The Greatest Gift [2/?]

 TTT

 

 

Nama                   : Dinka (@Dinka248/Dini Nuriska)

Judul                    : The Greatest Gift Part II

Main Cast            : Kim Jongwoon, Han Rae Yoo a.k.a Kim Rae Yoo, Kim Jun Hee

Support Cast       : Cho Kyuhyun, Park Hyun Min a.k.a Cho Hyun Min, Cho Tae Jun, Cho Min Ji, Ny. Kim [Jongwoon oemma], Tuan Kim [Jongwoon appa], Kim Jongjin

Genre                   : Romance, family, sad

Ratting                 : PG-13T

Leangth               : Chapter

Holaa…… ff Gaje ini comeback 😀 maaf kalau nunggu lama, maaf kalo ceritanya garing dan gak dapet feelnya, aku sih selalu berharap readers pada suka hoho. Maaf buat typo yang bertebaran di mana-mana.

Happy Reading ^^

 

=====

Kaki kecil itu menaiki kasur king size dan tanpa ragu lagi anak laki-laki berumur  5 Tahun itu langsung menjatuhkan tubuhnya pada tubuh seseorang yang sedang menikmati alam mimpinya. Tangan anak itu mulai memainkan wajah orang yang sedang terlelap itu.

“Appa irreona, aku ingin jalan-jalan” Rengek Jun Hee pada Jongwoon, namun Jongwoon yang masih bergelut dengan mimpinya tetap tidak bergeming. Jun Hee tidak menyerah dengan terus mengganggu Jongwoon dengan tingkah usilnya, hingga Jongwoon mau tidak mau membuka matanya.

“Jun Hee-ya jangan ganggu appa, appa masih mengantuk” Jongwoon berusaha menghentikan tingkah laku Jun Hee.

“Appa ppalli irreona, Jun Hee ingin pergi jalan-jalan dengan appa..” Rengek Jun Hee, karna kesal Jongwoon tidak memberikan respon akhirnya Jun Hee berteriak di dekat telinga Jongwoon “Appa…”

“Yak.. Jun Hee-ya apa yang kau lakukan? Appa lelah lebih, baik kau pergi bersama halmoeni saja” Tanpa di sadari Jongwoon membentak Jun Hee dan sontak itu membuat Jun Hee ketakutan dan membuatnya hampir menangis.

“Appa…” Lirih Jun Hee an langsung lari ke kamarnya.

Jongwoon yang menyadari dia melakukan kesalahan telah membentak Jun Hee merasa bersalah, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu pada Jun Hee. Seharusnya dia menjaga Jun Hee dengan baik, memberikan seluruh cintanya untuk Jun Hee dan menuruti apa yang Jun Hee minta selama itu masih positif dan Jongwoon mampu melakukannya.

Jun Hee adalah harta paling berharga dalam hidupnya, Jun Hee adalah nafas untuknya dan Jun Hee merupakan sesuatu yang di titipkan Tuhan yang paling berarti dalam hidupnya melebihi harta yang di milikinya. Jun Hee seperti hadiah yang di berikan Rae Yoo untuk terakhir kalinya, karena selang setahun Jun Hee hadir semuanya berubah menjadi gelap.

Seperti mimpi buruk yang paling menyakitkan jika Jongwoon harus mengingat itu, dunia yang tadinya cerah menjadi gelap gulita hanya dalam sekejap kebahagiaan itu hilang, semuanya sudah terenggut. Entah apa yang akan terjadi dengan Jongwoon jika Jun Hee tidak ada di sisinya, hanya Jun Hee lah alasan dia masih tetap berdiri dan hanya demi Jun Hee lah alasan dia untuk bernafas di dunia ini.

Flashback On

“Yeobboseoyo

“Apakah ini dengan Tuan Kim Jongwoon?”

Ne, dengan saya sendiri”

“Saya ingin mengabarkan bahwa istri anda mengalami kecelakaan saat perjalan ke Mokpo, dan ,taksi yang di naiki istri anda terjatuh kejurang…”

Mworago…?” Ponsel Jongwoon seketika langsung terlepas dari genggamannya, Jongwoon tidak menghiraukan perkataan seseorang di sebrang sana karena dia langsung mematung mendengar perkataan itu.

Seolah tersadar kembali pada dunia nyata, Jongwoon langsung melesat pergi ke parkiran perusahaan tanpa memperdulikan keheranan yang tertera di wajah sekertarisnya.

Jongwoon melesatkan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumahnya, berharap dia menemukan istrinya sedang bercanda ria dengan Jun Hee. Menyambut kepulangannya ke rumah seperti biasa, dengan Jun Hee ada dalam gendongan Rae Yoo.

Memang, setelah hadirnya Jun Hee, Jongwoon memutuskan untuk membeli sebuah rumah karena takut jika mereka tinggal di apartemen Jun Hee akan merasa tidak nyaman.

Jongwoon terus meyakinkan hatinya bahwa mungkin istrinya sedang bercanda dan ingin memberikan kejutan dengan lelucon yang dia buat, sekuat tenaga dia menahan agar pertahannya tidak runtuh namun ketakutan itu membutanya tidak bisa untuk tidak menangis.

Jongwoon tiba di rumah, tanpa repot-repot memakirkan mobilnya terlebih dahulu ke dalam garasi dia langsung melesat ke dalam rumah yang bisa di bilang cukup mewah.

Setelah tiba di dalam, Jongwoon melihat Ny. Kim sedang menggendong Jun Hee dengan wajah yang sudah berantakan, mengingat dari tadi dia tak henti-hentinya menangis.

“Oemma..in..ini tidak benar kan?” Ujar Jongwoon dengan suara tercekat, Jongwoon berdo’a dalam hati semoga ibu nya menjawab dengan kata’iya’. Meskipun kata itu begitu sederhana, tapi untuk saat ini Jongwoon membutuhkan kata-kata itu untuk muncul.

Namun sayang Ny. Kim menggelengkan kepalanya dengan tangisan yang semakin menjadi. Sontak itu membuat tubuh Jongwoon lemas hingga akhirnya dia terjatuh dengan ekspresi wajahnya yang tidak bisa di artikan.

“Tidak… tidak… ini tidak mungkiiiiinn….” Teriakan Jongwoon menggema di ruangan itu.

Ny. Kim hanya bisa meringis melihat anaknya seperti itu, dia pun tak kalah terpukulnya seperti Jongwoon karena kehilangan Rae Yoo, dia memikirkan bagaimana nasib anak dan cucu-nya kelak jika tidak ada Rae Yoo di samping mereka. Ny. Kim tidak bisa membayangkan bagaiman hancurnya hati Jongwoon.

=====

Semingu setelah itu Jongwoon terus mengurung diri di dalam kamar, dengan sesekali berteriak. Dia masih belum bisa menerima kenyataan yang ada bahwa Rae Yoo telah tiada.

Pihak kepolisian mengatakan Rae Yoo mengalami kecelakaan karena taksi yang di tumpanginya mengalami rem blong sehingga sang supir tidak bisa mengendalikan lajunya kendaraan dan berakhir dengan terjatuhnya ke jurang, setelah mendapatkan keterangan dari Ny. Kim yang saat itu memang di minta Rae Yoo untuk menjaga Jun Hee di ketahui bahwa tujuan Rae Yoo adalah Mokpo karena Rae Yoo merasa sangat khawatir setelah mendapatkan kabar bahwa halmonie-nya sedang sakit keras. Jenazah Rae Yoo tidak dapat di temukan karena terjadi ledakan yang terjadi cukup besar.

“Jongwoon-ah, boleh oemma masuk?” Ujar Ny. Kim dari luar, namun tidak mendapatkan respon dari Jongwoon sehingga Ny. Kim memutuskan untuk langsung masuk karena memang pintu kamar Jongwoon tidak pernah di kunci.

“Jongwoon-ah..” Ujar Ny. Kim lirih melihat kedaan anak sulung-nya yang bisa di bilang seperti mayat hidup.

Kamar Jongwoon berantakan, dengan barang-barang yang di pecahkannya berserakan di lantai.

Ny. Kim sebernarnya ingin menangis melihat kedaan Jongwoon seperti ini, namun sekuat tenaga dia menahan itu semua. Takdir memang terlalu kejam baginya, namun begitu tidak lantas hidup Jongwoon berhenti sampai sini. Ny. Kim ingin memberikan kekuatan kekuatan bagi Jongwoon untuk terus melangkah karena masih ada Jun Hee yang sangat membutuhkannya, mengingat umur Jun Hee yang masih sangat kecil.

“Jongwoon-ah..?” Sapa Ny. Kim dengan menepuk pundak Jongwoon ringan.

Jongwoon tetap tak bergeming seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, dia duduk di dekat nakas dengan menyenderkan punggungnya pada ranjang. Tatapan matanya terlihat kosong, entah apa yang sedang di pikirkannya.

“Jongwoon-ah, apa kau mau seperti ini terus oeh,,?” “Oemma mohon bangkitlah nak, masih banyak yang membuthkanmu dan ikhlaskanlah Rae Yoo..” Ny. Kim berkata sambil menahan tangis.

“Oemma tahu rasanya ini sangat menyakitkan, tapi kau harus tetap menjalani hidup ini. Jun Hee masih sangat membutuhkanmu. Dia masih terlalu kecil untuk mengalami ini dan kelihangan sosok seorang oemma dalam hidupnya. Jika kau terus seperti ini mungkin dia juga akan ikut kehilangan appa-nya dan jika itu terjadi siapa yang akan menemani Jun Hee? Coba kau dengarkan kata-kata oemma nak. Oemma keluar” Setelah mengucapkan kata terakhirnya Ny. Kim menepuk bahu Jongwoon dan beranjak dari kamar Jongwoon, memberikan waktu bagi Jongwoon untuk memikirkan kata-katanya. Ny. Kim yakin meskipun Jongwoon hanya diam tapi dia masih bisa mendengar semuanya.

“Jun Hee..Kim Jun Hee” Ujar Jongwoon lirih, setelah itu dia langsung membenamkan wajahnya di kedua kakinya dengan kembali meneteskan air mata.

“Maaf.. maafkan appa Jun Hee-ya. Rae-ya  aku janji aku kan menjaga Jun Hee, menjaga anak kita”

=====

Keekokan harinya Jongwoon terlihat keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian kantor. Ny. Kim yang sedang berada di ruang makan untuk menyiapkan sarapan melihat itu heran lantas bertanya.

“Apakah kau akan mulai bekerja mulai hari ini Jongwoon-ah?”

“Ne, oemma. Aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan dan tidak mungkin aku terus mengandalkan Jongjin untuk menggantikanku” Ujar Jongwoon ceria.

Ny. Kim yang melihat itu ikut bahagia karena bisa melihat anaknya kembali seperti dulu lagi serta mau mendengarkan nasihatnya kemarin. Ny. Kim tidak mau banyak bertanya khawatir Jongwoon akan teringat lagi dengan kematian Rae Yoo. Jongwoon sarapan dengan lahap, lalu pamit pada Ny. Kim setelah sebelumnya melihat keadaan Jun Hee yang masih terlelap di kamarnya.

Setelah berada di teras rumah, Jongwoon mengingat kembali kenangan bersama istrinya dimana Rae Yoo akan mengantarkannya sampai pintu depan setiap Jongwoon akan berngkat bekerja dengan Jun Hee berada dalam gendongannya, setelah itu Jongwoon akan mengecup mereka bergantian sebelum akhirnya dia melesatkan mobilnya menuju kantor.

Flashback Off

Ny. Kim sedang berada di ruang makan untuk menyiapkan sarapan namun dia melihat Jun Hee keluar dari kamar Jongwoon sambil menangis dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Baru saja Ny. Kim akan menyusul, langkahnya terhenti saat melihat Jongwoon berlari menuju kamar Jun Hee. Ny. Kim akhirnya memilih untuk melanjutkan kegiatannya dan membiarkan ayah dan anak itu menyelsaikam urusannya. Jongwoon memang memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua-nya, karena khawatir jika mereka tinggal di rumah mereka yang dulu tidak akan ada yang menjaga Jun Hee karena kesibukan Jongwoon di perusahaan dan Jongwoon pun tidak percaya jika Jun Hee di urus oleh Babby Sitter. Sedang orang tua Rae Yoo, kadang-kadang akan berkunjung ke Seoul untuk melihat perkembangan Jun Hee.

=====

Jongwoon tiba di depan kamar Jun Hee, dia bisa tahu bahwa Jun Hee sedang menangis meskipun meskipun tubuhnya di tutupi oleh selimut pororo miliknya, karena Jun Hee memang sangat menyukai tokoh kartun itu dan hampir semua barang-barang yang ada di kamarnya ber-tema kan pororo.

“Jun Hee-ya..” Panggil Jongwoon, namun Jun Hee tak bergeming dan tetap berada dalam selimutnya.

“Jun Hee-ya maafkan appa oeh..” Mohon Jongwoon “Appa tau appa salah, appa hanya sedang lelah sayang. Semalam appa pulang bekerja larut malam. Appa mohon mengertilah..”

Tak lama Jun Hee pun mengeluarkan suaranya.

“Appa jahat, appa tidak sayang Jun Hee. Jun Hee mau ikut oemma aja hiks.. hiks..” Kontan itu membuat hati Jongwoon teriris. Ayah macam apa dia? Mengapa anaknya sampai berbicara seperti itu? Dia merasa tidak becus untuk menjaga Jun Hee. Tapi, Jongwoon tidak mau kehilangan harta yang paling berga itu lagi, dia tidak mau kehilangan orang yang paling di cintainya lagi. Tidak.. itu tidak boleh terjadi lagi, pikir Jongwoon.

“Jun Hee-ya apa yang kau katakana? Kau tidak boleh meninggalkan appa, tidak , tidak boleh Jun Hee-ya..” Jongwoon langsung mendekap Jun He ke dalam pelukannya, Jun Hee merasa badan Jongwoon yang sedang memeluknya bergetar lantas dia menyingkap selimutnya.

“Appa, kenapa ikut menangis?” Tanya Jun Hee polos.

“Appa takut.. appa takut Jun Hee meninggalkan appa seperti omma meninggalakan kita”

“Appa jangan menangis lagi, Jun Hee janji tidak akan meninggalkan appa. Jun Hee janji selalu menemani appa. Jun Hee janji akan menjaga appa untuk oemma” Ujar Jun Hee sambil menghapus air mata Jongwoon. Jongwoon yang mendengar itu langsung memperatkan pelukannya pada Jun Heed dan senyuman itu terbit di bibir ke duanya.

“Baik, sekarang Jun Hee ingin jalan-jalan kemana?” Tanya Jongwoon setelah melepaskan pelukannya, Jongwoon janji mulai sekarang selelah apapun dan sesibuk apapun dia akan meluangkan waktunya dan selalu ada untuk Jun Hee.

“Jinja appa mau?” Jun Hee terlihat sangat antusias, yang di jawab anggukan semangat oleh Jongwoon.

Jun Hee terlihat berpikir dan setelah menemukan tempat yang ingin di ku junginya Jun Hee segera berteriak dengan antusias “Lotte World”

=====

Di sinilah mereka –Jongwoon dan Jun Hee- ‘Lotte World’ seperti keinginan Jun Hee.

“Appa ayo kita naik itu..” Jun Hee menunjuk permainanan yang dia inginkan dengan semangat dan Jongwoon hanya menyetujui keinginan Jun Hee.

Mereka mencoba berbagai permainan yang ada di situ, tapi tidak semua mengingat Jun Hee yang masih kanak-kanak sedangkan permainan di situ terdapat beberapa permainan yang tidak di anjurkan untuk anak di bawah umur.

Sekarang mereka tengah menaiki bianglala “Woahhhh, di sini indah appa” Jun He memandang dengan takjub.

“Ne di sini indah, Jun Hee suka?” Pertanyaan Jongwoon hanya di jawab dengan anggukan semangat Jun Hee.

Bianglala itu terhenti di atas, mengingatkan Jongwoon pada kenangan bersama istrinya dulu saat mereka masih menempuh pendidikan di Universitas.

 Flashback On

Hari ini weekend, dan Jongwoon memutuskan untuk mengajak Rae Yoo berkencan. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak pergi bersama karena kesibukan masing-masing dalam menghadapi semester terakhir dan di waktu luang ini Jongwoon ingin menghabiskan waktunya bersama Rae Yoo.

Jongwoon tiba di depan rumah sederhana milik Rae Yoo dan melihat gadis-nya sedang menunggu di luar. Jongwoon tidak perlu repot-repot masuk ke dalam terlebih dahulu untuk menemui ke dua orang tua Rae Yoo karena semenjak menempati bangku kuliah Rae Yoo tinggal sendiri di seoul sedangkan orang tua-nya berada di mokpo untuk menemani neneknya yang sudah mulai sakit-sakitan, Rae Yoo tidak bisa ikut pindah karena dia sudah terlanjur di terima di Universitas yang ada di Seoul. Lagipula orang tua Rae Yoo tidak akan khawatir selama ada Jongwoon yang menemani-nya.

“Oppa, kau lama sekali..” Keluh Rae Yoo karena kesal menunggu Jongwoon.

“Mian, Rae-ya. Jalanan tadi sedikit macet, baiklah sebagai gantinya kau boleh memilih tempat apa yang ingin kau kunjungi” Jongwoon memberikan penawaran pada Rae Yoo yang di sambut antusias olehnya.

“Jeongmal-yo?” “Nde..” Rae Yoo terlihat berpikir.

“Lotte World” Ujar Rae Yoo wemangat.

“Geurae-yo, kajja” Jongwoon menarik tangan Rae Yoo untuk memasuki mobil.

=====

Di jalan Rae Yoo terus berceloteh menceritakan semua yang di alaminya, entah itu tentang temannya, tentang dosennya di kampus atau tentang skripsinya.

“Oppa tau kan dosen itu bagaimana?”

“Hmm.” Jongwoon hanya menjawab celotehan Rae Yoo dengan gumaman, karena memang dia sedang konsentarsi menyetir, tapi meskipun begitu dia tetap mendengarkan ucapan Rae Yoo dengan baik.

“Rasanya aku ingin menghancurkan kepala botaknya itu”

“Aiigo, uri Rae Yoo mau sampai kapan akan berceloteh tentang dosen itu? Lebih baik kita bersenag-senang kajja”

“Kajja”

=====

Rae Yoo menarik tangan Jongwoon pada permainan yang diinginkannya setelah sebelumya mereka membeli tiket masuk.

“Oppa ayo kita naik bianglala” Ajak Rae Yoo.

Setelah mereka mengantri dengan pengunjung lain, akhirnya kini giliran mereka tiba.

Rae Yoo melihat Lotte World dari atas bianglala dengan takjub, sesekali mengomentari apa yang di lihatnya. Sedangkan Jongwoon hanya memperhatikan Rae Yoo yang asyik berceloteh -lagi-. Merasa di abaikan oleh kekasihnya karena Jongwoon dari tadi hanya diam, dia pun menoleh dan melihat Jongwoon tertawa.

‘Apa yang lucu?’ pikir Rae Yoo dengan dahi berkerut.

Rae Yoo terus menatap Jongwoon dan tatapannya itu seolah mengartikan ‘Kenapa kau tertawa?’

Jongwoon yang mengerti maksud tatapan itu segera menghentikan tawanya “Kau tau? Dari tadi kau tidak berhenti berceloteh Rae-ya dan itu menurutku lucu”

“Ahh jeongmal? Mian” Ujar Rae Yoo sambil cengengesan “Mungkin aku terlalu bersemangat, karena rasanya sudah lama sekali kita tidak pergi bersama”

“Nde, sekarang nikmatilah” Jongwoon mengacak rambut Rae Yoo sayang.

Flashback Off

“Appa.. appa..” Jongwoon tersadar dari lamunannya dan melihat Jun Hee sedang menatapnya dengan raut wajah bingung.

“Appa kita sudah selasai, ayo turun”

“Oehh begitukah? Ayo”

Mengingat itu semua seperti De Javu bagi Jongwoon karena tingkah laku Rae Yoo dan Jun Hee tidak berbeda jauh hanya saja sekarang Jongwoon pergi bersama Jun Hee buka Rae Yoo.

Setelah memninggalkan area permainanan bianglala, Jongwoon mengajak Jun Hee untuk duduk di kursi yang telah di sediakan khusus untuk pengunung.

“Appa aku lelah..” Rengek Jun Hee sambil memukul-mukul kakinya yang terasa pegal.

“Jeongmal? Tadi siapa ya yang merengek-rengek ingin jalan-jalan?” Sindir Jongwoon.

“Appa….?”

“Ne.. ne.. sekarang kau mau apa? Mau pulang dan appa gendong sampai mobil oeh?”

“Aniyo, sebelum pulang aku ingin makan es krim dulu. Ahh tapi aku juga ingin di gendong”

“Aiish, dasar bocah licik” Jongwoon berpura-pura kesal tapi dia tetap menggendong Jun Hee.

Jun Hee pun hanya tertawa kecil mendengar umpatan-umpatan Jongwoon yang sedang gendongannya.

=====

Saat ini Jun Hee sedang menikmati es krim cup besar-nya, Jongwoon melihat Jun Hee hanya geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan tingkah laku anaknya itu.

Lihatlah Jun Hee sangat bersemangat sekali untuk menghabiskan es krim-nya hingga bibir dan pipi gembul nya itu terkena sisa-sisa es krim yang sedang di makannya.

“Jun Hee-ya makannya pelan-pelan” Jongwoon memperingatkan.

“Mashitta appa, Jun Hee joah” Ujar Jun Hee semangat.

“Nde appa tahu, tapi pelan-pelan nanti Jun Hee tersendak oeh”

“Nde appa”

=====

Setelah puas makan es krim Jun Hee meminta kepada Jongwoon agar mereka pergi ke taman terlebih dahulu, karena letak kedai es krim tadi dengan taman tidak terlalu jauh dari taman.

“Appa aku ingin balon itu” Rengek Jun Hee -lagi-, dan lagi-lagi Jongwoon mengikuti keinginan Jun Hee.

“Baiklah kajja” Jongwoon menggandeng tangan Jun Hee menuju pedangang balon itu takut jika Jun Hee menghilang di tempat ramai seperti ini.

“Anak kecil, kau ingin balon yang mana? Silahkan di pilih” Ujar pedangan balon.

“Jun Hee-ya mau yang mana?” Tanya Jongwoon

Setelah melihat-lihat, matanya berbinar-benar menagkap balon dengan gambar pororo, tokoh kartun kesakaannya.

“Jun Hee mau yang pororo appa”

“Nde baiklah”

Pedagang itu pun segera mengambilkan ke inginan Jun Hee, setelah membayar mereka segera pergi menuju kursi yang ada di taman itu. Suasana taman ini terlihat ramai karena memang hari sudah sore, waktu yang tepat untuk berjalan-jalan sore di taman. Di tambah hari ini merupakan hari libur, membuat pekerja maupun pelajar menghilangkan penatnya setelah seminggu menjalani kegiatan rutin mereka.

=====

“Appa bawa kertas dengan pulpen tidak?” Tanya Jun Hee yang sekarang duduk di samping Jongwoon.

“Aniyo Jun Hee-ya, memang untuk apa?”

“Ahh kalo begitu aku langsung saja tidak perlu pake kertas” Gumam Jun Hee, tapi masih bisa terdengar oleh Jongwoon.

Tiba-tiba Jun Hee melepaskan balonnya ke udara, Jongwoon yang melihat itu kaget karena tadi Jun Hee merengek-rengek ingin di belikan tapi sekarang dengan mudah melepaskannya.

“Jun Hee-ya..” Tegur Jongwoon.

“Ssst.. appa jangan berisik” Jongwoon yang penasaran melihat tingkah laku Jun Hee terus memperhatikannya.

Jun Hee mulai memejamkan matanya dan mengatupkan tangannya di depan dada ‘Tuhan tolong kirimkan balon itu untuk oemma, jaga oemma Jun Hee baik-baik, katakana pada oemma kalau Jun Hee dan appa selalu merindukan omma. Amiin’ Jun Hee berdo’a dalam hati.

“Kau melakukan apa Jun Hee-ya?” Jongwoon bertanya setelah Jun Hee membuka matanya.

“Jun Hee meminta kepada Tuhan supaya balon itu di kirimkan pada oemma, Jun Hee memohon kepada Tuhan supaya mejaga oemma dan minta supaya Tuhan mengatakan kepada oemma kalau Jun Hee dan appa sangat merindukan oemma”

Mata Jongwoon mulai berkaca-kaca setelah mendengar penuturan Jun Hee, dia tidak menyangka anak kecil sepolos Jun Hee dapat melakukan itu.

“Jun Hee-ya..” Jongwoon langsung medekap Jun He eke dalam pelukannya.

Jongwoon  menangis di bahu Jun Hee, sedangkan Jun Hee nenepuk-nepuk bahu Jongwoon untuk menenangkannya meskipun Jun Hee tidak tahu mengapa ayahnya menangis.

“Appa uljimma” Ujar Jun Hee menenangkan ayahnya sambil menepu-nepuk punggung ayahnya.

Jongwoon sudah merasa cukup tenang, segera melepaskan pelukannya pada Jun Hee.

“Appa uljima, apakah appa teringat oemma?” yang hanya di jawab anggukan oleh Jongwoon.

“Jun Hee juga sama, tapi appa jangan menangis lagi oeh? Karena Jun Hee akan selalu ada untuk appa?” Jun Hee mengucapkan itu sambil menghapus air mata di wajah Jongwoon.

‘Maafkan appa-mu yang terlalu cengeng ini Jun Hee’ Jongwoon membatin.

=====

Stasiun seoul sore itu tampak sedikit lengang, karena hari ini hari libur jadi hanya ada beberapa orang saja yang ingin pergi atau baru datang ke stasiun itu.

Tampak seorang wanita menggeret kopernya, wanita itu menggunakan dress sederhana tapi tidak mengurangi kecantikannya. Wanita itu menggunakan dress warna peach dengan tas selempang yang ada di tangan kiri-nya yang menggunakan warna yang senada. Wanita itu pergi ke pintu keluar stasiun dan sergera menaiki taksi yang memang sudah di pesannya,

=====

Jongwoon dan Jun Hee segera melemparkan diri mereka ke sofa yanga ada di ruang keluarga setelah tiba di rumah. Mereka terlalu malas untuk segera pergi ke kamar dan membersihkan diri karena memang sebentar lagi makan malam.

“Aiigo, tidak anak tidak appa-nya sama malasnya” Cibir Ny. Kim yang baru datang bersama Tua Kim yang berada di sampingnya.

Tuan Kim hanya tertawa kecil melihat tingkah laku anak dan cucu-nya yang lucu itu.

“Yak, Jongwoon-ah, Jun Hee-ya cepat mandi dan setelah itu kita makan malam” Ny. Kim kembali bersuara.

Jongwoon dan Jun Hee segera membuka mata mereka dan beranjak menuju kamarnya masing-masing karena kalau tidak Ny. Kim akan terus-terusan berceloteh tentang keburukan mereka.

“Nde, nde oemma”

Jongwoon segera memasuki kamarnya yang memang berada di bawah, sedangka Jun Hee baru saja akan menaiki tangga terpekik kegirangan melihat Jongjin sedang berdiri di situ.

“Kyaaaa … samchon sudah pulang” Jun Hee segera menghambur ke pelukan Jongjing dan Jongjin menerimanya dengan senang hati “Samchon kapan pulang?”
“Tadi siang, sebenarnya samchon ingin cepat-cepat sampai rumah karena ingin memberikan Jun Hee oleh-oleh dari Paris, tapi karena tadi siang Jun Hee meninggalkan samchon dengan pergi bersama appa jadi hadiahnya gugur” Ujar Jongjin sambil memeletkan lidahnya.

Jongjin memang akrab sekali dengan Jun Hee, dan saat berada di Paris untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di sana sehingga Jongjin merasa begitu merindukan Jun Hee.

“Samchon jahat, masa tidak jadi?” Rajuk Jun Hee sambil memajukan bibirnya membuat Jongjin tertawa kecil.

“Baiklah.. baiklah tapi sekarang Jun Hee harus mandi dulu”

“Arraseo samchon” Setelah itu Jun Hee turun dari gendongan Jongjin segera menuju kamarnya.

=====

“Jongjin-ah bagaimana urusan yang ada di Paris?” Tanya Jongwoon.

“Semuanya berjalan lancar Hyung”

“Geuraesseo”

“Samchon, mana oleh-oleh untukku?” Tanya Jun Hee yang terlihat sekali bahwa dia sudah tidak sabar melihat apa oleh-oleh yang di bawakan oleh pamannya.

“Nde, Jun Hee makan saja dulu. Nanti setelah selesai kita ambil di kamar samchon arrasseo?”
“Nde, arrasseo”

Tuan dan Ny. Kim hanya melemparkan senyum mereka, bahagia melihat tingkah laku Jun Hee.

=====

Jongwoon tengah berada di kamar Jun Hee, karena anak itu merengek ingin di temani tidur oleh-nya.

“Appa, sikap oemma pada appa sewaktu Jun Hee kecil bagaimana?” Jun Hee tidak menanyakan paras Rae Yoo karena Jun Hee sudah tahu dari foto-foto yang sengaja di pajang di kamar Jun Hee atau Jongwoon agar Jun Hee mengetahui sosok ibunya.

“Eum, oemma jahat pada appa karena oemma dulu selalu mendahulukan Jun Hee ,kan appa jadi cemburu”

“Yeay Jun Hee menang, berarti oemma lebih sayang sama Jun Hee”
“Nde, nde.. geurae sekarang Jun Hee harus tidur oeh?”
“oeh, tapi appa harus menyanyikan lagu untuk Jun Hee”

“Geuraesseo”

Jongwoon mulai menyanyikan bait demi bait lagu itu hingga Jun Hee terlelap, setelah itu Jongwoon mencium kening Jun Hee dan ikut terlelap dengan mendekap tubuh mungil Jun Hee. Karena mereka kelelahan setelah seharian pergi bersama.

 

TBC

Like dan Coment-nya aku nanti terus lho ^^ gomapta buat ngikutin terus jalan ceritanya, dan maaf jika gak suka sama alur saama kalo ceritanya garing banget ^^

Hargai karya author dengan sertakan RCL berisi kritik dan saran, bukan Cuma NEXT doang oke ^^

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Novita Arzhevia
    Jun 28, 2014 @ 22:06:00

    hem enak y punya appa yg suaranya bgus. .tapi aku lbih berharap punya pcr yg suaranya bgus #curcol Hahhaha #siapague

    Reply

  2. hanna
    Jun 29, 2014 @ 12:52:29

    hwaaaaa ceritanya menyentuh bangeet apalagi yesung yg jd main castnya uhhh author jjang deh
    yg cepetyaaaa next partnyaaaaaaa

    #missyouyesungoppa

    keep writing yaaaa ❤ 🙂

    Reply

  3. catherinelf
    Jun 29, 2014 @ 15:27:43

    Cewek yang di stasiun itu siapa? Jangan-jangan sebenernya rae yoo
    belun meninggal?? Lajut eonni!!

    Reply

  4. Yulia
    Jun 30, 2014 @ 04:48:59

    sedihnya… sampe nangis saya:'(
    lanjut Thor:)

    Reply

  5. Cho In Hyun
    Jul 04, 2014 @ 16:04:47

    Jun Hee bikin terharu…jangan2 sebenernya Rae Yoo itu msh hidup ?

    Reply

  6. avaina
    Jul 07, 2014 @ 16:27:14

    aww eonni ceritanya bagusss aku sampe terharu. ngebayangin yesungie oppa jadi appa, awww aku senyum2 sendiri jadinya. gomawoyo eonni utk ff nya. fighting!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: