HEART ATTACK [5/?]

Kim Jong Woon FF _ Chanyeol FF

HEART ATTACK (Part 5)

 

Author : @mayatriani

Judul Cerita : Hyo Woon Couple : Heart Attack 5(Sequel My Destiny)

Tag (tokoh) : Shin Min Hyo (OC) ; Kim Jong Woon (Super Junior) ; Park Chan Yeol (EXO) ; other SJ’s & EXO’s member

Genre : Love

Rating : Complicted

Length : Chapter

Catatan Author :  Don’t bashing. Hargai cast dan authornya, neee….. ^^

 

Ada seseorang pria yang mencintaimu

Pria itu mencintaimu dengan sepenuh hati

Dia mengikutimu setiap hari  seperti bayangan

Pria itu tertawa dan menangis

Hanya berapa banyak … berapa banyak lagi yang harus ku lakukan

Untuk menatapmu sendiri seperti ini

Ini cinta yang datang seperti angin cinta ini seperti pengemis

Jika aku terus seperti ini, akankah kau mencintaiku?

Haruskah aku melanjutkannya untuk kau mencintaiku?

(Hyun Bin – That Man)

 

 

Pukul 19.00 Ruang Ganti Kantor Agensi.

Aku melepaskan tumpuan tanganku pada meja rias berwarna putih gading berhiaskan lampu bohlam yang dibiarkan menyala mengitari bingkai cermin.

Setelah menghapus riasan diwajah, aku berusaha berdiri dari kursi dengan menumpu tanganku di ujung meja.  Tepat saat tangganku melepas meja, ponselku berdering.

“yeobseo eomma..”

[Min Hyoya!  datanglah kerumah besok kalau sempat.]

“Aku tidak bisa janji ne..”

Aku memasukan ponsel kedalam mantel.

Kenapa lemas sekali ya hari ini? Bekerja juga tidak semangat. Tidak seperti biasa, hari ini aku merasa lebih capek dari biasanya. Tapi aku bisa apa? Ini pun sudah menjadi resiko pekerjaanku.

Selangkah . Dua langkah. Aku mulai terhuyung. Sambil berjalan pelan-pelan, aku memegangi perutku yang mulai merasa perih. Aku baru ingat kalau aku tadi tidak makan siang. Lagi-lagi tidak seperti biasa. Aneh sekali di saat pekerjaan sedang padat-padatnya seperti, aku bisa melupakan makan siang. Biasanya aku tidak mau kelewatan jatah waktu makan siang karena maghku yang mudah sekali menyerang.

Ahh… jinjja.. perih sekali.

                Seperti yang sudah-sudah kalau maghku kambuh, kepalakupun ikut sakit.

Aku bersandar pada dinding yang dingin sebentar. Yang sakit memang hanya lambungku, tapi sepertinya seluruh tubuhku ikut merasakannya. Tanganku memegangi perutku seakan tidak ingin lambung ini merasakan sakitnya sendiri, kepalaku-pun tidak mau kalah, bahkan tubuhku terasa lemas, sulit untuk berdiri tegak.

Ah. Neomu aphayo.. Jeongmal

Dibalik rambut yang tergerai menutupi wajah yang merunduk, mataku terpejam ketika aku berusaha mengatur nafas menahan perih.

“Nunn-“ tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing. Suara itu tampak ragu keluar dari pemilik bibir , tapi akhirnya terdengar kembali ketika aku mengangkat wajahku.”Omo! Min Hyo Noona, kau berkeringat!”

“Chanyeol ssi” aku meringis.

Chanyeol panik. Aku bahkan sempat mendengar ketukan kakinya. Seperti bingung harus mencari bantuan atau tidak.

Tangan lelaki itu dengan gugup menyeka keringat didahiku dan menyingkirkan rambutku yang tergerai menutupi wajah.

“Ya tuhan, panas sekali, Otteokhae?” katanya samar-samar ku dengar.

Aku masih terus menunduk menahan sakit. Aku mendengar chanyeol menelpon seseorang saat aku menggigit bibirku. “aku tidak bisa ikut berkumpul malam mini, mian” hanya itu yang terdengar.

“Noona, biar aku antar pulang ya. Noona bisa katakan alamatnya?” Chanyeol menunduk mencari wajahku.

****

Aku dan kedua orang tuaku berada dirumah Jong Woon yang besar. Dindinganya berwarna putih dengan furniture berwarna hitam dan putih meninggalkan kesan minimalis dirumah yang besar ini. Aku terus memandangi foto bebingkai besar yang berada  disebelah kiri foto keluarga keluarga Kim.

Kim Jong Woon meski tidak sedang tersenyum masih sangat  terlihat  tampan memakai setelan tuxedo hitam yang menutupi kemeja putih itu.

Bahuku perlahan melemas. Dada ku berdebar saat mengingat yang kulihat kemarin lusa. Jong Woon dan Wanita itu.

“Jong Woon sebentar lagi sampai.” Kata Tn. Kim memperhatikan aku yang  terus memperhatikan foto anaknya.

“Oh! Ne.”

“Oiya, Jong Woon sudah memberitahuku kalau dia sudah mendapat EO untuk pernikahan kalian, lho.  Kau sudah tahu Min Hyo ya?” Bibi Kim yang  datang membawa minuman ikut menimpali.

“Ne.. Aku sudah tahu, bibi”

“Aigoo, masa kau masih memanggilku bibi, panggil aku Eomma ya, mulai sekarang. Biar kau terbiasa nanti.” Ny Kim Tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya “Ahh.. aku jadi ingin memajukan tanggal pernikahan kalian. Aku benar-benar tidak sabar”

Jong Woon Eomma berhasil mengundang tawa seisi ruang tamu..

“Andweo Eomma!!”

Secara refleks, semua yang berada disini menoleh kearah sumber suara.  Tidak terkecuali aku. Sejak kalimat itu muncul, aku terkesiap memperhatikan Jong Woon yang tiba-tiba datang danberteriak.

“Oh, Uri adeul! wass-eoyo?”

“Ne, Eomma..“ Sahut Jong Woon yang berdiri disamping vas bungaa tulip dekat pintu utama. Sedetik kemudian mulutnya kembali terbuka “Aku..”

“Wae?” Tanya Eomma dan Appanya bersamaan

Jong Woon tampak mengumpulkan keberanian, lalu melanjutkan kalimatnya lagi.

“Aku ingin pernikahan ini dibatalkan!”

Mataku yang sedari tadi memandangi mata Jong Woon dengan tenang, tiba-tiba membelalak.

“WAEEEE???” teriak para orang tua, bakan kedua orang tua lelaki itu berdiri.

Ada apa ini?

                Aku terus memperhatikan mata jong woon. Matanya melirik kearah lorong yang menuju pintu masuk. “Oseyo!” Sedetik kemudian, seorang wanita muncul. Perkiraanku tepat. Wanita itu, yang aku lihat diparkiran bersamanya.

Sesaat, Aku tersentak. Aku mengingat rasa sakit yang aku rasaa saat melihat mereka berdua pertama kali, dibanding dengan waktu itu.. yang ini jauh lebih sakit.

Tanpa sadar, pipiku mulai basah. “Andwe! Andwe! Andwe Jong Woon.. Andweee!!!!”

Aku tidak tahu, kapan Chanyeol datang, tiba2 anak itu sudah berddiri dibelakang perempuan yang digenggam erat Jong Woon.

Badanku semakin lemas, mataku terpejam menahan sesak didadaku

“Noona! … Min Hyo Noonna! gwaenchanha?” Sayup-sayup aku mendengar suara chanyeol yang terus memanggilku,

Badanku semakin lemas, mataku terpejam menahan sesak didadaku. Saat aku mencoba membuka kelopak mataku, kepalaku menjadi sakit luar biasa. Samar-samar aku menangkap bayangan Chanyeol yang terlihat khawatir. Sontak mataku terbuka lebar. Aku langsung bangun dan mengangkat tubuhku sekuat tenaga untuk bersandar pada sandaran kasur.

Kasur???

“Uhm Park Chanyeol?”

Chanyeol tetap memandangiku dengan wajah khawatirnya. “Nunna gwaenchanha??” Tanyanya. “Apa yang kau rasa? Apa yang sakit? Malhaebwa (Katakanlah)!”

Sudah bangun?

Ah, rupanya yang tadi itu mimpi.  Aku mengedarkan pandanganku. Ternyata aku sudah ada diapartment.

“Kepalaku pusing sekali.” Sebuah sapu tangan terjatuh saat aku memijit keningku yang sakit.

“Mungkin karena Nunna belum makan malam.” Sahutnya.

Aku tersentak saat chanyeol lagi-lagi tidak segan untuk melakukan skinship . Tangannya mendarat dikeningku dengan hati-hati.

“dahaengiene (syukurlah) Panasnya sudah turun, .” Katanya tersenyum. “ayo keluar! aku sudah buatkan Kongnamulguk (makanan yang biasa dihidangkan untuk orang yg sakit)”

Chanyeol melipatkan kedua tangannya diatas meja makan, mengawasiku. Matanya tidak berhenti mengawasi setiap sedok Kongnamulguk yang masuk kedalam mulutku. Aku yang tidak biasa di awasi oleh lelaki lain selain Jong Woon, akhirnya menjadi canggung.

“Uhm.. kau tidak ikut makan?” Kataku mencoba melepas kegugupan ku

Dia menggeleng, lalu tersenyum. “Sudah tadi”

“Oh..geurae”

Situasi kembali sunyi sampai aku menyelesaikan sendok Kongnamulguk yang terakhir.

“Gomawoyo~” aku terharu. “terima kasih ya, sudah menjagaku, merawatku, dan juga membuatkan ini. Hehe. Enak sekali” Kataku mengulas senyum tulus.

“Cheonmaneyo Nunna.” Chanyeol mengibaskan tangannya.

“Kalau memang tidak apa-apa, jangan memelototiku seperti itu dong!.”

“Aigoo.. kapan aku memelototi Noona?” Kali ini mata-nya benar2 melototiku.

Aku berjalan membawa mangkuk kosong.Tadinya aku ingin mencuci mangguk kotor ini, tapi Chanyeol mematikan keran yang baru saja kunyalakan.

“Biar aku saja yang mencuci” Selanya. “Nunna baru saja sembuh, jangan banyak bekerja.”

Seakan tidak ada pilihan lain, aku membiarkannya mencuci mangguk kotorku. Aku tidak pergi terlalu jauh darinya. Karena rasa tidak enak membiarkan tamu mencuci piring bekas kupakai, aku tetap berdiri disampingnya. Memperharikan jarinya yang panjang membasuh mangkuk-mangkuk itu dengan lincah.

“Kau sepertinya tidak asing dengan pekerjaan dapur ya?”.

“Mungkin karena aku lebih banyak bersama ibu dan Noonnaku sejak kecil, Jadi sudah terbiasa.”

“Oh..pantas saja” Gumamku pelan.

Aku menjulurkan handuk kecil yang memang untuk mengelap tangan didapur kepadanya seusai mencuci mangkuk.

Dari dapur, kami beranjak keruang duduk, Aku menyalakan tv dan menonton reality show bersama Chanyeol. Aku tersenyum ketika seorang idol belum pernah melakukan firstkiss nya tetapi, teman satu grupnya justru membongkarnya.

“Ehm..” Chanyeol berdehem sebelum mulai bicara.”Sebenarnya tadi Noona mengigau saat tertidur” Kata Chanyeol yang bertubuh jangkung duduk di sebelahku. Dia menyambar mantelnya dan melebarkannya  hingga menutupi kakiku yang bersila diatas sofa.

Aku sempat memandangnya bingung, tapi aku kembali memutar kepala kedepan.” Jinjja? Ah, memalukan sekali.”

Tidak ada tanggapan dari Chanyeol, saat itu entah dia asyik dengan tv atau dengan pikirannya sendiri aku pun tidak tahu. Yang aku tahu kami saling diam.

“Nunna.. Naneun  neoreul saranghada” Suara Chanyeol keluar dengan hati-hati.

Sesaat aku terkesiap. “Mworago?”

Aku menelan ludah.  Tiba-tiba menyadari satu hal. Apa yang Jong Woon katakan waktu itu ternyata benar.

Chanyeol memutar badannya menghadapku, lalu berkata “Aku mencintai Noonna,  Neol saranghae..”

Walaupun sebenarnya aku tidak biasa terlalu dekat dengan pria lain selain temannya Jong Woon, tapi aku hanya bisa menganggap keakraban ini sebatas adik-kakak.. tidak lebih. Sekarang Bagaimana aku menjelaskan ini agar dia tidak tersinggung? eotteohke ??

“Uhm.. Chanyeol ssi..” Kalimatku terhenti ketika ponselku berdering. Chanyeolpun ikut-ikutan melirik nama yang tertera pada layar ponsel.

Kim Jong Woon? Kenapa dia menelpon disaat yg tidak tepat? Bagaimana kalu dia tahu kalau aku bersama Chanyeol di apartment?

Ragu-ragu akhirnya aku menjawab panggilannya.

“Wae?”

[Kau sedang dimana? Bisa bertemu?.]

“Aku sedang di.. di Supermarket. Kenapa?” Kataku berbohong. Aku melirik Chanyeol ketika aku mengucapkannya. “bertemu besok saja, aku lelah sekali mala mini.”

[Begitu ya? Baiklah!]

Aku sudah bisa menebak kalimat apa yang akan keluar dari mulut chanyeol saat aku menutup telepon ini.

“Kenapa Noona berbohong pada Sonbae?”

BENAR kan!

Kening Chanyeol berkerut.

“Aku hanya tidak ingin dia ke apartmentku malam ini.”

“Jadi Sonbae pernah datang kesini.” Chanyeol tampak kecewa

Aku hanya mengangguk karena merasa tidak perlu menjelaskan tentang pernikahanku dan Jong Woon. Aku hanya perlu meluruskan tentang ungkapam perasaannya. Aku tidak mau dia perasaannya semakin dalam padaku.

“Bagaiman soal Son Ju? Bukankah hari ini debut?”

Chanyeol agak kaget mendengar pertanyaanku. “Ah, Benar. Dia debut hari ini..” Katanya nyaris seperti gumaman.

“Lalu, kenapa kau ada disini. Kau tidak mau mengucapkan selamat padanya?”

Chanyeol termenung, lalu berkata “Rencana awalnya memang seperti itu. Tapi aku tidak bisa membiarkan Noona kesakitan sendiri tadi. Aku bahkan hampir mengeluarkan air mata saat Noona meringis ketika tidur”

“Jeongmallyo? Kau kan bisa menelpon 119”

Chanyeol mendesah, lalu berkecak pinggang. “Bagiamana mungkin aku melakukannya? Memanggnya aku tidak punya perasaan?” Chanyeol cemberut.

Aku membenarkan posisi dudukku lalu berkata, “Chanyeolssi..” panggilku.”Seandainya aku dan Son Ju terkapar kesakitan diwaktu dan tempat yang sama, siapa yang akan kau beri pertolongan lebih dulu?”

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari ku. Lalu Ia tampak menimbang-nimbang hingga akhirnya bersuara..”Molla (aku tidak tahu)”

“Chanyeol ssi, aku fikir kau tidak benar-benar mencintaiku…” Aku menghentikan kalimat ketika chanyeol menoleh ingin menyela ucapanku. Tapi aku cepat-cepat melanjutkannya.”Bukan hanya karena aku dan Son Ju mirip, kau berarti mencintaiku juga. Kau tidak mencintaiku. Kau pasti masih mencintainya.”

Chanyeol berdesah, dan bergumam memanggil namaku.

“Setiap kau bertemu denganku, setiap kau menginginkan kita bertemu, saat itulah kau merindukannya. Katakan salah, kalau memang yang aku bilang barusan tidak benar!” kataku yakin.

Chanyeol tidak segera merespon. Sinar wajahnya yang selalu riang sedikit meredup ketika lelaki itu merunduk. Chanyeol diam-diam melirik ponsel yang aku genggam.

“Noonna..” Panggil chanyeol lirih.”Apakah karena Soonbae itu?”

Aku mengangkat alisku sebelah tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Yang Noona katakan itu tidak benar…. tidak benar bahwa aku hanya memikirkan Son Ju saat bersama Noonna. Tidak benar bahwa aku masih mencintainya dan salah mengartikan perasaan ku terhadap Nunna. Aku benar-benar mencintai Noona. Aku tidak ragu-ragu lagi. Aku tidak mencintai orang lain selain Noona.” Chanyeol menarik nafas panjang. “Aku ingin.. Noona menjadi kekasihku”

Aku tercekat sesaat. Aku berusaha mencari kata-kata yang bisa mewakili penyesalannku yang tidak bisa menerimanya, tetapi aku hanya bisa berkata, “Chanyeol ssi, Mianhe.. “ dengan berat.

Chanyeol terseyum muram. “Apa itu artinya tidak?”

Aku mengangguk

“Apakah ada orang lain yang kau suka?”

“A.. Ani-yo.. Hanya saja, aku lebih nyaman menganggapmu seperti adikku… Mianhae Chanyeolie”

“Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menjadi seorang ‘lelaki’ dimatamu, bukan sekedar adik Noona?”

“Tidak ada. Kau tidak perlu melakukan apapun. Sejak awal aku sudah menganggapmu sebagai adikku. Adikku yang paling baik. Lebih dari lelaki, kau bahkan seperti malaikat malam ini.”

“Noona..”

“Mianhae Chanyeolie.. aku rasa lebih baik seperti ini. Aku tidak ingin memberi harapan lebih yang nanti hanya akan menyakitimu.”

“Bahkan aku sudah sakit sekarang setelah mendengar Noona menolakku”

“Chanyeoli.. Jebalyo.. Jangan membuat aku tidak berani bertemu denganmu lagi karena merasa bersalah…”

Chanyeol menghembuskankan nafas putus asanya lalu merentangkan tangannya memeluk tubuhku yang kecil.

“Uhm.. Jogi-yo..” Aku berusaha melepaskan pelukan ini dengan lembut.

“Tolong izinkan aku memeluk Noona sebentar saja.” Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya. “Aku tidak mau perasaanku ini membuat kita tidak bisa bertemu lagi. Aku tidak mau..” Chanyeol menghetikan suaranya yang bergetar. “aku tetap mencintai noona! Mulai sekarang,  aku akan jadi adikmu yang paling baik dan satu-satunya didunia.” Lalu untuk beberapa saat kami terdiam dalam pelukan yang tidak terduga ini

Aku merasakan dada Chanyeol mengeluarkan nafasnya dengan berat sebelum akhirnya aku merasa hangat yang diberikan tubuhnya, menjauh. Dia berdiri.

“aku akan pulang sekarang.” Katanya berusaha mengulas sebuah senyum. Bahkan aku sendiri bisa merasakan betapa beratnya ia mengangkat ujung bibirnya. “Jangan pernah lupa makan lagi, dan jangan sakit lagi.” Katanya sambil mengusap-usap kepalaku.

Chanyeol mengambil mantelnya kemudian memutar badannya berjalan menuju pintu keluar.

Setelah pintu tertutup, aku menghempaskan badanku di sofa, menarik nafas lalu mengeluarkannya lagi. Lega.

Apa yang aku lakukan sudah benar? Tapi kenapa aku merasa kalau aku baru saja  melakukan kesalahan?

*****

Sudah satu setengah jam yang lalu Chanyeol meninggalkan apartementku. Aku berdiri membelakangi tempat tidurku dan memandang jalanan kota Seol di malam hari dari jendela. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Meski jam sudah menunjukan pukul 00.30 dan aku tidak mengantuk sama sekali.  Aku sudah berusaha berbaring, menutup seluruh tubuhku dengan selimut, tapi tetap saja tidak bisa tertidur. Kalau begini bagaimana aku bisa bekerja besok?

Aku terus berpikir. Meskipun kepala ku masih terasa berat. Tapi semakin berusaha menyingkirkan pikiran itu, bayangan itu terus saja berlalu lalang.

Senyuman Jong Woon saat melihat wanita itu..

Setiap pergerakan Jong Woon yang membukaakan pintu mobilnya untuk perempuan itu..

Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Ya, memang karena aku tidak pernah mencintai lelaki seperti mencintai Jong Woon sebelumnya.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan.

Apa yang harus aku lakukan? Menunggunya menceritakannya sendiri, atau aku bertanya saja langsung? Ah, aku sudah membahas tentang ini bukan? Dan dia sama sekali tidak bilang kalau perempuan itu bukan pacarnya? Jadi.. perempuan itu pacarnya?

Ding Dong!

Denting bel pintu mengalihkan perhatianku dari pemikiran tentang Jong Woon. Aku menyingkap selimut dan keluar untuk membuka pintu. Saat sampai diruang tengah, aku berhenti. TUNGGU! Jam berapa sekarang? 00.45 dini hari. Aneh sekali ada tamu datang dini hari seperti ini. Mungkin saja orang jahat.

Aku melihat-lihat sekitar. Aku harus menggenggam sebuah benda untuk berjaga-jaga. Tepat ketika pemikiran itu muncul, aku melihat payung putih yang tertancap pada wadahnya di dekat pintu. Aku meraihnya dan menyembunyikannya di belakang badanku.

“Nugu ya~??” tanyaku dari dalam pintu..

Aku menempelkan telingaku menunggu jawaban, tapi kemudian menjauhkannya lagi ketika  tidak sama sekali muncul sahutan  dari balik pintu tersebut.

Karena penasaran, dengan hati-hati aku menarik knop pintu. Tetapi begitu terbuka, aku tidak melihat seorangpun disana. “Nu.. gu yaa?” aku memperhatikan sepanjang lorong, tapi sama sekali tidak ada siapa-siapa. “Siapa yang membunyikan bel?” gumamku heran. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan kembali berfikir macam-macam setelah secepat kilat aku menutup pintu. Aneh sekali, jangan.. jangan..

Drrttt Drrttttt..

Aku hampir meloncar ketika ponsel yang ada dikantung pajamaku bergetar. Huuh.. Mengagetkan saja..

 

Park Chanyeol :

Nunna Nunna Nunnaa..  Jaljaaayo..     

Tidak mungkin kan, kalau Chanyeol yang menekan bel  pintu.

Maldo andwe..’Aku cepat-cepat menggeleng.

 

****

Aku melirik jam tanganku, lalu memandang jauh kearah pintu ruang kerjaku, memperhatikan orang-orang yang keluar meninggalkan meja kerja mereka masing-masing.

Pukul 20.00.

Lalu dengan ragu aku menggapai ponsel yang tergeletak diasamping tumpukan kertas dimeja kerjaku. Aku membuka pesan masuk yang sebenarnya sudah kubuka saat pesan itu masuk 2 jam lalu.

 

Kim Jong Woon:

Datanglah keruang latihanku setelah pekerjaanmu selesai. Aku akan menunggu.

               

Pesan itu sudah 2 jam yang lalu. Akupun tidak sempat memberinya jawaban saking sibuknya. Lebih baik pastikan dulu, apakah dia masih disana atau tidak.Batinku sambil megerakkan jemariku menyusun kalimat.

 

Kau.. masih disana? Kau masih menunggu ku diruang latihan?

               

                3detik kemudian

 

[Kim Jong Woon:

                Ne, palli wa!~]

 

                Aku tidak bisa menahan senyumku ketika membaca balasan pesan darinya. Bahkan ketika aku merapihkan mejapun tanpa sadar aku masih tersenyum saking senangnya.

Dia masih menungguku.. Dia menungguku. Teriakku dalam hati. Tapi ada apa ya?         

“Nuuna!”

Aku mengangkat wajah dan mendapati Chanyeol tengah berdiri di depan meja kerjaku.

“Chanyeolssi, sedang apa kau disini?”

 

“Aku ingin mengajak Nunna pulang bersama.” Jawabnya ceria.

“Oh, Itu.. Kau.. pulang duluan saja, ne. Aku lembur malam ini.”

“Lembur ya? Tapi kenapa hanya Nunna?” Tanya Chanyeol lagi setelah mengedarkan matanya disepenjuru ruangan yang hanya tersisa aku sendiri.

“Aniyo, ada beberapa orang lagi. Mereka sedang membeli cemilan. Iya, cemilan! Kau pulang saja ya..”

“Begitu ya, Geurae.. Aku pulang duluan! Nunna, Fighting~!”

Chanyeol memutar badan setelah aku membalas kepalan tangannya yang menyemangatiku. Pandangannku tidak lepas dari orang itu hingga dia benar-benar lenyap dari pandangannku.

Mianhae, Chanyeollie.. Mian.

               

Pintu yang mengeluarkan bunyi meski dengan sangat hati-hati aku membukanya itu, berhasil membuat satu-satunya orang yang berada dialam sana menolehkan kepala.

Aku menyunggingkan senyuman paling manis sebagai tanda salam ku, lalu perlahan memasuki ruangan.

“Kenapa lama sekali!”

Mwoya ige? Senyuman manisku dibalas dengan bentakan. Cih, Aku jadi menyesal

 

“YA! Kenapa keluar lagi. Masuk!” Jong Woon setengah berteriak ketika aku mengambil ancang-ancang untuk keluar.

Sesuai perintah pria yang baru berdiri dari duduknya itu, akupun menghampirinya sambil memasang wajah kesalku.

 

“Harusnya aku yang memasang wajah itu , bukan kau.” Katanya dingin.

 

Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan tajam. Kim jong Woon menggambil tas ransel hitam yang tergeletak dilantai dekat keyboard dan kembali duduk disampingku.

“Kau marah?” Jong Woon menatap mataku dalam seolah mencari jawabannya sendiri. Sedetik menerima tatapan itu, aku yang tidak kuat akhirnya melempar pandangank kesegala arah.

“Menurutmu saja seperti apa.” Jawabku dingin

 

Jong Woon mengengerutkan keningnya, lalau mengangkat bahu dengan enteng. “Sepertinya sih begitu, tapi sepertinya juga aku tidak punya salah apapun.”

 

“Cih, benar-benar”

Memang ucapannya terdengar biasa saja, tapi kalau melihat wajahnya yang menyebalkan, sok dingin, rasanya aku tidak sabar untuk mengetuk kepala besarnya itu.

 

“Min Hyo yah~, coba kau lihat ini..” Jong Woon yang tidak mengacuhkan gerutuanku, kini membuka tas hitamnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.”Bagus tidak?” Rawut wajahnyapun berubah. Mimik wajahnya yang menyebalkan itu menghilang.

 

<Tek>

 

Kim Jong Woon membenarkan posisi duduknya menghadapku. Tangannya membuka sebuah kotak yang bertengger sepasang cincin bermata berlian indah didalamnya.

 

“Ige Mwoya?” Aku mengalihkan pandanganku dari cincin itu kearah Jong Woon.

 

“Apalagi kalau bukan cincin pernikahan?”

 

“Pernikahan si-apa?”

Bahu Jong Woon merosot seraya melemparkan pandangan herannya kearahku lalu menutup kotak itu dan dijatuhkan diatas pangkuannya.

 

“Min Hyo yah~” Panggil Jong Woon dengan suara sangat rendah.

 

“Ye?”

 

“Kau ini kenapa? Kenapa masih bertanya pernikahan siapa. Sudah pasti pernikahan kita.”

                Kita? Kau yakin? Bagaimana dengan perempuan itu?Kau fikir aku mau menikah dengan lelaki yang mempunyai simpanan?

               

                “YA! Kenapa melamun? Apa yang ada difikiranmu? Katakanlah. Aku tidak mau ada rahasia sementara kita akan menikah.”

 

“Jong Woon ssi, bagaimana dengan perempuan itu kalau kau menikah denganku?”

 

“Mwo? Perempuan.. Perempuan yang mana? Aku tidak mengerti maksud ucapanmu”

“Ha..na Chan, bagaimana hubunganmu dengannya? Kalian bukannya sedang berpacaran?”

“Jangkaman! Hongsii… selama ini kau berfikir selama ini aku berpacaran dengannya?”

 

Aku mengangguk

“Aigoo.. Kau! Kenapa tidak bertanya padaku dulu? Jadi kau lebih percaya pada berita wartawan-wartawan itu dibanding aku.. ”

“Aku tidak bermaksud begitu, Jong Woon ssi. Apa kau lupa kalau aku sudah bertanya padamu waktu kau di apartementku? Kau tidak ingat? Bukannya menjelaskan yang sebenarnya, kau malah langsung pergi.”

“Kau dengar ya, aku dan Hana Chan tidak ber-pa-ca-ran. Hana Chan itu ketua Tim EO yang akan mengurus pernikahan kita. Aku bertemu dengannya saat syuting di Jepang, dan karena dia bertugas di korea tahun ini, jadi aku memintanya yang menangani pernikahan kita. Kalau kau tidak suka dengannya, aku bisa cari saja EO yang lain, tapi semua urusan tentang pernikahan mau tidak mau dimulai dari nol lagi. Bagaimana?”

Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang diucapkan pria dihadapanku ini sangat melegakan. Tatapan wajah Kim Jong Woon seakan bicara ‘percayalah padaku, aku akan melakukan apapun asal kau bisa mempercayaiku.’

 

“Bagaimana? Apa kita perlu mencari EO yang lain?” Tanya Jong Woon memastikan. Tangannya bergerak menyentuh lututku tidak sabar menunggu respon dari penjelasannya.

“Tidak perlu, aku percaya padamu.”

 

Aku mengulas senyum tipis.

 

“Ah, dahaengieyo (syukurlah). Tapi kau harus tau juga kalau aku kecewa karena kau lebih percaya pada wartawan bukannya bertanya dulu padaku.Dan, kau sama sekali tidak merajuk padaku. Kau tidak cemburu eoh?”

 

“Aku berbeda denganmu ya!”

 

“Gerae geurae..”Jong Woon menyela.”Cincinya bagaimana, bagus?”

“Uhm.. bagus”

 

“Kau membawa mobil?”

 

“Iya, Wae?”

 

“Tinggalkan mobilmu saja. Aku akan mengantarmu pulang.”

 

“Tapi..”

 

“Ya, Jangan menolak perintah calon suamimu, tidak baik.”

 

Kim Jong Woon memasukan kotak cincinnya seraya berdiri. Tangannya menarik lenganku agar aku bangun dari dudukku.

 

“Ayo kita ambil tasmu.” Perintahnya lagi.

 

Tangan Kim Jong Woon yang semula menggenggam pergelangan tanganku, kini turun ke telapak tangan. Kami berdua saling berpegangan tangan sepanjang jalan menuju ruang kerjaku. Hingga  setibanya dimeja kerjaku, kami baru saling melepaskan tangan masing-masing.

 

Tidak, lebih tepatnya aku hampir menghentakan tangan Jong Woon agar terlepas dari genggamanmu ketika sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di meja kerjaku.

Jong Woon yang sudah terkejut melihat meja kerja, semakin terkejut dengan refleksku yang menghentakan tangannya. Mata Jong Woon menatap tangannya sejenak, lalu matanyaberbicara ‘apa-apan kau?”

“Park.. Park Chan-nyeol ssi? Kau disini?”

 

Chanyeol melebarkan kedua matanya sejenak ketika melihat aku dan Jong Woon datang dengan berpegangan tangan. Lelaki itu kemudian berdiri.

 

“Ah Nunna, wasseoyo (sudah kembali) ? Karena Nunna tadi bilang akan lembur Aku datang membawakan ramen dan kopi hangat agar Nunna tidak lapar nantinya.” Chanyeol mengusap tengkuknya. Wajahnya menjelasakan sekali kalau dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Jong Woon. Apalagi, Chanyeol sama sekali belum mengetahui tentang hubunganku dengan Jong Woon. Dia pasti kaget melihat aku yang tiba-tiba datang berpegangan tangan dengan Jong Woon.

 

“Oh, Hyung.. Annyeong..” Chanyeol membungkukkan badannya memberi salam ketika Jong Woon menghampiri meja kerjaku dan meraih tasku, kemudia ia kembali berbalik menghadap Chanyeol.

 

“Chanyeolssi, Mian. Nunna ini akan pulang bersamaku sekarang, makanan darimu akan kami bawa pulang saja. Oiya, lebih baik kau juga pulang.” Jong Woon meletakkan tangannya dibahu Chanyeol dengan tersenyum, “kami duluan ya..”

Aku terus menatap Chanyeol yang berdiri memandang punggung Jong Woon, lalu beralih menatapku. Aku tidak tahu apa yang ada difikirannya, tapi raut wajahnya membuat aku merasa bersalah. Bahkan aku mengacuhkan tatapan mata Jong Woon yang mematikan saat menghampiriku dan membawaku keluar ruangan.

 

Saat aku menoleh lagi, aku melihat Chanyeol menjatuhkan badannya pada kursi mejaku sambil menghela nafas dengan pandangan yang kosong pada layar laptop.

 

                 Bersambung..

               

 

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    May 27, 2014 @ 12:43:39

    Haa… Akhirnya mereka baikan lg deh. Next partnya Jangan lama2 lg thor….

    Reply

  2. choi sena
    May 27, 2014 @ 15:46:23

    memang heart attack sekali ini ff

    Reply

  3. Yulia
    May 27, 2014 @ 21:18:47

    jadi kasian sama Chanyeol…
    lanjutnya jgn lama2 ya Thor:)

    Reply

  4. Kjjzz88
    May 30, 2014 @ 17:24:47

    Seru! lanjut asap thor ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: