Snakes On The Plane {19/?}

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki POV}

“ Jenderal!!!”

Siwon mendobrak paksa pintu ruang Jenderal Shin. Anehnya, Jenderal Shin tak tampak terkejut mendapati anak buahnya seperti kerasukan setan.

“ Oh, kebetulan sekali. Aku baru saja membuat teh. Tapi aku tak tahu apakah ini cocok dengan lidahmu,”

Siwon tak menggubris. Ia menghampiri meja Jenderal Shin, amarahnya telah mencapai ubun-ubun.

“ Kenapa kau? Apa kau sedang sakit? Aku punya teh herbal untuk itu. Tapi dimana ku simpan daun tehnya?”

Siwon menggertakkan giginya. Jenderal Shin seperti tak menyadari perubahan raut wajah Siwon. Ia sibuk mencari-cari kotak daun teh.

Kesal, Siwon menggebrak meja.

“ Apa yang ada di pikiran Anda, Jenderal?! Kenapa Yun Hee ada dalam daftar personil untuk misi ini? Apa maksudnya??!!!”

Jenderal Shin diam. Ia menaruh kotak daun teh di atas meja. Sorot matanya berubah menjadi tegas namun ia tetap bersikap tenang.

“ Apa itu menganggumu, Choi? Menambahkan satu anggota yang berguna dalam timmu, apakah itu membebanimu?”

Siwon kehilangan kesabaran. Ia tak peduli dengan siapa ia bicara saat ini. Ia hanya tak ingin melibatkan Yun Hee dalam misi ini.

“ Tapi, Jenderal, dia warga sipil! Anda seharusnya melarang warga sipil terlibat aktivitas militer!”

“ Yun Hee bukan warga sipil. Secara teknis, namanya masih tercatat sebagai Wakil Kapten Zodiac. Dan perlu kau ingat, saat dia masih di Training Academy, dia termasuk murid perempuan yang paling pintar. Bahkan dia mengalahkan kandidat utama saat itu. Jadi, tak masuk akal bagiku jika kau mengatakan Yun Hee tak boleh terlibat,”

Siwon terdiam. Ini pertama kalinya ia mendengar kisah Yun Hee saat gadis itu berada di Training Academy. Akan tetapi, masih ada rasa tak terima dalam dirinya. Ia menatap Jenderal Shin dengan mata berkilat penuh amarah.

“ Tetap saja hal itu dilarang, Jenderal!!! Dia saat ini warga sipil, bukan militer!”

“ Kalau kau tetap bersikeras, sebaiknya kau mundur dari misi ini!”

Siwon tercekat. Jenderal Shin tampak serius dengan ucapannya.

“ Aku yang memberi komando dalam misi kali ini, jadi kau harus mematuhi semua perintahku. Jika kau tak bisa menerima keputusanku, ku sarankan kau mundur saja,”

“ Tapi…”

“ Tidak ada kata ‘tapi’. Apa perkataanku kurang jelas?”

Siwon menahan napas. Sudah sejauh ini, mana bisa ia mundur begitu saja? Potongan demi potongan misteri sudah mulai terkumpul. Kini ia hanya perlu menyatukannya.

Tak ada jalan lain.

“ Tidak. Perkataan Anda sangat jelas,”

Siwon membalikkan badan, bergegas keluar tanpa memberi salam. Melihat itu, Jenderal Shin hanya bergumam, “ Dasar anak muda jaman sekarang,”

* * *

Yun Hee POV

“ Nih,”

Sakura mengulurkan sekaleng kopi. Untuk pertama kalinya, setelah tiga tahun, ia tersenyum padaku.

“ Aku tak ingin menakutimu. Hanya saja…” Ia menaruh kaleng kopi itu di pangkuanku, “ Ada yang ingin kubicarakan denganmu,”

Aku mengambilnya, canggung dengan perubahan sikapnya. Sakura duduk di sebelahku, membuka kaleng sodanya.

“ Aku ingin minta maaf padamu, Sayuri,”

Tanganku yang hendak membuka kaleng, terhenti saat mendengar kata ‘maaf’ meluncur dari mulut seorang Sakura.

“ Mungkin aku terlalu egois mengatakan ini, tapi aku—aku saat itu tak tahu, yah, kejadian yang sebenarnya. Aku tak berada dekat kalian saat peristiwa itu terjadi. Hal terakhir yang ku ingat hanya kau bersimpuh di dekat Hitoshi,”

Aku sudah tak ingat bagian itu. Tanganku gemetar. Aku meminum kopi perlahan, mencoba tenang.

“ Aku bodoh. Aku tak pernah mau mencari tahu. Aku dibutakan dendamku sendiri. Ironis,”

Sakura menghabiskan sodanya dalam sekali teguk. Diremasnya kaleng soda itu, lalu ia lempar ke tong sampah.

“ Kau boleh memakiku sekarang. Jika itu membuatmu lebih lega,”

Aku menggeleng, “ Tidak. Apa yang maksudmu dengan lega?”

Sayuri menyandarkan punggungnya ke dinding, “ Setelah semua yang kau ketahui, apa kau tak merasa tertekan?”

Tertekan.

Aku sudah tak tahu apa rasanya tertekan. Dua puluh tiga tahun hidup dalam kebohongan. Seluruh hidupku adalah bohong. Pandanganku buram. Gawat, aku tak boleh menangis disini.

Sakura berdiri menghadapku. Ekspresi wajahnya tak lagi keras seperti sebelumnya.

“ Aku akan pergi jika kau tak ingin ada yang melihatmu menangis, Kapten,”

Aku tercekat. Ia—ia masih ingat?

“ Kau adalah Kaptenku yang pertama, bukan Hitoshi. Bagaimanapun juga, kita tetap tim. Baik dulu maupun sekarang,”

Ia pun pergi meninggalkanku sendirian. Ku usap tato Geminiku, sebuah suara memenuhi kepalaku detik itu juga.

Tindakanku benar kan, Hitoshi?

Sakura…

* * *

“ Marah hanya akan buang-buang energi, Kapten,”

Siwon mendelik kesal, namun Hankyung mengabaikannya. Pandangannya tertuju pada satu orang yang sedang bersiap-siap di depan Roboguard.

“ Jenderal sialan! Apa sih yang ada di otaknya?! Kenapa dia biarkan Yun Hee ikut? Dia warga sipil, bukan anggota Cops Squad!”

Hankyung menopang dagunya dengan satu tangan, “ Mungkin yang ada di otaknya hanya bagaimana caranya agar putrinya tidak stres,”

Genggaman Siwon di pagar pembatas semakin mengencang. Sesaat ia bisa merasakan jantungnya diremas tangan tak terlihat.

“ Lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya agar kasus ini cepat selesai,” saran Hankyung. Ia membalikkan badan, membelakangi pagar pembatas.

“ Aku sendiri tak tahu akar permasalahan kasus ini,” Suara Siwon terdengar putus asa. Hankyung merogoh saku jaketnya, menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi.

“ Mungkin ini akan sedikit membantu,”

Siwon mengamati kertas itu. Sesaat ia ragu, namun Hankyung tampak bersikeras. Ketika ia membukanya, ia mendapati sejumlah nama berada didalamnya. Nama-nama itu dihubungkan dengan garis, membuatnya terlihat seperti sebuah silsilah besar.

“ Apa ini? Siapa orang-orang ini?”

Hankyung spontan menginjak kaki Siwon.

“ Auch!”

“ Ssst!!”

Seluruh kru yang tengah menyiapkan perlengkapan simulasi, menatap mereka dengan sinis. Siwon yang menyadari jeritannya menganggu para kru, buru-buru meminta maaf. Hankyung menariknya menjauh dari ruang simulasi, dan setelah ia yakin tak akan ada yang mendengar, ia berbisik,

“ Jangan teriak seperti itu. Nanti ketahuan,”

“ Siapa?”

Hankyung memeriksa sekeliling sebelum akhirnya menjawab, “ Seiryuu. Aku mengambil kertas ini dari buku catatannya,”

Siwon terperanjat, “ Bodoh! Kalau ketahuan, bagaimana?”

Hankyung mengangkat bahu, “ Yang terjadi, terjadilah. Lagipula itu salah dia, kenapa menaruh sembarangan kertas sepenting itu?”

Siwon memukul keningnya. Namun kemudian perhatiannya teralihkan oleh kertas yang ada di tangannya.

“ Menurutmu ini apa?”

Hankyung menggeleng, “ Entahlah. Tapi sepertinya itu penting. Lihat nama-nama yang di urutan paling bawah,”

Hankyung menunjuk sederet nama yang tak asing bagi Siwon.

Ayanami Hitoshi-Ayanami Sayuri

Hiragawa Seiryuu-Hiragawa Saki-Hiragawa Sakura-Hiragawa Hoshi

Hashimoto Tomomi

Takeyama Takeru

Fellix Mason

Li Shin Pei

Olivia Xanders

Kinoshita Kanna

“ Tunggu, ini?!”

“ Sepertinya mereka masih memiliki hubungan keluarga,”

Siwon terperangah, “ A-apa mereka tahu?”

“ Menurutmu? Dilihat dari cara mereka berinteraksi, sepertinya mereka sendiri juga tak tahu,”

“ Tapi Seiryuu tahu?” desak Siwon. Hankyung melipat tangannya, berpikir sejenak. Ia memejamkan matanya, “ Aku rasa ia sendiri juga baru tahu saat ini,”

* * *

“ Sayuri,”

Yun Hee merinding mendengar seseorang memanggil nama aslinya. Ia menoleh, ternyata Komisaris Hayate dengan ekspresi wajah paling ramah yang pernah ia lihat. Buru-buru ia membungkuk hormat.

“ Pagi, Hayate-sama,”

Komisaris Hayate berdecak, “ Tegakkan dirimu, nak,”

Yun Hee menegakkan tubuhnya, setengah ragu mengingat orang dihadapannya saat ini adalah mantan komandannya ketika di Zodiac. Namun entah kenapa, Komisaris Hayate terlihat lebih senang dari biasanya.

“ Selamat datang kembali, Wakil Kapten Sayuri,”

Wajah Yun Hee memerah, “ Ti-tidak, Komandan. Saat ini aku bukan Wakil Kapten,”

“ Dan aku juga bukan Komandan lagi, nak. Waktu telah mengubah kita,”

Dan mengubah pemikiran kita, batin Yun Hee. Komisaris Hayate mengamatinya sambil bertanya, “ Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

Yun Hee diam. Jemarinya ditekan keras-keras, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Komisaris Hayate sepertinya sadar, dan ia pun mengubah nada bicaranya.

“ Aku hanya berharap kau kembali bukan untuk balas dendam,”

Yun Hee berhenti menekan jemarinya.

“ Aku lebih senang kau kembali karena kau menyukai tempat ini,”

Yun Hee menurunkan tangannya perlahan.

“ Roboguard mu pun sudah menunggu untuk dijalankan,”

Yun Hee mendongak, menatap langsung mata Komisaris Hayate. Wajahnya memang terlihat tua, namun kewibawaannya tak terkikis oleh waktu. Yun Hee merasa seperti kembali ke masa kelulusannya dari Training Academy. Komisaris Hayate lah yang memberinya tanda pengenal Kapten. Tak hanya itu, ia juga melatih langsung bagaimana cara melawan Eve.

“ Sayuri?”

Suara lain memanggilnya dari belakang Komisaris Hayate. Suara seseorang yang sedang tak ingin ditemui Yun Hee saat ini.

Jenderal Shin.

“ Bisa kita bicara sebentar?”

* * *

Yun Hee POV

Aku baru kali ini diajak ke bagian terdalam markas Cop Squad. Bagian sini lebih gelap dari yang lain, entah disengaja atau tidak. Tak ada yang berjaga disini. Tapi, aku bisa merasakan ada sihir.

Sepanjang jalan, aku tak berani bertanya apapun pada Jenderal Shin. Ia juga tak berusaha mengajakku bicara. Semakin jauh kami berjalan, kecanggungan diantara kami semakin terasa. Keadaan ini sungguh tak bagus.

Tiba-tiba saja Jenderal Shin berhenti. Aku nyaris menabraknya. Beruntung aku cepat-cepat menahan langkahku.

Kami berhenti di depan sebuah pintu besar. Ada sebuah panel tombol di sebelah kanannya. Jenderal Shin memasukkan beberapa angka, lalu menekan jempolnya di tempat penanda sidik jari. Pintu pun terbuka, menampakkan sebuah ruangan dengan penerangan minim.

Kami masuk kedalam, mendapati ruangan ini tak berisi apapun. Ruangan ini berbentuk bulat namun tak terlalu sempit. Tepat di hadapan kami, ada sebuah ukiran. Tunggu…aku kenal ukiran itu…

Aku berputar, mengamati ukiran-ukiran itu. Bukankah ini lambang Zodiac?

Jenderal Shin duduk dengan posisi kaki di belakang, seperti yang biasa ia lakukan ketika ada pertemuan formal.

“ Duduklah,”

Aku pun duduk mengikuti posisinya. Ini seperti latihan meditasi dengan Komandan Hayate beberapa tahun lalu. Tapi, saat itu aku latihan untuk meningkatkan hubungan batinku dengan Hawkins. Lalu…ini untuk apa?

Jenderal Shin mengulurkan tangannya padaku. Aku meraihnya dengan ragu-ragu, tanganku gemetar ketika mengenggam tangannya.

“ Pejamkan matamu,”

Ku tarik napas dalam-dalam, perlahan ku pejamkan mata.

“ Berkonsentrasilah. Pikirkan siapa orang yang paling ingin kau temui,”

Yang paling ku temui…..

Aku sebenarnya ingin bertemu dengan Hitoshi, tapi ada orang lain yang masuk dalam pikiranku. Orang yang paling berharga selama aku berada di Training Academy. Orang yang paling ingin ku ajak bicara saat ini.

Sayuri

Siapa?!

Sayuri, lihat aku

Li-lihat? Tapi disini gelap…

“ Buka matamu sekarang,”

Ku buka mataku, namun dalam hati aku takut untuk melihat apa yang ada di hadapanku. Perlahan aku melihat sesosok transparan, kemudian seragam Zodiac yang menempel di tubuhnya, dan……. Astaga.

“ Shin Pei??”

Shin Pei memiringkan kepalanya, tertawa melihat reaksiku. Sementara itu, aku merasakan genggaman Jenderal Shin semakin erat.

“ Kau berhasil. Kau benar-benar seorang Seer,”

* * *

Siwon POV

Aku tak paham. Benar-benar tak paham.

Kenapa Snakes Army mengincar para pemilik kekuatan Zodiac?

Apa yang ia inginkan dari mereka?

Dan lagi silsilah aneh ini. Seolah mereka terhubung dengan satu nenek moyang. Apa mungkin kekuatan ini diwariskan secara turun-temurun? Jika iya, seharusnya Jenderal Shin tak memberikannya pada orang luar sepertiku.

Kenapa Jenderal Shin nekad melakukan hal itu?

“ Kapten,”

Terkejut, sontak aku buru-buru merapikan lembaran kertas yang berantakan di mejaku. Ryeowook masuk kedalam ruangan, membawa telepon tanpa kabel.

“ Ku pikir kau ada dimana. Ada telepon untukmu,”

“ Si-siapa?”

“ Nyonya Choi,”

Eomma? Tumben sekali. Apa ada masalah?

“ Terimakasih,” Ku ambil telepon itu, Ryeowook pun memberi salam hormat lalu pergi meninggalkanku sendirian.

“ Halo? Ada apa?”

Suara eomma terdengar cemas. Ia berkali-kali menanyakan hal yang sama, memastikan ia salah. Aku menghela napas, “ Eomma sudah tanya pada mereka? Mungkin saja ia kesasar,”

Dan benar saja, eomma ternyata belum menanyakan pada orang-orang itu. Kebiasaan. Kenapa wanita mudah sekali panik sih?

“ Coba saja eomma tanyakan. Eomma punya nomor teleponnya kan? Aku sibuk disini. Aku akan kesana setelah urusan ini selesai,”

Eomma pun menutup teleponnya. Ada perasaan bersalah menghantuiku ketika selesai menelepon.

“ Setelah urusan ini selesai, huh?”

T.B.C

 

8 Comments (+add yours?)

  1. hanjire
    Aug 19, 2014 @ 13:36:56

    ehmmm makin penasaran aja….

    lanjutttttt

    Reply

  2. Shoffie monicca
    Aug 19, 2014 @ 13:49:45

    Lnjut thorrr…..

    Reply

  3. MiKyu
    Aug 31, 2014 @ 11:09:06

    Lanjut thorrr..
    Jangan lama-lama ya..

    Reply

  4. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected | Superjunior Fanfiction 2010
  5. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal | Superjunior Fanfiction 2010
  6. Trackback: Snakes On The Plane {21/25} | Superjunior Fanfiction 2010
  7. Trackback: {Snakes On The Plane’s Side Story} Father’s Feeling | Superjunior Fanfiction 2010
  8. Trackback: Snakes On The Plane {22/25} | Superjunior Fanfiction 2010

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: