[Special Post For Zhoumi’s Birthday] Surfeited (Almost Seven Years)

Surfeited (Almost Seven Years)
Judul : Surfeited (Almost Seven Years)
Author : okta silviani, find me @oktasilviani
Main Cast : Zhoumi, Park Nara (OC)
Supporting Cast : Choi Siwon, Lee Donghae
Genre : Romance, sad
Rating : PG-15
AN : Hola… aku hadir lagi, dan lagi-lagi Song-fic, kali ini dalam rangka ikut memeriahkan ulang tahunnya koko Zhoumi. Oh iya, jangan lupa berkunjung ke wp pribadiku ya http://theuntouchedpart.wordpress.com/ walaupun masih baru, tapi udah ada yang bisa dibaca kok. Sorry for typos. Happy reading ^^
****
Ternyata hati, tak bisa berdusta.

Meski ku coba, tetap tak bisa.
Zhoumi menatap wanita yang tengah berbaring dihadapannya, kekasih yang sudah hampir tujuh tahun ini mendampinginya. Entah apa yang tengah berkelebat dipikiran Zhoumi. Diperhatikannya terus wajah cantik kekasihnya yang tengah tertidur pulas itu. Semakin dia menatap kekasihnya, semakin berkecamuk perasaan dalam dada yang ia rasakan. Membuatnya merasa semakin tak menentu.

“hehhh…” Zhoumi menghela nafasnya, dari helaan nafasnya terdengar sekali rasa lelah yang menghimpit perasaannya. Kini pria berdarah mandarin itu memilih beranjak dari duduknya ditepi tempat tidur dan berjalan menuju pintu, keluar dari kamar wanitanya.

Ceklek . . .

Ditutupnya pintu kamar itu secara perlahan, Zhoumi takut aktifitasnya mengganggu sang penghuni kamar yang sedang terlelap tidur. Zhoumi kini berjalan kearah pintu keluar apartment kekasihnya, Zhoumi memilih untuk tidak menginap malam ini, padahal biasanya ketika dia sedang kalut seperti ini, hanya pelukan kekasihnyalah yang mampu menenangkannya.

Saat ini, bukan dia tidak ingin berada disamping kekasihnya, tapi bagaimana bisa dia berada disamping kekasihnya, jika justru kekasihnyalah yang menjadi sumber kekalutannya saat ini. Kini dia lebih memilih pergi, menenangkan dirinya sendiri.

-Surfeited-
Dulu cinta ku, banyak padamu.

Entah mengapa, kini berkurang
Sinar hangat matahari menerobos masuk kedalam ruangan yang hanya ditutupi gorden tipis. Nara yang masih dikuasai mimpi, menggeliat dalam tidurnya, terusik cahaya matahari yang mengganggunya. Dalam kondisi setengah sadar, ditariknya selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas kepala, tak ingin tidurnya terganggu.

Namun seperti ada bola lampu menyala di kepalanya, dengan segera Nara bangun dari tidurnya sambil memandang sekeliling tempat tidur seperti mencari sesuatu. Dia mencari sosok laki-laki yang seharusnya berada di kamarnya pagi ini. Mata Park Nara memandang seluruh bagian kamar, memastikan keberadaan sosok laki-laki yang semalam menemaninya tidur.

Nara tak menemukan keberadaan laki-laki itu didalam kamarnya. Dengan segera dia bangkit dari ranjang besarnya. “Oppa… Zhoumi Oppa..” panggil Nara sambil melangkahkan kakinya kearah pintu kamar mandi yang berada di pojok ruangan. Nara mencoba mengetuknya, tapi tak ada jawaban apapun dari dalam.

Sekali lagi dia mengetuknya. “Oppa… Apakah Oppa sedang mandi?” Hening. Tak terdengar suara apapun. Nara kemudian memberanikan diri membuka pintu kamar mandinya secara perlahan, kosong, tak didapatinya siapapun didalam sana.

Nara berkeliling apartment mencoba mencari sosok laki-laki yang datang semalam. Ruang tamu, kosong. Nara berbalik menuju dapur yang dipisahkan oleh rak buku besar. Tak ia temukan juga kekasihnya di sana.

Nara bertambah bingung, pasalnya ini baru jam 7 pagi, tak mungkin kekasihnya sudah berangkat ke kantor sepagi ini. Lagipula setaunya, kekasihnya itu tak mempunyai janji meeting dengan siapapun hari ini. Nara mencoba menduga-duga dimana keberadaan kekasih hatinya.

Akhirnya, Nara memutuskan untuk menghubunginya, diambil ponselnya yang terletak didalam kamar, ditekannya speed dial milik prianya itu. Tak ada suara apapun diseberang sana selain nada tunggu hingga panggilannya berakhir. Nara menjadi sedikit khawatir.

Nara mencoba menghubungi Zhoumi kembali, hingga nada tunggu yang ketiga.

“yoboseyo”suara diseberang sana terdengar berat.

“oppa… neo eodiya?”tanya Nara tak sabar.

“apartment. Wae?”tanya pria diseberang sana dengan nada mengantuk.

“bukankah semalam kau datang ke tempat ku? Kau tidak menginap?”

“ah mianhe.. aku lupa kalau aku ada pekerjaan, jadi aku memutuskan pulang setelah kau tidur semalam. Kau baru bangun, eo?”tanya Zhoumi sambil menjelaskan alasan kenapa dia tidak berada di apartment kekasihnya itu pagi ini, sebenarnya ada alasan lain yang Zhoumi sembunyikan, yang tak mungkin Zhoumi jelaskan kepada Nara.

“ne… kenapa kau tidak membangunkanku semalam sebelum kau pergi?” tanya Nara dengan nada tak suka yang terdengar jelas.

“mana mungkin aku tega membangunkanmu yang sedang tertidur lelap, sepertinya kau letih sekali setelah meeting seharian kemarin” suara Zhoumi terdengar kembali memberikan penjelasan.

Sebagai kekasih sekaligus atasan Park Nara dikantor, Zhoumi tau akhir-akhir ini kekasihnya itu sedang banyak pekerjaan terkait proyek baru yang ditanganinya.

“kau benar Sajangnim, para investor itu sangat merepotkanku!”jawab Nara dengan nada mantap.

“apa perlu ak-“

“tidak! Jangan lakukan apapun! Ini pekerjaanku, biar aku yang mengurusnya, kau hanya perlu menunggu laporanku di balik meja kerjamu. Arasso?!”potong Nara sebelum Zhoumi mengutarakan bantuannya.

“Arasso”balas Zhoumi lembut sambil tersenyum mendengar reaksi cepat kekasihnya. “aku tutup teleponnya ne, aku harus bersiap”lanjut Zhoumi kembali.

“ne… sampai bertemu dikantor Sajangnim”ucap Nara sambil tersenyum simpul.
-Surfeited-
Taukah kini, kau kuhindari.

Merasakah kau, ku lain padamu.
“ ne… sampai bertemu dikantor Sajangnim”suara Nara terdengar ceria ditelingaku.

Kuletakkan kembali ponsel tipisku dinakas samping tempat tidur, bibirku menyunggingkan senyum getir. Kuhela nafasku keras memikirkan apa yang harus aku lakukan terhadap perasaanku sendiri. Perasaanku terhadap kekasihku. Hal ini tak boleh kuteruskan berlarut-larut. Karena jika hal ini terus berlanjut, ini akan menjadi sebuah ketidakadilan bagi wanita yang kucintai.

Aku bukanlah tipe pria yang mampu menutupi semua yang kurasakan dengan sangat baik, saat ini aku merasa sangat terganggu dengan perasaanku sendiri. Hal ini sungguh membuatku tidak nyaman dan serba salah. Aku benar-benar tak tau apa yang harus ku lakukan. Apa aku harus membicarakan dengannya? tapi bagaimana aku mengatakannya, aku sendiri tidak terlalu paham dengan apa yang aku rasakan saat ini.

“arghh… molla!” erangku sambil beranjak ke kamar mandi.

Begitu selesai mandi aku segera mengenakan pakaian kerjaku.

Drrrttt…

Drrrttt…

Kurasakan ponsel dalam saku jasku bergetar. Ku-swap layarnya.
From : My Nara
Oppa… how about spend your brunch time with me?
Aku terdiam sejenak, lalu ku ketik balasanku untuk Nara.
To : My Nara
Mian… I have appointment with Siwon. Lagipula bukankah kau ada meeting?
Tanyaku mengingatkan, khawatir mungkin dia lupa kalau dia ada meeting penting hari ini.
From : My Nara
Yup, but it’s lunch meeting, and now i’m free 😀
To: My Nara
Sebaiknya kau mempersiapkan meetingmu dengan baik, kau janji padaku untuk segera menyelesaikan sendiri masalah dengan investor itu bukan. Aku menunggu laporanmu di mejaku.
Ku ketik balasanku dengan cepat, mengingatkan Park Nara akan tanggung jawab pekerjaannya.
From : My Nara
Arraso.
Setelah membaca balasan singkatnya, kumasukkan kembali ponselku ke saku dalam jas. Tapi sebelumnya aku ingat sesuatu. Ku cari nomor yang sudah ada di kontakku. Ku sentuh tombol hijau.

“Siwon-ah bisa kita bertemu?” tanya ku begitu terdengar suara diseberang sana.

Setidaknya aku tidak berbohong pada Park Nara.
-Surfeited-
Cinta bukan hanya cinta saja.

Sementara merasa cukup
@ Pascucci café, Apgujeong-dong, Gangnam-gu, Seoul.

Seorang laki-laki tampan sedang duduk disebuah sofa nyaman yang terletak disudut café, terlihat bibirnya sesekali menyesap secangkir espresso panas yang berada ditangannya. Sementara tatapan mata dan jemari pria itu tak pernah lepas dari benda tipis persegi panjang yang menyita seluruh perhatiannya. Disampingnya duduk sang personal assistant yang juga terlihat tak kalah sibuk dengan beberapa berkas ditangannya.

Zhoumi yang baru saja memasuki café menyunggingkan senyum miringnya mendapati orang yang akan dia temui ternyata telah hadir lebih dulu. Zhoumi kini melangkahkan kakinya mendekati dua sosok laki-laki yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa mempedulikan sekitarnya.

“sorry, I’m late” ucap Zhoumi santai sambil mendudukan dirinya di single sofa yang terletak di hadapan kedua pria itu.

“tumben sekali kau mengajakku bertemu di jam seperti ini?” tanya laki-laki tampan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari benda tipis yang masih setia berada dalam genggamannya.

“kau juga, tumben sekali mau ku ajak bertemu di jam seperti ini?” balas Zhoumi masih dengan senyum miringnya.

Laki-laki tampan itu kini menatap Zhoumi yang sudah duduk manis dihadapannya, kemudian pria itu ikut menyunggingkan senyum miring khasnya untuk sahabat karibnya itu. “hanya sedang tidak terlalu sibuk, lagipula aku sedikit bosan bekerja di kantor” jawab laki-laki itu kemudian, sambil meletakkan benda tipis dan cangkir espresso yang sejak tadi menjadi kesibukannya keatas meja. Laki-laki itu kini menyilangkan kedua kakinya, sementara tubuh kekarnya bersandar santai pada sandaran sofa.

“tentu saja, seorang pemilik CGI Group bisa dengan sesuka hati mengatur jam kerja dan dimana dia akan bekerja” balas Zhoumi dengan nada penuh sindiran. Laki-laki itu semakin menampakkan senyum lebarnya atas ucapan Zhoumi terhadap sikapnya yang semena-mena dalam pekerjaan.

“dan kau, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan donghae-ya?” tanya Zhoumi selanjutnya pada sosok laki-laki lain yang sejak tadi terlihat direpotkan dengan setumpuk kertas dipangkuannya, hingga tak sempat menyapa dirinya sama sekali.

“Aish, tolong jangan ganggu aku, kau tak lihat kalau aku sedang bekerja” jawab Donghae dengan nada ketus. Zhoumi hanya mampu tersenyum lebar menanggapi prilaku ketus salah satu sahabatnya ini.

“hya, Kenapa kau terlihat begitu sibuk? sedangkan bos besarmu ini terlihat sangat santai dihadapanku. Kau ingin mencari muka, eo?! Memangnya berapa gaji yang diberikan oleh seorang Choi Siwon kepadamu hah?” tanya Zhoumi dengan nada penuh ejekan.

“dia membayarku sangat rendah, hingga aku harus bekerja ekstra agar mampu membeli salah satu anak perusahaan milikmu” jawab Donghae asal yang sontak membuat Zhoumi dan Choi Siwon tertawa ringan.

Setelah tawa keduanya reda, ada keheningan mendadak yang menyelimuti. Zhoumi menjadi sedikit bingung dengan apa yang akan dia bicarakan selanjutnya, masalahnya dia yang mengajak para sahabatnya ini bertemu untuk menghindari Park Nara.

“ada apa?” tanya Siwon memecah kesunyian.

Zhoumi yang mendengar pertanyaan Siwon hanya menggelengkan kepalanya pelan, “tidak ada apa-apa” jawaban Zhoumi terdengar ragu.

“aku mengenalmu dengan baik Zhoumi-ya, kau tak akan secara khusus meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami jika tak ada masalah apapun yang terjadi, dan bisa kutebak ini tak ada hubungannya dengan pekerjaan, karena kalau ini masalah pekerjaan, kau pasti akan menemuiku langsung di kantor, bukan mengajakku bertemu di café seperti ini” tebak Siwon kemudian.

Tebakan Siwon tepat sasaran. Zhoumi tau, dia tak akan pernah bisa menutupi masalahnya jika sudah berhadapan dengan dua orang sahabatnya ini. Mereka bertiga terlanjur saling mengenal cukup baik, tak akan ada hal yang mampu mereka sembunyikan dari satu sama lain.

“katakan pada kami!”desak Donghae terdengar tak sabar.

Zhoumi masih terdiam. Ada perasaan ragu dihatinya untuk membagi apa yang dia rasakan saat ini kepada para sahabatnya. Dibalasnya tatapan penuh tanya kedua laki-laki dihadapannya itu. Zhoumi masih belum yakin dengan apa yang akan dia sampaikan.

“jika tak ada yang akan kau bicarakan aku akan melanjutkan pekerjaanku, saat ini aku sedang mengabaikan proyek ratusan juta wonku hanya untuk meladeni sikap diammu” ucapan Siwon terdengar sangat kejam di telinga laki-laki berhidung panjang itu.

“arasso… arasso…”balas Zhoumi cepat menanggapi kekesalan Choi Siwon. Namun bukannya bicara, Zhoumi lagi-lagi terdiam.

Donghae yang mendapati kembali sikap diam Zhoumi, ikut mengeram kesal. “aish jinja!! Sebenarnya ada masalah apa Zhoumi-ya?!” tanya Donghae frustasi dengan sikap sahabatnya ini.

“aku jenuh!”

“Mwo?!” ucap Siwon dan Donghae bersamaan, tak mengerti sama sekali maksud perkataan laki-laki dihadapannya.

“aku mulai merasa jenuh dengan hubungan percintaanku dan Park Nara” ucap Zhoumi mantap.

Zhoumi akhirnya menceritakan semua yang dia rasakan belakangan ini. Perasaan yang selalu mengganggunya. Kejenuhannya akan hubungan yang sudah dia jalin selama hampir tujuh tahun bersama kekasihnya Park Nara. Zhoumi sendiri tak mengerti kenapa dia bisa merasa seperti ini, kenapa dia bisa berada dalam titik terjenuh dalam hubungannya, dan ini sudah mencapai klimaks.

Zhoumi mulai menyadarinya beberapa minggu lalu ketika dia mulai merasa kehilangan akan segala rasa yang biasanya bersemayam didirinya. Dia tak pernah lagi merasakan sensasi debaran jantung yang meningkat pesat ketika wanita yang dicintainya itu menatapnya dengan tatapan lembut menghanyutkan. Dia juga mulai kehilangan perasaan menyenangkan ketika ratusan kupu-kupu bermain di perutnya saat lengan halus wanitanya itu menyentuh dirinya. Dia mulai tak lagi merasakan keinginan yang amat sangat untuk selalu berada disamping wanitanya, dan dia juga mulai kehilangan perasaan ketika aliran darahnya mengalir lebih cepat saat melihat wanita miliknya bercengkrama akrab dengan laki-laki lain. Zhoumi kehilangan segala perasaan itu, dan ini sangat membuatnya gundah.

Zhoumi sangat mencintai kekasihnya, tak pernah ada wanita lain yang mengisi hatinya selain wanita bermarga Park itu hingga saat ini, tapi entah mengapa dia merasa rasa cintanya pada wanita itu mulai berkurang. Belakangan ini dia pun cenderung menghindari wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu.

Saat ini, hanyalah perasaan hambar yang mengisi relung jiwanya jika dia bersama dengan satu-satunya wanita yang berhasil menguasai hatinya itu.

“lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Siwon setelah mendengarkan penjelasan sahabatnya itu. Sebenarnya ada rasa tak mengerti di hati Choi Siwon, bagaimana mungkin seseorang bisa merasa bosan ataupun jenuh berada disamping orang yang dia cintai. Tapi Siwon tak mungkin mengungkapkan perasaannya, dia hanya menelannya sendiri, karena dia sadar, kondisi percintaannya pun tak lebih baik dari Zhoumi.

“entahlah, aku bingung” jawab Zhoumi dengan tatapan kosongnya.

“kau sudah bicara dengan Nara?” tanya Siwon lagi pada Zhoumi.

Zhoumi menggeleng. “aku tak mau menyakitinya” jawab Zhoumi kemudian.

“lalu kau akan terus diam seperti ini?!” Zhoumi terdiam, pertanyaan Siwon kali ini tak mampu dijawab olehnya.

“apakah perasaan cintamu masih ada untuk Park Nara?” Siwon kembali mengajukan pertanyaan.

“aku masih mencintainya, hanya saja seperti yang kukatakan tadi, semuanya berubah, tak seperti dulu”

“kalau begitu bertahanlah!” ucap Siwon mantap, Zhoumi menatapnya tak mengerti. “kalau kau masih mencintainya, maka bertahanlah disisinya, perbaikilah semuanya bersama-sama, sebelum semuanya menjadi benar-benar rusak. Kau tak akan mampu mendapatkan seorang wanita yang begitu memahami dan tetap setia berada disisimu selama hampir tujuh tahun ini seperti Park Nara, ingatlah kembali semua perjuangan dan kenangan indah yang terjadi selama hampir tujuh tahun kebersamaan kalian, tanyakanlah lagi pada lubuk hatimu, jangan selalu menggunakan logikamu sebagai seorang lelaki Zhoumi-ya” Siwon mencoba memberikan pengertian pada Zhoumi.

Tapi keraguan semakin menyelimuti pikiran Zhoumi. Benarkah semua yang dikatakan Choi Siwon, apakah perasaan cinta saja sudah cukup untuk bertahan dan melanjutkan semuanya. Masalahnya, sampai selama hampir tujuh tahun ini dia selalu mengandalkan perasaan cintanya, tapi apa yang dia dapat, sebuah perasaan bosan yang amat sangat. Dan jika dia hanya terus mengandalkan perasaan itu, bagaimana untuk kedepannya, tahun-tahun selanjutnya yang akan terus dia jalani bersama wanita yang dia cintai ini. Sungguh Zhoumi tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Zhoumi-ya, Jangan dengarkan omongan pria ini!” ucap Donghae cukup tegas sambil mengarahkan telunjuknya pada Choi Siwon, ucapan Donghae barusan sontak membuat Zhoumi tersadar dari lamunan singkatnya. Sementara itu, Siwon hanya menatap tak mengerti PA sekaligus sahabat karibnya ini.

“kau mendengarkan nasihat dari orang yang salah Zhoumi-ya” ucap Donghae selanjutnya. “pria melankolis ini bahkan bermasalah dengan kisah cintanya sendiri, kau mau mempercayai ucapan pria yang selalu terjebak pada wanita yang sama padahal jelas-jelas wanita itu sering mengkhianatinya, eo?” tanya Donghae pada Zhoumi yang jelas-jelas menyindir telak Choi Siwon.

“HYA! Kau sudah bosan bekerja denganku, eo?!” ucap Siwon penuh emosi, tak terima drama percintaannya dibawa-bawa kedalam obrolan mereka saat ini.

“tapi itu benarkan?! Aku hanya bicara sesuai fakta” tantang Donghae tak peduli, Donghae sudah melupakan sopan-santunnya kepada sang atasan. Sementara Siwon hanya menahan kesal menerima sindiran tajam Donghae.

“dengarkan aku Zhoumi-ya” ucap Donghae selanjutnya. “apa benar perasaan yang masih kau rasakan terhadap Park Nara adalah perasaan cinta?” Zhoumi menatap Donghae dengan pandangan bingung, dia memutuskan untuk tak menjawabnya dan hanya menunggu perkataan Donghae selanjutnya.

“jika benar itu adalah perasaan cinta, maka kau tak akan repot-repot berbicara dengan kami saat ini, kau tak akan dipusingkan dengan rasa jenuh yang menghantuimu, karena perasaan cintamu itu yang akan memberi jalan keluarnya”ucapan Donghae entah kenapa lebih terdengar masuk akal ditelinga Zhoumi saat ini.

“yakinilah dulu perasaanmu!”ucap Donghae dalam.

“jika itu ternyata bukan perasaan cinta dan perasaan jenuh selalu meliputimu, maka akhirilah! untuk apa kau pertahankan hubunganmu?! Jangan hanya karena kau merasa sayang hubungan itu sudah terlanjur terjalin sangat lama, sehingga kau merasa semuanya menjadi sia-sia jika hubungan itu berakhir. itu bukan cinta namanya, itu jual-beli, untung-rugi, itu rasa kasihan! Kau akan semakin melukai Park Nara jika seperti itu”lanjut Donghae tegas.

Dan jujur saja, pembicaraan saat ini menambah pusing dan penat di kepala Zhoumi. Pendapat kedua sahabatnya yang bertolak belakang itu membuatnya semakin tak tau dengan apa yang akan dia lakukan. Ini membuatnya tak mampu berpikir.

Namun dia sadar, dia harus segera mengambil keputusan, dia tak mungkin terus membiarkan kekasihnya menjadi korban keegoisan akan perasaannya sendiri.
-Surfeited-
Maaf ku jenuh padamu Lama sudah kupendam Tertahan dibibirku.

Mau ku tak menyakiti Meski begitu indah ku masih tetap saja… Jenuh!
Udara malam ini terasa sangat dingin. Melalui jendela ruang tamu apartmentnya, Nara memandangi langit yang sangat gelap. Sekarang memang malam hari, tetapi bukan hanya gelapnya malam yang Nara rasakan, malam ini terasa sangat pekat, langit pun tanpa bintang, seperti akan turun hujan.

Nara mengalihkan pandangannya kepada sosok laki-laki yang duduk santai di single sofa ruang tamunya. Kekasihnya itu terlihat sangat sibuk dengan ponsel tipisnya, sejak datang tadi perhatiannya tak pernah teralihkan dari benda itu. Sesekali terlihat bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis larut dalam kesenangannya.

Biasanya ketika mereka sedang bersama, pria itu sebisa mungkin akan meminimalisir hal-hal yang akan menggangu kebersamaan mereka. Biasanya, dia akan meletakkan ponsel itu didalam jas atau saku celananya, bahkan dia lebih sering menonaktifkannya, tapi kali ini semua yang dilakukan pria itu diluar kebiasaan, dan jujur saja ini membuat Park Nara khawatir.

Sesungguhnya Park Nara menyadari perubahan yang terjadi pada kekasihnya akhir-akhir ini. Laki-laki ini lebih sering menghindarinya, sikapnya pada Nara yang biasanya hangat pun, sekarang berubah lebih dingin dan cenderung tak peduli. Nara ingin mencoba mengkonfirmasikannya, namun entah mengapa dia seolah tak memiliki keberanian.

Kebersamaan hampir selama tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Nara mengenal kekasihnya sangat baik. Nara tau, ada yang tak beres dengan kekasih yang duduk dihadapannya kini. Dengan segala keberaniannya dia mencoba menginterupsi keasikan Zhoumi dengan benda kesayangannya itu.

“Oppa?”panggil Nara pelan.

“hm”jawab Zhoumi acuh, masih tak mengalihkan pandangannya dari benda yang masih setia digenggamnya.

“sebenarnya ada apa?”tanya Nara dengan nada melirih. Nara tau hubungannya sedang bermasalah, tapi Nara tak tau apa masalah itu, feelingnya sebagai seorang wanita mengatakan kalau semuanya sedang tidak berada pada jalurnya.

Ada satu hal yang sangat Nara takuti dan tak ingin dia dengar keluar dari mulut kekasih yang sudah mendampinginya selama hampir tujuh tahun. Nara tak ingin satu-satunya orang yang dia miliki, pria yang sangat dicintainya berpaling dan meninggalkannya.

Perasaan gugup dan takut tiba-tiba menyelimuti dirinya. Untuk menutupi segenap perasaan itu, Nara mencengkam pinggiran bantal yang berada dipangkuannya dengan erat, menyalurkan rasa tegangnya.

Kini Zhoumi bergeming, dia meletakkan ponselnya ke atas meja dan menyandarkan badannya pada sandaran sofa. Zhoumi tau, inilah saatnya, saat yang tepat dia membicarakan apa yang dia rasakan kepada wanitanya, saat yang tepat untuk dia membicarakan keputusannya. Cukup lama Zhoumi menatap mata coklat milik kekasihnya, Zhoumi tak mampu membaca segala macam emosi tertahan yang terlintas dimata bulat itu.

Sementara itu, Nara semakin gelisah dengan keheningan yang menyelimuti mereka, keheningan ini membuatnya tak nyaman, seperti keheningan sebelum datangnya badai, badai pertama yang akan datang dalam hubungannya yang selama ini baik-baik saja, badai yang seolah-olah akan memporak-porandakan semua mimpi indah yang pernah coba Nara rangkai bersama kekasihnya.

“mianhae”ucapan Zhoumi terdengar lelah.

“wae? Kenapa Oppa meminta maaf?”tanya Nara semakin diselimuti rasa takut. Seketika perasaan sesak meliputi Park Nara. Nara merasa kesulitan menghirup oksigennya. Mendadak dia merasa tak siap dengan jawaban apapun yang akan dikeluarkan oleh kekasihnya. Nara menegangkan otot dadanya, seperti mencoba menahan benturan keras yang akan datang, menyiapkan diri dengan jawaban apapun yang akan diutarakan laki-laki yang sangat dicintainya ini.

“bisakah kita memikirkan lagi tentang hubungan kita?”ucapan itu sontak membuat airmata menggumpal di ujung mata Park Nara.

“waeyo? Apa ada yang salah dengan hubungan kita?”tanya Nara lirih tak percaya, pasalnya dia merasa selama ini hubungan mereka baik-baik saja, mereka jarang bertengkar, hampir tidak pernah malah. Tapi ucapan Zhoumi barusan mengisyaratkan seolah-olah hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja.

Zhoumi terdiam, tak mampu berkata apapun. Ada perasaan tak nyaman dihatinya melihat airmata mulai membendung dimata bulat Park Nara. Zhoumi tau pasti dia sudah mulai menyakiti kekasihnya.

Merasa tak mendapat jawaban dari Zhoumi, Narapun mencoba berspekulasi, “apa ada wanita lain, Oppa?”tanya Nara dengan airmata yang mulai turun dipipinya.

Zhoumi yang mendengar tuduhan Nara hanya menggeleng cepat. “ani, tidak, bukan!”ucap Zhoumi panik, tak ingin wanitanya salah paham.

“lalu kenapa?”tanya Nara dengan nada yang mulai tak sabar, kini Nara kembali mencoba menahan airmatanya.

“aku tak tau, tapi bisakah kita mengistirahatkan hubungan kita?!”nada bicara Zhoumi terdengar mendesak frustasi.

“Mworago?! Kau ingin kita berakhir, Oppa?!”tanya Nara dengan emosi yang sudah tak mampu ditahannya, kini airmata membentuk aliran deras dikedua pipinya, perasaan sakit menguasai hati Nara ketika laki-laki yang sangat dia cintai meminta semuanya berakhir.

“Bukan, bukan seperti itu! aku merasa tak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini, aku butuh waktu!” ucap Zhoumi frustasi.

“kau ingin menjauh dariku, eo?!”tanya Nara nyaris tak terdengar, Nara merasa terluka dengan kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang katanya sangat mencintainya ini.

“aku cuma butuh waktu Park Nara!!!”ucap Zhoumi lelah meminta pengertian dari wanitanya, sebenarnya Zhoumi tak suka melihat airmata yang semakin deras mengalir dipipi wanitanya, tapi dia hanya ingin wanitanya itu mengerti dengan apa yang dia rasakan.

“apa kau bosan denganku??!!”isak tangis mengiringi pertanyaan yang keluar dari mulut Park Nara.

“NE! aku bosan!! Aku bosan dengan semuanya!”ucap Zhoumi keras.

Zhoumi tak pernah menyadari, ucapannya barusan menyakiti Park Nara sangat dalam. Ucapan keras Zhoumi saat ini ibarat sebuah tombak yang tepat menghujam jantung Park Nara. Membuat Nara hancur seketika.Nara mencengkram erat dadanya yang mendadak diliputi perasaan menyakitkan.

Perkataan Zhoumi seperti sebuah vonis bagi Nara, Nara mengerti, ini bukan hanya sekedar perasaan bosan, ini adalah sebuah titik balik, ketika prianya sudah tak ingin berada disampingnya, ketika prianya merasa jenuh dengan semuanya, dengan dirinya, prianya sudah tak lagi mencintainya. Nara tak pernah mengira ternyata semuanya hanya mampu bertahan sampai “hampir tujuh tahun”, kemudian berakhir.

 

*The End*

 

10 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    May 01, 2014 @ 21:32:15

    Ha….. Sequel dong thor. Bikin mereka nggak jadi pisah, mungkin itu perasaan bosan yg hanya sesaat. Kan kasian, pacaran udah 7 tahun harus kandas hanya karena perasaan bosan…

    Reply

    • silvianiokta
      May 02, 2014 @ 13:14:09

      sebenernya ini two shot, cuma dipendek-pendekin karena gak boleh lebih dari 3500word, versi lengkapnya akan aku publish di wp pribadi aku, karena cast aslinya bukan Zhoumi. makasih udah baca 🙂

      Reply

  2. Angelica MICHO Sakurada
    May 02, 2014 @ 12:19:41

    miris T-T

    Reply

  3. panda419
    May 02, 2014 @ 18:43:51

    huwaaa, miris miris banget ini.
    eonni jjang!!! ffnya daebak, sampai pengen geplak koko zhoumi.

    Reply

  4. Trackback: Sekilas Info | the other half of me
  5. Yulia
    May 08, 2014 @ 21:01:44

    Thor buat squel doong…
    sumpah ceritanya bagus tp masih gantung nih:(

    Reply

  6. Flo
    May 10, 2014 @ 00:42:30

    yah kok udahan..
    terus gimana dong sama mereka berdua..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: