Memories

Nama : Anissa Anggina Putri

Judul Cerita : Memories

Tag :

Cho Kyuhyun

Henry Lau

Amber (OC)

Kim Kibum

Genre : Brotherhood, Family

Rating : All

Length : One Shot

 

 

“Kyuhyun, mulai hari ini dia akan jadi adikmu.” Kyuhyun menganggap pertemuan pertama dengan lelaki bule ini sebagai awal mimpi buruk. Berakhir sudah hari-hari sebagai anak tunggal. Henry Lau namanya. Ia masih berusia lima tahun dan diadopsi ayah Kyuhyun di sebuah tempat panti asuhan. Sejak ibu Kyuhyun tidak bisa hamil lagi. “Kyuhyun, baik-baik sama dia terus ajak main.”

Waktu itu, Henry tipe lelaki pemalu. Diam di tempat kasur meski banyak alat mainan tersedia. Takut dimarahi kakak tirinya. Seolah tidak boleh menyentuh barang yang sudah jadi miliknya. Sebelum dititipkan ke panti asuhan, ia tidak punya kenangan orang tua saat masih hidup. Mungkin dirinya tidak diinginkan entah anak dari luar pernikahan atau ada kekurangan fisik. “Henry, waktunya makan malam.” Dan hal paling sulit di rumah ini adalah makan malam bersama Kyuhyun. Tidak tahan terhadap tatapan tajamnya.

 

Hingga mampu menusuk jantungnya dalam-dalam. “Ibu, kenapa ibu ajak dia gabung makan malam bersama kita? Dia kan bukan keluarga kita.” Sindir Kyuhyun. Tidak tahan lagi, ayah Kyuhyun membentak-bentak dia seolah Kyuhyun orang dewasa yang bisa menanggung sakit hati. Bahkan terdengar suara pukulan pantat dan tangisan Kyuhyun. Agar menghindari hal-hal tidak diinginkan, ibu Kyuhyun menutupi telinga Henry rapat-rapat. “Henry ke kamar ibu yuk.”

 

Meski demikian, Henry mengerti situasi yang dialami kakak tirinya. Gara-gara dirinya, dia dihukum dipukul pantat dan kepedihan. Ia pembawa sial pada keluarga ini. “Henry, tidak usah dipikirkan. Kyuhyun belum terbiasa sama kamu. Nanti juga dia mau main sama kamu.” Dikira kalimat tersebut bisa menghibur anak adopsi, salah bagi Henry. Justru ia semakin takut melihat kakak tirinya. “Ibu, aku takut.” Gumamnya, sambil memeluk ibunya erat-erat. Matanya berkaca-kaca. “Iya, ibu tahu. Sabar ya, dia pasti berubah dan terima kamu jadi adiknya.”

 

***

 

Hampir dua belas tahun berlalu, mereka tetap kakak-adik berhubungan dingin. Henry murid kelas dua SMA sedangkan Kyuhyun murid kelas tiga. Masing-masing memiliki popularitas sendiri. Jika Kyuhyun dibilang tampan dan berkarisma, Henry justru terkenal lucu dan polos. Sering sekali terjadi peperangan antar fans Henry dan fans Kyuhyun. Memang, kedua lelaki ini terlahir tampan. Tapi ada kerugiannya. Bisa muncul permusuhan ke satu sama lain.

 

Jika Henry tidak menginginkannya, Kyuhyun justru bersenang hati. Bagaikan air dan api. “Henry, gimana kalo ini diakhiri saja?” Utar Joseph, gadis berambut pendek ala laki-laki. Sudah berteman dengan Henry selama setahun. “Apa?” “Permusuhan terhadap kakakmu. Bukannya kau bilang dia mau hidup mandiri begitu masuk kuliah? Tidak banyak waktu lagi loh.” Kini sekolah sedang tengah istirahat. Di kelas, hanya Henry dan Joseph di sana sambil menikmati roti dari kantin.

 

Henry membenarkan rencana kakaknya itu. Tahu di alasan dia mau jauh-jauh kuliah di luar negeri, seperti Amerika atau Inggris. Agar bisa tidak melihat dirinya lagi. Menyedihkan bukan? Pasangan kakak-adik tiri yang nampak ditakdirkan untuk saling membenci. “Aku lagi tidak mau bicara sekarang. Pulang yuk.” Joseph mengangkat kedua pundaknya. Tiada gunanya berdebat melawan Henry jika bersangkutan dengan masalah kakak tirinya. Tapi, pasti akan ada keterbalikan kan?

 

Beda dari Kyuhyun, Henry tidak diberi fasilitas kendaraan pribadi. Bukan karena dilarang, melainkan kemauan diri sendiri. Lebih suka jalan sambil menghirup udara segar di sore. “Henry, itu kakakmu kan?!” Henry sama kagetnya dengan Amber. Di lapangan kosong dengan sedikit rerumputan, terdapat satu lelaki dan sekelompok murid dari sekolah. Ketua kelompok tersebut bernama Eunhyuk, Dia lebih jahat dan brutal daripada kakaknya sendiri. Rekor sebagai murid gangster menunjukkan prestasi yang tidak pantas dibanggakan pada orang tua.

 

Henry tidak mau itu terjadi pada kakak tirinya. Muncul sebuah ide begitu muncul bola basket di dekat sepatu. “Yaaaa!” Teriakan Henry menarik seluruh perhatian Kyuhyun dan sekelompok gangster. Dilempar bola basket ke arah mereka, tepatnya para gangster tersebut. “Rasakan ini!” Dalam sekejap, Henry muncul dalam kedipan mata. Segera menghabisi mereka kecuali Kyuhyun. Satu lagi, Henry jago dalam bela diri. Bahkan dapat sabuk hitam di umur lima belas tahun.

 

Tahu tidak bisa dikalahkan, mereka langsung kabur. “Kak, gimana kak Kyuhyun? Aku keren kan bisa habisi mereka buat kakak?” “Yaaa, kau tidak punya otak apa?!” Teriakan Kyuhyun langsung membeku seluruh badan Henry. Sama sekali bukan ekspresi yang dia inginkan. “Aku tidak butuh kamu! Nanti aku bisa jadi bahan ejekkan kalo teman sekelasku tahu!” “Tapi kan… nanti ayah dan ibu cemas sama kakak.” Bisik Henry dengan ekspresi ketakutan. Berbeda dengan Kyuhyun yang dikini dibuat berapi-api karena dia.

 

“Itu sih urusanku! Kau enak kan dikasih fasilitas mewah sementara aku cuma dihukum?!” Henry terdiam sesaat. Memang perkataan Kyuhyun berupa ada apanya. Jika Henry selalu ditawari barang-barang berlimpah dan berharga mahal, kini bertolak belakang dengan Kyuhyun begitu ia hadir di rumahnya. Tapi setidaknya, ia bisa melindungi sang kakal jika dia berada dalam masalah kan? “Cih, nyusahin saja!” Gumam Kyuhyun sebelum pergi melewati adik tirinya. “Kakak, mau ke mana?!” “Mau minum-minum sama clubbing!!”

 

***

 

“ADUH!” Rasa perih tidak bisa ditahan begitu luka di kaki Henry dioles pakai obat merah. Begitu ditemukan luka-luka di rumah, sang ibu segera membawa dia ke kamarnya sebelum mengambil kotak berisi obat-obatan. Bingung dan sempat cemas sejak Henry tidak tampak pernah terlibat dalam perkelahian. “Tahan dulu ya, Henry. Diplesterin habis ini.” Begitu diberi plester, rasa sakit tersebut lenyap. “Gimana ceritanya sampai luka-luka begini?” “Habis lindungi kak Kyuhyun.” Lutut Henry masih terasa sakit begitu ia berdiri.

 

“Kalo bukan aku, dia pasti sudah berantem.” “Terus, dimana dia sekarang?” Keraguan menyerang pikiran Henry. Tidak mau ibunya cemas untuk ke sekian kalinya. “Dia…” “Sudah… sudah, tidak usah cerita kalo tidak mau. Ibu tahu kau tidak mau bilang karena Kyuhyun suruh kamu. Ke kamar terus istirahat sampai makan malam.” Henry segera berbaring di atas kasur. Menatap ibunya yang keluar kamar bersama kotak pertolongan pertama. Sadar ini sudah jam delapan malam, ia mengecek isi kamar kakaknya. Masih kosong melompong

 

Keadaan ini menambah kegusaran ayahnya. Ini sudah ke sekian kalinya sehingga tidak bisa dihitung. “Dimana anak itu sekarang? Masih berkeliaran di luar sana?” Sampingnya, Henry hanya diam dengan kepala tertunduk. Daripada disemprot api olehnya. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Paling sedang jalan sama teman-temspan angkatannya.” Harapan kata-kata ibu bisa meredam amarah ayah sirna begitu ekspresi dia tidak berubah sedikit pun. Mungkin malah semakin besar.

 

Selesai makan dengan suasana tegang dan mengancam, Henry balik ke kamar dan mematung untuk menunggu kabar Kyuhyun tapi waktu berjalan terlalu cepat dan sekarang sudah jam sebelas malam. Begitu dilihat lagi kamar Kyuhyun, kosong melompong. Kecemasan mulai timbul di hatinya. Bergegas menaiki mobil untuk dilajukan keluar dengan kecepatan tinggi. Bisa menebak dimana Kyuhyun sekarang. Pasti asyik minum-minum dan main sama wanita hidung belang.

 

***

 

Di bawah lampu beraneka warna, Kyuhyun menari sebagus mungkin untuk menghilangkan kejadian tadi sore. Ditolong adik tiri sangat memalukan. Masih lumayan ditolong teman sekelas atau siapapun asalkan bukan Henry Lau! Tanpa disadari, sekelompok preman tidak sengaja kena senggol. Memicu amarah pria berwajah yang sedang tidak enak hati dan mau bersenang-senang. “Hei! Kau halangi jalanku!” “Ha?” Kini, Kyuhyun tidak mau berurusan dengan siapapun. Ditampakkan wajah remeh ke arah mereka.

 

“Aku bilang minggir! Atau kuhancurkan badanmu!” Kyuhyun benar-benar kena masalah. Berakhirlah sudah impiannya pindah jauh-jauh jika kejadian ini ketahuan oleh ayahnya. Apalagi sekarang ia sedang tengah mabuk habis minum soju dua botol. Akibat sikap yang dianggap kurang ajar, Kyuhyun kena pukulan keras hingga pipinya membiru. Begitu juga ke perutnya. Keramaian akibat musik dan nikmat atas dunia malam berganti ke keributan. Di puncak rasa sakit, Kyuhyun mengira ia akan mati.

 

Tidak kena pukulan lagi, Kyuhyun berpikir preman-preman itu sudah puas dan pergi. Begitu mendongak, ternyata tidak. Sosok lelaki berambut pirang tengah menghabisi mereka. Ekspresi lega mewarnai wajahnya. Hanya satu orang yang mau menolongnya tanpa meminta. Henry Lau. Berhasil membuat para preman diusir, Henry segera menggendong badan kakak tirinya ke ruangan tertutup. Tidak mau penjelasan Kyuhyun terganggu musik dan sebagainya. Daripada membangunkan dia secara paksa, Henry pilih menunggu dia sadar.

 

***

 

“Gimana kau bisa tahu aku di sana? AUCHHH!” Seru Kyuhyun saat pipi birunya kena obat merah sama Henry. Begitu masuk rumah, orang tua sudah tidur. Terpaksa Henry harus mengobati luka kakak tirinya. “Aku tahu kakak selalu ke sana tiap kali marah sama ayah. Ini sudah berapa kali kak Kyuhyun bikin ayah cemas?” Di pipi Kyuhyun, sudah dipasang plester dan perutnya sudah dioleskan obat minyak angin agar terasa enak dan hangat. “Mereka cemas sama kakak loh.”

 

“Tidak! Mereka cuma sayang sama kamu tau! Aku tidak dibutuhkan!” “Itu tidak benar, kak. Ayah dan ibu cemas sama kakak. Nafsu makan ayah hilang begitu tahu kak Kyuhyun belum pulang.” “Bohong!” Desahan pasrah keluar dari mulut Henry. Seumur hidup ia tidak pernah dipercayai kakaknya sendiri. Bahkan ke titik hanya sayang salah satu dari pasangan kakak-adik tiri ini. “Papa cuma sayang sama kamu. Aku selalu saja yang dimarahi.” “Itu karena menurut ayah, kakak telah berubah.”

 

Mata Henry terfokus ke bola mata Kyuhyun. Mengingat cerita-cerita ibunya ketika ia belum masuk kehidupan keluarga. “Aku tahu sebenarnya kak Kyuhyun orang yang baik. Maaf kalo posisiku ini telah mengurangi perhatian ayah dan ibu terhadap kakak. Tapi, tetap kakak dicintai sama porsinya seperti mereka cinta aku. Mau tahu kenapa ayah selalu marahi kakak?” Tentu saja, karena sudah ada penggantinya, pikir Kyuhyun dengan sifat keras kepalanya. Namun jawaban Henry bertolak belakang. “Karena ayah sangat peduli sama kakak.”

 

***

 

Perkataan Henry kemarin malam bagaikan mimpi tidak tersampaikan. Di mata lelaki pemberontak, adik tirinya telah menjadi anak kesayangan orang tua. Biar saja nanti dirinya lenyap tanpa jejak dan membuat mereka cemas. Hendak masuk toilet untuk pipis, tidak sengaja Henry terlihat sedang muntah-muntah. Wajah dia tampak pucat dan hampir kehabisan tenaga. Kyuhyun hanya berdiri diam sebelum dia masuk pintu WC. Bergegas melihat isi muntahan yang dikeluarkan dari mulut adiknya.

 

Dahi Kyuhyun mengerut, darah? Memang dia sakit apa sampai muntah darah begini? Begitu pintu WC terbuka, Kyuhyun cepat-cepat mencuci darah dari wastafel agar tidak ketahuan. Ada yang tidak beres sama tubuh anak itu. Pemandangan itu kembali terjadi di rumah saat sudah tengah malam. Tapi di luar Henry tidak terlihat sedang sakit ataupun sedang kesakitan. Seolah penemuan dia muntah-muntah hanya tipuan belaka. “Henry!” Teriak ibu saat Henry ditemukan tergeletak pingsan di dekat. Segera dibawa ke rumah sakit.

 

Dan hasil pemeriksaan mengagetkan keluarga. Ternyata Henry sudah lama mengidap leukimia sejak kecil. Dan keluarga Kyuhyun sudah lama membiayai keuangan dia untuk terapi. Kenyataan ini menambah amarah Kyuhyun yang tidak tahu apa-apa. “Jadi, papa dan mama adopsi dia cuma karena kasihan?” Di tambah senyuman licik, suasana ruangan tamu memanas. Begitu juga kepala ayahnya yang mau meledak karena mendengar kalimat hina dari putra kandungnya.

 

“Mau jadi malaikat buat mereka?” “Kyuhyun!” “Lalu, apa yang bisa papa dan mama lakukan jika keadaan dia sudah begini?” “Kyuhyun, tolong dengarkan kami dulu.” Utar sang ibu. “Sebenarnya, Henry bukan sekedar anak tiri kesayangan kami. Dia sudah nyelamatin kamu.” “Ha?” “Kyuhyun, kondisimu waktu dilahirkan hampir tidak bisa diselamatkan.” Tiada pilihan lain, ayah Kyuhyun menceritakan bagaimana Henry bisa disebut pahlawan. Selesai mendengar, Kyuhyun syok. Tidak tahu harus balas kata dengan apa.

 

***

 

Zhoumi dan Song Xian hanya mendesah pasrah mendengar kondisi bayi mereka yang baru lahir. Tiada harapan selain donor jantung yang sangat langka dalam ukuran bayi. “Sayang…” Panggil Song Xian, matanya merah akibat terlalu sering menangis. Tiada hari tanpa meneteskan air mata. “Sudahlah… kita serahkan saja kepada Tuhan. Dia tahu mana yang terbaik buat anak kita.” “Lalu, kita cuma bisa nyerah begitu saja?” Tanya Zhoumi dengan tatapan sinis. “Dia masih hidup, Song Xian!”

 

“Tapi…” “Zhoumi! Song Xian! Keajaiban sedang terjadi pada kalian!” Teriak dokter dengan wajah penuh semangat. “Ada pihak orang tua yang mau donorkan jantung bayi mereka ke kalian.” “Ha?!” Seru Song Xian, sama kagetnya dengan dokter tersebut. “Benarkah? Dimana mereka sekarang?” “Sayangnya, tidak bisa kuberitahukan ke kalian. Orang tua pendonor minta aku rahasiakan identitasnya. Tapi, mereka titipkan surat ini ke aku. Buat kalian.” Dengan penuh harap, Song Xian membuka surat tersebut. Dilakukan hati-hati supaya tidak robek.

 

Berbeda dari penghasilan Zhoumi sebagai pengusaha sukses, orang tua pendonor ini sangat miskin. Cemas akan masa depan bayi mereka jika berada di lingkungan kotor dan terdampar. Oleh karena itu, mereka sepakat memberi jantung agar bisa melihat bahwa anak mereka tumbuh menjadi orang baik dan berpendidikan. Namun ada satu syarat. Bayi mereka punya kembaran dan sedang tinggal di tempat panti asuhan. Disuruh memenuhi kebutuhannya bahkan mengadopsi dia juga tidak apa-apa.

 

“Orang tua yang mulia.” Gumam Song Xian begitu selesai membaca surat dari pihak pendonor. Merasa telah berhutang budi padanya. “Terus? Mau dimulai operasinya sekarang?” Tanya dokter tersebut. “Tentu saja, lakukan sekarang! Agar anak kami bisa hidup normal!” Dan sesuai harapan, operasi berjalan sukses dan tidak ada kelainan. Zhoumi dan Song Xian mau berterima kasih pada pendonor itu dan memberinya hadiah. Alhasil, bayi lelaki itu dinamakan Cho Kyuhyun. Hidup sebagai anak tunggal sampai berumur tujuh tahun.

 

***

 

“Dan akhirnya, kami berdua berhasil temukan Henry di panti asuhan sesuai nama anak itu dan alamatnya.” Kyuhyun kehabisan kata-kata. Keluarga Henry telah menyelamatkan nyawanya? “Lalu… dia sudah tahu? Soal saudara kandung?” “Belum tahu. Dan sebaiknya dia tidak tahu soal ini.” Ungkap ayah Kyuhyun. Baru kali ini ia terlihat lemah dan rapu di depan anak kandungnya sendiri. “Kami takut gimana reaksinya begitu dia takut.” Dan ketakutan mereka terwujud. Dekat samping mereka, Henry berdiri dengan mata terbuka lebar.

 

Bertanda ia sudah mendengar semuanya. “Jadi… kak Kyuhyun punya jantung saudara kandungku?” Tanyanya dengan badan bergetar. Soal ditinggal dengan alasan kondisi ekonomi, ia bisa mengerti. Tapi tidak dengan jantung kembarannya yang ditanamkan ke dalam tubuh Kyuhyun. “Henry, kami…” Ibu tiri Henry kehabisan kata-kata. Meski tahun momen ini akan ada tapi ia tidak tahu kapan. “Hampir kehabisan harapan waktu itu. Tolong dimengerti.” “Jadi kalian berdua telah bunuh adikku?!” “Henry!” Bentak Kyuhyun.

 

Meski sering buat masalah, Kyuhyun tidak pernah menuduh hal-hal menyakitkan ke orang tuanya. Bahkan membunuh orang! “Jadi alasan kalian adopsi aku cuma karena disuruh ibu kandungku?” Detik demi detik, bola mata Henry bertambah merah. Hampir berair saking kecewanya. “Bukan karena mau aku?” “Henry, bukan rasa simpati ataupun perintah dari ibu kandungmu yang jadi alasan.” Jawab ayah Henry. “Kami tulus mau buat kamu jadi orang baik. Sebagai ucapan terima kasih telah nyelamatin Kyuhyun. Seperti sekarang.”

 

“Tapi, aku punya penyakit leukimia.” Ucapan Henry dengan suara dalam mengagetkan orang tua adopsinya. Seolah sudah pasrah akan kondisi tubuhnya sekarang. “Sebentar lagi aku akan mati kok.” Setelah ini, Henry menaiki tangga ke kamar dengan langkah lemah. Terasa semakin lama badannya semakin digerogoti penyakit darah tersebut. Bisa terbayang betapa hancurnya hati ibu adopsi. “Henry… Henry… ke sini, nak… kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Namun kata-kata permohonannya terlalu keras didengar hati keras Henry.

 

***

 

Sudah lebih dari seminggu ini Henry tidak masuk sekolah. Amber dan Kibum bingung sejak telepon mereka selalu diputus Henry. Ini pertama kalinya dia tampak menutup diri dari orang lain. Pokoknya dibuat pusing seribu keliling!” “Gimana ini? Aku cemas sama dia.” Utar Amber. “Mending ke rumahnya saja. Terus tanya masalahnya apa.” “Tapi tahu alamatnya tidak?” Tanya Kibum. Tidak mau menjadi korban tersesat di kota Seoul. “Belum, nanti mau minta tolong. Tapi malas.”

 

Dahi Kibum berkerut. “Malas kenapa?” “Orang yang mau kutanya itu kakaknya, Kyuhyun.” “HAAA?” “Makanya, tolong bantu aku!” Pas jam terakhir sekolah berakhir, Amber dan Kibum bergegas keluar kelas menuju ruangan para kakak kelas. Di antaranya, ada Kyuhyun yang tidak beranjak dari kursi mejanya. “HEIII!” Teriakan lantang Amber berhasil mengheningkan suasana. Tahu mereka musuh Kyuhyun selagi teman adiknya Kyuhyun. Matanya tertuju ke arah Kyuhyun. “Kami mau bicara sama kamu.”

 

Malas membuat masalah, Kyuhyun meladeni permintaan Amber. Keluar menuju ujung lorong gedung sekolah yang sepi. “Kenapa panggil aku?” “Bisa antar kami ke rumahmu? Mau jenguk Henry.” Kyuhyun mendesah, ingin mengantar mereka berdua ke rumah tapi masalahnya adalah Henry. “Maaf, Henry sedang tidak mau ketemu siapapun.” “Ha? Bohong kamu!” Seru Kibum. Dikira Kyuhyun berbohong agar tidak bisa ketemu sahabatnya.

 

Amber segera mengambil alih pembicaraan. “Sakit lagi?” Mata Kyuhyun terbuka, dia tahu penyakit Henry tidak beberapa lama ini ia ketahui. “Iya, baru keluar dari rumah sakit dan sedang rawat inap. Tapi ini lebih dari biasanya.” Dengan nada malas, Kyuhyun menjelaskan pertengkaran pertama Henry dan orang tua adopsinya. Bisa dipahami Amber dan Kibum menurut pandangan sebagai anak. “Tanggung jawab ya kalo dia ngamuk.” Peringat Kyuhyun sebelum setuju mengantar mereka ke rumah.

 

***

 

Masih ditusuk jarum infus, Henry berbaring di atas kasur sambil melihat album beridi foto-foto keluarga adopsi. Tepat saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini. Amarahnya meningkat begitu teringat cerita pahit tentang saudara kembar yang dibuat mati demi Kyuhyun. Mau balas dendam sudah merahasiakan ini begitu lama. “Henry!” Teriak Amber dan Kibum saat membuka pintu kamar Henry. Disambut hangat dengan pelukan erat. “Eh, hati-hati.

Kau kan masih diinfus.” Peringatan Kibum dengan nada bergurau membuat Henry tertawa.

 

Baru kali ini ia tersenyum. Pembicaraan antara mereka bertiga tiada habisnya. Kecemasan Amber dan Kibum terungkap berupa jumlah absen Henry. Sekarang Henry tidak terlalu memikirkannya. Bayangan masa depan cerahnya semakin memudar seiring bergilirnya waktu. Dokter sudah angkat tangan atas penyakit leukimia stadium akhir yang dialaminya. “Maaf, Henry, sebenarnya… Kyuhyun cerita pertengkaranmu sama ayah dan ibumu.” Kalimat Kibum mengubah mood Henry. Lebih dingin dan pendiam.

 

“Kalo boleh beri kamu saran, mending dengar penjelasan mereka.” Warna wajah Henry berubah merah. Siap marah-marah dan meledak sebelum menghancurkan semua barang di kamar ini. “Henry, kami setuju akan bereaksi seperti kamu jika itu terjadi pada kami. Tapi…” Amber menunjuk foto keluarga adopsi Henry. Matanya penuh keyakinan seratus persen. “Kau butuh sudut pandangan mereka.” “Coba, Henry. Berada di kaki mereka.” Tambah Kibum. “Kau akan jadi gila begitu tahu bayimu yang baru dilahirkan akan mati karena kelainan jantung.”

 

Benar, pikir Henry. Dan mungkin ia bisa mati mendengar berita syok itu. “Pilih. Kakak sakit-sakitan atau yang sehat?” Utar Amber. Sudah jelas dari senyum Henry ia memilih pilihan kedua. “Nanti, aku minta maaf sama ayah dan ibu.” “Satu hal lagi, istirahat banyak supaya cepat sembuh!” Seru Amber. “Awas kalo tidak masuk terlalu lama.” Sadar hari mulai sore, Amber dan Kibum pamit dulu. Di balik senyum imutnya, Henry ragu bisa memenuhi janjinya. Waktunya tidak banyak lagi.

 

***

 

Sampai jam dua belas malam, Henry terus mengamati halaman depan lewat jendela kamar. Sambil membawa tiang infus. Diketahui baik ayah dan ibunya akan pulang larut malam karena kesibukan masing-masing. Rasa kesal dan penyesalan Henry semakin besar. Bertanya-tanya apa mereka sedang menghindari dirinya. “Yaaaa, jam segini masih belum tidur?” Kyuhyun tidak mau penyakit Henry kambuh lagi dan merepotkan dirinya. Alasannya egois, tapi ini pemikiran Kyuhyun.

 

Sibuk mengejarkan tugas sekolah, Kyuhyun bisa melihat cahaya kamar sebelah lewat balkoni. Bertanda Henry sama sekali belum tidur. “Nanti… sakit lagi kamu.” “Aku mau ketemu ayah dan ibu lalu minta maaf pada mereka.” Lantaran cuaca cukup dingin meski sudah dipakai alat pemanas, Henry butuh mantel tipis. Bersama cairan infusnya. “Takut mereka benci aku.” “Tidak mungkin.” Potong Kyuhyun. “Malah, mereka salah paham kau tidak mau bicara. Dan satu hal lagi…” Diperlihatkan Hp ke arah Henry, sebuah kiriman SMS muncul di layarnya.

 

“Papa dan mama punya urusan mendadak di luar kota. Jadi mereka akan pulang malam nanti.” Desahan lega dan panjang keluar dari mulut Henry. Tapi ia mau menangkap momen ini dalam kebersamaannya dengan Kyuhyun. Jarang kan mereka akur begini? “Kak Kyuhyun.” “Hmmm?” “Mau temani aku ke halaman depan? Atau teras rumah?” Tahu akan diprotes lantaran badannya lemah, Henry melanjutkan sambil menambah senyum. “Cuma sebentar.” Dijawab desahan pasrah, Kyuhyun menuruti kemauannya.

 

***

 

Selesai melingkari leher dengan syal tebal, Henry bergegas menuruni tangga. Keluar ke teras dan menghirup udara dingin. Merupakan cuaca paling berbahaya buat kesehatannya. Tapi ia tidak peduli. Ia mau mencicipi kebebasan menjadi manusia biasa. “Jangan keluar rumah! Nanti kalo pingsan lagi, malah aku yang direpotkan!” Seru Kyuhyun dari belakang. “Jam segini, semua toko sudah tutup!” “Kecuali clubbing.” Kyuhyun mematung sebelum merespons. Memang benar. Tempat dunia malam itu tidak pernah ada kata tutup. Bahkan sampai pagi dini.

 

“Tentu saja aku tidak mau ke sana! Kecuali kalo kak Kyuhyun sedang bermasalah di sana. Harus nyelamatin kakak!” “Yaaa…! Yang terakhir itu…!” Amarah Kyuhyun mereda melihat senyum polos adiknya. Tawanya langsung meledak. “Baru tahu aku… punya adik selucu kamu.” Sambil duduk di teras dengan kursi kayu, Henry mengamati langit gelap penuh bintang-bintang kecil. Pemandangan menghibur yang bisa membuatnya lupa akan penyakit leukimia.

 

Sebelum kembali ke dunia realita dan menghadapi semuanya. “Kak, aku iri sama kakak. Bisa keluar bebas tanpa cemas sama kondisi tubuhnya. Tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit.” Tanpa permisi, hati Kyuhyun terasa sakit. Bersalah mengira kehadiran Henry telah memutarkan badan orang tuanya. “Coba kita begini lebih awal.” Kini, mata Henry berair. Penyesalan baru bisa sedekat ini berkumpul menjadi titik air mata. Bersama kakak yang selalu membenci dirinya.

 

“Ini salah kamu, tahu.” Ungkap Kyuhyun dengan nada sinis. “Sibuk berobat.” Dilirik, Henry tampak sedang tertidur lelap. Matanya terlihat damai dan tenang. Bersandar di kaca jendela teras rumah. “Hei, jangan tidur di sini. Nanti masuk angin.” Dirasakan ada firasat buruk, Kyuhyun coba membangunkan Henry namun tiada hasil. Dilihat muncul darah dari hidung dia. “Ya ampun! Henry…!” Kyuhyun segera mengambil Hp di kamar dan telepon rumah sakit segera.

 

***

 

Kyuhyun terduduk lemas di kursi lorong mendengar hasil pemeriksaan dokter. Penyakit leukimia Henry semakin parah. Mungkin ini momen paling membahayakan dalam hidup dia. Ia tidak mengerti perasaannya sendiri. Benarkah ia mulai peduli pada dia? Meski kebanyakan waktu bersamanya dihabiskan penuh kebencian? Bagaimana ia bisa memberitahu ke orang tuanya? Mereka bisa membunuh dirinya sekarang. “Gimana keadaannya?” Tanya Amber secara ngos-ngosan. Datang ke sini langsung dari rumahnya yang berjarak jauh.

 

Dilihat Kyuhyun diam saja, kepanikan Amber meningkat tajam. Tidak mau bayangan kematian sahabatnya berada di depan mata. “Kyuhyun!” “Dia sedang kritis!” Jawab Kyuhyun frustasi. “Jangan berisik kamu!” “Lalu, dia ngapain sampai di sini?” Akhirnya diceritakan tentang Henry yang mau duduk di teras rumah. Amber sempat marah namun tidak bisa sejak Henry yang meminta. “Hei… benarkah kata dia sebelumnya?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba. “Cemburu sama aku karena tidak bisa pergi bebas?”

 

“Benar. Bahkan dia berniat keluar malam secara diam-diam.” Jawaban jujur Amber mengagetkan Kyuhyun. “Kenapa? Kau kira dia selalu jadi anak baik? Henry mau bersikap egois loh.” Kyuhyun merasa dirinya akan meledak. Di balik diberikan banyak cinta. juga terdapat kekurangan dalam fisik. “Banyak sekali permintaan yang belum terkabulkan. Seperti main air di pantai, olahraga atau semacam kegiatan berat.” Ekspresi Amber berubah sedih, badannya sedikit bergetar. “Kalo kali ini dia tidak berhasil, aku akan…”

 

Kyuhyun mendesah, sialan! Bertambah sudah tugas sebagai kakak. Membahagiakan Henry sebelum akhir hayatnya. Sebelum nafas terakhir keluar dari paru-parunya. “Dokter!” Seru Amber ke dokter yang baru keluar dari ruang gawat darurat. “Gimana…?!” “Dia berhasil lewati masa kritisnya. Tinggal perlu dipantau perkembangannya.” Mata Amber langsung bersinar, penuh kelegaan. Begitu juga Kyuhyun yang tidak bisa berterus terang. Ia lega mendengarnya. Tersenyum kecil di bibirnya.

 

***

 

Keesokan harinya, orang tua adopsi menyusul ke rumah sakit. Dilihat wajah Henry lebih pucat dari sebelumnya. Mungkin dikarena penyakitnya semakin memakan semua kinerja organ tubuh. Terlihat saat dia terbaring lemah di atas ranjang. “Aku cuma mau keluar sebentar. Lihat bintang di langit.” Ucap Henry. “Soalnya, lebih indah di sana dari semua tempat di rumah.” Pipi sang ibu dibanjiri air mata. Terlupakan sudah pertengkaran akibat terbongkarnya rahasia keselamatan Kyuhyun.

 

“Maafkan aku, bu. Soal waktu itu…” Senyum Henry lenyap seketika. Berganti dengan rasa bersalah besar dan ekapresi murung di wajahnya. “Aku tidak bermaksud marah sama ibu.” Tidak. Ini salah ibu, tidak beritahu kamu lebih cepat.” Pemandangan ala pasangan anak dan ibu yang bertemu setelah sekian lama terpisah begitu mengharukan bagi pasien lain. Dipanggil Kyuhyun, dia bergegas keluar dari ruangan rawat. “Kenapa, Kyuhyun?” Diberi sekarcik kertas, dahi sang ibu berkerut. Tidak mengerti arti aksi anak kandungnya.

 

“Ini permintaan-permintaan Henry yang belum terkabulkan.” Jawab Kyuhyun dengan ekspresi datar. Menyembunyikan sesak nafasnya. “Sebelum… dia pergi suatu saat nanti.” Dilihat dengan mata kepala sendiri, pipi sang ibu memerah. Semuanya bisa memperlambat jangka hidup Henry. Bahkan membahayakan nyawa dia. “Sebaiknya, jangan. Biarkan Henry jalani hidupnya seperti sekarang.” “Berarti mama tidak mau Henry bahagia?” Kebekuan melanda seluruh anggota tubuh sang ibu Kebahagiaan yang digantikan dengan nyawa?

 

“Dia mau punya kehidupan normal.” Utar Kyuhyun datar tapi ditekankan dengan nada tulus. “Tanpa dibayangi ancaman kematian. Dan kurasa… kita perlu penuhi permintaan dia. Supaya nanti dia tidak nyesal.” Mata ibu berair. Baru kali ini Kyuhyun terlihat peduli sama adiknya. Memeluk dia dengan banjir air mata dan kasih sayang. “Kyuhyun, mama bangga sama kamu. Telah peduli sama adikmu. Kapan kau berubah begini?” ” Aku cuma tidak mau kebebasanku terganggu.” Jawab Kyuhyun, tersenyum kecil ke arahnya. “Cuma itu.”

 

***

 

Keluar dari rumah sakit, Henry kembali terkurung di kamarnya. Dengan bungkusan berisi cairan infus di atas tiang berodanya. Seharusnya, hari ini ia belajar untuk persiapan akhir ujian kelas. Juga menikmati liburan seperti setahun sebelumnya. Tapi badan ini tidak mampu menanggung keduanya. Keluar sebentar terasa bagaikan memanjat di gunung Everest. Tapi suatu hari… tidak ada hujan, tidak ada petir… sekeluarga berencana ke pantai. “Gimana denganku?” Tanya Henry, badannya masih lemah sampai harus jalan pakai kursi roda.

 

“Ditinggal?” “Tentu saja tidak. Tidak pantas kami bersenang-senang di saat kau di rumah sendirian. Kau ikut kami.” Henry bingung tujuh keliling. Kenapa tanpa hembusan angin mereka mengajak ke pantai? Seharusnya, mereka tahu diri akan kesehatan tubuhnya yang tergantung pada cuaca. “Kita lihat saja nanti cuacanya bagus.” Kalimat akhir sang ayah mengakhiri pembicaraan tentang rencana liburan keluarga.

 

Semuanya terpecah belah ke kesibukan masing-masing. “Bukannya ini permintaanmu?” Tanya Kyuhyun dengan wajah gusar. Berdiri dengan senyum penuh misterius. “Diperlakukan seperti orang sehat.” Mata Henry terbuka, terlintas sebuah tebakan masuk ke otaknya. “Kak Kyuhyun beritahu kertas berisi permintaanku.” “Iya… aku cuma tidak mau kau jadi hantu di siang hari dan ganggu aku setiap hari.” Henry tertawa geli, bisa terungkap sudah dia melakukan ini untuk dirinya.

 

“Pokoknya, kau tidak boleh kena sakit. Buat mama sedih.” “Tapi, boleh ajak Amber dan Kibum?” Tanya Henry. “Kyuhyun pasti akan sama ayah dan ibu seharian.” “Terserah.” Jawab Kyuhyun pasrah. “Asalkan mereka tidak buat keributan.” Meski tidak punya petunjuk dan tidak tahu motivasi mereka, Henry sangat senang. Tidak pernah ada momen keluarga adopsi ini berlibur dengan anggota lengkap. Diharapkan akan tercipta kenangan-kenangan indah yang bisa dirasakan sepenuh hati.

 

***

 

Tujuan liburan mereka adalah kota Busan. Orang-orang bilang makanan lautnya sangat enak, begitu juga pemandangan laut dan pasir yang tidak tercemar sampah-sampah. Dengan pakaian tebal dan lingkaran syal di leher, Henry tengah jalan-jalan sama Amber dan Kibum. Menikmati bau garam lewat hidung dan menutup mata untuk merasakan angin berhembus. Berbeda dengan Kyuhyun. Dia tidak mau pergi karena merasa tidak pantas bersenang-senang dengan mereka.

 

“Tidak nyangka mereka ngajak kamu liburan begini.” Ungkap Kibum. “Kukira kau akan dikurung di kamar.” “Menurutmu..” Amber ingat pembicaraannya dengan Kyuhyun saat Henry masih dirawat dalam keadaan kritis. Tidak mungkin kan… dia yang. “Aku bisa tebak… siapa…” Potong Henry, nafasnya terasa berat. Mulai lelah akibat jalan terlalu lama. “Tapi dia tidak akan ngaku dengan mulutnya sendiri.” Sadar Henry mulai kehabisan nafas dan tenaga, Kibum mengajak dia ke sebuah kafe untuk minum minuman panas.

 

Sambil menunggu pesanan datang, Henry berjalan ke sebelah toko yang menjual aksesoris. Akan bagus jika ia punya pacar. Tapi ada nama yang terpikir di benaknya. “Tante, ini bisa diukir?” “Bisa, bisa.” Dalam sana, terdapat kalung dengan plastik berbentuk kotak panjang. Menarik perhatian Henry dilihat sekilas. “Namanya siapa? Pacarmu?” Tanya tante pemilik toko tersebut. Langsung dibantah dengan gerakan tangannya. “Bukan, bukan. Nama kakakku. Cho Kyuhyun.” “Oke, ditunggu sebentar.”

 

Sepuluh menit, kalung kembali ke tangan Henry lengkap dengan ukiran nama di belakangnya. Senyum Henry langsung menari. Berharap Kyuhyun akan menyukainya. “Terima kasih, tante.” “Sama-sama.” Kembali ke kafe, disayangkan minuman dari pesanannya sudah dingin. Namun itu tidak bermasalah sejak tenaga Henry kembali terisi. Ia segera duduk dan menghabiskan minuman susu putih manis hangat. Kehangatan di tubuhnya mengalahkan rasa dingin di udara.

 

***

 

Di hari kedua menjelang sore, keluarga Henry dan Kyuhyun pergi ke pantai menunggu matahari terbenam. Karena angin, Henry mengenakan syal untuk leher. Bahkan membungkus badan bagian atas. Duduk di atas pasir bersama Kyuhyun yang malas keliling pantai. Melihat Amber dan Kibum saling berkejaran dengan tatapan iri. “Sana, gabung sama mereka.” “Heee?” Gumam Henry. “Main kejar-kejaran sama mereka. Kau mau itu kan?” “Biarkan saja, aku tidak mau ganggu. Malah, aku mau main sama kak Kyuhyun.

 

Kyuhyun kaget,belum bisa merespon perkataan Henry sebelum dia berdiri dari atas pasir. Diberi senyum sebelum dilempar pasir ke matanya. “Kurang ajar! Beraninya kamu!” Henry langsung berlari kencang dikejar mati-matian oleh Kyuhyun. Sehingga badan dibuat penuh berkeringat. Sampai menjatuhkan diri dekat air laut. “Ayo berdiri!” Saat hendak mengangkat badan dengan kedua tangan, Kyuhyun terpatung dan panik. Nafas Henry naik-turun. Wajahnya memerah seolah suhu badan bertambah naik.

 

Sial, kenapa di saat-saat begini?! Pikir dan seru Kyuhyun sebelum terpaksa menggendong Henry di balik punggung. “Pa! Ma! Henry kambuh lagi! Ke rumah sakit sekarang!” Teriaknya sekencang mungkin. Menarik perhatian orang bagi yang mengenal mereka. “Cepat, bungkus badan dia pakai syal!” Seru Amber begitu dilihat Henry telah roboh dan berada di punggung Kyuhyun. “Om, tante! Kita semua masuk mobil!” Dengan kecepatan ala jet coaster, mobil membawa mereka ke rumah sakit tersebut.

 

Disambut beberapa suster dan dokter yang membawa ranjang beroda. Badan Henry diletakkan di sana dan dimasukkan ke ruangan gawat darurat. Melewati keluarganya juga Amber dan Kibum. “Tuhan… tolong beri anakku kesempatan satu kali saja…” Gumam ibu sambil meneteskan air mata. Dihibur sang ayah dengan tepukan pundak. Kyuhyun tidak merasakan apa-apa. Apalagi simpati. Kecuali rasa sakit di hati yang telah berlubang. Apa ini artinya ia akan kehilangan adiknya? Pahlawan yang telah menolong dirinya di tempat clubbing?

 

***

 

Dalam ruangan gawat darurat, Henry dimasukkan beberapa alat pembantu pernafasan Lebih dari terakhir kali masuk sana. Sudah lebih dari sehari ia berada dalam kondisi kritis. Dokter sudah melakukan semampunya namun kapan kematian datang tetap di tangan Tuhan. Oleh sebab itu, keluarga pergi ke gereja. Membawa buku kitab dan kalung salib untuk berdoa segenap hati. Kyuhyun tidak tahu kenapa mereka mau melakukan itu semua. Tentu ia tahu Tuhan akan menyayangi bagi mereka yang bersikap baik dan mau melakukan tindakan mulia.

 

Tapi, Tuhan tetap menentukan tanggal kematian makhluk-Nya. “Kyuhyun.” Panggil Kibum dengan nada pelan. Memberi sebuah kalung dengan ukiran nama panjang Kyuhyun. Cho Kyuhyun. “Kemarin Henry beli ini di toko buat kamu. Hadiah pertamamu dari dia kan?” Seraya memandang dengan kerutan dahi, Kyuhyun memeras otak. Seingatnya, tidak pernah sekalipun mendapat barang atau hadiah dari adik tirinya. “Sebelum ini, dia takut beli kamu hadiah. Dikira kau tidak akan suka.”

 

Kekecewaan dan rasa tidak percaya diri berkumpul di sudut mata Kyuhyun. Mana ada orang yang tidak suka diberi hadiah?! Biarpun dari orang paling dibenci?! “Kurasa dia sudah tidak peduli lagi terhadap tanggapan kamu. Cuma mau beri kamu sesuatu sebelum waktunya habis.” Tanpa sadar, air mata mengalir di pipi Kyuhyun. Tersentuh dan sadar betapa banyaknya waktu terbuang. Membencinya hanya karena Henry telah menjadi anak kedua. Padahal dia tidak berbuat hal-hal merugikan.

 

Sial, bocah! Kau harus bertahan hidup! Agar aku bisa berbuat semauku terhadap kamu! Teriak Kyuhyun dalam hati. Suasana gereja terasa sunyi dan damai, kebanyakan dikunjungi orang tua dan pasangan kakek dan nenek. Dipimpin seorang pendeta. Diawali dengan bacaan doa dan berlanjut dengan ceramah dari beliau. Seraya mau keluar untuk balik ke rumah sakit, Hp ayah Kyuhyun berbunyi. Dilihat nama dokter muncul di layar. Dengan harapan besar baru berdoa pada Tuhan, teleponnya ia angkat. “Halo, dokter! Gimana hasilnya?!” Dan jawabannya bertolak belakang.

 

***

 

Tangisan sang ibu dari pasangan kakak-adik tiri ini semakin menjadi-jadi begitu bertatap mata dengan Henry yang berada di titik terlemahnya. Air mata Amber akhirnya meledak dan mengalir di kedua pipi. Sedangkan Kibum… berusaha untuk tetap tegar. “Kalian semua… jangan nangis…” Ucap Henry lirih. “Nanti aku tidak bisa tenang.” “Memang kami jahat apa?” Ungkap Kyuhyun. “Tidak bersedih saat kau mau…” Ia kehabisan kata-kata. Kepalanya tertunduk. Tidak sudi pertahanan hatinya hancur di depan Henry.

 

“Sudah diberi hadiah dariku?” “Sudah. Sial… jelek sekali.” Daripada tersinggung, Henry tersenyum kecil. “Agar kak Kyuhyun bisa ingat aku.” Seharusnya, namamu bukan namaku. Bodoh.” Tersusun sudah kata-kata terakhir Henry pada Kyuhyun. Semua yang sebelumnya tidak bisa dutarakan. “Kak Kyuhyun, jadilah orang baik buat ayah dan ibu. Jangan sering-sering pulang malam apalagi dari tempat clubbing.” Senyum Henry berkembang menjadi penuh bahagia dan rasa syukur. Menyentuh hati ibunya.

 

“Aku kan tidak bisa lindungi kakak lagi.” Begitu dilihat kalung pembelian Henry sekali lagi, terasa hati Kyuhyun penuh kepedihan. Hidup hampir selama sembilan belas tahun, ini hadiah pertama dan terakhir dari Henry. “Amber, Kibum… makasih sudah jadi sahabat terbaikku. Terima aku yang sakit-sakitan begini. Tolong ganti posisiku untuk jaga kak Kyuhyun.” Amber mengangguk pasrah. Menganggap ini amanat terakhir dari dia. “Ayah, ibu… terima kasih sudah adopsi dan beri aku kehidupan mewah. Tidak tahu balas kebaikan dengan apa.”

 

Senyum Henry tiba-tiba berubah kosong. Sadar kata-kata tadi bagaikan hantaman palu ke kepala. “Mungkin semua organ tubuhku tidak akan cukup.” “Sudah! Cukup, cukup! Ibu tidak mau dengar kau bicara lagi! Jangan hilang harapan, Henry!” Teriak sang ibu secara histeris. Hanya dibalas dengan senyum penuh hampa. “Tuhan mau jemput aku, bu. Sudah waktunya.” Perlahan-lahan kedua mata Henry tertutup rapat. Mengembalikan nyawanya kepada Sang Pencipta.

 

***

 

Beberapa tahun kemudian…

 

Depan tanah pemakaman yang berusia lima tahun, berdiri Kyuhyun berpakaian jas kuliah dari tempat universitas beserta orang tuanya. Sebentar lagi Kyuhyun akan lulus kuliah di falkutas bisnis dan mempelajari perusahaan ayahnya. Terus menuruti permintaan Henry yang terakhir. “Hei, bocah sialan. Senang sekarang?” Tanyanya dengan senyum bangga. “Aku juga, senang.” Harus diakui, Kyuhyun kesepian. Tidak ada pemilik kamar sebelahnya juga orang yang bersedia menolong dirinya tanpa berpikir panjang.

 

Walau kebebasan sebagai anak tunggal kembali di genggamannya. “Dua temanmu sangat menyebalkan. Aku tidak bisa pergi ke clubbing dan minum alkohol sama teman meski sudah berusia dewasa.” Desahan kesal keluar dari mulut Kyuhyun. Sekaligus nyengir seraya rasa rindu terhadap Henry semakin besar. “Bersenang-senanglah di atas sana!” Ditaruh rangkaian bunga ke tanah pemakaman, kesedihan ibu Kyuhyun tidak bisa dibendung. Menangis sunyi di dekapan suaminya.

 

“Tenanglah… Henry pasti senang di sana. Dia sudah bahagia.” Sementara suasana bertambah suram, muncul suara dua orang yang baru disebut Kyuhyun. Kibum dan Amber bersama rangkaian bunga. Menyambut keluarga Henry yang telah ditinggalkan. “Sial! Kita harus bayar mobil taksi cuma buat ke sini! Kyuhyun, antar kami juga!” Kibum segera menaruh bunga pembeliannya di atas makam Henry. Tersenyum kecil sebelum menahan badan Amber dari menghabisi Kyuhyun dengan pukulan.

 

“Berani tidak panggil aku kakak!” “Sudah, sudah! Jangan berantem di depan makam!” Potong ayah Kyuhyun. “Hehehe… tapi Henry lebih suka ramai…” Utar Kibum. Semua pada terdiam lalu tersenyum ke satu sama lain. Memikirkan hal sama tanpa diutarakan. Henry pasti terkekeh melihatnya. Tidak pernah di depan mata dia mereka terlihat akrab. “Henry, terima kasih sudah jadi bagian dari hidup kami. Berkat keluargamu, Kyuhyun tidak kehilangan nyawa. Kau sudah dianggapi kami sebagai anak keberuntungan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. vie Aria
    Jun 03, 2014 @ 04:43:20

    Keren

    Reply

  2. mole13
    Jul 28, 2014 @ 22:03:35

    seneng banget begitu nemu ada kyu sama henry, tp endnya henrynya meninggal…
    great ending 😥 but sad

    Reply

  3. adiknya leeteuk
    Aug 01, 2015 @ 21:24:06

    cries

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: