buku harian dan mulai mencoret-coret.

 

“Pertama kalinya aku berada sedekat itu dengannya. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat 

membentur kulit tanganku saat aku menyuapkan bubur padanya. Suapan pertama dia terlihat ragu, lalu membuang napas lega begitu merasakan bubur itu. Sepertinya dia bersyukur karena tahu bukan aku yang memasak. Ya, duniapun tahu tidak akan seenak itu jika aku yang membuatnya.

 

            “Aku benar-benar menyukainya. Matanya, rahangnya yang tegas, hidungnya, semuanya. Begitu apik terbalut wajah dingin tanpa ekspresi yang selalu ia tunjukkan. Dia yang datar seperti itu saja mampu membuatku berdebar. Bagaimana saat dia tersenyum atau tertawa? Aku tidak sanggup membayangkan. Juga tidak bisa membayangkan. Ya, karena aku belum pernah melihatnya tersenyum, apalagi tertawa padaku.

 

            “Aku segera melarikan diri begitu dia selesai makan dan beristirahat. Kupikir cukup untuk hari ini. Aku harus berhati-hati jika tidak ingin jatuh terlalu dalam pada pesona laki-laki itu. Entahlah, rasanya aku sudah terlambat. Aku memang telah jatuh terlalu dalam, semakin dalam setiap harinya. Sekarang… Aku tidak bisa keluar.. dan sepertinya, aku tidak ingin keluar.”

           

***

 

Bumi terus berputar. Sudah beberapa hari berganti bersama kebahagiaan musim semi. Aku sedang duduk di ruang praktek yang mulai sepi, kami baru saja selesai mengamati dan memporak-porandakan tubuh katak yang tidak berdosa. Aku sama sekali tidak menikmati praktek itu. Sewaktu kecil kupikir menjadi dokter hanyalah sebatas membantu, mengobati dan menyembuhkan orang sakit, tidak pernah terpikir olehku kalau saja proses pembelajarannya harus seperti ini.

 

Aku beranjak dari tempatku dan pergi mencuci botol-botol kimia bersama Kim Ji-Soo, seorang gadis yang selalu berada sekelas denganku sejak semester pertama di Universitas Sejong, gadis manis yang cerewet. Sahabat baikku.

 

“Hey, lihat! Kyu-Hyun sunbae…” bisiknya menyenggol sikuku. Aku mendongkak dan mengikuti arah sorot mata Ji Soo. Cho Kyu-Hyun memang sangat terkenal di kampus, dia pintar, kaya, tampan, dan sempurna. Menurutku. Selama ini aku tidak menemukan celah kecil untuk mengurangi kadar pesona laki-laki itu. Cho Kyu-Hyun  berjalan pelan tidak jauh dari tempatku berada. Dadaku berdebar halus melihatnya yang sama sekali tidak menatapku. Sudah hampir seminggu ini aku jarang muncul di kediaman keluarga Cho, selain tugasku yang banyak, aku jadi enggan dan berat hati datang kesana, perasaan bersalah masih saja menghantuiku. Aku bukan menghindar, tapi aku tidak ingin membuat kekacauan yang lebih parah.

 

“Dia mulai melamun,” Aku tersentak kecil saat Ji Soo mengambil botol-botol dari tanganku dan mulai mencucinya. Mungkin dia capek menungguku yang hanya terdiam dan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, aku mengikuti Ji Soo dan membantunya mencuci.

 

Setelah itu aku masuk kedalam ruang praktek, dari dalam kaca besar di ruangan itu aku dapat melihat Cho Kyu-Hyun yang kini duduk tenang di salah satu bangku panjang di bawah pohon Chery Blossom. Dia yang tampan itu.. sinar matahari yang hangat, dan warna lembut kelopak bunga-bunga cherry blossom adalah perpaduan yang indah. Mampu membuatku melengkungkan senyum tanpa kusadari.

 

“Dia mulai tidak waras.” Ji Soo berkomentar dan ikut berdiri menikmati pemandangan terindah hari ini, Cho Kyu-Hyun dan pesonanya.

 

“Kau sudah dengar beritanya?” katanya sembari meneguk air mineral. Kami sudah selesai dan setelah ini tidak ada jam lagi. Aku hanya tinggal membuat laporan praktek tadi di rumah nanti malam.

 

“Berita apa?” tanyaku datar.

 

“Kyu-Hyun sunbae, berpacaran dengan Bae Hyo-Jin.”

 

            Kyu-Hyun sunbae, berpacaran dengan…

 

            “Siapa?” aku menoleh cepat. Aku terkejut dan hanya mendengar bahwa Cho Kyu-Hyun berpacaran, dengan siapa?

 

“BAE-HYO-JIN.” Kata Ji Soo dengan penekanan yang benar-benar terdengar menyebalkan. “Kau tidak tahu lagi siapa orang itu? Baiklah, Park Ni-Young, apa yang kaulakukan selama berada di kampus?”

 

Aku tidak mendengar dan tidak ingin mendengar. Aku tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Takut nantinya akan melukai diriku sendiri. Gadis seperti apa yang sedang berhubungan dengan Cho kyu-Hyun? Pastilah cantik, semampai, cerdas, kaya raya, ya.. gadis itu pastilah sempurna seperti Cho Kyu-Hyun. Bukan sepertiku. Bukan sepertiku yang seperti ini. Aku sadar, sadar betul bahwa aku tidak akan pernah pantas bersamanya. Walaupun aku tahu itu, tapi tetap saja… kenapa rasanya sakit sekali?

 

“Itu dia orangnya.”

 

Aku mendongkak cepat. Aku sendiri tidak sadar sejak kapan aku menunduk lemah. Mungkin beberapa saat lalu, saat aku kecewa.

 

Ada seorang gadis. Cantik sekali. Sekarang dia sedang duduk di samping Cho Kyu-Hyun dan mereka berbincang-bincang ringan. Aku dapat melihat senyum Cho Kyu-Hyun, dan wajahnya terlihat lebih cerah.

 

“Itu dia, gadis itu, Bae Hyo-Jin. Gadis cantik dan pintar. Incaran para pria tampan dan kaya raya. Dia berada dijurusan yang sama dengan Kyu-Hyun sunbae. Ayahnya adalah pemilik sebagian perusahaan mobil dan Mall-mall besar di Seoul ini. Kudengar mereka menjalin hubungan sejak seminggu lalu.”

 

Aku mendengar Kim Ji Soo menjelaskan di sampingku. Aku mendengarnya tapi tidak mau menerimanya. Aku cukup tahu diri dan mencoba untuk biasa saja, tapi kenapa kakiku terasa berat? Aku ingin berbalik dan berjalan pergi, menyelamatkan diriku dari rasa sakit yang semakin menjadi. Cho Kyu-Hyun, dia sedang bahagia di depan sana dan aku memanggang hatiku di tempatku berdiri. Siapapun, selamatkan aku.

 

            “Kau tidak apa-apa?” Kim Ji-Soo menatapku cemas, dia bicara tapi aku tidak menanggapi. Apa yang harus kukatakan saat keadaan hatiku hancur?

 

“Kenapa kau jadi pucat begini?” tanyanya sembari menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Kim Ji-Soo, sahabat tercintaku ini tidak pernah tahu bahwa aku mencintai Cho Kyu-Hyun dengan sepenuh, setulus hatiku. Selama ini aku berhasil menutupi perasaanku padanya, dan ia berpikir bahwa aku sama sepertinya dan gadis-gadis lain yang tentu saja tidak akan bisa menolak pesona laki-laki itu. Memang benar, aku tidak bisa menolak pesonanya, aku juga tidak bisa menolak perasaanku yang setiap hari semakin mencintainya.

 

Kim Ji-Soo, kau tahu? Aku baru saja hancur, aku terluka. Kapan aku melihat Cho Kyu-Hyun tersenyum seperti saat ini? Rasanya tidak pernah. Dia tidak pernah tersenyum padaku.

 

“Aku haus.” Ucapku sekenanya, aku meraih botol air mineralnya dan meneguknya sampai habis. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering.

 

“Hey, pelan-pelan.” Kata Ji-Soo, aku mengangguk dan tersenyum, berusaha terlihat biasa saja di depannya. “Kau tidak pernah tahu tentang Kyu-Hyun sunbae? Bukankah kalian sering bertemu di rumahnya?” tanyanya.

 

“Tidak. Kami jarang bertemu. Aku di sana membantu Ibuku bekerja, bukan datang melihatnya.” Dustaku. Hari ini aku menambah dosaku yang sudah sangat banyak. Dosaku berharap pada laki-laki itu… Dosaku terlalu mencintainya dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku. Harusnya aku sudah siap jika hal ini terjadi.

 

“Oh.. begitu ya,” sahut Ji-Soo mengerti. Lalu ia memandang langit dari kaca jendela. “Sepertinya akan hujan.” Aku ikut mendongkak. Hujan? Langit memang mulai mendung. Awan tebal mulai menutupi sinar matahari. Bagus! Biasanya aku benci hujan saat musim semi. Kenapa? Tentu saja hujan dingin menggangu hangatnya musim semi dan memudarkan warna bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran. Tapi hari ini aku bersyukur hujan turun. Aku ingin pulang, aku ingin tidur dan beristirahat, memeluk bantal dan menangis sepuasku lebih tepatnya, sungguh, tidak ada hal lain yang ingin kulakukan selain itu. Rasanya aku tiba-tiba ingin menangis saja.

 

***

 

Ternyata aku tidak bisa pulang. Aku harus menahan keinginanku untuk menangis tersedu-sedu cukup lama. Tadi setelah meninggalkan ruangan praktek aku pergi kekantin bersama Kim Ji-Soo untuk makan Ramyun, lalu Ji-Soo pulang dan aku melangkah memasuki Perpustakaan umum ini. Aku lupa waktu, hari sudah gelap saat aku akan melangkah keluar, dan hujan turun dengan lebat. Kupikir dengan duduk mengerjakan laporan—sedikit demi sedikit dengan bahan materi yang lengkap di Perpustakaan—bisa membunuh waktu seraya menunggu hujan reda. Aku salah, hujan semakin deras lengkap dengan suara gemuruh menakutkan. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah tinggal di Perpustakaan dan berusaha fokus mengerjakan laporanku.

Walaupun aku tidak bisa benar-benar berpikir dengan baik dan tentu saja, konsentrasiku pecah.

 

Cho Kyu-Hyun, dengan siapa namanya tadi? Pokoknya gadis itu.. ya, yang katanya..

pacarnya. Aku sebal mengingatnya. Mereka terlihat tenang duduk tidak jauh dari tempatku berada. Sepertinya mereka juga mengerjakan sesuatu, banyak buku-buku tebal di atas meja mereka. Mengerjakan tugas? Berdua saja? Romantis sekali. Oh Ya, Ini perpustakaan umum, tentu saja. Siapapun bisa masuk. Dan aku merutuk diriku sendiri, kenapa harus aku datang kesini? Kenapa harus melihat mereka? Kenapa mereka tidak pulang saja?

 

Aku menulis. Berusaha fokus. Dua-Tiga kalimat… lalu perlahan mendongkak lagi. Melihatnya.. Melihat Cho Kyu-Hyun… Dia tersenyum.. tapi bukan padaku.. bukan untukku.. dia tersenyum pada orang lain.. gadis lain… dan aku kesakitan.

 

Aku tidak tahu sejak kapan rasanya dadaku sesak. Dulu, aku ingin sekali melihat Cho Kyu-Hyun tersenyum, tertawa, sekarang aku melihatnya, dan aku ingin menangis.. ingin sekali…

 

Aku menulis lagi, kali ini dengan tangan bergetar. Aku kedinginan dan linglung. Ada apa? Aku baik-baik saja. Ya, tidak terjadi apa-apa. Cho Kyu-Hyun mempunyai gadis lain.. Cho Kyu-Hyun mencintai gadis lain.. mereka tertawa sekarang… Bodoh sekali aku, kupikir mengerjakan laporan tentang organ-organ katak itu bisa selesai dengan mudah. Ternyata sulit sekali saat nama laki-laki itu terus berputar-putar di kepalaku. Aku baru tersadar saat itu aku sudah menangis. Ya, aku menangis dalam diamku. Menangis mengasihani diriku.

 

Aku tidak tahan lagi, aku merapikan buku-buku tebalku dan melepas kaca mata belajarku, menyimpanya ke dalam tas dan beranjak pergi. Tidak peduli di luar hujan, tidak peduli bunyi-bunyi gemuruh yang amat sangat kutakutkan. Aku tidak peduli apapun selain hatiku, daripada aku menyakiti diriku sendiri lagi dan lagi, lebih baik aku menghilang, melenyapkan diri untuk tidak melihat mereka.

 

Aku berlari-lari kecil, merasakan sakitnya air hujan yang sangat deras saat jatuh menyentuh langsung tubuhku. Aku sempat berhenti untuk berteduh di tempat parkir kampus, tempat itu gelap dan terlihat menakutkan, jadi aku memutuskan untuk pergi. Dan sekarang aku duduk gemetar di bangku halte yang letaknya cukup jauh dari kampus, aku bersyukur aku tidak pingsan tadi saat berjalan menuju halte ini. Kepalaku terasa berat dan rasanya dingin sekali. Hujan kenapa tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti?

 

Lima belas menit kemudian, aku duduk dengan sekujur tubuh bergetar dan bibirku yang membiru. Aku mengambil ponselku, mati. Ponsel itu mati entah sejak kapan. Ibuku pasti sudah sangat cemas. Biasanya dia bisa menghubungiku lima menit sekali jika selarut ini aku belum pulang dan tidak memberi kabar, bagaimana ini?

 

Aku baru saja akan beranjak pergi saat itu, hujan belum berhenti dan semakin deras. Aku bisa saja mati kedinginan di tempat ini jika terus menunggu. Bus juga tidak kunjung datang. Saat aku mendongkak, aku melihat mereka. Ya, Cho Kyu-Hyun dan gadisnya melintas di depanku. Mereka berada di mobil yang sama, di mobil Kyu-Hyun. Apa ini? Aku tidak boleh marah ataupun kecewa. Aku sama sekali tidak berhak. Jadi saat itu yang kulakukan adalah menatap mereka, entah mereka menatapku atau tidak. Jendela mobil itu tertutup rapat. Kemudian aku tersenyum bersama air mata.

 

***

Just How… How much more I do?

Have to stare that you alone,

Just come little nearer…

A little more…

If I take one step closer to you,

Then you take two steps back.

I who love you is here right now,

That girl was crying…

***

 

Aku berjalan lemah di bawah hujan yang semakin deras. Pandanganku kabur dan kepalaku pusing. Aku berpikir kalau saja aku tetap bertahan di halte itu aku tidak akan sampai di rumah sampai besok pagi. Tidak ada bus selarut ini. Hujan tidak kunjung berhenti. Juga aku terlalu sakit untuk berdiam diri, karena saat aku termangu dalam keheningan, Cho Kyu-Hyun dengan anggunnya akan datang dan datang lagi dalam otakku lalu membuatku menangis. Jadi kuputuskan untuk berjalan tenang di bawah hujan, walau tetap saja, aku terus menangis.

 

Dulu, saat Cho Kyu-Hyun masih bertahan dengan sikap dinginnya itu aku secara tidak langsung merasa tenang, menikmati waktuku berlama-lama melihatnya sepuasku, menatapnya walau dia tidak pernah sekalipun menatapku tanpa takut dirinya akan terlepas. Harusnya, aku sadar bahwa hari seperti ini akan datang dengan segera.

 

Hari ini, hari saat aku harus bangun dari tidur panjangku, hari saat aku harus menerima kenyataan dan berpikir dengan normal, hidup dengan kesederhanaan dan keterbatasan yang kumiliki, lalu melupakannya dan menjadi baik-baik saja saat dia benar-benar tidak bisa kumiliki dalam hidup. Belajar merelakannya bersama orang lain, tertawa bahagia dengan gadis lain yang setara dengannya, yang dicintainya.. bukan memaksakan cinta yang hanya dirasakan olehku, bukan olehnya.

 

Lalu, berusaha menikmati hidup tanpanya, melewati hari tanpa bayangannya. Kembali kesedia kala seperti sebelum aku mengenalnya. Melakukan semua itu? Butuh waktu lama  untuk aku bisa melakukannya. Bahkan mungkin seumur hidupku. Aku sadar, semua salahku yang tidak pernah bisa mencintai Cho Kyu-Hyun dalam kadar yang benar. Tidak pernah mencintainya sesuai dengan takaran yang ‘cukup’ untuk gadis sepertiku. Aku selalu mencintainya secara berlebihan. Aku tidak pernah mengukurnya, dan tidak pernah ingin mengukurnya. Seperti itu aku mencintainya, seperti itulah aku mencintainya selama ini. Tidak pernah normal. Tidak pernah benar.

 

Aku menangis dalam diam. Tidak bersuara tapi bibirku bergetar. Air mataku menyatu bersama hujan yang membasahi sekujur tubuhku yang menggigil. Rasanya dadaku sesak, rasanya banyak sekali udara yang berkeliaran dan menumpuk di dalam sana, rasanya sakit sekali. Lalu dalam kabut hitam derasnya hujan, aku berbisik dalam hati, mencoba bicara pada pemilik hidup, bertanya tentang perasaanku yang tidak bisa lagi kukendalikan. Walau dengan keadaanku yang seperti ini… aku, gadis sederhana dengan segala kekurangan yang kumiliki, bolehkah aku meminta satu permohonan? Bisakah aku meminta dirinya? Aku menginginkannya. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya.

 

Aku tidak lagi mengingat apapun setelah itu. Rasanya malam begitu kelabu. Aku membimbing tubuhku yang rapuh berjalan pelan menyebrangi jalan. Tidak terlalu ramai, sepanjang mataku memandang hanya kabut dan hujan yang jatuh bertubi-tubi sehingga membuatku sulit melihat keadaan sekitar. Aku terus berjalan sedangkan kepalaku terasa amat sakit karena terus diguyur hujan.

 

Saat aku merasa berdiri tepat di tengah jalan licin itu, aku mendengar bunyi klakson mobil yang terus-menerus, kencang sekali, membuat telingaku berdengung sakit. Aku menoleh, mengerjap pelan, aku masih bisa melihat berkas cahaya dari lampu depan sebuah mobil hitam yang melaju kearahku. Aku seperti orang yang tidak sadarkan diri, aku ingin lari dan berteriak sekencang mungkin saat aku tersadar mobil itu telah berada di depanku dengan kecepatan yang sama—tetap melaju kencang. Tapi aku tidak melakukan apa-apa, aku tetap berdiri di sana, tidak menghindar, tidak berteriak, apalagi pergi dari tempat itu. Terakhir kali yang bisa kuingat adalah tubuhku terasa melayang dan jatuh ketanah dengan keras sesaat setelah mobil itu menabrakku, saat itu.. rasa sesak di dadaku menghilang sesaat. Udara yang bergumul dan membuat dadaku penuh juga sakit menguap begitu saja. Rasanya aku tidak memijak bumi, rasanya tubuhku ringan sekali dan banyak udara segar keluar masuk di paru-paruku. Kemudian aku merasa hampa dan tidak melihat apapun lagi. Semuanya terasa begitu menyeramkan dan gelap mulai menghampiriku, gelap.. gelap sekali.

 

 

***

 

Yang kulihat pertama kali saat berusaha membuka kedua mataku adalah langit-langit putih. Dan aku tersadar bahwa aku sedang berada di ruang rawat sebuah Rumah Sakit. Aku menoleh pelan, di samping ranjangku Ibu duduk gelisah, sepertinya Ibu belum tahu kalau aku sudah sadarkan diri.

 

Sesaat kemudian Ibu menoleh cepat saat merasakan pergerakkan lemahku. “Youngie.. kau sudah sadar? Yang mana yang sakit? Butuh sesuatu?”

 

Aku menatap khawatir pada Ibu. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kenapa wajah Ibu terlihat pucat dan sayu? Ibu pasti kelelahan menjagaku.

 

“Eomma..” kataku pelan meraih tangannya. “Aku kenapa?”

 

“Kau kecelakaan sayang, kau tidak ingat? Malam itu kau tertabrak mobil. Lalu pemilik mobil itu membawamu ke Rumah Sakit.” Aku berpikir sejenak. Ya, benar. Aku kecelakaan.

 

“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyaku.

 

“Dua hari. Kau tertidur selama dua hari. Ada apa? Tubuhmu sakit?” tanya Ibu cemas. Aku tertidur dua hari dan Ibu tidak tidur selama itu karena menjagaku?

 

“Eomma.. aku tidak apa-apa. Sungguh. Tidak sakit,” dustaku. Biarlah aku berbohong, tidak apa-apa. Beliau sudah terlalu letih dan aku tidak ingin menyusahkannya lagi dengan membuatnya khawatir, padahal kepalaku yang di perban berdenyut sakit, tidak kalah sakitnya dengan pergelangan kaki kiriku yang sangat nyeri.

 

“Syukurlah. Eomma takut sekali terjadi sesuatu padamu..”

 

“Eomma.. aku minta maaf, seharusnya aku lebih berhati-hati..” sesalku menatap Ibu, rasanya aku hanya bisa merepotkannya saja.

 

“Tidak apa-apa sayang, yang penting kau selamat dan tidak ada luka serius.”

Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu menatap eomma, “Dimana Appa?”

 

“Appamu pulang ke rumah. Baru saja, sesaat sebelum kau sadarkan diri.” Aku hanya bisa mengangguk. Betapa besar kasih sayang kedua orangtuaku ini, aku hanyalah anak angkat dan mereka sangat menyayangiku layaknya anak sendiri.

 

Lalu Ibu beranjak dari tempatnya dan kembali dengan baskom air hangat. Membasuh tanganku dan wajahku. Membersihkan luka lecet disekujur tubuhku. Mataku panas, aku sedih melihat Ibuku yang seperti itu. Aku memeluknya, dia menangis, kami menangis.

 

“Sudah. Tidak apa-apa, jangan menangis.” Ucapnya menghapus air mataku. “Yang penting kau baik-baik saja,” Aku mengangguk. Ibu pergi sebentar dan menyimpan Baskom, lalu dia duduk di sampingku dan memotong apel.

 

“Orang yang menabrakmu adalah seorang paruh baya. Malam itu dia sedang terburu-buru. Dia tidak bisa menengokmu lebih lama, dia mengantarmu ke rumah sakit dan langsung pergi setelah Aku dan Ayahmu datang. Dia meminta maaf berulang kali, dan berjanji akan membiayai perawatanmu sampai kau benar-benar sembuh. Kelihatannya dia benar-benar sibuk…”

 

Aku hanya diam dan mengangguk pelan mendengar Ibu menjelaskan. Sedikit lega karena mereka tidak dibebankan biaya Rumah Sakit yang sudah pasti tidak murah.

 

“Tunggu sebentar. Aku akan menemui Dokter.” Ibu bangkit dari kursinya. “Dokter bilang  aku harus memberitahunya saat kau sadarkan diri.” Aku mengangguk memberi tanda bahwa aku tidak apa-apa ditinggal sendirian. Saat Ibu meraih gagang pintu dan pintu terbuka, terlihat Tuan dan Nyonya Cho berdiri di sana, sepertinya mereka baru saja ingin masuk. Tapi tidak jadi, mereka tidak jadi masuk dan Ibu yang keluar, sayup-sayup aku mendengar mereka berbincang-bincang di luar.

 

Pintu kamar rawatku berdecit pelan. Aku menoleh. Di sana berdiri Cho Kyu-Hyun.

Dia terlihat membawa satu keranjang besar buah-buah segar. Dia berjalan mendekat, menyimpan keranjang buah itu di atas meja dan menggeser sebuah kursi ke samping ranjangku lalu ia duduk di sana.

 

Aku menunduk. Bingung harus berkata apa. Tidak berani menatapnya, tidak berani bicara padanya. Sesaat tadi—karena kepalaku di perban—diam-diam aku berharap bisa melupakan perasaanku pada Cho Kyu-Hyun, perasaanku padanya, itu saja—bukan dirinya. Dengan begitu kupikir aku akan baik-baik saja dan bisa memulai hidup dengan bahagia. Tapi ternyata tidak. Cho Kyu-Hyun dan kenangannya tercetak jelas diotakku, aku dan perasaanku padanya tidak semudah itu bisa terhapus.

 

Lama kami terdiam. Hening. Aku bisa melihatnya yang terus menatapku dari ekor mataku. Dia tetap memasang wajah dinginnya itu. Sama sekali tidak menggambarkan keprihatinan atau rasa iba dan kasihan. Benar-benar dingin—datar tanpa ekspresi berarti.

 

“Kaupikir apa yang kau lakukan?” suara lembut nan beratnya menggema. “Kau taruh dimana matamu saat itu?!”

 

Aku hanya bisa diam. Berkedip-pun rasanya sulit. Mataku perih. Kenapa dia memarahiku?

“Nona Park, kau mendengarku?!”

 

“Aku mendengarmu, tuan.” Aku dapat mendengar erangan frustasi darinya. Aku lupa bahwa dia tidak suka dipanggil dengan cara seperti itu, terlebih aku masih saja tidak menatapnya.

“Kenapa kau pulang malam itu?”

 

Kenapa aku pulang? Pertanyaan macam apa itu? Dia pikir hanya dia yang bisa pulang kerumah dan menghabiskan waktu bersama gadisnya? Aku juga ingin pulang.. Ya.. walau tujuan utamaku pulang malam itu adalah agar bisa menangis di dalam lindungan selimut tebal.

 

“Kenapa tidak menunggu halte saja?” tanyanya pelan, suaranya merendah.

 

Lalu kau ingin aku ditemukan mati membeku di halte esok harinya?

 

“Maaf… aku ingin istirahat.” Ucapku akhirnya. Dengan susah payah aku merebahkan diri dan berbalik memunggunginya. Aku menutup mata tapi tidak tidur. Aku tertidur dua hari dan kurasa itu lebih dari cukup.

 

Aku tidak mendengar apapun. Cho Kyu-Hyun belum pergi dan masih berada di tempatnya? Dia pikir apa yang dia lakukan? Cepatlah pergi atau kau akan mendengarku menangis. Menangis karenamu, menangis karena aku mencintaimu.

 

***

 

Satu minggu berada di Rumah Sakit tidaklah baik. Aku tidak suka tempat itu. Terlebih obat-obatan pahit yang harus kutelan setiap hari. Walaupun nanti aku harus bekerja di sana, yang aku inginkan adalah memeriksa orang sakit, bukan menjadi orang sakit.

 

Hari itu aku benar-benar tidak bicara dengan Cho Kyu-Hyun. Aku tidak tidur dan dia tidak pergi. Aku baru membiasakan diri saat Ibu dan Tuan serta Nyonya Cho datang, mereka menanyakan keadaanku, berbincang-bincang hangat dan berharap aku segera sembuh. Berbeda sekali dengan Cho Kyu-Hyun yang hanya diam dan terlihat tidak peduli. Mungkin dia datang karena paksaan Ayah dan Ibunya. Karena setelah itu dia tidak datang lagi.

 

Hari ini matahari bersinar sendu. Tidak hangat dan tidak dingin. Benda bulat milik langit itu terhalang awan-awan putih halus. Aku duduk sendiri di bangku taman belakang kampus. Setelah dirawat di rumah sakit aku sempat beristirahat di rumah selama beberapa hari lalu kembali beraktivitas seperti biasa.

 

Di sini sepi, tapi sangat teduh dan nyaman, terlebih di tempatku sekarang berada. Kursi kayu ini terhalang oleh pohon Cherry Blossom lebat, tidak akan ada orang yang bisa melihatku. Aku hanya duduk. Melihat keadaan sekitar dengan enggan, lalu teringat bahwa Ibu menyuruhku mengambil pesanan kue Nyonya Cho di toko dekat rumah sepulang kuliah. Masih ada waktu, aku masih ingin berlama-lama di tempat ini menikmati angin sore.

 

Aku menoleh pelan saat merasakan seseorang datang dan ikut duduk bersamaku. Cho Kyu-Hyun. Sekarang dia sedang duduk tenang di sampingku. Tanpa menoleh. Tanpa bersuara. Benar-benar dia.

 

Cho Kyu-Hyun yang setenang itu.. aku bahkan tidak pernah bermimpi bisa duduk bersamanya. Detak jantungku selalu berdebar saat di dekatnya. Aku rasa aku harus pergi sesegera mungkin sebelum dia mendengarnya.

 

“Eomma memintaku mengantarmu mengambil pesanan kue.” Ujarnya datar saat aku akan beranjak meninggalkannya. “Kau sudah tidak ada jam kuliah, kan?”

 

“Ya, sudah tidak ada.. tapi tidak apa-apa, aku bisa mengambilnya sendiri.” Tolakku halus dan sedikit membungkukkan badan. “Aku.. permisi..”

 

Aku berjalan cepat. Sangat cepat. Tidak ada yang melintas di otakku selain berpikir bahwa aku harus cepat-cepat pergi dan menghilang dari pandangan Cho Kyu-Hyun. Selama ini aku sudah berusaha tidak bertemu dengannya, aku sedang memulai langkah awal untuk memulihkan hatiku. Aku tidak boleh gagal walaupun aku juga tahu itu sangat sulit terjadi.

 

“Aku tidak ingin mendengar omelan Ibuku. Jadi ikut saja.”

 

Cho Kyu-Hyun berjalan tenang disampingku. Tanpa melihatku. Tanpa menoleh padaku. Dia tetaplah dia. Mempesona dengan caranya. Dengan wajahnya yang seperti itu, aku kalah. Cho Kyu-Hyun masih mengisi hariku hingga detik ini.

 

***

 

“Kenapa kesini?” aku menatap Cho Kyu-Hyun bingung. Kami sudah mengambil kue dan tidak langsung pulang.

 

“Turunlah.” Katanya pelan dan dia mulai turun dari mobil. Aku mengikutinya.

Kami berada di pantai. Saat aku keluar dari mobil angin sore yang sejuk langsung menyambutku dan menampar halus wajahku, menerbangkan helai demi helai rambutku. Aku menatap Cho Kyu-Hyun, dia berada di depanku, kini ia berdiri di bibir pantai menatap laut lepas. Langit sore keunguan bercampur merah muda dan oranye yang cantik. Aku berjalan mendekat, mengikuti langkah Kyu-Hyun yang tercetak di pasir putih, lalu berdiri di sampingnya, berdiri agak jauh dan membuat jarak di antara kami.

 

“Aku selalu datang ke tempat ini jika sedang kesal,” Katanya pelan. Aku tersenyum kecut.

 

“Kau kesal karena harus pergi bersamaku?” sepertinya dia menoleh, aku tetap menatap laut.

 

“Aku ingin minta maaf,” Aku menatapnya, ada apa dengan wajahnya itu? “Maaf karena membentakmu saat di Rumah Sakit.”

 

Tidak apa-apa Cho Kyu-Hyun, mungkin saat itu aku hanya terkejut karena sikapmu. “Tidak apa-apa..” sahutku tersenyum.

 

“Aku tidak tahu kalau aku membuatmu menangis.”

 

Kau mendengarnya? Kau mendengarku menangis? Maafkan aku Cho Kyu-Hyun, kau salah paham. Aku memang menangis, bukan karena kau membentakku, tapi karena… karena aku kecewa, aku terluka, aku terkejut karena tiba-tiba harus kehilanganmu, dan aku.. belum siap.

 

Saat itu aku tidak menjawab lagi. Aku takut menjawab dan tidak berani memberi jawaban yang akan melukai diriku sendiri nantinya. Jadi aku diam saja, menatap laut lepas, menatap matahari terbenam, bersamanya, bersama Cho Kyu-Hyun.

 

Saat matahari akan menghilang, aku memberanikan diri menatap Cho Kyu-Hyun. Wajah tampannya itu terpapar sinar oranye dari berkas cahaya langit. Tampan. Tampan sekali. Jika aku tidak bisa memilikinya, apa yang bisa kulakukan?

 

Perasaanku pada laki-laki itu seperti Sang matahari. Datang di pagi hari dan menyinari bumi—mempengaruhi hari. Jika ia redup maka dunia akan gelap, jika ia tidak ada, maka hujan akan datang, jika dia bersinar terang, maka aku bahagia. Begitu seterusnya. Seperti saat ini… saat ia terbenam.. bumi akan tidur. Dengan kata lain, aku hanya akan bisa melupakan perasaanku padanya saat aku menutup mata dan tidak sadarkan diri—saat aku tidur. Dan esoknya—saat aku membuka mataku—saat itu pula perasaanku akan terbit lagi bersama sang matahari, bersamanya, perasaanku terus seperti ini, setiap hari.

 

 

***

 

Aku masuk ke dalam kamar Cho Kyu-Hyun. Ini kedua kalinya aku memasuki ruang pribadi laki-laki itu. Setelah sebelumnya aku masuk ke dalam kamar ini beberapa waktu lalu saat ia sedang sakit. Aku tidak ada jadwal kuliah hari ini dan membantu Ibu bekerja di rumah keluarga Cho. Nyonya Cho meminta bantuanku untuk merapikan kamar laki-laki itu.

 

Kamarnya cukup rapi. Hanya tinggal tempat tidur yang belum dibereskan. Kata Nyonya Cho, laki-laki itu terlambat bangun dan cepat-cepat berangkat ke kampus.

 

Aku segera membereskan pekerjaanku dan ingin cepat-cepat membantu Ibu mengerjakan pekerjaan lain, pergerakkanku terhenti saat aku menyibak selimut tebalnya dan melihat sebuah buku berukuran kecil dengan sampul berwarna hitam yang tergeletak dengan posisi terbuka.

 

Tulisan tangan Cho Kyu-Hyun.

 

“Aku memiliki satu kesempatan. Aku pergi kepantai bersamanya. Tapi aku tidak mengatakan apapun. Apa yang ingin kukatakan tidak bisa kusampaikan padanya. Kami hanya diam sembari melihat matahari terbenam.”

 

Mataku membulat seketika. Ke pantai?

 

Aku tidak meneruskan. Aku takut dan tidak berani. Dengan perasaan yang tidak jelas aku meletakkan buku itu di atas meja dan kembali membereskan tempat tidurnya. Setelah selesai, aku beniat meninggalkan kamarnya, saat melintas di depan meja itu aku kembali melirik buku milik Cho Kyu-Hyun, aku penasaran dan aku ingin tahu.

 

Aku meraih buku itu, mengangkatnya pelan. Sesuatu terjatuh. Sebuah foto. Dadaku bedebar keras saat meraih foto itu di atas lantai. Foto ini.. foto taman di belakang kuil…

 

Aku memutuskan untuk membaca buku itu lagi dengan tangan yang bergetar. Aku membacanya dari awal.

 

Tulisannya di lembar-lembar awal terlihat seperti tulisan anak kecil namun cukup rapi.

 

April, 2003

 

“Aku penasaran dengan cerita eomma tentang Dongeng Dewa Dewi itu. Aku datang ketaman dan yang kutemukan di sana adalah seorang gadis sebaya denganku, menurutku. Atau tidak… dia lebih muda dariku beberapa tahun.

 

“Dia sedang menangis dan aku berusaha menghiburnya. Aku memberinya bunga dan kami bermain bersama. Dia gadis yang menyenangkan. 

 

“Baby’s Breath. Itu adalah nama bunga. Bunga putih kecil-kecil yang aku berikan pada gadis itu.

“Gadis itu membawa buku merah muda setiap kami bermain, katanya agar dia tidak lupa padaku. Lalu aku meminta eomma untuk membeli buku ini. Agar aku tidak lupa padanya.

 

“Dia suka musim semi, dia lahir saat musim semi. Dia suka berdoa di kuil. Dia suka Baby’s Breath. Dia senang bermain denganku, aku senang bermain dengannya. Aku senang melihat matanya yang bersinar, aku senang bersamanya. Aku harap mitos itu benar.

 

“Aku harus kembali ke Seoul. Aku meminta Gadis musim semi untuk menungguku.”

 

Aku berdiri mematung. Gadis musim semi? Buku merah muda? Mitos… Taman… Cho Kyu-Hyun adalah anak laki-laki itu? Bagaimana bisa? Aku membuka lembar berikutnya, tulisannya mulai berubah.. lebih bagus dan lebih rapi.

 

April 2006

 

 “Liburan sekolah. Aku datang ke taman itu. Aku tidak punya waktu lama. Aku rela tidak pergi ke taman hiburan bersama teman-temanku demi bertemu gadis musim semi. Aku ingin bertanya siapa namanya, dimana dia tinggal, apa dia bersekolah atau hanya tinggal di rumah?

 

“Tapi saat aku datang, taman itu kosong. Tidak ada seorangpun di sana. Apa dia tidak menungguku? Apa dia lelah menungguku? Maaf baru datang sekarang…

 

“Lalu aku berdoa di kuil dan menunggu. Dia tidak datang. Aku pulang.”

 

 

Aku tersadar. Saat itu aku sudah di adopsi oleh Ayah dan Ibu. Tepat musim semi ketiga aku menunggunya, saat itu dia datang? Cho Kyu-Hyun datang? Aku membacanya lagi dan lagi, tulisannya mulai berubah setiap lembarnya. Sepertinya Cho Kyu-Hyun mulai jarang menulis di buku ini. Jarak waktu ia menulis cukup jauh.     

           

 

April 2010

 

“Sudah lama sekali aku tidak menulis buku ini. Tentu. Karena aku tidak tahu apa yang akan kutulis. Dari awal aku meminta Eomma membeli buku ini adalah untuk bercerita tentang gadis musim semi, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

 

“Aku datang ke taman itu. Kosong. Bunga-bunga cantik bermekaran, tapi dia tidak ada.

 

“Aku datang untuk pamit. Aku akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Lalu aku berdoa di dalam kuil, seingatku kami pernah melakukan hal yang dianggap mitos Dewa Dewi itu. Saat itu.. aku berharap mitos itu benar. Walaupun aku tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak, tapi yang pasti aku menyukainya, aku tertarik padanya. Gadis musim semiku. Kuharap kita bertemu lagi.”                   

                       

Aku menatap foto taman itu. Aku bukan berhenti menunggu. Aku hanya tidak sedang menunggu saat kau datang.. Cho Kyu-Hyun, waktu kita salah…

 

Aku membuka halaman berikutnya. Di sana, tulisan tangan Kyu-Hyun telah berubah lebih banyak. Lebih indah dan teratur.

 

April, 2012

 

“Aku pulang. Aku tidak betah dengan keadaan Paris. Terasa asing dan aku tidak terbiasa. 

 

“Yang kutemui saat aku pulang adalah dia. Bagaimana bisa gadis musim semi itu berada tepat di depan mataku? Dia bekerja membantu Ibunya saat itu. Aku tidak bertanya, aku diam saja dan memperhatikannya dari jauh. Itu benar-benar dia. Wajahnya.. senyumnya… jangan lupakan buku merah muda yang selalu ia bawa kemanapun. Aku selalu dan terlalu ingat… Gadis musim semiku, aku menemukannya…”                                                                                                                                                    

Aku membuka buku itu lagi dan lagi, setelahnya tidak tertera waktu. Mungkin Cho Kyu-Hyun menulis sesuka hatinya. Tetap saja, aku merasakan tanganku bergetar. Cho Kyu-Hyun benar-benar anak laki-laki itu? Bagaimana bisa dia masih mengingatku? Aku tidak mengingatnya… Dan dia.. menyukaiku? Aku pasti bermimpi.. Aku pasti bermimpi…

 

 

“Aku senang berada di area yang sama dengannya. Di kampus, di rumah.. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah sekian lama bertemu aku tiba-tiba merasakan perasaan lain. Perasaan tertarik seorang anak laki-laki yang dulu kutujukan padanya berubah menjadi perasaan tertarik seorang pria pada wanita. Gadis musim semiku tumbuh dengan baik. Gadis kecil yang dulu tertawa dengan pipi gembulnya itu kini tumbuh menjadi gadis yang mempesona.. tidak hanya cantik, dia indah..”                              

                                   

“Aku tidak berkutik saat dia berada di dekatku. Aku tidak berani menatapnya, aku tidak berani melihat mata indahnya. Bagaimana jika dia dapat membaca dan menyadari perasaanku? Saat di kampus aku lebih memilih duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung pada ruangan praktek yang sering ia gunakan. Untuk apalagi? Tentu saja melihatnya. Melihatnya setiap hari… bagiku sama dengan merasakan hangat musim semi setiap kali aku menarik napas.

 

“Setiap hari diam-diam aku mendengar suaranya. Begitu lembut dan menenangkan. Saat memberi makan di kolam mataku tertuju padanya yang sedang melakukan pekerjaan rumah. Aku ingin berjalan mendekat, menyapanya, atau.. memulai petemanan. Tapi rasanya sulit sekali… Jadi aku memilih diam dan kembali ke kamar saat aku sudah tidak bisa menahan keinginanku untuk bicara padanya.

 

“Jika bukan dia. Maka aku akan bicara pada Bibi Park. Bibi Park yang baik, dengan tenang dan senang hati Beliau bercerita tentang gadis musim semiku. Dia anak yatim piatu. Dia cerdas namun sulit mengingat, oleh karena itu dia membawa buku merah muda itu setiap hari. Karena itukah dia tidak mengingatku?”        

 

Aku tidak mengingat Cho Kyu-Hyun? Bagaimana mungkin aku bisa mengingatnya? Jika seseorang yang lain datang saat aku sedang menunggu di taman, aku mungkin mengira orang itu adalah orang yang kutunggu. Ingatanku begitu buruk.

 

“Aku terus mengaguminya walau dalam diamku. Berusaha terlihat biasa saja saat di hadapannya, mati-matian menyembunyikan perasaanku yang meletup indah saat melihatnya. Seperti pagi tadi, aku melihatnya duduk di bangku halte, untuk pertama kalinya aku menghampirinya, melihatnya di pagi hari adalah suatu keberuntungan. Aku bicara cukup panjang, memintanya menemaniku belanja… memintanya memasak..”  

 

Aku tersenyum kecut… lembar berikutnya kosong. Pastilah saat itu dia sedang tergeletak tidak berdaya setelah mencicipi makanan yang kubuat. Lalu aku membaca lembar berikutnya.

 

“Dia memasak. Aku makan makanannya karena aku ingin merasakan masakannya. Rasanya aneh, kuakui. Tapi aku tetap makan. Wajahnya lucu sekali saat itu. Tapi perutku terasa sakit, aku masuk ke kamar dan ingin keluar melihatnya. Tapi rasa sakit itu semakin menjadi, aku memilih berbaring sebentar dan aku tidak sadar bahwa aku tertidur.

 

“Dokter bilang Maag-ku kambuh. Rasanya benar-benar buruk. Aku tidak bisa melakukan apapun seharian. Hari itu aku berbaring dan mencoba beristirahat saat merasakan tangannya di keningku. Dia meminta maaf. Hey.. itu sama sekali bukan salahnya. Waktu makanku memang tidak teratur. Dia terlihat menyesal, dan aku memintanya menyuapiku. Syukurlah bukan dia yang memasak. Saat itu aku bahagia, aku senang melihat wajahnya..”

 

Aku ikut tersenyum. Cho Kyu-Hyun menyukaiku? Benarkah aku tidak memiliki perasaan sepihak selama ini? Perasaanku terbalaskan? Wajahku memanas dan aku ingin menangis, tapi aku tetap membaca. Kali ini tulisannya terlihat lebih banyak.

 

“Aku melihatnya duduk kedinginan di halte. Demi apapun juga saat itu aku ingin turun dari mobil dan  berlari memeluknya. Tapi Hyo-Jin sedang bersamaku. Sejak saat dia duduk di perpustakaan aku ingin menawarkan diri untuk mengantarnya pulang karena sedang hujan deras. 

 

“Aku tidak tahu jika Hyo-jin akan meminta diantarkan pulang, dengan berat hati aku menyutujuinya. Aku berniat mengantar Hyo-Jin pulang lalu kembali lagi menjemputnya, tapi aku kalah cepat, dia nekat pulang menerobos hujan.

 

“Saat aku kembali ke halte dia sudah tidak di sana. Aku panik saat itu. Hujan sangat deras dan aku yakin aku telah berusaha secepat mungkin untuk kembali menjemputnya. Lalu aku datang ke rumahnya, yang kutemukan adalah Paman dan Bibi Park yang juga cemas, mereka bertanya balik padaku tentang gadis itu. Lalu, telepon mereka berdering, kabar dari Rumah Sakit, gadis itu kecelakaan.

 

“Dia mungkin tidak pernah tahu bagaimana takutnya aku saat melihatnya di ruang gawat darurat. Bibi Park menangis dalam pelukan suaminya. Disaat seperti itu siapa yang bisa menenangkanku? Aku sama sekali tidak bisa tenang saat dia tidak baik-baik saja.”

 

Aku menangis. Air mataku mengalir tenang di wajahku. Malam itu Cho Kyu-Hyun melihatku? Kupikir… dia bersenang-senang dengan gadisnya… dia juga datang ke Rumah sakit.. aku menyesal karena mengabaikannya saat itu..

 

“Dia sudah sadar. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku senang dia sudah kembali. Dia tidak tertidur lagi. Banyak sekali yang ingin kukatakan padanya… ingin sekali aku memeluknya, tapi yang kulakukan adalah membentaknya. Aku marah, tentu saja, aku kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa menjaganya dengan baik? Harusnya aku mengantarnya pulang malam itu… kenapa dia keras kepala? Kenapa dia tidak diam saja dan menungguku?”

 

Menunggumu? Cho Kyu-Hyun… aku bahkan tidak tahu apa kau saat itu melihatku atau tidak, mana mungkin aku berani menunggumu? Memangnya siapa aku ini?

 

Aku memasuki lembar berikutnya, lembaran yang tadi kulihat. Mungkin Cho Kyu-Hyun baru menulisnya semalam. Tintanya masih basah dan harum.

 

“Aku memiliki satu kesempatan. Aku pergi kepantai bersamanya. Tapi aku tidak mengatakan apapun. Apa yang ingin kukatakan tidak bisa kusampaikan padanya. Kami hanya diam sembari melihat matahari terbenam.

 

“Diam-diam aku berharap dalam hati agar bisa melihatnya setiap hari, memilikinya dan menjadikannya pendampingku kelak. Menjadi satu-satunya orang tempatku untuk pulang…

 

“Aku mungkin terlalu pengecut. Aku takut dengan reaksi yang akan dia berikan nantinya… Gadis itu, Park Ni-Young, gadis musim semiku… apakah dia akan marah padaku karena tidak pernah datang dan meninggalkannya bertahun-tahun lalu? Bagaimana jika kukatakan yang sebenarnya? Maukah dirinya menerimaku?

 

“Saat ini yang kulakukan adalah melihatnya, terus menatapnya dalam diamku dan mencintainya dengan caraku. Cukup dengan melihatnya setiap hari, mendengar tawanya… membuatku bahagia… Dan aku berdoa pada sang pemilik hidup, berharap agar suatu hari nanti aku bisa mengatakan rahasia kecil yang selama ini hanya kusimpan rapat tanpa seorangpun yang menyadari. Suatu hari nanti, jika saatnya tiba, aku ingin mengaku dan mengatakan langsung padanya padanya… 

 

“Aku mencintainya,”

 

Aku menghapus air mataku. Aku tersenyum dan dadaku berdebar aneh, aku cukup tahu bahwa Matahari yang kupuja juga melihat kearahku. Aku tidak sendiri. Ada matahari yang menyinariku tanpa kusadari, tanpa kutahu… Dia selalu berada di dekatku setiap hari. Apa lagi yang kurang? Tuhan mendengar doaku… Aku bahagia… bahagia sekali…

 

Aku berbalik dan ingin segera melangkah pergi. Saat aku akan menyimpan buku itu di atas meja aku menoleh ke arah pintu, Cho Kyu-Hyun berdiri di sana, menatapku, melirik bukunya yang masih berada di tanganku. Wajahnya terlihat bingung, malu dan terkejut. Sama sepertiku. Lalu aku menunduk sebentar dan berlalu meninggalkannya.

 

***

“It always appeared before me, Your face, your voice, I remember.

With you bright smile, my heart opened up so easily..

It’s true, that is how I became your man.”

****

 

Aku memasuki area taman. Sepi dan tenang. Angin bertiup lembut. Bunga-bunga bermekaran indah dan suara gemericik air kolam membawa kesejukkan. Aku melangkah pelan, dulu aku bermain di sini.. bersama Cho Kyu-Hyun.. aku tidak pernah menyangka laki-laki itu dapat merebut hatiku, bahkan saat aku mengenalnya sebagai sosok yang lain.

 

Setelah kejadian itu, setelah aku mengetahui semuanya, aku hanya diam. Aku pergi meninggalkan Cho Kyu-Hyun tanpa sepatah kata. Aku.. tidak tahu harus berbuat apa. Cho Kyu-Hyun juga diam, kami berusaha bersikap biasa walau rahasia besar itu telah terungkap.

 

Aku mendongkak menatap bangku taman. Di sana duduk seorang laki-laki, dia membawa seikat Baby’s Breath di tangannya. Dia sekarang tersenyum padaku. Cho Kyu-Hyun.

 

“Hai,” sapanya pelan.

 

“Hai,” jawabku tersenyum dan ikut duduk di sampingnya. Cho Kyu-Hyun terlihat tampan, kali ini wajahnya berseri-seri.

 

“Untukmu,” ucapnya, menyodorkan Baby’s Breath padaku. “Bunga itu… Namanya Baby’s Breath…”

 

“Aku tahu..” Aku tersenyum samar, menyentuh bunga kecil-kecil itu.

 

“Lambang kesucian, kebahagiaan, kesetiaan dan cinta abadi… kau tahu itu?” tanyanya menatapku. Sinar mata Cho Kyu-Hyun begitu teduh.

 

“Aku baru tahu darimu.” Ucapku jujur. Memang benar aku baru tahu dari laki-laki itu.

“Maaf membuatmu menunggu, maaf karena tidak menemuimu..” Aku menatapnya lekat. “Maaf baru datang sekarang..”

 

“Tidak apa-apa. Aku… minta maaf.. Aku harusnya tidak mebaca bukumu itu..”

 

“Benar. Harusnya kau tidak membacanya,” Cho Kyu-Hyun tersenyum manis. “Harusnya aku yang memberitahumu..” Wajahku memanas saat itu. Dadaku berdebar kencang saat Cho Kyu-Hyun menatapku.

 

“Aku mencintaimu, Park Ni-Young…” akunya tulus. “Aku mencintaimu.”

 

***

 

Aku membuka mata pelan. Sinar hangat sang mentari masih menyinari bumi. Aku menatap Cho Kyu-Hyun di sampingku. Dia sedang menutup mata… Wajahnya terlihat tenang.. napasnya teratur… aku bahagia melihatnya. Dia masih berdoa.

 

Setelah pengakuannya padaku, aku hanya tersenyum dan tidak langsung menjawab. Butuh waktu untukku agar bisa tetap sadar dan mengendalikan diri agar bisa tetap baik-baik saja. Tapi akhirnya diapun tahu bahwa aku juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya.

 

Matahari yang hangat ini benar-benar menjadi milikku dan akan menyinariku setiap hari. Maka aku bahagia, sangat bahagia… tidak ada kata lain yang dapat mewakilkan perasaanku saat ini.

 

“Apa yang kau minta? Kenapa lama sekali?” tanyaku saat dia selesai berdoa dan menatapku. Senyum tidak pernah lepas dari wajah tampannya itu.

 

“Aku tidak meminta apapun.” Katanya tenang.

 

“Lalu?”

 

“Aku berterima kasih…” wajahnya terlihat cerah. Senyumnya yang mengembang menambah kadar pesonanya. Lalu aku merasakan tangannya di pundakku, dalam satu tarikan lembut aku sudah berada dalam pelukannya, dia memelukku sangat erat lalu berujar pelan, “Aku berterima kasih karena memilikimu dalam hidup…”

 

 

***

-THE END-

131 Comments (+add yours?)

  1. agnes
    Mar 30, 2014 @ 20:36:01

    aaa….bagus banget ff nya…
    daebak chingu….
    ada rencana sequel??? ada dong……

    Reply

  2. desita
    Mar 30, 2014 @ 20:41:21

    first?aku suka, walaupun jalan ceritanya sederhana. tapi penyampaian kata2nya bagus, suka deh 😀 keep write yaa

    Reply

  3. Angelica MICHO Sakurada
    Mar 30, 2014 @ 20:45:51

    bingung mau comment apa 🙂
    ni ff keren pake bgt (y)

    Reply

  4. princess_ai
    Mar 30, 2014 @ 20:51:39

    Kyaaaaaa ini ff bener bener gaketebak x) kirain bakal sad ending ehhh taunya malah happy ayey \m/ daebakk ㅋㅋ ngebayangin kalo niyoung itu gue gimana ya…hmmmm /ga /ditendang /bye

    Oke– itu cuma khayalan doang haha keep writing deh thor!♥

    Reply

  5. alviegyu
    Mar 30, 2014 @ 21:04:25

    Ah! First kah? Sumpah ffnya kren dan feelnya kena! 😀 dan akhirnya, cinta niyoung pun nggak brtepuk sblah tangan!
    Trus tambah karya lgi ya! Ku tunggu ffmu slanjutnya! 😉

    Reply

  6. vii elfishy
    Mar 30, 2014 @ 21:04:27

    ommo crtanya sweat banget,..daebak thor

    Reply

  7. leehaena241
    Mar 30, 2014 @ 21:15:06

    Oh my, aku ga tau mau komen apa, speechless banget rasanya habis baca ff oneshootmu yang panjang ini.
    Sungguh, what a nice ff!
    Bagaimana kamu menggambarkan dengan begitu detail, menceritakan bagian demi bagian.
    Oh, pokoknya two thumbs up for u ! (y) (y)
    Cuman bingung sama Hae oppa disini typo kah?Pertama, kirain oppa bakal jd org ketiga. Tp engga taunya bukan, ga ada namja diantara kisah Kyuhyun-Niyoung ini kkkk.
    Keren ya, bnr”, aku bacanya jg lama bgt ini hahaha saking menghayatinya, ada sejaman lebih kayaknya hoho.

    Sippo!Keep writing n fighting ne!!^^
    Ditunggu ff” romance lainnya, tp yg gak menye”, seperti ini! Nan neomu joha~ 😉

    Reply

  8. Nivia Aylee
    Mar 30, 2014 @ 21:32:31

    Bagus

    Reply

  9. Monika sbr
    Mar 30, 2014 @ 21:35:12

    Haa…. So sweet!!! Suka banget ceritanya. Ternyata dibalik sikap dinginnya, ternyata kyu udah menyimpan rasa cintanya ke ni young sejak kecil tanpa memberitahu pada niyoung bahwa merekah adalah teman lama sejak kecil….

    Reply

  10. Cho EunKyu
    Mar 30, 2014 @ 22:06:16

    Bingung mau komen apa
    ni ff bner2 keren DAEBAKK !!!
    Aku sukaa ceritanyaa ….

    Reply

  11. missrumii
    Mar 30, 2014 @ 22:20:13

    aku harus komen? komen apa? aaahhh mellltiiing.. tapi thor, cerita setelah mereka pengakuan kurang panjang. aku lebih seneng kalau diceritain sampe nikahnya 🙂

    Reply

  12. cai
    Mar 30, 2014 @ 22:21:32

    baguuuuuuuuuuuuusss bgt .. menyentuh skali #gregetan jadiny

    Reply

  13. gege21
    Mar 30, 2014 @ 22:51:45

    :’) keren banget ffnya aaaaaaaaa jeongmal! gaya penulisannya itu daebak sekali >< joha ^^

    Reply

  14. athalia endry
    Mar 30, 2014 @ 22:54:51

    It’s really DAEBAK thor 🙂 I love it so much. Simple tapi menyejukkan 🙂 Keep writing thor. I will wait for another your ff 😛

    Reply

  15. rizkymonica
    Mar 30, 2014 @ 23:11:19

    good tapi,buat dong after story hubungan mereka direstuin nggak sama orangtuanya Kyuhun?kan Ni young tahu mereka amat berbeda

    Reply

  16. Yossie
    Mar 30, 2014 @ 23:24:55

    . Wuaah keren asli pke bgt !
    . Suka ama ceritanya, terharu jg bacanya, , huhu

    Reply

  17. kyuhae26
    Mar 30, 2014 @ 23:31:34

    gak tau harus bilang apa, ceritaaaa bagus bangetttt ah suka banget lah! kata2nya juga bagus mudah dicerna (?) ah pokoknya keren lah!

    Reply

  18. pramitadevi
    Mar 31, 2014 @ 05:12:07

    aaaa sumpah ni ff bagus bangetttt sumpah, jalan ceritanya juga bagus thor, ga kepikiran endingnya ternyata happy ending suka pake banget ama ff ini (y) DAEBAK deh ceritanya bagus banget , kalau bisa di kasi sequelnya dong biar tambah seru hehe 🙂 keep writing ya thor’-‘9 DAEBAK banget pokonya ff nya

    Reply

  19. pramitadevi
    Mar 31, 2014 @ 05:13:58

    aaaa sumpah ni ff bagus bangetttt sumpah, jalan ceritanya juga bagus thor, ga kepikiran endingnya ternyata happy ending suka pake banget ama ff ini (y) DAEBAK deh ceritanya bagus banget , kalau bisa di kasi sequelnya dong biar tambah seru hehe 🙂 keep writing ya thor’-‘9 DAEBAK banget pokonya ff nya thor 🙂

    Reply

  20. LuluCho ~
    Mar 31, 2014 @ 05:26:55

    Romantis sekali >_<

    Reply

  21. mei.han.won
    Mar 31, 2014 @ 06:15:53

    Keren banget ini….
    Bikin lagi donk, atau cerita lain tentang mereka lagi…hehehe

    Reply

  22. Lee rae ra
    Mar 31, 2014 @ 07:13:40

    Ceritanya kereen banget , so sweeet
    Aku suka karakter2 tokohnya .

    Reply

  23. jin hyun
    Mar 31, 2014 @ 07:53:22

    speechless! bener-bener bagus, gatau lagi harus bilang apa. author menjelaskan semuanya dengan apik aku bisa memahaminya. itu bener-bener bagus^^ ditunggu fanfict berikutnya ya thor?oiya tidak ada sequel kah? hehe keep writing thor^^

    Reply

  24. lita
    Mar 31, 2014 @ 08:24:54

    Ada sequel?

    Reply

  25. Shekyu
    Mar 31, 2014 @ 08:50:47

    Aigooo co cweat!!!
    Akhirny mereka brsama..

    Sequel donk thor..
    Y..y..y..

    Reply

  26. Aya parkyu
    Mar 31, 2014 @ 09:02:16

    ya ampun bgus bngt,,d bkin sesek n seneng ,,aduhhh…gk klbihan jga romance…semua y pas…!!!!,,!!!sequel y donk,,,hehe

    hwaiting 😉

    Reply

  27. adelcho
    Mar 31, 2014 @ 09:04:01

    Bingung jg mau ngomong apa.. Ff nya keren menyentuh banget

    Reply

  28. dian
    Mar 31, 2014 @ 09:52:38

    huwaaaaa..
    Daebak!daebak !

    Feelnya dapet bgett,saya suka.saya suka..

    *dtunggu karya lainny 😉

    Reply

  29. ckhxo
    Mar 31, 2014 @ 10:30:46

    Keren thor!! Walaupun ceritanya sederhana, tapi pemilihan katanya bagus jd enak dibaca. Ditunggu karya2 selanjutnya! 😀

    Reply

  30. izaas khairina
    Mar 31, 2014 @ 10:39:12

    aigoo sweet banget~ ahhh merinding bacany akhirnya cinta ni young terbalaskan,,ahhh keren thor

    Reply

  31. kyupcake88
    Mar 31, 2014 @ 10:51:31

    Wah keren. Idenya biasa aja sih, alurnya dpt ditebak dari awal ya happy ending. Tapi karna dikemasnya pake sentuhan tangan author yg gk biasa, critanya jadi bagus. Gk ngebosenin. Kalo ada rencana buat sequel, aku saranin gk usah. Takutnya gagal dan gk sebagus ini. Tapi kalo misalnya sequelnya bisa lebih dari ini, ya post aja.

    Reply

  32. shinhyerim
    Mar 31, 2014 @ 11:17:45

    Perfect ^^

    Reply

  33. mutkyu
    Mar 31, 2014 @ 11:21:44

    endingnya manissss….
    penyampai sederhana tp ngena dihatiii…
    semoga ada sequel nya yahhh…

    Reply

  34. chokyu latte
    Mar 31, 2014 @ 11:51:35

    Huaaaaaaaaaa!!! Nangess brayy! Daebak:)

    Reply

  35. wiwik love eunhyuk so much
    Mar 31, 2014 @ 11:55:45

    bagus bgt,, ff nya , bener2 bisa terbawa suasana, nggambarinnya jg perfect bgt. aq harap ff ini jd ff of the week, jeongmal joahaeyo,,,,,

    Reply

  36. joyers
    Mar 31, 2014 @ 11:59:12

    Ini keren! Feel nya dpt banget thor aaakkkk kerenn

    Reply

  37. sandralians
    Mar 31, 2014 @ 12:23:52

    Ini ffnya bagus bangettttttttttt *Q* need sequel thorrrr!!!

    Reply

  38. Cho In Hyun
    Mar 31, 2014 @ 12:38:23

    Bener2 romantic…Cinta Sejati hanya datang 1 kali…untung mereka bisa bersama Dan bahagia

    Reply

  39. kyurachoi
    Mar 31, 2014 @ 13:06:45

    WOW …. Keren , sweet , amazing banget nih ff . kata2 nya rapih banget . aku suka karakter kyu disini . Daebakk ^^ . Sequel dong thor hehehe

    Reply

  40. kyurachoi
    Mar 31, 2014 @ 13:08:36

    Keren ^^ .. ada sequel kah ? .-. . ku harap ada . Soalnya sweet banget ceritanya

    Reply

  41. Indah Ayu Lestari
    Mar 31, 2014 @ 13:58:29

    Ohh god ..
    Kerenn banget, pemilihan kata-kata yang bagus.
    Aku sukaa (y) 😀

    Reply

  42. ziajung
    Mar 31, 2014 @ 14:22:31

    suka banget kata kata di buku harian kyuhyun
    authornim jjang!

    Reply

  43. choalfi
    Mar 31, 2014 @ 15:21:22

    seriusan ya…. ini daebak banget!
    kata kata yang dipake pas,enak banget, berkesan dan nggak berlebihan. pendeskripsiannya oke, feelnya kece banget, ceritanya bisa tersampaikan dengan wow. seriusan ya…. ini daebak banget!
    kata kata yang dipake pas,enak banget, berkesan dan nggak berlebihan. pendeskripsiannya oke, feelnya kece banget, ceritanya bisa tersampaikan dengan wow.
    aku jadi nangis sendiri huwaaaa….
    sesusah itu ya buat ngomong, kyu. untung niyoung nemu buku itu, coba kalo nggak. kyuhyun ternyata juga cinta dia. cintanya bersambut dan aku yakin yang katanya pacaran sama kyuhyun tu pasti nggak bener bener disayang sama kyuhyu.
    yang pasti, dae to the bak. daebak bingits

    Reply

  44. Nadifah Nurani
    Mar 31, 2014 @ 15:41:43

    Bner-bner ngrasain apa yg tngah drsakn park in young sm kyuhyun deh..
    Like it!!!

    Reply

  45. rode
    Mar 31, 2014 @ 15:50:40

    kereeennn sweeetttt bgt!! byangin drma spring waltz

    Reply

  46. eka
    Mar 31, 2014 @ 17:43:21

    Ya ampun demi apapun ini KEREN

    Reply

  47. Kodok
    Mar 31, 2014 @ 17:45:27

    entah kenapa
    walau ini oneshoot kisahnya bener2 terasa panjang dan berlikuy
    q syuka n=vbanget penggambaran prosesnya
    rasa suka kyu ke niyoung dan sebaliknya
    feelnya oke
    alurnya oke
    oke semua dahh

    Reply

  48. yana teuk teuk
    Mar 31, 2014 @ 18:03:46

    bagus BGT
    saat baca ini q bener2 bayangin bisa lihat Kyuhyun
    feelnya dpt BGT
    keren…keren…keren…..
    4 jempol

    Reply

  49. Wahyu Desi Ingka Putri
    Mar 31, 2014 @ 18:27:49

    대박 !!!!!!!
    Good story 😉 ….. aku sangat suka cerita.nya. Feel.nya bener” dapet banget !
    Terus berkarya Author 🙂
    파이팅 !!

    Reply

  50. Fitory Kim
    Mar 31, 2014 @ 18:35:30

    author debak…
    Aku suka sama jln crita.a, buat aku melayang.. dan jln cerita.a sesuai dg yg aku harapkan!

    Reply

  51. icha
    Mar 31, 2014 @ 18:37:27

    Bacanya sampe terharu thor 😥 so sweet ^^
    Kereen !! ^^

    Reply

  52. galiema
    Mar 31, 2014 @ 20:41:08

    asikk….
    mencintai dalam diam dengan kadar yg mendalam..
    ckckck..gambaran tntg btpa smpurnanya kyu disini kbyg bgt smpe bikin kesel sendiri…
    oke deh…ini keren!!!

    Reply

  53. samatcy16
    Mar 31, 2014 @ 20:41:39

    Aahh daebak akut 😀
    Penantian ​​Ƴα̍Ϟƍ berujung manis dan Ъќ sia² 😀

    I like it 😀

    Reply

  54. dinyaaa
    Mar 31, 2014 @ 21:38:00

    Panjangaaaaann bangettt bikin puassss bacanyaa , keren thor XD

    Reply

  55. rahmiaulyaade
    Mar 31, 2014 @ 22:02:59

    Hwaa, daebaaak, suka sma critanny, sweet bngeet, isi diary mreka berdua keren pake bngeet,,,flashback ny gak brantakan, critany detail banget,
    Gak tau mau ngomong ap lagi, ff ny udh bagus banget.
    Dtunggu next ff, eon,

    Reply

  56. Nisiharyanti
    Mar 31, 2014 @ 22:05:16

    Bingung mau komen apa, bagus chingu..

    Reply

  57. Joon
    Mar 31, 2014 @ 23:22:20

    Huwaa…manis bgt ceritanya.daebak!
    Senyum2 sndiri bacanya,bahkan hampir nangis saking manisnya…aku suka…

    Reply

  58. Park jihyun
    Apr 01, 2014 @ 01:06:21

    aaaa baguss 🙂

    Reply

  59. kiki chan
    Apr 01, 2014 @ 02:23:19

    speechless.
    keren bgt ini ff.. genre favoritku sedih tp happy ending. mau dong baca ff ky gini lagi.. 🙂

    Reply

  60. annie
    Apr 01, 2014 @ 06:01:48

    aaaaaakk.baca ff ini gregetan sendiri apalagi waktu dia baca bukunya kyu. hadeuuuhhh gemes sendiri berharap ga ada kyu di belakangnyaa >.<
    daebak thor!!

    Reply

  61. Fanabiko
    Apr 01, 2014 @ 09:01:54

    Uwaa . Keren 😀

    Reply

  62. Sohee
    Apr 01, 2014 @ 09:26:06

    Kerenn bgtt, kata2 nya bgus bgtttt! Sequel dong pliss 😦

    Reply

  63. koreanstreet08
    Apr 01, 2014 @ 12:53:53

    Uh keren cerita’a sequel dong:)

    Reply

  64. littlefishy
    Apr 01, 2014 @ 17:46:33

    Aaah so sweet banget ceritanya, berharap banget punya cerita cinta kayak gitu #malahcurhat, tapi keren thor ceritanya, serius

    Reply

  65. rvidynti
    Apr 01, 2014 @ 17:54:58

    Kece>< u,u

    Reply

  66. hyeva
    Apr 01, 2014 @ 18:27:38

    aku suka kata”nya .. simple & gampang dimengerti trus Penulisan EYD nya juga rapih 🙂

    Reply

  67. Yulia
    Apr 01, 2014 @ 22:11:07

    sukaaa… bagus banget Thor:)
    feelnya terasa banget….

    Reply

  68. misshahya
    Apr 02, 2014 @ 06:21:37

    tiap hari aku baca ff yang cast nya kyuhyun. seneng banget ketemu ff ini^^ cara penyampaian nya menarik, cerita sederhana tapi kesannya keren banget!! daebak thor, sequel dong :p

    Reply

  69. minrakyu
    Apr 02, 2014 @ 08:22:15

    uwaaaaahhhhhhhhhhhhhh keren…
    sukaaaaaa banget sama ceritanya

    Reply

  70. smil3leery
    Apr 02, 2014 @ 11:36:06

    Bener-bener manis ceritanyaaaa.. jadi bingung mau koment apa lagi… baguuus..

    Reply

  71. ririnsetyo
    Apr 02, 2014 @ 11:46:59

    aahhh cakepp sekilas kyk storyna Lauditta Marcia yg christmas hope tapi— tetep beda kok gaya nulis ama kata2na

    Kerenlah pokokna ini keep nulis ya^^

    Reply

  72. yua
    Apr 02, 2014 @ 13:32:31

    keren,feelnya dpt

    Reply

  73. leetaerisparkyu
    Apr 02, 2014 @ 20:47:28

    keren banget ffnya
    aku sampek nangis terharu dibagian ni young yang baca diarinya kyuppa
    DAEBAK

    Reply

  74. idealqueen
    Apr 02, 2014 @ 22:51:48

    Wawawawawaw keren bgt suerrrr

    Reply

  75. Kim Yong Ra
    Apr 02, 2014 @ 23:44:06

    Kyaaaaa!!! Daebakk…
    Sequel dong…. Sequel, ya, ya, ya…… 😀

    Reply

  76. sasa
    Apr 04, 2014 @ 11:32:45

    Omonaaa… Ini serius bagus banget ff nya… Dapet banget feelnya thoor..

    Reply

  77. choi hyeri
    Apr 04, 2014 @ 20:38:26

    bener-bener DAEBBAK , ceritanya bagus bangets … semoga ada sequelnya …

    Reply

  78. Destia Dhila
    Apr 05, 2014 @ 11:45:28

    ff keren bngt,aku suka bngt sma ceritanya,dan disini aku jga suka sma karakternya kyuhyun dingin,walaupun dibalik sifatnya yg dingin tpi dia udh nyimpen perasaan sma Ni young,keren~~

    Reply

  79. mryeoon
    Apr 05, 2014 @ 18:53:28

    Whooooooooooaaaa endingnya itu antiklimaks bangett !! Seru….(Y)

    Reply

  80. chs
    Apr 05, 2014 @ 21:24:02

    baguuuuuuuus. seneng akhirnya ada ff yg nyangkut di hati di wp ini, stlh sekian lama gk ada yg pas.
    huhuhuhuhuhu
    sweet banget deh ah. seneng bacanya :’)

    Reply

  81. queen gongju
    Apr 05, 2014 @ 23:38:00

    sampek. . . .
    nangis.. . Bagus banget ceritanya aduh aduh aduh

    Reply

  82. ny lee
    Apr 06, 2014 @ 01:56:33

    hyaaa hyaa hyaa.. berhasil mengaduk2 hati di pagi buta seperti ini.. tegang, sedih, sweet.. sederhana tp mengagumkan*-*
    diksi pas dan melekat k dalam hati.. hihi
    ahh daebak pokonya^ㅅ^

    Reply

  83. Emily
    Apr 06, 2014 @ 09:46:07

    Waaaahhhh neomu neomu daebak chingu’ya..
    Sederhana tapi menarik.. hehe

    Reply

  84. 누리
    Apr 06, 2014 @ 09:56:03

    HUAAAA CERITANYA SO SWEET BANGET 💞 AUTHOR DAEBAK!!!!! bdway donghaenya ke mana? ㅋㅋㅋ

    Reply

  85. magnaelover
    Apr 06, 2014 @ 13:12:03

    Love this fiction !!!!
    Walaupun banyak cerita yang kaya gini tapi feelingnya kerasa! Diksi sama EYDnya bagus banget.
    Hohohoho salah satu ff yang patut diacungi jempol karena mulai dari alur, bahasa sampe penyampaiannya pas bgt!
    Ayo buat lagi ^^

    Reply

  86. Aya parkyu
    Apr 06, 2014 @ 14:38:38

    udh bca 2x..ttrp aj greget

    Reply

  87. leehyojin
    Apr 06, 2014 @ 18:52:32

    Plisss fixxx ngefly parah demi apapun authornya membawaku terbang, hahaha plis bikin ff kayak gini lagi plisss, seneng parah bacanya, lanjutin terus thorrr

    Reply

  88. victoria stephanie
    Apr 06, 2014 @ 20:56:54

    Gimana dong ini? Kyuhyun sifatnya bener bener beda dari biasanya, aku jadi makin cintahhhh.
    Intinya no comment lah ini udah bener bener ngena dihati
    Lanjut nulis yang lain lagi ya thor

    Reply

  89. vita
    Apr 06, 2014 @ 21:25:23

    Daebbak

    Reply

  90. rena
    Apr 06, 2014 @ 21:31:18

    ahhhh nice ff 🙂 serasa terbang banget kalo berada di posisi ni young :3 keren ceritanya daebak!! terus berkarya..

    Reply

  91. novi
    Apr 06, 2014 @ 22:27:42

    Seru.pntas jd ff pf the week.crtx sederhana tp sangat menyentuh fellx dpt bgt.

    Reply

  92. nad.
    Apr 06, 2014 @ 22:34:18

    huaaa keren><

    Reply

  93. Aura Afira
    Apr 06, 2014 @ 23:18:35

    ceritanya bagus eonni ^^
    feelnya dapet banget, aku ikut nangis kayak Ni young waktu baca ini,..
    yang aku bingungin tuh, diatas tertera ada nama Donghae sebagai Cast, tapi dia sampe akhir gak muncul2..
    dan lagi ada alur yang ngebuat aku bingung, itu Kyuhyun beneran pacaran sama Hyo Jin?
    kan Kyu suka ke Ni Young, tapi kenapa pacaran sama Hyo Jin?

    Reply

  94. azry203
    Apr 07, 2014 @ 18:58:44

    Greget buanget bacanya,
    keren bgt..

    Reply

  95. goseumdochi
    Apr 08, 2014 @ 10:36:06

    demi apapun sampe ngilu bacanya. greged banget aaaaaaaaaaaaaaa authornim kau keren seekaaaaaaaaaaaaaali ❤
    sequel sabi kali min ah~
    nikah nikah nikah~ lalalalala~ etapi aku bingung deh kalo kyu suka sama dia terus cewe yang dibilang pacarnya itu apa?
    anyway keren banget lah~ keep writing!

    Reply

  96. jauza nabilla
    Apr 08, 2014 @ 15:34:22

    waaaaaaaaaaaaw,,,Daebak banget FFnya eonni :). Happy ending. ^^ feelnya dapet banget, tapi kenapa donghae oppa’ya gak muncul’ dari awal-akhir?.aku juga bingung,itu beneran kyuhyun berpacaran dengan Ho Jin?.aku tunggu ff selanjutnya. 🙂

    Reply

  97. ronaldo
    Apr 08, 2014 @ 17:42:20

    Ga bisa komentar apa* pokonya keren dehh tapi sequeLkahh ???

    Reply

  98. jejae
    Apr 08, 2014 @ 19:33:31

    Manis!! >///<
    tapi itu ada nama donghae dideret cast, pas nyampe cerita ga ada –' ah tapi lepas dari itu aku suka ceritanya (y)

    SEQUEL PLISSS…
    No hurt/sad ending yo thor, yang manis-manis aja hihii

    Reply

  99. Niken Utami (@kenikutami)
    Apr 09, 2014 @ 01:35:09

    dari segi cerita, tata bahasa, kata-kata mutiara, english, lakon..
    aku suka..
    rapih dan enak dibaca..
    romantis juga terselip kisah inspiratif,
    keren,
    aku suka semuanya..
    the best lahpokoknya 😀

    Reply

  100. minyounghan815
    Apr 09, 2014 @ 10:59:16

    aku ga tau harus komen apa…..
    tanganku sampe gemeter waktu baca ff ini…….
    ffnya manis banget…..

    Reply

  101. milia
    Apr 09, 2014 @ 12:51:57

    Itu yg katanya pacarnya kyuhyun gimana? Apa emg dia pacaran? Kok ga dijelasin ya? Cuma itu aja sih yg aku bingung.

    Reply

  102. hanna
    Apr 09, 2014 @ 12:54:25

    hwaaa keren bangt tor,,,>w<

    Reply

  103. shasha
    Apr 09, 2014 @ 20:44:04

    DEMI APAAA!! INI KEREN SEKALIIII!!!!!!!!!!!!!

    Reply

  104. Eka apriliyani
    Apr 09, 2014 @ 20:53:25

    Aaaa.. Ini sweet bangeeeetttttt..

    Reply

  105. Nuwairysam
    Apr 10, 2014 @ 10:22:21

    Kereeeeen. Kyuhyun nya dapet 😀

    Reply

  106. nnn997
    Apr 10, 2014 @ 18:46:52

    Bingung mu coment apa, ini ff keren bngt..!

    Reply

  107. rizqiaaaaaaaaaaa
    Apr 11, 2014 @ 02:41:33

    beeuhhhh keren bgt!! huuhh chokyu terlalu menyakiti ni young,dan ni young terlalu menyakiti dirinya sendiri ㅠㅠ tapi dgn happy ending yang bener” happy ini….makasih banget buat authornya(?) haha XD good story author!!♥♥♥

    Reply

  108. yoomincha
    Apr 11, 2014 @ 19:01:08

    daebaaak laaaah

    Reply

  109. heeyeon
    Apr 11, 2014 @ 23:06:26

    hua… gak tahan keren banget..hua

    Reply

  110. theayu0221
    Apr 12, 2014 @ 09:16:17

    T.T manis banget ceritanya..terasa lembut banget 🙂
    짱!!!!
    ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    Reply

  111. nurychoi407
    Apr 12, 2014 @ 09:27:00

    Aaaaaaaaa so sweet kerreen2

    Reply

  112. wihadinovita
    Apr 12, 2014 @ 18:02:37

    one shoot panjang banget…. tapi sangat memuassssskaaaannnnnnn…추카애……..d tnggu ff lainnya….

    Reply

  113. Lee Hana
    Apr 12, 2014 @ 19:43:35

    OMG!!!!! INI BAGUS BANGETTTT KEREN BANGET FEELNYA DAPET BANGET. DAEBAK!!!!!! aduhhhh sampe nangis aku bacanya:’)))) terharu bangetttt. speechless bingung komen apa bagus banget pokoknya ini bahasanya juga rapih sekali

    Reply

  114. kyuzalia
    Apr 13, 2014 @ 05:06:14

    ini story-nya bener bener sweet pake banget…
    dari awal nikmatin terus ceritanya, berharap gak akan end. penulisannya rapi jadi bikin pembaca tambah nyaman buat baca, feelnya pun juga dapet, bahasanya juga ringan. Selingan kata2 diary-nya si cho kyu itu loh, bikin nyesek! .._..
    jempol deh buat Aryn^^ (y)

    Reply

  115. fatimatuhfauzia
    Apr 15, 2014 @ 00:42:37

    Baguuuuuuuuuusssss bangeeeeeet!!!! Feel nya dapet banget! Bahasanya bagus dan simple! Suka pake banget!

    Reply

  116. Love
    Apr 17, 2014 @ 09:30:49

    Like this…

    Reply

  117. YesungAiLopYu
    Apr 19, 2014 @ 01:01:59

    Tarik Nafas dalam, Buang Perlahan.. Huuhh 🙂

    SUMPAH DEMI CINTA UE KE SUJU, inih Epep BENER-BENER DAEBBBBAAAAKKK ABIIZZZZ >.<

    Feel Dapet bnget,. Rangkaian katanya bagus, alur Ceritanya Keren, ^^

    Stengah perjalanan saat baca ini, Yg kisah si Yeoja, bner bner menyentuh hati.. -_- ue juga suka bnget karakternya ! ^^

    Lu twu g thour, Pas ue baca Yg awal si yeoja buka Diary nya Kyu, Hati ue Lemes maSa -_- GILA Sulit bnget Ue tebak, Ternyata Kyu Sudah mengetahui yeoja itu si musim semi sejak awal.. GILA, Ckckck sulit di Percaya, -__________- Ue baca ajah sampe nangis pas stiap kata-kata yg kyu lontarkan di buku kecilnya, 😥 ue nangis karna Senang !! \^o^/ Ternyata cinta si Yeoja g bertepuk sbelah tangan 😀 Ue Suka bnget dngan Sifat kyu yg Sulit di tebak di Sini, 🙂 Dia twu dri awal kalu itu Si musim semi, dia diem" sring mengawasi dan merhatiin si Yeoja dngan baik !! SUMPAH JATUH CINTA UE SMA NIE EPEP ^^

    THANKYU & FIGHTING ^^

    Reply

  118. YesungAiLopYu
    Apr 19, 2014 @ 01:24:23

    Aku Izin Share ke Fb Tadi.. ^^ Mianhae, And Gomawo 🙂 SUKSES dan SEMANGAT buat kamu Thour, Jangan Berhenti Berkaya Lewat Imajinasi mu ^^

    Eh, ! Bikin Squel cobba ^^ tpi Marriage Live.. 😀

    FIGHTIN THOUR \^O^/

    Reply

  119. bibirheechul
    Apr 27, 2014 @ 17:46:21

    aaaaaahhh arynnnn >_< ini keren suakalii (y)

    ≈Larasati, istri Heechul≈

    Reply

  120. thania
    Apr 28, 2014 @ 23:01:55

    daebakk so sweet. sequel dong thor

    Reply

  121. chokyu latte
    May 11, 2014 @ 21:15:55

    Ijin share,bagi bagi untuk temen.niatnya sih mau ngenulis ke buku buat orang spe ial.ijin ya thor… keep writting! Daebak!

    Reply

  122. Riku Kurizu
    May 15, 2014 @ 02:04:27

    OMO~!!! nih ff bener2 DAEBAKK #angkat4jempol
    author, aku ijin buat posting ff ini di facebook.q,, pengen bikin chingu-chingu-ku terpesona ama nih ff.. gamsahamnida ^_^

    Reply

  123. faradillaayu
    Jun 10, 2014 @ 23:24:19

    “sederhana tapi berkesan” sweet laa , Like this ff^^

    Reply

  124. Zigai19_KyuDO
    Sep 27, 2014 @ 17:47:34

    one word for this ff..”great”

    aq bahkan g sdar pas trakhir.nya jd ikutan terharu….*kyu usaap air mataq…hiks hiks *hello banguun jangan ngimpi mulu…hehehe

    need sequel…wajib!! harus!! *maksa kkkk

    Reply

  125. renikyu
    Oct 06, 2014 @ 22:34:01

    Bagus banget….awal baca ada lirik step-step….berasa pernah baca…ternyata bener lagu ost secret garden….suka bgt sm ff yg pakai cerita itu , dan ini happy ending aaaa

    Reply

  126. Ameng
    Jan 07, 2015 @ 22:54:42

    Ceritanya ngena bangetvdi ati kaaak >,<

    Reply

  127. Nia_cho
    Mar 21, 2015 @ 12:34:55

    Aiggo aku ky lg bca novel aja ini mah keren bgt sumvah .walaupun prckapan’a hny sdkit tp menyentuh bgt.karakter cho kyuhyun beda bgt dsni .suka suka

    Reply

  128. just fia
    May 09, 2015 @ 09:29:51

    ceritanya keren… sederhana kata katanya tpi mengena…. bisakah ini di sebut cinta sejati? dua jiwa terpisah lama bisa bersatu lagi… oh so sweet… untung ada buku harian kyuhyun kl ga ni young ga bakalan tau kl cowok yg di tunggu itu kyuhyun… emang kl jodoh ga lari kemana….

    Reply

  129. Elva
    Jun 06, 2015 @ 22:09:59

    Huuwaaa !! Daebakk !! Keren .. So swit bgt ceritanya . Bikin senyum2 sendiri pas bacanya … 😀
    suka klo happy ending gini .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: