STORY ABOUT LOVE – REQUEST

Background 0001

Nama                           : Mirta Rey

 

Judul                           :  STORY ABOUT LOVE – REQUEST

 

Recommend Song       : Request – INFINITE

 

Cast                             : Yoon Rae (OC)

Cho Kyu Hyun

Xi Lu Han

Lee Dong Hae

Han Seung Ah (OC)

Lee Hyuk Jae

Nam Yura (OC)

Kim Jong In

Yoon Doo Joon

Genre                          : Romance, comedy, or sad maybe?

Rating                         : 15-PG

Lenght                         : One-Shoot

Disclaimer                   : Maaf jika ceritanya aneh, bahasanya kebaik-balik, tulisannya salah-salah, soalnya ini baru pertama kali kirim di fanfiction superjunior2010. Biasanyakan cuma buat aja, nggak pernah dipublish. Semoga bisa menghibur ya…langsung aja, sebelumnya jangan jadi plagiat ya ^^

 

 

 

Author Prov

 

Terlihat beberapa orang sedang sibuk berjalan kesana kemari membawa kotak makan di tangannya, ada pula yang sedang mengantri untuk mendapat giliran, dan juga terdengar suara tawa di beberapa sudut di sekitar kantin Hanbok High School.

 

Di sudut ruangan, seorang yeoja sedang menikmati makan siangnya dengan lahap, tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya. Terlihat sekali bahwa yeoja itu sedang lapar. Bagaimana tidak? Semenjak kemarin sore hingga siang ini, yeoja itu belum sempat mengisi perutnya. Karena banyak hal yang harus yeoja itu lakukan, yaitu mengerjakan tugas yang menumpuk. Akhirnya yeoja itu bangun kesiangan, sehingga ia hanya sempat memakan sepotong roti dan segelas susu tadi pagi.

 

Tanpa yeoja itu sadari, seseorang tengah duduk di sebelahnya. “Hey…” sapa orang itu kepada yeoja tadi. Namun yeoja itu tetap asik melahap makanannya, tanpa memperhatikan seseorang di sebelahnya.

 

“Hey…apa kau tuli?” tanya orang itu lagi, dengan nada agak meninggi.

 

“Eoo…” yeoja itu terkejut ketika melihat seorang namja yang sedang duduk di sebelahnya dengan santai. “Kyu…Hyun Sun-sunbae?” lanjutnya, setelah dengan susah payah ia menelan makanannya masuk kedalam perut.

 

“Eoh, akhirnya kau dengar juga.” jawab namja itu, Cho Kyuhyun. “Maaf aku menganggumu, tak ada kursi kosong lagi selain disini.” lanjutnya sambil memakan makananya dengan santai.

 

Yeoja itu, Yoon Rae. Benar-benar tidak peracaya, dengan seseorang yang berada di hadapannya. Ia masih belum bergerak sedikitpun dari posisinya yang mengahadap kearah Kyuhyun dengan mulut terbuka. Cho Kyuhyun, seorang sunbae kelas 3-1 yang terkenal dengan wajah tampan, pintar, dan digilai para gadis, sedang duduk di sampaingnya dan berbicara dengannya. Oh tidak…apakah Rae bermimpi indah semalam.

 

“Aku tahu aku tampan, jadi jangan melihatku seperti itu.” ujar Kyuhyun

 

“A-aniyo, siapa yang sedang melihatmu?” Rae segera memalingkan wajahnya kearah box didepannya “Dan kau tahu sunbae? Percaya dirimu terlalu tinggi!” lanjut Rae sambil memakan makanannya kembali.

 

“Tapi memang benarkan, aku ini memang tampan.”  balas Kyuhyun dan menghadapkan wajahnya kearah Rae.

 

Ya, kuakui kau memang tampan Kyuhyun sunbae. Hingga membuatku tergila-gila padamu, maksudku menjadi fans beratmu, seperti kebanyakan yeoja diluar sana. Padahal dulu, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Batin Rae

 

“Terserah apa katamu.” balas Rae mengendus, bersikap acuh. Berbanding terbalik dengan hatinya yang berteriak senang, berbunga-bunga.

 

Kyuhyun pun hanya tertawa melihat tingkah hobnaenya. Ia memandang Rae dengan tatapan sulit diartikan. “Eoh…ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya Kyuhyun.

 

“Dan juga, sepertinya beberapa hari yang lalu, aku melihatmu dengan Kim Jong In di sekitar rumahku. Benarkah?” Lanjut Kyuhyun santai, dan kembali memakan makanannya.

 

Flashback

 

“Jong In-a, lewat jalan itu saja, jangan lurus kesana!” Rae menjulurkan tanganya tanganya di depan Jong In yang sedang mengendarai motor dan mengarahkanya kearah kanan.

 

“Ya-Noona, tanganmu menghalangiku” Jong In menyingkirkan tangan Rae kearah belakang.

 

“Oh, ayolah Jong-In, cepat belok daerah itu. Sama sajakan, kita nanti juga sampai rumahmu.”

 

“Aigoo noona, jika kita berbelok kesitu, kita harus memutar. Dan itu memakan waktu yang lama. Lihat rumahku saja sudah terlihat, tinggal satu block, hanya melewati lima rumah lagi.” Jong In pun mengotot dengan pendiriannya.

 

“Aissh cepat berbelok, nanti aku tlaktir MD” rayu Rae

 

“Arraseo noona” seru Jong In cepat

 

Rae pun tersenyum, ia tahu Jong In tidak akan menolak jika sudah mendengar kata yang berbau chicken. Rae tau jika ia berbelok ke jalan itu, akan memakan waktu yang lebih lama dibanding lurus. Namun Rae ingin melewati rumah pujaan hatinya, yaitu Cho Kyuhyun. Jika ia berbelok, hanya tinggal melewati enam rumah dia sudah dapat melihat rumah Kyuhyun. Dan ia berharap Kyuhyun sedang berada di teras rumahnya. Maka dari itu, Rae memaksa Jong In untuk melewati jalan tersebut.

 

Seketika harapan Rae untuk melihat Kyuhyun pun pupus. Rumah Kyuhyun terlihat seperti tak ada orang, sepi.

 

“Noona, jangan memasang tampang seperti itu. Mungkin ini belum keberuntunganmu untuk melihat Kyuhyun subnae.” Jong In melihat kearah Rae melewati spion.

 

“Ya- darimana kau tahu aku ingin melihat Kyuhyun subnae?” tanya Rae terkejut dengan wajah sedikit memerah.

 

“RAHASIA” jawab Jong In tersenyum miring.

 

Tanpa mereka sadari, seseorang menatap keduanya dengan tatapan intens dari balik kaca yang berada di lantai dua.

 

Flashback end

 

Author Prov end,

 

Rae Prov,

 

“Terserah apa katamu.” balasku mengendus, seolah aku bersikap acuh.  Padahal dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu berlari kearah Xi Luhan memeluknya dan menceritakan apa yang telah terjadi padaku hari ini.

 

Tentang Xi Luhan, dimana dia? Kenapa sampai sekarang ia belum kelihatan batang hidungnya. Sahabat macam apa dia ini, menyuruku menunggunya bermenit-menit, sendiri di kantin seluas ini. Dan juga, dimana Nam Yura yang selalu mengekoriku kemana saja, kenapa sekarang tidak terlihat.

 

Kudengar suara tawa bass di sampingku, membuat taman hayalku hilang seketika dan kembali ke alam sadarku. “Eoh…ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya Kyuhyun.

 

“Dan juga, sepertinya beberapa hari yang lalu, aku melihatmu dengan Kim Jong In di sekitar rumahku. Benarkah?” lanjut Kyuhyun santai, dan kembali memakan makanannya.

 

Apa? Jadi dia bearada dirumahnya dan dia melihatku dengan Jong In. Astaga, tapi tunggu dulu, mengapa ia bertanya-tanya tentangku? Bukankah dia termasuk namja yang cuek. Atau jangan-jangan dia tahu kalau aku ini salah satu fans beratnya. Dan mengira bahwa aku menguntit hingga kerumahnya dengan cara bermain kerumah Jongin, yang tidak jauh dari rumahnya. Oh andwae…aku bukan tipe orang yang seperti itu, walaupun aku sangat menyukainya.

 

“Apa aku harus menjawabnya?” jawabku sedikit terkejut.

 

“Tidak juga. Aku hanya penasaran saja denganmu. Mengapa kau sering bermain kerumah Jongin, sedangkan Jongin orang yang seperti itu. Apa kau ada hubungan dengan hobnae kita yang terkenal itu?”

 

Tak kusangka, ternyata Kyuhyun orang yang aneh. Bukankah ia berkata aku tak harus menjawab pertanyaannya. Tapi mengapa ia bertanya lagi. Mungkin ia ingin tahu bagaimana bisa aku sedekat itu dengan Jongin, yang terkenal dingin terhadap yeoja. Apalagi Jongin seorang hobnae yang tampan dari kelas 1-3, sedangkan aku subnae dari kelas 2-3 yang mempunyai wajah biasa-biasa aja, tidak cantik, tapi kata orang-orang sih aku manis. Terimakasih ^^. Terkesan tidak cocokkan jika kami memiliki hubungan yang special. Secara otomatis aku dinilai berpacaran dengan berondong.

 

“Apa aku harus menjawabnya juga?” jawabku lagi.

 

“Aissh…sudahlah, lupakan saja. Kau tahu? Kau …” kalimatnya berhenti sejenak, mata menyipit mengingat-ingat sesuatu. Kemudian padangan matanya beralih kaearah jas sekolahku “Ya, kau Yoon Rae orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temui, setelah noonaku.” lanjutnya setelah melihat kearah nametagku.

 

“Yak subnae, kenapa kau ingin tahu sekali?”

 

“Aku hanya penasaran, apa itu tidak boleh?” suaranya terdengar sedikit emosi.

 

“Bagaimana jika kita membuat sebuah permainan?” jawabku menantang.

 

“Arasseo, siapa takut.” jawabnya dengan senyum khas setannya itu.

 

“Jika kau mengetahui, apa hubunganku dengan Jongin sebenarnya, maka aku akan mentlaktirmu di restoran Beef Steak yang berada di Shopping Mall, 175-3 Nonhyeon 1 (il)-dong, Gangnam-gu 2 porsi. Jika kau kalah…..” ucapku menggantung.

 

“Aku akan mentlaktirmu berserta sahabat-sahabatmu di kedai Ice Cream Baskin Robbins dan Tous Les Jours hingga sepuasnya. Bagaimana? Deal?” tanyanya masih dengan senyuman yang mempesona itu sambil mengulurkan tangan kananya kearahku.

 

“Tapi dalam waktu dua minggu, jika kau tidak mengetahuinya, tandanya aku menang.”

 

“Arraseo…” katanya mantap

 

“Baiklah, deal.” Ujarku sambil membalas uluran tangannya.

 

Kalian tahu, mengapa aku bisa seberani ini, dengan janji akan mentlaktirnya 2 porsi makanan di restoran mahal itu. Karena aku yakin, dia tidak akan mengetahuinya. Teman-temanku saja, sampai sekarang tidak ada yang tahu, kalau aku ini adik dari seorang aktor yang terkenal di Korea yaitu Yoon Doo Joon. Jadi mana mungkin teman-temanku tahu, kalau aku ini sering pergi ke rumah Jongin, apalagi tentang hubunganku dengan Jongin. Karena disaat sekolah, aku dan Jongin hampir tidak pernah saling menyapa. Hanya kedua sahabatku saja yang tahu, apa hubunganku dengan Jongin, yaitu Xi Luhan dan Nam Yura.

 

 

….. ..,.. …..

 

 

“Kau yakin dengan taruhan itu?” tanya Luhan memastikan setelah berpisah dengan Yura di halte.

 

Ya, saat di bus tadi, aku menceritakan semuannya kepada Luhan dan Yura. Mereka benar-benar tidak menyangka aku akan mempertaruhkan setengan uang jajan bulananku hanya untuk permainan ini. Dan lagi, mereka merasa iba kepadaku, karena feeling mereka mengatakan bahwa aku akan kalah. Dan semua itu hanya akan mengecewakanku. Benar-benar sahabat macam apa mereka ini.

 

“Iya Luhan, aku yakin dengan taruhan ini.” kataku mantap sambil menatapnya dengan senyum.

 

“Aku tahu, maksudmu melakukan semua ini” jawabnya dengan nada sedu “jika kau kalah maupun menang, tidak ada ruginya sama sekalikan denganmu. Karena jika kau menang, maka kau bisa pergi dengannya, begitupun jika kau kalah. Walaupun kau mengeluarkan sedikit uangmu. Bukankah begitu tujuanmu?”

 

Seketika langkahku berhenti. Luhan, dia benar-benar orang yang paling mengerti tentang perasaanku. Dan dia, orang paling tidak bisa aku bohongi yang pernah aku temui. Dia tahu, jika aku sedang berbohong atau tidak, dan mergerti jalan pikiranku, hanya dengan memandang wajahku.

 

“Yeah…begitula, aku memang tidak pernah bisa berbohong denganmu.” dengan pasrah aku pun berjalan kembali.

 

“Kau yakin, bahwa ini tidak akan menyakitkan perasaanmu sendiri? Kau tahukan, bahwa dia itu…..”

 

“Sstttt….tidak usah dibahas, kita lihat saja nanti. Jika itu menyakitkan untukku, aku tahu kau selalu ada untuku.”  jawabku dengan tulus dan tersenyum semanis mungkin.

 

“Kuharap semuannya akan baik-baik saja. Karena aku akan bingung bagaimana cara menghiburmu yang sedang menangis?” Luhan mengacak-acak rambutku.

 

Aku dan Luhan sudah berteman sejak kecil, sejak ia pindah di sebelah rumahku. Luhan sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri, begitupun dengan Luhan ia menganggapku sebagai adik kadung kesayangnya. Karean ia tidak memiliki adik, ia hanya memiliki seorang noona yang sudah menikah dan berkerja. Padahal umurku sama dengan Luhan, tapi ia lebih dewasa dibandingkan denganku.

 

“Yak…jangan acak-acak rambutku yang bagus ini?!”

 

“Arraseo, Tuan Putri Singa.” Luhan bergidik ngeri, dan sedikit menjauh.

 

“Kuanggap sebagai pujian. Sekarang kau mendapat hukuman, sudah merusak rambutku” kuhentikan langkahku “Kau harus menggendongku sampai rumah.” lanjutku dengan cengiran.

 

“Ahh…apa-apaan itu, tidak mau.” tolaknya

 

“Oh ayolah, kakiku benar-benar pegal.” bujuku sambil mengulurkan kedua tanganku dengan wajah merajuk.

 

“Aissh…kau ini,” Luhan pun pasrah menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian membungkukan badannya di depanku.

 

Aku pun tersenyum berjalan kearahnya, merangkulkan kedua tanganku di lehernya. Ia pun berdiri, dan memeggang kedua kakiku yang berda di samping badannya. Aku tahu, Luhan tidak pernah tega menolak permintaanku. Tapi bukan maksudku untuk memperlakukan Luhan seenaknya. Hanya saja, kakiku benar-benar pegal setelah lari 17 kali memutari lapangan dalam waktu 18 menit. Sedangkan Luhan, ia sudah melakukannya dua minggu yang lalu, saat aku tidak masuk sekolah karena demam. Hingga aku lari sendirian di jam olahraga tadi.

 

“Hehe…Gomawo Lu-ge, kau benar-benar tampan, saudara yang baik, seperti Doo Joon Oppa, dan Hyun Seok adikku yang cerewet itu.” kueratkan pegangganku, dan menaruh kepalaku di bahu Luhan.

 

“Hemm…aku tahu itu”

 

Banyak orang yang menyangka aku dan Luhan sepasang kekasih, karena aku dan Luhan terlihat mesra. Mungkin saat ini juga, orang-orang yang berlalu lalang dihadapanku memandangku dan Luhan sepasang kekasih. Tapi tidak masalah bagiku.

 

Rae Prov end,

 

Kyuhyun Prov,

 

Sudah seminggu aku mencari informasi tentang Yoon Rae, mulai dari teman satu angkatan, teman ekstrakulikuler, teman sekelas, sahabat, sampai Jong In sendiri, tapi tetap saja aku tidak mendapatkan hasil apa-apa. Saat aku bertanya pada Jong In, dia hanya menjawab “Maaf hyung, aku tidak boleh memberi tahumu.” Benar-benar menyebalkan bukan, begitu pun dengan sahabatnya.

 

“Ya- Kyuhyun-a, kau melamun lagi?” teriak Hyuk Jae dihadapanku.

 

“Aishh…aku bisa tuli pabo!” balasku setengah berteriak.

 

“Jadi, dari tadi aku bercerita, kau sama sekali tidak mendengarkanku. Benar-benar…” Hyuk Jae menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung membuka botol mineral, meminumnya hingga habis.

 

“Hyuk, bagaimana lagi aku harus mencari informasi tentang yeoja itu?” tanyaku tanpa menanggapi gerutan Hyuk Jae.

 

“Ahh, ternyata kau masih memikirkan yeoja itu” Hyuk tersenyum misterius “Baru kali ini, aku melihatmu seperti ini hanya karena seorang yeoja. Jangan-jangan kau menyukainya?” lanjutnya jail.

 

“Bisakah kau kecilkan suaramu Hyuk Jae-a!” bisikku pada monyet satu ini.

Apa ia tidak sadar, bahwa kami ini sedang berada di kantin sekolah. Lihatlah di sekelilingku sedang memperhatikan kami. Lee Hyuk Jae adalah sahabatku semenjak aku masuk sekolah ini. Pertama kali kami bertemu saat aku dan Hyuk Jae di hukum oleh subnae karena terlambat masuk sekolah di hari pertama. Dan ternyata Hyuk Jae teman sekelasku. Semenjak itulah kami menjadi dekat hingga sekarang.

 

Dan aku sudah menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Yoon Rae padanya, dan memintanya untuk membantuku, tapi apa yang dia lakukan. Menjailiku, benar-benar sahabat tengik.

 

“Aku tidak menyukainya. Aku hanya penasaran saja, apa hubungannya dengan Jong In. Kau tahukan Jong In orang seperti itu. Dan lagi, jika aku kalah aku akan mentlaktirnya Ice Cream dan makan di restoran milikmu SEPUASNYA. Belum lagi sahabatnya, aku bisa BANGKRUT Hyuk. Bagaimana ini!” jawabku sedikit emosi.

 

“Eh, sejak kapan seorang CHO KYUHYUN menjadi orang yang PESIMIS. Bukankah Tuan Cho itu orang yang selalu optimis dengan apa yang dia inginkan hingga ia bisa mendapatkannya. Dan soal taruhan kalah, itu salah Tuan Cho sendiri, mengapa ia menjanjikan hal sebanyak itu.” ejek Hyuk Jae padaku.

 

Benar juga apa kata Hyuk Jae, sejak kapan aku menjadi orang yang pesimis seperti ini. Bukankan aku orang yang memiliki ambisius tinggi. Gara-gara ingin mengetahui hubungan yeoja itu dengan Jong In. Aku terlihat seperti orang tolol. Itu juga, sejak kapan aku menjadi seseorang yang kepo. Aissh…semua ini gara-gara yeoja itu.

 

“Sudahlah, lebih baik kau kerumah Jong In, tanyakan apa hubungan mereka dengan eomma Jong In. Aku yakin, yeoja itu tidak bersekongkol dengan eomma Jong In.  Lagian eomma Jong In kan membuka sebuah mini market, jadi hal itu memudahkanmu untuk bertanya. Bagaimana ideku?” Hyuk Jae menyedekapkan kedua tanganya di depan dada, tersenyum miring.

 

“Bingo…kau memang hebat Hyuk, kenapa aku tidak terpikirkan hal itu dari dulu.” balasku tersenyum, bertepuk tangan. Walaupun dia sahabat yang tengik, dan sedikit pabo, tapi dia adalah sahabat yang setia.

 

“Jangan panggil aku Lee Hyuk Jae, jika tidak bisa memberikan solusi yang hebat.” sombongnya.

 

“Kyuhyun Oppa…” kudengar seorang yeoja memanggilku dari arah belakang.

 

“Lihat, fans beratmu datang.” ujar Hyuk Jae santai.

 

Kutolehkan kepalaku kebelakang. Kulihat Han Seung Ah melambaikan tanganya, berlari kearahku dengan tersenyum manis. Han Seung Ah, yeoja cantik, berbadan bak model, langsing, tinggi dengan wajah dan kulit mulus seputih susu, baik, bergaya dari kelas 1-1, yang digilai para namja di sekolah ini. Terlihat sempurna memang, namun ada satu yang tidak kusukai darinya, yaitu sombong, dia tidak mau bergaul dengan orang yang bukan dari kalanganya, kaya. Tapi hal itu tidak masalah bagiku.

 

“Eo, Seung Ah-ya” aku tersenyum melihatnya hendak mendekati mejaku beberapa langkah lagi.

 

“LU-ge…” kudengar teriakkan seorang yeoja tidak jauh dariku.

 

Kuhadapkan kembali wajahku kedepan. Hyuk Jae yang berada dihadapanku pun menolehkan kepalanya kebelakang. Apa yeoja itu tidak tahu, jika teriakkannya keras. Kulihat yeoja itu, Yoon Rae berlari kearah seorang namja yang sedang meminum minuman kalengnya. Aku juga penasaran dengan namja yang bernama Xi Luhan itu. Bukankah di berstatus sebagai sahabat dekat Rae, tapi kenapa mereka seperti sepasang kekasih.

 

Lihatlah, mereka berpelukan, apa mereka tidak malu berpelukan di depan umum. Lebih tepatnya Yoon Rae yang memeluk namja itu. Dan apa panggilan Lu-ge. Seperti panggilan spesial saja. Menjijikan. Kenapa aku merasa ganjal melihat adegan itu. Apa yang terjadi denganku. Panas, ya itu yang kurasakan sekarang.

 

“Kyuhyun-ah…”-“Oppa…” sapa Hyuk Jae dan Seung Ah bersamaan.

 

“Ah…ya…” balasku sedikit gugup.

 

Apa yang terjadi denganmu Kyuhyun, fokuslah ada Seung Ah disini.

 

 

Kyuhyun prov end,

 

Rae prov,

 

“LU-ge…” teriakku kearah Luhan yang hendak keluar kantin.

 

Luhan pun menghentikan langkahnya, melihat kearahku, dan tersenyum. Aku pun berlari kearahnya.

 

“Aku punya berita gembira!” seruku semangat setelah melepaskan pelukanku.

 

“Apa itu?” Luhan mengerutkan kening.

 

“Akan ada jumpa fans dengan Christian Ronaldo minggu depan. Dan aku berhasil membeli dua tiket dari seratus tiket yang ada. Dan kau tahu, kita bisa berfoto maupun meminta tanda tangan dengannya.” jelasku semangat sambil mengenggam kedua tangaku.

 

“Jinjjayo?” tanyanya tak percaya. Ku anggukan kepalaku dengan mantap.

 

“Rae-ya kau benar-benar hebat. Sahabat yang paling hebat dan pengertian.” Luhan segera memeluku erat dan mengacak-acak rambutku.

 

Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang sesak di hatiku, ketika Luhan mengatakan sahabat. Lupakan Rae, lupakan. Kubalas pelukan Luhan sembari menepuk-nepuk punggungnya.

 

“Gomawo Rae-ya…gomawo” ia melepaskan pelukakannya.

 

“Emmm…kau tahu, betapa susahnya untuk mendapatkan tiket itu. Setelah dua jam menunggu untuk mendapat giliran diawal pembukaan pembelian tiket.”

 

“Sebegitu lamanya kau menunggu, hanya untuk mendapatkan tiket itu untuku?”

 

“Eoh, belum lagi, aku harus berdesak-desakan dengan namja bertubuh besar.”

 

“Kau hebat Rae, benar-benar hebat.” Luhan menepuk-nepuk bahuku.

 

“Yoon Rae” kusilangkan kedua tanganku di depan dada dengan sombong.

 

Padahal, kalau bukan bantuan namja kemarin, aku tidak akan mendapatkannya walaupun telah menunggu dua jam, aku yakin itu.

 

Flashback

 

“Chogiyo ahgassi, bisakah kau mengantri dengan benar.” kataku pada namja bertubuh besar yang mendesak-desakku agar mendapatkan tempat di depanku.

 

Namja itu hanya meliriku dengan tatapan membunuh. Apa dia kira aku akan takut setelah ia menatapku seperti itu. Aku tidak akan takut kali ini, walaupun sebenarnya aku merasa takut. Kalian tahu, tatapannya benar-benar mengerikan. Tapi jika aku takut akan tatapan itu, penantiannku setelah dua jam akan menjadi sia-sia. Aku tidak akan mendapatkan tiket itu untuk Luhan.

 

Dengan semangat empat lima, aku memajukan badanku untuk menyulusup kearah depan. Tapi sebuah badan besar terus mendesakku ke samping, agar keluar dari antrian. Dengan sekuat tenaga aku terus melawannya. Tapi apa daya, badanku lebih kecil darinya, sehingga dengan gampangnya tubuh besar itu menyenggolku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, mungkin aku akan terjatuh, secara otomatis aku keluar dari barisan, dan tidak mendapatkan tiket itu. Kututup mataku dengan tangan meraba-raba agar mencapai sesuatu untuk berpeganggangan.

 

“Ahgassi, gwechana?”tanya suara lembut seorang namja.

 

“Ah…” aku membuka mata, kulihat kesekelilingku, keadaan masih sama dengan sebelumnya. Aku berdiri disini, tidak terjatuh, beruntung aku beruntung.

 

“Ahgassi…”seru seseorang.

 

“Ne…”kuhadapkan kepalaku kearah samping.

Malaikat. Kata itulah yang muncul pertama kali saat aku melihat namja itu. Dia, namja ini, yang berjarak beberapa centi lagi dengan wajahku, benar-benar tampan, auranya memikat, dengan senyum yang mempesona. Di tambah lagi dengan posisi kami layaknya di sebuah drama. Tangan kanannya memeggang pinggangku, sedangakan tangan kirinya memeggang tangan kananku, yang hendak kugunakan untuk meraba. Dan kalaian lihat, tangan kiriku memeggang dadanya yang berirama indah. Oh…tuhan, kenapa kau dapat menciptakan sesuatu yang begitu indah.

 

“Ahgassi, gwecannayo?” seketika hayalanku pun hilang.

 

“Ah…ne” ucapku malu, sembari melepaskan pelukakannya “Gamsahamnida…gamsahamnida…” lanjutku membengkukan badan.

 

“Ah…ye, cheomanneyo…” jawabnya tersenyum, menampilkan deretan gigi yang putih dan rapi.

 

“Maaf ahgassi, bisakah kau mengantri dengan benar?” tanya namja itu pada namja bertubuh besar yang menyenggolku tadi.

 

“Aku sudah mengantri dengan benar. Lihatlah aku berada di barisan yang benar bukan?” elak namja bertubuh besar itu.

 

“Sebelumnya aku melihatmu berada di belakang yeoja ini, tapi dengan tidak tahu malunya, kau mendesak-desak yeoja ini, hingga membuatnya hampir terjatuh. Apa kau tak malu memperlakukan seorang yeoja seperti itu, hanya untuk mendapatkan sebuah tiket?” ujar namja itu halus, tapi terkesan dingin dan menusuk.

 

“Kau…” sebelum namja bertubuh besar itu menyelesaikan kalimatnya, namja tampan ini segera memotongnya.

 

“Jika kau tidak mundur sekarang juga, akan ku pastikan kau tidak akan mendapatkan tiket itu.” namja tampan ini memandang namja itu dengan tajam.

 

Entah angin darimana, namja bertubuh besar itu segera kembali ketempat semula.

 

Flashback end,

 

Seketika aku teringat sesatu “tapi Lu-ge, kau harus mentlaktirku di kedai jung ahjumma sepuasnya. Karena tiketmu itu termasuk katagori mahal. Hehehe…” senyumku.

 

“Ah…jeomalyo? Kalau begitu, akan ku ganti.”

 

“Anniyo…aku benar-benar ingin membelikannya untukmu Lu-ge. Jadi kau tenang saja, bukan berarti aku tidak punya uang untuk bulan ini. Aku masih ada sisa, dan masih memiliki tabungan yang belum aku gunakan.”

 

“Tapi Rae-ya…”

 

“Sudah, aku membelikannya untukumu TITIK, tidak ada KOMA. Jika kau membantah, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” kulangkahkan kakiku menjahui Luhan, memasang tampang marah.

 

“Arraseo…arraseo…aku tidak akan membantah. Terimakasih untuk semuanya.” Luhan menghalangi jalanku, sembari memegangang lenganku.

 

“Good” aku pun tersenyum “Kajja, kita ke kelas.” lanjutku menarik tanganya.

 

Rae prov end,

Author prov,

 

Seorang namja berhenti di depan mini market, sesekali dia menggosok-gosok lengannya yang tertutup kaos berlengan panjang, lalu tersenyum miring menatap ruangan dalam mini market itu dari balik kaca jendelanya. Ia pun menghembuskan nafasnya sebelum mendorong pintu kaca tersebut.

 

“Lama tidak melihatmu Kyuhyun-ah” sapa seorang ajuhmma pemilik mini market dengan lembut, setelah Kyuhyun menyerahkan belanjaannya.

 

“Ah…ne ajuhmma. Aku sedang sibuk, maklum sudah mendekati ujian kelulusan.” Kyuhun tersenyum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah…benar juga. Semoga kau bisa masuk universitas yang kau inginkan.” Kim ajuhmma, ibu dari Kim Jong In sedang menghitung barang belanjaan milik Kyuhyun.

 

“Gomawo ajuhmma. Semoga terkabul” Kyuhyun hanya tersenyum dan tersenyum melihat ibu Jong In yang tersenyum pula.

 

Inilah saatnya Kyuhyun bertanya kepada Kim ajuhmma, apa hubungan Jong In dengan Rae. Kyuhyun tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya kali ini. Saat Kyuhyun hendak bertanya, terdengar suara pintu mini market terbuka.

 

“Ajuhmma…” teriak seorang yeoja, dengan suara khasnya yang agak cempreng.

 

“Oh…Rae-ya, Luhan. Ada perlu apa kalian kesini?” tanya Kim ajuhmma kepada dua orang yang baru saja memasuki mini marketnya.

 

Seketika pun Kyuhyun menoleh, ketika mendengar nama Rae dan Luhan. Tidak salah lagi pasti mereka berdua, walaupun di negera ini banyak nama Rae maupun Luhan.

 

Bingo. Mereka berdualah yang datang. Ini benar-benar sebuah keberuntungan bagi Kyuhyun. Ia bisa langsung bertanya kepada Kim ajuhmma, apa hubungan Rae dengan Jong In di depan mereka, tanpa ada yang bisa mengelak dengan jawaban ajuhmma.

 

“Oh…Kyuhyun subnae?” Luhan terkejut ketika melihat Kyuhyun di depannya.

 

“Jadi, kalian saling mengenal?” tanya Kim ajuhmma. Sedangkan Rae tidak berpindah posisi sama sekali. Ia terlalu terkejut melihat Kyuhyun disini. Rae tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

 

“Ne ajuhmma. Mereka adik kelasku, sama seperti Jong In.” Kyuhyun menujuk kedua orang itu dengan sombong.

 

“Ah…benar, ajuhmma lupa, jika mereka bersekolah di sekolahan yang sama dengan Jong In.” ajuhmma menepuk keningnya sembari menyerahkan belanjaan Kyuhyun “Oh ya…ada apa kau kemari Rae-ya? Ada sesuatu yang dititipkan oleh eommamu atau ingin bermain dengan Jong In?” lanjut ajuhmma menatap Rae yang berdiri seperti patung.

 

“Ah…it…itu…” Rae tidak bisa berpikir apa yang harus dikatakannya. Pikirannya benar-benar blank. Rae hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasrah.

 

“Bagaimana ajuhmma bisa mengenal Rae?” potong Kyuhyun sebelum Rae melanjutkan perketaannya.

 

Skat mat. Kyuhyun menatap Rae dengan puas, dan tersenyum miring. Menandakan permainan ini akan segera berakhir, dengan Kyuhyunlah sebagai pemenangnya.

 

“Bagaimana aku tidak mengenal keponakanku sendiri Kyuhyun-ah. Apa lagi sejak kecil Rae sering dititpkan eommanya kepada ajuhmma” cerocos ajuhmma dengan cepat “Dia ini waktu kecil benar-benar manja, keras kepala, dan sering berkelahi dengan Jong In. Tidak seperti sekarang, tumbuh menjadi yeoja yang manis, baik, mandiri, tetapi tetap saja keras kepala.” ajuhmma tertawa sendiri mengingat keponaknya waktu kecil.

 

Kyuhyun tidak menyangka jika Rae sepupu Jong In, ia kira Rae seorang yeoja yang sedang dekat dengan Jong In. Walaupun di pikir-pikir tidak masuk akal. Rae tidak pernah saling sapa dengan Jong In saat di sekolah, dan jika Rae yeoja yang dekat dengan Jong In, tidak mungkin ia  bersikap seperti itu terhadap Luhan. Tapi semua itu tak masalah, bagi Kyuhyun. Karena itu, tandanya Kyuhyun menang, ia dapat mengetahui hubungan Jong In dengan Rae. Dan entah kenapa, ia meresa lega, senang mengetahui hal itu.

 

Rae hanya bisa menundukan kepalanya dengan pasrah. Menghembuskan nafasnya berulang kali. Ia kalah telak, ia tidak mungkin bisa megelak di depan kakak eommanya ini. Mungkin setelah pulang dari rumah Jong In, ia harus ke atm untuk mengambil uang tabungan. Benar apa kata Luhan dan Yura, ia kalah.

 

Luhan menatap sedu pada sahabat tercintanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Luhan memeggang bahu Rae untuk memberi suport. Rae mendongkakan kepalanya menatap Luhan sedih. Sedangakan orang yang ditatap tersenyum  manis, hingga akhirnya Rae ikut tersenyum.

 

“Eomma, kenapa kau mengatakannya?” ucap Jong In, yang entah sejak kapan berada di depan pintu.

 

“Eoh Jong In, sejak kapan kau berada disitu? Memangnya kenapa jika eomma, mengatakannya pada Kyuhyun. Bukakan Rae memang keponakkan eomma.” Kim ajuhmma binggung melihat tingakah anak-anak di depannya.

 

“Tidak ada apa-apa ajuhmma. Lupakan perkataan Jong In, Jong In memang seidkit aneh akhir-akhir ini.” ujar Rae bergurau.

 

“Yak noona. Kau ini, benar-benar menyebalkan.”

 

“Sudahlah Jong In, dia sudah bisa menerimanya.” Luhan menepuk-nepuk punggung Jong In dengan keras.

 

“Ya…hyung, kau juga keterlaluan. Aku bela, malah seperti itu.”

 

“Ada apa dengan kalian? Ajuhmma tidak mengerti, apa yang sedang kalian bicarakan.”

“Sudahlah ajuhmma, kami tidak ada apa-apa. Biasa hanya perbincangan anak remaja” Kyuhyun berkata sopan “Jadi ini uangnya, terima kasih untuk semuannya ajuhmma. Aku harus segera pulang. Permisi” lanjut Kyuhyun memberikan uang pas kepada ajuhmma.

 

“Ne, sama-sama Kyuhyun, salam untuk eommamu.” balas ajuhmma ramah. Kyuhyun pun mengangguk, lalu membengkukan badan, dan berjalan keluar.

 

“Besok sore, ku tunggu kau di restoran itu jam empat. Selamat menerima kekalahanmu Yoon Rae.” Bisik Kyuhyun di telinga Rae sebelum mendorong pintu keluar.

 

Author prov end,

 

Luhan prov,

 

Kulihat Rae berdiri dengan tegak di depan cermin yang menampilkan penampilannya dengan rapi nan anggun. Terlihat ia memakai kaos berwarna putih polos dipadukan rok selutu berwarna pink muda, membuatnya terlihat anggung dan santai. Ditambah lagi dengan sepatu counvers putih, rambut tergerai, dan sedikit make up tipis diwajahnya, membuatnya terlihat cantik.

 

Entah mulai sejak kapan, aku sangat senang memandangi Rae ketika ia tersenyum, tertawa, maupun cemberut. Menurutku ia terlihat cantik dan lucu, ketika mengeluarkan ekspresi seperti itu.

 

Aku tak tahu, perasaan apa yang menghampiriku untuk Rae. Memang aku menganggapnya sebagai adikku sendiri. Tapi entah kenapa, ada perasaan yang menganjal, ketika aku menganggap Rae sebagai adikku.

 

Saat ini, aku dan Yura, sedang berada di kamar Rae. Yura membantu Rae mempersiapkan diri untuk bertemu Kyuhyun. Sebenarnya aku sedikit khwatir kepada Rae, karena feelingku mengatakan aku harus mencegah Rae untuk bertemu Kyuhyun. Tapi aku tak tahu alasannya.

 

“Cah, sudah selesai” Yura memperhatikan Rae dengan senyum mengembang “Kau terlihat cantik Rae-ya.” lanjutnya.

 

“Ow…jinjja? Gomawo Yura-ya…” Rae memeluk Yura dengan sayang “Ini semua berkatmu.”

 

“Iya sama-sama. Jika masalah rambut, Nam Yura ahlinya.”

 

“Eoh…araseo calon stylelis rambut.” Rae melepaskan pelukan pada Yura.

 

“Aku mengerti jika kau tak ingin ku temani. Tapi setidaknya, kau yakin tidak ingin ku antar?” kuletakan punggungku pada sandaran tempat tidur Rae.

 

“Yakin. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Ia tersenyum manis kepadaku.

 

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk semuanya.” ujarnya bergegas keluar kamar.

 

“Dia terlihat sangat senang” Yura membereskan perlengkapan Rae dengan rapi “Kita harus segera pergi, tidak sopan jika yang punya rumah saja tidak ada di rumah.” lanjutnya mengambil tas di sudut ruangan.

 

Kuanggukan kepalaku mengikuti Yura yang berjalan keluar ruangan. “Kau tahu Luhan, feelingku mengatakan kau harus bersiap-siap untuk Rae!” Yura mengehentikan langkahnya sembari menghadapku.

 

“Waeyo?” tanyaku memasang tampang binggung. Walaupun sebetulnya tebakan Yura sama denganku. Tapi aku tak ingin menghwatirkan Yura, maupun hatiku sendiri.

 

“Aku juga tidak tahu. Hanya saja, kau tahu kan Kyuhyun subnae itu.”

 

“Ya…Tapi Rae terihat sangat senang. Padahal ia tidak berkencan dengannya. Hanya  makan bersama. Aku takut Rae mengaharapkan hal yang lebih. Dan itu akan menyakitkannya.” Kututup pintu rumah Rae, menguncinya dengan kunci yang Rae titipkan, dan memasukkanya kedalam kantong jaketku.

 

“Dari dulu, itu yang ku khawtirkan pada Rae.” Yura membuka gerbang bercat putih dengan pelan.

 

“Semoga saja, apa yang kita bayangkan tidak akan terjadi.”

 

“Semoga saja…Eo ya, beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja bertemu dengan Kim Myungsoo di sebuah cafe, dan akhirnya kami mengobrol bersama. Senangnya” ujar Yura berseri-seri.

 

Semua sahabatku memiliki seseorang yang mereka harapkan. Seperti Yura, ia sangat menyukai Myungsoo semenjak ia pindah kesekolah kami, Rae yang ngefans dengan Kyuhyun subnae, sedangkan aku tidak menyukai siapa-siapa. Padahal banyak yeoja yang mencoba mendekatiku. Namun aku tak tertarik sama sekali dengan mereka. Apakah aku masih mengharapkannya.

 

Luhan prov end,

 

Author prov,

 

Sakit. Itulah yang mucul pertama kali di benak Yoon Rae. Ketika melihat Kyuhyun datang bersama seorang yeoja yang cantik, yang diketahui sebagai kekasih Kyuhyun, yaitu Han Seung Ah. Kyuhyun dan Seung Ah berjalan mendekati Rae dengan tangan yang saling bertautan. Mereka saling melemparkan senyum masing-masing. Sepertinya mereka terlihat sangat cocok di mata semua orang. Begitupun di mata Rae.

 

Tidak tahukan mereka, bahwa seseorang yang menunggunya berdiri mematung menatapnya dengan senyum merinis. Rae menyesal, benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia merasa terlalu banyak berharap, banyak bermimpin terhadap Kyuhyun. Andai saja Rae menuruti perkataan Luhan, pasti semua ini tidak akan terjadi. Mata Rae mulai berkaca-kaca, ia ingin menangis. Tapi semua itu, ia tahan di ujung matanya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan keduanya. Ia harus kuat. Karena semua kejadian ini tak bisa dirubah, ini semua telah terjadi. Jadi apapun alasanya, Rae harus tetap menjalaninya walaupun itu terasa sesak.

 

“Sudah menunggu lama?” Kyuhyun bertanya dengan riang, tanpa beban.

 

“An…ani…aniyo. aku baru saja datang” Rae berusaha memberikan seyuman terbaiknya.

 

“Sebelumnya aku minta maaf. Karena kau menjanjikan dua porsi, jadi aku membawa seseorang. Tak apa kan?”

 

Rae hanya mengangguk dengan kaku. Kyuhyun baru menyadari bahwa, penampilan Rae berbeda dengan biasanya. Ia terlihat lebih anggun dan cantik, hingga membuatnya terpesona. Dan Kyuhyun menyadarinya juga, bahwa sikap Rae tidak seperti bisanya, manja, ceria, keras kepala  ataupun jiwa pemberaninya tidak terlihat sama sekali. Ia terkesan lebih kaku dengan senyuman yang terpaksa.

 

Tanpa Kyuhyun sadari, Seung Ah memperhatikan gerak gerik Kyuhyun, maupun Rae. Seung Ah merasa, Rae sedang menyembunyikan sesuatu dari senyumannya yang manis. Ia merasa bahwa yeoja yang baru di temuinya pertama kali ini, menyimpan perasaan kepada Kyuhyun. Semua itu terlihat jelas di mata yeoja itu, sakit, ketika melihatnya datang bersama Kyuhyun. Karena ia sama-sama seorang yeoja, jadi ia bisa menilainya.

 

“Eoh…kenalkan, naeyeojachingu.” Kyuhyun menarik Seung Ah untuk berada di depannya.

 

Hati Rae bagaikan tertusuk  beribu jarum saat Kyuhyun mengatakan bahwa mereka saling terikat. Walaupun Kyuhyun tidak mengatakannya secara langsung. Bukankan semua siswa tahu jika Seung Ah kekasih Kyuhyun. Sesungguhnya Kyuhyun tak harus mengatakan hal itu padanya. Itu membuat Rae semakin sakit. Rae merasa Kyuhyun manusia paling jahat saat ini.

 

“Annyeonghasseo….Hobnae Han Seung Ah imnida.” ujar Seung Ah tersenyum, mengulurkan tangannya.

 

“Ah…ne, Yoon Rae imnida.” Rae membalas jabatan tangan Seung Ah, sembari tersenyum.

 

“Kalau begitu, ayo kita pesan makannya. Aku sudah tidak sabar.” Oceh Kyuhyun gembira.

 

Meraka bertiga duduk secara melingkar. Menunggu pesanan mereka datang. Walaupun mereka berbincang-bincang, tapi terlihat jelas, suasana di sekitar mereka terkesan kaku. Rae ingin sekali pelayan itu segera datang, membawakan pesananya, dan ia memakan dengan cepat, setelah itu segera pergi dari tempat ini. Ia tidak tahan melihat keduanya bersikap mesra secara terang-terangan di hadapannya. Ia seperti tidak dianggap. Sakit, sangat sakit. Satu-satunya harapan Rae saat ini adalah segera pergi dari hadapan mereka.

 

“Ah…sambil menunggu pesananya, aku mau ijin ke toilet dulu. Kalian berbincang-bincanglah terlebih dulu. Agar kalian semakin dekat.” Kyuhyun berdiri dari bangkunya, berjalan kearah toilet.

 

“Eonni, bolehkan aku bertanya seuatu?” Seung Ah menatap Rae di hadapannya dengan tampang serius.

 

“Tentu saja.” Rae tersenyum riang. Sebenarnya hatinya sedikit was-was tentang pertanyaan Seung Ah. Apalagi wajah yeoja itu serius. Ia takut jika Seung Ah mengetahui, bahwa ia menyukai Kyuhyun, ani lebih tepatnya mencintai Kyuhyun.

 

“Apakah eonni itu, menyu…..”

 

Drrt….drtt….drtt….drtt….

 

Pertanyaan Seung Ah terhentikan oleh bunyi ponsel Rae. Sehingga perhatiaan Rae maupun Seung Ah pun teralihkan dengan ponsel Rae yang tergeletak diatas meja.

 

“Tunggu dulu, aku akan mengangkatnya.” Rae bernafas lega, ia beruntung. Ia jadi punya alasan untuk menghentikan pertnayaan itu.

 

“Eoh…Lu-ge. Ada apa?” tanya Rae ketika mengangkat telfonnya. Setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Luhan memang sahabat paling pengertian. Di saat seperti ini saja, Luhan membantunya tanpa sengaja.

 

“Bagaimana. Apakah semuanya berjalan dengan lancar?” terdengar suara lembut di sebrang sana.

 

Seketika pun Rae melamun. Menginat kejadian yang menyakitkan beberapa menit yang lalu hingga saat ini. Ia jadi semakin ingin menangis, setelah mendengar suara Luhan. Rae ingin sekali memeluk Luhan saat ini, menceritakan semua yang terjadi padanya, sembari menangis. Agar terasa lebih lega dan tenang.

 

“Rae-ya?” tanya Luhan penasaran. Luhan merasa ada sesuatu yang tidak beres.

 

“Eoh…buruk.” Rae menatap Seung Ah di hadapannya, yang sedang memperhatikannya.

 

“Apa yang terjadi?” tanya Luhan khwatir.

 

“Benar kah? Adikmu merusakan tugas kelompok kita.” Entah ide dari mana, Rae merasa ini kesempatnya untuk kabur dari Kyuhyun dan Seung Ah. Dan ia tidak akan menyia-nyikan kesempatan ini.

 

“…..” Luhan binggung dengan jawaban Rae. Tidak nyambung sekali dengan apa yang ditanyakannya.

 

“Bukankah, tugas itu harus dikumpulkan besok pagi.” Rae tahu, jika saat ini Luhan sedang binggung dengan jawabannya. Tapi semua itu tidak penting. Yang penting ia bisa kabur secepatnya. Tekesan egois memang.

 

“Kau dimana? Masih ditempat itu?” tanya Luhan panik. Luhan mengerti, saat ini Rae membutuhkan bantuannya. Terlihat jelas, dari suara gadis itu ingin menangis, dan jawabanya yang aneh.

 

“Baiklah kalau begitu. Kita harus mengulangnya hari ini dengan cepat. Jika tidak ingin di hukum Choi seosangnim.” kata Rae semakin mengada-ngada dengan nada yang sengaja ia tinggikan. Agar Seung Ah mendengarnya.

 

“Rae tunggu aku, aku akan segera kesana.” Luhan segera bergegas mengambil jaket, kunci mobilnya, dan berlari menuruni tangga.

 

“Eoh…gomawo mau menjemputku. Aku tunggu di depan mall.” Rae pun menutup ponselnya. Ia sangat berterimakasih pada Luhan, yang selalu mengerti keadaanya.

 

“Maaf, sepertinya aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang telah terjadi, dan aku harus segera menyelesaikkan.” Rae berdiri, mengambil tasnya yang berada di  punggu kuris yang ia tempati.

 

“Tapi eonni, pesanannya saja belum datang. Masa kau harus segera pergi. Kalau pesanannya datang bagaimana? Siapa yang harus memakannya? Setidaknya makanlah terlebih dulu.” cerocos Seung Ah tidak enak.

 

Seung Ah tidak curiga sama sekali dengan tingkah Rae. Hal itu membuat Rae sedikit lega, berarti actingnya untuk membohongi Seung Ah sukses.

 

“Tak apa. Itu bonus untukmu. Agar badanmu lebih berisi.” canda Rae garing.

 

“Bagaimana jika Kyuhyun Oppa bertanya? Pasti ia merasa tidak enak juga”

 

“Seung Ah, aku harus segera pergi. Katakan pada Kyuhyun-ssi, ada tugas yang harus aku selesaikan secara mendadak. Kalian tidak usah merasa tidak enak, karena semua ini kewajibanku untuk menepati janji. Untuk soal pembayaran sudah aku bayar tadi. Kau tidak perlu khawatir.”

 

“Aku tidak menghwatirkan itu eonni. Aku merasa tidak enak saja” ujar Seung Ah sedikit memohon “Tidak bisakah temanmu saja yang mengerjakan tugas itu. Lagian semua itukan salah adiknya. Jadi ia yang harus bertanggung jawab.”

 

“Tidak. Itu semua tanggung jawab kelompok. Jika sudah ditetapkan menjadi satu regu, apapun yang terjadi, walaupun itu bukan salah kami semua, kami harus ikut bertanggung jawab, termasuk aku. Karena itu kewajiban kita, ataupun kosenkuensin yang kita sepakati.”

 

“Tapi eonni….”

 

“Aku harus pergi Seung Ah-ya. Katakan maafku pada Kyuhyun-ssi. Annyeong.” Rae segera pergi dari hadapan Seung Ah. Ia tidak ingin lebih lama berada di tempat itu. Ia takut jika Kyuhyun segera kembali, dan menghalanginya.

 

Saat Rae berbelok memasuki lift. Kyuhyun datang dengan wjah binggung.

 

“Dimana Rae-ya?” tanya Kyuhyun pada Seung Ah.

 

“Dia baru saja pergi. Katanya ada tugas yang harus dikerjakannya sekarang.”

 

“Kenapa kau tidak mencegahnya? Setidaknya mencegahnya untuk makan terlebih dulu. Baru dia boleh pergi. Kalau seperti inikan jadi tidak enak.” ujar Kyuhyun sedikit emosi.

 

“Aku sudah mencegahnya oppa. Tapi dia tetap bersihkeras untuk pergi. Jadi apa yang bisa kau perbuat. Lagain kenapa kau lama sekali.” bela Seung Ah dengan nada sedikit tinggi.

 

“Sudahlah. Lupakan saja, aku tidak ingin kita bertengkar karena masalah sepele.” Kyuhyun menenangkan diri.

 

Seung Ah merasa kecewa dengan sikap yang Kyuhyun perlihatkan. Ia merasa Kyuhyun sangat peduli dengan Rae. Hingga membuat Kyuhyun berani memarahinya. Hanya karena masalah seperti itu. Padahal selama ini, Kyuhyun tidak pernah membentaknya seperti itu.

 

“Dia juga mengucapkan maaf untukmu.”

 

Hening beberapa saat, hingga seorang pelayan pun datang membawakan pesanan mereka masing-masing. Meletakan pesanan tersebut dengan rapi, dan pamit pergi.

 

“Maaf aku membentakmu. Anggap semua ini tidak terjadi. Maafkan aku.” Kyuhyun mengenggam tangan Seung Ah sembari tersenyum. Seung Ah pun mengangguk.

 

Walaupun Kyuhyun tersenyum dengan manis, di dalam hatinya ia merasa menyesal. Tidak dapat mencegah Rae untuk tetap berada disini. Ia masih penasaran dengan sikap yeoja itu, dan ia masih ingin melihat yeoja itu lebih lama. Ia ingin melihat, senyumnya, tawanya, maupun tampang cemberutnya. Egois memang, ia sudah memiliki seorang yeoja cantik dihadapannya, tapi ia masih ingin melihat yeoja lain. Kyuhyun juga tidak tahu, kenapa hatinya menginginkan hal itu.

 

Author prov end,

 

Donghae prov,

 

Tubuhku semakin terhempit di sudut lift. Kuedarkan padanganku di sekitar lift yang sesak ini. Benar-benar penuh. Pantas saja, hanya ingin naik ke lantai tiga saja, lama sekali. Tujuan mereka hanya lantai satu, dua, dan lantai dasar. Sehingga aku tidak sampai-sampai. Andai saja, aku tadi naik eskalator, pasti tidak akan seperti ini.

 

TING…

 

Kulihat pintu lift terbuka, menadakan bahwa kami sudah sampai di lantai dua. Sepertinya aku harus keluar sekarang juga, dari pada aku turun lagi. Saat aku hendak keluar, orang-orang disekitarku berdesak-desakkan ingin keluar, begitupun yang diluar segera ingin masuk. Tubuhkupun terdorong-dorong kedepan belakang hingga akhirnya kulihat seorang yeoja yang berada diluar sana menundukan kepalanya, terdorong dengan kencang kearahku. Aku yakin yeoja itu akan jatuh, jika tidak ku tangkap.

 

Bukk…

 

“Ahgassi gwecana?” tanyaku pada yeoja yang berada dipelukanku ini.

 

Ahh…aroma tubuhnya mengingatkanku pada yeoja dipembelian tiket itu. Ditambah lagi dengan detak jantungku yang berpacu dengan cepat, sama juga saat aku menolong yeoja itu. Kurasa aku jatuh cinta pada yeoja itu. Love at first sight, yang dengan bodohnya aku lupa menanyakan namanya. Donghae paboo.

 

“Agahssi gwecana?” kutegakkan badanya agar aku bisa menatapnya.

 

“Neo…” ucap kami bersamaan saat kami saling menatap.

 

Kulihat ke sekelilingku, mereka menatap kami dengan pandangan heran, mungkin karena teriakkan kami dan posisi kami yang tidak menyenangkan untuk dipandang. Berada di sudut lift, saling berpelukan, bukankah itu kesan yang sama sekali tidak baik. Memalukan.

 

“Maaf, terima kasih.” yeoja itu segera menjauhkan tubuhnya dariku.

 

“Senang bisa bertemu denanmu lagi. Apa lagi dengan posisi sama saat kita pertama kali bertemu. Hehe…” ucapku bergurau.

 

“Ah…benar, terima kasih. Untuk semuanya. Maaf selalu merepotkanmu.” Ia tersenyum padaku, walaupun ku lihat ada sedikit genangan air di sudut matanya. Apakah ia habis menangis.

 

“Tak apa, bukankah sesama manusia harus saling tolong menolong.”

 

“Kenalkan namaku Lee Donghae, kau bisa memanggilku Donghae.” ucapku setelah teringat sesuatu. Aku tak akan menyia-nyikan kesempatan ini lagi. Aku ingin mendekatinya.

 

“Yoon Rae, kau bisa memanggilku Rae”

 

“Kau sedang apa disini? Sendiri?” tanyaku penasaran.

 

Seketika kulihat wajahnya berubah menjadi sedih. Hingga melamun beberapa detik. Aku yakin pasti terjadi sesuatu dengan yeoja ini. Hingga membuatnya terlihat rapuh. Layaknya seseorang yang sedang patah hati.

 

“Ya…Sendiri. Sebenarnya aku sedang menunggu jemputan, tapi sepertinya agak sedikit lama.”

 

“Ah…kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kau menemani aku ke toko buku, sambil menunggu jemputan.” Idemu memang cemerlang Donghae.

 

Tapi tunggu, kenapa ia diam saja. Apa aku salah berbicara. Sepertinya tidak, atau mungkin ia curiga padaku, karena baru saja berkenalan sudah berani mengajaknya pergi.

 

“Maaf, terlalu lancang. Aku hanya…”

 

“Aniyo…tak apa-apa. Aku mau, sangat mau.” Ia memotong perkataanku dengan cepat. Sepertinya ia tidak enak denganku.

 

“Kau yakin?” tanyaku memastikan.

 

“Aku yakin. Aku juga sedang butuh hiburan.” Ia sedikit tersenyum padaku. Aigoo…manis sekali yeoja ini ketika tersenyum, walaupun sedikit.

 

Kebetulan sekali lift pun berhenti dilantai tiga. Lantai yang sendari tadi aku tunggu-tunggu, akhirnya sampai juga, dengan memakan waktu sekitar sepuluh menitan. Kami pun berjalan berdampingan, dengan diam. Ia sedikit menundukan wajahnya, menatap sepatunya yang terlihat lebih menarik dari pada aku yang jelas-jelas tampan seperti ini. Hahah…percaya dirimu terlalu tinggi Hae-ya. Tapi lihatlah, wajahnya terlihat pucat. Apa dia sedang sakit?

 

“Rae-ssi, apa kau sedang sakit?” kutenggokakan kepalaku kearahnya yang sedang membaca sinopsis dibalik novel tebal yang ia ambil.

 

“Aniyo…aku baik-baik saja.” Ia sedikit terkejut dengan pertanyaanku.

 

“Kau yakin? Kau terlihat sangat pucat sekali?” kekhwatiranku pun mulai muncul melihat wajahnya yang memutih.

 

“Ghwecana. Aku baik-baik saja.”

 

“Jangan-jangan kau belum makan sendari tadi? Bagaimana kalau kita makan sekarang. Lagian buku yang ingin aku beli sudah kudapatkan” kuangakat tangan kananku yang terdapat dua buku tentang kedokteran.

 

“Kau sudah mahasiswa Donghae-ssi?” tanyanya penasaran melihat kedua buku itu, dan mengacuhakan pertanyaaku tadi yang sepertiya tidak ingin ia bahas.

 

“Ah…iya, baru dua semester. Perjalanku masih panjang.”

 

“Wah kau hebat. Ku kira kau masih senior high school sepertiku.”

 

“Apakah wajahku terlihat semuda itu?”

 

“Tidak juga, ku kira kau kelas tiga. Bukannya seperti aku. Terlalu muda jika seperti aku.”

 

“Ah…kau ini. Memangnya kau kelas berapa?”

 

Tidak usah bertanya pun aku tahu, jika ia kelas dua. Terlihat jelas di tas kecilnya, terdapat sebuah gantungan kunci kecil yang menandakan bahwa ia siswa kelas 2-3 Hanbok High School. Hehe…

 

“Kau tebak. Kira-kira aku kelas berapa?” sepertinya ia sudah mulai nyaman berada di dekatku. Nyatanya ia sudah tidak terlihat canggung lagi. Ini adalah kesempatamu Donghae.

 

“Em…kelas 2-3 Hanbok High School.” Jawbaku dengan sombong.

 

“Oh…bagaimana kau bias tahu? Sebegitu pintarnya kau, hingga bisa masuk jurusan kedokteran dan menebak dimana aku bersekolah?” ucapnya dengan heboh, walaupun tak mengilangkan raut wajahnya yang terlihat pucat. Aku pun hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaanya.

 

….. ..,.. …..

 

“Kau yakin tidak ingin makan terlebih dulu?” tanyaku pada Rae yang berjalan manis di sampingku menuju pintu utama.

 

“Tidak, aku baik-baik saja. Lagian temanku sudah menunggu. Kasihan jika ia menunggu terlalu lama.”

 

“Kita bisa mengajak temanmu itu untuk makan sekalian. Kau tahu, wajahmu benar-benar pucat.” Bujukku sedikit memaksa.

 

“Donghae-ssi, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja” ujarnya keras kepala “Oh Lu-ge…” lanjutnya berteriak.

 

Kulihat seorang namja yang berusia sama denganya berlari kerahnya dengan wajah khwatir. Apakah namja tampan ini kekasihnya? Jika memang dia kekasihnya, harapanku untuk menadapatkan Rae akan pupus. Tidak mungkin aku merebutnya dari kekasihnya, aku bukan tipe orang yang seperti ini. Walaupun aku sangat menyukainya.

 

Aku terus berjalan disamping Rae yang berjalan mendekati namja yang di sebut Lu-ge itu. Tapi dengan tiba-tiba langkah Rae berhenti.

 

“Akhh…” ia memeggangi kepalanya, menjambak rambutnya dengan cukup keras.

 

Kulihat wajahnya yang kesakitan, terlihat sedikit cairan berwarna merah kental keluar dari lubang hindungnya. Seketika tubuhnya jatuh lemas kearahku, segera ku tangkap sebelum tubuh itu menyentuh permukaan bawah.

 

“Rae-ya” teriak namja itu dengan shock, yang telah berada di sampingku.

 

“Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.” lanjutnya melihat darah yang keluar dari hidung Rae.

 

Namja itu berlari di depanku sembari memeggang tas kecil Rae dan hilang kurang lebih dua menit. Kembali dengan mobil yang berada di depan pintu utama mall. Untung saja namja itu tidak memarkirkan mobilnya terlalu jauh dari pintu utama. Di bantun dengan security, kuangkat tubuh Rae, membawanya masuk kedalam mobil.

 

Donghae prov end,

 

Kyuhyun Prov,

 

Aku sedang berjalan bergandengan dengan Seung Ah kearah pintu utama untuk pergi dari mall ini, untuk melanjutkan kencan kami ke Sungai Han. Banyak beberapa pasang mata memperhatikan kami. Mungkin aku terlalu tampan, apalagi yeoja di sampingku ini juga tidak jelek. Aku masih tidak habis fikir, kenapa Rae pergi dengan tiba-tiba. Aku masih penasaran dengan sikapnya, apa aku melakukan sebuah kesalahan?

 

“Oppa, kenapa kau diam saja?” Seung Ah menggoyang-ggoyangkan tangan kannku yang ia peggang.

 

“Ah…aku tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir.” Aku tersenyum menatap Seung Ah yang perhatian kepadaku. Kyuhyun apa yang kau fikirkan. Ada Seung Ah disini, yeojachingumu, tapi kenapa kau malah memikirkan Yoon Rae. Dan lagi, saat kau menyukai Seung Ah, kau tidak terlalu memikirkannya sampai seperti ini.

 

Ia pun hanya tersenyum manis kepadaku, dan melanjutkan kegiatannya, berjalan sembari melihat-lihat kearah sekelilingnya.

 

“Eoh Oppa, bukankah itu Rae eonni?” tunjuk Seung Ah kearah pintu utama.

 

Segera ketengokkan kepalaku kearah pintu utama. Dan apa itu, seorang yeoja jatuh dipelukkan seorang namja, dengan namja lain yang berlari kearah mereka dengan panik. Parahnya lagi yeoja yang pingsan dengan darah keluar dari hidungannya itu adalah Yoon Rae. Yeoja yang dari tadi menyita pikiranku. Segera kulangkahkan kakiku kearah mereka, namun tiba-tiba sebuah tangan mencegahku.

 

“Oppa, biarkan saja. Bukankah sudah ada yang membantunya. Apa lagi ada Luhan subnae disana?” ucap Seung Ah memohon kepadaku.

 

Apa dia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan sendari tadi. Aku dia juga mengetahui perilakuku sedikit berbeda dari biasanya. Dan itu membuatnya terasa tersisikan atau sakit hati. Kyuhyun kenapa kau menjadi kacau seperti ini.

 

“Bukankah kau sudah berjanji akan mengajakku ke Sungai Han setelah ini” lanjutnya.

 

“Baiklah” ucapku agar membuatnya tidak curiga. Walaupun sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin sekali berlari kearah Yoon Rae, memeluknya, dan membawanya ke rumah sakit. Aku khawatir, kenapa yeoja keras kepala itu bisa pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah. Apa dia sedang sakit atau kelelahan. Entah aku sedang kerasukan setan mana, aku pikir aku mulai menyukai Yoon Rae, semenjak melihatnya sering melintasi depan rumahku tiap sore hari.

 

“Gomawo…” Seung Ah tersenyum sedu kearahku. Aku pun melanjutkan jalanku yang sempat terhamabt. Dan sekali lagi, kulirik kearah yeoja itu, yang sedang diangkat kearah mobil yang tersedia di depan pintu, yang kurasa itu mobil Xi Luhan.

 

Semoga Yoon Rae baik-baik saja. Setelah mengajak Seung Ah ke Sungai Han, aku harus segera menemui Lee Hyuk Jae untuk menceritakan semuannya.

 

Kyuhyun Prov End,

 

Author Prov,

 

Seorang yeoja terbaring lemas di sebuah ranjang di EMG, wajahnya yang pucat membuat kedua namja yang berada di sebelah kanan kiri ranjangnya menatap yeoja itu dengan sedu. Kata dokter, Yoon Rae hanya terlalau lelah, dan makan tidak teratur, sehingga membuatnya mimisan maupun pingsan. Hal itu membuat Luhan sedikit lega, walaupun sampai sekrang Yoon Rae belum sadar.

 

“Jadi siapa namamu?” tanya Luhan sembari menatap Donghae.

“Lee Donghae, kau bisa memanggilku Donghae Hyung, karena aku lebih tua darimu dan agar kita menjadi akrab.” Donghae mengulurkan tangannya kearah Luhan.

 

“Xi Luhan kau bisa memanggilku Luhan, hyung” Luhan menjabat tangan Donghae dengan senyum “Terimakasih telah membantu Yoon Rae.” Lanjut Luhan.

 

“Sama-sama” Donghae melepasakan jabatan mereka “Jadi, apakah kau sudah menghubungi keluarganya?” lanjut Donghae berjalan kearah kursi, dan meletakkan pantatnya di kursi itu.

 

“Belum hyung. Aku akan bertanya kepada Yoon Rae terlebih dulu. Jika aku mengubungi keluarganya terlebih dudlu, dan itu bukan kemauan Rae-ya, aku bisa mati di tangannya hyung.” gurau Luhan.

 

“Sebegitu dekatnya kau dengan Yoon Rae?” tanya Donghae penasaran, ia ingin mengetahui apa hubungan Yoon Rae dengan Luhan ini.

 

“Tentu saja kami dekat, di sahabat sekaligus tetangga dekatku dari kecil, dan dia sudah aku anggap sebagai adik kandungku.”

 

Donghae merasa sedikit lega mendengar perkataan Luhan. Jadi ia masih bisa untuk menadapatkan hati Yoon Rae. Walaupun sedikit susah karena lelaki yang bernama Xi Luhan ini. Tapi dia harus tetap semangat sebelum cicin berkilau terdapat di jari Yoon Rae. Yang menandaakan bahwa Yoon Rae dimiliki oleh seseorang.

 

“Bagaimana hyung bisa mengenal Rae-ya?” tanya Luhan tak kalah penasaran. Ia tahun lelaki yang berada dihadapannya ini baik, tapi tetap saja harus dipertanyakan asal usulnya.

 

“Aku yang membantunya untuk mendapatkan tiket Christian Ronaldo, dan tadi tanpa sengaja kami bertemu lagi di lift mall.”

 

“Karena itu, dia bisa mendapatkan tiket” Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya “Jadi kau tak melihat dengan siapa ia berada disana, tadi?”

 

“Tidak, yang jelas orang yang bertemu dengan Rae, membuat Rae terlihat seperti seseorang yang sedang sakit hati.” Jujur Donghae.

 

“Sudah kuduga, seharusnya aku mencegahnya tadi, walaupun ia keras kepala. Aku menyesal.” keluh Luhan pada Donghae.

 

“Memangnya siapa orang itu? Kekasihnya?” tanya Donghae penasaran.

 

“Bukan, dia-”

 

“Lu-ge….” perkataan Luhan terupus dengan suara Yoon Rae.

 

Segera Luhan mendekat kearah Yoon Rae semabri mengenggam tangan Yoon Rae “Rae-ya kau sudah sadar?” tanya Luhan spontan.

 

“Kenapa aku berada di rumah sakit?” tanya Rae lemas.

 

“Tentu saja, kau pingsan tadi. Dan semua itu, karena kau terlalu lelah dan tidak makan teratur.” Donghae mendekati ranjang Rae.

 

“Eoh…Donghae-ssi, gomawo telah menolongku tadi”

 

Donghae hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“Kalian memberi tahu keluargaku? Semoga saja tidak.”

 

“Tentu saja tidak, aku menunggumu hingga sadar. Jadi apa kau sekarang merasa lebih baik?” tanya Luhan lembut.

 

“Ya…tapi jika mengingat kejadian tadi, itu benar-benar sakit Lu-ge. Kau tahu, dia membawa Seung Ah dan memperkenalkan Seung Ah dihadapku. Ha…itu sangat menyakitkan” Rae pun mulai menitihkan air matanya, yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.

 

“Ghewecana, aku yakin kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia” Luhan pun memeluk Rae, mengusap-usap punggung Rae “Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik.”

 

Luhan merasa sakit ketika melihat Rae menangis hanya karena seorang namja. Ia paling tidak suka, ketika melihat Rae menangis. Luhan merasa dirinya tidak berguna saat ini. Ia bertekat, akan menjaga, melindungi, dan membuat Rae tetap berada di sisinya.

 

Donghae tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Yang jelas, Rae tadi bertemu dengan seseorang yang membuat Rae sakit hati. Jika saja ia mengetahui siapa namja yang membuat Rae menangis, ia akan menadatangi namja itu dan menghajarnya. Walaupun namja itu tidak sepenuhnya salah.

 

Luhan pun melepaskan pelukkannya, menghapus air mata Rae “Semua itu salahmu sendiri. Bukankah aku sudah memperingatkanmu. Tapi kau saja yang keras kepala, mengatakan bahwa kau tidak apa-apa. Lihat, apa yang terjadi sekarang! Kau sakit sedirirkan, sedangkan dia tidak.” nasehat dengan sedikit emosi.

 

“Mianhae…” Rae tidak marah mendengar Luhan yang sedikit emosi. Dia memang salah, dan Luhan sudah memperingatkannya beberapa kali. Ia tahu, Luhan bersikap seperti itu, karena Luhan menyayanginya.

 

“Sudahlah, lebih baik sekarang kau harus makan makanan rumah sakit itu, minum obat, dan beristirahat sebentar, setelah itu pulang. Karena dokter mengijinkanmu pulang setelah kau sadar. Dan lagi, jangan menangisi namja itu lagi, arraseo?” ceramah Luhan panjang lebar, sembari mendekatkan kelingkingnya kearah Rae.

 

“Heummm….” Rae menganggukan kepalanya, dan menghapus ingusnya dengan ujung jari-jari kanannya. Kemudian menautkan kelingkingnya dengan Luhan.

 

“Yak_menijikan. Kau ini.” teriak Luhan mengelapkan kelingkingnya di kemeja Donghae.

 

“Yak_kau tidak sopan sekali.” Teriak Donghae tak kalah keras, sembari mengibas-ngibaskan kemejanya.

Yoon Rae yang melihat tingkah kedua namja dihadapannya hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Menandakan bahwa, kondisinya sudah kembali seperti semula.

 

“Diam….” Luhan dan Donghae, berteriak secara bersamaan di hadapan Yoon Rae.

 

Sedangkan yeoja yang berada dihadapannya  hanya melototkan matannya kearah kedua namja itu, dan kembali tertawa terbahak-bahak tanpa dosa. Melihat sikap Rae, Luhan dan Donghae tersenyum, mereka mearasa sangat lega. Mereka berdua bertekat untuk melindungin yeoja dihadapannya ini. Mereka tidak ingin yeoja di depannya ini terluka ataupun menangis, hanya karena namja lain.

 

….. ..,.. …..

 

Seorang yeoja berlari sekencang mungkin dengan semangat. Ia menghembuskan nafasnya dengan keras setelah sampai di depan gerbang sekolah yang baru saja ditutup. Yoon Rae mengelap keringat di pelipisnya.

 

“Kwang ajuhssi, tolong buka pintunya.” Ujar Rae dengan nafas terengah-engah.

 

“Tidak bisa, kau terlambat” balas Kwang ajuhssi penjaga sekolah tanpa dosa.

 

“Oh…ayolah ajuhssi. Besok akan kubawakan masakan eomma” rayu Rae memasang wajah memelas.

 

“Eoh, Kyuhyun. Tumben sekali kau terlambat.” Ajuhssi tidak memperdulikan perkataan Rae.

 

Mendengar nama Kyuhyun membuat tubuh Rae kaku seketika. Ia jadi teringat kejadian kemarin sore yang membuat hatinya sakit seketika. Jika Rae bisa mengulang waktu, mungkin ia akan memilih tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun waktu itu, ah ani bukan hanya itu, ia memilih tidak akan menerima tantangan itu mungkin. Lupakan, ia harus melupakannya, ia sudah berjanji dengan Luhan dan Donghae. Ingat perkataan Luhan waktu itu, ia pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik di bandingkan dengan Kyuhyun. Jadi aku harus melupakannya, memulai untuk hidup baru. Semangat. Rae pun menghembuskan nafasnya dan menegakkan tubuhnya kembali

 

“Ah…ajuhssi, tolong bukakan gerbangnya eoh.” Pinta Rae terus memohon.

 

“Rae-a, apakah kau baik-baik saja?” Kyuhyun terus memperhatikan Rae sendari tadi ia sampai disini.

 

“Ne subnae…gwechana” jelas Rae singkat lalu menghadapkan kembali tubuhnya kearah gerbang.

 

Entah kenapa Kyuhyun merasa sikap Rae telah berubah terhadapnya, semenjak mereka bertemu kemarin sore. Ia benar-benar penasaran apa yang membuat Rae berubah seperti itu, apalagi saat melihat Rae tiba-tiba pingsan. Ia ingin melihat Rae yang seperti dulu, saat mereka pertama kali bertemu di kantin sekolah. Dan entah kenapa juga, Kyuhyun merasa bersalah, ia merasa semua ini terjadi karenanya. Ia merasa harus meminta maaf, sebelum semuanya terlambat. Ia ingin melihat Rae tersenyum kembali.

 

“Ajuhssi…ajuhssi…jeballl…” rengek Rae lagi

 

“Rae-ya…….” teriak seseorang dari dalam sekolah.

 

“Eoh…Lu-ge…” teriak Rae seketika melihat Luhan yang berlari kearah gerbang “Kau harus membantuku…” lanjutnya.

 

“Astaga RAE-YA, apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau beristirahat DIRUMAH SELAMA DUA HARI, dan apa yang kau lakukan BERLARI? Benar-benar.” Ucap Luhan sedikit emosi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

 

“Mianhae Lu-ge, maafkan aku. Kau tahunkan? Aku tidak betah dirumah. Aku yakin, tidak akan terjadi apa-apa padaku.”

 

“Kau ini, benar-benar keras kepala. Jika terjadi sesuatu padamu, akan kupastikan kau berada di rumah selama SATU MINGGU, dan kau tidak dapat keluar kemana-mana.”

 

“Arraseo, aku janji tidak akan terjadi sesuatu terhadapku. Jadi tolonglah aku, agar bisa masuk sekolah Lu-ge, sebelum aku dihukum.” Pinta Rae terhadap Luhan, sembari tertawa konyol.

 

“Tidak berubah sama sekali” Luhanpun mengeleng-gelengkan kepalanya.

 

Kyuhyun yang mendengarkan keduanya tengah berbicara pun mulai khawatir dengan kondisi Rae. Mengapa yeoja itu harus beristirahat selama itu, hingga membuat Luhan sedikit emosi melihat Rae yang keras kepala. Apakah Rae mempunyai penyakit yang sedikit parah? Sepertinya ia harus menanyakan keadaan yeoja itu sendiri, agar hatinya merasa lega.

 

“Rae-a apa yang terjadi padamu?” tanya Kyuhyun sembari memperhatikan Rae.

 

Luhan sedikit kaget, melihat keberadaan Kyuhyun. Sepertinya ia terlalu emosi melihat Rae yang berada disini, hingga tidak mengetahui keberadaan Kyuhyun.

 

“Ah…naega?” tanya Rae “Nan gwechana, aku hanya perlu istirahat.” lanjut Rae seadanya.

 

Kyuhyun pun hanya bisa mengangguk, tak tahun apa yang harus ia tanyakan lagi. Walaupun sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan. Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Bagaimana kau bisa pingsan kemarin? Apakah kau merasa lebih baik? Tapi ia merasa tak punya hak untuk menanyakan itu semua.

 

“Ajuhssi, tolong bukakan gerbanya. Kasihan Rae-ya, dia baru saja pingsan kemarin siang, dan seharusnya ia istirahat hari ini. Tapi karena ia keras kepala, ya beginilah…” Mohon Luhan kepada Kwang ajuhssi.

 

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya ajuhssi khawatir pada Rae.

 

Kwang ajuhssi sudah menganggap Rae seperti anak kandungnya sendiri. Karena dari sekian banyak siswa yang bersekolah disini, Raelah yang paling perhatian padanya. Terkadang Rae membawakan bekal untuknya, menemaninya berjaga hingga sore, membantunya, walaupun terkadang anak ini sulit sekali diatur.

 

“Iya ajuhssi, aku baik-baik saja. Lihatlah?” Rae pun memutarkan badanya “Aku baik-baik saja bukan. Jadi tolong, bukakan gerbanya sebelum seongsangnim masuk kelasku.”

 

“Kau ini. Baiklah, karena aku sedang berbaik hati, cepat masuklah.” Kwang ajuhssi pun membuka pintu gerbang dengan kunci yang berada ditangannya.

 

“Kyuhyun-na, masuklah juga. Kau kan jarang terlambat.”

 

“Gomawo ajuhssi” Kyuhyun pun melangkah kakinya memasuki lingkungan sekolah.

 

“Kalau begitu, kami duluan ajuhssi. Terimakasih telah membukakan gerbang untuk Rae.” Luhan pun mengandeng tangan Rae, berjalan kearah gedung bertingkat yang berada dihadapan mereka.

 

“Ajuhssi, GOMAWO” teriak Rae.

 

Kwang ajuhssi, hanya bisa tersenyum sembari berkacak pinggang melihat tingkah yeoja itu.

 

“RAE-A…” teriak Kyuhyun.

 

Rae dan Luhan pun menghentikan langkah mereka, dan menengokkan kepala mereka kearah belakang.

 

“Mianhae” ucap Kyuhyun menatap tepat di manik mata Rae.

 

Rae yang mulanya terkejut, akhirnya tersenyum dan mengangukan kepalanya. GWECHANA, balas Rae tanpa suara, hanya gerakan bibir saja yang terlihat.

 

…………………………………………..

 

Walaupun aku masih memiliki perasaan terhadap Kyuhyun subnae, aku harus berlajar untuk melupakannya. Apalagi dia sudah memiliki yeojachingu, aku tidak boleh menghancurkan mereka berdua. Masih banyak namja yang lebih baik dibandingkan Kyuhyun subnae. Aku harus melupakannya, ya melupakannya.

 

-Yoon Rae-

 

 

Kurasa aku mulai menyukainya, ani mencintainya. Tapi bagaimana dengan Seung Ah, dia yeojachingumu Kyuhyun. Tidak mungkin aku memutuskannya hanya karena aku mencintai Yoon Rae. Aku bukan tipe namja yang seperti itu. Mungkin ini karma, karena niat awalmu dengan Seung Ah hanya untuk mencoba mempunyai seorang yeojachingu. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

 

-Cho Kyuhyun-

 

 Melihatnya menangisi namja lain, membuat hatiku sakit. Aku tidak rela ia menangisi namja yang sama sekali tidak memikirkan perasaannya. Yoon Rae sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri. Tapi entah kenapa, saat aku menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri, hatiku ingin lebih dari itu. Tuhan, apakah ini yang dinamakan cinta?

 

-Xi Luhan-

 

 

Saat melihat yeoja itu pertama kali, kurasa aku mulai terserang virus Love at first sight. Tapi dengan bodohnya, saat itu aku tidak menanyakan namanya sama sekali. Untung saja, Dewi Fortuna masih berpihak padaku. Aku dipertemukan kembali dengannya. Yoon Rae, nama yeoja itu. Saat melihatnya begitu rapuh karena seorang namja, aku ingin melindunginya. Tuhan, izinkanlah aku untuk mengubahnya agar ia bisa mencintaiku!

 

-Lee Donghae-

19 Comments (+add yours?)

  1. AN
    May 17, 2014 @ 21:20:59

    Min Sequel 😀

    Reply

  2. Nadifah Nurani
    May 18, 2014 @ 04:40:49

    Entah knp,aku justru kasian sm Han Seung Ah..

    Reply

  3. bernadetabwr
    May 18, 2014 @ 05:06:58

    Sequel ~~!!!
    ini FF keren banget: -))))
    gua suka T.T authornya keren banget dh

    Reply

  4. littlefishy
    May 18, 2014 @ 07:38:34

    Yah.. end..
    Kayaknya butuh sequel deh author, soalnya masih ngegantung gmana jadinya hubungan luhan yoonra atau yoonra donghae..

    Reply

  5. (Echa) Siti Aminah
    May 18, 2014 @ 07:59:34

    Gila! Konfliknya banyak bangt thor, mana endingnya gantung banget lagi -_-

    Reply

  6. dhitakyuhyun
    May 18, 2014 @ 08:00:23

    Kyuhyun, Luhan, Donghae, Jongin. Hhhhuuuaaaa enk bgt yoonrae d kelilingi ama cowok2 ganteng^^

    Thor sequel donk
    Crita.a terlalu bagus buat d jadiin oneshoot…. 🙂

    Reply

  7. mimi
    May 18, 2014 @ 10:07:36

    penyakit klo liat oneshot yg cerita’a nanggung adalah
    “minta sequel”
    ad sequel g thor? ato ad wp pribadi?
    penasaran bgt nanti yoon rae sama sapa..

    Reply

  8. yurii
    May 18, 2014 @ 15:56:51

    Sequelnya dnk min .. 🙂

    Reply

  9. Indhika
    May 18, 2014 @ 17:56:01

    good story….

    sequel harus… harus…. harus….

    thor buat sequelnya cepetya jangan lama-lama…. 🙂

    Reply

  10. smil3leery
    May 19, 2014 @ 12:13:26

    Whooaa… terjebak di antara namja2 ganteng… mauuuu…

    Ini ada lanjutannya kan?

    Reply

  11. Mirta Rey
    May 20, 2014 @ 04:43:48

    Maaf semuanya, author baru sempet commen sekarang, soalnya kirain author, ceritanya nggak bakalan di post…hehe
    maaf ya, ketiknya banyak yang kurang2, maklum baru2…
    sequel?
    gimana ya? harusnya sih udah end, emang author buat gantung, biar kalian bisa nerusin sendiri…tapi nantilah author pikirin dulu, mau buat sequel atau nggak?
    wp pribadi ada, tapi belum banyak isinya…

    Reply

  12. Kodok
    May 22, 2014 @ 01:54:32

    kasihan sung anh nya..bener2
    dia kaya terkhianati
    tp mau gimana lg
    yg namananya perasaan g bisa dipaksaan

    Reply

  13. muneeee
    May 22, 2014 @ 15:50:16

    kereeeenn bangett, lanjut dong, masak ceritanya gantungg, bikin penasaran, hehehhe ! -,-

    Reply

  14. goseumdochi
    May 22, 2014 @ 18:43:17

    sequel :””” *nangisgulinggulingan*
    authornim sequel :””””’
    aku mau dia sama luhan entah kenapa. abis kyuhyun jahat, luhan perhatian, donghae stranger. aaaaaa sequel :””
    tanggung jawab aku senyum senyum sendirian sampe tiba tiba cengo di halte busway sampe diliatin orang. abis seruuuu demi apapun bahasanya enak dibaca, idenya abnormal, seru aaaaaaah

    Reply

  15. Yulia
    May 27, 2014 @ 13:12:30

    need squel Thor…;)

    Reply

  16. Lia9286
    May 30, 2014 @ 18:48:41

    I need sequel yhor

    Reply

  17. kyuchan2104
    Jun 06, 2014 @ 08:44:05

    Berharap da sequel’a..amin..

    Reply

  18. Novita Arzhevia
    Jun 28, 2014 @ 14:01:20

    Yoon Rae dikelilingi orang2 yang tampan. . Bnar2 daebak

    Reply

  19. han hye hoon
    Jul 11, 2014 @ 08:39:16

    Annyeong author-nim.. 😀
    Aku mau menepati janjiku buat komen,chingu ya..wkwk
    Good story,jalan ceritanya enak,g kecepeten,
    Trus besok kalau sequelnya udah jadi aku mau dong baca duluan..daripada nunggu di piblish lama^^*oops*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: