Us [4-END]

desktop background widescreen butterfly computers wallpaper elektric

Nama : GaemFi
Judul Cerita : Us (END)

Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Heebum (OC)

Support Cast : Lee Hyukjae, Kim Heechul, Lee Donghae, Kim Jongwoon, Lee Sungmin, Lee Hyobin (OC), Choi Seulrin (OC), Kim Raejoon (OC), Kang Sungyoong (OC)

Genre : AU (Family, Friendship, Romance)
Rating : PG-15
Length : Chapter 4 of 4

Texture Cover : Cute Pixie

 

===

 

 

Heebum berlari kesetanan ke arah Hyukjae dan Donghae yang duduk di ruang tunggu kamar operasi. Dia berhenti di hadapan mereka ketika kedua orang itu berdiri menyambutnya. Keterkejutan dan kelelahan yang melandanya hari ini menyebabkan tubuhnya menghantam dinding sebelum akhirnya merosot.

 

“Ya Tuhan, Heebum.” Donghae berlutut di depan gadis itu. Melihat Heebum yang menggigit bibir bawahnya sendiri dengan ganas. Rahangnya tegang menahan tangis. Donghae menatapnya iba hingga menarik tubuh gemetar  itu ke pelukannya. “Kemarilah. Jangan ditahan.”

 

Batas pertahanan Heebum hanya sebatas ini. Dia sudah menangis histeris begitu tangan Donghae mengusap kepalanya. Kepedihan yang harus dia rasakan tidak cukup sebatas kehilangan Kyuhyun. Kemarahan dan keadaan pria itu sangat membuatnya tertekan. Dadanya terasa sangat berat. Sulit sekali rasanya untuk bicara. “Oppa. Aku takut sekali.”

 

 

===

 

 

Tubuh Kyuhyun rebah di ranjang rumah sakit. Pemandangan semacam ini sudah berhasil menghilangkan pernah ada kata bahagia di ingatan Heebum. Mengoyak perasaannya. Kyuhyun terlihat lemah dalam tidurnya. Beberapa luka gores menoreh kulitnya yang putih hingga menjadi kemerahan. Pria itu kenapa selalu berhasil membuatnya kelimpungan?

 

Heebum duduk di sebelah tempat tidur dengan dahi menempel di tempat tidur. Tangannya memainkan jari Kyuhyun yang terkulai lemas tanpa daya. Heebum menyadari kakinya sendiri belum berhenti gemetar sejak tadi.

 

Dengan lemah, Heebum mendongak menatap wajah Kyuhyun yang masih dipengaruhi obat bius. Hidung mancung Kyuhyun yang berujung runcing, mata elangnya yang terpejam, bulu matanya, bibirnya yang sedikit sobek di ujung, rahangnya yang kokoh, jakunnya yang menonjol, dadanya yang turun naik terlihat begitu berat, dia sungguh tidak suka melihat Kyuhyun dalam kondisi seperti ini. Perutnya bergetar menahan tangis, rasanya seperti ada serpihan kayu yang menancap di tenggorokannya. “Kau menyebalkan.”

 

 

===

 

 

“Kau tidak pulang?” Hyukjae menyentuh bahu Heebum ringan, membuat gadis itu menolehkan kepalanya.

 

“Aku ingin menunggunya sadar, Oppa.”

 

“Ini sudah sangat larut, Heebum-ya. Kau kelihatan lelah sekali. Pulanglah lalu tidur yang nyenyak. Aku dan Donghae akan menjaga bocah ini sampai keluarganya tiba di Seoul.”

 

Kemudian Heebum berkata, “Kenapa dia tidak bangun-bangun, Oppa? Apa ada organ lain yang terluka selain kakinya? Kenapa tidurnya lama sekali?”

 

Hyukjae menggeleng. “Setahuku hanya itu. Mungkin sekarang dia sedang bermain game di mimpinya sampai tidak tahu waktu,” ujar Hyukjae mencoba mencairkan suasana.

 

Tapi ekspresi Heebum tidak berubah, tetap tegang padahal matanya sudah sangat kuyu. “Kalau begitu,” Heebum menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Kyuhyun dan mengusap kepalanya lembut, “aku pulang. Terima kasih sudah menghiburku, Oppa. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku oke?”

 

Hyukjae mengangguk menyanggupi.

 

Heebum mencium dahi Kyuhyun dengan sayang sebelum akhirnya keluar dengan Hyukjae yang mengantarnya hingga lift.

 

Hyukjae dengan Donghae yang mengekor di belakangnya menutup pintu kamar rawat Kyuhyun setelah mengantar Heebum. Dia membalikkan badan lalu bersamaan dengan Donghae, memekik terkejut. “Oh, astaga! Kau mengagetkanku.”

 

Melihat Kyuhyun tengah duduk bersandar kepala ranjang membuat mereka terperangah. Meskipun terlihat lemas tapi bisa dipastikan Kyuhyun sudah sadar sepenuhnya.

 

“Bodohnya aku percaya kau selemah itu. Tentu saja, sundal sekelas Cho Kyuhyun tidak akan mati dengan mudah, kan?”

 

Kyuhyun tetap bungkam sibuk mengganti saluran televisi melalui remot di genggamannya.

 

“Berani taruhan?” Donghae menantang Hyukjae, “Aku yakin dia hanya pura-pura tidur sampai Heebum pergi. Kau sedang menghindarinya? Masalah apa lagi sekarang?” Donghae melangkah mendekat.

 

Kyuhyun yang merasa terusik kembali merebahkan tubuhnya memunggungi Donghae dan Hyukjae. “Bisa tidak kalian tidak berisik? Aku mengantuk.” Kemudian menarik selimut hingga sebatas leher.

 

Kedua orang itu terdiam sebentar. “Kau tidak akan sampai hati melakukannya jika melihat bagaimana keadaan gadis itu tadi.”

 

 

===

 

“Mau kuambilkan minum?”

 

“Aku bisa sendiri.”

 

“Tidak. Aku ambilkan.” Heebum meraih segelas air dan obat yang diberikan perawat tadi lalu menyodorkannya ke arah Kyuhyun. “Jahitan di kakimu masih belum kering. Minimalisasi pergerakanmu.”

 

Kyuhyun memperlakukannya dengan dingin sepanjang hari ini. Heebum cukup tahu diri bahwa ini semua memang akibat perbuatannya waktu itu. Dia tidak akan memojokkan pria itu.

 

“Sebaiknya kau tidak usah datang lagi.”

 

Tutup gelas yang dipegang Heebum terjatuh manakala tangannya yang bergetar sedang mengembalikannya ke meja. “Tidak. Ky—“

 

“Kau hanya menggangguku,” sela Kyuhyun dengan nada datar.

 

Heebum dibuat tak berkutik beberapa saat. Dia memejamkan matanya dan mendongak menghadap langit-langit. Jika Kyuhyun tidak tahu yang sesungguhnya, dia akan mengira Heebum sedang berdoa.

 

Gadis itu meringis dan mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Ya ampun,” bisik Heebum, masih tidak benar-benar percaya Kyuhyun telah mengusirnya.

 

Jadi memang hanya sampai di sini? Seperti ini?

 

Dengan sedih, Heebum berkata, “Baik…” dia menghela berat, “baik jika memang begitu. Aku tidak akan datang lagi.”

 

Dia terlihat seperti baru saja dipukuli di ulu hatinya.

 

 

===

 

 

Heebum melangkah mengekori Heechul dan Raejoon yang sedang sibuk dengan anak mereka. Wajahnya merengut sebal. Kau harus mendapat udara segar agar otakmu yang sudah terlanjur keruh itu tidak semakin parah, kata Heechul padanya tadi. Jadi, ‘mendapat udara segar’ yang dimaksud oppanya itu ini? Berjalan membuntuti keluarga kecil bahagia seperti bodyguard mereka saja. Joonhee merengek pada appa-nya ingin menonton ‘The Croods’ dan terdamparlah mereka di bioskop yang kelewat ramai ini.

 

Ini namanya memperkeruh otak. Dasar Kim Heechul bodoh, batin gadis itu. Otak Heebum akan menjernih jika sedang mengolok-olok Heechul. Sangat ampuh untuk mengalihkan pikirannya dari ‘pria itu’.

 

Berbicara mengenai pria itu, Kyuhyun sudah pulang dari rumah sakit. Hal itu tak ayal membuat Heebum sangat lega. Dia benar-benar tidak menampakkan dirinya lagi di rumah sakit sejak saat itu. Kyuhyun sudah kembali kuliah 2 hari yang lalu. Dengan cara berjalan yang sedikit timpang karena jahitan di kakinya yang belum terlalu meyakinkan. Rasanya Heebum ingin menariknya ke kursi roda, tapi tidak. Itu hanya akan mengganggu Kyuhyun. Sudah cukup rasanya memperhatikannya dari jauh.

 

Oh, ya ampun.

 

Dia membahasnya lagi. Rasanya ingin menangis.

 

Pikiran Heebum memudar saat suara desingan terdengar diikuti suara-suara teriakan yang gaduh. Semua orang panik. Berlari tunggang langgang tanpa pernah Heebum tahu apa penyebabnya. Semua orang seperti berusaha menyembunyikan tubuh secepatnya. Dia seringkali bertubrukkan dengan orang lain yang mencari perlindungan. Sudah buta mengenai keberadaan Heechul dan Raejoon.

 

Ada apa sebenarnya? Pikiran-pikiran berkecamuk di kepala Heebum. Dengungan suara yang menyerupai kawanan lebah benar-benar mengusik dan membuatnya bertambah panik.

 

Tiba-tiba seseorang merengkuh pinggangnya hingga mereka berdua jatuh bersembunyi di belakang sofa, lalu dia melihat vas bunga—yang jika dia masih berdiri tadi adalah kepalanya— pecah berkeping-keping tertembus mesiu. Badannya gemetar merinding. Otaknya pasti sudah tercecer di lantai jika— tiba-tiba Heebum seperti mengenali lengan kokoh yang melingkari pinggangnya dengan begitu posesif. Dia memutar kepalanya dan melihat wajah Kyuhyun tepat berada di atasnya.

 

Dia mematung tak percaya dan akan terus seperti itu jika Kyuhyun tidak meringis kesakitan memegangi kakinya. Heebum bergegas menyingkap sedikit celana pria itu dan terpekik menutup mulutnya sendiri. Kepalanya seperti baru saja dihantam godam. Tubuhnya linglung hingga tangisannya keluar dan menggeleng lemah. “Kyuhyun, jahitannya…,”

 

Heebum tidak bisa lagi berbicara. Dia tetap memegangi celana Kyuhyun agar tidak mengenai jahitan di kaki Kyuhyun yang terlihat robek menganga hingga memperlihatkan dagingnya. Kaki pria itu berdarah. Perasaan Heebum seperti diiris-iris. “Ya, Tuhan. Bagaimana caranya aku menolongmu?” lirih gadis itu lebih kepada dirinya sendiri.

 

Kyuhyun hanya diam mengamati gadis itu, demi kelangsungan pribadinya.

 

Kemudian Heebum mengangguk atas pikirannya. “Benar.” Terlihat sudah mulai bisa mengontrol emosi. “Kita harus pergi dari sini.”

 

 

===

 

 

Heebum memapah Kyuhyun memasuki sebuah ruangan kecil yang tampak seperti ruang loker. Gadis itu segera mendudukkan Kyuhyun di kursi yang tersedia lalu bergegas menutup pintu ruangan sebelum orang gila itu menemukan mereka.

 

“Kyuhyun, dengar.” Dia melangkah mendekati Kyuhyun yang masih enggan menatapnya. Napasnya bahkan belum teratur setelah apa yang baru mereka lalui tadi. “Kyu, dengarkan aku…” Heebum berdiri di hadapan Kyuhyun, sedikit menunduk kemudian menangkup wajah pria itu agar menatapnya, mengusap pipinya lembut dan sayang, “tidak peduli jika kau akan membeciku hingga ke urat nadimu,” dia terdiam sejenak, memikirkan kata-kata apa yang paling efektif agar pria di hadapannya itu mengerti, “apa pun yang terjadi, kau harus selamat.”

 

Entah dorongan dari mana, Heebum mengecup pipi Kyuhyun singkat sebelum menyelesaikan kalimatnya. Bahkan dia tidak peduli jika Kyuhyun akan menolak dan semakin membencinya. “Kumohon, dengarkan aku sekali ini saja.”

 

Setelah mengatakan hal itu, Heebum bangkit dari hadapan Kyuhyun, berjalan membuka pintu dan beranjak keluar ketika tangannya ditahan. “Jangan pergi.”

 

Gadis itu tersenyum lega. Benar hanya dua kata, tapi terlalu menyenangkan mendengar nada khawatir yang tersirat dari nada bicaranya. Bukan nada datar yang mengintimidasi seperti sebelumnya. “Aku tidak akan lama. Hanya melihat situasi di luar dan segera kembali. Kau di sini saja ya?”

 

Heebum melangkah menjauh setelah memastikan pintu yang menyembunyikan pria kesayangannya itu tertutup rapat. Dia berjalan mengendap-endap menggunakan ujung kakinya agar hanya suara paling minimum yang kemungkinan terdengar. Dia pasti berbohong jika mengatakan dadanya tidak bergemuruh. Dia bahkan kesakitan karena jantungnya sudah menghentak sedari tadi.

 

Heebum menolehkan kepalanya ke segala arah bagaikan orang kesetanan. Masa bodoh. Ini sudah menyangkut Kyuhyun dan dia tidak akan bermain-main.

 

Keadaan begitu sunyi, barang-barang memenuhi lantai dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Sisa-sisa kejadian tadi. Dia melirik ke arah pintu masuk, keadaan begitu chaos, orang-orang berlalu lalang, suara sirine menggema, garis polisi, rintihan orang kesakitan, dan hal lain yang seumur hidupnya, Heebum hanya melihatnya di televisi.

 

Apa orang gila itu sudah tertangkap? Gadis itu melongokkan kepalanya keluar gedung. Tepat di hadapannya seorang polisi yang berdiri memunggunginya, sedang menahan tangan seorang lainnya yang dia tebak sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam peristiwa ini.

 

Hal yang tidak terduga terjadi, penjahat itu menendang polisi tersebut hingga terjungkal dan dengan cepat mengeluarkan pistol dari saku jubahnya. Polisi bodoh. Setidaknya geledah dulu penjahat itu.

 

Penjahat itu mengarahkan pistolnya secara brutal, belum menetapkan targetnya. Yang terlihat jelas hanya keadaan yang mendadak ribut karena teriakan panik orang-orang sekitar. Dan detak jantung Heebum serasa mendadak dihentikan saat melihat kemana pistol itu diarahkan. Orang gila itu mulai menarik pelatuknya, membidai seorang pria yang berjalan terseok-seok tanpa tahu keadaan seperti apa yang sudah menantinya.

 

“Kyuhyun!”

 

DOR! DOR! DOR! DOR!

 

Waktu bagaikan melambat di pandangan Heebum, tubuhnya serasa diguncang kasar secara mendadak. Kakinya terlalu lemas untuk tetap berdiri. Mendadak dunia terasa begitu bisu, sunyi, dingin, mencekam. Entah kekuatan dari mana dia bisa menghalangi peluru itu menembus jantung Kyuhyun. Dan membuatnya bersarang di punggungnya.

 

“Heebum!”

 

Gadis itu dapat melihat Kyuhyun yang berlari membabi buta ke arahnya. Kakimu….

 

Hanya sampai detik ini dia mampu mempertahankan keseimbangannya. Kemudian ambruk tergeletak di pelukan Kyuhyun saat suara tembakan lainnya terdengar, melumpuhkan nyawa psikopat brengsek tadi.

 

“Dia sudah mati.” Heebum tersenyum di tengah ringisan kesakitannya.

 

“Masa bodoh dengan keparat itu!” bentak Kyuhyun. Heebum mencengkeram lengan Kyuhyun, menahan kesakitan yang dia rasakan. “Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukan ini?” Tanpa disadari air mata Kyuhyun lolos hingga menetesi wajah Heebum.

 

“Jangan menangis.” Heebum meringis merasakan panas membakar di area punggung hingga dadanya, rasanya tubuhnya terkoyak habis. Kebas. Badannya menggigil kedinginan, tak jarang mengejang hingga membuat pria kesayangannya itu lebih tidak tega melihatnya.

 

Penglihatan gadis itu semakin buram. Dia tak mampu lagi menatap wajah tampan itu dengan jelas. Air matanya mengalir, bukan karena keadannya. Bahkan terlalu menyakitkan untuk sekadar menangis. Hanya saja dia tahu, tahu bahwa waktunya bersama dengan pria ini tidak akan lama lagi, sebentar lagi semuanya akan segera berakhir seiring menghilangnya dia dari bumi ini. Pemikiran paling mencekam seumur hidupnya.

 

Semuanya mulai terlihat jelas di mata Heebum. Kilasan-kilasan kejadian yang mereka lalui bersama. Saat pertama kali bertemu. Ciuman pertama mereka di perpustakaan. Pertengkaran mereka beberapa waktu lalu. Berjalan cepat seperti rol film yang saling berkejaran menampilkan rupanya.

 

“Kumohon Heebum-a, kau harus bertahan, Sayang. Bertahan untukku ya?” pinta Kyuhyun lirih. Gadis di pelukannya itu terbatuk hingga mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidungnya, terlewat banyak hingga membuat pria itu lemas tak berdaya. “Hee-ya, jangan pikirkan apa pun. Hanya tatap aku. Kau mengerti kan, Sayang? Hanya dengarkan aku, mengerti kan? Ya Tuhan, DI MANA TIM MEDIS?!”

 

Heebum menggigit lidahnya sendiri menahan sakit, menambah volume cairan merah kental itu keluar dari mulutnya.

 

“Kumohon bertahan lebih lama lagi. Ambulance akan segera datang untuk menolongmu. Kumohon…”

 

Gadis itu tersenyum samar, tangannya terulur kemudian dengan tenaga minimum yang tersisa, dia menarik sebuah kalung —kalung serupa— yang menjuntai dari leher Kyuhyun hingga terputus. “Kau bebas sekarang.”

 

Sedetik setelahnya, tangan gadis itu terkulai lemas menghantam jalan beraspal. Dan hanya satu yang dia ingat sebelum benar-benar menghilang dari dunia ini. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dan meniupkan sedikit udara ke tenggorokannya.

 

Kyuhyun menjauhkan bibirnya dari bibir Heebum saat menyadari tak ada lagi udara yang keluar dari hidung gadis itu. Pria itu semakin panik melihat mata Heebum yang terpejam, tenaganya benar-benar terkuras hari ini. Semoga Tuhan tidak begitu tega padanya.

 

“Heebum-a, Heebum-a.” Dia menepuk-nepuk pipi gadisnya yang sudah berlumuran darah. “Sayang, jangan bercanda. Buka matamu, Heebum-a.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Tak mungkin.” Suaranya serak. “Ini mustahil. Heebum, ayolah. Kembalilah padaku. Jangan bercanda.”

 

“Kyuhyun-a, apa yang terjadi?” Heechul berlari menghampiri Kyuhyun.

 

Hyung…, adikmu. Dia sedang mengerjaiku. Tolong bangunkan dia.”

 

Heechul merosot terduduk dengan matanya yang bergerak liar, masih sangsi antara kenyataan atau hanya bayangannya saja. Memunggungi tubuh adiknya tanpa tahu apa yang harus dia katakan. Tangannya bergerak meremas dadanya, mencoba meloloskan rasa sesak ke udara. Tapi tidak bisa. Tidak akan bisa.

 

 

===

 

 

Dia tersenyum ketika semua menangis. Gadis bodoh yang tersenyum ketika sama sekali tidak ada kedamaian yang melingkupi.

 

Kyuhyun tersenyum menatap gadisnya. “Hyung, kau lihat? Dia damai sekali.” Pria itu mengelus kepala Heebum yang terbaring di ranjang ruangan itu. Ruangan putih sunyi senyap dengan ranjang yang hanya beralas sprei putih dan selimut senada yang sangat tipis.

 

Kim Heechul berdiri menundukkan wajahnya di pojok sana, hanya terdiam sembari mengusap wajahnya kasar. Matanya sembab dan wajahnya memerah, tak jarang cairan bening keluar dari matanya saat Kyuhyun tak sengaja menatapnya.

 

“Kau tidak membuka matamu lalu memelukku, hmm?” Kyuhyun mengecup pipi Heebum yang dingin. Bibir gadis itu memutih namun tetap tersenyum tipis. Senyum yang menjadi prioritas utama pria itu di hari-hari normal. Dia menyadari telah menghilangkan senyum itu belakangan ini. Dan saat dia ingin mengembalikannya, sudah tidak ada kesempatan lagi.

 

“Kau senang kan? Bisa meninggalkanku?” ucap Kyuhyun. Berharap gadis itu akan bangun dan memukul kepalanya seperti biasa, setidaknya lebih baik dibanding dia kaku dan dingin seperti ini. Tangan gadisnya yang dia genggam tidak lagi hangat seperti biasa.

 

“Ya Tuhan.” Kyuhyun meringis. Dia menyusupkan kepalanya di sela-sela lengan Heebum. Menutupi kepalanya dengan lengan, seolah berusaha melindungi dirinya sendiri dari sesuatu.  Dia sudah tidak mampu berpura-pura tidak ada yang terjadi. Tidak bisa lagi berpura-pura bahwa dirinya masih baik-baik saja. Tak pernah membayangkan ada rasa sakit yang sebesar ini.

 

Kyuhyun mengusap sisa darah yang keluar dari telinga Heebum, telinga yang biasanya selalu mendengarnya. Tapi ini bukan biasanya, dimulai dari hari ini, tanpa gadis itu.

 

 

===

 

 

Sunyi. Nyaris tak terdengar kegaduhan kecuali yang ditimbulkan oleh burung-burung di atas ranting yang sedang memberi makan bayi mereka.

 

Kyuhyun melangkah seorang diri melewati gerbang yang terbuka lebar. Senyum tipis nyaris tak terlihat selalu muncul ketika naluri membawa kakinya melangkah ke tempat ini. Dia berhenti berjalan, mengamati keluarga kecil Kim Heechul yang berada di tempat tujuannya kemari. Waktu sudah berlalu, beberapa hal memang berubah.

 

Rambut Heechul tampak rapi dan lebih pendek dari saat terakhir dia melihatnya. Joonhee sudah bertambah tinggi sekarang, dan Raejoon tampak lebih anggun dengan aura keibuan yang terlihat. Senyuman Kyuhyun menjadi lebih jelas. Dia tidak berniat mendekat, biarkan dirinya hanya memperhatikan dari jauh seperti sekarang.

 

Pemuda itu berhenti di sebuah rumah memorial yang megah setelah Heechul pergi. Mata sayunya ikut tersenyum menatap sebuah pigura yang melindungi foto seorang gadis cantik yang sedang tersenyum. Kyuhyun menunduk dan mulai berdoa. Angin sejuk datang menyapanya ramah, merasakan sentuhan ringan menggenggam tangannya.

 

“Hai…,” sapa sebuah suara lembut.

 

Senyuman Kyuhyun semakin mengembang begitu mendengarnya. “Hai Sayang.” Ketenangan menderanya menyadari kehadiran sosok itu berdiri di sampingnya, dengan senyuman cerah seperti biasa. “Aku merindukanmu.” Kyuhyun memeluk ringan leher itu.

 

“Kau kan setiap hari datang kemari. Mana mungkin merindukanku?”

 

“Kau tak percaya, hmm?” tanyanya kalem masih enggan beranjak.

 

“Tidak.”

 

“Kau pikir aku peduli?” Ada jeda sebentar. “Aku senang kau masih di sisiku.”

 

“Mmm… hmm.” Kemudian sunyi. Dengan Kyuhyun yang belum mau melepas rengkuhannya seperti koala dengan batang pohon. “Kyu?”

 

“Hmm?”

 

“Sudah satu tahun.”

 

“Ya. Kau benar.”

 

“Tadi Heechul Oppa datang. Aku senang sekali.”

 

“Dia menjenguk adiknya yang nakal.”

 

“Yeah, sebenarnya aku tidak terima dengan perkataanmu. Tapi… mungkin kau benar. Aku tidak terlalu memaksakan kedatangannya jika dia memang tak ingin. Tapi Oppa datang. Aku bahagia sekali. Aku tidak sempat meminta maaf padanya karena selalu membuatnya marah.”

 

Hyung sangat terpukul waktu itu. Kau adalah satu-satunya saudara kandungnya. Aku bisa melihat dia menyayangimu.”

 

“Begitu? Yeah, untuk beberapa situasi aku tidak keberatan mengakui kalau aku juga menyayanginya. Dan aku mencintaimu.”

 

Hidung Heebum terasa dingin di pipi kanan Kyuhyun. “Aku tahu.” Kyuhyun menarik Heebum mendekat dan mencium dahinya. Mata mereka bertemu dan Heebum bisa melihat rasa terluka di mata Kyuhyun hampir mengalahkan rasa sedih yang dirasakannya untuk dirinya sendiri. Masih jelas kedukaan yang Kyuhyun rasakan karena kematiannya.

 

“Heebum Sayang, jangan menangis sekarang.”

 

“Tidak akan.” Jika saja Heebum bisa tetap memiliki pria itu di sampingnya sepanjang waktu, setiap saat, seperti saat ini.

 

Perawakan tegapnya yang selalu membuat Heebum terkesima, rahangnya yang kuat, tulang pipinya yang naik –sekarang terlihat lebih cekung. Namun ketampanannya masih sama mengagumkan.

 

“Hyobin akan menikah,” ujar Kyuhyun.

 

“Ya, aku tahu. Aku turut bahagia untuknya. Dia datang kemarin setelah kau pulang.”

 

“Dia kembali terlihat sedih begitu ingat tidak akan ada kau yang akan menjadi pendamping pengantinnya.”

 

“Kami bersahabat nyaris seumur hidup, masih begitu hingga kematianku. Saat sedang sendirian, selain kau dan keluargaku tentunya, aku begitu merindukan dia dan Seulrin.”

 

Tatapan Kyuhyun masih terus memperhatikan Heebum yang sedang mengusap dadanya ringan dengan kepala menunduk. Kepala Heebum yang terlepas dari topangan, terkulai ke samping dengan darah yang menggenang tepat di lehernya. Pemandangan itu terlintas di mata Kyuhyun, mengingatkannya pada kejadian yang sudah meluluh-lantakkan hidupnya satu tahun ke belakang. Lengannya yang menahan punggung Heebum saat itu dialiri cairan merah pekat yang hangat. Empat peluru berhasil dikeluarkan setelah meremukkan tulang-tulang hingga nyaris menembus dada gadis kesayangannya. Kyuhyun memejamkan mata membuang ingatan itu.

 

“Kupikir Jiyeon cukup baik.”

 

“Oh, jangan mulai lagi Heebum­-a.”

 

Heebum menggeleng tak mau dibantah. “Terserah kali ini kau mau mendengarku atau tidak, tapi semua orang akan mengalami apa yang dinamakan mati, Kyu. Hanya cara dan waktunya yang berbeda. Waktu itu memang sudah seharusnya menimpaku, kau tidak boleh seperti ini.” Sebelum sempat protes, Heebum sudah menempelkan kedua jarinya di bibir Kyuhyun. “Kau bisa mendapatkan kehidupan apa pun yang kau inginkan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau bebas, oke? Kau bebas untuk membuat keputusanmu sendiri. Bahkan kalau— kalau kau ingin melupakanku.”

 

“Apa?” Kyuhyun menatap Heebum tidak percaya. “Kenapa aku sampai ingin melupakanmu?”

 

“Aku sudah mati, kau ingat?  Sedangkan kau? Kau masih punya masa depan yang indah. Suatu hari nanti kau bisa menikah, memiliki anak-anak yang lucu, menikmati hari tua bersama cucumu. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kuberikan padamu. Kau bisa mel—“ Bibir Kyuhyun sudah membungkam bibirnya. Menyalurkan rasa depresi yang merajalela.

 

“Kau bisa diam tidak? Aku hanya ingin bersamamu saat ini. Jadi jangan merusak suasana.” Seharusnya ini sempurna, batin Kyuhyun, tapi aku sadar. Sekarang, tanpa dia yang ada di dunia yang sama denganku, semua tak lagi sama.

 

Kau harus percaya padaku. Aku akan memohon pada Tuhan untuk kisah kita yang lebih baik. Suatu hari, kita akan bertemu kembali. Dengan identitas yang sudah berbeda. Kau dan aku hingga selamanya. Kita.

 

 

END

 

 

9 Comments (+add yours?)

  1. ainikyu
    Jun 08, 2014 @ 07:40:08

    sedih banget deh ahirnya kaya gni.
    tp agak bingung juga,

    Reply

  2. Esa Kodok
    Jun 08, 2014 @ 08:58:20

    htaaaa
    sad ending
    hikhik
    endingnya tp q suka bangetttt
    kyu kliatan cinta bgt ma heebum y saengi

    Reply

  3. Esa Kodok
    Jun 08, 2014 @ 09:00:31

    htaaaa
    sad ending
    hikhik
    endingnya tp q suka bangetttt
    kyu kliatan cinta bgt ma heebum y saengi
    ijin bc dr awal

    Reply

  4. nurul
    Jun 08, 2014 @ 09:34:47

    Knp sad ending sih thor….
    Hiks hiks…

    Reply

  5. Monika sbr
    Jun 08, 2014 @ 10:25:45

    Ahh… Kok sad end sih! Ngga rela heebum mati….

    Reply

  6. uchie vitria
    Jun 08, 2014 @ 18:49:50

    ya ampun sumpah aq nangis baca ini.. keren banget….akhirnya sad endingkan….tau deh mo comment apa lagi chingu kamu bikin aku nangis gini…tega banget….hiks hiks hiks…

    salut buat ide cerita kamu ya….

    Reply

  7. lieyabunda
    Jun 09, 2014 @ 05:11:37

    Gak nyangka jadi sad ending gini….

    Reply

  8. sang hee
    Jun 11, 2014 @ 20:48:54

    huaaaaa aseli sedih banget baca endingnya :” menyentuh

    Reply

  9. novanofriani
    Jul 05, 2014 @ 20:56:24

    Cuma baca endiing doang tapi nyeseknya puaaraaah

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: