The Best Man [2/?]

maysea poster bi co user

 

Title : The Best Man

Author : Maysea Zimar

Genre : Friendship, Romance

Rate : 15+

Length : Chaptered (2 of?)

Main  Cast : Cho Kyuhyun, Kim Hyo Joo

Poster by @rsvio

 

***

 

Hyo Joo menggenggam jemari Kyuhyun dengan sebelah tangannya.

Berdiri dengan posisi saling berhadapan.

 

“Kau tidak ingin masuk?” tanya gadis itu, ketika mereka sudah tiba di depan gerbang rumah Hyo Joo.

Kyuhyun mengantar gadis ini pulang beberapa saat setelah insiden yang ditimbulkannya di klub.

 

“Tidak.” Pria itu menggeleng pelan. Raut lelah tampak jelas di wajahnya.

 

“Apa kau akan kembali ke klub?” gadis itu kembali bertanya mengingat jam kerja Kyuhyun masih tersisa.

 

“Tidak. Aku akan pulang.” Kyuhyun menjawab dengan nada rendah. Hyo Joo melebarkan pupil matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

 

“Noona ada di rumah. Mengurus surat perceraiannya.”

Lanjut Kyuhyun menjawab reaksi tersirat yang tergambar di wajah gadis itu.

 

“Oh,” gadis itu bergumam pelan. Kyuhyun memiliki kedekatan emosional yang berlebih dengan kakak kandungnya itu. Jadi, mungkin dia ingin melepas rindu, mengingat mereka jarang bertemu. Karena Ahra memang tidak tinggal di rumah yang Kyuhyun tempati.

 

Tiga tahun yang lalu kakak perempuannya menikah dengan seorang diplomat yang bertugas untuk kementrian luar negeri di Germany.

 

Tapi pernikahan mereka tidak berjalan mulus setelah tercium aksi kekerasan dan perselingkuhan di dalamnya.

 

Kyuhyun, bahkan pernah menghajar suami noonanya itu ketika dia secara tidak sengaja, memergoki suami dari kakaknya itu melakukan tindakan kekerasan terhadap Ahra. Dan polemik rumah tangga merekapun akhirnya terkuak setelah sekian lama ditutupi dengan rapat oleh Ahra.

 

Salah satu alasan kenapa Kyuhyun begitu murka pada ayahnya karena pria yang menjadi suami Ahra adalah pria yang dipilih ayahnya dengan jalan perjodohan. Padahal saat itu Ahra memiliki kekasih yang dicintainya. Tapi kekuasaan sang ayah terlalu kuat untuk ditentang, hingga ia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima.

 

“Apakah setelah urusan pengadilannya selesai, Ahra eoni akan tinggal?”

 

“Kurasa tidak. Noona punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya di Munich.” Ya, Kyuhyun pernah bercerita jika Ahra terlibat dalam salah satu lembaga sosial yang membela hak-hak kaum minoritas warga korea yang terdiskriminasi di negara Germany. Di samping profesinya sendiri sebagai seorang pengacara. Cukup ironis sebenarnya, dia berjuang menolong orang-orang yang tertindas tapi dia tidak bisa menolong dirinya sendiri dari tindakan amoral sang suami.

 

“Ah ye, dia sosok yang hebat di mata kaumnya.” Ungkap gadis itu jujur dengan nada kagum.

 

Kyuhyun hanya memandangi gadis itu, ekspresinya tak terbaca. Tapi gadis itu dapat merasakan gejolak emosi yang terpancar dari iris coklat tuanya. Pria ini butuh sandaran saat beban itu terlalu menumpuk untuk ditanggungnya sendiri.

 

Sekarang kakanya akan menyandang status single parent dan akan ada banyak media yang membicarakan perihal kasusnya. Mengingat profesi dari masing-masing pasangan menikah itu tidak cukup asing bersentuhan dengan publik. Dan perceraian mereka sepertinya menjadi sasaran empuk para pemburu berita.

 

“Hey!” Hyo Joo menyentak, mengembalikan pikiran Kyuhyun pada otaknya.

 

Gadis itu meraih rahang Kyuhyun dengan telapak tangannya, memandang matanya sebentar

kemudian membawa dirinya memeluk pria itu.

 

“Kau tidak sendiri. Kau tau itu, Kyu.” Ujar gadis itu menepuk-nepuk bahu belakang Kyuhyun. Pria itu tidak membalas pelukannya, tangannya terbebas dikedua sisi tubuhnya.

 

“Aku ada di sini, untukmu.” Tambahnya memberi kata-kata yang menenangkan. Berharap bisa sedikit meringankan tumpukan beban dengan terjangan gelombang emosi yang memporak-porandakan psikis pria itu.

 

Tidak, gadis ini tidak pernah tahu jika kata-katanya adalah mantra ampuh yang bisa mengusir gelisahnya. Dan eksistensi gadis ini adalah segala hal yang dibutuhkan Kyuhyun untuk bertahan.

 

***

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya melewati pintu gerbang dan seketika itu pandangannya langsung tertuju pada Audi SUV yang terparkir di halaman rumahnya. Dia menyempatkan diri untuk sedikit berbasi-basi menyapa tamunya saat melewati seorang pria yang hendak membuka pintu depan mobilnya.

 

“Aku pikir, kau tidak memiliki waktu untuk sekadar menemui perempuan yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mantan istrimu.”

Pria iu menunda untuk memasuki mobilnya ketika mendengar suara desisan yang menembus gendang telinganya. Membuat dia berbalik hingga kini posisi mereka berhadapan.

 

“Hanya ingin bertindak sebagai ayah yang baik.” Ujar pria itu dengan dengusan di sela senyum tak bersahabat yang terlukis di wajah tampannya.

 

“Cish, kau tahu? Kau lebih pantas berperan sebagai pria brengsek ketimbang seorang Diplomat yang disegani.” Senyum di wajah pria itu memudar digantikan dengan kilatan ekspresi marah yang memercik di antara bola matanya.

 

“Sebaiknya kau jaga kata-katamu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua darimu.” Ujarnya memperingatkan.

 

“Kau yang seharusnya menjaga sikapmu jika kau tidak ingin orang lain memberikan gelar brengsek untuk pria sepertimu!”

Pria itu merangsek maju, menyudutkan Kyuhyun hingga punggungnya menabrak mobil yang terparkir di belakangnya.

 

Tangannya memegangi kerah jaket coklat muda yang dikenakan Kyuhyun lalu berbicara di depan wajahnya.

 

“Apa hakmu mencampuri urusanku? Kau urusi saja hidupmu yang berantakan itu,”

“Lihat dirimu! Kau hanyalah seorang berandal ingusan yang gemar mencari masalah.” Dengusnya, mencibir.

 

“Setidaknya aku bukan pria brengsek yang ringan tangan dan gemar bermain wanita.” Balas Kyuhyun menatap pria itu tajam. Keduanya saling berpandangan dengan sengit.

 

“Cish, mulutmu tidak kalah berbahaya dengan pukulanmu ternyata.”

Kyuhyun menyeringai, menanggapi desisan pria itu.

 

“Jadi, kau masih ingat bagaimana aku memukulmu?”

 

“Kau membuatku harus mengoperasi rahangku, Brengsek!”

 

“Kau pantas mendapatkannya bahkan yang lebih buruk dari itu.” Tukas Kyuhyun dengan nada menyumpah.

 

“Sial!” Pria itu mengepalkan tangannya bersiap melayangkan tinjunya.

 

“Dengar Cho Kyuhyun ssi, pernikahan kami bukan dilandaskan atas dasar cinta dan aku punya seorang gadis yang aku cintai.”

 

“Begitupun dengannya! Tapi perlakuan kasarmu terhadapnya sungguh tidak layak untuk dibenarkan dengan alasan apapun.” Sembur Kyuhyun marah. Mendorong pria itu mundur hingga membentur Audi SUV miliknya.

 

“Aku pastikan akan ada bayaran disetiap luka yang kau bubuhkan di hati noonaku.”

“Meski itu tidak berasal dariku ataupun noonaku sendiri,”

 

“Tapi kau harus tahu, setiap sebab yang kau lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal sebagai akibatnya. Choi Siwon ssi.” Tegas Kyuhyun mengempaskan tangannya dari kerah kemeja pria di hadapannya. Dan berlalu meninggalkan pria itu.

 

***

 

Kyuhyun menyenderkan kepalanya ke sisi pintu, berdiri dengan tangan yang disilangkan di depan dada. Memerhatikan noonanya yang tengah menidurkan anaknya di box bayi.

 

“Apa yang dilakukan pria itu di sini?” tembak Kyuhyun tanpa basa-basi.

 

“Bisakah, setidaknya kau berikan ucapan selamat datang untuk menyambutku? Sebelum kau memborbardirku dengan pertanyaan yang keluar dari mulut tak sabaranmu itu.” Ujar Ahra menegakan tubuhnya dan menoleh ke arah Kyuhyun.

 

“Hai, Noona….”

Sapaan itu terasa hambar karena terlambat diperdengarkan.

 

“Oh, Adikku, tidakah kau merindukanku?” balas Ahra dengan nada dramatis. Ibu muda itu merentangkan tangannya, meminta Kyuhyun untuk memeluknya.

 

Kyuhyun mendekat dan menyambut pelukan kakaknya itu. Kebiasaan yang sering mereka lakukan ketika bersua.

 

“Hentikan Noona! Kita bukan aktor atau aktris yang tengah bermain drama. Bisakah sekarang kau menjawab pertanyaanku!”

Kyuhyun melepaskan pelukan mereka dan merenggang jarak dengan kakaknya.

 

Ahra menghembuskan napasnya pelan sebelum memulai untuk berujar.

 

“Dia hanya berkunjung untuk melihat Hyun Woo,”

 

“Ternyata dia punya rasa peduli juga terhadap anak itu,”

 

“Karena dia adalah anaknya Kyu,”

 

“Dan aku tidak menyukai kebenaran itu, Noona.”

 

“Kau harus belajar untuk menerima suatu kebenaran meski itu rasanya pahit.”

 

“Aku sudah melakukannya dari dulu, noona.” Jawab Kyuhyun rendah.

 

“Sudahlah, berbicara denganmu tidak akan menemukan titik finish untuk mengakhirinya.”

Kyuhyun meloloskan dengusan tawa halus dari celah bibirnya bereaksi atas ucapan noonanya.

 

“Oh ya, darimana saja kau?”

 

“Klub.” Jawab Kyuhyun singkat.

Melangkah, melewati Ahra dan membantingkan tubuhnya di bed noonanya itu.

 

Ahra merangsekan tubuhnya mendekati Kyuhyun dengan gerakan mengendus untuk mencium jejak aroma yang ditinggalkan adiknya itu dari klub yang dia datangi.

 

“Tsk, sudahlah noona! Aku datang ke sana tidak untuk mencari kesenangan.” Ujar Kyuhyun mengibaskan satu tangannya, merasa terganggu dengan tindakan kakaknya itu.

 

Ahra menegakan kepalanya kembali dan menatap Kyuhyun menyelidik.

 

“Lantas apa yang kau lakukan?”

 

“Aku di sana bekerja.”

 

“Hh,” dengusan tidak percaya lolos dari mulut kakak perempuannya itu.

 

“Kau-bekerja? Di-klub?” tambah Ahra dengan mata bulatnya yang penuh keraguan sembari mengeja setiap suku kata yang diucapkannya.

 

“Ye, aku bosan jika tidak melakukan apa-apa dan aku malas menghabiskan waktuku di rumah ini.” Jawab Kyuhyun memberi alasan.

 

Diam-diam Ahra tersenyum dalam hatinya. Setidaknya Kyuhyun tidak menghabiskan waktu senggangnya di malam hari untuk bergelut dengan kehidupan malamnya yang liar. Seperti balapan mobil ilegal dan aksi-aksi meresahkan lainnya yang sering dilakoninya bersama teman-temannya sewaktu mendiang ibunya masih hidup dan sehat. Sepertinya anak ini mencoba untuk memenuhi harapan sang ibu, menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

 

“Tapi aku mencium harum parfum wanita di baju yang kau kenakan,”

“Kau yakin, kau hanya bekerja di tempat itu, eh?”

Tanya Ahra dengan nada menggoda.

 

“Tsk noona, demi Tuhan! Aku di sana hanya bekerja dan aku tidak berminat sedikit pun pada gadis-gadis yang datang ke tempat itu.” Kyuhyun menaikan sedikit kerah jaketnya hingga hidungnya dapat mencium aroma yang menempel di bajunya itu.

“Ini adalah wangi parfum Hyo…,”

Kata-katanya tertahan ketika dia sadar nama siapa yang hendak disebut. Jantungnya berdebar keras dan sebuah getaran asing tiba-tiba terasa menyengat ke dasar hatinya. Sial.

 

“Kim Hyo Joo? Jadi, dia gadisnya, hm…?” tanya Ahra memiringkan kepalanya ke satu sisi dengan menaikan sudut alisnya disertai senyum yang penuh dengan sarat godaan.

 

“Aish,” Kyuhyun merasa darahnya naik ke permukaan wajahnya menyebabkan pipinya berubah warna.

 

Dia meraih bantal untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang dirasanya aneh itu.

 

“Hei-hei lihatlah! Wajahmu memerah, kau punya sisi pemalu juga ternyata.” Ahra semakin gencar menggoda adik laki-lakinya itu.

 

“Terkadang, sisi pemalu dibutuhkan agar seseorang bisa menjaga sikapnya, Noona.” Ujar pria itu menurunkan bantal dari wajahnya.

 

“Waw-waw, adikku bisa berkata bijak juga ternyata.”

 

“Sial, kau noona!” Kyuhyun melempar bantal yang ada di dekatnya ke arah Ahra yang dengan mudah dapat ditangkap oleh kakak perempuannya itu.

 

***

 

“Kenapa tidak diangkat juga, si…”

Kyuhyun menghentikan langkahnya di ruang makan dan menyempatkan untuk menyeruput teh hangat dari cangkir yang baru saja dibuatnya di dapur.

 

Memerhatikan kakaknya yang bergumam tidak jelas tengah menatap handpone yang dipegangnya.

 

“Sebenarnya hal apa yang sedang kau ributkan?” tanya Kyuhyun penasaran, menghampiri Ahra yang berdiri di ujung meja makan.

 

Kyuhyun meletakan cangkir tehnya di atas meja lalu menarik salah satu kursi dan mendudukan dirinya di sana. Mencomot kue donat yang dibuat Ahra untuk sarapan pagi mereka.

 

“Aku heran, kenapa ayah dari tadi tidak menjawab teleponku.” Gumam Ahra mengungkapkan hal yang mengganggunya.

 

“Apa sih yang bisa kau harapkan dari pria tua itu?”

“Dia terlalu sibuk untuk menolong orang-orang sakit yang butuh pengobatan dan tidak memiliki cukup waktu untuk sedikit saja meluangkan diri, menanyakan kabar keluarganya.”

 

“Cukup Kyu! Jaga bicaramu. Ayah bukan orang seperti itu.” Bentak Ahra menyela.

 

Kyuhyun mengambil segelas air putih yang ada di depannya lalu menenggaknya sampai habis ketika dia selesai mengunyah makanannya.

 

“Aku hanya berbicara tentang fakta noona. Lihat saja, dia bahkan tidak pulang semalam!”

 

“Fakta yang hanya berdasar pada asumsimu, Kyu.”

 

“Ayah tidak pulang karena dia menangani sebuah operasi besar. Seharusnya kau bangga memiliki ayah sepertinya.”

 

“Tidak. Aku tidak bangga memiliki seorang ayah yang lebih peduli kepada orang lain dibanding keluarganya.”

 

“Tuhan!” Ujar Ahra dengan nada permohonan, tampak frustrasi menghadapi tabiat adik laki-lakinya yang keras.

 

“Dia menyelamatkan nyawa banyak orang Kyu,”

 

“Tapi tidak dengan ibuku, noona.” Ekspresinya mendadak berubah jadi lunak. Ada getaran yang terasa dari nada yang diucapkannya.

 

“Itu kecelakaan Kyu, semua dokter bisa melakukan kesalahan.”

 

“Tapi kenapa harus ibuku, noona?” Ahra sudah meneteskan air mata ketika Kyuhyun menyebut kembali kata ‘ibu’ dengan nada memprotes yang ditinggikan.

 

“Itu adalah takdir Kyu. Kita tidak bisa menyalahkan ayah begitu saja.”

 

“Harus ada orang yang disalahkan atas terenggutnya nyawa ibuku.” Ujar Kyuhyun mengakhiri pembicaraan. Beranjak dari kursi yang didudukinya dan berlari menaiki anak tangga.

 

Tidak lama kemudian pria itu kembali dengan menenteng tas ransel di pundaknya.

 

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa menghadiri sidang perceraianmu. Karena aku ada kuliah yang harus diikuti pagi ini.” Kyuhyun menghentikan sejenak langkahnya untuk berbicara pada noonanya sebelum dia pergi melewati pintu.

 

***

 

“Kau di mana?” Kyuhyun berbicara melalui telepon genggamnya, sesaat setelah dia keluar dari kelas yang diikutinya.

 

“Perpustakaan.”

Jawab suara di sebrang sana.

 

“Aku ke sana!”

 

“Okay,” dan sambungan teleponpun terputus.

 

Hyo Joo memasukan kembali handphone miliknya ke dalam saku celana jeansnya. Dia tampak kerepotan dengan kedua tangan mendekap tumpukan buku yang hendak dipinjamnya.

 

Bruk!

Tiba-tiba tumpukan buku itu berjatuhan ke lantai karena tidak sengaja berbenturan dengan tubuh seseorang.

 

Hyo Joo baru saja hendak menegur orang yang menabraknya itu, namun dia urungkan ketika matanya menatap wajah rupawan orang yang membungkukan badannya untuk memunguti buku-buku yang bergeletakan di lantai karena ulahnya.

 

“Mianhatta,” pria itu menegakan tubuhnya kembali, menyerahkan buku-buku yang sempat dijatuhkannya kepada Hyo Joo.

 

Untuk seperskian detik gadis itu tidak berkedip menatap pria rupawan yang tengah berdiri di hadapannya dengan senyum menawan yang terlukis di wajah sempurnanya.

 

Sial. Sial. Sial. Kenapa dia malah tersenyum? Itu semakin menyulitkannya untuk menemukan kesadarannya kembali dari pengaruh pesona memabukan yang menguar dari pria yang tengah menatapnya dengan ekspresi bingung ini.

 

“Nona,” sapa pria itu mengembalikan fokus Hyo Joo dari lamunannya.

 

“Ah ye,” gadis itu mengambil buku yang di ulurkan pria itu padanya.

Dia tampak tersipu bereaksi atas pria yang telah lama disukainya ini. Aiden Lee. Hyo Joo sudah cukup lama menaruh perhatian pada pria dari klub dance kampusnya ini dan dia baru kali ini mendapat kesempatan berinteraksi secara langsung dengannya.

 

“Kau Hyo Joo ‘kan? Mahasiswi dari fakultas famacis?”

 

“Kau mengenalku?” ujar gadis itu dengan nada tak percaya. Ada seulas senyum yang menyelinap di antara baris kalimat yang diucapkannya.

 

Gadis ini tidak bisa menahan diri dari luapan gembira yang menerjang sisi emosionalnya ketika mendapati fakta bahwa pria ini mengetahui namanya.

 

“Tentu saja, siapa yang tidak mengenal gadis cantik dan berbakat sepertimu.” Ujar pria ini memuji.

 

“Aku melihatmu beberapa kali duduk di antara baris pengunjung yang menonton pertunjukan drama musikal yang aku mainkan.”

 

“Ah ye, aku suka aktingmu.” Ungkap gadis itu terus terang.

 

“Oh ya, senang sekali memiliki penggemar sepertimu.” Balas pria itu sembari menyenderkan satu tangannya di antara rak buku di samping mereka. Memiringkan kepalanya ke satu sisi, mengunci tatapan gadis itu di matanya dan parahnya Hyo Joo terlalu lemah untuk menghindarinya.

 

Gadis itu menundukan wajahnya, tak tahan bertatapan terlalu lama dengan pria di depannya.

 

“Kau cantik,” ujar Aideen meletakan telunjuknya dibawah dagu gadis itu hingga tatapan mereka bertemu kembali.

 

Bisakah pria ini berhenti memesonanya? Jantungnya bisa meledak jika terus merespon setiap aksi yang dilakukan olehnya.

 

“Dan aku suka.”

 

Kyuhyun menggeratakan giginya di antara bibirnya yang terkatup. Memutar langkah, tidak jadi menemui gadis itu di perpustakaan.

 

Seorang pria memerhatikan ekspresi Kyuhyun yang tampak geram menahan emosi. Pria itu menolehkan pandangannya pada apa yang baru saja dilihat oleh Kyuhyun. Dan dia meloloskan dengusan mencibir ketika melihat sepasang namja dan yeoja yang saling berhadapan dengan tatapan fokus satu sama lain.

 

“Cish, dasar pecundang!”

 

 

 

 

TBC

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. elfishysme
    Jul 19, 2014 @ 17:35:17

    selalu suka deh sma hubungan saudara cho siblings ini, kyuhyun kayaknya protektif banget kalo sm wanita yg dia sayang, keren.

    Reply

  2. Monika sbr
    Jul 19, 2014 @ 17:45:51

    Ahhh…. Nggak rela kalau hyo jo menyukai aiden, ntar gimana ama kyu…..?

    Reply

  3. inggarkichulsung
    Jul 20, 2014 @ 10:12:14

    Aigoo Hyo Joo sepertinya Kyu oppa memang suka pd dirinya sepertinya ia cemburu saat melihat Aiden Lee dan Hyo Joo di perpustakaan tadi, kasihan Kyu oppa sepertinya frustasi dgn kehidupannya ini tp ada Hyo Joo yg akan sll ada u nya.. Ditunggu kelanjutannya authornim

    Reply

  4. ziajung
    Jul 20, 2014 @ 10:59:48

    aaaaa kenapa kyuhyun gak ikut nimbrung (?) sama mereka ㅠㅠ emosinya dapet loooh ^0^

    Reply

  5. lieyabunda
    Jul 22, 2014 @ 07:45:20

    Kyu cemburu….
    Siapa bilang pecundang yaa!!!!
    Lanjut

    Reply

  6. Novita Arzhevia
    Jul 26, 2014 @ 21:58:52

    Hyo jangan terpesona sama aiden plis. Kasihan Kyuu

    Reply

  7. Dwi agusmi
    Sep 13, 2014 @ 17:26:40

    Tetep lnjt yha tour

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: