Love And War [4/?]

Poster Love And War

Love And War part 4

Author: IndriChoisw

Cast: Choi Siwon || Shin Hyohyun (OC) || Choi Minho || Cho Kyuhyun ||

Genre: Romance, Family, Hurt

Rating: PG-15

Length: Chapter

Blog: www.indrianisopyanfiction.wordpress.com

 

——————————————————————————————————————————–

Hyohyun menatap Siwon tidak percaya, pria dihadapannya ini benar-benar membuatnya malu. Sementara Siwon dengan santainya tak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang kini tengah duduk terpaku akibat pernyataan Siwon yang membuat mereka kaget.

“Kau masih ingat bagaimana  pertemuan kita di Korea Nona Hyohyun?” Hyohyun tersentak, pria ini sudah mengingatnya. Hyohyun menatap Siwon lekat. Kyuhyun dan Ahra saling memandang kedua makhluk disamping mereka masing-masing. Seolah mereka menyadari ternyata mereka berdua sudah pernah bertemu. Suasana acara makan malam ini berubah sedikit canggung. Hyohyun terdiam, tak menjawab pertanyaan Siwon.

“Ahahah… kita pernah bertemu sebelumnya, dia yang mengembalikan dompetku yang hilang.” Siwon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seolah paham sedang arti tatapan Cho bersaudara. Kyuhyun dan Ahra pun sibuk ber”o” ria. Sementara itu Hyohyun menghentikan aktivitasnya.

“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, aku bertemu dengannya baru sekali dan ini pertemuan ketiga kami setelah kami bertemu di rumah sakit beberapa hari yang lalu.”

“Memangnya kau pikir kami berpikiran seperti apa? Tidak perlu kau jelaskan pun kami sudah paham.” Kyuhyun mengedipkan matanya ke arah Siwon.

“Benar kata Kyuhyun tanpa kau jelaskan pun kami sudah mengerti, hah aku senang ternyata kau bertemu pria yang tepat.” Hyohyun mendongakkan kepalanya menatap Ahra kaget.

“Maksud Eonnie?.”

“Sudahlah kalian akui saja, jika kalian sudah saling menyukai sejak pertemuan pertama kalian.” Ahra menyenggol lengan Hyohyun, Kyuhyun nampak terkikik mendengar perkataan Noonanya itu, menggelikan.

“Eonnie, mana ada timbul rasa suka hanya dengan sekali pertemuan. Itu hanya ada di dunia drama.”

“Tapi aku percaya, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya akan filosofi itu.”

“Terserah kau saja Tn. Choi.” Hyohyun menghela nafas “Dulu aku juga percaya akan hal itu, tapi sekarang tidak lagi.” batin Hyohyun.

“Sudah-sudah, kenapa jadi seperti ini? kita bahas hal lain saja. Inikan acara penyambutan kembalinya Siwon-ssi dari rumah sakit seharusnya kita rayakan ini dengan senang. Ah iya… aku dan Hyohyun sudah bersusah payah membuatkan makanan sebanyak ini untuk menyambut kedatanganmu. Aku harap kau menyukainya.”

“Mari kita nikmati makanan ini Hyung.” Kyuhyun terlihat begitu bersemangat, ia mengambil beberapa makanan itu dengan cepat.

“Maaf tapi sepertinya aku tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai, Eonnie, Kyuhyun oppa dan kau Tn. Choi aku permisi.” Hyohyun berdiri dari duduknya.

“Tidak mau makan dulu? Memangnya kau mau kemana?.”

“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku Eonnie, Eonnie tidak ingat Ny. Jung menginginkan desainnya lusa sudah selesai dan aku harus menyelesaikannya.”

“Tapi…” Kyuhyun menahan Ahra untuk tidak melarang Hyohyun pulang.

“Sudahlah Noona, asistenmu ini sedang rajin jadi biarkan dia pergi.” Siwon menatap Hyohyun dalam diam.

“Baiklah..”

“Gomawo Kyuhyun oppa, aku permisi.” Hyohyun mengambil tasnya, kemudian berjalan menuju pintu depan apartemen. Siwon menggeser kursinya kemudian berdiri menyusul Hyohyun.

“Biar aku antar sampai depan.” Hyohyun menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Siwon yang kini berdiri di belakangnya, Siwon berjalan mendekati Hyohyun.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Hyohyun berbalik berniat melanjutkan kembali langkahnya, tapi dengan cepat Siwon menggenggam tangan Hyohyun membuat gadis itu mau tidak mau kembali membalikkan tubuhnya.

“Lepaskan… “ Hyohyun berusaha melepaskan cengkraman tangan besar Siwon.

“Aku hanya ingin mengantarmu sampai depan pintu, apa itu tidak boleh? Kau gadis yang dingin, yang pernah aku temui, tapi aku menyukainya.”

“Maksudmu apa Tn. Choi? Sudahlah lepaskan… kau baru saja sembuh tapi tenagamu begitu kuat.” Hyohyun belum bisa melepaskan cengraman tangan Siwon.

Tiba-tiba seseorang melepaskan cengkraman Siwon dari tangan Hyohyun, dan orang itu adalah Kyuhyun.

“Sudahlah Hyung, biarkan Hyohyun pergi…” Hyohyun menunduk kemudian berjalan cepat menuju pintu apartemen.

“Kenapa kau menghentikanku Cho Kyuhyun?.”

“Masih banyak waktu untuk mendekatinya Hyung, tapi tidak semudah itu. Kau tidak lihat Hyohyun sedang menghindarimu.”

“Untuk apa dia menghindariku? Memangnya aku kenapa?.”

“Hah… Hyung wanita yang sudah pernah mengalami patah hati, biasanya akan sulit untuk didekati.”

“Maksudmu Hyohyun pernah mengalami patah hati?.”

“Salah satu alasan dia menerima beasiswa di London, karena hal itu.”

“Masih banyak waktu untuk kau bisa mendekatinya Hyung, tapi tetap prioritaskan kesehatanmu Hyung itu yang terpenting.” Kyuhyun menepuk pelan pundak Siwon, kemudian kembali lagi ke ruang makan. Ahra tidak menghiraukan kedua lelaki itu, dia sibuk memakan makanan yang sudah susah payah ia masak hari ini. Kyuhyun kembali lagi duduk di kursinya.

“Apa yang terjadi diantara mereka?.” Ahra bertanya dengan mulut yang masih dipenuhi oleh makanan.

“Sepertinya Siwon Hyung memang benar-benar menyukai Hyohyun.”

“Jinjja?…”

“Ne, ah Noona apa kita perlu membantu mereka? Dari yang kulihat Hyohyun sepertinya masih menyimpan luka lamanya.”

“Memang seperti itu, terkadang Hyohyun terlihat menangis. Tapi dia selalu berhasil menyembunyikannya dariku.”

“Lalu kita harus bagaimana?.” Kyuhyun seolah berpikir, sementara Siwon berdiri mematung di tempatnya, memikirkan perkataan Kyuhyun bahwa gadis itu pernah mengalami patah hati.

“Itu undangan apa Noona?.”

“Undangan?”

“Iya itu di atas meja, di sebelahmu.” Ahra mengambil kertas berbentuk undangan itu.

“Ah.. ini pasti Hyohyun menjatuhkan undangan ini.” Kyuhyun mengambil undangan itu dari tangan Ahra.

“Inikan undangan acara pameran foto di pusat kotakan, Noona? Darimana Hyohyun mendapatkan ini?.”

“Aku yang memberikannya, tadinya itu undangan untukku. Tapi karena aku sibuk dan tidak terlalu menyukai seni foto jadi aku berikan undangan itu pada Hyohyun memangnya kenapa?.”

“Siwon Hyung juga akan datang menghadiri acara ini.”

“Jinjja?.” Kyuhyun mengangguk.

“Kalau begitu mereka akan bertemu lagi di sana.”

“Siapa yang akan bertemu?” Tanya Siwon yang baru saja kembali setelah tadi dirinya dia sejenak di ruang depan.

“Kau dengan Hyohyun Hyung.”

“Nde?.”

“Hyohyun juga akan datang ke acara ini.” Kyuhyun menyerahkan undangan itu.

“Benarkah?.” Siwon nampaknya kembali berbinar.

“Kita akan bertemu lagi…” Siwon tersenyum senang menatap undangan yang sama dengan miliknya itu.

——————————

Hyohyun sampai di apartemen barunya yang bersebelahan dengan apartemen milik Ahra. Hyohyun berjalan gontai memasuki apartemen miliknya itu. Ditaruhnya tas miliknya itu sembarangan, kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas, menuangkan air tersebut ke dalam gelas dan meneguknya sampai habis. Gadis itu kemudian merebahkan tubuh kecilnya itu di atas sofa, ditatapnya langit-langit seolah-olah tengah menerawang sesuatu.

“Dunia ini sempit sekali, sehingga aku harus menemui pria itu lagi.” Hyohyun mengingat sesuatu kalau dia menyimpan dompet milik pria itu.

“Seharusnya aku kembalikan benda ini tadi, jadi aku tidak perlu bertemu lagi dengannya. Ahh.. bodoh kau Hyohyun.” Hyohyun menendang-nendang sofa itu dengan kakinya. Kemudian Hyohyun beranjak dari sofa menuju kamarnya.

Seperti tadi, gadis itu merebahkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur, wajahnya ia telungkupkan di atas bantal. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada pesan masuk. Hyohyun mengambil handphonenya dan membuka pesan tersebut.

‘Desain yang kau kerjakan masih ada di kantor, apa kau tidak membawanya? Aku ada di depan apartemenmu sekarang, cepat buka pintunya.’

Hyohyun dengan cepat turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu apartemen. Dia melihat intercom untuk memastikan bahwa Ahra memang berada di depan apartemennya. Hyohyun membukakan pintu itu, Ahra menatapnya sedikit garang sambil berkacak pinggang. Hyohyun tidak berani menatap Ahra, Ahra memasuki apartemen Hyohyun kemudian menyerahkan undangan yang tadi terjatuh di apartemen Siwon dan juga kertas desain yang tadi Hyohyun katakan, akan dia kerjakan sebelum pergi dari apartemen Siwon.

“Kau tadi menjatuhkan undangan ini dan ini desain yang kau bilang harus segera kau kerjakan.”

“Eonnie…”

“Aku tahu tadi hanya alasanmu saja, desain itu sudah hampir rampung. Besok juga akan selesai iya kan?.”

“Eonnie… marah padaku?.”

“Untuk apa aku marah padamu, aku hanya tidak suka melihatmu seperti ini terus. Aku tahu memang tidak mudah bagimu untuk bisa menjalin hubungan lagi dengan pria lain. Tapi tidak bisakah kau berteman, Siwon bukan pria biasa dia orang yang baik dan pewaris perusahaan ternama di Korea.”

“Justru itu Eonnie, apa lebihnya aku sehingga pria itu bisa menyukaiku? Bahkan kau lebih cantik daripada aku.”

“Aku bahkan tidak memiliki apa-apa yang bisa aku banggakan, aku bukan terlahir dari keluarga mapan. Kehidupanku dulu begitu sulit dan Eonnie tahu, kesalahanku saat itu adalah menyukai pria yang bahkan tidak sederajat denganku, dia kaya raya dan aku tidak memiliki apa-apa.” Hyohyun menunduk menyembunyikan kesedihannya harus mengingat masa lalu.

“Saat itu aku berpikir, bahwa setidaknya setelah aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, kehadiran pria itu di dalam kehidupanku memberikan semangat untukku, karena aku masih mendapatkan cinta darinya dan dia adalah satu-satunya orang yang peduli terhadapku. Tapi karena status kami yang sangat berbeda, dia pergi meninggalkanku.” Ahra mendekati Hyohyun kemudian memeluknya.

“Maafkan aku jika aku membuka luka lamamu, tapi itu hanya masa lalu Hyohyun-ah, dan kau hidup dimasa sekarang. Sepengetahuanku Siwon bukan orang yang seperti itu, dia memang terlahir dari keluarga kaya raya, tapi selama ini dia selalu berbuat seenaknya sendiri. Kau tahu Kyuhyun pernah bercerita padaku kalau Siwon dan ayahnya sering berselisih paham, Siwon selalu melakukan apa yang ia inginkan bahkan sampai ia harus bertengkar terlebih dahulu dengan orangtuanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku yakin Siwon adalah pria yang baik.”

“Kau salah, Siwon pernah diam-diam menyukaiku tapi aku secara halus menolaknya, dia bukan tipeku. Aku hanya menganggapnya sebagai teman karena dia begitu dekat dengan Kyuhyun.”

“Jinjjayo?.”

“Iya… kau tahu dia akan sangat perhatian terhadap wanita yang dia sukai, dan kurasa kau beruntung Hyohyun-ah.”

“Tapi Eonnie…”

“Ssssssttt… aku tidak menyuruhmu untuk menyukainya, tapi bertemanlah dengannya. Kau akan lebih mengenalnya jika kau sudah  berteman dengannya, dan kau dapat menilai sendiri bagaimana dia sebenarnya.”

Ahra menatap Hyohyun, memberi keyakinan bahwa tidak ada salahnya kan berteman dengan pria itu, ya hanya berteman tidak lebih. Hyohyun sedikit tersenyum kemudian mengangguk.

Siwon duduk di ranjang besar miliknya. matanya menerawang langit-langit kamar yang cukup luas ini. Siwon sedikit menggeser duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke sisi ranjang, tangannya membuka laci. Siwon mengambil sebuah kertas yang sama persis dengan yang tadi ia lihat saat acara makan malam.

“2 hari lagi, kita akan bertemu di acara ini nona Shin.” Siwon menyandarkan kembali tubuhnya ke kepala ranjang dan tersenyum memandangi kertas undangan itu. Kegiatannya  terhenti tatkala seseorang memasuki kamarnya dengan membawa nampan berisi segelas air dan beberapa obat. Siwon mendengus sebentar, ini jadwalnya untuk minum obat. Siwon meletakkan undangan itu di sampingnya dan mengalihkan perhatiannya kepada Kyuhyun yang kini duduk di sampingnya. Kyuhyun meletakkan nampan tersebut di atas meja.

“Sudah waktunya kau minum obat Hyung..” Kyuhyun mengeluarkan beberapa obat yang harus Siwon minum. Kyuhyun memberikan obat dan juga segelas air pada Siwon. Pria itu menerimanya dan meneguk beberapa obat tersebut dalam satu tegukan. Resiko menjadi seseorang yang berpenyakitan seperti dirinya adalah tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya obat kimia, sekalipun obat tersebut tidak membantu sepenuhnya, namun setidaknya bisa mengurangi rasa sakit yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya. Siwon memberikan gelas tersebut kepada Kyuhyun.

“Berapa banyak lagi obat yang harus aku teguk setiap harinya?.”

“Dokter menyarankan agar kau meminum obat-obat ini sampai habis, sampai terapi dilakukan kembali.”

“Meminum obat seperti ini akan menjadi rutinitasku mulai saat ini…ckckck..”

“Semua ini demi kesembuhanmu Hyung, kau ingat tujuanmu ke sini untuk apa? Kau harus sembuh, dokter memberikan obat ini padaku, kau harus membawanya kemana-mana, jika dadamu terasa sesak segera minum obat ini” Kyuhyun memberikan obat dalam botol yang masih utuh.

“Kau tidak bisa terus mengurusiku seperti ini Kyuhyun-ah, tidak kah kau bosan selalu saja mengikutiku kemanapun aku pergi? Hanya untuk memastikan  kalau aku baik-baik saja.”

“Bohong kalau aku tidak merasa bosan, tapi aku memiliki tanggung jawab untuk menjagamu Hyung. Paman Kiho memintaku untuk menjagamu.”

“Aku bukan anak kecil lagi Kyu, kau perlu menghirup udara segar tanpa harus terbebani untuk menjagaku selama kita di sini.”

“Aku punya urusan lain selain menjagamu selama kita di sini. Aku punya bisnis dengan kenalanku disini, jadi aku tidak akan mati kebosanan hanya untuk mengurusimu Hyung.”

“Baguslah, setidaknya  aku  tidak harus melihatmu setiap saat.”

“Maksudmu, kau bosan melihatkku Hyung.” Kyuhyun memasang wajahnya sedikit kesal kepada Siwon.

“Aku sudah terlalu hapal dengan karakter wajahmu itu Kyu dan aku perlu pemandangan yang lebih menarik, daripada harus memandangi wajah evilmu setiap saat.”

“Bilang saja kau senang aku memiliki kegiatan lain, sehingga kau lebih leluasa untuk mendekati Hyohyun tanpa terganggu olehku, iyakan..” Siwon menjentikkan jarinya di depan Kyuhyun dengan wajah senang, rupanya dongsaeng kesayangannya ini sudah tahu maksudnya.

“Ternyata IQ mu itu diatas rata-rata, sekarang aku tidak meragukannya lagi.” Kyuhyun mendengus sebal, sementara Siwon tersenyum tanpa dosa.

“Hyung, apa yang kau sukai dari Hyohyun? kalian bahkan hanya bertemu beberapa kali ..”

“Entahlah… sejak pertemuan kami di Korea waktu itu, aku menyukainya…dan sampai saat ini aku belum menemukan alasannya.” Kyuhyun tersenyum miring melihat ekspresi Hyungnya itu, sungguh ini kali pertama Kyuhyun melihat Siwon terlihat tidak waras, Siwon tidak pernah menunjukkan ekspersi seperti ini selama mereka saling kenal. Ckckck cinta bisa merubah karakter seseorang.

Kyuhyun membereskan gelas dan merapikan tempat obat, kemudian pergi dari kamar Siwon. membiarkan Siwon dengan kegilaannya sekarang.

“Jangan tidur terlalu malam Hyung…” itu lah ucapan Kyuhyun sebelum ia menutup pintu kamar Siwon. Siwon melirik kembali undangan yang tadi diletakannya, kemudian menyimpan undang itu kembali ketempatnya. Siwon membaringkan tubuhnya bersiap untuk tidur.

————————————————————————

Seoul, South Korea

Minho tengah mengancingkan kancing lengan kemejanya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dan seseorang masuk ke dalam kamarnya. Minho melihat sekilas seseorang yang memasuki kamarnya yang tak lain adalah ibunya sendiri. Minho kembali menyibukkan dirinya mengancingkan kancing lengan kemejanya yang lain. Minho mengambil dasi yang sudah di siapkan ibunya beberapa menit yang lalu. Sena mendekati Minho kemudian membantu putranya itu mengenakan dasinya dengan benar.

“Eomma senang kau mau menuruti keinginan Eomma, kau memang putra kebanggaan Eomma Minho-ya, Gomawo.”  Minho menatap ke arah lain.

“Asalkan itu bisa membuat Eomma senang…” ucap Minho tanpa menatap ibunya. Sena tersenyum pahit, ia tahu Minho tidak sepenuhnya melakukan ini dengan suka rela. Tapi Sena tidak ambil pusing yang  terpenting Minho tetap akan menjalankan perusahaan ayahnya. Sena mengambil jas yang sepadan dengan kemeja Minho, kemudian membantunya mengenakan jas tersebut.

“Kau tahu Minho-ya, kau terlihat tampan hari ini. Eomma harap kau akan melakukan yang terbaik.” Sena merapikan jas yang Minho kenakan. Minho tersenyum kaku menanggapi ucapan ibunya.

Minho menuruni anak tangga diikuti Sena yang kini merangkul tangan putra kesayangannya itu. Kiho dan Jung Shilla yang sengaja diundang oleh Kiho sudah duduk manis di meja makan. Sena dan Minho mengampiri mereka di ruang makan,  Minho terlihat kaget karena sekarang gadis yang akan dijodohkan dengannya sudah duduk di samping kursinya dengan penampilan formal seperti dirinya. Shilla tersenyum ketika melihat Minho datang dan duduk di sampingnya.

“Annyeong Minho oppa…” sapaan Shilla tidak ditanggapi sama sekali oleh Minho, Minho malah sibuk mengambil makanannya. Shilla sedikit mendengus melihat Minho dingin terhadapnya, tapi Shilla tidak dapat memungkiri kalau Minho yang dingin ini malah semakin menarik perhatiannya.

Kiho mempersilahkan Shilla dan yang lainnya untuk memulai sarapan. Suasana sarapan tidak begitu menarik, Shilla justru lebih banyak mengobrol dengan Sena dan Kiho disela-sela acara sarapan mereka. Minho sama sekali tidak tertarik membuka mulutnya untuk berbicara. Tiba-tiba Minho meletakkan sendok dan garpu miliknya dan menggeser kursi sehingga menimbulkan suara membuat orang-orang yang berada di meja makan mengalihkan perhatiannya pada Minho.

“Aku sudah selesai, aku akan berangkat sekarang…” Kiho mencegah Minho yang baru akan membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruangan itu.

“Minho-ya tunggu, kau pergi ke kantor dengan Shilla. Mulai hari ini Shilla adalah asistenmu, dia akan membantu pekerjaanmu di kantor.” Minho memandang ayahnya tidak percaya kemudian beralih memandang Shilla, gadis itu merapikan pakaiannya kemudian berpamitan pada Kiho dan Sena.

“Paman Bibi, kami berangkat…annyeong.” Shilla segera mengikuti Minho dan berusaha menyamakan langkahnya dengan pria itu.

Minho memasuki mobilnya diikuti Shilla yang kini duduk di sebelahnya. Selama perjalanan tidak ada yang mereka bicarakan. Baik hanya untuk berkenalan lebih jauh ataupun membicarakan masalah perjodohan mereka. Beberapa kali Shilla melirik pria tampan disampingnya ini, Shilla seperti terbius dengan penampilan pria ini yang sangat tampan menurutnya.

“Tidak bisakah kau berhenti melihatku seperti itu…” Minho baru saja berbicara padanya. Shilla mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum dan membenarkan posisi duduknya.

“Kau terlihat tampan hari ini Minho oppa…” ucap Shilla tanpa berani melihat Minho. Minho mendengus, “Siapa yang mengijinkanmu memanggilku oppa..?” ucap Minho sarkatis.

“Ah… kau tidak suka aku panggil oppa…”

“Tidak!…”

“Baiklah… aku tidak akan memanggilmu seperti itu Minho-ssi.” Shilla sedikit kesal kepada Minho, nada bicaranya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak suka dengannya. Shilla memilih diam dan beralih melihat pemandangan jalan dari jendela.

Sesampainya mereka di kantor, Minho sama sekali tidak menganggap Shilla ada. Minho memperlakukan Shilla seadanya, jika di depan orang lain Minho akan terlihat biasa dengan Shilla dan berbicara seperti seharusnya. Namun ketika mereka berdua di ruangan yang sama, Minho tidak memperdulikan Shilla, sekalipun gadis itu berusaha memberi perhatian padanya.

“Minho-ssi, aku membawakan makan siang untukmu. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu apa, jadi aku membelikan menu yang sama denganku.” Shilla menyerahkan sebungkus kotak makanan pada Minho, pria itu masih sibuk dengan kertas-kertas penting di hadapannya. Minho melirik Shilla dan makanan yang baru saja diberikan gadis itu. Minho kembali menyentuh kertas-kertas tersebut tanpa memperdulikan Shilla yang kini tengah mendengus sebal. Tanpa di duga Shilla berani mengambil kertas-kertas penting itu dari tangan Minho, membuat Minho mendelik ke arah Shilla.

“Apa yang kau lakukan?! CEPAT KEMBALIKAN…”

“Tidak!, ini sudah waktunya makan siang Minho-ssi, sampai kapan kau akan mengerjakan ini?.” Minho menggeser kursinya kemudian menghampiri Shilla.

“Kembalikan…”

“Tidak… kau harus makan siang, aku sudah membawakannya untukmu.” Minho berusaha mengambil berkas-berkas penting itu dari tangan Shilla, namun rupanya Shilla pandai mempermainkan Minho, sehingga bisa dilihat saat ini pria itu menatap marah pada Shilla.

“Ayolah… apa salahnya berhenti sebentar untuk makan. Toh paman Kiho tidak akan menggantungmu karena belum menyelesaikan berkas-berkas ini kan..” Minho mendengus kemudian memilih keluar dari ruangan ini. Namun, dengan sigap tangan Shilla mencegahnya. Tanpa terduga Shilla memegang pundak Minho dan berjinjit mendaratkan bibirnya di bibir Minho. Seketika Minho kaget dengan segera mendorong tubuh gadis itu.

“Apa yang kau lakukan!…” Minho menyeka bibirnya yang baru saja dicium oleh Shilla.

“Kalau begitu ayo makan!..atau kau mau aku menciummu lagi!…” Shilla sudah bersiap akan kembali mencium Minho namun dengan segera Minho mencegah Shilla.

 

Minho mendengus kesal dan mau tidak mau Minho kembali ke meja kerjanya dan menerima makanan yang diberikan Shilla padanya. Shilla tersenyum puas ketika melihat Minho membuka kotak makanan pemberiannya. Gadis itu kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Minho.

“Kau tidak malu mencium seorang pria?…” Shilla menatap Minho yang kini menatapnya tajam.

“Kau pria pertama yang aku cium seperti tadi…” ucap Shilla tenang kemudian beralih membuka kotak makanan miliknya.

“Cihh!… “ Minho mendengus meremehkan perkataan Shilla.

“Aku berkata jujur, kau pria pertama yang berani aku cium, Minho-ssi.” Minho tidak menanggapi Shilla, Shilla menghela nafasnya.

“Minho-ssi aku menyukaimu.” Ucapan Shilla membuat Minho tersedak, pria itu segera mengambil air minum dan meneguknya sampai habis. Belum usai ia bisa tenang setelah perlakuan gadis ini yang tiba-tiba saja menciumnya, kini Minho dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis dihadapannya ini tengah menyatakan cinta padanya.

“Kau gila? Mana ada wanita menyatakan cinta terlebih dahulu pada seorang pria…” ucap Minho tidak suka.

“Kenapa? Memang apa salahnya… “

“Kau… semudah itukah kau menyukai seseorang? Kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain dan kau berani mengatakan kau menyukaiku.. tidak bisa dipercaya..” Minho kembali meremehkan perkataan Shilla. Namun nampaknya Shilla tidak memperdulikan hal itu.

“Aku benar-benar menyukaimu Minho-ssi dan aku yakin dengan perasaanku kepadamu.”

“Tapi aku tidak meyukaimu…”

“Aku tahu…”

“Bagus kalau kau sudah tahu, jadi acara perjodohan kita tidak perlu dilanjutkan lagi… dan sepertinya ayah sengaja menjadikanmu asistenku karena masalah perjodohan itu.”

“Aku tetap akan melanjutkan perjodohan kita, lagipula kedua orangtua kita sudah sepakat akan hal ini…”

“Kau ini keras kepala… aku sudah bilangkan aku tidak menyukaimu..”

“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Minho-ssi.”

“Cihh!… kau bukan tipeku Nona Jung, jadi percuma saja sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu.”

“Kita lihat saja nanti…” Shilla menatap punggung Minho yang baru saja melewati pintu ruangan mereka.

“Kita lihat Minho-ssi, aku Jung Shilla…tidak akan menyerah begitu saja.”

——————————————————————-

Saturday, London, Inggris. 17.00 waktu setempat

Siwon tengah mencari sesuatu, ia mengobrak-abrik laci dan juga lemari pakaiannya. Kyuhyun yang mendengar suara gaduh dari kamar Siwon, segera menghampiri Siwon.

“Ada apa Hyung, kenapa berisik sekali?…” tanya Kyuhyun yang baru saja selesai mandi.

“Kyu, kau melihat dompet hitam milikku? Aku sudah mencarinya sejak tadi tapi tidak ketemu juga..”

“Mana aku tahu Hyung, lagipula aku tidak melihatmu mengeluarkan dompetmu beberapa hari ini.”

“Apa mungkin tertinggal di rumah sakit?.”

“Mungkin saja, kalau begitu akau hubungi pihak rumah sakit untuk mencarinya.” Kyuhyun segera menghubungi rumah sakit untuk mencari tahu apakah dompet Siwon tertinggal disana. Siwon kembali mencari disetiap sudut kamarnya. Kyuhyun baru saja selesai menghubungi pihak rumah sakit, Siwon langsung menatapnya.

“Bagaimana?.”

“Pihak rumah sakit sudah mencarinya di ruanganmu, tapi mereka tidak menemukan barang yang tertinggal disana.”

“Kenapa aku baru menyadari sekarang jika dompetku tidak ada…ah sial!.”

“Hyung…sudahlah mungkin kau lupa menaruhnya dimana… sekarang sudah hampir jam 18.00 sore, bukankah kau akan menjemput Hyohyun.”

“Tapi Kyu, semua ATM dan kartu kreditku ada disana semua. Foto Eomma juga tersimpan disana, bagaimana mungkin aku tidak panik, ahhh… kenapa aku bisa seceroboh ini..” Siwon menjambak rambutnya.

“Bawa saja dompetku, biar aku yang akan mencarikan dompetmu. Sekarang cepat kau rapikan kembali penampilanmu itu Hyung, dan jemput Hyohyun sebelum dia berangkat sendiri ke sana.” Siwon menerima dompet Kyuhyun, dan menarik nafasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya.kemudian kembali bercermin dan merapikan penampilannya seperti semula.

“Selamat bersenang-senang…” ucapa Kyuhyun sebelum Siwon pergi melajukan mobil audi mewah miliknya.

Hyohyun tengah dibantu Ahra memoles wajahnya. Hari ini adalah hari dimana Hyohyun akan menghadiri undangan itu. Ahra sengaja memilihkan gaun yang cocok untuk gadis itu.

“Eonnie apa ini tidak terlalu berlebihan.. gaun ini terlalu mewah untukku.”

“Acara ini bukan acara biasa Hyohyun-ah, selain acara pameran seni foto yang  resmi juga akan ada acara lelang dimana hasil karya foto dari fotografer ternama akan dipampang di acara tersebut. Kau tidak boleh terlihat kalah diantara para tamu lainnya.” Hyohyun menghela nafasnya dan kembali menerima perlakuan Ahra yang tengan memainkan tangan lihainya di wajahnya ini. Setelah  beberapa menit berlalu, Hyohyun kini tengah memandangi dirinya di depan cermin menatap takjub dirinya yang terlihat berbeda dari biasanya.

“Seseorang sudah menunggumu dibawah… dia akan mengantarkanmu ke sana.”

“Siapa..?”

“Kau akan tahu sendiri.. sekarang ayo kita turun.”

Siwon sedang menunggu Hyohyun keluar dari apartemennya. Hyohyun dan Ahra kini berjalan ke area parkir apartemen dimana Siwon sedang menunggunya. Ahra dan Hyohyun mendekati pria yang kini tengah berdiri menyandarkan tubuhnya  di samping pintu mobil. Ahra memanggilnya dan bertemu pandanglah Siwon dan Hyohyun saat ini. Gadis itu terlihat kaget sementara Siwon tersenyum senang kemudian mengampiri mereka.

“Kalian berdua terlihat serasi..” ucap Ahra membuat Siwon tersipu malu.

“Eonnie…”

“Hyohyun-ah kau pergi bersama Siwon, kebetulan Siwon juga diundang ke acara tersebut. Jadi kau tidak usah khawatir karena kau ada teman, iya kan Siwon-ssi?.” Siwon mengangguk, kemudian membukakan pintu mobil untuk Hyohyun.

“Selamat nikmati acaranya… “

“Gomawo Ahra-ssi.” Siwon pamit pada Ahra dan segera memasuki mobilnya. Hyohyun menurunkan kaca mobil kemudian menatap Ahra sebentar, “Nikmati acaranya, selamat bersenang-senang…” ucap Ahra setelah melihat Hyohyun memandangnya.

Siwon pun melajukan mobil audi miliknya, Ahra melambai-lambaikan tangannya sampai mobil Siwon tidak terlihat lagi.

Siwon terlihat melirik Hyohyun yang sejak tadi terdiam memandangi jalanan London dari kaca jendela disampingnya.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Hyohyun menoleh.

“Benarkah?.” Ucap Hyohyun tanpa memnadang Siwon.

“Hmm.. gaunmu indah sekali..”

“Eonnie yang memilihkannya untukku.”

“Selera Ahra-ssi memang bagus..” Hyohyun mengangguk.

“Shin Hyohyun, aku… maksudku ucapanku tempo hari itu aku mengatakannya dengan jujur.”

“Bisakah… kita tidak membahasnya.” Ucap Hyohyun pelan, namun Siwon masih bisa mendengarnya.

“Baiklah..”

Mereka sudah sampai di tempat acara pameran tersebut diselenggarakan. Sudah banyak tamu yang hadir disana. Semuanya dari kalangan kelas atas, Hyohyun melihat mobil-mobil mewah yang mereka kenakan juga pakaian-pakaian yang terlihat sangat mewah dan elegan.

 

Siwon turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju pintu mobil dimana Hyohyun duduk. Siwon membukakan pintu mobil tersebut dan mengulurkan tangannya pada Hyohyun. Hyohyun dengan sedikit ragu menerima uluran tangan Siwon. Hyohyun terlihat takjub dengan tempat acara ini ketika mereka berdua memasuki acara tersebut.

Beberapa tamu sedang melihat beberapa hasil foto yang dipamerkan di ruangan khusus bersebelahan dengan ruangan dimana acara lelang akan diselenggarakan nanti. Siwon mengajak Hyohyun untuk melihat dulu hasil foto yang di pajang di sana.

Hyohyun hanya berdecak kagum setiap ia melihat satu-persatu foto-foto yang terpajang disana.  Sementara Siwon mengalihkan pandangannya pada sosok yang jauh lebih menarik dari foto-foto yang tengah dikagumi oleh seseorang yang kini menjadi objek yang sangat menarik menurutnya.

 

Siwon mengeluarkan ponsel miliknya, Hyohyun tidak menyadari Siwon sedari tadi hanya melihat ke arahnya, Hyohyun terlalu sibuk dengan kegiatannya mengagumi hasil karya manusia yang begitu menakjubkan ini. Siwon memotret moment dimana Hyohyun tengah tersenyum kagum dan beberapa kali Siwon melakukan itu tanpa disadari oleh Hyohyun. Setelah mereka sampai pada pajangan foto terakhir Siwon memasukkan ponselnya, dan menuntun Hyohyun ke ruang lelang yang kini sudah diisi oleh banyak tamu.

Siwon meraskan tempukan pelan di pundaknya kemudian ia meoleh dan menemukan sosok teman yang sudah lama tidak dilihatnya.

“Oh Bryan! How are You?.” Siwon dan pria yang diketahui bernama Bryan ini berpelukan.

“Im fine, Siwonnie. Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

“Aku juga Bryan.” Bryan mengalihkan pandangannya kepada sesosok wanita cantik yang sejak tadi melihat interaksi mereka berdua.

“Dia pacarmu?” Tunjuk Bryan pada Hyohyun.

“Bu-“

“Begitulah…” Siwon merangkul pundak Hyohyun, membuat gadis itu kaget.

“Aku Bryan… senang bertemu denganmu.”

“Shin Hyohyun, senang juga bertemu denganmu.”

“Ah… aku senang akhirnya kau bisa mendapatkan wanita secantik ini.”

“Terima kasih…”

“Kalau begitu aku permisi… selamat bersenang-senang.” Siwon segera melepaskan rangkulannya pada Hyohyun.

“Mianhae…aku tidak bermaksud-“

“Aku mengerti…” sela Hyohyun yang kini merasa canggung, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.

Sampai acara tersebut berakhir kecanggungan diantara keduanya masih terasa, sekarang mereka berdua tengah duduk di kursi mobil tanpa ada yang bicara.

“Ekhem… Nona Shin…”

“Nde?!..”

“Bisakah… kita bertemu lagi?..”

“Maksudmu?…”

“Bolehkah kapan-kapan kita jalan berdua seperti ini…”

“Aku tidak tahu…”

“Sebagai teman, kita bertemu sebagai teman bagaimana?”

“Sebagai temankan… itu tidak masalah…”

“Itu artinya kau mengijinkanku? Aku anggap itu jawaban iya…”

“Sudah malam, sampai jumpa…” Hyohyun bergegas keluar dari mobil Siwon. Siwon menurunkan kaca mobilnya, melihat Hyohyun pergi memasuki apartemennya.

“Sampai berjumpa lagi…” Siwon mengeluarkan ponsel dan mengganti wallpaper ponselnya dengan foto Hyohyun saat di pameran tadi. Siwon tersenyum dan melajukan mobil tersebut menembus malamnya kota London.

.

.

To be Continue…

 

 

 

5 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    May 07, 2014 @ 11:47:44

    Haa…. Siwon udah mulai pendekatan ni….

    Reply

  2. rhaaa18
    May 07, 2014 @ 11:58:41

    Ceritanya selalu menarik, dan ff ini ff yang paling ditunggu-tunggu.. Daebak 🙂 keep writing

    Ditunggu kelanjutannya 😉

    Reply

  3. Yulia
    May 07, 2014 @ 12:49:12

    ceritanya makin seru dan di tunggu2…
    lanjut Thor:)

    Reply

  4. inggarkichulsung
    May 09, 2014 @ 07:32:24

    Wah Siwon oppa benar2 menyukai Hyohyun, pedekate nya gencar sekali..

    Reply

  5. novanofriani
    May 24, 2014 @ 13:28:01

    Errr siwoon mau doooong

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: