Snakes On The Plane {18/?}

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

Satu minggu kemudian, kegiatan Zodiac Training Academy kembali normal. Hiruk pikuk ujian militer digantikan dengan kesibukan persiapan ujian akademik musim semi. Kegiatan akademik di Zodiac Training Academy dibagi berdasarkan usia. Usia 12-14 tahun disetarakan dengan SMP, dan usia 15-17 tahun disetarakan dengan SMA.

Musim semi tahun depan Sayuri akan naik ke kelas 3. Ia merasa lega karena bebannya berkurang setelah menang pertandingan. Sudah pasti nilainya akan lebih bagus dari sebelumnya.

“ Matsuda Chiori!”

“ Hadir!”

“ Luciana Darens!”

“ Hadir!”

“ Hiragawa Hitoshi!”

“ Hiragawa Hitoshi!”

Hening lagi.

Sayuri menoleh ke arah barisan belakang, tempat Hitoshi duduk. Kosong. Tak ada jas seragamnya atau buku-bukunya yang tergeletak disana.

“ Ada yang tahu dimana Hiragawa Hitoshi?” tanya Jun-sensei. Seorang murid lelaki mengacungkan tangan, “ Mungkin dia malu bertemu dengan Sayuri-chan, sensei,”

Sontak seisi kelas terbahak mendengarnya. Sayuri hanya tersenyum kecil. Ia berusaha menahan diri. Dari lubuk hatinya, ia merasa kasihan. Pertandingan kemarin adalah kekalahan pertama Hitoshi, sekaligus memalukan karena ia kalah oleh perempuan.

Sayuri mengerling ke luar jendela.

Dimana kau, bodoh?

* * *

Seusai pelajaran jam ketiga, Sayuri bergegas mencari Hitoshi. Entah kenapa, ia mendadak merasa bersalah telah mengalahkan Hitoshi. Shin Pei menolak menemaninya. Ia bersikeras Hitoshi pantas mendapatkannya.

Sayuri berlari ke asrama, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.

Brengsek

Sayuri berhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara. Akan tetapi, sekitarnya kosong.

Perempuan sialan.

Sayuri mendongakkan kepalanya. Suara itu terdengar jelas tepat diatasnya.

Benar saja. Saat ia berlari menuju pintu lantai paling atas, dibaliknya ada sesosok pemuda mengenakan jas biru seragam khusus tingkat SMA, tengah duduk membelakanginya.

Sayuri tergoda untuk memanggilnya, namun ia tahan. Ia mencoba mendengarkan isi pikiran Hitoshi. Hanya ada umpatan kekesalan didalamnya. Sayuri berdecak, cukup keras hingga Hitoshi mengangkat kepalanya.

Kenapa dia ada disini?!

Sayuri terkekeh, “ Sensei mencarimu,”

Oh

Sayuri menghampirinya, Hitoshi buru-buru memalingkan wajahnya. Gadis itu cuek saja berdiri disebelah Hitoshi. Toh, ia masih bisa mendengar pikiran Hitoshi. Akan tetapi ia masih merasa aneh karena biasanya ia harus menatap mata lawan bicaranya.

Sayuri bersandar di pagar pembatas, mengamati gelagat Hitoshi. Pemuda itu mulai gelisah.

Pergi kau, sialan. Cepat kau pergi dari sini.

Sayuri menyeringai, “ Aku tak akan pergi,”

Hitoshi terkesiap.

Bagaimana dia bisa tahu apa yang ku pikirkan?

Hitoshi mendelik kearah Sayuri. Gadis itu menyingkap lengan kemejanya, menampakkan tato lambang Zodiak.

“ Aku Gemini. Dan aku bisa membaca pikiran,”

Dia juga??

“ Kau ternyata Sagitarius ya? Selama ini, aku pikir hanya aku dan Shin Pei saja yang memiliki simbol aneh ini,”

Hitoshi mengerjapkan matanya, “ Kenapa kau memberitahuku?”

Sayuri membetulkan lengan kemejanya sambil duduk dekat Hitoshi. Hampir tak ada jarak diantara mereka.

“ Apa salahnya? Toh ternyata kau sama denganku,”

Hitoshi termenung. Tangan kanannya mengusap bagian belakang lehernya, tempat tato Sagitariusnya berada.

“ Jadi…” Hitoshi berdeham, “ Apa maumu?”

Sayuri memperhatikan Hitoshi lekat-lekat. Ini pertama kalinya ia memandang Hitoshi dalam jarak yang sangat dekat. Rambut hitam legamnya berkibar mengikuti arah angin, kedua bola matanya dibingkai dengan alis hitam tebal dan dagunya sedikit terlihat lancip dari samping. Entah mengapa, Sayuri merasa Hitoshi mirip dengan dirinya.

“ Aku ingin minta maaf soal kemarin,”

Hitoshi tercengang, bola matanya melebar.

“ Aku minta maaf telah melukai harga dirimu,”

Hitoshi tak menjawab. Ia malah menunduk, mengertakkan giginya.

“ Hanya itu saja?”

Sayuri mengangguk, “ Ya. Hanya itu,”

Hitoshi berdecak, berdiri sambil membetulkan jasnya. “ Cih, ku pikir apa. Buang-buang waktu saja,”

Ia pun buru-buru pergi. Sayuri mengamatinya hingga bayangannya menghilang dari jarak pandang. Gadis itu mencibir dengan suara pelan,

“ Sombong,”

* * *

Dua bulan kemudian…

“ Kau sudah lihat pengumuman?”

“ Sudah. Apa itu benar?”

“ Tentu saja! Mereka itu kan—ah! Pagi, senior!”

Shin Pei mendelik kearah murid-murid yang tengah berkerumun itu. Sayuri mengikuti di belakangnya, “ Pagi,”

Mereka berdua berjalan seolah tak ada siapapun di lorong itu. Murid-murid junior menyingkir memberi jalan. Wajah murid-murid itu tampak pucat seperti baru saja tertangkap basah.

Sayuri dan Shin Pei berhenti di depan papan pengumuman besar. Selembar kertas ditempel memenuhi satu papan. Kertas itu berisi foto serta profil diri.

“ Dua belas? Seperti disengaja,”

Sayuri membaca nama-nama yang tertulis, mendapati namanya berada di urutan satu. Diikuti Hiragawa Hitoshi, Hiragawa Seiryuu, Li Shin Pei, Takeyama Takeru, Fellix Mason, Olivia Xanders, Hiragawa Saki, Hashimoto Tomomi, Kinoshita Kanna, Hiragawa Sakura, dan Hiragawa Hoshi.

“ Wah, Hiragawa bersaudara semuanya masuk,” Sayuri terkagum-kagum, mengamati foto-foto itu. Shin Pei justru terlihat tak senang, “ Bahkan yang paling muda pun ikut masuk,”

“ Maksudmu Hoshi?”

Shin Pei melipat tangannya, “ Yah, seingatku anak itu baru berusia 13 tahun. Menurut aturan, ujian militer hanya boleh diikuti murid usia 15 tahun atau setara dengan SMA kelas 1. Taruhan, anak itu tidak akan bertahan lebih dari dua bulan,”

“ Aku rasa dugaanmu salah, Nona Li,”

Olivia dan Fellix muncul dari belakang. Fellix merangkul pinggang Olivia, menghampiri kedua gadis itu.

“ Hiragawa Hoshi naik kelas lebih cepat dari murid seusianya. Dia berada di kelas yang sama dengan kakak-kakaknya,” jelas Felix. Shin Pei terperangah, sementara Sayuri menyahut, “ Yang benar? Berarti dia sekelas dengan si kembar??”

Olivia mengangguk, “ Yup. Anak itu tak bisa diremehkan. Aku melihat pertandingannya dan…mengerikan,”

Sayuri tercengang, “ Apanya yang mengerikan?”

Fellix mengangkat tangannya, kemudian membuat gerakan seperti meremas.

“ Aku melihat lawannya seperti tercekik. Padahal, jarak mereka berjauhan,”

“ Bagaimana bisa?” desis Sayuri tak percaya. Shin Pei baru saja membuka mulutnya, tiba-tiba saja interkom berbunyi.

“ Panggilan untuk seluruh murid yang terpilih, harap segera berkumpul di ruang simulasi,”

Fellix tertawa, “ Nah,” Tangannya membentuk pose menembak, “ Pertunjukan baru saja dimulai,”

* * *

Dua belas murid yang terpilih diperintahkan Komandan Hayate untuk berdiri di depan tabung. Tabung itu seukuran manusia dan ada lambang Zodiak diatasnya. Sayuri terkejut melihatnya. Ia berdiri di depan tabung berlambangkan Gemini, sama seperti yang ada di tubuhnya.

Ia melihat sekelilingnya. Sebagian juga terkejut, namun sebagian lainnya tampak biasa saja. Terutama Hiragawa bersaudara.

Setelah semua masuk, Komandan menjalankan mesin pengendali di tengah ruangan. Perlahan Sayuri merasakan kantuk menghantamnya tiba-tiba.

Sekitarnya mulai gelap, hingga sebuah suara muncul dalam pikirannya.

Buka matamu, Sayuri.

Ia ingin membukanya, tapi ia sedikit merasa takut. Bagaimana jika di hadapannya muncul Eve?

Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu.

Sayuri membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah dataran tandus. Tak ada apapun selain dirinya.

“ Selamat datang,”

Sayuri menoleh kearah sumber suara. Suara itu tepat berada diatasnya.

“ Si-siapa kau?!” Sayuri terjerembap, terkejut mendapati makhluk besar terbang mengitarinya. Makhluk itu menyerupai elang dengan bulu cokelat keemasan. Ia mendarat di depan Sayuri, membungkuk hormat.

“ Selamat datang, wahai pewaris Gemini,”

Sayuri tercekat. Makhluk dihadapannya sangat besar dan menakutkan. Ia tak dapat berdiri ataupun berbicara sekalipun.

“ Maaf atas ketidaksopananku. Namaku Hawkins, penjaga pewaris Gemini,”

Sayuri menelan ludah, memaksakan diri membuka mulut, “ Apa maksudmu? Penjaga? Pewaris?”

Hawkins mengibaskan sayapnya, “ Ini wilayahku. Tempat aku menemui pewarisku turun temurun. Aku sudah menunggu saat-saat ini selama enam belas tahun,”

Sayuri berhasil berdiri, jemarinya menepis debu yang menempel di roknya. Ia belum paham apa maksud Hawkins. Tenggorokannya terlalu kering untuk berbicara lagi.

“ Saya yang akan menemani Anda selama simulasi. Mohon kerja samanya,”

Otak Sayuri berhenti sesaat. Ia tak mengerti dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Hanya satu yang ia paham.

Dua belas lambang di tabung itu merupakan pertanda ia bukan satu-satunya yang memiliki kekuatan.

* * *

Dua tahun kemudian…

Musim semi datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Bunga-bunga mulai bermekaran, kupu-kupu pun berdatangan menghampirinya. Namun untuk pertama kalinya Sayuri tak senang dengan musim semi.

Hari ini, ia akan lulus dari jenjang Training menuju Junior untuk pelatihan lapangan selama setahun. Sebagai pemenang ujian militer dua tahun lalu, ia diharuskan mengambil posisi Kapten team Junior. Jantungnya berdetak kencang, gugup membayangkan apa yang harus ia lakukan ketika ia resmi menjadi Kapten. Selama pelatihan di ruang simulasi, ia tak terlalu sering berbicara dengan anggota lain. Ia menghabiskan waktu lebih banyak di dalam tabung (tepatnya, wilayah Hawkins).

“ Pagi, Kapten,”

Sayuri merengut. Melihat reaksi Sayuri seperti itu, Shin Pei terbahak.

“ Ayolah. Sebentar lagi kau akan menjadi Kapten. Bukan masalah besar kan?”

Sayuri menyisir rambutnya dengan jari, matanya terpaku pada pemandangan di luar akademi.

“ Kau bukannya takut dengan Hiragawa bersaudara kan?” ledek Shin Pei. Sayuri mendesah, “ Tentu saja tidak! Aku hanya cemas karena aku jarang bicara dengan mereka,”

Shin Pei memainkan kalungnya, “ Bohong. Aku sering melihatmu berduaan dengan Hitoshi,”

Wajah Sayuri memerah. Ia buru-buru membantah, “ I-itu cuma diskusi biasa, kok!”

Namun Shin Pei tak percaya semudah itu. Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat Hitoshi tengah berjalan menuju ke tempat ia dan Sayuri berada.

“ Pangeranmu,” bisik Shin Pei.

Wajah Sayuri semakin merah ketika Hitoshi menghampirinya.

“ Hai,”

“ Hai,”

Shin Pei terbelalak, namun Hitoshi mengabaikannya. Ia menarik Sayuri, berbisik di telinganya, “ Jangan lupa. Jam 8 malam,”

Sayuri hanya mengangguk sebagai jawaban, meski sebenarnya ia tak begitu paham.

“ Sampai jumpa,”

Pemuda itu pun pergi, melewati Shin Pei begitu saja seolah gadis itu tak ada disana. Saat sosoknya semakin menjauh, Shin Pei berteriak, “ Apa-apaan itu?!”

“ Apa?”

“ Itu! Kalian saling berpapasan dan hanya mengatakan satu kata? Tak ada basa-basi sedikit pun?”

Sayuri memainkan rambutnya, wajahnya memerah lagi, “ Kau berlebihan,”

Shin Pei mendesah kecewa. Padahal ia berharap ada hal menarik yang terjadi dari dua orang itu.

“ Payah,”

“ Sudahlah. Se-sebaiknya kita ke auditorium sekarang,”

Shin Pei menyingkap lengan jasnya, memeriksa jam tangannya, “ Yah, masih ada setengah jam lagi sebelum acara dimulai,”

* * *

19:45, Auditorium Zodiac Training Academy…

Tak seperti biasanya, auditorium dipenuhi banyak orang. Situasi ini hanya terjadi setiap perpisahan kelas 3 atau tingkat akhir Zodiac Training Academy. Hari ini, seluruh murid setingkat kelas 3 SMA dan beberapa murid yang sudah dipilih masuk ke divisi utama akan dinyatakan lulus dari tingkat akademi. Pada malam sebelum upacara kelulusan, murid-murid mengadakan pesta perayaan yang diketuai murid junior. Dan perayaan terasa semakin menyenangkan karena para instruktur membebaskan murid-murid berkeliaran di luar asrama setelah jam makan malam.

Di tengah auditorium, ada tempat khusus untuk para penari handal dari klub seni tari. Mereka memamerkan hasil kerja keras mereka di depan para murid kelas 3. Beberapa murid kelas 3 yang merupakan pimpinan klub, ikut bergabung memeriahkan suasana. Di atas panggung, sejumlah murid yang tergabung dalam klub teater dan band unjuk kebolehan mereka menghibur para penonton. Sementara murid-murid lain ada yang berjualan di stand-stand yang sudah disediakan.

Sayuri melirik jam tangannya, mengetukkan kakinya tak beraturan. Ia tak sepenuhnya memperhatikan pertunjukan Kabuki yang sedang berlangsung di depan matanya. Pikirannya dipenuhi kata-kata Hitoshi.

Apa maksudnya jam 8 malam? batinnya.

“ Hoi,”

Sensasi dingin menjalar dari pipinya hingga ke ujung kaki. Sayuri tersentak kaget, mendapati Shin Pei menempelkan segelas minuman dingin tepat di pipinya.

“ Melamunkan apa?”

Sayuri menyambar gelas minuman itu, wajahnya memerah.

“ Bukan apa-apa,”

Sambil meneguk minuman yang diberikan Shin Pei, Sayuri memerhatikan sudut panggung. Sekilas ia seperti melihat Hitoshi tengah membawa gitar. Akan tetapi ia terhalang orang-orang di sekelilingnya.

Tiba-tiba saja auditorium menjadi hening. Lampu sorot panggung menyinari seseorang yang tengah mengangkat mikrofon.

“ Hitoshi?”

Hitoshi mendekatkan mikrofon ke bibirnya, dan dalam sekejap seluruh murid hanyut dalam nyanyiannya.

“ Last nite, I dream that you were beside me. It seemed so real, that I cried. When you touched me. You’re my angel. And you’ve given me wings…”

Shin Pei terbatuk ketika mendengar lagu yang dinyanyikan Hitoshi. Ia berbisik di telinga Sayuri, “ Bukankah itu yang sering kau nyanyikan akhir-akhir ini?”

Sayuri tak menjawab. Tubuhnya membeku, jantung berdetak kencang. Bagaimana bisa ia tahu lagu itu? pikirnya.

“ If there’s one thing in this world that I know is true. It’s the love that I feel when I’m thinking of you. No ocean, no mountain can keep us apart. Cause no one can take away someone who lives in your heart…”

Bersamaan dengan itu, sebuah lampu menyorot tepat kearah Sayuri. Detik itu juga, Sayuri merasa waktu telah berhenti. Tak ada siapapun kecuali dirinya dan Hitoshi. Hanya suara Hitoshi yang terdengar, meskipun banyak suara mulai memasuki pikirannya. Sayuri tak peduli dengan suara-suara itu. Ia hanya ingin mendengarkan suara Hitoshi.

“ Here in my arms, is where you should be. Cause your loving makes me believe..”

Hitoshi turun dari panggung, berjalan menghampiri Sayuri. Ia genggam erat tangan Sayuri sambil tetap bernyanyi.

“All our hopes and our dreams are alive. I’ll carry you with me thru distance and time. Nothing in this world can keep us apart. No one can take away someone who lives your heart..”

Musik pun berhenti. Seluruh murid menahan napas, menyaksikan Hitoshi bersimpuh di hadapan Sayuri.

“ Maaf. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan untuk membuktikan perasaanku padamu selama ini,”

Sayuri menyentuh dadanya, jantungnya berdetak semakin cepat dan mulai terasa sakit.

“ Aku salah tentang dirimu. Kau memang pantas menjadi seorang Kapten. Kekuatanmu melebihi dari yang ku kira,”

Dan kini ia tak tahu harus berkata apa. Bibirnya terasa kaku, namun kehangatan memenuhi hatinya.

“ Maaf jika aku terlalu lancang, tapi…”

Hitoshi mengeluarkan kotak berwarna biru. Kotak itu terbuka dan ada sebuah cincin perak didalamnya. Air mata Sayuri pun menetes.

“ Maukah kau menjadi pendamping hidupku, untuk saat ini dan selamanya?”

* * *

Yun Hee POV

Sekarang aku paham kenapa saat itu Komandan Hayate melarang kami mengadakan pernikahan. Ia bilang kami harus menunggu sampai umur kami mencapai 21 tahun. Tapi itu bohong. Ia melarang karena ia tahu kami sebenarnya saudara sedarah.

Apa Hitoshi tahu?

Apa itu sebabnya ia bersikap agak aneh sebelum penyerangan?

Ku perhatikan cincin perak yang tergantung di leherku, mengingat saat-saat ia melamar di depan semua orang. Anehnya, kami malah dimasukkan dalam divisi yang sama. Padahal Shin Pei dan suaminya dipisah segera setelah mereka menikah.

Shin Pei. Gadis itu mendadak memberitahu ia dilamar salah satu senior ahli penyamaran. Dan malah ia yang menikah duluan. Setelah itu, ia pergi bersama suaminya.

Ngomong-ngomong, dimana sekarang suaminya itu? Apa ia juga tewas? Tapi Jenderal Shin tak bicara apapun soal itu. Aku juga tak bisa menanyakan itu pada Mei Lin. Aku harus menyembuhkan trauma anak itu dulu.

Ah. Jenderal Shin.

Apa aku harus memanggilnya Appa atau Otosan atau….argh! Kenapa begini? Kenapa ia tak pernah memberitahuku soal itu? Kenapa aku harus hidup dalam kebohongan?

Tapi, menyesal pun tak ada gunanya.

Lima anggota sudah tewas.

Jika aku diam saja, aku yang akan menjadi target berikutnya.

Diam-diam aku keluar dari kamar, sebisa mungkin jangan sampai Mei Lin terbangun. Aku bergegas menuju ruangan Jenderal Shin. Aku berdiri di depan pintu, mengetuknya perlahan.

“ Masuk,”

Ku tarik napas dalam-dalam. Kakiku melangkah masuk ke dalam ruangan. Jenderal Shin tak menghadapku. Namun aku yakin ia tahu apa tujuanku.

“ Ada perlu apa kau kemari, Sayuri?”

Sayuri. Nama itu semakin menguatkan tekadku. Jenderal Shin memutar kursinya, kami saling berhadapan.

“ Aku punya satu permintaan,”

“ Oh, apa itu?”

Aku menarik napas lagi,

“ Izinkan aku bergabung dengan skuat utama Cop Squad,”

T.B.C

9 Comments (+add yours?)

  1. hanjire
    Aug 09, 2014 @ 23:34:57

    akhirnya lanjut juga gomawo eon udah dilanjut

    Reply

  2. shoffie monicca
    Aug 10, 2014 @ 15:58:52

    lnjut thor…crtanya bgus..ditunggu part slnjutnya thor…

    Reply

  3. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Don’t Go | Superjunior Fanfiction 2010
  4. Trackback: Snakes On The Plane {19/?} | Superjunior Fanfiction 2010
  5. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected | Superjunior Fanfiction 2010
  6. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  7. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  8. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  9. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: